Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Alhamdullilah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT,


akhirnya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “ SUMBER
HUKUM ISLAM “ ini. Guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pendidikan Agama Islam.
Sebagaimana telah di sebutkan di atas, bahwa makalah ini penulis
berusaha mengupas tentang Hukum Islam lengkap dalam Al- Qur’an dan
Sunnah, yang kemudian disebut sebagai Sumber Hukum Islam.
Di akui bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kekhilafan
karena itu di harapkan pembentulannya untuk perbaikan makalah
berikutnya.
Terima kasih banyak kami haturkan kepada semua pihak yang telah
berpatisipasi hingga rampungnya penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, Amiiiin……….

Jember, September 2010

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Islam adalah agama yang sempurna yang sudah barang tentu mengandung aturan
yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh seluruh umatnya. Setiap aturan dan hukum
memiliki sumbernya sendiri sebagai pedoman dalam pelaksanaannya.
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki hukum yang datang dari Yang
Maha Sempurna. Yang disampaikan melalui Rosulnya Muhammad SAW. Hukum Islam
termaktub lengkap dalam Al-Qur’an dan Sunnah, yang kemudian disebut sebagai Sumber
Hukum Islam. Al-qur’an dan Sunnah adalah dua hal yang menjadi pedoman utama bagi
umat Islam dalam menjalankan hidup demi mencapai kesempurnaan dunia dan akhirat.
Selain Al-qur’an dan sunnah, juga terdapat beberapa dalil yang dijadikan sebagai
Sumber Hukum Islam, diantaranya ialah Ijma’ dan Qiyas.

B. PERUMUSAN MASALAH
Beberapa masalah yang penulis angkat pada makalah ini adalah :
1. Apa yang disebut dengan Hukum ?
2. Apa yang disebut dengan Al-qur’an dan Sunnah ?
3. Apa yang disebut Ijma’ dan Qiyas ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. HUKUM
Hukum menurut bahasa ialah menetapkan sesuatu atas yang lain. Menurut Syara’
hukum ialah firman pembuat syara’ yang berhubungan dengan peraturan orang dewasa
yang mengandung tuntutan, memberikan sesuatu, atau menjadikan sesuatu sebagai
adanya yang lain. Sedangkam menurut Fiqih hukum ialah akibat dari kandungan firman
pembuat hukum dan menurut Ushul Fiqih huhum ialah firman dari pembuat syara’ itu
sendiri baik firman Tuhan atau Sabda Nabi.
Dengan demikian tidak boleh di artikan bahwa hukum syara’ hanya firman yang
semata – mata dan pembuat syara’ tanpa memasukkan dalil – dalil syara’ lain : Ijma’,
Qiyas dan lain – lain.
Hukum terbagi menjadi dua yaitu :
1. Hukum Tahlifi, yaitu Firman yang menjadi ketetapan yang terdiri atas :
a. Ijab, yaitu Firman yang menuntut sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.
b. Nadh, yaitu Firman yang menuntut sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak
pasti.
c. Tahrim, yaitu Firman yang menuntut meninggalkan sesuatu perbuatan dengan
tuntutan yang pasti.
d. Katabah, yaitu Firman yang menuntut meninggalkan sesuatu perbuatan dengan
tuntutan yang tidak pasti.
e. Ibadah, yaitu Firman yang membolehkan sesuatu untuk diperbuat ataupun di
ditinggalkan.

2. Hukum Wadh’I yaitu Firman yang nenjadikan sesuatu sebagai sebab adanya yang lain
atau sebagai penghalang.
Hukum Wadh’I terdiri atas :
a. Sebab, yaitu sesuatu yang terang dan tentu yang dijadikan sebagai pangkal adanya
hukum. Artinya dengan adanya sebab maka dengan sendirinya akan terbentuk
hukum ( Musabab ).
Sebab terdiri atas :
1. Sebab di luar usaha atau kesanggupan Mukallaf.
2. Sebab yang di sanggupi dan dapat diusahakan oleh mukallaf.
Mengerjakan sebab berarti menghendaki dan mengerjakan musababnya, baik
disadari ataupun tidak. Orang yang mengerjakan sebab dengan sempurna maka
orang tersebut tidak bias mengelakkan diri dari musababnya.
b. Syarat , yaitu sesuatu yang karenanya baru ada hukum, dan dengan ketiadaannya
Tidak akan ada hukum.
2
Syarat terbagi atas :
1. Syarat Haqiqi ( sya’I ) yaitu sesuatu pekerjaan yang di perintahkan syari’at
Mengerjakan yang lain, dan pekerjaannya yang lain ini tidak di terima apabila
tidak melakukan pekerjaan yang pertama.
2. Syarat Ja’li yaitu segala hal yang dijadikan syarat oleh perbuatannya untuk
mewujutkan perbuatan yang lain.
Syarat Ja’li terbagi atas :
a. Syarat pengampunan adanya masyrut ( syara’ yang lain )
b. Syarat yang tidak cocok dengan maksud masyrut dan berlawanan
dengan hikmahnya.
c. Syarat yang tidak nyata – nyata berlawanan atau tidak nyata – nyata
sesuai dengan masyrut,
d. Suatu pekerjaan yang tergantung pada sebab dan syarat di mana sebab
tidak ada tetapi syarat belum ada, maka pekerjaan tersebut tidak dapat
dilakukan.
c. Mani ( penghalang ) yaitu sesuatu hal yang karena adanya menyebabkan tidak
Adanya hukum atau tidak adanya sebab bagi hukum.
Perbedaan hukum Tahlifi dengan hukum Wadh’i
1. Hukum Tahlifi menuntut perbuatan mencegahnya atau membalikkan memilih
untuk melakukan atau tidak ,sedangkan hukum Wadh’I tidak menuntut melarang
atau membolehkan memilih.
2. Hukum Tahlifi selalu dalam kesanggupan mukallaf, sedangkan hukum Wadg’I
kadang di sanggupi kadang tidak.

B. AL-QUR’AN
Al-Qur’an ialah kumpulan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan dimukilkan dengan jalan mulawatir dan dengan bahasa Arab. Ke
Arab-an. Al-qur’an merupakan bagian dari Al-Qur’an, karena itu terjemahannya tidak
disebut sebagai Al-Qur’an. Al-qur’qn harus diturunkan dengan tawator artinya di
riwayatkan oleh orang banyak secara berturut – turut.
Pokok isi kandungan Al-Qur’an terdiri atas :
1. Tauhid
2. Ibadah
3. Janji dan Ancaman
4. Peraturan dan hukum
5. Riwayat dan cerita
Kebanyakan hukum yang ada dalam Al-qur’an bersifat umum ( kulli ) tidak
membicarakan soal –soal yang kecil ( Jur’I ) karena itu, Al-Qur’an membutuhkan
penjelasan untuk menjelaskan hukum secara lebih dekat yaitu berupa Sunnah Ijma’ dan
Qiyas.

3
Hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an secara garis besar terbagi atas dua yaitu :
1. Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan ( ibadah )
Ibadah terdiri dari :
a. Yang bersifat semata – semata ibadah, yaitu shalat dan puasa.
b. Yang bersifat harta benda dan hubungan masyarakat, yaitu Zakat
c. Yang bersifat badaniyah dan berhubungan juga dengan masyarakat yaitu
Hajji.
2. Hukum – hukum yang mengatur pergaulan manusi dengan manusia yang di sebut
Mu’amalat. Hukum ini dibagi empat yaitu :
a. Yang berhubungan dengan Jihod
b. Yang berhubungan dengan rumah tangga
c. Yang berhubungan dengan pergaulan hidup manusia
d. Yang berhubungan dengan hukum pidana ( Jinayat ).
Dalam mengadakan perintah dan larangan Al-Qur’an berpedoman kepada tiga hal
yaitu :
1. Tidak memberatkan atau menyusahkan
2. Tidak merperbanyak tuntutan
3. Berangsur – angsur dalam mentasri’kan hukum.

C. SUNNAH
Sunnah menurut bahasa ialah jalan yang terpuji. Jalan atau cara yang dibiasakan,
kebalikan bid’ah apa yang diperbuat oleh sahabat baik ada dasarnya dalam Al-qur’an dan
Hadist ataupun tidak, menurut istilah Sunnah ialah segala hal yang di mukil dan di
beritakan dan Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun pengakuan (Faqrir ).
Sunnah juga disebut Hadist atau khabar.
Sunnah dapat dijadikan Hujjah ( pegangan ) dan dapat mengadakan hukum.
Sunnah merupakan Sumber Hukum kedua setelah Al-Qur’an, serta menjadi dasar
penetapan hukum dan Aqal fikiran adalah yang ketiga.
Sunnah di bagi empat, yaitu :
1. Sunnah Qualiyyah ( Perkataan Nabi SAW ), disebut juga sebagai khabar, Sunnah
Qualiyyah terbagi atas :
a. Yang pasti benarnya
b. Yang pasti tidak benarnya
c. Yang tidak dapat dipastikan benar salahnya
2. Sunnah Fi’liyah ( perbuatan Nabi SAW ) terbagi atas :
a. Gerakan hati, jiwa dan tubuh
b. Perbuatan yang merupakan kebiasaan dan pembawaan
c. Perbuatan yang khusus dikerjakan oleh Nabi SAW
d. Perbuatan yang menjelaskan isi Al-Qur’an
e. Perbuatan yang menunjukkan kebolehan suatu perkara

4
3. Sunnah Taqririyah ( pengakuan Nabi SAW
4. Sunnah Hammiyah ( hal yang hendak diperbuat Nabi SAW tetapi tidak sampai di
perbuat.

D. IJMA’
Ijma’ ialah kebulatan pendapat semua ahli Ijhhad pada suatu masa mengenai suatu
Hukum Syara’ artinya, Ijma’ harus disetujui oleh seluruh ( lebih dari satu orang ) ahli
Ijhhad dan seluruh umat muslim pada masa yang sama dan persetujuan tersebut harus
tampak nyata, serta hanya untuk menetapkan hukum – hukum syara’.
Ijma’ terbagi atas :
1. Ijma’ Qauli, dimana para ahli Ijhhad mengeluarkan pendapat baik secara lisan
maupun tulisan untuk menyepakati pendapat mujtahid lain dimasanya. Ijma’ ini
juga disebut Ijma’ Bafani atau Ijma’ Qathh’i.
2. Ijma’ Sukuti, dimana para ahli Ijhhad bersikap diam terhadap pendapat mujtahid
lain dimasanya, diam disini dianggap menyetujui.

E. QIYAS
Dari segi bahasa, qiyas berarti mengukirkan sesuatu atas lainnya dan
mempersamakan. Sedangkan menurut istilah, Qiyas ialah menetapkan hukum suatu
perbuatan yang belum ada ketentuannya berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuan
hukumnya.
Rukun Qiyas yaitu :
1. Asal ( pokok ), yaitu yang menjadikan ukuran, syarat asal yaitu :
a. Hukum yang hendak di pindahkan kepada cabang masih ada pada
pokoknya.
b. Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara’
c. Hukum pokok tidak merupakan hukum pengecualian.
2. Far’un ( cabang ) , yaitu yang diukur atau yang diserupakan. Syarat Far’un yaitu :
a. Adanya cabang tidak lebih dulu dari pokok
b. Cabang tidak mempunyai ketentuan sendiri
c. Illat yang terdapat cabang harus sama dengan yang ada pada pokok
d. Hukum Cabang harus sama dengan hukum pokok
3. Syarat Illat yaitu :
a. Illat harus tetap berlaku
b. Illat berpengaruh terhadap hukum
c. Illat harus terang dan tertentu
d. Illat tidak berlawanan dengan nas
4. Hukum yaitu yang ditetapkan bagi cabang dan sama dengan yang terdapat pada
Pokok.

5
BAB III
PENUTUP

Demikian dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal senbagai


berikut :
1. Hukum ialah Firman pembuat syara’ yang berhubungan dengan perbuatan orang
Dewasa yang mengandung tuntutan, membolehkan sesuatu, atau menjadikan
sesuatu sebagai adanya yang lain .
2. Al-Qur’an kumpulan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW dan dimukilkan dengan jalan mulawatir dan dengan bahasa Arab.
3. Sunnah ialah segala yang dimukilkan dan diberitakan dari Nabi SAW, baik
berupa perkataan, ataupun pengakuan ( Faqris ).
4. Ijma’ ialah kebulatan pendapat semua ahli Ijhhad pada suatu masa mengenai suatu
hukum syara’.
5. Qiyas ialah menetapkan hukum suatu perbuatan yang belum ada ketentuannya
berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuan hukumnya.

6
DAFTAR PUSTAKA

- Hanafie,1962, USUL FIQIH, Jakarta, Widjaya

7
DAFTAR ISI

I. KATA PENGANTAR……………………………………..……..1

II. DAFTAR ISI……………………………………………………...II

III. BAB I. PENDAHULUAN……………………………………… 1

A. LATAR BELAKANG…………………………………….1

B. RUMUSAN MASALAH………………………………….1

IV. BAB II PEMBAHASAN……………………………………….…2

A. HUKUM…………………………………………………..2

B. Al-QUR’AN……………………………………………….3

C. SUNNAH………………………………………………….4

D. IJMA’……………………………………………………...5

E. QIYAS…………………………………………………….5

V. BAB III

PENUTUP………………………………………………..6

VI. DAFTAR

PUSTAKA……………………………………………...7
II