Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI KLINIK
ANIMAL CLINIC JAKARTA
LIVER DISORDER

Oleh :
ERICK TRI MAHENDRA TARIGAN S.KH
150130100011019

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

TINJAUAN KLINIS
PEMERIKSAAN FISIK (Physical Examination)
1. Anamnesa
Kucing bernama meenie dibawa ke Animal Clinic Jakarta dengan keluhan
hewan tidak mau makan (anoreksia) selama 5 hari. Kucing meenie sudah pernah
divaksin dan dikastrasi. Kucing mengalami muntah cairan putih dan bersin bersin.
2. Signalement Hewan
Nama Hewan
Jenis Hewan
Ras
Warna
Sex
Berat Badan
Umur

: Meenie
: Kucing
: Domestic Short Hair
: Red and white tabby
: Jantan
: 4, 3 Kg
: 8 tahun

3. Status present
Suhu kucing 38,1 C. Keadaan umum tidak aktif (lemas). Membran mukosa mata,
gusi, dan telinga berwarna kuning (Jaundice). Turgor kulit sedikit dehidrasi ,
limfoglandula teraba normal. Palpasi abdomen dan trakea negatif.

4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang berupa uji darah lengkap dan uji kimia darah
Tabel 1. Hasil Uji Darah Lengkap 09 februari
Pemeriksaan
WBC
RBC
Hemoglobin
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDWc

Hasil
19.10
9.13
13.7
40.9
44
15.0
34.2
21.3

Normal
5,5-19,5
5-10
8-15
24-45
39-55
12,5-17,5
30-36

Satuan
103/l
106/l
gr/dl
%
Fl
Pg
g/dl
%

Interpretasi

Limfosit
Monosit
Neutrofil
Eosinofil
Basofil
Limfosit
Monosit
Neutrofil
Eosinofil
Basofil
PLT
PCT
MPV
PDWc

4.50
1.68
12.12
0.79
0.02
23.6
8.8
63.4
4.1
0,1
124
0.15
12,3
38.3

1,5-7
0-1,5
2,5-14
0-1
0-0,2
20-55
1-3
35-80
0-10
0-1
300-800
12-17

103/l
103/l
103/l
103/l
103/l
%
%
%
%
%
103/l
%
Fl
%

Tabel 2. Hasil Uji Darah Lengkap 23 februari


Pemeriksaan
WBC
RBC
Hemoglobin
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDWc
Limfosit
Monosit
Neutrofil
Eosinofil
Basofil
Limfosit
Monosit
Neutrofil
Eosinofil
Basofil
PLT
PCT
MPV
PDWc

Hasil
13.33
7.72
11.4
32.36
42
14.8
35.3
21.3
1.54
0.90
10.84
0.05
0.00
11.6
6.8
81.3
0.3
0.0
168
0.20
11.9
36.5

Normal
5,5-19,5
5-10
8-15
24-45
39-55
12,5-17,5
30-36
1,5-7
0-1,5
2,5-14
0-1
0-0,2
20-55
1-3
35-80
0-10
0-1
300-800
12-17

Satuan
103/l
106/l
gr/dl
%
Fl
Pg
g/dl
%
103/l
103/l
103/l
103/l
103/l
%
%
%
%
%
103/l
%
Fl
%

Interpretasi

Tabel 3. Uji Kimia Darah 09 Februari 2016


Pemeriksaan
Ureum
Creatinin
AST

Hasil
30, 84
1.23
252.16

Normal
30-65
0,5-1,5
9,2-39

Satuan
Mg/dl
Mg/dl
IU/L

Interpretasi

ALT
ALP
Bil Total
GGT
Total Protein
Albumin

728.41
138.84
13.65
3.36
31
3.58

8,3-52,5
12-65,1
0,0-0,6
<2
5,8-8,0
2,8-5,5

IU/L
IU/L
Mg/dl
IU/L
g/dl
g/dl

Tabel 4. Uji Kimia Darah 15 Februari 2016


Pemeriksaan
Hasil
Normal
AST
223.99
9,2-39
ALT
561.97
8,3-52,5
ALP
155.67
12-65,1
Bil Total
14.40
0,0-0,6
GGT
4.26
<2

Satuan
IU/L
IU/L
IU/L
Mg/dl
IU/L

Interpretasi

Tabel 5. Uji Kimia Darah 23 Februari 2016


Pemeriksaan
Hasil
Normal
AST
118.22
9,2-39
ALT
360.99
8,3-52,5
ALP
259.07
12-65,1
Bil Total
16.80
0,0-0,6
GGT
7.61
<2

Satuan
IU/L
IU/L
IU/L
Mg/dl
IU/L

Interpretasi

Diagnosa
Berdasarkan pemeriksaan fisik dan temuan klinis serta hasil pemeriksaan penunjang
hewan diagnosa Feline Liver Disorder.

Diagnosa Banding
Berdasarkan pemeriksaan fisik dan temuan klinis hewan diagnosa banding yang
mungkin terjadi adalah Cholangitis/Cholangiohepatitis Pankreatitis, Extrahepatic bile
duct syndrome, Hepatic neoplasia, Feline Infectious Peritonitis (FIP), feline hepatic
lipidosis

Prognosa
Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan maka prognosa
dari penyakit ini adalah dubius fausta yang berarti kemungkinan hewan masih dapat di
sembuhkan.

Terapi
Terapi yang dilakukan pada tanggal 9 Februari 2016 adalah di berikan terapi
cairan Infus Ringer Asetat 250 ml. Novifit I tab SID, Amcilin 1 ml i.v. Kondisi dan
terapi pada saat hewan meenie di rawat inap di Animal Clinic Jakarta akan tersaji pada
tabel 3.
Tabel 3. Rekam Medik Harian Meenie Saat Rawat Inap

Waktu
10 feb 2016

Kondisi
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)

11 feb 2016

Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap) dan sudah
mau makan sendiri
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
: normal
Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
: normal
Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
: normal
Urine
: normal

12 feb 2016

13 feb 2016

14 feb 2016

15 feb 2016

16 feb 2016

17 feb 2016

18 feb 2016

19 feb 2016

20 feb 2016

Terapi
RA 250 ml
Novifit S I tab SID
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk II tab (pagi sore)
Diet pakan recovery
RA 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk 1 tab (pagi)
Novifit 1 tab a.c (sore)
RA 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk 1 tab (pagi)
Novifit 1 tab a.c (sore)
RA 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RA 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Metronidazole 15 ml i.v drip
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)

Makan
21 feb 2016

22 feb 2016

: Habis (di suap)

Aktivitas : aktif
Feses
:
Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)

23 feb 2016

Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)

24 feb 2016

Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)
Aktivitas : aktif
Feses
:Urine
: normal
Makan : Habis (di suap)

25 feb 2016

Urdafalk I tab (pagi)


Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Metronidazole 15 ml i.v
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore))
RL 250 ml
Metronidazole 15 ml i.v
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)
RL 250 ml
Amcilin 1 ml i.v (pagi sore)
Urdafalk I tab (pagi)
Novifit I tab a.c (sore)

PEMBAHASAN
Kucing Meenie dibawa ke Animal Clinic Jakarta pada tanggal 9 Februari 2016
dengan keluhan Meenie tidak mau makan (anoreksia) selama 5 hari. Kucing mengalami
muntah cairan putih dan bersin bersin (sneezing). Hasil pemeriksaan fisik yang
dilakukan meenie terlihat tidak aktif (lemas), membran mukosa mata, gusi, dan telinga
berwarna kuning (Jaundice), turgor kulit sedikit dehidrasi (mild dehydration),
limfoglandula teraba normal, palpasi abdomen dan trakhea tidak ada rasa sakit (negatif),
dan suhu tubuh Meenie 38,1 C. Kucing meenie sudah pernah divaksin dan dikastrasi.
Pemeriksaan penunjang dilakukan pada tanggal 9 dan 23 Februari 2016 dengan
pemeriksaan darah lengkap (Complete blood count) dan kimia darah pada tanggal 9, 15
dan 23 Februari 2016. Hasil pemeriksaan darah lengkap (Complete blood count)
menunjukkan kucing Meenie mengalami thrombocytophenia yang ditandai dengan
penurunan jumlah platelet dibawah normal yaitu 124 dan 168 (300-800 103/l) (Tabel 1
dan 2). Salah satu penyebab thrombocytophenia adalah menurunnya produksi platelet.

Penurunan produksi platelet dapat disebabkan oleh infeksi virus, hepatic disorder,
sepsis dan kekurangan vitamin B 12 (Thrall and Weiser, 1992). Hasil pemeriksaan kimia
darah pada tanggal 9 Februari 2016 menunjukkan adanya peningkatan yang singnifikan
jumlah ALT, AST, ALP, total bilirubin, dan GGT yang mengindikasikan adanya
gangguan pada hepar (Tabel 3). ALT (Alanin Aminotransferase) merupakan enzim yang
diproduksi di hepar ketika membran sel - sel hepatosit rusak. Tingkat ALT diukur untuk
membantu menilai tingkat kerusakan hepar dan dapat digunakan untuk menentukan
seberapa baik pengobatan bekerja (Stockham and Scott, 2002). AST (Aspartate
Aminotransferase) adalah enzim miktokondria yang diproduksi di dalam hati ketika sel
- sel hepatosit mengalami kerusakan. Enzim AST juga ditemukan di ginjal, jantung dan
otak sehingga nilai AST kurang spesifik untuk penyakit hepar (Stockham and Scott,
2002). Alkaline phospatase (ALP) merupakan isoenzim yang di produksi oleh beberapa
organ yaitu hepar (Bile ducts epitelial dan hepatosit), tulang (osteoblast), intestinal,
ginjal, dan plasenta. Pada umumnya peningkatan aktivitas ALP berasal dari hepar dan
tulang akibat kerusakan sel pada jaringan organ (Stockham and Scott, 2002). GGT
(Gamma Glutamil Transpeptidase) dapat ditemukan di intestinal, pankreas, ginjal dan
hepar (mikrosom hepatosit dan biliary ephitelial cells). Peningkatan GGT

mengindikasikan terjadinya peningkatan zat toksik yang berlebihan dan merupakan


indikator terjadinya Chloestasis. Bilirubin adalaha produk utama dari penguraian sel
darah merah yang tua. Bilirubin disaring dari darah oleh hepar dan dikeluarkan pada
cairan empedu sehingga kerusakan pada hepar akan menyebabkan peningkatan total
bilirubin (Phillip and Cash, 2011). Dari interpretasi hasil laboratorium menunujukkan
terjadi gangguan fungsi hepar (liver disorder) yang ditandai dengan peningkatan yang
signifikan pada ALT, AST, ALP, GGT dan total bilirubin.
Hepar merupakan kelenjar tubuh yang paling besar dan merupakan pusat
metabolisme tubuh dengan fungsi yang sangat kompleks. Hepar memegang peranan
penting pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan memproduksi energi
(Bradburry, 2006). Jaundice / ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning
pada kulit, sklera mata dan membran mukosa karena adanya deposisi produk akhir
katabolisme heme yaitu bilirubin dalam sirkulasi darah. Jaundice atau ikterus pada
kucing disebabkan oleh gangguan fungsi hepar. Pada kondisi gangguan hepar (liver
disorder), hepatosit tidak dapat memproses bilirubin sehingga bilirubin terkonsentrasi
dalam sirkulasi darah. Berdasarkan penyebabnya, ikterus dapat dibedakan menjadi 3,
yaitu : gangguan pada pre hepatic, intra hepatic, dan post hepatic (Phillip and Cash,
2011).
Gangguan pre hepatic disebabkan oleh lisisnya sel darah merah secara berlebihan
(hemolisis) serta akmulasi unconjugated billirubin. Hemolisis dapat disebabkan oleh
reaksi obat (acetaminophen), autoimmun hemolityc anemia (FeLV), dan parasit darah
(Mycoplasma haemofelis). Hasil laboratorium pada gangguan pre hepatic didapatkan
anemia regeneratif, RBC Heinz body (pada keracunan obat acetaminophen),
hemoglobinuria, hemoglobinemia, bilirubinuria dan bilirubinemia (Szatmari et al,
2006).
Gangguan intra hepatik disebabkan proses pengambilan, konjugasi, maupun
ekskresi bilirubin oleh hepatosit terganggu akibat kerusakan hati yang berat (akut atau
kronis). Gangguan intra hepatic pada kucing umumnya terjadi akibat hepatic lipidosis
(fatty liver) atau cholangiohepatitis. Hepatic lipidosis terjadi pada kucing obesitas yang
mengalami anoreksia selama 3 hari sampai seminggu. Akibatnya selama anoreksia
berkepanjangan menyebabkan semakin banyak lemak yang dimetabolisme di hepar

menjadi trigiliserida dan diangkut ke seluruh tubuh. Proses ini menyebabkan fungsi hati
terganggu dan terjadi akumulasi lemak di hepar yang menyebabkan kerusakan sel
hepatosit. Gejala klinis pada hepatic lipidosis pada kucing adalah jaundis, anoreksia,
letargi, vomit, dehidrasi, penurunan berat badan dan diare (jarang terjadi). Hasil
patologi klinik pada penyakit ini didapatkan peningkatan

kadar TG, ALT, ALP,

blilirubin, dan sedikit peningkatan GGT (Ettinger and Feldman, 2005).


Cholangiohepatitis merupakan inflamasi saluran empedu dan jaringan hati
yang letaknya berdekatan. Cholangiohepatitis adalah salah satu penyakit hepar yang
paling umum dari kucing, dan jarang dijumpai pada anjing. Cholangiohepatitis dapat
diklasifikasikan menjadi 2 tipe, yakni tipe akut (supuratif) dan kronis (non supuratif)
cholangiohepatitis. Penyebab cholangiohepatitis supuratif yakni memiliki onset akut
dan berhubungan dengan gejala parah, hal ini dikarenakan adanya infeksi bakteri dari
saluran usus atau infeksi melalui darah (bakteri atau virus). Adapun jenis bakteri yang
umum ditemukan adalah E.coli, clostridium, dan streptococcus. Cholangiohepatitis non
supuratif memiliki tanda-tanda klinis mungkin ringan dan samar-samar selama beberapa
minggu atau bulan. Etiologi bentuk non supuratif tidak diketahui namun dianggap oleh
beberapa melibatkan mekanisme sistem imun sekunder gangguan lain, seperti kolangitis
supuratif, kolesistitis, pankreatitis dan penyakit radang usus. Gejala klinis pada
Cholangiohepatitis adalah anorexia, jaundis, dehidrasi, vomit, diare, hepatomegali,
peningkatan suhu (pada supuratif) dan penurunan berat badan. Hasil kimia darah pada
cholangiohepatitis terjadi peningkatan ALT, GGT, ALP, globulin, bilirubin dan WBC
(neutrofil pada supuratif dan eusinofil pada liver fluke akibat parasit) (ONeill et al,
2006).
Gangguan post hepatik disebabkan oleh terhambatnya aliran empedu akibat
obstruksi saluran empedu sehingga bilirubin terkonjugasi tinggi di dalam darah. Post
hepatic biasanya disebabkan choleolhitiasis. Batu empedu atau cholelithiasis adalah
timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Gejala klinis
pada cholelithiasis adalah anorexia, rasa nyeri pada abdomen, jaundis, mual dan
muntah. Hasil uji kimia darah pada cholelithiasis ditandai dengan peningkatan ALP,
kolesterol, bilirubin dan sediki peningkatan ALT (Szatmari et al, 2006).

Treatment dari liver disorder adalah dengan penggunaan terapi cairan untuk
mengatasi dehidrasi (Pillai et al., 2009). Pada kasus kucing Meenie terapi cairan
menggunakan infus Ringer Asetat secara intra vena sebanyak 250 ml. Pada kasus
gangguan fungsi hepar pemberian Ringer Laktat perlu diperhatikan karena pada kasus
ini hepar tidak dapat mengekskresikan laktat sehingga dapat menyebabkan lactic
acidosis. Diberikan infus Ringer Asetat selama kadar ALT, ASP, dan ALP tinggi, apabila
sudah turun maka dilanjutkan terapi menggunakan Ringer Laktat (Tilley and Smith,
2007). Dosis pemberian larutan RA dan RL adalah 40-60 ml/kg bb/hari. Pengobatan
dilakukan dengan injeksi Amcilin 1 ml secara intravena sebagai antibiotik.
Amcilin (ampicillin) adalah antibiotik golongan beta laktam termasuk keluarga
penisillinum yang mempunyai spektrum luas, aktif terhadap bakteri gram negatif
maupun gram positif. Ampicillin adalah bakteriosidal yang bekerja dengan cara
menghambat secara irreversibel aktivitas enzim transpeptidase yang dibutuhkan untuk
sintesis dinding sel bakteri (Pillai et al., 2009). Pemilihan ampicilin sebagai antibiotik
pada kasus ini karena ampicilin dilaporkan sangat jarang menyebabkan hepatotoksisitas
(Raul and Tulkens, 2011). Diberikan terapi menggunakan metronidazole secara intra
vena drip sebanyak 15 ml. Metronidazole merupakan antibiotik untuk infeksi yang
disebabkan oleh bakteri anaerob dan protozoa. Serta untuk mencegah infeksi sekunder
bakteri anaerob. Pada organisme atau bakteri yang sensitif, metronidazole mengalami
proses reduksi oleh protein transpor elektron potensial redoks rendah, sehingga produk
polar yang telah kehilangan gugus nitro menjadi tidak dikenal. Produk reduksi inilah
merupakan efek sitotoksik dan antimikroba metronidazole, yang meliputi gangguan
pada DNA dan hambatan sintesis asam nukleat (Kenneth et al, 1979). Untuk
memperbaiki hepar diberikan Urdafalk dan Novifit masing - masing 1 tablet per hari
secara per oral. Urdafalk memiliki zat aktif Ursodeoxylic acid/ asam ursodeoksikolat
yang berguna untuk pengobatan hepatitis, kolestasis, hepatitis aktif kronis, sirosis
empedu primer, kolangitis sklerosis primer, dan batu kantung empedu. Dosis yang
diberikan pada kucing yaitu 10-15 mg/kg BB (Plumb 2005). Menurut Pillai et al.,
(2009) penggunaan ursodeoxycholic dapat meningkatkan enzim hepatic dalam penyakit
hepar kronik. Diberikan Novifit 1 tablet per hari secara per oral pada sore hari.
Novifit yang mengandung S-adenosylmethionine merupakan agen hepatoprotektif dan

juga mengandung antioksidan yang berguna untuk menjaga kesehatan hepar. Sadenosylmethionine meningkatkan konsentrasi glutathione, sulfat, dan cysteine yang
merupakan produk essensial untuk detoksifikasi pada hepar serta memperbaiki aliran
duktus biliaris pada kucing (Center and Warner, 2004). Selain itu management
kesehatan seperti pemberian pakan khusus gangguan hepar yakni Royal canin hepatic
dan recovery yang mengandung tembaga rendah, protein yang mudah dicerna,
antiosidan tinggi serta berenergi tinggi bertujuan untuk mengurangi gangguan pada
hepar serta menjaga lingkungannya tetap nyaman dan tenang yang bertujuan untuk
menghindari adanya stress. Pada hasil uji AST, ALT, ALP dan GGT terlihat masih diatas
nilai normal sehingga terapi antibiotik dan suplement hepar tetap dilanjutkan dan harus
kontrol kembali untuk mengetahui tingkat persembuhan dari hepar tersebut sesuai
rekomendasi dari dokter hewan.
Kondisi pasien sudah cenderung membaik dilihat dari hasil cek darah dan kimia
darah namun masih belum mau makan sendiri. Pada tanggal 23 Februari 2016 dilakukan
monitoring dengan melakukan tes CBC (complete blood count) didapatkan hasil tidak
ada pengingkatan pada WBC dan RBC, namun masih terjadi penurunan jumlah platelet.
Hal ini menunjukan tidak ada reaksi inflamasi dan infeksi sekunder selama masa terapi.
Pada tanggal 15 Februari dan 23 februari 2016 dilakukan pemeriksaan kimia darah
untuk mengetahui progesivitas terapi yang dilakukan. Didapatkan hasil terjadi
penurunan nilai AST, ALT, ALP dan GGT namun masih di atas nilai normal. Dari hasil
kimia darah terlihat masih adanya gangguan pada sel hepatosit dilihat dari kadar nilai
ALT yang masih tinggi serta jumlah total bilirubin yang masih tinggi dalam darah
menunjukan adanya gangguan fungsi hepar. Hasil kimia darah menunjukan masih ada
gangguan pada organ hepar sehingga terapi yang di berikan adalah urdafalk (10-15
mg/kg bb) dan Novifit tetap diberikan .

Kesimpulan
Berdasarkan gejala klinis dan didukung dengan hasil pemeriksaan darah
(Complete blood count) dan pemeriksaan kimia darah dapat disimpulkan kucing Meenie
didiagnosa menderita liver disorder. Management kesehatan pada Meenie antara lain
adalah terapi cairan, pemberian antibiotik, pengobatan (hepatoprotektif) serta didukung
pakan khusus hepar dan menghindari adanya stres pada Meenie. Setelah menjalani
terapi di rawat inap kucing Meenie sudah mengalami perkembangan.

Daftar pustaka
Bradburry, M.W. 2006. Lipid Metabolism and Liver Inflammation I. Hepatic Fatty Acid
Uptake: Possible Role in Steatosis. Am J Physiol Gastrointest Liver Physiol.
290:194-198.
Center S.A, and K.L Warner. 2004. Influence of chronic oral S-adenosylmethionine
(SAMe) on biliary glutathione and bile acid concentrations in healthy cats.
Proceedings of the 22nd ACVIM, Minneapolis. 867-868.
Ettinger and Feldman. 2005.Textbook of Veterinary Internal Medicine. Elsevier Inc.
Kenneth S.E., L.A. Gordon and L. Kennon. 1979. Chemical Stability of
Pharmaceuticals. 3rd edition. 29.
Pillai, U.N, jabina M.P, Pandian S.J, Premni. E, and Baby, P.G. 2009. Ursodexycholic
acid treatment of cholangitis in dog. Indian vet J.
Philip H., and J. Cash. 2012. What is the real funciton of the liver function test. Ulster
Med J. 81 (1) : 30 - 36
ONeill EJ, Day MJ, Hall EJ. 2006. Bacterial cholangitis/cholangiohepatitis with or
without concurrent cholecystitis in four dogs. J Small Anim Pract.;47:325335.
Stockham, S.L. and M.A. Scott. 2002. Enzymes. In Fundamental of Veterniary Clinical
Pathology. Iowa. Blackweell Science Co.
Szatmari V. V.J., D.C. Twedt,T.S Van den Ingh, T. Van Winkle, R. J. Washabau 2006.
WSAVA Standards for Clinical and Histological Diagnosis of Canine and Feline
Liver Diseases. Philadelphia. Elsevier. 85-101. 16.,
Thrall M.A, and MG Weiser. 1992 Hematology Laboratory Procedures for Veterinary
Technicians. In: Kantrowitz B, ed 2nd. Goleta. American Veterinary
Publications. 35-98.
Tilley, L.P. and F.W.K. Smith. 2007. 5 - Minute Veterinary Consult 4th ed. Blackwell
Publishing. Ames. 598 599.
Raul J. A. and P.M. Tulkens. 2011. Hepatic safety of antibiotics used in primary care. J
Antimicrob Chemother. 14311446.
Royal Canine. 2016. Royal Canine Hepatic [Internet]. [diunduh pada tanggal 28
Februari 2016]. Tersedia pada : www.royalcanine.com.