Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perilaku seks menyimpang yang akhir-akhir ini marak mencuat atau
disebut Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), menarik untuk
dikupas.Berbagai penelitian akademis mengenai fenomena ini semakin banyak
dilakukan. Hal ini dipicu oleh banyaknya pemberitaan maupun aktivitas dari
anggota LGBT itu sendiri yang semakin terang-terangan dalam menunjukkan
eksistensinya di lingkungan masyarakat. Kemudian ,wacana atau sosok LGBT
yang dimuat dalam media cetak maupun media sosial juga menyebabkan
masyarakat semakin familiar dengan istilah ini. LGBT tidak mengenal batasan
usia, jenis kelamin, status sosial maupun pekerjaan bahkan agama.
Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia terdiri dari dua jenis kelamin
yaitu laki-laki dan perempuan, namun pada kenyataannya selain dua jenis kelamin
tersebut ada yang mengalami kebingungan dalam menentukan jenis kelaminnya.
Kebingungan yang dimaksud adalah tidak adanya kesesuaian antara jenis
kelaminnya dan kejiwaannya. Tidak sesuainya jenis kelamin dan kejiwaan ini bisa
terjadi pada seseorang yang terlahir dengan alat kelamin wanita yang sempurna
dan tidak cacat, tetapi dia merasa bukan seorang wanita melainkan seorang pria
atau sebaliknya, keadaan seperti ini disebut Transgender. Sebelum bicara lebih
jauh tentang transgender, terlebih dahulu harus dipahami konsep gender, dan
membedakan kata gender dan seks. Seks (jenis kelamin) merupakan pembagian
dua jenis kelamin (penyifatan) manusia yang ditentukan secara biologis yang
melekat pada jenis kelamin tertentu . Misalnya manusia berjenis kelamin (seks)
laki-laki adalah manusia yang memiliki atau bersifat bahwa laki-laki adalah yang
memiliki penis dan memproduksi sperma. Perempuan memiliki alat reproduksi,
seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki
vagina, dan mempunyai alat untuk menyusui . Hal tersebut secara biologis
melekat pada manusia yang memiliki jenis kelamin lakilaki dan perempuan.

Artinya, secara biologis alat kelamin atau jenis kelamin tersebut tidak bisa
dipertukarkan atau diganti. Secara permanen jenis kelamin tidak bisa berubah dan
merupakan kodrat (ketentuan Tuhan) . Gender adalah pencirian manusia yang
didasarkan pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya, bukan pendefisian
yang berasal dari ciri-ciri fisik biologis seperti seks (jenis kelamin) . Dalam ilmu
sosial, gender adalah perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan.
Gender merupakan perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang
dikonstruksi secara sosial, yakni perbedaan yang bukan ketentuan Tuhan,
melainkan diciptakan sendiri oleh manusia itu sendiri melalui proses kultural dan
sosial. Gender seseorang dapat berubah, sedangkan jenis kelamin biologis akan
tetap tidak berubah . Hal inilah yang membuat seseorang dapat berubah orientasi
seksnya bahkan ada dorongan untuk merubah gendernya. Orang yang merubah
gendernya sering disebut dengan waria, bahkan yang lebih ekstrem, ada dorongan
untuk merubah seks atau jenis kelaminnya dengan operasi pergantian kelamin
seperti yang dilakukan kaum transgender.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latarbelakang diatas dapat ditarik suatu rumusan masalah sebagai
berikut:
1.Apakah faktor yang melatarbelakangi seseorang menjadi LGBT?
2.Bagaimanakah HAM memandang keberadaan LGBT dan pernikahan sesama
jenis?
3.Bagaimanakah LGBT dilihat dari perspektif agama (Islam) ?
4.Bagaimanakah kebijakan pemerintah dalam upaya menanggulangi masalah
LGBT?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan
penelitian ini adalah untuk memperoleh kejelasan tentang hak-hak yang boleh
dituntut oleh kelompok LGBT jika dilihat dari perspektif hukum positif.Dan juga
mengenai pandangan Islam terhadap fenomena tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Mengenai istilah-istilah dalam LGBT seperti gay atau homoseksual
penulis menggunakan penjelasan Surya Kusuma , yakni adalah sebuah orientasi
seksual, yang mengacu pada ketertarikan secara emosional dan seksual kepada
sesama jenis baik untuk laki-laki dan perempuan. Orientasi seks ini termasuk
dalam bahasan mengenai seksualitas, dimana seksualitas itu mencakup seluruh
kepribadian, dan sikap atau watak sosial berkaitan dengan perilaku seks dan
orientasi seksual (Suryakusuma, 1991) Sedangkan gay adalah istilah yang
diberikan kepada laki-laki homoseksual. Istilah ini diberikan sebagai pembedaan
fenomena homoseksual bagi laki-laki dan perempuan homoseksual. Pemberian
istilah terkait pula dengan peran serta identitas gender dan seksual biologis.
Identitas gender berupa kesadaran mengenai konsep gender dirinya lantas
diwujudkan dengan cara ia memperlakukan diri sendiri . Kesadaran identitas
seksual biologis adalah berdasarkan perbedaan jenis kelamin, penis menunjukan
laki-laki dan vagina menunjukan perempuan. Sedangkan identitas gender
berimbas pada ekspresi gender. Ekspresi gender adalah pengalaman panjang yang
dialami seseorang lewat pikiran dan tubuh, kemudian lanjutkan dengan caranya
berlaku, berpakaian dan berinteraksi .1
2.2 Peraturan Perundang-undangan terkait LGBT
Kelompok LGBT sering menyuarakan Hak Asasi Manusia dalam
upayanya meminta kepada masyarakat dan Negara untuk mengakui keberadaan
komunitas ini; bila kita melihat dari Konstitusi Indonesia yakni Undang-Undang
Dasar 1945 Pasal 28 J yang menyatakan sebagai berikut :
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
1 Suryakusuma. 1991. Dalam Prisma 7, hal: 5-6

(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata
untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang
lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat
demokratis.
Selain itu,mereka juga menuntut penghapusan diskriminasi terhadap kaum
mereka seperti termuat secara eksplisit dalam UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang
Pengesahan Konvensi CEDAW.Di sisi lain,konstusi Indonesia memandang HAM
memiliki batasan, dimana batasanya adalah tidak boleh bertentangan dengan
moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum; Indonesia memang
bukan Negara yang berdasarkan Agama namun Pancasila jelas menyatakan dalam
sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga nilai-nilai agama menjadi
penjaga sendi-sendi konstitusi dalam mewujudkan kehidupan demokratis bangsa
Indonesia.
Begitu juga ditegaskan pula dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia Pasal 70 yang menyatakan sebagai berikut :
Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan oleh Undang-undang dengan maksud untuk
menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan
untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
Dan Pasal 73 UU HAM yang menyatakan Hak dan kebebasan yang diatur dalam
Undang-undang ini hanya dapat dibatasi oleh dan berdasarkan undang-undang,
semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi
manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan
kepentingan bangsa.
Pembatasan-pembatasan HAM memungkinkan demi penghormatan kepada hak
asasi manusia oleh karenanya Negara hadir dalam melakukan batasan-batasan
tersebut untuk kepentingan bangsa.

Hak untuk menikah dan berkeluarga bukan ditujukan untuk menjustifikasi


pernikahan sesama jenis. Hukum perkawinan kita mendefinisikan perkawinan
adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
(Sylviani Abdul Hamid, SH.I., MH, adalah Advokat dan Direktur Eksekutif
Solidarity Network for Human Rights (SNH) Advocacy Center)2
Namun demikian,masih terdapat banyak cara yang dapat diupayakan untuk
menyembuhkan pelaku LGBT tersebut,salah satunya dengan cara rehabilitasi
sosial sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014
tentang Kesehatan Jiwa Pasal 28 yang menyatakan:
(1) Upaya rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf
b dapat dilaksanakan secara persuasif, motivatif, atau koersif, baik dalam
keluarga, masyarakat, maupun panti sosial.
(2) Upaya rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
dalam bentuk:
a. motivasi dan diagnosis psikososial;
b. perawatan dan pengasuhan;
c. pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan;
d. bimbingan mental spiritual;
e. bimbingan fisik;
f. bimbingan sosial dan konseling psikososial;
g. pelayanan aksesibilitas;
22 Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 19453 UndangUndang No.39 Tahun 1999 tentang HAM
4 Undang-Undang No.& Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi CEDAW

h. bantuan sosial dan asistensi sosial;


i. bimbingan resosialisasi;
j. bimbingan lanjut; dan/atau
k. rujukan.3

2.3 LGBT dalam Al-Quran


Dalam Islam, homoseksual disebut liwath atau amal qaumi luthin. Istilah
tersebut timbul karena perbuatan seperti itu pertama kali dilakukan oleh umat
Nabi Luth. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dengan firman-Nya:
Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia
berkata kepada kaumnya: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu,
yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?
Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk melepas nafsumu (kepada
mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui
batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: Usirlah mereka (Luth dan
pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian kami selamatkan dia dan
pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal
(dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (QS. Al
Araaf: 80-84)
Kecuali

Luth

beserta

pengikut-pengikutnya.

Sesungguhnya

Kami

akan

menyelamatkan mereka semuanya, Kecuali isterinya, Kami telah menentukan,


bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama
dengan orang kafir lainnya). Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum
Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata: Sesungguhnya kamu adalah
orang-orang yang tidak di kenal. Para utusan menjawab: Sebenarnya kami ini
3 Undang-Undang No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa

datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami
datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orangorang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu,
dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu
menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan
kepadamu. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa
mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke
rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata:
Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu
(kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku
terhina. Mereka berkata: Dan bukankah kami telah melarangmu dari
(melindungi) manusia? Luth berkata: Inilah puteri-puteri (negeri)ku (kawinlah
dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal). (Allah
berfirman): Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombangambing di dalam kemabukan (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara
keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian
atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah
yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan
sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui
manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr: 59-77).
Dan kepada Luth, Kami telah memberikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami
selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan
perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, Dan
Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang saleh. (QS. Al Anbiyaa: 74-75).
Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, Ketika saudara mereka Luth, berkata
kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah
seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, Maka bertakwalah kepada
Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu

atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa
kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, Dan kamu tinggalkan istri-istri
yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang
melampaui batas. Mereka menjawab: Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak
berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir Luth berkata:
Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu. Luth berdoa): Ya
Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang
mereka kerjakan. Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua, Kecuali
seorang perermpuan tua (istrinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal.
Kemudian Kami binasakan yang lain. Dan Kami hujani mereka dengan hujan
(batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi
peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
buktibukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan
sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang. (QS. Asy Syuaraa: 160-175).
Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: Mengapa kamu
mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)? Mengapa kamu
mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita?
Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: Usirlah Luth beserta
keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang
(mendawakan dirinya) bersih. Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya,
kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang
tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu),
maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi
peringatan itu. (QS. An Naml: 54-58).
Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kamu benarbenar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh
seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut
mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat
pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan:

Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar. Luth berdoa: Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab)
atas kaum yang berbuat kerusakan itu. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat)
datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan:
Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini: sesungguhnya
penduduknya adalah orang-orang yang zalim. Berkata Ibrahim: Sesungguhnya
di kota itu ada Luth. Para malaikat berkata: Kami lebih mengetahui siapa yang
ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan
pengikutpengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang
tertinggal (dibinasakan). Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat)
itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak
mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: Janganlah
kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan
kamu dan pengikutpengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang
yang tertinggal (dibinasakan). Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari
langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya
Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang
berakal. (QS. Al Ankabuut: 28-35).
Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika Kami
selamatkan dia dan keluarganya (pengikutpengikutnya) semua, Kecuali seorang
perempuan tua (isterinya yang berada) bersamasama orang yang tinggal.
Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu (hai
penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,
Dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (QS. Ash Shaaffaat:
133-138).
Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya
Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu
(yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di
waktu sebelum fajar menyingsing, Sebagai nimat dari Kami. Demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia
(Luth) telah memperingatkan akan azabazab Kami, maka mereka mendustakan

ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar


menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka
rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok
harinya mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancamanancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al Qamar: 33-40).
4

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


4 Al-Mulky, Abul Ahmad Muhammad Al-Khidir bin Nursalim Al-Limboriy.2003. Hukm
al liwath wa al sihaaq,Yaman: Dammaj-Shadah, Hal : 30-32

Jenis penelitian yang digunakan adalah normatif empiris,yaitu penggabungan


antara pendekatan hukum normatif dengan adanya penambahan dari berbagai
unsur-unsur empiris.Dalam metode penelitian normatif-empiris ini juga mengenai
implementasi ketentuan hukum normatif (undang-undang) dalam aksinya disetiap
peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam suatu masyarakat. Dalam penelitian
hukum normatif-empiris terdapat tiga kategori, yaitu:

Non Judicial Case Study


ialah pendekatan studi kasus hukum yang tanpa ada konflik sehingga
tidak ada akan campur tangan dengan pengadilan.
Judicial Case Study
Pendekatan judicial case study ini ialah pendekatan studi kasus hukum
dikarenakan adanya konflik sehingga akan melibatkan campur tangan

pengadilan untuk dapat memberikan keputusan penyelesaian.


Live Case Study
Pendekatan live case study ini ialah pendekatan pada suatu peristiwa
hukum yang pada prosesnya masih berlangsung ataupun belum berakhir.

3.2 Penentuan Informan/Responden


Responden dalam penelitian ini adalah seorang pemuka agama.Dalam memilih
responden,penulis menimbang mengenai tingkat pemahaman responden terhadap
fenomena yang menjadi obyek penelitian ini.Oleh karena itu,penulis memilih
responden berdasarkan beberapa kriteria.Dimana kriteria tersebut dibuat oleh
penulis sendiri.
Dan akhrinya terpilihlah seorang responden yang dianggap memenuhi kriteria
tersebut,yaitu Ustadz Mifhakul Irfani Akbar ,seorang pegawai di Kantor Wilayah
Kementrian Agama Bengkulu yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat No. 10,
Jatinegara, Kota Bengkulu.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan informasi dan data, digunakan metode wawancara
mendalam terhadap responden. Selain wawancara, diskusi informal atau lewat
obrolan lepas dengan responden juga dijadikan sarana untuk mengumpulkan

informasi.Wawancara dilakukan di rumah responden yang beralamat di Jalan


Melati.Wawancara dilakukan sebanyak 1-2 kali seusai dengan lamanya waktu
yang bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi.
Metode

wawancara

yang

dilakukan

adalah

berstruktur.Wawancara

ini

dimaksudkan untuk mendapatkan keterangan (pandangan,pengetahuan dan


pengalaman) secara lisan dari seseorang/responden tentang suatu hal.
3.4. Teknik Analisis Data
Data Informasi yang didapat lewat wawancara lantas diolah menjadi data,
kemudian dianalisa menggunakan analisis deskriptif melalui beberapa tahapan,
antara lain:
1.Data diseleksi dan dikelompokkan sesuai denga kebutuhan untuk menjawab
masalah penelitian.
2.Data diolah sesuai dengan masalah penelitian
3.Analisa data menggunakan kata-kata yang sederhana sebagai jawaban terhadap
masalah.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Penyebab LGBT


Fenomena LGBT yang berkembang akhir-akhir ini sempat menjadi
perdebatan beberapa pihak di kalangan masyarakat.Beberapa Hal yang menjuai
perdebatan tersebut antara lain mengenai masalah HAM dan status kejiwaan para
pelaku LGBT yang dianggap mengalami gangguan.Namun demikian,masih

terdapat sebagian pihak di masyarakat yang belum mengenal atau mengetahui


istilah LGBT tersebut,salah satunya seorang tokoh agama yang sempat kami
temui beberapa waktu lalu.Beliau mengakui baru mendengar istilah LGBT
beberapa

bulan

terakhir

dan

belum

memahami

fenomena

ini

secara

mendalam.Beliau hanya mengetahui bahwa LGBT adalah sebuah komunitas atau


perkumpulan yang mencoba melegalkan hubungan sejenis baik sesama laki-laki
maupun perempuan.
Saat ditanya mengenai penyebab seseorang menjadi LGBT,Beliau
berpendapat bahwa beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terjerumus
kedalam LGBT adalah karena masalah yang terjadi dalam lingkungan
keluarga,salah dalam memilih teman bergaul serta hal-hal lain yang bersifat
kejiwaan,seperti kurangnya percaya diri,merasa diasingkan dalam pergaulan dan
lain-lain. Selanjutnya,beliau menambahkan bahwa kemunculan komunitas LGBT
ini tentu akan membawa berbagai dampak di kehidupan masyarakat.Salah satunya
ialah dapat menimbulkan keresahan dalam diri para orang tua yang
mengkhawatirkan putra-putri mereka akan terjerumus kedalam lingkungan
pergaulan seperti ini.
4.2 Perspektif HAM tentang LGBT dan Pernikahan Sejenis
Saat ini,Para aktivis LGBT yang tergabung dalam berbagai komunitas
sedang gencar memperjuangkan HAM mereka melalui berbagai cara. Mereka
berasumsi bahwa hak-hak yang mereka perjuangkan adalah benar dan sesuai
dengan ketentuan Undang-Undang nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.Informasi
terkini juga menyebutkan bahwa kaum LGBT menuntut agar Negara melegalkan
pernikahan sesama jenis.Ini jelas bertentangan dengan ketentuan UU Perkawinan
pasal 1 ayat (1).
Dalam menanggapi hal tersebut,responden kami mengatakan bahwa pada
dasarnya kaum LGBT juga memiliki haknya,yakni hak untuk hidup,karena
mereka juga manusia.Hak lain yang juga boleh dituntut ialah hak untuk tidak
mendapatkan diskriminasi sebagaimana termuat dalam UU HAM dan UU
CEDAW.Namun,dalam hal mereka menuntut agar negara melegalkan perbuatan

mereka, tentu ini tidak bisa dibiarkan,karena bertentangan dengan konstitusi


Negara Republik Indonesia dan norma agama.
Hak asasi manusia tidak bisa dijadikan kedok untuk menganggu hak orang
lain atau kepentingan publik. Tidak ada argumen yang logis untuk mengahapus
larangan pernikahan sesama jenis dengan dasar pengahapusan diskriminasi.
LGBT bukanlah kodrat manusia melainkan sebuah penyakit sehingga tidak
relevan mempertahankan kemauan mereka yakni legalisasi pernikahan sesama
jenis atas dasar persamaan. Persamaan diberlakukan dalam hal pelayanan terhadap
orang yang berbeda suku, warna kulit, dan hal lain yang diterima di masyarakat.
LGBT perlu diobati agar normal kembali sehingga tidak merusak masyarakat dan
oleh karena itu kewajiban Negara adalah untuk mengobati mereka bukan
melestarikannya.

4.3 Perspektif Islam Mengenai LGBT


Dalam Islam LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (gay)
dan Sihaaq (lesbian). Liwath (gay) adalah perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki
dengan

cara

memasukan dzakar (penis)nya

kedalam

dubur

laki-laki

lain. Liwath adalah suatu kata (penamaan) yang dinisbatkan kepada kaumnya
Luth Alaihis salam, Sedangkan Sihaaq (lesbian) adalah hubungan cinta birahi
antara sesama wanita dengan image dua orang wanita saling menggesek-gesekkan
anggota tubuh (farji)nya antara satu dengan yang lainnya.
Sebagai seorang pemuka agama , responden kami secara tegas menentang
perbuatan maksiat tersebut.Dikarenakan hal ini adalah merupakan perbuatan dosa
yang dapat mendatangkan laknat Allah SWT.Beliau menjelaskan ,bahwasanya
Allah telah menceritakan hal ini dengan jelas di dalam Al-Qur,an, , sebagaimana
yang terdapat pada Surah di atas, Al Araaf (7): 80-84, Al Hijr (15): 59-77, Al
Anbiyaa (21): 74-75, Asy Syuaraa (26): 160-175, An Naml (27): 54-58, Al
Ankabuut (29): 28-35, Ash Shaaffaat (37): 133-138, dan Al Qamar (54): 33-40.

Untuk,itu beliau berpesan kepada kaum LGBT untuk dapat bertaubat dan
kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT.Dan beliau menyarankan kepada para
remaja putra maupun putri untuk senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan
mempelajari norma-norma agama secara benar sehingga tidak terjerumus ke
dalam lingkungan pergaulan tersebut.Karena hanya dengan upaya inilah kita dapat
selalu terjaga dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa.

4.4 Upaya Rehabilitasi Sosial Terhadap Kaum LGBT


Mengenai penyembuhan bagi kelompok LGBT,beliau berpendapat bahwa
kelompok LGBT dapat disembuhkan.Salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan menanamkan kembali nilai-nilai spiritual ke dalam diri masingmasing individu.Hal ini sejalan dengan langkah yang telah dilakukan oleh
pemerintah dengan melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi masalah
ini,diantaranya dengan melakukan rehabilitasi sosial terhadap kelompok LGBT
dengan cara memberikan fasilitas motivasi dan diagnosis psikososial;perawatan
dan pengasuhan; pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan; bimbingan
mental spiritual,bimbingan sosial dan konseling yang dimuat dalam UndangUndang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

BAB V
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH
HUKUM PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK
TENTANG
FENOMENA LGBT
(LESBIAN,GAY,BISEKSUAL DAN TRANSGENDER)

DISUSUN OLEH:
1. KRISNA MAHARDIKA
2. SEPRI HELYANTO
3.RIZKY HAMDANI

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BENGKULU
2015