Anda di halaman 1dari 4

Pengaruh Perbedaan Wadah terhadap keberhasilan Pembenihan

Ikan Maskoki (Carassius auratus)


Edy Miswar, Syukran, Safrita Heru Anggriani
Ikan Maskoki memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan nilai estetika yang
khas sehingga sangat digemari oleh pencinta ikan hias. Secara morfologi bentuk awal
maskoki sama seperti ikan mas tetapi memiliki sungut dimulutnya. Maskoki termasuk
jenis ikan yang sudah lama dipelihara sebagai ikan hias. Keberhasilan ikan maskoki
sangat tergantung pada kondisi induk dan manipulasi lingkungan yang diberikan.
Kecenderungan masalah pembenihan ikan maskoki berkaitan dengan induk yang
akan dipijahkan, dikarenakan kualitas benih maskoki yang dihasilkan sangay
bergantung pada kualitas induk yang dibiakkan. Kondisi lingkungan pemeliharaan
dan pembudidaya juga menjadi factor penting dalam pembenihan maskoki.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Jawa Barat dengan menggunakan metode
eksperimen. Dua wadah treatmen digunakan yaitu bak fiber berbentuk bulat, diameter
150 cm, tinggi 70 cm yang berjumlah 4 unit dan akuarium yang berukuran
100x60x60 cm dengan jumlah 8 unit. Pemijahan secara missal dengan perbandingan
induk di dalam wadah 1:2 yaitu satu betina dan dua jantan. Ditempatkan 15 induk
betina dan 30 induk jantan di dalam bak fiber sedang di dalam akuarium dimasukkan
2 induk betina dan 4 induk jantan. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari, pukul
8.00 dan 15.00 WIB. Induk diberikan apakan berupa pellet, sedangkan larva
diberikan bubur pellet yang telah dihancurkan dan dilarutkan terlebih dahulu.
Didalam bak fiber diisi air hingga mencapai ketinggian 50 cm dan di dalam akuarium
diisi 30 cm. kualitas air diamati dan diukur secara periodic, berupa suhu, pH, DO, dan
amoniak. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah Hatching Rate (HR) dan
Survival Rate (SR).

Tingkat keberhasilan pembenihan ikan sangat dipengaruhi oleh factor


lingkungan disekitarnya. Wadah sebagai media tempat ika mas koki hidup harus
diupayakan menjadi tempat yang sesuai melalui modifikasi tertentu, sehingga kualitas
air didalamnya terjaga dengan baik. Jumlah ikan yang dipelihara harus
dipertimbangkan dalam segi jumlahnya, sebab akan mempengaruhi lamanya tingkat
penurunan kualitas air, proses perkawianan ikan serta pemijahan ikan.
Tingkat keberhasilan pemijahan yaitu HR yang terbaik didapati pada wadah
wadah fiber 54,95%. Fiber yang memiliki volume yang lebih besar dengan ruang
yang lebih luas memungkinkan untuk menempatkan ikan dengan jumlah yang lebih
padat yaitu 45 ekor yang terdiri dari 15 betina dan 30 jantan.

Betina dapat menempatkan telur dengan leluasa dibagian ruang fiber, dengan jumlah
jantan yang demikian, sehingga telur dapat terbuahi secara lebih baik karena sperma
jantan dapat menjangkau telur. Sedangkan pada wadah akuarium (2 betina + 4
jantan), jumlah telur yang diperoleh tinggi yaitu sebanyak 80.000 butir telur, namun
hanya menetas sebanyak 12.600, dan dapat dilihat bahwa terdapat persentasi
sebanyak 15,75% telur yang menetas dan terdapat 84,25% telur yang tidak menetas
atau gagal menetas. Jumlah jantan dalam akuarium diperkirakan tidak dapat
membuahi telur secara merata, sehingga sebagian telur tidak dicapai oleh sperma.
Selain telur yang tidak bertemu dengan sperma cenderung sangat cepat terdegradasi
yang kemudian akan dengan cepat merusak kualitas air. Hal tersebut juga

mempengaruhi sebagian telur yang terbuahi dan berakibat gagal dalam pemijahan.
Hal inilah yang menyebabkan tingkat keberhasilan memijah (HR) didalam akuarium
sangat kecil dan jauh lebih sedikit dibandingkan bak fiber.
Perolehan data selama penelitian menunjukan bahwa tingkat keberhasilan
hidup (SR) larva pada wadah fiber lebih baik dari akuarium, 45,5 % larva menjadi
benih setelah pemeliharaanselama 33 hari, sedangkan pada akuarium hanya didapati
sebesar 35,19%.
Kedua wadah ini sama-sama memilki SR yang rendah, yaitu dibawah 50%.
Besar kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh lemahnya kondisi larva setelah menetas
dan terjadinya penurunan kualitas air akibat sebagian telur yang tidak berhasil
menetas dan membusuk. Selain itu pakan juga sangat berpengaruh dalam penyebab
penurunan kualitas air, pakan yang berlebihan dapat memicu munculnya kematian
akibat rusaknya kualitas air. Factor lain yang mempengaruhi juga adalah proses
pembusukan larva yang mati, dapat menghasilkan gas ammonia dan menyebabkan
larva lain juga mati.

Kualitas air air yang baik sangat diperlukan pada stadia larva dan post larva,
kecenderungan tingkat mortalitas pada periode ini lebih tinggi dari pada saat ikan
telah mencapai stadia benih atau ikan muda. Pemberian pakan yang teratur dan
jumlahnya yang proporsional akan dapat membantu bertahannya tingkat keberhasilan
hidup benih serta mendapat benih yang sehat dan gesit. Jenis pakan dan kandungan

nutrisinya harus dipertimbangkan, karena nutrisi yang seimbang adalah kunci utama
bagi ikan dapat tumbuh dengan normal da baik.
Dari hasil penelitian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa wadah
akuarium dan fiber dapat digunakan dalam proses perkawinan, pemijahan, serta
proses perawatan benih ikan mas koki. Namun, pada media wadah fiber lebih baik
dibandingkan akuarium, hal tersebut karena memungkinkan menempatkan induk
dengan padat tebar yang lebih tinggi, sehingga jumlah sperma jantan akan lebih
berpeluang mencapai telur untuk dibuahi. Pengontrolan kualitas air secara rutin akan
membantu untuk meningkatkan tingkat keberhasilan pembenihan, dengan kata lain
dapat menaikan perolehan Hatching Rate (HR) maupun Survival Rate (SR) yanglebih
tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Miswar, Edy. Syukran. Safrita. H.A. 2013. Pengaruh Perbedaan Wadah terhadap
keberhasilan Pembenihan Ikan Maskoki (Carassius auratus). Fakultas
kelautan dan Perikanan Universitas Syaikh Kuala. Banda Aceh