Anda di halaman 1dari 15

KODRAT BERBAHSA

PADA OTAK
OLEH :
M. ALSABAH
14350053
NIA RIZQY RASELY
14350065
OSKAR SETIAWAN 14350070
PATUH RAHMAN
14350072
PUTIH ANDINI
14350074
RAHMA PERTIWI
14350077
RANY SAPA WINTI 14350080

PENGERTIAN BAHASA
Bahasa

Bahasa adalah medium tanpa


batas yang membawa segala
sesuatu mampu termuat dalam
lapangan pemahaman manusia.

Bahasa adalah media manusia


berpikir secara abstrak yang
memungkinkan objek-objek
faktual ditransformasikan
menjadi simbol-simbol abstrak

PEMEROLEHAN
BAHASA
BAHASA IBU
DIDAPAT DARI
PEMEROLEHAN SEJAK
KECIL SESUAI
LINGKUNGAN

BAHASA
KEDUA
DIDAPAT DARI PROSES
PEMBELAJARAN DAN
PENGETAHUAN

KODRAT BAHASA
Pertama, bahasa manusia (mulai sekarang: bahasa) memiliki
ketergantungan struktur (strycture-dependence). Suatu rentetan kata
dalam kalimat tidak membentuk rentetan yang acak tetapi satu
bergantung pada yang lain. Urutan kata memang tampak linier tetapi
satu kata dengan satu kata yang lain membentuk suatu struktur yang
hierarkhis.
Kedua, bahasa dan pemakai bahasa itu kreatif. Dari segi pemakai bahasa,
dia kreatif karena dia memiliki kemampuan untuk memahami dan
mengujarkan ujaran baru mana pun. Ujaran yang kita dengar kapan pun
juga tidak pernah ada yang sama dengan ujaran yang kita dengar
sebelumnya, meskipun topiknya sama.

Ketiga, bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan situasi atau


peristiwa yang sudah lampau atau yang belum terjadi dan bahkan untuk
sesuatu yang dibayang-bayangkan.
Keempat, bahasa memiliki struktur ganda yang dinamakan struktur
bathin (deep structure) dan struktur lahir (surfsce structure).
Kelima, bahasa itu diperoleh secara turun-temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain.
Keenam, hubungan antara kata dengan benda, perbuatan, atau keadaan
yang dirujuknya itu arbitrer (arbitrary).
Ketujuh, bahasa memiliki pola dualitas, artinya bunyi-bunyi itu sendiri
sebenarnya tidak mempunyai makna dan baru bermakna setelah bunyibunyi itu kita gabungkan.
Kedelapan, bahasa itu memiliki semantisitas, artinya bahwa begitu
sebuah nama diberikan maka nama itu akan selalu merujuk pada
konsep benda itu

KAITAN OTAK DENGAN


BAHASA
Pada manusia, otak memiliki tiga bagian besar, masing-masing mengontrol fungsifungsi fisik atau mental yang berbeda. Tiga bagian besar itu adalah otak depan, otak
tengah, dan otak belakang. Otak depan berkaitan dengan tugas-tugas kompleks seperti
bahasa, memori, dan pikiran atau emosi. Bagian Otak ini bersifat dinamis dan hanya
dimiliki oleh manusia. Sementara otak belakang bersifat statis, bagian inilah yang juga
dimiliki oleh makhuk selain manusia.
Dari struktur serta organisasi otak manusia bahwa otak memegang peranan penting
dalam bahasa. Apabila input yang masuk dalam keadaan lisan, maka bunyi itu di
tanggapi di lobe temporal, khususnya oleh korteks primer pendengaran.disini input tadi
diolah secara rinci sekali,setelah diterima, dicerna dan diolah maka bunyi bahasa tadi
dikirim kedaerah Wernicke untuk diinterpresentasikan.

KA I TA N O TA K D E N G A N B A H A S A
Saraf-saraf dalam otak berkaitan dengan fungsi berbahasa adalah daerah
broca, daerah Wernicke, dan daerah korteks ujaran superior atau daerah
motorsuplementer. Berdasarkan tiga daerah saraf tersebut dapat dikatakan
bahwa terdapat bagian-bagian tertentu pada saraf-saraf di otak kiri manusia
yang mempengaruhi manusia untuk menghasilkan ujaran untuk berbahasa
dan berkomunikasi dengan sesama.
Orang sudah lama sekali berbicara tentang otak dan bahasa. Aristoteles
pada tahun 384-322 SM telah berbicara soal hati yang melakukan hal-hal
yang kini kita ketahui dilakukan oleh otak. Begitu pula pelukis terkenal
Leonardo da Vinci pada tahun 1500-an (Dingwall 1998:53). Namun, titik
tolak yang umum dipakai adalah setelah penemuan-penemuan yang
dilakukan oleh Broca dan Wernicke pada tahun 1860-an. Dari struktur serta
organisasi otak manusia yang memegang peranan penting dalam bahasa.

KA I TA N O TA K D E N G A N B A H A S A
Apabila input yang masuk adalah dalam bentuk lisan, maka bunyibunyi itu ditanggapi oleh lobus temporal, khususnya oleh korteks
primer pendengaran. Di sini input tadi diolah secara rinci sekali,
misalnya, apakah bu yi sebelum bunyi /o/ yang didengar it memiliki
VOT +60 milidetik, +20 milidetik, atau di antara kedua angka ini.
Angka indek VOT ini penting karena kalau VOT-nya adalah +0
milidetik, maka bunyi itu pastilah vois seperti /b/ atau /g/; kalau lebih
dari +30 milidetik, pastilah itu bunyi tak-vois seperti /p/ atau /k/, dst.
Korteks ini juga meneliti apakah urutan bunyi adalah, misalnya,
/p/, /o/, /s/ (pos) atau /s/, /o/, /p/ (sop).

KA I TA N O TA K D E N G A N B A H A S A
Setelah diterima, dicerna, dan diolah seperti ini maka bunyi-bunyi bahasa tadi
dikirim ke derah Wernicke untuk diinterpretasikan. Di daerah ini bunyi-bunyi
dipilah-pilah menjadi sukukata, kata, frasa, klausa, dan akhirnya kalimat. Setelah
diberi makna dan dipahami isinya, maka ada dua jalur kemungkinan. Bila masukan
tadi hanya sekedar informasi yang tidak perlu ditanggapi, maka masukan tadi cukup
disimpan saja dalam memori.
Di daerah broca proses penanggapan dimulai. Setelah diputuskan tanggapan verbal
itu bunyinya seperti apa maka daerah broca memerintahkan motor korteks untuk
melaksanakannya. Proses pelaksanaan di korteks motor juga tidak sederhana. Untuk
suatu ujaran ada minimal 100 otot dan 140.000 rentetan neuromuskuler yang terlibat.

F U N G S I K E B A H A S A A N O TA K
Sudah dikemukakan bahwa kedua hemisfer otak mempunyai peranan yang berbeda bagi
fungsi kortikal. Fungsi bicara bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak
kidal. Hemisfer kiri ini disebut hemisfer dominant bagi bahasa dan korteksnya dinamakan
korteks bahasa. Hemisfer dominant atau superior secara morfologis memang agak berbeda
dari hemisfer yang tidak dominant atau inferior. Hemisfer dominant lebih berat, lebih
besar girusnya dan lebih panjang. Hemisfer kiri yang terutama mempunyai arti penting
bagi bicara bahasa, juga berperan untuk fungsi memori yang bersifat verbal. Sebaliknya,
hemisfer kanan penting untuk fungsi emosional, lagu isyarat, baik yang emosional
ataupun yang verbal.

FUNGSI KEBAHASAAN
O TA K
Hemisfer kiri memang dominant untuk fungsi bicara bahasa, tetapi
tanpa aktifitas hemisfer kanan, maka pembicaraan seorang akan
menjadi monoton, tak ada prosodi, tak ada lagu kalimat; tanpa
menampakan adanya emosi ; dan tanpa disertai isyarat-isyarat bahasa.
Penentuan dan pembuktian daerah-daerah tertentu dalam otak
dalam kaitannya dengan fungsi bicara bahasa dan fungsi-fungsi lain
pada awalnya dilakukan dengan penelitian terhadap orang-orang yang
mengalami kerusakan otak atau kecelakaan yang mengenai kepala.
Kemudian dilakukan juga dengan berbagai eksperimen terhadap
orang sehat.

Hemisfer kiri dan kanan


Perkembangan kedua belahan otak akan
mengalami spesialisasi atau lateralisasi..
Pada usia kurang lebih dua tahun,
hemisfer kanan lebih berkembang
selanjutnya hemisfer kiri. Oleh karena
itu, pada periode ini anak lebih sering
menggunakan tangan kirinya. Biasanya
para orang tua mengarahkan agar
menggunakan tangan kanan. Namun,
bagi
anak
yang
mempunyai
kecenderungan kidal bila dipaksa pindah
tangan akan mengalami gangguan
berbahasa. Karena anak kidal fungsi
bicara dan bahasanya berasal dari
hemisfer kanan.

HEMISFER KIRI DAN


KA N A N
Hemisfer kiri memang dominan untuk bicara-bahasa, tetapi tanpa
aktivitas hemisfer kanan, maka seseorang akan menjadi monoton
tak ada prosodi, tak ada lagu kalimat; tampak adanya emosi; tanpa
disertai isyarat-isyarat bahasa. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan
pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfer kiri ini
disebut dengan hemisfer dominan bagi bahasa, dan korteksnya
dinamakan korteks bahasa.

Hasil penelitian tentang kerusakan otak oleh Broca dan Wernickle serta penelitaian Penfield dan
Robert mengarah pada kesimpulan bahwa hemisfer kiri dilibatkan dalam hubungannya dengan fungsi
bahasa. Kranshen (1977) mengemukakan lima alasan yang mendasari kesimpulan itu. Kelima alasan
itu adalah berikut ini.
o Hilangnya kemanpuan berbahasa akibat kerusakan otak lebih sering disebabkan oleh kerusakan
jaringan saraf hemisfer kiri daripada hemisfer kanan.
o Ketika hemisfer kiri dianestesia kemampuan berbahasa menjadi hilang, tetapi ketika hemisfer
kanan dianestesia kemanpuan bahasa itu tetap ada.
o Sewaktu bersaing dalam menerima masukan bahasa secara bersamaan dalam tes dikotik, ternyata
telinga kanan lebih unggul dalam ketepatan dan kecepatan pemahaman daripada telinga kiri.
Keunggulan telinga kanan itu karena hubungan antara telinnga kanan dan hemisfer kiri lebih baik
daripada hubungan telingan kiri dengan hemisfer kanan.
o Ketika materi bahasa diberikan melalui penglihatan mata kanan dan mata kiri, maka ternyata
penglihatan kanan lebih cepat dan lebih tepat dalam menangkap materi bahasa itu daripada
penglihatan kiri. Keunggulan penglihatan kanan itu karena hubungan antara penglihatan kanan dan
hemisfer kiri lebih baik daripada hubungan penglihatan kiri dan hemisfer kanan.
o Pada waktu melakukan kegiatan berbahasa baik secara terbuka maupun tertutup, hemisfer kiri
menunjukan kegiatan elektris lebih hebat daripada hemisfer kanan. Hal ini diketahui melalui analisis
gelombang otak. Hemisfer yang lebih aktif sedikit dalam menghasilkan gelombang alpha.

DAFTAR PUSTAKA
Halijah, Abd dan Hamid. Bagaimana Manusia
Memperoleh Bahasa?.
Jakarta: Pelita Bahasa (Jurnal penyelidikan IPBL, jilid
7).2006
Anwar, Khaidir. Fungsi dan Peranan Bahasa.
Yogyakarta : Gajah Mada University press, 1985