Anda di halaman 1dari 17

SELEKSI DAN HERITABILITAS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Breeding and Embryo


Manipulations

Oleh
Desy Setyoningrum
156080112111002

Program Studi Magister Budidaya Perairan


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya
Malang
2016

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang SELEKSI DAN HERITABILITAS

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu saya senyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
rtelah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini

Malang, 4 April 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
1.

2.

3.

PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang ...................................................................................... 1

1.2

Tujuan ................................................................................................... 1

ISI ................................................................................................................. 2
2.1

Selective Breeding ................................................................................. 2

2.2

Seleksi ................................................................................................... 2

2.2.1

Natural Selection ............................................................................ 3

2.2.2

Artificial Selection ........................................................................... 5

2.3

Metode Seleksi ...................................................................................... 6

2.4

Pemilhan Metode Seleksi ...................................................................... 7

2.5

Heritabilitas .......................................................................................... 10

KESIMPULAN ............................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

ii

1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Usaha budidaya ikan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat

dari tahun ketahun. Hal ini dapat diakibatkan oleh semakin bertambahnya
kesadaran manusia untuk mengkonsumsi ikan dan bertambahnya jumlah
penduduk setiap tahun serta menurunnya jumlah ikan hasil tangkapan. Jenis
ikan yang dibudidayakan juga semakin beragam, mulai dari ikan konsumsi
hingga ikan hias. Dalam usaha budidaya ikan secara intensif dibutuhkan benih
dan induk yang bermutu. Induk yang bermutu akan dapat menghasilkan benih
ikan yang bermutu pula. Sedangkan dengan melakukan pemeliharaan benih
yang bermutu maka proses produksi akan menjadi efektif dan efisien.
Untuk meningkatkan mutu induk yang akan digunakan dalam proses
budidaya maka induk yang akan digunakan harus dilakukan seleksi. Seleksi ikan
bertujuan untuk memperbaiki genetik dari induk ikan yang akan digunakan. Oleh
karena itu dengan melakukan seleksi ikan yang benar akan dapat memperbaiki
genetik ikan tersebut sehingga dapat melakukan pemuliaan ikan. Tujuan dari
pemuliaan ikan ini adalah menghasilkan benih yang unggul dimana benih yang
unggul tersebut diperoleh dari induk ikan hasil seleksi agar dapat meningkatkan
produktivitas.
Permasalahan yang dihadapi oleh petani ikan dan pembudidaya ikan saat
ini adalah adanya kecenderungan penurunan pertumbuhan ikan. Hal tersebut
diduga karena kurangnya pengetahuan petani dan pembudidaya ikan akan
pengelolaan induk yang benar, sehingga mereka melakukan seleksi negatif,
selain itu terjadinya silang-dalam mengakibatkan menurunnya keragaman
genetik. Untuk meningkatkan keragaman genetik ikan hasil budidaya maka harus
dilakukan perbaikan genetik pada ikan budidaya dengan berbagai metode.
Metode

yang

biasa

dilakukan

antara

lain

adalah selective

breeding,

crossbreeding (Hibridisasi), seks reversal, manipulasi kromosom dan rekayasa


gen.
1.2

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :.

a. Mengetahui metode yang digunakan dalam seleksi


b. Mengetahui nilai heritabilitas dari suatu seleksi

2.

2.1

ISI

Selective Breeding
Selective breeding adalah suatu program breeding yang mencoba untuk

memperbaiki nilai pemuliabiakan (breeding value) dari suatu populasi dengan


melakukan seleksi dan perkawinan hanya pada ikan-ikan yang terbaik. Hasil
yang akan diperoleh adalah induk yang terseleksi yang mempunyai karakteristik
lebih baik dari populasi sebelumnya. Selective breeding mencoba untuk
memperbaiki nilai genetik populasi dengan seleksi dan hanya menggunakan
persilangan ikan-ikan yang terbaik (ukuran besar, bobot paling berat, warna
paling bagus) dengan harapan bahwa induk-induk ikan terseleksi akan mampu
mewariskan superioritasnya kepada keturunannya. Jika hal ini terjadi, generasi
berikutnya akan memiliki pertumbuhan cepat, dan pada akhirnya akan
meningkatkan produksi ikan. Ikan akan lebih efisien sebagai usaha budidaya,
memiliki biaya pakan relatif rendah atau ikan akan memiliki warna tubuh yang
diinginkan sehingga meningkatkan nilai penjualan. Selective breeding menurut
Tave (1995) dapat dilakukan dengan dua cara yaitu seleksi individu/massa dan
seleksi famili.
Seleksi induk secara individu ini disebut juga dengan seleksi massa.
Seleksi massa/individu adalah seleksi yang dilakukan dengan memilih individuindividu dengan performan terbaik. Seleksi ini merupakan teknik seleksi yang
paling sederhana dengan biaya lebih murah dibandingkan seleksi lainnya. Sifatsifat yang diseleksi meliputi bobot atau ukuran, keragaman luar, pigmentasi,
kedaan sisisk, tidak cacat, ketahan terhadap lingkungan dan penyakit, jumlah
tulang dalam otot dan lain-lain. Kemungkinan kesalahan dalam memperoleh sifat
yang diharapkan sungguh besar karena genotipe dari ikan yang diseleksi.
Seleksi famili adalah salah satu cara yang efektif untuk memperbaiki mutu induk..
2.2

Seleksi
Seleksi merupakan suatu teknik pemuliaan ikan secara klasik untuk

memperbaiki sifat yang terukur. Prinsip dasar dari seleksi ini adalah
mengeksploitasi sifat additive dari alel-alel pada semua lokus yang mengontrol
sifat terukur untuk memperbaiki suatu strain ikan. Jadi, dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa seleksi merupakan suatu usaha pemilihan individu dari
populasi yang bertujuan untuk mendapatkan beberapa hal yang baik. Tujuan dari

seleksi adalah untuk mendapatkan induk yang mempunyai produktivitas yang


tinggi dengan ciri morfologi yang dikehendaki dan dapat diturunkan. Produktivitas
yang tinggi ini terutama dicirkan oleh sifat cepat tumbuh dan kelangsungan hidup
yang tinggi pada lingkungan budidaya tertentu.
Dalam usaha budidaya ikan secara intensif dibutuhkan benih dan induk
yang khusus. Induk yang bermutu akan menghasilkan benih ikan yang bermutu
juga. Untuk meningkatkam mutu induk yang digunakan harus dilakukan seleksi
terlebih dahulu. Disini seleksi bertujuan sebagai pemurniaan genetik. Oleh
karena itu, dengan melakukan seleksi ikan yang benar maka akan dapat
memperbaiki genetik ikan itu sehingga dapat melakukan pemuliaan ikan. Tujuan
dari pemuliaan ikan tersebut adalah untuk menghasilkan benih yang unggul yang
diperoleh dari hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktivitas.
Seleksi dimaksudkan untuk merubah fenotif kuantitatif dari rata-rata
populasi dengan cara mengeksploitasi genetik aditif yang bertanggung jawab
terhadap pewarisan sifat yang menguntungkan dari induk kepada anaknya.
Fenotipe adalah sifat nyata yang dimiliki oleh organisme yang merupakan hasil
interaksi antara genotipe dan lingungannya meng menghasilkan sifat-sifat yang
tampak. Genotipe menentukan karakter sedangkan lingkungan menentukan
sampai dimana tercapainya potensi itu. Fenotipe yang terbentuk tidak bisa
melewati kemampuan atau potensi dari genotipenya. Karakter yang terbentuk
diatur oleh banyak macam gen atau satu gen saja.
Seleksi menjadi sangat efisien jika bisa mengukur genotipe sebenarnya
dari organisme, bukan fenotip (yang merupakan interaksi dari genotipe dan
lingkungan). Namun, untuk mayoritas dari sifat-sifat itu hanya mungkin untuk
mengukur fenotip. Untuk beberapa sifat dengan heritabilitas tinggi, ukuran fenotip
akan mencerminkan kedekatan yang mendasari genotipe, sedangkan untuk sifat
dengan heritabilitas rendah, pengukuran fenotipe menunjukkan sedikit dari
genotipe organisme untuk sifat tertentu. Berdasarkan prosesnya seleksi
dibedakan menjadi 2 yaitu seleksi alam (Natural Selection) dan seleksi buatan
(Artificial Selection)
2.2.1

Natural Selection
Individu yang baik dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang

khusus

dan

menghasilkan

banyak

keturunan

yang

bertahan

dengan

menunjukkan kemampuan yang tinggi, sedangkan hewan yang menghasilkan


sedikit keturunan atau

keturunan dengan kemampuan rendah menunjukkan

kemampuan yang rendah. Konsekuensi dari dari proses ini bahwa keseluruhan
populasi menjadi lebih menyesuaikan kondisi lingkunganny, karena hewan
dengan kemampuan yang tinggi akan lebih reproduktif daripada yang
kemampuan yang lemah. Proses ini dikenal sebagai seleksi alam dan Terjadi di
alam pada semua hewan liar dan populasi tumbuhan. Seleksi alam merupakan
proses yang lambat karena perubahan lingkungan hewan harus beradaptasi,
dimana proses itu cenderung terjadi

sangat lambat. Selain itu, seleksi alam

terjadi hanya pada tingkat individu, dan tidak terpengaruh oleh familinya.
Sebuah contoh bagaimana seleksi alam terjadi adalah pembuatan strain
salmon Atlantik di Norwegia. Setelah zaman es terakhir sekitar 10.000 tahun
yang lalu, kelompok salmon Atlantik di sepanjang sungai di pantai Nowegia. Saat
ini , ada sejumlah strain salmon Atlantic lokal beradaptasi dengan kondisi sistem
sungai ini. Perbedaan strain merupakan hasil dari seleksi alam yang disebabkan
oleh kondisi lingkungan yang berbeda di sungai.
Jika kondisi lingkungan berubah dengan cepat, seleksi alam tidak
mungkin cukup untuk populasi

beradaptasi dengan kondisi baru. Contohnya

adalah pengasaman yang cepat pada peraira terjadi di Norwegia bagian selatan.
Hilangnya ikan dimulai pada tahun 1920-an dan kehilangan paling cepat terjadi
selama 1960-1970an (Rossland et al., 1986). Curah hujan asam menurunkan pH
pada tingkat di bawah toleransi (pH <5) untuk salmonids, hasilnya terjadi
kematian massal ikan di danau, sungai dan anak sungai di daerah negara besar
tersebut. Namun, Investigasi ekstensif menunjukkan bahwa variasi genetik untuk
toleransi terhadap pengasaman perairan pada brown trout, dengan heritabilitas
(h2) mulai 12:09-00:33 (Gjedrem 1976; Edwards dan Gjedre, 1979). Pada
Gambar 1 menunjukkan variasi yang besar dalam kelangsungan hidup antara
strain brown trout terhadap pengasaman perairan selama fase telur dan alevin.
Temuan ini menunjukkan seleksi alami dapat memungkinkan brown trout untuk
beradaptasi dengan pH air rendah, namun kematian massal diamati terhadap
populasi liar menyarankan bahwa pengasaman Itu pasti terjadi akibat tempat
tinggal terlalu cepat untuk seleksi alam.

Gambar 1. Tingkat kelangsungan hidup yang berbeda daro brown trout


padaperairan asam, rata-rata kelangsungan hidup pada pH=4.7 dan
5.2 (Gjedrem 1976).
2.2.2

Artificial Selection
Praktek seleksi buatan dikenal dengan seleksi langsung yang dilakukan

oleh kebanyakan petani untuk meningkatkan populasi dari budidaya.

Ketika

variasi genetik aditif disajikan untuk suatu sifat, seleksi adalah alat yang efisien
untuk mewujudkan

keinginan tersebut. Pengaruh genetik terhadap

seleksi

langsung yang menunjukkan perubahan pada frekuensi alel pada lokus yang
mempengaruhi sifat tersebut. Aditive genetic variance merupakan komponen
genetik yang terpenting untuk varian fenotif dan dapat dieksploitasi dengan
program selective breeding. Sedangkan dominance genetic variance dapat
dieksploitasi dengan program crossbreeding (hibridisasi). Kebanyakan program
pemuliaan, beberapa sifat yang menarik termasuk dalam tujuan pemuliaan. Pada
spesies budidaya umumnya meliputi sifat seperti berat badan, tahan penyakit
dan kualitas produk. Ada tiga pendekatan dasar untuk beberapa pemilihan sifat:

Pemilihan untuk satu sifat pada setiap generasi, yang dikenal sebagai
seleksi tandem

Menetapkan ambang batas untuk masing-masing sifat itu digunakan


sebagai ambang batas seleksi, yang dikenal sebagai seleksi simultan
(independent culling level)

Pemilihan secara bersamaan untuk semua sifat mempertimbangkan


ekonomi, heritabilitas, dan fenotipe dan korelasi genetik antara sifat-sifat,
dikenal sebagai seleksi indeks atau total skor seleksi.

2.3

Metode Seleksi
Perubahan frekuensi alel dalam suatu populasi merupakan hasil yang

mendasari seleksi. Namun, sebenarnya metode seleksi mempunyai dampak


substansial pada tingkat perubahan dalam frekuensi alel. Perubahan frekuensi
alel dalam populasi juga bisa terjadi melalui proses biologis alami. Berbagai
metode seleksi bisa diterapkan pada keadaan yang ada (unik) untuk masingmasing program pemuliaan. Beberapa cara mengubah frekuensi alel dalam
suatu populasi:
A. Migrasi
Migrasi merupakan perpindahan individu baru ke dalam suatu populasi
atau

hasil individu dari suatu populasi. Migrasi adalah metode khusus yang

menarik ketika populasi tertentu memberikan mutu yang rendah dengan jelas
dari populasi lainnya. Melalui pengenalan induk dari populasi unggul, hal ini
memungkinkan untuk mendapatkan perbaikan genetik yang cepat. Misalnya,
besarnya peningkatan dapat dicapai melalui kesuburan telur dari target populasi
dari populasi yang unggul akan dibagi dua dalam satu generasi. Migrasi memiliki
arti penting karena dapat memasukkan ragam genetik ke dalam populasi
sehingga dapat dilakukan seleksi.
B. Seleksi
Seleksi merupakan strategi paling penting untuk membuat perubahan
jangka panjang terhadap suatu populasi, dan merupakan kasus khusus untuk
spesies dengan fekunditas tinggi. Tingginya fekunditas memungkinkan untuk
besarnya

intensitas

seleksi

menjadi

berpengamalam,

strategi

biasanya

menghasilkan respon yang sangat besar pada suatu seleksi. Seleksi merupakan
kekuatan utama yang dapat menimbulkan perubahan frekuensi alel dalam
populasi. Pengaruh selksi dapat diukur dengan membandingkan jumlah individu
sebelum dan sesudah seleksi, hal tersebut merupakan ukuran daya hidup dari
suatu genotipe dalam populasi.
C. Mutasi
Mutasi terjadi secara alami dan pada tingkat yang cukup stabil dalam
kehidupan organisme, seringkali hasil dari sesuatu yang salah selama proses
pembelahan sel. Kebanyakan mutasi segera diperbaiki oleh sel mereka sendiri,
6

dan untuk itu menyebabkan efek sakit pada hewan. Mutasi yang dimaksudkan
dalam konteks ini adalah mutasi gen yang mengakibatkan suatu alel menjadi alel
baru. Mutasi biasanya terjadi dari alel dominan menjadi alel resesif, yang
mengakibatkan frekuensi alel dominan dalam populasi berkurang sedikit demi
sedikan dan frekuensi alel resesif bertambah. Frekuensi alel resesif memberikan
efek berbahaya yang secara jelas diturunkan pada hewan turunannya
kemungkinan yang lebih tinggi dari yang homozigot seperti gen. Ini merupakan
alasan utama untuk menghindari perkawinan sejenis sebanyak mungkin dalam
program pemuliaan.
D. Genetic Drift
Genetic drift

adalah proses perubahan frekuensi alel yang terjadi

sepenuhnya oleh ketidaksengajaan yang menyebabkan perubahan acak dalam


frekuensi alel dan genotip akibat kesalahan dalam pengambilan sampel dalam
suatu populasi. Genetic drift merupakan konsep penting dalam populasi
genetika. Jika suatu generasi baru memperoleh alelnya secara acak, maka
semakin besar jumlah sampel, semakin baik kumpulan gen dari generasi
sebelumnya akan terwakili.
2.4

Pemilhan Metode Seleksi


Perbedaan metode seleksi dapat diterapkan dalam program pemuliaan.

Untuk spesies air, seleksi individu dan famili merpkan strategi yang paling umum
digunakan. Tujuan keseluruhan dari semua skema seleksi untuk memaksimalkan
peringkat probabilitas dengan tepat pada semua potensial pemuliaan yang
berkaitan dengan nilai pemuliaan mereka. Pada dasarnya Konsep yang Sama
seperti memaksimalkan korelasi antara kenyataan dan estimasi nilai pemuliaan
(RHI). nilai pemuliaan hewan dapat didefinisikan sebagai rata-rata performa dari
jumlah keturunan yang tak terbatas, atau sudut pandang praktis dengan melihat
probabilitas untuk menghasilkan keturunan yang baik atau buruk. Pilihan metode
seleksi untuk situasi tertentu (spesies, lingkungan produksi, skala) tergantung
pada berbagai faktor termasuk:
Sifat target untuk perbaikan genetik yang diinginkan
Kelayakan dari sifat yang tercatat pada binatang secara langsung
Besaranya heritabilitas untuk sifat yang bersangkutan
Kapasitas Reproduksi dari spesies.
Setiap metode seleksi akan digambarkan dengan Mengikuti keunggulan
dan kerugian yang dimiliki akam mempengaruhi pilihan yang diberikan terhadap

skenario pemuliaan khusus. Namun, bagi sebagian besar metode, ada nilai
maksimum teoritis dari korelasi antara nilai-nilai pemuliaan yang benar dan
Estimasi, diberikan heritabilitas yang berbeda untuk ciri-ciri tersebut (Tabel 2).
Tabel 1. Nilai teorikal maksimum dari korelasi antara kenyataan dan nilai estimasi
pemuliaan (rHI) untuk metode yang berbeda dari seleksi dengan variasi
heritabilitas.

A. Seleksi Silsilah (Pedigree Selection)


Seleksi Pedigree menggunakan informasi dari orang tua dan kakek-nenek
dari hewan yang dimaksud. Dalam program pemuliaan di mana seleksi yang
sedang diterapkan, nenek moyang sudah dipilih sebelum perkawin terjadi dan
untuk itu seleksi pedigree telah terjadi. Seleksi Pedigree yang paling menarik
untuk hewan muda tanpa adanya data tentang performa mereka. Untuk hewanhewan ini, estimasi terbaik dari nilai pemuliaan mereka adalah nilai pemuliaan
rata-rata orang tua mereka. Akurasi seleksi pedigree adalah relatif rendah karena
meskipun fakta menunjukkan bahwa keturunan mewarisi setengah dari materi
genetik dari setiap orangtua mereka. Pemisahan Mendel akan menyebabkan
variasi dalam nilai pemuliaan di antara keturunan mereka. Rendahnya akurasi
ini, ditambah dengan ketersediaan informasi umum dari anggota keluarga, berarti
bahwa seleksi pedigree kurang penting dalam spesies air.

B. Seleksi Individu (Individual Selection)


Seleksi individu berdasarkan performa masing-masing individu dan juga
dikenal sebagai seleksi massa. Seleksi individu mudah untuk dilakukan dan
untuk beberapa tahun metode yang paling umum digunakan pada seleksi di
spesies air. Ada banyak contoh dari besarnya keuntungan genetik yang
diperoleh dalam program pemuliaan berdasarkan seleksi individu. Namun,
seleksi individu hanya mungkin untuk sifat-sifat yang dapat diukur atau dicatat
pada hewan hidup, karena individu hidup secara alami diperlukan sebagai induk
untuk

generasi

berikutnya.

Dalam

prakteknya,

seleksi

individu

hanya

dilaksanakan dalam skala besar pada ikan dan spesies kerang untuk sifat
morfometrik seperti berat dan panjang tubuh. Sementara pendekatan ini telah
berhasil dalam banyak spesies ikan. Akurasi seleksi individu sangat tergantung
pada heritabilitas dari

sifat target

(Tabel 2). Heritabilitas yang tinggi

menunjukkan bahwa sebagian besar variasi sifat adalah diwariskan dan bahwa
keakuratan seleksi individu tinggi. Untuk ciri-ciri dengan heritabilitas rendah,
respon seleksi akan rendah karena faktor lingkungan menjelaskan sebagian
besar variasi dan menutupi komponen genetik.
C. Seleksi keluarga (Family Selection)
Seleksi famili adalah seleksi dengan mempergunakan performans dari
saudaranya baik saudara tiri (half-sib) atau saudara sekandung (full-sib).
Saudara tiri (half-sibs) adalah keluarga (famili) yang dibentuk oleh sekelompok
anak yang berasal dari satu induk jantan dengan beberapa induk betina (half
sib), karena pada ikan satu induk jantan dapat membuahi lebih dari satu induk
betina, maka anak-anak yang dihasilkan dari induk jantan yang sama dengan
induk betina yang berbeda ini disebut dengan saudara tiri. Sedangkan setiap
keluarga/famili yang berasal dari satu induk jantan dengan satu induk betina
disebut saudara sekandung (full sib), dan pada ikan budidaya ada juga yang
melakukan perkawinan dimana satu jantan hanya membuahi satu induk betina.
Istilah Famili artinya adalah keluarga yang dibuat oleh pemulia. Metode seleksi
famili dapat menghasilkan strain baru dengan menggunakan sumber gentik ikan
yang ada. Seleksi famili merupakan alternatif seleksi yang dapat dilakukan
apabila pengaruh lingkungan sulit dikontrol.
Hasil dari ukuran keluarga besar

biasa terlihat pada spesies air,

keakuratan nilai estimasi pemuliaan tinggi dan dapat mencapai RHI = 0.71 untuk
penuh-saudara kandung dan 0:50 untuk setengah-saudara kandung (Tabel 7.1)

Untuk itu informasi keluarga memiliki nilai yang besar untuk memperkirakan nilai
pemuliaan hewan aquatik. Seleksi keluarga sesuatu yang penting khususnya
untuk sifat dengan heritabilitas rendah, seperti untuk kelangsungan hidup secara
umum dan usia kematangan seksual. Efisiensi seleksi keluarga berdasarkan
pada fakta bahwa penyimpangan fenotipik dari individu hewan sebagai akibat
dari dampak lingkungan cenderung menghapuskan satu sama lain dalam nilai
rata-rata dari keluarga.
Oleh karena itu, rata-rata fenotip dari keluarga merupkan ukuran yang
baik dari rata-rata genotipe, dan keuntungn diperoleh lebih besar ketika
penyimpangan lingkungan merupakan bagian besar dari varians fenotipik. Oleh
karena itu sifat dari heritabilitas rendah membuat calon yang sangat baik untuk
pendekatan seleksi keluarga, dan akurasi yang rendah dalam mengukur individu
akan diimbangi dengan informasi yang diperoleh anggota keluarga anggota.
D. Within-Family Selection
Saat within-family selection diterapkan, keluarga diuji pada unit terpisah
dan seleksi didasarkan pada deviasi setiap individu dari rata-rata keluarganya.
Rata-rata Keluarga diabaikan dalam strategi seleksi ini. Metode ini merupakan
tujuan khusus ketika efek lingkungan besar, karena within-family selection akan
Menghilangkan efek lingkungan ini. Menurut hasil yang ditunjukkan pada Tabel 2,
keakuratan dalam within-family selection lebih rendah dari seleksi famili. Empedu
dan Huang (1988a) membandingkan tanggapan seleksi yang diharapkan dari
metode seleksi yang berbeda dan menyimpulkan bahwa gabungan dari seleksi
diharapkan menghasilkan respon sekitar 10-30% per generasi di atas

seleksi

individu dan family dan sekitar dua kali lipat diharapkan untuk within-family
selection.
Seleksi within family sebaiknya diterapkan untuk seleksi pertumbuhan
pada ikan, karena masing-masing famili dipelihara pada kolam terpisah dan ikan
dengan pertumbuhan terbaik dipilih dari masing-masing famili, sehingga semua
famili akan terwakili. Cara ini dilakukan merupakan salah satu cara untuk
mengantisipasi adanya perbedaan umur akibat tidak terjadinya proses pemijahan
secara serempak.
2.5

Heritabilitas
Heritabilitas berasal dari bahasa inggris Heritability yang berarti

kekuatan/kemampuan penurunan suatu sifat. Kata ini digunakan untuk


mengungkapkan kekuatan suatu sifat diturunkan pada generasi berikutnya.

10

Dalam program pemuliaan nilai ini perlu diketahui sebelum melakukan perbaikan
mutu bibit/genetik ternak. Kegunaan diketahuinya nilai heritabilitas adalah
sebagai berikut:
1. mengetahui kekuatan suatu sifat akan diturunkan oleh induk padaanaknya
2. merupakan suatu petunjuk tentang keberhasilan program pemuliaan
3. semakin tinggi nilai heritabilitas, semakin baik program perbaikan mutubibit
yang diharapkan
Berdasarkan ungkapan ragam di atas, heritabilitas tidak lain adalah proporsi
ragam genetik terhadap ragam fenotip.
Jumlah sebenarnya gen yang mendasari suatu sifat yang diberikan tidak
diketahui, namun dalam kebanyakan kasus jumlah yang diasumsikan besar
dengan masing-masing gen individu memiliki efek yang kecil pada fenotipnya.
Karena tidak mungkin untuk mengukur langsung efek sebenarnya dari setiap gen
individu, fenotip seharusnya digunakan sebagai pengukuran langsung dengan
mempertimbangkan keduannya dari genotipe dan pengaruh lingkungan.
Heritabilitas merupakan parameter yang sangat penting dalam genetika
kuantitatif. Kemungkinan statistik paling penting ketika mengembangkan program
pemuliaan, seperti penggunaan nilai estimasi pemuliaan dan prediksi dari respon
terhadap seleksi. Heritabilitas dapat didefinisikan dalam arti luas dan dalam arti
sempit. Heritabilitas (h2T) dalam

arti luas didefinisikan sebagai rasio variasi

genetik (2G) terhadap variasi fenotipe (2P): h2T= 2G/ 2P


heritabilitas ini adalah ukuran dari seberapa banyak variasi fenotip yang
dijelaskan oleh total variasi genetik. Nilai heritabilitas dalam arti luas akan
merubah variasi antara 1 dan 0. Jika h2T = 1, itu berarti bahwa semua varians
fenotip adalah genetik, yang tidak realistis untuk sifat kuantitatif, dan jika h2T= 0
itu berarti tidak ada variasi genetik untuk sifat tersebut, juga disebut jarang.
Heritabilitas dalam arti sempit (h2) menjelaskan rasio dari variasi genetik aditif
dari total varisi fenotip: h2 = 2A / 2P
Dengan mengukur sifat dalam kelompok yang berhubungan dengan individu,
mungkin statistik memperkirakan besarnya heritabilitas ini.
Heritabilitas

berdasarkan

total

varisi

genetik

(2G)

menghasilkan nilai pemuliaan yang tepat karena bagian dari

tidak

akan

G dapat

mencakup beberapa variasi variasi genetik non-aditif (2D + 2I), dan karena
efek dari genetik non-aditif

tidak

menular ke keturunan, tidak harus bagian

estimasi heritabilitas ketika memperkirakan nilai-nilai pemuliaan. Total variasi

11

genetik sama dengan atau lebih besar daripada variasi genetik adaptif saja,
heritabilitas arti luas yang sama dengan atau lebih besar dari heritabilitas dalam
arti yang sempit (2G 2A, h2Th2). Secara ekonomi sifat penting pada hewan
air, estimasi heritabilitas umumnya terletak pada kisaran 0,1-0,4. Heritabilitas
bukan merupakan parameter statis untuk sifat dalam populasi, secara khusus
untuk populasi dan sifat yang bersangkutan. Pada Tabel 1, sebuah seleksi untuk
heritabilitas diberikan pada beberapa spesies dan sifat.
Tabel 2. Heritabilitas untuk perbedaan sifat pada spesies budiada perairan

Heritabilitas merupakan parameter paling penting dalam program


pemuliaan. Semakin tinggi nilai heritabilitas suatu sifat yang diseleksi, maka
semakin tinggi peningkatan sifat yang diperoleh setelah seleksi. Tingginya nilai
heritabiltas suatu sifat menunjukkan tingginya korelasi ragam fenotipik dan ragam
genetik.

12

3. KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai


berikut

Heritabilitas merupakan suatu tolok ukur yang digunakan dalam suatu


seleksi, yaitu untuk mengetahui kemampuan tetua dalam menurunkan
kesamaan sifat kepada keturunannya. Semakin tinggi nilai heritabilitas suatu
sifat yang diseleksi, maka semakin tinggi peningkatan sifat yang diperoleh
setelah seleksi. Tingginya nilai heritabiltas suatu sifat menunjukkan tingginya
korelasi ragam fenotipik dan ragam genetik.

Selective breeding adalah suatu program breeding yang mencoba untuk


memperbaiki nilai pemuliabiakan (breeding value) dari suatu populasi
dengan melakukan seleksi dan perkawinan hanya pada ikan-ikan yang
terbaik. Hasil yang akan diperoleh adalah induk yang terseleksi yang
mempunyai karakteristik lebih baik dari populasi sebelumnya.

Seleksi merupakan suatu usaha pemilihan individu dari populasi yang


bertujuan untuk mendapatkan beberapa hal yang baik. Tujuan dari seleksi
adalah untuk mendapatkan induk yang mempunyai produktivitas yang tinggi
dengan ciri morfologi yang dikehendaki dan dapat diturunkan. Metode
seleksi yang dapt digunakan untuk program pemuliaan ikan antara lain
Pedigree selection, Individual Selection, Family Selectiond dan within-family
Selection.

13

DAFTAR PUSTAKA

Gjedrem, T. dan Baranski, M. .2009. Selective Breeding in Aquaculture: An


Introduction. Springer Dordrecht Heidelberg London New York :26-99.

Tave, D. 1999. Inbreeding and brood stock management. Fisheries Technical


Paper. No. 392. Rome, FAO. 1999. 122p.

Gusrina. 2014. Genetika dan Reproduksi ikan. CV. Budi Utama. Yogyakarta.
138-149.

14