Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

OSTEOPOROSIS

Disusun oleh
Deah Karina Saputri
NIM. PO.71.20.1.14.011

Tingkat 1 A
Dosen Pengampu

: Ns, Lukman, S.Kep., MM., M.Kep.

DIPLOMA III KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2015/2016

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur saya haturkan kehadirat Allah SWT, dimana atas segala
rahmat dan izin-nya, saya dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Osteoporosis. Asuhan Keperawatan ini saya buat dalam rangka memenuhi tugas
mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II. Saya mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini
terutama kepada bapak Ns, Lukman, S.Kep., MM., M.Kep selaku dosen
pembimbing penyusunan asuhan keperawatan ini.
Semoga asuhan keperawatan ini dapat bermanfaat bagi pihak yang
memerlukan khususnya saya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan didalam asuhan
keperawatan ini. Untuk itu saya berharap adanya kritik dan saran yang
membangun guna keberhasilan penulisan yang akan datang.

Palembang, 21 Maret 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............. ii
Daftar Isi.. iii
Bab I Pendahuluan... 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah... 2
1.3 Tujuan. 2
Bab II Tinjaun Pustaka.. 3
Bab III Asuhan Keperawatan........................................................................ 22
Bab IV Penutup..36
4.1 Kesimpulan. 36
4.2 Saran... 36
Daftar Pustaka... 37

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dengan bertambahnya usia harapan hidup orang Indonesia, maka jumlah

manusia lanjut usia di Republik ini akan bertambah banyak pula. Sehingga
masalah penyakit akibat ketuaan akan semakin banyak kita hadapi. Salah satu
penyakit yang harus diantisipasi adalah semakin banyaknya penyakit osteoporosis
dan patah tulang yang diakibatkannya (Bayu Santoso, 2001).
Pada tahun 60 tahun ke depan akan terjadi perubahan demografik yang
akan meningkatkan populasi warga usia lanjut dan meningkatkan terjadinya patah
tulang karena osteoporosis. Jumlah penderita patah tulang akibat osteoporosis
yang pada tahun 1990 mencapai 1,7 juta akan menjadi 6,3 juta pada tahun 2050,
kecuali jika ada tindakan pencegahan yang agresif (Joewono Soeroso, 2001).
Sebesar 80% osteoporosis terjadi pada wanita terutama yang sudah
mencapai usia menoupouse. Osteopororis sebetulnnya adalah berkurangnya masa
tulang yang kemudian diikuti dengan kerusakan arsitektur tulang, sehingga tulang
mudah mengalami patah tulang (R. Prayitno Prabowo, 2001).
Osteoporosis dibagi menjadi tiga yaitu osteoporosis primer, osteoporosis
sekunder dan osteoporosis idiopatik. Dalam penelitian ini peneliti membatasi
pada osteoporosis primer. Menurut Albright JA tahun 1979. Osteoporosis primer
adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan merupakan kelompok
yang terbesar. Ada dua faktor resiko yang menjadi penyebab utama terjadinya
osteoporosis yaitu faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah.
Ada beberapa faktor risiko osteoporosis daiantaranya genetic, jenis
kelamin dan masalah kesehatan kronis, defisiensi hormone, kurang olah raga,
serta rendahnya asupan kalsium, Bila dalam suatu keluarga mempunyai riwayat
osteoporosis maka kemungkinan peluang anak mengalami hal yang sama adalah
60-80%. Dilihat dari jenis kelamin 80% wanita mengidap osteoporosis. Risiko
osteoporosis juga akan meningkat apabila mengidap penyakit kronis. Sedangkan

hubunga antara perempuan osteoporosis karena menaupose akibat penurunan


hormone esterogen , (Siswono, 2003).
Dengan mengetahui faktor resiko osteoporosis, kita dapat memperkirakan
penyebab atau suatu hal yang dapat mempermudah terjadinya osteoporosis.
Konsep ini sangat bermanfaat dalam upaya mengurangi angka kecacatan.

1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada asuhan keperawatan ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1.3

Bagaimana definisi dari Osteoporosis?


Bagaimana klasifikasi dari Osteoporosis?
Bagaimana etiologi dari Osteoporosis?
Bagaimana gejala yang muncul pada pasien Osteoporosis?
Bagaimana manifestasi klinis?
Bagaimana pemeriksaan fisik dan diagnostik?
Bagaimana penataksanaan Osteoporosis?
Bagaimana komplikasi dari Osteoporosis?

Tujuan Penulisan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Untuk mengetahui definisi dari Osteoporosis.


Untuk mengetahui klasifikasi dari Osteoporosis.
Untuk mengetahui etiologi dari Osteoporosis.
Untuk mengetahui gejala yang muncul pada pasien Osteoporosis.
Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Osteoporosis.
Untuk mengetahui Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik.
Untuk mengetahui Penataksanaan Osteoporosis.
Untuk mengetahui Komplikasi dari Osteoporosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Osteoporosis
2

Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan
porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang
yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya
rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra,
2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di
Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa
massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan
penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat
meningkatnya kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang (Suryati,
2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah
kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang yang mengkhawatirkan dan
dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang
merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang
(Junaidi, 2007).
Osteoporosis adalah penyakit tulang sisitemik yang ditandai oleh
penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah
patah. Pada tahun 2001, National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi
baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh
compromised bone strength sehingga tulang mudah patah ( Sudoyo, 2009 ).
Tulang adalah jaringan yang hidup dan terus bertumbuh. Tulang
mempunyai struktur, pertumbuhan dan fungsi yang unik. Bukan hanya memberi
kekuatan dan membuat kerangka tubuh menjadi stabil, tulang juga terus
mengalami perubahan karena berbagai stres mekanik dan terus mengalami
pembongkaran,

perbaikan

dan

pergantian

sel.

Untuk

mempertahankan

kekuatannya, tulang terus menerus mengalami proses penghancuran dan


pembentukan kembali. Tulang yang sudah tua akan dirusak dan digantikan oleh
tulang yang baru dan kuat. Proses ini merupakan peremajaan tulang yang akan
mengalami kemunduran ketika usia semakin tua. Pembentukan tulang paling
cepat terjadi pada usia akil balig atau pubertas, ketika tulang menjadi makin besar,
3

makin panjang, makin tebal, dan makin padat yang akan mencapai puncaknya
pada usia sekitar 25-30 tahun. Berkurangnya massa tulang mulai terjadi setelah
usia 30 tahun, yang akan makin bertambah setelah diatas 40 tahun, dan akan
berlangsung terus dengan bertambahnya usia, sepanjang hidupnya. Hal inilah
yang mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang yang berakibat pada
osteoporosis ( Tandra, 2009).
2.2

Klasifikasi
Menurut (Junaidi, 2007), osteoporosis diklasifikasikan sebagai berikut:

1.

Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurngnya hormon estrogen

(hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium


kedalam tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 5175 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen
produksinya menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4
tahun setelah menopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 13% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.
2.

Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan

kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan
hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblast). Senilis
berati bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya
terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering wanita.
Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3.

Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis

sekunder yang disebakan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini
bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid,
paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (mislnya kortikosteroid, barbiturat, anti
kejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan
dapat memperburuk keadaan ini.
4.

Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang

penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda
4

yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal,
dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

2.3

Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia

lanjut:
1.

Determinan Massa Tulang

a.

Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan

tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil.
Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang
lebih kuat/berat dari pada bangsa Kaukasia. Jadi seseorang yang mempunyai
tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena
osteoporosis.
b.

Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor

genetik. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya


beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Kedua hal tersebut
menunjukkan respons terhadap kerja mekanik beban mekanik yang berat akan
mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai
contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi
baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya,
sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien
yang harus istirahat di tempat tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis atau
pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti
berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk
meningkatkan massa tulang di samping faktor genetik.
c.

Faktor makanan dan hormone

Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup


(protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai
dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih
(misalnya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan,
disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan
pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.
2.

Determinan penurunan Massa Tulang

a.

Faktor genetic
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat

risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak
ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap
individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban
mekanis dan besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar,
kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan
dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang
lebih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang
sama.
b.

Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses

penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian


telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor
nutrisi

hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan

bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis,
massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.
c.

Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses

penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada


wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanitawanita pada masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan
6

absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi


negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik,
menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada
wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan
keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause
keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya
kurang

serta

ekskresi

melalui

urin

yang

bertambah.

Hasil

akhir

kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran


keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
d.

Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi

penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan


ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan
meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan secara
tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung
fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin.
Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja.
Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan
mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang
negative.
e.

Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan

terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena


menurunnya efisiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya
konservasi kalsium di ginjal.
f.

Rokok dan kopi


Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan

mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium


yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang
7

tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui
urin maupun tinja.
g.

Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan.

Individu

dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium

rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang
jelas belum diketahui dengan pasti.

2.4

Stadium Osteoporosis

1. Pada stadium 1, tulang bertumbuh cepat, yang dibentuk masih lebih banyak dan
lebih cepat daripada tulang yang dihancurkan. Ini biasanya terjadi pada usia 30-35
tahun.
2. Pada stadium 2, umumnya pada usia 35-45 tahun, kepadatan tulang mulai turun
(osteopenia).
3. Pada stadium 3, usia 45-55 tahun, fraktur bisa timbul sekalipun hanya dengan
sentuhan atau benturan ringan.
4. Pada stadium 4, biasanya diatas 55 tahun, rasa nyeri yang hebat akan timbul
akibat patah tulang. Anda tidak bisa bekerja, bergerak , bahkan mengalami stres
dan depresi (Waluyo, 2009).
2.5

Gejala Osteoporosis
Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai

puluhan tahun tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga
tulang menjadi kolaps atau hancur, akan timbul nyeri dan perubahan bentuk
tulang. Jadi, seseorang dengan osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan
atau gejala sebagai berikut:
1. Tinggi badan berkurang
2. Bungkuk atau bentuk tubuh berubah

3. Patah tulang
4. Nyeri bila ada patah tulang (Tandra, 2009).

2.6

Faktor Risiko Osteoporosis


Osteoporosis dapat menyerang setiap orang dengan faktor risiko yang

berbeda. Faktor risiko Osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak
dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan. Berikut ini faktor risiko
osteoporosis yang tidak dapat dikendalikan:
1. Jenis kelamin
Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar
dibandingkan kaum pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang
mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
2. Usia
Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena
secara alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia.
Osteoporosis pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang
juga disebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium.
3. Ras
Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena
osteoporosis. Karena itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan
Asia berisiko lebih tinggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam.
Ras Afrika memiliki massa tulang lebih padat dibanding ras kulit putih
Amerika. Mereka juga mempunyai otot yang lebih besar sehingga tekanan
pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon estrogen yang lebih
tinggi pada ras Afrika.
4. Pigmentasi dan tempat tinggal
Mereka yang berkulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa,
mempunyai risiko terkena osteoporosis yang lebih rendah dibandingkan
dengan ras kulit putih yang tinggal di wilayah kutub seperti Norwegia dan
Swedia.
5. Riwayat keluarga
9

Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai
massa tulang yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi
terkena osteoporosis.
6. Sosok tubuh
Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena
osteoporosis. Demikian juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih
berisiko terkena osteoporosis dibanding yang bertubuh besar.
7. Menopause
Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena
tubuh tidak lagi memproduksinya. Padahal hormon estrogen dibutuhkan
untuk pembentukan tulang dan mempertahankan massa tulang. Semakin
rendahnya hormon estrogen seiring dengan bertambahnya usia, akan semakin
berkurang kepadatan tulang sehingga terjadi pengeroposan tulang, dan tulang
mudah patah. Menopause dini bisa terjadi jika pengangkatan ovarium
terpaksa dilakukan disebabkan adanya penyakit kandungan seperti kanker,
mioma dan lainnya. Menopause dini juga berakibat meningkatnya risiko
terkena osteoporosis.
Berikut ini faktor faktor risiko osteoporosis yang dapat dikendalikan.
Faktor-faktor ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup.
1. Aktivitas fisik
Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak
terlatih dan menjadi kendor. Otot yang kendor akan mempercepat
menurunnya kekuatan tulang. Untuk menghindarinya, dianjurkan melakukan
olahraga teratur minimal tiga kali dalam seminggu (lebih baik dengan beban
untuk membentuk dan memperkuat tulang).
2. Kurang kalsium
Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang
maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari
bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang. Kebutuhan akan kalsium
harus disertai dengan asupan vitamin D yang didapat dari sinar matahari pagi,
tanpa vitamin D kalsium tidak mungkin diserap usus (Suryati, 2006).
10

3. Merokok
Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan
perokok. Telah diketahui bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen
lebih rendah dan mengalami masa menopause 5 tahun lebih cepat dibanding
wanita bukan perokok. Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh
buruk pada tubuh dalam hal penyerapan dan penggunaan kalsium. Akibatnya,
pengeroposan tulang/osteoporosis terjadi lebih cepat.
4. Minuman keras/beralkohol
Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding
lambung. Dan ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan
kalsium (yang ada dalam darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan
pada gilirannya menyebabkan osteoporosis.
5. Minuman soda
Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein (caffein).
Fosfor akan mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang,
sedangkan kafein meningkatkan pembuangan kalsium lewat urin. Untuk
menghindari bahaya osteoporosis, sebaiknya konsumsi soft drink harus
dibarengi dengan minum susu atau mengonsumsi kalsium ekstra (Tandra,
2009).
6. Stres
Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol
yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi
akan meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan
menyebabkan tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan
terjadinya osteoporosis.
7. Bahan kimia
Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan
makanan (sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor,
dan limbah industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di
sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat
daya tahan tubuh menurun dan membuat pengeroposan tulang (Waluyo,
2009).
11

2.7

Patofisiologi
Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara faktor

genetic dan faktor lingkungan. Faktor genetic meliputi, usia, jenis kelamin, ras
keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan. Faktor mekanis meliputi,
merokok, alkohol, kopi, defisiensi vitamin dan gizi, gaya hidup, mobilitas,
anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan. Kedua faktor diatas akan
menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang,
peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang
yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya
menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru
sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.
Dalam keadaan normal, pada tulang kerangka tulang kerangka akan terjadi
suatu proses yang berjalan secara terus menerus dan terjadi secara seimbang, yaitu
proses resorbsi dan proses pembentukan tulang (remodeling). Setiap perubahan
dalam keseimbangan ini, misalnya apabila proses resorbsi lebih besar dari pada
proses pembentukan tulang, maka akan terjadi pengurangan massa tulang dan
keadaan inilah yang kita jumpai pada osteoporosis.
Dalam massa pertumbuhan tulang, sesudah terjadi penutupan epifisis,
pertumbuhan tulang akan sampai pada periode yang disebut dengan peride
konsolidasi. Pada periode ini terjadi proses penambahan kepadatan tulang atau
penurunan porositas tulang pada bagian korteks. Proses konsolidasi secara
maksimal akan dicapai pada usia kuarang lebih antara 30-45 tahun untuk tulang
bagian korteks dan mungkin keadaan serupa akan terjadi lebih dini pada tulang
bagian trabekula.
Sesudah manusia mencapai umur antara 45-50 tahun, baik wanita maupun
pria akan mengalami proses penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5%
setiap tahun, sedangkan tulang bagian trabekula akan mengalami proses serupa
pada usia lebih muda. Pada wanita, proses berkurangnya massa tulang tersebut
pada awalnya sama dengan pria, akan tetapi pada wanita sesudah menopause,
12

proses ini akan berlangsung lebiuh cepat. Pada pria seusia wanita menopause
massa tulang akan menurun berkisar antara 20-30%, sedang pada wanita
penurunan massa tulang berkisar antara 40-50%. Pengurangan massa tulang ini
berbagai bagian tubuh ternyata tidak sama.
Dengan teknik pemeriksaan tertentu dapat dibuktikan bahwa penurunan
massa tulang tersebut lebih cepat terjadi pada bagian-bagian tubuh seperti berikut:
metacarpal, kolum femoris serta korpus vertebra, sedang pada bagian tubuh yang
lain, misalnya : tulang paha bagian tengah, tibia dan panggul, mengalami proses
tersebut secara lambat.
Pada osteoporosis, terjadi proses pengurangan massa tulang dengan
mengikuti pola yang sama dan berakhir dengan terjadinya penipisan bagian
korteks serta pelebaran lumen, sehingga secara anatomis tulang tersebut tampak
normal. Titik kritis proses ini akan tercapai apabila massa tulang yang hilang
tersebut sudah sedemikian berat sehingga tulang yang bersangkutan sangat peka
terhadap trauma mekanis dan akan mengakibatkan terjadinya fraktur. Bagianbagian tubuh yang sering mengalami fraktur pada kasus osteoporosis adalah
vertebra, paha bagian prosimal dan radius bagian distal. Osteoporosis dapat terjadi
oleh karena berbagai sebab, akan tetapi yang paling sering dan paling banyak
dijumpai adalah osteoporosis oleh karena bertambahnya usia.

13

2.8

Manifestasi Klinis
Osteoporosis merupakan silent disease. Penderita osteoporosis umumnya

tidak mempunyai keluhan sama sekali sampai orang tersebut mengalami fraktur.
Osteoporosis mengenai tulang seluruh tubuh, tetapi paling sering menimbulkan
gejala pada daerah-daerah yang menyanggah berat badan atau pada daerah yang
mendapat tekanan (tulang vertebra dan kolumna femoris). Korpus vertebra
menunjukan adanya perubahan bentuk, pemendekan dan fraktur kompresi. Hal ini
mengakibatkan berat badan pasien menurun dan terdapat lengkung vertebra
abnormal (kiposis). Osteoporosis pada kolumna femoris sering merupakan
predisposisi terjadinya fraktur patologik (yaitu fraktur akibat trauma ringan), yang
sering terjadi pada pasien usia lanjut.
14

Masa total tulang yang terkena mengalami penurunaan dan menunjukan


penipisan korteks serta trabekula. Pada kasus ringan, diagnosis sulit ditegakkan
karena adanya variasi ketebalan trabekular pada individu normal yang berbeda.
Diagnosis mungkin dapat ditegakkan dengan radiologis maupun
histologist jika osteoporosis dalam keadaan berat. Struktur tulang, seperti yang
ditentukan secara analisis kimia dari abu tulang tidak menunjukan adanya
kelainan. Pasien osteoporosis mempunyai kalsium,fosfat, dan alkali fosfatase
yang normal dalam serum.
Manifestasi osteoporosis :
1.

Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata

2.

Rasa sakit oleh karena adanya fraktur pada anggota gerak

3.

Nyeri timbul mendadak

4.

Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang. Bagian-bagian

tubuh yang sering fraktur adalah pergelangan tangan, panggul dan vertebra
5.

Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur

6.

Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan

aktivitas atau karena suatu pergerakan yang salah


7.

Deformitas vertebra thorakalis menyebabkan penurunan tinggi badan, Hal

ini terjadi oleh karena adanya kompresi fraktur yang asimtomatis pada vertebra.
Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan
atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang
panggul. Selain itu, yang juga sering terjadi karena adalah patah tulang lengan di
daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles,
Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami secara perlahan.
2.9

Pemeriksaan Diagnostik

15

Seseorang

yang

ingin

menentukan

terjadinya

osteoporosis

atau

tidak, biasanya diagnosis yang digunakan yaitu dengan pemeriksaan Densitas


Mineral Tulang (DMT) agar mengetahui kepadatan tulang pada orang
tersebut. (Hartono, 2004). Untuk menentukan kepadatan tulang tersebut, ada 3
teknik yang biasa digunakan di Indonesia, antara lain :
1.

Densitometri DXA (dual-energy x-ray absorptiometry)


Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling tepat dan

mahal. Orang yang melakukan pemeriksaan ini tidak akan merasakan nyeri
dan hanya dilakukan sekitar 5 - 15 menit. Menurut Putri, DXA dapat
digunakan pada wanita yang mempunyai peluang untuk mengalami osteoporo
sis, seseorang yang memiliki ketidakpastian dalam diagnosa, dan penderita
yang memerlukan keakuratan dalam hasil pengobatan osteoporosis. (Putri, 2009).
Keuntungan

yang

didapatkan

jika

melakukan

pemeriksaan

ini

yaitu

dapat menentukan kepadatan tulang dengan baik (memprediksi resiko patah


tulang pinggul) dan mempunyai paparan radiasi yang sangat rendah. Akan tetapi
alat ini

memiliki

kelemahan

yaitu

membutuhkan

koreksi

berdasarkan

volume tulang (secara bersamaan hanya menghitung 2 dimensi yaitu tinggi dan
lebar) dan jika pada saat seseorang melakukan pengukuran dalam posisi yang
tidak benar, maka akan mempengaruhi hasil pemeriksaan tersebut. (Cosman,
2009).
Hasil dari DXA dapat dinyatakan dengan T-score, yang dinilai
dengan melihat perbedaan BMD dari hasil pengukuran dengan nilai rata-rata
BMD puncak. (Tandra, 2009).
Menurut WHO, kriteria T-score dibagi menjadi 3, yaitu T-score > -1
SD yang menunjukkan bahwa seseorang masih dalam kategori normal. T-score <1 sampai -2,5 dikategorikan osteopenia, dan < - 2,5 termasuk dalam
kategori osteoporosis, apabila disertai fraktur, maka orang tersebut termasuk
dalam osteoporosis berat. (WHO, 1994).

2.

Densitometri US (ultrasound)
16

Kerusakan

yang

pengukuran ultrsound,

terjadi
yaitu

pada

tulang

dengan

dapat

mengunakan

didiagnosis
alat

dengan

quantitative

ultrasound (QUS). Hasil pemeriksaan ini ditentukan dengan gelombang suara,


karena cepat atau tidaknya gelombang suara yang bergerak pada tulang dapat
terdeteksi dengan alat QUS. Jika suara terasa lambat, berarti tulang yang dimiliki
padat. Akan tetapi, jika suara cepat, maka tulang kortikal luar dan trabekular
interior tipis.Pada beberapa penelitian,menyatakan bahwa dengan QUS dapat
mengetahui kualitas tulang, akan tetapi QUS dan DXA sama-sama dapat
memperkirakan patah tulang . (Lane, 2003).
Dengan alat ini, seseorang tidak akan terpapar radiasi karena
tidak menggunakan sinar X. Kelemahan alat ini, yaitu tidak memiliki
ketelitian yang baik (saat dilakukan pengukuran ulang sering terjadi kesalahan),
tidak baik dalam mengawasi pengobatan (perubahan massa tulang) (Cosman,
2009).
3.

Pemeriksaan CT (computed tomography)


Pemeriksaan CT merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium

yang dilakukan dengan memeriksa biokimia CTx(C-Telopeptide). Dengan


pemeriksaan ini dapat menilai kecepatan pada proses pengeroposan tulang
dan pengobatan antiesorpsi oral pun dapat dipantau. (Putri, 2009) Kelebihan yang
didapatkan jika menggunakan alat ini yaitu kepadatan tulang belakang dan tempat
biasanya terjadi patah tulang dapat diukur dengan akurat. Akan tetapi pada tulang
yang lain sulit diukur kepadatannya dan ketelitian yang dimiliki tidak baik serta
tingginya paparan radiasi. (Cosman, 2009) (Agustin, 2009).
Penilaian langsung densitas tulang untuk mengetahui ada tidaknya osteoporosis
dapat dilakukan secara:
1.

Radiologic

2.

Radioisotope

3.

QCT (Quantitative Computerized Tomography)

4.

MRI (Magnetic Resonance Imaging)


17

5.

Densitometer (X-ray absorpmetry)


Penilaian osteoporosis secara laboratorik dilakukan dengan melihat

petanda biokimia untuk osteoblas, yaitu osteokalsin, prokolagen I peptide dan


alkali fosfatase total serum. Petanda kimia untuk osteoklas; dioksipiridinolin (Dpyr), piridinolin (Pyr) Tartate Resistant Acid Phosfotase (TRAP), kalisium urin,
hidroksisiprolin dan hidroksi glikosida. Secara bioseluler, penilaian biopsi tulang
dilakukan secara histopometri dengan menilai aktivitas osteoblas dan osteoklas
secara langsung. Namun pemeriksaan diatas biayanya masih mahal.

2.10

Penatalaksanaan
Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang

sepanjang hidup, dengan pengingkatan asupan kalsium pada permulaan umur


pertengahan dapat melindungi terhadap demineralisasi skeletal. Terdiri dari 3
gelas vitamin D susu skim atau susu penuh atau makanan lain yang tinggi kalsium
(mis keju swis, brokoli kukus, salmon kaleng dengan tulangnya) setiap hari.
Untuk meyakinkan asupan kalsium yang mencukupi perlu diresepkan preparat
kalsium (kalsium karbonat).
Pada menopause, terapi pergantian hormone (HRT=hormone replacemenet
therapy) dengan estrogen dan progesteron dapat diresepkan untuk memperlambat
kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkannya.
Wanita yang telah mengalami pengangkatan ovarium atau telah menjalani
menopause prematur dapat mengalami osteoporosis pada usia yang cukup
muda;penggantian hormon perlu dipikirkan pada pasien ini estrogen menurunkan
resorpsi tulang tapi tidak meningkatkan massa tulang. Penggunaan hormon dalam
jangka panjang masih dievaluasi. Estrogen tidak akan mengurangi kecepatan
kehilangan tulang dengan pasti. Terapi estrogen sering dihubungkan dengan
sedikit pengingkatan insidensi kanker payudara dan endometrial. Maka selama
HRT pasien harus diperiksa payudaranya setiap bulan dan diperiksa panggulnya
termasuk masukan papanicolaou dan biopsi endometrial (bila ada indikasi), sekali
atau dua kali setahun.

18

Obat-obat lain yang dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis


termasuk kalsitonin, natrium fluorida, dan natrium etidronat. Kalsitonin secara
primer menekan kehilangan tulang dan diberikan secara injeksi subkutan atau
intra muscular. Efek samping ( mis gangguan gastrointestinal, aliran panas,
frekuensi urin) biasanya ringan dan kadang-kadang dialami. Natrium fluoride
memperbaiki aktifitas osteoblastik dan pembentukan tulang ; namun,kualitas
tulang yang baru masih dalam pengkajian. Natrium etidronat, yang menghalangi
resorpsi

tulang

osteoklastik,

sedang

dalam

penelitian

untuk

efisiensi

penggunaannya sebagai terapi osteoporosis.

2.11

Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh

dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur
kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan
daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tangan.

2.12
a.

Pencegahan

Mengurangi asupan protein hewani: Protein hewani meningkatkan kehilangan

kalsium.
Studi lintas budaya telah menemukan hubungan yang kuat antara asupan
protein hewani dan risiko patah tulang pinggul. Tingginya asupan daging (lima
atau lebih porsi per minggu) secara signifikan meningkatkan risiko retak tulang
lengan bawah pada perempuan, dibandingkan dengan makan daging kurang dari
sekali per minggu. Wanita lansia yang mengkonsumsi sejumlah besar daging
kehilangan tulang lebih cepat dan risiko lebih besar terkena retak tulang
pinggul.Risiko masalah tulang tampaknya berkurang ketika protein hewani
diganti dengan protein dari sumber nabati, terutama kedelai. Dalam studi klinis
dengan wanita menopause, makanan kedelai telah ditemukan mencegah keropos
tulang. Penelitian telah menunjukkan hubungan positif antara protein kedelai dan
kepadatan mineral tulang pada wanita menopause. Hal ini mungkin karena
19

konsentrasi senyawa yang relatif tinggi yang disebut isoflavon dalam protein
nabati.
b.

Peningkatan konsumsi buah dan sayuran


Penelitian telah menunjukkan bahwa diet kaya buah-buahan dan sayur-

sayuran berkaitan dengan kepadatan mineral tulang lebih tinggi pada pria dan
wanita. Asosiasi ini mungkin karena kalium, magnesium, dan vitamin K dalam
buah-buahan dan sayuran.
c.

Mengurangi asupan natrium


Beberapa studi telah menemukan bahwa asupan tinggi natrium

menyebabkan hilangnya kalsium dari tubuh. Namun, efek dari pembatasan


natrium terhadap integritas tulang jangka panjang dan risiko patah tulang masih
belum jelas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
d. Pola makan rendah lemak
Studi telah menemukan bahwa asupan lemak yang lebih tinggi dikaitkan
dengan kehilangan tulang yang lebih besar dan risiko patah tulang lebih besar.
Mekanisme yang mungkin meliputi kecenderungan asupan lemak yang berlebihan
mengurangi penyerapan kalsium dan mempengaruhi produksi hormon. Secara
khusus, asam lemak omega-6 dapat menyebabkan hilangnya tulang dengan
mengorbankan pembentukan tulang baru.
e.

Moderasi dalam penggunaan kafein


Penelitian telah menemukan bahwa perempuan yang mengkonsumsi

paling banyak kafein telah mempercepat kehilangan tulang belakang dan hampir
tiga kali lipat risiko terkena patah tulang pinggul. Resiko kehilangan tulang
tampak tertinggi pada wanita yang mengkonsumsi lebih dari 18 ons kopi per hari,
atau 300 mg kafein dari sumber lain.

f.

Membatasi suplemen vitamin A

20

Penelitian telah menunjukkan bahwa asupan vitamin A yang terlalu tinggi,


baik dengan makanan atau suplemen, dapat menyebabkan penurunan kepadatan
tulang dan peningkatan risiko fraktur pinggul. Asupan sehat dan cukup vitamin A
dapat dipastikan dengan beta-karoten dari sumber tanaman, sayuran terutama
oranye dan kuning.
g.

Kombinasi suplemen vitamin D dan kalsium


Pada klien dengan obat-yang menyebabkan osteoporosis, kombinasi dari

kedua nutrisi tampaknya bermanfaat signifikan dalam mengurangi kehilangan


tulang lebih lanjut. Suplemen vitamin D (500 sampai 800 IU/hari) dan kalsium
(1200-1300 mg/hari) juga telah ditemukan meningkatkan kepadatan tulang dan
penurunan kehilangan tulang dan risiko patah tulang pada wanita dewasa yang
lebih tua. Klien wanita dengan diagnosa osteoporosis harus mendapatkan asupan
kalsium total dari pola makan dan suplemen sekitar 1500 mg/hari dalam dosis
terbagi tiga atau lebih, ditambah sedikitnya 400 sampai 800 IU vitamin D setiap
hari. Namun, klien yang tidak berisiko tinggi untuk osteoporosis mungkin tidak
memerlukan suplemen kalsium. Hal ini terutama berlaku untuk pria, yang
mungkin memiliki peningkatan risiko terkena kanker prostat jika mereka
mengkonsumsi terlalu banyak kalsium atau susu.

BAB III
21

ASUHAN KEPERAWATAN
3.1

Pengkajian

Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam


menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasikan,
kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapat diperoleh melalui anamnese,
pemeriksaan fisik dan riwayat psikososial.
1.

Anamnese

a)

Identitas
a.

Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan,


pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa
medik, alamat, semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk
menentukan tindakan selanjutnya.
b.

Identitas penanggung jawab

Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan


jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul
meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan
alamat.
b)

Riwayat Kesehatan
Dalam pengkajian riwayat kesehatan, perawat perlu mengidentifikasi
adanya :
a.
Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher,dan
pinggang

c)

b.

Berat badan menurun

c.

Biasanya diatas 45 tahun

d.

Jenis kelamin sering pada wanita

e.

Pola latihan dan aktivitas

Pola aktivitas sehari-hari


Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga,
pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan toilet.
22

Olahraga dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa
lebih baik. Selain itu, olahraga dapat mempertahankan tonus otot dan
gerakan sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat untuk
mempertahankan fungsi tubuh. Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang
kompleks antara saraf dan muskuloskeletal.
Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya
gerak persendian adalah agility ( kemampuan gerak cepat dan lancar )
menurun, dan stamina menurun.
2.

Pemeriksaan Fisik

a.

B1 (Breathing)
Inspeksi : Ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang
Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki

b.

B2 ( Blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin dan
pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh
darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat.

c.

B3 ( Brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien
dapat mengeluh pusing dan gelisah.
a)

Kepala dan wajah : ada sianosis

b)

Mata

: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis

c)

Leher

: Biasanya JVP dalam normal

Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari


dan halus merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur
kompresi vertebra.
d.

B4 (Bladder)
Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada
sistem perkemihan.

e.

B5 ( Bowel)
23

Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu di kaji
frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.
f.

B6 ( Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien osteoporosis
sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowagers hump) dan penurunan
tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas
tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering
terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.

3.

Pemeriksaan penunjang

a)

Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang yang
menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus
vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisan korteks
dan hilangnya trabekula transversal merupakan kelainan yang sering
ditemukan. Lemahnya korpus vertebrae menyebabkan penonjolan yang
menggelembung dari nucleus pulposus kedalam ruang intervertebral dan
menyebabkan deformitas bikonkaf.

b)

CT-Scan
Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai
nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas
110 mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan,
sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua
klien yang mengalami fraktur.

3.2

Diagnosa Keperawatan

1.
Nyeri akut berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra
spasme otot, deformitas tulang.
2.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat
perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
3.
Risiko cidera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh.
4.
Defisiensi pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
yang berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi.

3.3

Intervensi Keperawatan
24

1. Diagnosa: Nyeri Akut Berhubungan Dengan Dampak Sekunder Dari


Fraktur Vertebra Spasme Otot, Deformitas Tulang.
Definisi:
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan
jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti
(International Association for the study of pain), awitan yang tiba-tiba atau
perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Batasan karakteristik:
-

Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan nyeri dengan isyarat

Posisi untuk mengindari nyeri

Perubahan tonus otot dengan rentang lemas sampai tidak bertenaga

Respon autonomic misalnya diaphoresis, perubahan tekanan darah,


pernapasan atau nadi, dilatasi pupil

Perubaan selera makan

Perilaku distraksi missal, mondar-mandir, mencari orang atau aktifitas lain,


aktivitas berulang

Perilaku ekspresif missal; gelisah, merintih, menangis, kewaspadaan


berlebihan, peka terhadap rangsang, dan menghela napas panjang

Wajah topeng; nyeri

Perilaku menjaga atau sikap melindungi

Fokus menyempit, missal; gangguan persepsi waktu, gangguan proses piker,


interaksi menurun.

Bukti nyeri yang dapat diamati

Berfokus pada diri sendiri

Gangguan tidur, missal; mata terlihat layu, gerakan tidak teratur atau tidak
menentu dan tidak menyeringai

Faktor-faktor yang berhubungan :


-

Agen-agen penyebab cedera ; biologis, kimia, fisik dan psikologis


Tujuan (Nursing Outcome Classification/NOC)
- Tingkat Kenyamanan
25

Definisi : Tingkat persepsi positif terhadap kemudahan fisik dan psikologis


-

Pengendalian Nyeri
Definisi : Tindakan individu untuk mengendalikan nyeri

- Tingkat Nyeri
Definisi : Keparahan nyeri yang dapat diamati atau dilaporkan
Kriteria Hasil :
-

Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik


nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Tanda vital dalam rentang normal

Intervention Classification (NIC)


Pemberian Analgesik
Menggunakan agens-agens farmakologi untuk mengurangi atau menghilangkan
nyeri.
Manajemen Medikasi
Memfasilitasi penggunaan obat resep atau obat bebas secara aman dan efektif
Manajemen Nyeri
Meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat
diterima oleh pasien.
Bantuan Analgesia yang dikendalikan oleh Pasien (Patient-Controlled
Analgesia (PCA))
Memudahkan pangendalian pemberian dan pengaturan analgesik oleh pasien.
Manajemen Sedasi
Memberikan sedatif, memantau respons pasien, dan memberikan dukungan
fisiologi yang dibutuhkan selama prosedur diagnostik atau terapeutik.
Intervensi
NIC I : Manajemen Nyeri
Aktivitas
1. Lakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh meliputi lokasi, durasi, kualitas,
26

keparahan nyeri dan faktor pencetus nyeri. Pantau tingkat nyeri pada
punggung, nyeri terlokalisasi atau menyebar pada abdomen atau pinggang.
Skala nyeri 7-9 yaitu nyeri berat.
2. Observasi ketidaknyamanan non verbal.
3. ajarkan untuk teknik nonfarmakologi misal relaksasi, guide imajeri, terapi
musik, distraksi.
4. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya, kegaduhan.
5. Kolaborasi : pemberian Analgetik sesuai indikasi
NIC II : Manajemen Analgetik
Aktivitas
1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan tingkat nyeri sebelum mengobati
pasien.
2. Cek obat meliputi jenis, dosis, dan frekuensi pemberian analgetik.
3. Tentukan jenis analgetik ( Narkotik, Non-Narkotik) disamping tipe dan tingkat
nyeri.
4. Tentukan Analgetik yang tepat, cara pemberian dan dosisnya secara tepat.
5. Monitor tanda tanda vital sebelum dan setelah pemberian analgetik.

2. Diagnosa:

Hambatan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Disfungsi

Sekunder Akibat Perubahan Skeletal (Kifosis), Nyeri Sekunder Atau Fraktur


Baru.
Definisi:
Katerbatasan dalam pergerakan fisik mandiri dan terarah pada tubuh atau satu
ekstremitas atau lebih (sebutkan tingkatannya)
0
mandiri total
1
memerlukan penggunaan peralatan atau perlengkapan
2
memerlukan bantuan dari orang lain untuk membantu
mengawasi atau mengajari
3
memerlukan bantuan dari orang lain dan peralatan
4
ketergantungan total
27

Batasan karakteristik:
Objektif

penurunan waktu reaksi


kesulitan membolak-balik posisi tubuh
asik dengan aktivitas lain sebagai pengganti gerak
dispnea saat beraktivitas
perubahan cara berjalan
pergerakan menentak
keterbatasan kemampuan untuk melakukan ketrampilan motorik halus
keterbatasan kemampuan melakukan ketrampilan motorik kasar
keterbatasan rentang pergerakan sendi
tremor yang diindikasi oleh pergerakan
ketidak stabilan poetur tubuh
melambatnya pergerakan
gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi

Faktor-faktor yang berhubungan :


perubahan metabolism sel
indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
gangguan kognitif
kepercayaan budaya terkait aktivitas sesuai usia
penurunan kekuatan kendali atau massa otot
keadaan alam perasaan depresi atau ansietas
keterlambatan perkembangan
ketidaknyamanan
intoleransi aktivitas danpenurunan kekuatan pertahanan
kaku sendi atau kontraktur
defisiensi pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik
kurang dukungan lingkungan fisik atau sosial
keterbatasan ketahanan kardiovaskular
hilangnya integritas struktur tulang
medikasi
gangguan musculoskeletal
gangguan neuromuscular
nyeri
program pembatasan pergerakan
keengganan untuk memulai pergerakan
28

gaya hidup yang kurang gerak atau disuse atau melemah


malnutrisi
gangguan sensori persepsi

Tujuan (Nursing Outcome Classification/NOC) & Kriteria Hasil :


Hasil NOC:
Ambulasi; kemampuan untuk berjalan dari satu tempat ketempat lain secara
mandiri atau dengan alat bantu
Ambulasi: kursi roda; kemampuan untuk berjalan dari satu tempat ketempat
lain dengan kursi roda
Keseimbangan; kemampuan untuk mempertahankan keseimbangkan postur
tubuh
Performa mekanika tubuh; tindakan individu untuk mempertahankan
kesejajaran tubuh yang sesuai dan untuk mencegah peregangan otot skeletal
Gerakan terkoordinasi; kemampuan otot untuk bekerjasama secara volunteer
dalam menghasilkan suatu gerakan yang terarah
Pergerakan sendi: aktif (sebutkan sendinya); rentang pergerakan sendi
aktif dengan gerakan atas inisiatif sendiri
Mobilitas; kemampuan untuk bergerak secara terarah dalam lingkungan
sendiri dengan atau tanpa alat bantu
Fungsi skeletal; kemampuan tulang

untuk menyokong

tubuh dan

memdasilitasi pergerakan
Performa berpindah; kemmapuan untuk mengubah letak tubuh secara mandiri
atau dengan alat bantu.
Tujuan atau criteria evaluasi

Memperlihatkan mobilitas, yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:


1
gangguan eksterm
2
berat
3
sedang
4
ringan
5
tidak mengalami gangguan

Indikator

Keseimbangan
Koordinasi
Performa posisi tubuh
29

Pergerakan sendi dan otot


berjalan
Bergerak dengan mudah
Pasien akan:
memperlihatkan penggunaan alat bantu secara benar dengan pengawasan
meminta bantuan untuk aktivitas mobilitas jika perlu
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dengan alat
bantu menyangga berat badan
berjalan dengan menggunakan langkah-langkah yang benar
berpindah dari dank e kursi atau dari kursi
menggunakan kursi roda secara efektif
Intervention Classification (NIC)
Promosi mekanika tubuh; memfasilitasi penggunaan postur dan pergerakan
dalam aktivitas sehari-hari untuk mencegah keletihan dan ketegangan atau
cedera musculoskeletal
Promosi latihan fisik; latihan kekuatan; memfasilitasi latihan otot resistif
secara rutin untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otot
Terapi latihan fisik: mobilitas sendi; menggunakan gerakan tubuh aktif atau
pasif untuk mempertahankan atau mengembalikan fleksibilitas sendi
Terapi latihan fisik: pengendalian otot; menggunakan aktifitas spesifik atau
protocol latihan yang sesuai untuk meningkatkan atau mengembalikan
gerakan tubuh yang terkendali
Terapi aktivitas fisik: ambulasi; meningkatkan dan membantu dalam berjalan
untuk mempertahankan fungsi tubuh otonom
Terapi latihan fisik: keseimbangan; untuk

meningkatkan

dan

mempertahankan keseimbangan postur tubuh


Pengaturan posisi; mengatur penempatan pasien atau bagian tubuh pasien
secara hati-hati untuk meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan psikologis
Pengaturan posisi; mengatur penempatan pasien atau bagian tubuh pasien
secara hati-hati dikursi roda untuk meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan
psikologis
Bantuan perawatan diri: berpindah; memnabtu individu untuk mengubah
posisi tubuhnya

30

3. Diagnosa: Risiko Cidera Berhubungan Dengan Dampak Sekunder


Perubahan Skeletal Dan Ketidakseimbangan Tubuh.
Definisi:
Suatu kondisi individu yang berisiko untuk mengalami cedera sebagai akibat dari
kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan
pertahanan.
Faktor-fakto resiko:
Faktor Risiko :
1.

Eksternal :

Biologis ( tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme)

Kimia (misalnya, racun,polutan, obat-obatan, agen farmasi, alkohol,

nikotin, pengawet,kosmetik, pewarna)

Orang (agen nosokomial, pola pemupukan, pola-pola kognitif, afektif dan

psikomotor)

Jenis transportasi

Nutrisi (vitamin, jenis makanan)

Fisik (desain, struktur, dan penataan komunitas, bangunan, dan /perlengkapan)

2.

Internal :
Profil darah yang abnormal (leukositosis atau leukopenia, perubahan faktor

penggumpalan darah, trombosiopenia, menurunnya kadar hemoglobin)

Disfungsi biokimia

Usia perkembangan (psikologis,psikososial)

Disfungsi efektor

Penyakit imun/ autoimun

Disfungsi integratif

Malnutrisi

Fisik (kulit terkelupas, perubahan mobilitas)

Psikologis (orientasi afektif)

Disfungsi sensori

Hipoksia jaringan

31

Tujuan (Nursing Outcome Classification/NOC)


-

Risk Control

Kriteria Hasil :

Kontrol Risiko

Perilaku Keamanan : Pencegahan Jatuh

Perilaku Keamanan : Lingkungan Fisik Rumah

Perilaku Keamanan : Pribadi

Status Kemanan : Kejadian Jatuh

Status Keamanan : Cedera Fisik

Kontrol Gejala

Intervention Classification (NIC)


Pencegahan Jatuh
Definisi : Pengadaan kewaspadaan khusus pada pasien yang berisiko cedera /jatuh.
Aktivitas :

Identifikasi defisit kognitif atau fisik pasien yang berpotensi untuk jatuh

Identifikasi karakteristik lingkungan yang menungkatkan potensi jatuh


(seperti lantai yang licin )

Monitor gaya, keseimbangan berjalan dan kelemahan daya ambulasi

Berikan peralatan yang menunjang ( seperti alat bantu jalan ) untuk


mengokohkan jalan

Pertahankan penggunaan alat bantu jalan

Tempatkan benda- benda di sekitar pasien untuk mudah dijangkau

Instruksikan pasien untuk meminta bantuan dengan menggunakan gerakan

Ajarkan pasien bagaimana berpindah untuk meminimalisir trauma

Pasang tanda- tanda untuk mengingatkan pasien untuk meminta bantuan jika
ingin turun dari tempat tidur

Gunakan tkhnik yang tepat untuk memindahkan pasien dari dank ke tempat
tidur , toilet, kursi roda dan sebagainya

Berikan tempat duduk tinggi dengan sandaran tangan dan punggung untuk
memudahkan pemindahan

Gunakan pengekangan fisik untuk mengurangi potensi gerakan tidak aman

Berikan pasien untuk dependen alat bantu ( seperti: bel) ketika pemberi
32

layanan kesehatan tidak ada

Jawab call right dengan segera

Berikan lampu malam disisi tempat tidur

Berikan bathub yang tidak licin, lantai yang tidak licin, barang- barang yang
mudah dijangkau

Tempatkan area penyimpanan pada daerah yang terjangkau

Tempatkan tanda untuk mengingatkan staf jika pasien sedang dalam resiko
jatuh

Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengurangi efek samping obat
yang bisa mengakibatkan jatuh.

Manajemen Lingkungan
Definisi : monitor dan kondisikan lingkungan fisik untuk keamanan
Aktifitas

indentifikasi kebutuhan keamanan pasien berdasarkan level fisik dan fungsi


koognitif serta riwayat kebiasaan sebelumnya.

Indentifikasi benda-benda beresiko di lingkungan.

Pindahkan benda-benda berbahaya dari lingkungan pasien

Modifikasi lingkungan meminimalisir bahaya dan resiko

Siapkan pasien dengan telfon emergency

Beritahu pasien terhadap resiko individual dan kelompok mengenai bahaya


dan resiko

Kolaborasikan dengan petugas lain untuk meningkatakan keamanan


Lingkungan.

4. Diagnosa: Defisiensi Pengetahuan Mengenai Proses Osteoporosis Dan


Program Terapi Yang Berhubungan Dengan Kurang Informasi, Salah
Persepsi.
Definisi:
Tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif sehubungan dengan topic
spesifik.
Batasan karakteristik:
33

memverbalisasikan adanya masalah, ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku


yang tidak sesuai.
Faktor-faktor yang berhubungan :
keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya
keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.
Tujuan (Nursing Outcome Classification/NOC)
- Kowlwdge : disease process
- Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
- Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan
- Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara
benar
- Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/tim kesehatan lainnya.
Intervention Classification (NIC)
Teaching : disease Process

Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses


penyakit yang spesifik.

Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan


dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.

Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat.

Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat.

Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat.

Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat.

Hindari harapan yang kosong.

Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara


yang tepat.

Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk


mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses
34

pengontrolan penyakit.

Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.

Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion


dengan cara yang tepat atau diindikasikan.

Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat.

Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang
tepat.

Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada


pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat..

3.4

Evaluasi

Hasil yang diharapkan meliputi :

Nyeri berkurang

Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik

Tidak terjadi cedera

Terpeneuhinya kebutuhan pengetahuan dan informasi

BAB IV
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Tulang adalah jaringan yang hidup dan terus bertumbuh. Tulang

mempunyai struktur, pertumbuhan dan fungsi yang unik. Untuk mempertahankan


kekuatannya, tulang terus menerus mengalami proses penghancuran dan
pembentukan kembali. Tulang yang sudah tua akan dirusak dan digantikan oleh
tulang yang baru dan kuat. Proses ini merupakan peremajaan tulang yang akan
mengalami kemunduran ketika usia semakin tua. Pembentukan tulang paling
cepat terjadi pada usia akil balig atau pubertas, ketika tulang menjadi makin besar,
makin panjang, makin tebal, dan makin padat yang akan mencapai puncaknya
pada usia sekitar 25-30 tahun. Berkurangnya massa tulang mulai terjadi setelah
35

usia 30 tahun, yang akan makin bertambah setelah diatas 40 tahun, dan akan
berlangsung terus dengan bertambahnya usia, sepanjang hidupnya. Hal inilah
yang mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang yang berakibat pada
osteoporosis ( Tandra, 2009).
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan
porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang
yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya
rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra,
2009).
3.2

Saran
Dalam memahami Asuhan Keperawatan harus diperhatikan dan dipahami

secara detail dalam melakukan pengkajiannya, untuk itu dengan adanya Askep
Osteoporosis ini bisa membantu pembaca dalam mempelajari penyakit
Osteoporosis. Kami menyadari bahwa Askep kami ini masih banyak kekurangan,
untuk itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Sain, Iwan S.Kep. ASKEP Pada Klien Dengan Gangguan Metabolime Tulang :
OSTEOPOROSIS(41_2.pdf). (www.stikeskusumahusada.ac.id/images/file/
41.pdf) diakses tanggal 19 Maret 2016.
http://titinrestantikaharu.blogspot.co.id/2014/06/askep-osteoporosis.html diakses
tanggal 19 Maret 2016.
http://dwihardiyanti25.blogspot.co.id/2012/06/asuhan-keperawatan-padaklien.html diakses tanggal 19 Maret 2016.
https://www.academia.edu/9249133/Asuhan_keperawatan_Osteoporosis diakses
tanggal 19 Maret 2016.
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22611/4/Chapter%20II.pdf
tanggal 19 Maret 2016.

diakses
36

http://nursingawesome.blogspot.co.id/2014/03/laporan-pendahuluanosteoporosis.html diakses tanggal 19 Maret 2016.


http://notekedokteran.blogspot.com/2012/12/osteoporosis-pagets-desease-danrickets.html diakses tanggal 19 Maret 2016.
NANDA NIC NOC 2015

37