Anda di halaman 1dari 24

1

catatan penterjemah:
Bismillahirrahmaanirrahiim….
Artikel berikut ini merupakan kutipan dari e-book Harun Yahya
berjudul 24 HOURS IN THE LIFE OF A MUSLIM, yang kemudian saya
terjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Untuk menghindari
kesalahan dan bias dalam menterjemahkan arti ayat Al-Qur’an yang
berbahasa Inggris dalam artikel aslinya, maka InsyaAllah untuk
seluruh arti ayat Al-Qur’an yang tertera disini, saya melihat langsung
kepada Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama Republik
Indonesia.
P.S. : kritik, koreksi dan saran mohon disampaikan melalui message di
Scribd saya.
^_^ Semoga bermanfaat
Kumpulan e-book Harun Yahya bisa di-download di
www.harunyahya.com

Pendahuluan

Seorang mukmin menjalani kehidupannya sesuai dengan


Al-Qur’an dan bermujahadah (berusaha sekuat tenaga) untuk
menerapkan isi Al-Qur’an yang telah ia baca dan pelajari.
Didalam segala hal yang ia lakukan, mulai dari bangunnya di
pagi hari hingga ketika ia menutup mata di malam hari, seorang
mukmin akan berfikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan
ajaran Al-Qur’an. Allah menyatakan didalam Al-Qur’an bahwa
perilaku yang penuh dengan ketaatan ini mendominasi seluruh
kehidupan seorang mukmin.
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam
(Surat Al-An’am: 162).
Namun sebagian manusia berfikir bahwa agama semata-
mata terdiri dari ibadah ritual yang dilakukan pada waktu-waktu
tertentu saja - bahwa hidup terbagi kedalam waktu untuk
beribadah dan waktu lainnya. Mereka berfikir tentang Allah dan
kehidupan akhirat hanya pada saat mereka shalat, puasa,
2

memberikan sedekah atau naik haji ke Mekah. Di waktu lainnya


mereka terfokus pada bisnis dunia. Kehidupan di dunia ini bagi
mereka seperti “unpleasant rat-race”. Orang-orang seperti ini nyaris
jauh dari Al-Qur’an dan memiliki tujuan hidup, pemahaman
mengenai moralitas serta nilai-nilai tersendiri. Mereka tidak
memahami sedikit pun apa yang diajarkan Al-Qur’an.
Seorang yang menerapkan pembelajaran dari Al-Qur’an
dan mengikuti Sunah Rasulullah SAW sebagai prinsip hidupnya
tentu akan menjalani kehidupan dengan cara berbeda dengan
seseorang tanpa prinsip ini. Orang yang mengikuti Al-Qur’an dan
Sunnah akan selalu ingat bahwa Allah telah menentukan segala
sesuatu didalam hidupnya, sehingga ia menjalani hidup dengan
bertawakal kepada Allah SWT. Oleh karenanya, seorang mukmin
menyadari bahwa ia tidak seharusnya cemas, sedih, takut,
khawatir, pesimis, tertekan, atau diliputi kepanikan didalam
menghadapi kesulitan-kesulitan didalam hidup ini. Dia
melakukan segala sesuatu nya sesuai dengan perintah dan
ridho Allah. Setiap kata, keputusan dan tindakan menunjukkan
bahwa ia hidup sesuai dengan Sunnah yang merupakan
penjelasan praktis dari Al-Qur’an. Seorang muslim, apakah ia
berjalan, makan, pergi ke sekolah, belajar, bekerja, berolahraga,
berbincang-bincang, menonton TV atau mendengarkan musik, ia
menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan segala hal
yang ia lakukan dan seharusnya menjalani kehidupan sesuai
dengan perintah Allah. Dia sangat berhati-hati dalam menjaga
dan melakukan amanah yang telah diberikan kepadanya dan
pada saat yang bersamaan berusaha untuk meraih ridho Allah
didalam pekerjaan yang ia lakukan. Seorang muslim tidak
3

pernah bertingkah laku menyimpang dari apa-apa yang telah


diajarkan Al-Qur’an ataupun menyalahi Sunnah.
InsyaAllah, dengan menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai
Al-Qur’an dan Sunnah akan memungkinkan manusia untuk
mengembangkan pemahaman, intelektualitas, kemampuan
untuk membedakan antara yang hak (benar) dan bathil (salah)
serta kemampuannya untuk memandang/mempertimbangkan
sesuatu secara mendalam. Orang-orang yang memiliki karakter
ini bisa dipastikan memiliki hidup yang tenang. Seseorang yang
menjalani kehidupan dengan bertawakal kepada Allah dan
sesuai dengan Al-Qur’an akan tampak jelas berbeda dari orang
lain, terlihat dari bagaimana ia bersikap, duduk, berjalan,
berpendapat, menjelaskan dan menginterpretasikan sesuatu,
begitu pula pada solusi-solusi yang ia buat dalam menghadapi
permasalahan.
Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana seharusnya
seorang muslim menjalani aktivitasnya sehari-hari sesuai
petunjuk Al-Qur’an. Tulisan ini memiliki dua tujuan sekaligus:
untuk mengemukakan kebaikan-kebaikan didalam hidup yang
bisa diraih seseorang jika mengikuti petunjuk didalam Al-Qur’an
sekaligus mengajak kita kepada kehidupan yang paling
sempurna. Sudah menjadi kepastian bahwa hanya dengan
menjadikan AL-Qur’an petunjuk hidup-lah, seseorang bisa
mendapatkan ‘surga’ dunia, yakni kehidupan yang jauh dari
stres, kecemasan dan ketakutan.

BAB I
24 JAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM
4

DIBAWAH BIMBINGAN AL-QUR’AN

BANGUN PAGI
Salah satu dari perbedaan-perbedaan mendasar antara
Muslim yang menjalani kehidupannya sesuai dengan petunjuk
Al-Qur’an dan orang-orang yang menyekutukan Allah adalah :
kearifan yang Allah berikan kepada mereka yang menggunakan
hati nuraninya dan takut serta harap terhadap kebesaran Allah
SWT (Untuk lebih jelas, silahkan dilihat seri Harun Yahya
berjudul True Wisdom Described in The Qur’an). Dikarenakan
kearifan-nya, seorang mukmin selalu bisa mengambil hikmah
dibalik peristiwa yang terjadi dimana orang-orang kafir dan
orang-orang yang tidak memahami kebenaran menganggap
peristiwa tersebut biasa saja, tidak memiliki arti apa-apa.
Dimulai dari bangun tidur di pagi hari, seorang mukmin
yakin bahwa ada “tanda” (sebagaimana Allah sebutkan didalam
Al-Qur’an) di setiap peristiwa yang ia alami. Kata “tanda”
mengacu kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi yang
merupakan bukti jelas akan keberadaan, ke-esa-an dan sifat-
sifat Allah -- dan juga sebagai bukti dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Pengertian lainnya dari “tanda” adalah “fakta-fakta yang
memperkuat iman”. Hal ini bisa didefinisikan sebagai fakta-fakta
yang membawa manusia untuk beriman (kepada Allah), dan di
waktu yang bersamaan dapat menyuburkan dan memperkuat
iman. Namun hanya orang-orang yang secara ikhlas kembali
kepada Allah saja-lah yang dapat mengenali “tanda-tanda”
kebesaran Allah tersebut.
5

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan


pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi orang yang berakal (Surat Ali Imran :190).
Bagi mereka yang beriman dan menjalani kehidupan
sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an, setiap hari adalah saat-saat
yang penuh dengan bukti-bukti kebesaran Allah dan fakta-fakta
yang dapat memperkuat keimanan mereka. Sebagai contoh,
terbukanya mata dan bangunnya kita dari tidur untuk memulai
hari baru adalah salah satu kasih sayang Allah kepada makhluk-
Nya dan merupakan tanda kekuasaan-Nya, jika kita mau
bertafakur. Hal ini dikarenakan, selama tidur di malam hari,
seorang mengalami masa tidak sadar dan yang mampu ia ingat
dari tidur panjangnya itu hanyalah mimpi yang tidak lebih dari
dari 3-5 detik. Selama waktu ini, seseorang seperti “terputus”
dari dunia ini. Tubuh dan ruh seperti dua bagian yang terpisah,
dan di waktu yang dia anggap dia sedang tertidur, sebenarnya
adalah tidak lebih seperti kematian. Allah mengungkapkan
didalam Al-Qu’an bahwa jiwa-jiwa manusia diambil ketika
mereka tertidur.
Allah Memegang nyawa seseorang pada saat kematiannya dan
nyawa seseorang yang belum mati pada saat ia tidur; maka Dia
tahan nyawa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan
Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir. (Surat Az--Zumar :
42)
Dan Dia-lah yang Menidurkan kamu pada malam hari dan Dia
Mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian
Dia Membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan
6

umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat


kamu kembali, lalu Dia Memberitahukan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan (Surat Al-An’am : 60)
Didalam ayat-ayat ini, Allah menyatakan bahwa jiwa
seseorang diambil selama ia tidur, namun dikembalikan sampai
waktu kematiannya tiba. Saat tertidur, manusia mengalami
keadaan setengah sadar dari dunia luar. Untuk menyadarkannya
dari “kematian” selama tidur, dan untuk mampu melihat,
mendengar dan merasa dengan sempurna seperti hari-hari lain
sebelumnya adalah sebuah keajaiban yang harus kita fikirkan.
Seorang yang tidur dimalam hari tidak bisa memastikan apakah
nikmat yang tidak terkira ini (umur) akan diberikan kembali
kepadanya di pagi hari. Dan kita tidak pernah bisa yakin kita
tidak akan mengalami musibah atau bangun pagi dalam
keadaan sehat. Didalam Al-Qur’an, Allah berfirman :
Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika Allah
Mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu,
siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya
kepadamu?”…(Surah Al An’am : 46)
Seorang mukmin memulai harinya seraya berfikir
mengenai fakta-fakta ini dan bersyukur kepada Allah yang telah
memberikannya perlindungan dan kasih sayang. Ia memandang
hari tersebut sebagai kesempatan yang diberikan Allah untuk
mencari pahala dan meraih surga. Saat ia membuka mata di
pagi hari, ia langsung mengingat Allah dan memulai harinya
dengan sholat shalat subuh yang khusyu’.
Selama siang hari, ia beraktivitas dengan keyakinan bahwa
Allah melihatnya, dan sangat berhati-hati untuk memperoleh
pahala dari Allah dengan mematuhi perintah dan nasehat-Nya.
7

Ia membangun ikatan yang erat dengan Allah dan memulai


harinya dengan shalat subuh. Dengan cara ini, kecil
kemungkinan ia untuk melupakan dan melanggar larangan
Allah; sepanjang hari ia akan bertingkah laku dengan keyakinan
bahwa Allah sedang menguji nya didalam hidup ini.
Dia-lah Allah, yang mengadakan waktu tidur agar manusia
dapat beristirahat dan Ia juga yang mampu menghidupkan
kembali (membangunkan) manusia di pagi hari. Orang-orang
yang memahami hal ini dapat merasakan dekatnya Allah
dengan dirinya semenjak mereka memulai aktivitas di pagi hari
sehingga mereka merasa nyaman dan bersyukur atas nikmat
yang tak terkira itu. Sebaliknya, bagi orang-orang yang kufur
dan menolak realita ini tidak akan pernah bisa sepenuhnya
menyadari nikmat yang mereka miliki ataupun merasakan
ketenangan yang dirasakan hamba-hamba Allah. Biasanya,
mereka sulit mendapatkan tidur yang nyenyak dan bangun di
pagi hari dengan rasa stres dan cemas untuk memulai hari baru.
Mereka tidak ingin beranjak dari tempat tidur; pikiran mereka
berkecamuk antara bangun dan menambah waktu untuk tidur
lagi. Seringkali mereka yang mengalami kemunduran moral
merupakan orang-orang yang merasa stres, cemas dan sedih
ketika mereka bangun pagi.
Orang-orang kufur tidak dapat merasakan rahmat Allah;
mulai dari bangun pagi mereka melewati setiap hari sebagai
suatu rutinitas yang membosankan. Namun, ada juga orang
yang tidak menyadari bahwa hari baru tersebut bisa menjadi
kesempatan terakhir yang diberikan Allah untuknya berbuat
kebajikan; orang ini – meski bangun pagi dengan sigap, namun
dengan tujuan lain yakni untuk menghasilkan kekayaan agar
8

dapat dipamerkan kepada orang lain. Orang-orang yang


mengabaikan fakta-fakta yang telah Allah jelaskan didalam Al-
Qur’an mungkin akan berbeda-beda menjalani kehidupannya,
namun akan selalu ada yang hilang didalam tingkah laku
mereka, yakni : mereka tidak mengingat bahwa Allah
menciptakan mereka untuk beribadah dan memperoleh keridho-
an Allah dan mereka lupa bahwa hari yang sedang mereka
jalani tersebut bisa jadi hari terakhir mereka untuk memenuhi
tugas sebagai hamba Allah.
Seseorang harusnya ingat bahwa kematian sangatlah
dekat dengan kehidupannya di dunia ini. Kematian bisa datang
kapan saja, apakah itu karena kecelakaan, penyakit yang
datang tiba-tiba atau satu dari sekian banyak sebab yang tak
terduga. Oleh karena itu, seperti yang kita sebutkan diatas, kita
harus berfikir apa yang harus kita lakukan untuk memanfaatkan
waktu untuk meraih ridho-Allah sebelum ajal kita tiba.

MANDI DAN MENJAGA KEBERSIHAN

Ketika bangun di pagi hari, terjadi beberapa perubahan pada diri


kita. Wajah kita sembab, rambut acak-acakan, perubahan bau
badan dan bau mulut. Perubahan yang bisa kita lihat di cermin
ini sebenarnya menunjukkan betapa kita tidak bisa mengontrol
apapun ketika tidur, bahkan untuk diri kita sendiri. Setiap orang
harus membersihkan diri dan merapikan penampilan. Hal ini
mengingatkan kita bahwa tidak ada yang sempurna selain Allah.
Terlebih ketika seseorang bercermin dan melihat kekurangan
pada wajahnya, seharusnya hal itu menyadarkannya bahwa ia
tidak dapat memiliki ataupun mempertahankan kecantikan
dengan kekuatannya sendiri. Sehingga bisa kita pahami
9

mengapa Allah memberikan beberapa kekurangan pada hamba-


Nya untuk mengingatkan betapa bergantungnya mereka kepada
Allah. Namun Allah telah memberikan karunia berupa bahan-
bahan pembersih (sabun, deterjen, dsb) agar manusia dapat
membersihkan diri, menghilangkan kotoran.
Kemampuan untuk memperhatikan rahasia nikmat dan
bersyukur kepada Allah hanya dimiliki oleh orang-orang beriman
yang dikaruniai dengan pemahaman. Orang yang beriman
membersihkan dirinya di pagi hari seraya bersyukur kepada
Allah yang telah menurunkan materi untuk membersihkan diri
(air, sabun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang ada di
bumi). Dengan menyadari bahwa Allah mencintai kebersihan
dan orang yang bersih, maka orang beriman meniatkan aktivitas
mandi sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah dan
berharap memperoleh keridho-an Allah dari aktivitas tersebut
dan dengan senang hati mematuhi apa yang telah Allah
perintahkan didalam ayat 4 dan 5 Surat Al-Muddatsir:
”...dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala
(perbuatan) yang keji”
Didalam ayat berikut ini menjelaskan peristiwa selama perang
Badar, Allah mengatakan bahwa Ia menurunkan air hujan dari
surga agar orang-orang mukmin dapat membersihkan diri dan
memenuhi kebutuhan yang lain.
”(Ingatlah), ketika Allah Membuat kamu mengantuk untuk
memberi ketentraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air
(hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan
hujan itu...” (Surah Al-Anfal: 11)
Air merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia.
Disamping dapat membersihkan kotoran yang tampak maupun
10

bakteri yang tidak tampak, air juga memiliki kemampuan untuk


membuat kita rileks. Ketika air jatuh membasahi tubuh kita, air
menetralkan (memecah) elektrisitas statis penyebab kelelahan
kita. Meskipun kita tidak dapat melihat elektrisitas statis
tersebut, namun terkadang dapat kita dengar dari bunyi
berderik ketika membuka sweater, sengatan listrik kecil ketika
menyentuh sesuatu atau dengan bergeraknya rambut kita.
Ketika kita mandi, kita menyingkirkan akumulasi elektrisitas
statis ini dari tubuh kita sehingga kita merasa lebih segar,
ringan dan nyaman. Segarnya udara setelah turun hujan juga
merupakan bukti air membersihkan elektrisitas statis di udara.
Allah menyukai hamba-Nya yang bersih dan rapi. Hal ini dapat
kita temukan di beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan
keindahan penghuni surga (Surat At-Thuur: 24; Surat Al-Baqarah
25; Surat Ali Imran 15; dan Surat An-Nisa 57)
Sebagian orang berpenampilan rapi hanya ketika ia
bersama orang lain atau ketika ia harus menampilkan citra diri
yang baik untuk disukai oleh orang lain; namun ia tidak perduli
mengenai penampilan dan kebersihan dirinya ketika ia tidak
bersama orang lain. Orang-orang seperti ini biasanya berada di
rumah dari pagi sampai sore tanpa mandi, dengan muka kotor
dan nafas yang bau, acak-acakan, dengan kamar yang
berantakan. Namun, Allah memerintahkan orang mukmin untuk
memperhatikan kebersihan lingkungan dan menjaga kebersihan
untuk segala hal mulai dari makanan dan pakaian sampai
tempat tinggal mereka.
Jika gaya hidup manusia yang tak acuh menjadikan
lingkungan mereka tidak nyaman dan kotor. Sebaliknya, orang
Muslim dengan pengajaran dari Al-Qur’an, menjalani kehidupan
11

yang baik di dunia ini. Orang yang ingkar menciptakan


lingkungan yang sulit baik bagi mereka sendiri maupun orang
disekelilingnya, sementara orang Muslim menciptakan
kehidupan yang sehat, menata tempat dimana setiap orang
dapat hidup dengan nyaman dan tenang.
Singkatnya, dibawah pengajaran Al-Qur’an, orang mukmin
akan tampil bersih dan rapi, bukan karena orang lain, namun
karena mengingat bahwa Allah menyukai hal tersebut, dan
secara alamiah, setiap orang menyadari bahwa keadaan rapi
dan bersih akan memberikan perasaan nyaman. Dengan
membersihkan tempat tinggalnya, orang tersebut dapat
merasakan ketenangan yang juga dapat dirasakan oleh orang
lain yang berada di tempat tersebut; orang mukmin tidak
pernah setengah hati untuk menjaga kebersihan, mereka selalu
melakukan yang terbaik untuk tampil bersih dan rapi.

BERPAKAIAN

Ketika seorang mukmin memilih dan memakai pakaian, ia


menyadari hal yang penting yakni bahwa pakaian merupakan
salah satu rahmat Allah yang tak terhitung. Setiap orang
membutuhkan pakaian, namun hanya orang muslim yang hidup
dibawah pengajaran Al-Qur’an yang dapat memahami bahwa
pakaian yang indah adalah bentuk kasih sayang Allah dan
kemudian hal ini mendorongnya untuk bersyukur kepada Allah
atas nikmat tersebut. Pakaian yang kita pakai setiap hari
berasal dari tanaman dan hewan yang merupakan makhluk
ciptaan Allah. Dengan kata lain, jika Allah tidak menciptakan
bahan-bahan mentah untuk membuat pakaian ini, tentunya kita
tidak mungkin bisa memakai pakaian mulai dari bentuk yang
12

paling sederhana hingga pakaian mewah. Meskipun mengetahui


fakta tersebut, sebagian orang mengabaikan atau tidak
bersyukur atas nikmat ini. Pakaian dianggap sebagai suatu hal
yang biasa saja dikarenakan mereka mengenakannya semenjak
lahir. Pemahaman ini menjauhkan mereka dari kesadaran dan
rasa syukur bahwa pakaian tersebut merupakan nikmat dari
Allah.
Marilah kita merenung mengapa Allah menciptakan
pakaian untuk kita. Pakaian seperti tameng yang melindungi
tubuh manusia dari dingin, bahaya sinar matahari dan bahaya
lainnya seperti luka dan memar. Jika kita tidak memiliki pakaian,
kulit kita yang tipis akan mudah terluka oleh kcelakaan kecil
sekalipun. Tentunya luka tersebut menyakitkan bagi kita,
bahkan menimbulkan cacat. Didalam Al-Quran, Allah
menjelaskan alasan dibalik penciptaan pakaian:
”Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah
Menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk
perhiasan bagimu...” (Surat Al-A’raf: 26)
Ayat ini menjelaskan manfaat pakaian sebagai nilai estetika
(keindahan, kesopanan) manusia. Jelas bahwa pakaian sangat
kita butuhkan dan merupakan nikmat tak terkira yang telah
Allah berikan kepada kita. Seorang mukmin yang menyadari hal
ini akan sangat berhati-hati dalam memilih pakaian sebagai
salah satu bentuk rasa syukurnya kepada Allah. Bentuk lain rasa
syukur seorang mukmin terhadap nikmat pakaian adalah
dengan tidak bersikap boros dalam membeli pakaian. Ia hanya
membeli sesuai dengan kebutuhannya. Ia tidak membuang uang
untuk membeli pakaian secara berlebihan. Ia mengikuti perintah
Allah yang tertera didalam ayat berikut ini :
13

”Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih)


orang—orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak
berlebihan, dan tidak (pula) kikir, diantara keduanya secara
wajar” (Surat Al-Furqan: 67)
Perhatian seorang mukmin tidak terbatas hanya kepada
pakaian yang bersih saja, namun juga kepada keindahan
pakaian, sebagaimana Al-Quran mengatakan bahwa pakaian
adalah keindahan bagi yang memandang (Surah Al-A’raf: 26).
Ada beberapa contoh dari bagaimana Rasulullah SAW
berpakaian:
”Makanlah (makanan halal dan thayib) apa pun yang kalian
suka dan pakai lah pakaian (yang sesuai syariat) apa pun yang
kalian suka – asal terbebas dari dua hal : bermegah-megah dan
rasa sombong” (Ma’arifatul Hadits)
Rasulullah SAW selalu menemui para delegasi-nya dengan
pakaian yang terbaik dan Rasulullah SAW menganjurkan kepada
sahabat-sahabatnya untuk meniru perilaku seperti ini (Tabaat
Hadith, Volume 4, Number 346)
”Suatu ketika Rasulullah SAW sedang berada di mesjid, seorang
pria datang menemuinya dengan rambut dan janggut acak-
acakan. Rasulullah SAW memberikan isyarat kearah rambut dan
janggutnya untuk dirapikan. Pria itu pergi dan kembali dengan
rambut dan janggut yang telah rapi. Rasulullah SAW bersabda,
”Bukankah tidak baik jika kalian menemui seseorang dengan
rambut acak-acakan?” (Imam Malik, volume 2, no 949)
Didalam Al-Quran, Allah menjelaskan bahwa didalam surga
para penghuninya mengenakan pakaian dan perhiasan terbaik.
Beberapa diantaranya dijelaskan dalam ayat berikut:
14

Sungguh, Allah akan Memasukkan orang-orang yang beriman


dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka diberi
perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian
mereka dari sutera. (Surat Al-Hajj: 23).
”..mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal.
(duduk) berhadapan..” (Surat Ad-Dukhan: 53)
”Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal
dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan Memberikan
minuman yang bersih dan suci.” (Surat Al-Insan: 21)
Didalam ayat-ayat ini, Allah menyebut kain sutra dan kain renda
yang mewah serta perhiasan dari emas, perak dan mutiara.
Perhiasan yang kita pakai di dunia ini mirip dengan ada yang di
surga, dan bagi seorang mukmin, melihat perhiasan ini – baik
dia miliki atau tidak – akan mengingatkan dan memperkuat
keinginannya untuk memperoleh surga. Seorang mukmin
melihat tujuan penciptaan benda-benda tersebut dan menyadari
bahwa semua nikmat di dunia bersifat sementara. Nikmat yang
sesungguhnya dan yang abadi hanya kita temui di akhirat nanti.
(Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah
(Surat Al-Kahfi: 30-31)
Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan seorang
mukmin didalam berpakaian adalah bahwa penampilan
sangatlah penting ketika menjalin hubungan dengan orang lain.
Untuk alasan ini, seorang mukmin akan memberikan perhatian
lebih atas apa yang ia pakai ketika ia mengajak orang kepada
agama Islam. Ia akan bersemangat didalam memperhatikan
pakaiannya agar tetap kelihatan bersih, rapi dan nyaman. Hal ini
juga menunjukkan ketaatannya kepada Allah dan rasa
15

hormatnya kepada orang lain. Hanya orang-orang yang


mengikuti Al-Qur’an yang sangat berhati-hati terhadap
penampilannya dan seefektif mungkin dalam meraih ampunan
Allah SWT.
Kesimpulannya, seorang mukmin- sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seharusnya selalu menjaga
kebersihan, memperhatikan penampilan dirinya dengan tujuan
semata-mata mencapai ridha Allah SWT.

SARAPAN PAGI

Setiap mukmin yang Allah anugerahi kemampuan untuk


berfikir akan menyadari bahwa semua makanan dan minuman
yang ada ketika ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi
adalah berkah penciptaan Allah SWT, sehingga hal ini pun
merupakan fakta penguat keimanannya. Sebagai contoh, api
yang ia gunakan untuk memasak makanannya bisa menjadi hal
yang berbahaya bagi dirinya dan benda lainnya. Namun, api
juga diperlukan dalam membuat makanan dan dari sinilah ia
memandang api adalah karunia yang tak terkira. Dengan kata
lain, seperti segala sesuatu di bumi, api diciptakan untuk
menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Allah berfirman di dalam Al- Qur’an :
”Dan Dia Menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-
Nya...”(Surat Al-Jatsiyah: 13)
Selain itu, api merupakan pengingat bagi seorang mukmin akan
siksa Neraka. Didalam Al- Qur’an Allah menyebutkan bahwa
penghuni neraka akan disiksa dengan api yang menyala. Di
16

sejumlah ayat, Allah menjelaskan siksaan api neraka yang Ia


ciptakan bagi kaum kafir:
”Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di neraka dalam
keadaan muram dengan bibir yang cacat” (Surat Al-Mukminun :
104)
”Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya Kami telah Menyediakan untuk orang-
orang kafir itu neraka yang menyala-nyala” (Surat Al-Fath : 13)
Ketika seorang mukmin berfikir secara mendalam mengenai api
neraka ini, ia merasa semakin takut kepada Allah seraya
memohon perlindungan-Nya dari api neraka. Dengan cara
seperti ini, setiap hal kecil yang diamati setiap hari akan
menjadi pengingat hal yang besar, dan ini merupakan poin
penting didalam kehidupan sehari-hari seorang mukmin.
Seseorang yang berfikir jernih dan berhati bersih akan
banyak menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah didalam
sarapan pagi yang ia makan. Rasa dan wangi roti, madu, keju,
tomat, teh dan jus buah, kandungan gizi dan warna-warna
makanan tersebut, semuanya merupakan karunia Allah yang
tak terkira. Semua makanan ini mengandung protein, asam
amino, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan cairan yang
dibutuhkan oleh tubuh kita. Untuk memperoleh hidup yang
sehat, kita memerlukan nutrisi yang cukup dan seimbang setiap
hari, namun ini tidaklah membutuhkan aktivitas yang sulit;
justru kita bisa mendapatkannya dengan mudah dari buah,
sayuran, sereal, pasta yang kita nikmati.
Sesungguhnya, semua yang kita sebutkan tadi adalah hal-
hal kecil yang semua orang tahu dan sudah ada bahkan ketika
seseorang lahir ke dunia. Namun kebanyakan orang tidak
17

melihat hal tersebut dengan seharusnya, hal-hal yang


merupakan karunia Allah untuk kehidupan kita sehari-hari.
Orang-orang tersebut semata-mata mempergunakannya begitu
saja, tanpa mau merenungi betapa besar karunia Allah tersebut.
Semua makanan dan minuman yang lezat dan memiliki
nutrisi bagi tubuh manusia ini sebenarnya merupakan keajaiban
penciptaan. Seorang mukmin yang memikirkan bagaimana
madu dihasilkan akan menyadari keajaiban sebuah penciptaan.
Ia serta merta memahami bahwa tidaklah mungkin bunga, yang
merupakan bahan baku untuk madu ataupun madu itu sendiri
terjadi (terbentuk) secara kebetulan; sehingga hal ini pun
membawanya lebih dekat kepada Allah. Didalam Al-Qur’an
dinyatakan bahwa Allah memberikan ilham kepada lebah untuk
menghasilkan madu :
”Dan Tuhan-mu Mengilhamkan kepada lebah, ”Buatlah sarang
di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat
yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam)
buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah
dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman
(madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya
terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh,
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran
Allah) bagi orang yang berfikir” (Surat An-Nahl : 68-69)
Selain itu, kepatuhan mutlak dari lebah kecil terhadap perintah
(ilham) Tuhan-Nya merupakan fakta lain yang memperkuat
iman. Seorang mukmin sangat sadar bahwa Allah-lah yang
memberikan petunjuk kepada lebah - yang seperti kita ketahui
merupakan makhluk tanpa intelejensia – bekerja terus menerus
18

dengan disiplin yang sempurna sehingga menghasilkan madu


yang bermanfaat yang bisa kita nikmati.
Manfaat daging, susu dan keju serta produk hewani
lainnya yang merupakan anugerah dari Allah untuk manusia
telah disebutkan didalam Al-Qur’an:
”Dan sungguh pada hewan-hewan ternak terdapat suatu
pelajaran bagimu. Kami Memberi minum kamu dari air susu
yang ada dalam perutnya, dan padanya juga terdapat banyak
manfaat untukmu, dan sebagian darinya kamu makan” (Surat
Al-Mukminun: 21)

Didalam ayat tersebut terdapat kalimat yang berarti ”apa-


apa yang ada didalam perut mereka (hewan ternak)” selain
kalimat yang memberitahukan kita manfaat dari hewan ternak
tersebut. Didalam perut hewan, misalnya sapi, terdapat kotoran
hasil pencernaan makanannya, air yang ia minum dan juga
darah yang mengalir didalam pembuluh dan organ dalamnya.
Lantas, bukankah sebuah keajaiban, jika kita bisa mendapatkan
susu yang bersih, harum dan menyehatkan dari bagian tubuh
yang sama yang juga menghasilkan kotoran tersebut? Bahkan
terbukti bahwasannya bagian tubuh hewan tersebut lah ’pabrik’
dengan kondisi terbaik untuk terbentuknya susu. Indikasi lain
tentang adanya ilmu Allah yang tak tertandingi adalah bahwa
satu-satunya bahan mentah untuk terbentuknya susu putih
’hanya’ rumput hijau! Namun sesungguhnya kemampuan hewan
ternak memproduksi susu dari tanaman hijau yang kaku
tersebut adalah berkat sistem menakjubkan yang Allah ciptakan
didalam tubuh mereka. Didalam Al-Qur’an, Allah
memberitahukan kepada kita asal susu yang kita minum.
”.....Kami Memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya
19

(berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah


ditelan bagi orang yang meminumnya” (Surat An-Nahl: 66)
Contoh sumber nutrisi lainnya yang kita peroleh dari
hewan adalah telur – meskipun berukuran kecil namun
mengandung gizi yang sangat tinggi. Terbentuknya sumber
protein, vitamin dan mineral ini juga sebuah keajaiban. Ayam
yang bisa dikatakan tidak diluar kesadarannya, menghasilkan
telur setiap hari – lengkap dengan pelindung (cangkang) nya
yang mengagumkan. Dengan memikirkan bagaimana sebuah
telur secara menakjubkan terbentuk; bagaimana cairan telur
bisa ’terisi’ kedalam cangkang, menimbulkan rasa kagum
seorang mukmin terhadap keindahan arsitektur yang Allah
ciptakan.
Beraneka minuman berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Setelah melalui proses tertentu, daun, buah atau bagian
tumbuhan lainnya akan menjadi cairan manis dan harum
(misalnya sirup pandan, jus jeruk) yang bisa kita nikmati saat
sarapan pagi. Masih ada ribuan jenis tanaman lainnya yang
tumbuh di tanah yang sama, memperlihatkan kepada kita akan
kekuasaan, ilmu dan kasih sayang Allah yang menciptakan itu
semua untuk manusia. Sebagaimana firman Allah SWT didalam
Al-Qur’an:
”Dan Dia-lah yang Menjadikan tanaman-tanaman yang
merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman
yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa
(bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya)...” (Surat Al-
An’am : 141)
Allah memberikan kita karunia berupa makanan yang tak
terhingga banyaknya. Allah menguji manusia dengan kekayaan
20

dan kemiskinan di dunia; Allah memuji hamba-hamba Nya yang


mampu bersabar serta melewati kedua ujian tersebut dengan
akhlak terbaik dan akan memberikan mereka kenikmatan abadi
didalam kebun-kebun surga. Sebagai contoh, sebagian orang
mampu makan sarapan pagi dengan menu yang lengkap
sementara sebagian lainnya hanya memiliki sedikit makanan.
Akan tetapi, bagi seorang mukmin, baik kaya maupun miskin,
akan selalu ridha dan bersyukur kepada Allah SWT. Jika ia kaya,
ia tidak akan sombong atau arogan. Jika ia miskin, ia tidak
bersedih hati ataupun mengasihani dirinya.
Seorang mukmin menyadari bahwa Allah akan selalu
menguji dirinya dan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat
sementara. Allah berfirman didalam Al-Qur’an bahwa Ia akan
memberikan ujian kepada manusia dengan kenikmatan dan
kesusahan. ”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami
akan Menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami”
(Surat Al-Anbiya’ : 35). Atas dasar inilah, seseorang yang hidup
dibawah bimbingan Al-Qur’an menyadari bahwa bukanlah
nikmat yang ia terima yang bernilai di sisi Allah, namun justru
sikapnya terhadap nikmat tersebut lah yang menentukan
apakah ia bisa memperoleh ridho Allah atau tidak. Seorang
mukmin, meskipun miskin, ia akan bersyukur kepada Allah
dengan ikhlas. Didalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Ia
akan menambah kenikmatan bagi orang-orang yang bersyukur
dan memberikan siksa api neraka bagi yang tidak bersyukur:
”Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Memaklumkan,
”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari
21

(nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (Surat Ibrahim:


7)
Seseorang yang merenungi bukti penciptaan yang
sempurna dari berbagai sumber makanan tersebut, tentunya
juga mampu melihat kesempurnaan penciptaan dari struktur
dan kerja mulut. Sehingga agar makanan tersebut dapat ditelan
dengan mudah, bibir, gigi, lidah, rahang, kelenjar ludah dan
jutaan sel bekerja secara bersama-sama didalam keselarasan
yang sempurna. Gigi akan mengoyak makanan kedalam
potongan-potongan, sementara lidah bertugas menggerakkan
makanan terus menerus agar bisa dihaluskan oleh gigi. Setiap
gigi tersusun dan terletak di tempat masing-masing sesuai
dengan fungsinya karena gigi-gigi ini akan memotong makanan
dengan ukuran tertentu. Sementara itu, bibir berperan layaknya
’pintu’ yang tertutup agar makanan tidak keluar dari mulut.
Tentu saja organ-organ tersebut bukanlah makhluk hidup
yang memiliki intelejensi dan kesadaran sendiri; organ-organ
tersebut tidak dapat terbentuk dan bekerja harmonis secara
kebetulan. Organ-organ yang sempurna ini mustahil tercipta
secara kebetulan, mengingat setiap detail organ tersebut
memiliki fungsi/tujuan tertentu. Oleh karenanya, tidak diragukan
lagi desain yang menakjubkan dari organ-organ mulut ini adalah
salah satu fakta penciptaan oleh Allah SWT, seperti yang
disebutkan didalam Al-Qur’an ”Yang memiliki kerajaan langit
dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya
dalam kekuasaan-Nya dan Dia Menciptakan segala sesuatu, lalu
menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat” (Surat Al-Furqan :
2). Allah telah menciptakan semua ini sebagai bentuk kasih
22

sayang-Nya agar manusia dapat mengunyah makanan dengan


mudah.
Hal penting lainnya yang disadari oleh seorang mukmin
adalah fakta bahwa ia dapat mencium aroma makanan didapur
dan mencicipinya. Hal ini terjadi karena organ-organ
menakjubkan yang ia miliki. Indra penciuman dan perasa
manusia yang tidak akan rusak selama hidupnya, berfungsi
dengan baik secara otomatis tanpa biaya.
Jika seseorang tidak memiliki indra perasa, maka ia tidak
akan bisa merasakan lezatnya daging, ikan, sayuran, sup,
minuman dan makanan lainnya. Ia juga tidak bisa mengenali
makanan/minuman yang pahit, asam atau pun yang berbahaya
bagi tubuhnya. Tidak diragukan lagi bahwa rasa dan
penginderaan lainnya telah diciptakan secara khusus untuk
manusia. Namun manusia seringkali mengabaikan hal ini dan
menganggap segala sesuatu yang ada pada dirinya adalah hal
yang biasa saja. Allah berfirman didalam Al-Qur’an bahwa Ia
menciptakan makanan yang baik dan bersih untuk manusia :
”Allah-lah yang Menjadikan bumi untukmu sebagai tempat
menetap dan langit sebagai atap, dan Membentukmu lalu
Memperindah rupamu serta Memberimu rezeki dari yang baik-
baik. Demikianlah Allah, Tuhan-mu, Maha Suci Allah, Tuhan
seluruh alam” (Surat Al Mukmin : 64)
Tentu saja, seorang mukmin menyadari bahwa setiap
makanan dan minuman lezat merupakan karunia Allah,
mengingat bahwa ia mampu merasakan itu semua berkat
organ-organ ciptaan Allah. Sehingga dengan mengingat hal ini
membuat seorang mukmin selalu bersyukur kepada Allah SWT
23

manakala ia duduk didepan sebuah hidangan. Didalam Al-


Qur’an Allah berfirman :
”Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi
yang mati (tandus). Kami Hidupkan bumi itu dan Kami
Keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka
makan. Dan Kami Jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun
kurma dan anggur dan Kami Pancarkan padanya beberapa mata
air, agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil
usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak
bersyukur?” (Surat Yasin : 33-35)
”Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah Menciptakan
hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah
Kami Ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka
menguasainya?” (Surat Yasin : 71-73)
Akan tetapi, sebahagian orang berfikir tidaklah penting
untuk mengingat itu semua, meskipun mereka menikmati
makanan yang lezat dan harum sepanjang hidup mereka.
Orang-orang tersebut mengabaikan fakta bahwa Allah telah
menciptakan anugerah tak terkira didalam diri mereka sendiri
yang sudah seharusnya mereka syukuri. Ini merupakan perilaku
yang salah; mereka semestinya tidak lupa bahwa di akhirat
mereka akan ditanya apakah selama hidup di dunia mereka
termasuk orang-orang yang bersyukur atau tidak.
Seorang mukmin menyadari bahwa Allah telah
menganugerahinya tubuh yang harus ia rawat karena kelak ia
akan dimintai pertanggung jawaban atas dirinya sendiri. Ia tahu
bahwa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan baik,
tubuhnya harus sehat dengan nutrisi yang cukup. Ia mengerti
bahwa ia harus mensuplai tubuhnya dengan gizi yang
24

diperlukan untuk perkembangan dan pembaharuan 100 trilyun


selnya agar dapat berfungsi dengan baik. Sehingga, ia akan
memilih makanan yang sehat baik untuk sarapan atau jam
makan lainnya serta menghindari makanan yang berbahaya
bagaimanapun menarik atau lezatnya makanan tersebut.
Sebagai contoh, dengan menyadari pentingnya manfaat
air untuk membersihkan racun-racun didalam tubuhnya, maka
seorang mukmin akan selalu minum air putih yang cukup untuk
tubuhnya. Didalam sebuah perjalanan, Rasulullah SAW berhenti
dan meminta air kepada sahabat-sahabatnya yang duduk
disebelahnya. Setelah membasuh tangan dan wajah serta
meminum air tersebut, beliau berkata “ basuhlah wajah kalian
dengan air “ (HR Bukhari). Kemudian beliau berkata, “Segala
puji bagi Allah yang telah menciptakan air yang lezat ini dan Ia
menciptakan air minum ini tanpa rasa asin ataupun pahit” (Ihya
Ulumuddin, Imam Al-Ghazali)