Anda di halaman 1dari 36

3.

Penyakit Degeneratif pada Lansia


A. Definisi Penyakit Degeneratif
Penyakit Degeneratif adalah suatu kondisi penyakit yang muncul akibat
proses kemunduran fungsi sel-sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih
buruk dan berlangsung secara kronis. Berbicara mengenai penyakit degeneratif
umumnya orang akan berpikir kepada penyakit-penyakit yang diderita saat seseorang
mencapai usia lanjut. Sayangnya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar juga
tidak sepenuhnya salah. Saat ini dengan berbagai perubahan yang dialami serta
peningkatan stress atau tekanan (baik fisik maupun psikis) yang datang dari sekitar
kita, penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, kencing
manis, kegemukan, dan lain-lain, bias saja di derita oleh mereka yang belum
memasuki era lansia.
Untungnya, penyakit-penyakit degeneratif ini tidak diperoleh begitu tiba-tiba.
Ada masa dimana kelainan yang bakal menimbulkan penyakit ini, telah biasa di
deteksi dengan alat-alat kedokteran modern saat ini. Jika demikian halnya, tentu
sangat baik untuk segera memulai tindakan pencegahan, sehingga penyakit tersebut
bisa ditunda datangnya. Tentunya hal ini memerlukan perhatian yang lebih serius
terhadap kesehatan. Bagaimanapun, tindakan pencegahan dini lebih baik dan
bermanfaat dari pada mengobati.
Penyakit degeneratif merupakan salah satu penyebab kematian terbesar
didunia. Menurut World Health Organization (WHO), badan lembaga kesehatan dari
PBB, terdapat hampir sekitar 17 juta orang meninggal dunia akibat penyakit
degeneratif setiap tahun (Depkes RI, 2005). Upaya pencegahan terhadap penyakit ini
dapat dilakukan dengan pengaturan pola konsumsi makanan dan minuman sejak dini.
Kalangan remaja menjadi sasaran utama untuk dilakukan upaya ini oleh karena masih
sering dijumpai masalah terhadap tingkat kesehatan dan status gizi. Perilaku makan
yang tidak baik menjadi masalah yang utama, misalnya konsumsi beberapa jenis
mineral seperti besi, kalsium, dan beberapa vitamin ternyata masih kurang pada
remaja walaupun asupan kalori dan protein sudah tercukupi.

B. Gambaran Klinis Penyakit Degeneratif Secara Umum


1. Perjalanan penyakit lambat, setelah waktu yang lama dari fungsi saraf yang
normal, kemudian diikuti kemunduran fungsi susunan saraf tertentu yang
bersifat progresif lambat yang dapat berlanjut sampai beberapa tahun atau
puluhan tahun. Pasien sulit menentukan kapan penyakit mulai timbul. Adanya
riwayat kejadian yang dapat mempresipitasi terjadinya penyakit degeneratif,
misalnya kecelakaan, infeksi atau kejadian lain yang diingat sebagai penyakit.
2. Kejadian penyakit yang sama dalam keluarga (bersifat familial).
3. Pada umumnya penyakit degeneratif pada sistem saraf akan terjadi terus
menerus, tidak dapat diperbaiki oleh tindakan medis atau bedah,
kadangkadang penyakit ini ditandai dengan periode yang stabil untuk
beberapa lama. Beberapa gejala dapat dikurangi dengan penatalaksanaan yang
baik, tetapi penyakitnya sendiri tetap progresif.
4. Bilateral simetris. Meskipun kadang-kadang misalnya pada Amyotrophic
lateral skelerosis mula-mula hanya mengenai satu anggota gerak atau salah
satu sisi tubuh, tapi dalam proses selanjutnya menjadi simetris.
5. Hanya mengenai daerah anatomis atau fisiologi susunan saraf pusat secara
selektif.
6. Secara histologis bukan hanya sel-sel neuron saja yang hilang tapi juga
dendrit, axon, selubung mielin yang tidak berhubungan dengan reaksi jaringan
dan respon selular.
7. Pada likuor serebrospinalis kadang-kadang terdapat sedikit peningkatan
protein, tetapi pada umumnya tidak menunjukkan kelainan yang berarti.
8. Karena menyebabkan kehilangan jaringan secara radiologis terdapat
pengecilan

volume

disertai

perluasan

ruang

likuor

serebrospinalis.

Permeabilitas sawar darah otak tidak berubah.


9. Laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain sering memberikan hasil yang
negatif. Berbeda dengan penyakit susunan saraf pusat progresif lain sepert
tumor, infeksi, proses inflamasi lain.
10. Pemeriksaan neuroimaging dapat menunjukkan kelainan tertentu, sehingga
dapat membantu menyingkirkan golongan penyakit lain.

C. Faktor Penyebab Penyakit Degeneratif


Ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya penyakit degenaratif,
faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1. Gaya hidup tidak sehat :
Kurang olahraga

Merokok

Alkoholic (pecandu alkohol)

Narkoba

Workaholic (gila kerja)

Stres psikologis (tekanan batin)

2. Pola makan yang tidak sehat. Mengonsumsi lemak jenuh (kolesterol), junk
food, gula murni berlebihan, MSG dan kurang serat
3. Makanan teroksidasi (minyak jlantah, pemanasan minyak dengan suhu tinggi,
daging bakar atau panggang).
4. Genetik atau keturunan.
5. Obesitas atau kegemukan.
6. Paparan zat kimia (plastik, Pb, Ar, Hg, zat warna pakaian, asam boraks,
formalin, dll).
7. Polusi udara dan faktor lingkungan yang terakumulasi selama bertahun-tahun.
8. Radikal bebas (polusi udara dari asap motor/mobil, asap pabrik, asap rokok).

D. Hubungan Gizi dengan Penyakit Degeneratif


Salah satu penyebab terjadinya penyakit degeneratif adalah karena perolehan
zat gizi mikro dan makro yang tidak seimbang. Pola makan yang salah meningkatkan
resiko penyakit degeneratif ini.
Masyarakat sekarang gemar mengkonsumsi makanan-manakan tinggi lemak
seperti goreng-gorengan, junk food (makanan cepat saji) dan makanan-makanan
instan lainnya. Junk food mengandung lemak jenuh (saturated fat), garam dan gula,

serta bermacam-macam additive seperti monosodium glutamate dan tartrazine dengan


kadar yang tinggi. Oleh sebab itu daya tahan tubuh akan menurun dan
meningkatkankan resiko penyakit ini terutama karena konsumsi lemak dan gula
berlebih.
Makanan yang kita konsumsi akan membentuk antioksidan yang penting
untuk melindungi tubuh. Asal terbentuknya antioksidan ini dibedakan menjadi dua
yakni intraseluler (didalam sel) dan ekstraseluler (diluar sel) atau dari makanan.
Antioksidan tubuh bisa dikelompokkan menjadi 3 yakni:
a. Antioksidan Primer
Antioksidan primer bekerja untuk mencegah pembentukan senyawa radikal
bebas baru. Antioksidan primer mengubah radikal bebas menjadi molekul yang
berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi.
Contoh anti aksidan ini adalah enzim SOD yang berfungsi sebagai pelindung
hancurnya sel-sel tubuh serta mencegah proses peradangan karena radikal bebas.
Enzim SOD sebenarnya sudah ada dalam tubuh kita. Namun bekerjanya
membutuhkan bantuan zat-zat gizi meneral seperti mangan, seng, tembaga. Selenuum
(Se) juga berperan sebagai antipksidan. Jadi, jika ingin menghambat gejala penyakit
degeratif, mineral-mineral tersebut hendaklah tersedia cukup dalam makanan yang
dikonsumsi setiap hari.
b. Antioksidan Sekunder
Antioksidan sekunder berfungsi untuk menangkap senyawa serta mencegah
terjadinya reaksi berantai. Contoh anti oksidan sekunder adalah vitamin E, vitamin C,
beta karoten, asam urat, bilirubin, dan albumin.
Kanker esofagus dan kanker lambung juga berhubungan dengan keadaan gizi
kurang. Kenyataannya, hampir semua studi mengenai diet dengan kanker lambung,
telah menemukan efek protektif dari konsumsi sayuran dan buah-buahan, dan bahkan
dalam percobaan in vitro pembentukan komponen N-nitriso dapat ditekan seminim
mungkin oleh antioksidan seperti vitamin E dan vitamin C.
c. Antioksidan Tersier
Antioksidan tersier bertugas memperbaiki kerusakan sel-sel jaringan yang
disebabkan oleh radikal bebas. Contoh enzim yang memperbaiki DNA. Enzim ini
berguna untuk mencegah penyakit kanker. Percobaan telah mendukung teori bahwa

mengkonsumsi antioksidanyang memadai dapat mengurangi berbagai penyakit


degeratif.
E. Pengaruh

Mengonsumsi

Bahan

Makanan

Non-Nabati

terhadap

Penyakit Degeneratif
Bahan makanan non nabati atau bahan makanan hewani merupakan bahan
makanan yang berasal dari hewan. Contohnya yaitu daging, ikan, telur dan produk
olahan lainnya yang berasal dari hewan. Berikut akan dibahas mengenai pengaruh
mengonsumsi daging terhadap beberapa penyakit degeneratif.
Hubungan Daging Merah dengan Kanker
Daging merah adalah jenis daging yang berasal dari sapi, kambing,
babi, dan kuda. Jenis daging ini berwarna merah karena mengandung senyawa
heme. Selain daging merah, ada juga jenis daging putih, yang diperoleh dari
ayam, bebek, dan ikan. Kedua jenis daging ini tidak hanya berbeda dari segi
warna saja, dampak kesehatan dari mengonsumsi kedua jenis daging ini pun
berbeda.
Ada empat alasan mengenai daging merah yang dapat menyebabkan
kanker, yakni sebagai berikut.
1. Proses memasak daging merah dapat menyebabkan pembentukan
senyawa pencetus kanker.
2. Mengonsumsi daging dapat menyebabkan reaksi antara NO dan N 2O3
dengan amine di saluran cerna.
3. Daging merah akan meningkatkan asupan lemak harian.
4. Zat besi (heme) dalam daging dapat menyebabkan pembentukan
oksigen radikal di saluran cerna.
Hubungan Daging dengan Stroke dan Penyakit Jantung
Jika lemak jenuh masuk ke dalam darah akan menyebabkan beberapa
penyakit, diantaranya adalah penyakit yang berhubungan dengan pembuluh
darah seperti stroke dan pembengkakan jantung. Ini disebabkan oleh

mengentalnya darah yang diakibatkan oleh masuknya lemak jenuh ke dalam


darah.
Pada suhu tertentu lemak jenuh akan encer. Tetapi karena suhu
manusia lebih rendah daripada asal lemak jenuh, yaitu daging hewan seperti
sapi, kambing, ayam dan lain-lain, maka lemak jenuh tersebut menjadi kental
dan bahkan mengeras ketika berada didalam darah. Akibatnya sirkulasi darah
terganggu, menjadi lambat dan bahkan dapat menyumbat pembuluh darah.
Inilah yang menjadi penyebab penyakit stoke dan pembengkakan jantung.
Hubungan Daging dengan Kegagalan Fungsi Organ
Selain itu darah yang mengental juga menghambat terganggunya
kiriman nutrisi keseluruh organ tubuh sehingga menyebabkan sel-sel tubuh
kekurangan oksigen dan nutrisi. Hal ini akan berakibat terganggunya proses
mutasi sel dan ujung-ujungnya mengakibatkan terjadinya penuaan dini. Selain
itu kondisi ini juga dapat mengakibatkan organ-organ tubuh mengalami
kegagalan fungsi.
Hubungan Daging dengan Osteoporosis
Selain menyebabkan darah menjadi kental dengan lemak jenuhnya,
daging juga dapat menyebabkan darah menjadi asam. Kondisi ini
menyebabkan tulang bekerja keras untuk menetralisir kadar asam dengan
melarutkan kalsium ke dalam darah.
Mengenai hal ini, Anand dan Linkswiller menemukan bahwa
konsentrasi extracellular kalsium diatur oleh kalsium dalam tulang.
Ketidakseimbangan negatif yang berkepanjangan mengakibatkan kalsium
dalam tulang melarut sehingga menyebabkan terjadi keropos tulang atau
osteoporosis.

F. Macam-Macam Penyakit Degeneratif.


1. Penyakit Degeneratif pada Pembuluh Darah

Konstituen dasar dinding pembuluh darah adalah sel endotel dan sel
otot polos serta matriks ekstrasel (extracellular matrix, ECM) termasuk elastin,
kolagen, dan glikosaminoglikan. Terdapat tiga lapisan konsentrik yaitu intima,
media, dan adventisia. Pada arteri normal, tunika intima terdiri dari satu
lapisan sel endotel dengan jaringan ikat subendotel yang minimal. Lapisan ini
dipisahkan dari tunika media oleh membran elastik padat yang disebut lamina
elastika internal. Lapisan sel otot polos tunika media dekat lumen pembuluh
darah menerima oksigen dan nutrisi melalui difusi langsung dari lumen
pembuluh darah, yang dipermudah oleh adanya lubang-lubang di membrana
elastika interna. Namun, difusi dari lumen kurang memadai untuk bagian
luar tunika media di pembuluh darah berukuran sedang sampai besar
sehingga bagian ini mendapat nutrisi dari arteriol-arteriol kecil yang berasal
dari

luar

pembuluh

darah

(disebut

vasa

vasorum,

secara

harfiah

"pembuluhnya pembuluh darah") yang berjalan mencapai setengah sampai


dua pertiga bagian luar tunika media. Batas luar tunika media pada sebagian
besar arteri adalah lamina elastika eksterna yang berbatas tegas. Di sebelah luar
tunika media terdapat tunika adventisia, yang terdiri dari jaringan ikat
dengan serabut saraf dan vasa vasorum.
Perubahan struktural terutama terjadi di tunika media dan di ECM.
Pada arteri elastik, tunika media banyak mengandung serat elastik, yang
tersusun dalam lapisan-lapisan yang cukup kompak dan dipisahkan oleh
serta berselang-seling dengan lapisan sel otot polos. Komponen elastik aorta
memungkinkan pembuluh ini mengembang sewaktu sistol sehingga sebagian
energi denyut jantung dapat disimpan. Dengan bertambahnya usia, aorta akan
kehilangan elastisitasnya, dan pembuluh besar kurang dapat mengembang, terutama
jika tekanan darah meningkat. Oleh karena itu, arteri pada orang berusia lanjut sering
menjadi semakin berkelok-kelok dan melebar (ektatik) dan arteriol adalah titik utama
resistensi

fisiologis

aliran darah.

Gambar.1 Dinding Pembuluh Darah


Dibandingkan dengan arteri, vena memiliki garis tengah yang lebih besar,
lumen yang lebih besar, dan dinding yang lebih tipis serta kurang teratur. Karena
kurangnya jaringan penyangga, vena rentan mengalami dilatasi ireguler, penekanan,
degenerasi, dan mudah ditembus oleh tumor dan proses peradangan. Sistem vena
secara kolektif memiliki kapasitas yang besar; sekitar dua pertiga dari semua darah
berada di vena. Aliran balik dijaga oleh katup-katup vena di ekstremitas sehingga
darah dapat mengalir melawan gaya tarik bumi.
a. Arteriosklerosis
Arteriosklerosis (secara harfiah, "pengerasan arteri") adalah istilah umum untuk
penebalan dan hilangnya elastisitas dinding arteri. Dikenali adanya tiga pola
arteriosklerosis; ketiganya bervariasi dalam patofisiologi serta dampak klinis
dan patologisnya.
Aterosklerosis, pola yang tersering dan terpenting, akan dibahas pertama
kali dan secara rinci di bawah.
Sklerosis kalsifik medial Monckeberg ditandai oleh endapan kalsifik di arteri
muskular pada orang berusia lebih dari 50 tahun. Kalsifikasi, yang
tampak

secara

radiografis

dan

sering

dapat

diraba,

tidak

mempersempit lumen pembuluh.


Arteriolosklerosis yang mengenai arteri kecil dan arteriol. Terdapat dua
varian anatomik, hialin dan hiperplastik, yang keduanya berkaitan
dengan penebalan dinding pembuluh disertai penyempitan lumen yang

dapat

menyebabkan

cedera

iskemik

di

jaringan

sebelah

hilir.

Arteriolosklerosis, yang paling sering menyertai hipertensi dan diabetes


mellitus.
b. Aterosklerosis
Aterosklerosis ditandai oleh lesi intima yang disebut ateroma (zat yang
mengandung lipid dalam jaringan terutama dalam dinding arteri), atau flak
ateromatosa atau fibrofatty plaque, yang menonjol ke dalam dan menyumbat
lumen vaskular serta melemahkan tunika media di bawahnya. Lesi ini dapat
menyebabkan komplikasi serius. Aterosklerosis, yang memiliki distribusi
global, berperan besar dalam mortalitas sekitar separuh dari semua kematian
dan morbiditas serius di dunia Barat dibandingkan dengan penyakit lain.
American Heart Association mengklasifikasikan lesi aterosklerotik
menjadi enam tipe, berawal dari sel-sel busa terisolasi ("fatty dots"), berlanjut
ke tahap fatty streaks, ateroma, dan fibroateroma, hingga ke lesi komplikata.
Fatty streaks adalah lesi terdini aterosklerosis. Lesi ini terdiri dari sel-sel
busa berisi lipid. Lesi ini tidak meninggi secara signifikan sehingga tidak
menyebabkan gangguan aliran darah. Fatty streak berawal sebagai titik-titik
kuning datar dengan garis tengah kurang dari 1 mm yang menyatu menjadi
bercak memanjang, 1 cm atau lebih. Bercak ini mengandung limfosit T dan
lipid ekstrasel dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan plak.
Hubungan antara fatty streak dan plak aterosklerotik bersifat kompleks. Fatty
streak berkaitan dengan faktor-faktor risiko aterosklerosis pada orang dewasa
(terutama konsentrasi kolesterol lipoprotein serum dan merokok), dan
sebagian bukti eksperimental menunjang konsep evolusi fatty streak menjadi
plak aterosklerotik. Fatty streak sering terbentuk di bagian-bagian pembuluh
darah yang tidak terlalu rentan mengalami ateroma pada masa kehidupan
selanjutnya. Meskipun fatty streak dapat menjadi prekursor plak, tidak semua fatty
streak akan menjadi plak fibrosa atau lesi lain yang lebih parah. Plak aterosklerotik
terutama terbentuk di arteri elastik (mis. aorta, arteri karotis, dan arteri iliaka) serta

arteri muskular ukuran sedang dan besar (mis. arteri koronaria dan arteri poplitea).
Penyakit aterosklerotik simtomatik paling sering mengenai arteri-arteri yang
mendarahi jantung, otak, ginjal, dan ekstremitas bawah.

Gambar 2 Skema Aterosklerosis

Gambar 3 Kumpulan sel busa di tunika intima


Di arteri kecil, ateroma dapat menyumbat lumen, mengganggu aliran darah ke
organ distal, dan menyebabkan cedera iskemik. Plak dapat mengalami kerusakan dan
memicu pembentukan trombus, yang lebih lanjut dapat menyumbat aliran darah. Di
arteri besar, plak menekan tunika media di bawahnya dan melemahkan dinding
pembuluh yang bersangkutan sehingga aneurisma dapat pecah. Selain itu, ateroma
yang luas dapat menjadi rapuh dan melepaskan embolus ke sirkulasi distal.
Mor
penebalan
akumulasi

fologi.

Proses

kunci

aterosklerosis

tunika

adalah

intima

dan

lipid.

Suatu

10

ateroma (berasal dari kata Yunani untuk gruel) atau plak ateromatosa terdiri dari lesi
fokal meninggi yang berawal di dalam tunika intima, dan memiliki inti lipid lunak,
kuning, bergumpal (terutama kolesterol dan ester kolesterol), yang dibungkus
selubung fibrosa putih padat. Plak ateromatosa, yang juga disebut plak fibrosa,
fibrofatty, lipid, atau fibrolipid, tampak putih hingga kuning-keputihan serta menekan
lumen arteri, Ukurannya bervariasi dari garis tengah sekitar 0,3 sampai 1,5 cm, tetapi
kadang-kadang menyatu membentuk massa yang lebih besar.

Gambar 4 komponen plak ateromatosa intima


Plak aterosklerotik memiliki tiga komponen utama, yaitu (1) sel, mencakup
SMCs, makrofag, dan leukosit lain, (2) ECM, mencakup kolagen, serat elastik, dan
proteoglikan; dan (3) lipid intrasel dan ekstrasel. Komponen-komponen ini memiliki
proporsi dan konfigurasi yang berbeda-beda di lesi yang berbeda. Plak umumnya
terus berubah dan secara progresif membesar melalui kematian dan degenerasi sel,
sintesis dan degradasi (remodeling) ECM, dan organisasi trombus. Selain itu, ateroma
sering mengalami kalsifikasi. Pasien dengan kalsifikasi koronaria tahap lanjut
tampaknya berisiko besar mengalami serangan koroner.
Lesi tahap lanjut aterosklerosis berisiko mengalami perubahan-perubahan
patologis berikut yang memiliki makna klinis.
Terbentuknya mikroembolus yang terdiri dari isi lesi (embolus kolesterol atau
ateroembolus).
Perdarahan ke dalam plak, terutama di arteri koronaria.
Penyumbatan lumen secara parsial atau total.

11

Faktor risiko yang mempermudah aterosklerosis telah berhasil diidentifikasi


melalui sejumlah studi prospektif pada kelompok populasi tertentu, terutama the
Framingham (Massachusetts) Study dan the Multiple Risk Factor Intervention Trial.
Faktor-faktor konstitusional mencakup:
Usia (40-60 tahun lebih rentan)
Jenis Kelamin (Pria jauh lebih rentan mengalami aterosklerosis)
Genetika
Faktor risiko (diet, gaya hidup, dan kebiasaan perorangan)
Hiperlipidemia (HDL rendah dan LDL tinggi)
Hipertensi Pria berusia antara 45 sampai 62 tahun yang tekanan darahnya
melebihi 165/95 mmHg memiliki risiko lebih dari lima kali lipat mengidap
aterosklerosis.
Merokok
Diabetes Melitus.
Gambar 5 Diagram skematis
rangkaian
pada

hipotesis interaksi sel


aterosklerosis
Upaya

untuk
mengurangi
konsekuensi
dan dampak aterosklerosis mencakup: program pencegahan primer, yang ditujukan
untuk menunda pembentukan ateroma atau menyebabkan regresi lesi yang sudah
terbentuk pada orang yang belum pernah mengalami penyulit serius penyakit
aterosklerosis arteri koronaria, dan program pencegahan sekunder, yang ditujukan
untuk mencegah kekambuhan serangan, seperti infark miokardium pada pasien yang
simtomatik.
Seperti dirinci di atas, banyak bukti untuk memberikan anjuran berikut untuk
pencegahan primer komplikasi terkait-aterosklerosis pada orang dewasa, berdasarkan
modifikasi faktor risiko: tidak atau berhenti merokok, mengendalikan hipertensi,
penurunan berat badan dan peningkatan olahraga, pengurangan konsumsi alkohol,
12

dan, yang terpenting, menurunkan kadar kolesterol LDL total dan darah sambil
meningkatkan HDL.
2 Penyakit Degeneratif pada Jantung
Jantung normal memiliki berat bervariasi sesuai tinggi dan berat tubuh
individu; berat rata-rata pada wanita adalah sekitar 250 sampai 300 gram dan 300
sampai 350 gram pada pria. Ketebalan dinding ventrikel kanan berkisar antara 0,3
sampai 0,5 cm ventrikel kiri 1,3 sampai 1,5 cm. Seperti akan terlihat, meningkatnya
ukuran dan berat jantung dijumpai pada banyak penyakit jantung. Peningkatan berat
jantung atau ketebalan ventrikel menunjukkan hipertrofi (pembesaran sel), dan
peningkatan ukuran ruang/chamber jantung mengisyaratkan dilatasi (melebar).
Meningkatnya berat atau ukuran jantung (akibat hipertrofi dan/atau dilatasi) disebut
kardiomegali (pembesaran sel otot jantung).
Patologi
Meskipun banyak penyakit dapat mengenai jantung dan pembuluh darah,
disfungsi kardiovaskular terjadi akibat satu atau lebih dari lima mekanisme utama.

Kegagalan pompa
Obstruksi aliran
Regurgitasi aliran
Gangguan hantaran jantung
Gangguan kontinuitas system sirkulasi
Sebagian besar penyakit kardiovaskular terjadi akibat interaksi faktor

lingkungan dan kerentanan genetik. Pandangan yang sekarang berlaku bahwa


sebagian besar penyakit kardiovaskular klinis terjadi akibat interaksi kompleks faktor
genetik dan lingkungan yang mengganggu sistem yang mengontrol morfogenesis,
kelangsungan hidup miosit (sel yang telah selesai berdiferensiasi), respons stres
biomekanis, kontraktilitas, dan hantaran listrik.
Kelainan yang dijelaskan di atas sering memuncak pada gagal jantung,
suatu keadaan yang sangat sering terjadi dari sekian banyak bentuk penyakit
Jantung. Pada gagal jantung, yang sering disebut gagal jantung kongestif (GJK),
Jantung tidak mampu memompa darah dengan kecepatan yang sepadan
13

dengan kebutuhan metabolisme jaringan atau hanya dapat memenuhinya


hanya jika ada peningkatan tekanan pengisian. Meskipun biasanya
disebabkan oleh defisit intrinsik kontraksi miokardium yang terjadi perlahan,
Sindrom klinis serupa terdapat pada sebagian pasien gagal jantung akibat
keadaan-keadaan saat jantung normal secara mendadak mendapat beban yang
melebihi kapasitasnya (mis. kelebihan pemberian cairan, infark miokardium
akut, disfungsi katup akut) atau saat pengisian ventrikel terganggu. Pada
banyak keadaan patologis, gagal jantung di dahului hipertrofi jantung, respons
kompensatorik miokardium terhadap meningkatnya kerja mekanis.
Melalui sejumlah mekanisme, Sistem kardiovaskular mempertahankan
tekanan arteri dan perfusi organ vital dalam menghadapi peningkatan beban
hemodinamik atau gangguan kontraktilitas miokardium. Mekanisme yang
terpenting adalah sebagai berikut.
Mekanisme Frank-starling
Aktivasi sistem neurohumoral
Mekanisme-mekanisme

adaptif

ini

mungkin

adekuat

untuk

mempertahankan kinerja pompa jantung secara keseluruhan pada tingkat yang


relatif normal, tetapi kapasitas mekanisme-mekanisme tersebut dalam
mempertahankan kinerja jantung akhirnya dapat terlampaui.
Sebagian besar kasus gagal jantung adalah akibat penurunan progresif
fungsi kontraktil jantung (disfungsi sistolik), seperti sering terjadi pada cedera
iskemik, kelebihan beban volume atau tekanan, atau kardiomiopati dilatasi.
Kausa spesifik tersering adalah penyakit jantung iskemik dan hipertensi.
Namun, kadang-kadang gagal jantung terjadi karena ketidakmampuan ruang
jantung berelaksasi, mengembang, dan terisi secara memadai sewaktu diastol
untuk memenuhi volume darah ventrikel (disfungsi diastolik), seperti dapat
terjadi pada hipertrofi ventrikel kiri masif, fibrosis miokardium, pengendapan
amiloid, atau perikarditis konstriktif. Apa pun dasarnya, GJK ditandai oleh
berkurangnya curah jantung (kadang-kadang disebut forward failure) atau
terbendungnya darah di sistem vena (disebut backward failure), atau keduanya.

14

Miosit jantung biasanya dianggap sebagai sel yang telah selesai


berdiferensiasi dan kehilangan kemampuannya membelah diri. Dalam kondisi
yang normal, penambahan jumlah miosit fungsional (hiperplasia) tidak dapat
terjadi. Peningkatan beban mekanis menyebabkan peningkatan kandungan
komponen subselular yang menyebabkan peningkatan ukuran sel (hipertrofi).
Tingkat hipertrofi bervariasi sesuai kausa yang mendasarinya. Berat jantung biasanya
berkisar antara 350 sampai 600 gram (hingga sekitar dua kali lipat daripada normal)
pada hipertensi pulmonaris dan penyakit jantung iskemik.

Gambar 6 kardiomiopati
Di ventrikel kiri, hipertrofi otot dapat menyebabkan garis tengah rongga
berkurang. Pada kelebihan beban volume, massa otot dan ketebalan dinding meningkat
kira-kira setara dengan garis tengah ruang jantung. Namun, karena dilatasi, ketebalan
dinding jantung yang telah mengalami hipertrofi dan dilatasi tidak selalu meningkat
dan ketebalan tersebut mungkin normal atau kurang daripada normal.
Hipertrofi jantung yang menetap sering berkembang menjadi gagal jantung.
Pada akhirnya, penyakit jantung primer dan beban kompensatorik yang timbul
semakin menggerogoti cadangan miokardium. Kemudian mulai terjadi penurunan isi
sekuncup (stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) yang sering berakhir
dengan kematian.
Bagian otot jantung yang tidak mengalami infark harus bekerja berlebihan.
Sebaliknya, pada penyakit katup jantung, meningkatnya kerja volume atau tekanan
memengaruhi miokardium secara global. Perubahan molekular dan selular pada

15

jantung yang mengalami hipertrofi yang pada awalnya berperan meningkatkan fungsi
dapat ikut menyebabkan terjadinya gagal jantung. Berkurangnya miosit akibat
apoptosis mungkin berperan dalam disfungsi miokardium progresif yang dijumpai
pada penyakit jantung dengan hipertrofi. Selain menjadi faktor predisposisi untuk
terjadinya GJK, hipertrofi ventrikel kiri adalah faktor risiko independen untuk
kematian mendadak. Sistem kardiovaskular adalah suatu sirkuit yang tertutup maka
kegagalan di satu sisi (terutama sisi kiri) sering menimbulkan beban berlebihan di sisi
yang lain, yang berakhir pada gagal jantung global.
a. Gagal Jantung Sisi Kiri
Seperti yang telah dibahas, gagal jantung sisi-kiri paling sering disebabkan
oleh (1) penyakit jantung iskemik, (2) hipertensi, (3) penyakit katup aorta dan mitral,
dan (4) penyakit miokardium noniskemik. Efek morfologik dan klinis dari GJK sisikiri terutama terjadi karena pembendungan progresif darah di dalam sirkulasi paru dan
akibat berkurangnya tekanan dan aliran darah perifer.
Biasanya terdapat perubahan nonspesifik berupa hipertrofi dun fibrosis
miokardium. Pembesaran sekunder atrium kiri yang menyebabkan fibrilasi atrium
(kontraksi atrium yang tidak terkoordinasi dan kacau) mungkin menyebabkan
berkurangnya isi sekuncup.
Tekanan di vena-vena paru meningkat dan akhirnya disalurkan balik
(retrograd) ke kapiler dan arteri. Hasilnya adalah kongesti dan edema paru, dengan
paru yang berat basah. Adanya makrofag yang mengandung hemosiderin di alveolus
(disebut siderofag atau sel gagal jantung) menandakan bahwa pernah terjadi serangan
edema paru. Batuk adalah keluhan gagal jantung-kiri yang sering dijumpai.
b. Gagal Jantung Sisi Kanan
Gagal jantung sisi-kanan yang timbul tersendiri hanya terjadi pada beberapa
penyakit. Keadaan ini biasanya merupakan konsekuensi sekunder gagal jantung sisikiri karena setiap peningkatan tekanan di sirkulasi paru akibat gagal jantung sisi-kiri
akhirnya akan menyebabkan peningkatan beban pada sisi-kanan jantung. Oleh karena

16

itu, penyebab gagal jantung sisi-kanan harus mencakup semua kausa yang
menimbulkan gagal jantung sisi-kiri.
Gagal jantung sisi-kanan murni paling sering terjadi pada hipertensi
pulmonaris berat kronik dan karenanya disebut kor pulmonale. Pada keadaan ini,
ventrikel kanan mendapat beban tekanan berlebihan karena peningkatan resistensi di
dalam sirkulasi paru. Hipertrofi dan dilatasi biasanya terbatas di ventrikel dan atrium
kanan meskipun penonjolan septum ventrikel ke kiri dapat menyebabkan disfungsi
ventrikel kiri. Efek morfologis dan klinis utama gagal jantung sisi-kanan murni
berbeda dengan yang ditemukan pada gagal jantung sisi-kiri, yaitu bahwa kongesti
paru minimal, sementara bendungan sistem vena porta dan sistemik mungkin
mencolok.
Respons fisiologis pada gagal jantung memberikan rasional untuk tindakan.
Sasaran penatalaksanaan gagal jantung kongestif adalah:
-

Menurunkan kerja jantung


Meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokardium
Menurunkan retensi garam dan cairan

Pemberian oksigen terutama ditunjukan pada pasien dengan gagal jantung yang
di sertai dengan edema paru. Pemenuhan oksigen akan mengurangi kebutuhan
miokardium akan oksigen dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
3 Penyakit Degeneratif pada Otak
Stroke adalah suatu defisit neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau
hemoragi sirkulasi saraf otak. Dari definisi tersebut jelas bahwa kelainan utama
strok adalah kelainan Pembuluh darah yang tentu saja, merupakan bagian dari
pembuluh darah sistemik. Penyebab dan kelainan pembuluh darah tersebut secara
patologis bisa didapati pada pembuluh darah di bagian lain tubuh. Oleh karenanya
stroke harus dianggap merupakan akibat komplikasi penyakit sistemik.
Komplikasi yang terjadi, mengingat pembuluh darah di otak masih merupakan
bagian dari pembuluh darah sistemik. Di samping itu, kematian otak yang sudah
terjadi tidak akan dapat diobati dengan cara apapun. obat-obatan neuroprotektor
yang sering digunakan oleh para dokter ternyata tidak terbukti bermanfaat
17

berdasarkan penelitian-penelitian ilmiah. Oleh karena itu, penatalaksanaan utama


strok berupa perawatan umum dan mengatasi komplikasi sistemik, yang pada
giliran selanjutnya diharapkan dapat mencegah perluasan kerusakan jaringan otak.
Oleh Karena itu semua spesialis penyakit dalam harus berperan utama dalam
penatalaksanaan strok, termasuk pula dokter yang terlibat dalam bidang geriatric.
Strok itu sendiri dibagi menjadi 2, yaitu strok hemoragik dan stroke nonhemoragik.
a. Strok Hemoragik
Strok jenis ini merupakan sekitar 20% dari semua strok, diakibatkan oleh
pecahnya suatu mikro aneurisma dari Charcot atau etat crible di otak. Dibedakan
antara: perdarahan intraserebral, subdural, dan subaraknoid. Secara patologis pada
strok non hemoragik, yang merupakan jenis terbanyak dari seluruh strok, apa yang
terjadi pada pembuluh darah di otak serupa dengan apa yang terjadi di jantung,
terutama jenis emboli dan trombosis. Oleh karena itu faktor, risiko terjadinya strok
serupa dengan faktor risiko penyakit jantung iskemik, yaitu:
Usia
Jenis kelamin
Hipertensi
diabetes melitus, hiperlipidemia
Penyakit jantung
Koagulopati
Faktor keturunan
Hipovolemia dan syok
Gejala strok bisa dibedakan atas gejala/tanda akibat lesi yang diakibatkan
oleh komplikasinya. Gejala akibat lesi bisa sangat jelas dan mudah untuk
didiagnosis, akan tetapi bisa sedemikian tidak jelas sehingga diperlukan
kecermatan tinggi untuk mengenalinya. Pasien bisa datang dalam keadaan sadar
dengan keluhan lemah separuh badan.

18

Gambar 7 Strok Hemoragik

Gambar 8 Pemeriksaan strok hemoragik dengan MR

b. Non Hemoragik
Jenis strok ini pada dasarnya disebabkan karena pembuluh darah otak yang
kemudian menyebabkan terhentinya pasokan oksigen dan glukosa ke otak. Strok ini
sering diakibatkan trombosis akibat plak aterosklerosis arteri yang memberi
vaskularisasi pada emboli dari pembuluh darah di luar otak yang tersangkut di
arteri otak. Strok jenis ini merupakan strok yang tersering didengar. Strok
jenis ini juga bisa disebabkan berbagai terhentinya aliran darah atau hipovolemia
dan saat bangun tidur atau sedang bekerja, akan tetapi tidak jarang pasien datang
dalam keadaan koma dalam sehingga memerlukan penyingkiran diagnosis banding
sebelum mengarah ke strok. Secara umum gejala tergantung pada besar dan letak
lesi di otak, yang menyebabkan gejala dan tanda organ yang dipersarafi oleh

19

bagian tersebut. Jenis patologi (hemoragik atau non hemoragik) secara umum
tidak menyebabkan perbedaan dari tampilan gejala, kecuali bahwa pada jenis
hemoragi seringkali ditandai dengan nyeri kepala hebat, terutama terjadi saat bekerja.
Setiap strok yang terjadi pada setiap bagian otak mempunyai efek yang berbeda
seperti pada lesi di korteks, lesi di kapsul, lesi di batang otak, ataupun lesi di medulla
spinalis.
Gejala akibat komplikasi akut menyebabkan kematian 5 kali lebih banyak
dibandingkan akibat lesi, dan bersama-sama keduanya menyebabkan sekitar
20% kematian pada hari pertama.
Komplikasi akut yang terjadi adalah:

Kenaikan Tekanan Darah


Kadar gula Darah
Gangguan Jantung
Gangguan Respirasi

Gambar 9 strok hemoragik


Komplikasi kronis akibat strok yang sering terjadi dan perlu
diperhatikan adalah:
Akibat tirah baring lama di tempat tidur bisa terjadi pneumonia, dekubitus,

20

inkontinensia serta berbagai akibat imobilisasi lain


Rekurensi strok
Gangguan sosial-ekonomi
Gangguan psikologis.
Melihat berbagai hal yang telah dibicarakan di atas, maka penatalaksanaan
strok akut pada dasarnya adalah sebagai berikut:
Diagnosis, ditujukan untuk mencari beberapa keterangan, antara lain:
Apakah pasien menderita strok atau bukan
Bila memang strok, letak, jenis, dan luas lesi. Untuk kedua keadaan di atas,
pemeriksaan baku emas adalah pemeriksaan dengan pencitraan tomografi
terkomputer (CT-scan), walaupun pada beberapa keadaan, antara lain strok di
batang otak pada hari-hari pertama sering kali tidak didapatkan abnormalitas,
sehingga harus diulang setelah 24 jam kemudian. Dengan MRI (magnetic
resonance imaging = pencitiraan dengan resonansi magnetik) diagnosis letak
dan jenis lesi dapat lebih diketahui dengan pasti. Lesi kecil di batang otak yang
tidak terlihat dengan CT-scan tersebut, akan dapat terdeteksi dengan MRI.
Status pasien secara keseluruhan, termasuk di sini adalah tekanan darah,
kadar gula darah, keadaan kardiorespirasi, keadaan hidrasi, elektrolit,
asam-basa, keadaan ginjal, dan Iain-lain.
Perawatan Umum diarahkan untuk memberikan perawatan yang optimal
pada pasien, memberikan posisi yang tepat, alih baring untuk pasien dengan
kesadaran menurun, dan pemberian hidrasi yang cukup merupakan beberapa aspek
perawatan yang penting. Termasuk disini adalah pengkajian gangguan menelan
dan tatacara pemberian nutrisi bila terdapat gangguan menelan. Seringkali
pemberian makanan per oral (aktif; dengan sonde) diberikan pada pasien yang
berbaring. Pada usia lanjut hal ini sangat berbahaya, karena sering menyebabkan
pneumonia aspirasi.
Perbaikan Gangguan/Komplikasi Sistemik seperti dikemukakan di atas,
berbagai komplikasi sistemik sering lebih berbahaya dibandingkan stroknya

21

sendiri. Oleh karena itu keadaan tersebut harus selalu dipantau adalah t ekanan
darah, gula darah dan keadaan kardiorespirasi.
Upaya rehabilitasi harus segera dikerjakan sedini mungkin apabila
keadaan pasien sudah stabil. Fisioterapi pasif perlu diberikan bahkan saat pasien
masih di ruang intensif yang segera dilanjutkan dengan fisioterapi aktif bila
memungkinkan. Apabila terdapat gangguan bicara atau menelan, upaya terapi
berbicara bisa diberikan. Setelah pasien bisa berjalan sendiri, terapi fisis dan okupasi
perlu diberikan, agar pasien bisa kembali mandiri. Pendekatan psikologis terutama
berguna untuk memulihkan kepercayaan diri pasien yang biasanya sangat menurun
setelah terjadinya strok. Kalau perlu dapat diberikan antidepresi ringan.
Tindakan untuk mencegah strok berulang dan upaya rehabilitasi kronis
harus terus dikerjakan. Hal ini sebaiknya dilakukan oleh spesialis penyakit dalam
yang mengetahui penatalaksanaan berbagai faktor risiko terjadinya strok ulangan.
Dengan melihat tinjauan di atas, maka penatalaksanaan strok akut setelah
diagnosis ditegakkan (terutama dengan CT-Scan/MRl), terutama harus dilakukan
oleh spesialis penyakit dalam dan meliputi ABC seperti juga dalam menghadapi
kegawatan lain sebagai berikut:

Airway, artinya mengusahakan agar jalan napas bebas dari segala hambatan,
baik akibat hambatan yang terjadi akibat benda asing maupun sebagai

akibat stroknya sendiri


Breathing atau fungsi bernapas, yang mungkin terjadi akibat gangguan di
pusat napas (akibat strok) atau oleh karena komplikasi infeksi di saluran

napas
Cardiovascular Function (Fungsi kardiovaskular), yaitu fungsi jantung dan
pembuluh darah. Seringkali terdapat gangguan irama, adanya trombus, atau
gangguan tekanan darah yang harus ditangani secara tepat. Gangguan
jantung seringkali merupakan penyebab strok, akan tetapi juga bisa
merupakan komplikasi dari strok tersebut.

4 Penyakit Degeneratif pada Pankreas

22

Diabetes melitus adalah gangguan kronis metabolisme karbohidrat, lemak,


dan protein. Insufisiensi relatif atau absolut dalam respons sekretorik insulin, yang
diterjemahkan menjadi gangguan pemakaian karbohidrat (glukosa), merupakan
gambaran khas pada diabetes melitus, demikian juga hiperglikemia yang terjadi.
4.1 Klasifikasi dan Insidensi
Diabetes melitus adalah suatu kelompok heterogen penyakit yang gambaran
umumnya adalah hiperglikemia. Secara tradisional, diabetes diklasifikasikan menjadi
dua kategori utama: primer, bentuk tersering, berasal dari defek pada produksi atau
kerja insulin; dan sekunder, timbul akibat semua penyakit yang menyebabkan
kerusakan luas islet pankreas, seperti pankreatitis, tumor, obat tertentu, kelebihan zat
besi (hemokromatosis), pengangkatan substansi pankreas secara bedah, atau
endokrinopati genetik atau didapat berupa antagonisasi kerja insulin. Klasifikasi pada
Gambar 11. Dua varian utama diabetes (tipe 1 dan 2) berbeda dalam pola pewarisan,
respons insulin, dan asal (Gambar 10).

Gambar 10 Diabetes Militus Tipe 1 Versus 2

Diabetes tipe 1, yang dahulu disetes melitus dependen-insulin atau juvenilis,


membentuk 5% hingga 10% kasus diabetes. Penelitian terakhir menu terdapat
dua subkelompok diabetes tersering adalah tipe 1A, yang disebabkan oleh

destruksi autoimun sel beta; tipe 1B berkaitan dengan defisiensi berat insulin.
Sekitar 80% pasien mengidap sebagai diabetes tipe 2, yang dahulu disebut
diabetes melitus non dependen-insulin onset dewasa.
23

Gambar 11 Klasifikasi Diabetes Melitus


a. Patogenesis Diabetes Melitus Tipe 1A
Diabetes bentuk ini terjadi akibat destruksi autoimun sel beta. Bentuk diabetes
tipe 1A yang parah dan memerlukan insulin biasanya terjadi pada anak dan remaja,
tetapi penyakit autoimun ini juga dapat bermanifestasi pada orang dewasa dalam
bentuk yang lebih ringan, mula-mula sebagai bentuk yang tidak memerlukan insulin
(latent autoimmune diabetes in adults, LADA). Pasien tipe 1A yang masih muda
bergantung pada insulin untuk kelangsungan hidupnya, yang menjadi dasar
penamaan lama diabetes melitus dependen insulin. Tanpa insulin, mereka menderita
penyulit metabolik yang parah, seperti ketoasidosis akut dan koma.
Terdapat tiga mekanisme yang saling terkait yang berperan dalam destruksi sel
islet: kerentanan genetik, autoimunitas, dan gangguan lingkungan. Perkiraan rangkaian
peristiwa yang melibatkan ketiga mekanisme ini diperlihatkan pada Gambar 12:

Gambar 12 Gangguan lingkungan


(1) kerentanan genetik berkaitan dengan alel spesifik

kompleks

histokompatibilitas mayor (MHC) kelas II dan lokus genetik lain yang menyebabkan
seseorang rentan terhadap timbulnya autoimunitas terhadap sel beta islet; (2) reaksi

24

autoimun timbul secara spontan atau dipicu oleh (3) suatu kejadian di lingkungan yang
mengubah sel beta sehingga sel ini menjadi imunogenik. Diabetes muncul setelah
sebagian besar sel beta rusak (Gambar. 13).

Gambar 13 Stadium perkembangan diabetes


Faktor yang menyebabkan diabetes melitus tipe 1A:
-

Kerentanan Genetik
Autoimunitas.
Faktor Lingkungan

b. Patogenesis Diabetes Melitus Tipe 2


Patogenesis diabetes tipe 2 jauh lebih sedikit diketahui meskipun tipe ini
merupakan yang tersering ditemukan. Tidak ada bukti bahwa mekanisme autoimun
berperan.

Gaya

hidup jelas

berperan,

yang

akan

jelas

jika

kegemukan

dipertimbangkan.
Pada tipe ini, faktor genetik berperan lebih penting dibandingkan dengan pada
diabetes tipe 1A. Di antara kembar identik, angka concordance adalah 60% hingga 80%.
Pada anggota keluarga dekat dari pasien diabetes tipe 2 (dan pada kembar nonidentik),
risiko menderita penyakit ini lima hingga sepuluh kali lebih besar dari pada subjek
(dengan usia dan berat yang sama) yang tidak memiliki riwayat penyakit dalam
keluarganya.

25

Dua defek metabolik yang menandai diabetes tipe 2 adalah gangguan


sekresi insulin pada sel beta ketidakmampuan jaringan perifer berespons
terhadap insulin (resistensi insulin) (Gambar 14). Peran defek sekresi,
dibandingkan dengan resistensi insulin terus diperdebatkan dan mungkin sebenarnya
berbeda-beda pada pasien yang berbeda dan pada stadium penyakit yang
berlainan.

Gambar 14 Patogenesis diabetes militus tipe 2


Pada diabetes melitus, kecil kemungkinannya disebabkan oleh resistensi
insulin. Pada kasus yang jarang, mutasi di reseptor insulin menimbulkan resistensi
insulin yang parah, yang jauh lebih berat daripada pasien dengan diabetes tipe 2.
Namun, banyak pasien ini mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal
karena sel beta normal dapat meningkatkan produksi insulin. Pada awal perjalanan
diabetes tipe 2, sekresi insulin tampaknya normal dan kadar insulin plasma tidak
berkurang. Hal ini mengisyaratkan adanya gangguan sekresi insulin yang ditemukan
pada awal diabetes tipe 2, dan bukan defisiensi sintesis insulin.
Penyebab defisiensi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum sepenuhnya jelas.
Berdasarkan data mengenai hewan percobaan dengan diabetes tipe 2, diperkirakan
mula-mula resistensi insulin menyebabkan peningkatan kompensatorik massa sel beta
dan produksi insulinnya. Pada mereka yang memiliki kerentanan genetik terhadap
diabetes tipe 2, kompensasi ini gagal. Pada perjalanan penyakit selanjutnya, terjadi
kehilangan 20% hingga 50% sel beta, tetapi jumlah ini belum dapat menyebabkan
kegagalan dalam sekresi insulin yang dirangsang oleh glukosa. Namun, tampaknya
terjadi gangguan dalam pengenalan glukosa oleh sel beta. Dasar molekular
gangguan sekresi insulin yang dirangsang oleh glukosa ini masih relum sepenuhnya
dipahami. Penelitian terakhir meunjukkan adanya suatu protein mitokondria yang

26

memisahkan respirasi biokimia dari fosforilasi oxsidatif (sehingga menghasilkan


panas, bukan ATP). Protein ini, yang disebut uncoupling protein 2 (UCP2), diekspresikan
pada sel beta. Kadar UCP2 intrasel yang tinggi menumpulkan respons insulin, sedangkan
kadar yang rendah memperkuatnya. Oleh karena itu, dihipotesiskan bahwa peningkatan
kadar UCP2 di sel beta orang dengan diabetes tipe 2 mungkin dapat menjelaskan
hilangnya sinyal glukosa yang khas pada penyakit ini. Banyak perhatian dipusatkan
pada masalah ini, karena manipulasi terapeutik (untuk menurunkan) kadar UCP2
dapat digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2.
Mekanisme lain kegagalan sel beta pada diabetes tipe 2 dilaporkan
berkaitan dengan pengendapan amliloid di islet. Pada 90% pasien diabetes tipe 2
ditemukan endapan amiloid pada autopsi. Amilin, komponen utama amiloid yang
mengendap ini, secara normal dihasilkan oleh sel beta pankreas dan disekresikan
bersama dengan insulin sebagai respons terhadap pemberian glukosa. Hiperinsulinemia
yang disebabkan oleh resistensi insulin pada fase awal diabetes tipe 2 menyebabkan
peningkatan produksi amilin, yang kemudian mengendap sebagai amiloid di islet.
Amilin yang mengelilingi sel beta mungkin menyebabkan sel beta agak refrakter
dalam menerima sinyal glukosa. Yang lebih penting, amiloid bersifat toksik bagi sel beta
sehingga mungkin berperan menyebabkan kerusakan sel beta yang ditemukan pada
kasus diabetes tipe 2 tahap lanjut.
Sejak permulaan, perlu dicatat bahwa resistensi insulin adalah suatu
fenomena kompleks yang tidak terbatas pada sindrom diabetes. Pada kegemukan dan
kehamilan, sensitivitas insulin jaringan sasaran menurun (walaupun tidak terdapat
diabetes), dan kadar insulin serum mungkin meningkat untuk mengompensasi
resistensi insulin tersebut. Oleh karena itu, obesitas dapat menyebabkan terungkapnya
diabetes tipe 2 subklinis dengan meningkatkan resistensi insulin ke suatu tahap yang
tidak lagi dapat dikompensasi dengan meningkatkan produksi insulin.
Terdapat tiga sasaran utama kerja insulin: jaringan lemak dan otot; di kedua
jaringan tersebut insulin meningkatkan penyerapan glukosa, dan hati, tempat insulin
menekan produksi glukosa. Seperti telah dibicarakan, insulin bekerja pada sasaran
pertama-tama dengan berikatan dengan reseptornya. Pengaktifan reseptor insulin

27

memicu serangkaian respons intrasel yang memengaruhi jalur metabolisme sehingga


terjadi translokasi unit transpor glukosa ke membran sel yang memudahkan
penyerapan glukosa. Pada prinsipnya, resistensi insulin dapat terjadi di tingkat
reseptor insulin atau di salah satu jalur sinyal (pascareseptor) yang diaktifkan oleh
pengikatan insulin ke reseptornya. Pada diabetes tipe 2, jarang terjadi defek kualitatif
atau kuantitatif dalam reseptor insulin. Oleh karena itu, resistensi insulin diperkirakan
terutama berperan dalam pembentukan sinyal pascareseptor.
Obesitas berkaitan dengan resistensi insulin walaupun tidak terdapat diabetes.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa obesitas adalah salah satu faktor risiko
lingkungan yang penting dalam patogenesis diabetes tipe 2, dan diperkirakan berperan
penting dalam meningkatnya insidensi diabetes bentuk ini pada anak. Untungnya, bagi
banyak orang kegemukan dengan diabetes, penurunan berat dan olahraga dapat
memulihkan resistensi insulin dan gangguan toleransi glukosa, terutama pada awal
perjalanan penyakit saat produksi insulin belum banyak terpengaruh. Zat terakhir yang
ditemukan dalam jaringan adiposa adalah resistin, yang diberi nama demikian karena
zat ini meningkatkan resistensi insulin. Resistin dihasilkan oleh sel lemak, dan
kadarnya meningkat pada berbagai model hewan pengerat untuk obesitas. Penurunan
kadar resistin meningkatkan kerja insulin dan, sebaliknya, pemberian resistin rekombinan
meningkatkan resistensi insulin pada hewan normal.
Pemahaman yang lebih mendalam tentang jalur-jalur semacam ini dalam sel
lemak dapat menghasilkan sasaran terapeutik baru untuk pengobatan diabetes tipe 2;
sebagai salah satu contoh, obat yang menetralkan kerja resistin mungkin bermanfaat
dalam sebagai ringkasan, diabetes tipe 2 merupakan I penyakit kompleks
multifaktor yang melibatkan gangguan pengeluaran insulin maupun inserts I
organ sasaran. Resistensi insulin, yang berkaitar dengan obesitas (Gambar. 15),
menimbulkan stres lebihan pada sel beta, yang akhirnya mengalam: gagalan dalam
menghadapi peningkatan kebutu. insulin.

28

Gambar 15 Peran sentral lemak dalam mengendalikan resistensi insulin


Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diabetes melitus didasarkan pada (1) rencana diet, (2)
latihan fisik dan pengaturan aktivitas fisik, (3) agen-agen hipoglikemik oral, (4)
terapi insulin, (5) pengawasan glukosa di rumah, dan (6) pengetahuan tentang diabetes
dan perawatan diri. Diabetes adalah penyakit kronik, dan pasien perlu menguasai
pengobatan dan belajar bagaimana menyesuaikannya agar tercapai kontrol
metabolik yang optimal. Pasien dengan diabetes tipe 1 adalah defisiensi insulin dan
selalu membutuhkan terapi insulin. Pada pasien diabetes tipe 2 terdapat resistensi
insulin dan defisisiensi insulin relatif dan dapat ditangani tanpa insulin.
Rencana diet pada pasien diabetes dimaksudkan untuk mengatur jumlah kalori
dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari. Jumlah kalori yang disarankan
bervariasi, bergantung pada kebutuhan apakah untuk mempertahankan, menurunkan
atau meningkatkan berat tubuh. Sebagai contoh, pada pasien obesitas, dapat
ditentukan diet dengan kalori yang dibatasi hingga berat badan pasien turun
hingga kekisaran optimal untuk pasien tersebut. Sebaliknya pada pasien muda
dengan diabetes tipe 1, berat badannya dapat menurun selama keadaan
dekompensasi.

Pasien

ini

harus

menerima

kalori

yang

cukup

untuk

mengembalikan berat badan mereka ke keadaan semula dan untuk pertumbuhan.


Rencana diet harus didapat dengan berkonsultasi dahulu dengan ahli gizi yang
terdaftar dan berdasarkan pada riwayat diet pasien, makanan yang lebih disukai, gaya
hidup, latar belakang, budaya, dan aktivitas fisik.
Untuk mencegah hiperglikemia postprandial dan glikosuria, pasien-pasien
diabetik tidak boleh makan karbohidrat berlebihan. Umumnya karbohidrat merupakan
50% dari jumlah total kalori per hari yang diizinkan. Karbohidrat ini harus dibagi
29

rata sedemikian rupa sehingga apa yang dimakan oleh pasien sesuai dengan
kebutuhannya sepanjang hari. Insulin dapat digunakan dengan rasio 1 unit per 15
gram karbohidrat total.
Latihan fisik kelihatannya mempermudah transpor glukosa ke dalam sel-sel
dan meningkatkan kepekaan terhadap insulin. Pada individu sehat, pelepasan
insulin menurun selama latihan fisik sehingga hipoglikemia dapat dihindarkan.
Namun, pasien yang mendapat suntikan insulin, tidak mampu untuk memakai
cara ini, dan peningkatan ambilan glukosa selama latihan fisik dapat menimbulkan
hipoglikemia. Faktor ini penting khususnya ketika pasien melakukan latihan fisik saat
insulin telah mencapai kadar maksimal atau puncaknya. Dengan menyesuaikan waktu
pasien dalam melakukan latihan fisik, pasien mungkin dapat meningkatkan
pengontrolan kadar glukosa mereka.
Pasien-pasien

dengan

gejala

diabetes

melitus

tipe

dini

dapat

mempertahankan kadar glukosa darah normal hanya dengan menjalankan rencana


diet dan latihan fisik saja. Tetapi, sebagai penyakit yang progresif, obat-obat oral
hipoglikemik juga dianjurkan. Obat-obatan yang digunakan adalah pensensitif insulin
dan sulfonilurea. Obat-obatan ini dapat menyebabkan retensi air dan tidak dianjurkan
untuk diberikan pada pasien dengan gagal jantung kongestif.
Bila kadar glukosa tidak dapat dikontrol secara optimal dengan menggunakan
cara-cara yang sudah dijelaskan, pasien-pasien diabetik tipe 2 dengan sisa sel-sel
pulau Langerhans yang masih berfungsi, merupakan calon yang tepat untuk
menggunakan

sulfonilurea. Obat-obat ini merangsang fungsi sel beta

dan

meningkatkan sekresi insulin. Sebaliknya, pasien-pasien dengan diabetes tipe 1


yang telah kehilangan kemampuannya untuk menyekresi insulin, pengobatan dengan
sulfonilurea menjadi tidak efektif. Gabungan sulfonilurea dengan pensensitif insulin
adalah terapi obat yang paling sering digunakan untuk pasien-pasien dengan
diabetes tipe 2.
Pemberian Insulin

30

Pada individu sehat, sekresi insulin mengimbangi jumlah asupan makanan


yang bermacam-macam dengan latihan fisik. Sebaiknya, individu yang menderita
diabetes tidak mampu menyekresi jumlah insulin yang cukup untuk mempertahankan
euglikemia. Sebagai akibatnya, kadar glukosa darah meningkat tinggi sebagai respons
terhadap makanan, dan tetap tinggi pada keadaan puasa. Pasien dengan insufisiensi
insulin berat membutuhkan suntikan insulin selain rencana makanan. Insulin
diklasifikasikan sebagai insulin masa kerja pendek, masa kerja sedang, atau masa
kerja panjang, berdasarkan waktu yang digunakan untuk mencapai efek penurunan
glukosa plasma yang maksimal yaitu waktu untuk meringankan efek yang terjadi
setelah pemberian suntikan. Insulin masa kerja pendek mencapai kerja maksimal
dalam waktu beberapa menit hingga 6 jam setelah penyuntikan dan digunakan untuk
mengontrol hiperglikemia postprandial. Insulin masa kerja pendek juga digunakan
untuk pengobatan intravena dan penatalaksanaan pasien dengan ketoasidosis
diabetik. Insulin masa kerja pendek juga dapat dikombinasikan dengan insulin masa
kerja panjang. Insulin masa kerja sedang mencapai kerja maksimal antara 6
hingga 8 jam setelah penyuntikan dan digunakan untuk pengontrolan harian
pasien dengan diabetes. Insulin masa kerja panjang mencapai kadar puncaknya dalam
waktu 14 hingga 20 jam setelah pemberian dan jarang digunakan untuk
pemakaian rutin pada pasien-pasien diabetes.
Pengendalian glukosa darah pada pasien-pasien diabetes yang memerlukan
insulin dapat dicapai dengan pemberian insulin masa kerja sedang sebelum
sarapan dan makan malam, dengan dosis yang lebih besar diberikan sebelum
sarapan. Insulin dengan masa kerja singkat sering dikombinasi dengan insulin
masa kerja sedang untuk pengaturan fisiologis dari glukosa pada fase postprandial,
khususnya pada pasien diabetes tipe 1. Terapi insulin yang lebih tepat dapat dicapai
dengan suntikan insulin yang lebih sering atau sistem infus insulin subkutan yang
terus menerus. Jika sering diberikan suntikan insulin, insulin regular masa kerja cepat
diberikan setiap kali sebelum makan, sedangkan insulin NPH masa kerja sedang
diberikan saat menjelang tidur. Pilihan yang tepat untuk pengobatan jenis ini

31

adalah insulin glargine yang diberikan sekali sehari menjelang tidur dikombinasikan
dengan lispro dosis multipel pada saat makan.
Terapi insulin yang intensif dapat diberikan melalui pompa infus insulin
subkutan. Beberapa pompa infus insulin yang ringan dan mudah dibawa telah
tersedia sehingga dapat diberikan infus basal yang terus menerus dan bolus
preprandial yang diberikan 30 menit sebelum makan. Pemakaian sistem ini
seringkali menghasilkan kontrol glukosa yang lebih baik. Pasien yang sedang
diterapi insulin harus diawasi kadar glukosa mereka sebelum diberikan setiap dosis
insulin. Penilaian ini dilakukan pada ujung jari, yang dapat menghasilkan darah
kapiler yang menetes. Darah diletakkan pada sebuah uji strip dan dibaca dengan
pengukur glukosa. Alat tersebut dapat menyimpan nilai glukosa dalam memorinya,
dan informasi ini dapat dilihat oleh ahli kesehatan untuk saran selanjutnya dalam
program insulin. Terapi insulin yang intensif seringkali berakibat pada perbaikan
kontrol glukosa. Pada pasien-pasien dengan diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas,
asimtomatik, dan mempunyai kadar glukosa yang cukup tinggi, pengobatan pilihan
adalah pembatasan diet dan penurunan berat badan.

5 Penyakit Degeneratif pada Tulang


1. Osteoartritis (OA)
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan
kerusakan jaringan tulang rawan pada sendi yang ditandai dengan perubahan
pada tulang. Faktor resiko terjadinya penyakit ini adalah genetik, perempuan,
riwayat benturan pada sendi, usia dan obesitas.
Gejala yang dapat ditemukan pada penyakit ini adalah:
a) Nyeri pada sendi terutama setelah beraktivitas dan membaik
setelah beristirahat.
b) Kadang dapat ditemukan kekakuan di pagi hari, durasi tidak lebih
dari 30 menit.

32

Gejala tersebut menyebabkan kesulitan untuk melakukan aktivitas


sehari-hari dan bekerja. Umumnya sendi yang terkena adalah sendi-sendi
yang menopang tubuh seperti lutut, panggul, dan punggung.
2. Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai
dengan rendahnya massa tulang dan penipisan jaringan tulang. Hal tersebut
dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Diagnosis dari penyakit ini berdasarkan massa tulang. Karena penyakit
ini tidak memberikan gejala hingga terjadi patah tulang, maka penting untuk
dilakukan skrining untuk mencegah penyakit ini. Selain itu, penderita juga
harus menjaga diri dan melakukan penyesuaian agar tidak mudah jatuh,
misalnya kamar mandi menggunakan lantai yang kasar.
Osteoporosis dapat disebabkan oleh:
a)
b)
c)
d)

Penyerapan kalsium yang menurun pada wanita post menopause.


Usia lebih dari 70 tahun.
Penyakit kronis.
Defisiensi zat pembentu tulang seperi kalsium, vitamin D.

3. Asam Urat
Yang dimaksud dengan asam urat adalah sisa metabolisme zat purin
yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Ini juga merupakan hasil
samping dari pemecahan sel dalam darah.
Purin sendiri adalah zat yang terdapat dalam setiap bahan makanan
yang berasal dari tubuh makhluk hidup. Dengan kata lain, dalam tubuh
makhluk hidup terdapat zat purin ini, lalu karena kita memakan makhluk
hidup tersebut, maka zat purin tersebut berpindah ke dalam tubuh kita.
33

Berbagai sayuran dan buah-buahan juga terdapat purin. Purin juga dihasilkan
dari hasil perusakan sel-sel tubuh yang terjadi secara normal atau karena
penyakit tertentu.
Normalnya, asam urat ini akan dikeluarkan dalam tubuh melalui feses
(kotoran) dan urin, tetapi karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat
yang ada menyebabkan kadarnya meningkat dalam tubuh. Hal lain yang dapat
meningkatkan kadar asam urat adalah kita terlalu banyak mengkonsumsi
bahan makanan yang mengandung banyak purin. Asam urat yang berlebih
selanjutnya akan terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa
nyeri atau bengkak.

Penderita asam urat setelah menjalani pengobatan yang

tepat dapat diobati sehingga kadar asam urat dalam tubuhnya kembali normal.
Tapi karena dalam tubuhnya ada potensi penumpukan asam urat, maka
disarankan agar mengontrol makanan yang dikonsumsi sehingga dapat
menghindari makanan yang banyak mengandung purin.
Gejala Asam Urat :
a) Kesemutan dan linu
b) Nyeri terutama malam hari atau pagi hari saat bangun tidur.
c) Sendi yang terkena asam urat terlihat bengkak, kemerahan, panas
dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
Solusi Mengatasi Asam Urat:
a) Melakukan pengobatan hingga kadar asam urat kembali normal. Kadar
normalnya adalah 2.4 hingga 6 untuk wanita dan 3.0 hingga 7 untuk
pria.
b) Kontrol makanan yang dikonsumsi.
c) Banyak minum air putih. Dengan banyak minum air putih, kita dapat
membantu membuang purin yang ada dalam tubuh.
G. Pencegahan Penyakit Degeneratif secara Umum
Faktor-faktor resiko utama penyebab penyakit degeneratif adalah pola makan
yang tidak sehat, kurangnya aktifitas fisik, serta konsumsi rokok. Pola makan yang
tidak sehat contohnya adalah mengkonsumsi makanan berlemak jenuh seperti junk
food serta makanan berkolestrol lainnya.

34

Modernisasi pekerjaan yang serba elektronik mendorong banyaknya jenis


pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga sehingga berkurang aktifitas fisik.
Peningkatan pemasaran dan penjualan produk tembakau yang marak pada negaranegara dengan pendapatan rendah hingga sedang sangat berperan dalam menjadikan
konsumsi rokok sebagai faktor risiko penyakit degeneratif. Ada beberapa upaya yang
dapat mencegah penyakit degeneratif, yakni dengan melakukan olahraga teratur dan
sinar matahari yang menunjang bagi tubuh. Melakukan kegiatan fisik dan olahraga
(setiap hari jalan kaki) sangat dianjurkan untuk meningkatkan kebugaran, mencegah
kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta
memperlambat proses penuaan. Selain berolahraga berjemur pada matahari pagi dan
sore memberikan kontribusi dalam menjaga aktifitas sel-sel tubuh. Sinar matahari
sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kita. Yang terbaik bila kita disinari cahaya
matahari sebelum pukul 09.00 pagi dan setelah pukul 16.00 sore, karena sinar
matahari mengurangi kolesterol darah. Cara lain istirahat yang cukup, hal ini akan
menjaga tubuh dalam kondisi alkali (basa). Dalam kondisi ini tubuh akan melakukan
metabolism secara normal.
Proses penuaan sel-sel tubuh berjalan lebih lambat, hal ini sangat
menguntungkan jika terjadi pada alat-alat vital tubuh. Selain itu, makan makanan
bergizi seimbang. Manusia dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya,
dimulai dari saat pembuahan, berlangsung sepanjang masa hidupnya hingga dewasa
sampai masa tua, memerlukan zat gizi yang terkandung dalam makanan. Jadi
manusia mendapat zat gizi atau nutrient dalam bentuk makanan yang berasal dari
hewan (hewani) dan tumbuh-tumbuhan (nabati). Makanan dengan gizi seiimbang
adalah makanan yang mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
Cara orang-orang Jepang mencegah Penyakit Degeneratif adalah banyak
mengkonsumsi ikan. Penduduk Jepang setiap hari mengonsumsi ikan dan rumput
laut. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu protein ikan setingkat
dengan mutu protein daging, sedikit di bawah mutu protein telur dan di atas mutu
protein serelia dan kacang-kacangan. Ikan adalah sumber protein dan memiliki
kandungan asam lemak omega-3 yang mempunyai peran dalam pencegahan penyakit
generatif, seperti jantung koroner, diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, kanker.
35

Mengkonsumsi ikan sejak usia muda juga dapat menunjang perkembangan kesehatan
dan kecerdasan otak.
H. Tips Cara Hidup Sehat Untuk Menghindari Penyakit Degeneratif
Ada beberapa tips cara hidup yang dapat kita lakukan agar terhindar dari
berbagai macam penyakit degeneratif, tips tersebut antara lain adalah sebagai
berikut :
1. Batasi asupan gula (baik camilan, soft drink, coklat dll).
2. Kurangi asupan purin (dari bahan makanan, misalnya: jerohan, alkohol,
sarden, burung dara, unggas, kaldu daging, emping, tape).
3. Diet rendah lemak. (lemak tinggi pada kuning telur, keju, kepiting, udang,
kerang, cumi, susu dan santan).
4. Cegah kegemukan (untuk orang Asia BMI ideal = 8.5 22.9 kgm2 )
5. Hindari asupan garam yang berlebihan.
6. Berhenti merokok.
7. Latihan/olahraga harian sekitar 300 kkal perhari atau jalan 3 km.
8. Tidur 6 jam per hari.
9. Berhenti minum alkohol.
10. Medical check up teratur, terutama yang berusia > 40 th, lakukan tiap 3, 6
dan 12 bulanan.

36