Anda di halaman 1dari 28

Pengukuran Aktiva dan Aktiva Lancar

Makalah Teori Akuntansi

Disusun Oleh:
Kelompok 1

Ghifari Luthfan Pratama (1202120014)


Tyas Ninditha Arih (1202120033)
Azzahra Salsabiila S. (1202124044)
Kelas:

Akuntansi C 2012

Program Studi S-1 Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Telkom
Bandung
2015

Kata Pengantar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan semaksimal mungkin dan teapat pada waktunya.
Tujuan kami membuat makalah ini, yaitu untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah
Teori Akuntansi yang diberikan oleh Bapak Achmad Effendi, SE.AK., MM.
Dalam makalah ini, kami membahas materi mengenai Pengukuran Aktiva dan Aktiva
Lancar, yaitu mencakup sub-bab Proses Pengukuran Aktiva Lancar; Ukuran Masukan;
Ukuran Keluaran; dan Ukuran Lower Cost or Market.
Untuk lebih menyempurnakan penyusunan makalah, kami tetap mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari para pembaca.
Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Achmad Effendi, SE.AK.,
MM. yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini. Kami juga berterima
kasih kepada orang tua yang telah mendukung kami selama pembuatan makalah ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Bandung, Februari 2015

Penulis

Daftar Isi

Kata Pengantar............................................................................................................................i
Daftar Isi....................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.................................................................................................1
1.2. Ruang Lingkup................................................................................................2
1.3. Tujuan..............................................................................................................2
1.4. Metode.............................................................................................................2
1.5. Manfaat............................................................................................................2
1.6. Sistematika Penulisan......................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................5
2.1. Laporan Posisi Keuangan................................................................................5
2.1.1. Struktur Analisis.......................................................................................................5
2.1.2. Mengukur Aktiva yang Digunakan...........................................................................6
2.1.3. EVA VS ROI.............................................................................................................9
2.1.4. Pertimbangan Tambahan dalam Mengevaluasi Manajer........................................10
2.1.5. Mengevaluasi Kinerja Ekonomi suatu Entitas........................................................10
2.2. Pengukuran, Pengakuan, dan Penilaian.........................................................11
2.2.1. Proses Pengukuran dan Ukuran Masukan...............................................................11
2.2.2. Ukuran-ukuran Keluaran dan Tujuan Pengukuran.................................................12
2.2.3. Konsep-konsep Penilaian........................................................................................15
2.2.4. Evaluasi dari Konsep-konsep Penilaian..................................................................21
BAB III PENUTUP..................................................................................................................24
3.1. Kesimpulan.................................................................................................24
3.2. Saran...........................................................................................................24
Daftar Pustaka..........................................................................................................................25

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Aset merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi semantik
berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu kewajiban dan
ekuitas. Aset merepresentasikan potensi jasa fisis dan nonfisis yang memampukan badan
usaha untuk menyediakan barang dan jasa.
Terdapat beberapa sumber dari definis aset, diantaranya adalah menurut FASB.
FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya (SFAC No. 6, prg. 25) sebagai
manfaat

ekonomik

masa

datang

yang

cukup

pasti

yang

diperoleh

atau

dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu.
Hampir sama dengan itu IASC juga mendefinisi aset sebagai suatu sumber daya yang
dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil kejadian masa lalu yang mana manfaat
ekonomis masa depan diharapakan didapatkan oleh perusahaan. Sumber lain, yaitu
AASB, mendefinisi aset sebagai potensial jasa atau manfaat ekonomis yang
dikendalikan oleh pelaporan entitas sebagai hasil transaksi masa lalu atau kejadian masa
lalu lainnya. APB No. 4 membedakan aset menjadi sumber ekonomik dan nonsumber
ekonomik. APB No. 4 merinci aset yang digolongkan sebagai sumber ekonomik yaitu:
sumber produktif, produk yang merupakan keluaran kesatuan usaha, uang Klaim untuk
menerima uang, hak kepemilikan atau investasi pada perusahaan lain.
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus memiliki manfaat ekonomik
di masa datang yang cukup pasti. Manfaat ekonomik ini ditunjukkan oleh potensi jasa
atau utilitas yang melekat padanya sebagai yaitu suatu daya atau kapasitas langka yang
dapat dimanfaatkan kesatuan usaha dalam upayanya untuk mendapatkan pendapatan
melalui kegiatan ekonomik. Disamping manfaat ekonomik, suatu objek bisa dikatakan
sebagai aset, objek tersebut tidak harus dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh
entitas. Artinya, untuk memiliki aset harus terdapat proses yang disebut dengan transfer
kepemilikan. Krtieria lain yang merupakan penyempurnaan dalam pendefinisian objek
sebagai aset adalah aset merupakan akibat transaksi atau kejadian masa lalu.

Selain beberapa karakteristik yang telah disebutkan, FASB menyebutkan


beberapa karakteristik pendukung yaitu melibatkan kos, berwujud, tertukarkan,
terpisahkan, dan berkekuatan hukum. Karakteristik pendukung tersebut lebih
menguatkan atau meyakinkan adanya aset tetapi tiadanya karakteristik pendukung tidak
menghalangi suatu objek untuk memenuhi syarat sebagai aset.
1.2. Ruang Lingkup
Materi yang kami bahas dalam makalah ini dan yang ingin kami beritahukan
kepada para pembaca adalah mengenai Pengukuran Aktiva dan Aktiva Lancar, yaitu
mencakup sub-bab Proses Pengukuran Aktiva Lancar; Ukuran Masukan; Ukuran
Keluaran; dan Ukuran Lower Cost or Market.
1.3. Tujuan
Makalah ini dibuat bertujuan untuk memberikan informasi mengenai rerangka
konseptua akuntansi kepada para pembaca agar pembaca dapat menyebutkan dan
menjelaskan berbagai jenis pengukuran dalam aset dan kewajiban; membedakan
pengukuran masukan dan keluaran, keunggulan, kelemahan serta menjelaskan variasi
masing-masing; dan menjelaskan makna aset lancar, klasifikasinya, serta contoh
masing-masing klasifikasi.
Adapun harapan penulis, agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi diri
sendiri, akan tetapi bermanfaat juga bagi mereka yang membtuhkan untuk referensi
ataupun bahan bacaan semata.
1.4. Metode
Dalam penulisan makalah ini, metode yang kami gunakan adalah mencari data-data
yang berkaitan dengan materi yang kami bahas. Dalam hal ini, kami mencari dan
menggabungkan data-data dari berbagai sumber yang kami dapat, yaitu dari buku,
internet, dan buku internet (e-book).
1.5. Manfaat
1.5.1. Manfaat bagi Pembaca
Kami berharap agar para pembaca dapat mengetahui secara rinci mengenai materi yang
kami bahas, yaitu mengenai pengukuran aktiva dan aktiva lancar, sehingga dapat
mengerti dan memahami bagaimana cara-cara dalam mengukur suatu aktiva.

1.5.2. Manfaat bagi Penulis


Sama seperti yang telah disebutkan di atas, kami selaku penulis juga harus mempelajari
pengukuran aktiva dan aktiva lancar, sehingga dapat mengerti dan memahami
bagaimana cara-cara dalam mengukur suatu aktiva.
1.6. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan sistem bab yang terdiri dari tiga
bab disertai dengan daftar pustaka, yaitu:
Bab I
Bab II
Bab III
Daftar Pustaka

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Laporan Posisi Keuangan


Di beberapa unit usaha fokus adalah pada laba yang diukur dari selisih antara
pendapatan dan beban. Di unit usaha yang lain, laba dibandingkan dengan aktiva yang
digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Dalam dunia nyata, perusahaan-perusahaan
lebih sering menggunakan istilah pusat laba dibandingkan pusat investasi, untuk
menyebut pusat tanggung jawab.
Sampai akhir-akhir ini, penulis menggunakan istilah laba residual dan bukannya
EVA. Kedua konsep tersebut secara efektif adalah sama. EVA sebenarnya merupakan
merek dagang dari Stern Stewart & Co.
2.1.1. Struktur Analisis
Dalam analisis mengenai perlakuan alternatif atas aktiva dan perbandingan
ROI dengan EVA dua cara dalam mengaitkan laba dengan aktiva yang
digunakan yang paling menarik adalah seberapa baiknya alternatif-alternatif
tersebut melayani kedua tujuan di atas untuk menyediakan informasi guna
pengambilan keputusan yang baik dan pengukuran kinerja ekonomi suatu unit
usaha.
Memfokuskan diri pada laba tanpa mempertimbangkan aktiva yang digunakan
untuk menghasilkan laba tidaklah mencukupi untuk proses pengendalian. Kecuali
untuk beberapa jenis organisasi jasa tertentu yang jumlah modalnya tidak
signifikan, tujuan penting dari sebuah perusahaan yang berorientasi pada laba
adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang memuaskan atas modal
yang digunakan.
Umumnya, para manajer unit usaha memiliki dua sasaran kinerja. Pertama
mereka harus menghasilkan laba yang mencukupi dari sumber daya yang
digunakan. Kedua, mereka dapat menggunakan sumber daya tambahan hanya jika
penggunaan tersebut menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai.
5

Tingkat pengembalian atas investasi adalah suatu rasio perbandingan.


Pembilangan adalah pendapatan yang dilaporkan pada laporan keuangan.
Penyebutnya adalah aktiva yang digunakan.
Nilai tambah ekonomi (EVA) adalah jumlah uang, bukan rasio. EVA dapat
diperoleh dengan mengurangkan beban modal dari laba operasi bersih. Beban
modal diperoleh dari perkalian antara jumlah aktiva yang digunakan dengan suatu
tingkat tarif.
Untuk alasan-alasan yang akan dijelaskan nanti, EVA lebih unggul
dibandingkan dengan ROI dari sisi konsep, dan oleh karenaitu, EVA akan
digunakan dalam contoh-contoh yang ada. Tetapi, sangat jelas dari survei-survei
yang ada bahwa ROI lebih luas digunakan dalam bisnis dibandingkan dengan
EVA.
2.1.2. Mengukur Aktiva yang Digunakan
Dalam memutuskan dasar investasi apa yang akan digunakan untuk
mengevaluasi pusat investasi, kantor pusat menanyakan dua hal: pertama, praktikpraktik apa saja yang akan membuat para manajer unit usaha menggunakan aktiva
mereka dengan efisien dan untuk mendapatkan jumlah dan jenis yang tepat dari
aktiva baru? Kedua, praktik-praktik apa saja yang paling baik mengukur kinerja
suatu entitas ekonomi?
a. Kas
Hampir semua perusahaan mengendalikan kas secara terpusat karena
pengendalian pusat memungkinkan penggunaan saldo kas yang lebih kecil
daripada jika setiap unit usaha memegang saldo kas yang dibutuhkannya untuk
menyeimbangkan perbedaan antara arus kas masuk dan arus kas keluar.
Satu alasan utnuk memasukkan kas pada jumlah yang lebih besar daripada
saldo yang biasanya dipegang oleh suatu unit usaha adalah bahwa jumlah yang
lebih besar ini diperlukan untuk memungkinkan perbandingan dengan
perusahaan luar.

Beberapa perusahaan mengabaikan unsur kas dalam dasar investasi.


Alasannya adalah bahwa karena jumlah kas tersebut mendekati kewajiban
lancar. Jika demikian halnya, jumlah piutang dan perusahaan akan mendekati
jumlah modal kerja.

b. Piutang
Manajer unit usaha dapat mempengaruhi tingkat piutang secara tidak
langsung, melalui kemampuan mereka untuk menghasilkan penjualan, dan
secara langsung melalui penetapan persyaratan kredit dan persetujuan atas
kredit individual dan batas kredit, serta melalui wewenang mereka dalam
menagih kredit yang telah jatuh tempo.
Memasuki unsur piutang pada harga jual atau pada harga pokok penjualan
merupakan hal yang masih diperdebatkan. Suatu pihak dapat berargumen
bahwa investasi riil dari suatu unit dalam piutang adalah hanya sebesar harga
pokok penjualan dan bahwa tingkat pengembalian yang memuaskan atas
investasi ini mungkin sudah mencukupi.
c. Persediaan
Persediaan biasanya diperlakukan sama seperti piutang, yaitu dicatat pada
jumlah akhir meskipun rata-rata antar periode lebih baik secara konsep. Jika
perusahaan menggunakan untuk tujuan akuntansi keuangan, maka metode
penilaian lain biasanya digunakan untuk pelaporan laba unit usaha, karena
saldo persediaan LIFO cenderung sangat rendahh pada periode terjadinya
inflasi.
Jika persediaan barang dalam proses didanai melalui pembayaran di muka
atau pembayaran cicilan dari konsumen, seperti yang biasa terjadi jika barang
tersebut membutuhkan waktu produksi yang lama. Pembayaran tersebut akan
dikurangi dari jumlah persediaan kotor atau dilaporkan sebagai kewajiban.
7

Beberapa perusahaan mengurangkan utang usaha dari persediaan dengan


dasar bahwa utang mencerminkan pendanaan atas sebagian persediaan oleh
pemasok, tanpa biaya untuk unit usaha. Modal perusahaan yang dibutuhkan
untuk persediaan adalah hanya sebesar selisih antara jumlah persediaan kotor
dan utang.
d. Modal Kerja secara Umum
Seperti yang dapat dilihat, perlakuan atas modal kerja sangatlah bervariasi.
Pada satu sisi, perusahaan memasukkan seluruh aktiva lancar ke dalam dasar
investasi dengan tidak mengeliminasi kewajiban lancar. Metode tersebut
adalah beralasan dari sudut pandang motivasional jika unit-unit usaha tidak
dapat mempengaruhi utang atau kewajiban lancar lainnya.
e. Properti, Pabrik dan Peralatan
Dalam akuntansi keuangan, aktiva tetap awalnya dicatat pada biaya
perolehan, dan biaya ini dihapuskan sepanjang umur eknomis aktiva melalui
penyusutan. Hampir semua perusahaan menggunakan pendekatan yang sama
dalam mengukur profitabilitas atas dasar aktiva dari unit usaha.
f. Aset-aset yang Disewagunausahakan
Banyak perjanjian sewa guna usaha merupakan perjanjian pendanaan, yaitu
perjanjian tersebut memberikan cara alternatif untuk menggunakan aktiva
yang seharusnya didapatkan dari pendanaan dengan utang dan modal. Sewa
guna usaha finansial (yaitu sewa guna usaha jangka panjang yang setara
dengan nilai sekarang dari arus beban sewa) adalah sama dengan utang dan
dilaporkan juga dalam neraca.
g. Aktiva yang Menganggur
Jika suatu unit usaha memiliki aktiva yang menganggur yang dapat
digunakan oleh unit lain, maka unit usaha tersebut dapat diperbolehkan untuk
mengeluarkan aktiva tersebut dari dasar investasinya. Tujuan dari ijin ini

adalah untuk mendorong para manajer unit usaha guna melepas aktiva
menganggur ke unit lain yang mungkin memerlukannya.
h. Aktiva Tidak Berwujud
Beberapa

perusahaan

cenderung

melaksanakan

penelitian

dan

pengembangan yang intensif; sedang yang lainnya cenderung fokus pada


pemasaran. Adapun keuntungan dalam mengkapitalisasi aktiva tidak berwujud
seperti R & D dan pemasaran, serta kemudian mengamortisasinya selama
masa manfaatnya. Metode tersebut akan mengubah cara para manajer unit
usaha memandang pengeluaran semacam ini.
i. Kewajiban Tidak Lancar
Kadang-kadang, suatu unit usaha menerima modal permanennya dari
kumpulan dana korporat. Korporat memperoleh dana tersebut dari pemberi
pinjaman, investor modal, dan laba ditahan. Bagi unit usaha, jumlah total dari
dana tersebut adalah relevan tetapi tidak dengan sumber daya dari mana dana
tersebut berasal.
j. Beban Modal
Kantor pusat korporat menentukan tarif yang digunakan untuk menghitung
beban modal. Tarif tersebut seharusnya lebih tinggi daripada tarif korporat
untuk pendanaan dengan utang karena dana yang terlibat merupakan
campuran antara utang dan modal berrbiaya lebih tinggi.
Beberapa perusahaan menggunakan tarif yang lebih rendah untuk modal
kerja daripada untuk aktiva tetap. Hal ini dapat mencerminkan penilaian
bahwa modal kerja lebih kecil risikonya daripada aset tetap, karena dananya
disalurkan untuk periode yang lebih pendek.
2.1.3. EVA VS ROI
Ada tiga keuntungan dari ROI. Pertama, ROI merupakan pengukuran yang
komprehensif di mana semua mempengaruhi laporan keuangan tercermin dari

rasio ini. Kedua, ROI mudah dihitung, mudah dipahami, dan sangat berarti dalam
pengertian absolut. Ketiga, ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke
setiap unit organisasi yang bertanggung jawab terhdap profitabilitas, tanpa
mempedulikan ukuran dan jenis usahanya.
EVA tidak memberikan dasar perbandingan semacam ini. Tetapi, pendekatan
EVA juga memiliki beberapa keunggulan. Ada empat alasan yang membuatnya
lebih unggul dari ROI.
Pertama, dengan EVA seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama
untuk perbandingan investasi. Kedua, keputusan-keputusan yang meningkatkan
ROI suatu pusat investasi dapat menurunkan laba keseluruhan. Keunggulan ketiga
dari EVA adalah tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis
aktiva yang berbeda pula. Keunggulan keempat adalah bahwa EVA, berlawanan
dengan ROI, memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap perubahanperubahan dalam nilai pasar perusahaan.
2.1.4. Pertimbangan Tambahan dalam Mengevaluasi Manajer
Dengan melihat kelemahan ROI, kelihatannya mengejutkan bahwa ROI
digunakan secara luas. Diketahui dari pengalaman pribadi bahwa kesalahan
konseptual ROI untuk evaluasi kinerja adalah nyata dan menyebabkan timbulnya
perilaku disfungsional dari para manajer unit usaha.
Penggunaan EVA sebagai perangkat pengukuran kinerja sangat disarankan.
Tetapi, EVA tidak menyelesaikan seluruh masalah yang berkaitan dengan
penghitungan aktiva tetap, seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, kecuali
metode penyusutan anuitas dipergunakan, dan hal ini jarang dilakukan dalam
praktik bisnis sehari-hari.
Lebih lanjut lagi, beberapa aktiva mungkin akan dinyatakan terlalu rendah
nilainya ketika dikapitalisasi, sementara aktiva lain ketika dibebankan. Meskipun
biaya pembelian aktiva tetap biasanya dikapitaliasi, sejumlah besar investasi
dalam biaya awal, pengembangan produk baru, organisasi dealer, dan sebagainya,

10

mungkin dapat dihapuskan sebagai beban, dan dengan demikian tidak akan
terlihat dalam dasar investasi.
Dengan mempertimbangkan hal ini, beberapa perusahaan memutuskan untuk
mengeluarkan unsur aktiva tetap dari dasar investasi. Perusahaan-perusahaan
tersebut membebankan beban bunga hanya untuk aktiva yang dapat dikendalikan,
dan mengendalikan aktiva tetap dengan perangka terpisah. Aktiva yang dapat
dikendalikan pada dasarnya merupakan modal kerja.
Investasi dalam aktiva tetap dikendalikan oleh proses anggaran modal sebelum
terjadinya dan oleh audit setelah penyelesaian untuk menentukan apakah ada arus
kas yang diantisipasi terwujud. Hal tersebut jauh lebih dari memuaskan karena
penghematan atau pendapatan aktual dari akuisisi aktiva tetap tidak dapat
diidentifikasikan.
2.1.5. Mengevaluasi Kinerja Ekonomi suatu Entitas
Pembahasan sampai pada saat ini terfokus pada pengukuran kinerja dari para
manajer unit usaha. Laporan-laporan manajemen dibuat bulanan atau kuartalan
sementara laporan kinerja ekonomi biasanya dibuat dengan selang waktu yang
tidak tetap, biasanya sekali dalam selang beberapa tahun.
Laporan-laporan ekonomi merupakan instrumen yang diagnostik. Laporan
tersebut memberikan indikasi apakah strategi unit usaha yang sekarang sudah
memuaskan dan jika tidak, keputusan apa yang harus diambil untuk unit usaha
ekonomi atas suatu unit usaha dapat memperlihatkan bahwa rencana yang
sekarang atas produk-produk, pabrik dan peralatan baru, atau strategi baru yang
lain.
Laporan-laporan ekonomi dapat dijadikan dasar untuk memperoleh nilai
perusahaan secara keseluruhan. Nilai semacam ini disebut breakup value yaitu,
estimasi jumlah yang akan diterima oleh para pemegang saham jika masingmasing unit usaha dijual. Laporan tersebut menunjukkan unit usaha yang menarik
dan dapat mengindikasikan bahwa manajemen senior salah mengalokasikan waktu
mereka yang terbatas yaitu, menghabiskan waktu yang terlalu banyak untuk unit

11

usaha yang cenderung tidak banyak memberikan kontribusi kepada profitabilitas


total perusahaan.
Perbedaan yang paling nyata antara kedua jenis laporan tersebut adalah bahwa
laporan ekonomi lebih terfokus pada profitabilitas di masa depan daripada
profitabilitas yang sekarang atau yang lalu.
Secara konsep, nilai suatu unit usaha adalah nilai sekarang dari pendapatan di
masa depan. Hal ini dihitung dengan mengestimasi arus kas untuk setiap tahun di
masa depna dan mendiskusikan setiap arus kas tersebut pada tarif laba yang telah
ditentukan. Analisis tersebut dilakukan untuk lima, atau mungkin sepuluh tahun
yang akan datang. Meskipun estimasi-estimasi tersebut pada umumnya berupa
estimasi yang kasar, namun tetap memberikan cara yang berbeda dalam melihat
unit usaha, dibandingkan dengan apa yang ada pada laporan-laporan kinerja.
2.2. Pengukuran, Pengakuan, dan Penilaian
2.2.1. Proses Pengukuran dan Ukuran Masukan
Sejarah pengukuran aktiva, saat ini mengkristal ke dalam dua pandangan yang
menurut FASB adalah pandangan pendapatan-beban (revenues-expenses) versus
pandangan aktiva-kewajiban (assets-liabilities). Fakta sebuah pertentangan antara
pihak historicus dan futuris.
Pengukuran dalam akuntansi adalah proses memberikan jumlah moneter
kuantitatif yang berarti pada objek atau peristiwa yang berkaitan dengan suatu
badan usaha dan diperoleh sedemikian rupa sehingga jumlah itu sesuai untuk
agregrasi atau diagregrasi, seperti yang disyaratkan untuk situasi-situasi tertentu.
Dua jenis harga perukaran yang dikenal, yaitu pertama nilai keluaran yang
mencerminkan dana yang diterima oleh suatu perusahaan yang didasarkan
terutama pada harga pertukaran untuk 1 (satu) produk atau keluaran perusahaan.
Kedua harga atau nilai masukan yang mencerminkan ukuran imbalan yang
diserakan untuk memperoleh aktiva yang digunakan oleh suatu perusahaan dalam
operasinya.
Ukuran masukan menunjukkan jumlah kas atau nilai imbalan lainnya yang
dibayarkan ketika suatu aktiva atau manfaatnya memasuki perusahaan dalam
suatu pertukaran atau konversi. Nilai ini dapat didasarkan pada pertukaran masa

12

lalu (historical input cost), pertukaran masa berjalan (current input cost), atau
pertukaran masa depan yang diharapkan (discounted future input cost).
2.2.2. Ukuran-ukuran Keluaran dan Tujuan Pengukuran
Harga keluaran menunjukkan jumlah kas atau nilai imbalan lainnya yang
diterima ketika aktiva atau manfaatnya meninggalkan perusahaan dalam suatu
pertukaran atau konversi. Nilai penerimaan kas yang diharapkan yang
didiskontokan untuk aktiva merupakan ukuran yang paling diperhatikan bila
menggunakan ukuran-ukuran keluaran.
Aktiva mempunyai harga pertukaran yang kemungkinan akan diterima dalam
periode tertentu di masa depan, aktiva itu harus diperlakukan sama, seperti
piutang. Menurut pendekatan ini, persediaan harus dimasukkan sebesar harga
jualnya, bukan sebesar harga biasanya. Penggunaan harga keluaran ini dibenarkan
bila aktiva dapat segera direalisasi.Terdapat lima pendekatan dalam menilai harga
keluaran yaitu:
nilai realisasi bersih;
setara kas masa berjalan;
konsep nilai likuidasi;
penerimaan kas atau potensi jasa masa depan yang didiskontokan;
ukuran nilai terendah antara biaya dan pasar (lower-of-cost-or-market
measures).
Secara keseluruhan tujuan-tujuan pengukuran aktiva dibagi menjadi tiga kategori,
yaitu sintaksis, semantis, dan pragmatis.
Pengukuran diartikan sebagai pemberian nilai-nilai numerikal kepada objekobjek dan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menunjukkan atribut-atribut tertentu.
Penilaian assets adalah proses pengukuran atribut-atribut keuangan (masa lalu,
masa kini, dan masa mendatang) dari pada assets atau kumpulan assets.
Neraca atau balance sheet, sering juga disebut sebagai a statement of
financial position atau ikhtisar keadaan keuangan. Penyebutan ini mengandung
arti bahwa neraca merupakan suatu daftar dari sumber-sumber atau resources dan
kewajiban-kewajiban atau commitments.
Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah menyajikan informasi yang
memungkinkan para investor dan kreditur membuat prediksi mereka sendiri
tentang arus kas perusahaan di kemudian hari. Dengan demikian pengukuran13

pengukuran assets harus dievaluasi atas dasar ciri-ciri prilaku mereka disamping
kadar interpretatifnya dan kemampuan pengukuran-pengukura dalam menjadi
bagian dari struktur pelaporan yang logis.
Sifat Aset
Assets sering diartikan sebagai biaya-biaya yang belum dialokasikan
(unallocated costs) atau jumlah-jumlah yang dibawa ke periode-periode yang
akan dating.
APB Statement No.4, mendefinisikan assets sebagai sumber-sumber ekonomi
(economic resources) dari suatu perusahaan yang diukur dan diakui sesuai dengan
prinsip akuntansi yang lazim diterima (generally accepted accounting principles)
termasuk deferred charges tertentu yang bukan merupakan resources.
Ciri-ciri Aset
Harus ada hak tertentu atas manfaat-manfaat dikemudian hari atau potensipotensi jasa di kemudian hari. Hak dan jasa yang telah habis tidak dapat
dimasukkan, hak-hak ini haruslah merupakan manfaat yang positif, apabila
mempunyai manfaat nihil/negative maka hak ini tidak dapat dikatakan
sebagai assets. Contoh: gedung yang tidak dapat pakai lagi dan biaya untuk
menyingkirnya adalah sama dengan nilai residu-nya, bukanlah assets.
a. Hak ini harus menjadi milik orang atau perusahaan tertentu.
b. Harus ada suatu klaim yang dapat dipaksakan berdasarkan kekuatan hokum.
Contoh: jasa-jasa yang dapat diambil oleh seseorang, atau suatu perusahaan,
bukanlah assets.
Tujuan Pengukuran Aset
Karena penilaian ini penting dalam proses akuntansi, maka tujuan-tujuan dari
pada penilaian ini sama dengan tujuan-tujuan akuntansi.
Penilaian Aset bagi Pengukuran Income
Accounting income dapat dievaluasi dari ketiga tingkat teori, yakni : bentuk
structural atau sintaktis, bentuk semantic atau interpretative, bentuk behavioral
atau pragmatis. Dalam bentuk tradisional structural, penilaian assets merupakan
suatu

langkah

denga

proses matching.

interpretasimengenai

income

maintenance. Konsep capital

Dalam

menggunakan
maintenance ini

14

bentuk

yang

kedua,

konsep capital
mensyaratkan

penilaian assets sedemikian rupa sehingga income dapat dihitung berdasarkan


kenaikan assetsdalam suatu periode. Dari segi behavioral, penilaian harus
memungkinkan perhitungan income yang berguna untuk prediksi atau sebagai
masukan langsung dala investment decision models.
Penilaian sebagai suatu langkah dalam proses matching. Dalam penilaian yang
konvensional, monetary

assets dinilai

values sedangkan non-monetary

berdasarkan net

assets dinilai

berdasarkan

realizable
nilai

masukan

atau input-values sampai non-monetary assets ini dialokasikan menjadi biaya dan
di-match denganrevenue dari produk yang bersangkutan atau kepada periode yang
bersangkutan.

Maka tujuan

penilaian non-monetary

assets adalah

untuk

memperoleh dasar bagi perhitungan gross operating margin dan income dari
semua

transaksi.

Jadi income disini

merupakan

selisih

antara

seluruh revenue dengan nilai masuk atau input value dari semua expense yang
berkaitan dengan revenue tersebut/expense yang berkaitan dengan periode
tersebut.
Income merupakan hasil dari pada perbandingan antara biaya yang dinilai
dengan historical cost dan revenue yang bersangkutan. Dengan adanya perubahanperubahan nilai satuan uang pengukuran income akan lebih baik apabila historical
costs dinilai kembali dalam satuan uang yang mempunyai daya beli yang sama
seperti current (arus) revenue. Pemisahan

antara income dari holding

gains (memegang keuntungan) atauholding loss juga dapat dilakukan dengan nilai
masuk berdasarkan current replacement costs.
Kelemahan dari proses matching adalah karena banyak kegiatan perusahaan
tidak memungkinkanmatching secara teliti. Dalam kebanyakan kasus, alokasi
daripada

penilaian

assets baik

ke

produk

maupun

keexpense dilakukan

secara arbitrer (pengambilan keputusan oleh duabelah pihak).


2.2.3. Konsep-konsep Penilaian
Yang relevan dalam akuntansi adalah nilai-nilai pertukaran (exchange values)
yaitu

nilai-nilai

yang

berlaku

dipasar,

karena

adanya

transaksi

jual

beli. Conversion values adalah nilai-nilai yang terbentuk karena factor-faktor


produksi.

15

Konsep-konsep penilaian atau valuation concepts yang diterapkan untuk


penilaian aset adalah:
a. Exchange output values / nilai keluar adalah jumlah kas atau nilai lain yang
diterima untuk aset atas jasa atau penjualan
Discounted future cash receipt (mendiskonto penerima kas masa depan).
Kas
akan
mencerminkan current
value. Tetapi
apabila
suatu assets merupakan penundaan cash, maka untuk mengukur nilai
sekarang (present value) maka kas yang akan diterima di kemudian hari
(future cash receipts) harus didiskontokan. Misalkan suatu piutang Rp.
1.000.000,- baru akan diterima 3 tahun kemudian. Apabila factor
diskontonya 10% /tahun, maka nilai sekarang dari penerimaan tersebut
adalah Nilai sekarang dari assets merupakan pendiskontoan dari nilai
jasa-jasa yang akan datang, oleh karena itu metode ini juga
disebut discounted service potentials.
Kelemahnnya: (1) arus kas sangat subjektif sifatnya dan sukar. (2) sulit
menentukan tingkat diskonto yang tepat. (3) jumlah dari present value

masing-masing assets tidaklah sama dengan nilai perusahaan.


Current output prices
Apabila produk perusahaan diperdagangkan dalam suatu pasar yang
teratur maka harga pasar pada saat ini (current market price) merupakan
taksiran yang cukup layak mengenai harga pasar di kemudian hari dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Maka current output prices merupakan
suatu subtitusi yang dekat sekali untukdiscounted expected cash receipts
value daripada inventory yang sudah siap untuk dijual. Namun apabila
produk

belum

dijual

dalam

waktu

dekat,

maka current

output

price baiknya didiskontokan atau dihitung net present value-nya.


Apabila ada tambahan biaya-biaya baik untuk produksi maupun
penjualan yang harus dikeluarkan, maka current output prices harus
dikurangi

dengan

biaya-biaya

ini

untuk

mendapatkan approximation daripada current value.


Current output price disebut juga current exit price, mempunyai
kelemahan-kelemahan apabila dipergunakan sebagai konsep penilaian
secara umum untuk semua assets, diantaranya: (1) hanya berlaku bagi
assets yang untuk dijual seperti inventory, aktiva tetap yang sudah tidak

16

dipakai. (2) banyak assets hanyalah akan menjadi harga dimasa mendatang

dengan asumsi ceteris paribus.


Current cash equivalents
Oleh Chambers sebagai

konsep

pengukuran

tunggal

bagi

semua assets. Current cash equivalents adalah harga-harga assets pada saat
benar-benar dapat diwujudkan melalui penjualan yang normal (penjualan
yang tidak dipaksa seperti dalam kebangkrutan perusahaan) dan lazimnya
dapat diketahui dari catatan harga pasar untuk barang yang sejenis.
Konsep ini sifatnya non-additive, dimana jumlah current

cash

equivalents dari beberapa assets yang diukur secara terpisah-pisah tidaklah

sama dengan current cash equivalents yang secara berkelompok.


Liquidation values
Sama dengan konsep current output prices dan current

cash

equivalents. Bedanya pada bahwa konsep liquidation values menggunakan


harga-harga penjualan dalam keadaan perusahaan likwiditas. Dalam
konsep ini harga-harga berada dibawah harga jual yang normal. Konsep ini
hanya diterapkan dalam dua keadaan yaitu: (1) apabila assets yang
bersangkutan telah hilang kegunaannya, (2) apabila menghentikan usaha
dalam waktu dekat sehingga penjualan yang normal tidak dapat dilakukan.
b. Exchange input values / nilai masuk adalah jumlah nilai kas yang keluar untuk
membeli perlengkapan aktiva perusahaan. Input values ini dapat dinyatakan
dalam harga historis yang sebenarnya (actual historical cost), harga sekarang
(current cost), harga masa depan (future cost), atau harga yang diperhitungkan
(imputed costs) berdasarkan expected output values.
Historical costs
Konsep yang lazim digunakan dalam akuntansi. Assets biasanya dicatat
dengan harga pembelian semula. Harga historis ini kemudian digunakan
dalam penyajian ikhtisar keuangan. Maka historical costs merupakan harga
pertukaran barang dan jasa pada saat perolehan.
Apabila
dalam
pertukaran
suatu assets diperoleh
pemberian non-monetary

assets,

maka

nilai

tukarnya

melalui
ditentukan

oleh current value dari assets yang diberikan.


Historical costs mempunyai keuntungan dalam konsep penilaian nonmonetary

assets.

Keuntungan

yang

terutama

adalah

sifatnya

yang verifiable. Costs merupakan harga yang disepakati oleh pembeli dan
penjual dalam suatu pasar yang bebas. Perusahaan seharusnya dapat

17

membeli assets dan jasa dengan harga yang lebih rendah pada penjual
yang lain.
Kelemahannya adalah karena nilai assets bagi perusahaan dapat
berubah-ubah dari waktu ke waktu. Setelah suatu periode yang cukup
panjang historical costs mungkin akan kehilangan maknanya sebagai

ukuran daripada kwantitas resources yang tersedia bagi perusahaan.


Current input costs
Harga pertukaran yang harus dikeluarkan hari ini untuk
memperoleh assetsyang sama. Apabila suatu pasar yang baik memang ada
(dimana assets yang sama dapat dibeli dan dijual) maka harga tukar dapat
diperoleh dan dihubungkan dengan assets yang dimiliki. Harga ini
merupakan nilai maksimum bagi perusahaan kecuali jika net realizable
value lebih besar.
Keunggulannya: (1)current costs merupakan jumlah yang harus dibayar
oleh perusahaan untuk mendapatkanassets. (2)matching ini memungkinkan
pemisahan antara holding gains atau holding losses dari pengakuan laba

rugi operasional.
Kelemahannya: (1)konsep ini kehilangan objektivitas.
Discounted future costs
Konsep ini relevan dalam pembuatan keputusan untuk membeli jasajasa dalam bentuk suatu himpunan sekarang atau dalam jumlah yang kecil-

kecil pada saat dibutuhkan.


Standard costs
Suatu penilaian berdasarkan biaya apa yang seharusnya dikeluarkan
dalam keadaan produksi pada tingkat efisiensi dan kapasitas tertentu.
Penilaian atas dasar standard costs merupakan konsep penilaian input yang
didasarkan atas harga pertukaran yang tepat untuk barang-barang dan jasajasa dalam jumlah yang tepat.
Biaya-biaya yang tidak efisien diabaikan. Biaya yang tidak efisien dan
kapasitas yang menganggur merupakanlosses bagi perusahaan dalam masa
yang lalu atau masa sekarang. Losses jangan dibawa ke periode yang akan
datang, karena losses tidak akan menghasilkan arus kas di kemudian hari.
Suatu produk yang dihasilkan secara efisien tidak harus bernilai lebih
rendah apabila ia dihsilkan dengan metode yang kurang efisien. Nilai suatu
produk tergantung pada future service potential-nya atau harga jual yang
diharapkan, dan bukan kepada berapa besar biaya yang telah dikeluarkan
atau seharusnya dikeluarkan.
18

Tepat atau tidaknya konsep standard costs sebagai ukuran mengenai


nilai

tukar

masukan

atau input exchange

values tergantung

dari

jenis standard cost yang digunakan. Standar yang ideal mungkin berguna
bagi

bagi

tujuan-tujuan

manajerial,

akan

tetapi standard

cost ini

mempunyai kecendrungan menurunkan (understate) nilaiassets karena


biaya-biaya normal yang berkaitan dengan inefisiensi dan kapasitas
menganggur. Standar-standar yang memperhitungkan inefisiensi yang

normal akan lebih tepat bagi penilaian assets.


Absortion costing dan direct costing
Absortion costing jika menggunakan konsep biaya masukan total, maka
semua biaya yang diperlukan dalam produksi harus dimasukkan dalam
penilaian assets yang diproduksi (input cost yang tidak dapat dihindari dan
harus timbul dalam proses produksi mesti diperhitungkan dalam
penilaian assets yang diproduksi). Konsepabsortion costing merupakan
konsep

yang

tepat

baik

ditinjau

dari

segi service

potential maupun matching.


Dari segi service potential, semua biaya dianggap membawa manfaat
bagi perusahaan karena dapat dikonversikan menjadi uang melalui proses
penjualan dan pengihan yakni proses usaha yang normal. kalau dari
segi matching full costing memungkinkan dibawanya biaya-biaya ke
periode yang akan datang untuk di-matchdengan revenue.
Direct
costing lebih
tepat
disebut
sebagai variable
costing atau marginal
costing untuk

costing,

menilai assets yang

hanya

memperhitungkanvariable

diproduksi.

Keuntungan

utama

dari direct costing adalah memberikan informasi kepada manajemen untuk


membuat keputusan dan bagi pengendalian biaya.
Menurut definisi, variable costing adalah biaya-biaya yang berubahubah tergantung dari jumlah produksi atau penjualan, biaya-biaya ini tidak
akan terjadi apabila output atau penjualan pada titiknihil. Biaya-biaya
dikeluarkan dengan harapan akan dapat diperolehnya manfaat-manfaat
sekarang

maupun

dikemudian

hari,

baik

dalam

peningkatan revenue maupun penurunan costs di kemudian hari. Apabila


biaya-biaya ini timbul dari inefficiency atau dari kekeliruan menaksir
manfaat-manfaat dimasa mendatang, barulah biaya-biaya ini dibebankan

19

kerugi-laba pada waktu di-accrue, dan tidak dimasukkan sebagai biaya dari
suatu produk.
Ada 3 alasan mengapa variable costing untuk tujuan pelaporan ekstern
dianggap lebih unggul: (1)net incomedianggap lebih mempunyai makna
apabila inventories dihitung atas dasar variable costs apabila produksi
tidak sama dengan jumlah penjualan dalam setiap periode, (2)variable
costing menghilangkan kemampuan manajemen untuk mempengaruhi atau
bahkan menyesatkan pelaporan net income melalui kebijakan produksi,
(3)dalam hal tertentu, jika terjadi kapasitas yang menganggur, fixed
costs tidak membawa manfaat untuk periode yang akan datang.
c. Lower of cost or market, dikenal juga sebagai cost or market whichever is
lower (comwil) merupakan campuran dari konsep penilaian masuk dan
penilaian keluar.
Konsep ini dikenal dalam akuntansi pada abad XIX. Pada awalnya konsep
ini dianut dalam hubungan dengan penekana yang diberikan kepada neraca
sebagai laporan bagi para kreditur. Tanpa laporan yang dapat dipercaya
(karena pada waktu itu perusahaan masih sangat tertutup dan informasi
akuntansi marupakan rahasia yang sangat besar) para kreditur memberikan
penekanan kepada nilai assets yang paling rendah. Oleh karena itu pandangan
yang konservatif dianggap sebagai sikap yang paling aman dalam penilaian
pos-pos neraca.
Dengan bergesernya penekanan kepada ikhtisar l/r, maka konsep comwil ini
mendapatkan makna besar. Akibat dianutnya comwil maka income juga
dinyatakan secara konservatif. Dengan diturunkannya penilaianassets pada
akhir periode maka net income juga menjadi rendah. Disini semua
kemungkinan kerugian langsung diperhitungkan dalam penentuan net income,
tetapi sebaliknya, kemungkinan untung atau laba ditunda pengakuannya
sampai saat penjualan atau realisasi.
Comwil pada dasarnya adalah penerapan suatu prosedur akuntansi yang
sudah lazim diterima. Comwilmerupakan aplikasi dari konsep-konsep yang
ada dengan mengambil segi-segi baiknya (electic).
Comwil secara formal diakui oleh AICPA, AAA, SEC dan FASB di
Amerika, dan juga oleh profesi akuntansi dinegara-negara lain, termasuk
Indonesia. Sebagai suatu konsep, comwil ini sebenarnya tidak mempunyai
tempat dalam teori akuntansi karena hal-hal berikut:

20

Sebagai

suatu

metode

yang

konservatif, comwil mempunyai

kecenderungan menekan (understate) jumlah assets. Understatement tidak


merugikan para kreditur tetapi jelas penipuan bagi pemegang saham

maupun calon investor.


Penilaian yang konsevatif terhadap assets pada saat ini akan menyebabkan

penilaian yang liberal pada net income di kemudian hari.


Meskipun perusahaan menerapkan comwil secara konsisten dari tahun ke

tahun, namun secara internal, comwil tidaklah konsisten.


Comwil juga diterapkan baik dalam turunnya cost maupun karena

turunnya utility dari assetstersebut, misalnya karena using (obsolete).


Comwil menunda pengakuan untung atau laba yang belum direalisasi.
Realisasi dianggap baru terjadi apabila ada pertukaran.

2.2.4. Evaluasi dari Konsep-konsep Penilaian


Dalam penilaian assets tidak ada konsep tunggal atau prosedur yang ideal bagi
penyajian suatu ikhtisar keadaan keuangan, bagi penentuan besarnya income, atau
bagi pengujian informasi lain yang relevan bagi para kreditur, investor atau
pemakai-pemakai yang lain.
Dari segi pandangan structural historical cost valuation-lah yang paling ideal
sepanjang diterapkan dalam kerangka tata buku berpasangan. Namun konsep
penilaian lain juga dapat diterapkan dalam kerangka ini.
Dari segi pandangan interpretative, penilaian assets dimaksudkan sebagai
pengukuran resources yang ada pada perusahaan dalam menghasilkan penerimaan
kas dikemudian hari. Historical cost valuation justru mempunyai kelemahan bagi
tujuan interpretative, dan current replacement costs mengharuskan interpretasi
yang

lebih

baik. Net

realizable

value dan current

cash

equivalents juga

memungkinkan interpretasi apabila penilaian ini didasarkan pada harga-harga


yang berlaku dipasar. Mckeown mendemonstrasikan bahwa current cash
equivalentsdan current replacements costs berbeda satu sama lain dan juga
berbeda dari historical costs secara material, dan karena dari setiap konsep ini
tidak dapat dipakai sebagai pengganti (surrogate) untuk konsep lainnya.
Dengan

menggunakan investment

models yang

normative,

tujuan

penilaian assets adalah untuk memberikan informasi yang memungkinkan prediksi

21

mengenai penggunaan kas di kemudian hari untuk memperoleh resources yang


serupa bagi kelangsungan perusahaan, dan untuk tujuan prediksi mengenai
penerimaan kas di kemudian hari. Current replacement costs yang diperoleh dari
pasar-pasar yang ada, dapat mencerminkan arus kas yang diperlukan untuk
menggantikan fasilitas yang ada. Jadi sebagai alat prediksi mengenai future cash
outflow, current input costs dan expected future input price lebih penting
daripada input values dimasa yang lalu.
Pemisahan antara fixed costs dan variable costs juga dapat membantu prediksi
terhadap cash flowsdimasa yang akan datang. Net realizable value dan current
cash equivalents akan relevan untuk berbagai tujuan prediksi. Tetapi apabila
manfaat untuk masa mendatang sangat tidak pasti, penilaian masukan mungkin
akan dapat menjadi subtitusi yang layak.
Konsep penilaian

Keadaan-keadaan dimana Konsep tersebut Dapat Diterapkan

Exchange Output
Values

Apabila ada bukti-bukti bahwa output value tersedia


sebagai
petunjuk
mengenai
penerimaanpenerimaan kas dikemudian hari.

1.
Discounted future
expected cash
receipts atau discounted
service potentials

Apabila penerimaan kas yang diharapkan atau


eqwivalennya diketahui atau dapat ditaksir dengan
cukup teliti, dan apabila waktu untuk menunggu
arus kas relative panjang.

2.
Current output
values

Apabila
harga
penjualan
sekarang
menunjukkan output pricedikemudian hari.

3.
Current cash
equivalents

Apabila alternative yang terbaik adalah penjualan


secara normal.

4.

Apabila perusahaan tidak dapat menjual produknya


melalui
saluran
pasar
yang
normal
atau
apabila assets tersebut kehilangan kegunaannya.

Liquidation values

Exchange Input Values

Apabila tidak ada bukti-bukti yang cukup megenai


tersedianyaoutput
values atau
apabila output
values tidak
memberikan
indikasi
mengenai
kebutuhan kas dimasa yang akan datang.

1.

Historical cost

Sebagai
ukuran
daripada current
value apabila assets baru saja diperoleh.

2.

Current input costs

Apabila bukti-bukti yang verifiable mengenai current


22

input

input values dapat diperoleh.


3.
Discounted future
costs

Apabila jasa-jasa kemudian (yang harganya telah


diketahui atau dapat ditaksir) dibeli dimuka
sekaligus (dalam suati gunggungan) dan bukannya
dibeli secara sedikit-sedikit apabila dibutuhkan.

4.

Standard costs

Apabila ini merupakan current costs dengan kondisi


efisiensi dan pada kapasitas produksi yag normal.

Direct costing

Apabila assets dapat diproduksi di kemudian hari


tanpa menyebabkan kenaikan dalam total fixed
costs dimana yang akan datang, atau apabila
pemakaian fasilitas tetap yang sekarang (current
fixed facilities) tidak akan menaikkan revenuedi
kemudian hari.

5.

Konsep yang Eclectic:


The lower of cost or
market

Merupakan konsep yang paling lemah diantara


semua konsep diatas.

23

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Aktiva tetap merupakan salah satu komponen aktiva yang berperan
penting dalam kegiatan usaha perusahaan. Aktiva lancar biasanya menyangkut
jumlah dana yang sangat besar.
Jika aktiva tetap mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode
akuntansi, digunakan dalam bentuk operasi perusahaan, dan tidak dimaksudkan
untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan. Aktiva tetap mempunyai usia
yang terbatas kecuali tanah, dan aktiva tetap bersifat non moneter dalam artian
masa manfaatnya diterima dari penggunaan atau penjualan jasa-jasa dan bukan
dari pengubahannya menjadi sejumlah uang tertentu. Maka, aktiva lancar
memiliki sifat yang lebih likuid dari aktiva tetap karena mudahnya atau cepatnya
terkonversi menjadi kas.
Aktiva lancar dapat diperoleh dengan berbagai cara, misalnya dengan cara
penjualan tunai atau kredit.

3.2. Saran
Aktiva lancar memiliki sifat yang lebih likuid dari aktiva tetap karena
mudahnya atau cepatnya terkonversi menjadi kas. Sehinggam perusahaan harus
memiliki strategi dalam likuiditas tersebut.

24

Daftar Pustaka

Hendriksen, Eldon S dan Michael F. Van Breda. Accounting Theory, atau Teori
Akunting, Terj. Herman Wibowo, Tangerang: Interaksara.
Adi, Siti Sarah. 2013. Tugas Kuliah Makalah Akuntansi Teori Asset.
https://sitisarahadi.wordpress.com/2013/05/31/tugas-kuliah-makalah-akuntansi-teori-asset/ .

(diakses pada tanggal 28 Februari 2015)


Asma, Naura. 2013. Makalah Penentuan Harga dan Penilaian Aktiva Tetap.
http://softbizniz.blogspot.com/2013/12/makalah-penentuan-harga-dan-penilaian.html .

pada tanggal 28 Februari 2015)


Paramita,
Dewi.
2014.
Ringkasan

Materi

Teori

(diakses

Akuntansi.

http://www.academia.edu/6780244/RINGKASAN_MATERI_TEORI_AKUNTANSI_KOMPLIT .

(diakses pada tanggal 28 Februari 2015)


Anonim.
2012.
Assets
dan
Pengukurannya

(Teori

http://shinraemun.blogspot.com/2012/11/assets-dan-pengukurannya.html.

tanggal 28 Februari 2015)

25

Akuntansi).

(diakses

pada