Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

PARADIGMA ANTROPOLOGI

1.1.

Paradigma Ilmiah

Dalam bahasa sederhana paradigma adalah cara pandang, pola pikir, cara
berpikir. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Paradigma
diartikan sebagai kerangka berpikir. Paradigma mirip dengan kacamata yang
Anda pakai. Dengan kacamata hitam, maka semua obyek yang Anda lihat
akan berwarna hitam. Dengan kacamata kuda, Anda hanya bisa melihat
obyek yang ada di depan Anda. Anda tidak akan bisa mengamati wanita
cantik yang ada di samping Anda, kecuali dengan menggeser pandangan
Anda. Paradigma akan memengaruhi cara pandang Anda dalam melihat
realitas dan bagaimana cara Anda menyikapinya. Ilmuwan sosial Thomas S
Kuhn, orang yang kali pertama menggunakan konsep paradigma, melalui
buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda mengungkapkan paradigma bukan
saja bersifat kognitif tapi juga normatif. Paradigma bukan saja memengaruhi
cara berpikir kita tentang realitas, tetapi juga mengatur cara mendekati dan
bertindak atas realitas.

Kebanyakan ahli filsafat ilmu pengetahuan masa kini sependapat bahwa ilmu
pengetahuan berkembang sebagai proses akumulasi tampaknya tidak dapat
lagi dipertahankan. Kemajuan ilmiah tidak dapat lagi dianggap sebagai
pertambahan demi pertambahan secara ekslusif.

Dalam bukunya yang terkenal dan masih sering dijadikan acuan oleh para
ahli ilmu pengetahuan, yakni the Structure of Scientufuc Revolution (1972),
Thomas Kuhn menggunakan istilah paradigma dalam dua dimensi yang

berbeda: pertama, paradigma berarti keseluruhan perangkat- Kuhn


menyebutnya konstelasi- keyakinan, nilai-nilai, teknik-teknik, dan
selanjutnya yang dimiliki bersama oleh para anggota suatu masyarakat.
Kedua, paradigma berarti unsure-unsur tertentu dalam perangkat tersebut,
yakni cara-cara pemecahan atas suatu teka teki, yang digunakan sebagai
model atau contoh, yang dapat menggantikan model atau cara yang lain
sebagai landasan bagi pemecahan atas teka teki dalam ilmu pengetahuan
normal.

Pengertian paradigma yang kedua diatas adalah apa yang disebut Kuhn
(1972: 78) sebagai eksemplar, yang berarti contoh yang bermutu tinggi dari
penelitian yang sukses yang ditanggapi sebagai model ideal oleh para
anggota komunitas ilmiah yang bersangkutan. Komunitas ilmiah terdiri dari
individu-individu yang esensial memiliki pendidikan yang sama, tujuan yang
sama, dan mengacu kepada pembendaharaan kepustakaan yang sama.
Komunitas ilmiah terdiri dari para ilmuan yang memiliki bersama eksemplar
yang sama. Etnografi mengenai masyarakat Trobriand yang dibangun oleh
Bronislaw Malinowski (1992) dapat dianggap sebagai sebuah eksemplar.

Jadi paradigma terdiri dari asumsi dan prinsip ontologism dan epistemology
khusus yang meliputi pula prinsip-prinsip teoretis, yang berdasarkan prinsipprinsip tersebut teori-teori khusus yang dapat dibuktikan dibagun (Kuhn,
1972: 78). Paradigma memberikan ranah yang sesuai bagi suatu kajian yang
di dalam ranah tersebut prinsip-prinsip epistemology dan teoretis diterapkan.
Ketika suatu paradigma ditegakkan, paradigma ini menghimpun sejumlah
teori eksplanatoris tertentu. Teori akan menjadi eksemplar apabila sukses
diterapkan untuk mengeksplanasi.

Partikularisme historis dan difusionisme adalah contoh-contoh paradigma


antropologi yang tidak lagi popular dalam komunitas antropologi masa kini.
Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa paradigma itu sendiri tidak dapat
dibuktikan benar atau salah. Yang penting adalah apakah suatu paradigma
mampu mendukung argumentasi-argumentasinya dengan bukti-bukti yang
sesuai dan konsisten dengan prinsip-prinsipnya. Teori-teori yang spesifik
yang dihasilkan oleh suatu paradigma ilmiah bisa atau seharusnya
dibuktikan dalam kerangka paradigma itu sendiri.

1.2.

Paradigma Antropologi

Dalam upaya membangun suatu pemahaman ilmiah mengenai pengalaman


manusia yang komprehensif dan progresif antropologi menyandang dua
tugas. Pertama, mengonstruksi paradigma yang bermakna dan produktif
yang mampu menjelaskan fenomena manusia yang signifikan. Kedua,
mempertajam paradigma tersebut dengan kritis dan kompratif.
Perbandingan paradigma-paradigma tidak mendorong kita untuk memilih
paradigma, sedangkan paradigma tertentu mungkin akan digantikan oleh
paradigma lain dengan landasan pertimbangan tertentu. Akhirnya sasaran
kajian antropologi adalah untuk mengembangkan paradigma secara lebih
tajam daripada paradigma sebelumnya untuk menjelakan kondisi manusia.
Barangkali, tak aka nada paradigma yang terbaik, yang terpenting kita catat
bahwa suatu paradigma mungkin lebih baik daripada pardigma lain, tetapi
tidak ada paradigma yang dapat menganalisis semua kemungkinan.

Dalam sejarah perkembangan antropologi diwarnai oleh divegensi teori yang


semakin meningkat, dan pola tesebut nampaknya terus berlangsung. Tidak
ada kesepakatan tentang berapa jumlah paradigma dalam antropologi masa
kini. Berikut adalah beberapa contoh paradigma antropologi (Achmad
fedyani 2005: 63-66).

Evolusionisme klasik Paradigma ini berkembang pada kahir abad ke-19


tatkala disiplin ilmu paradigma ini untuk pertama kalinya menemukan
identitasnya yang jelas. Evolusionisme klasik khususnya Lewis Henry
Morgan (1977) dan Edward B. Tylor (1871) berupaya menelusuri
perkembangan kebudayaan sejak yang paling awal, asal usul primitf, hingga
yang paling mutakhir, bentuk yang paling kompleks (yakni, pada masa
peradaban Barat abad ke-19). Paradigma ini mengalami kendala karena
mengandalkan data tangan kedua, suatu etnosentrisme implicit, dan

kecenderungan menghasilkan teori-teori yang spekulatif dan tidak bias diuji.


Akan tetapi, evolusionisme klasik memiliki andil besar bagi pengembangan
metode komparatif, yang terbukti merupakan kontribusi amat penting bagi
antropologi.

Difusionisme Populer khususnya di Inggris dan Jerman pada awal abad


kedua puluh, paradigma ini berupaya menjelaskan kesaman-kesaman
diantara bebagai kebudayaan. Kesamaan tersebut terjadi karena adanya
kontak-kontak kebudayaan. Difusi adalah proses historis dari perubahan
kebudayaan melalui transmisi lintas-budaya dari objek-objek materi dan
perilaku dan keyakinan yang dipelajari. Difusionis Erofa terkemuka adalah
Fritz Graebner (1911) dan Wilhelm Schmidt (1939). Di Amerika Serikat,
paradigma ini mengekspresikan dirinya melalui konsep daerah kebudayaan
dan tampak secara mencolok dalam karya Clark Wissler (1917) dan Alfred
Kroeber (1939). Namun, semenjak pertengahan abad ke-20 difusionisme tak
lagi memiliki pendukung yang signifikan.

Partikularisme Historis paradigma yang dibangun oleh bapak antropologi


Amerika, Franz Boas (1963(1911)) ini terutama memusatkan perhatian pada
pengumpulan data etnogafi dan deskripsi mengenai kebudayaan tertentu.
Partikularisme historis menolak teori-teori evolusionis klasik yang terkadang
spekulatif, akan tetapi sebaliknya memperjuangkan upaya mengidentifikasi
proses-proses historis yang bertanggung jawab bagi perkembangan
kebudayaan-kebudayaan tertentu. Partikularisme historis menekankan
pentingnya penelitian lapangan tangan pertama yang lengkap dan ekstensif
yang bertujuan membangun catatan yang selengkap dan seakurat mungkin
mengenai kehidupan suatu masyarakat asli. Partikularisme sejarah
meninggalkan jejak yang mendalam dalam antropologi Amerika serikat.
Namun, tidak ada penelitian antropologi masa kini yang mengikuti saransaran paradigma tersebut; arti penting paradigma ini secara eksklusif adalah
historis.

Struktural-Fungsionalisme paradigma ini dikembangkan terutama di Inggris,


khususnya oleh A. R. Radcliffe-Brown (1952) dan B. Malinowski (1922).
Prinsip yang melandasi paradigma ini adalah analogi biologi: Strukturalfungsionalisme berasumsi bahwa komponen-komponen system sosial,
seperti halnya bagian-bagian tubuh suatu organisme, befungsi memelihara
integritas dan stabilitas keseluruhan system. Di Amerika Serikat, paradigma
ini menimbulkan dampak terbesar terhadap kalangan sosiolog, dimana
Talcott Parsons (1937) adalah salah satu tokoh yang terpenting. Paradigma
structural-fungsionalisme secara utuh hanya mengilhami sedikit, itu pun
kalau masih ada, penelitian antropologi masa kini, akan tetapi bagaimana
pun konsep fungsi selalu tersirat dalam semua teori antropologi mengenai
struktur masyarakat.

Antropologi Pisikologi Pertama kali dibangun di Amerika Serikat pada tahun


1920-an, pada mulanya disebut kebudayaan dan kepribadian. Antropologi
psikologi mengekspresikan dirinya kedalam tiga hal besar : hubungan antara
kebudayaan manusia dan hakikat manusia, hubungan antara kebudayaan
dan individu, dan hubungan antara kebudayaan dan kepribadian khas
masyarakat. Penelitian dalam antropologi psikologi terutama terletak pada
konsep-konsep dan teknik-teknik yang dikembangkan dalam psikologi. Kedua
tokoh kunci dalam sejarah paradigma ini adalah Margaret Mead (1928) dan
Ruth Benedict (1934). Paradigma ini masih cukup berpengaruh hingga
pertengahan tahun 1980-an, tetapi kemudian surut setelah itu.

Strukturalisme Paradigma ini dibangun oleh ahli antropologi Perancis Claude


Levi-Strauss (1963;1976). Strukturalisme adalah strategi penelitian untuk

mengungkapkan struktur pikiran manusia-yakni, struktur dari poses pikiran


manusia-yang oleh kaum strukturalis dipandang sama secara lintas budaya.
Strukturalisme berasumsi bahwa pikiran manusia senantiasa distrukturkan
menurut oposisi binari, dan kaum strukturalis mengklaim bahwa oposisioposisi tersebut tercermin dalam berbagai variasi fenomena kebudayaan,
termasuk bahasa, mitologi, kekerabatan, dan makanan.

Materalisme Dialektik Prinsip-prinsip teoritis mendasar dari paradigma ini


pertama kali diartikulasikan oleh Karl Marx lebih dari seabab yang lalu.
Materalisme dialetik berupaya menjelaskan alasan-alasan terjadinya
perubahan dan perkembangan system sosial budaya. Para pendukung
paradigma ini berpendapat bahwa suatu struktur dan ideology suatu
masyarakat ditentukan oleh mode produksi dan yakin bahwa masyarakat
kapitalis memiliki benih-benih destruksinya sendiri dalam kontradiksi yang
melekat antara keinginan akan keuntungan dan kebutuhan untuk
mengeksploitasi tenaga kerja. Banyak antropolog masa kini diilhami oleh
paradigma ini, termasuk misalnya Marshall Sahlins (1976). Salah satu kritik
yang penting dan dikonsepsikan dengan baik terhadap paradigma ini adalah
dari Marvin Harris (1979:141-164).

Cultural Materialisme Paradigma ini berupaya menjelaskan sebab-sebab


kesamaan dan pebedaan sosial budaya. Formulasi paling awal, sebagaimana
dikembangkan oleh Leslie White (1949; 1959) dan Julian Steward (1955),
dikenal sebagai neo-evolusionisme atau ekologi budaya; kini paradigma
tersebut paling dekat dengan karya Marvin Harris (1979). Materialis
kebudayaan mengemukakan bahwa mode produksi dan reproduksi
masyarakat menentukan struktur sosial dan suprastruktur ideology, tapi
materialis kebudayaan menolak bahwa konsep metafisika dari dialektika
Hegel yang merupakan bagian dari materialism dialetik. Paradigma ini masih
kuat pengaruhnya dalam antropologi, khususnya di Amerika.

Etnosains Paradigma ini juga disebut antropologi kognitif atau etnografi


baru. Paradigma ini dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1950-an
dan 1960-an sebagai strategi penelitian untuk mengidentifikasi aturanaturan kebudayaan yang implisit yang melandasi perilaku. Perspektif teoritis
mendasar dari paradigma tersebut terkandung dalam konsep analisis
kompensional, yang mengemukakan komponen kategori-kategori
kebudayaan dapat dianalisis dalam konteksnya sendiri untuk melihat
bagaimana kebudayaan menstrukturkan lapangan kognisis.

Antropologi Simbolik paradigma ini dibangun atas dasar bahwa manusia


adalah hewan pencari makna, dan berupaya mengungkapkan cara-cara
simbolik dimana manusia secara individual, dan kelompok-kelompok
kebudayan dari manusia, memberikan makna kepada kehidupannya. Juga
disebut antropologi interpretif , paradigma ini berpengaruh besar dalam
antropologi hingga kini.

Sosiobilogi Paradigma ini dipandang sebagai reduksionisme biologi oleh


kebanyakan antropolog sosial budaya, tak banyak biolog yang menaruh
minat menggunakan pendekatan ini. Dikembangkan oleh seorang ahli
biologi, Edward Wilson yang berusaha menerapkan prinsip-prinsip evolosi
biologi terhadap fenomena sosial dan menggunakan pendekatan dan
program genetika untuk meneliti banyak prilaku kebudayaan.

Strategi Penelitian dalam Antropologi Kontemporer

Pada masa lampau pernah ada paradigma-paradigma dominan seperti


difusionisme, partikularisme sejarah, fungsionalisme, dan strukturalfungsionalisme, tetapi semuanya kini merosot pengaruhnya dan sebagian
hanya tinggal sebagai jejak sejarah yang bermakna penting dalam disiplin
antropologi.

Di pihak lain paradigma-paradigma seperti materialism kebudayaan,


strukturalisme, materialism dialektik, dan antropologi kognitif, tak dapat
dipungkiri sangat berpengaruh, tapi sukar dikatakan bahwa paradigmaparadigma ini diikuti oleh mayoritas antropolog dalam penelitian antropologi
masa kini. Demikian pula paradigma lain, seperti sosiobiologi, dan Marxisme
structural adalah paradigma yang kurang keras gaungnya dan tidak begitu
popular di kalangan antropolog professional. Karena itu, sukar bagi kita
untuk menunjuk paradigma-paradigma yang pada masa kini tetap berkerja
dalam antropologi kontemporer, yang secara signifikan dalam proses berfikir
ilmiah antropologi.

Ada dua aspek esensial dari definisi eklektisisme menurut Harris. Pertama,
menjadi eklektik artinya bahwa semua pilihan strategi mungkin memiliki
kemungkinan yang sama. Menjadi antropolog yang eklektrik berarti
mengembangkan pemahaman yang saling terkait, koheren, dan terintegrasi
mengenai kehidupan sosial manusia. Kedua, eklektisisme berarti bahwa
semua sector system sosial budaya memiliki kemungkinan yang sama
menentukan. Dalam pengamatan Harris adalah kecenderungan antropologi
kontemporer terdorong kea rah teori-teori menengah yang tidak langsung
hubungannya satu sama lain dengan perangkat prinsip-prinsip paradigma
yang eksplisit.

Aspek kedua dari definisi Harris mengenai eklektisisme menimbulkan


kesukaran yang sama. Meskipun secara paradigmatik kurang tajam,
sebagian besar antropolog masa kini tidak sependapat bahwa semua sector
dalam suatu system sosial budaya memiliki sifat determinative yang sama.
Mungkin hanya sedikit antropolog yang masih mempersoalkan hakikat
kausalitas kebudayaan. Namun, cukup banyak antropolog yang kurang
berhasil mencermati secara sistematik persoalan-persoalanan kausalitas

kebudayaan. tatkala persoalan sebab musabab perbedaandan persamaan


sosial budaya dinyatakan secara gamblang justru lebih banyak eksplanasi
materialis ketimbang eksplanasi idealis yang digunakan mengenai
kausalitas.

1.3.

Determinisme Kebudayaan

Kent Flannery (1982) mengatakan bahwa kebanyakan antropolog dengan


senang hati menyibukkan diri melakukan pekerjaan il miah mereka dan
punya cukup banyak waktu untuk khawatir tentang falsafah dari apa yang
mereka kerjakan. Banyak antropolog memiliki kecurigaan bahwa
melakukan hal ilmiah dan berfalsafah tentang hal itu adalah dua hal yang
berbeda, dan bahkan ada yang menganggapnya antitesis. Perumpamaan
yang diungkapkan Flannery (1982: 268-9) menarik untuk disimak.

Empat orang arkeolog dalam perjalanan pulang dengan pesawat B-747


setelah menghadiri Pertemuan Tahunan Perhimpunan Arkeologi Amerika.
Penulis sendiri (Kent Flannery) adalah pengamat partisipan, yang terlibat
dialog tentang hakikat dan tujuan arkeologi kontemporer. Ketiga rekannya
adalah Filsuf Terlahir Kembali (FTK), Arkeolog Tahun Tujuh Puluhan (ATT), dan
Arkeolog Masa Lalu (AML).

FTK memulai kariernya sebagai pekerja arkeologi yang menaruh minat besar
pada sejarah daerah Barat Daya, tetapi meninggalkan urusan itu demi
mengembangkan spekulasi-spekulasi di ruangan tertutup dalam filsafat
ilmu pengetahuan, tatkala ketidakmampuannya di lapangan mulai
merongrongnya. Setelah bertahun-tahun bergelimang debu penggalian
arkelogis di lembah-lembah yang panas dan kering. Ia lebih banyak
kehilangan lapisan-lapisan penggalian ketimbang elevator Pusat
Perdagangan Dunia.

ATT adalah produk tidak asli dari generasi saya (Flannery). Percaya diri dan
ambisius, tujuannya mudah saja: menjadi terkenal, gaji besar, dipuja-puja,
dan menerima penghargaan tinggi. ATT mahir dengan permainan akademis.
Ia mencari jalan agar disertasi doktornya diterbitkan dan diterbitkan kembali
dalam berbagai versi, dan membuat dirinya menjadi kaya dan terkenal
karena menyunting tulisan-tulisan sejawatnya.

Sang pahlawan cerita ini adalah AML. Tokoh ini menghabiskan umurnya
dengan sabar di lapangan dan secara professional merekonstruksi sejarah
kebudayaan dari masyarakat prasejarah. Tujuan arkeologi adalah mengajar
dunia sesuatu tentang masa lampau mereka. Selanjutnya dunia tidak boleh
lalai terhadap epistemology. AML dipaksa pensiun dini kerena dosanya,
terlalu kuno, terlalu percaya terhadap kebudayaan sebagai paradigma
sentral dalam arkeologi. Ia yakin bahwa Kebudayaan, dan bukan halihwal psikologi atau pilihan strategi ekonomi, memberikan eksplanasi
terbaik bagi prilaku manusia. AML tidak tertarik berdebat tentang paradigma
sebagai jalan terbaik untuk melaksanakan ilmu pengetahuan. Ia lebih suka
tetap teguh dilapangan atau tepatnya dalam lubang penggalian dan
mengkhususkan diri dalam arkeologi daerah tertentu atau periode
tertentu.

Dalam diskusi di kabin B-747 itu, ATK berkata bahwa ia ingin membangun
dialog antara arkeologi dan filsafat. Tujuan yang terakhir adalah memberikan
sumbangan kepada filsafat., karena ia bekerja pada tingkat abstraksi yang
lebih tinggi daripada sebagian besar sejawatnya. AML, di pihak lain, hanya
berharap dapat memberikan konstribusi bagi arkeologi (ATT hanya ingin
menyumbang bagi kariernya sendiri). AML membandingkan ATK sebagai
penyiar televise yang duduk dipinggir lapangan seraya menyampaikan
penilaian-penilaian atas para pemain football yang tengan bertanding.
Penyiar tersebut, bagaikan filsuf ilmu pengetahuan professional,
menyampaikan analisis yang abstrak dan rumit terhadap kegiatan yang
tengah berlangsung , tetapi menurut AML analisis demikian itu tidak memiliki
dampak teoritis atau strategi terhadap permainan, apakah itu pernainan
football atau arkeologi. Konstribusi yang sesungguhnya adalah dari pemain
dan pelatih itu sendiri yang terlibat langsung dilapangan.

Kebanyakan antropolog, menurut pengamatan Flannery (1982), lebih


cenderung mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai AML. Penelitian
lapangan adalah ciri khas profesionalisme dikalangan antropolog budaya
seperti halnya arkeolog. Kemahiran antropolog dalam membangun etnografi
suatu kebudayaan dianggap, pada umumnya sebagai ukuran kompetensi
professional sang antropolog.

Ungkapan Flannery tersebut menggambarkan bahwa paradigma yang dipilih


di kalangan kebanyakan antropolog adalah salah satu yang disebut
determinisme kebudayaan. Materialism kebudayaan adalah paradigma
yang menggabungkan sejumlah asumsi teoritis umum. Prinsip-prinsip teoitis
umum itulah yang melandasi formulasi teori-teori tertentu yang kemudian
mendorong dihasilkannya hipotesis-hipotesis yang dapat diuji, sedangkan
asumsi-asumsi teoritis adalah premis-premis ontologi dasar yang melandasi
prinsip-prinsip teoritis.

Salah satu asumsi teoritis yang mendasar dari determinisme kebudayaan


adalah manusia memiliki kapasitas untuk mengadopsi rentang luas
keyakinan dan prilaku. Prinsip-prinsip teoritis sentral dari paradigma
menyatakan bahwa pola-pola pikiran dan perilaku individual dibentuk dan
dipengaruhi oleh kebudayaan.

1.4.

Ranah Kajian Antropologi

Dalam bagian ini dibahas lebih tegas lagi mengenai definisi ranah kajian
antropologi. Filsuf sosial Hanna Arendt menunjukkan bahwa spesies manusia
bukanlah sui generis dan juga tidak sepenuhnya tidak murni dikalangan
bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi. Manusia meniru cara dunia
memisahkan keberadaan manusia dari lingkungan hewan semata-mata,
tetapi kehidupan itu sendiri berada diluar dari dunia tiruan ini, dan melalui

kehidupan manusia tetap berhubungan dengan semua organisme hidup


yang lain.

Pandangan Arendt diatas merupakan salah satu yang mendasar dalam


perspektif antropologi semenjak dibangunnya disiplin ini. Peniruan
manusia (human artifice) berupa kebudayaan adalah mekanisme adaptif
primer dari spesies manusia. Sepanjang karirnya, Leslie White bergulat
dengan definisi kebudayaan sebagai mekanisme ekstra-somatik, mekanisme
penggunaan simbol-simbol. Clifford Geertz sangat berpengaruh dalam
pengembangan paradigma antropologi yang diusulkannya mengenai
konsekuensi dan implikasi dari fakta bahwa manusia adalah hewan yang
melakukan simbolisasi, konseptualisasi, dan mencari makna.

Menjadi manusia berarti hidup di dunia yang nyata dan artifisial, atau di
dunia yang dimiliki bersama sekaligus diperebutkan dengan spesies hewan
lainnya. dengan kata lan, spesies manusia menghadapi dua tugas yang
berbeda namun berkaitan satu sama lain, yaitu mempertahankan kehidupan
manusia dan mempertahankan identitas manusia (Arendt,1958).
Mempertahankan identitas berarti aktivitas-aktivitas yang fungsi primernya
adalah mendefinisikan dan membatasi status manusia, atau aktivitasaktivitas yang ekspresi asal usulnya terletak pada kecenderungan manusia
untuk mewujudkan makna-makna melalui simbol-simbol mengenai dunia.
dipertahankannya identitas manusia melibatkan aktifitas-aktifitas seperti
seni, musik, ritual, dan meliputi isu-isu seperti pembentukan kepribadian dan
formulasi pandangan dunia.

Ahli filsafat dan sejarawan sosial Johan Huizinga (1950) menaruh perhatian
pada dipertahankannya identitas manusia tatkala ia berargumen bahwa
permainan adalah landasan kebudayaan manusia: Kehidupan sosial
dibentuk oleh bentuk-bentuk suprabiologi dalam bentuk permainan, yang
meningkatkan nilainya. Melalui permainan inilah masyarakat
mengekspresikan interpretasinya mengenai kehidupan dan dunia.

Dipertahankannya identitas manusia, dalam kenyataan, adalah masalah


yang sering kali dipelajari oleh ahli filsafat, artis, novelis, dan kaum humanis
lainnya, yang mendorong dibangunnya prasangka yang dimiliki oleh banyak
antropolog bahwa hanya isu dipertahankannya kehidupan manusia yang
dapat atau seharusnya dikaji dari perspektif ilmiah. Cara-cara bagaimana
masalah-masalah yang diasosiasikan dengan dipertahankannya identitas
manusia sajalah yang dapat dipelajari dari perspektif ilmiah (huizinga,
1950;63-4).

kegiatan keagamaan adalah salah satu cara yang signifikan dimana manusia
mendefinisikan diri mereka sebagai manusia, namun isi dan organisasi
keyakinan keagamaan dan perilaku erat terkait dengan strategi kebudayaan
tertentu mengenai adaptasi. sedangkan strategi yang fungsinya paling nyata
dan langsung adalah dipertahankannya kehidupan manusia. fenomena
kematian karena ilmu sihir (voodoo) jarang dapat digolongkan semata-mata
sebagai konsekuensi dari dipertahankannya kehidupan manusia atau
dipertahankannya identitas manusia, kajian antropologi mengenai kematian
karena voodoo menjelaskan gejala ini dalam konteks interaksi antara faal
dan psikologi.

Deep Play: Some Notes on the Balinese Cockfight, suatu tulisan klasik
dalam buku Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures, (1973), adalah
contoh yang bagus yang secara ekslusif berkaitan dengan isu
dipertahankannya identitas manusia. dalam tulisan tersebut, Geertz
berupaya mengungkapkan secara detail adu ayam pada orang Bali. Bagi
orang Bali, katanya adu ayam jauh lebih dari sekedar hiburan atau olah raga.
adu ayam adalah suatu peristiwa simbolik yang kompleks, yang melalui
simbol-simbol tersebut orang Bali mendefinisikan diri mereka. di Bali, ayam
jantan yang di adu adalah simbol yang penuh muatan, di satu sisi ayam
jantan tersebut adalah ekspresi seksualitas pemiliknya, tetapi pada saat
yang sama ia merepresentasi bahaya, suatu inversi moral dan metafisika
langsung dari status manusia. untuk ikut serta dalam adu ayam , sang
pemilik orang yang memegangi ayam, atau petaruh, menempatkan diri
mereka dalam suatu resiko. ikut serta dalam adu ayam, kata Geertz (1973),
berarti tidak hanya berjudi uang, tetapi juga kehormatan, kewibawaan, dan
maskulinitas seseorang.

1.5.

Konsep Kebudayaan

Antropologi mulai dengan suatu definisi kebudayaan, sebagaimana diusulkan


oleh Edward B. Tylor (1973:63 (1871); lihat juga Bohannan dan Glazer 1988),
yang memandang kebudayaan sebagai totalitas pengalaman manusia.
Kebudayaan atau peradaban, diambil dalam pengertian etnografi yang luas
adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, keyakinan, seni,
moral, hukum, adat istiadat, dan kapabilitas dan kebiasaan-kebiasaan
lainnya yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Konsep
kebudayaan.

Keesing (1974: 74-79) mengidentifikasi emoat pendekatan terakhir terhadap


masalah kebudayaan. pendekatan pertama yang memandang kebudayaan
sebagai sistem adaptif dari keyakinan dan perilaku yang dipelajari yang
fungsi primernya adalah menyesuaikan masyarakat manusia dengan
lingkungannya. pendekatan tersebut diasosiasikan dengan ekologi budaya
dan materialisme kebudayaan dan bisa ditemukan dalam kajian-kajian tokohtokoh seperti Julian Steward (1955), Leslie White (1949;159) dan Marvin
Harris (1968;1979).

Kedua adalah yang memandang kebudayaan sebagai sistem kognitif yang


tersusun dari apa pun yang diketahui dalam berfikir menurut cara tertentu,
yang dapat diterima bagi warga kebudayaan (natives) yang diteliti.
pendekatan itu diasosiasikan dengan paradigma yang dikenal dengan nama
seperti etnosains, antropologi kognitif, atau etnografi baru. Para
pendukungnya yang utama antara lain Harold Conklin (1955), Ward
Goodenough (1956;1964), dan Charles O. Frake (1964a;1964b).

Ketiga adalah yang memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari


simbol-simbol yang dimiliki bersama yang memiliki analogi dengan struktur
pemikiran manusia. Pendekatan itu adalah ciri khas dari strukturalisme,
paradigma yang dikonsepsikan oleh Claude Levi-Strauss (1963;1969a)

Dan keempat, yang memandang kebudayaan sebagai sistem simbol yang


terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang
dapat diidentifikasi, dan bersifat publik. Pendekatan ini diasosiasikan dengan
paradigma yang dikenal sebagai antropologi simbolik, yang dikonsepsikan
oleh Clifford Geertz (1973;1983) dan David Schneider (1968).

Keesing menyimpulkan bahwa secara esensial ada dua pendekatan


mengenai konsep kebudayaan di kalangan antropolog kontemporer:
pertama, para antropolog yang mendefinisikan kebudayaan dalam konteks
pikiran dan prilaku (pendekatan adaptif) dan kedua, mereka yang
mendefinisikan kebudayaan dalam konteks pikiran semata-mata
(pendekatan ideasional).

Selain Keesing, sebagian antropolog memandang kontroversi mengenai


konsep kebudayaan pada masa kini sebagai kontroversi isu pikiran versus
perilaku. Kritik paling keras terhadap apa yang disebut pendekatan
ideasional mengenai kebudayaan adalah dari Marvin Harris (1975). Harris
menghubungkan pemisahan sejarah antara antropologi sosial dan
antropologi budaya dengan perkembangan pandangan ideasional murni
mengenai kebudayaan. Sebagaimana dikemukakannya, etnosains dan yang
lainnya yang menyebut diri mereka antropolog budaya tertarik untuk
mengkaji entitas kognitif dan menyebut antropologi sosial bagi kajian
statistik mengenai kejadian-kejadian sosial yang berpola.

Kekaburan mengenai istilah pikiran da perilaku itulah yang meramaikan


perdebatan mengenai status ontologisme kebudayaan. ketika antropolog
mengatakan bahwa kebudayaan terdiri dari perilaku yang dipelajari dan
dimiliki bersama, mereka sukar sekali mengeluarkan aspek-aspek kognitif
dari transmisi kebudayaan, retensi, dan identifikasi dari definisi mereka,
perilaku dipelajari dan dimiliki bersama karena perilaku diketahui dan
dipikirkan.

1.6.

Emik Dan Etik

Perspektif antropologi adalah holistik karena mencoba mengkaji pengalaman


manusia secara keseluruhan. bahwasannya, berbeda dari ilmuan politik,
sosiologi atau ekonomi, antropologi berupaya melihat keluar dari perilaku
politik, sosial, atau ekonomi, dan mempelajari saling keterkaitan di antara
semua faktor kehidupan manusia ini dan untuk mempelajari hubunganhubungan di antaranya. perspektif antropologi itu komparatif karena disiplin
ini mencari informasi dan menguji eksplanasinya dikalangan semua
kebudayaan prasejarah, sejarah, dan kontemporer yang terhadap
kebudayaan-kebudayaan tersebut antropolog memiliki akses.

pendekatan antropolog mungkin tidak selalu holistik dan komparatif dalam


praktiknya, tetapi antropologi adalah satu-satunya disiplin dalam ilmu sosial
yang membangun holisme dan pembandingan sebagai sasaran ideal yang
hendak dicapai. oleh karena itu, antropologi merupakan satu-satunya disiplin
ilmu sosial yang secara sistematik memerhatikan perbedaan antara
pengetahuan emik dan etik.

Perbedaan antara emik dan etik itu analog dengan pembedaan antara
fonemik dan fonetik; adalah ahli linguistik, seperti Kenneth L. Pike (1967),
yang membangun istilah emik dan etik dari analogi tersebut. Secara sangat
sederhana, emik mengacu kepada pandangan warga masyarakat yang dikaji
(natives viewpoint) etik mengacu kepada pandangan si peneliti (scientists
viewpoint). Konstruksi emik adalah deskripsi dan analisis yang dilakukan
dalam konteks skema dan kategori konseptual yang dianggap bermakna oleh
partisipan dalam suatu kejadian atau situasi yang dideskripsikan dan
dianalisis. Konstruksi etik adalah deskripsi dan analisis yang dibangun dalam
konteks dkema dan kategori konseptual yang dianggap bermakna oleh
komunitas pengamat ilmiah.

Konsep emik dam etik itu menjadi objek diskusi semantik yang hampir sama
hangatnya dengan diskusi tentang konsep kebudayaan. Para antropolog
sibuk saling menyalahkan karena dianggap keliru menggunakan konsep emik
dan etik itu.

Marvin Harris adalah salah satu pendukung utama bagi pembedaan


amik/etik dalam kajian antropologi. Ia menawarkan suatu pemikiran yang
berguna dalam membedakan pernyataan-pernyataan emik dan etik atas
dasra epistemologi.

Kerja emik mencapai tingkat tertinggi tatkala mengangkat informan native


pada status penilai tertinggi bagi kecukupan deskripsi dan analisis
pengamat. Pengujian kecukupan dari analisis emik adalah kemampuannya
menghasilkan pernyataan-pernyataan yang dapat diterima native sebagai
nyata, bermakna, atau sesuai Kerja etik mencapai tingkat tertinggi tatkala
mengangkat pengamat kepada status penilai tertinggi dari kategori-kategori
dan konsep-konsep yang digunakan dalam deskripsi dan analisis.

Sekalipun emik dan etik adalah konstruksi epistemologi, keduanya tidak ada
kaitannya dengan metode penelitian, melainkan dengan struktur penelitian.
Dengan kata lain, pengujian epistemologi kritis bukanlah bagaimana
pengetahuan itu diperoleh, melainkan bagaimana pengetahuan itu divalidasi.

Pengetahuan etik divalidasi dengan cara yang analog. Agar suatu deskripsi
atau analisis etik diakui sebagai etik, ia harus diterima oleh komunitas ilmiah
sebagai pembahasan yang sesuai dan bermakna. Harris (1976:341)
mencatat bahwa tatkala deskripsi itu responsif terhadap kategori-kategori
pengamat mengenai waktu, tempat, bobot dan ukuran, tipe-tipe pelaku,
jumlah orang yang hadir, gerak tubuh, dan efek lingkungan, maka deskripsi
itu etik. Agar menjadi etik, istilah-istilah, kategori-kategori, konsep-konsep,
dan satuan-satuan pengukuran haruslah tepat, jelas (tidak kabur), memiliki
makna yang dikenal (dapat dikenal) dalam komunitas ilmiah.

Deskripsi dan eksplanasi antropologi adalah etik apabila memenuhi hal-hal


sebagai berikut:
1.Deskripsi harus dianggap bermakna dan sesuai oleh komunitas yang luar
pengamat ilmiah. Ini bukan sekedar kriteria konsensus. Melainkan berarti

bahwa istilah dan konsep yang digunakan harus memenuhi gagasangagasan ilmiah menganai ketepatan, realibilitas, dan akurasi.
2.Deskripsi harus divalidasi oleh pengamat secara independen. Ini berarti
bahwa prosedur-prosedur yang digunakan dalam memformulasikan deskripsi
etik harus dapat direplikasi oleh pengamat bebas dan bahwa pengamat
independen harus memperoleh hasil pengujian yang sama ketika berupaya
memvalidasi deskripsi etik tersebut.
3.Deskripsi harus memenuhi persyaratan berupa aturan-aturan dalam
memperoleh pengetahuan dan bukti ilmiah. Ini berarti bahwa deskripsi,
analisis, dan eksplanasi harus dapat dibuktikan dan tidak boleh
dipertentangkan dengan bukti-bukti lain yang ada. Semua bukti yang ada
harus diperlakukan dalam formulasi deskripsi etik.
4.Deskripsi harus dapat diterapkan secara lintas budaya. Hal ini perlu namun
belum menjadi kondisi yang mencukupi bagi konstruksi etik. Ini berarti
bahwa deskripsi etik itu tidak boleh tergantung pada acuan khusus, dengan
kerangka lokal; deskripsi ini harus dapat digeneralisasi. Kriteria ini
dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa ilmuan akan mempertimbangkan
apakah konstruksi etik yang mereka bangun dan oengujian yang mereka
lakukan untuk memvalidasi konstruksi-konstruksi tersebut barangkali
tergantung pada asumsi-asumsi emik.
5.Kajian-kajian dalam konteks teori tahap-tahap perkembangan yang dikutip
disini semuanya mengilustrasikan bahaya yang bakalan menimpa ilmu-ilmu
sosial yang gagal membedakan emik dan etik. Tak satu pun penulis
memperhatikan bukti lebih dari melewatkan bagitu saja fakta bahwa
berbagai kebudayaan membagi siklus kehidupan manusia berbeda-beda;
semua tampaknya berasumsi bahwa tahap-tahap perkembangan yang
fungsional dalam kebudayaan mereka sendiri sama untuk semua orang di
semua tempat dan kapan pun. Tak satu pun ilmu sosial yang dapat
mengabaikan pembedaan emik/etik dan mengklaim legitimasi bagi
ekspkanasinya sendiri.

Kelima kriteria diatas bagi deskripsi etik memberikan kemungkinan atau


peluang bagi informan, yaitu natives, untuk memiliki pengetahuan etik, dam

kadang-kadang demikianlah yang terjadi. Status emik atau etik dari setiap
klaim tertentu bagi pengetahuan tidak tergantung pada asal usul
pengetahuan itu. Kriteria ini juga membuka kemungkinan bagi kritisisme
legitimasi dari orang-orang yang mengklaim bahwa etik antropologi tak lain
adalah emik dari kebudayaan barat. Etik antropologi lebih bernilai dari pada
emik natives karena etik antropologi itu lebih bertanggung jawab secara
epistemologi. Ini tidaklah berarti bahwa pengetahuan etik adalah satusatunya sasaran penelitian antropologi