Anda di halaman 1dari 22

Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.

cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

EKSPERIMEN HUKUM PEMANTULAN FRESNEL

LAPORAN EKSPERIMEN FISIKA II


Diajukan guna memenuhi tugas praktikum Eksperimen Fisika II untuk Mahasiswa
Fisika Semester VI

Oleh
ABDUS SOLIHIN

LABORATORIUM OPTOELEKTRONIKA DAN FISIKA MODERN


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2010
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberi sangat
banyak kenikmatan kepada makhluknya, sehingga dengan kenikmatan tersebut
hamba ini mampu menyelesaikan tulisan ini. Shalawat dan salam tetap
tercurahkan kepada Rasullullah Muhammad SAW yang telah menyampaikan
risalah kebaikan akhlak, keobjektifan berpikir, dan kemaksimalan humanisme
lewat ayat-ayat Qur’aniah yang dibawanya berupa Al-Qur’an, Al-Hadits, dan
peluang kemajuan yang berupa ayat-ayat kauniah.
Salah satu dari sedemikian banyaknya ayat kauniah tersebut adalah
fenomena polarisasi cahaya yang secara garis besar dirangkum dalam fakta sains
berupa hukum Malus. Diharapkan eksperimen ini dapat menambah kerangka
filosofis bagi penulis, dan semoga juga bagi pembaca, guna kemaksimalan nilai-
nilai kemanusiaan kita dihadapan sesama dan dihadapan Sang Pencipta.
Demikian kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:
1. Ketua Jurusan Fisika: Bpk. Dr. Edy Sutrisno
2. Dosen pembimbing praktikum: Bpk. Misto, M.Si; Ibu Mutmainnah, M.Si,
dan Bpk Supriyadi, S.Si
3. Asisten pembimbing

Sebagaimana pri-bahasa “tak ada gading yang tak retak”, maka penulis
mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan tulisan selanjutnya. Penulis
ucapkan terimakasih banyak atas perhatiannya.

Penulis,

ABDUS SOLIHIN
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

ABDUS SOLIHIN
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Jember
email: elhobela@gmail.com

ABSTRAK

Intensitas merupakan banyaknya energi foton dalam suatu luasan


tertentu pe satuan waktu. Sifat intensitas cahaya ini berhubungan dengan sifat
polarisasi pada gelombang. Dalam eksperimen ini dilakukan pendekatan hukum
pemantulan Fresnel untuk mengidentifikasi sifat polarisasi cahaya. Pendekatan
hukum pemantulan Fresnel tersebut berhubungan dengan sudut yang terbentuk
antara sinar datang sumber cahaya dan sinar pantul kristal(dalam percobaan ini
digunakan kaca dan akrilik) yang menuju posisi analiser atau fotometer. Agar
data hasil lebih smooth, maka digunakan sudut acuan awal 45 dan digunakan
dua perlakuan dalam eksperimen ini. Kedua perlakuan tersebut meliputi
penempatan kristal secara sejajar (paralel) dengan sumber cahaya masuk dan
penempatan kristal secara tegak lurus (sudut tertentu) dengan sumber cahaya
masuk. Dari data yang diperoleh didapatkan grafik hubungan antara sudut
datang dengan perbandingan antara intensitas cahaya masukan dan keluaran
yang cenderung memberikan pola nilai maksimum tertentu dan nilai minimum
tertentu di sisi-sisi yang lain (pola menggunung). Diketahui pula bahwa
perbandingan antara nilai indeks bias kaca dan akrilik dapat diketahui dari data
bahwa nilai reflektansi dari akrilik lebih besar dari pada reflektansi pada kaca
dan nilai transmisivitas akrilik lebih kecil dari pada cahaya yang diteruskan pada
kaca.

Kata Kunci: Indeks Bias, Hukum Pemantlan Fresnel, Polarisasi,


Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Polarisasi adalah proses pembatasan gelombang vektor yang
membentuk suatu gelombang transversal sehingga menjadi satu arah. Tidak
seperti interferensi dan difraksi yang dapat terjadi pada gelombang transversal dan
longitudinal, efek polarisasi hanya dialami oleh gelombang transversal. Cahaya
dapat mengalami polarisasi menunjukkan bahwa cahaya termasuk gelombang
transversal. Pada cahaya tidak terpolarisasi, medan listrik bergetar ke segala arah,
tegak lurus arah rambat gelombang. Setelah mengalami pemantulan atau
diteruskan melalui bahan tertentu, medan listrik terbatasi pada satu arah.
Polarisasi dapat terjadi karena pemantulan pada cermin datar, absorpsi selektif
dari bahan polaroid, dan bias kembar oleh kristal.
Dalam eksperimen ini dilakukan pendekatan hukum pemantulan
Fresnel untuk mengidentifikasi sifat polarisasi cahaya. Pendekatan hukum
pemantulan Fresnel tersebut berhubungan dengan sudut yang terbentuk antara
sinar datang sumber cahaya dan sinar pantul kristal(dalam percobaan ini
digunakan kaca dan akrilik) yang menuju posisi analiser atau fotometer. Agar data
hasil lebih smooth, maka digunakan sudut acuan awal 45 dan digunakan dua
perlakuan dalam eksperimen ini. Kedua perlakuan tersebut meliputi penempatan
kristal secara sejajar (paralel) dengan sumber cahaya masuk dan penempatan
kristal secara tegak lurus (sudut tertentu) dengan sumber cahaya masuk.
Pengembangan aplikatif dari polarisasi cahaya banyak memberikan
manfaat. Manfaat tersebut meliputi banyak bidang dalam kehidupan manusia,
misalnya dalam aplikasi dalam pengunaan kaca mata 3 dimensi dalam bidang
visual effect perfileman, kaca mata pelindung efek sinar ultra violet, bahan kristal
kalsit dan kuarsa dalam bidang fisika zat padat, dan lain sebagainya. Mengingat
sedemikian banyaknya manfaat aplikatif dari pengembangan sifat polarisasi
cahaya, maka eksperimen ini menjadi penting untuk dilakukan.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari eksperimen ini adalah,
1. Bagaimana grafik hubungan antara intensitas cahaya terpolarisasi maupun tak
terpolarisasi terhadap sudut θ dan hubungannya dengan nilai reflektansi?
2. Berapa besar sudut Brewster 𝑏 untuk gelas dan akrilik?
3. Bagaimana perbandingan nilai indeks bias pada gelas dan akrilik?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut diatas maka tujuan eksperimen polarisasi dengan
menggunakan konsep hukum pemantulan Fresnel terdiri atas:
1. Mengetahui grafik hubungan antara intensitas cahaya terpolarisasi maupun tak
terpolarisasi terhadap sudut θ dan hubungannya dengan nilai reflektansi.
2. Mengetahui besar sudut Brewster 𝑏 untuk gelas dan akrilik.
3. Membandingkan pengaruh sifat dari kristal kaca dan akrilik terhadap indeks
bias atau polarisasi yang terbentuk.

1.4 Manfaat
Mengingat eksperimen ini memiliki manfaat dan kegunaan yang sangat luas
dalam banyak bidang kehidupan manusia, misalnya aplikasi pada kacamata sun
glass, fiber glass yang pada umumnya digunakan sebagai penghalang sinar UV,
selain itu juga terdapat pada sinar lampu, dan banyak lagi. Maka eksperimen ini
dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan pengambangan dalam bidang optika
untuk kemajuan dan penemuan lebih lanjut.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Polarisasi merupakan proses pembatasan getaran vektor yang membentuk


suatu gelombang transversal sehingga menjadi satu arah. Polarisasi hanya terjadi
pada gelombang transversal saja dan tidak dapat terjadi pada gelombang
longitudinal. Suatu gelombang transversal mempunyai arah rambat yang tegak
lurus dengan bidang rambatnya. Apabila suatu gelombang memiliki sifat bahwa
gerak medium dalam bidang tegak lurus arah rambat pada suatu garis lurus,
dikatakan bahwa gelombang ini terpolarisasi linear. Sebuah gelombang tali
mengalami polarisasi setelah dilewatkan pada celah yang sempit. Arah bidang
getar gelombang tali terpolarisasi adalah searah dengan celah. (Krane, 1992: 334-
335)
Polarisasi cahaya yang dipantulkan oleh permukaan transparan akan
maksimum bila sinar pantul tegak lurus terhadap sinar bias. Sudut datang dan
sudut pantul pada saat polarisasi maksimum disebut sudut Brewster atau sudut
polarisasi (iP). Berdasarkan hukum Malus, intensitas polarisasi dapat
digambarkan sebagai berikut:

(2.1)

Cahaya merupakan salah satu dari gelombang elektromagnetik yang


berosilasi secara transversal yang merupakan salah satu sifat unik yang dimiliki
oleh cahaya tersebut dan tidak dimiliki oleh gelombang pada umumnya, maka
dalam cahaya akan terjadi gejala difraksi serta interferensi didalamnya. Seperti
yang telah diketahui bahwa difraksi merupakan suatu gejala penyebaran arah yang
dialami oleh seberkas gelombang pada saat melewati celah sempit dibandingkan
dengan ukuran panjang gelombangnya. Inteferensi merupakan akibat bersama
yang ditimbulkan oleh beberapa gelombang cahaya, yang diperoleh dengan cara
menjumlahkan gelombang-gelombang tersebut. (Soedojo, 1992: 78)
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

Polarisasi cahaya dibedakan atas tiga macam diantaranya adalah, cahaya


dikatakan mempunyai polarisasi linier apabila medan listriknya berosilasi
(bergetar) pada suatu garis lurus. Jika ujung vektor medan listriknya bergerak
pada suatu elips, maka cahayanya dikatakan terpolarisasi eliptik. Jika ujung
vektor medan listriknya bergerak pada suatu lingkaran, maka cahayanya dikatakan
terpolarisasi lingkaran. (Sutrisno, 1984: 114-115)
Polaroid adalah device (peralatan) yang mempunyai sifat mirip dengan
kawat sejajar untuk gelombang mikro. Device ini memiliki semacam lubang garis
memanjang yang memiliki kelebaran cukup kecil. Komponen medan listrik
disepanjang lubang diserap, dan komponen arah tegak lurus lubang diteruskan
dengan redaman sangat kecil. Jadi polaroid memiliki sumbu dalam bidangnya,
jika medan listrik gelombang cahaya sejajar dengan sumbu ini, maka cahaya
diteruskan dengan redaman sangat kecil. Dengan menggunakan dua buah
polaroid, cahaya keluaran akan lebih smooth. Polaroid pertama berfungsi untuk
menciptakan cahaya menjadi terpolarisasi linier, sehingga sering disebut dengan
plarisator. Polaroid kedua digunakan untuk menganalisa arah atau macam
polarisasi yang dihasilkanoleh polaroid pertama, sehingga disebut analisator.
(Bahrudin, 2006: 237)
Dalam hukum Pemantulan fresnel, suatu polarisasi yang sempurna akan
menghasilkan 50% intensitas cahaya tak terpolarisasi yang datang. Dianggap
bahwa tidak ada cahaya yang hilang oleh pantulan – pantulan dan rantai- rantai
hidrokarbon didalamnya benar-benar sejajar. Anggaplah bahwa komponen
polarisasi yang tidak diinginkan seluruhnya dapat diserap, sedangkan komponen
polarisasi yang diinginkan seluruhnya diteruskan. Jika suatu cahaya terpolarisasi
linier dijatuhkan tegak lurus terhadap polaroid, sedang arah polarisasi membuat
sudut θ dengan sumbu mudah polaroid, maka amplitudo yang diteruskan dadalah
sebesar proyaksi medan listrik pada sumbu mudah. Akibatnya intensitas cahaya
yang diteruskan menjadi :
𝐼0 = 𝐼𝑚 cos  2
(2.2)
Persamaan tersabut diatas dikenal dengan persamaan hukum Pemantulan fresnel
(Sutrisno, 1984: 119).
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

Bias ganda merupakan sifat yang dimiliki beberapa Kristal tertentu


(terutama kalsit) untuk membentuk dua sinar bias dari suatu sinar datang tunggal.
Sinar bias (ordinary ray) mengikuti hukum-hukum pembiasan normal. Sinar bias
lain, yang dinamakan sinar luar biasa (extraordinary ray), mengikuti hukum yang
berbeda. Kedua sinar tersebut bergerak dengan kelajuan yang sama, di mana
cahaya sinar biasa terpolarisasi tegak lurus terhadap cahaya sinar luar biasa.
Pada saat sebuah polarizer di letakkan di depan cahaya pantul, maka dapat
divariasi gelombang pantul menjadi dua bagian yakni gelombang yang sejajar
dengan bidang datang dan gelombang yang tegak lurus bidang datang. Dengan
memutar polarizer 90o maka kita telah memilih komponen Eo yang sejajar bidang
datang. Sebaliknya, ketika sudut polarisasi di ubah menjadi 00 vertikal maka akan
didapatkan komponen Eo yang tegak lurus dengan bidang datang.
Dengan persaman Snellius, dimana:
sin  n2
  n 1 2 , (2.3)
sin  n1

maka persamaan Rpardan Rtran menjadi:

 n 1 2 cos   n 1 2  sin 
2 2 2

R par 
n 1 2 cos   n 1 2  sin 
2 2 2

(2.4)

cos   n 1 2  sin 
2 2

R tran  (2.5)
cos   n 1 2  sin 
2 2

dengan n1→2 = n2 /n1,dimana n1 indek bias medium 1 (udara) dan n2 indeks bias
medium 2 (gelas atau akrilik). Pada saat θ sangat kecil atau gelombang datang
mendekati arah normal maka diperoleh   0 dan   0 (cahaya normal),
sehingga,
sin(  -θ) ~ tan (  - θ ) ~ (  - θ ) (2.6)
maka hukum Fresnel menjadi:
1 1

  n2 n1 n1  n 2
R par ~ Rtran ~ ~  , (2.7)
  1

1 n1  n 2
n2 n1
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

sehingga intensitas gelombang refleksinya adalah


2
Ir  n  n2 
   1 
2
R 0 0  (2.8)
Ii  n1  n 2 

~ 0.04 pada batas antara udara dan gelas.


Kondisi yang mendefinisikan sebuah besaran yang disebut sudut Brewster
atau sudut polarisasi Brewster θB, yaitu ketika θ dan  merupakan sudut-sudut

komplemeter. Dimana cos  B  sin  maka:


n1 sin  B  n 2 sin   n 2 cos  B (2.9)
Dan,
tan  B  n 2 / n 1 (2.10)
Hamburan didefinisikan sebagai suatu peristiwa penyerapan dan
pemancaran kembali suatu gelombang cahaya oleh partikel. Fenomena yang
menerapkan prinsip ini antara lain warna biru pada langit dan warna merah yang
terlihat ketika Matahari terbenam. Penghamburan cahaya oleh atmosfer bumi
bergantung pada panjang gelombang ( λ ). Untuk partikel-partikel dengan panjang
gelombang yang jauh dari panjang gelombang cahaya, misalnya molekul udara,
hal itu tidak menjadi rintangan yang terlalu besar bagi λ yang panjang
dibandingkan dengan λ yang pendek. Penghamburan yang terjadi berkurang
menurut ¼ . Matahari memberikan sinar putih yang dihamburkan oleh molekul
udara ketika memasuki atmosfer bumi. Sinar biru dihamburkan lebih banyak
daripada warna lain, sehingga langit tampak berwarna biru. Ketika Matahari
terbenam, berada di kerendahan langit, cahaya dari akhir spektrum biru
dihamburkan. Matahari terlihat berwarna kemerahan karena warna dari akhir
spektrum lewat ke mata kita, tetapi warna biru lolos. Proses penghamburan yang
terjadi menjelaskan polarisasi cahaya langit.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang dipergunakan dalam eksperimen hukum pembiasan Fresnel
ini meliputi:
1. Sumber cahaya biasa/incandescent light source (OS-9102B) berfungsi sebagai
sumber cahaya yang akan digunakan dalam eksperimen hukum pemantulan
Fresnel .
2. Angular Translator (OS-9106A) memiliki fungsi sebagai tempat meletakkan
analizer. Alat ini dapat digeser dengan sudut-sudut tertentu yang dapat
detentukan dengan mudah nilai-nilainya berdasar satuan nilai derajat yang
terletak melingkar disekitar alat ini.
3. Tiga buah holder (OS9107) berfungsi sebagai tempat meletakkan, polarizer,
analizer dan rhetarder.
4. Meja optik berfungsi sebagai tempat meletakkan semua peralatan yang akan
digunakan dalam eksperimen hukum pemantulan Fresnel.
5. Layar pengamatan (OS-9138) berfungsi sebangai tempat mengamati hasil
keluaran.
6. Kristal batas pertama merupakan bidang yang akan dicari nilai reflektansinya,
nilai sudut Brewster, serta nilai indeks bias mediumnya. Dalam hal ini
dipergunakan gelas.
7. Kristal batas kedua merupakan bidang yang akan dicari nilai reflektansinya,
nilai sudut Brewster, serta nilai indeks bias mediumnya sebagai pembanding
Kristal batas pertama. Akrilik dipergunakan sebagai kristal batas kedua ini
karena sifatnya yang berbeda dengan kaca.
8. Dua buah polarizer (OS-9109) berfungsi untuk menciptakan cahaya menjadi
terpolarisasi.
9. Photometer (OS-912B) berfungsi sebagai pengukur besarnya intensitas cahaya
yang dihasilkan.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

3.2 Langkah Kerja


Langkah kerja yang dilakukan dalam eksperimen polarisasi cahaya dengan
menggunakan konsep hukuk pemantulan Fresnel ini meliputi:
3.2.1 Perlakuan Pada Bidang Gelas
a. Posisi cahaya tegak lurus bidang datang:
1. Peralatan disusunan seperti pada gambar 3.2.1

Gambar 3.2.1 : Susunan Eksperimen Hukum Pemantulan Fresnel


Sumber gambar modul eksperimen fisika 2
2. Sumber cahaya biasa di letakkan pada ujung bangku optik. Bidang
gelas di letakkan pada holder dan gabungan tersebut di letakkan di
atas translator anguler, posisi gelas di atur sehingga berkas cahaya
datang tegak lurus permukaan gelas. Bagian depan bidang gelas
harus berimpit dengan pusat sudut anguler dan tanda nol pada
translator dan sejajar dengan arah cahaya datang.
3. Layar di letakkan pada holder dan berkas cahaya terusan di amati.
layar di pindahkan dan berkas cahaya terusan di amati dengan
menggunakan fotometer.
4. Posisi pada translator anguler di atur sehingga berkas cahaya datang
dan garis normal membentuk sudut minimum yang bisa didapatkan.
Posisi fotometer di atur dan intensitas cahaya pantul di catat.
5. Polarizer (sebagai analyzer) di letakkan di depan fotometer dan di
atur agar sumbu 0o vertikal (tegak lurus bidang datang). Intensitas
cahaya pantul (Ir) pada fotometer di amati dan catat.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

6. sudut translator anguler di ubah sebesar 10o dari sudut minimum


yang sudah tentukan sebelumnya. Intensitas cahaya pantulnyadi
catat.
0
7. Sudutnya di naikkan dan Ir di catat sampai posisi sudut 90 (anda
mengamati cahaya datang Io).
b. Posisi cahaya paralel/sejajar bidang datang (Sudut Brewster, θB):
8. Pada bagian ini akan diketahui intensitas pantulan cahaya paralel
terhadap bidang datang. Polarisator (analiser di depan fotometer) di
Putar pada sudut 900. Dalam keadaan ini cahaya yang ditransmisikan
oleh analiser paralel terhadap bidang datang.
9. Langkah selanjutnya di lakukan seperti pada percobaan nomor 4, 5,
6, dan nomor 7.
3.2.2 Bidang Akrilik
Langkah eksperimen di lakukan sama seperti pada saat menggunakan bidang
gelas hanya saja bidang diubah dengan menggunakan bidang akrilik.

3.3 Metode Analisis


3.3.1 Tabel data hasil pengamatan untuk bidang gelas dan juga akrilik
Sudut (θ) Intensitas Ir/Io
0 …
10 …
20 …
30 …
40 …
50 …
60 …
70 …
80 …
90 …
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

3.3.2 Rumus dan ralat yang digunakan


a. Indeks Bias
2
𝐼𝑟
−1
𝐼0
𝑛2 = − 2
𝐼𝑟
+1
𝐼0

2 2
𝑁 Σ𝑛21 − Σ𝑛21
𝛥𝑛2 =
𝑁 𝑁−1

𝑛2 = (𝑛2 𝐼 𝛥𝑛2 )𝑙𝑛𝑋


b. Sudut brewster (θB)
𝑛2
tan 𝜃𝐵 =
𝑛1
𝑛2
𝜃𝐵 = 𝑡𝑎𝑛−1
𝑛1
Δ𝑛2
Δ𝜃𝐵 = 𝜃𝐵
𝑛1
3.3.3 Dari grafik diperoleh

𝐼𝑟
𝐼0

y = mx+c

ralat grafik
𝐼𝑟 2 1
𝜎2 𝐼0
= 𝑛−2
𝑦𝑖 − 𝑐 − 𝑚𝑥 2

𝐼 2
𝑁𝜎 𝑟
2 𝐼0
𝜎 𝑚= Δ

𝐼𝑟 2 Σ𝑥 𝑖 2
𝜎2𝑐 = 𝜎 𝐼0 Δ

Dimana :
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

𝑁 Δ𝑥 𝑖 𝑦 𝑖 − 𝑥𝑖 𝑦𝑖
Δ=𝑚= (𝑁 𝑥𝑖 2 − 𝑥𝑖 2 )

3.3.4 Gambar eksperimen

Gambar 3.2.1 : Susunan Eksperimen Hukum Pemantulan Fresnel


Sumber gambar modul eksperimen fisika 2
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dari eksperimen yang dilakukan, diperoleh data-data sebagai berikut:

1. Data percobaan hukum Fresnel dengan posisi kaca tegak lurus.

Teta () I (lux)


5 0
10 0.02
15 0.04
20 0.04
25 0.04
30 0.04
35 0.02
40 0
45 0
50 0

Gambar 4.1 Grafik percobaan dengan posisi kaca tegak lurus


2. Data percobaan hukum Fresnel dengan posisi kaca paralel (sejajar).

Teta () I (lux)


5 0
10 0
15 0.02
20 0.04
25 0.02
30 0.02
35 0
40 0
45 0
50 0

Gambar 4.1 Grafik percobaan dengan posisi paralel (sejajar)

Nilai sudut brewster ( brewster) = 0.785398163

Reflektansi yang terbentuk = 1.00028


Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

3. Data percobaan hukum Fresnel dengan posisi Akrilik tegak lurus.


Teta () I (lux)

5 0
10 0
15 0.02
20 0.04
25 0.06
30 0.06
35 0.04
40 0.02
45 0
50 0

Gambar 4.3 Grafik percobaan dengan posisi Akrilik tegak lurus

4. Data percobaan hukum Fresnel dengan posisi Akrilik parallel (sejajar).


Teta () I (lux)

5 0
10 0
15 0
20 0.02
25 0.04
30 0.04
35 0.02
40 0
45 0
50 0

Gambar 4.4 Grafik pada cahaya biasa dengan pembatas

Nilai sudut brewster ( brewster) = 0.994837674


Reflektansi yang terbentuk = 1.00028
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

4.2 Pembahasan
Dalam eksperimen ini, dilakukan pengamatan dan analisa terhadap sifat-
sifat polarisasi. Sifat-sifat polarisasi tersebut meliputi 4 variabel pengamatan yaitu
terhadap percobaan hukum Fresnel dengan posisi Akrilik parallel (sejajar), posisi
akrilik tegak lurus, percobaan hukum Fresnel dengan posisi kaca paralel (sejajar),
dan posisi kaca tegak lurus. Perlakuan terhadap 4 variabel ini untuk mengamati
sifat polarisasi terhadap pengaruhnya pada jenis cahaya dan terhadap ada tidaknya
pengaruh posisi sudut dan jenis bahan.
Dari data yang diperoleh didapatkan grafik hubungan antara sudut datang
dengan perbandingan antara intensitas cahaya masukan dan keluaran yang
cenderung memberikan pola nilai maksimum tertentu dan nilai minimum tertentu
di sisi-sisi yang lain (pola menggunung). Pola tersebut dapat teramati misalnya
pada gambar 4.1 hingga 4.4 pada sub-bab 4.1 diatas. Hal ini dapat terjadi karena
konsep polarisasi yang hanya meneruskan sebagian gelombang transversal yang
melewati sifat-sifat bahan yang Polaroid. Sehingga, adanya grafik yang tidak
linear tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi dari sifat polarisasi hukum
Fresnel sendiri, yaitu polarisasi yang diunculkan akibat adanya pembiasan atau
reflektansi dan transmisivitas gelombang. Dan tentunya hal ini juga berhubungan
nilai-nilai persamaan gelombang dan E.
Sedangkan sudut Brewster yang terbentuk diketahui bernilai 0.785398163
dan 0.994837674. Hal tersebut didapatkan karena hubungan antara besarnya
intensitas relatif (Ir/Io) terhadap sudut datang (θ), baik untuk cahaya tegak lurus
terhadap bidang datang maupun untuk cahaya paralel terhadap bidang datang
untuk setiap bahan yang digunakan. Dalam hal ini, bahan kristal yang digunakan
dalam eksperimen pemantulan hukum Fresnel adalah gelas dan bidang akrilik.
Perbandingan antara nilai indeks bias kaca dan akrilik dapat diketahui dari
dta yang diperoleh bahwa nilai reflektansi dari akrilik lebih besar dari pada
reflektansi pada kaca. Hal ini tentunya berpengaruh secara terbalik pada nilai
transmisivitas, dimana nilai transmisivitas akrilik lebih kecil dari pada cahaya
yang diteruskan pada kaca. Hal tersebutlah yang menyebabkan adanya perbedaan
pola polarisasi antara perlakuan pada kaca dan akrilik dalam eksperimen ini.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada eksperimen indeks bias gelas dan akrilik:
1. Grafik hubungan antara sudut datang dengan perbandingan antara intensitas
cahaya masukan dan keluaran yang cenderung memberikan pola nilai
maksimum tertentu dan nilai minimum tertentu di sisi-sisi yang lain (pola
menggunung).
2. Nilai sudut Brewster yang terbentuk dalam eksperiman ini diketahui bernilai
0.785398163 untuk kaca dan 0.994837674 untuk akrilik.
3. Perbandingan antara nilai indeks bias kaca dan akrilik dapat diketahui dari
data bahwa nilai reflektansi dari akrilik lebih besar dari pada reflektansi pada
kaca dan nilai transmisivitas akrilik lebih kecil dari pada cahaya yang
diteruskan pada kaca.

5.2 Saran
Untuk mendapatkan data yang lebih smooth, ada beiknya memeriksa kalibrasi
awal, khususnya yang berhubungan dengan kesejajaran antara posisi plaroid
pertama, Polaroid kedua, sumber cahaya, dan layar pengamatan.
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

DAFTAR PUSTAKA

A, Artoto & R, Lutfi. 2007. OPTIKA. Jakarta: Universitas Terbuka


Bahrudin, Drs. MM. 2006. Kamus Fisika Plus. Epsilon Group: Bandung

Halliday, Resnick.1986. Fisika jilid 2 edisi ketiga. Erlangga: Jakarta


Jurusan Fisika Fakultas FMIPA Universitas Jember. 2006. Buku Panduan
Eksperimen Fisika II (MAF 325). Lab Optoelektronik Fisika FMIPA
UNEJ: Jember
Soedojdo, Peter. 1992. Asas-Asas Fisika Optika. Universitas Gadjah Mada Press:
Yogyakarta
Tipler, Paul A.2001. Fisika untuk sains dan teknik jilid 2. Erlangga : Jakarta
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA
Download Free e-books Fisika di http://www.elhobela.co.cc
Persembahan Web-blog Edukasi ELHOBELA

PROFIL PENULIS

Nama : Abdus Solihin


T.T.L : Probolinggo, 31 Januari 1989
Website : http://www.elhobela.co.cc
Email : elhobela@gmail.com

Pendidikan Formal:
1. TK Kemala Bahyangkari
2. SDN Sebaung III, lulus thn. 2001
3. SMPN 1 Gending, lulus thn. 2004
4. Jurusan Ilmu Alam SMAN 1 Gending, lulus thn. 2007
5. Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Jember, sedang ditempuh.
Pendidikan Informal:
1. Santri Masjid Fathullah Sebaung-Gending, thn. 2001-2004
2. Lembaga Bimbingan Belajar PRIMAGAMA, thn. 2006-2007
3. TOEFL Preparation Course 1 UPT of Language UNEJ, thn. 2008
Pengalaman:
1. Pramuka, thn. 2001
2. Seksi Keagamaan OSIS SMAN 1 Gending, thn. 2004-2007
3. Sekretaris 2 Forum Anak Kabupaten Probolinggo (dibawah naungan LPA
dan BAPPEDA Kab. Probolinggo), thn. 2005-2006
4. Perumus & Tim soal Olimpiade Fisika Tingkat SMA se-Jawa Timur,
FMIPA UNEJ, thn.2009
5. Seksi Acara sekaligus Moderator Seminar Nasional Teknologi Robotika
FMIPA UNEJ tahun 2009
6. Fasilitator Seminar "Temu Bocah" yang diselenggarakan LPA (Lembaga
Perlindungan Anak) Kab. Probolinggo, Agustus 2009.
7. Peserta Technical Assistance “Perancangan Media Promosi Berbasis
Teknologi Informasi dan Media Massa” Universitas Jember, 19-30 April
2010.
8. Beberapa seminar-seminar lokal, Nasional, dan Internasional.
Prestasi:
1. Sepuluh besar nilai tertinggi Ujian Akhir Nasional SMPN 1 Gending tahun
2004
2. Juara Harapan lomba Apresiasi & Baca Puisi Tingkat Kabupaten
Probolinggo tahun 2006
3. Peserta English Debating Competition se-Kota dan Kabupaten
Probolinggo tahun 2007
4. Juara Harapan 1 Kompetisi Esai Ekonomi Islam Tingkat Mahasiswa se-
Jawa Timur tahun 2009
5. Juara 3 "Agribusiness Blog Competition" Tingkat Nasional, Agustus 2009
6. Pemenang Alnect Computer Blog Contest Yogyakarta, thn. 2009
7. Finalis Lomba Karya Kreatif Inovatif Mahasiswa UNEJ Bidang GKI