Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

NUTRISI PAKAN TERNAK

Disusun oleh :
Kelompok XXIII
Angesti Budi Utami
Adnan Prasetyo
Arina Andayani Hidaya
Rendy Fandika Putra
Nur Azmi Hidayati

PT/06491
PT/06506
PT/06510
PT/06606
PT/06471

Asisten Pendamping : Dananto Ramadhan


LABORATORIUM ILMU MAKANAN TERNAK
DEPARTEMEN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan praktikum Nutrisi Pakan Ternak disusun guna melengkapi
syarat dalam menempuh mata kuliah Nutrisi Pakan Ternak di Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Laporan ini telah disetujui dan disahkan oleh Asisten Laboratorium
Ilmu Makanan Ternak pada tanggal

Mei 2016.
Yogyakarta,

Mei 2016

Asisten Pendamping

Dananto Ramadhan

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
sehingga atas limpahan rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan
laporan Nutrisi Pakan Ternak. Penyusun mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam pembuatan laporan
ini, di antaranya :
1. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., selaku dekan Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
2. Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., Nanung
Danar Dono, S.Pt., MP., Ph.D., dan R. Edwin Indarto, S.Pt., MP.
Selaku dosen pengampu matakuliah Nutrisi Pakan Ternak Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
3. Laboran Laboratorium Ilmu Makanan Ternak,
4. Pihak-pihak yang telah membantu dan tidak dapat kami sebutkan
satu-persatu.
Penyusun menyadaru bahwa laporan ini masih banyak kekurangan,
untuk itu segala kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan. Kritik
dan saran tersebut kiranya dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas
dan kuantitas penyusun dimasa yang akan datang.
Semoga dengan tersusunnya laporan Nutrisi Pakan Ternak ini
dapat memberi sumbangsih yang bermanfaat bagi kita semua khususnya
bagi mahasiswa peternakan Universitas Gadjah Mada dalam memperkaya
khasanah budaya serta ilmu yang dimiliki.
Yogyakarta,

Mei 2016

Peyusun

iii

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................ii
KATA PENGANTAR...............................................................................iii
DAFTAR ISI............................................................................................iv
DAFTAR TABEL.....................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................vii
BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................3
Nutrisi Pakan Ternak.....................................................................10
Bahan Pakan.................................................................................10
Jagung..................................................................................10
Bekatul..................................................................................11
Pollard...................................................................................12
Bungkil Kedelai.....................................................................12
Bungkil Kelapa......................................................................12
Tepung Ikan..........................................................................13
Minyak Sawit.........................................................................13
Premix Unggas.....................................................................13
Ransum dan Ransum Seimbang..................................................13
Kebutuhan Nutrien Itik Petelur......................................................14
Metode Penyusunan Ransum.......................................................15
BAB
III.
MATERI
DAN
METODE
...............................................................................................................
16
Materi.............................................................................................16
Metode Penyusunan Ransum Unggas.................................16
Metode Pencampura pakan dan sampling sampel..................
Penetapan Kadar Bahan Kering...............................................
Penetapan Kadar Protein Kasar...............................................

iv

Metode...............................................................................................
Metode Penyusunan Ransum Unggas.....................................
Metode Pencampuran pakan dan sampling sampel................
Penetapan Kadar Bahan Kering...............................................
Penetapan Kadar Protein Kasar
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................
Klasifikasi Bahan Pakan....................................................................
Kebutuhan Nutrien Ternak.................................................................
Penyusunan dan Pencampuran Ransum.........................................
Hasil Analisis Kandungan Nutrien Ransum.......................................
Penetapan Kadar Bahan Kering...............................................
Penetapan Kadar Protein Kasar...............................................
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................
Kesimpulan........................................................................................
Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................
LAMPIRAN................................................................................................

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vii

viii

BAB I
PENDAHULUAN
Makhluk

hidup

membutuhkan

makanan

(pakan)

untuk

keberlangsungan hidupnya, begitu juga dengan ternak membutuhkan


bahan pakan untuk kehidupan, kesehatan, dan produksi bagi ternak yang
bersangkutan. Zuprizal dan Kamal (2005) menyatakan penyusun utama
bahan pakan yang dapat dicerna dan bermanfaat bagi ternak disebut
nutrien (zat makanan). Besar kecilnya kandungan nutrien didalam bahan
pakan yang dapat dicerna dan bermanfaat akan mencerminkan besar
kecilnya nilai nutriennya. Bahan pakan adalah bahan alami maupun bahan
yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna sebagian atau seluruhya,
dapat diserap dan bermanfaat bagi ternak.
Ternak membutuhkan pakan untuk metabolisme tubuh dan
menopang aktivitas kehidupan setiap hari. Pakan memberikan nutrient
yang berguna sebagai sumber energi dan menggantikan sel tubuh yang
rusak. Apabila asupan nutrien di dalam pakan kurang, maka ternak akan
kekurangan

nutrien.

Asupan

nutrien

yang

kurang

menyebabkan

produktivitas dan kesehatan ternak terganggu.


Pakan yang baik adalah pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi
ternak sesuai dengan fase fisiologis serta tidak mengganggu kesehatan
ternak. Ransum (ration) merupakan campuran dari berbagai macam
bahan pakan yang diberikan pada ternak untuk memenuhi kebutuhan
nutrien selama 24 jam. Ransum unggas adalah campuran bahan pakan
yang

seimbang

dan

dapat

dicerba

atau

diserap

oleh

unggas.

Pertumbuhan ternak yang baik, dapat diperhatikan zat nutrisi pada


ransumnya

sebab

komposisi

ransum

yang

baik

mempengaruhi

pertumbuhan ternak tersebut. Tomboku et al. (2012) menyatakan ransum


dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh nutrien
secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi
ternak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menyusun ransum

bagi seekor ternak yaitu menentukan jenis atau macam bahan pakan yang
akan digunakan dalam menyusun ransum, mengetahui kandungan nutrien
masing-masing bahan pakan, mengetahui kebutuhan dari ternak yang
bersangkutan, dan mengetahui harga bahan pakan per kg. Perubahan
nilai nutrisi bahan bahan makanan disebabkan terutama oleh pengolahan
dan penyimpanan.
Kebutuhan pakan ternak harus disesuaikan dengan kondisi ternak,
karena apabila tidak disesuaikan, produktivitas dari ternak tersebut akan
berkurang. Penyusunan ransum seimbang diperlukan pertimbangan
beberapa faktor diantaranya faktor gizi dan biaya. Protein adalah nutrien
yang mahal dibandingkan dengan nutrien lainnya. Ransum seimbang
digunakan untuk menghitung dan menghemat pemberian nutrien mahal
yang berlebihan seperti protein. Nurcholis et al. (2009) menyatakan faktor
yang dapat mempengaruhi konsumsi ransum dan kebutuhan protein pada
ayam petelur, diantaranya faktor tersebut adalah besar dan bangsa, suhu
lingkungan, fase produksi, sistem perkandangan (sistem battery atau
litter), ruang tempat makan per ekor, dipotong tidaknya paruh, kepadatan
ayam, tersediannya air minum, kesehatan dan kandungan energi dalam
ransum.

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nutrisi Pakan Ternak
Sinurat (1999) menyatakan bahwa pakan merupakan salah satu
faktor penentu utama yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha
peternakan. Kandungan gizi suatu bahan sangat diperlukan dalam
membuat formula pakan, sesuai dengan kebutuhan ternak. Informasi yang
dibutuhkan paling utama di bahan pakan ayam adalah bahan kering,
protein kasar, serat kasar dan energi (energi metabolis). Informasi
mengenai kandungan kalsium (Ca) dan fosfor (P) sangat bermanfaat dan
juga kandungan asam amino bahan pakan sumber protein (bila
memungkinkan), sehingga perlu dilakukan analisa di laboratorium. Hasil
analisa kandungan gizi berbagai bahan pakan sudah banyak dilaporkan.
Perbedaan kandungan gizi bisa terjadi karena perbedaan wilayah
produksi, ada tidaknya pemalsuan, lama dan kondisi penyimpanan serta
proses untuk menghasilkan bahan tersebut.
Bahan Pakan
Bahan pakan merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai
pakan ternak. Bahan pakan harus memenuhi persyaratan yaitu disukai
ternak, bermanfaat bagi yang memakannya, dapat dicerna sebagian atau
seluruhnya serta tidak menimbulkan efek toksik. Bahan pakan dapat
bersumber dari tanaman maupun hewan. Bahan pakan yang berasal dari
tanaman misalnya hijuan, hay dan jerami kering. Bahan pakan yang
berasal dari hewan misalnya tepung tulang, tepung ikan dan tepung bulu
(Agus, 2007).
Jagung. Kebutuhan pakan terhadap biji jagung per tahun sekitar
10,87% (Sadjadi, 1995). Kamal (1998) menyatakan bahwa biji jagung
biasa digunakan untuk tiga tujuan utama yakni sebagai bahan makanan

11

pokok terutama di daerah tropis, makanan untuk ternak hewan dan


unggas (terutama di negara-negara industri di daerah temperate,
menyediakan lebih dari 2/3 dari total perdagangan biji-bijian untuk pakan
ternak), dan sebagai bahan baku untuk kegiatan industri.
Bahan pakan jagung adalah bulir jagung yang merupakan hasil
utama tanaman jagung. Jagung sering disebut sebagai the king of cereal
atau the golden grain dikarenakan jagung mempunyai nilai nutritif yang
tinggi. Nilai nutritif yang tinggi tercermin pada beberapa sifat yang
dimilikinya antara lain palatabel, serat kasar rendah, dan nilai cerna yang
tinggi (Kamal, 1998). Jagung atau Zea mays merupakan bahan pakan
sumber energi yang paling banyak digunakan dalam industri pakan ternak.
Jenis-jenis jagung yang dikenal di Indonesia yaitu jagung kuning, jagung
putih, dan jagung merah. Jenis yang paling banyak digunakan adalah
jagung kuning karena mengandung karoten provitamin A yang cukup
tinggi (Agus, 2007). Hasil analisis kandungan zat gizi jagung menurut
kandungan kadar air, protein, serat kasar, kadar abu, karbohidrat, pati,
methionin, lysin, kalsium, fosfor, dan energi metabolis untuk unggas
secara berturut-turut adalah 11%, 9%, 2,5%, 2,2%, 71%, 76%, 0,33%,
0,27%, 0,02%, 0,25%, dan 3385 kal/kg (Sirappa, 2003).
Bekatul. Bekatul merupakan kulit paling luar dari beras dan kulit
paling dalam dari sekam yang

telah terkelupas melalui proses

penggilingan dan penyosohan. Persentase bekatul dari gabah kering


giling sekitar 10%. Bekatul merupakan bahan pakan konsentrat untuk sapi
perah yang banyak digunakan oleh peternak sebagai sumber energi dan
protein. Selain itu bahan pakan ternak ini banyak tersedia karena tidak
bersaing dengan kebutuhan manusia (Most et al., 2005). Susanto (2011)
menyatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan
yang terkandung dalam sangatlah tinggi. Hasil analisis kandungan zat gizi
bekatul menurut kandungan protein, lemak, karbohidrat, kadar abu, serat
kasar, dan kadar air bekatul secara berturut-turut adalah 15,34 %,
14,85%, 56,33%, 9,15%, 10,76%, dan 4,33%. Zuprizal dan Kamal (2005)

12

menyatakan bahwa penggunaan bekatul untuk maksimal 40% dari total


ransum, kandungan minyaknya mencapai 14 sampai 18 % sehingga
merupakan problem dalam penyimpanan karena dapat terjadi ketengikan.
Pollard. Rianto et al., (2006) menyatakan bahwa salah satu bahan
pakan tambahan yang memiliki nilai gizi tinggi dengan harga yang relatif
murah, tidak membahayakan bagi ternak dan tidak bersaing dengan
kebutuhan manusia adalah pollard, yang merupakan hasil Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006 432 sampingan dari
perusahaan penghasil tepung terigu. Hartadi et al., (1993) menyatakan
pollard mengandung 88,4% bahan kering (BK), dan dalam 100% BK
pollard mengandung 17,0% protein kasar (PK), 8,8% serat kasar (SK),
5,1% lemak kasar (LK), 45% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dan
24,1% Abu. Efisiensi penggunaan pollard sebagai pakan ternak dapat
dilihat dari nilai konversi, yaitu kemampuan tubuh ternak untuk mengubah
nutrisi dalam pakan yang dimakan untuk menghasilkan produknya, dalam
hal ini pertumbuhan atau pertambahan bobot hidup. Semakin kecil nilai
konversi pakan maka semakin efisien pemanfatan bahan pakan oleh
ternak
Bungkil kedelai. Sekitar 50% protein untuk pakan ungags berasal
dari bungkil kedelai dan pemakaiannya untuk pakan ayam pedaging
berkisar antara 15 sampai 30%, sedangkan untuk pakan ayam petelur 10
sampai 25% (Wina, 1999). Kandungan protein bungkil kedelai mencapai
43 sampai 48%. Bungkil kedelai juga mengandung zat antinutrisi seperti
tripsi inhibitor yang dapat mengganggu pertumbuhan ungags, namun zat
antinutrisi tersebut akan rusak oleh pemanasan sehingga aman untuk
digunakan sebagai pakan unggas.
Bungkil kelapa. Sinurat (1999) menyatakan bahwa bungkil kelapa
mengandung protein yang cukup tinggi (sekitar 22%). Pemanfaatan bahan
ini dalam ransum ayam sudah lama dilakukan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi batas penggunaan bungkil kelapa dalam ransum ayam
adalah rendahnya kandungan asam amino, terutama lisin, kandungan

13

serat kasar yang tinggi dan kandungan aflatoksin yang cukup tinggi
(terutama di daerah yang beriklim tropis basah). Penggunaan bungkil
kelapa hingga 40% dalam ransum ayam broiler atau petelur dapat
dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan asam amino dalam
ransum. Batas penggunaan bungkil kelapa dalam ransum ayam adalah
20%, meskipun ada yang melaporkan pemberian hingga 40% dengan
hasil yang cukup baik pada ayam petelur.
Tepung ikan. Sitompul (2004) menyatakan bahwa tepung ikan
selain berfungsi sebagai sumber protein, tepung ikan juga dapat
digunakan sebagai sumber kalsium. Tepung ikan ynag baik mempunyai
kandungan protein kasar 56 sampai 68%, air 5,5 samapi 8,5%. Serta
garam 0,5 sampai 3% (Boniran, 1999). Kandungan protein atau asam
amino tepung ikan dipengaruhi oleh bahan ikan yang digunakan serta
proses pembuatannya. Pemanasan yang berlebihan akan menghasilkan
tepung ikan yang berwarna cokelat dan kadar protein atau asam
aminonya cenderung menurun atau menjadi rusak.
Minyak sawit. Utomo dan Widjaja (2004) menyatakan bahwa
limbah kelapa sawit berupa solid berpotensi sebagai sumber nutrisi untuk
ternak karena mengandung protein kasar 12,63% dan energi 154 kal/100
g, ketersediaannya melimpah, berkelanjutan, dan tidak bersaing dengan
kebutuhan manusia. Pemanfaatan solid sebagai pakan tambahan
dipengaruhi

oleh

sistem

produksi,

dan

menguntungkan

pada

pemeliharaan dengan orientasi komersial (penggemukan)


Premix unggas. Premix merupakan bahan pakan tambahan yang
digunakan sebagai suplemen atau bahan pakan tambahan. Penggunaan
premix mineral pada pakan biasanya dalam jumlah yang sangat kecil.
Kushartono (2002) menyatakan bahwa pencampuran premix tidak
dibenarkan untuk dilakukan pencampuran bersamaan dengan bahan
dasar. Premix disusun berdasarkan kebutuhan ternak akan mineral.
Ransum dan Ransum Seimbang

14

Ransum adalah sejumlah pakan yang dikonsumsi ternak selama 24


jam tanpa memerhatikan nutrient yang ada. Ransum seimbang adalah
pakan atau kandungan nutrient dalam jumlah dan proporsi

yang

memenuhi kebutuhan fisiologis, reproduksi dan produksi ternak. ransum


untuk pakan dikatakan seimbang apabila diberikan kepada ternak dapat
memenuhi kebutuhan hidup ternak yaitu kebutuhan hidup pokok dan
kebutuhan hidup produksi tanpa menimbulkan gangguan kesehatan bagi
ternak yang mengonsumsinya (Hartadi et al., 1993).
Kebutuhan Nutrien Itik Petelur
Ketaren dan Prasetyo (2002) melaporkan bahwa kebutuhan gizi
untuk itik petelur pada fase pertumbuhan umur 1 sampai 16 minggu
cenderung lebih rendah yaitu sekitar 85 sampai 100%, selanjutnya
dilaporkan bahwa kebutuhan gizi untuk itik petelur fase produksi 6 bulan
pertama cenderung lebih rendah ( 3%) dibanding kebutuhan gizi pada
fase produksi 6 bulan kedua. Dilaporkan bahwa kebutuhan lisin untuk itik
berumur 0 sampai 8 minggu adalah 3,25 g/kkal EM dengan tingkat energi
3.100 kkal EM/kg dan 2,75 g/kkal EM dengan tingkat energi 2.700 kkal
EM/kg pakan. Menurut SNI (2006), persyaratan mutu ransum itik petelur
fase starter yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Persyaratan mutu standar dari ransum itik petelur fase starter
No
Parameter
Satuan
Persyaratan
1
Kadar air
%
14
2
Protein kasar
%
22
3
Lemak kasar
%
3,5
4
Serat kasar
%
5,5
5
Abu
%
8,0
6
Kalsium
%
0,6-1,06
7
Phospor total
%
0,6
8
Phospor tersedia
%
0,4
9
Enerji Metabolis
kcal/kg
3000
10
Aflatoksin
ppb
20
11
L-Lysine
%
0,96
12
DL-Methionine
%
0,41
13 Methionine + Sistin
%
0,80

15

Metode Penyusunan Ransum


Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menyusun ransum adalah
tujuan dari penyusunan ransum, bahan-bahan makanan yang tersedia,
tabel-tabel yang berisi kandungan zat-zat makanan dari bahan-bahan
makanan dan rekomendasi kebutuhan zat-zat makanan untuk setiap
periode pertumbuhan dan produksi (Wahju, 2004).
Pemilihan bahan pakan yang ada di daerah tertentu dilakukan
setelah kita menentukan tujuan dari penyusunan ransum. Ketersediaan
bahan-bahan pakan yang menjadi sumber protein, energi,vitamin, dan
mineral harus ada, selanjutnya sumber protein dilihat lagi berasal dari
hewan dan tanam-tanaman. Tabel-tabel yang biasa dipergunakan adalah
dari Scott, 1976, 1982; NRC, 1971, 1974, 1984, Lubis 1963 dan tabeltabel lain yang tersedia. Perhitungan dan penyusunan ransum dengan
menggunakan angka-angka tabel tertentu harus disebutkan sumbernya.
Ini perlu dikemukakan untuk memudahkan evaluasi terhadap hasilnya
(Wahju, 2004).
Penyusunan ransum adalah pengetrapan pengetahuan tentang
nutrien, bahan pakan dan ternak di dalam mendapatkan ransum yang
serasi. Ransum yang akan diberikan dan dimakan ternak adalah dalam
jumlah tertentu dan cukup memenuhi kebutuhan untuk dapat hasil sesuai
dengan tujuan pemeliharaan ternak tersebut, oleh karena itu diperlukan
lebih banyak pengetahuan dan pengalaman. Tujuan penyusunan ransum
bagi ternak adalah untuk mensuplai nutrien yang meliputi energi, protein,
vitamin, mineral dan yang lain agar nutrien yang dibutuhkan ternak
tersebut terpenuhi sesuai dengan tujuan pemeliharaannya (Zuprizal dan
Kamal, 2005). Metode penyusunan ransum terdiri dari 5 yaitu: 1) trial and
error method, 2) Persons square method, 3) Exact method, 4)
Simultaneous Equation Method, 5) Linier Programming Method.

16

BAB III
MATERI DAN METODE
Materi
Alat. Alat yang digunakan untuk praktikum meliputi gelas timbang
(Vochdoos), desikator, tang penjepit, oven pengering (105 0C sampai
1100C), timbangan analitik, tampah, labu Kjeldahl 650 mL, labu
erlenmeyer 650 mL dan 300 mL, gelas ukur 100 mL, buret, corong, pipet
volume 25/50 mL, laptop, alat destruksi dan destilasi.
Bahan. Bahan yang digunakan untuk praktikum meliputi asam
sulfat pekat, CuSO4, K2SO4, kjeltab, NaOH 50%, HCl 0,1 N, H 3BO3 0,1 N,
indikator mix, Zn Logam, Jagung, Pollard, Bekatul, MBM (Meat Bone
Meal), Minyak, Premix, dan SBM (Soy Bean Meal).
Metode
Metode Penyusunan Ransum Unggas
Penyusunan ransum unggas menggunakan metode Trial and Error
Method. Bahan pakan disiapkan. Kandungan nutrien bahan pakan dicari
menurut metode NRC dan dimasukkan ke dalam template Microsoft Excel
ransum unggas yang diberikan oleh asisten. Proporsi kemudian
dimasukkan sesuai dengan kebutuhan nutrien dan harga. Bahan pakan
kemudian ditimbang sesuai dengan proporsi yang telah ditentukan.
Metode Pencampuran Pakan
Bahan pakan dicampur dengan urutan SBM dicampur dengan
minyak, kemudian bekatul dicampur dengan premix, kemudian jagung
dicampur dengan pollard dan MBM, kemudian semua campuran bahan
pakan dicampur ke dalam tampah. Bahan pakan yang sudah dicampur
kemudian diambil sampel dengan metode Cone and Quartening. Metode
Cone and Quartening digunakan dengan membentuk bahan pakan
dengan bentuk kerucut kemudian diratakan dan dibagi menjadi empat

17

bagian. Pengambilan sampel dilakukan dari dua bagian yang saling


berhadapan dan diulangi sebanyak dua kali.
Penetapan Kadar Bahan Kering
Gelas timbang yang sudah bersih dikeringkan bersama dan ditutup
yang dilepas di dalam oven pengering pada suhu 105 0C sampai 1100C
selama satu jam. Gelas timbang kemudian didinginkan bersama dan
ditutup yang dilepas di dalam dsikator selama 1 jam dan ditimbang setelah
dingin (X gram). Cuplikan bahan ditimbang seberat 2 gram (Y gram),
dimasukkan ke dalam gelas timbang dan dikeringkan bersama ditutup
yang dilepas di dalam oven pengering selama 8 sampai 24 jam pada suhu
1050C sampai 1100C. Gelas timbang kemudian dikeluarkan yang berisi
cuplikan di dalam oven laludidinginkan di dalam desikator dengan ditutup
yang dilepas selama satu jam. Gelas timbang ditimbang bersama cuplikan
dalam keadaan dingin dan tertutup sampai diperoleh bobot yang tetap (Z
gram), keadaan ini bisa diperoleh dengan penimbangan yang diulang
sampai 3 kali setiap satu jam sejak dari penimbangan pertama.
Perhitungan kadar bahan kering dicari dengan 100% dikurangi dengan
kadar air. Kadar air dihitung dengan rumus sebagai berikut.

Penetapan Kadar Protein Kasar


Destruksi. Cuplikan bahan seberat 0,5 gram (Z gram) tergantung
dari macam bahan. Dua butir batu didih, 2 mL H 2SO4 pekat, dan bagian
tablet kjeltab disiapkan dan dimasukkan cuplikan ke dalam tabung
destruksi yang telah bersih dan kering.Kompor destruksi dihidupkan
kemudian ditempatkan tabung-tabungdestruksi pada lubang yang ada
pada kompor sambil dihidupkan pendingin. Skala pada kompor destruksi
di set kecil krang lebih 1 jam. Destruksi setelah itu didinginkan dan
dilanjutkan proses destilasi.
Destilasi. Hasil destruksi diencerkan dengan air sampai volume
300 mL sambil digojog agar homogen. Erlenmeyer 650 mL yang berisi 50

18

mL H3BO3 0,1 N ditambah 100 mL air dan 3 tetes Indikator mix.


Penampung dan labu kjeldahl dipasang dalam alat destilasi. Air
berpendingin dihidupkan dan ditekan tombol hingga hijau. Dispensing
ditekan ke bawah untuk memasukkan NaOH 50 % ke dalam tabung
tersebut. Penambahan NaOH harus melalui dinding. Handle steam
diturunkan ke bawah sehingga larutan yang ada dalam tabung mendidih.
Destilasi akan berakhir setelah destilat mencapai 200 mL. Blanko dibuat
dengan menggunakan cuplikan yang berupa H2O dan didestilasi dengan
cara seperti di atas.
Titrasi. Hasil dari destilasi dititrasi mengunakan HCl 0,1 N. Titrasi
dilakukan hingga larutan berwarna silver. Warna silver berarti N telah
didestilasi dengan keseluruhan. Kadar protein kasar dapat diketahui
dengan rumus sbagai berikut.

Keterangan :
X = Jumlah titrasi sampel (ml)
Y = Jumlah titrasi blanko (ml)
Z = Bobot sampel (gram)
N = Normalitas HCl

19

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Klasifikasi Bahan Pakan
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak,
baik berupa bahan organik maupun anorganik yang sebagian atau
seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak yang
mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial
(Trihartanti, 2005). Berdasarkan sifat fisik dan kimia yang spesifik menurut
kegunannya, bahan pakan dibagi menjadi delapan kelas, yaitu hijauan
dan jerami kering, hijauan segar, silase, sumber energy, sumber protein,
sumber mineral, sumber vitamin, dan aditif pakan (Utomo et al., 2008).
Bahan pakan yang digunakan dalam praktikum ini terdiri atas 7 bahan
pakan yaitu jagung, pollard, bekatul, bungkil kedelai, meat bone meal
(MBM), minyak sawit, dan premix. Klasifikasi bahan tersebut sangat
diperlukan dalam menyusun ransum.
Jagung. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa kandungan nutrien yang dimiliki jagung menurut tabel NRC yaitu
BK 89%, PK 8,5%, ME 3.350 Kcal/kg, Ca 0,02%, P 0,28%, methionin
0,18%, dan Lysin 0,26%. Jagung dalam klasifikasi pakan masuk ke dalam
kelas 4 yaitu sumber energi, sebab jagung memiliki kandungan energi
metabolis yang tinggi dan kandungan protein dibawah 20%. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Agus (2008) yang menyatakan bahwa jagung atau
Zea mays merupakan bahan pakan sumber energi yang paling banyak
digunakan dalam industri pakan ternak. Jagung mempunyai kandungan
protein rendah dan beragam dari 8 sampai 13%, tetapi kandungan serat
kasarnya rendah (3,2%) dan kandungan energi metabolismenya tinggi
(3130 kcal/kg). Oleh karena itu, jagung merupakan sumber energi yang
baik.

20

Proporsi jagung yang digunakan dalam pembuatan ransum itik


petelur saat praktikum yaitu sebesar 41%. Hal ini menunjukkan bahwa
jumlah pemberian jagung untuk ransum itik petelur fase starter sudah
sesuai, sebab Tarigan (2016) menyebutkan bahwa batas pemberian
jagung dalam ransum itik petelur starter adalah 60%. Arifin et al. (2013)
menjelaskan bahwa jagung memiliki kelemahan pada kecernaan protein.
Hal ini disebabkan oleh jagung memiliki zat anti nutrisi berupa asam fitat
sehingga membentuk kompleks dengan protein dan asam amino. Akibat
dari komplek yang terbentuk akan mengurangi kecernaan protein.
Pollard. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa kandungan nutrien yang dimiliki pollard menurut tabel NRC yaitu
BK 89%, PK 15,7%, ME 1.300 Kcal/kg, Ca 0,14%, P 1,15%, methionin
0,23%, dan Lysin 0,61%. Pollard dalam klasifikasi pakan termasuk dalam
kelas 4 yaitu sumber energi, sebab pollard memiliki PK dibawah 20% dan
SK dibawah 18%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Munir et al. (2015)
yang menyatakan bahwa pollard merupakan bahan pakan alternatif yang
memiliki potensi besar, baik sebagai sumber energi, sumber serat kasar,
atau sumber makro nutrien lainnya.
Proporsi pollard yang digunakan dalam penyusunan ransum itik
petelur fase starter saat praktikum yaitu sebanyak 5%. Hal tersebut sudah
sesuai dengan hasil penelitian Tarigan (2016) yang menyatakan bahwa
batas pemberian pollard pada ransum itik petelur fase starter adalah 60%.
Munir et al. (2015) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa Faktor
pembatas

penggunaan

pollard

dalam

ransum

adalah

tingginya

kandungan serat kasar dalam pollard tersebut.


Bekatul. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa kandungan nutrien yang dimiliki bekatul menurut tabel NRC yaitu
BK 91%, PK 12,9%, ME 2.980 Kcal/kg, Ca 0,07%, P 1,5%, methionin
0,26%, dan Lysin 0,59%. Bekatul dalam klasifikasi bahan pakan termasuk
ke dalam kelas 4 yaitu sumber energi sebab bekatul memiliki PK dibawah
20% dan SK dibawah 18%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian

21

Sarwono (2006) yang menjelaskan bahwa bekatul termasuk sumber


energi, komponen utama dari bekatul adalah karbohidrat sekitar 40
sampai 49%, karena bekatul tersusun dari endosperm. Bekatul juga
mempunyai kandungan kalori yang tinggi dengan monosakarida penyusun
karbohidrat berupa glkukosa, galaktosa, xylosa, dan fruktosa.
Proporsi bekatul yang diberikan dalam ransum itik petelur fase
starter saat praktikum adalah sebanyak 25%. Hal tersebut sesuai dengan
hasil penelitian Tarigan (2016) yang menyatakan bahwa batas pemberian
bekatul pada ransum itik petelur fase starter adalah 70%. Hardini (2010)
dalam penelitiannya menjelaskan bahwa bekatul memiliki ikatan asam
lemak tidak jenuh. Kandungan PK bekatul yang rendah dan adanya anti
nutrisi yaitu phytat yang menyebabkan terbatasnya penggunaan P dan Ca
dalam bekatul.
Bungkil kedelai. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan
diketahui bahwa kandungan nutrien yang dimiliki bungkil kedelai menurut
tabel NRC yaitu BK 89%, PK 44%, ME 2.230 Kcal/kg, Ca 0,29%, P 0,65%,
methionin 0,62%, dan Lysin 2,69%. Bungkil kedelai dalam klasifikasi
bahan pakan termasuk ke dalam kelas 5 yaitu sumber protein, sebab
bungkil kedelai memiliki PK diatas 20% dan SK dibawah 18%. Hal ini
sesuai dengan penelitian Rasyaf (1997) yang dalam bukunya menjelaskan
bahwa bungkil kacang kedelai sebagai limbah pembuatan minyak kedelai
memiliki kualitas protein yang memang baik sekali, sebab dalam
pembuatan minyak kedelai hanya minyaknya yang diambil dan sisanya
menjadi limbah yang sangat bermanfaat. Kandungan protein kasar bungkil
kedelai adalah 41% sampai 55%, tergantung pada proses pembuatan
minyaknya.
Proporsi bungkil kedelai yang diberikan dalam ransum itik petelur
fase starter saat praktikum yaitu sebanyak 20%. Hal tersebut sesuai
dengan hasil penelitian Tarigan (2016) yang menyatakan bahwa batas
pemberian bungkil kedelai pada ransum itik petelur fase starter adalah
40%. Sitompul (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa bungkil

22

kedelai mengandung zat antinutisi seperti tripsin inhibitor yang dapat


mengganggu pertumbuhan unggas, namun zat antinutrisi tersebut akan
rusak oleh pemanasan sehingga aman apabila digunakan untuk pakan
unggas.
MBM. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa kandungan nutrien yang dimiliki MBM menurut tabel NRC yaitu BK
93%, PK 50,4%, ME 2.150 Kcal/kg, Ca 10,3%, P 5,1%, methionin 0,69%,
dan Lysin 2,61%. MBM dalam klasifikasi bahan pakan termasuk ke dalam
kelas 5 yaitu sumber protein, sebab MBM memiliki PK yang tinggi yaitu
diatas 20%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Scott et al. (1982) yang
menjelaskan bahwa MBM mengandung protein sekitar 45 sampai 55%
dan kandungan asam amino dirasa cukup untuk dapat menggantikan
tepung ikan dan memiliki kecernaan sekitar 80%.
Proporsi MBM yang diberikan dalam ransum itik petelur fase starter
saat praktikum yaitu sebanyak 3%. Hal tersebut sesuai dengan hasil
penelitian Tarigan (2016) yang menyatakan bahwa batas pemberian MBM
pada ransum itik petelur fase starter adalah 3%. Murni et al. (2008)
menjelaskan bahwa selain terdapat kandungan calsium dan phosfor, MBM
juga dapat dijadikan sebagai sumber bahan pangan yang mengandung
protein tinggi. Hal ini apabila MBM tersebut dimasukkan kedalam
campuran pakan dengan rata-rata sampai dengan 5% atau bila
ditambahkan kedalam pakan hewan sebanyak 0.68 kg/ekor sapi setiap
harinya, tetapi pemberian secara langsung seperti ini tidak terlalu bagus
karena harusnya didahului dengan pemberian pakan secara berangsurangsur. MBM terutama di gunakan dalam pakan hewan yang bertujuan
untuk memperbaiki kandungan asam amino yang terdapat dalam pakan
hewan.
Minyak. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa kandungan nutrien yang dimiliki minyak kelapa sawit menurut tabel
NRC yaitu BK 99%, PK 0%, ME 8.650 Kcal/kg, Ca 0%, P 0%, methionin
0%, dan Lysin 0%. Minyak dalam klasifikasi bahan pakan termasuk ke

23

dalam kelas 4 yaitu sumber energi, sebab minyak memiliki energi


metabolis yang sangat tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Suci
(2013) menjelaskan bahwa minyak kelapa sawit memiliki kandungan
energi yang tinggi. Selain sebagai sumber energi, minyak juga berperan
sebagai sumber asam lemak dan berguna untuk memudahkan pembuatan
pakan bentuk pelet. Penggunaan minyak dapat meningkatkan efisiensi
pakan,

mengurangi

pakan

berdebu,

serta

memperbaiki

warna,

palatabilitas, dan tekstur pakan.


Proporsi minyak yang diberikan dalam ransum itik petelur fase
starter saat praktikum yaitu sebanyak 5%. Hal tersebut sesuai dengan
hasil penelitian Tarigan (2016) yang menyatakan bahwa batas pemberian
minyak kelapa sawit pada ransum itik petelur fase starter adalah 5%. Suci
(2013) dalam bukunya menjelaskan bahwa penggunaan minyak harus
dibatasi karena dapat menyebabkan ransum mudah menjadi tengik.
Premix. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa kandungan nutrien yang dimiliki premix unggas yaitu BK 0%, PK
0%, ME 0 Kcal/kg, Ca 32,5%, P 22%, dan methionin 0,25%. Premix dalam
klasifikasi bahan pakan termasuk ke dalam kelas 6 yaitu sumber mineral,
sebab premix memiliki kandungan mineral (Ca dan P) yang tinggi. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian Herdian (2005) yang menjelaskan bahwa
suplementasi mineral ke dalam pakan ternak memiliki berbagai macam
cara. Salah satu diantaranya adalah dengan pembuatan suatu campuran
awal mineral yan dikenal dengan istilah premix. Premix sendiri
mengandung arti campuran dari berbagai bahan sumber vitamin (premix
vitamin) atau sumber mineral makro (premix mineral) atau campuran
keduanya.
Proporsi premix yang diberikan dalam ransum itik petelur fase
starter saat praktikum yaitu sebanyak 1%. Hal tersebut sesuai dengan
hasil penelitian Tarigan (2016) yang menyatakan bahwa batas pemberian
premix pada ransum itik petelur fase starter adalah 5%. Priyono (2014)
menjelaskan bahwa pemberian kurang dari jumlah mineral yang optimum

24

dapat menyebabkan meningkatnya insiden penyakit dan masalah


reproduksi, produksi yang rendah, dan laju pertumbuhan yang menurun
pada

sapi

dara.

Defisiensi

mineral

utama

yang

kecil

mampu

mempengaruhi fungsi kekebalan sapi dan kemampuan naturalnya untuk


melawan infeksi, seperti pada penyakit mastitis dan penyakit lainnya.
Penurunan kekebalan dijumpai sebelum penurunan produksi atau
beberapa kelainan akibat defisi ensi, seperti perubahan warna bulu dan
lesi kulit.
Kebutuhan Nutrien Ternak
Berdasarkan perhitungan ransum menggunakan excel dapat
diketahui kebutuhan ME dan BK dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Kebutuhan ME dan BK berdasarkan perhitungan ransum
menggunakan excel
Kelompok 20
Kelompok 23
Kelompok 32
BK (%)
86,55
89,23
89,69
ME (kkal/kg)
2992,31
3124
2973,89
Berdasarkan penyusunan ransum tersebut dapat diketahui bahwa
kebutuhan ME tertinggi adalah kelompok 23 yaitu 3124 kkal/kg,
sedangkan kebutuhan ME terendah adalah kelompok 20 yaitu 2992,31
kkal/kg. Kebutuhan BK tertinggi adalah kelompok 32 yaitu 89,69%,
sedangkan kebutuhan BK terendah adalah kelompok 20 yaitu 86,55%.
Perhitungan ransum tersebut ditentukan berdasarkan kebutuhan nutrien
dari bahan pakan yang digunakan.
Kebutuhan energi itik petelur pada fase starter adalah 3100 kkal/kg
(Sinurat, 2000). Kandungan energi dalam ransum harus sesuai dengan
kebutuhan. Kelebihan energi dalam ransum akan menurunkan konsumsi,
sehingga timbul defisiensi protein, asam-asam amino, mineral dan
vitamin. Apabila ternak kekurangan energi, maka cadangan energi dalam
tubuh akan digunakan dan pertumbuhan ternak tidak dapat maksimal.
Kandungan energi dari ransum kelompok 23 telah memenuhi kebutuhan
energi itik petelur pada fase starter, sedangkan ransum kelompok 20 dan
kelompok 32 belum memenuhi kebutuhan. Perbedaan kandungan energi
25

tersebut menurut Marsono et al. (2003) dapat disebabkan oleh berbagai


faktor misalnya asal bahan pakan dan metode analisa yang digunakan.
Surhalina, et al. (2005) menambahkan bahwa faktor yang mempengaruhi
perbedaan komposisi kimia dalam suatu bahan pakan dapat disebabkan
oleh spesies umur tanaman, pengelolaan, bagian yang dianalisis, iklim
dan tipe tanah.
Pencampuran dan Penyusunan Ransum
Penyusunan pakan merupakan kegiatan pencampuran berbagai
bahan pakan yang ada dengan perbandingan yang telah ditentukan untuk
memenuhi

kebutuhan

zat-zat

makanan

yang

diperlukan

untuk

pertumbuhan dan produksi. Penyusunan ransum perlu dipersiapkan halhal sebagai berikut: 1) tabel kebutuhan zat-zat makanan, 2) tabel
komposisi zat-zat makanan bahan pakan, 3) bahan pakan yang tersedia,
4) tabel harga bahan pakan yang tersedia (Supijatna et al., 2005).
Secara garis besar, ada 5 macam cara penyusunan ransum, yaitu
trial and error method atau metode coba-coba, pearsons square method,
exact method, simultaneous equation method,dan linier programming
method. Masing-masing metode tersebut mempunyai keistimewaan
sendiri-sendiri. Oleh karena itu, metode mana yang akan digunakan
adalah sesuai dengan kepentingannya (Agus, 2008).Sistem Trial and error
merupakan sistem yang paling sederhana. Aplikasinya hanya mencobacoba mencampurkan beberapa bahan makanan tanpa pertimbangan yang
masak. Cara ini umumnya dilakukan oleh peternak yang belum
mempunyai latar belakang ilmu makanan ternak yang memadai. Sistem
square method atau metode segi empat merupakan sistem pencampuran
pakan dengan memakai metode matematika secara sederhana. Sistem ini
mencoba mengurangkan dan menambahkan komposisi zat-zat makanan
(Widodo, 2002). Exact method lebih praktis digunakan dalam menyusun
ransum ternak ruminansia, walaupun dapat pula digunakan untuk ternak
non ruminansia.Simultaneous equation method disebut pula dengan

26

persamaan aljabar atau persamaan XY karena ada dua hal yang belum
diketahui atau yang akan dicari, misalnya PJ dan ME. Selain itu pakan
yang digunakan lebih dari dua macam. Linier programming method
merupakan cara yang paling modern dalam pengolahan pakan. Banyak
digunakan di feedmill beasar baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Dengan program ini, produsen pakan akan mempunyai kesempatan untuk
memilih bahan pakan yang tersedia (Agus, 2008). Cara mengetahui
komposisi susunan kimia dan kegunaan suatu bahan pakan dilakukan
analisis kimia yang disebut analisis proksimat. Cara ini dikembangkan
oleh Wende experiment station di Jerman oleh Hennberg dan Stokman
pada tahun 1865, dengan menggolongkan komponen makanan (Utomo
dan Soejono, 1999).
Hasil Analisis Kandungan Nutrien Ransum
Penetapan kadar bahan kering
Air yang terkandung dalam suatu bahan pakan akan menguap
seluruhnya apabila bahan tersebut dipanaskan selama beberapa waktu
pada suhu 105 sampai 110C dengan tekanan udara bebas. Bahan yang
tertinggal dari pemanasan tersebut disebut bahan kering. Bahan kering
dalam suatu bahan pakan dapat digunakan untuk menentukan nilai
nutrien yang terkandung dalam bahan tersebut, sehingga pemberian
pakan dalam keadaan segar dapat ditentukan (Kamal, 1994). Berbagai
percobaan yang telah dilakukan oleh para peneliti, terdapat beberapa
tabel kandungan bahan kering yang telah dipatenkan, seperti tabel NRC
dan Hari Hartadi. Berikut merupakan tabel persentase kesalahan bahan
kering hasil analisis terhadap tetapan bahan kering pada tabel NRC, Hari
Hartadi, dan tabel hasil analisis asisten

27

Tabel 3. Persentase kesalahan hasil analisis kadar bahan kering ransum


Tabel Hari
Analisis Asisten
Tabel NRC (%)
Hartadi (%)
(%)
Bahan Kering
91,03
87.38
99,8
Persentase
4,9
6,04
10,12
kesalahan
Tabel komposisi bahan pakan yang digunakan adalah tabel NRC,
Hari Hartadi, dan hasil analisis oleh asisten. Selisih presentase kesalahan
berdasarkan tabel antara hasil analisis NRC dan analisis asisten 4,08 %,
sedangkan antara NRC dengan Hari Hartadi adalah selisihnya 1,14%.
Presentase kesalahan terbesar yaitu pada analisis asisten, sedangkan
presentase kesalahan terkecil yaitu tabel Hari Hartadi. Perbedaan
persentase kesalahan bahan kering pada masing-masing variasi bahan
pakan dapat disebabkan oleh proporsi bahan pakan yang berbeda pada
saat penyusunan ransum, kandungan air pada masing-masing bahan
pakan yang berbeda, serta teknik pencampuran dan pengambilan sampel
bahan pakan yang berbeda. Pendapat Nennich (2005) mendukung bahwa
kandungan bahan kering pada setiap bahan pakan berbeda. Bahan pakan
dari tumbuhan segar cenderung memiliki kadar air yang lebih besar dari
bahan pakan asal konsentrat, sehingga hijauan memiliki persentase
bahan kering yang relatif lebih rendah. Faktor yang mempengaruhi
kandungan bahan kering suatu pakan antara lain waktu dan metode
pemanenan, di mana pemanenan pada umur muda akan menghasilkan
bahan kering yang lebih rendah. Pengolahan pada industri manufaktur
juga mempengaruhi kandungan bahan kering dari bahan pakan tersebut.
Penetapan protein kasar
Protein merupakan kumpulan asam amino yang saling diikatkan
dengan ikatan-ikatan peptida. Penentuan protein kasar dalam bahan
pakan dilakukan melalui tiga cara yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi.
Prinsip penentuan kadar protein kasar adalah asam sulfat pekat dengan
katalisator CuSO4 dan K2SO4 dapat memecah ikatan N organik menjadi

28

(NH4)2SO4 kecuali ikatan N=N, NO, dan NO 2.(NH4)2SO4 dalam suasana


basa akan melepaskan NH3 yang kemudian dititrasi dengan HCl 0,1 N
(Utomo, 2012).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui kadar
protein kasar ransum untuk itik petelur fase grower adalah sebagai
berikut:
Tabel 4. Persentase kesalahan hasil analisis kadar protein kasar ransum
Tabel Hari
Analisis Asisten
Tabel NRC (%)
Hartadi (%)
(%)
Protein Kasar
15,18
13,97
13,57
Persentase
17
27,47
25,28
kesalahan
Tabel komposisi bahan pakan yang digunakan adalah Tabel NRC,
Hari Hartadi, dan hasil tabel Analisis asisten. Berdasarkan hasil praktikum
yang diperoleh, persentase kesalahan terbesar yaitu pada tabel NRC
sebesar 27,47%, sedangkan yang terkecil terletak pada penggunaan tabel
Hari Hartadi yaitu 17%.
Hasil perhitungan persentase kesalahan terkecil terletak pada
penggunaan hasil analisis asisten. Hasil ini sudah sesuai, dikarenakan
bahan pakan yang digunakan untuk analisis asisten merupakan bahan
yang sama yang digunakan untuk penyusunan ransum dalam praktikum
ini, sehingga persesntase kesalahan dapat kecil. Persentase kesalahan
terbesar rerata pada penggunaan tabel NRC. Hal ini dapat dikarenakan
bahan yang digunakan berbeda walaupun dengan jenis yang sama.
Faktor yang dapat mempengaruhi ini antara lain kondisi pakan yang
berbeda dari pakan yan digunakan untuk analisis dengan yang digunakan
untuk penggunaan dalam praktikum, asal pakan yang berbeda dapat
menyebabkan kandungan nutrien dalam bahan pakan dapat berbeda.
Perbedaan persentase kesalahan pada masing-masing variasi
bahan pakan dan pada berbagai tabel komposisi bahan pakan disebabkan
karena kandungan protein pada bahan pakan yang berbeda, teknik
pencampuran dan pengambilan sampel yang berbeda, serta proporsi
masing-masing bahan pakan yang berbeda pada setiap ransum,
29

pernyataan tersebut sependapat dengan Sari (2014), bahan pakan yang


berbeda misalnya bahan pakan dari hewani biasanya memiliki kandungan
protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan pakan nabati. Teknik
pencampuran dan pengambilan sampel yang berbeda juga dapat
menyebabkan kandungan nutrien tertentu, dalam hal ini protein, yang
didapatkan

berbeda.

Perbedaan

kandungan

protein

tersebut

menyebabkan ransum yang disusun dengan komposisi berbeda memiliki


kandungan protein yang berbeda pula.

30

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa
terdapat perbedaan hasil antara analisis tabel bahan pakan (NRC) dan
analisis asisten oleh kelompok dan tabel Hari Hartadi. Perbedaan tersebut
dapat disebabkan oleh proporsi ransum yang digunakan berbeda antara
fase starter dan grower ayam petelur, kondisi bahan yang digunakan juga
mempengaruhi hasil praktikum. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat
diisimpulkan ransum yang baik diberikan untuk ternak adalah ransum
berdasarkan analisis asisten karena persentase kesalahan yang lebih
kecil.
Saran
Praktikum Nutrisi Pakan Ternak sudak dilakukan dengan baik.
Sebaiknya

praktikum

dilakukan

dengan

metode

yang

bervariasi.

Praktikum sebaiknya juga dilakukan diaplikasikan ke ternak ruminansia.

31

DAFTAR PUSTAKA
Agus, A. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. PT Citra Aji
Parama. Yogyakarta.
Agus, A. 2008. Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Ardana Media.
Yogyakarta.
Arifin, H. A., O. Sjofjan dan I. H. Djunaidi. 2013. Evaluasi Nutrisi Beberapa
Varietas Jagung Terhadap Kecernaan Protein, Retensi Nitrogen
dan Energi Metabolis pada Ayam Pedaging. Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya, Malang.
Azrai, M., M.J. Mejayadan M. Yasin. 2007. Pemuliaan jagung khusus
dalam: jagung: teknik produksi dan pengembangan. Puslitbang
Tanaman Pangan. Bogor. hlm 96-109.
Hardini. 2010. The nutrient evaluation of fermented rice bran as poltry
feed. International journal of poltry science 9 (2):152-154. 2010
ISSN 1682-8356. The Agricultural Technologi Assessment
Institute. Malang.
Herdian. H. 2005. Evaluasi Penggunaan Program Lipi Mix Dalam
Membuat Formulasi Premix Mineral Untuk Pakan Ternak. Buletin
Peternakan Vol 29 (3) ISSN 0126-4400.
Kamal, M. 1994. Nutrisi Ternak Dasar I. Fakultas Peternakan. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Fakultas Peternakan
UGM. Yogyakarta.
Ketaren, P.P. dan L.H. Prasetyo. 2002. Pengaruh pemberian pakan
terbatas terhadap itik silang Mojosari X albino (MA) selama 12
bulan produksi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Kushartono, B. 2002. Manajemen Pengolahan Pakan. Balai Penelitian
Ternak. Bogor.
Most, M. M., T. Richard, M. Silvia, L.Michael. 2005. Rice bran oil, not fiber,
lowers cholesterol in human 1-3. Americal journal Clinical
Nutrition. Vol. 81 : 64-8.
Munir, M., R. Sidik, dan G. Mahasri. Peningkatan nilai nutrisi pollard
melalui fermentasi tempe sebagai bahan pakan buatan ikan nila
(Oreochromis niloticus). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.
Vol.7 No1.
Murni, R., Suparjo, Akmal, BL. Ginting. 2008. Buku Ajar Teknologi
Pemanfaatan Limbah Untuk Pakan. Laboratorium Makanan ternak
Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
32

Nennich, T., Chase, L. 2005. Feed Management: A Key Ingredient in


Livestock and Poultry Nutrient Management. United States
Department of Agriculture. New York
Nurcholis, D. Hastuti, dan B. Sutiono. 2009. Tatalaksana pemeliharaan
ayam ras petelur periode layer di populer farm desa kuncen
kecamatan mijen kota semarang. Jurnal Mediagro 5 (2) : 38 49.
Priyono.

Rasyaf,

2014.
Ilmu
Peternakan.
http://www.ilmupeternakan.com/2009_03_01_archive.html.
Diakses tanggal 30 april 2016 jam 11.38 WIB.

M.,1997. Seputar
Yogyakarta.

Makanan

Ayam

Kampung.

Kanisius.

Rianto, E., E. Haryono, dan C.M.S. Lestari. 2006. Produktivitas domba


ekor tipis jantan yang diberipollard denga naras berbeda. Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Fakultas
Peternakan. Universitas Diponegoro. Semarang.
Samadi, B. 2007. Cara Mudah Meningkatkan Produktivitas Itik Petelur.
Pustaka Mina. Jakarta.
Sarwono. 2006. Beternak Ayam Buras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Scott, M.L., M.C. Neisheim and R.J. Young. l982. Nutrition of The
Chickens. 2nd Ed. Publishing by :M.L. Scott and Assoc. Ithaca,
New York.
Sinurat, A.P. 1999. Penggunaan bahan pakan lokal dalam pembuatan
ransum ayam buras. Balai Penelitian Ternak.Volume 9, No. 1.
Sirappa, M. P. 2003. Prospek pengembangan sorghum di Indonesia
sebagai komoditas alternatif untuk pakan, pangan, dan industri.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan.
Makassar.
Sitompul, S. 2004. Analisis asam amino dalam tepung ikan dan bungkil
kedelai. Buletin Teknik Pertanian. Volume 9, No. 1.
SNI

01-3910-2006.
2006.
Pakan
Itik
Bertelur.
http://ditjennak.pertanian.go.id/download.php?file=SNI%20Pkn
%20Itik%20Bertelur.pdf . Diakses pada tanggal 17 April 2016
pukul 03:17 WIB.

Sodjadi, S. D. 1995. Teknologi Pembenihan Hijauan. PT Angkasa.


Bandung.
Suprijatna, E. Atmomarsono, U., dan Kartasudjana, R. 2005. Ilmu Dasar
Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suci, D. M. 2013. Pakan Itik. Penebar Swadaya. Depok.

33

Susanto, D. 2011. Potensi bekatul sebagai sumber antioksidan dalam


produk selai kacang. Fakultas Peternakan. Universitas
Diponegoro. Semarang.
Tarigan, I. D. P. 2016. Kebutuhan Nutrisi Itik Petelur. Universitas Sumatera
Utara.
Tim Laboratorium. 2006. Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan
IPB. Bandung.
Tombuku, A.T., V. Rawung, M.Montong, dan Z. Poli. 2014. Pengaruh
berbagai macam ransum komersial dengan menggunakan sistem
kandang yang berbeda terhadap kualitas karkas ayam pedaging.
Jurnal Zootek 34 : 76 84.
Utomo, B.N. dan E. Widjaja. 2004. Limbah padat pengolahan minyak
sawit sebagai sumber nutrisi ternak ruminansia. Jurnal Litbang
Pertanian. Volume 23, No. 1.
Utomo, R., S. Proyono, A. Agus, dan C.T. Noviandi. 2008. Buku Ajar
Bahan Pakan dan Formulasi Ransum PTN 2401. Laboratorium
TMT Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Widodo, W., 2002. Nutrisi dan Pakan Unggas Kontekstual. Universitas
Muhammadiyah Malang. Malang.
Wina, E. 1999. Kualitas protein bungkil kedelai: metode analisis dan
hubungannya dengan penampilan ayam. American soybean
association dan Balai Penelitian Ternak.
Zuprizal dan M. Kamal. 2005. Nutrisi dan Pakan Unggas. Jurusan Nutrisi
dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.

34