Anda di halaman 1dari 5

Sejarah Koperasi Cipaganti

2002- 2012. KOPERASI CIPAGANTI & PROGRAM KEMITRAAN


Sudah bertahun-tahun lamanya, Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada (KCKGP) yang berkantor
Pusat di Jl. Gatot Subroto N0 94 Bandung, telah dikenal sebagai Icon Bisnis Berbasis Ekonomi
Kerakyatan terbesar di Jawa Barat, bahkan mungkin hampir di Indonesia. KCKGP telah
berhasil menempatkan Cipaganti Group sebagai mitra usaha korporasi nasional terbaik dengan
terobosan 3 pilar bisnis, yakni Property, Otojasa & Sewa Alat Berat, serta Pertambangan, dimana
ketiganya merupakan sumberdaya kekuatan ekonomi dalam negeri. Posisi strategis ini menjadikan
KCKGP mampu menarik sekitar 8000 mitra usaha yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan
diperkirakan lebih dari 50 % merupakan pensiunan BUMN & PNS. Mereka secara sadar & bermodalkan
TRUST yang sangat tinggi telah sepakat untuk bermitra & berjalan sinergis bersama KCKGP melalui
mekanisme penyertaan modal usaha dengan nilai modal minimum Rp. 100.000.000,-. Sebagai bentuk
imbal balik, KCKGP menjanjikan profit/bagi hasil di kisaran 1,5 - 2 % setiap bulannya.
AWAL 2012. STABILITAS & PERKEMBANGAN BISNIS KCKGP MULAI TERGANGGU
Pada awal tahun 2012, KCKGP mulai mengalami berbagai kendala usaha yang telah mengganggu
stabilitas & perkembangan jalannya usaha. Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan KCKGP mengalami
kesulitan likuditas dan berdampak pada pembayaran imbal hasil/profit bulanan kepada mitra menjadi
terlambat bahkan tertunda.
MARET 2014, GAGAL BAYAR BAGI HASIL MITRA USAHA KOPERASI CIAPAGANTI
Pada Bulan Maret, Mitra usaha sudah tidak menerima bagi hasil dari modal penyertaan yang
ditanamkan di Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada.
APRIL 2014. AKSI PROTES & KOMPLAIN MITRA USAHA TERHADAP GAGAL BAYAR BAGI
HASIL.
Merespon keterlambatan & penundaan pembayaran bagi hasil, para mitra usaha mulai melakukan aksi
protes & komplain tentang berlarutnya penundaan bagi hasil yang seharusnya sudah diterima para
mitra koperasi cipaganti,
APRIL 2014. PEMBENTUKAN KOMITE 18 - 53 SEBAGAI PENYAMBUNG ASA MITRA USAHA
Untuk mengatasi hal tersebut, maka mitra usaha dengan spontan membentuk KOMITE 18 yang
kemudian berkembang menjadi KOMITE 53. Komite ini terbentuk tanpa ada intimidasi pihak
manapun, dibentuk dari, oleh dan untuk mitra usaha, dengan tujuan bersama-sama memahami
permasalahan usaha yang dihadapi KCKGP dan secara terbuka serta itikad baik untuk bersama-sama
mencari solusi terbaik bagi KCKGP. Lebih jauh lagi, keberadaan komite pun bertujuan untuk menggali
dan menyamakan aspirasi dan menggalang resources untuk memperjuangkan nasib & hak-hak
seluruh mitra usaha tanpa terkecuali.

1.
2.

3.

Sejalan dengan upaya penyelesaian masalah gagal bayar ini, serangkaian aktivitas telah dan
terus dilakukan oleh Komite & Tim Relawan, diantaranya:
Pengembangan jaringan komunikasi informal melalui group-group komunikasi virtual (WA/BBM)
sebagai media berbagi informasi serta media untuk saling menguatkan diantara sesama mitra yang
tentunya permasalahan ini telah banyak memberikan dampak psikologis kepada ribuan mitra.
Pengembangan milis group mitra usaha di mitracipagantimember@gmail.com dan website
mitracipagantimember.wordpress.com untuk men-delivery dan menyebarluaskan seluruh informasi
strategis yang terkait dengan langkah-langkah penanganan permasalahan gagal bayar (terutama yang
belum tergabung dalam jaringan komunikasi WA/BBM).
Koordinasi & konsolidasi intensif bersama Tim Restrukturisasi untuk memperoleh database strategis
& Logical Framework (kerangka logis) atas struktur permasalahan yang dialami oleh KCKGP untuk
kemudian dijadikan sebagai Entry Point dalam merumuskan solusi gagal bayar & perdamaian.
MEI 2014. PENUNJUKAN TIM RESTRUKTURISASI OLEH KCKGP DALAM PENANGANAN MASALAH GAGAL
BAYAR KOPERASI CIPAGANTI
Serangkaian kegiatan recovery telah dan terus dilakukan di berbagai lini (teknis dan non teknis) oleh
pengawas & seluruh pengurus KCKGP dan jajarannya dalam permasalahan gagal bayar ini. Bahkan
pada tanggal 15 Mei 2014, KCKGP menunjuk Tim Restrukturisasi Independen yang bertugas untuk
membantu dan memberikan rekomendasi atas persoalan internal & eksternal yang dihadapi KCKGP,
temasuk didalamnya upaya-upaya untuk menyelesaikan kewajiban terhadap mitra usaha.

Keberadaan tim restrukturisasi ini juga sebagai wujud komitmen serta itikad baik KCKGP dalam
menyelesaikan permasalahan yang ada dan menjaga kepercayaan yang sudah terbangun sangat baik
dengan mitra usaha selama bertahun-tahun.
JUNI 2014. RAPAT JAJAK PENDAPAT MITRA DPRD KOMISI A PIHAK CIPAGANTI
Berbagai cara ditempuh para mitra untuk mendapatkan kembali haknya. Salahsatunya dengan
melaporkan permasalahan gagal bayar Koperasi Cipaganti ini kepada pihak DPRD Bandung untuk
dapat dicarikan solusi pemecahan masalahnya. Atas dasar laporan tersebut, Pihak DPRD Prov. Jabar
melayangkan undangan rapat jajak pendapat.
Pada hari Selasa tgl 17 Juni 2014 pukul 13.00 s.d 22.35 wib Bertempat di jln Diponegoro No 27
Bandung telah berlangsung Musyawarah Dengar Pendapat antara Pihak Cipaganti dengan Perwakilan
Investor sejumlah 60 orang yanng difasilitasi oleh DPRD Provinsi Jabar Komisi A ( Bid Pemerintahan )
Bpk Drs H Yusuf Puaz dan Bpk Azhar Aung, SH.SPI.M.Si (Wkl Ketua DPRD).
MEI 2014. GUGATAN PERMOHONAN PKPU KE PENGADILIAN NIAGA JAKARTA PUSAT
Menanggapi ketidakpastian penanganan permasalahan gagal bayar koperasi Cipaganti ini, pada
akhirnya 2 mitra usaha melakukan upaya hukum dengan mengajukan gugatan permohonan PKPU di
Pengadilan Niaga Jakarta. Gugatan hukum tersebut telah dipublikasikan di 2 media massa pada
tanggal 13 Mei 2014. Atas gugatan mitra usaha ini, maka Berdasarkan SK Pengadilan Negeri No.
21/Pdt.Sus/PKPU/2014 PN Jakarta Pusat tertanggal 19 Mei 2014, KOPERASI CIPAGANTI) BERADA
DALAM STATUS HUKUM PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG SEMENTARA (PKPU-S). Status
ini dipublikasikan di 2 media nasional, dalam hal ini Pikiran Rakyat tanggal 21 Mei 2014 halaman 6
dan Kompas tanggal 21 Mei 2014. Publikasi tersebut juga sekaligus merupakan panggilan kepada para
Mitra dan kreditur lainnya untuk mendaftarkan tagihan/piutangnya kepada KCKGP melalui tim
Pengurus PKPU dalam rentang waktu & lokasi yang ditentukan
Penetapan STATUS PKPU & prosedur penyelesaiannya ini telah MENOREHKAN LUKA DALAM DI HATI
SELURUH MITRA yang dibuat TERCENGANG, BINGUNG, dan MELULUHLANTAHKAN HAJAT HIDUP
RIBUAN MITRA karena ISU ANCAMAN KOPERASI YANG DIPAILITKAN & DAMPAK HILANGNYA MODAL
POKOK yang diperoleh dari HASIL KERJA KERAS & CUCURAN KERINGAT, bahkan mungkin dengan
TETESAN DARAH. Belum lagi, status PKPU ini mewajibkan seluruh mitra menjalani rangkaian prosedur
penyelesaian PKPU yang telah terbukti sangat melelahkan, menguras waktu & tenaga serta
menimbulkan dampak immaterial yang tak ternilai. Bahkan, menurut informasi terakhir, dalam situasi
yang masih sangat sulit untuk dipahami ini telah MERENGGUT 5 NYAWA MITRA USAHA DALAM
WAKTU SINGKAT
JUNI 2014. RAPAT AKBAR MITRA USAHA DI GOR PAJAJARAN BANDUNG.
Disela-sela jadwal persidangan PKPU sebagaimana yang ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, serangkaian aktivitas telah dan terus dilakukan oleh Komite dan Tim Relawan untuk
menyatukan pemahaman tentang Risk & Benefit PKPU, misi & visi perdamaian dan menstrukturkan
langkah-langkah
strategis dalam
penyelesaian
PKPU-S dan
memperjuangkan
hak-hak
mitra. Salahsatu dari rangkaian upaya komite & tim relawan adalah penyelenggaraan Rapat Akbar di
GOR Pajajaran Bandung pada tanggal 19 Juni 2014 yang melibatkan hampir 2000 mitra usaha dan
seluruh frontliner/marketing KCKGP. Adapun hasil rapat akbar ini adalah tersosialisasinya informasi
terkait PKPU dan bersatunya langkah mitra untuk menyelamatkan KCKGP dari semboyan SAY NO TO
PAILIT & VOTE PEACE.
JUNI-JULI 2014. RANGKAIAN SIDANG PKPU DI PENGADILAN NIAGA JAKARTA PUSAT
Selama status PKPU-S, KCKGP diberikan waktu selama 270 hari sejak Penetapan PKPU-S untuk
merundingkan Composition Plan (Proposal Perdamaian). Di dalam periode itu pula, semua tindakan
kepengurusan KCKGP harus disetujui oleh Tim PKPU, dan seluruh mitra usaha maupun KCKGP
diharuskan mengikuti sejumlah rangkaian persidangan di PN Niaga, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat
yakni: Rapat Kreditur, Rapat Pencocokan Piutang, Rapat Pembahasan Proposal Perdamaian, Rapat
Pemungutan Suara/Voting, dan Rapat Pemusyawaratan Majelis Hakim.
JUNI 2014. PENAHAN 3 TOKOH UTAMA KOPERASI OLEH KEPOLISIAN DAERAH JAWA BARAT
Keterpurukan kondisi & posisi mitra usaha serta kesabaran mitra usaha dalam menjalani prosedur
PKPU semakin diuji dengan adanya penangkapan dan penahan 3 Tokoh utama KCKGP (Andianto
Setiabudi (CEO Cipaganti Group dan Pengawas Koperasi), Yulia Sri Rejeki (Komisaris & Wakil Ketua
Koperasi), serta Yulinda Tjendrawati Setiawan (istri Andianto & Bendahara Koperasi) oleh Polda
Provinsi Jawa Barat pada tgl 23 Juni 2014. Ketiga tokoh ini telah ditetapkan sebagai tersangka
berdasarkan pelaporan 6 mitra usaha yang tidak sabar dengan prosedur PKPU-S dan melakukan

gugatan pidana atas tuduhan penipuan dan penggelapan modal penyertaan sekitar 8700 mitra usaha
dengan kisaran nilai 3,2 Triliyun. Tentunya penangkapan & penahan ini menimbulkan kendala
penyelesaian proses PKPU-s, karena ruang gerak Andianto Setiabudi semakin terbatas.

1.
2.
3.

JULI 2014. PELAKSANAAN VOTING ATAS PROPOSAL PERDAMAIAN DI GOR BRITAMA KELAPA GADING,
JAKARTA.
Rapat Voting dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2014, di Mahaka Square, 1st Floor (Sportsmall Kelapa
Gading) Jl. Kelapa Nias Raya Blok HF-3 Jakarta 14240 Indonesia. Rapat ini diselenggarakan
untuk menjaring suara mitra usaha atas proposal perdamaian KCKGP. Hasilnya 1 kreditur separatis
(bank bukopin) dan 97 % mitra usaha yang hadir sendiri /diwakilkan menyetujui proposal
perdamaian. Sejak saat itulah, KCKGP akan berada di dalam status PKPU Tetap dalam arti:
KCKGP masih memiliki kewenangan menjalankan kegiatan perusahaan dibawah pengawasan
pengurus PKPU dan seluruh transaksi tagihan utang terhenti sementara hingga tercapai perjanjian
damai (PKPU Tetap).
KCKGP masih diberikan kesempatan untuk melakukan restrukturisasi hutang kepada kreditor.
Setelah dilakukan perjanjian perdamaian antara KCKGP dan mitra, maka pembayaran utang bisa
dibayarkan sesuai dgn isi perjanjian perdamaian yang telah disahkan oleh pengadilan.
JULI 2014. PENGESAHAN HOMOLOGASI (PERDAMAIAN) ANTARA KOPERASI & MITRA
USAHA OLEH PN NIAGA JAKARTA PUSAT.
Menegaskan voting damai dari mitra usaha dan keputusan majelis hakim atas status PKPU Koperasi
Cipaganti, maka pada tanggal 23 Juli 2014, PN Niaga Jakarta Pusat mengesahkan dokumen
PERJANJIAN PERDAMAIAN (Homologasi) No. 21/Pdt.Sus/PKPU/PN NIAGA JAK-PUS. Dengan
pengesahan dokumen homologasi ini pada prinsipnya Koperasi Cipaganti dinyatakan TIDAK
PAILIT dan permasalahan Koperasi cipaganti dan para mitra diselesaikan diluar pengadilan dengan
hasil voting damai antara koperasi cipaganti degan para mitra.
Dokumen perjanjian ini ditandatangani oleh perwakilan para mitra yang hadir pada sidang Majelis
hakim pada persidangan tgl 23 Juli 2014 dan di tandatangani pula oleh para pengurus PKPU dan
Hakim Pengawas pengadian niaga Jakarta. Dokumen perjanjian ini dilampiri materi perjanjian yang
telah disepakati oleh koperasi cipaganti dengan para mitra, dimana didalamnya tertulis daftar asset
yang diserahkan dan akan dikelola bersama atau dijual untuk kepentingan para mitra.
JULI 2014. PEMBENTUKAN KIMU-S (KOMITE INVESTASI MITRA USAHA SEMENTARA)
Untuk menindak lanjuti homologasi Koperasi dengan mitra usaha, PN Niaga mensyaratkan adanya
suatu badan hukum berbentuk komite yang mewakili seluruh mitra, yakni Komite Investasi Mitra
Usaha (KIMU) yang bertugas untuk mengawasi jalannya semua unit-unit usaha Koperasi dan
memberikan langkah serta keputusan strategis dalam pengelolaan/penjualan aset-aset yang ada
didalam Perjanjian Damai (Perdam). Untuk itu, diperlukan para relawan yang bersedia menyediakan
waktu, tenaga dan keilmuan (management, akuntansi, finance, perbankan, hukum, pertambangan,
transportasi dll) tanpa mendapat remunerasi/gaji untuk mengerakkan hasil dari putusan pengadian
niaga tersebut.
Mengingat pada saat awal terbentuknya KIMU ini belum memiliki modal dasar yang memadai, maka
dalam putusan pengadilan, telah dijelaskan bahwa KIMU pada saat awal adalah KIMU
TRANSISI/SEMENTARA yang bertugas selama 12 bulan untuk mengisi kekosongan pengurusan KIMU
TETAP. Pada tanggal 30 Juli 2014, KIMU sementara telah terbentuk dengan komposisi personil diisi
dari eks anggota Panitia Kreditur, Komite dan beberapa relawan yang mengawal kasus ini sejak awal.
Selanjutnya, KIMU TRANSISI/SEMENTARA ini harus mengadakan pemilihan umum yang melibatkan
mitra untuk memilih wakil-wakilnya yang akan duduk di KIMU TETAP.
SEPT 2014. PEMBENTUKAN PT. POOLING ASET/PT. MITRA MANUNGGAL PERSADA
Untuk menindaklanjuti homologasi Koperasi dengan mitra usaha, selain pembentukan KIMU, PN Niaga
juga mensyaratkan pembentukan PT. Pooling Aset sebagai Holding dari PT-PT yang telah diserahkan
kepada mitra. PT Pooling Aset yang memiliki identitas resmi sebagai PT. MITRA MANUNGGAL PERSADA
ini yang akan menjadi ujung tombak dalam menjalankan bisnis dari unit-unit usaha koperasi yang
telah diserahkan dengan pengawasan dan arahan dari KIMU.
AGUSTUS 2014. RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM LUAR BIASA PT. CIPAGANTI CITRA GRAHA TBK.
KIMU menghadiri RUPSLB PT.Cipaganti Citra Graha Tbk., yang diselenggarakan pada tanggal 25
Agustus 2014 dengan misi bersuara untuk menempatkan wakil para mitra untuk dapat duduk dalam
kepengurusan PT.Cipaganti Citra Graha Tbk., agar dapat memantau kepentingan para mitra
semua. Namun, sungguh disayangkan, hasil voting RUPSLB tersebut, saham para mitra yg berasal
dari Koperasi Cipaganti dan dari PT. Cipaganti Global Corporindo (CGC), dikalahkan oleh mayoritas

pemegang saham yang saat ini menguasai PT.CCG tbk tersebut. Dengan kata lain, saat ini, Adianto
Setiabudi bukan merupakan pihak pengendali saham pada PT.CCG Tbk tersebut. Adapun pada RUPSLB
tersebut, saham AS yg diserahkan kepada para mitra 12,18%. PT.CCG tbk ini adalah perusahaan
yang mengelola bisnis travel dan persewaan mobil.
Atas dasar hasil RUPSLB tersebut, KIMU suda melayangkan surat kepada jajaran pengurus CCG Tbk
yang baru yang menyatakan MITRA KEBERATAN DENGAN JAJARAN PENGURUS PT. CCG YANG BARU,
karena tidak dapat mengakomodir keterwakilan mitra didalam jajaran pengurus. Karenanya, melalui
surat itu pula, KIMU mengusulkan 2 anggota KIMU untuk mewakili mitra dalam kepengurusan PT.
CCG karena memiliki kepentingan besar terhadap PT. CCG Tbk berdasarkan perjanjian Damai PKPU
yang dilegalisasi oleh PN Niaga Jakpus pada tanggal 23 Juli 2014. Namun tetap saja, PT. CCG Tbk
menolak permintaan tersebut.
SEPT 2014. DIALOG KIMU & MITRA USAHA DI BANDUNG-JAKARTA
Merespon keinginan mitra usaha yang haus akan informasi mengenai sejauh mana proses yang sudah
dijalankan KIMU terkait perjanjian damai dan road map KIMU dalam proses pengembalian modal
mitra ini, maka KIMU melakukan beberapa dialog & sosialisasi dengan mitra, baik di Bandung maupun
di Jakarta. Kegiatan ini dilakukan dalam beberapa waktu & sesi.

1.
2.

1.
2.

SEPT 2014. AUDIENSI KIMU DENGAN POLDA JAWA BARAT


Selain melakukan dialog dan konsolidasi dengan mitra usaha, KIMU juga melakukan audiensi kepada
Pimpinan Kepolisian Daerah jawa Barat untuk menyampaikan hasil perdamaian secara langsung
kepada pihak Polda. Audiensi ini dilakukan KIMU guna memperoleh:
Komitmen penuh jajaran POLDA sebagai lembaga pelayanan publik yang mengedepankan prinsip
keadilan & transparansi dalam penegakan hukum untuk membantu setiap langkah strategi KIMU
untuk merealisasikan perjanjian damai.
Izin permanen bagi KIMU untuk melaksanakan rapat koordinasi secara berkala dengan AS selaku
Pengawas Koperasi sekaligus Direktur Cipaganti Global Corporindo yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari perjanjian perdamaian.
SEPT-OKT 2014. AUDIENSI KIMU DENGAN AS DI TAHANAN
Selain melakukan audiensi dengan jajaran POLDA Jabar, KIMU juga beberapa kali melakukan audiensi
dengan AS yang berada di dalam tahanan Polda Jabar. Tujuan dari audiensi ini untuk :
Kejelasan komitmen AS atas penyelesaian kewajiban kepada para mitra
Konsolidasi aspek-aspek strategis (teknis, legalitas, pendanaan, dll) dengan AS terkait keputusankeputusan pengelolaan/penjualan atas aset-aset yang tercantum dalam Prodam.

KESIMPULAN
Koperasi merupakan lembaga dimana orang-orang yang memiliki kepentingan relatif homogen
berhimpun untuk meningkatkan kesejahteraannya. Konsepsi demikian mendudukkan koperasi
sebagai badan usaha yang cukup strategis bagi anggotanya dalam mencapai tujuan-tujuan
ekonomis yang pada gilirannya berdampak kepada masyarakat secara luas. Di sektor pertanian
misalnya, peranserta koperasi di masa lalu cukup efektif untuk mendorong peningkatan produksi
khususnya di subsektor pangan. Selama era tahun 1980-an, koperasi terutama KUD mampu
memposisikan diri sebagai lembaga yang diperhitungkan dalam program pengadaan pangan
nasional. Ditinjau dari sisi produksi pangan khususnya beras, peran signifikannya dapat diamati
dalam hal penyaluran prasarana dan sarana produksi mulai dari pupuk, bibit, obat-obatan, RMU
sampai dengan pemasaran gabah atau beras. Meskipun demikian dari sisi konsumsi, ketersediaan
bahan pangan bagi konsumen seringkali menjadi bahan perbincangan sebab jaminan kualitas dan
kuantitas tidak selalu terpenuhi. Sementara itu, di dalam negeri telah terjadi berbagai perubahan
seiring dengan berlangsungnya era globalisasi dan liberalisasi ekonomi dan kondisi tersebut

membawa konsekuensi serius dalam hal pengadaan bahan pangan. Secara konseptual liberalisasi
ekonomi dengan menyerahkan kendali roda perekonomian kepada mekanisme pasar ternyata
dalam prakteknya belum tentu secara otomatis berpihak kepada komunitas ekonomi lemah atau
kecil. Kondisi yang relatif identik berlangsung di sektor pangan dan diperkirakan karena belum
tertatanya sistem produksi dan distribusi dalam mengantisipasi perubahan yang sudah terjadi.
Semula peran Bulog sangat dominan dalam pengadaan pangan dan penyangga harga dasar, tetapi
sekarang setelah tiadanya paket skim kredit pengadaan pangan melalui koperasi dan
dihapuskannya skim kredit pupuk bersubsidi maka pengadaan pangan hampir sepenuhnya
diserahkan kepada mekanisme pasar. Sebagai dampaknya, peran koperasi dalam pembangunan
pertanian dan ketahanan pangan semakin tidak berarti lagi. Bahkan sulit dibantah apabila
terdapat pengamat yang menyatakan bahwa pemerintah tidak lagi memiliki konsep dan program
pembangunan koperasi yang secara jelas memposisikan koperasi dalam mendukung ketahanan
pangan nasional. Sebelum masa krisis (tahun 1997) terdapat sebanyak 8.427 koperasi yang
menangani ketersediaan pangan, sedangkan pada masa krisis (tahun 2000) terjadi penurunan
menjadi 7.150 koperasi (Kementerian Koperasi dan UKM, 2003). Fakta ini mengungkap
berkurangnya jumlah dan peran koperasi dalam bidang pangan, meskipun begitu beberapa
koperasi telah melakukan inovasi model-model pelayanan dalam bidang pangan seperti bank
padi, lumbung pangan, dan sentra-sentra pengolahan padi. Fakta lain menunjukkan bahwa
selama tiga tahun terakhir (tahun 2001 2003), terdapat kesenjangan antara produksi padi dan
jagung dengan kebutuhan konsumsi yang harus ditanggulangi dengan impor.