Anda di halaman 1dari 7

Arsitektur Nusantara yang Tanggap Iklim:

Paradigma dalam Penentuan Potensi


Keberlanjutannya
Nur Endah Nuffida
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS, Jurusan Arsitektur
nuffida@arch.its.ac.id

disampaikan dalam Seminar Nasional 111213 SAN-2


Jurusan Arsitektur FTUB Malang

Abstrak
Arsitektur Nusantara menunjuk pada pemahaman yang dibangun berdasarkan konteks
iklim tropis dua musim dan konteks wilayah tertentu yang berada dalam garis
khatulistiwa. Karakteristik arsitektur nusantara yang tanggap iklim akan didefinisikan
dalam tulisan ini sebagai sebuah paradigma dasar untuk membangun pemahaman dan
menilai potensi keberlanjutan konsep arsitektur nusantara nantinya. Beberapa bangunan
tradisional akan digunakan sebagai studi kasus dan metoda pembahasan yang dipilih
dalam pembentukan paradigma ini adalah metoda deskriptif-kualitatif. Analisa terhadap
studi kasus beberapa bangunan tradisional di wilayah Nusantara ini diharapkan dapat
menjadi dasar bagi perumusan paradigma berfikir dalam wilayah keilmuan arsitektur
sebagai pendukung keberlanjutannya dalam konteks ontologis dan aksiologis. Melalui
pengetahuan ilmiah yang kontekstual terhadap karakteristik tempat, dalam hal ini
adalah Nusantara dan potensi iklimnya diharapkan Arsitektur Nusantara menjadi bagian
dari pengetahuan yang membentuk keilmuan arsitektur khususnya arsitektur yang
tanggap terhadap iklim di Indonesia.
Kata kunci: arsitektur nusantara, tanggap iklim, paradigma berfikir, potensi keberlanjutan

PENDAHULUAN
Arsitektur nusantara menunjuk pada pengertian arsitektur yang dibangun berdasarkan
tanggapan terhadap iklim tropis lembab dua musim dan berada pada wilayah tertentu
yang berada dalam lintasan garis khatulistiwa. Pengertian ini penting untuk memberikan
batasan/konteks yang tegas mengingat luasnya cakupan pengertian nusantara, baik dari
sisi sejarah, politik maupun budaya. Terkait dengan pemahaman tersebut di atas, maka
diperlukan paradigma yang dapat memberikan dasar untuk membangun pengetahuan
ilmiah melalui kajian terhadap arsitektur nusantara. Dasar berpikir paradigma sebagai
konteks pembangunan keilmuan yang dikemukakan oleh Radder (1997) menyatakan
bahwa paradigma diperlukan sebagai landasan dalam mengintrepretasi konteks dalam
kurun waktu tertentu, utamanya dalam mengaktualkan atau mengkinikan sebuah
pengetahuan.
Wilayah Indonesia yang berada di sepanjang lintasan garis katulistiwa, merupakan
tempat yang memiliki karakteristik alamiah bagi arsitektur nusantara. Karakteristik
alamiah tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Suhu udara rata-rata yang tinggi, karena arah sinar matahari selalu vertikal dan
intensitas cahaya tinggi. Umumnya suhu udara berkisar antara 20 - 23C, bahkan di
beberapa tempat rata-rata suhu tahunan dapat mencapai 30C;
2. Amplitudo suhu rata-rata tahunan yang kecil. Di katulistiwa antara 1 5C, sedangkan
amplitudo hariannya lebih besar;
3. Tekanan udara yang rendah dengan perubahan secara perlahan dan beraturan;
4. Curah hujan yang relatif tinggi, dengan kecepatan angin bervariasi dan kelembaban
udara tinggi.

Kondisi iklim tropis yang lembab dengan beberapa faktor spesifik yang hanya akan
dijumpai pada iklim tersebut memberikan konsekuensi logis berupa arsitektur yang
spesifik dan kemungkinan besar memiliki penyelesaian berbeda dengan arsitektur
bangunan di wilayah lain yang memiliki perbedaan kondisi iklim.
Arsitektur nusantara dalam konteks kajian ini merupakan arsitektur yang dibangun
berdasarkan tanggapannya terhadap iklim. Arsitektur yang tanggap iklim merupakan
sebuah keniscayaan mengingat kenyataan bahwa arsitektur memiliki persyaratan dasar
berupa tempat beserta seluruh karakteristik alamiahnya termasuk iklim sebagai syarat
keberlangsungannya. Akan tetapi, ranah arsitektur kontemporer Indonesia seakan tidak
atau kurang mengindahkan arsitektur nusantara dalam perancangan bangunan karena
tidak adanya paradigma-paradigma yang menjadi dasar pengkinian dan keberlanjutan
arsitektur nusantara. Oleh karena itu, dengan merujuk pada aspek fungsional (utilitas)
pada arsitektur tradisional Indonesia yang tanggap iklim sebagai landasan idiil, maka
implementasi
pengkinian
arsitektur
nusantara
dapat
menyesuaikan
aspek
tektonis/struktural bangunan dengan paradigma dasar arsitektur tanggap iklim yang
dirumuskan dalam kajian ini
Paparan dalam kajian ini merupakan upaya untuk merumuskan karakteristik dasar
arsitektur nusantara yang tanggap iklim melalui studi kasus beberapa bangunan
arsitektur tradisional di Indonesia. Karakteristik dasar tersebut dapat dikaji dan
disimpulkan sebagai asumsi dasar/paradigma untuk menentukan potensi keberlanjutan
arsitektur nusantara, yaitu melalui sumbangannya terhadap pengetahuan ilmiah yang
kontekstual terhadap karakteristik tempat, dalam hal ini adalah Nusantara dan potensi
iklimnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka merupakan kajian terhadap pustaka tertulis yang menitikberatkan
pada tema yang terkait dengan arsitektur nusantara dan tanggapan arsitektur nusantara
terhadap variabel iklim di lingkungan tropis lembab.
1. Iklim sebagai Elemen Pembentuk Arsitektur
Penelitian yang dilakukan oleh Said dan Aufa (2012) memberikan definisi variabel
iklim sebagai elemen pembentuk arsitektur vernakular, yaitu arsitektur yang
bersifat asli lokal, bukan dari tempat lain. Dalam hal ini perwujudannya berkaitan
sangat erat dengan seluruh kondisi setempat dimana ia tumbuh. Arsitektur
vernakular bisa dilihat sebagai naungan pengendali kenyamanan termal. Dalam hal
ini, Rumah Bubungan Tinggi di Kalimantan, sebuah tipe bangunan adat tradisional
di wilayah tersebut, digunakan sebagai studi kasus. Penelitian ini diakhiri dengan
kesimpulan bahwa bangunan vernakular mempertimbangkan faktor iklim untuk
mencapai kenyamanan termal. Tanggapan tersebut disesuaikan dengan konteks
iklim lokal yaitu pada hal-hal berupa bentuk, material, dan konstruksi; serta elemenelemen pengendali iklim.
2. Arsitektur sebagai Ungkapan Teknologi untuk Menanggapi Iklim
Adaptasi terhadap iklim mempengaruhi penentuan bentuk pada arsitektur
(Rapoport, 1969 dalam Said dan Aufa, 2012). Lebih lanjut Rapoport menguraikan
bahwa aspek mendasar dalam mengatasi permasalahan iklim ada pada
kemampuan masyarakat melakukan pemilihan tapak, material yang sesuai dengan
iklim lokal, menggunakan sumber daya minimum untuk mendapatkan kenyamanan
maksimum, dan adaptasi model tradisional terhadap kondisi iklim. Herniwati (2008),
melakukan penelitian dengan studi kasus pada arsitektur rumah panggung Suku
Kaili (Saoraja) yang ternyata sangat adaptif terhadap iklim tropis lembab. Teknologi
yang ditemukan masyarakat Kaili memberikan pilihan kenyamanan penghuni
dengan pengaliran udara secara bebas, temperatur yang ideal untuk beraktivitas,
dan material lokal yang menjamin ketersediaan dan keberlanjutannya.

Penelitian yang dilakukan Said dan Aufa (2012) dan penelitian yang dilakukan oleh
Suwantara, Damayanti dan Suprijanto (2012) memberikan gambaran pengaruh
iklim terhadap bentuk arsitektur hunian melalui beberapa metode. Pertama, melalui
analisis
terhadap
tipe-tipe
iklim dan relevansi tipe-tipe tersebut dengan
persyaratan bangunan, bentuk, dan material. Kedua, analisa kondisi dan posisi
berbagai tipe hunian dalam rentang skala iklim. Dan ketiga, alternatif desain
arsitektur hunian dalam batasan beberapa kombinasi variabel iklim.
3. Bentuk Arsitektur dan Tanggapan terhadap Iklim
Variabel-variabel iklim seperti temperatur, kelembaban, angin, curah hujan, serta
radiasi
dan
pencahayaan menjadi pertimbangan utama dalam tanggapan
bangunan terhadap iklim (Suwantara, Damayanti dan Suprijanto, 2012).Tanggapan
tersebut bisa dikelompokkan ke dalam faktor-faktor bentuk, material, dan elemen
pengendalinya (Said dan Aufa, 2012). Daerah tropis lembab, dicirikan oleh curah
hujan yang tinggi, kelembaban tinggi, temperatur sedang dengan rentang harian
dan musiman yang kecil, dan intensitas radiasi yang tinggi. Tanggapan yang
diperlukan adalah bentuk yang sesuai dengan konteks tempat dan fungsinya.
Menurut Alexander (1977) dalam Mentayani dan Ikaputra (2012), bentuk yang
bagus itu bukan hanya indah, tetapi juga bisa cocok dengan keadaan sekitarnya,
bukan hanya memikirkan bangunan itu saja, tetapi harus memikirkan konteksnya.
Demikian pula, bentuk yang ada harus memiliki alasan di balik kemunculannya.
When we speak of design, the real object of discussion is not the form alone, but
the ensemble comprising the form and its context. Good fit is a desired property of
this ensemble which relates to some particular division of ensemble into form and
context.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian rasionalistik yang dilakukan secara deskriptifkualitatif, dengan melakukan kajian terhadap literatur untuk membentuk sebuah
landasan konseptual. Landasan konseptual ini kemudian menjadi asumsi dasar atau
paradigma dalam mengkaji data-data empirik. Literatur yang digunakan untuk kajian
arsitektur nusantara yang tanggap iklim adalah penelitian Said dan Aufa (2012) berjudul
Tanggapan terhadap Iklim sebagai Perwujudan Nilai Vernakular pada Rumah
Bubungan dan penelitian yang dilakukan oleh Suwantara, Damayanti dan Suprijanto
(2012) berjudul Karakteristik Termal pada Uma Lengge di Desa Mbawa Nusa
Tenggara Barat. Literatur lain yang digunakan sebagai dasar kajian konseptual tentang
potensi keberlanjutan arsitektur nusantaraadalah hasil penelitian Mentayani dan Ikaputra
(2012) yang berjudul Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah, Unsur dan
Aspek-Aspek Vernakularitas. Said dan Aufa mengulas tanggapan arsitektur tradisional
hunian rumah bubungan tinggi dari sudut pandang iklim di daerah Kalimantan Selatan,
sedangkan Suwantara, Damayanti dan Suprijanto mengulas dari sudut pandang anatomi
keruangan rumah tradisional di hunian Uma Lengge, Nusa Tenggara Barat dan konstruksi
tanggap iklim sebagai hasil tanggapannya. Untuk kajian mengenai dasar pembentukan
paradigma sebagai sudut pandang arsitektur nusantara tanggap iklim dalam paparan ini,
digunakan ulasan Mentayani dan Ikaputra dalam penelitian yang menggali ranah, unsur
dan aspek arsitektur tradisional.
Prosedur penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Tahap perumusan data, yang bersumber pada data dalam literatur.
2. Tahap analisis, meliputi analisis data, secara kualitatif dan grafis. Analisis dilakukan
dengan merumuskan konsep tanggapan terhadap iklim dari segi bentuk, material,

dan elemen-elemen
pengendali termal dan kemudian dilakukan pengkajian
terhadap penerapan konsep-konsep tersebut dalam literatur.
3. Tahap sintesis, atau tahap penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis, yaitu
berupa konsep dan kesimpulan tentang potensi penerapan konsep tersebut dalam
ranah keilmuan arsitektur di masa yang akan datang.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kajian dalam paparan ini diawali dengan terlebih dahulu merumuskan konsep tentang
arsitektur nusantara. Proses perumusan ini didasari atas kajian dari pustaka berupa
penelitian-penelitian sebelumnya. Konsep arsitektur nusantara yang digunakan adalah
rumusan Prijotomo (2012) tentang arsitektur nusantara yaitu arsitektur yang bertempat
di wilayah Nusantara, merupakan arsitektur yang dibangun berdasarkan tanggapan atas
dua musim di lintasan khatulistiwa, memiliki karakter kesetempatan dan kesementaraan,
dibangun dalam konsep naungan dan bukan perlindungan serta memiliki dasar filosofis
terbangun yang berbeda dengan arsitektur Eropa. Arsitektur Nusantara dapat dipahami
sebagai sebuah sistem pengetahuan yang mendasarkan diri pada sistem pengetahuan
yang berakar pada tempat terbangunnya, terutama dari konsep struktur yang tanggap
gempa, dan pemilihan material organik/kayu, berbeda dengan konsep arsitektur Eropa
yang tidak tanggap gempa dan dibangun dengan material batu/anorganik. Rumusan
tanggap iklim dari contoh-contoh arsitektur tradisional yang diteliti dalam kajian ini
merupakan sintesa dari pemahaman yang searas yaitu arsitektur yang dibangun
berdasarkan konteks lokal dengan seluruh karakteristik spesifik, termasuk iklim tropis
lembab di mana arsitektur tersebut terbangun.
Kondisi iklim tropis yang lembab menuntut perlunya syarat-syarat khusus dalam
perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat adanya beberapa faktor
spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tropis. Hal ini memberikan
konsekuensi logis yaitu elemen-elemen arsitektural, seperti komposisi, bentuk, fungsi
bangunan, citra bangunan, dan nilai-nilai estetika bangunan yang terbentuk di daerah
beriklim tropis akan sangat berbeda dengan kondisi bangunan yang ada di wilayah lain
denganiklim berbeda. Rumusan karakteristik arsitektur tanggap iklim dengan studi kasus
beberapa bangunan arsitektur tradisional di Indonesia, dapat dipaparkan sebagai berikut:
Tabel 1. Karakteristik Arsitektur Tanggap Iklim dalam Kategorisasi
Peneliti
Saud, Mohammad Ibnu dan
Aufa,
Naimatul
(2012).
Tanggapan
terhadap
Iklim
sebagai
Perwujudan
Nilai
Vernakular pada Rumah
Bubungan
.
LANTING
Journal
of
Architecture,
Volume 1, Nomer 2, Agustus
2012,
Halaman
106116.ISSN 2089-8916.

Tema
Iklim sebagai
Elemen
Pembentuk
Arsitektur

Karakteristik
Arsitektur vernakular bisa dilihat sebagai
naungan pengendali kenyamanan termal.
Rumah Bubungan Tinggi di Kalimantan, sebuah
tipe bangunan adat tradisional di wilayah
tersebut, digunakan sebagai studi kasus.
Penelitian ini diakhiri dengan kesimpulan
bahwa
bangunan
vernakular,
mempertimbangkan
faktor
iklim
untuk
mencapai kenyamanan termal. Tanggapan
tersebut disesuaikan dengan konteks iklim
lokal yaitu pada hal-hal berupa bentuk,
material dan konstruksi, serta elemen-elemen
pengendali iklim.

Gambar 1. Bagian atap dan teritisan Rumah


Bubungan Tinggi (Sumber: Said dan Aufa,
2012)

Gambar
2.
Potongan
membujur
yang
menunjukkan
elemen-elemen
pengendali
termalpada Rumah Bubungan Tinggi (Sumber:
Said dan Aufa, 2012)

Peneliti
Suwantara,
I
Ketut,
Damayanti, Desak Putu,
dan
Suprijanto,
Iwan
(2012).
Karakteristik
Termal
pada
Uma
Lengge
di
Desa
Mbawa Nusa Tenggara
Barat.DIMENSI (Journal
of Architecture and Built
Environment), Vol. 39,
No. 1, July 2012, 514.ISSN 0126-219X.

Tema
Arsitektur sebagai
Ungkapan
Teknologi
untuk
Menanggapi Iklim

Karakteristik
Adaptasi
terhadap
iklim
mempengaruhi
penentuan bentuk pada arsitektur.

Gambar 3. Uma Lengge (Sumber: Suwantara,


Damayanti, dan Suprijanto, 2012)

Herniwati, Andi (2008).


Penghematan Energi
pada
Arsitektur
Tradisional Suku Kaili
(Rumah
Panggung
Souraja).
Jurnal
SMARTek, Vol. 6, No. 1,
Pebruari 2008: 63 70.
Bentuk

Arsitektur

Saud, Mohammad Ibnu


dan
Aufa,
Naimatul
(2012).
Tanggapan
terhadap
Iklim
sebagai
Perwujudan
Nilai Vernakular pada
Rumah
Bubungan.
LANTING
Journal
of
Architecture, Volume 1,
Nomer 2, Agustus 2012,
Halaman 106-116. ISSN
2089-8916.

dan
Tanggapan
terhadap Iklim

Gambar 4. Rumah Souraja dan sirkulasi angin


pada daerah atap (Sumber: Suwantara,
Damayanti, dan Suprijanto, 2012)

Gambar 5. Potongan melintang ruang atap utama (Sumber:


Saud dan Aufa, 2012)
Variabel iklim berupa temperatur, kelembaban,
angin, curah hujan, serta radiasi dan
pencahayaan menjadi pertimbangan utama
dalam tanggapan bangunan terhadap iklim.
Tanggapan tersebut bisa dikelompokkan ke
dalam faktor-faktor bentuk, material, dan
elemen pengendalinya

KESIMPULAN
Karakteristik dasar arsitektur tanggap iklim yang ditemukan pada beberapa contoh
arsitektur tradisional Indonesia dalam beberapa literatur adalah naungan dan pengendali
kenyamanan termal. Variabel iklim yang menjadi pertimbangan adalah temperatur,
kelembaban udara, kecepatan angin, radiasi sinar matahari, dan curah hujan. Tanggapan
tersebut pada arsitektur diwujudkan melalui bentuk, pemilihan material, dan rancangan
elemen-elemen pengendali iklim. Dapat disimpulkan bahwa temuan dari kajian teoritis
dalam paparan ini adalah nilai adaptif dan fleksibel terhadap tempat sebagai dasar
berarsitektur di wilayah tropis lembab seperti Indonesia. Selanjutnya, diharapkan konteks
adaptif dan fleksibel tersebut sebagaimana yang ditemukan melalui kajian terhadap
bangunan arsitektur tradisional di Indonesia dalam penelitian ini dapat menjadi asumsi
dasar/paradigma bagi penentuan potensi keberlanjutan arsitektur nusantara yang
tanggap iklim dalam konteks kekinian.

DAFTAR PUSTAKA
Hans, Radder (1997). Philosophy and History of Science : Beyond the Kuhnian
Paradigm. Stud.Hist.Phil.Sci.,Vol.28, No.4, pp.633-655,1997.Elsevier Science Ltd.
Great Britain.

Herniwati, Andi (2008). Penghematan Energi pada Arsitektur Tradisional Suku


Kaili (Rumah Panggung Souraja). Jurnal SMARTek, Vol. 6, No. 1, Pebruari 2008:
63 70.
Mentayani, Ira dan Ikaputra (2012). Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah,
Unsur dan Aspek-Aspek Vernakularitas. LANTING Journal of Architecture,
Volume 1, Nomer 2, Agustus 2012, Halaman 68-82. ISSN 2089-8916
Prijotomo, Josef (2012). Membongkar Ketololan dan Kemalasan dalam menuju
Arsitektur Indonesia. ProsidingSeminar Nasional 12.12.12 Semesta Arsitektur
Nusantara (SAN) I: Ruang Bersama Nusantara untuk Kehidupan yang Lebih Baik.
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Malang, 12 Oktober 2012.
Saud, Mohammad Ibnu dan Aufa, Naimatul (2012). Tanggapan terhadap Iklim sebagai
Perwujudan Nilai Vernakular pada Rumah Bubungan. LANTING Journal of
Architecture, Volume 1, Nomer 2, Agustus 2012, Halaman 106-116. ISSN 20898916.
Suwantara, I Ketut, Damayanti, Desak Putu, dan Suprijanto, Iwan (2012). Karakteristik
Termal pada Uma Lengge di Desa Mbawa Nusa Tenggara Barat. DIMENSI
(Journal of Architecture and Built Environment), Vol. 39, No. 1, July 2012, 5-14. ISSN
0126-219X.