DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI

DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

MEMILIKI KETURUNAN DENGAN TEKNOLOGI BAYI
TABUNG, BOLEHKAH?
Penulis: Rezeki Ananda Elyani1, Rafsanjani Hidayatullah2
Editor: Sandria3
1
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
2
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
3
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia.
Perubahan gaya hidup, perubahan jenis makanan dan minimnya aktivitas olahraga dewasa ini telah
memberikan masalah baru bagi aspek kesehatan terutama pada sistem reproduksi, dari masalah amenorea
sekunder sampai dengan infertilitas. Infertilitas menjadi masalah besar terutama bagi pasangan yang telah
menikah dan ingin memiliki keturunan, infertilitas juga akan menyebabkan dampak negatif berupa
gangguan psikologis bagi kedua pasangan. Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, berbagai cara
dilakukan untuk mengatasi masalah infertilitas, yaitu terapi hormonal, terapi siklus ovulasi dan inseminasi
bayi tabung. Muncul pertanyaan dikalangan masyarakat Indonesia, Bagaimanakah inseminasi bayi tabung
dilihat dari segi medis dan bagaimanakah pandangan agama Islam terhadap inseminasi bayi tabung?
Halalkah? Bagaimanakah peraturan nasab dan hukum waris anak hasil inseminasi bayi tabung?

Bayi tabung atau dalam bahasa kedokteran disebut In Vitro Fertilization (IVF)
atau fertilisasi in vitro adalah suatu upaya memperoleh kehamilan dengan jalan
mempertemukan sel sperma dan sel telur dalam suatu wadah khusus. Pada kondisi
normal, pertemuan ini berlangsung di dalam saluran tuba. Proses bayi tabung ini
berlangsung di laboratorium dan dilaksanakan oleh tenaga medis sampai menghasilkan
suatu embrio dan diimplantasi di dalam rahim wanita dan akan terjadi proses kehamilan
layaknya kehamilan normal di rahim wanita tersebut.(1,2)
Fertilisasi boleh dilakukan jika pada keadaan terdapatnya kerusakan atau
sumbatan pada saluran reproduksi wanita, infertilitas pada laki-laki, dan infertilitas yang
tidak diketahui sebabnya (idiopatik). Sebelum proses fertilisasi in vitro dilakukan,
terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu: umur wanita tidak boleh lebih
dari 30 tahun, mempunyai status hormonal yang normal dengan ovulasi regular, setidaktidaknya didapatkan satu indung telur yang normal, dan dapat dicapai untuk melakukan
aspirasi sel telur (ovum pick up).(1,3,4)
Prosedur fertilisasi in vitro secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tahapan.
Tahapan awal sebelum memasuki 5 prosedur dasar proses bayi tabung adalah seleksi

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

dan persiapan pasien terlebih dahulu. Jika pasien ada indikasi untuk mengikuti program
bayi tabung, maka langkah selanjutnya adalah:

Proses Fertilisasi In Vitro

5 prosedur dasar proses bayi tabung (In Vitro Fertilization Process)5,6,7
Langkah 1: Stimulasi atau Merangsang Indung Telur
Normalnya seorang perempuan memproduksi satu sel telur setiap bulannya, oleh
karena itu diberikan obat-obatan atau hormon yang dapat merangsang produksi sel telur
lebih banyak lagi sebab dalam proses bayi tabung memerlukan lebih dari satu sel telur
untuk memeroleh embrio.
Langkah 2: Pengambilan Sel Telur
Proses selanjutnya adalah melakukan pengambilan sel telur untuk kemudian
diproses di laboratorium. Prosedur dapat dilakukan dengan cara follicular aspiration
ataupun melalui laparoscopy. Pada hari yang sama juga akan dilakukan pengambilan
sperma suami.
Langkah 3: Inseminasi dan Fertilisasi
Setelah proses di atas selesai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan
inseminasi atau pencampuran sperma dan sel telur pada media kultur di laboratorium

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

sehingga diharapkan proses pembuahan (fertilisasi) dapat terjadi untuk menghasilkan
embrio. Jika pada tahap ini diperkirakan kemungkinan proses pembuahan (fertilisasi)
tidak dapat terjadi maka dapat dilakukan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) atau
menginjeksikan sperma ke sel telur secara langsung.
Langkah 4: Kultur Embrio
Sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma atau disebut juga embrio disimpan di
tempat dan suhu yang sesuai di dalam inkubator selama 48 jam. Pada tahap ini juga
petugas laboratorium akan memeriksa secara rutin untuk memastikan bahwa embrio
tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.
Langkah 5: Transfer Embrio
Setelah embrio terbentuk dan berkembang dengan baik, langkah selanjutnya
adalah melakukan proses implantasi atau transfer embrio kembali ke dalam rahim agar
terjadi proses kehamilan. Jumlah embrio yang diimplantasi atau ditransfer dapat lebih
dari satu embrio agar dapat menghasilkan kehamilan kembar, triplet, atau lebih. Jika
masih terdapat sisa embrio yang tidak diimplantasikan ke dalam rahim saat itu, maka
embrio tersebut dapat disimpan pada suhu yang rendah untuk proses kehamilan
berikutnya. Baru kemudian proses bayi tabung memasuki fase luteal untuk
mempertahankan dinding rahim dengan memberikan Progesterone. Biasanya dokter
akan memberi obat selama 15 hari pertama untuk mempertahankan dinding rahim ibu
agar terjadi kehamilan. Proses terakhir adalah melakukan pemeriksaan apakah telah
terjadi kehamilan atau belum, baik dengan pemeriksaan darah maupun USG.

Di Indonesia, terdapat hukum kesehatan terkait teknik reproduksi buatan yang
diatur dalam :
1. UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, pasal 127 menyebutkan bahwa upaya kehamilan
diluar cara alamiyah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami yang sah dengan
ketentuan :
a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan
ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
b. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu;

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

c. Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
2. Keputusan Menteri Kesehatan No. 72/Menkes/Per/II/1999 tentang Penyelenggaraan
Teknologi Reproduksi Buatan.(1,3,4)
BAYI TABUNG DARI SUDUT PANDANG ETIKA
Program bayi tabung pada dasarnya tidak sesuai dengan budaya dan tradisi
ketimuran serta agama islam. Di Indonesia jika dipandang dari segi etika, pembuatan
bayi tabung tidak melanggar norma jika sel sperma dan sel ovum berasal dari pasangan
suami istri yang sah secara hukum dan agama. Namun, dalam kasus proses bayi tabung
yang berasal dari pasangan suami istri yang tidak sah secara hukum dan agama atau dari
pasangan suami istri yang sah namun bukan diinseminasi di rahim istri yang sah atau
sewa rahim maka akan menimbulkan perdebatan dalam segi etika. Ada yang
berpendapat ibu yang menyewakan rahimnya adalah sama seperti ibu yang menyusukan
anak tersebut, karena pada masa kehamilan anak tersebut mendapatkan nutrisi dari ibu
yang menyewakan rahimnya, namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut
tergolong dalam keadaan zina karena telah menanamkan hasil gamet di dalam rahim
yang bukan mahromnya.(8,9,10)
dr. Mochammad Anwar, Sp.OG dalam Seminar Nasional Continuing Medical
Education pada tahun 2009 menyatakan dengan banyaknya masalah norma dan etika
dalam teknologi ini seorang tenaga kesehatan harus secara selektif memilah aspek etika
yang dipegang oleh para penenliti di bidang rekayasa genetika yang didasarkan pada
Deklarasi Helsinki antara lain :
1. Riset biomedik pada manusia harus memenuhi prinsip-prinsip ilmiah dan didasarkan
pada pengetahuan yang adekuat dari literatur ilmiah.
2. Desain dan pelaksanaan eksperimen pada manusia harus dituangkan dalam suatu
protokol untuk kemudian diajukan pada komisi independen yang ditugaskan untuk
mempertimbangkan, memberi komentar dan kalau perlu bimbingan.
3. Penelitian biomedik pada manusia hanya boleh dikerjakan oleh orang-orang dengan
kualifikasi keilmuan yang cukup dan diawasi oleh tenaga medis yang kompeten.
4. Dalam protokol riset selalu harus dicantumkan pernyataan tentang norma etika yang
dilaksanakan dan telah sesuai dengan prinsip-prinsip deklarasi Helsinki.(8,9,10)

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

BAYI TABUNG DALAM PANDANGAN HUKUM INDONESIA
Hukum perdata di Indonesia juga mengatur terkait masalah proses bayi tabung.
1. Jika benihnya berasal dari suami istri lalu diimplantasikan ke dalam rahim istri,
maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai
anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. Jika embrio diimplantasikan
kedalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya dan anak itu lahir
sebelum 300 hari perceraian, mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan
tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari maka anak itu bukan anak sah
dari ayah biologisnya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan
bekas suami ibunya berdasarkan Pasal 255 KUHP.
2. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka secara
yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan
yang mempunyai benih, dasar hukumnya adalah pasal 42 UU No.1/1974 dan pasal
250 KUHP
3. Jika salah satunya berasal dari donor. Jika suami mandul dan istrinya subur maka
dapat dilakukan fertilisasi in vitro dengan sperma dari donor dan akan
diimplantasikan ke rahim istri, status anak yang dilahirkan akan menjadi sah dan
memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si suami
tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan DNA sesuai dasar hukum 250
KUHP. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami
maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut
sesuai hukum pasal 42 UU No. 1/1974 dan pasal 250 KUHP.
4. Jika semua benihnya dari donor yang tidak terikat perkawinan namun embrio
diimplantasikan ke dalam rahim wanita yang terikat perkawinan yang sah dengan
suaminya maka sang anak yang lahir mempunyai status anak yang sah karena
dilahirkan dari perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. Jika transfer
embrio diimplantasikan kedalam rahim seorang gadis, maka status anak yang
dilahirkan memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak
terikat perkawinan secara sah kecuali sel telur berasal darinya maka anak tersebut
sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya.

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

Ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. Khuzaimah T Yanggo berpendapat
mengenai teknik bayi tabung “Teknik bayi tabung diperbolehkan menurut Islam adalah
tidak melibatkan pihak ketiga, jadi sperma dan ovum harus berasal dari suami istri yang
sah dan masih rukun. Bila sperma dan ovumnya diambil bukan dari pasangan suami istri
sah maka hukumnya haram dan status zina”. Jadi bayi tabung diperbolehkan dengan
syarat diatas.(1,3,4)
BAYI TABUNG MENURUT PANDANGAN ISLAM
Islam pada dasarnya tidak mempersulit keadaan sesuai dengan Firman Allah
SWT

‫اِ ﱠن َﻣ َﻊ اﻟﻌُ ْﺸ ِﺮ ﻳُ ْﺸﺮَا‬
Artinya: “Setiap ada kesulitan, ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5).
Aspek hukum penggunaan bayi tabung didasarkan kepada sumber sperma dan ovum
serta rahim. Dalam hal ini bayi tabung ada tiga macam, yaitu:
a. Jika dilakukan dengan sperma dan ovum pasangan suami istri yang sah dan
diimplantasikan ke istri yang sah maka hukumnya mubah. Dalam hal ini kaidah
fiqih menentukan bahwa “Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan
seperti dalam keadaan terpaksa (emergency) padahal keadaan darurat/terpaksa
membolehkan hal-hal yang terlarang.”
b. Proses bayi tabung yang dilakukan dengan menggunakan sperma dan ovum dari
donor maka hukumnya haram karena hukumnya sama dengan melakukan zina
sehingga anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung tersebut tidak sah dan
nasabnya hanya dihubungkan dengan ibu yang melahirkannya. Termasuk juga
haram menggunakan sperma mantan suami yang telah meninggal dunia, sebab
antara keduanya tidak terikat perkawinan lagi sejak suaminya meninggal dunia.
c. Haram hukumnya bayi tabung yang diperoleh dari sperma dan ovum dari suami istri
yang terikat perkawinan yang sah namun transfer embrio ke rahim wanita yang
bukan ibu biologisnya. Atau dengan donor sperma yang bukan suami sah dari
pasangan tersebut. Ini berarti bahwa kondisi darurat tidak menolerir perbuatan zina
atau bernuansa zina, zina tetap haram dalam keadaan darurat sekalipun.

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

Alasan-alasan haramnya bayi tabung dengan menggunakan sperma dan ovum
dari donor atau ditansfer kedalam rahim wanita lain, adalah:
1. Firman Allah dalam Al Qur’an :
a.

Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baikbaik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas
kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.” (Q.S Al-Isra: 70)

b.

Artinya : “Orang-orang diantara kamu yang menzihar istrinya (menganggap
istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu
mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka
benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan
sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun” (Q.S Al-Mujadilah:
2)
2. Hadits Nabi Muhammad SAW
a. “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir
menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain)”.
(HR Abu Daud, Thirmidzi, dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban)
Hadits ini tidak saja mengandung arti penyiraman sperma ke dalam vagina
seorang wanita melalui hubungan seksual, melainkan juga mengandung pengertian
memasukkan sperma donor melalui proses bayi tabung, yaitu pencampuran sperma dan
ovum di luar rahim yang tidak diikat perkawinan yang sah.

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

3. Kaidah Fiqih
Islam pada dasarnya memperbolehkan proses inseminasi bayi tabung dalam
pelaksanaannya jika sperma dan ovum yang digunakan dari pasangan suami istri yang
sah, namun ada beberapa hal yang membuat mafsadah (bahaya) bayi tabung, terutama
pada proses bayi tabung dengan donor sperma maupun donor ovum.
a. Pencampuran nasab, karena pencampuran hasil donor akan berkaitan dengan
masalah mahrom dan hukum waris.
b. Bertentangan dengan sunnatullah.
c. Statusnya sama dengan zina, karena pencampuran sperma dan ovum tanpa
perkawinan yang sah.
d. Anak yang dilahirkan dari hasil bayi tabung dengan donor akan menjadi sumber
konflik karena perbedaan gen sifat/fisik dan karakter serta mental yang tidak sama
dengan ibu/bapaknya.
e. Anak yang dilahirkan melalui bayi tabung yang pencampuran nasabnya terselubung
dan dirahasiakan donornya, lebih jelek daripada anak adopsi yang umumnya
diketahui asal atau nasabnya.
f. Bayi tabung dengan menggunakan rahim sewaan akan lahir tanpa proses kasih
sayang yang alami (tidak terjadi hubungan mental antar ibu dan janin).
Nabi Muhammad SAW bersabda, diriwayatkan dari Anas RA “Menikahlah
kalian dengan wanita-wanita yang subur, sebab sesungguhnya aku akan berbangga di
hadapan para Nabi dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat nanti.”
(HR.Ahmad). Syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dan
menganjurkan untuk senantiasa berusaha dalam menggapai karunia Allah, termasuk
dalam kesulitan reproduksi manusia. Dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran
dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka
bersyukur dan menggunakannya sesuai dengan kaidah-kaidah ajaranNya.
Kesulitan reproduksi tersebut dapat diatasi dengan upaya medis agar pembuahan
antara sel sperma suami dengan sel telur istri dapat terjadi di luar tempatnya yang alami.
Hal ini diperbolehkan dengan syarat jika upaya pengobatan untuk mengusahakan
pembuahan dan kelahiran alami telah dilakukan dan tidak berhasil. Dalam proses

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

pembuahan di luar tempat yang alami tersebut, setelah sel sperma suami dapat sampai
dan membuahi sel telur istri dalam suatu wadah yang mempunyai kondisi mirip dengan
kondisi alami rahim maka sel telur yang telah terbuahi diletakkan pada tempatnya yang
alami (rahim istri). Dengan demikian, kehamilan alami diharapkan dapat terjadi dan
selanjutnya akan dapat dilahirkan bayi secara normal. Proses seperti itu merupakan
upaya manusia melalui medis untuk mengatasi kesulitannya dalam reproduksi dan
hukumnya boleh menurut syara’. Sebab upaya tersebut merupakan upaya untuk
mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam yaitu kelahiran dan perbanyak anak,
yang merupakan salah satu tujuan dasar dari suatu pernikahan sebagaimana hadits di
atas.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya.” (Q.S At-Tiin: 4). (2,8,9,10)
Wallahu’alam bisshowab.

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

DAFTAR PUSTAKA

1. Soimin, Soedharyo, SH. (1995) Kitab undang-undang hukum perdata. Jakarta.
Sinar Grafika.
2. Anonim.http://keperawatanreligionsantims.wordpress.com/2013/05/20/undangundang-dan-kontroversi-mengenai-bayi-tabung/ - diakses tanggal 29 Maret
2016
3. Guwandi, J, SH. (2007) Hukum dan dokter. Jakarta. CV.Sagung Seto.
4. Fahri (2010). Bayi Tabung. http://fachri-kencana.blogspot.com/2010/11/bayitabung.html- diakses tanggal 28 Maret 2016
5. Jackson RA, Gibson KA, Wu YW, et al (2004). Perinatal Outcomes in
Singletons following in vitro fertilization: a meta-analysis. Obstet Gynecol. 103:
551-563
6. Goldberg JM (2007). In vitro fertilization update. Cleve Clin J Med. 74(5): 32938.
7. The Practice Committee of the Society for Assisted Reproductive Technology
and the Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine
(2013). Criteria for number of embryos to transfer: a committee opinion. Fertil
Steril. 99 (1):44-46.
8. Anonim.

http://indonesiaindonesia.com/f/82005-kontroversi-bayi-tabung-

diakses tanggal 29 Maret 2016
9. Anonim.http://abdulhelim.com/2012/06/anak-hasil-inseminasi-bayi-tabung-dala
m.html- diakses tanggal 29 Maret 2016
10. Anonim. http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/fatwa/10/05/08/1
14856-apa-hukum-bayi-tabung-menurut-islam - diakses tanggal 29 Maret 2016

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful