Anda di halaman 1dari 8

PRODUKTIVITAS PERAIRAN

TROFODINAMIKA DI EKOSISTEM PERAIRAN TERGENANG

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas paper


mata kuliah Produktivitas Perairan semester ganjil

Disusun oleh :
M Fauzi Chairul U
Ayu Nurul F
Abduyana Purwidyo
Dzaki rinaldi
Riza Fauzi
Thesar M
Ina Rahmawati
Gun Gun Cahyadi

230110090112
230110130079
230110130092
230110130102
230110130115
230110130126
230110130140
230110130151

Kelompok 1
Perikanan B

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

1.

Definisi Perairan Tergenang

Perairan menggenang (lentik) adalah suatu bentuk ekosistem perairan yang


di dalamnya aliran atau arus air tidak memegang peranan penting. Hal ini karena
aliran air tidak begitu besar atau tidak mempengaruhi kehidupan organisme yang
ada di dalamnya. Pada perairan ini faktor yang amat penting diperhatikan adalah
pembagian wilayah air secara vertikal yang memiliki perbedaan sifat untuk tiap
lapisannya, contoh dan jenis perairan ini adalah danau, rawa, situ, kolam dan
perairan menggenang lainnya.
Perairan menggenang di bagi dalam tiga lapisan utama yang didasari oleh
ada tidaknya penetrasi cahaya matahari dan tumbuhan air, yaitu: Littoral, limnetik
dan profundal, sedangkan atas dasar perbedaan temperatur perairannya, perairan
menggenang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: metalimnion, epilimnion, dan
hipolimnion. Kelompok organisme di perairan menggenang berdasarkan niche
utama dalam kedudukan rantai makanan meliputi produser (autotrof), makro
konsumer (heterotrof) dan mikrokonsumer (dekomposer). Kelompok organisme
yang ada di perairan menggenang berdasarkan cara hidupnya meliputi: benthos,
plankton, perifiton, nekton dan neuston.
Ciri-ciri ekosistem lentik antara lain arusnya stagnan (hampir tidak ada
arus), organismenya tidak terlalu membutuhkan adaptasi khusus, ada stratifikasi
suhu, substrat dasar berupa lumpur halus, residence time-nya relatif lebih lama.
Selain itu juga pada ekosistem tergenang kadar oksigen yang terlarut tidak terlalu
besar karena keadaan arusnya yang tenang. Organisme yang mendiami perairan
tergenang cenderung beragam dan pH perairannya berkisar antara 6,0-7,0 (Odum
1971).
Danau atau situ merupakan satu dari tipe perairan darat dengan ciri utama
tergenang dalam waktu tinggal yang lama, sehingga memungkinkan biota untuk
hidup lebih lama dan berkembang. Perbedaan proses pembentukan dan ciri
fisiknya, memungkinkan perairan ini memiliki parameter kimia yang beragam.
Zonase perairan tergenang terbagi menjadi dua, yaitu zona benthos dan zona
kolom air. Berdasarkan tingkat kesuburannya, perairan tergenang dapat
dibedakan menjadi oligotrofik (miskin hara), meso. trofik (haranya sedang),
eutrofik (kaya unsur hara).

Danau merupakan kumpulan air yang seolah-olah berda dalam suatu


baskom dan tidak mempunyai hubungan dengan laut atau merupakan suatu badan
air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga
ratusan meter persegi. Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi
cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi
fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari
disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang
drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan
daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai
dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Setiap perairan memiliki karakteristik
yang berbeda, baik secara fisik maupun kimiawi. Pada ekosistem perairan
tergenang tidak terdapat arus atau bahkan cenderung stagnan. Residene time yang
lama merupakan salah satu faktor pembeda antara perairan tergenag dan perairan
mengalir.

2.

Distribusi Organisme di Perairan Menggenang


Pada zona litoral, produser utamanya adalah tanaman yang berakar

(anggota spermatophyta) dan tanaman yang tidak berakar (fitoplankton, ganggang


dan tanaman hijau yang mengapung). Sedangkan konsumernya meliputi beberapa
larva serangga air seperti, platyhelminthes, rotifer, oligochaeta, moluska, amphibi,
ikan, penyu, ular dan lain sebagainya. Pada zone limnetik, produsernya terutama
fitoplankton dan tumbuhan air yang terapung bebas seperti, water hyacinth
(Eichornia crassipes), Cerratophyllum sp, Utricularia sp, Hydrilla verticillata,
duckweed (Lemna sp); dan vascular plants, seperti: Equisetum sp; Ioetes sp dan
Azolla sp. Sedangkan konsumernya meliputi zooplankton dari copepoda, rotifera
dan beberapa jenis ikan. Pada zona profundal, banyak dihuni oleh jenis-jenis
bakteri dan fungi, cacing darah, yang meliputi larva chironomidae, dan annelida
yang banyak mengandung haemoglobin, jenis-jenis kerang kecil seperti anggota
famili sphaeridae dan larva "phantom" atau Chaoboras (corethra). Rantai makanan
adalah suatu transfer energi dari tumbuhan melalui serangkaian organisme dengan
jalan makan-memakan. Pada tiap transfer ada 80-90% energi potensial yang
hilang sebagai panas. Oleh karena itu rantai makanan dalam satu deretan

jumlahnya terbatas, biasanya 4 - 5 tingkat. Makin pendek rantai makanan, maka


lebih banyak tersedia energi yang dapat dimanfaatkan (Irwan 1992).
3.

Analisis Trofodinamika di Danau Ranau Sumatera Selatan


Danau Ranau adalah danau terbesar ke dua di Sumatera. Danau ini terletak

di perbatasan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan


Komering Ulu Selatan

Provinsi Sumatera Selatan. Danau ini tercipta dari

gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan
besar.

Terletak

pada

posisi

koordinat 45145LS,1035550BT.

Secara

geografis topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah hal ini praktis
menjadikan danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk (Wikipedia 2015).

Gambar 1. Jaring-jaring makanan di Dana Ranau Sumatera Selatan


Dari gambar 1 diatas dapat diketahui terdapat beberapa rantai makanan

Detritus Pristolepsis grooti Hampala macrolepidota

Detritus Cyclocheilichtyes apogen

Detritus Oreochromis mosambicus Hampala macrolepidota

Tumbuhan air Puntius sp.

Tumbuhan air Osteochilus vittatus Hampala macrolepidota

Tumbuhan air Tor sp

Fitoplankton Puntius sp

Fitoplankton Oreochromis mosambicus Hampala macrolepidota

Fitoplankton Osteochilus vittatus Hampala macrolepidota

Moluska Pristolepsis grooti Hampala macrolepidota

Moluska Hampala macrolepidota

Insekta Hampala macrolepidota


Insekta Hemibagrus nemurus
Insekta Notopterus notopterus

Gambar 2. Piramida makanan di Danau Ranau


Dari piramida makanan ini dapat diketahui bahwa produsen primer di
danau Ranau adalah insekta, moluska, tanaman air, fitoplankton dan detritus.
Produsen primer didominasi oleh tanaman dimana tanaman melakukan
fotosintesis sehingga mampu menyediakan energi untuk organisme di perairan.
Konsumen primer

terdiri dari Oreochromis mossambicus (ikan mujair),

Osteochilus vittatus (ikan nilem/palau), Puntius sp. (ikan selibak, keperas) dan
Tor sp. (Ikan semah). Konsumen sekunder terdiri dari Hemibagrus nemurus (Ikan
Baung), Notopterus notopterus (Ikan Putak) , Cyclocheilichtyes apogon (Ikan
Kepiat), Pristolepis grooti (Ikan Kepor) dan konsumen tersier diduduki oleh
Hampala macrolepidota (Ikan Hampal).

Tabel 1. Spesies ikan di Danau Ranau dan trofiknya


No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama Lokal
Hampal
Kepor
Tilapia
Palau
Selibak, Keperas
Baung
Kepiat
Putak
Semah
Berdasarkan rantai

Nama Latin
Grup Trofik
Hampala macrolepidota
Karnivora
Pristolepis grooti
Omnivora
Oreochromis mossambicus
Herbivora
Osteochilus vittatus
Herbivora
Puntius sp.
Herbivora
Hemibagrus nemurus
Karnivora
Cyclocheilichtyes apogon
Omnivora
Notopterus notopterus
Karnivora
Tor sp.
Herbivora
makanan , Hampala ( Hampala macrolepidota )

adalah ikan karnivora yang makanan utamanya adalah ikan . Dalam jaring-jaring
makanan dan piramida , Hampala merupakan ikan konsumsi tersier di Danau
Ranau atau berada di puncak piramida makanan . Hampala memainkan peran
yang baik dalam menjaga keseimbangan populasi antara ikan predator dan non predator

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.
Irwan.

2015. Danau Ranau. https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Ranau.


Diakses 24 November 2015 pukul 21:14 WIB
1992. Ekosistem Perairan. http://rainadpa.blogspot.com/2010/01/polalongitudinal-ekosistem-sungai.html. Diakses 24 November 2015 pukul
22:02 WIB

Makmur, S dkk. 2014. Food habit of hampala ( Hampala macrolepidota) Kuhl &
Van Hasselt 1823) and its position in food web, food pyramid and
population equilibrium of ranau lake, Indonesia. Research Institute for
Inland Fisheries, Palembang, Indonesia. Faculty of Fisheries and
Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia
Odum, E.P. 1971. Dasar-Dasar Ekologi. 4rd ed. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.