Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

SEL

Disusun Oleh:

Indra Wijaya 200110160176

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2017
I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sel merupakan susunan terkecil penyusun tubuh makhluk hidup.

Memepelajari sel sangatlah penting dalam ilmu peternakan pada khususnya, hal

ini dikarenakan untuk mempelajari mahkluk hidup, mahasiswa dituntut untuk

menyelesaikan masalah baik dari segi fisik ternak tersebut maupun dari segi lain

yang berkaitan dengan kondisi ternak tersebut misalnya pakan. Oleh karena itu,
untuk membantu proses perkembangannya, mahasiswa peternakan harus

mempelajari ilmu tentang sel terlebih dahulu.

Dengan adanya praktikum ini, kita dapat memahami lebih lanjut mengenai sel

dari suatu tubuh mahkluk hidup, memberikan metode standar untuk mengamati

ciri-ciri sel pada mahkluk hidup, memberikan pengetahuan dasar secara visual

mengenai bagian-bagian tubuh mahkluk hidup, serta dapat meningkatkan

kemampuan memaparkan ciri-ciri sel yang ada pada mahkluk hidup dalam bentuk

gambar dan tulisan.

1.2. Tujuan Praktikum

1.2.1. Mengetahui secara visual/mikroskopis anatomi berbagai

bentuk dan jenis organ serta gambaran umum dan fungsi suatu

organ.
II

Tinjauan Pustaka

3.1 Sel

Dalam biologi, sel adalah kumpulan materi paling sederhana yang

dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu

melakukan semua aktivitas kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia untuk

mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel. Kebanyakan makhluk

hidup tersusun atas sel tunggal, atau disebut organisme uniselular,

misalnya bakteri dan ameba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan,

dan manusia, merupakan organisme multiselular yang terdiri dari banyak tipe sel

terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing. Tubuh manusia, misalnya,

tersusun atas lebih dari 1013 sel. Namun demikian, seluruh tubuh semua

organisme berasal dari hasil pembelahan satu sel. Contohnya, tubuh bakteri

berasal dari pembelahan sel bakteri induknya, sementara tubuh tikus berasal dari

pembelahan sel telur induknya yang sudah dibuahi.

Semua sel dibatasi oleh suatu membran yang disebut membran plasma dan

daerah di dalam sel disebut sitoplasma. Setiap sel, pada tahap tertentu dalam

hidupnya, mengandung DNA sebagai materi yang dapat diwariskan dan

mengarahkan aktivitas sel tersebut. Selain itu, semua sel memiliki struktur

disebut ribosom yang berfungsi dalam pembuatan protein yang akan digunakan

sebagai katalis banyak reaksi kimia dalam sel tersebut.

Setiap organisme tersusun atas salah satu dari dua jenis sel yang secara

struktur berbeda: sel prokariotik atau sel eukariotik. Kedua jenis sel ini dibedakan

berdasarkan posisi DNA di dalam sel; sebagian besar DNA pada eukariota
terselubung membran organel yang disebut nukleus atau inti sel, sedangkan

prokariota tidak memiliki nukleus. Hanya bakteri dan arkea yang memiliki sel

prokariotik, sementara protista, tumbuhan, jamur, dan hewan memiliki sel

eukariotik.

Pada sel prokariota (dari bahasa Yunani, pro, 'sebelum' dan karyon, 'biji'),

tidak ada membran yang memisahkan DNA dari bagian sel lainnya, dan daerah

tempat DNA terkonsentrasi di sitoplasma disebut nukleoid.[7] Kebanyakan

prokariota merupakan organisme uniselular dengan sel berukuran kecil

(berdiameter 0,72,0 m dan volumenya sekitar 1 m3) serta umumnya terdiri

dari selubung sel, membran sel, sitoplasma, nukleoid, dan beberapa struktur lain

Tidak seperti prokariota, sel eukariota (bahasa Yunani, eu, 'sebenarnya'

dan karyon) memilikinukleus. Diameter sel eukariota biasanya 10 hingga 100 m,

sepuluh kali lebih besar daripadabakteri. Sitoplasma eukariota adalah daerah di

antara nukleus dan membran sel. Sitoplasma ini terdiri dari medium semicair yang

disebut sitosol, yang di dalamnya terdapat organel-organeldengan bentuk dan

fungsi terspesialisasi serta sebagian besar tidak dimiliki prokariota. Kebanyakan

organel dibatasi oleh satu lapis membran, namun ada pula yang dibatasi oleh dua

membran, misalnya nukleus.


IV

Metode Praktikum

4.1 Kegiatan praktikum fisiologi kali ini dilaksanakan pada hari Kamis ,12

Oktober 2017 pada pukul 13.30 -15.30 WIB. Bertempat di Laboratorium

fisiologi ternak Gedung 3 Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

4.2 Praktikan mengamati dan menggambar morfologi berbagai jenis sel dari

preparat yang telah disediakan dan diamati menggunakan mikroskop.


V

Hasil dan Pembahasan

5.1 Hasil

1. Nama preparat: Se tulang kompak

2. Pembesaran : 10 x 10

3. Keterangan :

Berwarna biru

Bentuknya memanjang tidak teratur

Seratnya kasar

Terdapat bulatan bulatan yang

berkumpul

1. Nama preparat : Sel kulit telinga

2. Pembesaran : 10 x 40

3. Keterangan :

Berwarna pink
Seratnya kasar

Bentuknya tidak teratur

1. Nama preparat : Sel epithel

2. Pembesaran : 10 x 10

3. Keterangan

Berwarna ungu pudar bercampur

warna merah muda yang pudar

Seratnya halus
Bentuknya tidak teratur

1. Nama preparat Sel Ginjal

2. Pembesaran : 10 x 40

3. Keterangan :

4. Nama preparat : Sel Hati

5. Pembesaran : 10 x 40

6. Keterangan :

Berwarna pink

Seratnya halus dan rapat

Bentuknya tidak teratur

1. Nama preparat : Sel kulit

2. Pembesaran : 10 x 40

3. Keterangan :

Berwarna merah muda pudar

Seratnya halus
Bentuknya halus

1. Nama preparat : Sel otot

2. Pembesaran : 10 x 40

3. Keterangan :

Berwarna merah ati pudar

Seratnya kasar

Bentuknya tidak teratur

1. Nama preparat : Sel otot jantung

2. Pembesaran : 10 x 40

3. Keterangan :

.
5.2 Pembahasan

5.2.1 Sel tulang kompak

Pada tulang kompak tersusun atas periosteum (Luar) dan endosteum (Dalam)

yang berbatasan dengan sumsum tulang. Periosteum berupa jaringan ikat padat

tidak teratur. Endosteum mempunyai komponen-komponen yang sama dengan

periosteum hanya saja lebih tipis. Sumsum tulang yang berbatasan dengan

periosteum terdapat lamela tulang sirkumferensial luar (lamela periosteum) yang

terdiri atas lamela tulang yang tersusun sejajar dengan permukaan luar tulang,

sedangkan yang berbatasan dengan endosteum terdapat lamela tulang

sirkumferensial dalam (lamela endosteum) yang terdiri atas lamela tulang yang

sejajar dengan permukaan dalam tulang. Pada tulang kompak dikenal sistem

Havers. Sistem Havers ini dibangun oleh saluran Havers yang dikelilingi oleh

lamela Havers secara konsentris. Diantara lamela havers terdapat rongga-rongga

kecil yang disebut lakuna, tempat osteosit.

Kanalikuli adalah saluran-saluran halus dalam matriks, merupakan tempat

uluran sitoplasma osteosit. Diantara Sistem Havers tedapat lamela tulang yang

susunannya tidak teratur disebut lamela intersisial. Lakuna juga terdapat diantara

lamela intersisial, lamela tulang sirkumferensial luar dan lamela sirkumferensial

dalam.

5.2.2 Sel tulang telinga

Sel tulang telinga terdiri dari tulang rawan.Tulang rawan tersusun atas sel-sel

yang banyak mengeluarkan matriks atau zat serta yang disebut kondrin. Tulang

rawan pada anak berasal dari jaringan ikat embrional (mesenkim), sedangkan

tulang rawan pada orang dewasa dibentuk oleh selaput tulang rawan
(perikondrium) yang banyak mengandung sel membentuk tulang rawan atau

kondroblast. Jaringan tulang rawan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

kartilago hialin

kartilago elastis

kartilago fibrosa

5.2.3 Sel epithel

Epithelium tersusun sel-sel yang melapisi permukaan suatu organ, misalnya

melapisi permukaan luar tubuh (kulit), organ dan rongga dalam tubuh (saluran

pencernaan). Bagian luar epithelium terpapar ke udara atau cairan, sementara

bagian dalamnya bertumpu pada membrana basalis.

Pada praktikum ini, epitelium terlihat tidak teratur, hal ini dikarenakan

susunannya yang berlapis. Ciri-ciri bentuk sel dan jumlah lapisannya dapat

berkombinasi, misalnya epithelium koboid berlapis atau epithelium squamosum

berlapis.

Sel-sel epitel berfungsi untuk melindungi suatu organ dan menyeleksi materi

yang masuk (proteksi). Epitelium juga dapat berfungsi menyerap suatu zat atau

mensekresikan zat kimia tertentu, sehingga terkadang epithelium terdiferensiasi

menjadi kelenjar, misalnya kelenjar uniseluler, alveolar, tubular dan multiseluler.

Sel-sel epitel juga dapat berfungsi sebagai sensor (neuroepitel), misalnya saraf

penciuman pada hidung dan saraf pengecap pada lidah. Hal inilah yang

menyebabkan warna pada sel epithel. selain itu, bentuk dan susunan pada sel

epithel pun turut mempengaruhi warna dari sel epithel tersebut.

Berdasarkan bentuk dan susunannya:

a. Epithel berlapis tunggal, terdiri atas:


Epithel pipih berlapis tunggal: misalnya, epithel peritornium dan epithel

pembuluh darah.

Epithel kubusberlapis tunggal: terdapat pada kelenjar ludah dan kelenjar

tiroid.

Epithel silindris berlapis tunggal: misalnya terdapat pada ventrikulus

(lambung) dan intestinum (usus).

b. Epithel berlapis banyak, terdiri atas:

Epithel pipih berlapis banyak: misalnya, yang melapisi rongga mulut dan

rongga hidung

Epithel silindris berlapis banyak: misalnya epithel yang terdapat pada

kerongkongan

Epithel kubus berlapis banyak: misalnya epithel yang membentuk kelenjar

c. Epithel silindris bersilia: misalnya, yang melapisi saluran pernapasan

(trakhea) dan saluran sperma

d. Epithel transisional: misalnya epithel yang melapisi bagian dalam kandung

kemih.

Berdasarkan fungsinya

Sebagai pelindung/proteksi: epithel yang berperan sebagai penutup

sekaligus sebagai pelindung jaringan yang terdapat di sebelah bawahnya.

a. Sebagai kelenjar:

Kelenjar eksokrin: menghasilkan getah yang dialirkan melalui saluran,

misalnya: kelenjar keringat dan kelenjar air liur.

Kelenjar endokrin/kelenjar buntu: menghasilkan getah yang langsung

dialirkan ke darah secara difusi. Misalnya, kelenjar adrenal, kelenjar tiroid,

dan lain-lain.
b. Penerima rangsangan (reseptor); misalnya, epithel yang terdapat di sekitar

indera. Epithel yang bertugas menerima rangsangan disebut epithel

sensori/neuroepitelium.

c. Pintu gerbang lalu-lintas zat. Sebagai contoh:

epithel pada alveolus untuk masuk/keluarnya CO2.

epithel usus untuk pemasukan sari makanan.

epithel nefron untuk lewatnya urine primer

5.2.4 Sel ginjal

Sel ginjal struktur tubulus yang mengalami atrofi, beberapa mengalami

thyroidisasi (berdilatasi dan berisi koloid cast). Terdapat infiltrasi sel dan

proliferasi sel fibrosit pada interstisium. Keseluruhan sistem penyalur kemih dari

pelvis ginjal, ureter, dan uretra dilapisi oleh epitel transisional, sehingga tumor

epitelnya (Transitional cell carcinoma) menunjukkan pola morfologik serupa.

Tumor di sistem penyalur di atas kandung kemih merupakan penyebab kematian

yang lebih sering dibandingkan dengan tumor ginjal. Hematuria tanpa nyeri

adalah gambaran klinis utama.

Ciri mikroskopisnya tampak sel transisional yang anaplasi dengan bentuk

bervariasi, banyak mitosis, tersusun bertumpuk-tumpuk lebih dari 7 baris,

disorientasi. Terdapat bentukan papiler dan flat dengan tangkai fibrovaskuler.

5.2.5 Sel hati

Pada mikroskop,hati terlihat berwarna merah, hal ini dikarenakan dalam

jaringan hati terdapat beberapa pembuluh darah. Pembuluh arteri hepatikus dan

vena portal hepatikus mengalami percabangan yang disebut sinusoid. Sinusoid

pada vena portal hepatikus akan membentuk vena. sel-sel hati yang membentuk

jaringan hati disebut hepatosit.


Antarlapisan hepatosit dipisahkan oleh lakuna, sedang antara hepatosit satu

dengan yang lain dipisahkan oleh kanalikuli yang merupakan tempat

dihasilkannya empedu. Pada sinusoid terjadi spesialisasi sel yang membentuk sel

kupffer. Sel kupffer ini mempunyai sifat fagositosis. Apabila dalam proses

pencernaan di usus halus terdapat organisme asing atau zat-zat berbahaya maka

sel-sel ini akan menghancurkan organisme asing atau zat berbahaya tersebut

dengan cara fagositosis. Dari proses penghancuran ini akan menghasilkan pigmen

bilirubin. Bilirubin kemudian dialirkan ke kanalikuli dan diekskresikan sebagai

empedu.

Hati pada bagian luar dilengkapi oleh selaput tipis yang disebut selaput hati

(kapsula hepatica).

5.2.6 Sel kulit

Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu epidermis dan dermis. Epidermis tersusun

dari stratum germinativum, stratum granulosum, dan stratum corneum.

Stratum germinativum merupakan lapisan basal yang selselnya aktif

membelah untuk membentuk sel-sel kulit baru ke arah luar. Lapisan ini

memproduksi pigmen melanin. Pigmen inilah yang menentukan warna kulit

seseorang. Melanin mampu melindungi jaringan kulit agar terhindar dari bahaya

sinar ultraviolet.

Stratum granulosum berasal dari desakan sel-sel yang terbentuk di lapisan

Malpighi. Pada lapisan ini terjadi akumulasi keratin. Keratin menyebabkan sel-sel

pada lapisan ini kehilangan nukleus dan akhirnya mati.

Stratum corneum merupakan lapisan yang terdapat di permukaan kulit.

Lapisan ini dikenal sebagai lapisan tanduk yang tersusun dari sel-sel mati yang
siap mengelupas. Sel-sel ini bersifat keras dan tahan terhadap air. Di tempat

tertentu lapisan ini mengalami penebalan seperti penebalan di telapak tangan dan

tapak kaki.

Sel-sel dermis lebih tebal daripada epidermis. Dermis tersusun oleh sel-sel

ikat dan kolagen. Di dalam lapisan ini terdapat bagian-bagian seperti pembuluh

darah, folikel rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat, serabut saraf, dan

lapisan lemak subkutans.

Pada kulit terlihat berwarna merah, hal ini disebabkan adanya pembuluh darah

pada kulit. Pembuluh darah berfungsi menyuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan

epidermis dan dermis. Selain itu, pembuluh darah juga berperan penting dalam

mengatur suhu tubuh.

Folikel rambut merupakan kantong yang mengelilingi akar rambut. Dari

folikel ini akan tumbuh rambut yang berwarna hitam. Warna hitam pada rambut

disebabkan oleh adanya melanin.

Kelenjar minyak berfungsi menghasilkan minyak untuk mencegah kekeringan

kulit dan rambut, selain itu juga melindungi kulit dari bakteri. Kulit yang

mempunyai jaringan lemak (jaringan adipose), dapat berfungsi sebagai tempat

penyimpanan makanan cadangan.

5.2.7 Sel otot

Dari yang telah diamati, sel otot terlihat kasardan tidak teratur, hal ini

dikarenakan sel-sel otot terdiri dari serabut otot yang dapat berkontraksi saat

dirangsang impuls saraf. Serabut otot adalah mikrofilamen yang terbuat dari

protein kontraktil aktin dan miosin. Serabut otot tersusun menjadi berkas paralel

yang kemudian membentuk otot. Pada vertebrata, ada tiga jenis sel-sel otot yaitu

otot polos, otot lurik dan otot jantung.


a. Otot lurik atau otot rangka melekat pada periosteum tulang melalui

tendon, berfungsi untuk pergerakan sadar (volunter). Disebut otot lurik

karena pengaturan filamennya yang tumpang-tindih sehingga memberi

kenampakan terang-gelap (lurik) dibawah mikroskop.

b. Otot jantung adalah otot yang membentuk dinding kontraktil jantung. Otot

jantung tampak lurik seperti otot rangka, namun bercabang-cabang dan

dihubungkan oleh cakram interkalar yang berfungsi menyampaikan sinyal

impuls yang memacu denyut jantung. Otot jantung memiliki kontaksi yang

teratur dan bekerja secara tidak sadar (involunter).

c. Otot polos dinamakan demikian karena tidak memiliki kenampakan lurik.

Otot ini ditemukan pada dinding saluran pencernaan, arteri, kandung

kemih dan organ internal lainnya (visceral). Sel-selnya berbentuk

gelondong dan berinti ditengah. Otot ini bekerja lambat dan secara tidak

sadar (involunter).

5.2.8 Sel Otot Jantung

Saat dilihat dengan mikroskop, otot jantung memiliki ciri khas yaitu

mempunyai diskus interkalaris atau pertemuan dua sel yang tampak gelap.

Otot jantung berbentuk silindris atau serabut pendek. Otot ini tersusun atas

serabut lurik yang bercabang-cabang dan saling berhubungan satu dengan lainnya.

Setiap sel otot jantung mempunyai satu atau dua inti yang terletak di tengah

sarkoplasma. Otot jantung bekerja di luar kehendak (otot tidak sadar) atau disebut

juga otot involunter dan selnya dilengkapi serabut saraf dari saraf otonom.

Kontraksi otot jantung berlangsung secara otomatis, teratur, tidak pernah lelah,

dan bereaksi lambat. Dinamakan otot jantung karena hanya terdapat di jantung.
Kontraksi dan relaksasi otot jantung menyebabkan jantung menguncup dan

mengembang untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh.


VI

Kesimpulan

Praktikan telah mengetahui secara visual/mikroskopis anatomi berbagai

bentuk dan jenis organ serta gambaran umum dan fungsi suatu organ.

Berdasarkan laporan yang telah kami buat, di dapatkan kesimpulan sebagai

berikut:

1. Sel tulang kompak

tulang kompak tersusun atas periosteum (Luar) dan endosteum (Dalam) yang

berbatasan dengan sumsum tulang. Periosteum berupa jaringan ikat padat tidak

teratur. Endosteum mempunyai komponen-komponen yang sama dengan

periosteum namun lebih tipis.

2. Sel-sel tulang telinga

Sel-sel tulang telinga terdiri dari sel-sel tulang rawan yang banyak mengeluarkan

matriks atau zat yang disebut kondrin. Sel-sel tulang rawan pada anak berasal dari

sel-sel ikat embrional (mesenkim). Sedangkan tulang rawan pada orang dewasa

dibentuk oleh selaput tulang rawan (perikondrium) yang banyak mengandung sel

membentuk tulang rawan atau kondroblast.

3. Jaringan epithelium adalah jaringan yang melapisi permukaan suatu organ,

misalnya melapisi permukaan luar tubuh (kulit), organ dan rongga dalam tubuh

(saluran pencernaan). Bagian luar jaringan epithelium terpapar ke udara atau

cairan, sementara bagian dalamnya bertumpu pada membrana basalis

4. Jaringan ginjal struktur tubulus yang mengalami atrofi, beberapa mengalami

thyroidisasi (berdilatasi dan berisi koloid cast), Terdapat infiltrasi sel radang MN
dan proliferasi sel fibrosit pada interstisium. Pada glomerulus, terdapat

periglomerular fibrosis.

5. Hati pada bagian luar dilengkapi oleh selaput tipis yang disebut selaput hati

(kapsula hepatica). Dalam jaringan hati terdapat beberapa pembuluh darah.

Pembuluh arteri hepatikus dan vena portal hepatikus mengalami percabangan

yang disebut sinusoid. Sinusoid pada vena portal hepatikus akan membentuk

vena. Jaringan hati ini tersusun oleh sel-sel hati yang disebut hepatosit.

6. Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu epidermis dan dermis. Epidermis tersusun

dari stratum germinativum, stratum granulosum, dan stratum corneum.

7. Jaringan otot terdiri dari serabut otot yang dapat berkontraksi saat dirangsang

impuls saraf. Serabut otot adalah mikrofilamen yang terbuat dari protein

kontraktil aktin dan miosin. Serabut otot tersusun menjadi berkas paralel yang

kemudian membentuk otot.

8. Otot jantung berbentuk silindris atau serabut pendek. Otot ini tersusun atas

serabut lurik yang bercabang-cabang dan saling berhubungan satu dengan lainnya.

Setiap sel otot jantung mempunyai satu atau dua inti yang terletak di tengah

sarkoplasma. Otot jantung bekerja di luar kehendak (otot tidak sadar) atau disebut

juga otot involunter dan selnya dilengkapi serabut saraf dari saraf otonom.

Kontraksi otot jantung berlangsung secara otomatis, teratur, tidak pernah lelah,

dan bereaksi lambat.


Daftar Pustaka

Atwood, Stanton, Storey, 1996. Pengenalan Dasar Disritma Jantung. Gajah Mada

Press. Yogyakarta

Burkitt, Young, Heath, 1995. Histologi Fungsional. EGC. Jakarta.

Ganong, 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.

Isnaeni, W, 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta

Soeharsono. 2010. Fisiologi Ternak. Widya Padjadjaran. Bandung.