Anda di halaman 1dari 135

ISSN : 1907 7378

FARMAKOLOGI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI DAN


PENGETAHUAN ALAM ( STIFA ) PELITA MAS
PALU

2015
VOL. XI NO. 1, FEBRUARI 2015

KOMPOSISI PERSONALIA TIM PENGELOLA


JURNAL ILMIAH FARMASI
STIFA PM-PALU

Pelindung/Penasehat:
Ketua STIFA
Drs. Joni Tandi, M.Kes.,Apt.
Ketua Lembaga Penelitian STIFA
Dr. Baso Amri., M,Si

Penanggung Jawab:
Pembantu Ketua I STIFA
Dermiati T, S.Farm., M.Si., Apt

Ketua Penyunting:
Niluh Puspita Dewi, S.Farm., M.Si., Apt

Sekretariatan:
Feiverin Tibe, S.Farm., M.Si., Apt
Mustofa
I Wayan Wirawan, S.Farm., M.Si., Apt
Koordinator Dana:
Yuliana

Alamat Sekretariat:
Kampus STIFA-PM Palu
Jln. Wolter Monginsidi No. 106 A
Palu Sulawesi Tengah
Email: jurnalstifa@yahoo.co.id
Kontak Person
085341419115
082191916697
085342476999

Farmakologi

Jurnal Farmasi

Vol. XI, No.1, Februari 2015

DAFTAR ISI
Halaman
1 - 15

Agung Kadek
Sumiasih, Syariful
Anam, H. Baso
Amri

Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak


Etanol Daun Kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr) Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang
Diinduksi Streptozotosin

Abd. Rahman,
Ummul Fitiyani
Yala, Niluh
Puspita Dewi

Uji Efektivitas Pemberian Ekstrak Daun Insulin


(Thitonia diversifolia [Hemsl.] A. Gray) sebagai
Antidiabetes Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus
norvegicus) yang Diinduksi Streptozotosin

16 - 28

Winartivira

Uji Aktivitas Antioksidan Krim Ekstrak Daun Kersen


(Muntingia calabura L.) dengan Metode Peredaman
Radikal Bebas DPPH

29 - 41

Mugiati, Joni
Tandi,
Purwaningsih,
Ummul Fitiyani

Profil Pengunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi


Saluran Kemih Pada Bangsal Penyakit Dalam
Selama Periode Desember 2013 Februari 2014 di
RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah

42 - 54

Muthmainah
Tuldjanah., Yuliet,
Dermiati T.

Uji Aktivitas Antioksidan Dan Tabir Surya Krim


Ekstrak Kulit Batang Kersen (Muntingia calabura)

55 - 68

Nurhayati, Joni
Tandi, Yuliet,
Dermiati T

Uji Aktivitas Antibakteri Gel Antiseptik Ekstrak


Daun Kersen (Muntingia calabura) terhadap Bakteri
Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan
Pseudomonas aeruginosa

69 - 81

Annastasia
Gantima, Yusriadi,
Dermiati T.

Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak


Etanol
Kulit
Batang
Nangka
(Artocarpus
heterophyllus Lam) Terhadap Tikus Putih (Rattus
norvegicus) yang Diinduksi Streptozotocin

82 - 90

Linda Pratecia,
Yuliet, Feiverin
Tibe

Uji Efek Antiinflamasi Salep Ekstrak Daun


Binahong (Anredera cordifolia T. Steen) Terhadap
Tikus (Rattus norvegicus L.) Edema dengan Induksi
Karagenan

91 - 107

Aprilia arieska
Thomson, Yuliet,
Sri.

Uji Efektivitas Antiagregasi Paltelet Kombinasi


Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa
bilimbi L) dan Herba Pegagan (Centella asiatica)
Terhadap Tikus Putih
Jantan (Rattus norvegicus)

108 - 118

Imelda RL, Yuliet,


Niluh P.

Efek Hepatoprotektor Ekstrak Etanol Buah Terong


Belanda (Solanum betaceum Cav) Terhadap Kadar
SGOT DAN SGPT Tikus Putih Jantan (Rattus
norvegicus) Induksi CCl4

119 - 132

UJI EFEK PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH EKSTRAK ETANOL


DAUN KECAPI (Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr) PADA TIKUS
PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN
THE EFFECT TEST of DECREASE in BLOOD GLUCOSE LEVELS of
ETHANOL EXTRACT of KECAPI LEAVES (Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr) in RATS (Rattus norvegicus) INDUCED STREPTOZOTOCIN
Oleh
Agung Kadek Sumiasih, Syariful Anam, H. Baso Amri
Abstrak. daun kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr) merupakan tanaman obat
yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak daun kecapi terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus putih dan untuk mengetahui dosis ekstrak daun kecapi yang
efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus putih yang diinduksi
streptozotosin dosis 40 mg/kg BB secara intraperitoneal. Penelitian ini menggunakan
hewan uji tikus putih jantan (Rattus norvegicus) sebanyak 15 ekor dengan metode
eksperimental laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok
(RAK) yang terbagi menjadi lima kelompok perlakuan. Kelompok I kontrol negatif
(Na.CMC), kelompok II ekstrak daun kecapi dosis 50 mg/kg BB, kelompok III ekstrak
daun kecapi dosis 100 mg/kg BB, kelompok IV ekstrak daun kecapi dosis 150 mg/kg
BB dan kelompok V kontrol positif (glibenklamid). Data hasil penelitian diolah
menggunakan uji statistik Analisis Sidik Ragam (Uji F) dan dilanjutkan dengan uji
lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa ekstrak daun kecapi
dosis 100 mg/kg BB dan dosis 150 mg/kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah
pada hari ke-7 dan hari ke-14, sementara ekstrak daun kecapi dosis 50 mg/kg BB dapat
menurunkan kadar glukosa darah pada hari ke-14. Berdasarkan hasil tersebut
disimpulkan bahwa ekstrak daun kecapi dosis 100 mg/kg BB yang efektif dalam
menurunkan kadar glukosa darah tikus putih yang diinduksi streptozotosin.
Kata kunci : Daun kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr), Glukosa darah,
Tikus putih, Streptozotosin.
Abstract. Kecapi leaves (Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr) is a medicinal plant that
is widely used by people to treat disease. This study aimed to determine the effect of
extract of kecapi leaves decrease blood glucose levels of white rats and to determine
dose kecapi leaves extract is effective in lowering blood glucose levels streptozotocin
rats induced a dose of 40 mg/kg body weight intraperitoneally. This study used a test
animal male rats (Rattus norvegicus) as much as 15 rats with laboratory experimental
method using a Randomized Block Design (RBD) were divided into five treatment

groups. Group I negative control (Na.CMC), group II kecapi leaf extract dose of 50
mg/kg body weight, group III kecapi leaf extract dose of 100 mg/kg body weight,
group IV kecapi leaf extract dose of 150 mg/kg body weight and groupV positive
control (glibenclamide). Data were statistically analyzed using analysis of variance test
(Test F) and followed by a further test Honestly Significant Difference (HSD). HSD
test results show that the leaf extract kecapi dose of 100 mg/kg body weight and a
dose of 150 mg/kg body weight can lower blood glucose levels on day 7 th and day
14th, while the kecapi leaf extract dose of 50 mg/kg body weight can reduce levels
blood glucose on day 14th. Based on the results can be concluded that the leaf
extract kecapi dose of 100 mg/kg body weight is effective in lowering blood glucose
levels induced rats streptozotocin.
Keywords : Leaves kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr), Blood glucose,
Rats white, Streptozotocin.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara
tropis yang sudah dikenal sebagai
penghasil berbagai macam komoditas
hasil pertanian, termasuk diantaranya
tanaman obat. Kondisi tanah yang
subur,
iklim
yang
baik
serta
didukung oleh keanekaragaman flora
membuat Indonesia menjadi negara
penghasil komoditas obat- obatan yang
berasal dari alam yang cukup
potensial.1
Penggunaan
tumbuh-tumbuhan
dalam penyembuhan adalah bentuk
pengobatan tertua di dunia, setiap
budaya di dunia memiliki sistem
pengobatan tradisional yang khas dan di
setiap daerah dijumpai berbagai macam
jenis
tumbuhan
yang
dapat
dimanfaatkan sebagai obat.2 Sejak
ratusan tahun yang lalu, leluhur bangsa
Indonesia telah terkenal
pandai
meracik
jamu
dan
obat-obatan
tradisional. Beragam jenis tumbuhan
seperti, akar, rimpang, batang, buah,
daun, bunga dan bahan-bahan alamiah

lainnya
diracik sebagai
ramuan
tradisional
untuk
menyembuhkan
berbagai penyakit.3
Menurut
World
Health
Organization (WHO) pada tahun 2013
terdapat 382 juta orang di seluruh
dunia atau 8,3 % menderita penyakit
diabetes melitus.4
Berdasarkan
International
Diabetes Federation (IDF) pada tahun
2014 mengungkapkan bahwa penderita
diabetes
melitus
di
Indonesia
menempati urutan ke-7 dengan jumlah
penderita diabetes melitus sebanyak 8,5
juta orang.5
Menurut laporan
RISKESDAS
pada
tahun 2013,
prevalensi diabetes melitus di Indonesia
berdasarkan
wawancara
yang
terdiagnosis sebesar 1,5 %, diabetes
melitus terdiagnosis atau gejala
sebesar 2,1%. Prevalensi
tertinggi
terdapat DI Yogyakarta (2,6%), DKI
Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%),
dan Kalimantan
Timur
(2,3%).
Prevalensi diabetes melitus yang

terdiagnosis atau gejala, tertinggi


terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%),
Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi
Selatan (3,4%), dan Nusa Tenggara
Timur (3,3%).6
Tumbuhan
kecapi
banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat dalam
pengobatan tradisional sebagai obat
diare, obat mulas, sakit mata, obat
panas, keputihan, dan obat batuk.7
Daun kecapi sebelumnya sudah
diteliti oleh Risna S. Siregar
sebagai antimikroba dan juga
oleh I.M. Dira Swantara dan

pernah
(2009)
diteliti
Yenni
Ciawi (2009) sebagai antibakteri.7,8
Berdasarkan hasil penelitian skrining
fitokimia pada ekstrak etanol daun
kecapi
yang
telah
dilakukan
terdapat
kandungan senyawa kimia
alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin,
dan tanin. Senyawa-senyawa kimia
tersebut
diketahui dapat berkhasiat
sebagai antidiabetes, seperti senyawa
alkaloid
terbukti
secara
nyata
mempunyai kemampuan regenerasi sel
pankreas yang rusak. Peningkatan
sekresi insulin diakibatkan oleh adanya
efek perangsangan saraf simpatis
(simpatomimetik).9
Mekanisme dalam penyembuhan
penyakit diabetes melitus, flavonoid
diduga berperan secara signifikan
meningkatkan
aktivitas
enzim
antioksidan dan mampu meregenerasi
sel-sel pankreas yang rusak sehingga
defisiensi
insulin
dapat
diatasi.
Flavonoid yang terkandung di dalam
tumbuhan di duga juga dapat
memperbaiki
sensitifitas
reseptor
insulin, sehingga adanya
flavonoid
memberikan
efek
yang

menguntungkan

pada

keadaan

melitus.10

diabetes
Senyawa saponin juga berperan
dalam menurunkan kadar
glukosa
darah yaitu dengan menghambat
aktivitas enzim alfa glukosidase, yaitu
enzim yang terdapat dalam pencernaan
yang bertanggung jawab terhadap
pengubahan
karbohidrat
menjadi
glukosa.11
Polifenol
berfungsi
sebagai
antioksidan sehingga penderita diabetes
melitus membutuhkan
antioksidan
dalam pengobatannya, karena kadar
gula darah yang tinggi dalam jangka
waktu yang lama akan memicu
timbulnya reaksi autooksidasi yang
mengakibatkan menumpuknya radikal
bebas dalam tubuh penderita diabetes
melitus, oleh karena itu dibutuhkan
suatu senyawa yang mampu mengikat
radikal
bebas
untuk menekan
timbulnya komplikasi.12
Tanin
berfungsi sebagai
astrigens
atau
pengkhelat
yang
dapat
mengerutkan membran epitel usus halus
sehingga mengurangi penyerapan sari
makanan dan sebagai akibatnya
menghambat asupan gula dan laju
peningkatan
gula
darah
tidak
terlalu tinggi. Tanin diketahui dapat
memacu metabolisme glukosa dan
lemak sehingga timbunan kedua kalori
ini dalam darah dapat dihindari. Tanin
juga mempunyai aktivitas hipoglikemik
yaitu
dengan
meningkatkan
glikogenesis.13
Berdasarkan dari kandungan
senyawa
kimia yang terdapat pada
daun kecapi yang dapat menurunkan
kadar glukosa darah sehingga peneliti

tertarik untuk melakukan


penelitian
Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa
Darah Ekstrak Etanol Daun Kecapi
(Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr)
Pada Tikus Putih Yang Diinduksi
Streptozotosin. Rumusan permasalahan
dalam penelitian apakah ekstrak
daun kecapi dapat menurunkan kadar
glukosa darah tikus putih yang
diinduksi streptozotosin dan pada
dosis berapakah ekstrak daun kecapi
memberikan efek yang efektif dalam
menurunkan kadar glukosa darah tikus
putih yang diinduksi streptozotosin.
Tujuan
penelitian
yaitu
untuk
mengetahui efek ekstrak daun kecapi
terhadap penurunan kadar glukosa
darah tikus putih yang diinduksi
streptozotosin dan untuk mengetahui
dosis ekstrak daun kecapi yang
efektif
dalam
menurunkan kadar
glukosa darah tikus putih yang
diinduksi streptozotosin.
Manfaat penelitian semoga dapat
memberikan informasi ilmiah kepada
masyarakat tentang kegunaan dari daun
kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr) dalam menurunkan kadar glukosa
darah sehingga penggunaan
daun
kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr)
dapat
dikembangkan
di
masyarakat sebagai pengobatan diabetes
melitus. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK)
yaitu dengan membandingkan kadar
glukosa darah tikus putih yang
diinduksi streptozotosin sebelum dan
sesudah pemberian ekstrak
daun
kecapi. Variasi dosis yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu ekstrak daun
kecapi dosis 50 mg/kg BB, ekstrak daun

kecapi dosis 100 mg/kg BB dan ekstrak


daun kecapi dosis 150 mg/kg BB.
Jumlah hewan uji yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 15 ekor
tikus putih jantan yang terbagi dalam 5
kelompok perlakuan dengan 3 kali
pengulangan pada setiap kelompok.
Glukosa darah tikus putih di ukur
dengan menggunakan alat glukometer
(nesco). Data hasil penelitian yang
diperoleh diolah dengan menggunakan
Analisis Sidik Ragam (Uji F).
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada
Analisis Sidik Ragam (Uji F) terdapat
perbedaan antar perlakuan, sehingga
dilakukan uji lanjut sesuai dengan nilai
Koefisien Keragaman (KK) yang
diperoleh. Nilai Koefisien Keragaman
(KK) yang diperoleh yaitu kurang dari
10 % sehingga dilakukan uji lanjut yang
sesuai yaitu dengan menggunakan Uji
Beda Nyata Jujur (BNJ).
METODE PENELITIAN
Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Juni 2014 sampai bulan Agustus
2014, Penelitian dilaksanakan di
laboratorium
Fitokimia,
Farmakognosi
serta laboratorium
Farmakologi STIFA Pelita Mas Palu
dan
laboratorium
FitokimiaFarmakognosi
Fakultas
MIPA
Universitas Tadulako. Kota Palu
Provinsi Sulawesi Tengah.
Alat Yang Digunakan
Blender (sogo), botol gelap, batang
pengaduk, bejana maserasi, cawan
porselin, gelas kimia (pyrex), gelas
ukur (pyrex), glukometer (nesco),
gunting , jarum suntik ukuran 32,

jarum oral, kandang hewan tikus


putih, labu ukur, lumpang dan alu,
penangas air, rak tabung reaksi, satu
set mesin rotavapor, spoit injeksi 3 ml
(terumo syringe ), spoit oral 10 ml
(terumo syringe ), sudip, tabung reaksi
(pyrex),
strip
(nesco),
corong,
timbangan
analitik
(sartorius),
timbangan hewan (ohaus), tempat air
minum dan makan tikus.
Bahan Yang Digunakan
Aqua
pro
injeksi,
aquades,
aluminium foil, alkohol 75 %, etanol
95 %, etanol 96 %, ekstrak daun kecapi
(Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr),
FeCl3 1%, glibenklamid, HCl 2 N,
hewan uji tikus putih jantan (Rattus
norvegicus), kapas, Na. CMC, pereaksi
bouchardat,
serbuk
magnesium,
streptozotosin.
Pengambilan
Dan
Pengolahan
Sampel
Pengambilan sampel daun kecapi
dilakukan pada pagi hari dengan cara
daun kecapi dipetik
satu per satu
kemudian
daun
kecapi
dikumpulkan. Setelah daun kecapi
terkumpul kemudian dilakukan sortasi
basah dengan tujuan agar sampel yang
digunakan merupakan bahan
baku
simplisia yang dimaksud, bukan
dari tanaman lain sehingga perlu
dilakukan pemisahan dan pembuangan
bahan organik asing atau tumbuhan atau
bagian tumbuhan lain yang terikut.
Setelah proses sortasi basah kemudian
daun kecapi dicuci pada air yang
mengalir dengan tujuan agar bahan
simplisia
bersih tidak terdapat
campuran dengan tanah, serangga atau

bahan pengotor lainnya. Setelah


pencucian
kemudian
dilakukan
perajangan dengan tujuan agar proses
pengeringan berlangsung lebih cepat,
setelah
perajangan
dilakukan
pengeringan di dalam ruangan yang
terlindung dari cahaya matahari
langsung untuk menghindari terurainya
kandungan
kimia.
Setelah sampel
daun
kecapi
kering
(simplisia)
kemudian dilakukan sortasi kering
dengan
tujuan
untuk memisahkan
kotoran, bahan organik asing, dan
simplisia yang rusak yang disebabkan
karena berbagai proses sebelumnya.
Setelah dilakukan sortasi kering
kemudian simplisia dibuat serbuk
dengan cara di blender.14
Pembuatan Ekstrak
Serbuk kering daun kecapi
sebanyak
1
kg diekstraksi
menggunakan pelarut etanol 96 %
dengan menggunakan metode maserasi.
Proses ini dilakukan dengan cara
merendam serbuk
simplisia dalam
bejana maserasi selama 3 sampai 5 hari
pada suhu ruang dan terlindung dari
cahaya matahari sambil diaduk sekalikali setiap hari, setelah 3 sampai 5 hari
cairan penyari disaring dan ampasnya
diperas. Setelah itu kemudian ampasnya
di
remaserasi
kembali
dengan
menggunakan cairan penyari yang baru
hingga zat aktif dari sampel tersebut
terekstraksi seluruhnya. Setelah 3
sampai 5 hari kemudian
cairan
penyari di saring dan ampasnya
diperas. Hasil dari cairan penyari atau
filtrat yang di peroleh kemudian
dipekatkan dengan menggunakan alat
rotary evaporator untuk memisahkan

pelarut dengan zat


diuapkan di atas
untuk mendapatkan
etanol.15

aktif
lalu
penangas air
ekstrak kental

Uji Penapisan Fitokimia


1. Pengujian Alkaloid
Ekstrak daun kecapi 0,75 g
ditambah dengan 1 ml asam klorida 2
N dan 9 ml air, kemudian dipanaskan
diatas penangas air selama 2 menit,
setelah itu didinginkan dan di saring.
Pindahkan 3 tetes filtrat pada kaca arloji
dan di tambahkan dengan 2 tetes
Bourchardat LP. Jika terdapat endapan
berwarna coklat sampai kehitaman
sampel mengandung alkaloid.15
2. Pengujian Saponin
Ekstrak daun kecapi 0,75 g
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan 10 ml air
panas, lalu di dinginkan dan kemudian
kocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika
terbentuk buih yang menetap selama
tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1
cm sampai 10 cm atau pada
penambahan 1 tetes asam klorida 2 N
buih tidak hilang maka sampel
mengandung saponin.15
3. Pengujian Flavonoid
Ekstrak daun kecapi 0,75 g
diuapkan hingga kering kemudian
dilarutkan dalam 1 ml etanol (95%) P
dan ditambahkan 0,1 gram serbuk
magnesium P dan 10 ml asam klorida
pekat P, jika terjadi warna kuning
merah jingga sampai merah unggu
menunjukan
sampel
mengandung
flavonoid.15
4. Pengujian Tanin
Ekstrak daun kecapi

0,75

ditambahkan dengan 10 ml akuades


kemudian di saring dan filtratnya
di encerkan dengan air sampai tidak
berwarna. Kemudian larutan diambil
sebanyak 2 ml dan di tambahkan 1 - 2
tetes pereaksi FeCl3 1 %. Jika terjadi
arna biru hijau sampai kehitaman
menunjukkan sampel mengandung
tanin.16
5. Pengujian Polifenol
Ekstrak daun kecapi 0,75 g
ditambahkan dengan 5 ml akuades dan
didihkan selama 5 menit. Selanjutnya
dilakukan
penyaringan
hingga
diperoleh filtrat. Filtrat selanjutnya
ditambahkan dengan FeCl3
1%
sebanyak 5 tetes dan diamati perubahan
warna yang terjadi. Jika terjadi warna
hijau sampai kehitaman menunjukkan
sampel mengandung polifeno
Penyiapan Hewan Uji
Hewan uji tikus putih jantan
yang
digunakan dalam
penelitian
berjumlah
15
ekor.
Tikus
di
adaptasikan selama 2 minggu
kemudian tikus dikelompokkan secara
acak menjadi 5 kelompok perlakuan di
mana
masing-masing
kelompok
berjumlah 3 ekor tikus. Tikus
dipuasakan (tidak makan tapi tetap
diberi minum) selama 16 jam,
kemudian
berat
badan
tikus
ditimbang dan di ukur kadar glukosa
darah
puasa
pada
hari
ke-0.
Streptozotosin
diinjeksikan
sekali
dengan dosis 40 mg/kg BB secara
intraperitoneal. Setelah 3 hari (hari
ke-3), kadar glukosa darah dan berat
badan tikus kembali di ukur, untuk
memastikan
kadar streptozotosin
sudah meningkatkan kadar glukosa

darah.
Adapun
perlakuan
diberikan sebagai berikut:
1.

2.

3.

4.

5.

yang

Kelompok I sebagai kontrol


negatif (tikus sehat) diberikan
suspensi Na.CMC 0,5 %.
Kelompok II pemberian ekstrak
daun kecapi dosis 50 mg/kg BB
per oral.
Kelompok III pemberian ekstrak
daun kecapi dosis 100 mg/kg BB
per oral.
Kelompok IV pemberian ekstrak
daun kecapi dosis 150 mg/kg BB
per oral.
Kelompok V sebagai kontrol
positif atau pembanding
menggunakan suspensi
glibenklamid

dalam larutan Na- CMC 0.5%.


Pemberian
perlakuan
pada
masing-masing kelompok dilakukan
setiap hari secara oral mulai hari ketiga

setelah di induksi streptozotosin sampai


hari ke-14.,
Pada hari ke-7 dan hari ke-14 dilakukan
pengukuran kadar glukosa darah
kembali
dalam
keadaan
tikus
dipuasakan.17
ANALISIS DATA
Penelitian yang telah dilakukan
menggunakan metode
Rancangan
Acak Kelompok (RAK). Data hasil
penelitian yang diperoleh diolah dengan
menggunakan Analisis Sidik Ragam
(Uji F). Berdasarkan hasil yang
diperoleh pada Analisis Sidik Ragam
(Uji F)
terdapat perbedaan antar
perlakuan, sehingga dilakukan uji lanjut
sesuai
dengan
nilai
Koefisien
Keragaman (KK) yang diperoleh. Nilai
Koefisien Keragaman (KK) yang
diperoleh yaitu kurang dari 10 %
sehingga dilakukan uji lanjut yang
sesuai yaitu dengan menggunakan Uji
Beda Nyata Jujur (BNJ)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian
Tabel 1. Hasil Uji Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Kecapi
Jenis Uji

Hasil pengamatan

Keterangan

Uji Alkaloid
Uji Flavonoid

Terbentuk endapan berwarna coklat


Terjadi warna kuning jingga

(+)
(+)

Uji Saponin

Terdapat buih yang stabil

(+)

Uji Tanin

Terdapat warna hijau kehitaman

(+)

Uji Polifenol

Terdapat warna biru hijau sampai kehitaman

(+)

Keterangan:

(+) : Mengandung senyawa yang di uji


(-) : Tidak mengandung senyawa yang di uji

Tabel 2.

Data Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Setelah Pemberian


Ekstrak Daun Kecapi Pada Hari Ke-7.

Kelompok
Perlakuan
Kontrol Negatif
(Na. CMC)

Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih (mg/dl)


Tikus 1 Tikus 2 Tikus 3 Jumlah
Rerata
194
195
189 (Yi)578
192,66 a

Ekstrak Daun Kecapi Dosis 50


mg/kg BB

204

214

209

627

209 a

Ekstrak Daun Kecapi Dosis 100


mg/kg BB

291

250

277

818

272,66 b

241

223

231

695

231,66 ab

259

264

326

849

283 b

Ekstrak Daun Kecapi Dosis 150


mg/kg BB
Kontrol Positif (Glibenklamid)

Keterangan :
Abjad yang sama menunjukan perbedaan yang tidak signifikan, Abjad yang berbeda
menunjukan ada perbedaan yang signifikan
Tabel 3.

Data Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Setelah Pemberian


Ekstrak Daun Kecapi Pada Hari Ke-14
Kelompok
Perlakuan

Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih (mg/dl)


Tikus 1

Tikus 2

Tikus 3

Kontrol Negatif (Na. CMC)

80

75

92

Jumlah
(Yi)
247

Rerata

Ekstrak Daun Kecapi Dosis 50


mg/kg BB

219

359

376

954

318 b

Ekstrak Daun Kecapi Dosis 100


mg/kg BB

347

356

340

1043

347,66 b

Ekstrak Daun Kecapi Dosis 150


mg/kg BB

292

372

347

1011

337 b

Kontrol Positif (Glibenklamid)

383

391

345

1119

373 b

82,33 a

Keterangan :
Abjad yang sama menunjukan perbedaan yang tidak signifikan, Abjad yang berbeda
menunjukan ada perbedaan yang signifikan

Grafik 1. Profil kadar glukosa darah Selama perlakuan

600
500
400

Kontrol (-)

300

Dosis 50 mg/kg

200

Dosis 100 mg/kg

100

Dosis 150 mg/kg

BB K (+)
T0

T1

T2

T3

Keterangan :
T0 : Kadar glukosa darah awal
T1 : Kadar glukosa darah hari ke-3 setelah dinduksi
T2 : Kadar glukosa darah pada hari ke-7 setelah perlakuan
T3 : Kadar glukosa darah pada hari ke-14 setelah perlakuan
Pembahasan
Tanaman yang digunakan adalah
daun kecapi (Sandoricum koetjape
(Burm.f.) Merr). Hasil pengujian
penapisan fitokimia pada (Tabel 1) yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa
ekstrak etanol daun kecapi mengandung
senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol,
saponin dan tanin.
Uji efek ekstrak etanol daun
kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr) terhadap penurunan kadar
glukosa darah dilakukan pada tikus
putih jantan (Rattus norvegicus).
Pemilihan tikus putih sebagai hewan uji
karena tikus mudah dikembangbiakkan,
dapat digunakan sebagai model diabetik
sepontan maupun dengan induksi zat
diabetogenik, selain itu tikus putih
memiliki kemampuan metabolik yang
relatif cepat sehingga lebih sensitif jika

digunakan dalam penelitian yang


berhubungan
dengan
metabolik
tubuh.18 Sebelum dilakukan penelitian
tikus putih terlebih dahulu ditimbang
berat
badannya
dengan
tujuan
untuk memudahkan pemberian dosis
injeksi streptozotosin pada
setiap
masing-masing tikus
dan untuk
memudahkan pada saat pemberian dosis
obat pada tikus, kemudian tikus
dipuasakan selama 16 jam dengan
tujuan agar glukosa darah stabil dan
tidak terdapat perubahan kadar glukosa
darah karena asupan makanan.19
Setelah
tikus putih di puasakan selama 16
jam dilakukan pengambilan kadar
glukosa darah awal yaitu untuk
mengetahui bahwa kadar glukosa darah
tikus dalam keadaan normal dan

kemudian penginduksian dilakukan


pada tikus dengan menggunakan
streptozotosin dosis 40 mg/kg BB
diinjeksikan
secara
intraperitoneal
dengan tujuan menembus sel
Langerhans karena aksi streptozotosin
mampu membangkitkan oksigen reaktif
yang mempunyai peran tinggi dalam
kerusakan sel pankreas.20 Tujuan
pemberian obat glibenklamid pada
kontrol positif yaitu untuk melihat
bagaimana pengaruh ekstrak daun
kecapi terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus putih yang
diinduksi streptozotosin dibandingkan
dengan
obat
glibenklamid.
Pemberian ekstrak daun kecapi terhadap
penurunan kadar glukosa darah tikus
putih yaitu untuk mengetahui efek
perbandingan dari variasi dosis ekstrak
daun kecapi.
Pengukuran kadar glukosa darah
pada hari ke-0 pada kontrol negatif
(Na.CMC), ekstrak daun kecapi dosis
50 mg/kg BB, ekstrak daun kecapi
dosis 100 mg/kg BB, ekstrak daun
kecapi dosis 150 mg/kg BB dan kontrol
positif (glibenklamid) kadar glukosa
darah masih dalam keadaan normal <
110 mg/dl. Peningkatan kadar glukosa
darah terjadi setelah 3 hari atau
72 jam penginduksian setreptozotosin,
semua perlakuan pada kelompok
kontrol negatif (Na.CMC), kelompok
ekstrak daun kecapi dosis 50 mg/kg BB,
dosis 100 mg/kg BB, dosis 150 mg/kg
BB dan kelompok kontrol positif
(glibenklamid) mengalami peningkatan
kadar glukosa darah > 200 mg/dl.
Peningkatan kadar glukosa darah
terjadi
akibat
penginduksian
setreptozotosin yang mempunyai peran

tinggi dalam kerusakan sel pankreas


sehingga terjadi penghambatan sekresi
dan sintesis insulin.20 Insulin di dalam
tubuh dibutuhkan untuk memfasilitasi
masuknya glukosa ke dalam sel agar
dapat digunakan untuk metabolisme dan
pertumbuhan sel, dengan berkurangnya
atau tidak adanya insulin menjadikan
glukosa tertahan di dalam darah dan
mengakibatkan
peningkatan
kadar
glukosa darah.21
Pengaruh perlakuan terhadap
penurunan kadar glukosa darah tikus
putih diketahui dengan melakukan
analisis
statistik
menggunakan
Analisis
Sidik
Ragam (Uji F).
Berdasarkan hasil perhitungan, pada
hari ke-7 diperoleh nilai Fhitung
(23,48) > Ftabel (4,46) pada taraf
kepercayaan 95%, maka diperoleh
indikasi bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara dosis ekstrak daun
kecapi terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus putih. Data hasil
analisis Koefisien Keragaman (KK)
pada hari ke-7 diperoleh sebesar 1,6 %
karena nilai KK yang diperoleh dibawah
10 % sehingga dilakukan uji lanjut
dengan menggunakan Uji Beda Nyata
Jujur (BNJ). Uji lanjut dilakukan
untuk mengetahui dosis yang efektif
diantara ketiga dosis ekstrak daun
kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr). Hasil uji BNJ pada hari ke-7
diketahui bahwa kontrol negatif
(Na.CMC), ekstrak daun kecapi dosis
50 mg/kg BB berbeda nyata dengan
ekstrak daun kecapi dosis 100 mg/kg
BB, dosis 150 mg/kg BB dan kontrol
positif (glibenklamid).
Sedangkan
ekstrak daun kecapi dosis 150 mg/kg

10

BB berbeda tidak nyata dengan dosis


100 mg/kg BB dan kontrol positif
(glibenklamid).
Pada
hari
ke-7
diketahui bahwa ekstrak daun kecapi
dosis 100 mg/kg BB yang lebih efektif
dalam menurunkan kadar glukosa
darah. Meskipun ekstrak daun kecapi
dosis 150 mg/kg BB berbeda tidak
nyata dengan ekstrak daun kecapi
dosis 100 mg/kg BB akan tetapi ekstrak
daun kecapi dosis 100 mg/kg BB
memberikan efek yang lebih efektif
dalam menurunkan kadar glukosa darah
tikus putih dari pada ekstrak daun
kecapi dosis 150 mg/kg BB. Hal ini di
sebabkan karena kandungan zat aktif
yang terdapat pada ekstrak daun kecapi
dosis 100 mg/kg BB yaitu senyawa
yang berkhasiat berupa hasil metabolit
sekunder seperti senyawa alkaloid,
flavonoid, polifenol, saponin dan tanin
telah dapat bekerja pada reseptor
masing-masing. Peningkatan dosis 150
mg/kg
BB
seharusnya
akan
meningkatkan respon yang sebanding
dengan dosis yang ditingkatkan,
namun
dengan meningkatnya dosis
peningkatan respon pada akhirnya
akan menurun, karena sudah tercapai
dosis yang sudah tidak dapat
meningkatkan respon lagi. Hal ini
sering terjadi pada obat bahan alam,
karena komponen senyawa yang
dikandungnya tidak tunggal melainkan
terdiri dari berbagai macam senyawa
kimia, dimana komponen- komponen
tersebut saling bekerjasama untuk
menimbulkan efek, sehingga dengan
peningkatan dosis 150 mg/kg BB
jumlah senyawa kimia yang dikandung
semakin banyak hingga terjadi interaksi
merugikan
yang
menyebabkan

penurunan efek sehingga peningkatan


dosis tidak bisa mencapai efek
maksimumnya.22
Berdasarkan hasil perhitungan
pada hari ke-14 diperoleh nilai Fhitung
(49,06) > Ftabel (4.46) pada taraf
kepercayaan 95%, maka diperoleh
indikasi bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara dosis ekstrak daun
kecapi terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus putih. Data hasil
analisis Koefisien Keragaman (KK)
pada hari ke-14 diperoleh sebesar 2,8
%, karena nilai KK yang diperoleh
dibawah 10 % sehingga dilakukan uji
lanjut dengan menggunakan Uji Beda
Nyata Jujur (BNJ).
Uji
lanjut
dilakukan untuk mengetahui dosis
yang efektif diantara ketiga dosis
ekstrak daun kecapi (Sandoricum
koetjape (Burm.f.) Merr). Hasil uji
BNJ pada hari ke-14 diketahui bahwa
kontrol negatif (Na.CMC) berbeda
nyata bila dibandingkan dengan ekstrak
daun kecapi dosis 50 mg/kg BB, ekstrak
daun kecapi dosis 100 mg/kg BB,
ekstrak daun kecapi dosis 150 mg/kg
BB dan kontrol positif (glibenklamid).
Sedangkan ekstrak daun kecapi dosis 50
mg/kg BB, ekstrak daun kecapi dosis
100 mg/kg BB dan ekstrak daun
kecapi dosis 150 mg/kg BB berbeda
tidak nyata bila dibandingkan dengan
kontrol positif (glibenklamid). Pada hari
ke-14 diketahui bahwa ekstrak etanol
daun kecapi dosis 50 mg/kg BB
yang lebih efektif dalam menurunkan
kadar glukosa darah.
Berdasarkan pada hari ke-7
diketahui bahwa ekstrak daun kecapi
dosis 100 mg/kg BB yang lebih
efektif dalam menurunkan kadar

11

glukosa darah tikus putih


karena
pada dosis 100 mg/kg BB telah
memberikan efek yang sebanding
dengan kontrol positif (glibenklamid),
sementara pada hari ke-14 diketahui
bahwa ekstrak daun kecapi dosis 50
mg/kg BB yang lebih efektif dalam
menurunkan kadar glukosa darah
tikus putih karena pada dosis 50 mg/kg
BB telah memberikan efek yang
sebanding dengan kontrol positif
(glibenklamid).
Berdasarkan
hal
tersebut sehingga dapat disimpulkan
bahwa ekstrak daun kecapi yang
efektif dalam menurunkan kadar
glukosa darah tikus putih yaitu ekstrak
daun kecapi dosis 100 mg/kg BB karena
pada dosis 100 mg/kg BB telah dapat
memberikan efek dalam waktu yang
lebih cepat yaitu pada hari ke-7 sudah
dapat memberikan efek yang sebanding
dengan obat pembanding glibenklamid
bila dibandingkan pada ekstrak daun
kecapi dosis 50 mg/kg BB dapat
memberikan efek dalam waktu yang
lebih lama yaitu pada hari ke-14.
Penurunan kadar glukosa darah
pada tikus putih dipengaruhi
oleh
senyawa-senyawa
kimia
yang
berkhasiat
yang
terdapat
pada
ekstrak daun kecapi berupa hasil
metabolit sekunder seperti senyawa
alkaloid menurunkan glukosa darah
dengan cara menghambat absorbsi
glukosa
di
usus,
meningkatkan
transportasi glukosa didalam darah,
merangsang sintesis glikogen dan
menghambat
sintesis
glukosa
dengan
cara menghambat enzim
glukosa 6-fosfatase, fruktosa 1,6bifosfatase, serta meningkatkan oksidasi
glukosa melalui glukosa 6-fosfat

dehidrogenase. Glukosa 6-fosfatase dan


fruktosa 1,6-bifosfatase merupakan
enzim
yang
berperan
dalam
glukoneogenesis. Penghambatan pada
kedua enzim ini akan menurunkan
pembentukan glukosa dari substrat lain
selain karbohidrat.9
Flavonoid
diketahui memiliki aktivitas antioksidan
yang diyakini mampu melindungi tubuh
terhadap kerusakan yang disebabkan
spesies oksigen reaktif, sehingga
mampu
menghambat
terjadinya
penyakit degeneratif seperti diabetes
melitus.10
Peran
polifenol
sebagai
antioksidan diduga mampu melindungi
sel pankreas dari efek toksik radikal
bebas yang diproduksi dibawah kondisi
hiperglikemia kronis,sehingga dengan
pemberian
antioksidan
mampu
meningkatkan masa sel pankreas dan
menjaga kandungan
insulin
didalamnya.
Peningkatan
radikal
bebas akan meningkatkan insulin
signaling pada translokasi GLUT 4
intraseluler
ke
membran
sel
sehingga mampu mengambil glukosa
dari darah. Secara umum, penurunan
stres oksidatif dapat mengurangi
resistensi insulin dan menghambat
kerusakan sel pankreas, sehingga
polifenol terindikasi mampu menahan
resiko penyakit diabetes melitus
berkembang menjadi lebih parah.23
Saponin meningkatkan permeabilitas
usus kecil, sehingga meningkatkan
uptake zat yang sesungguhnya kurang
diserap dan menyebabkan hilangnya
fungsi normal usus. Pengaruh saponin
terhadap susunan membran sel
dapat menghambat absorbsi molekul

12

zat gizi yang lebih kecil yang


seharusnya cepat diserap, misalnya
glukosa.24 Tanin berperan sebagai
astrigens atau pengkhelat yang dapat
mengerutkan membran epitel usus
halus sehingga mengurangi penyerapan
sari makanan dan sebagai akibatnya
menghambat
asupan gula dan laju
peningkatan gula darah tidak terlalu
tinggi. Tanin juga mempunyai aktivitas
hipoglikemik
yaitu
dengan
meningkatkan glikogenesis.13
Hasil pengamatan yang dilakukan
selama 14 hari terhadap
tikus putih
diabetes melitus mengalami penurunan
berat badan, poliuria, polidipsia dan
polifagia. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa ketika
konsentrasi glukosa di dalam darah
bila cukup tinggi, maka ginjal
tidak dapat menyerap kembali semua
glukosa yang tersaring keluar akibatnya
glukosa tersebut muncul dalam urin
(glukosuria). Glukosa darah
yang
berlebihan disekresikan kedalam urin,
ekskresi ini akan disertai pengeluaran
cairan dan elektrolit yang berlebihan
yang dinamakan diuresis osmotik.
Sebagai akibat dari kehilangan cairan
yang
berlebihan
sehingga
akan
mengalami
peningkatan
dalam
berkemih (poliuria) serta rasa haus
(polidipsia) dan defisiensi insulin juga
mengganggu metabolisme protein dan
lemak yang menyebabkan penurunan
berat badan yang dapat mengalami
peningkatan selera makan (polifagia)
akibat menurunnya simpanan kalori.25

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian uji
efek penurunan kadar glukosa darah
ekstrak etanol daun kecapi (Sandoricum
koetjape (Burm.f.) Merr) pada tikus
putih
(Rattus
norvegicus)
yang
diinduksi streptozotosin maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Ekstrak daun kecapi (Sandoricum
koetjape (Burm.f.) Merr) dapat
menurunkan kadar glukosa darah
tikus putih
(Rattus
norvegicus)
yang
diinduksi
streptozotosin.
2. Dosis
ekstrak
daun
kecapi
(Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr)
yang
efektif
dalam
menurunkan kadar glukosa darah
tikus putih (Rattus norvegicus)
yang di induksi streptozotosin yaitu
dosis 100 mg/kg BB.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Materia Medika
Indonesia. Jilid VI. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta. Hal: 333 - 334, 336
337.
Anonim. 2013. IDF Diabetes Atlas.
Sixth Edition.Hal: 34.
Brunner
&
Suddarth.
2002.
Keperawatan Medikal- Bedah.
Edisi 8. Vol. 2. EGC. Jakarta. Hal:
1220
Dharmayudha
A.A.G.O.,
Anthara
M.S.
2013.Identifikasi
Golongan
Senyawa Kimia Dan
Pengaruh Ekstrak Etanol Buah
Naga
Daging
Putih
(Hylocereusundatus)
Terhadap
PenurunanKadar Glukosa Darah
Serta Bobot Badan Tikus Putih

13

Jantan (Rattus norvegicus) Yang


Diinduksi
Aloksan.
Bulletin
Veteriner Udayana. Vol.5. No.1.
Universitas Udayana. Hal: 34-35.
Emilan T., Dkk. 2011. Konsep Herbal
Indonesia: Pemastian Produk
Mutu
Herbal.
Universitas
Indonesia. Hal: 7-8.
Fauziah., Putri N.N., Firdus. 2014. The
Effect Of Curry Leaves (Murayya
koenigii L) On Blood Glucose
Levels In Alloxan Diabetic Mice
(Mus musculus). Jurnal Natural.
Vol. 4. No. 1. Hal: 25.
Juniarti C., Semana A.
2014.
Hubungan Pengetahuan Dengan
Kepatuhan Diet Pada Penderita
Diabetes Mellitus Yang Dirawat
Di
RSUD
Labuang
Baji
Makassar.
Jurnal
Ilmiah
Kesehatan Diagnosis. Vol.4.
No.6. Stikes Nani Hasanuddin.
Makassar. Hal: 769.
Kendran
A.A.S.,
Dkk.
2013.
Toksisitas Ekstrak Daun Sirih
Merah
Pada
Tikus
Putih
Penderita
Diabetes
Melitus.
Jurnal Veteriner. Vol.4. No.4.
Universitas Udayana. Hal: 531532.
Makalalag I.,
Wullur A.,
dan
Wiyono
W.2013.
Uji
Ekstrak
Daun
Binahong
(Anredera cordifolia
Steen.)
Terhadap Kadar Gula Darah
Pada Tikus Jantan Galur Wistar
(Rattus
norvegicus)
yang
Diinduksi Sukrosa. Jurnal Ilmiah
Farmasi: Vol. 2, No. 01.
UNSRAT. Manado. Hal:34.
Marianne., Yuandani., Rosnani. 2011.
Antidiabetic Activity
From

Ethanol Extract Of Kluwihs


Leaf
(Artocarpus
camansi).
Jurnal Natural: Vol. 11.No.2.
Universitas Sumatra Utara &
universitas
Syiah
Kuala,
Darussalam. Banda Aceh. Hal: 67.
Meiyanti., Dewoto H.R., Suyatna F.D.
2006. Efek Hipoglikemik Daging
Buah Mahkota Dewa (Phaleria
macrocarpa (Scheff.) Boerl.)
Terhadap Kadar Gula Darah
Pada Manusia Sehat Setelah
Pembebanan Glukosa. Univesa
Medicina. Vol. 25. No.3. Hal:
119.
Monteiro Melita. 2013. Pengaruh
Pemberian Ekstrak
Labu
Kuning Per Oral (Cucurbita
moschata duchenes) Terhadap
Kadar Trigliserida Tikus Jantan
(Rattus norvegicus Strain Wistar)
Model Diabetes Mellitus Tipe 2.
Skripsi. Universitas Braiwijaya.
Malang. Hal : 17.
Murni S.A., Prawito P., Widiono
S. 2012.Eksistensi Pemanfaatan
Tanaman Obat Tradisional (TOT)
Suku Serawai Diera Medikalisasi
Kehidupan. Jurnal Penelitian
Pengelolaan Sumber Daya Alam
Dan Lingkungan. Vol. 1. No. 3.
Universitas Bengkulu. Hal: 225.
Nugrahani septhi santika. 2012.
Analisis Perbandingan Efektifitas
Ekstrak Akar, Batang, Dan Daun
Herba
Meniran
Dalam
Menurunkan Kadar Glukosa
Darah Mencit. Jurnal Kesehatan
Masyarakat: Vol. 8, No. 1.
Universitas Negeri Semarang.
Indonesia. Hal: 59.
Nugroho Agung Endro. 2006. Review

14

Hewan
Percobaan
Diabetes
Melitus: Patologi Dan Mekanisme
Aksi Diabetogenik. Biodiversitas:
Volum. 7, No. 4. Universitas
Gadjah Mada. Hal:381.
Pasaribu F., Sitorus P., Bahri S.
2012. Uji Ekstrak Etanol Kulit
Buah
Manggis
(Garcinia
Mangostana
L.)
Terhadap
Penurunan
Kadar
Glukosa
Darah. Journal Of Pharmceutics
And Pharmacology: Vol. 1, No. 1.
Universitas Sumatra Utara. Hal: 6.
Prameswari O.M., Widjanarko S.B.
2014. Uji Efek Ekstrak Daun
Pandan
Wangi
Terhadap
Penurunan
Kadar
Glukosa
Darah Dan Histopalogi Tikus
Diabetes Melitus. Jurnal Pangan
dan Agroindustri. Vol.2 , No.2.
Universitas Brawijaya Malang.
Hal: 23.
Ridwan A., Astrian R.T. Barlian
A. 2012.Pengukuran
Efek
Antidiabetes
Polifenol
(Polyphenol 60) Berdasarkan
Kadar Glukosa Darah Dan
Histologi Pankreas Mencit (Mus
musculus L.) S. W. Jantan Yang
Dikondisikan Diabetes Melitus.
Jurnal Mate-Matika & Sains. Vol.
17. No. 2. Institute Teknologi
Bandung. Hal:82.
Riswan
S.,
Andayaningsih
D.
2008.Keanekaragaman
Tumbuhan
Obat
Yang
Digunakan Dalam Pengobatan
Tradisional Masyarakat Sasak
Lombok Barat. Jurnal Farmasi
Indonesia.
Vol.4.
No.
2.
Universitas Nasional. Hal:96.

Scobie I.N., Samaras K. 2014.


Fast Facts: Diabetes Mellitus.
Fifth Edition. Health Press.
Hal:10.
Siregar Risna S. 2009.
Skrining
Fitokimia Dan Uji
Aktivitas
Antimikroba Dari Ekstrak Etanol,
Ekstrak Air Daun Tumbuhan
Kecapi (Sandoricum Koetjape.
Burm.F.
Merr)
Terhadap
Staphylococcus
Aureus,
Escherichia Coli Dan Candida
Albicans Secara In Vitro. Skripsi.
Universitas
Sumatra
Utara.
Medan. Hal: 5-6.
Siregar Risna S. 2009.
Skrining
Fitokimia Dan Uji
Aktivitas
Antimikroba Dari Ekstrak Etanol,
Ekstrak Air Daun Tumbuhan
Kecapi (Sandoricum Koetjape.
Burm.F.
Merr)
Terhadap
Staphylococcus
Aureus,
Escherichia Coli Dan Candida
Albicans Secara In Vitro. Skripsi.
Universitas
Sumatra
Utara.
Medan. Hal: 5-6.
Swantara
I.M
Dira.,
Ciawi
Yenni.
2009.Identifikasi
Senyawa Pada Daun Kecapi
(Sandoricum
Koetjape
(Burm.F.)), Jurnal Kimia: Vol. 3,
No. 2. Universitas Udayana. Bukit
Jimbaran. Hal: 62.
Tandi Joni. 2011. Obat Tradisional.
STIFA Pelita Mas. Palu. Hal: 2.
Trihono. 2013. Riset Kesehatan
Dasar 2013.Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 2013. Jakarta.
Hal: 88.

15

UJI EFEKTIVITAS PEMBERIAN EKSTRAK DAUN INSULIN (Thitonia


diversifolia [Hemsl.] A. Gray) SEBAGAI ANTIDIABETES TERHADAP
TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI
STREPTOZOTOSIN
THE EFFECTIVE TEST of INSULIN LEAF (Thitonia diversifolia [Hemsl.] A.
Gray) EXTRACT AS ANTIDIABETIC TO MALE RATS WHITE (Rattus
norvegicus) INDUCED STREPTOZOTOCIN
Oleh
Abd. Rahman, Ummul Fitiyani Yala, Niluh Puspita Dewi
Abstract. Insulin leaf has the scientific name Thitonia diversivolia [Hemsl.] A. Gray.
that contain flavanoid compounds that are used as a treatment of diabetes mellitus. This
study aimed to determine the effect of leaf extract of insulin to decrease blood sugar
levels male rats with streptozotocin-induced variations in the dose of 200 mg/kg bw,
400 mg/kg bw and 600 mg/kg bw, and to determine the effective dose to lower blood
glucose of male rats (Rattus norvegicus). Research conducted laboratory experiments
using randomized block design (RBD). Animal testing were 20 white male rats which
were divided into 5 groups, each consists of 4 rats for treatment. The treatment I was
given a suspension of Na CMC as a negative control. Treatments II, III, and IV were
given insulin leaf extract with variations of each dose of 200 mg/kg bw, 400 mg/kg bw
and 600 mg/kg bw. Treatment V given glibenclamide suspension as a positive control.
Data were analyzed using analysis of variance statistical test (TEST-F) at the level of
95%. The analysis shows that the leaf extract of insulin has an effect on reducing blood
glucose levels of mice on the day 14. Based on further HSD test shows that the dose that
effectively to lower blood glucose levels of mice is 400 mg/kg bw.
Keywords :

Insulin Leaves (Thitonia diversivolia [Hemsl.] A. Gray), Antidiabetic,


Streptozotocin.

Abstrak. Daun insulin mempunyai nama ilmiah Thitonia diversivolia [Hemsl.] A.


Gray. yang memiliki kandungan senyawa flavanoid yang digunakan sebagai pengobatan
penyakit diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak daun
insulin terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan yang diinduksi
streptozotocin dengan variasi dosis 200 mg/Kg BB, 400 mg/Kg BB dan 600 mg/Kg BB,
serta menentukan dosis yang efektif untuk menurunkan kadar gula darah tikus putih
jantan (Rattus norvegicus). Penelitian dilakukan secara eksperimen laboratorium dengan
menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hewan uji berupa tikus
putih jantan berjumlah 20 ekor dibagi dalam 5 kelompok perlakuan, tiap perlakuan
terdiri dari 4 ekor. Perlakuan I diberikan suspensi Na CMC sebagai kontrol negatif.
Perlakuan II, III, dan IV diberikan ekstrak daun insulin dengan variasi dosis masing-

16

masing 200 mg/Kg BB, 400 mg/Kg BB, dan 600 mg/Kg BB. Perlakuan V diberikan
suspensi glibenklamid sebagai kontrol positif. Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan uji statistik Analisis Sidik Ragam (UJI-F) pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun insulin memiliki efek terhadap
penurunan kadar glukosa darah tikus pada hari ke 14. Berdasarkan uji lanjut BNJ
diperoleh bahwa dosis yang efektif menurunkan kadar glukosa darah tikus adalah 400
mg/Kg BB.
Kata kunci :

Daun Insulin (Thitonia diversivolia [Hemsl.] A. Gray), Antidiabetes,


Streptozotocin.

PENDAHULUAN
Perubahan pola hidup masyarakat
dari natural menuju kemajuan yang
berdampak pada terciptanya polusi
memunculkan
banyak
penyakit
degeneratif. Krisis ekonomi yang
merupakan
bagian
dari
krisis
multidimensi
di
Indonesia
menyebabkan
tingginya
biaya
pengobatan dan obat-obatan kimia.
Tingginya biaya obat dan pengobatan
dikarenakan sebagian besar bahan
bakunya berasal dari luar negeri.
Kondisi itu mendorong masyarakat
untuk mencari berbagai macam
alternatif untuk pengobatan. Salah
satunya pengobatan dengan tanaman
obat tradisonal. Gaya hidup masyarakat
modern yang serba instan dan
mengabaikan
gaya
hidup
sehat
merupakan
penyebab
peningkatan
resiko terjadinya penyakit degeneratif.
Penyakit
degeneratif
merupakan
penyakit yang dapat menyebabkan
kematian bagi manusia, salah satunya
diabetes melitus.1
Diabetes
melitus
(DM)
merupakan suatu penyakit gangguan
metabolisme dimana kadar glukosa
darah diatas normal (hiperglikemia)
akibat tubuh kekurangan insulin atau

fungsi insulin tidak aktif. Penderita


penyakit ini dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Data global
menunjukkan
bahwa
jumlah
kejadian diabetes mellitus tahun 1987
adalah 37 juta orang pada tahun
1993 menjadi 100 juta orang. Tahun
2020 Sidartawan Sugondo dkk,
perkiraan jumlah
penduduk di
Indonesia yang berusia di atas 20
tahun adalah 178 juta jiwa, sehingga
diperkirakan
prevalensi
diabetes
melitus (DM) adalah 5%, maka
penderita diabetes diperkirakan 9 juta
orang. Jumlah tersebut menempatkan
Indonesia pada peringkat keempat
dunia setelah India, China dan
Amerika Serikat dengan jumlah
penderita diabetes melitus terbesar di
dunia.2
International Diabetes Federation
(IDF) tahun 2014 mengungkapkan
bahwa penderita diabetes melitus
diseluruh dunia mencapai 382 juta jiwa
pada tahun 2035 akan meningkat lebih
dari 592 juta dan Indonesia menempati
urutan ke-7 sebanyak 8,5 juta penderita
diabetes melitus.3 World Health
Organization (WHO) memprediksikan
pada tahun 2030, penderita diabetes
melitus di Indonesia akan mencapai

17

21,3 juta dan merupakan urutan ke-7 di


dunia.4
Riset
Kesehatan
Dasar
(RISKESDAS)
tahun
2013
menyatakan penderita diabetes melitus
sebanyak 2,1%. Peningkatan jumlah
penderita diabetes melitus dari tahun ke
tahun menunjukkan perlu perhatian
serius dalam terapi penyakit tersebut.
Terapi dengan obat sintesis sering
menemui kegagalan disebabkan efek
samping yang tidak diinginkan dan
biaya
yang lebih mahal karena
penggunaannya dalam jangka waktu
yang lama.5
Penyakit kronis yang ditandai
oleh tingginya kadar glukosa darah
disertai
gangguan
metabolisme
karbohidrat, lipid dan protein ini tidak
menyebabkan
kematian
secara
langsung, tetapi dapat menyebabkan
berbagai komplikasi bila pengobatannya
tidak tepat. Komplikasi dapat terjadi
pada makrovaskuler mencakup penyakit
jantung koroner dan stroke sedangkan
mikrovaskular mencakup nefropati dan
neuropati diabetikum yang tidak jarang
menyebabkan kematian. Pasien diabetes
melitus diharuskan mengendalikan
kadar glukosa darahnya melalui diet,
olahraga, penggunaan insulin atau
mengkonsumsi obat antidiabetik oral
dalam jangka waktu lama.6 Penyakit ini
bersifat
menahun
alias
kronis.
Penderitanya dari semua lapisan umur
serta tidak membeda-bedakan orang
kaya
maupun
miskin.
namun
membutuhkan biaya yang tidak sedikit
sehingga masyarakat menggunaan obat
tradisonal sebagai pengobatan alternatif
antidiabetes.7
Tanaman insulin merupakan jenis
tanaman berbunga dengan warna kuning

keemasan yang keluar pada akhir


musim penghujan dengan penampilan
mirip dengan bunga matahari. Anggota
suku Asteraceae diduga berasal dari
Meksiko dan kini tersebar hampir di
seluruh belahan dunia.8 Negara Nigeria
berbagai bagian tanaman insulin
digunakan untuk pengobatan malaria,
diabetes melitus, hati, nyeri haid dan
anti-inflamasi. Rebusan daun dan
batang digunakan untuk pengobatan
hepatitis di Taiwan dan gangguan
pencernaan di Kenya dan Thailand.
Kosta Rika, daun insulin kering
diterapkan pengobatan pada luka.
sementara di Kamerun, sebuah infus
daun digunakan untuk pengobatan
campak.9 Efek antioksidan terutama
pada komponen fenolik, seperti
flavonoid, asam fenolik dan diterpenes
fenolik yang dapat menunda atau
menghambat oksidasi lipid atau
molekul lain dengan menghambat
inisiasi atau propagasi oksidatif reaksi
berantai.10
Penelitian yang dilakukan oleh
Thongsom, M. pada tahun 2013 dengan
dosis 100 mg/kg BB, 250 mg/kg BB
dan 500 mg/kg BB menyatakan bahwa
efek hipoglikemik ekstrak daun
Tithonia diversifolia pada dosis 500
mg/kg BB menunjukkan secara
signifikan mengurangi kadar glukosa
darah pada Oral Glukosa Toleransi
Test (OGTT) pada tikus normal
(P <0,05).
Tithonia
diversifolia
diberikan pada tikus diabetes yang
diinduksi aloksan selama 30 hari secara
signifikan menurunkan kadar glukosa,
kolesterol total dan trigliserida. Hasil ini
menunjukkan
bahwa
Tithonia
diversifolia
memberikan
efek

17

antioksidan dengan menghambat reaksi


berantai lipid peroksidasi dan bertindak
sebagai
aktivitas
hipoglikemik,
mengurangi kadar gula darah pada tikus
diabetes yang diinduksi aloksan.
Toksisitas dan mekanisme Tithonia
diversifolia harus lebih lanjut dipelajari
sebagai pengembangan suplemen diet
untuk pengobatan diabetes tipe 2.10
Berdasarkan latar belakang diatas,
maka peneliti ingin mengetahui apakah
pemberian ekstrak daun insulin
(Tithonia diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dapat menurunkan kadar glukosa
darah dan pada dosis berapakah ekstrak
daun insulin yang efektif dalam
menurunkan kadar glukosa darah.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui efek ekstrak daun insulin
terhadap penurunan kadar gula darah
tikus putih jantan yang diinduksi
streptozotocin dengan variasi dosis 200
mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600
mg/kg BB, serta menentukan dosis yang
efektif untuk menurunkan kadar gula
darah tikus putih jantan (Rattus
norvegicus). Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi ilmiah
bagi masyarakat tentang efektivitas
kegunaan daun insulin (Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A. Gray.) dalam
menurunkan kadar glukosa darah dan
membantu bidang farmasi dalam
memberikan salah satu alternatif
pengobatan diabetes melitus.
Metode
penelitian
yang
digunakan adalah metode eksperimen
laboratorium dengan membandingkan
kadar glukosa tikus putih jantan (Rattus
norvegicus) sebelum dan sesudah
pemberian ekstrak daun insulin
(Tithonia diversifolia [Hemsl.] A.

Gray.) secara oral. Jumlah hewan uji


yang digunakan dalam penelitian ini
sebanyak 20 ekor tikus putih jantan
yang dibagi dalam 5 kelompok
perlakuan. Kadar glukosa darah diukur
dengan menggunakan glukometer.
Data hasil pengamatan yang
diperoleh, dianalisis menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK)
dengan uji statistik analisis sidik ragam
(ANSIRA) dengan taraf kepercayaan
95%. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui apakah antara konsentrasi
ekstrak daun insulin yang digunakan
terdapat perbedaan signifikan atau
tidak, jika terdapat perbedaan yang
signifikan maka dilakukan uji lanjut
sesuai nilai koefisien keragaman (KK)
data yang diperoleh.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada
bulan Oktober-Desember 2014 di
Laboratorium Fitokimia-Farmakognosi,
Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
Pelita Mas, Jalan Wolter Monginsidi,
No. 106A, Kota Palu.
Bahan yang digunakan
Aquadest, Aluminium foil, Asam
klorida, Etanol 96%, Ekstrak daun
insulin (Tithonia diversifolia [Hemsl.]
A. Gray.), Na CMC, Pereaksi
Dragendorf LP, Pereaksi Lieberman
Buchard,
Serbuk
magnesium,
Streptozotocin, Glibenklamid 5 mg.
Alat yang digunakan
Alat gelas laboratorium, Blender,
Glucometer (NESCO), Glucotest strips,
cawan porselin, Kandang hewan uji,
Neraca
analitik,
Penangas
air,

18

Rotavapor (Rotary vacuum evaporator),


Spoit injeksi, Spoit oral, Stopwatch,
Timbangan hewan uji, Wadah maserasi
dan Wadah penampung ekstrak.
Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan
dalam penelitian ini adalah tikus
putih jantan (Rattus norvegicus) yang
berbadan sehat dan aktifitas yang
normal, berumur 2 sampai 3 bulan
dengan bobot badan yang bervariasi
yaitu antara 150 sampai 200 gram.
PROSEDUR PENELITIAN
Pengambilan bahan sampel
Bahan yang digunakan adalah
daun tanaman Insulin (Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A. Gray.) yang
diperoleh dari Hutan Lindung Desa
Bahagia, Kecamatan Palolo, Kabupaten
Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.
Pengolahan Bahan Penelitian
Daun
insulin
(Thitonia
diversifolia [Hemsl.] A. Gray) diambil
dan dikumpulkan kemudian disortasi
basah untuk memisahkan bagian
tanaman yang tidak dibutuhkan lalu
dicuci dengan air mengalir sampai
bersih. Kemudian
dilakukan
perajangan dan dikeringkan dengan
cara diangin-anginkan tanpa terkena
sinar matahari langsung hingga bahan
tersebut
mengering.
Selanjutnya
dilakukan
sortasi
kering
untuk
memisahkan benda-benda asing yang
masuk pada saat pengeringan. lalu
simplisia siap untuk di ekstraksi.
Pembuatan Ekstrak
Daun
insulin
diversifolia
[Hemsl.]

(Tithonia
A.
Gray.)

diekstraksi dengan metode maserasi


yaitu dengan merendam serbuk
daun insulin kering dalam etanol
(96%) dalam suatu bejana. Dengan
derajat
halus
yang
cocok
ditimbang
sebanyak
250 mg
dimasukkan
ke dalam
wadah
maserasi dan ditambahkan etanol
96% sampai 2 cm di atas permukaan
sampel, diaduk
lalu
didiamkan
selama 3 hari
untuk
proses
ekstraksi
yang sempurna
sambil
diaduk sekali-kali. Disaring untuk
mendapatkan ekstrak etanol, lalu
dipekatkan
dengan
menggunakan
alat rotavapor hingga diperoleh
ekstrak kental selanjutnya diuapkan
diatas
penangas
air
untuk
menguapkan
etanol
yang
terkandung.
Pemilihan Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan
sebanyak 20 ekor tikus putih jantan
(Rattus norvegicus) yang memiliki
kondisi tubuh yang sehat dan
aktifitas
yang
normal, serta
ditempatkan pada kandang dan dibagi
dalam 5 kelompok perlakuan, setiap
kelompok terdiri dari 4 ekor hewan
uji. Semua kelompok diadaptasikan
selama satu minggu di laboratorium
dan diberi pakan standar guna untuk
menyesuaikan diri dilingkungannya.
Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Pemeriksaan awal kadar glukosa
darah
dilakukan
pada
semua
kelompok tikus putih jantan (Rattus
norvegicus) yang sebelumnya telah
dipuasakan
selama
16 jam.
Melakukan pemeriksaan awal kadar

19

glukosa darah semua kelompok


tikus putih jantan, pada hari yang
sama tikus diinduksi streptozotosin
dengan dosis 40 mg/Kg BB secara
intraperitonial (rongga perut) dan hari
ke 3 induksi,
tikus
dipuasakan
selama 16 jam kemudian mengukur
kembali kadar glukosa darah tikus.
Kadar glukosa darah puasa tikus
mencapai hiperglikemia yaitu diatas
126 mg/dL. 20 ekor tikus dibagi
menjadi 5 kelompok secara acak dan
diberi perlakuan peroral selama 14
hari.
Kelompok 1 : Diberikan suspensi Na
CMC sebagai kontrol
negatif ()
Kelompok 2 : Diberikan ekstrak daun
insulin
(Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dengan dosis
masing-masing
200
mg/Kg BB.
Kelompok 3 : Diberikan ekstrak daun
insulin
(Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dengan dosis
masing-masing
400
mg/Kg BB.
Kelompok 4 : Diberikan ekstrak daun
insulin
(Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dengan dosis
masing-masing
600
mg/Kg BB.
Kelompok 5 : Diberikan
suspensi
glibenklamid
sebagai
kontrol positif (+)
Tikus dipuasakan selama 16 jam
pada hari ke 7 dan hari ke 14
sebelum
diukur
kadar
glukosa
darahnya, kemudian kadar glukosa

darah tikus diukur kembali dan


semua data kadar glukosa darah yang
diperoleh dicatat kemudian dianalisis.
Analisis Data
Data hasil pengamatan yang
diperoleh
dianalisis
menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK)
dengan uji statistik analisis sidik ragam
(ANSIRA) dengan taraf kepercayaan
95%. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui apakah antara konsentrasi
ekstrak daun insulin yang digunakan
terdapat perbedaan yang signifikan atau
tidak dalam menurunkan kadar gula
darah. Jika terdapat perbedaan yang
signifikan maka dilakukan uji lanjut
sesuai nilai koefisien keragaman (KK)
data yang diperoleh.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Sebelum dilakukan penelitian
mengenai efek antidiabetes ekstrak daun
insulin (Tithonia diversifolia [Hemsl.]
A. Gray.) pada tikus putih jantan
(Rattus norvegicus) yang diinduksi
streptozotocin,
terlebih
dahulu
dilakukan uji penapisan fitokimia
ekstrak daun insulin.
Penapisan
fitokimia
yang
dilakukan yaitu uji flavonoid, uji
polifenol, uji alkaloid, uji saponin dan
tanin. Hasil penapisan fitokimia yang
terdapat pada ekstrak daun insulin dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut ini :

20

Tabel 1

Hasil Uji Penapisan Fitokimia Ekstrak Daun Insulin (Tithonia


diversifolia [Hemsl.] A. Gray.)
Perlakuan

Hasil

Uji Alkaloid

Positif

Uji Flavonoid

Positif

Uji Saponin

Positif

Uji Tanin

Positif

Uji Polifenol

Positif

Uji Aktivitas Antidiabetes


Uji aktivitas antidiabetes dilakukan selama 2 minggu. Pengukuran kadar
glukosa darah dilakukan pada hari ke-7 dan ke-14. Hasil pengamatan dapat dilihat
pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2

Data pengukuran penurunan kadar glukosa darah pada tikus setelah


perlakuan pemberian ekstrak daun insulin (Tithonia diversifolia
[Hemsl.] A. Gray.)

Kelompok Perlakuan
Kontrol Positif (+)

Rerata
Kontrol Negatif ()

Rerata
Dosis 200 mg/Kg BB

Rerata
Dosis 400 mg/Kg BB

Nomor
Hewan
Uji
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV

t0

t1

t2

t3

116
84
99
113
103
103
107
103
115
107
100
83
106
96
96,25
82
88
124
109

383
352
371
402
377
411
402
373
365
387,75
410
382
397
361
387,5
325
364
409
398

294
230
220
259
250,75
343
329
322
303
324,25
323
296
305
295
304,75
232
254
249
297

91
97
89
116
98,25
271
243
241
240
246,25
227
193
194
187
200,25
100
136
125
171

21

Rerata
Dosis 600 mg/Kg BB

100,75
374
I
98
384
II
114
418
III
100
405
IV
116
421
107
407,5
: t0 = Kadar Glukosa Darah Awal

Rerata
Keterangan

258
274
290
269
296
282,25

133
87
125
98
107
104,25

t1 = Kadar Glukosa Darah Setelah Diinduksi


t2 = Kadar Glukosa Darah Hari ke 7
t3 = Kadar Glukosa Darah Hari ke 14

Kadar Glukosa Darah Tikus


(mg/dL)

450
400
350
300

Kontrol (+)

250

Kontrol (-)

200
150

Ekstrak 200 mg/kg BB

100

Ekstrak 400 mg/kg BB

50
0

Ekstrak 600 mg/kg BB


H0

H1

H7

H14

Gambar 1 Grafik penurunan kadar glukosa darah pada tikus setelah perlakuan
pemberian ekstrak daun insulin.
Tabel 3 Penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih
Perlakuan

Rata rata penurunan kadar glukosa darah


Hari ke-7

Hari ke-14

Kontrol Positif (+)

137,5c

271,25c

Kontrol Negatif (-)

63,5a

141,5a

Dosis 200 mg/Kg BB

82,75a

187,5b

Dosis 400 mg/Kg BB

104,75b

241c

Dosis 600 mg/Kg BB

125,25b

303,25d

Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukan perbedaan yang signifikan, abjad


yang sama menunjukan perbedaan yang tidak signifikan.
22

Pembahasan
Penggujian fitokimia dilakukan
sebagai uji pendahuluan bahwa tanaman
daun insulin yang digunakan memiliki
khasiat sesuai literatur karena adanya
senyawa-senyawa aktif yang dikandung
dari tanaman tersebut. Hasil pengujian
fitokimia dapat dilihat pada Tabel 1
yang
menunjukan
bahwa
hasil
pengujian alkaloid, flavonoid, saponin,
tannin dan polifenol diperoleh hasil
positif. Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang mengatakan bahwa
daun insulin mengandung senyawasenyawa
kimia
yaitu
alkaloid,
flavonoid, saponin, tanin dan polifenol.
(Thongsom,2013)
Ekstrak daun insulin (Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A. Gray.) dibuat
dalam 3 variasi dosis yaitu 200 mg/Kg
BB, 400 mg/Kg BB dan 600 mg/Kg
BB. Kontrol negatif hanya mengandung
larutan kolodial Na CMC 1%. Larutan
yang
mengandung
zat
aktif
glibenklamid digunakan sebagai kontrol
positif.
Penelitian
ini
menggunakan
larutan ekstrak daun insulin untuk
menurunkan kadar glukosa darah
terhadap tikus putih, sedangkan yang
digunakan sebagai pembanding (kontrol
positif) adalah larutan glibenklamid
yang mekanisme kerjanya menstimulasi
sel-sel beta pankreas sehingga sekresi
insulin
meningkat.
Glibenklamid
diperlukan untuk melihat pengaruh obat
antidiabetik oral yang telah terbukti
khasiatnya dalam menurunkan kadar
glukosa
darah.
Glibenklamid
merupakan obat golongan sulfonilurea
yang sering digunakan untuk pasien
diabetes melitus tipe 2 serta kontrol

negatif hanya mengandung larutan


kolodial Na CMC 1% tanpa ekstrak. Na
CMC diperlukan untuk mengetahui
peningkatan kadar glukosa darah dari
keadaan normal selama penelitian.
Tikus dipuasakan selama 16 jam lalu
diambil darahnya sebagai kadar glukosa
darah awal. Tikus putih diinduksi
dengan streptozotocin dengan dosis 40
mg/Kg BB secara intraperitoneal (i.p)
dengan volume pemberian sesuai bobot
badan masing-masing hewan uji.
Induksi streptozotocin diberikan dengan
tujuan untuk mengganggu kerja sel-sel
beta pankreas sehingga insulin yang
dihasilkan berkurang, jika insulin
berkurang maka glukosa dalam darah
akan sulit masuk kedalam sel.
Akibatnya kadar glukosa dalam darah
meningkat (Hiperglikemia).
Tikus putih diberi perlakuan
selama 14 hari yaitu pada perlakuan 1
tikus diberi larutan glibenklamid
sebagai kontrol positif, perlakuan 2
tikus diberi larutan tanpa ekstrak
sebagai kontrol negatif dan perlakuan 3,
4 dan 5 diberikan ekstrak daun insulin
dengan variasi dosis masing-masing
200 mg/Kg BB, 400 mg/Kg BB dan 600
mg/Kg BB dengan dosis pemberian
sesuai berat badan tikus putih.
Kemudian dilakukan pemeriksaan kadar
glukosa darah pada hari ke-7 dan ke-14.
Hasil penelitian rata-rata penurunan
kadar glukosa darah tikus putih dapat
dilihat pada Tabel 3.
Analisis statistik dilakukan untuk
mengetahui adanya pengaruh perlakuan
yang signifikan terhadap penurunan
kadar glukosa darah tikus putih.
Analisis statistik yang digunakan yaitu
analisis sidik ragam (ANSIRA).

23

Berdasarkan hasil perhitungan, pada


hari ke 7 diperoleh nilai Fhitung (27,66) >
dari Ftabel (3,26) dengan taraf
kepercayaan 95 %, sedangkan pada hari
ke 14 diperoleh nilai Fhitung (60,87) >
dari Ftabel (3,26) dengan taraf
kepercayaan 95 %. Dilihat dari hasil
yang diperoleh dapat diketahui bahwa
ada perbedaan yang signifikan antara
dosis ekstrak daun insulin terhadap
penurunan kadar glukosa darah tikus
putih pada hari ke 7 dan hari ke 14. Uji
lanjut dilakukan untuk mengetahui
dosis efektif diantara ketiga dosis
ekstrak daun insulin pada hari ke 7 dan
hari ke 14. Berdasarkan hasil analisis
data, maka didapatkan koefisien
keragaman (KK) pada hari ke 7 adalah
2,24% dan pada hari ke 14 adalah
1,47%, sehingga digunakan uji lanjut
dengan menggunakan uji beda nyata
jujur (BNJ). Uji BNJ dilakukan karena
nilai KK kurang dari (<) 10 % sesuai
dengan kondisi heterogen.12
Pemberian ekstrak daun insulin
(Tithonia diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dosis 200 mg/Kg BB pada hari
ke 7 belum memberikan efek yang lebih
baik bila
dibandingkan dengan
pembanding positif yakni glibenklamid.
Hal ini disebabkan kadar kandungan zat
aktif belum cukup mampu menembus
jaringan sel pankreas. Hal ini
disebabkan karena dosis yang diberikan
dalam jumlah yang kecil sehingga
belum cukup mampu membantu
reabsorbsi zat aktif lainnya. Pada hari
ke 14 sudah memberikan efek dan
menurunkan kadar glukosa darah.
Namun, belum menunjukan hasil yang
signifikan apa bila dibandingkan
kontrol positif. Hal ini disebabkan

kemungkinan kandungan zat aktif


metabolit sekunder yaitu alkaloid,
flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol
belum mampu bekerja secara efektif
untuk meregenerasi sel pankreas
sehingga kurang memberikan efek yang
signifikan apabila dibandingkan dengan
glibenklamid.
Pemberian ekstrak daun insulin
(Tithonia diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dosis 400 mg/Kg BB pada hari
ke 7 sudah memberikan efek yang lebih
baik dibandingkan dosis 200 mg/Kg
BB. Namun, belum memberikan efek
yang signifikan apa bila dibandingkan
dengan kontrol positif. Hal ini
disebabkan kadar kandungan zat aktif
belum cukup mampu menembus
jaringan sel pankreas. Pada hari ke
14 dosis 400 mg/Kg BB sudah
memberikan efek yang signifikan
dengan kontrol positif. Hal ini
disebabkan karena senyawa yang
terkandung dalam ekstrak daun
insulin sudah memberikan yang lebih
baik karena
kandungan
senyawa
seperti alkaloid, flavonoid, saponin,
tanin dan polifenol mampu bekerja
secara efektif untuk meregenerasi
kerusakan sel panakreas
akibat
induksi
streptozotocin
sehingga
menimbulkan efek yang sebanding
dengan kontrol positif. Dimana
Kandungan
yang
terdapat
pada
ekstrak daun insulin seperti alkaloid
terbukti
mempunyai
kemampuan
regenerasi sel pankreas yang rusak.
Adanya perbaikan pada jaringan
pankreas, maka
akan
terjadi
peningkatan jumlah insulin didalam
tubuh sehingga glukosa darah akan
masuk kedalam sel sehingga terjadi

24

penurunan glukosa darah dalam tubuh.


Flavonoid pada daun insulin bersifat
antioksidan,
sehingga
dapat
menghambat kerusakan sel-sel
pankreas pulau Langerhans di pankreas
akan beregenerasi dan mensekresikan
insulin kembali ke dalam darah. Tanin
diketahui dapat memacu metabolisme
glukosa dan lemak sehingga timbunan
kedua sumber kalori ini dalam darah
dapat dihindari. Selain itu, tanin juga
berfungsi sebagai astringent atau
pengkhelat yang dapat mengerutkan
membran epitel usus halus sehingga
mengurangi penyerapan sari makanan
dan sebagai akibatnya menghambat
asupan gula dan laju peningkatan gula
darah tidak terlalu tinggi. Saponin
diduga dapat menurunkan kadar
glukosa darah dengan menghambat
aktivitas enzim alfa glukosidase, yaitu
enzim
dalam
pencernaan
yang
bertanggung
jawab
terhadap
pengubahan karbohidrat menjadi gula.
Antioksidan pada polifenol mampu
mengurangi stres oksidatif dengan cara
mencegah terjadinya reaksi berantai
pengubahan
superoksida
menjadi
hidrogen
superoksida
dengan
mendonorkan atom hidrogen dari
kelompok aromatik hidroksil (-OH)
polifenol untuk mengikat radikal bebas
dan membuangnya dari dalam tubuh
melalui sistem ekskresi.
Pemberian ekstrak daun insulin
(Tithonia diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) dosis 600 mg/Kg BB pada hari
ke-7 sudah memberikan efek yang lebih
baik dibandingkan dosis 200 mg/Kg BB
dan 400 mg/Kg BB. Namun, belum
memberikan efek yang signifikan apa
bila dibandingkan dengan kontrol

positif. Hal ini disebabkan kadar


kandungan zat aktif belum mampu
menembus jaringan sel pankreas.
Pada hari ke 14 dosis 600 mg/Kg BB
sudah memberikan efek yang lebih baik
dibandingkan dengan kontrol positif.
Hal ini disebabkan karena senyawa
yang terkandung dalam ekstrak daun
insulin sudah memberikan yang lebih
baik karena kandungan senyawa seperti
alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan
polifenol mampu bekerja secara efektif
untuk meregenerasi sel pankreas
akibat induksi streptozotocin sehingga
menimbulkan efek yang lebih baik
dibandingkan dengan kontrol positif.
Dimana Kandungan yang terdapat pada
ekstrak daun insulin seperti alkaloid
terbukti
mempunyai
kemampuan
regenerasi sel pankreas yang rusak.
Adanya perbaikan pada jaringan
pankreas,
maka
akan
terjadi
peningkatan jumlah insulin didalam
tubuh sehingga glukosa darah akan
masuk kedalam sel sehingga terjadi
penurunan glukosa darah dalam tubuh.
Flavonoid pada daun insulin bersifat
antioksidan,
sehingga
dapat
menghambat kerusakan sel-sel
pankreas pulau Langerhans di pankreas
akan beregenerasi dan mensekresikan
insulin kembali ke dalam darah. Tanin
diketahui dapat memacu metabolisme
glukosa dan lemak sehingga timbunan
kedua sumber kalori ini dalam darah
dapat dihindari. Selain itu, tanin juga
berfungsi sebagai astringent atau
pengkhelat yang dapat mengerutkan
membran epitel usus halus sehingga
mengurangi penyerapan sari makanan
dan sebagai akibatnya menghambat
asupan gula dan laju peningkatan gula

25

darah tidak terlalu tinggi. Saponin


diduga dapat menurunkan kadar
glukosa darah dengan menghambat
aktivitas enzim alfa glukosidase, yaitu
enzim
dalam
pencernaan
yang
bertanggung
jawab
terhadap
pengubahan karbohidrat menjadi gula.
Antioksidan pada polifenol mampu
mengurangi stres oksidatif dengan cara
mencegah terjadinya reaksi berantai
pengubahan
superoksida
menjadi
hidrogen
superoksida
dengan
mendonorkan atom hidrogen dari
kelompok aromatik hidroksil (-OH)
polifenol untuk mengikat radikal bebas
dan membuangnya dari dalam tubuh
melalui sistem ekskresi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian uji
efek antidiabetes ekstrak daun insulin
(Tithonia diversifolia [Hemsl.] A.
Gray.) pada tikus putih (Rattus
norvegicus) dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Ekstrak daun insulin (Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A. Gray.)
dengan variasi dosis 200 mg/Kg
BB, 400 mg/Kg BB dan 600 mg/Kg
BB
memiliki efek untuk
menurunkan kadar glukosa darah
tikus putih (Rattus norvegicus)
yang diinduksi streptozotocin.
2. Ekstrak daun insulin (Tithonia
diversifolia [Hemsl.] A. Gray.)
dengan dosis 400 mg/Kg BB efektif
untuk menurunkan kadar glukosa
darah pada hari ke-14.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Diabetes Mellitus
Penyebab Kematian Nomor 7 di
Dunia. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
Anonim. 2013. Riset Kesehatan Dasar,
Badan
Penelitian
dan
Pengembangan
Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Hanafiah. 2011. Rancangan Percobaan
Teori & Aplikasi. Fakultas
Pertanian Universitas Sriwijaya.
Palembang.
Mahendra, B. 2005. 13 Jenis Tanaman
Obat Ampuh. Penebar Swadaya.
Jakarta
Otusanya, O., Ilori, O. 2012.
Phytochemical Screening and the
Phytotoxic Effects of Aqueous
Extracts of Tithonia diversifolia
(Hemsl) A. Gray. International
Journal of Biology Vol. 4, No. 3;
2012.
Scobie, I.N., Samaras, K. 2013. Fast
Fact : Diabetes Mellitus. Healt
Press. Fift edition.
Setiawan, R. 2010. Pengaruh Pemberian
Ekstrak Kelopak Bunga Rosela
(Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap
Penurunan Kadar Glukosa Darah
Tikus Putih (Rattus norvergicus)
yang Diinduksi Aloksan. Skripsi
Fakultas Kedokteran. Universitas
Sebelas Maret. Surakarta.
Sutjiatmo,
A.B.,
Yulinah,
E.S.,
Ratnawati, Y., Kusmaningati, S.,
Wulandari, A., Narvikasari, S.
2011. Efek Antidiabetes
Herba
Ciplukan (Physalis angulata
Linn.) Pada Mencit Diabetes

26

Dengan Induksi Aloksan. Fakultas


Farmasi. Universitas Jendral
Achmad Yani. Cimahi. Jurnal
Farmasi Indonesia. Vol. 5. No. 4.
Thongsom,
M.,
Chunglok,
W.,
Kuanchuea, R., Tongpong, J.
2013.
Antioxidant
And
Hypoglycemic
Effects
Of
Tithonia diversifolia Aqueous
Leaves Extract In AlloxanInduced Diabetic Mice. Advances
In Environmental Biology Journal
Vol. 7. No.9.
Tobing, E. L. 2009. Studi Tentang
Kandungan Nitrogen, Karbon (C)
Organik Dan C/N Dari Kompos
Tumbuhan
Kembang
Bulan
(Tithonia diversifolia). Skripsi
Departemen
Kimia
Fakultas
Matematika
Dan
Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas
Sumatera Utara Medan.
Wulandari, S.F. 2011. Pengaruh
Pemberian Sari Buah Mengkudu
(Morinda
citrifolia
Linn.)
Terhadap Glibenklamid Dalam
Menurunkan Kadar Glukosa
Darah Tikus Putih Jantan Yang
Dibuat Diabetes. Skripsi Farmasi
FMIPA UI. Depok.

27

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KRIM EKSTRAK DAUN KERSEN


(Muntingia calabura L.) DENGAN METODE PEREDAMAN
RADIKAL BEBAS DPPH
ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST of CREAM LEAF EXTRACT CHERRY
(Muntingia calabura L.) WITH DPPH FREE RADICAL
REDUCTION METHOD
Oleh
Winartivira
Abstrak. Kersen (Muntingia calabura L.) merupakan tanaman buah tropis yang banyak
dijumpai di pinggir jalan sebagai pohon peneduh. Daun kersen memiliki aktivitas
antioksidan yang kuat karena mengandung senyawa antioksidan yaitu flavonoid,
saponin, polifenol dan tanin. Ekstrak daun kersen diformulasikan dalam bentuk krim
dengan variasi konsentrasi 1%, 2% dan 3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun kersen terhadap mutu fisik krim dan aktivitas
antioksidannya dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun kersen dalam krim yang
efektif sebagai antioksidan. Pengujian mutu fisik krim meliputi uji organoleptik,
homogenitas, pH, tipe krim, viskositas, uji iritasi dan stabilitas fisik krim. Penentuan
aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan peredaman radikal bebas DPPH
berdasarkan nilai penghambatan DPPH (IC50). Rancangan penelitian yang digunakan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data pada pengujian organoleptik,
homogenitas, tipe krim, uji iritasi dan stabilitas fisik krim dianalisis secara deskriptif
dan data yang diperoleh pada pengujian pH, viskositas dan aktivitas antioksidan
dianalisis secara statistik dengan metode One Way ANOVA pada taraf kepercayaan
95%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa variasi konsentrasi ekstrak daun kersen
dalam krim tidak mempengaruhi mutu fisik krim yaitu organoleptik, homogenitas, tipe
krim dan tidak menimbulkan iritasi tetapi mempengaruhi stabilitas mutu fisik krim yang
meliputi pH dan viskositas serta aktivitas antioksidan. Hasil uji aktivitas antioksidan
menunjukkan krim ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 1% (F2)efektif sebagai
antioksidan dengan nilai IC50 yang diperoleh adalah 5,80 ppm.
Kata kunci : Ekstrak daun kersen, krim, stabilitas mutu fisik, aktivitas antioksidan
Abstract. Cherry (Muntingia calabura L.) is a tropic plant fruit which found many in
roadside as tree shade. The leaf cherry have strong antioxidant activity because
chemical content such as flavonoids, saponins, polyphenols and tannins. Cherry leaf
extracts formulated into dosage forms cream with various concentration of 1%, 2% and
3%. The study aims to determine the effect variations in the concentration of cherry leaf
extract on the physical quality of the cream and antioxidant activity and determine the

29

concentration of cherry leaf extract effective as an antioxidant. The physical quality of


the cream was tested such as organoleptic, homogeneity, pH, type of cream, viscosity,
irritation test and cream physical stability. Determining antioxidant activity used free
radical reduction DPPH based on value prevent DPPH (IC50). The study design was a
Completely Randomized Design (RAL). Data obtained on organoleptic testing,
homogeneity, type of cream, irritation testing and cream physical stability were
analyzed descriptively and the data obtained in testing pH, viscosity and antioxidant
activity were statistically processed by the method of One Way ANOVA at 95%
confidence level. Variations in the concentration of cherry leaf extract in the cream does
not affect the physical quality of the cream which includes organoleptic, homogeneity,
type of cream, and does not irritate but affect the physical quality of the cream which
includes pH and viscosity as well as antioxidant activity. The result antioxidant activity
test indicates that cream of cherry leaf extract with concentration of 1% (F2) effective as
an antioxidant which value IC50 are 5.80 ppm.
Keywords: cherry leaf extract, cream, the stability of the physical quality, antioxidant
activity
PENDAHULUAN
Salah satu efek obat herbal yang
paling banyak mendapat perhatian
adalah antioksidan.Antioksidan lebih
banyak dibahas dan diklaim bermanfaat
untuk mencegah dan mengobati
berbagai macam penyakit.Antioksidan
sangat bermanfaat terutama dalam
mengatasi masalah penuaan pada
kulit.Penggunaan antioksidan untuk
mengatasi penuaan kulit didasarkan
pada teori radikal bebas. Pengaruh
lingkungan seperti sinar ultraviolet,
asap rokok, polutan, temperatur, nutrisi
dan gaya hidup dapat memberikan
kontribusi dalam pembentukan radikal
bebas.Paparan radikal bebas membuat
kulit cepat menua atau mengalami
degenerasi.Penuaan
kulit
dapat
menurunkan elastisitas kulit dan
menyebabkan kerusakan melanin.1
Saat ini banyak dikembangkan
kosmetik perawatan kulit dari bahan
herbal
yang
mengandung

antioksidan.Sebagian besar kosmetik


yang mengandung antioksidan untuk
sediaan topikal ada dalam bentuk krim
atau lotion.Krim adalah sediaan
setengah
padat,
berupa
emulsi
mengandung air tidak kurang dari 60%
dan dimaksudkan untuk pemakaian
luar.Krim mengandung satu atau lebih
bahan obat yang terlarut dalam bahan
dasar yang sesuai.Sifat umum sediaan
krim adalah mampu melekat pada
permukaan tempat pemakaian dalam
waktu yang cukup lama sebelum
sediaan ini dicuci dan dihilangkan.2
Salah satu bahan alamiah yang
berfungsi sebagai antioksidan adalah
daun kersen. Kersen (Muntingia
calabura L.) banyak dijumpai di pinggir
jalan
sebagai
pohon
peneduh.5
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Zakaria Z.A (2011) kersen dapat
dimanfaatkan sebagai obat karena
mengandung
senyawa
flavonoid,
saponin, polifenol dan tanin.3 Potensi
30

antioksidan tanaman kersen sangat


tinggi sehingga sangat baik untuk
perawatan
kesehatan
maupun
kecantikan. Penelitian yang dilakukan
oleh Ayesha Siddiqua(2010) mengenai
aktivitas antioksidan ekstrak daun
kersen menunjukkan bahwa ekstrak
daun
kersen
memiliki
aktivitas
peredaman radikal bebas sangat tinggi
dengan nilai IC50 diperoleh pada
konsentrasi 22 g/mL.4 Bahan alam
dikatakan sebagai antioksidan kuat jika
memiliki nilai IC50 kurang dari 200
g/mL.5
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui
pengaruh
variasi
konsentrasi ekstrak daun kersen
terhadap mutu fisik krim dan aktivitas
antioksidannya dan untuk mengetahui
konsentrasi ekstrak daun kersen dalam
krim
yang
efektif
sebagai
antioksidan.Rancangan penelitian yang
digunakan merupakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL). Data yang diperoleh
pada
pengujian
organoleptik,
homogenitas, tipe krim, iritasi dan
stabilitas krim
dianalisis secara
deskriptif. Data yang diperoleh pada
pengujian pH, viskositas dan aktivitas
antioksidan dianalisis secara statistik
dengan metode One Way ANOVA
(Analisis of Varians) pada taraf
kepercayaan 95% dengan menggunakan
uji lanjut.
METODE PENELITIAN
Penelitian
dilaksanakan
di
Laboratorium
Fitokimia
dan
Farmakognosi STIFA Pelita Mas Palu
dan Laboratorium Farmasetik program
studi Farmasi FMIPA Universitas

Tadulako, mulai bulan Februari sampai


April 2014.
Alat yang digunakan
Alat-alat gelas (Pyrex), Batang
pengaduk, Bejana maserasi, Blender
(Panasonic), Botol vial, Cawan porselin,
Inkubator, Kuvet, Labu ukur (Pyrex),
Mortir dan stamper, Neraca analitik
(Citizen), Objek glass, Pipet tetes,
Penangas air (Memmert), pH-meter
(Hanna), Vacuum rotary evaporator
(Buchi R-3000), Sendok tanduk,
Spektrofotometer UV-Vis (Unico 2800
UV-Vis),
Viskometer
Brookfield,
Wadah krim.
Bahan yang digunakan
Aquadest, Asam stearat (Brataco),
Cetil alkohol (Brataco), Daun kersen
(Muntingia calabura L.), Etanol 96%
(Brataco), Etanol pro analisis (pa),
Gliserin (Brataco), Metil paraben
(Brataco), Paraffin cair (Brataco), Propil
paraben
(Brataco),
Trietanolamin
(Brataco), Vitamin E, 1,1-Difenil-2pikrilhidrazil (DPPH).
Penyiapan dan Determinasi Sampel
Sampel yang digunakan adalah
daun kersen (Muntingia calabura L.)
yang diperoleh dari daerah Donggala,
Sulawesi
Tengah
dan
telah
dideterminasi
di
Herbarium
UPT.Sumber Daya Hayati Sulawesi
Universitas Tadulako.
Pengambilan dan Pengolahan Sampel
Daun
kersen
segar
yang
digunakan dikumpulkan dan selanjutnya
dilakukan sortasi basah lalu dicuci
dengan air mengalir, dipotong-potong

31

atau dirajang dengan ukuran yang


kurang lebih sama. Setelah itu
dilakukan proses pengeringan dengan
cara dikeringanginkan di udara terbuka
dan terlindung dari cahaya matahari
langsung. Simplisia yang telah kering
kemudian dibuat serbuk dengan cara
diblender sampai membentuk bagian
yang lebih kecil.
Pembuatan Ekstrak Daun Kersen
(Muntingia calabura L)
Serbuk kering daun kersen
diekstraksi dengan pelarut etanol 96%
menggunakan metode maserasi. Proses
ini dilakukan dengan merendam sampel
dalam bejana maserasi selama 3 x 24

jam pada suhu ruang sambil diaduk


berulang-ulang hingga zat aktif dari
sampel tersebut terekstraksi seluruhnya.
Setelah 3 hari ekstrak disaring.Residu
yang diperoleh diekstraksi kembali
dengan pelarut etanol selama 3 x 24
jam, lalu disaring. Ekstrak yang
diperoleh dipekatkan menggunakan
rotary evaporator untuk memisahkan
pelarut dengan zat aktif lalu diuapkan di
atas penangas air untuk mendapatkan
ekstrak
kental.Ekstrak
yang
diperolehditimbang untuk mengetahui
beratnya dan dihitung persentase
ekstrak.

Formula Krim Antioksidan Ekstrak Daun Kersen


Tabel 1. Formula Krim Antioksidan Ekstrak Daun Kersen
Formula
Bahan(%)
Fungsi
F1
F2
F3
F4
F5
Ekstrak Daun
Bahan aktif
0
1
2
3
Kersen
Vitamin E
Pembanding
0,5
Parafin cair
Emolien
18
18
18
18
18
Cetil alkohol
Pengental
5
5
5
5
5
Gliserin
Humectan
10
10
10
10
10
Metil Paraben
Pengawet
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
Propil Paraben
Pengawet
0,03
0,03
0,03
0,03
0,03
Trietanolamin
Pengemulsi
1
1
1
1
1
Asam stearat
Pengemulsi
5
5
5
5
5
Aquadest
Pelarut
ad 100 ad 100 ad 100 ad 100 ad100
Keterangan :
F1 : Formula krim antioksidan tanpa ekstrak
F2 : Formula krim antioksidan ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 1%
F3 : Formula krim antioksidan ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 2%
F4 : Formula krim antioksidan ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 3%.
F5 : Formula krim antioksidan vitamin E
Prosedur pembuatan krim
Bahan-bahan yang berfase air
(trietanolamin, gliserin dan metil

paraben) dipisahkan dengan bahanbahan yang berfase minyak (asam


stearat, cetil alkohol, paraffin, propil
32

paraben).Bahan-bahan yang merupakan


fase minyak ditimbang secara seksama,
lalu dimasukkan ke dalam cawan
penguap kemudian dipanaskan dengan
penangas air dengan suhu 700-750C
sampai meleleh.Fase air seperti metil
paraben, gliserin dan trietanolamin
ditimbang.Metil paraben, gliserin dan
trietanolamin dilarutkan dalam air di
atas penangas air kemudian diaduk
hingga homogen. Ekstrak daun kersen
dimasukkan ke dalam mortir lalu
ditambahkan ditambahkan fase minyak
sedikit demi sedikit lalu dimasukkan
fase air sambil terus digerus dengan
kecepatan konstan hingga terbentuk
massa krim yang homogen. Krim
dengan konsentrasi ekstrak yang
berbeda-beda dibuat dengan cara yang
sama. Krim pembanding dibuat dengan
memasukkan vitamin E ke dalam fase
minyak lalu dileburkan. Fase minyak
sedikit demi sedikit dimasukkan dalam
mortir lalu dimasukkan fase air sambil
terus digerus dengan kecepatan konstan
hingga terbentuk massa krim yang
homogen. Krim sebagai kontrol negatif
dibuat dengan memasukkan
fase
minyak ke dalam mortir sedikit demi
sedikit lalu dimasukkan fase air sambil
terus digerus dengan kecepatan konstan
hingga terbentuk massa krim yang
homogen.
Evaluasi sediaan krim
Evaluasi sediaan krim dilakukan
dengan tujuan untuk melihat stabilitas
krim dari ekstrak daun kersen selama
selama 28 hari penyimpanan. Dilakukan
evaluasi krim meliputi uji organoleptik,
uji homogenitas, uji pH, uji viskositas,

uji tipe krim dan evaluasi stabilitas fisik


dengan metode freeze thaw
1. Uji Organoleptik
Uji ini dilakukan untuk dengan
mengamati bentuk krim, warna, dan bau
krim.Pengujian ini bertujuanuntuk
mengetahui adanya perubahan atau
pemisahan emulsi, timbulnya bau atau
tidak, dan perubahan warna.Pengujian
dilakukan pada masing-masing formula
krim pada hari ke-1, 7, 14, 21dan ke-28.
2. Uji homogenitas
Krim dioleskan pada sekeping
kaca
objek
lalu
diamati
jika
terjadiperubahan fase. Krim dikatakan
homogen bila susunan partikel-partikel
tidak ada yang menggumpal atau tidak
tercampur. Pengujian dilakukan pada
masing-masing formula krim pada hari
ke-1, 7, 14, 21dan ke-28.
3. Uji pH
Uji
pH
bertujuan
untuk
mengetahui keamanan sediaan krim saat
digunakan. Pengukuran dilakukan pada
suhu 250 20. Krim ekstrak daun kersen
ditimbang sebanyak 1 g dan diencerkan
dengan 10 mL aquadest. Uji pH
dilakukan dengan menggunakan pHmeter. Pengujian dilakukan pada
masing-masing formula krim pada hari
ke-1 dan hari ke-28.
4. Uji viskositas
Penentuan viskositas sediaan
dilakukan
dengan
menggunakan
Viskometer Brookfield dengan spindel
nomor 6 yang dipasang pada alat
kemudian dicelupkan dalam wadah
yang berisi krim. Kecepatan alat diatur
pada kecepatan 4 rpm. Skala dibaca
dengan mengamati angka yang tertera
pada layar. Umumnya kenaikan
viskositas
akan
meningkatkan

33

kestabilan sediaan. Pengujian dilakukan


pada masing-masing formula krim pada
hari ke-1 dan hari ke-28.
5. Uji tipe krim
Krim dioleskan pada kertas saring
jika terjadi noda minyak berarti krim
tipe A/M, tetapi jika terjadi basah
merata berarti krim tipe M/A.
6. Evaluasi stabilitas fisik dengan
metode freeze thaw
Penentuan viskositas sediaan
dilakukan
dengan
menggunakan
Viskometer Brookfield dengan spindel
nomor 6 yang dipasang pada alat
kemudian dicelupkan dalam wadah
yang berisi krim.Kecepatan alat diatur
pada kecepatan 4 rpm. Skala dibaca
dengan mengamati angka yang tertera
pada layar. Umumnya kenaikan
viskositas
akan
meningkatkan
kestabilan sediaan. Pengujian dilakukan
pada masing-masing formula krim pada
hari ke-1 dan hari ke-28.
7. Uji Iritasi
Pengujian dilakukan pada 30 panelis
dengan cara mengoleskan masingmasing sediaan pada bagian kulit
lengan. Evaluasi dilakukan untuk
melihat perubahan-perubahan yang
terjadi seperti eritema dimana kulit
menjadi kemerahan, gatal-gatal serta
edema yaitu pembengkakan pada kulit
lengan.Adapun kategori nilai keadaan
kulit dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kategori Nilai Keadaan
Kulit
Eritema
Edema
Jenis
Nilai
Jenis
Nilai
Tidak
0
Tidak ada 0
ada
edema

eritema
Sedikit
1
eritema
(hampir
tidak
nampak)
Eritema 2
tampak
jelas
Eritema 3
sedang
sampai
kuat
Eritema
parah
(ada
luka)

Edema
sangat
ringan

Edema
ringan

Edema
3
sedang
(ketebalan
kira-kira 1
mm)
Edema
4
parah
(Ketebalan
melebihi 1
mm)

Uji aktivitas antioksidan dengan


metode peredaman radikal bebas
DPPH
1. Pembuatan larutan DPPH 50 ppm
Serbuk
DPPH
ditimbang
sebanyak 5 mg dan dilarutkan dalam
100 mL etanol pa sehingga konsentrasi
yang diperoleh adalah 50 ppm.
2. Uji Aktivitas Antioksidan Secara
Spektrofotometri
Pengujian aktivitas antioksidan
pada krim terhadap radikal bebas DPPH
menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Sampel krim sebanyak 0,5 g dilarutkan
dalam etanol pa hingga volumenya
menjadi 25 mL, dimana konsentrasi
yang diperoleh adalah 20.000 ppm. Lalu
dipipet 1 mL dilarutkan dalam etanol
hingga 100 mL diperoleh konsentrasi
200
ppm.
Pipet
masing-masing
sebanyak 0,05 mL, 0,25 mL, 0,5 mL
dan 0,75 mL lalu encerkan kedalam
labu ukur ad 10 mL sehingga diperoleh

34

konsentrasi 1 ppm, 5 ppm, 10 ppm dan


15 ppm. Larutan sampel dengan
konsentrasi 1 ppm, 5 ppm, 10 ppm dan
15
ppm
masing-masing
dipipet
sebanyak 3 mL ditambahkan 3 mL
DPPH 50 ppm dan 6 mL pelarut etanol
kemudian diinkubasi dalam ruang
tertutup pada suhu 30 C selama 30
menit. Ukur serapannya dengan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang optimum hasil pengukuran
yaitu 517 nm.
Vitamin E digunakan sebagai
pembanding yang merupakan kontrol
positif dimana dibuat dengan perlakuan
yang sama dengan sampel. Setelah 30
menit sampel dan kontrol diukur secara
spektrofotometri dengan mengukur
serapan
larutan
pada
panjang
gelombang maksimum yaitu 517 nm.
Persentase
inhibisi
terhadap
radikal bebas DPPH dari masingmasing konsentrasi larutan sampel
dapat dihitung dengan rumus :
Persentase inhibisi= (

) x 100%

Keterangan :
A kontrol = Absorbansi kontrol
(absorbansi DPPH)
A sampel = Absorbansi sampel
(absorbansi sediaan + DPPH)
Setelah didapatkan persentase
inhibisi
dari
masing-masing
konsentrasi, persamaan y = a + bx
ditentukan dengan perhitungan secara
regresi linier dimana x adalah
konsentrasi (g/ml) dan y adalah

persentase inhibisi (%). Nilai IC50


diperoleh dari nilai x dengan mengganti
y dengan 50.
Analisis Data
Rancangan
penelitian
yang
digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL). Data yang diperoleh
pada
pengujian
organoleptik,
homogenitas, tipe krim dan stabilitas
fisik krim dianalisis secara deskriptif
dan data yang diperoleh pada pengujian
pH, viskositas dan aktivitas antioksidan
diolah secara statistik dengan metode
One Way ANOVA (Analisis of Varians)
pada taraf kepercayaan 95% dengan
menggunakan uji lanjut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian
Uji Fitokimia
Tabel 3 uji fitokimia simplisia dan
ekstrak
Kandungan
Simplisia Ekstrak
kimia
Alkaloid
Saponin
+
+
Steroid
+
+
Triterpenoid
+
+
Tanin
+
+
Polifenol
+
+
Ket
:
(+)
: Mengandung senyawa yang
diuji
(-)
: Tidak mengandung senyawa
yang diuji

35

Tabel 4 Hasil pengamatan uji organoleptik krim


Pengamatan
Formula
Hari ke-1
Hari ke-7
Hari ke-14
Putih, tidak Putih, tidak Putih, tidak
F1
berbau,
berbau,
berbau,
kental
kental
kental
Hijau muda,
bau
khas Hijau muda, Hijau muda,
ekstrak
bau
khas bau
khas
F2
daun
ekstrak daun ekstrak daun
kersen,
kersen, kental kersen, kental
kental
Hijau
kecoklatan, Hijau
Hijau
bau
khas kecoklatan,
kecoklatan,
F3
ekstrak
bau
khas bau
khas
daun
ekstrak daun ekstrak daun
kersen,
kersen, kental kersen, kental
kental
Hijau
kecoklatan, Hijau
Hijau
bau
khas kecoklatan,
kecoklatan,
F4
ekstrak
bau
khas bau
khas
daun
ekstrak daun ekstrak daun
kersen,
kersen, kental kersen, kental
kental
Putih, tidak Putih, tidak Putih, tidak
F5
berbau,
berbau,
berbau,
kental
kental
kental
Tabel 5 Hasil pengamatan uji homogenitas
Pengamatan
Formula
Hari keHari ke-1 Hari ke-7
14
F1
Homogen Homogen Homogen
F2
Homogen Homogen Homogen
F3
Homogen Homogen Homogen
F4
Homogen Homogen Homogen
F5
Homogen Homogen Homogen

Hari ke-21
Putih, tidak
berbau,
kental
Hijau muda,
bau
khas
ekstrak
daun
kersen,
kental
Hijau
kecoklatan,
bau
khas
ekstrak
daun
kersen,
kental
Hijau
kecoklatan,
bau
khas
ekstrak
daun
kersen,
kental
Putih, tidak
berbau,
kental

Hari ke21
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen

Hari ke-28
Putih, tidak
berbau,
kental
Hijau muda,
bau
khas
ekstrak
daun
kersen,
kental
Hijau
kecoklatan,
bau
khas
ekstrak
daun
kersen,
kental
Hijau
kecoklatan,
bau
khas
ekstrak
daun
kersen,
kental
Putih, tidak
berbau,
kental

Hari ke-28
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen
Homogen

36

Tabel 6 Hasil uji pH krim ekstrak daun kersen


pH
Selisih
Formula Ulangan Hari
Hari
perubahan pH
ke-1
ke-28
1
6,92
6,80
0,12
2
6,90
6,82
0,08
F1
3
6,95
6,82
0,13
Rerata
6,92
6,81
0,11b
1
6,35
6,20
0,15
2
6,31
6,20
0,11
F2
3
6,33
6,21
0,12
Rerata
6,33
6,20
0,12b
1
6,32
6,22
0,10
2
6,31
6,21
0,10
F3
3
6,28
6,23
0,05
Rerata
6,30
6,22
0,08b
1
6,15
6,08
0,07
2
6,17
6,08
0,09
F4
3
6,16
6,05
0,11
Rerata
6,16
6,07
0,09b
1
6,90
6,85
0,05
2
6,88
6,85
0,03
F5
3
6,89
6,86
0,03
Rerata
6,89
6,85
0,04a
Ket : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan dan abjad yang
sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan
Tabel 7 Hasil uji viskositas krim ekstrak daun kersen
Viskositas (Cp)
Formula
Ulangan
Hari keHari ke-1
28
1
89.000
63.500
2
88.250
55.000
F1
3
87.300
58.750
Rerata
88.183
59.083
1
71.000
48.625
2
74.000
48.750
F2
3
72.500
48.500
Rerata
72.500
48.625
1
36.275
22.500
F3
2
36.750
22.750

Selisih
perubahan
viskositas (Cp)
25.500
33.250
28.550
29.100c
22.375
25.250
24.000
23.875b
13.775
14.000
37

3
35.800
22.250
13.550
Rerata
36.275
22.500
13.775a
1
23.250
11.750
11.500
2
24.250
10.000
14.250
F4
3
23.000
10.250
12.750
Rerata
23.500
10.666
12.833a
1
98.000
64.000
34.500
2
98.500
65.000
33.500
F5
3
97.500
65.500
32.000
Rerata
98.000
64.833
33.333d
Ket : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan dan abjad yang sama
menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan
Tabel 8 Hasil pengukuran IC50 krim ekstrak daun kersen
IC50
Selisih
Formula
Ulangan
perubahan IC50
Hari ke-1 Hari ke-28
1
51,26
54,78
3,52
2
51,39
55,27
3,88
F1
3
50,94
53,67
2,73
Rerata
51,19
54,57
3,37e
1
5,82
6,31
0,49
2
5,75
6,39
0,64
F2
3
5,84
6,76
0,92
Rerata
5,80
6,48
0,68a
1
5,07
6,28
1,21
2
4,89
6,31
1,42
F3
3
4,63
6,29
1,66
Rerata
4,86
6,29
1,43b
1
4,13
6,10
1,97
2
4,14
6,13
1,99
F4
3
4,10
6,11
2,01
Rerata
4,12
6,11
1,99d
1
6,41
8,28
1,87
2
6,38
8,34
1,96
F5
3
6,43
8,35
1,92
Rerata
6,41
8,32
1,91c
Ket : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan dan abjad yang sama
menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan

38

Pembahasan
Hasil
penapisan
fitokimia
menunjukkan serbuk simplisia dan
ekstrak daun kersen positif mengandung
senyawa flavonoid, saponin, steroid,
tanin dan polifenol. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Zakaria
Z.A (2011), daun kersen mengandung
senyawa kimia yaitu flavonoid, steroid,
polifenol, tanin dan saponin.3
Uji organoleptik pada krim
menunjukkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi ekstrak daun kersen yang
digunakan maka warna krim semakin
pekat. Pengamatan bau krim ekstrak
daun kersen menunjukkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi ekstrak
maka semakin menyengat bau khas
ekstrak daun kersen. Krim yang telah
dibuat dalam berbagai konsentrasi
memiliki bentuk kental. Pengamatan
bentuk, warna dan bau pada masingmasing formula selama penyimpanan
tidak mengalami perubahan.
Pada uji homogenitas F1, F2, F3,
F4 dan F5 secara visual menunjukkan
susunan krim yang homogen dan tidak
menggumpal serta tidak terdapat
partikel-partikel
kasar.
Hal
ini
menunjukkan bahwa semua bahanbahan
yang
digunakan
dalam
pembuatan krim tercampur secara
merata.
Berdasarkan hasil pengamatan,
semakin tinggi konsentrasi ekstrak
dalam formula krim maka pH krim akan
semakin asam. Hal ini disebabkan
ekstrak daun kersen memiliki pH asam
yaitu 6,01 karena kandungan flavonoid
dan senyawa fenol pada ekstrak daun
kersen bersifat asam.6 Pada hari ke-28
pH krim ekstrak daun kersen
mengalami penurunan namun semua

formula
krim
masih
memenuhi
persyaratan pH untuk sediaan topikal
yaitu 4,5-6,5. Krim yang memiliki pH
terlalu asam dapat menimbulkan iritasi
sedangkan krim dengan pH basa dapat
menyebabkan kulit kering dan bersisik.7
Krim mengalami penurunan pH selama
28 hari penyimpanan karena faktor
lingkungan seperti udara. Pada saat
wadah krim terbuka, udara akan
berinteraksi dengan senyawa yang
terkandung dalam sediaan krim
sehingga
menyebabkan
krim
teroksidasi.
Hasil selisih perubahan pH selama
penyimpanan dianalisis menggunakan
One Way ANOVA dengan uji lanjut
menggunakan uji Duncan. Data yang
diperoleh menunjukkan bahwa F1, F2,
F3 dan F4 tidak berbeda signifikan
namun
terjadi
perbedaan
yang
signifikan pada F5. Berdasarkan data
yang diperoleh dapat disimpulkan
bahwa formula yang paling stabil yaitu
F3 karena mengalami perubahan pH
paling kecil.
Hasil pengamatan uji viskositas
menunjukkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi ekstrak dalam formula krim
maka semakin menurun viskositas
krim.Hasil selisih perubahan viskositas
selama 28 hari penyimpanan dianalisis
menggunakan metode One Way
ANOVA dan dilakukan uji lanjut
Duncan.Hasil
yang
diperoleh
menunjukkan ada perbedaan yang
signifikan pada semua formula kecuali
pada F3 dan F4.Berdasarkan hasil
analisis tersebut maka formula yang
paling stabil yaitu F4 karena mengalami
perubahan
viskositas
paling
kecil.Viskositas krim semakin menurun
selama
28
hari
penyimpanan
39

dipengaruhi oleh faktor lingkungan


misalnya suhu.Suhu
yang tidak
terkontrol mempengaruhi viskositas
suatu
krim.
Kenaikan
suhu
menyebabkan perubahan viskositas
emulsi menjadi semakin encer.8
Berdasarkan hasil pengamatan
diketahui krim F1, F2, F3, F4 dan F5
memiliki tipe emulsi M/A. Berdasarkan
pernyataan yang dikemukakan oleh
Sam J. Saputra (2009) bahwa tipe
emulsi M/A memiliki beberapa
keuntungan yaitu bersifat stabil,
nyaman digunakan, dan mudah larut
dalam air sehingga krim tipe M/A
mudah dicuci dengan air. 9
Uji iritasi dilakukan pada 30
panelis selama 5 menit.Reaksi iritasi
positif ditandai oleh adanya kemerahan,
gatal-gatal dan bengkak. Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa semua formula
krim tidak menimbulkan iritasi pada
kulit. Hal ini disebabkan krim memiliki
pH yang sesuai dengan pH kulit
sehingga tidak menimbulkan iritasi.
Evaluasi stabilitas fisik krim
menggunakan
metode
freeze
thawmenunjukkan stabilitas fisik krim
pada suhu penyimpanan 400C dan 40C
selama 6 siklus tidak mengalami
perubahan bentuk dan tidak tercium bau
tengik. Pada pengamatan warna pada
krim
selama
penyimpanan
menunjukkan warna krim menjadi lebih
gelap pada suhu 400C sedangkan pada
suhu 40C warna krim memudar.
Berdasarkan nilai IC50 yang
diperoleh menunjukkan bahwa F4
memiliki aktivitas antioksidan paling
tinggi jika dibandingkan dengan
formula krim F1, F2, F3 dan F5. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi

konsentrasi ekstrak maka aktivitas


antioksidannya semakin kuat dengan
nilai IC50 yang diperoleh semakin kecil.
Krim ekstrak daun kersen memiliki
aktivitas antioksidan yang sangat kuat
karena nilai IC50 yang diperoleh
dibawah 50 ppm.
Nilai
IC50 yang
diperoleh
dianalisis
menggunakan
metode
Nonparametrik Test dan dilakukan uji
lanjut Mean Whitney. Hasil yang
diperoleh menunjukkan ada perbedaan
yang
signifikan
pada
semua
formula.Krim F2 memiliki selisih
penurunan
paling
kecil
selama
penyimpanan dibandingkan krim F3
dan F4.
Krim ekstrak daun kersen
memiliki aktivitas antioksidan yang
lebih kuat karena mengandung senyawa
flavonoid dan polifenol yang dapat
mereduksi radikal bebas DPPH dengan
cara mendonorkan atom H+. Krim
ekstrak daun kersen pada berbagai
konsentrasi
memiliki
aktivitas
antioksidan lebih kuat dibandingkan
kontrol positif maupun kontrol negatif.
Kontrol positif memiliki aktivitas
antioksidan yang kuat disebabkan oleh
basis krim mengandung beberapa zat
tambahan seperti metil paraben,
gliserin,
propil
paraben
dan
trietanolamin yang memiliki senyawa
hidroksil (OH) pada strukturnya yang
dapat menangkal radikal bebas. Gugus
hidroksil aromatik dan alifatik akan
mengalami reaksi redoks dengan
elektron yang tidak stabil dari DPPH.
Adanya reaksi tersebut maka radikal
bebas DPPH akan berubah menjadi
DPPH yang stabil.10

40

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperoleh maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Variasi konsentrasi ekstrak daun
kersen tidak mempengaruhi mutu
fisik krim yaitu organoleptik,
homogenitas, tipe emulsi, stabilitas
fisik dan menunjukkan hasil yang
aman yaitu tidak menimbulkan
iritasi, tetapi mempengaruhi pH,
viskositas dan aktivitas antioksidan
krim ekstrak daun kersen.
2. Krim dengan konsentrasi ekstrak
daun kersen 1% (F2) efektif sebagai
antioksidan dengan nilai IC50 yang
diperoleh adalah 5,80 ppm.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, M. 1999. Sistem Dispersi,
Formulasi Suspensi dan Emulsi.
Gajah Mada University Press.
Yogyakarta. 104-106
Blois,
M.
1958.
Antioxidant
Determination By The Use Of A
stable Free Radical. Journal
publication Nature. Vol. 181.
Clark, J.2004. The Acidity of Phenol.
ChemGuide.
Farawayuda, F., Alatas, F., Rayani, T.T.
2013. Formulasi Sediaan Losion
Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit
Buah Cacao (Theobrama cacao
L.). Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol 1
(1), 24-30. Universitas Jendral
Ahmad Yani.
Juwita, A. 2013. Formulasi Krim
Ekstrak Etanol Daun Lamun.
Jurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT.
Vol.2, No.02
Kurniati, Novi. 2011. Uji Stabilitas
Fisik dan Aktivitas Antioksidan
Formula
Krim
Mengandung

Ekstrak Kulit Buah Delima


(Punica granatum L). [Skripsi].
Universitas Indonesia. Depok.
Lingga, Lanny. 2012. The Healing
Power of Anti-oxidant. PT Elex
Media Komputindo. Jakarta. 1381
Raintung, F., Edy, H.J., Supriati, H.S.
2013.
Formulasi
Krim
Penyembuh
Luka
terinfeksi
Staphylococcus aureus Ekstrak
Daun Tapak Kuda (Ipomoea pescaprae (L.) Sweet pada Tipe A/M.
Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol.2
No.03 UNSRAT. Manado
Saputra, Sam. 2009. Formula Dasar
Kosmetika. Garandi Academic
Press. Jakarta. 186
Shiddiqua, A. 2010. Antioxidant
Activity and Estimation of Total
Phenolic Content of Muntingia
Calabura
by
Colorimetry.
International
Journal
of
ChemTech Research, Vol.2, No.1,
pp 205-208.
Trifena. 2012. Analisis Uji In Vitro dan
In Vivo Ekstrak Kombinasi Kulit
Manggis (Garcinia mangostana
L.) dan Pegagan (Centella
asiatica L.) sebagai Krim
Antioksidan. [Skripsi]. Universitas
Indonesia. Depok.
Widyaningrum, Herlina. 2011. Kitab
Tanaman
Obat
Nusantara.
MedPress. Yogyakarta. 486-487
Zakaria, Z.A. 2011. In Vitro
Antiproliferative and Antioxidant
Activities of the Extracts of
Muntingia Calabura Leaves. The
American Journal of Chinese
Medicine, Vol.39, No.1, 183-200.

41

PROFIL PENGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN


KEMIH PADA BANGSAL PENYAKIT DALAM SELAMA PERIODE
DESEMBER 2013 FEBRUARI 2014 DI RSUD UNDATA
PROVINSI SULAWESI TENGAH
Oleh
Mugiati, Joni Tandi, Purwaningsih, Ummul Fitiyani
Abstrak, Telah dilakukan penelitian tentang Profil Penggunaan Antibiotik Pada Pasien
Infeksi Saluran Kemih Pada Bangsal Penyakit Dalam Selama Periode Desember 2013
Februari 2014 di RSUD Undata , Provinsi Sulawesi Tengah dengan tujuan penelitian
adalah untuk mengetahui penggunaan obat infeksi saluran kemih meliputi tepat dosis
obat yang diberikan, cara pemberian, jangka waktu pemakaian, efek samping, interaksi
obat khususnya pemberian antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih pada bangsal
penyakit dalam di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Populasi dalam penelitian
ini adalah semua pasien Infeksi Saluran Kemih yang menjalani perawatan di ruang
bangsal penyakit dalam RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah, sedangkan sampel
penenlitian adalah semua pasien infeksi saluran kemih yang dirawat pada bangsal
penyakit dalam di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah, selama penelitian di
lakukan menggunakan rancangan participant, observation, dengan pendekatan cross
sectional menggunakan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan
ekslusi. Parameter yang digunakan adalah tepat dosis obat yang diberikan, tepat
indikasi, efek samping, dan interaksi obat khususnya pemberian antibiotik pada pasien
infeksi saluran kemih pada bangsal penyakit dalam di RSUD Undata Provinsi Sulawesi
Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penggunaan obat berdasarkan
tepat dosis yang sesuai adalah 99,9%, presentase penggunaan obat berdasarkan tepat
indikasi yang sesuai adalah 100%, sedangkan untuk penggunaan obat berdasarkan
interaksi obat dan efek samping obat adalah 0%.
Kata kunci : Obat infeksi saluran kemih, participant, observation, crossectional,
purposive Sampling
Abstract, It Has conducted a research about the profile of Antibiotics Use Urinary
Tract Infection Patients at Disease internal Ward Period December 2013 - February
2014 Undata hospitals, Central Sulawesi.The research goal is to investigate the use of
drugs urinary tract infection include the right dose of the drug given, administration,
duration of use, side effects, drug interactions, especially antibiotics patients with
urinary tract infections in internal medicine wards in hospitals Undata. The population
in this study were all patients who underwent a Urinary Tract Infection in the treatment
of disease in the hospital wards Undata, while study samples were all patients who were
treated urinary tract infections in internal medicine wards in hospitals Undata for

42

research done using participant design, observation, with cross sectional approach
using purposive sampling techniques that meet the inclusion and exclusion criteria.
Parameters used is correctadministered dose, precise indications, side effects, and drug
interactions, especially antibiotics in patients with urinary tract infections in internal
medicine wards in hospitals Undata. The results show that the percentage of drug use
based on proper dosage appropriate is 99.9% the percentage of drug use based on the
exact indication of the fit is 100 %, while the use of drugs by drug interactions and side
effects of the drug are 0%.
Keywords : Drug urinary tract infections , participant , observation , cross-sectional ,
purposive sampling
PENDAHULUAN
Insiden dan prevalensi infeksi
saluran kemih (ISK) di Indonesia masih
cukup tinggi. Keadaan ini tidak terlepas
dari tingkat dan taraf kesehatan
masyarakat Indonesia yang masih jauh
dari standar dan tidak meratanya tingkat
kehidupan sosial ekonomi yang mau
tidak mau berdampak langsung pada
kasus infeksi saluran kemih di
Indonesia. Pada umumnya ISK lebih
banyak dijumpai pada wanita dibanding
pada pria kemungkinan karena uretra
wanita lebih pendek. Hal ini
menyebabkan mikroorganisme dari luar
lebih mudah mencapai kandung kemih
dan juga letaknya dekat dengan daerah
perianal dan vagina. Kasus infeksi
saluran kemih pada usia dewasa ini
lebih sering timbul pada wanita dewasa
muda (usia subur). Pada usia tua infeksi
saluran kemih cenderung meningkat
pada laki-laki, karena penggunaan
instrumen. 1,2
Negara
berkembang
seperti
Indonesia prevalensi Infeksi Saluran
Kemih di masyarakat makin meningkat
seiring dengan meningkatnya usia. Pada
usia 40-60 tahun mempunyai angka
prevalensi 3,2 %. Pada usia sama atau

diatas 65 tahun kira-kira mempunyai


angka prevalensi infeksi saluran kemih
sebesar 20%. Infeksi saluran kemih
dapat terjadi pada laki-laki maupun
wanita dari semua umur baik anak-anak,
remaja, dewasa, maupun lanjut usia.
Infeksi ini juga merupakan penyakit
infeksi bakterial tersering yang ditemui
pada praktek umum dan bertanggung
jawab terhadap morbiditas khususnya
pada wanita dalam kelompok usia
seksual aktif. Insiden terjadinya infeksi
saluran kemih di setiap negara
mempunyai data statistik yang berbeda,
hal ini dipengaruhi oleh taraf kesehatan
dan pelayanan medis.
Penentuan adanya infeksi saluran
kemih harus ditemukan adanya bakteri
di dalam urin. Indikasi yang paling
penting
dalam
pengobatan
dan
pemilihan antibiotik yang tepat adalah
mengetahui jenis bakteri apa yang
menyebabkan infeksi saluran kemih.
Penyebab
peradangan
yang
menyebabkan infeksi saluran kemih
didominasi oleh bakteri gram negatif
Escherichia
coli.
Pemeriksaan
penunjang diperlukan pada infeksi
saluran kemih untuk mengetahui adanya

43

batu atau kelainan anatomis yang


merupakan faktor predisposisi infeksi
saluran kemih sehingga mampu
menganalisa penggunaan obat serta
memilih obat yang tepat. Sasaran terapi
pada infeksi saluran kemih adalah
mikroorganisme penyebab infeksi,
sehingga pengobatan infeksi saluran
kemih sebagian besar menggunakan
antibiotik. 3
Berdasarkan survei data awal
yang dilakukan di RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah dari tahun
2010 sampai dengan tahun 2012
menunjukkan angka yang berfluktuasi
setiap tahun. Jumlah penderita infeksi
saluran kemih (ISK) pada tahun 2010
sebanyak 180 orang, tahun 2011
sebanyak 227 orang dan tahun 2012
sebanyak 229 orang. Hal
ini
menggambarkan bahwa infeksi saluran
kemih di RSUD Undata Provinsi
Sulawesi Tengah masih merupakan
salah satu penyakit yang prevalensinya
meningkat setiap tahun dan banyak
menyerang semua lapisan masyarakat
dari berbagai kelas ekonomi. Tingginya
angka prevalensi infeksi saluran kemih
tidak hanya dipengaruhi oleh taraf hidup
masyarakat tetapi juga dikarenakan oleh
kehidupan yang tidak bersih sehingga
memicu masuknya bakteri ke dalam
tubuh.
Antibiotik sebagai obat untuk
menanggulangi
penyakit
infeksi,
penggunaannya harus tepat dan aman.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat
akan menimbulkan dampak negatif,
seperti terjadi kekebalan kuman
terhadap
beberapa
antibiotika.
Penggunaan
antibiotik
diharapkan
mempunyai dampak positif, efek negatif

dari penggunaan antibiotik yang tidak


tepat antara lain muncul dan
berkembangnya bakteri yang resisten
terhadap antibiotik, penyakit akibat
super infeksi bakteri resisten, terjadinya
toksisitas/efek samping obat, sehingga
perawatan penderita menjadi lebih lama,
biaya pengobatan menjadi lebih mahal,
dan akhirnya menurunnya kualitas
pelayanan
kesehatan.
Pemilihan
antibiotik ditentukan oleh keadaan
klinis pasien, kuman-kuman yang
berperan dan sifat obat antibiotika itu
sendiri.
Faktor yang perlu diperhatikan
pada pemberian antibiotika dari segi
keadaan klinis pasien adalah kegawatan
atau bukan kegawatan, usia pasien,
insufisiensi ginjal, gangguan fungsi hati,
keadaan granulositopenia dan gangguan
pembekuan darah. Infeksi saluran kemih
perlu mendapat perhatian khusus dari
kalangan praktisi medis yang berjumpa
langsung dengan kasus infeksi saluran
kemih di klinik karena bila kasus infeksi
saluran
kemih
tidak
dilakukan
manajemen terapi yang baik dan benar
akan dapat menimbulkan komplikasi
yang tidak diinginkan, mulai dari yang
paling
ringan
(misalnya
febris
generalisata)
hingga
yang
fatal
(misalnya gagal ginjal akut ataupun
gagal ginjal kronik).1,3
Berdasarkan latar belakang di atas
maka peneliti ingin mengetahui
bagaimana profil penggunaan antibiotik
pada pasien
infeksi saluran kemih pada
bangsal penyakit dalam selama periode
bulan Desember 2013- Februari 2014 di
RSUD Undata, Provinsi Sulawesi
Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk

44

mengetahui penggunaan obat infeksi


saluran kemih meliputi tepat dosis obat
yang diberikan, cara pemberian, jangka
waktu pemakaian, efek samping,
interaksi obat khususnya pemberian
antibiotik pada pasien infeksi saluran
kemih pada bangsal penyakit dalam di
RSUD Undata Provinsi Sulawesi
Tengah. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi kepada praktisi
kesehatan, pembuat kebijakan, serta
masyarakat kesehatan dan para peneliti
lain mengenai gambaran penggunaan
antibiotik pada pasien infeksi saluran
kemih pada bangsal penyakit dalam di
RSUD Undata Provinsi Sulawesi
Tengah.
Data penelitian diolah secara
prospektif dengan metode deskriptif
menggunakan sampel yang diperoleh
dari observasi lapangan di RSUD
Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil
dari penelitian ditampilkan dalam
bentuk tabel dan diagram. Penggunaan
metode deskriptif dengan tujuan untuk
memperoleh gambaran penggunaan obat
infeksi saluran kemih pada bangsal
penyakit dalam di RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah.

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian akan dilaksanakan pada
bulan Desember 2013 Februari 2014
bertempat di RSUD Undata Provinsi
Sulawesi Tengah,
( Bangsal
penyakit dalam meliputi ruang Seroja,
Kenanga, Flamboyan dan instalasi
farmasi).

METODE KERJA
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan rancangan participant
observation dengan pendekatan crosssectional di RSUD Undata Palu pada
pasien Infeksi Saluran Kemih. Data
yang diperoleh dari hasil penelitian ini
dianalisis secara prospektif dengan
metode deskriptif.

b. Kriteria Eksklusi
1. Pasien Infeksi Saluran Kemih yang
tidak menjalani perawatan pada
bangsal penyakit dalam (rawat
jalan).
2. Pasien Infeksi Saluran Kemih yang
berumur di bawah 15 dan di atas 65
tahun.

Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien Infeksi Saluran
Kemih yang menjalani perawatan di
ruang bangsal penyakit dalam RSUD
Undata Provinsi Sulawesi Tengah.
Sampel dalam penelitian ini
adalah pasien infeksi saluran kemih
yang dirawat pada bangsal penyakit
dalam di RSUD Undata Provinsi
Sulawesi Tengah selama penelitian.
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi
dalam penelitian ini adalah:
a. Kriteria Inklusi
1. Pasien Infeksi Saluran Kemih yang
menjalani perawatan pada bangsal
penyakit dalam di RSUD Undata
palu selama penelitian berlangsung.
2. Pasien Infeksi Saluran Kemih yang
berumur 15-65 tahun.

45

Prosedur Penelitian
Pengambilan
data
primer
dilakukan dengan wawancara dan
mengamati langsung keadaan pasien.
Data sekunder diperoleh dari catatan
rekam medik pasien. Data yang
dikumpulkan kemudian diklasifikasikan
berdasarkan jenis kelamin, umur,
penggunaan obat yang sesuai dengan
dosis, tepat indikasi, interaksi obat,
monitoring efek samping obat, tingkat
kepatuhan pasien dalam pengobatan dan
kelengkapan resep.
Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil
penelitian dianalisis secara prospektif
dengan metode deskriptif yang disajikan
dalam bentuk tabel dan diagram. Tujuan
penggunaan metode deskriptif untuk

memperoleh gambaran penggunaan obat


Infeksi Saluran Kemih.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini adalah penelitian
deskriptif, dimana jumlah sampel dari
penelitian ini sebanyak 33 orang yang
merupakan pasien infeksi saluran kemih
dan pengambilan sampel dilakukan
selama tiga (3) bulan yaitu mulai
tanggal 18 Desember 2013 dan berakhir
pada tanggal 18 Februari 2014. Sampel
diambil berdasarkan kriteria inklusi
yang telah disusun sebelumnya dengan
pengambilan data sampel menggunakan
lembar observasi pasien.
Hasil penelitian ini disajikan dalam
bentuk tabel dan diagram yang tampak
sebagai berikut:

1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Tabel 4.2. Klasifikasi Pasien Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Jenis Kelamin
No
Jenis kelamin
Jumlah
Persentase
(orang)
(%)
1.
Laki-laki
13
39,40%
2.
Perempuan
20
60,60%
Total
33
100
Sumber: RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2014
Data hasil analisa tabel 2, menunjukkan distribusi responden berdasarkan jenis
kelamin yaitu perempuan sebanyak 20 orang (60,60%) dan laki-laki 13 orang (39,40%),
hasil analisa ini didapatkan pasien dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak
jumlahnya dibandingkan jenis kelamin laki-laki, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
diagram dibawah ini:

46

Grafik penderita infeksi saluran


kemih berdasarkan jenis
kelamin
30
20

60,60%

10

39,40%

0
laki-laki

perempuan

Gambar 4.1. Distribusi Jumlah Penderita Infeksi Saluran Kemih


Berdasarkan jenis Kelamin
2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Tabel 4.3. Klasifikasi Pasien Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Usia
No.

Usia penderita ( tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

16 45
45 65

25
8

75,75%
24,25%

Total

33

100%

1.
2

Sumber: RSUD Undata Propinsi Sulawesi Tengah tahun 2014


Data hasil analisa tabel 3, menunjukkan bahwa jumlah pasien yang berusia antara
16 65 tahun (Dewasa) yaitu 33 orang (100%), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
diagram dibawah ini:

Grafik penderita infeksi saluran kemih


berdasarkan umur
30
25
20
15

24%

10

75,75%

5
0
16-45 tahun

45-65 tahun

Gambar 4.2. Distribusi Jumlah Penderita Infeksi Saluran Kemih


Berdasarkan Umur

47

3. Pola peresepan Obat Antibiotik pada Penderita Infeksi Saluran Kemih


1. Distribusi penggunaan antibiotik berdasarkan golongan dan jenis
Tabel 4.4. Persentase penggunaan obat antibiotik pada penderita
infeksi saluran kemih
No

Golongan

Nama
Generik
Ceftriaxon
Cefotaxim
Cefadroxil

Jumlah obat
25
8
2
35

Persentase
(%)
53,20
17,02
4,25
74,47

Cefalosporin

Ciprofloxacin

12

25,53

Jumlah

12

25,53

Total

47

100

Jumlah
2

Kuinolon

Sumber : RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2014


Hasil analisa tabel 4. Menunjukkan penggunaan antibiotik yang paling banyak
diberikan pada penderita infeksi saluran kemih berdasarkan golongan adalah golongan
Sefalosporin sebesar 70,22 %, sedangkan berdasarkan jenis obat yang paling banyak
digunakan adalah Ceftriaxon sebesar 53,20% untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
grafik dibawah ini:

Grafik Penggunaan obat antibiotik


berdasarkan golongan
40
35
30
25
20
15

25,53%

35

74,47%

10
12

5
0
Sefalosporin

Kuinolon

Gambar 4.3. Distribusi Penggunaan Antibiotik pada Penderita


Infeksi Saluran Kemih berdasarkan golongan

48

30

Grafik Penggunaan obat antibiotik


berdasarkan jenis

25
20
15
10

25,53%

25

53,20%
12

5
0
Ceftriaxon

Ciprofloxacin

Gambar 4.4. Distribusi Penggunaan Antibiotik pada Penderita Infeksi


Saluran Kemih berdasarkan jenis.
2. Distribusi penggunaan obat berdasarkan kombinasi
Tabel 4.5. Persentase Penggunaan kombinasi Obat pada Penderita Infeksi
Saluran Kemih
No Tipe Kombinasi
Jumlah
Presentase (%)
1. Cefalosporin + Antagonis
20
62,5%
Reseptor H2 Bloker +
Analgetik
2. Analgetik + Betalactam Lain + 1
3,12%
Antasida
3. Analgetik + Betalactam lain + 9
28,13%
Antagonis Reseptor H2 Bloker
4. Analgetik + Kuinolon +
2
6,25%
Antagonis Reseptor H2 Bloker
+ Antihipertensi
Jumlah
32
100
Sumber: RSUD undata Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2014
Hasil analisa data tabel 5. Menunjukkan kombinasi penggunaan obat antibiotik
yang paling banyak diberikan pada penderita infeksi saluran kemih adalah
kombinasi antibiotik dari golongan sefalosporin dengan antagonis reseptor H2
bloker dan analgetik dengan presentase sebesar 62,5% untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada grafik dibawah ini.

49

Grafik penggunaan kombinasi obat antibiotik


25
20
15
10
5
0
Analgetik +
Analgetik +
Analgetik +
Sefalosporin +
Betalactam Lain + Betalactam lain + Betalactam lain + Antagonis Reseptor
Antasida
Antagonis Reseptor Antagonis Reseptor
H2 Bloker +
H2 Bloker
H2 Bloker +
Analgetik
Antihipertensi

Gambar 4.5. Distribusi penggunaan kombinasi obat antibiotik pada


penderita infeksi saluran kemih
3.

Penggunaan Obat Berdasarkan Parameter Tepat Indikasi, Tepat Dosis,


Interaksi
Tabel 4.6 : Persentase penggunaan obat penderita infeksi saluran kemih

berdasarkan
parameter tepat
indikasi, tepat
dosis, interaksi
obat, dan
monitoring efek.
No:
1.
2.
3.
4.

Jenis Kriteria

Tepat Indikasi
Tepat Dosis
Interaksi Obat
Monitoring
Samping

Efek

Sesuai
(%)

Tidak sesuai
(%)

100
99,9%
-

100
100

50

4.1.4 Kelengkapan Resep


Tabel 4.7 : Persentase Kelengkapan Resep
No

Jenis Kriteria

1.

Tanggal
penulisan
resep
TTD atau paraf dokter
Penulisan resep
Nama pasien
Umur pasien
Alamat pasien
Jenis kelamin
Berat badan
Nama obat
Dosis
Jumlah permintaan
Cara pemakaian yang
Jelas

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Ada

Persentase
(%)

Tidak
ada

Persentase
(%)

95

100

95

100

95
95
95
95
95
95
95

100
100
100
100
100
100
100

95
-

100
-

95

100

4.1.4 Kelengkapan Resep


Tabel 4.7 : Persentase Kelengkapan Resep
No

Jenis Kriteria

1.

Tanggal
penulisan
resep
TTD atau paraf dokter
Penulisan resep
Nama pasien
Umur pasien
Alamat pasien
Jenis kelamin
Berat badan
Nama obat
Dosis
Jumlah permintaan
Cara pemakaian yang
Jelas

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Ada

Presentase
(%)

Tidak
ada

Persentase
(%)

95

100

95

100

95
95
95
95
95
95
95

100
100
100
100
100
100
100

95
-

100
-

95

100

51

4.1.5 Distribusi Kondisi Pasien Keluar Rumah Sakit


Tabel 4.8. Persentase distribusi kondisi pasien keluar rumah sakit
No

Kondisi Keluar Rumah Sakit

1
Sembuh
2
Membaik
3
Pulang paksa
4
Meninggal
Jumlah
PEMBAHASAN
Infeksi saluran kemih (ISK)
adalah infeksi bakteri yang terjadi pada
saluran kemih (mencakup organ-organ
saluran kemih, yaitu ginjal, ureter,
kandung kemih, uretra dan kelenjar
prostat). Infeksi saluran kemih (ISK)
adalah keadaan berkembang biaknya
mikroorganisme patogen di dalam
saluran kemih yang menyebabkan
inflamasi. Dalam keadaan normal
saluran kemih tidak mengandung
bakteri, virus, atau mikroorganisme
lainnya.(3)
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada penderita infeksi saluran
kemih di Rumah Sakit Undata Provinsi
Sulawesi Tengah diperoleh 33 jumlah
pasien. Dari data yang diperoleh,
penderita penyakit infeksi saluran
kemih berdasarkan jenis kelamin
presentase tertinggi sebesar 60,60%
adalah perempuan sedangkan laki-laki
39,40%. Hal ini terjadi karena pada
wanita memiliki uretra yang lebih
pendek dari pada laki-laki sehingga
memudahkan
masuknya
mikroorganisme dalam kandung kemih.
Penderita penyakit infeksi saluran
kemih terjadi pada usia 16-65 tahun
dengan persentase sebesar 100%. Hal

Jumlah pasien
(orang)
32
1
33

Persentase (%)
99,9%
0,1%
100%

ini dikarenakan diusia ini mobilitas


menurun khususnya dalam kelompok
seksual aktif sehingga terjadi infeksi
bakterial di dalam saluran kemih.
Dalam keadaan normal saluran kemih
tidak mengandung bakteri, virus,
maupun mikroorganisme lainnya.(6)
Pada prinsipnya pengobatan
infeksi saluran kemih tidak berbeda
dengan pengobatan penyakit lain pada
umumnya. Pemberian obat antibiotik
harus diberikan dengan mengingat
kepentingan secara individividual dan
tingkat kelainan metabolik.(2)
Pada
terapi pengobatan penderita infeksi
saluran kemih obat yang diberikan
adalah Ceftriaxon 53,20%, Cefotaxim
17,02%,
Cefadroxil
4,25%,
Ciprofloxacin 25,53%. Berdasarkan
data tersebut dapat dilihat bahwa
golongan antibiotik yang paling banyak
diberikan adalah golongan obat
cefalosporin dengan presentase sebesar
70,22%.
Cefalosporin
merupakan
antibiotik yang efektif pada penderita
infeksi saluran kemih karena sangat
mampu
menghambat
sintesis
peptidoglikan dinding sel bakteri,
sehingga dapat melemahkan dinding sel
bakteri. Obat dari golongan antagonis
kalsium yang paling banyak digunakan

52

adalah ceftriaxon, obat ini aman


diberikan
bersama
dengan
obat
antibiotik lainnya tanpa menimbulkan
interaksi secara langsung. Obat lain
yang digunakan untuk pengobatan
penyakit infeksi saluran kemih yaitu
golongan kuinolon dan betalactam lain.
Golongan kuinolon bekerja dengan cara
berikatan dengan -subunit dari RNA
polymerase sehingga menghambat
transkripsi RNA dari bakteri.
Ketepatan penggunaan antibiotik
di Rumah Sakit Undata Palu
berdasarkan parameter tepat indikasi
hasil
persentasenya
100%.
Menunjukkan bahwa semua obat
antibiotik yang digunakan pada pasien
infeksi saluran kemih sesuai dengan
indikasi. Tepat indikasi menunjukkan
kemanfaatan dari suatu obat untuk
mengobati suatu penyakit. Ketepatan
indikasi obat disesuaikan dengan
diagnosa, keluhan/kondisi pasien, data
klinik
dan
berdasarkan
hasil
pemeriksaan. Interaksi obat adalah
perubahan efek suatu obat akibat
pemakaian obat lain. Persentase
penggunaan obat berdasarkan parameter
interaksi obat diperolah hasil 0%.
Menunjukkan bahwa kombinasi obat
antara antibiotik dengan obat yang
lainnya tidak saling mengubah efek dari
obat tersebut. Interaksi obat dapat
dihindarkan bila penggunaan obat diberi
jangka waktu selang 2 jam. Efek
samping dalam penggunaan obat
presentasenya 0% yaitu monitoring efek
sampingnya tidak ada. Dosis merupakan
ukuran
pemberian
obat
untuk
memberikan efek tertentu pada suatu
pemberian obat. Pada persentase
ketepatan dosis diperoleh hasil yang

berbeda yaitu 99,9%. Hal ini


dikarenakan satu pasien yang pulang
tanpa seizin dari dokter yang
menangani, jadi ketepatan dosis tidak
sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka
dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Golongan obat antibiotik yang
diberikan pada penderita infeksi
saluran kemih yaitu golongan obat
Cefalosporin,
Kuinolon
dan
Betalactam lain.
2. Penggunaan obat antibiotik yang
paling banyak digunakan pada
penderita infeksi saluran kemih di
RSUD Provinsi Sulawesi Tengah,
berdasarkan
golongan
obat
antibiotik
yaitu
golongan
Cefalosporin dengan persentase
sebesar 70,22%% yaitu jenis obat
Ceftriaxon dan Cefotaxim.
3. Penggunaan
obat
antibiotik
berdasarkan
parameter
tepat
indikasi, tepat cara pemberian dan
tepat jangka waktu pemakaian
masing-masing 100% dan ketepatan
dosis diperoleh hasil 99,9%,
sedangkan untuk interaksi obat dan
monitoring efek samping diperoleh
0%.

53

DAFTAR PUSTAKA
Arief Mansjoer, 1999. Kapita Selekta
Kedokteran. Ed III. Media
Aesculapius. Fakultas Kedokteran
Unversitas Kedokteran Indonesia.
Jakarta
Departemen
Farmakologi
dan
Teraupetik Fak. Kedokteran 2007.
Farmakologi dan Terapi. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta
Departemen Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya.
2009. Ebook Kumpulan Kuliah
Farmakologi. EGC. Jakarta
Dr. Kusnandar, Apt, dkk. 2008. ISO
Farmakoterapi.
PT.
ISFI
Penerbitan. Jakarta
Fawwet dow, 2002. Ebook Buku Ajar
Histologi Edisi 12. EGC. Jakarta
Harkness Richard, 1989. Interaksi Obat.
ITB. Bandung
Joyce L. Kee, Evelyn R. Hayes. 1994.
Ebook Farmakologi pendekatan
Proses
keperawatan.
Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Katzung Bertram G, 2004. Farmakologi
Dasar dan Klinik Buku 3, Edisi 8.
Salemba Medika. Jakarta
Muttaqin
Arif,
1999.
Asuhan
keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Salemba Medika.
Jakarta
Notoatmodjo
Soekidjo,
2010.
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Rineka Cipta. Jakarta

Pratika_Novi_Wilianti
pdf,
2009.
Penelitian
Rasionalitas
penggunaan antibiotik pada psien
infeksi saluran kemih pada
bangsal penyakit dalam di RSUP
DR KARIADI Semarang Tahun
2008. (Online) diakses tgl 30 april
2013.
PT ISFI, 2008. Informasi Spesialite
Obat Indonesia Volume 43. Pt
Ikrar Maniri Abadi. Jakarta
Refdanita, Maksum R, Nurgani A,
Endang P. 2004. Faktor yang
mempengaruhi
ketidaksesuaian
penggunaan antibiotik dengan uji
kepekaan ruang intensif rumah
sakit fatmawati jakarta tahun
2001-2002. Makara Kesehatan,
vol 8, No. 1, Juni 2004: 21-26
Samirah,dkk,2009. Indonesian jurnal of
clinical phatology and medical
laboratory, pola dan sensitivitas
kuman di penderita infeksi
saluran kemih. (online) diakses tgl
30 april 2013
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Alfabeta. Bandung
Tim Editor, 2010. MIMS Indonesia
Petunjuk Konsultasi Ed 10. UBM
Medica
Drug
References
Worldwide. Jakarta
Tjay Tan Hoan, 2007. Obat-obat
Penting. ED VI. PT Elex Media.
Komputindo. Gramedia Jakarta .

54

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA KRIM EKSTRAK


KULIT BATANG KERSEN (Muntingia calabura)
Antioxidant and Sunscreen Cream Activity Test of Extract Steam Bark Cherry
(Muntingia calabura)
Oleh
Muthmainah Tuldjanah., Yuliet, Dermiati T.
Abstract. Testing the antioxidant and sunscreens cream activity of extract steam bark
Muntingia calabura has been done. The purpose of this study was to determine
differences in the physical quality cream with a cherry steam bark extract variation in
concentration of 0%, 1%, 2%, 4% and to determine the activity and sunscreen
preparation cream cherry steam bark extract. Extract cherry steam bark is extracted by
means of remaseration using etanol 96%. The extract obtained was formulated in the
form of cream preparation with a concentration variations of 1%, 2%, and 4%. Cream
that has been formulated, namely testing physical quality cream, sunscreen, and
antioxidant activity. Determination of antioksidant activity using the method DPPH free
radical reduction (1,1-diphenyl-picrylhidrazyl) and activities carried out by determining
sunscreen with an SPF value of spectrophotometric method. The results of this study
show that the concentration variation in cherry steam bark extract cream effect the
physical stability of the quality cream is viscosity but does not effect the stability is pH,
organoleptic, homogeneity, type of emulsions and cream absorption. Cream cherry bark
extract at a concentration of 1%, 2%, and 4% did not have sunscreen activity but has
antioxidant activity, respectively for 3,694 ppm, 2,470 ppm, and 2,307 ppm at a
concentration of 1%, 2% and 4%.
Keywords: Steam bark cherry, Antioxidants, Sunscreen.
Abstrak. Telah dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dan tabir surya ekstrak kulit
batang kersen (Muntingia calabura). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbedaan mutu fisik krim ekstrak kulit batang dengan variasi konsentrasi 0%, 1%, 2%,
4% dan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan tabir surya sediaan krim ekstrak
kulit batang kersen. Ekstrak kulit batang kersen diekstraksi dengan cara remaserasi
menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh diformulasikan dalam bentuk sediaan
krim dengan variasi konsentrasi 1% 2%, dan 4%. Krim yang telah diformulasikan
dilakukan pengujian yaitu mutu fisik krim, aktivitas antioksidan dan tabir surya.
Penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH
(1,1-difenil-pikrilhidrazil) dan aktivitas tabir surya dilakukan dengan menentukan nilai
SPF dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi
konsentrasi ekstrak kulit batang kersen dalam krim mempengaruhi stabilitas mutu fisik
krim yaitu viskositas tetapi tidak mempengaruhi stabilitas pada pH, organoleptik,
55

homogenitas, tipe emulsi dan daya serap krim. Krim ekstrak kulit batang kersen dengan
konsentrasi 1%, 2%, dan 4% tidak memiliki aktivitas tabir surya tetapi memiliki
aktivitas antioksidan berturut-turut sebesar 3,694 ppm, 2,470 ppm, dan 2,307 ppm pada
konsentrasi 1%, 2% dan 4%.
Kata Kunci : Kulit Batang Kersen, Antioksidan, Tabir Surya.
PENDAHULUAN
Tanaman
kersen
(Muntinga
calabura) banyak dijumpai di pinggir
jalan, tumbuh ditengah retakan rumah,
di tepi saluran pembuangan air dan
tempat-tempat yang kurang kondusif.
Buah kersen sangat disukai oleh
burung-burung pemakan buah, namun
pada biji buah kersen tidak dicerna oleh
burung sehingga biji tersebut terpencar
ke berbagai tempat. Tanaman ini
merupakan tanaman liar yang mudah
beradaptasi sehingga mudah dijumpai
di Indonesia. Muntinga calabura
berasal dari Central Benua Amerika dan
daerah Subtropis Amerika Selatan,
kemudian ditanam dan dengan cepat
tersebar di daerah Asia yang tropis
seperti Indonesia. (Santoso, sanarto
dkk., 2012)
Bagian-bagian
dari
tanaman
kersen memiliki banyak khasiat salah
satunya kulit batang kersen. Beberapa
penelitian menyatakan bahwa, kulit
batang kersen mengandung senyawa
flavonoid, flavon, polifenol dan tanin
sehingga dapat digunakan sebagai
antioksidan, antibakteri, antiinflamasi,
dan anti tumor. Berdasarkan penelitian
sebelumnya diketahui kulit batang
kersen (Muntingia calabura) memiliki
potensi antioksidan yang baik dengan
nilai IC50 pada ekstrak metanol yaitu
92,5 ppm adanya potensi antioksidan
yang dimiliki ekstrak kulit batang

kersen maka ekstrak tersebut dapat


diformulasikan menjadi sediaan krim
antioksidan dan tabir surya. (Alista,
mela)
Krim adalah bentuk sediaan
setengah padat yang mengandung satu
atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang
sesuai(Anonim, 1995). Krim sangat
mudah digunakan pada kulit dan
merupakan media pembawa dengan
kapasitas yang cukup besar. Krim dapat
memberikan
efek
mengkilap,
berminyak,
kelembaban,
mudah
tersebar merata, dan mudah berpenetrasi
pada kulit (Juwita, dkk 2013). Salah
satu sediaan krim yang beredar
dipasaran
adalah
sediaan
krim
antiosidan dan tabir surya. Antioksidan
adalah molekul yang dapat mematikan
radikal bebas agar sel-sel tubuh terbebas
dari kerusakan. Antioksidan dapat
membantu melindungi tubuh dari
radikal bebas dengan meredam dampak
negatif senyawa tersebut (Siagian P,
2012). Tabir surya merupakan bentuk
sediaan yang di dalamnya mengandung
zat yang mampu menyerap atau
memantulkan
radiasi
ultraviolet
sehingga mengurangi energi radiasi
yang
berpenetrasi
ke
kulit.
Berkurangnya energi dari radiasi yang
berpenetrasi ke dalam kulit diharapkan
agar efek-efek kerusakan yang tidak
diinginkan pada kulit akibat paparan
56

sinar matahari yang berlebihan dapat


berkurang (Setiawan, Tri 2010).
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian
dilaksanakan
di
Laboratorium
Fitokimia
dan
Farmakognosi STIFA Pelita Mas Palu
dan Laboratorium Farmasetik Program
Studi FMIPA Universitas Tadulako,
yang telah dilakukan mulai bulan
Desember 2013 sampai dengan Februari
2014.
ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan pada
penelitian ini yaitu Ayakan mesh no.40,
batang pengaduk (pyrex), bejana
maserasi, blender (cosmos), cawan
porselin, gelas kimia (pyrex), gelas ukur
(pyrex), kuvet, labu ukur (pyrex), mortir
dan stamper, objek gelas, pH meter
(consort C561), pipet tetes (pyrex),
penangas air (memmert), rotary
evaporator (buchi R-300), sendok
tanduk, sentrifuge, spektrofotometer
UV-VIS (hitachi), magnetic stirrer,
tabung reaksi (pyrex), timbangan
analitik (ohaus galaxy 400 dan 160),
viskometer, wadah krim.
Bahan yang digunakan pada
penelitian ini yaitu aquadest (brataco),
BHT (brataco), besi (III) klorida
(brataco), kulit batang kersen, etanol
absolute, etanol 96%, gliserin (brataco),
gliserin monostearat (brataco), HCl
(brataco), kloroform, metil paraben
(brataco), paraffin cair (brataco),
pereaksi mayer (Brataco), pereaksi
Lieberman-Bouchard (brataco), propil
paraben (brataco), serbuk magnesium
(brataco),
trietanolamin
(brataco),
vitamin E, 1,1-difenil-2-pikrihidrazil.

PENYIAPAN
SAMPEL
DAN
EKSTRAK
Sampel yang digunakan adalah
kulit
batang
kersen
(Muntingia
calabura) diperoleh dari daerah Palu,
Sulawesi Tengah. Sampel yang
digunakan dikumpulkan dan selanjutnya
dicuci dengan air mengalir, dipotongpotong atau dirajang dengan ukuran
yang kurang lebih sama. Dilakukan
proses
pengeringan
dengan
dikeringanginkan di udara terbuka dan
terlindung dari cahaya matahari
langsung. Ekstrak kulit batang kersen
dibuat menggunakan metode maserasi
yaitu kulit batang kersen yang telah
kering diblender hingga menjadi serbuk
halus. Serbuk kemudian ditimbang
sebanyak 594 g lalu diekstraksi dengan
menggunakan 5 L pelarut etanol 96%
selama tiga hari. Ekstrak kemudian
disaring dengan menggunakan kertas
saring, dan didapatkan filtrat pertama
kemudian dilakukan remaserasi kembali
selama 2 hari dengan mengunakan 4 L
etanol 96% selama dua hari. Hasil
remaserasi kemudian dikumpulkan
dengan filtrat yang pertama kemudian
diuapkan dengan evaporator pada suhu
70oC
sampai
jumlah
filtratnya
berkurang hingga dari volume awal.
Filtrat
yang
telah
dievaporator
kemudian diuapkan dipenangas air
sampai didapatkan ekstrak kental.
PENGUJIAN FITOKIMIA
1. Uji Alkaloid
Serbuk simplisia sebanyak 2 g
dilembabkan dengan 5 ml amonia 25%,
kemudian ditambahkan dengan 20 ml
kloroform, digerus kuat dan disaring.
Filtrat yang diperoleh dibagi ke dalam
57

plat tetes masing-masing 3 tetes lalu


ditambahkan dengan HCl 10% yang
mana masing-masing ditambahkan 2
tetes pereaksi Wagner, pereaksi Meyer
dan pereaksi Dragendorff. Pereaksi
Wagner terbentuk endapan coklat
sampai hitam dan dengan pereaksi
Meyer terbentuk endapan berwarna
putih
sedangkan
pada
pereaksi
Dragendorff terbentuk warna merah
atau jingga maka simplisia mengandung
alkaloid.
2. Uji Flavonoid
Serbuk simplisia sebanyak 1 g
ditambah dengan 100 ml air dididihkan
selama 15 menit kemudian disaring
dalam keadaan panas. Filtrat air ini
selanjutnya disebut filtrat A. Filtrat
yang diperoleh diambil 5 ml lalu
ditambahkan serbuk magnesium dan
asam
klorida
pekat,
kemudian
ditambahkan 2 ml etanol 96%, dikocok
kuat-kuat dan dibiarkan memisah.
Diamati warna yang terbentuk pada
lapisan etanol. Apabila warna lapisan
etanol merah, kuning atau jingga maka
simplisia positif mengandung flavonoid.
3. Uji Tanin
Filtrat A sebanyak 5 ml
ditambahkan 2 tetes FeCl3 1%. Apabila
terbentuk warna biru tua atau hitam
kehijauan maka positif tanin.
4. Uji Steroid/triterpenoid
Serbuk simplisia sebanyak 1 g
dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2
jam. 5 ml filtrat kemudian diuapkan dan
residunya ditambah dengan pereaksi
Liebermann-Bouchard.
Terjadi
perubahan warna dari hijau menjadi

biru berarti positif adanya steroid. Jika


berwarna
merah
berarti
positif
triterpenoid.
5. Uji Saponin
Filtrat A sebanyak 10 ml
didinginkan lalu dikocok kuat secara
vertikal selama 10 detik. Terbentuk
busa yang stabil selama tidak kurang
dari 10 menit, maka pengujian
dilanjutkan dengan menambahkan 2
tetes HCl 2 N. Jika busa tidak hilang
maka simplisia mengadung saponin.
PEMBUATAN KRIM
a. Pembuatan fase air
Menyiapkan alat dan bahan yang
akan
digunakan,
menimbang
trietanolamin, gliserin, dan nipagin.
Nipagin, trietanolamin dilarutkan dalam
air diatas penangas air pada suhu 70o C
sampai meleleh dan diaduk hingga
homogen.
b. Pembuatan fase minyak
Menimbang nipasol, gliserin
monostearat, asam stearat, BHT, cetil
alkohol dan parafin cair.Bahan-bahan
fase minyak kemudian dileburkan diatas
penangas air sampai meleleh dan diaduk
hingga homogen.
c. Pembuatan Krim
Menyiapkan mortir dan stamper,
Ekstrak kulit batang kersen dimasukkan
kedalam mortir lalu ditambahkan fase
minyak sedikit demi sedikit lalu
digerus, ditambahkan fase air sedikit
demi sedikit sambil terus digerus
dengan kecepatan konstan hingga
homogen dan membentuk massa krim,
selanjutnya dibuat krim dengan cara
58

yang sama untuk konsentrasi ekstrak


kulit batang kersen yang berbeda-beda
yaitu pada konsentrasi 1%, 2%, dan 4%.

krim memisah. Uji ini bertujuan untuk


mengetahui kemampuan krim dalam
menyerap air.

PENGUJIAN SEDIAAN KRIM


1. Uji organoleptik
Uji organoleptik dilakukan
dengan cara mengamati bentuk, warna
dan bau krim dari sediaan krim ekstrak
kulit batang kersen. Uji ini dilakukan
untuk mengetahui krim yang dibuat
sesuai dengan warna dan bau ekstrak
yang digunakan.

5.

2. Uji homogenitas
Mengambil 1 gram krim kulit
batang kersen kemudian dioleskan pada
sekeping
kaca
transparan,
lalu
mengamati apakah terjadi pemisahan
fase pada kiim. Uji ini bertujuan untuk
melihat dan mengetahui tercampurnya
bahan-bahan sediaan krim.
3. Uji pH
Pengujian pH pada krim ekstrak
kulit batang kersen dilakukan dengan
menggunakan alat pH-meter yang
sebelumnya telah dikalibrasi dengan
larutan dapar standar pH 4 dan 7.
Bagian elektroda pH-meter dimasukkan
ke dalam krim ekstrak kulit batang
kersen dan angka yang terlihat pada
layar adalah nilai pH dari krim.
4. Uji daya serap
Menimbang 1 g krim ekstrak
kulit batang kersen lalu ditetesi air
sambil diaduk atau dikocok. Penetesan
air pada krim dilakukan sampai krim
tidak dapat menyerap air lagi atau krim
memisah dengan air. Jumlah air yang
dibutuhkan kemudian dihitung hingga

Uji viskositas
Pengukuran
viskositas
menggunakan
alat
Viskometer
Brookfield dengan spindel nomor 6
yang dipasang pada alat kemudian
dicelupkan ke dalam beker glass yang
berisi krim ekstrak kulit batang kersen.
Kecepatan alat diatur pada kecepatan 10
rpm kemudian skala dibaca dengan
mengamati jarum merah saat posisinya
telah stabil.
6. Uji tipe krim
Pengujian tipe emulsi bertujuan
untuk membedakan tipe emulsi yang
digunakan pada krim ekstrak kulit
batang kersen. Krim atau emulsi
diteteskan pada kertas saring jika terjadi
noda minyak berarti krim menunjukkan
tipe A/M, tetapi jika kertas saring
terlihat basah merata berarti krim atau
emulsi menunjukkan tipe M/A.
PENENTUAN
AKTIVITAS
ANTIOKSIDAN
Pada
masing-masing
krim
ekstrak kulit batang kersen diuji
aktivitas antioksidan dengan metode
peredaman radikal DPPH. Nilai IC50
dihitung dengan menggunakan rumus
persamaan regresi. Sampel krim
ditimbang masingmasing sebanyak 0,5
g kemudian dilarutkan dengan etanol pa
hingga volumenya 25 ml, dimana
konsentrasi yang diperoleh adalah
20.000 ppm. Dipipet 1 ml lalu
dilarutkan dengan etanol hingga 100 ml
didapatkan konsentrasi hingga 200 ppm.
59

Dari larutan tersebut, dipipet lagi 0,05


mL, 0,25 mL, 0,5 Ml dan 0,75 mL dan
diencerkan ke dalam labu ukur ad 10 ml
sehingga
didapatkan
konsentrasi
terakhir 1 ppm, 5 ppm, 10 ppm dan 15
ppm. Larutan sampel dengan masingmasing 1 ppm, 5 ppm, 10 ppm dan 15
ppm dipipet sebanyak 3 ml dan
ditambahkan 3 ml larutan DPPH 50
ppm dan 6 ml etanol pa kemudian
diinkubasi dalam ruang tertutup pada
suhu 300C selama 30 menit kemudian
diukur serapannya pada panjang
gelombang 515 nm menggunakan
spektrofotometer UV-VIS. Pembanding
yang digunakan adalah krim yang
mengandung vitamin E sebagai kontrol
positif dimana dibuat dengan perlakuan
yang sama.
PENENTUAN
NILAI
SUN
PROTECTIVE FACTOR (SPF)
Penentuan nilai SPF dilakukan
dengan menggunakan spektrofotometer
UV-Vis
pada
rentang
panjang
gelombang 280 nm sampai panjang
gelombang di atas 320 nm. Sampel krim
ditimbang masing-masing sebanyak 1
gram kemudian ditambahkan etanol pa
sampai 10 mL, diaduk dengan magnetic
stirrer selama 5 menit. Kemudian
masing-masing sampel disentrifuge
pada 2.000 rpm selama 10 menit.
Disaring filtrat dibuang 1 mL saringan
pertama kemudian diambil 1 mL filtrat
dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL
ditambahkan etanol pa sampai tanda
batas, selanjutnya diambil 1 mL larutan
ditambahkan etanol pa sampai 10 mL
dikocok homogen, diambil 1 mL larutan
ditambahkan etanol pa sampai 10 mL
dikocok homogen, diambil 1 mL larutan

ditambahkan etanol pa sampai 10 mL,


dikocok homogen.
Pengukuran serapan terhadap
sediaan krim
dilakukan dengan
menggunakan spektrofotometer UV tiap
5 nm pada rentang panjang gelombang
280 nm sampai panjang gelombang di
atas 320 nm yang memiliki serapan
minimal 0,05. Dilakukan perlakuan
yang sama sebanyak 3 kali untuk
masing-masing formula. Pengujian
aktivitas dilakukan pada sediaan krim
tabir
surya
dipasaran
sebagai
pembanding. (Kusdiana, Erry., 2012)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil uji penapisan fitokimia
No Kandungan
Pereaksi
Ket.
Kimia
1.
Alkaloid
Dragendorff
Mayer
+
Wagner
+
2.
Flavonoid
HCl pekat
+
dan logam
Mg
3.
Saponin
Dikocok +
HCLl 2 N
4.
Tanin
FeCl3 1%
+
5.
Polifenol
FeCl3
+
6. Triterpenoid Liebermann+
Bouchard
Keterangan :
(+) = Simplisia mengandung golongan
senyawa yang diuji
(-) = Simplisia tidak mengandung
golongan senyawa yang diuji
Uji fitokimia yang dilakukan
berupa uji alkaloid, flavonoid, saponin,
tannin, dan triterpenoid. Hasil uji
fitokimia yang diperoleh bahwa kulit
batang kersen
positif mengandung
60

senyawa alkaloid, flavonoid, tannin dan


triterpenoid sedangkan pada uji saponin
menunjukkan hasil negatif dimana kulit
batang
kersen
tidak
memiliki
kandungan saponin.
UJI ORGANOLEPTIK
Pengujian
organoleptik
dilakukan dengan mengamati perubahan

bentuk, warna dan bau pada krim


ekstrak kulit batang kersen selama
penyimpanan hari ke-1 dan ke-28.
Pengamatan organoleptik sediaan krim,
tidak menunjukkan adanya perubahan
bentuk, warna dan bau seperti pada
Tabel 2 sebagai berikut.

Tabel 2 Hasil Uji Organoleptik


Formula
Lama Penyimpan
Warna
Bau
Hasil
(Hari)
F1
1
Putih
Tidak berbau
Stabil
28
Putih
Tidak berbau
Stabil
F2
1
Coklat muda
Tidak berbau
Stabil
28
Coklat muda
Tidak berbau
Stabil
F3
1
Coklat
Tidak berbau
Stabil
28
Coklat
Tidak berbau
Stabil
F4
1
Coklat tua
Tidak berbau
Stabil
28
Coklat tua
Tidak berbau
Stabil
F5
1
Putih
Tidak berbau
Stabil
28
Putih
Tidak berbau
Stabil
Keterangan
F1 : Formula krim antioksidan tanpa ekstrak
F2 : Formula krim antioksidan ekstrak kulit batang kersen dengan konsentrasi 1%
F3 : Formula krim antioksidan ekstrak kulit batang kersen dengan konsentrasi 2%
F4 : Formula krim antioksidan ekstrak kulit batang kersen dengan konsentrasi 4%.
F5 : Formula krim antioksidan vitamin E
Uji Homogenitas
Hasil pengujian homogenitas
semua
formula
selama
waktu
penyimpanan pada hari ke-1 dan ke-28
menunjukkan bahwa sediaan krim
homogen, tidak ada butiran-butiran

pada objek glas ditandai dengan semua


formula krim terdispersi secara merata
sehingga dapat dikatakan bahwa sediaan
krim ekstrak kulit batang kersen
memiliki hasil yang homogen.

61

Uji pH
Tabel 3. Hasil pengukuran pH krim ekstrak kulit batang kersen
pH
Formula

Ulangan

Selisih
Perubahan
pH

Hari
ke-1
7,16

Hari
ke-28
7,09

F1

2
3
Rerata
1

7,15
7,16
7,15
6,97

7,03
7,04
7,05
7,00

0,12
0,09
0,28a
0,03

F2

2
3
Rerata
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata

6,94
6,97
6,96
6,62
6,66
6,67
6,65
6,50
6,50
6,50
6,50
7,03
7,04
7,03
7,03

7,08
7,04
7,04
6,79
6,87
6,62
6,76
6,41
6,46
6,50
6,45
6,41
6,46
6,50
6,45

0,14
0,08
0,04 a
0,17
0,21
0,05
0,14 a
0,09
0,04
0
0,05 a
0,62
0,58
0,53
0,57 b

F3

F4

F5

Pengujian pH dilakukan dengan


tujuan untuk mengetahui keamanan
sediaan kirim saat digunakan sehingga
tidak mengiritasi kulit. Idealnya pH
pada sediaan topikal adalah sama
dengan pH kulit yaitu berkisar 4-7.
Hasil penelitian pengukuran pH sediaan
krim ekstrak kulit batang kersen selama
waktu penyimpanan 1, dan 28 hari
dengan menggunakan pH meter
diperoleh data pada Tabel 4.3. Data
yang diperoleh menunjukkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi ekstrak
dalam formula krim maka pH yang

0,07

diperoleh akan semakin asam, hal ini


dikarenakan pH ekstrak kulit batang
kersen bersifat asam yaitu 4,77.
Uji Daya Serap
Hasil
pengamatan
pada
pengujian daya serap krim ekstrak kulit
batang kersen selama hari 1 dan 28
dapat dilihat pada Tabel 4.6

62

Tabel 4. Hasil uji daya serap (mg/ml) krim ekstrak kulit batang kersen
Daya Serap
Selisih
(mg/ml)
Formula Ulangan
Daya Serap
Hari
Hari
(mg/ml)
ke-1
ke-28
1
66
66
0
F1
2
66
66
0
3
66
66
0
Rerata
66
66
0
1
66
71
5
F2
2
71
71
0
3
71
71
0
Rerata
69,3
71
1,6
1
71
69
2
2
71
71
0
F3
3
71
69
2
Rerata
71
69,6
1,3
1
74
71
3
2
71
71
0
F4
3
71
71
0
Rerata
72
71
1
1
66
66
0
2
66
66
0
F5
3
66
66
0
Rerata
66
66
0
Hasil uji daya serap yang
diperoleh krim ekstrak kulit batang
kersen berkisar antara 66 mg/ml- 71
mg/ml selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 4.4. Menurut Juwita, Anisa
(2013) syarat uji daya serap pada kulit
harus mempunyai kelarutan yang sesuai
dalam mineral dan air dengan kadar
1mg/1 ml air. Hasil pengujian daya
serap krim formula 1%, 2%, 4%,
kontrol (-), dan kontrol (+) memenuhi
syarat uji daya serap karena lebih dari 1
mg/1ml air.

Uji Viskositas
Pengujian viskositas dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui
kestabilan dari suatu sediaan. Hasil
pengukuran viskositas krim ekstrak
kulit batang kersen hari 1 dan 28 dapat
dilihat pada Tabel 5 berikut :

63

Tabel 5. Hasil uji viskositas (Cp) krim ekstrak kulit batang kersen
Viskositas (Cp)
Formula

Ulangan

Selisih
Perubahan
Viskositas (Cp)

Hari
ke-1
31.200

Hari
ke-28
35.000

F1

2
3
Rerata
1

30.100
32.400
31.233
18.000

33.700
33.600
34.100
17.800

3.600
3.700
3.700 e
200

F2

2
3
Rerata
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata

19.000
19.900
18.966
16.500
17.400
16.800
16.900
13.200
15.400
16.000
14.866
35.000
33.200
33.800
34.000

18.900
19.700
18.800
16.000
16.800
16.200
16.333
12.200
14.500
15.000
13.900
37.000
35.200
35.800
36.000

100
100
133,3 a
500
600
600
566 b
1.000
900
1.000
2.900 c
2.000
2.000
2.000
2.000 d

F3

F4

F5

Uji viskositas bertujuan untuk


menentukan nilai kekentalan pada suatu
sediaan yang dinyatakan dalam
centipoises (cps). Menurut Rahmah, SD
(2013) semakin tinggi nilai viskositas
suatu sediaan maka semakin tinggi pula
tingkat kekentalan suatu sediaan
tersebut. Hasil uji viskositas pada Tabel
5 menunjukkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi ekstrak kulit batang kersen
yang digunakan ke dalam formula
sediaan krim maka viskositas krim akan
semakin menurun. Viskositas krim
semakin menurun disebabkan oleh

3.800

suhu. Menurut Lachman (2008) bahwa


viskositas suatu emulsi meningkat
dengan meningkatnya umur sediaan
tersebut.
Uji Tipe Emulsi
Pengujian tipe sediaan krim
ekstrak kulit batang kersen selama masa
penyimpan hari ke1 dan ke-28
menunjukkan bahwa tipe sediaan krim
pada semua konsentrasi adalah tipe
emulsi minyak dalam air (M/A),
Penentuan tipe emulsi ini ditandai
dengan kertas saring yang basah secara
64

merata, hal ini sesuai dengan pengujian


tipe emulsi yang telah dijelaskan oleh
Syamsuni (2006).
Tabel 6. Hasil pengujian tipe krim
ekstrak kulit batang kersen
pada hari ke 1 dan 28
Formula
Waktu
Tipe
Penyimpanan
krim
(hari)
F1
1
m/a
28
m/a
F2
1
m/a
28
m/a

F3
F4
F5

1
28
1
28
1
28

m/a
m/a
m/a
m/a
m/a
m/a

Nilai SPF krim tabir surya ekstrak


kulit batang kersen
Data hasil perhitungan nilai SPF
krim tabir surya ekstrak kulit batang
kersen dapat dilihat pada Tabel 7
sebagai berikut.

Tabel 7 Hasil nilai SPF dari masing - masing formula krim tabir surya
Perlakuan Nilai SPF pada Jumlah
Rerata
pengulangan
I
II
III
F1
1,16 1,15 1,18 3,505
1,168
1
8
6
F2
1,12 1,11 1,12 3,363
1,121
3
6
4
F3
1,14 1,12 1,17 3,449
1,149
8
9
2
F4
1,14 1,15 1,14 3,443
1,147
5
6
2
F5
2,90 2,87 2,91 8,691
2,897
4
7
0
Menurut Wasitaadmaja (1997), pembagian tingkat kemampuan tabir surya
sebagai berikut :
a.
Nilai SPF antara 2-4
: minimal
b. Nilai SPF antara 4-6
: sedang
c.
Nilai SPF antara 6-8
: ekstra
d. Nilai SPF antara 8-15 : maksimal
e.
Nilai SPF lebih dari 15 : ultra
Berdasarkan klasifikasi tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa seluruh
formula krim ekstrak kulit batang
kersen dengan konsentrasi 1%, 2%, dan
4% tidak memiliki aktivitas tabir surya.

Kontrol positif memiliki aktivitas tabir


surya dengan kategori minimal namun,
menurut BPOM RI (Badan Pengawasan
Obat dan Makanan Republik Indonesia)
yang tertera pada Natura Kos (2009)

65

nilai SPF yang berkisar dibawah 6 tidak


memiliki aktivitas tabir surya.
Nilai IC50 Ekstrak Kulit Batang
Kersen

Data hasil perhitungan nilai IC50


krim antioksidan ekstrak kulit batang
kersen dapat dilihat pada Tabel 8
sebagai berikut.

Tabel 8. Hasil nilai IC50 krim ekstrak kulit batang kersen


IC50
Selisih Perubahan
Formula
Ulangan
IC50
Hari ke-1
Hari ke-28
1
9,406
14,492
5,086
2
9,388
14,22
4,382
F1
3
9,394
14,185
4,791
Rerata
9,396
14,399
4,753 c
1
2,469
3,156
0,583
2
2,462
3,150
0,597
F2
3
2,450
3,137
0,547
Rerata
2,460
3,147
0,575 a
1
2,469
3,156
0,687
2
2,462
3,150
0,688
F3
3
2,460
3,137
0,687
Rerata
2,307
3,147
0,687 ab
1
2,296
3,117
0,821
2
2,318
3,143
0,825
F4
3
2,307
3,101
0,794
Rerata
2,307
3,120
0,813 ab
1
2,503
3,666
1,163
2
2,785
3,727
0,942
F5
3
2,811
3,694
0,883
Rerata
2,699
3,695
0,996b
Berdasarkan hasil IC50 dari krim
kulit batang kersen dapat disimpulkan
bahwa krim ekstrak kulit batang kersen
memiliki aktivitas antioksidan yang
sangat kuat karena nilai IC50 yang
diperoleh kurang dari 200 ppm menurut
penelitian Rosiyana An-nisa (2012)
suatu bahan yang memiliki aktivitas
antioksidan yang kuat jika memiliki
nilai IC50 kurang dari 200 ppm.

Pengukuran aktivitas antioksidan pada


hari ke1 didapatkan IC50 rata-rata
formula krim konsentrasi 1% yaitu
3,694 ppm, konsentrasi krim 2% yaitu
2,470 ppm dan konsentrasi krim 4%
yaitu 2,307 ppm. Aktivitas antioksidan
formula krim kontrol positif vitamin E
yang memiliki nilai IC50 2,699 ppm,
dari perbedaan tersebut menunjukkan
bahwa formula krim yang mengandung
ekstrak kulit batang kersen 2% dan 4%

66

memiliki aktivitas antioksidan yang


lebih kuat dibandingkan dengan kontrol
positif. Nilai IC50 pada kontrol negatif
ialah 9,396 ppm pada formula ini juga
menunjukkan
adanya
antioksidan
karena salah satu bahan yang digunakan
pada pembuatan krim ialah BHT
dimana bahan ini juga memiliki
aktivitas antioksidan. Penggunaan BHT
dalam formula krim sebagai antioksidan
yang dapat menunda atau mencegah
oksidasi lemak dalam sediaan krim, hal
ini tidak menjadi pengaruh sehingga
formula
kontrol
negatif
dapat
dibandingkan dengan formula lainnya.
Aktivitas antioksidan pada hari ke-28,
diperoleh IC50 rata-rata formula krim
konsentrasi 1% yaitu 4,27 ppm,
konsentrasi krim 2% yaitu 3,181 ppm,
konsentrasi krim 4% yaitu 3,111 ppm,
krim kontrol negatif yaitu 14,299 ppm
dan krim kontrol positif yaitu 3,65.
Penurunan aktivitas antioksidan pada
semua formula dapat disebabkan krim
tidak stabil selama penyimpanan.
Berkurangnya aktivitas antioksidan juga
dikarenakan adanya reaksi oksidasi
dengan suhu dan udara.
Nilai rata-rata IC50 krim ekstrak
kulit batang kersen menunjukkan bahwa
formula krim dengan konsentrasi 4%
memiliki aktivitas antioksidan paling
tinggi jika dibandingkan dengan
formula krim ekstrak kulit batang
kersen dengan konsentrasi 1%, 2%,
kontrol negatif dan kontrol positif.
Perbedaan nilai IC50 menunjukan bahwa
semakin tinggi jumlah ekstrak yang
digunakan maka aktivitas antioksidan
semakin tinggi dan nilai IC50 yang
diperoleh semakin kecil suatu bahan
yang memiliki aktivitas antioksidan

yang kuat jika memiliki nilai IC50


kurang dari 200 ppm Rosiyana An-nisa
(2012).
Berdasarkan
penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh
Alista, Mela (2012) diketahui kulit
batang kersen (Muntingia calabura)
memiliki potensi antioksidan yang baik
dengan nilai IC50 pada ekstrak metanol
yaitu 92,5 ppm. Nilai IC50 pada ekstrak
kulit batang kersen menunjukkan bahwa
ekstrak kulit batang kersen yang
diformulasikan ke dalam bentuk sediaan
krim antioksidan diketahui memiliki
aktivitas antioksidan yang lebih tinggi
dari ekstrak metanol kulit batang
kersen. Krim ekstrak kulit batang
kersen menunjukkan aktivitas yang
lebih tinggi karena adanya penambahan
BHT yang merupakan antioksidan pada
formulasi krim
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperoleh maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Variasi konsentrasi ekstrak kulit
batang
kersen
dalam
krim
mempengaruhi stabilitas mutu fisik
krim yaitu viskositas tetapi tidak
mempengaruhi stabilitas pada pH,
organoleptik, homogenitas, tipe
emulsi dan daya serap krim.
2. Krim ekstrak kulit batang kersen
dengan konsentrasi 1%, 2%, dan
4% tidak memiliki aktivitas tabir
surya tetapi memiliki aktivitas
antioksidan berturut-turut sebesar
3,694 ppm, 2,470 ppm, dan 2,307
ppm pada konsentrasi 1%, 2% dan
4%.

67

SARAN
Disarankan untuk melakukan
formulasi yang lebih baik untuk
memperbaiki
stabilitas
pH
dan
viskositas dalam pembuatan krim dan
disarankan untuk melakukan penelitian
lebih lanjut yaitu secara in vivo agar
bisa diketahui efek antioksidan dalam
menangkal radikal bebas pada tubuh
manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Alista, Mela., Isolasi Identifikasi Dan
Uji Antioksidan Senyawa Fenolik
Dari Kulit Batang Kersen
(Muntingia calabura). Surabaya.
1
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia,
Edisi IV. 1995. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta.7
Anonim.2009.Natura
Kos.
Badan
Pengawas Obat Dan Makanan RI
Juwita, Anisa dkk., 2013. Formulasi
Krim Ekstrak Etanol Daun Lamun
(Syringodium
isoetifolium).
Pharmacon
Jurnal
IlmiahUNSRAT. Vol. 2 (02)
Kusdiana, erry., 2012. Aktivitas Tabir
Surya Krim Ekstrak Rimpang
Kencur (Kaemferia galanga L.).
Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu
Farmasi. Palu.
Lachman, L. Dkk. 2008. Teori dan
Praktek Farmasi Industri. UIPress. Jakarta.

Rahmah, SD., 2013. Formulasi Krim


Sarang Burung Walet Putih
(Aerodramus fuciphagus) Dengan
Basis Tipe A/M Sebagai Pencerah
Kulit.
Skripsi.
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Tangjungpura. Pontianak.
Rosiyana, An-nisa., 2012. Aktivitas
Antioksidan dan Penghambatan
-Glukosidase
Ekstrak
dan
Nanopartikel Ekstrak Kulit Kayu
Mahoni (Swietenia macrophlla
King).Skripsi.
Fakultas
Matematika
dan
Ilmu
Pengetahuan
Alam
Institut
Pertanian Bogor. Bogor
Santoso, sanarto dkk., 2012. Ekstrak
Etanol Daun Kersen (Muntingia
calabura) Sebagai Antimikroba
Terhadap Bakteri Salmonella
Typhi Secara in Vitro. Malang. 13
Setiawan, tri., 2010. Uji Stabulitas Fisik
Dan Penentuan Nilai SPF Krim
Tabir Surya Yang Mengandung
Ekstrak
Daun
Teh
Hijau
(Camellia sinensis L.), Oktil
Metoksinamat Dan Titanium
Oksida. Depok.
Siagian, Priska., 2012. Keajaiban
Antioksidan.
PT
Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta. 1-19

68

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI GEL ANTISEPTIK EKSTRAK DAUN


KERSEN (Muntingia calabura) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus,
Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa
ANTISEPTIC GEL ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST of LEAF EXTRACT
CHERRY (Muntingia calabura) AGAINST Staphylococcus aureus, Escherichia coli
and Pseudomonas aeruginosa
Oleh
Nurhayati, Joni Tandi, Yuliet, Dermiati T
Abstrak. Telah dilakukan penelitian Aktivitas Antibakteri Gel Antiseptik Ekstrak Daun
Kersen (Muntingia calabura) Terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli
dan Pseudomonas aeruginosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
konsentrasi ekstrak daun kersen 0%, 2%, 4%, 8% terhadap stabilitas mutu fisik gel dan
untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun kersen dalam gel yang stabil secara fisik
dan memiliki aktivitas antibakteri yang optimal terhadap bakteri Staphylococcus aureus,
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa. Rancangan penelitian yang digunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) diperoleh
dengan cara soxhletasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh
diformulasikan dalam bentuk sediaan gel dengan variasi konsentrasi 0%, 2%, 4%, 8%.
Pengujian yang dilakukan yaitu uji stabilitas mutu fisik (organoleptik, pH, viskositas)
dan aktivitas antibakteri gel antiseptik. Data yang diperoleh pada pengujian
organoleptik dianalisis secara deskriptif dan data yang diperoleh pada pengujian pH,
viskositas dan aktivitas antibakteri dianalisis menggunakan statistik One Way Anova.
Hasil pengujian stabilitas mutu fisik gel menunjukkan variasi konsentrasi ekstrak daun
kersen 0%, 2%, 4% dan 8% dalam gel tidak mempengaruhi stabilitas mutu fisik gel
yang meliputi uji oranoleptik, pH dan viskositas. Hasil pengujian aktivitas antibakteri
menunjukkan gel ekstrak daun kersen pada formula 4 mempunyai aktivitas antibakteri
yang optimal terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan
Pseudomonas aeruginosa.
Kata kunci : Ekstrak daun kersen, Gel antiseptik, Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, Pseudomonas aeruginosa.
Abstract. It is has been conducted a research about the Antiseptic Gel Antibacterial
Activity Test of Leaf Extract cherry (Muntingia calabura) against Staphylococcus
aureus, Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa. This study aims to determine
the effect of cherry leaf extract concentrations of 0%, 2%, 4%, 8% on the stability of the
physical quality of the gel and, to determine the concentration of cherry leaf extract in
gel physically stable and have optimal antibacterial activity against Staphylococcus

69

aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa. The research design used Complete
Randomized Design (RAL). Extract leaf cherry (Muntingia calabura) soxhletasi
obtained by using 96% ethanol. Extracts obtained gel formulated in dosage forms with
various concentration of 0%, 2%, 4%, 8%. Tests were conducted that test the stability of
the physical quality (organoleptic, pH, viscosity) and the antibacterial activity of
antiseptic gel. Data obtained on the organoleptic test were analyzed descriptively and
the data obtained in testing the pH, viscosity and antibacterial activity were analyzed
using One Way Anova statistics. The test results demonstrate the stability of physical
quality gel variation cherry leaf extract concentrations of 0%, 2%, 4% and 8% in the gel
do not affect the stability of the physical quality of the gel which includes test
organoleptic, pH and viscosity. The test results show antibacterial activity in the cherry
leaf extract gel formula 4 has antibacterial activity optimal against Staphylococcus
aureus, Escherichia coli, and Pseudomonas aeruginosa.
Keywords: cherry leaf extract, antiseptic gel, Staphylococcus aureus, Escherichia coli,
Pseudomonas aeruginosa.
PENDAHULUAN
Tumbuhan
merupakan
keseragaman hayati yang selalu ada
disekitar lingkungan baik yang tumbuh
secara liar maupun yang sengaja
dibudidayakan. Ribuan tanaman secara
tradisional telah digunakan sebagai
pengobatan
maupun
perawatan
kesehatan
Didukung
dengan
pengembangan penelitian ilmiah obat
tradisional, tumbuhan yang berkhasiat
sebagai
obat
sudah
banyak
diformulasikan dalam bentuk sediaan
modern.1,2 Salah satu tumbuhan
berkhasiat sebagai obat yang dapat
digunakan dalam pengembangan obat
tradisional yaitu tumbuhan kersen.
Khasiat
tumbuhan
kersen
bagi
kesehatan
yaitu
sebagai
obat
antiinflamasi, asam urat, antitumor,
batuk, peluruh dahak, diabetes mellitus
dan memiliki aktivitas antibakteri. Hasil
penelitian YP Arum, dkk. (2012)
menunjukkan ekstrak daun kersen
mengandung flavonoid, saponin, steroid

dan triterpenoid yang dapat menekan


pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus,
Escherichia
coli
dan
Pseudomonas
aeruginosa
dengan
diamater
hambat
masing-masing
sebesar 10 mm, 9 mm dan 11 mm.1,3,4
Meningkatnya
keinginan
masyarakat untuk menggunakan bahan
alam, ditanggapi dengan banyaknya
produk-produk topikal berbahan aktif
tanaman untuk perawatan kesehatan,
kosmetik dan pencegahan penyakit.
Salah satu contoh produk sediaan
topikal yaitu sediaan gel antiseptik
tangan. Pemakaian gel antiseptik tangan
dikalangan masyarakat menengah ke
atas sudah menjadi suatu gaya hidup.
Respon
yang
positif
terhadap
penggunaan gel antiseptik tangan
berkaitan dengan paradigma bersih itu
sehat, serta pemakaian yang praktis.
Bahan antiseptik yang digunakan dalam
formula sediaan adalah golongan
alkohol (etanol, propanol, isopropanol)
dengan konsentrasi + 50 - 70% dan

70

jenis desinfektan lain seperti :


klorheksidin, triklosan. Kadar triklosan
yang digunakan sebagai antiseptik
adalah 0,05% sampai dengan 2%.5,6
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui
pengaruh
konsentrasi
ekstrak daun kersen 0, 2%, 4%, 8%
terhadap stabilitas mutu fisik gel dan
untuk mengetahui konsentrasi ekstrak
daun kersen dalam gel yang stabil
secara fisik dan memiliki aktivitas
antibakteri yang optimal terhadap
bakteri
Staphylococcus
aureus,
Escherichia
coli,
Pseudomonas
aeruginosa.
Rancangan
penelitian
yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak lengkap (RAL). Data
yang diperoleh pada pengujian stabilitas
mutu fisik organoleptik dianalisis secara
deskriptif, sedangkan pH dan viskositas
dianalisis secara statistik menggunakan
metode One way anova (analisa varians
satu arah) pada taraf kepercayaan 95%.
Data yang diperoleh pada aktivitas
antibakteri gel antiseptik dianalisis
secara statistik menggunakan metode
One way anova pada taraf kepercayaan
95%, dilanjutkan dengan uji Duncan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di
laboratorium
Fitokimia
dan
Farmakognosi STIFA, Laboratorium
Farmasetika Program Studi Farmasi
MIPA
Universitas
Tadulako,
Laboratorium Kesehatan Palu Sulawesi
Tengah, mulai bulan Desember 2013Februari 2014.

Alat yang digunakan


Alat-alat gelas (pyrex), Batang
pengaduk,, Blender (Cosmos), Cawan
petri (Scot), Autoklaf (Mammert),
Cawan porselin, Inkubator (Memmert),
Jarum ose, Laminar air flow, Mortir dan
stamper
(Haldenwanger),
Neraca
analitik
(Sarltorius),
Penggaris,
Penangas air (Memmert), pH meter
(Consort C561), Pinset, Pipet tetes,
Pipet mikroliter (Lebnet), Plat tetes,
Rak tabung reaksi, Rotary vacum
evaporator (Stuart), Sudip, Sendok
tanduk, Seperangkat alat Soxhlet,
Tabung reaksi, Viskometer Brookfield,
Wadah gel.
Bahan yang digunakan
Aquadestilata,
Bakteri
Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, Psedomonas aeruginosa, Carbopol
940, Daun kersen (Muntingia calabura),
Etanol 96%, Natrium metabisulfit,
Nutrien agar, NaCl 0,9%, Mc farland
0,5%, Propilenglikol, Triethanolamin,
Sediaan gel antiseptik dipasaran
mengandung zat aktif triclosan.
Penyiapan dan pengolahan sampel
Sampel yang digunakan yaitu
daun kersen yang diperoleh dari kota
Palu Sulawesi Tengah. Daun kersen
yang dikumpulkan disortasi untuk
memisahkan
kotoran-kotoran
atau
bahan-bahan simplisia yang tidak
dibutuhkan agar simplisia yang
diperoleh simplisia yang segar dan
bersih. Daun kersen yang telah
disortasi, dilakukan pencucian untuk
menghilangkan kotoran yang melekat
pada daun kersen. Pencucian dilakukan
menggunakanair bersih yang mengalir.

71

Daun kersen yang telah dibersihkan,


kemudian dirajang untuk memperluas
permukan dari simplisia sehingga
mempermudah pengeringan. Daun
kersen yang telah dirajang dikeringka di
udara terbuka dan terlindungi dari sinar
matahari langsung agar khasiat yang
terkandung tidak berkurang dan
kandungan kimia tidak mengalami
kerusakan.
Pembuatan ekstrak daun kersen7
Pembuatan ekstrak daun kersen
menggunakan
metode
soxhletasi.
Serbuk daun kersen 10 - 20 gram
dibungkus dengan kertas saring lalu
dimasukkan ke dalam timble ekstraktor

soxhlet. Masukkan pelarut etanol 96%


dalam labu hingga terisi setengah labu.
Pasang kondensor dan alirkan pendingin
melalui pipa. Labu dipanaskan sampai
pelarut menguap. Lakukan hingga
semua analit terekstrak (sampai hasil
ekstraksi jernih atau 6 siklus),
dilakukan evaporasi dengan kecepatan
90 rpm pada suhu 700C untuk
menghilangkan pelarut etanol pada
ekstrak yang sudah terbentuk, lalu
diuapkan diatas penangas air untuk
mendapatkan ekstrak kental. Ekstrak
yang diperoleh ditimbang.

Formulasi Gel Antiseptik Ekstrak Daun Kersen


Tabel 1 Formulasi Gel Antiseptik Ekstrak Daun Kersen
Formula
Bahan
Kegunaan
F1 F2 F3
Ekstrak daun kersen
Zat aktif
0
2
4
(%)
Carbopol 940
(%)
Gelling agent
1
1
1
Propilenglikol
Humektan
15 15 15
(%)
Natrium
metabisulfit
Pengawet
0,3 0,3 0,3
(%)
Triethanolamin
Alkalizing agent 0,5 0,5 0,5
(%)
Aquadest ad
Pelarut
100 100 100
Keterangan :
Formula 1 :
Formula 2 :
Formula 3 :
Formula 4 :
Formula 5 :

F4
8

F5

1
15

Sediaan gel
dipasaran
mengandun
g zat aktif
triclosan

0,3
0,5
100

Formula Gel Antiseptik tanpa Ekstrak daun kersen


Formula Gel Antiseptik Ekstrak daun kersen 2%
Formula Gel Antiseptik Ekstrak daun kersen 4%
Formula Gel Antiseptik Ekstrak daun kersen 8 %
Gel Antiseptik Dipasaran Mengandung Zat Aktif Triclosan

72

Prosedur Pembuatan Gel6,8,9


Menyiapkan bahan yang akan
digunakan. Menimbang bahan sesuai
dengan formula yang ada. Carbopol
dikembangkan dalam air panas,
kemudian diaduk. Ekstrak daun kersen
dicampurkan
dengan
bahan
propilenglikol dan natrium metabisulfit,
diaduk
sampai
tercampur
rata,
kemudian dimasukkan
ke dalam
carbopol. Ke dalam campuran tersebut,
ditambahkan triethanolamin tetes demi
tetes sambil diaduk perlahan sampai
terbentuk gel yang jernih. Ditambahkan
air sampai volume yang dikehendaki,
Gel yang telah jadi, dikemas dan
dimasukkan ke dalam wadah sekunder.
Evaluasi Sediaan Gel
Stabilitas Mutu Fisik Sediaan
Gel6,8,9,10
Pengujian stabilits mutu fisik gel
antiseptik
ekstrak
daun
kersen
dilakukan selama empat minggu dari
hari pertama pembuatan gel, sampai
hari ke-28 selama penyimpanan. Uji
stabilits mutu fisik meliputi uji
organoleptik, pH dan viskositas.
1. Uji Organoleptik
Uji organoleptik dilakukan untuk
mengetahui dan melihat tampilan fisik
sediaan gel yang dibuat dengan cara
melakukan
pengamatan
terhadap
bentuk, warna, bau dari sediaan yang
telah dibuat.
2. Uji pH
Uji pH dilakukan untuk melihat
tingkat
keasaman
sediaan
gel.
Menjamin
sediaan
gel
tidak
menyebabkan iritasi pada kulit.

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan


menggunakan pH meter.
3. Uji Viskositas
Penentuan viskositas sediaan
dilakukan
menggunakan
alat
Viskometer Brookfield dengan spindel
nomor 6, dipasang pada alat. dicelupkan
ke dalam beker glass yang berisi gel.
Kecepatan alat dipasang pada kecepatan
10 rpm, dibaca skalanya.
Uji Aktivitas Antibabkteri Gel
Antiseptik Ekstrak Daun Kersen7,11,12
1. Sterilisasi Alat
Alat-alat gelas disterilkan dalam
oven pada suhu 1700C selama 2 jam,
jarum ose dan pinset dipijarkan diatas
api langsung dan media disterilkan
dalam autoklaf pada suhu 1210C
selama 15 menit.
2. Pembuatan Media
Media Nutrien agar (NA)
sebanyak 2,3 gram dilarutkan dalam
100
ml
aquadest
menggunakan
erlenmeyer. Media
dihomogenkan
diatas penangas air sampai mendidih.
Media yang homogen disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 1210C selama 15
menit, didinginkan sampai suhu 45500C.
3. Pembuatan Suspensi Bakteri Uji
Bakteri uji yang telah diinokulasi
diambil dengan jarum ose steril,
disuspensikan ke dalam tabung yang
berisi 2 ml larutan NaCl 0,9% diperoleh
kekeruhan yang sama dengan standar
kekeruhan larutan Mc. Farland. Standar
kekeruhan larutan yang digunakan 0,5%

73

Mc. Farland yang diperkirakan terdapat


sel bakteri sebanyak 108 CFU/ml.

dipasaran yang mengandung zat aktif


triclosan sebagai kontrol positif.

4. Penyiapan Bakteri Uji


Dipipet 0,5 ml dari suspensi
murni bakteri Staphylococcus aureus,
Escherichia
coli,
Pseudomonas
aeruginosa,
dimasukkan
kedalam
cawan petri steril, ditambahkan 15 ml
medium Nutrien agar, dihomogenkan
dan dibiarkan sampai memadat.

Analisis Data
Rancangan
penelitian
yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak lengkap (RAL). Data
yang diperoleh pada pengujian stabilitas
mutu fisik organoleptik dianalisis secara
deskriptif, sedangkan pH dan viskositas
dianalisis secara statistik menggunakan
metode One way anova (analisa varians
satu arah) pada taraf kepercayaan 95%.
Data yang diperoleh pada aktivitas
antibakteri gel antiseptik dianalisis
secara statistik menggunakan metode
One way anova pada taraf kepercayaan
95%, dilanjutkan dengan uji Duncan.

5. Pengujian Aktivitas Antibakteri Gel


Antiseptik
Pengujian aktivitas antiseptik gel
terhadap bakteri Staphylococcus aureus,
Escherichia
coli,
Pseudomonas
aeruginosa dilakukan dengan metode
difusi agar dengan cara sumuran. Media
Nutrien agar (NA) disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 121oC, didinginkan
hingga suhu 40-45 oC. Media yang telah
dingin dituang secara aseptis ke dalam
cawan petri steril sebanyak 15 ml
yang berisi suspensi bakteri uji
sebanyak 0,5 ml. Dihomogenkan dan
biarkan hingga memadat. Media NA
yang telah padat dibuat sumuran dengan
diameter sumuran 10 mm. Sediaan gel
dengan masing-masing konsentrasi 2%,
4%, 8%, dan kontrol negatif sebanyak
0,17 gram dimasukkan ke dalam media
NA yang telah dibuat sumuran. Cawan
petri diberi label untuk membedakan
sampel yang diuji, lalu diinkubasi pada
suhu 370C selama 24 jam. Kemudian
diamati
daerah
hambatan
yang
terbentuk. Diukur diameter hambat.
Pengujian aktivitas gel antiseptik
dilakukan juga terhadap salah satu
sediaan gel antiseptik yang beredar

Hasil dan Pembahasan


Hasil penelitian
Tabel 2 Uji penapisan fitokimia
Kandungan
Simplisia
Ekstrak
Kimia
Alkaloid
+
+
Flavonoid
+
+
Saponin
+
+
Tanin
+
+
Polifenol
+
+
Steroid
+
+
Keterangan
:
(+)
:
simplisia
mengandung senyawa yang di uji
(-) : tidak mengandung
senyawa yang di uji
Hasil Ekstraksi
Hasil ekstraksi serbuk simplisia
kering
sebanyak
178
gram
menggunakan pelarut etanol 96%
sebanyak 4000 ml diperoleh ekstrak
kental sebanyak 48 gram, sehingga nilai
rendemen yang diperoleh yaitu :
74

Rendemen
=

100%

100%

= 26,96%

Tabel 3 Hasil uji organoleptik sediaan gel antiseptik


Formula gel

Hasil pengamatan selama penyimpanan (hari)

F2

1
Bening, hampir tidak berbau,
setengah padat
Hijau kehitaman, bau khas
ekstrak kersen, setengah padat

F3

Hijau kehitaman, bau khas


ekstrak kersen, setengah padat

F4

Hijau kehitaman, bau khas


ekstrak kersen, setengah padat

F1

28
Bening, hampir tidak
berbau, setengah padat
Hijau kehitaman, bau khas
ekstrak kersen, setengah
padat
Hijau kehitaman, bau khas
ekstrak kersen, setengah
padat
Hijau kehitaman, bau khas
ekstrak kersen, setengah
padat

Tabel 4 Hasil uji pH sediaan gel


Formula gel

F1

F2

F3

F4

Ulangan
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata
1
2
3
Rerata

pH selama
penyimpanan (hari)
1
28
5,08
6,00
5,09
5,70
5,14
5,50
5,10
5,7
4,78
5,18
4,7
5,27
4,89
5,36
4,79
5,27
4,97
5,58
4,96
5,49
4,96
5,50
4,96
5,52
4,81
5,28
4,82
5,31
4,82
5,29
4,81
5,29

Selisih pH hari ke-1


dan hari ke-28
0,92
0,61
0,36
0,63a
0,40
0,57
0,47
0.48a
0,61
0,53
0,54
0,56a
0,47
0,49
0,47
0,47a

75

Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan


signifikan dan abjad yang sama menunjukkan
tidak ada perbedaan yang signifikan.
Tabel 5 Hasil uji viskositas sediaan gel
Viskositas (cp) selama
penyimpanan
Formula gel
Ulangan
1
28
1
39.700
26.800
2
39.500
24.300
F1
3
39.900
29.300
Rerata
39.700
26.800
1
27.500
23.200
F2
2
28.600
24.600
3
26.900
23.900
Rerata
27.666
23.900
F3
1
21.600
25.600
2
21.800
26.900
3
21.700
27.200
Rerata
21.700
26.566
1
17.000
14.300
F4
2
17.300
13.900
3
17.150
14.900
Rerata
17.150
14.366
Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan
signifikan dan abjad yang sama menunjukkan
tidak ada perbedaan yang signifikan

Selisih viskositas
hari ke-1 dan hari
ke-28
12.900
15.200
10.600
12.900b
4.300
4.000
3.000
3.766a
4.000
5.100
5.500
4.866a
2.700
3.100
2.400
2.733a

Tabel 6 Hasil pengukuran diameter hambat bakteri Staphylococcus aureus


Diameter daya hambat (mm)
Formula gel
Rerata
(x)
Pengulangan
1
2
3
Kontrol positif
12.37
10.62
11
11.33a
Formula 1
2.25
1.5
0.5
1.41b
Formula 2
6.13
4.13
5.63
5.29c
Formula 3
6.5
6.37
6.5
6.45d
Formula 4
6.75
8
7.5
7.41d
Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan
signifikan dan abjad yang sama menunjukkan
tidak ada perbedaan yang signifikan.

76

Tabel 7 Hasil pengukuran diameter hambat bakteri Escherichia coli


Diameter daya hambat (mm)
Pengulangan
Rerata (x)
1
2
3
Kontrol positif
8
8.63
8.13
8.26a
Formula 1
0.87
0.5
0.75
0.70b
Formula 2
4.88
3.63
5
4.50c
Formula 3
6.25
6.25
6.13
6.21d
Formula 4
7.25
6.13
7.38
6.91d
Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan
signifikan dan abjad yang sama menunjukkan
tidak ada perbedaan yang signifikan.
Formula gel

Tabel 8 Hasil pengukuran diameter hambat bakteri Pseudomonas aeruginosa


Diameter daya hambat (mm)
Pengulangan
1
2
3
Kontrol positif
6.75
7
7.75
Formula 1
0.5
0.5
0.5
Formula 2
4.38
4.63
4.63
Formula 3
4.63
4.5
4.88
Formula 4
5.5
5
5.63
Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan
signifikan dan abjad yang sama menunjukkan
tidak ada perbedaan yang signifikan.
Formula gel

Pembahasan
penelitian ini dilakukan uji
penapisan fitokimia untuk mengetahui
adanya kandungan senyawa yang
terdapat pada serbuk simplisia dan
ekstrak daun kersen. Senyawa-senyawa
yang dilakukan pengujian penapisan
fitokomia yaitu alkaloid, steroid atau
triterpenoid, flavonoid, saponin, tanin
dan
polifenol.
Hasil
pengujian
penapisan
kandungan
fitokimia
menunjukkan serbuk simplisia dan
ekstrak daun kersen positif mengandung
senyawa alkaloid, steroid, flavonoid,

Rerata (x)
7.16a
0.5b
4.54c
4.67c
5.37d

saponin, tanin dan polifenol. Penelitian


sebelumnya yang mengatakan bahwa
daun kersen mengandung senyawa
kimia yaitu flavonoid, polifenol, tanin,
saponin yang bermanfaat sebagai
antimikroba (Sanarto Santoso dkk, dan
Noorhamdani dkk, 2011).
Pengujian satbilitas mutu fisik
meliputi pengujian organoleptik, pH
dan viskositas. Pengujian organoleptik
dengan cara mengamati bentuk, warna
dan aroma sediaan gel. Hasil pengujian
organoleptik
menunjukkan
semua
sediaan gel dari hari pertama sampai

77

hari ke-28 penyimpanan tidak terjadi


perubahan yang signifikan.
Berdasarkan hasil analisis one
way anova, nilai pH antar formula
selama 28 hari penyimpanan tidak
terdapat perbedaan yang signifikan,
namun dapat dikatakan sediaan gel
tidak stabil selama 28 hari penyimpanan
karena pengukuran nilai pH yang
diperoleh terdapat penurunan dan
peningkatan pH, tetapi masih berada
dalam kisaran pH kulit normal antara
pH 4,5 - 6,5. Nilai pH gel antiseptik
ekstrak daun kersen diperoleh antara pH
4,7 - 6,0. pH sediaan tidak stabil
dipengaruhi oleh faktor lingkungan
seperti suhu yang tidak stabil selama
penyimpanan. (Tiara, M. dkk. 2013 dan
Septiani, S. dkk. 2012)
Berdasarkan hasil analisis one
way anova, nilai viskositas antar
formula selama 28 hari penyimpanan
pada F1 dengan F2, F3 dan F4 terdapat
perbedaan yang signifikan sedangkan
pada antar F2 dengan F3 dan F4 tidak
terdapat perbedaan signifikan antara
formula selama 28 hari penyimpanan,
namun dapat dikatakan sediaan gel
tidak
stabil
selama
28
hari
penyimpanan, tetapi masih dalam range
nilai viskositas gel 1000 - 100.000 cps.
Viskositas yang diperoleh dari sediaan
gel yaitu 15.600 34.300 cps (Winarti
L. 2013). Hasil viskositas tidak stabil
karena ekstrak daun kersen bersifat
asam, sehingga dengan penambahan
TEA yang sama untuk semua formula,
sediaan akan bersifat lebih asam yang
mengakibatkan jumlah gugus karboksil
yang terionkan berkurang sehingga
terjadi tolak menolak antar gugus
karboksil yang menyebabkan terjadinya

pengembangan
struktur
carbopol
menurun. Viskositas juga dipengaruhi
oleh suhu yang tidak stabil selama
penyimpanan dan kemasan yang kurang
kedap
dapat
menyebabkan
gel
menyerap uap air dari luar, sehingga
menambah volume air dalam sediaan.
(Retno, S. dkk. 2006, Septiani, S. dkk.
2012).
Hasil uji aktivitas antibakteri
terhadap bakteri Staphylococcus aureus,
Escherichia
coli,
Pseudomonas
aeruginosa untuk kontrol positif
menunjukkan
perbedaan
yang
signifikan,
karena
menghasilkan
aktivitas antibakteri yang paling besar
dibandingkan F1, F2, F3 dan F4.
Diameter hambat yang diperoleh pada
kontrol
positif
untuk
bakteri
Staphylococcus aureus sebesar 11,33
mm, Escherichia coli sebesar 8,26 mm
dan Pseudomonas aeruginosa sebesar
7,16 mm. Kontrol positif yang
digunakan adalah sediaan gel yang
beredar dipasaran dengan bahan aktif
triclosan.
F1 memiliki
aktivitas
antibakteri Staphylococcus aureus,
Escherichia
coli,
Pseudomonas
aeruginosa karena menggunakan bahan
tambahan natrium metabisulfit sebagai
pengawet dan propilenglikol yang
digunakan sebagai humektan memiliki
sifat antibakteri. Diameter hambat yang
diperoleh untuk bakteri Staphylococcus
aureus sebesar 1,41 mm, Escherichia
coli sebesar 0,70 mm dan Pseudomonas
aeruginosa sebesar 0,5 mm. F1
menunjukkan
perbedaan
yang
signifikan terhadap kontrol positif, F2,
F3 dan F4, sehingga dapat dikatakan F1
tidak
mempengaruhi
aktivitas
antibakteri pada F2, F3 dan F4.

78

Diameter zona hambat yang


diperoleh
terhadap
bakteri
Staphylococcus aureus untuk F2 dengan
konsentrasi ekstrak daun kersen 2%
sebesar 5,29 mm,
F3 dengan
konsentrasi ekstrak daun kersen 4%
sebesar 6,45 mm, dan formula 4 dengan
konsentrasi ekstrak daun kersen 8%
sebesar 7,41 mm. Berdasarkan hasil uji
Duncan F2 berbeda signifikan terhadap
F3 dan F4, sedangkan F3 dan F4 tidak
berbeda signifikan.
Diameter zona hambat yang
diperoleh terhadap bakteri Escherichia
coli untuk F2 dengan konsentrasi
ekstrak daun kersen 2% sebesar 4,5
mm, F3 dengan konsentrasi ekstrak
daun kersen 4% sebesar 6,21 mm, dan
F4 dengan konsentrasi ekstrak daun
kersen 8% sebesar 6,92 mm.
Berdasarkan hasil uji Duncan F2
berbeda signifikan terhadap F3 dan F4,
sedangkan F3 dan F4 tidak berbeda
signifikan.
Diameter zona hambat yang
diperoleh
terhadap
bakteri
Pseudomonas aeruginosa untuk F2
dengan konsentrasi ekstrak daun kersen
2% sebesar 4,5 mm, F3 dengan
konsentrasi ekstrak daun kersen 4%
sebesar 4,67 mm, dan F4 dengan
konsentrasi ekstrak daun kersen 8%
sebesar 5,37 mm. Berdasarkan hasil uji
Duncan F2 dan F3 tidak berbeda
signifikan tetapi berbeda signifikan
dengan F4.
Dilihat dari hasil uji Duncan,
aktivitas antibakteri yang baik dalam
menghambat
pertumbuhan
bakteri
Staphylococcus aureus, Escherichia coli
terlihat pada F3 dan F4 sedangkan
untuk bateri pseudomonas aeruginosa

terdapat pada F4 dalam menghambat


aktivitas antibakteri. Dilihat secara
visual F4 memiliki aktivitas antibakteri
lebih
besar
terhadap
bakteri
Staphylococcus aureus, Escherichia coli
dan
Pseudomonas
aeruginosa
dibandingkan F1, F2, dan F3, tetapi
belum memberikan aktivitas antibakteri
yang sebanding dengan kontrol positif,
hal ini dapat dikatakan bahwa F4
memiliki aktivitas antibakteri yang
optimal. Gel antiseptik ekstrak daun
kersen
dalam
menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus lebih peka dibandingkan dengan
Escherichia coli dan Pseudomonas
aeruginosa, hal ini sesuai dengan
penelitian
sebelumnya
yang
menyatakan bakteri gram positif lebih
peka terhadap pemberian ekstrak daun
kersen daripada bakteri gram negatif
(Noorhamdani, dkk. 2011).
Gel antiseptik ekstrak daun kersen
dengan semua variasi konsentrasi 2%,
4%, dan 8% memberikan aktivitas
antibakteri karena kandungan zat aktif
yang terkandung pada daun kersen yaitu
flavonoid, polifenol, tanin dan saponin.
Flavonoid menghambat pertumbuhan
bakteri dengan merusak permeabilitas
dinding sel bakteri, mikrosom dan
lisosom sebagai hasil dari interaksi
antara flavonoid dan DNA bakteri.
Flavonoid juga mampu melepaskan
energi tranduksi terhadap membran
sitoplasma bakteri serta menghambat
motilitas bakteri (Tiara M, dkk. 2013).
Polifenol
mampu
mengganggu
pembentukan dinding sel sehingga
dapat mengganggu proses pertumbuhan
bakteri. Komponen bioaktif fenol dapat
mengakibatkan
lisis
sel
dan

79

menyebabkan
denaturasi
protein,
menghambat pembentukan protein
sitoplasma dan asam nukleat serta
menghambat ikatan ATP-ase pada
membran sel (Santoso S, dkk. 2011).
Tanin yang dimiliki oleh ekstrak daun
kersen mempunyai sifat spasmolitik,
diduga dapat mengkerutkan dinding sel
atau
membran
sel
sehingga
mengganggu permeabilitas sel itu
sendiri. Terganggunya permeabilitas sel
tidak dapat melakukan aktivitas
sehingga pertumbuhannya terhambat
atau bahkan mati (Sanarto Santoso dkk.
2011). Saponin mampu berikatan
dengan lipopolisakarida pada dinding
sel bakteri, meyebabkan meningkatnya
permeabilitas
dinding
sel
(Noorhamdani, dkk. 2011).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa :
1. Variasi konsentrasi ekstrak daun
kersen 0%, 2%, 4% dan 8% dalam
gel tidak mempengaruhi stabilitas
mutu fisik gel yang meliputi pH dan
viskositas.
2. Formula 4 mempunyai aktivitas
antibakteri yang optimal terhadap
bakteri
Staphylococcus
aureus,
Escherichia coli, dan Pseudomonas
aeruginosa
Daftar Pustaka
Alista, Mela. Isolasi Identifikasi Dan
Uji Antioksidan Senyawa Fenolik
Dari Kulit Batang Kersen
(Muntingia calabura). [Tesis].
Universitas Sumatera Utara.

Arum, YP. Supartono., dan Sudarmin.


2012. Isolasi dan Uji Daya
Antimikroba
Ekstrak
Daun
Kersen (Muntingia Calabura).
Jurnal MIPA 35 (2): 165-174.
Semarang. Indonesia.
Dhadhang, W., Banu Aji, dan Iskandar
S., 2012. Formilation and
Effectiveness Of Antiseptic Hand
Gel Preparations Essensial Oils
Galanga (Alpinia Galanga). Asian
Journal of Pharmaceutical and
Biological
Research.Vol-2.
Purwokerto,Indonesia.
Mpila, D. Fatimawali., dan Wiyono, W.
2012. Uji Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Etanol Daun Mayana
(Coleus atropurpureus (L) Benth)
Terhadap Staphylococcus aureus,
Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa
Secara
In-vitro.
Farmasi
FMIPA UNSTRAT
Manado.
Noer, S. 2011. Pengaruh Kadar Etanol
Dalam sediaan Gel Antiseptika
Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Salmonella
thyposa.
ILTEK,
Volume 6, No 12. Makassar.
Noorhamdani. Yosef, H., dan Rosalia
D. 2011. Uji ekstrak daun kersen
(Muntingia calabura) sebagai
antibakteri terhadap Methicillinresistant staphylococcus aureus
(MRSA) secara in vitro.
Panjaitan N, Awaluddin S, Djendakita
P., 2012. Formulasi Gel Rimpang
Jahe Merah (Zingiber Officinale
Roscoe).
Journal
Of
Pharmaceutics
and
Pharmacology, Vol 1 No 1 : 9-20.
Retno S dan Dewi I., 2006. Studi
Efektivitas Sediaan Gel Antiseptik

80

Tangan Ekstrak Daun Sirih (Piper


Betle Linn). Majalah Farmasi
Indonesia, 17(4),163-169.
Santoso S, Soemardini, Rusmayanti NL.
2011. Ekstrak Etanol Daun
Kersen (Muntingia calabura)
Sebagai Antimikroba Terhadap
Bakteri Salmonella Typhi Secara
In
Vitro.
Program
Studi
Pendidikan Dokter FKUB.
Septiani, S. Dkk. 2012. Formulasi
Sediaan Masker Gel Antioksidan
Dari Ekstrak Etanol Biji Melinjo
(Gnetum gnemon Linn).
Shiddiqua, dkk. 2010. Antioxidant
Activity and Estimation of Total
Phenolic Content of Muntingia
Calabura
by
Colorimetry.
International
Journal
of
ChemTech Research, Vol.2, No.1,
pp 205-208. DayanandaSagar
College of Pharmacy, Bangalore.

Tiara M, Hosea J, Novel K., 2013.


Formulasi Gel Daun Sasaladahan
(Peperomia Pellucida L. H.B.K)
dan Uji Efektivitasnya Terhadap
Luka
Bakar
Pada
Kelinci
(Oryctolagus
Cuniculus).
Pharmacon
Jurnal
Ilmiah
Farmasi Manado.Vol. 2 No. 2.
Wasito, H. 2011. Obat Tradisional
Kekayaan Indonesia. Graha Ilmu.
Yogyakarta. 17,18.
Widyaningrum, H. dkk. 2011. Kitab
Tanaman
Obat
Nusantara.Medpress. Jakarta. iii,
486-487
Winarti, L. 2013. Diktat kuliah
formulasi
sediaan
semisolid
(formulasi salep, krim, gel, pasta,
dan suppositoria) Semester vi.
Universitas Gember.

81

UJI EFEK PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH EKSTRAK ETANOL


KULIT BATANG NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lam) TERHADAP
TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI
STREPTOZOTOCIN
THE EFFECT TEST of LOWERING BLOOD GLUCOSE LEVEL with
ETHANOL EXTRACT of THE STEM BARK of JACKFRUIT
(Artocarpus heterophyllus Lam) AGAINST THE WHITE RATS
(Rattus norvegicus) INDUCED STREPTOZOTOCIN
Oleh
Annastasia Gantima, Yusriadi, Dermiati T.
Abstrak. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui efek penurunan kadar glukosa
darah ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lam) terhadap tikus
putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi streptozotocin. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efek ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lam)
terhadap penurunan kadar glukosa darah pada hewan uji tikus putih (Rattus norvegicus)
dan menentukan dosis ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus
Lam) yang efektif terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih (Rattus
norvegicus). Ekstrak etanol kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lam)
menggunakan metode maserasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah
Rancangan Acak Kelompok (RAK). Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan uji statistik Analisis Sidik Ragam (UJI- F) pada taraf kepercayaan 95%
yang menggunakan 20 ekor tikus putih jantan yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan,
tiap perlakuan terdiri dari 4 ekor. Perlakuan I diberikan suspensi Na-CMC sebagai
kontrol negatif (-). Perlakuan II, III, dan IV diberikan ekstrak kulit batang nangka
(Artocarpus heterophyllus Lam) dengan variasi dosis masing masing 125 mg/kg bb,
250 mg/kg bb, dan 500 mg/kg bb. Perlakuan V diberikan suspensi glibenklamid
sebagai kontrol positif (+). Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit
batang nangka memiliki efek terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus pada hari ke
14. Berdasarkan uji lanjut BNJ diperoleh bahwa dosis yang efektif menurunkan kadar
glukosa darah tikus adalah 250 mg/kg bb.
Kata kunci : Glukosa Darah, Kulit Batang Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam),
Ekstrak
Abstract. A research has been conducted to determine the effect of a lowering in blood
glucose levels with ethanol extract of the stem bark of jackfruit (Artocarpus
heterophyllus Lam) against the white rat (Rattus norvegicus) induced streptozotocin.
This study aims to determine the effect of ethanol extract of the stem bark of jackfruit

82

(Artocarpus heterophyllus Lam) in lowering blood glucose levels against white rat
(Rattus norvegicus) and the dose of determining the ethanol extract of the stem bark of
jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lam) as effectively in lowering the levels of blood
glucose rats (Rattus norvegicus). Ethanol extract of the stem bark of jackfruit
(Artocarpus heterophyllus Lam) use maceration metode. In this study using a statistical
test Analysis of variance (F-test) with a 95 % confidence level using a group
randomized design (RGD). Trials animals using 20 rats were divided into 4 groups.
Each group was given a different treatment. The treatment I was given a suspension of
Na-CMC as a negative control (-). Treatments II, III and IV administered stem bark
extract of jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lam) with various dose respectively 125
mg/kg bb, 250 mg/kg bb and 500 mg/kg bb. Treatment V given glibenclamide
suspension as a positive control (+). The results of the analysis show that the dose of
the ethanol extract of the stem bark of jackfruit is effect on blood glucose levels
decrease in rats at day 14. Based on HSD test further shows that the dose that
effectively lower blood glucose levels of mice is 250 mg/kg bb
Keywords :

Blood Glucose, Stem Bark Jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lam),


Extract.

PENDAHULUAN
Penyakit degeneratif merupakan
suatu penyakit akibat fungsi atau
struktur dari jaringan atau organ tubuh
menurun. Peristiwa ini terjadi dari
waktu ke waktu, yaitu dari keadaan
normal menjadi lebih buruk. Munculnya
penyakit degeneratif memiliki korelasi
yang cukup kuat dengan bertambahnya
proses
penuaan
usia.
Penyebab
utama adalah perubahan gaya hidup dan
cara hidup yang kurang sehat sehingga
menyebabkan terjadinya peningkatan
jumlah penyakit degeneratif. Penyakit
ini disebabkan karena kurangnya
melakukan aktivitas dan olahraga serta
pola diet yang tinggi lemak. Pola
makanan yang telah bergeser saat ini,
yaitu dari makanan yang berserat dan
rendah kalori menuju makanan yang
siap saji (serba instan) dan berkalori
tinggi. Penyakit yang termasuk dalam
penyakit
degeneratif
adalah

hipertensi, strok, serangan jantung dan


diabetes melitus.1
Diabetes
melitus
merupakan
kondisi dimana konsentrasi glukosa
dalam darah secara kronis lebih tinggi
dari pada nilai normal (hiperglikemia)
akibat tubuh kekurangan insulin atau
fungsi insulin tidak efektif.2
Tanaman nangka (Artocarpus
heterophyllus Lam) merupakan salah
satu tanaman obat tradisional yang
secara empiris digunakan sebagai obat
antidiabetes.
Penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya oleh Chandrika
menyatakan bahwa daun nangka dosis
50 mg/kg bb efektif menurunkan kadar
glukosa darah puasa pada tikus diabetes
yang diinduksi aloksan. Daun tanaman
nangka
(Artocarpus
heterophyllus
Lam) juga direkomendasikan oleh
pengobatan Ayurveda sebagai obat
antidiabetes karena ekstrak
daun

83

nangka memberi efek hipoglikemik.3


Penelitian
juga
dilakukan
sebelumnya
oleh
Ersam,
menyatakan bahwa daun nangka
mengandung saponin, flavonoid dan
tanin. Buah yang masih muda dan
akarnya mengandung saponin dan
polifenol. Kandungan kimia dalam
kulit kayu adalah morin, sianomaklurin
(zat samak), flavon dan tanin. Kulit
batang nangka juga mengandung
senyawa flavonoid baru, yakni morusin,
artonin E, sikloartobilosanton dan
artonol B. Bioaktifitasnya terbukti
secara empirik sebagai antikanker,
antivirus, antiinflamasi, diuretil dan
antihipertensi.4 Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui efek ekstrak
etanol kulit batang nangka (Artocarpus
heterophyllus
Lam)
terhadap
penurunan kadar glukosa darah pada
hewan uji tikus putih (Rattus
norvegicus) dan menentukkan dosis
ekstrak etanol kulit batang nangka
(Artocarpus heterophyllus Lam) yang
efektif terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus putih (Rattus
norvegicus). Data hasil penelitian yang
diperoleh
dianalisis
menggunakan
metode Rancangan Acak Kelompok
(RAK) dengan uji statistik Analisis
Sidik Ragam (ANSIRA) dengan taraf
kepercayaan 95%. Uji ini digunakan
untuk menentukan apakah terdapat
perbedaan dosis yang signifikan antar
perlakuan, jika terdapat perbedaan yang
signifikan, maka dilakukan uji lanjut
sesuai nilai koefisien keragaman (KK)
data yang diperoleh.

METODE PENELITIAN
Penelitian
dilaksanakan
di
laboratorium
Fitokimia
dan
Farmakognosi STIFA Pelita Mas
Palu dan laboratorium FarmakognosiFitokimia Program Studi Farmasi
Fakultas
Matematika
dan
Ilmu
Pengetahuan
Alam
Universitas
Tadulako Palu yang dimulai pada
bulan Mei
2014 sampai dengan bulan Juni 2014.
- Alat yang digunakan
Blender
(National),
Glukometer
(Nessco), Kandang hewan uji, Penangas
air (Denville), Rotary evaporator
(Eyela), Seperangkat alat gelas, Spuit
injeksi 5 ml (Terumo Syringe), Spuit
oral 10 ml (Terumo Syringe), Tabung
reaksi (Pyrex), Timbangan analitik
(Sartorius), Timbangan hewan uji
(Ohaus).
-Bahan yang digunakan
Aqua pro injeksi, Asam klorida, Besi
(III) klorida, Pereaksi Dragendrof LP,
Etanol 96%, Glibenklamid (PT.
Indofarma), Hewan uji tikus putih
(Rattus
novergicus), Kulit Batang
Nangka (Artocarpus heterophyllus
Lam), Streptozotocin (Bio world),
Serbuk magnesium, Na CMC.
-Pengambilan dan pengolahan
sampel5
Bahan yang digunakan adalah kulit
batang
nangka
(Artocarpus
heterophyllus Lam) yang diperoleh dari
daerah sekitar kota palu, Provinsi
Sulawesi Tengah. Kulit batang nangka
(Artocarpus
heterophyllus
Lam)
diambil dengan pisau/parang
dan
dikumpulkan, kemudian dibersihkan

84

dengan air yang mengalir, lalu


dirajang dengan ukuran yang kurang
lebih
sama.
Dilakukan
proses
pengeringan, yaitu
dengan
cara
dikeringanginkan diudara terbuka dan
terlindung
dari
sinar
matahari
langsung. Simplisia yang telah kering,
kemudian dibuat serbuk dengan cara
diblender sampai membentuk bagian
yang lebih kecil.
-Pembuatan

ekstrak
batang nangka6

etanol

kulit

Pembuatan ekstrak dilakukan secara


maserasi menggunakan pelarut etanol
96%, cara kerjanya yaitu serbuk kulit
batang
nangka
(Artocarpus
heterophyllus Lam) dimasukkan ke
dalam wadah tertutup rapat, kemudian
ditambahkan pelarut etanol 96% dan
dibiarkan selama 3 hari
terlindung
dari
cahaya
sambil
diaduk,
disaring sehingga didapat maserat,
dilakukan sampai diperoleh maserat
yang jernih. Maserat yang diperoleh,
dikumpulkan lalu dipekatkan dengan
rotary evaporator, kemudian diuapkan
diatas penangas air sehingga diperoleh
ekstrak kental.
- Pembuatan larutan Koloidal Na
CMC 1% b/v
Sebanyak 1 gram Na CMC ditaburkan
dalam lumpang yang berisi 50 ml air
suling panas, lalu digerus sampai
homogen hingga terbentuk larutan
koloid. Volume dicukupkan hingga 100
ml dengan air suling.
-Pembuatan Suspensi Glibenklamid
Menimbang setara 0,1 g serbuk tablet
glibenklamid dan ditambahkan larutan

koloid Na CMC 1 % sedikit demi


sedikit digerus hingga homogen, ad 50
ml dan aduk hingga homogen.
-Pembuatan larutan Streptozotocin
Diambil dan ditimbang 0,26 gram
streptozotocin kemudian dilarutkan
dalam aqua pro injeksi ad 100 ml,
aduk hingga homogen.
-Pemilihan Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan adalah tikus
putih jantan (Rattus norvegicus) yang
memiliki kondisi tubuh sehat serta
kondisi fisik sempurna tanpa ada cacat
dengan berat
150-200 g sebanyak 20 ekor kriteria
inklusi dan eksklusi.
-Perlakuan Hewan Uji7
Langkah I
Penelitian ini menggunakan hewan uji
sebanyak 20 ekor tikus putih (Rattus
norvegicus) jantan dibagi menjadi 5
kelompok diadaptasikan selama dua
minggu dan diberi pakan standar untuk
menyesuaikan
diri
dengan
lingkungannya.
Langkah II
Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa
darah awal tikus yang sebelumnya telah
dipuasakan selama 16 jam tetapi tetap
diberi air minum ad libitum.
Langkah III
Setelah dilakukan pemeriksaan kadar
glukosa darah awal, tikus diinduksi
streptozotocin dengan dosis 40 mg/kg
BB secara intraperitoneal.
Langkah IV
Hari ke 3 setelah induksi, tikus
dipuasakan selama
16 jam kemudian mengukur kembali

85

kadar glukosa darah tikus sesudah


penginduksian. Setelah kadar glukosa
darah
puasa
tikus
mencapai
hiperglikemia yaitu diatas 126 mg/dL
dan diberi perlakuan peroral selama 14
hari.
Kelompok 1 : Diberi susensi Na CMC
1% sebagai kontrol negatif.
Kelompok 2 : Diberi ekstrak kulit
batang nangka dosis
125 mg/Kg BB.
Kelompok 3 : Diberi ekstrak kulit
batang nangka dosis
250 mg/Kg BB.
Kelompok 4 : Diberi ekstrak kulit
batang nangka dosis
500 mg/Kg BB.
Kelompok 5 : Diberi suspensi
glibenklamid sebagai kontrol positif.

Langkah V
Pada hari ke 7 dan ke 14 setelah
perlakuan, tikus dipuasakan selama 16
jam (tetap diberi air minum) kemudian
kadar glukosa darah tikus diukur
kembali dan semua data kadar glukosa
darah tikus yang telah diambil dicatat.
Analisis Data
Data hasil pengukuran glukosa darah
tikus dicatat untuk setiap perlakuan.
Data hasil pengamatan yang diperoleh
dianalisis
dengan
menggunakan
Rancangan Acak Kelompok
(RAK)
dengan uji statistik Analisis Sidik
Ragam (ANSIRA) dengan taraf
kepercayaan 95%.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian
-Uji Fitokimia
Tabel 1.
Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Kulit Batang Nangka (Artocarpus
heterophyllus Lam)
Pengujian
Alkaloid
Flavonoid
Saponin
Tanin
Polifenol

Hasil
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Positif

Keterangan :
Negatif : Tidak mengandung senyawa yang diuji
Positif : Mengandung senyawa yang diuji

86

Tabel 2. Data penurunan kadar glukosa darah tikus setelah pemberian ekstrak
kulit batang nangka pada hari ke 7
Penurunan Kadar Glukosa Darah (mg/dL)
Perlakuan
Jumlah
Rerata
2
3
4
92
269
87
480
120a

Perlakuan
1
32

Kontrol (-) Na CMC


1%
Dosis 125 mg/kg BB

162

124

40

85

411

Dosis 250 mg/kg BB

53

113

111

141

418

Dosis 500 mg/kg BB

129

75

90

72

366

Kontrol (+)
Glibenklamid

202

125

113

168

608

102,75a
104,5a
91,5a
152a

Keterangan :
Abjad yang sama menunjukan perbedaan yang tidak signifikan
Abjad yang berbeda menunjukan ada perbedaan yang signifikan
Tabel 3. Data penurunan kadar glukosa darah tikus setelah pemberian ekstrak
kulit batang nangka pada hari ke 14
Perlakuan

Penurunan Kadar Glukosa Darah (mg/dL)


Perlakuan
1

Jumlah

Rerata

Kontrol (-) Na CMC


1%
Dosis 125 mg/kg BB

87

97

282

82

548

137a

278

256

245

241

1020

255a

Dosis 250 mg/kg BB

306

294

263

259

1122

Dosis 500 mg/kg BB

338

274

268

270

1150

280,5b
287,5b

Kontrol (+)
Glibenklamid

392

320

268

338

1318

329,5b

Keterangan :
Abjad yang sama menunjukan perbedaan yang tidak signifikan. Abjad yang berbeda
menunjukan ada perbedaan yang signifikan.

87

Gambar 1. Profil kadar glukosa darah selama perlakuan

Keterangan :
t0 : Kadar glukosa darah awal
t1 : Kadar glukosa darah Hari ke 3 setelah induksi
t2 : Kadar glukosa darah pada hari ke 7 Setelah perlakuan
t3 : Kadar glukosa darah pada hari ke 14 Setelah perlakuan
Pembahasan
Berdasarkan hasil uji penapisan
fitokimia, diketahui bahwa ekstrak kulit
batang
nangka
(Artocarpus
heterophyllus
Lam)
positif
mengandung senyawa flavonoid, tanin
dan polifenol. Penentuan adanya
perbedaan yang signifikan antara
masing-masing dosis ekstrak kulit
batang
nangka
(Artocarpus
heterophyllus Lam) dilakukan dengan
uji statistik Analisis Sidik Ragam
(ANSIRA) pada taraf kepercayaan
95% yang menggunakan Rancangan
Acak (Artocarpus heterophyllus Lam)
terhadap penurunan kadar glukosa
darah tikus putih, karena Fhitung
(0,70) < dari Ftabel (3,49), sedangkan
pada hari ke 14 ada pengaruh yang
signifikan antara dosis ekstrak kulit

batang nangka (Artocarpus heteophyllus


Lam) dalam menurunkan kadar glukosa
darah.
Berdasarkan
koefisien
keseragaman (KK) data hasil analisis
pada hari ke 14 diperoleh 4,29 %, maka
dilakukan
uji
lanjut
dengan
menggunakan uji beda nyata jujur
(BNJ). Uji BNJ dilakukan karena nilai
KK kurang dari (<) 10 % Kelompok
(RAK).
Berdasarkan
hasil
perhitungan,
pada sesuai dengan
kondisi heterogen.
Hasil uji BNJ pada hari ke 7
diperoleh nilai Fhitung (0,70) < dari
Ftabel (3,49) dengan taraf kepercayaan
95 %, sedangkan pada hari ke 14
diperoleh nilai Fhitung (9,23) > dari
Ftabel (3,49) dengan taraf kepercayaan

88

95 %. Dilihat dari hasil yang diperoleh


dapat diketahui bahwa pada hari ke 7
tidak ada pengaruh yang signifikan
antara dosis ekstrak kulit batang
nangka ke 14 diketahui bahwa dosis
ekstrak kulit batang nangka
125 mg/kg bb dan kontrol negatif
berbeda nyata dengan dosis ekstrak
kulit batang nangka 250 mg/kg bb, 500
mg/kg bb dan kontrol positif, sedangkan
ekstrak kulit batang nangka dosis 250
mg/kg bb dan dosis 500 mg/kg bb tidak
berbeda nyata dengan pemberian
glibenklamid sebagai kontrol positif.
Hal ini menunjukan bahwa pada hari
ke 14 ekstrak kulit batang nangka dosis
250 mg/kg BB dan dosis 500 mg/kg
BB memiliki efek yang sama dengan
pemberian glibenklamid sbagai kontrol
positif.
Efek hipoglikemik ekstrak kulit
batang
nangka
(Artocarpus
heterophyllus Lam) diduga karena
adanya efek dari kandungan metabolit
sekunder yang dimiliki yaitu flavonoid
dan tanin. Mekanisme kerja flavonoid
diduga berperan secara signifikan
meningkatkan
aktivitas
enzim
antioksidan dan mampu meregenerasi
sel-sel pankreas yang rusak dalam
mekanisme penyembuhan penyakit
diabetes, sehingga kekurangan insulin
dapat diatasi dan flavonoid yang
terkandung dalam tumbuhan juga
diduga dapat memperbaiki sensitivitas
reseptor
insulin.9
Tanin
juga
mempunyai aktivitas hipoglikemik yaitu
dengan meningkatkan
glikogenesis
dan tanin juga berfungsi sebagai
astringent atau pengkhelat yang dapat
mengerutkan membran epitel usus

halus
sehingga
mengurangi
penyerapan sari makanan dan sebagai
akibatnya menghambat asupan gula
dan laju peningkatan gula darah tidak
terlalu tinggi.10
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperoleh maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Ekstrak
kulit
batang
nangka
(Artocarpus
heterophyllus Lam) memiliki efek
terhadap penurunan kadar glukosa
darah tikus
putih
(Rattus
norvegicus).
2. Dosis ekstrak kulit batang nangka
(Artocarpus heterophyllus Lam)
yang efektif terhadap penurunan
kadar glukosa darah tikus putih
(Rattus norvegicus) adalah dosis
250 mg/Kg BB.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmida, A,. 2011. Antidiabetic,
Antihyperlipidemic
and
Antioxodant Effects of Aqueous
Extract of the Roots of Cynara
cornigera in Alloxan-induced
Experimental Diabetes Mellitus.
International Journal
of
Pharmacology
7(7).
Public
Health
Faculty,
Garyounis
University. Benghazi. Libya.
Chandrika.
2006.
Hypoglycaemic
Action
Of
The Flavonoid
Fraction
Of
Artocarpus
heterophyllus Leaf, Afr.J.Trad.
CAM.
Ersam, T. 2001. Senyawa Kimia
Makro
Molekul Beberapa
Tumbuhan Artocarpus Hutan

89

Tropika Sumatera Barat. ITB.


Bandung
Hanafiah.
2011.
Rancangan
Percobaan Teori & Aplikasi.
Fakultas Pertanian Universitas
Sriwijaya. Palembang
Made. 2011. Uji Aktivitas Antibakteri
Fraksi Kulit Batang Nangka.
Jurnal Kimia
Mariane, Yuandani, Rosnani,. 2011.
Antidiabetic
Activity
From
Ethanol Extract Of Kluwihs Leaf
(Artocarpus camansi). Jurnal
Natural Vol. 11 No. 2. Fakultas
Farmasi, Universitas Sumatera
Utara. Medan
Nabi, A.S.,et
al.
2013.
Antidiabetic
and
antihyperlipidemic activity of
Piper Longum root aqueous
extract in STZ induced diabetic
rats. BMC Complementary and
Alternative Medicine 13:37.

Pasaribu, F., Sitorus, P., Bahri, S.


2012. Uji Ekstrak Etanol Kulit
Buah
Manggis
(Garcinia
mangostana
L)
Terhadap
Penurunan
Kadar
Glukosa
Darah. Journal of Pharmaceutics
and Pharmacology Vol 1 (1).
Fakultas Farmasi Universitas
Sumatera Utara. Medan
Subroto. 2006. Ramuan Herbal
Untuk Diabetes Melitus. Penebar
Swadaya. Jakarta
Sunarsih. 2011. Pengaruh Infusa
Daun Murbei (Morus alba L.)
Terhadap Penurunan Kadar
Glukosa Darah Tikus Putih
Diabetes Karena Pemberian
Aloksan.
[Jurnal].
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Diponegoro. Semarang
Widharto. 2007. Kencing Manis
(DIABETES). PT Sunda Kelapa
Pustaka. Jakarta

90

UJI EFEK ANTIINFLAMASI SALEP EKSTRAK DAUN BINAHONG


(Anredera cordifolia T. Steen) TERHADAP TIKUS (Rattus norvegicus L.)
EDEMA DENGAN INDUKSI KARAGENAN
THE EFFECT TEST of ANTIINFLAMMATION of BINAHONG LEAF
(Anredera cordifolia T. Steen) EXTRACT OINTMENT toward
OEDEMTOUS RATS (Rattus norvegicus)
by INDUCED CARAGENAN
Oleh
Linda Pratecia, Yuliet, Feiverin Tibe
Abstrak. Daun binahong
(Anredera
cordifolia
(Ten.) Steen)
memiliki
kandungan kimia seperti flavonoid, saponin, tanin dan polifenol yang berpotensi
sebagai antiinflamasi. Salah satu pengobatan antiinflamasi adalah dalam bentuk
sediaan topikal yaitu salep. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai
obat antiinflamasi yang diberikan dalam bentuk sediaan salep. Salep terdiri dari
bahan obat yang terlarut ataupun terdispersi di dalam basis atau basis salep
sebagai pembawa zat aktif. Tujuan penelitian eksperimental ini adalah untuk
mengetahui efek antiinflamasi salep ekstrak daun binahong terhadap penurunan
radang kaki tikus putih dan mengetahui konsentrasi salep ekstrak daun binahong
yang efektif sebagai antiinflamasi. Ekstrak daun binahong diformulasikan ke dalam
bentuk sediaan salep dengan variasi konsentrasi yaitu F1 (0%), F2 (10%), F3 (20%)
F4 (40%) dan sebagai kontrol positif digunakan Gel natrium diklofenak.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Pengujian yang dilakukan yaitu evaluasi stabilitas mutu fisik (organoleptik,
homogenitas, pH dan daya sebar) dan aktivitas antiinflamasi pada tikus putih
(Rattus norvegicus). Pengujian organoleptik dan homogenitas dianalisis secara
deskriptif sedangkan hasil pengujian pH, daya sebar dan aktivitas antiinflamasi
daun binahong dianalisis secara statistik dengan metode analisis sidik ragam
(ANSIRA) pada taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan analisis statistik, diketahui
bahwa salep ekstrak etanol daun binahong memiliki aktivitas antiinflamasi dan
salep ekstrak daun binahong dengan konsentrasi 20% memiliki aktivitas
antiinflamasi yang efektif karena sebanding dengan gel Natrium diklofenak.
Kata kunci : Ekstrak daun binahong, salep, antiinflamasi,
Abstract. Binahong leaf (Anredera cordifolia T. steen) contains chemicals, such
as flavonoids, saponins, tannins and polyphenols which are potential as antiinflammatory. One of the anti-inflammatory treatments is in the form of topical
ointments. It is, therefore, necessary to study the anti-inflammatory drug which is

91

administered in the form of ointment preparation. The ointment consists of a drug


substance dissolved or dispersed in the base or ointment base as active carrier
substances. The purpose of this study was to determine the anti-inflammatory effect
of binahong leaf extract ointment in order to decrease inflammation foot in rats
and to determine the effective concentration of binahong leaf extract ointment as
a anti-inflammatory. Binahong leaf extract is formulated into a dosage form of an
ointment with concentration variations of the F1 (0%), F2 (10%), F3 (20%) F4 (40%)
and is diclofenac sodium gel used as positive control. The research used a
completely randomized design. The tests included the evaluation of the stability of
the physical quality (i.e. organoleptic, homogeneity, pH and dispersive power) and
anti-inflammatory activity in rats (Rattus norvegicus). The evaluation of the
organoleptic and homogeneity were analyzed descriptively, while pH muserement,
testing dispersive capacity and anti-inflammatory activity of the binahong leaf
extract ointment were statistically analyzed using analysis of variance method
(ANOVA) with 95% confident level. Based on statistical analysis, it is known
that the ethanol leaf extract ointment of binahong has the anti-inflammatory
activity and at a concentration of 20% ointments binahong leaf extract has antiinflammatory activity as effective of diclofenac sodium gel.
Keywords: Binahong leaf extract, ointment, anti-inflammatory.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu
negara pengguna tumbuhan obat
terbesar di dunia bersama negara lain
di Asia seperti Cina dan India. Hal
ini sangat erat kaitannya
dengan
kekayaan sumber alam dan keragaman
budaya yang dimiliki. Kekayaan alam
hutan tropis Indonesia menyimpan
beribu-ribu tumbuhan berkhasiat obat
dan dihuni oleh berbagai suku dengan
pengetahuan pengobatan tradisional
yang berbeda-beda.1
Mekanisme kerja tanaman obat
secara ilmiah belum banyak diketahui,
namun pengggunaan tanaman obat
masih sangat besar di masyarakat.
Hal ini
disebabkan
karena
penggunaan obat tradisional secara
langsung memiliki efek samping yang
lebih rendah khususnya
untuk

pengobatan
jangka
panjang.
Penggunaan obat tradisional secara
umum dinilai lebih aman dari pada
penggunaan
obat
modern
jika
digunakan dengan dosis yang tepat.1,2
Salah satu tanaman obat yang
berasal dari daratan Tiongkok yang
dikenal dengan nama asli Dheng
San Chi atau di Indonesia disebut
dengan binahong, memiliki khasiat
penyembuhan yang luar biasa dan
telah ribuan tahun dikonsumsi oleh
bangsa Tiongkok,
Korea, Taiwan
dan
lain-lain.
Seluruh bagian
tanaman ini berkasiat, mulai dari akar,
batang
dan
daunnya.
Pemanfaatannya bisa direbus atau
dimakan
sebagai
lalapan
untuk
daunnya. Tanaman ini sebenarnya
sudah lama ada di Indonesia dan biasa
disebut gendola. Berdasarkan data
92

empiris di masyarakat,
binahong
dipercaya
dapat menyembuhkan
berbagai macam penyakit, antara lain
batuk atau muntah darah, penyakit
paru-paru, diabetes melitus, hipertensi,
ambeien, disentri, gusi berdarah, luka
setelah operasi atau melahirkan,
jerawat, luka akibat kecelakaan, luka
bakar, meningkatkan vitalitas pria,
menjaga
stamina,
menurunkan
kolesterol, serta
antiinflamasi.1,2
Inflamasi
atau
peradangan
merupakan suatu respon
normal
tubuh terhadap luka jaringan yang
disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia,
dan zat mikroorganisme. Melalui
inflamasi itulah, tubuh membuang sel
yang rusak, mengeluarkan toksin
pengganggu,
melawan
kuman
(mikroorganisme) penginvasi, dan
memulai proses perbaikan jaringan,
bersama
fungsi
detoksifikasi
(penghilang racun hasil metabolisme
tubuh),
fungsi
inflamasi
juga
menjadi bagian
dari
sistem
kekebalan tubuh. 3
Pengobatan inflamasi umumnya
menanggulangi
gejala nyeri yang
merupakan gejala awal inflamasi
dan mengurangi serta menurunkan
peradangan dan kekakuan. Namun,
penggunaan jangka panjang obat-obat
anti inflamasi seperti Non Steroidal
Antiinflammatory Drugs (NSAIDs)
cenderung mempunyai efek samping
yang merugikan seperti gangguan
gastrointestinal, meningkatkan iritasi
lambung, nefrotoksik dan
heptotoksik.3,4
Penelitian

mengenai

binahong

telah dilakukan oleh Tshikalange dkk


2005, dimana ekstrak
air akar
binahong memiliki aktivitas sebagai
antiinflamasi dan antimikroba.7
Studi makroskopi dan skrining
fitokimia
daun
binahong
yang
dilakukan oleh Rachmawati 2008,
menunjukkan
daun
binahong
mengandung
senyawa
saponin,
triterpenoid, flavonoid dan fenil
propanoid.11
Penelitian lain oleh Paju dkk
2013, menunjukkan salep ekstrak daun
binahong
terbukti
dapat
menyembuhkan luka (yang disertai
reaksi peradangan) pada kelinci dengan
konsentrasi 20%. Berdasarkan
hasil
skirining fitokimia
yang
telah
dilakukan pada penelitian tersebut
menunjukkan bahwa daun binahong
mengandung
senyawa
saponin,
flavonoid,
polifenol dan alkaloid.
Flavonoid
bersifat
sebagai
antiinflamasi karena kemampuannya
dalam
mencegah
oksidasi serta
menghambat
proses
pembebasan
mediator-mediator
pembentuk
radang.7,8
Berdasarkan uraian di atas
maka perlu dilakukan
penelitian
tentang efek
antiinflamasi ekstrak
daun
binahong
(Anredera
cordifolia T. Steen)
dalam bentuk
sediaan topikal untuk meningkatkan
efek terapinya. Sediaan topikal yang
dapat digunakan dalam pengobatan
antiinflamasi adalah
salep
karena
salep merupakan sediaan setengah
padat yang mudah dioleskan pada kulit
atau selaput lendir, memiliki stabilitas
yang baik, berupa sediaan halus, mudah

93

digunakan,
mampu
menjaga
kelembapan
kulit,
serta
tidak
mengiritasi
kulit. Pengujian efek
antiinflamasi ekstrak daun binahong
dilakukan secara topikal terhadap
telapak kaki tikus dengan penginduksi
larutan
karagenan
1%
(b/v).
Penggunaan
karagenan
sebagai
penginduksi radang memiliki banyak
keuntungan
yaitu
tidak
menimbulkan kerusakan jaringan dan
memberikan respon yang lebih peka
terhadap obat antiinflamasi dibanding
senyawa iritan lainnya.5,6
Berdasarkan latar belakang di
atas maka rumusan masalah pada
penelitian ini adalah apakah salep
ekstrak daun binahong memiliki efek
antiinflamasi
terhadap
penurunan
radang kaki tikus putih dan berapakah
konsentrasi
salep
ekstrak
daun
binahong
yang efektif
sebagai
antiinflamasi. Tujuan penelitian ini
adalah
untuk
mengetahui
efek
antiinflamasi salep ekstrak daun
binahong terhadap penurunan radang
kaki
tikus
putih
dan untuk
mengetahui konsentrasi salep ekstrak
daun binahong yang efektif sebagai
antiinflamasi.
Selanjutnya
hasil
penelitian
ini diharapkan
dapat
dijadikan sebagai informasi dalam ilmu
pengetahuan
dan
juga
dalam
pengembangan
obat
tradisional
yang
digunakan secara
empiris
menjadi suatu sediaan fitofarmaka
dengan efek antiinflamasi secara
topikal dan dapat dimanfaatkan untuk
dijadikan sebagai salah satu pengobatan
komplementer yang dapat digunakan
pada pengobatan antiinflamasi.
Variasi
konsentrasi
ekstrak

daun
binahong yang
digunakan
dalam penelitian ini adalah 10%,
20% dan 40% yang dibandingkan
dengan sediaan
gel natrium
diklofenak
sebagai
kontrol
positif. Metode penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini
adalah
penelitian
eksperimental
dengan menggunakan
rancangan
acak
lengkap
(RAL) dengan
perlakuan pada kelompok I sebagai
kontrol negatif yang menggunakan
salep tanpa ekstrak daun binahong,
kelompok II, III, IV (salep ekstrak
daun binahong dengan konsentrasi
10%,
20%
dan 40%)
dan
kelompok
V
sebagai
kontrol
positif menggunakan
gel
natrium
diklofenak.
Data
hasil pengujian
mutu
fisik
dan
pengujian
efek antiinflamasi
sediaan salep
ekstrak
daun
binahong dianalisis
secara statistik dengan metode analisis
sidik ragam (ANSIRA) dengan taraf
kepercayaan 95%.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada
bulan September-November 2014,
bertempat
di
laboratorium
Farmakognosi-Fitokimia STIFA Pelita
Mas Palu, Laboratorium Farmasetika
FMIPA Universitas Tadulako Kota
Palu Provinsi Sulawesi Tengah.
Alat yang digunakan
Alat-alat
gelas (Pyrex),
Batang
pengaduk, Cawan porselin, Neraca
analitik (Sarltorius),, Penangas air
(Memmert),
Pipet tetes, Rotary
vacuum evaporator (Buchi R-3000),
Spatula, Spoit, Mortir dan Stamper,

94

Sudip,
Timbangan
hewan,
Plestimometer air raksa, pH-meter
(Ecosense pH meter), Gegep, Wadah
maserasi
Bahan yang digunakan
Hewan uji, Daun Binahong, Etanol
96%, Aquadest, Vaselin putih, Gel
Natrium Diklofenak, Karagenan
Penyiapan Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah daun binahong
yang masih segar dan berwarna hijau
yang
diambil
Desa
Jonoge,
Kecamatan
Sigi Biromaru,
Kota
Palu. Daun binahong yang diambil,
dikumpulkan, dicuci dengan air bersih,
disortasi basah selanjutnya
sampel
dirajang dan dikeringkan dengan cara
diangin-anginkan
dan
tidak
terkena
sinar matahari
langsung
lalu disortasi
kering
kemudian
diserbukkan dan ditimbang sesuai
dengan kebutuhan.
Pembuatan ekstrak
Pembuatan ekstrak dilakukan
dengan menggunakan metode maserasi,
yaitu serbuk simplisia daun binahong
ditimbang 1500 g lalu diekstraksi
menggunakan etanol 96% sebanyak 5
L selama 3 hari (setiap hari diaduk)
dalam 3 wadah. Ekstrak kemudian
disaring menggunakan kertas saring
dan diperoleh filtrat pertama. Residu
yang diperoleh diekstraksi kembali
(remaserasi) selama 3 hari dan
diperoleh filtrat kedua.
Selanjutnya filtrat pertama dan
filtrat kedua diuapkan menggunakan
evaporator pada suhu 70oC sampai
volumenya menjadi volume awal.

Kemudian
dilakukan
pengentalan
menggunakan penangas air pada suhu
60oC sampai diperoleh ekstrak kental
daun binahong sebanyak 97,66 g.
Uji Penapisan Fitokimia
1. Uji Alkaloid
Ekstrak
sebanyak
0,5
g
ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N
dan 9 mL air suling, dipanaskan di
atas penangas air selama 2 menit.
Didinginkan dan saring. Filtrat yang
diperoleh kemudian diambil 3 tetes,
ditambah 2 tetes larutan pereaksi
Dragendroff (Bi(NO3)3/KI). Adanya
endapan
menggumpal berwarna
jingga
kemerahan
menunjukan
sampel positif mengandung alkaloid.
2. Uji Flavonoid
Ekstrak
sebanyak
0,5
g
ditambahkan
air panas, didihkan
selama 5 menit dan disaring dalam
keadaan panas, ke dalam 5 mL filtrat
ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium,
1 mL asam klorida pekat dan 2 mL
amil alkohol, dikocok dan dibiarkan
memisah. Flavonoid
positif
jika
warna merah, kuning, jingga pada
lapisan amil alkohol.
3. Uji Saponin
Ekstrak
sebanyak
0,5
g
dimasukkan dalam tabung reaksi dan
ditambahkan 10 mL air panas,
didinginkan kemudian dikocok kuat
selama 10 detik. Adanya
buih
setinggi 1-10 cm tidak kurang dari
10 menit dan tidak hilang dengan
penambahan 1 tetes asam klorida 2 N
menunjukkan adanya saponin.
4. Uji Tanin
Ekstrak
sebanyak
0,5
g
ditambahkan dengan 10 mL air suling
95

dan dipanaskan hingga mendidih.


Larutan
disaring
dan
filtratnya
diencerkan dengan air sampai tidak
berwarna. Larutan diambil sebanyak
1 mL dan ditambahkan 1-2 tetes
pereaksi
besi (III) klorida 1%.
Warna biru menunjukkan adanya
tanin
galat
dan
warna
hijau
menunjukkan tanin katekol.
5. Uji Polifenol
Ekstrak
sebanyak
0,5
g
dimaserasi dengan 5 mL eter selama
2 jam, disaring. Filtrat diuapkan
dicawan
penguap,
sisanya
ditambahkan 5 tetes asam sulfat pekat
(pereaksi
Liebermann-Bunchard).
Adanya warna merah-jingga atau ungu
menandakan uji positif terhadap
triterpenoid,
sedangkan
warna
biru menunjukan uji positif untuk
steroid.9
Rancangan formula
Rancangan formula salep yang
dibuat dengan variasi konsentrasi
ekstrak daun binahong (Anredera
cordifolia T. Steen) seperti pada tabel
1.
Tabel 1. Rancangan Formula
Sediaan Salep Ekstrak Daun
Binahong.

Formula
Salep
10 %
20%
40%

Bahan Obat
Ekstrak
Daun
Vaselin
Binahong
Putih (g)
(g)
10
90
20
80
40
60

Kontrol
Negatif
Kontrol
Positif

100

Sediaan topical fel Na


diklofenak

Pengujian Sediaan Salep


Evaluasi sediaan salep yang
dilakukan meliputi uji organoleptik, uji
homogenitas, pengukuran pH dan uji
daya sebar.10
1. Uji organoleptik
Pengujian organoleptik dilakukan
dengan mengamati sediaan salep dari
konsistensi, bau, dan warna sediaan.
2. Uji homogenitas
Sediaan salep pada bagian atas,
tengah, dan bawah diambil kemudian
diletakkan pada plat kaca lalu
digosok dan diraba. Uji homogenitas
dilakukan untuk memberikan hasil
yang homogen untuk sediaan salep,
dilihat berdasarkan
tidak adanya
gumpalan maupun butiran kasar pada
sediaan salep.
3. Uji pH
Uji
pH
dilakukan
dengan
mengambil 0,5 g salep ekstrak daun
binahong lalu diencerkan dalam 5
mL aquadest kemudian dilakukan
pengukuran pH salep menggunakan
pH meter. Pengukuran
dengan
mencelupkan pH meter selama 1
menit, perubahan angka yang terjadi
pada pH meter menunjukkan nilai pH
dari salep.
3. Uji Daya sebar
Uji daya sebar dilakukan dengan
mengambil 0,5 g salep diletakkan
diatas kaca bulat berdiameter 15 cm,
96

kaca lainnya diletakkan diatasnya dan


dibiarkan selama 1 menit. Diameter
sebar
salep
diukur
kemudian
ditambahkan 100 g beban tambahan
dan didiamkan selama 1 menit dan
diukur diameter yang konstan.
Penyiapan
Obat
Pembanding,
Kontrol dan Penginduksi
Radang
Kontrol positif yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sediaan
topikal gel 1%, tiap 1 g gel
mengandung Diklofenak dietilamin
setara dengan 10 mg Na-diklofenak.
Kontrol negatif yang digunakan adalah
dasar salep vaselin putih. Penginduksi
radang pada tikus menggunakan
karagenan
1% (b/v) dalam larutan fisiologis
NaCl 0,9% (b/v)
kemudian diaktifkan dengan cara di
inkubasi 37oC selama
24 jam.11
Penyiapan Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan adalah
20 ekor tikus putih (Rattus norvegius)
dengan berat badan 200-250 g.
Hewan
uji
dipelihara
pada
kandang
yang
memiliki ventilasi
yang
baik
dan
selalu
dijaga
kebersihannya. Sebelum pengujian
tikus dipuasakan selama 18 jam dengan
tetap diberi air minum.
Kelompok hewan uji terdiri dari:
a. Satu
kelompok
hewan
uji
dengan pemberian dasar salep
vaselin putih (VP) sebagai kontrol
negatif sebanyak 4 ekor.
b. Satu
kelompok
hewan
uji

c.

dengan
pemberian
gel
diklofenak
(GD)
sebagai
kontrol positif sebanyak
4
ekor.
Tiga
kelompok
hewan
uji
dengan pemberian salep ekstrak
daun binahong (SEDB) sebanyak 4
ekor dengan konsentrasi
10%,
20%, dan 40% yaitu SEDB10,
SEDB20, SEDB40. 40 Kandang
tikus putih terbuat dari ram-ram
dengan ukuran 45x30 cm dimana
setiap rak terdiri dari 4 ekor tikus
putih. Alas kandang tikus putih
diberikan serutan kayu dan diganti
setiap 3 hari.

Pengujian Antiinflamasi
Induksi antiinflamasi dilakukan
dengan menyuntikkan karagenan pada
kaki
tikus. Volume kaki tikus
diukur dengan mencelupkan kaki
tikus pada tabung berisi air raksa
yang dihubungkan dengan tabung
yang
berskala
yang
disebut
plestimometer.
Cara kerja
1. Pada
hari
pengujian
menyiapkan
hewan
uji dan
memberi tanda pada masingmasing sendi kaki hewan uji
sebagai
batas
pengukuran
volume kaki tikus. Volume kaki
tikus sebagai volume awal (Vo)
yaitu volume kaki sebelum diberi
obat
dan
diinduksi
dengan
karagenan. Kemudian
masingmasing
tikus
diinduksi
dengan
karagenan 1% (b/v)
sebanyak
0,1
mL
secara
intraplantar untuk memberikan
efek peradangan pada telapak

97

2.

kaki tikus.
Setelah
1 jam masing-masing
telapak kaki tikus diberi obat
topikal dengan mengoleskan obat
pada bagian yang bengkak dan
dibalut
dengan
kain
kasa
hingga telapak kaki tertutup
semua.

Pengukuran radang kaki tikus


dilakukan
setiap selang
waktu
setengah jam selama enam (6) jam
dan masing-masing
tikus hanya
dilakukan sekali pengukuran sesuai
dengan waktu pengukuran. Pengukuran
dilakukan dengan mencelupkan kaki
tikus ke dalam tabung yang berisi
larutan air raksa. Perubahan volume
larutan yang tercatat
pada skala
plestimometer merupakan volume
tertentu (Vt) kaki tikus. Volume
radang
merupakan selisih
waktu
tertentu (Vt) dengan volume awal
kaki mencit (Vo).11
Perhitungan Persentase Radang
Persen radang dapat dihitung dengan
rumus dibawah ini:
Persen radang = Vt Vo x 100%
Vo
Dimana:
Vt = Volume radang setelah waktu t
Vo = Volume awal kaki tikus
Analisis Data
Metode
penelitian
yang
digunakan
dalam penelitian
ini
adalah metode RAL (rancangan
acak lengkap). Data yang diperoleh
dianalisis secara statistik menggunakan
metode ANSIRA (analisis variansi).

98

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 2. Hasil Uji Fitokimia

Ket. : (+) : mengandung senyawa yang diuji


(-) : tidak mengandung senyawa yang diuji
Tabel 3. Hasil Uji Organoleptik

99

Keterangan :
F1 = Formula salep tanpa ekstrak
F2 = Formula salep konsentrasi ekstrak 10% F3 = Formula salep konsentrasi ekstrak
20% F4 = Formula salep konsentrasi ekstrak 405%
Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas

Tabel 5. Hasil Uji pH dan Daya Sebar Salep Ekstrak


Daun Binahong

Keterangan : Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan dan abjad
yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan
Tabel 7. Hasil Rata-rata Persen Radang (%)

Keterangan :
Abjad yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan
sama menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan

dan

abjad

yang

100

PEMBAHASAN
Hasil
pengujian
fitokimia
(Tabel 2) menunjukkan bahwa daun
asam jawa mengandung alkaloid,
flavonoid,
saponin,
tanin,
dan
polifenol. Ekstrak daun asam jawa
diformulasikan
dalam sediaan salep
dalam tiga variasi konsentrasi yaitu
10%, 20% dan 40%. Formulasi salep
tanpa ekstrak (0%) digunakan sebagai
kontrol negatif kemudian dilakukan
evaluasi
mutu fisik sediaan salep
ekstrak daun asam jawa yang meliputi
uji organoleptik, uji pH salep, uji
homogenitas, dan uji daya sebar
yang dilakukan dilakukan selama 3
minggu penyimpanan yaitu pada hari
ke-1, 7, 14 dan 21.
Pengujian organoleptik (Tabel
3) adalah pengujian yang dilakukan
dengan mengamati dari bentuk, bau,
dan warna sediaan salep secara
visual. Uji organoleptik pada salep
dengan berbagai konsentrasi ekstrak
memiliki warna yang berbeda-beda
seperti yang terlihat pada Tabel 3.
Salep F1 tanpa ekstrak menunjukkan
warna putih karena menggunakan
vaselin putih sebagai basis salep. salep
F2 menunjukkan warna hijau agak
tua, salep F3 menunjukkan warna
hijau tua dan F4 menunjukkan warna
tua pekat. Perbedaan warna tersebut
disebabkan oleh perbedaan konsentrasi
ekstrak daun binahong pada salep.
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak
daun binahong yang digunakan maka
warna
salep
semakin
pekat.
Pengamatan bau salep ekstrak daun
asam jawa menunjukkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi ekstrak
maka semakin kuat aroma khas

ekstrak daun binahong. Salep dengan


berbagai konsentrasi memiliki bentuk
setengah padat seperti bentuk salep
pada umumnya.
Pengamatan
bentuk,
warna
dan bau pada
masing-masing formula salep selama
penyimpanan
tidak
mengalami
perubahan.
Pengujian homogenitas (Tabel 4)
yang dilakukan
memberikan hasil yang homogen untuk
tiap sediaan, dilihat berdasarkan tidak
adanya gumpalan maupun butiran
kasar pada sediaan salep ektrak daun
binahong.
Sediaan
salep yang
homogen mengindikasikan
bahwa
ketercampuran
dari bahan-bahan
salep serta ekstrak daun binahong
yang digunakan baik sehingga tidak
didapati gumpalan ataupun butiran
kasar pada sediaan. Suatu sediaan
salep harus homogen dan rata agar
tidak menimbulkan iritasi dan
terdistribusi
merata
ketika
digunakan.12
Pengujian pH yang dilakukan
pada tiap sediaan salep ekstrak daun
binahong diperoleh nilai pH yang
berbeda- beda untuk tiap sediaan
(Tabel 5). Salep ektrak etanol daun
binahong dengan variasi konsentrasi
memiliki
pH yang tidak sesuai
dengan kriteria pH kulit yaitu 4,5 7,0.
Salep
ekstrak
daun
binahong
menghasilkan pH yang asam karena
mengandung senyawa flavonoid yang
bersifat asam (pH ekstrak
6,25).
Semakin
banyak
ekstrak
yang
ditambah dalam sediaan salep maka
pHnya semakin rendah (makin bersifat
asam).
Hasil nilai pH selama
penyimpanan dianalisis
secara
101

statistik dengan metode analisis


sidik ragam (ANSIRA). Data yang
diperoleh FHitung > Ftabel maka
dilakukan uji lanjut BNJ (Beda Nyata
jujur). Hasil uji BNJ menunjukkan
bahwa salep konsentrasi 0% dan
10%
tidak
berbeda
signifikan
dibandingkan dengan salep konsentrasi
20% dan 40%. Selisih nilai pH salep
disebabkan oleh
jumlah
ekstrak
pada setiap konsentrasi, semakin
banyak ekstrak yang ditambah dalam
sediaan salep maka pH salep semakin
rendah. Hal ini disebabkan karena
pH ekstrak etanol daun binahong yang
bersifat asam (6,25) dibandingkan
dengan
pH basis
salep
yang
digunakan
yaitu sebesar
6,94.
Sediaan salep selama penyimpanan
untuk setiap konsentrasi memiliki pH
normal yang sesuai dengan pH kulit
manusia yaitu 6-7, sehingga dapat
dikatakan bahwa keempat konsentrasi
masih memenuhi syarat pH salep yang
baik. menimbulkan radang yaitu
dengan merangsang dan melepaskan
mediator-mediator radang yang dapat
mengakibatkan vasodilatasi sehingga
menimbulkan eksudasi
dinding
kapiler dan migrasi fagosit ke
daerah Pengujian daya sebar salep
(Tabel 4.5) dilakukan pada
tiap
sediaan untuk melihat kemampuan
sediaan menyebar pada kulit karena
daya sebar sangat
berpengaruh
terhadap kecepatan difusi zat aktif
dalam
melewati membran kulit.
Semakin luas membran tempat sediaan
menyebar maka difusi obat ke tubuh
semakin baik.40 Hasil pengamatan
(Tabel 4.5) menunjukkan
bahwa
nilai daya sebar salep ekstrak daun

binahong pada semua konsentrasi


mengalami penurunan selama 21 hari
penyimpanan. Hasil nilai daya sebar
selama
penyimpanan
dianalisis
secara statistik
dengan
metode
analisis sidik ragam (ANSIRA). Data
yang diperoleh FHitung > daripada
Ftabel maka dilakukan uji lanjut BNJ
(Beda Nyata jujur). Hasil uji BNJ
menunjukkan
bahwa
salep
konsentrasi 0% berbeda signifikan
dibandingkan
dengan
salep
konsentrasi 10% dan
20% dan juga berbeda signifikan
dengan salep konsentrasi
40%. Persyaratan daya sebar untuk
sediaan topikal yaitu sekitar 5-7 cm,
maka berdasarkan hasil uji daya sebar
pada sediaan dapat dikatakan bahwa
sediaan belum memenuhi syarat daya
sebar yang baik. Hal ini disebabkan
karena salep yang dibuat hanya
menggunakan
basis salep (vaselin
putih) yang memiliki nilai daya sebar
yang rendah.
Hewan uji yang digunakan pada
penelitian ini adalah tikus
putih
jantan (Rattus novergicus)
yang
mempunyai bobot badan sekitar 180
g sampai 250 g. Tikus diadaptasikan
selama
4
minggu
untuk
menyeragamkan
pola hidup dan
mencegah terjadinya stres. Tikus yang
digunakan adalah tikus yang sehat
yaitu tikus yang tidak mengalami
perubahan berat badan lebih dari 10%
selama adaptasi dan menunjukkan
perilaku yang normal.40
Tikus
putih
jantan memberikan hasil
penelitian yang lebih stabil daripada
tikus betina karena tidak dipengaruhi
oleh adanya siklus menstruasi dan
102

kehamilan.
Tikus
putih
yang
dijadikan sampel dalam penelitian ini
sebanyak 20 ekor yang dibagi dalam
5 kelompok perlakuan yaitu kontrol
negatif, konsentrasi 10%, konsentrasi
20%, konsentrasi 40% dan kontrol
positif menggunakan sediaan topikal
gel natrium diklofenak 1%, tiap 1
gram gel mengandung Diklofenak
dietilamin setara dengan 10 gram NaDiklofenak.40
Pemberian induksi radang pada
hewan
uji
dilakukan
dengan
menggunakan larutan lambda ()
karagenan 1% (b/v) sebanyak 0,1 ml
yang disuntikkan secara intraplantar
pada
telapak
kaki
tikus.
Pembentukan
radang
oleh
karagenan
menimbulkan
gejala
peradangan akut, tidak meninggalkan
bekas, tidak menyebabkan kerusakan
pada jaringan, dan udem yang
dihasilkan berangsur-angsur berkurang
setelah 24 jam. Penggunaan karagenan
sebagai penginduksi radang karena
karagena memiliki respon yang lebih
baik terhadap obat antiinflamasi
dibanding
senyawa iritan lainya
(formalin, mustard, kaolin, racun ular,
polivinilpirolidin, yeast, ovalbumin)
terutama
untuk
obat-obat
antiinflamasi yang bekerja dengan
menghambat sintesis prostaglandin.6
Mekanisme karagenan dalam radang
akibatnya terjadi pembengkakan pada
daerah tersebut.13
Pengukuran udem kaki tikus
menggunakan alat plestimometer air
raksa.
Prinsip
pengukuran
plestimometer air raksa berdasarkan
hukum Archimedes yaitu benda yang

dimasukan kedalam zat cair akan


memberi gaya atau tekanan ke atas
sebesar volume yang dipindahkan.
Data
yang
diperoleh
dianalisis
dengan metode analisis
sidik ragam (ANSIRA) dengan uji
lanjut
berdasarkan
Koefisien
Keragaman.
Analisis
dilakukan
terhadap hasil perubahan volume
kaki tikus dimulai dari menit 30
hingga 360 menit setelah penyuntikan
karagenan. Berdasarkan perubahan
volume kaki tikus, dapat dihitung
persen radang pada kaki tikus.
Selanjutnya dibuat grafik perubahan
persen radang rata-rata kaki tikus
(Tabel 4.7) menunjukkan kemampuan
salep ekstrak daun binahong dalam
mengobati radang.
Nilai ratarata persentase radang
kaki tikus yang diperoleh pada
kelompok perlakuan salep ekstrak daun
binahong konsentrasi 10% untuk
setiap pengulangan adalah 36,14%,
44,76%,
39,29%, 43,45% . Pada
konsentrasi
20% untuk setiap
pengulangan adalah 24,72%, 23,65%,
26,67%, 27,87%. Pada konsentrasi
40% untuk setiap pengulangan adalah
19,09%, 22,22%, 23,33%, 22,13%.
Kemudian nilai persen radang yang
diperoleh dari setiap waktu observasi
dihitung rata-rata persen radang
sehingga diperoleh pada formula salep
konsentrasi 10% yaitu 40,90%, salep
konsentrasi 20% yaitu 25,73%, dan
salep konsentrasi 40% yaitu 21,72%.
Rata-rata persentase radang pada
salep dengan konsentrasi 20% dan
40% sebanding dengan rata- rata
persentase radang kontrol positif. Hal
ini
menunjukkan
salep
dengan
103

konsentrasi 20% dan 40% memiliki


efek antiinflamasi yang lebih baik
dibanding salep konsentrasi
10%. Semakin kecil persentase radang
menunjukkan bahwa semakin besar
daya antiinflamasi salep tersebut.
Hasil analisis Sidik Ragam
(uji F) terhadap persentase radang
untuk setiap
pengulangan
pada
kelompok
perlakuan
salep
konsentrasi
10%
dapat
dilihat
bahwa FHitung > FTabel maka
dilakukan uji lanjut BNJ. Data
tersebut
menunjukkan
perbedaan
yang signifikan dibandingkan dengan
kontrol negatif (salep yang tidak
mengandung ekstrak) serta dengan
salep konsentrasi 20%,
40% dan salep kontrol positif . Hal
ini disebabkan karena kandungan zat
aktif yaitu flavonoid yang terdapat
pada salep konsentrasi 10% lebih
sedikit
bila dibandingkan dengan
salep
ekstrak
lainnya
sehingga
belum
mampu menekan reaksi
inflamasi pada telapak kaki tikus.
Hasil analisis Sidik Ragam (uji
F) terhadap persentase radang pada
menit 30 sampai menit ke-360 pada
kelompok perlakuan salep konsentrasi
20% dapat dilihat bahwa FHitung >
FTabel maka dilakukan uji lanjut
BNJ.
Data
tersebut
menunjukkan
bahwa salep konsentrasi 20% berbeda
signifikan dibandingkan dengan kontrol
negatif dan salep konsentrasi 10%
namun tidak berbeda
signifikan
dengan salep konsentrasi 40% dan
kontrol positif, hal ini menunjukkan
bahwa kelompok perlakuan yang
diberi salep ekstrak daun binahong

dengan konsentrasi 20% memiliki


efek antiinflamasi yang lebih besar
dibandingkan dengan salep konsentrasi
10% dan salep kontrol negatif karena
memiliki persentase radang yang
lebih kecil. Dimana semakin kecil
persentase
radang
menunjukkan
bahwa
semakin
besar
daya
antiinflamasi salep tersebut. Hal ini
disebabkan
karena
kandungan
flavonoid yang terdapat pada salep
konsentrasi
20%
lebih
banyak
dibanding dengan konsentrasi 10%
sehingga dapat menekan reaksi
inflamasi dengan cara mencegah
oksidasi dan menghambat proses
pembebasan mediator-mediator yang
memacu terjadinya peradangan. Selain
flavonoid,saponin, dan tannin juga
berperan
dalam
menghambat
pembentukan radang. Saponin dapat
menghambat
pengaktifan
prostaglandin, tetapi tidak berpengaruh
terhadap sintesis prostaglandin. Tanin
sendiri memiliki aktivitas antioksidan
yang berperan sebagai antiinflamasi
dengan cara menangkap radikal
bebas yang dapat
menyebabkan
kerusakan membrane sehingga
memimbulkan peradangan.8
Hasil analisis Sidik Ragam (uji
F) terhadap persentase radang pada
menit 30 sampai menit ke-360 pada
kelompok perlakuan salep konsentrasi
40% dapat dilihat bahwa FHitung >
FTabel maka dilakukan uji lanjut
BNJ. Data tersebut menunjukkan
bahwa salep konsentrasi 40% berbeda
signifikan dibandingkan dengan kontrol
negatif dan salep konsentrasi 10%
namun tidak berbeda
signifikan
dengan salep konsentrasi 20% dan
104

kontrol positif, hal ini menunjukkan


bahwa kelompok perlakuan yang
diberi salep ekstrak daun binahong
dengan konsentrasi 40% memiliki
efek antiinflamasi yang lebih besar
dibandingkan dengan salep konsentrasi
10% dan salep kontrol negatif karena
memiliki persentase radang yang
lebih kecil. Dimana semakin kecil
persentase
radang
menunjukkan
bahwa
semakin
besar
daya
antiinflamasi salep tersebut. Hal ini
disebabkan
karena
kandungan
flavonoid yang terdapat pada salep
konsentrasi
40%
lebih
banyak
dibanding dengan konsentrasi 10%
sehingga dapat menekan reaksi
inflamasi dengan cara mencegah
oksidasi dan menghambat proses
pembebasan mediator-mediator yang
memacu terjadinya peradangan. Selain
flavonoid,saponin, dan tannin juga
berperan
dalam
menghambat
pembentukan radang. Saponin dapat
menghambat
pengaktifan
prostaglandin, tetapi tidak berpengaruh
terhadap sintesis prostaglandin. Tanin
sendiri memiliki aktivitas antioksidan
yang berperan sebagai antiinflamasi
dengan cara menangkap radikal
bebas yang dapat
menyebabkan
kerusakan membrane sehingga
memimbulkan peradangan.8
Penelitian uji efek antiinflamasi
salep
ekstrak
daun binahong
menunjukkan bahwa ketiga variasi
konsentrasi salep
daun
binahong
memiliki efek antiinflamasi karena
kandungan
flavonoid
binahong
yang
berperan
penting dalam
aktivitas antiinflamasi sehingga dapat
menghambat enzim siklooksigenase

yang berperan
pada biosintesis
prostaglandin (mediator inflamasi).
Mekanisme
flavonoid
dalam
menghambat
proses
terjadinya
inflamasi melalui dua cara, yaitu
dengan
menghambat
enzim
lipooksigenase
dan
enzim
siklooksigenase-2.
Enzim
lipooksigenase
mengubah
asam
arachidonat menjadi leukotrien, dimana
leukotrien menyebabkan tertariknya
leukosit dalam jumlah besar untuk
menginvasi daerah peradangan dan
menyebabkan
banyak
gejala
peradangan. Enzim siklooksigenase2
mengubah asam
arachidonat
menjadi
prostaglandin,
dimana
prostaglandin
menyebabkan
peradangan.14
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
uji
aktivitas
antiinflamasi salep ekstrak daun
binahong dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Salep ekstrak daun binahong
(Anredera cordifolia T. Steen)
memiliki aktivitas antiinflamasi.
2. Salep ekstrak daun binahong
(Anredera cordifolia T. Steen)
dengan konsentrasi 20% memiliki
aktivitas antiinflamasi yang efektif
karena sebanding dengan kontrol
positif.
DAFTAR PUSTAKA
Anief,
M.
2007.
Farmasetika.
Penerbit
Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta. Hal. 110-113
Anonim.
2002.
Endometriosis.
Penerbit
Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta. Hal 30
105

Apriani
R.D. 2011. Uji Efek
Antiinflamasi Kombinasi Ekstrak
Air
Akar
Tanaman
Akar
Kucing (Acalypha indica Linn.)
Dan Ekstrak
Etanol
70%
Rimpang Jahe Merah (Zingiber
officinale Rosc.) Terhadap Udem
Telapak
Kaki
Tikus
yang
Diinduksi Karaginan. Skripsi
Sarjana. Program Studi Farmasi,
FMIPA, Universitas Indonesia.
Depok. Hal 31-46
Hamor
G
H.
1999.
Zat
Antiradang Nonsteroid, Prinsipprinsip Kimia Medisinal, jilid
II, Edisi kedua. Gajah ada
University. Yogyakarta:. Hal
1096-1097
Hidayat, S dan Wahyuni, S. 2009. Seri
Tumbuhan
Berpotensi
Hias
Tumbuhan Merambat Ampuh
Mempesona.Penerbit PT Elex
Media Komputindo, Jakarta. Hal
41
Kesuma, T.W 2009. Uji Efek
Antiinflamasi Sediaan Topikal
ekstrak Kunyit Etanol dan Etil
Asetat
Rimpang
Tumbuhan
Kunyit
(Curcuma
domestika
Val.) Terhadap Mencit. Fakultas
Farmasi USU, Medan. Hal 5-39
Lumbanraja, L.B. 2009. Skrining
Fitokimia
dan
Uji Efek
Antiinflamasi Ekstrak Etanol
Daun
Tempuyung
(Sonchus
arvensis L.) terhadap Radang
pada Tikus. Fakultas Farmasi
USU, Medan. Hal 12-21
Merari
J.,
2009.
Uji
Daya
Antiinflamasi Ekstrak Etanolik
Daun
Mondokaki
(Tabernaemontana
divaricata,

R.Br.) Pada Tikus Putih Jantan.


Fakultas farmasi Universitas
Setia Budi. Hal 45
Paju, N., Yamlean. P.V.Y., dan
Kojong, N. 2013. Uji Efektivitas
Salep Ekstrak Daun Binahong
(Anredera
cordifolia
(Ten.)
Steenis)
pada
Kelinci
(Oryctolagus ciniculus)
yang
Terinfeksi
Bakteri
Staphylococcus aurens. Fakultas
MIPA
Jurusan
Farmasi
UNSRAT, Manado. Hal 8-41
Simanjuntak, R. Megawati. 2008.
Ekstraksi
dan Fraksinasi
Komponen
Ekstrak
Daun
Senduduk
(Melastoma
malabathicum
L.)
Serta
Pengujian Efek Sediaan Krim
Terhadap Penyembuhan Luka
Bakar. Fakultas Farmasi USU,
Medan. Hal 19
Suharmiati dan Handayani, L. 2005.
Ramuan Tradisional
untuk
Keadaan Darurat di Rumah.
Penerbit PT AgroMedia Pustaka,
Jakarta. Hal 7, 41.
Tjay, T.H, dan Kirana Rahardja.
2002.
Obat-Obat Penting
Khasiat, Penggunaan, dan EfekEfek Sampingnya. Edisi Kelima.
Penerbit
PT
Elex
Media
Komputindo Gramedia, Jakarta.
Hal 306-309.
Tshikalange,
T.E.,Meyer
J.J.M.,
Husein,
A.A.
2005.
Antimicrobial activity, toxicity,
and the isolation of bioactive
compound from plants used to
treat
sexually
transmitted
diseases,
Journal
of
Ethnopharmacology.
Page
106

96:515-519
Winter CA, Risley EA dan Nuss
GW.
Carrageenan- induced
Edema In Hind Paw Of The Rat
as an Assay For
Antiinflammatory Drugs. Proc. Soc.
Exp. Biol. Med. In Surakar,
aupama A., 2008. In-vivo Animal
models for Evaluation of Antiinflammatory Activity Review,
Issue 2.

107

UJI EFEKTIVITAS ANTIAGREGASI PALTELET KOMBINASI EKSTRAK


ETANOL DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) Dan HERBA
PEGAGAN (Centella asiatica) Terhadap TIKUS PUTIH
JANTAN (Rattus norvegicus)
THE EFFECTIVENESS TEST OF ANTI-PLATELET AGGREGATION
COMBINASION OF WULLUH CARAMBOLA LEAF EXTRACT
(Averrhoa bilimbi L) AND HERBA PEGAGAN (Centella asiatica)
TO MALE RATS (Rattus norvegicus)
Oleh
Aprilia arieska Thomson, Yuliet, Sri.
Abstrak. Pada penelitian ini dilakukan pengujian efektivitas antiagregasi platelet
kombinasi ekstrak etanol daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi .L) dan herba
pegagan (Centella asiatica) pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui adanya efek maksimal antiagregasi platelet kombinasi
ekstrak etanol daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi .L) dan ekstrak pegagan
(Centella asiatica) pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus), serta menentukan
perbandingan komposisi kombinasi belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) dan herba
pegagan (Centella asiatica) yang efektif sebagai antiagregasi platelet. Ekstrak daun
belimbing wuluh dan herba pegagan diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan
pelarut etanol 96%. Uji pendahuluan terhadap ekstrak etanol daun belimbing wuluh dan
ekstrak herba pegagan didapatkan adanya kandungan senyawa kimia alkaloid,
flavonoid, saponin dan tanin. Selanjutnya kombinasi ekstrak etanol daun belimbing
wuluh dan herba pegagan dibuat dalam tiga variasi kombinasi yaitu, kombinasi
pertama komposisi ekstrak pegagan 25% dan ekstrak daun belimbing wuluh 75%,
kombinasi kedua komposisi ekstrak etanol herba pegagan 50% dan daun belimbing
wuluh 50%, dan kombinasi ketiga komposisi ektstrak etanol herba pegagan 75% dan
daun belimbing wuluh 25% dengan dosisi 150 mg/kg BB. Parameter yang digunakan
yaitu waktu perdarahan dan penurunan serapan plasma yang diukur pada hari ke 0, 15,
dan pada hari ke 30 menggunakan spektrofotometer visible. Pengukuran penurunan
serapan plasma dihitung dengan menghitung selisih serapan plasma sebelum dan setelah
pemberian larutan penginduksi ADP (adenosine 5 diphosphate). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa komposisi ekstrak yang efektif sebagai antiagregasi platelet
ditunjukan pada kombinasi ketiga dengan kandungan ekstrak herba pegagan 75% (112,5
mg/kg BB) dan ekstrak daun belimbing wuluh 25% (37,5 mg/kg BB).
Kata kunci : Ekstrak etanol daun belimbing wuluh, ekstrak etanol herba pegagan,
antiagregasi platelet, waktu perdarahan, penurunan serapan plasma,
ADP (adenosine 5 diphosphate).

105

Abstract. This research is about the effectiveness test of anti-platelet aggregation


combination starfruit leaf ethanol extract (Averrhoa bilimbi. L) and herba pegagan
(Centella asiatica) against male rats (Rattus norvegicus). This study aimed to examine
and determine the effect of ethanol extract of leaf of Anti-Platelet Aggregation
Combination starfruit (Averrhoa bilimbi. L) and herba pegagan (Centella asiatica)
against male Rats (Rattus norvegicus), as well as to determine the effective dose as
antiagregation of platelets. Herba pegagan and Starfruit leaf is extracted by maceration
using 96% ethanol. Preliminary test of the combination ethanol extract of leaf starfruit
and herba pegagan resulted in the chemical content of alkaloids, flavonoids, saponins
and tannins. Furthermore, combination starfruit leaf ethanol and herba pegagan extracts
which were made in
3 variasi combination, combination 1 25% herba
pegagan(37,5mg/kg BB) starruit leaf extract 75% (112,5 mg/kg BB), combination 2
herba pegagan 50% (75 mg/kg BB) anda starfruit leaf extract 50% (75 mg/kg BB), and
combination 3 herba pegagan 75% (112,5 mg/kg BB) anda starfruit leaf extract
25%(37,5 mg/kg BB). The parameters used were the bleeding time and uptake
decreased of plasm measured on days 0, 15, and on day 30 using a visible
spectrophotometer. Measurement of plasm absorption decrease calculated by the
difference in uptaking of plasm before and after administration of inducer solution of
ADP (adenosine 5 - diphosphate). The results showed that the combination herba
pegagan and ethanol extract of leaf starfruit antiagregasi has effective activity
concentration of platelets and anti-platelet aggregation as shown in the variasi
combination 3 herba pegagan 75% and starfruit leaf extrac 25%.
Keywords : Ethanol Leaf Extract Wuluh Carambola, Anti-Platelet Aggregation,
Bleeding Time, Decrease Plasm Uptake, Solution ADP (adenosine 5 diphosphate).
PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia telah lama
menggunakan tanaman yang berkhasiat
sebagai obat, sebagai salah satu
penanggulangan masalah kesehatan.
Beberapa tanaman yang berkhasiat obat
yaitu Belimbing wuluh dan pegagan1.
Belimbing wuluh digunakan masyarakat
untuk mengobati beberapa penyakit,
seperti gondok, rematik dan hipertensi.
Sedangkan pegagan digunakan untuk
mengobati
mata merah,wasir dan
2
hipertensi . Zat kimia yang terkandung
pada daun belimbing wuluh adalah

tanin, sulfur, asam format, flavonoid


dan
peroksidase2,
dan
pegagan
(Centella
asiatica)
mengandung
triterpenoid, tanin, dan flavonoid 3.
Kandungan flavonoid berpotensi
sebagai antiplatelet. Flavonoid dapat
menghambat
metabolisme
asam
arakidonat oleh enzim siklooksigenase.
Jika enzim siklooksigenase dihambat
maka jumlah platelet akan ikut menurun
sehingga merangsang produksi nitrit
oksida
yang
dapat
melebarkan
pembuluh darah. Penelitian Ilham Risah
2013 membuktikan bahwa ekstrak daun

106

belimbing wuluh dosis 150 mg/kg BB


berkhasiat sebagai antiagregasi platelet.
Indri Andriani 2013 juga membuktikan
bahwa ekstrak daun pegagan dosis 150
mg/kg
BB
berkhasiat
sebagai
antiagregasi
platelet.
Konsumsi
makanan yang mengandung flavonoid
dapat mengurangi resiko terjadinya
penyakit jantung koroner dan stroke 4.
Penyebab utama penyakit jantung
koroner adalah penimbunan lipid dan
jaringan fibrosa pada pembuluh darah
atau yang sering disebut sebagai plak
aterosklerosis. Platelet berperan penting
pada patogenesis dari pembentukan
trombus. Interaksi antara platelet dan
dinding pembuluh darah berperan
penting dalam perkembangan proses
trombosis serta penyakit kardiovaskuler
misalnya infark miokardium, stroke dan
aterosklerosis 7
Terjadinya
kerusakan
pada
pembuluh darah diawali dengan
pembentukan agregasi platelet yang
kemudian membentuk trombus pada
arteri sehingga terjadi gangguan aliran
darah. Trombus merupakan sumber
terjadinya komplikasi tromboembolik
yang menyebabkan
aterosklerosis,
serangan jantung, stroke, dan penyakit
pada pembuluh darah 9. Data statistik
WHO dalam laporan kesehatan dunia
tahun tahun 2003 menunjukkan bahwa
16,7 juta atau sekitar 29,2% dari total
kematian di seluruh dunia disebabkan
oleh penyakit kardiovaskular.
Beberapa obat anti platelet telah
dievaluasi efeknya dalam mencegah
perkembangan trombosis. Salah satu
obat yang sering digunakan untuk
mencegah perkembangan trombosis
adalah asetosal yang dapat membentuk

sumbatan dalam pembuluh darah. Pada


pasien yang mengkonsumsi secara rutin
obat golongan anti anti agregasi platelet
(asetosal)
untuk
profilaksis
tromboemboli, maka waktu perdarahan
menjadi lebih panjang. Mekanisme
asetosal
yaitu
mencegah
menggumpalnya
darah
dengan
menghambat produksi tromboksan A-2.
Asetosal juga menghambat enzim
siklooksigenase 1 (COX-1) yang
memproduksi tromboksan A-2 namun
penggunaan asetosal mempunyai efek
samping yaitu gangguan pada saluran
gastrointestinal
dan
juga
dapat
14
menyebabkan perdarahan .
Oleh karena itu dalam penelitian
ini dilakukan pengujian aktivitas anti
agregasi platelet kombinasi ekstrak
etanol daun belimbing wuluh dan herba
pegagan pada hewan uji tikus putih
jantan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui adanya efek maksimal
sebagai antiagregasi platelet kombinasi
ekstrak etanol daun belimbing wuluh
dan herba pegagan pada tikus jantan dan
menentukan pebandingan komposisi
kombinasi daun belimbing wuluh dan
herba pegagan.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian
ini
merupakan
penelitian eksperimental murni dengan
rancangan penelitian pre test-post test
control group design (Pocock, 2008).
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
dilakukan
di
laboratorium Farmakognosi-fitokimia
dan Laoratorium Farmakologi STIFA
PELITA MAS PALU, pada bulan

107

Desember 2014 sampai dengan Januari


2015.
Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam
penelitian adalah 20 ekor tikus putih
jantan rattus norvegicus yang terbagi
menjadi
5
kelompok.
Sampel
dikelompokkan dengan cara acak
lengkap. Hewan uji yang digunakan
yang
diperoleh
dari
dadapan,
timbulharjo,sewon, bantul DAERAH
ISTIMEWA JOGJAKARTA.
Kriteria inklusi : yang termasuk
kriteria inklusi adalah putih jantan
dewasa, sehat, umur 2-3 bulan, bobot
badan 150-200 g. Yang termasuk
kriteria eksklusi dalam penelitian ini
adalah tikus yang tidak mau makan
sedangkan yang termasuk kriteria drop
out dalam penelitian ini adalah tikus
yang mati dalam penelitian. Sebelum
perlakuan, tikus dipelihara selama 2
minggu untuk diaklimatisasikan.
Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian
ini adalah variasi kombinasi ekstrak
etanol daun belimbing wuluh dan herba
pegagan.
Variabel
tergantung
dalam
penelitian ini adalah lamanya waktu
perdarahan dan penurunan serapan
plasma.
Variabel
terkendali
dalam
penelitian ini adalah kualitas serta
kuantitas makanan, umur, jenis kelamin,
galur dan berat badan tikus.
Bahan
Serbuk simplisia daun belimbing
wuluh, serbuk simplisia herba pegagan,

air suling, alcohol 70%, etanol 96%,


natrium sitrat, karboksimetilselulosa
natrium, natrium klorida 0,9%, etanol,
asetosal, pereaksi ADP (SigmaAldrich).
Alat
Pipa kapiler, mikropipet, tabung
sentrifugasi (Eppendorf), kertas saring,
kapas, gunting, alat sentrifuga, jarum
oral,
spektrofotometer
visible
(Spectronic 21-D), restrainer, pinset.
Preparasi ekstrak tanaman
Simplisia diekstraksi dengan cara
maserasi. Serbuk simplisia daun
belimbing wuluh dan herba pegagan
masing-masing ditimbang sebanyak 500
g, dimasukkan ke dalam wadah
maserasi dan ditambahkan 2,75 L etanol
96% hingga simplisia terendam 2-3 cm
pada batas atas permukaan simplisia,
kemudian diaduk dan didiamkan selama
3 hari agar proses ekstraksi sempurna.
Kemudian disaring untuk mendapatkan
ekstrak etanol lalu dipekatkan dengan
alat rotavapor dan selanjutnya diuapkan
di atas penangas air hingga diperoleh
ekstrak kental.
Pengujian efek antiagregasi platelet
Pada pengujian, tikus dibagi
menjadi 5 kelompok yang masingmasing kelompoknya terdiri atas 4 ekor
tikus. Pengujian dilakukan dengan
memberikan bahan uji selama 30 hari
berturut-turut pada 3 variasi komposisi
kombinasi 1 ,2, dan 3. Parameter yang
digunakan yaitu waktu perdarahan dan
penurunan serapan plasma yang diukur
pada hari ke-15 dan 30. Hasil uji untuk
mengetahui
perbedaan
waktu

108

perdarahan dari hari ke-0, 15 dan 30


serta selisih penurunan plasma dari hari
ke-0, 15, dan 30. Data hasil pengamatan
yang diperoleh dianalisis dengan
mengunakan uji statistik analisis two
way ANOVA pada taraf kepercayaan
95%.
Pengukuran waktu perdarahan
Darah diperoleh dari ujung ekor
tius, darah yang keluar diserap dengan
kertas penyerap. Interval waktu antara
timbulnya tetes pertama darah hingga
darah berhenti mengalir adalah waktu
perdarahan (Vogel, 2002).
Pengukuran penurunan serapan
plasma
Darah tikus dicampur dengan
natrium sitrat dan disentrifuga, serapan
plasma diukur dengan Spectronic 21-D
pada panjang gelombang 600 nm.
Serapan plasma diukur kembali setelah
penambahan ADP 5 M sebagai
penginduksi agregasi platelet dan
inkubasi selama 20 menit dalam
inkubator kocok suhu 37C. Penurunan
serapan plasma dihitung dengan
menghitung selisih serapan plasma
sebelum dan setelah pemberian larutan
penginduksi (Vogel, 2002).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Efek pada waktu perdarahan.
Waktu perdarahan adalah interval
waktu mulai timbulnya tetes darah dari
pembuluh darah yang luka sampai darah
berhenti mengalir keluar dari pembuluh
darah. Waktu perdarahan diamati untuk
melihat pengaruh bahan uji terhadap
proses pembentukan sumbat hemostatik
sementara, yatu proses hemostasis fase

platelet. Waktu dari mulai terjadinya


luka sampai terbentuknya sumbat
hemostatik sementara pada daerah yang
luka disebut waktu pendarahan. Adanya
efek
ditunjukkan
oleh
waktu
pendarahan yang semakin panjang
setelah pemberian bahan uji. Hasil
pengukuran waktu perdarahan pada hari
ke 0, 15 dan 30 dengan berbagai
perlakuan disajikan pada Tabel 1
berikut ini:
Tabel 1. Waktu Perdarahan Tikus Pada
Pengujian Efek Anti Agregasi Platelet
kelompok

Asetosal
7,2mg/kg BB
Na CMC 0,5%
Kombinasi 1
(pegagan 25%,
BW 75%)
Kombinasi 2
(pegagan 50%,
BW 50%)
Kombinasi 3
(pegagan 75%,
BW 25%)

Nilai rata_rata waktu


perdarahan (detik)
Hari ke 0
Hari
Hari ke
ke 15
30
54,75
75,25 147,50
39,25
56,75

31,25
68,25

31,25
113,00

47,25

85,75

97,25

32,75

127,0
0

154,45

Tabel 2. Hasil uji Duncan Waktu


perdarahan terhadapa kelompok
perlakuan Duncan
Kelompok
perlakuan
Kontrol
negatif
Kombinasi 2
Kombinasi 1
Kontrol positif
Kombinasi 3
Sig

N
12

1
34.3
75

12
12
12
12
1.00
0

Subset
2
3
77.2
375
79.7
683
.628

92.9
150
1.00
0

114.
948
3
1.00
0

109

Tabel 3 Hasil uji lanjut Duncan Waktu


perdarahan terhadap waktu pengamatan
duncan
Waktu
pengamatan
Hari ke-0
Hari ke-15
Hari ke-30
Sig

Subset
2

20
20
20

46.5770

kelompok

1.000

109.14
95
1.000

Asetosal
7,2mg/kg BB
Na CMC 0,5%
Kombinasi 1
(pegagan
25%,BW 75%)
Kombinasi 2
(pegagan 50%,
BW 50%)
Kombinasi 3
(pegagan 75%,
BW 25%)

Gambar 1 menunjukkan profil


peningkatan waktu perdarahan tikus
pada kelompok. Profil waktu
perdarahan tikus yang diberi asetosal
dan kombinasi ekstrak etanol daun
belimbing wuluh dan herba pegagan
menunjukkan peningkatan pada setiap
pengukurannya.
200
waktu perdarahan (detik)

4. Selisih penurunan serapan


plasma Tikus Pada Pengujian
Efek Anti Agregasi Platelet

83.8200
1.000

150
100
50
0
0

Tabel

15

30

hari ke

Gambar 1. Grafik profil peningkatan


waktu perdarahan tikus setelah diberi
bahan uji
Hasil
pengukuran
penurunan
serapan plasma
Hasil pengukuran penurunan serapan
plasma dapat dilihat pada perubahan
nilai absorbansi serapan plasma
sebelum dan sesudah ditambahkan ADP
yang diukur secara turbidimetri pada
panjang gelombang 600 nm.
Data hasil pengukuran penurunan
serapan plasma disajikan pada Tabel 4
berikut ini:

Rata_rata penurunan serapan


plasma
Hari ke Hari ke
Hari ke
0
15
30
0,013
0,004
0,0017
0,018
0,017

0,030
0,0037

0,019
0,0015

0,018

0,004

0,0025

0,021

0,004

0,0027

Tabel 5. Penurunan Serapan Plasma


Darah Tikus Pada Pengujian
Efek Anti Agregasi Platelet
Duncan
Kelompok_perlakuan

Kontrol positif
Kombinasi dosis 1
Kombinasi dosis 2
Kombinasi dosis 3
Kontrol negatif
Sig.

12
12
12
12
12

Subset
1
2
.00675
.00742
.00867
.00925
.02258
.071
1.000

Tabel 6. Hasil uji lanjut Duncan


pengukuran penurunan
serapan plasma terhadap
waktu pengamatan Duncan
Waktu
pengamatan
Hari ke-0
Hari ke-15
Hari ke-30
Sig

20
20
20

.00560

Subset
2

.00945
1.000

1.000

.01775
1.000

110

Selisih Penurunan Serapan


Plasma Darah

Gambar 2 menunjukkan profil


penurunan selisih penurunan serapan
plasma darah tikus pada kelompok.
Profil selisih penurunan serapan plasma
darah mencit yang diberi asetosal dan
kombinasi
ekstrak
menunjukkan
penurunan pada setiap pengukurannya.
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0

15
hari ke

30

Gambar 2. Grafik profil penurunan


agregasi platelet dengan metode
penambahan ADP
Pembahasan
Pada pengujian ini terdapat dua
parameter yang diamati, yaitu waktu
perdarahan dan penurunan serapan
plasma. Waktu perdarahan diamati
untuk melihat pengaruh bahan uji
terhadap proses pembentukan sumbat
hemostatik sementara, yaitu proses
hemostasis fase platelet. Adanya efek
antiagregasi platelet ditunjukkan oleh
waktu perdarahan yang semakin
panjang setelah pemberian bahan uji.
Pengamatan pada penurunan
serapan plasma bertujuan untuk melihat
aktivitas platelet sebelum dan setelah
pemberian
larutan
ADP.
ADP
merupakan penginduksi utama untuk
agregasi platelet, perubahan ADP
merupakan penginduksi utama untuk
agregasi platelet, perubahan platelet,
dan sekresi platelet. ADP dan factor
pengaktivasi platelet lainnya dilepaskan

oleh sel-sel endotelial pada daerah yang


luka selama fase vaskular. ADP
menyebabkan agregasi platelet melalui
pengikatan pada protein reseptor yang
terdapat pada membran platelet. Platelet
yang teraktivasi akan melepaskan isi
granul yang akan meningkatkan
agregasi dengan platelet yang lain.
Aktivitas platelet tersebut dapat terlihat
dari perubahan serapan plasma yang
diukur secara turbidimetri pada panjang
gelombang 600 nm. Serapan plasma
awal menunjukkan kekeruhan plasma
yang mengandung platelet yang belum
teragregasi. Setelah pemberian ADP,
serapan plasma akan menurun karena
platelet-platelet dalam plasma mulai
membentuk
agregat
kemudian
mengendap sehingga kekeruhan plasma
berkurang. Jika pada kelompok yang
diberi bahan uji terjadi hambatan
agregasi atau memiliki efek antiagregasi
platelet maka selisih serapan plasma
akan kecil.
Bahan uji yang digunakan dalam
penelitian adalah ekstrak etanol daun
belimbing wuluh dan ekstrak etanol
herba pegagan. Hewan uji yang
digunakan yaitu tikus putih jantan
(Rattus norvegicus). Pada penelitian ini
ada dua parameter yang digunakan yaitu
waktu perdarahan dan penurunan
serapan plasma yang diukur pada hari
ke 0, 15, dan pada hari ke 30 setelah
pemberian kombinasi ekstrak etanol
daun belimbing wuluh dan ekstrak
herba
pegagan
menggunakan
spektrofotometer
visible.
Tujuan
penelitian untuk mengetahui adanya
efek maksimal sebagai antiagregasi
platelet kombinasi ekstrak etanol daun
belimbing wuluh dan herba pegagan

111

pada tikus jantan dan menentukan dosis


kombinasi belimbing wuluh (Averrhoa
bilimbi L) dan herba pegagan (Centella
asiatica)
yang
efektif
sebagai
antiagregasi platelet. Metode penelitian
dalam pengujian efektivitas antiagregasi
platelet dilakukan dengan menilai
kemampuan zat uji kombinasi ekstrak
etanol daun belimbing wuluh dan
ekstrak herba pegagan dengan tiga
variasi kombinasi dengan dosis 150
mg/kg BB yaitu pada kombinasi 1
mengandung komposisi ekstrak etanol
daun belimbing wuluh 75% (112,5
mg/kg BB) : ekstrak herba pegagan
25% (37,5 mg/kg BB), kombinasi 2
mengandung komposisi ekstrak etanol
herba pegagan 50% (75 mg/kg BB) :
ekstrak daun belimbing wuluh 50% (75
mg/kg BB), dan kombinasi 3
mengandung komposisi ekstrak etanol
herba pegagan 75% (112,5 mg/kg BB) :
ekstrak daun belimbing wuluh 25%
(37,5 mg/kg BB).
Hasil uji skrining fitokimia
menunjukan bahwa ekstrak daun
belimbing wuluh dan herba pegagan
memberikan hasil positif terhadap
golongan alkaloid ,flavonoid, saponin,
tanin, dan steroid. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan ekstrak daun
belimbing wuluh dan ekstrak herba
pegagan
mengandung
alkaloid,
flavonoid, saponin, tanin, dan steroid.
Pengukuran waktu perdarahan
diukur dengan menggunakan stopwatch,
dengan mengukur interval waktu mulai
timbulnya tetes darah dari pembuluh
darah yang luka sampai darah berhenti
mengalir keluar dari pembuluh darah.
Waktu perdarahan diamati untuk
melihat pengaruh bahan uji terhadap

proses pembentukan sumbat hemostatik


sementara, yaitu proses hemostasis fase
platelet. Adanya efek antiagregasi
ditunjukkan oleh waktu perdarahan
yang
semakin
panjang
setelah
pemberian bahan uji dibandingkan
dengan normal. Sedangkan pengukuran
selisih penurunan serapan plasma
diukur menggunakan spektrofotometer
visibel dengan menggunakan panjang
gelombang 600 nm dengan cara melihat
nilai absorbansi serapan plasma
sebelum dan sesudah ditambahkan
penginduksi ADP. ADP merupakan
penginduksi utama untuk agregasi
platelet, perubahan bentuk platele, dan
sekresi platelet. ADP menyebabkan
agregasi platelet melalui pengikatan
pada protein reseptor yang terdapat
pada membran platelet. platelet yang
terakulasi akan melepaskan isi granul
yang akan meningkatkan agregasi
platelet yang lain. Serapan plasma awal
menunjukan kekeruhan plasma yang
mengandung platelet yang belum
teragregasi. Setelah pemberian ADP,
serapan plasma akan menurun karena
platelet-platelet dalam plasma mulai
membentuk
agregat
kemudian
mengendap sehingga kekeruhan plasma
berkurang. Selisih serapan plasma yang
kecil menunjukkan bahan uji memiliki
efek antiagregasi platelet.
Berdasarkan hasil penelitian ini,
pemberian aspirin dan kombinasi
ekstrak daun belimbing wuluh dan
ekstrak herba pegagan pada tiga variasi
komposisi kombinasi yang berbeda
selama 30 hari berturut-turut mampu
menurunkan agregasi platelet pada tikus
jantan secara nyata, hal ini ditandai
dengan adanya perbedaan waktu

112

perdarahan dan selisih penurunan


serapan plasma yang diukur pada hari
ke-0, 15 dan 30, dimana pada
pengukuran waktu pendarahan seperti
yang terlihat pada Tabel 4.3. Pada hari
ke-0 waktu pendarahan tikus masih
pada rentang normal. Pada hari ke-15,
hasil menunjukkan pada kelompok
kontrol positif dan semua variasi
kombinasi menunjukkan perbedaan
waktu
perdarahan
yang
sangat
signifikan terhadap kontrol negatif
(p<0,05),
Pada hari ke-30, hasil
menunjukkan terdapat peningkatan
waktu perdarahan baik pada kontrol
positif maupun pada seluruh variasi
kombinasi ekstrak belimbing wuluh
dan ekstrak herba pegagan terhadap
kontrol negatif (p<0,05). Peningkatan
waktu perdarahan yang paling tinggi
ditunjukkan pada variasi kombinasi 3.
Lamanya waktu pemberian semakin
meningkatkan waktu perdarahan namun
masih pada rentang normal waktu
pendarahan normal 2-4 menit sehingga
tidak menyebabkan perdarahan.
Pada Gambar 1 menunjukkan
peningkatan waktu pendarahan tikus
pada semua kelompok. Profil waktu
pendarahan tikus yang diberi asetosal
dan juga kombinasi ekstrak daun
belimbing wuluh dan ekstrak herba
pegagan menunjukkan peningkatan
setiap 15 hari, sedangkan pada
pemberian suspensi Na CMC 0,5%
tidak menunjukkan peningkatan yang
berarti.
Kemudian pada pengukuran
selisih penurunan serapan plasma
seperti yang terlihat pada Tabel 2. Pada
hari
ke-0
belum
menunjukkan
perbedaan yang signifikan, sedangkan

pada hari ke-15 hasil menunjukkan


perbedaan yang signifikan , terdapat
penurunan serapan plasma baik pada
kontrol positif maupun pada berbagai
variasi kombinasi terhadap kelompok
kontrol negatif , penurunan serapan
plasma yang paling kecil ditunjukkan
pada semua variasi kombinasi. Pada
hari ke-30 hasil menunjukkan semakin
menurunnya
serapan
plasma
dibandingkan dengan hari ke-0 dan hari
ke-15 baik pada kontrol positif maupun
berbagai variasi kombinasi. Variasi
kombinasi yang setara dengan asetosal
7,2 mg/kg BB ditunjukkan pada semua
variasi kombinasi ekstrak. Lamanya
waktu pemberian ekstrak memiliki
pengaruh terhadap efek, semakin lama
waktu
pemberian
semakin
meningkatkan efek dan efek dapat
dipertahankan hingga hari ke 30.
Pada Gambar 4 terlihat bahwa
kelompok kontrol yang diberi suspensi
Na CMC 0,5% memiliki penurunan
serapan plasma yang paling besar pada
setiap pengukuran. Sedangkan pada
semua variasi kombinasi ekstrak yang
diberikan penurunan serapan plasma
yang paling kecil pada setiap
pengukuran. Hal yang sama pun terlihat
pada kelompok ekstrak uji yang lain dan
juga kelompok asetosal.
Berdasarkan data hasil pengujian
diatas,
baik
pengukuran
waktu
perdarahan maupun pengukuran selisih
penurunan serapan plasma pada hari ke15 menunjukkan adanya efektivitas
kombinasi ekstrak daun belimbing
wuluh dan ekstrak herba pegagan
sebagai anti agregasi platelet yakni
ditunjukkan pada semua variansi
kombinasi ekstrak, dan pada hari ke-30

113

yakni ditandai dengan pengukuran


waktu perdarahan yang semakin lama
dan pengukuran selisih penurunan
serapan plasma yang semakin kecil.
Komposisi kombinasi ekstrak daun
belimbing wuluh dan ekstrak herba
pegagan
yang
efektiv
sebagai
antiagregasi platelet adalah kombinasi 3
yang mengandung ekstrak herba
pegagan 75% (112,5 mg/kg BB) dan
ekstrak daun belimbing wuluh 25%
(37,5 mg/kg BB). Hal ini disebabkan
pada kombinasi 3 mengandung ekstrak
pegagan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan ekstrak daun belimbing wuluh.
Ekstrak herba pegagan mengandung
flavonoid dengan kandungan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan ekstrak
daun belimbing wuluh. Hasil penelitian
oleh Mi rna Lumbessy Jemmy Abidj ul
u Jessy J. E. Paendong menunjukkan
kandungan flavonoid pada ekstrak herba
pegagan 3816 mg/mL sedangkan pada
ekstrak daun belimbing wuluh oleh
penelitian
ika trisharyanti dian
kusumawati, dkk mengandung 112,82
g/mL. Pada kombinasi 1 dan 2 belum
memiliki efek yang baik dibandingkan
pada kombinasi 3 karena pada
kombinasi 1 dan 2 terkandung ekstrak
daun belimbing wuluh yang lebih bnyak
dimana pada ekstrak daun belimbing
wuluh terdapat kandungan tanin yang
diduga dapat menghambat absorpsi
senyawa lain sehingga efek menjadi
berkurang. Berdasarkan literatur yang
ada bahwa kandungan kimia dari daun
belimbing wuluh dan herba pegagan
yang dapat memberikan efek anti
agregasi platelet adalah senyawa
flavonoid,
senyawa
flavonoid
merupakan salah satu jenis antioksidan

yang dapat menghambat sekresi platelet


dengan cara menghambat metabolisme
asam
arakidonat
oleh
enzim
siklooksigennase, enzim ini berperan
dalam membantu meningkatkan jumlah
platelet, jika enzim siklooksigenase
dapat dihambat maka jumlah platelet
akan ikut menurun sehingga dapat
menghambat keping sel darah dan
merangsang produksi nitrit oksida yang
dapat melebarkan pembuluh darah10 .
berdasarkan
penelitian sebelumnya
oleh Hernani dkk, 2009 hasil
identifikasi senyawa kimia secara
GCMS menunjukkan bahwa ekstrak
daun belimbing wuluh mengandung
senyawa paling dominan adalah dietil
phtalat (turunan asam dikarboksilat)
yang struktur kimianya menyerupai
asetosal
sehingga
memungkinkan
memiliki mekanisme kerja yang
menyerupai asetosal, yang dapat
menghambat respon trombosit terhadap
tromboxan A2, suatu produk arakidonat
yang menyebabkan trombosit berubah
bentuk, melepas granulnya, dan
beragregasi
KESIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
1. Kombinasi ekstrak etanol daun
belimbing wuluh dan ekstrak herba
pegagan
mempunyai
aktivitas
sebagai anti agregasi platelet yang
ditandai dengan waktu pendarahan
yang semakin lama dan selisih
penurunan serapan plasma yang
semakin kecil.
2. Komposisi kombinasi ekstrak yang
efektif sebagai anti agregasi platelet
ditunjukkan pada kombinasi tiga
dengan kandungan ekstrak herba

114

1.

2.

pegagan 75% (112,5 mg/kg BB)


dan ekstrak daun belimbing wuluh
25% (37,5 mg/kg BB).
SARAN
Perlu dilakukan fraksinasi atau
terpurifikasi dan isolasi untuk
mengetahui senyawa bioaktif yang
berkhasiat sebagai anti agregasi
platelet.
Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut
dengan
menggunakan
metode induksi koagulasi dan uji
fibrinolitik.

DAFTAR PUSTAKA
B. Mahendra. 2005. 13 Jenis Tanaman
obat ampuh. Penerbit swadaya.
Jakarta . hal 5
Despopoulos, A. and Silbernagl, S.
(2003). Color Atlas of Physiology.
5th Ed.Thieme. Stuttgart. New
York. p. 102-105.
Hardman, J. (2001). Goodman &
Gilmans : The Pharmacological
Basis of Therapeutics, 10th ed.
Macmillan Publ. Co. London.
669-679, 1531.
Hernani,
dkk.(2009)
Pengaruh
Pemberian
Ekstrak
Daun
Belimbing
Wuluh
Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Pada
Hewan Uji. J. Pascapanen,
6((1):54-61.
Lange A. Richard MD, and Hillis L,
David MD. (2004). Antiplatelet
Therapy for Ischemic Heart. N
Engl J Med 2004. 350-277-80.
Lawson,
CF
et
al.
(2001).
Cyclooxgenase inhibitors and the
antiplatelet effects of aspirin. N
Engl J Med 200. 345(25):1809-17

Lidyawati, S dan Ruslan, K. 2006.


Karakterisasi simplisia dan Daun
Belimbing
wuluh
(Averrhoa
bilimbi. L).
Lullman, H., Ziegler, A., Mohr, K., and
Bieger, D. (2000). Color Atlas of
Pharmacology, 2nd Ed. Thieme.
Stuttgart. New York. p. 142-150.
Middleton, E., C. Kandaswami, and T.
C. Theoharides. (2000). The
Effects of Plant Flavonoids on
Mammalian Cells: Implications
for Inflammation, Heart Disease,
and Cancer 52: 673-751 New
York. p. 128.
Pawar, D., S. Shahani, S. Maroli.(1998).
The Novel Antiplatelet Drug
HKMJ. Vol. 4. No. 4. : 415-418.
Pocock, S.J. (2008). Clinical Trials : A
Practical Approach. John Wiley
& Sons.
Prasetya, A.A.(2007). Efek Diuresis
Ekstrak Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa bilimbi, L) Pada Tikus
Putih Jantan (Rattus norvegicus),
Fak.Kedokteran Univ. Sebelas
Maret, Surakarta.Skripsi.
Rang HHP et al. (1995). Pharmacology,
Haemostasis and Thrombosis, Ed:
3th, Livingstone Inc. USA.
Vogel, H.G. (2002). Drug Discovery
and
Evaluation
:
nd
Pharmacological Assays. 2 Ed.
Springer. Berlin. 307-308.
Wahyu
E.S.2011.
aktivitas
antihipertensi aktinomiset Endofit
Asal Tanaman pegagan dan
belimbing wuluh.

115

EFEK HEPATOPROTEKTOR EKSTRAK ETANOL BUAH TERONG


BELANDA (Solanum betaceum Cav) TERHADAP KADAR
SGOT DAN SGPT TIKUS PUTIH JANTAN
(Rattus norvegicus) INDUKSI CCl4
Hepatoprotective Effect of Ethanol Extract of Tamarillo Fruits (Solanum
betaceum Cav) on Levels of SGOT and SGPT Male White Rats
(Rattus norvegicus) Induced by CCl4
Oleh
Imelda RL, Yuliet, Niluh P.
Abstrak. Imelda Randa Lembang. 2015. Efek Hepatoprotektor Ekstrak Etanol Buah
Terong Belanda (Solanum betaceum Cav) Terhadap Kadar SGOT dan SGPT Tikus
Putih Jantan (Rattus norvegicus) Induksi CCl4. Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
Pelita Mas Palu. (Dibimbing oleh : Joni Tandi, Yuliet, Niluh Puspita Dewi). Buah
terong belanda (Solanum betaceum Cav) mengandung senyawa antioksidan yang
diduga berpotensi sebagai hepatoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
efek dan dosis efektif ekstrak etanol buah terong belanda sebagai hepatoprotektor
ditinjau dari kadar SGOT dan SGPT tikus putih jantan yang diinduksi dengan karbon
tetraklorida (CCl4). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian
eksperimental laboratorium dengan rancangan pre test dan post test dengan kelompok
kontrol. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur Wistar, umur 2-3 bulan dan
berat 150-200 g, dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Kelompok I sebagai kontrol
negatif diberikan Na-CMC 0,5%, kelompok II, III dan IV diberi ekstrak etanol buah
terong belanda dengan dosis masing-masing 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 400
mg/kgBB dan kelompok V sebagai kontrol positif diberikan Curcuma dengan dosis 100
mg/kgBB. Perlakuan diberikan selama 8 hari dan pada hari ke 9 dilakukan pengukuran
kadar SGOT-SGPT setelah perlakuan, kemudian diinduksi dengan CCl4 volume 1,3
mL/kgBB. Pada hari ke 11 dilakukan kembali pengukuran kadar SGOT-SGPT setelah
induksi. Data SGOT-SGPT dianalisis secara statistik dengan two way Anova. Hasil two
way Anova menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah terong belanda (Solanum betaceum
Cav) memiliki efek sebagai hepatoprotektor dan dosis 400 mg/kgBB merupakan dosis
yang paling efektif.
Kata kunci : Hepatoprotektor, SGOT-SGPT, ekstrak etanol buah terong belanda
(Solanum betaceum Cav), CCl4.
Abstract. Imelda Randa Lembang. 2015. Hepatoprotective Effect of Ethanol Extract of
Tamarillo Fruits (Solanum betaceum Cav) on Levels of SGOT and SGPT Male White
Rats (Rattus norvegicus) Induced by CCl4. School of pharmaceuticals sciences Pelita
119

Mas Palu. (Supervised by: Joni Tandi, Yuliet, Niluh Puspita Dewi). Tamarillo fruits
(Solanum betaceum Cav) contains antioxidant compounds which predicts has potential
as hepatoprotective. This study aimed to determine the effect and effective dose of
ethanol extract of tamarillo fruits (Solanum betaceum Cav) as a hepatoprotective in
terms of the levels of SGOT and SGPT male white rats induced by carbon tetrachloride
(CCl4). The method used was laboratory experimental research method with pre-test and
post-test control group design. This study used male white rats of Wistar strain, age 2-3
months and weight 150-250 g, which were divided into 5 groups. Group I as a
negative control were given Na CMC 0,5%, group II, III, and IV were given ethanol
extract of tamarillo fruits with each dose of 100 mg/kgBW, 200 mg/kgBW, 400
mg/kgBW and group V as a positive control was given Curcuma dose 100 mg/kgBW.
The treatment performed for 8 days and on day ninth was measured SGOT-SGPT after
treatment, then induced with CCl4 volume of 1,3 mL/kgBW. On day eleventh
measurements of SGOT-SGPT was repeated after induction. SGOT and SGPT data
were analyzed statistically by two way Anova. Results of two way Anova showed that
the ethanol extract of tamarillo fruits (Solanum betaceum Cav) has a hepatoprotective
effect and dose of 400 mg/kgBW is the most effective dose.
Keywords : Hepatoprotective, SGOT-SGPT, ethanol extract, tamarillo fruits (Solanum
betaceum Cav), CCl4.
PENDAHULUAN
Obat tradisional adalah bahan atau
ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan mineral, sediaan
sarian (galenik) atau campuran dari
bahan tersebut yang secara turuntemurun digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman.1 Tumbuhan
yang dapat digunakan sebagai obat
tradisional memiliki keunggulan yaitu
mempunyai aktivitas biologis, karena
mengandung berbagai senyawa kimia
berkhasiat yang dapat mempengaruhi
sel-sel hidup dari suatu organ.2
Hati adalah organ yang sangat
penting untuk mempertahankan fungsi
metabolik tubuh sehingga harus dijaga
agar tetap berfungsi dengan baik.3
Kerusakan sel-sel parenkim hati akan
mengakibatkan enzim SGOT (Serum
Glutamat Okasaloasetat Transminase)
dan SGPT (Serum Glutamat Piruvat

Transminase),
araginase,
laktat
dehidrogenase dan Gamma glutamil
transaminase bebas keluar sel, sehingga
enzim masuk ke pembuluh darah
melebihi keadaan normal dan kadarnya
dalam darah meningkat. Indikator yang
lebih baik untuk mendeteksi kerusakan
jaringan hati adalah SGOT dan SGPT,
karena kedua enzim ini akan meningkat
terlebih dulu bila dibandingkan dengan
enzim-enzim lainnya.4
Karbon
tetraklorida
(CCl4)
merupakan bahan kimia yang bersifat
toksik yang dapat menimbulkan
kerusakan pada hati. Senyawa CCl4
dapat menimbulkan kerusakan pada
hati, berupa degenerasi maupun
nekrosis.5 Penelitian oleh Soni pada
tahun 2008 melaporkan bahwa tikus
percobaan yang diberikan CCl4 dengan
dosis 0,05 ml/kg bobot badan mampu

120

merusak
sel-sel
hati
sehingga
mengalami degenerasi dan nekrosis.6
Hepatoprotektor adalah suatu
senyawa atau zat yang berkhasiat untuk
melindungi sel hati dari pengaruh toksik
yang dapat merusak sel-sel hati,
senyawa ini bahkan dapat memperbaiki
jaringan hati. Tanaman yang memiliki
efek sebagai hepatoprotektor antara lain
pegagan (Centella aciatica), herba
sambiloto (Andrographidis herba),
rimpang kunyit (Curcuma domestica
rhizome), daun kelor (Moringa olifera
Lamk), herba urang-aring (Eclipta alba)
dan jahe merah (Zingiber officinale
Roscoe).7 Kandungan obat herbal yang
berfungsi sebagai hepatoprotektor yaitu
silymarin, scisandra fructus, oleum
xanthorizae, curcuminoid, lecithin dan
antosianin.8
Buah
terong
belanda
mengandung vitamin E, vitamin A,
vitamin C, vitamin B6, senyawa
karotenoid, isoflavon, antosianin, dan
serat. Penelitian Singh pada tahun 2014
terhadap ekstrak metanol buah terong
belanda
menunjukkan
aktivitas
antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 39
ppm9, sedangkan penelitian Kusuma
pada tahun 2012 terhadap ekstrak
Curcuma xanthorrhiza menunjukkan
aktivitas antioksidan dengan nilai IC50
sebesar 53,13 ppm.10
Berdasarkan uraian di atas
rumusan masalah yang diangkat pada
penelitian ini yaitu apakah ekstrak
etanol buah terong belanda (Solanum
betaceum Cav) memiliki efek sebagai
hepatoprotektor dan pada dosis berapa
ekstrak etanol buah teron g belanda
efektif sebagai hepatoprotektor terhadap
kerusakan hepar tikus jantan (Rattus

norvegicus) yang diinduksi dengan


karbon tetraklorida (CCl4) ditinjau dari
kadar SGPT dan SGOT. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efek dan
dosis efektif ekstrak etanol buah terong
belanda
sebagai
hepatoprotektor
ditinjau dari kadar SGPT dan SGOT
hepar tikus jantan yang diinduksi
dengan karbon tetraklorida (CCl4).
Penelitian ini diharapkan dapat memberi
informasi
mengenai
efek
hepatoprotektor ekstrak etanol buah
terong belanda sebagai dasar penelitian
lebih lanjut untuk mengembangkan
tanaman ini sebagai fitofarmaka dan
dijadikan alternatif pengobatan dalam
mengatasi kerusakan pada hati.
Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian eksperimental
laboratorium dengan rancangan pre test
dan post test dengan kelompok kontrol
(Randomized Pre and Post Test Control
Group
Design).
Penelitian
ini
menggunakan 25 ekor tikus putih jantan
yang dibagi dalam 5 kelompok
perlakuan masing-masing kelompok
terdiri atas 5 ekor hewan uji. Kelompok
I sebagai kontrol negatif diberikan Na
CMC 0,5%, kelompok II sebagai
kontrol positif diberikan Curcuma dosis
100 mg/kgBB, kelompok III, IV dan V
diberi ekstrak etanol buah terong
belanda dengan dosis masing-masing
100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 400
mg/kgBB. Data yang diperoleh berupa
kadar SGPT dan SGOT dianalisis
secara statistik dengan Two Way Anova
untuk mengetahui adanya efek variasi
dosis ekstrak buah terong belanda dan
waktu perlakuan terhadap kadar SGOT
dan SGPT tikus putih jantan yang
diinduksi CCl4.
121

METODE PENELITIAN
Alat
Alat-alat gelas, botol larutan stok,
batang pengaduk, corong, cawan
porselin, fotometer 5010, gunting steril,
kandang hewan, oven, pipet mikro,
rotavapor, sentrifuge, sonde, spoit,
tabung darah, timbangan analitik,
timbangan hewan, tabung reaksi dan
waterbath.
Bahan
Aquades, asam klorida, buah terong
belanda, CCl4, Curcuma, FeCl3, etanol
96%, minyak kelapa, Na CMC, reagen
kit SGOT dan SGPT, asam klorida,
pereaksi Wagner, pereaksi Mayer,
pereaksi
Dragendorff,
serbuk
magnesium.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Desember 2014 Februari 2015
yang dilakukan di Laboratorium
Farmakognosi-Fitokimia
dan
Laboratorium Farmakologi Sekolah
Tinggi Ilmu Farmasi (STIFA) Pelita
Mas Palu, Laboratorium Kimia Farmasi
Prodi Farmasi FMIPA Universitas
Tadulako (UNTAD) Palu, dan UPT
Laboratorium Kesehatan Palu.
Prosedur Penelitian
Pengambilan Sampel
Bahan uji yang digunakan pada
penelitian ini adalah buah terong
belanda (Solanum betaceum Cav).
Tanaman diperoleh dari Desa Napu
Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi
Tengah. Buah terong yang diambil
adalah buah yang matang dan segar.

Pengolahan Sampel
Buah dibersihkan dari benda
benda asing dan dicuci dengan air
mengalir, lalu dipotong kecil-kecil,
dikeringkan dengan oven suhu 500C
selama 4x24 jam, kemudian disortasi
kering dan diperoleh simplisia kering
buah terong belanda.
Pembuatan Ekstrak
Simplisia kering buah terong
belanda sebanyak 150 g dimasukkan
kedalam bejana maserasi kemudian
ditambahkan pelarut etanol 96%
sebanyak 2 L dan diamkan selama 3 x
24 jam pada suhu kamar sambil sesekali
diaduk. Dipisahkan hasil maserasi
dengan penyaringan menggunakan
kapas.
Filtrat
diuapkan
dengan
rotavapor, kemudian dipekatkan diatas
penangas air hingga diperoleh esktrak
kental.
Pembuatan Suspensi Na CMC 0,5%
Na CMC sebanyak 500 mg
dimasukkan sedikit demi sedikit
kedalam lumpang yang berisi 10 mL air
suling panas sambil digerus hingga
homogen, lalu diencerkan dengan
sedikit
aquadest,
selanjutnya
dimasukkan kedalam labu takar 100
mL. Volume dicukupkan hingga 100
mL dengan aquadest.
Pembuatan Suspensi Ekstrak buah
Terong Belanda
Ekstrak etanol buah terong
belanda (Solanum betaceum Cav)
ditimbang sebanyak 0,8 g (dosis 100
mg/kgBB), 1,6 g (dosis 200 mg/kgBB)
dan 3,2 g (dosis 400 mg/kgBB) masingmasing dimasukkan dalam suspensi Na

122

CMC 0,5% sedikit demi sedikit dan


dicampur
hingga
homogen
lalu
ditambahkan dengan suspensi Na CMC
0,5% hingga 100 ml.
Pembuatan
Supensi
Curcuma

(Soho )
Ditimbang
serbuk
tablet
Curcuma yang setara dengan 8000 mg
dimasukkan dalam suspensi Na CMC
0,5% sambil digerus hingga terbentuk
suspensi lalu ditambahkan dengan
suspensi Na CMC hingga volume 100
mL. Dosis Curcuma yang diberikan
yaitu 100 mg/kgBB.11
Pembuatan Karbon Tetraklorida
Larutan karbon tetraklorida
dibuat dengan cara mencampurkan
karbon tetraklorida dengan minyak
kelapa
untuk
meningkatkan
absorpsinya.
Volume
karbon
tetraklorida yang digunakan ialah 1,3
mL/kgBB. Volume pemberian ialah
sebesar 0,26 ml per 200 g berat badan
tikus. Karbon tetraklorida diambil
sebanyak 1 mL dimasukkan ke dalam
labu ukur kemudian dilarutkan dengan
menggunakan minyak kelapa dengan
perbandingan
(1:1).
Menurut
Yamamoto tahun 1996 menyatakan
bahwa, CCl4 tidak dapat larut dalam air
dan hanya larut dalam lemak maka
diperlukan pelarut berupa minyak
kelapa dengan jumlah yang sama.
Pemilihan Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan
adalah tikus putih jantan (Rattus
norvegicus)
galur
Wistar
yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi yaitu tikus jenis Wistar

jantan, umur 3 4 bulan, berat badan


150 - 250 gram, sehat dan tidak cacat
secara anatomi sedangkan kriteria
ekslusi yaitu tikus sakit/mati sebelum
mendapat perlakuan dan selama
perlakuan.
Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 25 ekor
tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
yang dibagi dalam 5 kelompok
perlakuan, setiap kelompok terdiri dari
5 ekor tikus untuk setiap perlakuan.
Tikus diadaptasikan selama 2 minggu
untuk menyeragamkan pola hidup dan
mencegah terjadinya stres. Selama masa
adaptasi tikus diberi pakan standar dan
minum. Sebelum perlakuan tikus
dipuasakan selama 18 jam kemudian
dilakukan pengambilan darah melalui
ekor, untuk dilakukan pengukuran kadar
awal SGOT dan SGPT tikus. Perlakuan
I sebagai kontrol negatif diberikan
larutan Na CMC 0,5%, perlakuan II
diberikan suspensi Curcuma dengan
dosis 100mg/kgBB, dan perlakuan III,
IV dan V diberi ekstrak etanol buah
terong belanda dengan dosis masingmasing 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB
dan 400 mg/kgBB. Semua perlakuan
diberikan selama 8 hari berturut-turut
secara oral kemudian dilakukan kembali
pengukuran kadar SGPT dan SGOT
setelah perlakuan. Pada hari ke-9 semua
kelompok perlakuan diinduksi dengan
CCl4 volume 1,3 ml/kg BB secara oral.
Setelah 48 jam diinduksi CCl4,
dilakukan pengambilan darah melalui
ekor setelah dipuasakan selama 18 jam,
dengan menggunakan tabung darah
sebanyak 2 mL untuk diproses menjadi

123

serum, kemudian dilakukan sentrifuge


dengan kecepatan 3000 rpm selama 10
menit. Serum yang diperoleh dilakukan
pengukuran kadar SGOT dan SGPT.

gelombang 340 nm dengan faktor 1745.


Ditunggu beberapa saat, kemudian
dicatat hasil pengukuran kadar SGPT
dan SGOT.

Pengukuran Kadar SGOT dan SGPT


Darah tikus diambil kurang lebih
2 ml melalui vena ekor, darah
dimasukkan kedalam tabung darah.
Darah didiamkan selama 15 menit dan
disentrifus selama 10 menit dengan
kecepatan 3000 rpm, serum yang
diperoleh dipipet kedalam tabung
reaksi. Jumlah serum yang dibutuhkan
adalah 100 L, kemudian ditambahkan
reagen enzim 1000 L dan reagen
substrat 200 L yang sebelumnya telah
dipanaskan pada suhu 370C, campur
hingga merata. Dibiarkan selama 30
detik. Diukur dengan menggunakan
Fotometer 5010 (Roche) pada panjang

Pengolahan Data
Metode
penelitian
yang
digunakan adalah metode penelitian
eksperimental laboratorium dengan
rancangan pre test dan post test dengan
kelompok kontrol (Randomized Pre and
Post Test Control Group Design). Data
yang diperoleh berupa kadar SGPT dan
SGOT dianalisis secara statistik dengan
uji Two Way Anova, uji ini digunakan
untuk mengetahui pengaruh ekstrak
buah terong belanda dan waktu
pengamatan terhadap kadar SGOT dan
SGPT tikus putih yang diinduksi CCl4.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Uji Fitokimia tersaji pada tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1. Hasil Pengujian Fitokimia Ekstrak Buah Terong Belanda
No
1.

Golongan senyawa
Alkaloid

2.

Flavanoid

3.
4.

Saponin
Polifenol dan Tanin

Pereaksi
Dragendorff
Mayer
Wagner
Serbuk Mg
+ HCl
Air + HCl
FeCl3

Hasil Pengamatan
Adanya endapan merah
Adanya endapan putih
Adanya endapan coklat
Warna merah kuning

Keterangan
Positif
Positif
Positif
Positif

Terdapat busa 1 cm
Warna hitam kehijauan

Positif
Positif

Hasil pengukuran kadar SGOT dan SGPT disajikan dalam bentuk rerata SD dapat
dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3 dibawah ini:
Tabel 2 Hasil pengukuran kadar SGOT pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
Kelompok
Kontrol
negatif
Kontrol positif

Kadar Awal (u/i)


66,84 6,05

Kadar Setelah
Perlakuan (u/i)
78,84 3,18

67,20 6,70

61,36 6,94

Kadar Akhir
(u/i)
153,70 15,90
62,30 8,42

124

Dosis 100
mg/kgBB
Dosis 200
mg/kg BB
Dosis 400
mg/kg BB

71,10 3,12

69,80 2,33

65,10 13,95

70,70 4,26

71,30 4,93

64,3 13,86

70,70 4,26

71,30 4,93

64,3 13,86

Tabel 3. Data hasil pengukuran kadar SGPT pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
Kelompok

Kontrol negatif
Kontrol positif
Dosis 100 mg/kgBB
Dosis 200 mg/kg BB
Dosis 400 mg/kg BB

Kadar awal (u/i)

Kadar setelah
perlakuan (u/i)

133,10 6,97
130,36 8,67
134,60 4,61
127,60 5,87
120,70 9,74

Kadar akhir
(u/i)

144,90 9,21
116,30 5,03
119,30 5,20
123,70 7,76
115,40 6,50

349,10 43,39
111,70 12,59
107,4 10,45
126,40 6,91
118,90 5,56

Hasil uji lanjut dengan Duncan kadar SGOT dan SGPT serta waktu perlakuan dapat
dilihat pada Tabel 4, Tabel 5, Tabel 6 dan Tabel 7 dibawah ini:
Tabel 4. Hasil uji statistik Duncan terhadap kadar SGOT tikus pada kelompok
perlakuan
Subset
kelompok_perlakuan
dosis 3
kontrol positif
dosis 1
dosis 2
kontrol negative
Sig.

N
15
15
15
15
15

1
1.1833E2
1.1943E2
1.2045E2
1.2588E2

2.0904E2
1.000

.169

Tabel 5. Hasil uji statistik Duncan terhadap kadar SGOT tikus dengan waktu perlakuan
pada kelompok perlakuan
Subset
Pengamatan
kadar setelah
perlakuan
kadar awal
kadar setelah
induksi
Sig.

N
25
25
25

1
1.2393E2
1.2928E2
.167

1.6268E2
1.000

125

Tabel 6. Hasil uji statistik Duncan terhadap kadar


perlakuan
kelompok_perlakuan
dosis 3
kontrol positif
dosis 1
dosis 2
kontrol negative
Sig.

N
15
15
15
15
15

1
60.5033
63.6133

Subset
2

SGPT tikus pada kelompok

63.6133
68.6600
68.7500

.303

.110

99.7700
1.000

Tabel 7. Hasil uji statistik Duncan terhadap kadar SGOT tikus dengan waktu perlakuan
pada kelompok perlakuan
Subset
Pengamatan
kadar setelah
perlakuan
kadar awal
kadar setelah
induksi
Sig.

N
25
25
25

1
67.1880
68.2980
.634

Pembahasan
Penelitian ini menggunakan buah
terong belanda (Solanum betaceum
Cav) sebagai bahan uji. Ekstrak etanol
buah terong belanda diperoleh dengan
metode maserasi. Metode ini dipilih
karena sifat sampel yang lunak dan
mudah mengembang dalam cairan
penyari. Selain itu, maserasi merupakan
cara penyarian yang sederhana karena
cairan penyari akan menembus dinding
sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif. Zat aktif ini akan
larut dan adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan zat aktif di dalam dengan
di luar sel menyebabkan larutan yang
terpekat
keluar
hingga
terjadi
keseimbangan
konsentrasi
antara
larutan di dalam dengan di luar sel.
Cairan penyari yang

81.2920
1.000

digunakan dalam proses maserasi ini


adalah
etanol
96%.
Etanol
dipertimbangkan sebagai cairan penyari
karena lebih selektif, kapang sulit
tumbuh dalam etanol 20% ke atas, tidak
beracun, netral, absorbsinya baik, etanol
dapat bercampur dengan air dalam
segala perbandingan,
memerlukan
panas yang lebih sedikit untuk proses
pemekatan, dan zat pengganggu yang
larut terbatas. Selain itu pelarut etanol
dipilih sebagai cairan penyari karena
senyawa yang akan diekstraksi adalah
senyawa fenolik. Ekstraksi senyawa
fenolik dari jaringan tumbuhan dalam
bentuk glikosida menggunakan pelarut
methanol atau etanol pada suhu kamar
dengan cara maserasi.12
Pengujian
fitokimia
juga
dilakukan untuk mengetahui golongan
senyawa metabolit sekunder yang
terkandung dalam ekstrak buah terong

126

belanda sebagai senyawa bioaktif yang


diduga berperan memberikan efek
hepatoprotektor. Berdasarkan hasil
pengujian fitokimia (Tabel 4.1)
diperoleh bahwa ekstrak buah terong
belanda positif mengandung senyawa
flavonoid, alkaloid, saponin, polifenol
dan tanin. Hal ini sesuai dengan
penelitian Sinaga pada tahun 2009,
tentang skrining uji fitokimia buah
terong belanda menyatakan bahwa
ekstrak etanol buah terong belanda
segar mengandung senyawa kimia
golongan flavonoid, terpenoid, steroid,
saponin, alkaloid dan tanin.9
Penelitian ini menggunakan
tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
sebagai hewan uji dengan bobot badan
antara 150-250 g dan berumur sekitar 23 bulan. Tikus diadaptasikan selama 2
minggu dengan tujuan agar dapat
beradaptasi dengan lingkungan baru dan
mengurangi tingkat stres yang dapat
mengganggu penelitian. Tikus putih
jantan dipilih sebagai hewan uji karena
tikus
ini
mempunyai
kecepatan
metabolisme obat yang lebih cepat dan
kondisi biologis tubuh yang stabil
dibandingkan tikus putih betina karena
tidak dipengaruhi oleh adanya siklus
menstruasi dan kehamilan seperti pada
tikus putih betina. Selain itu tikus
mudah dipelihara dan cepat berkembang
biak.13
Parameter yang dalam penelitian
ini adalah kadar SGOT dan SGPT.
SGOT dan SGPT merupakan indikator
untuk menentukan ada atau tidaknya
gangguan pada hati. Hati adalah organ
yang
sangat
penting
untuk
mempertahankan fungsi metabolik
tubuh sehingga harus dijaga agar tetap

berfungsi dengan baik.3 Kerusakan selsel parenkim hati akan mengakibatkan


enzim
SGOT
(Serum
Glutamat
Okasaloasetat Transminase) dan SGPT
(Serum Glutamat Piruvat Transminase),
araginase, laktat dehidrogenase dan
Gamma glutamil transaminase bebas
keluar sel, sehingga enzim masuk ke
pembuluh darah melebihi keadaan
normal dan kadarnya dalam darah
meningkat. Indikator yang lebih baik
untuk mendeteksi kerusakan jaringan
hati adalah SGOT dan SGPT, karena
kedua enzim ini akan meningkat
terlebih dulu bila dibandingkan dengan
enzim-enzim lainnya.4
Bahan
hepatotoksin
yang
digunakan adalah CCl4. Keracunan
CCl4 pada hati diawali dengan
metabolisme dehalogenasi reduktif oleh
enzim sitokrom P450 (CYP2E1)
menjadi suatu radikal bebas CCl3
(triklorometil). Radikal bebas ini dapat
berikatan secara kovalen dengan lemak
dan protein, menyebabkan kerusakan
struktur membran dan penghambatan
berbagai enzim. Selain itu, CCl3 dapat
mengikat asam lemak enoat membentuk
CCl3 juga dapat bereaksi dengan O2
menghasilkan radikal bebas yang lain
CCl3OO (triklorometilperoksida radikal
bebas organik yang dapat bereaksi
dengan O2 membentuk peroksida dan
metabolit sitotoksik lainnya). Proses ini
dikenal sebagai peroksidasi lemak.14
Kerusakan hati
karena karbon
tetraklorida berupa perlemakan hati.
Pembanding atau kontrol positif
yang digunakan yaitu Curcuma karena
mengandung
curcuminoid
yang
memiliki khasiat sebagai antioksidan
dan juga antiinflamasi. Kurkumin

127

bertindak sebagai scavenger terhadap


spesies
oksigen,
seperti
radikal
hidroksil, anion peroksida, dan oksigen
singlet
dan
juga
menghambat
15
peroksidasi lipid.
Penelitian ini diawali dengan
pengukuran kadar SGOT dan SGPT
awal tikus putih jantan untuk
mengetahui kadar normal SGOT dan
SGPT tikus putih. Nilai rerata kadar
awal yang diperoleh pada kelompok
kontrol negatif Na CMC 0,5% adalah
SGOT sebesar 133,1 U/I dan SGPT
sebesar 66,8 U/I, kelompok Curcuma
adalah SGOT sebesar 130,4 U/I dan
SGPT sebesar 67,2 U/I, kelompok dosis
100 mg/KgBB adalah SGOT sebesar
134,6 U/I dan SGPT sebesar 71,1 U/I,
kelompok dosis 200 mg/KgBB adalah
SGOT sebesar 127,6 U/I dan SGPT
sebesar 70,7, dan kelompok dosis 400
mg/KgBB adalah SGOT sebesar 120,7
U/I dan SGPT sebesar 60,1 U/I. Hasil
rata-rata yang diperoleh lebih tinggi
daripada kadar normal SGOT dan
SGPT tikus putih yaitu nilai normal
SGOT tikus putih antara 45.7-80.8 U/I
dan SGPT antara 17.5-30.2 U/I. Hal ini
disebabkan kemungkinan hewan uji
telah mengalami stres pada saat
pengambilan darah, volume darah yang
diambil kurang dan terjadi hemolisis
sehingga hasil pembacaan kadar SGOT
dan SGPT awal yang diperoleh lebih
tinggi daripada nilai rentang normal.
Pengukuran kadar SGOT dan
SGPT setelah perlakuan selama 8 hari
dilakukan untuk mengetahui apakah
pemberian ekstrak etanol buah terong
belanda, suspensi Na CMC 0,5%
sebagai kontrol negatif, dan suspensi
Curcuma sebagai kontrol positif dapat

mempengaruhi kadar SGOT dan SGPT


tikus putih. Serta dilakukan juga
pengukuran kadar akhir setelah induksi
CCl4 dengan volume 1,3 ml/kg BB yang
bertujuan untuk merusak hati tikus putih
sehingga kemampuan ekstrak etanol
buah terong belanda dapat terlihat. Nilai
rerata kadar setelah induksi yang
diperoleh pada control negative Na
CMC 0,5% adalah SGOT sebesar 349,1
U/I dan SGPT sebesar 153,7 U/I,
control positif Curcuma adalah SGOT
sebesar 110,1 U/I dan SGPT sebesar
62,3 U/I, kelompok dosis 100
mg/KgBB adalah SGOT sebesar 107
U/I dan SGPT sebesar 65,1 U/I,
kelompok dosis 200 mg/KgBB adalah
SGOT sebesar 126,4 U/I dan SGPT
sebesar 64,3, dan kelompok dosis 400
mg/KgBB adalah SGOT sebesar 118,9
U/I
dan SGPT sebesar 61,1 U/I.
Kelompok negatif yang hanya diberikan
suspensi Na CMC 0,5% dan dinduksi
CCl4 memiliki nilai rata-rata kadar
SGOT dan SGPT 4-5 kali lebih tinggi
daripada kadar normal. Hal ini
menunjukkan bahwa telah terjadi
kerusakan pada hati tikus putih jantan.
Peningkatan kadar enzim SGOT dan
SGPT pada kontrol negatif Na CMC ini
sesuai
dengan
literatur
yang
menyatakan bahwa CCl4 mampu
merusak sel-sel hati. Kerusakan hepar
baru berarti secara klinis jika terjadi
peningkatan kadar SGOT dan SGPT 310 kali lebih tinggi daripada nilai
normal kadar SGOT dan SGPT pada
tikus putih. Penurunan kadar SGOT dan
SGPT pada kelompok kontrol positif,
dosis 100mg/kg BB, dosis 200 mg/kg
BB dan dosis 400 mg/kg BB belum
mencapai nilai normal, hal ini diduga

128

karena tikus mengalami stres pada saat


pengambilan darah, perbedaan bobot
badan tikus, terjadinya hemolisis dan
jumlah darah yang diperoleh hanya
sedikit serta jangka waktu perlakuan
relatif
singkat
sehingga
belum
memberikan efek hepatoprotektor yang
optimum.
Hasil kadar SGOT dan SGPT
tikus putih jantan terinduksi CCl4
dianalisis secara statistik dengan Two
Way Anova untuk mengetahui adanya
perbedaan kadar SGOT dan SGPT
terhadap variasi ekstrak etanol buah
terong belanda dan waktu perlakuan.
Hasil statistik menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan antar
kelompok perlakuan dan waktu
perlakuan. Hasil analisis uji lanjut
dengan Duncan untuk mengetahui
perbedaan bermakna antar kelompok
menunjukkan bahwa kelompok kontrol
negatif (suspensi Na CMC 0,5%)
memberikan perbedaan yang signifikan
dibandingkan
dengan
kelompok
perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan
karena kelompok negatif hanya
diberikan suspensi Na CMC, sehingga
tidak dapat menghambat peningkatan
kadar SGOT dan SGPT tikus putih
akibat induksi hepatotoksin karbon
tetraklorida.
Hasil uji lanjut Duncan pada
kelompok perlakuan yang diberikan
ekstrak etanol buah terong belanda
masing-masing dengan dosis 100
mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 400
mg/kgBB
serta
kontrol
positif
(Curcuma)
menunjukkan
adanya
perbedaan signifikan dibandingkan
dengan kontrol negatif. Pada hasil
analisis Duncan terhadap kadar SGOT

untuk semua dosis ekstrak dan kontrol


positif
curcumin
menunjukkan
perbedaan yang tidak signifikan
sedangkan pada hasil analisis Duncan
terhadap kadar SGPT menunjukkan
ekstrak dengan dosis 400 mg/kg BB
memberikan hasil yang berbeda
signifikan dibandingkan dua dosis
lainnya namun berbeda tidak signifikan
dengan kontrol positif. Oleh karena itu
dosis ekstrak etanol buah terong
belanda
yang
efektif
sebagai
hepatoprotektor adalah dosis 400 mg/kg
BB. Walaupun pada hasil pengujian
kadar SGOT menunjukkan perbedaan
yang tidak signifikan namun kadar
SGOT nya lebih rendah dibandingkan
dengan dua dosis ekstrak lainnya
sedangkan pada hasil pengujian kadar
SGPT menunjukkan perbedaan yang
signifikan dibandingkan dengan dua
dosis ekstrak lainnya. Hal ini
menunjukkan bahwa ekstrak dengan
dosis 400 mg/kg BB yang diberikan
selama 8 hari mengandung antioksidan
yang cukup untuk menangkal radikal
bebas akibat induksi karbon tetraklorida
walaupun belum dapat mencapai nilai
normal.
Kemampuan ekstrak etanol buah
terong belanda dan kontrol positif
Curcuma menghambat kenaikan kadar
SGOT dan SGPT pada tikus yang
terinduksi karbon tetraklorida yang
memperlihatkan
efek
sebagai
hepatoprotektor disebabkan mekanisme
penangkapan radikal bebas yaitu
triklorometil (CCl3) yang merupakan
metabolit reaktif oleh antioksidan
sehingga serangkaian peristiwa yang
menyebabkan steatosis pada hati akan
terhenti. Senyawa yang terkandung

129

dalam ekstrak buah terong belanda yang


memiliki kemampuan
antioksidan
adalah flavonoid, polifenol, saponin,
tanin dan alkaloid. Hal ini sesuai
dengan hasil uji penapisan fitokomia
ekstrak etanol buah terong belanda yang
positif terhadap golongan senyawa
tersebut.
Mekanisme flavonoid sebagai
antioksidan terjadi secara langsung
maupun tidak langsung. Flavonoid
sebagai antioksidan secara langsung
berfungsi untuk menetralisir efek toksik
dari radikal bebas seperti ROS
(Reactive oxygen species), dengan
mendonorkan ion hidrogen sehingga
ion-ion yang mengalami radikal bebas
berubah menjadi stabil. Keadaan
tersebut menyebabkan menurunnya
keadaan stres oksidatif di dalam
jaringan dan menghambat terjadinya
peroksidasi lipid sehingga mampu
mencegah keluarnya AST-ALT dalam
darah dan melindungi sel hepar dari
nekrosis. Flavonoid sebagai antioksidan
secara tidak langsung yaitu dengan
meningkatkan antioksidan endogen
seperti superoxide dismutase (SOD).16
Polifenol mempunyai aktifitas biologis
sebagai penangkap radikal bebas karena
adanya gugus hidroksil. Fenolik
mengamankan sel dari serangan
senyawa oksigen reaktif seperti oksigen
singlet, superoksida, radikal peroksil,
radikal hidroksil dan peroksinitrit.17
Alkaloid dan Saponin memiliki aktivitas
peredam radikal bebas dengan bertindak
sebagai scavenger dan juga memiliki
aktivitas sebagai agen antiinflamasi,
selain itu saponin dan alkaloid dapat
menurunkan
TNF-
melalui
18
penghambatan aktivasi NF-k.

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
1. Ekstrak etanol buah terong belanda
(Solanum betaceum Cav) memiliki
efek sebagai hepatoprotektor pada
tikus putih (Rattus norvegicus) yang
diinduksi CCl4 ditinjau dari kadar
enzim SGOT dan SGPT.
2. Ekstrak etanol buah terong belanda
(Solanum betaceum Cav) dosis 400
mg/kg BB merupakan dosis yang
efektif sebagai hepatoprotektor.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut
dengan
melakukan
histopatologi hati hewan uji untuk
melihat tingkat perbaikan sel hati
yang ditimbulkan akibat pemberian
ekstrak etanol buah terong belanda
(Solanum betaceum Cav).
2. Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut menggunakan ekstrak etanol
buah terong belanda (Solanum
betaceum Cav) dengan jangka
waktu pemberian ekstrak yang lebih
lama.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut
menggunakan
ekstrak
terpurifikasi buah terong belanda
(Solanum betaceum Cav) terhadap
fungsi hati.
DAFTAR PUSTAKA
Andersen, Markham. 2006. Flavonoids
: Chemistry, Biochemistry and
Apllications. Taylor and Francis
Group. USA.
Anonym. 2011. Mims Indonesia
Petunjuk Konsultasi Edisi 11.
UBM Medica Asia Pte Ltd. Hal
28-29, 291, 326.

130

Dalimartha,
S.
2001.
Ramuan
Tradisional Untuk Pengobatan
Hepatitis.
Jakarta.
Penebar
Swadaya.
Dwijantara,
RB.
2013.
Efek
Hepatoprotektif Jangka Panjang
Esktrak Metanol-air Biji Persea
americana
Mill
Terhadap
Aktivitas ALT-AST Serum pada
Tikus Jantar Wistar Terinduksi
Karbon Tetraklorida. Skripsi.
Fakultas Farmasi. Universitas
Sanata Dharma : Yogyakarta. Hal
31,32,37, 42,45.
Isma Tristanti, Fatimawali, Widdhi
Bodhi.
2013.
Uji
Efek
Hepatoprotektor Ekstrak Etanol
daun
Benalu
Langsat
(Dendropthoe petandra (L) mig)
terhadap kadar Malondialdehid
(MDA) pada hati tikus putih
jantan
Galur
Wistar
yang
diinduksi Karbon tetraklorida
(CCl4).
Jurnal.
FMIPA,
Universitas
Samratulangi
:
Manado. Hal 77.
Jawi, I Made, Ketut Budiasa. 2011.
Ekstrak Air Umbi Ubijalar Ungu
Menurunkan Total Kolesterol
serta
Meningkatkan
Total
Antioksidan
Darah
Kelinci.
Jurnal Veteriner Vol. 12 No. 2:
120-125. Fakultas Kedokteran
Hewan, Universitas Udayana.
Denpasar. Hal 121
Kardena, I Made, Ida Bagus Oka
Winaya. 2011. Kadar Perasan
Kunyit yang Efektif Memperbaiki
Kerusakan Hati Mencit yang
Dipicu Karbon Tetrachlorida.
Jurnal Veteriner Vol.12 No 1:3439. Fakultas kedokteran hewan,

Universitas udayana. Denpasar,


hal 34
Kusuma
RW.
2012.
Aktivitas
Antioksidan dan Antiinflamasi In
Vitro
Serta
Kandungan
Kurkuminoid dari Temulawak dan
Kunyit Asal Wonogiri. Skripsi.
Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Marliana
E.
2012.
Aktivitas
Antioksidan Ekstrak Etanol Daun
Andong (Cordyline fructicosa L).
Scientifie Vol 11 No 1. Fakultas
MIPA. Universitas Mulawarman
Munim. 2011. Fitoterapi Dasar. PT
Dian
rakyat.
Jakarta.
Hal
20,252,253,256,257,259.
Nur, Pramavita. 2006. Pengaruh
pemberian
Ekstrak
Meniran
(Phyllanthus
sp.)
Terhadap
Gambaran Mikroskopik Paru
Tikus Wistar Yang Diinduksi
Karbon Tetraklorida. Artikel.
Fakultas Kedokteran, Universitas
Diponegoro. Semarang, Hal 3
Price SA, Wilson, Lorraine M. 1994.
Patofisiologi: Konsep Klinis
Prosesproses
Penyakit.
Terjemahan dari Pathophysiology
Clinical Concepts of Disease
Processes oleh Peter Anugerah.
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta, 426-433.
Safitri J. 2013. Uji Aktivitas
Hepatoprotektor Fraksi Metanol
Daun Kesum (Polygonum minus
Huds) Pada Tikus Putih Jantan
Galur Wistar yang Diinduksi
Cisplatin. Skripsi. Program Studi
Farmasi Fakultas Kedokteran.
Universitas
Tanjung
Pura.
Pontianak. Hal 11

131

Sharp Patric E, and La Regina Marie C.


The laboratory Rats.
Sinaga, Irma. 2009. Skrining Fitokimia
dan Uji aktivitas Antioksidan dari
Esktrak Etanol Buah Terong
Belanda (Solanum betaceum
Cav). Skripisi. Fakultas Farmasi,
Universitas
sumatera
utara.
Medan. Hal 14, 19.
Sumardika I, Jawi I. 2012. Ekstrak Air
Daun
Ubi
Jalar
Ungu
Memperbaiki Profil Lipid dan
Meningkatkan Kadar SOD Darah
Tikus Yang Diberi Makanan
Tinggi Kolesterol. Medicina. 43
;67-71
Weber L, Boll M, Stampfl A. 2003.
Hepatotoxicity and Mechanism of
Action of Haloalkanes: Carbon
Tetrachloride as a Toxicologica
Model. Critical Reviews in
Toxicology 33: 105-136.
Wijaya
Kusuma
HMH.
2002.
Tumbuhan
Berkhasiat
Obat
Indonesia.
Jakarta.
Milenia
popular

132