Anda di halaman 1dari 14

ASPEK NEUROLOGI BAHASA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikolinguistik Dosen : Atikah Anindyarini, S.S., M.Hum. Oleh : Heni Setya Purwandari Lina Suprapto Nana Mayatul Asna Nova Ayu Wulandari (K1209033) (K1209039) (K1209045) (K1209049)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan alat untuk berinteraksi yaitu bahasa. Hal ini didukung dengan pengertian bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipakai oleh suatu masyarakat untuk berinteraksi; percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun. Adanya bahasa membuat kita menjadi mahluk yang bermasyarakat(atau mahluk sosial). Kemasyarakatan kita tercipta dengan bahasa, dibina dan dikembangkan dengan bahasa; Lindgren (1972) menyebut bahasa itu sebagaiperekat masyarakat. Broom & Selznik (1973: 94) menyebutnya sebagai faktor penentu dalam penciptaan masyarakat manusia dalam Subyakto-Nababan (1992: 1). Penguasaan bahasa manusia berbeda dengan hewan, hal ini dilandasi oleh dua aspek yaitu aspek biologis dan aspek neurologis. Dalam aspek biologis diketahui bahwa pertumbuhan bahasa manusia mengikuti jadwal perkembangan genetiknya sehingga munculnya suatu unsur bahasa tidak dapat dipaksakan. Sedangkan aspek neurologis, yaitu kaitan antara otak dengan bahasa. Menurut Chaer dalam Ariffudin (2010:2) mengemukakan bahwa dalam sistem saraf manusia, otak merupakan pusat saraf, pengendali pikiran, dan mekanisme organ tubuh manusia, termasuk mekanisme yang mengatur pemrosesan bahasa. Oleh karena itu, perkembangan bahasa manusia berkaitan erat dengan perkembangan otak. Untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan bahasa yang dipengeruhi oleh aspek neurologis, dalam makalah ini akan dibahas mengenai struktur dan organisasi otak manusia yang membuat manusia berbeda dengan hewan karena bisa berbahasa. B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana evolusi otak manusia ?

2. Bagaimana struktur otak manusia ?


3. Apakah kaitan antara otak dengan bahasa ?

C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui bagaimana evolusi yang terjadi pada otak manusia 2. Untuk mengetahui bagaimana struktur otak manusia
3. Untuk mengetahui apakah kaitan antara otak dengan bahasa.

BAB II PEMBAHASAN

A. EVOLUSI OTAK MANUSIA Manusia tumbuh secara grandula dari suatu bentuk ke bentuk yang lain selam berjuta-juta tahun. Salah satu pertumbuhan yang telah diselidiki oleh para ahli palaeneurologi menunjukkan bahwa evolusi otak dari primat Austrolopithecus sampai dengan manusia masa kini telah berlangsung sekitar 3 juta tahun. Hal ini tampak paling tidak pada ukuran otak yang membesar dari 400 miligram menjadi 1400 miligram (Holloway dalam Dardjowodjojo. 2003:201) pada kurun waktu antara 3-4 juta tahun lalu. Dari munculnya Homo sapiens pada sekitar 1.7 juta tahun lalu ukuran otak telah berkembang hampir dua kali lipat, dari 800 miligram ke 1.500 miligram. Meskipun ukuran itu sendiri bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur perubahan fungsi, paling tidak ukuran itu memungkinkan akan adanya fungsi yang bertambah. Perkembangan otak ini dapat dibagi menjadi empat tahap (Hollowey dalam Dardjowodjojo. 2003:201). Tahap pertama adalah tahap perkembangan ukuran seperti yang dikatakan di atas. Tahap ini tampak pada Homo erectus yang ditemukankan di Jawa dan yang ditemukan di Cina. Tahap kedua adalah adanya perubahan reorganisasi pada otak tersebut. Lembah-lembah pada otak ada yang bergeser sehingga memperluas daerah lain seperti daerah yang dinamakan daerah parietal. Perubahan ini terjadi pada masa praaustrolopithus ke Austrolopithecus afarensis. Perubahan ketiga adalah muncunya sistem fiber yang berbeda-beda pada daerah-daerah tertentu melalui corpus callosum. Perkembangan terakhir adalah munculnya dua hemisfir yang asimitris. Dari gambaran singkat ini tampak bahwa otak manusia telah mengalami evolusi dari yang paling rumit seperti yang kita miliki sekarang.

B. STRUKTUR OTAK MANUSIA

Di samping bentuk tubuh dan ciri-ciri fisikal lain, yang membedakan manusia dari binatang terutama adalah otaknya. Manusia berbeda dari binatang karena struktur dan organisasi otaknya berbeda. Dari segi ukurannya berat otak manusia adalah antara 1 sampai 1.5 kilogram (Steinberg dalam Dardjowidjojo 2003: 203) dengan rata-rata 1330 gram ( Halloway dalam Dardjowidjojo 2003:203). Untuk ukuran orang Barat, ini hanyalah 2% dari berat badannya; untuk manusia Indonesia bahkan mungkin kurang dari itu. Akan tetapi, ukuran yang sekecil ini menyedot 15% dari seluruh peredaran darah dari jantung dan memerlukan 20% dari sumberdaya metabolik manusia. Seluruh sistem saraf kita terdiri dari dua bagian utama: (a) tulang punggung yang lain terdiri dari sederetan tulang punggung yang bersambung-sambungan (spinal cord) dan (b) otak. Sedangkan batang otak terdiri dari bagian-bagian yang dinamakan mendulla, pons, otak tengah, dan cerebellum. Bagian-bagian ini terutama berkaitan dengan fungsi fisikal tubuh, termasuk pernafasan, detak jantung, gerakan, refleksi, pencernaan, dan pemunculan emosi (Steinberg dalam Dardjowidjojo 2003:203). Hemisfir kiri mengendalikan semua anggota badan yang ada disebelah kanan, termasuk muka bagian kanan. Sebaliknya, hemisfir kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. Mata dan telinga diatur agar berbeda. Pada tiap mata dan telinga terdapat sambungan syaraf ke hemisfir kiri maupun kanan, meskipun jumlahnya berbeda. Pada waktu manusia dilahirkan, belum ada pembagian tugas antara kedua hemisfir ini. Akan tetapi, menjelang anak mencapai umur sekitar 12 tahun terjadilah pembagian fungsi yang dinamakan lateralisasi. Lateralisasi merupakan proses pengkhususan fungsi dari dua belah otak yang terjadi karena penyebelahan menjadi dua bagian, yakni hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Perkembangan tersebut biasa muncul pada diri anak menginjak usia dua tahun sampai menjelang masa pubertas yang terjadi secara perlahan-lahan ( H.D.Brown ).

Kecuali beberapa orifice (lubang) garis tengah, hampir setiap manusia itu memiliki dua hal, satu di kiri dan satu di kanan. Bahkan, otak yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai self yang uniter dan tidak dapat dibagi, merefleksikan prinsip umum duplikasi bilateral ini. Di bentangan bagian atasnya, otak terdiri dari dua struktur yakni hemisfer (belahan) serebral kiri dan kanan yang seluruhnya terpisah kecuali cerebral commissures (komisura serebral) yang menghubungkannya. Hemisfer kiri dan kanan otak manusia memilki kemampuan kemampuan yang berbeda dan memiliki kapasitas untuk berfungsi secara independen (untuk memiliki pikiran, ingatan, dan emosi yang berbeda). Dari teori Broca dan Wernicke sebenarnya sudah dapat ditarik suatu kesimpulan yang menyatakan adanya spesialisasi atau semacam pembagian kerja pada daerah-daerah otak (korteks) serebrum manusia. Satu teori yang dapat ditarik secara jelas adalah bahwa belahan korteks (hemisfer) dominan bertanggung jawab untuk mengatur penyimpanan/pemahaman dan proses bahasa alamiah. Selain teori lateralisasi, juga ada teori lokalisasi otak. Teori lokalisasi atau lazim juga disebut pandangan lokalisasi (localization view) berpendapat bahwa pusat-pusat bahasa dan ucapan berada di daerah Broca dan daerah Wernicke.

Perhatikan gambar berikut:

Bagian-bagian otak yang bertanggung jawab terhadap perilaku berbahasa ialah neokorteks atau otak berfikir. Neokorteks terbungkus disekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, yang membentuk 80% dari seluruh materi otak. Bagian otak ini merupakan tempat bersemayamnya kecerdasan kita. Inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku waras, bahasa, kendali motorik dasar dan ideasi (penciptaan gagasan) nonverbal. Jika ada yang berkata, dia ngomong nggak pakai otak, itu hanyalah sebuah ungkapan bagi orang yang asal bicara. Perkataannya tersebut akan menyakiti hati orang atau membuat hati orang lain tersinggung. Dia tidak berfikir panjang sebelum mengucapkan sesuatu. Itulah maksud dari ungkapan orang yang ngomng tidak pakai otak. Padahal, sebenarnya kita tidak bisa berbicara tanpa menggunakan otak. Hal ini dikarenakan otak memiliki bagian-bagian yang bertanggung jawab terhadap perilaku berbahasa atau berbicara (neokorteks). Setiap orang berbicara pasti memiliki tujuan dan tujuan tersebut tidak mungkin tercipta tanpa adanya pikiran terlebih dahulu. Pada mulanya dinyatakan bahwa hemisfir kiri ditugasi terutama untuk mengelola ihwal bahasa dan hemisfir kanan untuk hal-hal yang lain. Perkembangan

terakhir menunjukkan bahwa hemisfir kakan pun ikut bertanggung jawab pula akan penggunaan bahasa. Hemisfir kiri terdiri dari empat daerah besar yang dinamakan lobe: lobe frontal(frontal lobe), lobe temporal (temporal lobe), lobe osipital (occipital lobe), dan lobe parietal (parietal lobe). Keempat lobe ini mempunyai tugas sendiri-sendiri. Lobe frontal bertugas mengurusi ihwal yang berkaitan dengan kognisi; lobe temporal mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pendengaran; lobe osipital menangani ihwal penglihatan: dan lobe parietal mengurusi rasa somaestetik, yakni, rasa yang ada pada tangan, kaki, muka, dan sebagainya. Pada 1836, Marc Dax, seorang dokter pedesaan yang tidak banyak dikenal, mempresentasikan sebuah laporan pendek dalam sebuah masyarakat medis di Perancis. Presentasi ilmiah itu adalah yang pertama dan satu-satunya. Dax tersentak oleh kenyataan bahwa di antara kira-kira 40 pasien dengan kerusakan otak dan masalah bicara yang ditemuinya selama karirnya, tidak satupun yang mengalami kerusakan yang terbatas pada hemisfer kanannya. Makalah penting Dax hanya memberikan dampak yang kecil karena kebanyakan orang pada saat itu percaya bahwa otak bekerja secara keseluruhan dan bahwa fungsi fungsi spesifik tidak dapat diatribusikan pada bagian bagian tertentu di otak. Pandangan ini mulai berubah 25 tahun setelah itu, ketika Paul Broca

melaporkan pemeriksaan posmotermnya terhadap dua pasien aphasia. Aphasia (afasia) adalah defisit yang dihasilkan kerusakan otak terhadap kemampuan menghasilkan atau memahami bahasa. Kedua pasien Broca memiliki lesi hemisferkiri yang melibatkan sebuah daerah di korteks frontal, tepat di depan daerah wajah korteks motorik primer. Broca pada awalnya tidak menyadari bahwa ada hubungan antara afasia dan sisi kerusakan otak. Ia belum pernah mendengar laporan Dax, tetapi pada 1864, broca pernah melakukan pemeriksaan posmoterm terhadap tujuh pasien ataksia lain dan ia terperangah melihat kenyataaan bahwa seperti kedua pasien yang pertama tadi, mereka semuanya memiliki kerusakan pada korteks prefrontal inferior hemisfer-kirinya yang kemudian dikenal sebagai Brocas area.

Dampak dari bukti bahwa hemisfer-kiri memainkan peran khusus dalam bahasa dan gerakan yang disengaja telah memunculkan konsep dominansi serebral. Menurut konsep ini, salah satu hemisfer biasanya yang kiri menjalankan peran dominan dalam mengontrol proses perilaku dan kognitif yang kompleks , sedangkan yang lainnya hanya memainkan peran kecil. Konsep ini mengakibatkan praktik penyebutan hemisfer-kiri sebagai hemisfer dominan dan hemisfer-kanan sebagai hemisfer minor. Untuk banyak fungsi, tidak ada perbedaan substansial di antara kedua hemisfer, dan bila perbedaan substansial itu ada, perbedaan itu cenderung berupa bias kecil yang condong ke salah satu hemisfer, bukan perbedaan absolut (Brown & Kosslyn, 1993). Dengan mengabaikan fakta-fakta ini, media populer menggambarkan perbedaan serebral kiri dan kanan sebagai perbedaan yang absolut. Akibatnya, secara luas diyakini bahwa berbagai kemampuan secara eksklusif terletak pada salah satu hemisfer. Sebagai contoh, secara luas diyakini bahwa hemisfer-kanan memilki kontrol eksklusif untuk emosi dan kreativitas. Teori-teori awal tentang lateralitas serebral cenderung menganggap klasterklaster kompleks berbagai kemampuan mental terletak di salah satu hemisfer. Hemisfer-kiri cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik pada tugas-tugas bahasa, sehingga ia diduga dominan untuk kemampuan-kemampuan terkait bahasa. Hemisfer-kanan cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik pada beberapa tes spasial, sehingga ia diduga dominan untuk kemampuan-kemampuan terkait ruang dan seterusnya. Barangkali ini adalah langkah pertama yang masuk akal, tetapi sekarang konsensus di kalangan para peneliti adalah pendekatan ini terlalu simplisistik. Sedangkan otak binatang seperti pada mahluk seperti ikan, tikus, dan burung, misalnya, korteks serebral boleh dikatakan tidak tampak, padahal korteks inilah yang sagat berkembang pada manusia. Pada mahluk lain seperti simpanse dan gorila juga tidak terdapat daerah-daerah yang dipakai untuk memproses bahasa.

Sementara orang memakai sebagian besar otaknya untuk proses mental, termasuk proses kebahasaan, binatang seperti simpanse lebih banyak memakai otaknya untuk kebutuhan-kebutuhan fisik. Dari perbandingan antara otak manusia dengan otak binatang yang paling modern sekali pun tampak bahwa baik struktur maupun organisasinya sangat berbeda. Perbedaan neurologis seperti inilah yang membuat manusia dapat berbahasa sedangkan binatang tidak.

C. KAITAN ANTARA OTAK DAN BAHASA

Aristotle pada tahun 382-322 Sebelum Masehi telah berbicara soal hati yang melakukan hal-hal yang kini kita keahui dilakukan oleh otak. Begitu pula Leonardo da Vinci pada tahun 1500-an (Dingwall 1998: 53). Namun titik tolak yang umum dipakai adalah setelah penemuan yang dilakukan oleh Broca dan Wernicke pada tahun 1860-an. Otak memegang peran yang sangat penting dalam bahasa. Apabila input yang masuk adalah dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi itu ditanggapi di lobe temporal, khususnya oleh korteks primer pendengaran. Di sini input tadi diolah secara rinci sekali. Setelah diterima, dicerna, dan diolah seperti ini maka bunyi-bunyi bahasa tadi dikirim ke arah Wernicke untuk diinterpretasikan. Di daerah ini bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi sukukata, kata, frasa, klausa, dan akhirnya kalimat. Setelah diberi makna dan difahami isinya, maka ada dua jalur kemugkinan. Bila masukan tadi hanya sekedar informasi yang tidak perlu ditanggapi, maka masukan tadi cukup disimpan saja dalam memori. Suatu saat nanti mungkin informasi itu diperlukan. Bila masukan tadi perlu ditanggapi secara verbal, maka interpretasi itu dikirim ke daerah Broca melalui fasikulus akurat. Bila input yang masuk bukan dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk tulisan, maka jalur pemrosesannya agak berbeda. Masukan tidak ditanggapi oleh

10

korteks primer pendengaran, tetapi oleh korteks visual di lobe osipital. Masukan ini tidak langsung dikirim ke daerah Wernicke, tetapi harus melewati girus anguler yang mengkoordinasikan daerah pemahaman dengan daerah osipital. Setelah tahap ini, prosesnya sama, yakni input tadi difahami oleh daerah Wernicke, kemudian dikirim ke daerah Broca bila perlu tanggapan verbal. Bila tanggapannya juga visual, maka informasi itu dikirim ke daerah pareital untuk diproses visualisasinya. Pandangan lama memang mengatakan bahwa ihwal kebahasaan itu ditangani pleh hemisfir kiri, dan sampai sekarang pandangan itu masih juga banyak dianut orang dan banyak pula benarnya. Penelitian Wada (1949) yang memasukkan cairan ke kedua hemisfir menunjukkan bahwa bila hemisfir kiri yang ditidurkan maka terjadilah gangguan wicara. Tes yang dinamakan dichotic listening test yang dilakukan oleh Kimura (1961) juga menunjukkan hasil yang sama. Dari hasil operasi yang dinamakan hemispherectomy operasi di mana satu hemisfir diambil dalam rangka mencegah epilepsi, terbukti bahwa bila hemisfir kiri yang diambil maka kemampuan berbahasa orang tersebut menurun drastis. Sebaliknya, bila yang diambil hemisfir berbahasa walaupun tidak sempurna. Meskipun kasus-kasus di atas mendukung peran hemisfir kiri sebagai hemisfir bahasa , dari penelitian-penelitian mutahir didapati bahwa pandangan ini tidak seluruhnya benar, namun hemisfir kanan ikut berperan. Di samping itu, ada hal-hal yang berkaitan dengan bahasa yang ternyata ditangani oleh hemisfir kanannya terganggu didapati bahwa kemampuan mereka dalam mengurutkan peristiwa sebuah cerita atau narasi menjadi kacau. Mereka tidak mampu lagi untuk menyatakan apa yang terjadi pertama, kedua, ketiga, dst. Orang-orang ini juga mendapatkan kesukaran dalam menarik inferensi. Kalau orang mendengar atau membaca sebuah cerita tentang seorang pria yang sering menelpon, menemui, dan mengajak pergi seorang wanita, maka dia akan kesukaran memahami metafora sarkasme. Intonasi kalimat interogatif juga tidak 11 kanan, orang tersebut masih dapat

dibedakan dari intonasi kalimat deklaratif sehingga kalimat Dia belum datang? dikiranya sebagai kalimat deklaratif Dia belum datang. Dari gambaran ini tampak bahwa hemisfir kanan juga mempunyai peran bahasa,tetapi memang tidak seintensif seperti hemisfir kiri. Namun demikian, tetap saja hemisfir kanan memegang.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

12

Otak manusia telah mengalami evolusi dari yang paling rumit seperti yang kita miliki sekarang. Hemisfir kiri mengendalikan semua anggota badan yang ada disebelah kanan, termasuk muka bagian kanan. Sebaliknya, hemisfir kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. Mata dan telinga diatur agar berbeda. Pada tiap mata dan telinga terdapat sambungan syaraf ke hemisfir kiri maupun kanan, meskipun jumlahnya berbeda. Lateralisasi merupakan proses pengkhususan fungsi dari dua belah otak yang terjadi karena penyebelahan menjadi dua bagian, yakni hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Perkembangan tersebut biasa muncul pada diri anak menginjak usia dua tahun sampai menjelang masa pubertas yang terjadi secara perlahan-lahan ( H.D.Brown ). Teori lokalisasi atau lazim juga disebut pandangan lokalisasi (localization view) berpendapat bahwa pusat-pusat bahasa dan ucapan berada di daerah Broca dan daerah Wernicke.
Otak memegang peran yang sangat penting dalam bahasa. Apabila input

yang masuk adalah dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi itu ditanggapi di lobe temporal, khususnya oleh korteks primer pendengaran. Di sini input tadi diolah secara rinci sekali. Tetapi jika input yang masuk bukan dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk tulisan, maka masukan tidak ditanggapi oleh korteks primer pendengaran, tetapi oleh korteks visual di lobe osipital.

DAFTAR PUSTAKA

Ariffudin. 2010. Neuro Psikolinguistik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

13

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka. Subyakto, Sri Utari dan Nababan. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

14