Anda di halaman 1dari 187

ANALISA PERUBAHAN KIMIA AIR TANAH DAN APLIKASINYA DALAM PENYALIRAN AIR TANAH PADA TAMBANG BAWAH TANAH IOZ DAN DOZ PT. FREEPORT INDONESIA

SKRIPSI

Oleh

SINATRIA SAROSA NIM. 112980138

INDONESIA SKRIPSI Oleh SINATRIA SAROSA NIM. 112980138 JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKN OLOGI MINERAL

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA

2004

ANALISA PERUBAHAN KIMIA AIR TANAH DAN APLIKASINYA DALAM PENYALIRAN AIR TANAH PADA TAMBANG BAWAH TANAH IOZ DAN DOZ PT. FREEPORT INDONESIA

SKRIPSI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh

SINATRIA SAROSA NIM. 112980138

Yogyakarta Oleh SINATRIA SAROSA NIM. 112980138 JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKN OLOGI MINERAL

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA

2004

ANALISA PERUBAHAN KIMIA AIR TANAH DAN APLIKASINYA DALAM PENYALIRAN AIR TANAH PADA TAMBANG BAWAH TANAH IOZ DAN DOZ PT. FREEPORT INDONESIA

SKRIPSI

Oleh

SINATRIA SAROSA NIM. 112980138

INDONESIA SKRIPSI Oleh SINATRIA SAROSA NIM. 112980138 Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Tanggal : …………………………

Dosen Pembimbing I

Ir. Hasywir Thaib Siri, MSc

Dosen Pembimbing II

Ir. Budiarto, MT

I Did My Time

Realized I can never win. Sometimes feel like I have failed. Inside where do I begin. My mind is laughing at me. Tell me why am I to blame. Aren't we suppose to be the same. That's why I will never change. This thing that burning in me. I am the one who chose my path. I am the one who couldn't last. I feel the life pulled from me. I feel the anger changing me. Sometimes I can never tell. If I've got something after me. That's why I just beg and plead. For this curse to leave me. Tell me why am I to blame. Aren't we suppose to be the same. That's why I will never change. This thing that's burning in me. Betrayed…I feel so…Enslaved…I

really…Tried…I did my time. Oh God the anger's changing me…………………

(koRn)

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

(Alm.) Iman Sarosa Sukardi dan Siti Supartini, yang kucintai Mas Aji, Mbak Retno dan Mas Dea, yang kusayangi Seseorang yang kelak akan mendampingiku Komunitas Prayan dan Tambang 98 Rekan-rekan Mahasiswa Teknik Pertambangan

RINGKASAN

Pada industri pertambangan, tingginya curah hujan dapat menghambat kegiatan operasional penambangan. Untuk itu perlu adanya sistem penyaliran pada lokasi penambangan. Sistem penyaliran merupakan usaha yang dilakukan untuk mencegah masuknya air atau untuk mengeluarkan air yang telah masuk pada daerah penambangan. Sistem penyaliran harus memerlukan penanganan yang baik, sehingga kegiatan operasional penambangan yang telah direncanakan tidak terganggu serta produksi tambang dapat dipenuhi. Sistem penyaliran yang digunakan di daerah IOZ dan DOZ adalah sistem dewatering drill. Sistem penyaliran ini dilakukan dengan cara membuat lubang bor pada litologi tertentu yang diperkirakan mempunyai kandungan air yang besar. Air akan mengalir pada elevasi yang menurun melalui drainway dengan memanfaatkan gravitasi. Air masuk ke tambang IOZ dan DOZ dapat melalui infiltrasi dan presipitasi langsung melalui cave material, permeabilitas sepanjang zona kontak diorite/skarn/marble dan adanya spillover yang memotong crackline atau caveline dari formasi Lower Kais. Total inflow selama tahun 2002 adalah sebesar 94.294,43 gpm dan total outflow sebesar 78.577 gpm. Berdasarkan water balance (neraca air) maka terdapat penyimpanan air tanah (S) sebesar 15.717,43 gpm. Dalam penelitian ini analisa kimia air tanah akan digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya perubahan kimia air tanah di sekitar daerah tambang dalam IOZ dan DOZ. Parameter utama yang dijadikan pertimbangan adalah perubahan kandungan sulfat dalam air tanah yang berasal dari pelarutan mineral anhydrite atau dari hasil oksidasi mineral sulfida. Analisa kandungan kation-anion yang lain digunakan untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara aquifer yang satu dengan aquifer yang lain. Air tanah yang berhasil dikeluarkan selanjutnya akan digunakan untuk kegiatan pengolahan di Mill. Kualitas dan kuantitas air tanah yang berhasil dikeluarkan dapat digunakan dalam proses pengolahan di Mill. Berdasarkan hasil analisa ini dapat diketahui bahwa terdapat dua aliran yang berbeda antara daerah di sebelah Barat lokasi penambangan dengan daerah sebelah Timur lokasi penambangan. Secara lateral, aliran air di bagian Barat dan bagian Timur lokasi penambangan mengalir dari arah Selatan daerah tambang ke arah Barat dan arah Timur menuju arah Utara. Aquifer yang berada di bagian Barat lokasi penambangan tidak memiliki hubungan hidrolika dengan aquifer di sebelah Timur lokasi tambang. Hubungan hidrolika formasi Kais dan formasi Faumai terjadi akibat adanya rekahan pada bidang impermeable yang merupakan bagian bawah formasi Sirga. Aliran yang mengalir pada formasi Faumai bersumber dari daerah Meren Valley dan mengalir menuju formasi Waripi dan formasi Kais melalui bidang rekahan.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisa Perubahan Kimia Air Tanah dan Aplikasinya Dalam Penyaliran Air Tanah Pada Tambang Bawah Tanah IOZ dan DOZ PT. Freeport Indonesia”. Adapun tujuan penyusunan Skripsi ini yaitu untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Skripsi ini disusun berdasarkan studi literatur, penelitian – penelitian terdahulu dan hasil pengamatan di lapangan, yang dilakukan di Departement Central Engineering, bagian Hydrology dari tanggal 25 November 2002 sampai dengan 25 Februari 2003. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ir. Titus Pulunggono, selaku General Manager HRD PT. Freeport Indonesia.

2. Ir. Yuni Rusdinar, Msc, selaku Superintendent Hydrology.

3. Ir. Yogi Sasongko, selaku pembimbing lapangan.

4. Dr. Ir. H. Supranto, SU, Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

5. Dr. Ir. Sutanto, DEA, Dekan Fakultas Teknologi Mineral.

6. Ir. Singgih Saptono, MT, Ketua Jurusan Teknik Pertambangan.

7. Ir. Hasywir Thaib Siri, MSc, selaku Dosen Pembimbing I.

8. Ir. Budiarto, MT, selaku Dosen Pembimbing II.

9. Semua pihak yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini. Atas segala fasilitas, bimbingan, dukungan serta saran-saran yang telah diberikan selama melaksanakan skripsi.

Akhir kata, semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi perusahaan tempat penulis melakukan penelitian, teman-teman mahasiswa Teknik Pertambangan dan juga pembaca lainnya.

Yogyakarta,

Maret 2004

Penulis

Sinatria Sarosa

DAFTAR ISI

 

Halaman

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR TABEL

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xv

BAB

I.

PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang Masalah

1

1.2. Perumusan Masalah

2

1.3. Pembatasan Masalah

3

1.4. Tujuan Penelitian

3

1.5. Metode Penelitian

3

1.6. Hasil Yang Diharapkan

4

II.

TINJAUAN UMUM

5

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

5

2.2. Geologi Regional

8

2.3. Iklim dan Curah Hujan

14

2.4. Cadangan Bijih

14

2.5. Cara Penambangan dan Pengolahan Bijih Tembaga

15

III.

DASAR TEORI

22

3.1. Sirkulasi Air di Bumi

22

3.2. Sumber-Sumber Air Permukaan dan Air Tanah

23

3.3. Aliran dan Penyebaran Air Tanah

25

3.4. Sistem Penyaliran Tambang Bawah Tanah

25

3.5. Water Balance (Neraca Air)

26

3.6. Kimia Air Tanah

27

IV.

KARAKTERISTIK DAERAH EESS

38

4.1. Geologi Daerah EESS

38

4.2. Iklim, Curah Hujan dan Daerah Tangkapan Hujan EESS

40

4.3. Hidrogeologi Daerah EESS

42

vii

V. SISTEM PENYALIRAN TAMBANG BAWAH TANAH DAN HASIL KIMIA AIR TANAH DI IOZ DAN DOZ

45

5.1. Sistem Penyaliran Tambang Bawah Tanah IOZ dan DOZ

45

5.2. Kualitas Air Permukaan Daerah EESS

 

46

5.3. Geokimia Batuan Daerah IOZ dan DOZ

 

49

5.4. Metode Analisa Kimia Air Tanah Daerah IOZ dan DOZ

52

5.5. Pelaksanaan Pengambilan Air Tanah Daerah IOZ dan DOZ

52

5.6. Hasil Penelitian Kimia Air Tanah Daerah IOZ dan DOZ

 

52

VI. PEMBAHASAN

 

61

6.1. Water Balance dan Fluktuasi Muka Air Tanah

 

61

6.2. Analisa

Kualitas

Air

Permukaan

Daerah

EESS Terhadap

Perubahan Kimia Air Tanah

 

68

6.3. Analisa Geokimia Batuan

Daerah

IOZ

dan DOZ

Terhadap

Perubahan Kimia Air Tanah

 

69

6.4. Analisa Kimia Air Tanah Daerah IOZ dan DOZ

 

72

6.5. Aplikasi Perubahan Kimia Air Tanah Untuk Menentukan Arah Aliran Air Tanah Dalam Penyaliran Tambang

78

6.6. Aplikasi Perubahan Kimia Air Tanah Untuk Kegiatan Pengolahan Bijih di Mill

82

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

 

86

7.1. Kesimpulan

 

86

7.2. Saran

89

DAFTAR PUSTAKA

 

90

LAMPIRAN

91

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

 

Halaman

2.1.

Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah

 

6

2.2.

Tata Letak Tambang Bawah Tanah IOZ dan DOZ

8

2.3.

Stratigrafi Daerah Penelitian

 

11

2.4.

Peta Geologi Daerah EESS

12

2.5.

Level Undercut

 

17

2.6.

Level Extraction

18

2.7.

Level Truck Haulage

 

19

2.8.

Level Exhaust

 

20

2.9.

Metode Block Caving

 

21

3.1.

Sirkulasi Air (Siklus Hidrologi)

 

23

3.2.

Reaksi Kinetik Vs Kesetimbangan Mineral

31

4.1.

Grafik

Curah

Hujan

Daerah Meren

Valley

41

4.2.

Grafik Curah Hujan Daerah Yellow Valley

41

4.3.

Grafik Curah Hujan Daerah Lower Subsidence

42

4.4.

Struktur Geologi Daerah EESS

 

44

5.1.

Grafik Perubahan pH

53

5.2.

Grafik Perubahan EC

54

5.3.

Grafik Perubahan Kandungan Sulfat

55

5.4.

Grafik Perubahan Kandungan Ca

56

5.5.

Grafik Perubahan Kandungan Alkalinity

57

5.6.

Grafik Perubahan Kandungan Cu

57

5.7.

Grafik Perubahan Kandungan Fe

58

5.8.

Grafik Perubahan Kandungan Potasium

59

5.9.

Grafik Perubahan Kandungan Mg

60

5.10.

Grafik Perubahan Kandungan Sodium

60

6.1.

Peta Kontur Piezometer

65

A.1.

Grafik Curah Hujan Daerah Meren Valley

95

ix

A.2.

Grafik Curah Hujan Daerah Yellow Valley

95

A.3.

Grafik Curah Hujan Daerah Lower Subsidence

96

H.1.

Grafik Perubahan SO 4 dan Ca

164

H.2.

Grafik Perubahan Mg,Ca dan Alkalinity

164

H.3.

Grafik Perubahan SO 4 dan Fe

164

I.1.

Diagram Schoeller Tahun 2000

165

I.2.

Diagram Schoeller Tahun 2002

165

J.1.

Grafik Kandungan SO 4 Vs Lokasi Tahun 2000

166

J.2.

Grafik Kandungan SO 4 Vs Lokasi Tahun 2002

167

J.3.

Grafik Kandungan SO 4 Rata-Rata Vs Lokasi

168

L.1.

Peta Lokasi Arah Pemboran IOZ dan DOZ

170

M.1.

Sayatan Geologi Daerah Tambang IOZ dan DOZ

171

x

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1.

Cadangan PT. Freeport Indonesia

15

3.1.

Rata-Rata Konsentrasi Kation-Anion Dalam Sumber Air

30

3.2.

Contoh Sulfida Primer

32

4.1.

Curah Hujan Meren Valley, Yellow Valley dan Lower Subsidence

40

5.1.

Kimia Air Permukaan Daerah Meren Lake

47

5.2.

Kimia Air Permukaan Daerah Aliran Sungai Tsinga

48

5.3.

Kimia Air Permukaan Daerah Carstenz

49

6.1.

Standar Kualitas Air di Perairan Umum

82

6.2.

Kualitas Air Tanah Tambang Bawah Tanah IOZ dan DOZ

84

A.1.

Data Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan Pada Bulan Oktober 1998 – Desember 2002 Di Daerah Meren Valley

92

A.2.

Data Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan Pada Bulan Oktober 1998 – Desember 2002 Di Daerah Yellow Valley

93

A.3.

Data Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan Pada Bulan Oktober 1998 – Desember 2002 Di Daerah Lower Subsidence

94

B.1.

Total Outflow Daerah EESS Tahun 2002

97

B.2.

Outflow Stasiun GBT-3600-POR

100

B.3.

Outflow Stasiun GBT-3530-L

100

B.4.

Outflow Stasiun 3388/L IOZ~G#2

100

B.5.

Outflow Stasiun 3520/L GBT-2~G-09

101

B.6.

Outflow Stasiun 3520/L IOZ~WVD

101

B.7.

Outflow Stasiun 3520/L Thwi&P-10

101

B.8.

Outflow Stasiun 3520/L Stn-41 B

102

B.9.

Outflow Stasiun 3388/L IOZ~NWC

102

B.10.

Outflow Stasiun 3388/L IOZ~WDN

102

B.11.

Outflow Stasiun 3388/L IOZ~NVD

103

B.12.

Outflow Stasiun 3370/L IOZ~CNIU

103

B.13.

Outflow Stasiun 3388/L IOZ~WD

103

xi

B.14.

Outflow Stasiun 3370/ West Drainage Drift-SWC

104

B.15.

Outflow Stasiun 3370/L TE-IA-IZFA-Total

104

B.16.

Outflow Stasiun RB37

104

B.17.

Outflow Stasiun 3370/L South-IA

105

B.18.

Outflow Stasiun 3370/L IZFA

105

B.19.

Outflow Stasiun X/C#10

105

B.20.

Outflow Stasiun SC

106

B.21.

Outflow Stasiun 3388/L DE

106

B.22.

Outflow Stasiun 3406/L DRD

106

B.23.

Outflow Stasiun 110A

107

B.24.

Outflow Stasiun 2940/L~HF-1 (FAS)

107

B.25.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-07

107

B.26.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-09

108

B.27.

Outflow Stasiun M-15

108

B.28.

Outflow Stasiun M-16

108

B.29.

Outflow Stasiun M-17

109

B.30.

Outflow Stasiun M-18

109

B.31.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-14

109

B.32.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-19

110

B.33.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-21

110

B.34.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-22+Seep

110

B.35.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~Pipe

111

B.36.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-23

111

B.37.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-24

111

B.38.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-25

112

B.39.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-26

112

B.40.

Outflow Stasiun 3050/L DOZ~DOW-27

112

B.41.

Outflow Stasiun 3100/L Ramp A~DZ

113

B.42.

Outflow Stasiun DZRA 32-Ramp A

113

B.43.

Outflow Stasiun 3100/L DZVR

113

B.44.

Outflow Stasiun 3100/L Ramp A~DZ VR3&4

114

xii

B.45.

Outflow Stasiun 2940/L MLA~DZ-01

114

B.46.

Outflow Stasiun 3079/L DZTH-24

115

B.47.

Outflow Stasiun 3079/L Haulage Truck~DZTH37-01

115

B.48.

Outflow Stasiun 3079/L Haulage Truck~DZTH32-02

115

B.49.

Water Balance Daerah EESS Tahun 2002

116

C.1.

Piezometer G9-10

117

C.2.

Piezometer G9-11

118

C.3.

Piezometer DRD03-08

119

C.4.

Piezometer DRD03-09

119

C.5.

Piezomater TEW05-05

120

C.6.

Piezometer VSW-31

120

C.7.

Piezometer VSW-74

126

C.8.

Piezometer GE-01-07

127

C.9.

Piezometer VSW-58

128

C.10.

Piezometer VSW-70

130

C.11.

Piezometer VSW-70D

131

C.12.

Piezometer VSW-70S

131

D.1.

Koordinat Lubang Bor Dewatering IOZ dan DOZ

133

E.1.

Geologi Unit di Daerah IOZ

134

E.2.

Geologi Unit di Daerah DOZ

136

F.1.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun WD-04

138

F.2.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun WD-05

139

F.3.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun WDN-04

140

F.4.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun WDN-06

141

F.5.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun WDN-08

142

F.6.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun CNIU-05

143

F.7.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DRD-02-01

144

F.8.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DRD-02-04

145

F.9.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-09-03

146

F.10.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-09-04

147

F.11.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-23-02

148

xiii

F.12.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-23-03

149

F.13.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-24-01

150

F.14.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-24-02

151

F.15.

Hasil Analisa Kimia Air Tanah Stasiun DOW-24-04

152

G.1.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor WD-04

154

G.2.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor WD-05

154

G.3.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor WDN-04

155

G.4.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor WDN-06

155

G.5.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor WDN-08

156

G.6.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor CNIU-05

156

G.7.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DRD-02-01

157

G.8.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DRD-02-04

157

G.9.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-09-03

158

G.10.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-09-04

158

G.11.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-23-02

159

G.12.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-23-03

159

G.13.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-24-01

160

G.14.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-24-02

160

G.15.

Analisa Neraca Ion Lubang Bor DOW-24-04

161

H.1.

Perubahan Komposisi Kimia Air Tanah di Daerah IOZ

2000-2002

162

H.2.

Perubahan Komposisi Kimia Air Tanah di Daerah DOZ

2000-2002

163

J.1.

Kandungan SO 4 Tahun 2000

166

J.2.

Kandungan SO 4 Tahun 2002

167

J.3.

Kandungan SO 4 Rata-Rata

168

K.1.

Koefisien Hidrostatis Masing-Masing Unit Batuan

169

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

A. DATA CURAH HUJAN DAERAH PENELITIAN

92

B. WATER BALANCE DAERAH EESS

97

C. WATER LEVEL DAERAH EESS

117

D. KOORDINAT LUBANG BOR DEWATERING IOZ DAN DOZ

133

E. GEOLOGI UNIT PADA MASING-MASING STASIUN LUBANG BOR

134

F. HASIL ANALISA KIMIA AIR TANAH

138

G. ANALISA NERACA ION

153

H. ANALISA PERUBAHAN KOMPOSISI KIMIA AIR TANAH

162

I. DIAGRAM SCHOELLER

165

J. PERUBAHAN KANDUNGAN SO 4 PADA MASING-MASING LUBANG BOR

166

K. KOEFISIEN HIDROSTATIS MASING-MASING UNIT BATUAN

169

L. PETA LOKASI ARAH PEMBORAN IOZ DAN DOZ

170

M. SAYATAN GEOLOGI DAERAH TAMBANG IOZ DAN DOZ

171

xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dan mempunyai curah hujan yang cukup tinggi. Pada industri pertambangan, tingginya curah hujan, aliran permukaan (surface stream flow) dan air tanah (ground water) tersebut dapat menghambat kegiatan operasional penambangan. Untuk itu perlu adanya sistem penyaliran pada lokasi penambangan. Penyaliran tambang adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah masuknya air atau untuk mengeluarkan air yang telah masuk dan menggenangi daerah penambangan tersebut, sehingga tidak mempengaruhi atau mengganggu aktifitas penambangan, mempercepat kerusakan peralatan dan akan menambah kandungan air pada mineral atau batuan yang akan ditambang. Di PT. Freeport Indonesia saat ini menggunakan 2 metode penambangan yaitu tambang terbuka (open pit) dan tambang bawah tanah (block caving). Salah satu masalah yang timbul di lokasi penambangan bawah tanah area kerja PT Freeport Indonesia adalah sering terbentuknya lumpur basah sebagai akibat pencampuran air dengan material halus yang ada di sekitar lokasi penambangan, untuk itu perlu dilakukan sistem penyaliran tambang. Sistem penyaliran di tambang bawah tanah Intermediate Ore Zone (IOZ) dan Deep Ore Zone (DOZ) merupakan suatu sistem penyaliran yang komplek. Alasan utama dari semua ini adalah kompleknya struktur geologi di daerah penelitian dan adanya Karstified Limestone yang akan menentukan distribusi aquifer-aquifer di daerah East Ertsberg Skarn System (EESS). Untuk mengkaji sistem penyaliran pada IOZ dan DOZ dibutuhkan pemahaman tentang hidrogeologi, geologi daerah regional (tektonik setting, stratigrafi dan struktur geologi regional), geologi daerah penelitian (litologi dan struktur geologi daerah penelitian), tipe-tipe aquifer, struktur – struktur geologi (faults, shear zones, joints, fracture dan pengetahuan tentang kehadiran karst), kimia air dan lain-lain.

1

2

Salah satu usaha yang selama ini dilakukan adalah dengan melakukan penyaliran di sekitar area tambang bawah tanah. Sistem penyaliran ini dilakukan dengan cara membuat lubang bor yang ditargetkan ke litologi tertentu yang diperkirakan mempunyai kandungan air yang besar. Air yang dialirkan dari aquifer disalurkan ke dam-dam untuk selanjutnya dipergunakan sebagai suplai air untuk kegiatan pemisahan bijih dari mineral pengotor yang dilakukan di Mill. Dari segi kualitas, penggunaan air untuk kegiatan Mill harus memperhatikan kualitas kimia dari air itu sendiri. Air yang terlalu asam dapat mempengaruhi proses pemisahan mineral bijih dari pengotornya, bahkan bisa mengurangi kadar bijih itu sendiri. Standar kualitas air yang bisa digunakan untuk kegiatan pemisahan bijih pada proses pengolahan adalah standar kualitas air golongan D (air untuk pertanian dan usaha perkotaan, industri dan PLTA) sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/ Menkes/ SK/ VII/ 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Masalah lain berkaitan dengan jumlah debit air yang mengalir harus benar- benar bisa menutupi sebagian besar kebutuhan kegiatan Mill. Pada saat ini kebutuhan air untuk pengolahan adalah 244.800 gpm selama satu tahun dan diharapkan debit air yang keluar bisa menyuplai sebesar 30% dari total kebutuhan air untuk pengolahan.

1.2. Perumusan Masalah

Adanya perubahan kimia air tanah yang terjadi di daerah penyaliran IOZ dan DOZ akan dijadikan bahan penelitian ini, kemudian akan dianalisis untuk mengetahui penyebab terjadinya perubahan kimia air tanah tersebut. Dari data kimia yang ada juga dicoba untuk mengetahui hubungan hidrolika antara satu aquifer dengan aquifer yang lain dan pada akhirnya dicoba untuk mengetahui sumber alirannya. Selain itu dari hasil analisa kimia air tanah dan perhitungan debit air yang ada, dapat diketahui ada tidaknya perubahan kualitas kimia air tanah dan besarnya cadangan air sehingga penggunaan air untuk kegiatan di Mill bisa dilakukan atau tidak.

3

Dua masalah ini yang akhirnya menuntut adanya usaha untuk mengetahui sumber aliran air, sehingga pada akhirnya bisa diperkirakan perubahan kualitas kimianya dan juga bisa diketahui besarnya cadangan air yang ada.

1.3. Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada pengkajian terhadap sistem penyaliran tambang bawah tanah di IOZ dan DOZ pada EESS guna menentukan arah aliran air tanah.

1.4. Tujuan Penelitian Penelitian ini ditujukan untuk mencari penyebab terjadinya perubahan

kimia air tanah serta melihat ada tidaknya hubungan hidrolika suatu aquifer dengan aquifer yang lainnya. Analisa sifat kimia air tanah juga ditujukan untuk mengetahui sumber dan arah aliran yang ada pada aquifer di sekitar daerah penelitian. Dua parameter yang dijadikan sebagai bahan penelitian penyebab terjadinya perubahan kimia air tanah adalah :

1.

Pengaruh litologi batuan terhadap perubahan kimia air tanah.

2.

Pengaruh oksidasi mineral sulfida terhadap perubahan kimia air tanah.

1.5.

Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan studi pustaka kemudian dilanjutkan dengan

observasi lapangan dan melakukan analisis dari keduanya untuk mendapatkan penyelesaian masalah yang baik. Adapun urutan pekerjaan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Studi literatur, brosur-brosur dan laporan penelitian perusahaan. Mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang, yang diperoleh dari :

- Instansi yang terkait.

- Perpustakaan.

- Brosur-brosur, grafik, tabel dan informasi dari data perusahaan.

4

Dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap keadaan geologi permukaan dan mencari informasi pendukung yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas. Mencocokkan dengan perumusan masalah, yang bertujuan agar penelitian yang dilakukan tidak meluas.

3.

Penentuan lokasi pengambilan data.

4.

Pengambilan data primer (langsung dari lapangan) dan data sekunder (laporan penelitiaan perusahaan).

5.

Pengelompokan data.

6.

Pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan beberapa perhitungan dan penggambaran. Selanjutnya disajikan dalam bentuk grafik-grafik atau rangkaian perhitungan dalam penyelesaian masalah yang ada.

7.

Pengambilan kesimpulan. Dilakukan korelasi antara hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan permasalahan yang diteliti.

1.6.

Hasil Yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1.

Mengetahui sumber-sumber air tanah maupun daerah-daerah yang berpotensi menyimpan air tanah di tambang dalam tanah IOZ dan DOZ .

2.

Mengetahui hubungan hidrolika suatu aquifer dengan aquifer lainnya yang bisa digunakan untuk memprediksi arah aliran air tanah dan daerah-daerah yang memiliki debit air tanah yang besar.

3.

Mengetahui sumber terjadinya perubahan kimia air tanah yang pada akhirnya bisa dijadikan sarana untuk memperkirakan sifat kimia air tanah untuk waktu selanjutnya.

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

PT. Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambang tembaga dan emas di Indonesia yang luas wilayah kontrak karya seluas 10.000 Ha meliputi area seluas 10 km x 10 km. Lokasi tambang tembaga dan emas ini terletak pada lokasi 04º0330- 04º1130Lintang Selatan dan 137º0230- 137º1000Bujur Timur, Kecamatan Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Propinsi Papua (Gambar 2.1.). Selain lokasi pertambangan, PT. Freeport Indonesia juga memiliki ijin penggunaan area untuk prasarana proyek yang meliputi daerah seluas 1.630 km 2 membujur dari Utara (sekitar wilayah kontrak kerja) ke Selatan (sekitar pelabuhan Amamapare). Daerah ini merupakan daerah kegiatan operasi Freeport yang meliputi sarana dan prasarana pelabuhan, pipa penyaluran konsentrat tembaga, jalan angkutan, pipa penyaluran bahan bakar minyak, serta beberapa prasarana penunjang lainnya. Daerah pertambangan PT. Freeport Indonesia dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan darat atau dengan helikopter. Dari bandara udara Timika menuju kota Tembagapura melalui jalan darat dapat ditempuh dengan menggunakan bus / mobil kurang lebih sejauh 65 km selama 2 jam. Kota Tembagapura merupakan daerah pemukiman bagi seluruh pekerja dan karyawan Freeport, terletak kurang lebih pada ketinggian 1.980 m di atas permukaan air laut.

Daerah penambangan PT. Freeport Indonesia secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu :

a. Highland Daerah dataran tinggi dengan ketinggian antara 1.900 m – 3.850 m di atas permukaan laut (dpl). Pada daerah ini terdapat lokasi tambang terbuka Grasberg, tambang bawah tanah IOZ, DOZ, Deep Ore Mineralized (DOM), Big Gossan, Amole, Kucing Liar, Mill Site dan tempat tinggal karyawan.

5

6

6 Gambar 2.1. Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah

Gambar 2.1. Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah

7

Tempat tinggal karyawan berada di Tembagapura pada ketinggian 1.980 m dpl, Hiden Valley pada ketinggian 2.300 m dpl dan di Ridge Camp 2.400 m dpl. b. Lowland Dataran rendah yang mencakup lokasi pelabuhan Amamapare (Portsite), perumahan karyawan dan kantor administrasi di Kuala Kencana serta beberapa lokasi pendukung lainnya. Untuk dapat sampai pada area penambangan IOZ, DOZ, Grasberg, GBT, DOM, Mill Level Adit (MLA), Amole, Kucing Liar, serta lokasi-lokasi aktifitas

penambangan lainnya, jika menggunakan jalan darat dapat ditempuh dengan menggunakan fasilitas bus karyawan dari terminal bus Tembagapura (mile-68) sampai ke tempat perhentian terakhir bus di mile-74 (Office Building 2 / Area Crushing Plant) pada ketinggian 2.800 m di atas permukaan air laut dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Tambang bawah tanah IOZ memiliki ketinggian 3.370 m dpl sampai 3.540

dpl dan merupakan lokasi penambangan yang ketiga setelah tambang bawah tanah GBT area I dan GBT area II. Pada saat ini tambang bawah tanah pada area I dan area II sudah tidak berproduksi lagi. Tambang bawah tanah IOZ terletak pada 152 meter di bawah GBT area II dan 170 meter di atas DOZ. Untuk dapat ke lokasi IOZ dapat melewati jalan melalui level 3.530 GBT dengan jarak 2.500 m dan dengan memakai jalur ramp A dan ramp B yang merupakan jalan keluar masuk daerah IOZ berbentuk spiral. Ramp A digunakan sebagai jalan turun sedangkan ramp B digunakan sebagai jalan naik menuju IOZ. Selain kedua jalur

m

di

atas untuk menuju IOZ dapat juga melalui level 2.890 MLA dengan jarak 5.500

m.

Lokasi tambang DOZ merupakan bagian dari kegiatan penambangan di GBT. Kegiatan penambangan di DOZ bisa dijangkau melalui MLA portal yang berada di kawasan mile 74 dengan elevasi 2.940 atau melalui ventilation drifts yang berada pada level 2.960 m.

8

8 Gambar 2.2. Tata Letak Tambang Bawah Tanah IOZ dan DOZ 2.2. Geologi Regional 2.2.1. Tektonik

Gambar 2.2. Tata Letak Tambang Bawah Tanah IOZ dan DOZ

2.2.

Geologi Regional

2.2.1.

Tektonik Setting

Lokasi penambangan IOZ dan DOZ terletak pada daerah Irian Jaya Mobile

Belt yang merupakan bagian perbatasan antara lempeng Indo-Australia bagian

Utara dengan lempeng Pasifik bagian Barat-Barat Laut. Lempeng Indo-Australia

mengandung batuan klastik berumur mesozoic yang masuk ke dalam grup

Kembelangan serta mengandung batuan karbonat yang berumur Cenozoic yang

masuk ke dalam grup New Guinea Limestone.

2.2.2. Stratigrafi

Secara regional, stratigrafi di sekitar daerah penelitian bisa dibagi kedalam

empat kelompok besar yang terdiri dari kelompok Kembelangan, kelompok New

Guniea Limestone, kelompok Glacial Till dan kelompok Batuan Intrusi. (Gambar

2.3.).

a. Kelompok Kembelangan

Ahli geologi PT. Freeport Indonesia telah membagi kelompok Kembelangan

ini dalam empat formasi yang terdiri :

1. Formasi Kopai (Jkk) yang berumur jurassic serta memiliki ketebalan

sekitar 770 m, tersusun atas sandstone, siltstone dan black limestone.

9

2. Formasi Woniwagi (Jkkw) yang berumur cretaceous dengan ketebalan

sekitar 980 m, tersusun atas batupasir kuarsa yang berlapis selang-seling dengan mudstone.

3. Formasi Piniya (Kkp) yang berumur cretaceous dengan ketebalan sekitar 600 m dan tersusun atas siltstone dan shale.

4. Formasi Ekmai yang berumur cretaceous dengan total ketebalan mencapai 700 m Batuan penyusun formasi ini dibagi menjadi tiga subkelompok yang terdiri dari :

a. Lapisan paling bawah dengan tebal 600 m merupakan unit glauconitic sandstone (Kke).

b. Lapisan tengah dengan tebal sekitar 100 m merupakan lapisan calcareous shale (Kkel).

c. Lapisan paling atas merupakan lapisan yang tipis dengan ketebalan hanya 4 m merupakan lapisan penciri berupa black calcareous shale (Kkeh).

b. Kelompok New Guneia Limstone

Kelompok New Guinea Limestone terdiri dari empat formasi yang terurut dari tua ke yang paling muda adalah sebagai berikut :

1. Formasi Waripi (Tw), berumur paleocene dengan ketebalan mencapai 300

m yang merupakan lapisan Mg dolomite dengan sisipan silt dan sand.

2. Formasi Faumai (Tf), berumur eocene dengan ketebalan antara 120 – 150

m dan terdiri dari lapisan massive limestone.

3. Formasi Sirga (Ts), berumur olegocene dengan ketebalan 30 – 50 m yang

tersusun oleh quartzone sandstone dengan semen berupa calcite, siltstone dan sandy limestone.

4. Formasi Kais (Tk), berumur oligocene – pliocene dengan ketebalan mencapai 1.100 m yang terdiri dari empat bagian yaitu :

a. Bagian tertua dengan ketebalan 300 – 350 m merupakan lapisan Mg limestone (Tk1), 30 – 50 m dari bagian lapisan ini merupakan lapisan yang sangat penting untuk penentuan unit hydrostratigrafi.

10

b. Bagian kedua (Tk2) merupakan lapisan limestone, shale dan perulangan sandstone dengan ketebalan total lapisan mencapai 80 m.

c. Anggota dari bagian yang ketiga (Tk3) dengan ketebalan kurang lebih 200 m merupakan occasional inerbedded sandstone.

d. Bagian paling muda dari formasi ini (Tk4) dengan ketebalan sekitar

500 m merupakan lapisan limestone dengan sisipan interbedded carbonaceous shale dan coal.

c. Kelompok Glaciatill,Peat dan Alluvium Kelompok Glaciatill, Peat dan Alluvium merupakan kelompok batuan yang tidak terkonsolidasi yang berumur pleistocene. Kelompok ini biasanya hadir pada lapisan teratas dan menutupi sebagian besar permukaan perbukitan. Endapan glaciatill paling besar terdapat di Carstenszewide. Di daerah ini juga diketahui tebalnya endapan alluvial sekitar 100 m. Adanya sinkholes pada daerah ini mencirikan bahwa daerah Carstenzewide merupakan bagian dari sistem Karst Alpine. Ketebalan alluvial di daerah Carstenzewide juga bisa dipakai sebagai acuan untuk memperkirakan ketebalan alluvial di daerah Tsinga Valley.

d. Kelompok Batuan Intrusi Ditinjau dari komposisi mineralogi batuannya, kelompok batuan intrusi ini merupakan batuan jenis diorite sampai quartz diorite yang berumur pliocene di sekitar daerah struktural pada litologi karbonat. Dua buah intrusi primer yang ada di sekitar lokasi penelitian adalah Grasberg Intrusive Complex (GIC) dan Ertsberg Diorite. Pada empat lokasi yaitu Wanagon, South Wanagon, Idenberg dan Lembah Tembaga (Subsurface) juga akan ditemukan tubuh batuan beku yang ukurannya relatif kecil dibanding dengan batuan intrusi primer. Tubuh batuan intrusi merupakan bagian yang kering kecuali pada daerah-daerah yang tersesarkan dan daerah kontak dengan batuan karbonat yaitu di sekitar skarn yang terkekarkan dan hornfels yang merupakan daerah water-bearing untuk GBT dan IOZ.

11

Pada daerah intrusi vulkanik pengaruh hydrothermal akibat pemanasan

oleh magma akan menyebabkan besarnya porositas dan permeabilitas batuan

memiliki nilai yang lebih tinggi. Pengaruh hydrothermal ini tidak terjadi pada

daerah DOZ dikarenakan terjadinya pengendapan anhydrite yang mampu

menyumbat pori-pori batuan sehingga permeabilitas batuan lebih rendah

dibandingkan daerah lainnya.

Pada daerah yang berlitologi batuan intrusif, bagian yang paling

penting jika ditinjau secara hidrologi adalah bagian yang secara geoteknik

memiliki nilai RQD mendekati nol. Pada lokasi penelitian bagian yang seperti

ini biasanya disebut dengan Poker Chip Zone, yang merupakan bagian yang

hampir tidak memiliki kandungan anhydrite.

Zone , yang merupakan bagian yang hampir tidak memiliki kandungan anhydrite . Gambar 2.3. Stratigrafi Daerah

Gambar 2.3. Stratigrafi Daerah Penelitian

12

12

13

2.2.3. Struktur Geologi Regional Penentuan stratigrafi dan struktur pada daerah penelitian didasarkan pada

analisa geologi di daerah Erstberg bagian Timur dan pada coring yang dihasilkan dari pengeboran ke arah Barat Laut daerah penelitian. Dari dua pertimbangan tersebut diketahui beberapa daerah yang dimungkinkan merupakan daerah struktural yang sangat penting peranannya dalam mengontrol aliran air tanah. Tiga buah sesar yang diinterpretasikan sangat mempengaruhi aliran air tanah untuk daerah IOZ – DOZ adalah Sesar-E, Sesar-Flat dan Sesar Northeast.

a. Sesar-E Sesar-E kurang lebih memiliki arah 180 o dengan kemiringan 40 o ke arah Barat. Sesar-E diperkirakan telah mempengaruhi pembentukan topografi

di daerah Yellow Valley dan juga telah menjadi aquifer yang penting bagi air tanah untuk bisa masuk ke daerah IOZ dan DOZ. Empat kenyataan lapangan yang menjadi bukti keberadaan Sesar-E adalah :

1. Banyaknya kekar dan sesar minor pada level 3.610.

2. Adanya pergeseran pada kontak marble dan skarn.

3. Adanya pergeseran pada kontak diorite dan skarn.

4. Adanya kenampakan topografi berupa topografi yang tidak menerus.

b. Flat-Sesar Flat-Sesar diperkirakan berada di sebelah Barat Laut dari area IOZ

pada level 3.540. Sesar ini diperkirakan memiliki jurus 100 o dengan kemiringan 40 o . Dua hal yang memperkuat dugaan keberadaan Flat –Sesar adalah :

1. Adanya anomali kontak antara marble dan skarn.

2. Adanya breksiasi pada bagian footwall dimana terjadi kontak antara

marble dan skarn.

c. Sesar-Northeast Lokasi sesar diperkirakan berada di sebelah Timur Laut dari area IOZ- DOZ. Northeast sesar diperkirakan berupa sesar vertikal dengan arah 35 o . Northeast sesar diperkirakan berada pada perpotongan dua sesar lain dimana

14

East sesar berada di sebelah Tenggara dan Flat sesar berada di sebelah Barat Laut dari Northeast sesar. Dua bukti keberadaan Northeast sesar adalah adanya kontak vertikal antara marble dan skarn pada level 3.450.

2.3. Iklim dan Intensitas Curah Hujan Seperti halnya iklim di daerah lain di Indonesia, Papua mempunyai iklim

tropis dengan intensitas curah hujan yang cukup besar, terutama di kota Tembagapura dan area penambangan PT. Freeport Indonesia yaitu antara 3.000

mm sampai 4.500 mm per tahun. Selain itu suhu udara cukup dingin terutama di

daerah pegunungan yaitu antara 3 0 C sampai 20 0 C. Hal ini berbeda dengan

kondisi di daerah Lowland (Porsite, Timika dan Kuala Kencana) yang

mempunyai suhu cukup panas yaitu sekitar 19 0 C sampai 38 0 C. Curah hujan rata-

rata di PT. Freeport Indonesia, mulai tahun 1998 sampai tahun 2002 dapat dilihat

pada lampiran A.

2.4. Cadangan Bijih

PT. Freeport Indonesia telah beroperasi di Papua selama 32 tahun dengan produksi sekitar 332.927,26 ton bijih per hari, yaitu 18.000 ton bijih per hari dari

tambang bawah tanah Intermediate Ore Zone (IOZ) dan Deep Ore Zone (DOZ) 95.956,91 ton per hari. Produksi bijih rata-rata 192.752,76 ton per hari dari tambang terbuka Grasberg. Untuk tambang bawah tanah Grasberg akan dilaksanakan setelah tambang terbuka Grasberg selesai. Hal ini dilakukan karena cadangan endapan bijih di Grasberg sudah tidak memungkinkan lagi ditambang dengan sistem tambang terbuka, sehingga perlu dilakukan dengan sistem tambang dalam.

Untuk area tambang Big Gossan, Kucing Liar, Amole dan DOM (Deep Ore Mineralisazed) belum dilakukan produksi dan sesuai dengan hasil eksplorasi di area tersebut mempunyai cadangan yang cukup besar. Selain kegiatan penambangan, PT. Freeport Indonesia juga terus mencari lokasi endapan mineral yang baru.

15

Tabel 2.1. Cadangan Bijih PT. Freeport Indonesia

Lokasi Penambangan

Tonnes

Cu

Au

Ag

(x 1000)

(%)

(gr/ton)

(gr/ton)

DOM

31.000

1,67

0,42

9,63

IOZ

21.000

1,05

0,39

7,63

DOZ

185.000

1,16

0,83

5,21

Big Gossan

37.000

2,69

1,02

16,42

Kucing Liar

1.109.000

1,02

1,18

2,99

Grasberg Open Pit

691.000

1,08

0,77

3,15

Grasberg Underground

321.000

1,41

1,41

5,30

Total

2.395.000

1,13

1,05

3,85

2.5.

Cara Penambangan dan Pengolahan Bijih Tembaga

2.5.1.

Cara Penambangan Bijih Tembaga

Saat ini PT. Freeport Indonesia menerapkan dua teknik penambangan,

yaitu tambang terbuka atau open pit di tambang Grasberg dan teknik block caving

pada cadangan bawah tanah yang dikenal sebagai IOZ dan DOZ.

2.5.1.1.Metode Tambang Terbuka (Open Pit)

Kegiatan tambang terbuka yang diterapkan oleh PT. Freeport Indonesia

terletak pada ketinggian sekitar 3.500 meter sampai 4.200 meter di atas

permukaan laut. Pada saat ini tambang terbuka yang aktif adalah Grasberg Open

Pit dengan target produksi 200.000 ton/hari. Grasberg Open Pit sendiri terletak

pada ketinggian 4.000 m dari permukaan laut dan terletak disebelah Barat Laut

tambang Erstberg yang sudah tidak aktif lagi. Sistem tambang terbuka yang

diterapkan PT. Freeport Indonesia menggunakan metode jenjang yang memiliki

ketinggian 15 meter untuk tambang bijih dan ketinggian 15 sampai 17 meter

untuk waste, dengan sudut jenjang masing-masing 64 sampai 67 derajat dan sudut

keseluruhan jenjang sekitar 42 sampai 45 derajat.

16

Pembongkaran bijih dan batuan dilakukan dengan cara peledakan yang sebelumnya dilakukan lebih dahulu pembuatan lubang ledak dengan mesin bor putar berdiameter rata-rata 12,75 cm sampai 15 cm dan kedalaman mencapai 17 meter. Bahan peledak yang digunakan yaitu Ammonium Nitrate Fuel Oil (ANFO) buatan Amerika. Setelah dilakukan peledakan, kemudian dilakukan pemuatan dengan menggunakan shovel dan loader. Setelah pemuatan dilakukan pengangkutan dengan menggunakan dump truck menuju instalasi crusher yang berada di atas GBT. Setelah dari instalasi crusher, bijih turun menuju area Ore Flow yang berada di GBT Area I Upper Level Conveyor Area yang kemudian akan turun lagi melalui Ore Pass # 6 sampai Ore Pass # 9 sampai menuju MLA Bottom Ore Bin yang selanjutnya bijih akan diangkut keluar dengan belt conveyor menuju stock pile yang berada di luar tambang bawah tanah. 2.5.1.2.Metode Tambang Bawah Tanah (Block Caving) Sistem Penambangan pada tambang bawah tanah yang diterapkan oleh PT. Freeport Indonesia menggunakan sistem Block Caving atau metode ambrukan

(Gambar 2.9.). Metode ini menggunakan beberapa level dimana badan bijih dihancurkan atau diledakan pada level teratas (undercut). Karena gaya gravitasi, sifat batuan dan beban dari bijih sendiri, ambrukan bijih akan turun dengan sendirinya ke level di bawahnya (level produksi). Beberapa kegiatan pada metode block caving sebagai berikut :

1. Level Undercut (3.146 L dan 3.136 L) Level ini merupakan level ambrukan dengan undercutting sebagai kegiatan utama yaitu pemboran dan peledakan pada daerah drill drift untuk membuat gua pemula ambrukan. Jarak antara drill drift satu dengan yang drill drift lainnya adalah 30 m dengan panjang bervariasi mengikuti badan bijih dan posisinya sejajar terhadap panel drill drift di bawahnya (level produksi). Ukuran lubang bukaan dari drill drift adalah 3,6 x 3, 6 meter (Gambar 2.5.). Ukuran standar drift bermacam-macam sesuai dengan tujuan pembuatan dan kondisi batuannya. Melalui drift ini para pekerja tambang mengoperasikan mesin bor untuk membuat lubang-lubang bor untuk peledakan pada drift-drift

17

tersebut dengan jarak yang lebih rapat. Lubang-lubang bor dibuat dengan pola

menyebar menyerupai kipas (fan drilling) disepanjang drift-drift tadi. Lubang-

lubang bor tersebut kemudian diisi bahan peledak untuk meledakkan pillar-

pillar yang akan diruntuhkan. Peledakan menyebabkan rekahan alamiah pada

batuan dan setelah “atap” yang menahannya roboh, maka dengan beratnya

sendiri satu blok batuan horizontal (satu baris) akan runtuh dan mengisi ruang

kosong yang telah diledakkan atau disebut dengan drawbell. Batuan yang

telah dihancurkan turun dengan gaya gravitasi melalui drawbell ke drawpoint

yang berada di level produksi atau level extraction.

yang berada di level produksi atau level extraction . Gambar 2.5. Level Undercut 2. Level Produksi

Gambar 2.5.

Level Undercut

2. Level Produksi atau Level Extraction (3.116 L dan 3.126 L)

Level produksi ini merupakan lubang bukaan yang berada tepat di bawah level

undercut, yang berfungsi sebagai tempat penarikan bijih hasil ambrukan

(broken ore) dari level undercut (Gambar 2.6.). Dua lubang bukaan penting

dalam level ini adalah :

Panel

Yaitu lubang bukaan sebagai jalan angkut broken ore dari lubang bukaan

penarikan bijih (drawpoint) menuju lokasi penumpahan broken ore yang

dilengkapi dengan rock breaker atau pemecah batu untuk mereduksi

broken ore yang berukuran besar agar dapat lolos dari grizzly. Lantai,

18

dinding dan atap yang dianggap vital (stasiun rock breaker, ruang

perbaikan, ruang makan) dipasang spilt set, wire mesh, shotcrete dan

perkuatan dengan beton (concrete). Perkuatan tersebut dimaksudkan untuk

mengamankan segala aktivitas yang berada di level produksi dari bahaya

runtuhnya batuan.

Drawpoint

Yaitu lubang – lubang penarikan bijih yang menyerong ke kiri dan ke

kanan pada setiap panel untuk tempat loading broken ore dari level

undercut dengan menggunakan alat LHD (Load-Haul-Dump). Drawpoint

yang dibuat terdiri dari dua macam yaitu single drawpoint yang hanya

terdiri dari satu lubang dari dari satu sisi panel dan double drawpoint yang

terdiri dari satu lubang yang menghubungkan dua panel. Tata letak

drawpoint dirancang agar tahan terhadap beban ambrukan broken ore.

Sudut antara panel dengan drawpoint dibuat 45 0 dengan jarak antara

drawpoint adalah 18 meter. Satu drawpoint mewakili satu blok untuk satu

caving atau gua.

drawpoint mewakili satu blok untuk satu caving atau gua. Gambar 2.6. Level Extraction 3. Level Truck

Gambar 2.6. Level Extraction

3. Level Truck Haulage (3.076 L)

Level ini merupakan level yang terletak di bawah level produksi berfungsi

sebagai jalan untuk alat angkut (Gambar 2.7.). Broken ore yang turun dari

19

level produksi, langsung jatuh ke bawah melalui raise setinggi 20 meter dan

ditampung pada tempat penampungan, kemudian broken ore diangkut dengan

menggunakan truk ke DOZ Crusher (Gyratory Crusher). Gyratory Crusher

akan mereduksi ukuran batuan dan selanjutnya diturunkan ke ore bin yang

berdiameter 10 meter dan diteruskan melalui ore pass yang berdiameter 3

meter ke feeder.

melalui ore pass yang berdiameter 3 meter ke feeder . Gambar 2.7. Level Truck Haulage 4.

Gambar 2.7. Level Truck Haulage

4. Level Exhaust atau Gallery (3.010 L)

Level ini merupakan level yang terletak diantara level pengangkutan dengan

level produksi, yang berfungsi untuk mengalirkan udara bersih ke level

undercut, level produksi dan level pengangkutan. Disamping itu juga

berfungsi untuk mengeluarkan udara kotor melalui sumuran vertikal (Bore

Hole # 3) sepanjang 800 meter yang langsung menuju ke permukaan tempat

kipas tambang dipasang (Gambar 2.8.).

5. Level Conveyor

Level conveyor merupakan level terbawah pada sistem block caving yang

merupakan area penempatan sabuk berjalan (belt conveyor) guna mengalirkan

bijih yang berasal dari level produksi, selanjutnya akan diangkut menuju stock

pile yang berada di luar tambang bawah tanah

20

20 Gambar 2.8. Level Exhaust 2.5.2. Cara Pengolahan Bijih Tembaga Bijih yang telah dihancurkan diangkut ke

Gambar 2.8.

Level Exhaust

2.5.2. Cara Pengolahan Bijih Tembaga

Bijih yang telah dihancurkan diangkut ke pabrik pengolahan melalui

rangkaian ban berjalan (belt conveyor) dan ore pass. Proses konsentrasi meliputi

berbagai teknik fisika, termasuk penghancuran, penggilingan dan pengapungan.

Gabungan teknik penghancuran digunakan, termasuk penggunaan mesin Semi

Autogenous Grinding (SAG) dan Ball Mill untuk menghancurkan bijih tambang

menjadi pasir yang sangat halus.

Selanjutnya diikuti dengan proses pengapungan, yang menggunakan re-

agent, bahan yang berbasis alkohol dan kapur, untuk memisahkan konsentrat yang

mengandung mineral tembaga, emas dan perak. Di mana mineral-mineral tersebut

mengapung ke permukaan dan diciduk permukaannya (skimmed-off) sebagai

produk akhir. Sisa dari batuan yang tidak memiliki nilai ekonomi akan

mengendap di bagian dasar sebagai tailing, yang dilepaskan melalui arus sungai

menuju daerah pengendapan di dataran rendah.

Konsentrat dalam bentuk bubur disalurkan dari pabrik pengolahan menuju

pabrik pengeringan di pelabuhan Amamapare, melalui pipa sepanjang 110 Km.

Konsentrat yang telah dikeringkan disimpan di pelabuhan Amamapare sebelum

dijual dan dikapalkan ke pabrik peleburan di seluruh dunia.

21

21 Gambar 2.9. Metode Block Caving

Gambar 2.9. Metode Block Caving

BAB III DASAR TEORI

3.1. Sirkulasi Air di Bumi

Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 air : 97,5 % adalah air laut, 1,75 % berbentuk es dan 0,73 % berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Hanya 0,001 % berbentuk uap di udara 6) .

Air di bumi ini mengulangi terus-menerus sirkulasi penguapan, presipitasi dan pengaliran keluar (outflow). Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan. Sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan sebagian tiba ke permukaan bumi. Tidak semua bagian hujan yang jatuh ke permukaan bumi mencapai permukaan tanah. Sebagian akan tertahan oleh tumbuh-tumbuhan di mana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau mengalir melalui dahan-dahan ke permukaan tanah. Sebagian air hujan yang tiba ke permukaan tanah akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi). Bagian lain yang merupakan kelebihan akan mengisi lekuk- lekuk permukaan tanah, kemudian mengalir ke daerah-daerah yang rendah, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya ke laut. Tidak semua butir air yang mengalir akan tiba ke laut. Dalam perjalanan ke laut sebagian akan menguap dan kembali ke udara. Sebagian air yang masuk ke dalam tanah keluar kembali segera ke sungai- sungai (disebut aliran intra = interflow). Tetapi sebagian besar akan tersimpan sebagai air tanah (groundwater) yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama ke permukaan tanah di daerah-daerah yang rendah (disebut groundwater runoff = limpasan air tanah).

6) Menunjukan No. Urut Daftar Pustaka

22

23

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka berkembanglah ilmu hidrologi,

yaitu ilmu yang mempelajari sirkulasi air tersebut. Jadi dapat dikatakan, hidrologi

adalah ilmu untuk mempelajari :

1. Presipitasi (precipitation). 2. Evaporasi dan transpirasi (evaporation). 3. Aliran permukaan (surface stream
1.
Presipitasi (precipitation).
2.
Evaporasi dan transpirasi (evaporation).
3.
Aliran permukaan (surface stream flow).
4.
Air tanah (ground water).
Gambar 3.1. 6)
Sirkulasi Air (Siklus Hidrologi)
3.2.
Sumber-Sumber Air Permukaan dan Air Tanah
3.2.1.
Sumber-Sumber Air Permukaan

1. Presipitasi

Presipitasi biasanya dinyatakan sebagai kedalaman cairan yang berakumulasi

di atas permukaan bumi seandainya tidak terdapat kehilangan. Presipitasi

vertikal jatuh di atas permukaan bumi dan diukur oleh penakar hujan sedang

24

presipitasi horizontal dibentuk di atas permukaan bumi dan tidak diukur oleh penakar hujan. Presipitasi vertikal berupa : hujan, salju, hujan es dan sleet atau glaze (campuran hujan dan salju). Presipitasi horizontal berupa : es, kabut, embun beku, embun serta kondensasi pada es dan dalam tanah.

2. Curah Hujan Curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh pada satuan luas, dinyatakan dalam millimeter. Sedangkan derajat curah hujan merupakan banyaknya curah hujan per satuan waktu tertentu dan disebut sebagai intensitas hujan.

3. Limpasan Limpasan adalah bagian dari presipitasi (juga kontribusi-kontribusi permukaan dan bawah tanah) yang terdiri atas gerakan gravitasi air dan nampak pada saluran permukaan dari bentuk permanen maupun terputus-putus.

3.2.2. Sumber-Sumber Air Tanah

1. Infiltrasi dan Perkolasi Infiltrasi adalah proses perpindahan air dari atas ke dalam tanah. Sedangkan

perkolasi adalah gerakan air ke bawah tanah dari zona tidak jenuh ke daerah jenuh air atau gerakan air dari permukaan tanah sampai permukaan air tanah.

2. Aquifer 1) Aquifer adalah lapisan tanah atau massa batuan yang bersifat dapat menyimpan dan meloloskan air, serta dapat dikembangkan secara ekonomis. Jenis-jenis aquifer :

a. Aquifer tertekan (confined aquifer), adalah lapisan permeable yang sepenuhnya jenuh air dan dibatasi oleh lapisan-lapisan yang impermeable, baik pada bagian atas maupun pada bagian bawahnya.

b. Aquifer setengah tertekan (semi confined aquifer) atau disebut juga leaky aquifer adalah lapisan yang jenuh air, pada bagian atas dibatasi oleh lapisan semipermeable dan pada bagian bawahnya dibatasi oleh lapisan yang impermeable atau semipermeable.

c. Aquifer semi bebas (semi unconfined aquifer), adalah aquifer utama tertutup oleh suatu lapisan kurang kedap air atau lapisan yang menutupi aquifer utama mempunyai kelulusan yang lebih kecil dari angka kelulusan

25

aquifer utama, sehingga aliran arah horizontal pada lapisan tersebut tak dapat diabaikan. d. Aquifer bebas (unconfined aquifer), adalah lapisan aquifer yang hanya sebagian ketebalan lapisan kedap airnya yang jenuh air. Lapisan yang dibatasi oleh lapisan impermeable dibagian bawahnya ini umumnya terdapat pada bagian atas dari lapisan batuan / tanah dan batas atas aquifer tersebut adalah muka air tanah, yang berada dalam kesetimbangan dengan tekanan udara.

3.3. Aliran dan Penyebaran Air Tanah

Air tanah mengalir melalui tanah dibawah pengaruh gradien hidrolika. Hal ini merupakan petunjuk adanya kemiringan pada muka air tanah atau perbedaan tekanan dimana aquifernya tidak bebas. Banyaknya air tanah yang tersimpan tergantung pada sifat batuannya. Pada waktu tertentu air tanah yang tersimpan dalam aquifer dapat berpindah menempuh jarak yang jauh, baik menyamping atau tegak lurus dari satu sumber asalkan tersedia gaya berat yang mampu untuk mengatasi tahanan gesek dari alur aliran dan memberikan gradien hidrolika yang cukup. Ciri-ciri struktur massa batuan memegang peranan besar dalam penyebaran air tanah. Sebagai contoh pada bidang perlapisan endapan sedimen dimana air dapat menempuh jarak yang jauh sepanjang lapisan atau dari singkapan ke titik pelepasan. Demikian juga bidang retakan di dalam batuan dan patahan merupakan penghantar air tanah yang baik. Air tanah dapat juga dihantarkan hingga jauh oleh aliran daerah ketidakmenerusan.

3.4. Sistem Penyaliran Tambang Bawah Tanah

Penyaliran pada tambang bawah tanah umumnya dilakukan dengan cara- cara sebagai berikut :

a. Drainase Dengan Terowongan (Tunnel-Adit). Penyaliran ini dengan membuat tunnel atau adit bila daerahnya memungkinkan, dimana terowongan ini dibuat sebagai level pengeringan

26

tersendiri untuk mengeluarkan air tambang bawah tanah. Cara ini relatif murah dan ekonomis bila dibandingkan dengan cara pemompaan air ke luar tambang.

b.

Penyaliran Tambang Dengan Pemompaan. Penyaliran tambang bawah tanah dengan sistem pemompaan adalah untuk mengeluarkan air yang terkumpul pada dasar shaft atau sumuran bawah tanah yang sengaja dibuat untuk menampung air dari permukaan maupun air rembesan bawah tanah. Air yang sudah terkumpul tersebut kemudian dipompa keluar atau ke permukaan tambang. Penyaliran dengan pemompaan dapat dilakukan dengan sistem pemompaan langsung berupa pompa slurry dan dengan sistem pemompaan tidak langsung berupa fasilitas pompa yang terpasang secara terpisah untuk memompa air bersih (tidak berlumpur) dimana air tambang yang terkumpul diendapkan terlebih dahulu untuk memisahkan air jernih dengan endapan lumpur pada suatu sumur/kolam pengendapan.

c.

Penyaliran Tambang Dengan Pemboran (Dewatering Drill). Sistem penyaliran tambang bawah tambang ini dilakukan dengan cara membuat lubang bor yang ditargetkan ke litologi tertentu yang diperkirakan mempunyai kandungan air yang besar. Pada level tertentu dibuat stasiun bor yang kemudian dilakukan pemboran untuk mengeluarkan air sesuai dengan letak kandungan air tanah yang berpotensi besar menjadi sumber air di dalam tambang. Air akan mengalir pada elevasi yang menurun melalui drainway dengan memanfaatkan gravitasi.

3.5.

Water Balance (Neraca Air)

Perhitungan awal dari analisa ini didasarkan pada kondisi keseimbangan yang dinamik dari aquifer. Sehingga air yang masuk ke dalam aquifer akan sama dengan air yang keluar. Bila dinyatakan dengan persamaan maka dapat ditulis

sebagai berikut :

 

I

= O ± S 5) ………………………

…… (3.1.)

dimana :

27

O : Jumlah air yang keluar.

S : Penyimpanan air tanah. Air yang masuk berasal dari air hujan, dan mengalir melalui beberapa water-bearing. Sedangkan air yang keluar dari beberapa lubang bor tambang bawah tanah IOZ maupun DOZ digunakan sebagai saluran drainage. Aliran air yang masuk ke dalam tambang (inflow) berdasarkan data curah hujan dapat dihitung dengan rumus :

dimana :

R

=

f

.

P

.

A 5) ……………………

(3.2.)

R

: Recharge dari presipitasi (m 3 /hari).

f

: Faktor pengisian.

P

: Presipitasi (mm/hari).

A

: Luas daerah tangkapan air hujan (m 2 ).

Untuk menghitung inflow area EESS diperhitungkan pula kondisi batuan yang ada serta kemampuan resap dari material. Sehingga digunakan faktor pengisian atau recharge sebesar 0,9 4) . Untuk menghitung total aliran outflow di EESS maka harus menghitung aliran air yang keluar pada tiap-tiap stasiun dewatering di GBT, IOZ dan DOZ.

3.6.

Kimia Air Tanah

3.6.1.

Analisa Kimia Air Tanah

Salah satu kendala dalam pengukuran kimia air tanah terutama pengukuran pH adalah adanya kontak langsung antara contoh air dengan CO 2 di udara yang bisa menaikan nilai pH dibanding dengan pH saat air berada dalam aquifer atau bahkan menyebabkan terjadinya pengendapan CaCO 3 dalam air 2) . Untuk mengurangi tingkat kesalahan yang diakibatkan karena adanya kontak dengan udara di atmosfer maka pada penganalisaan sifat kimia air tanah selalu dilakukan analisa lapangan. Data dari hasil analisa lapangan akan digunakan oleh

laboratorium untuk dijadikan sebagai pembanding dengan hasil analisa laboratorium.

28

Analisa lapangan yang biasa dilakukan adalah analisa untuk parameter seperti pH, suhu dan Electrical Conductivity (EC) yang bisa dilakukan dengan menggunakan elektode. Pada beberapa analisa lapangan sering juga dianalisa parameter Eh, O 2 , alkalinity dan Fe 2+ . Secara garis besar dimungkinkan terdapat dua macam kesalahan yang terjadi saat penganalisaan kimia air tanah yaitu presisi dan akurasi. Presisi atau kesalahan secara statistik biasanya digunakan untuk mengetahui perubahan tingkat kesalahan dari prosedur yang dilakukan saat menganalisa. Untuk mengetahui tingkat kesalahan statistik ini biasanya dilakukan pengulangan penganalisaan yang diberlakukan pada contoh air utama dengan contoh air duplikat yang diambil dari tempat yang sama. Pengambilan contoh air duplikat tidak harus dilakukan jika laboratorium yang akan menganalisa contoh air sudah melakukan uji presisi dengan contoh yang lain. Akurasi atau kesalahan sistematik adalah kesalahan yang terjadi saat penganalisaan dilakukan atau kesalahan karena adanya perbedaan prosedur selama penganalisan berlangsung. Kesalahan sistematik bisa diuji dengan membandingkan hasil analisa dari satu laboratorium dengan laboratorium yang lain.

Secara sederhana nilai akurasi bisa dicari dengan menggunakan nilai Electro Neutrality (EN) yaitu dengan memanfaatkan sifat netral suatu kimia air tanah dalam aquifer. Karena sifat netralnya suatu air tanah dalam aquifer maka jumlah kation dan anion yang terlarut dalam air idealnya memiliki nilai yang sama.

Penghitungan akurasi yang dimaksudkan adalah dengan menggunakan persamaan :

E.N. (%)

=

Kation

+

Anion

Kation

Anion

×100%

2)

Untuk nilai anion dan kation terlarut yang memiliki nilai

lebih dari 1

mg/L nilai akurasi yang masih bisa diterima adalah kurang dari 5%. Lain halnya untuk contoh air yang masih memiliki nilai kation-anion terlarut yang lebih kecil

29

dari 1 mg/L, pada analisa contoh air seperti ini nilai akurasi yang bisa diterima adalah kurang dari 10% 7) .

3.6.2. Perubahan Sifat Kimia Air

3.6.2.1.Perubahan Kimia Air Hujan Komposisi kimia air hujan sangat dipengaruhi oleh sifat kimia air yang menjadi sumber terjadinya evaporasi dan penambahan atau pengurangan ion yang terkandung dalam air pada saat terjadinya evaporasi. Sifat air hujan di sekitar pantai akan menampakan besarnya pengaruh air laut yang menjadi sumber evaporasi dengan ditandai oleh besarnya kandungan Na + dan Cl - pada air hujan. Demikian juga sifat air hujan di sekitar kawasan industri akan menampakan sifat yang lain dikarenakan adanya pengaruh kegiatan industri yang mampu merubah komposisi udara dan akhirnya akan mempengaruhi sifat air yang terevaporasi ke atmosfer. Besarnya kandungan anion NO 3 - dan SO 4 2- yang biasanya terjadi akibat pengaruh kegiatan industri akan mampu menghasilkan hujan air asam. Anion NO 3 - dan SO 4 2- sebagai hasil dari proses pengoksidasian gas NO x dan SO 2 di udara mampu berikatan dengan ion H + menghasilkan HNO 3 dan H 2 SO 4 asam- asam inilah yang mampu menurunkan pH air hujan di daerah industri. 3.6.2.2.Perubahan Kimia Air Tanah Komposisi kimia air tanah akan dipengaruhi oleh sifat kimia batuan yang menjadi aquifer air tanah tersebut. Batuan ultrabasa yang kaya dengan olivine dan pyroxsen akan memberikan pengaruh terhadap besarnya komposisi kation Mg 2+ dalam air tanah. Seperti halnya juga kandungan Ca 2+ akan lebih besar pada air tanah yang mengalir melalui calcareous soil. Dolomite (CaMg(CO 3 ) 2 ) yang menjadi aquifer akan memberikan komposisi Ca 2+ dan Mg 2+ yang relatif sama pada air tanah yang melewatinya. Adanya sifat aquifer yang mampu mempengaruhi komposisi kimia air tanah bisa menyebabkan terjadinya penyebaran kation-anion yang berbeda-beda untuk masing-masing aquifer. Berdasarkan nilai kandungan kation dan anion dalam air bisa juga diperkirakan jenis litologi yang menjadi aquifer air tersebut (Tabel 3.1.).

30

Tabel 3.1. 2) Rata-Rata Konsentrasi Kation - Anion Dalam Sumber Air

Elemen

Konsentrasi

Sumber

(mmol/l)

Na +

0,1 – 2

Feldspar, Batugaram, Zeolite, Atmosfer

K

+

0,01 – 0.2

Feldspar, Mika

Mg 2+

 

0,05 – 2

Dolomite, Serpentine, Pyroxene, Amfibole, Olivin, Mica

Ca 2+

 

0,05 – 5

Carbonate, Gypsum, Feldspar, Pyroxene, Amfibole

Cl

-

0,05 – 2

Batugaram, Atmosfer

HCO 3

-

0 – 5

Carbonat, Material Organik

SO 4

2-

0.01 – 0.2

Atmosfer, Gypsum, Sulfida

NO 3

-

0.001 – 0.2

Atmosfer, Material Organik

SiO 2

 

0.02 – 1

Silicate

Fe 2+

0 – 0.5

Silicate, Siderit, Hydroksida, Sulfida

PO 4

-

0 – 0.02

Material Organik, Phosphat

Dengan memanfaatkan sifat khas batuan untuk menguraikan kation dan

anion, diagram Schoeller biasanya dipakai untuk menganalisa kesamaan aquifer

dari beberapa contoh air.

Air yang mengalir melalui litologi granite (zone lemah) atau melalui

batupasir akan menunjukan sifat kimia yang normal. Hal ini dikarenakan dua jenis

batuan tersebut lebih didominasi oleh mineral silica yang susah larut dalam air,

akibatnya komposisi air tanah akan sangat berpengaruh pada komposisi air

sebelum terjadinya kontak dengan batuan.

3.6.3. Reaksi Kimia Air Tanah

3.6.3.1.Reaksi Kinetik dan Keseimbangan (Equilibrium)

Dua pengertian utama yang harus diperhatikan dalam mempelajari

hidrogeokimia adalah adanya pelarutan dan pengendapan mineral. Mineral dapat

larut di air dan dapat mengendap dari konsentrasi yang terkandung di air.

Terjadinya pengendapan dan pelarutan sangat ditentukan oleh adanya kondisi

kinetik dan equilibrium. Perubahan kondisi kinetik dan equilibrium untuk setiap

waktu ditentukan oleh konsentrasi mineral tersebut. Hubungan antara reaksi

kinetik dan equilibrium (Gambar 3.2.).

31

Pengendapan Mineral Konsentrasi Keseimbangan Pelarutan mineral Konsenterasi
Pengendapan Mineral
Konsentrasi Keseimbangan
Pelarutan mineral
Konsenterasi

Waktu

Gambar 3.2. 2) Reaksi Kinetik vs Kesetimbangan Mineral

Dari grafik bisa dilihat bahwa pada kondisi kinetik (dissolution /

precipitation) terjadinya pereaksian sangat dipengaruhi oleh waktu dan

perbandingan antara air dengan mineral tertentu. Konsentrasi hasil pelarutan

mineral primer akan terus meningkat sampai pada batas konsentrasi tertentu

dimana dia bersifat equlibrium. Jika pada suatu reaksi konsentrasi hasil larutan

mineral primer tertentu melebihi nilai equilibrium, maka proses yang akan terjadi

adalah proses pengendapan mineral sekunder dari mineral-mineral terlarut. Proses

ini akan terus berlangsung sampai mencapai konsentrasi tertentu dimana hasil

pelarutan sama dengan hasil pengendapan. Proses pelarutan mineral primer dan

pengendapan mineral sekunder ini bisa terjadi bersamaan.

Mineral sulfida merupakan mineral primer yang paling banyak ditemukan

di lokasi pertambangan (Tabel 3.2.). Hasil pelarutan mineral primer ini akan

bereaksi dengan mineral larutan yang lainnya dan akan membentuk suatu endapan

mineral sekunder.

32

Tabel 3.2. 2) Contoh Sulfida Primer

Mineral

Komposisi

Mineral

Komposisi

Realgar

AsS

Pyrhotite

Fe (0.8 – 1) S

Orpiment

As 2 S 3

Troilite

FeS

Greenckite

CdS

Greigite

Fe 3 S 4

Cobaltite

CoAsS

Arsenopyrite

FeAsS

Linnaeite

Co 3 S 4

Violarite

FeNi 2 S 4

Covellite

CuS

Cinnabar

HgS

Enargite

Cu 3 AsS 4

Galena

PbS

Tennatite

Cu 2 As 2 S 13

Stibnite

Sb 2 S 3

Pyrite

FeS 2

Spharelite

ZnS

Marcasite

FeS 2

Wurtzite

ZnS

3.6.3.2.Tahapan Perubahan Hidrogeokimia

Tahap pertama adalah tahap dimana terjadi pelarutan mineral - mineral

utama dan dilanjutkan dengan terjadinya pengendapan mineral - mineral sekunder

seperti sulfat, karbonat dan hydroxides dll. Pada tahap ini dicirikan dengan

adanya akumulasi mineral - mineral hasil pelarutan. Pada daerah tambang,

pelarutan mineral utama akan sangat efektif jika daerah tersebut memiliki curah

hujan yang tinggi, fluktuasi temperatur yang sering terjadi dan batuan yang

mengandung mineral primer tersebut tersingkap di permukaan.

Tahap kedua dimulai setelah sebagian besar mineral primer terlarut. Pada

tahap ini akumulasi mineral sekunder akan mulai terlarutkan. Karena pelarutan

mineral sekunder sama dengan akumulasi mineral sekunder dari mineral primer

maka pada tahap ini akan terjadi proses kesetimbangan pada mineral sekunder.

Tahap terakhir dari tahapan perubahan hidrogeokimia adalah adanya

pelarutan dari mineral-mineral yang resisten (low-reactivity) seperti quartz. Tahap

ini dicirikan dengan menurunnya konsentrasi mineral dalam batuan. Tahap ini

biasanya terjadi pada batuan yang tersingkap dimana proses pelapukan terjadi

secara intensif.

33

3.6.3.3.Pengasaman Air Tanah Penurunan pH selalu berasosiasi dengan kenaikan sulfat dan nitrogen.Tiga

faktor utama yang bisa menyebabkan terjadinya penurunan pH pada air tanah 2) , adalah :

a. Evapotranspirasi Yaitu perubahan komposisi kimia dari air hujan yang disebabkan oleh tingginya kandungan ammonium di udara. Reaksi yang terjadi pada kondisi ini adalah :

NH 4 + + 2O 2 NO 3 - + 2H + + H 2 O

b. Penggunaan Ammonia Penggunaan Amonia (seperti pupuk) yang berlebih pada tanah akan menyebabkan terjadinya oksidasi ammonia yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya penurunan pH tanah. Reaksi yang terjadi pada kondisi ini adalah :

NH 3 + 2O 2 NO 3 - + H + + H 2 O Nitrat yang dihasilkan akan dikonsumsi oleh tumbuhan dan akan menghasilkan HCO 3 - . Proses denitrification ini berlangsung dengan reaksi :

5CH 2 O + 4NO 3 - 2N 2 + 4HCO 3 - + CO 2 + 3H 2 O

c. Oksidasi Mineral Pyrite (FeS 2 ) Pyrite biasanya ditemukan pada sedimen yang tereduksi atau pada bagian yang tertutup oleh air tanah. Oksidasi pyrite bisa terjadi dikarenakan adanya sumur produksi yang menurunkan air tanah atau sebab lain yang menyebabkan tersingkapnya mineral pyrite ke permukaan. Reaksi yang menyebabkan terjadinya pengasaman air tanah adalah :

2FeS 2 + 15 / 2 O 2 + 5H 2 O 2FeOOH + 4SO 4 2- + 8H + Pada kondisi normal reaksi biasanya terjadi dalam dua tahap :

FeS 2 + 7 / 2 O 2 + H 2 O Fe 2+ + 2SO 4 2- + 2H + Fe 2+ yang dihasilkan akan mengalami oksidasi lanjutan menghasilkan Fe 3+ yang bisa terendapkan berupa FeOOH melalui reaksi :

Fe 2+ + ¼ O 2 + H + Fe 3+ + ½ H 2 O Empat parameter yang bisa dijadikan acuan untuk mendeteksi ada tidaknya pengaruh proses oksidasi terhadap komposisi kimia air tanah 2) adalah :

34

1. Tingkat Keasaman (pH) Tingkat keasaman atau pH pada air tanah yang terpengaruhi oleh proses oksidasi mineral sulfida akan menunjukan nilai pH yang semakin rendah jika dibandingkan dengan saat sebelum terjadinya oksidasi mineral sulfida. Turunnya nilai pH ini disebabkan karena adanya ion H + yang merupakan hasil dari proses oksidasi mineral sulfida.

2. Kandungan SO 4 Pada air yang terpengaruhi oleh aktifitas oksidasi mineral sulfida akan menunjukan kenaikan kandungan sulfat terlarut yang merupakan hasil dari pengoksidaan mineral sulfida. Kandungan sulfat akan mengala