Anda di halaman 1dari 21

Ê 


Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu
waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama
lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila
dibandingkan dengan individu dan populasi.
Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat
komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan
menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas
seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan
mengambil beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak.
Ringkasannya pemberian nama komunitas dapat berdasarkan :
1) Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup atau indikator
lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan.
Dipterocarphaceae, dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan
sklerofil.
2) Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur,
komunitas pantai pasir, komunitas lautan,dll.
3) Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme
komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di
daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut
hutan hujan tropik.
Di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis besar
dapat dibagi dalam dua bagian yaitu (1) Komunitas akuatik, komunitas ini
misalnya yang terdapat di laut, di danau, di sungai, di parit atau di kolam, (2)
Komunitas terrestrial, yaitu kelompok organisme yang terdapat di pekarangan, di
hutan, di padang rumput, di padang pasir, dll.

c
0 0

‘ u
0 0u 
Komunitas atau dalam kepustakaan Eropa biasa disebut biocoenase atau
biocenosis adalah kelompok populasi makhluk hidup dalam suatu daerah atau
habitat tertentu. Ukuran besarnya komunitas dapat bermacam-macam. Ada
komunitas hewan dan fungu yang hanya tinggal pada sebatang yang telah busuk,
atau ada komunitas tumbuhan di hutan yang luasnya sampai mencapai suatu
benua.
1.‘ Keragaman (diversity) spesies :
Dapat di bahas mengenai spesies hewan dan tumbuhan yang hidup
dalam suatu komunitas tertentu. Daftar spesies merupaka ukuran
sederhana bagi kekayaan spesies atau keragaman spesies atau dapat
juga disebut diversitas spesies.
2.‘ Bentuk dan struktur pertumbuhan :
Tipe komunitas dapat ditafsirkan dengan kategori utama bentuk
pertumbuhan, misalnya pohon, perdu, atau lumut. Kemudian dapat
diperinci kedalam kategori pertumbuhan yang lebih kecil, misalnya
pohon berdaun lebar, pohon berdaun jarum. Bentuk pertumbuhan
tersebut dapat menentukan stratifikasi komunitas.
3.‘ Dominansi :
Dapat diamati bahwa tidak semua spesies dalam komunitas sama
pentingnya dalam menentukan sifat komunitas. Dari beratus spesies
yang mungkin ada dalam komunitas, hanya beberapa saja yang
berpengaruh dan dapat mengendalikan komunitasbaik mengenai
ukuran besarnya, cacah, atau dari aktivitasnya. Spesias dominan adalah
spesies yang secara ekologi sangat berhasil dan yang mampu
menentukan kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhannya.
4.‘ Kelimpahan nisbi :
Proporsi spesies yang berbeda dalam komunitas dapat ditentukan.
5.‘ Struktur trofik:

ë
?ubungan makan dalam komunitas akan menentukan arus energi dan
bahan dari tumbuhan dari herbivor ke karnivor

½‘  0 0
Sebuah komunitas paling sedikit terdiri dari komponen utamayaitu
produsen, makro dan mikro konsumen. Spesies dominan secara ekologi adalah
species yang berhasil dan mampu menentukan kondisi yang diperlukan untuk
pertumbuhanya. Dominansi adalah pengendalian nisbi yang diterapkan oleh
makhluk atas komposisi spesies dalam komuntas.
Tumbuhan lebih sering dominan dalam komunitas terestrial hewan. Dalam
komunitas akuatik hewan secara nisbi lebih penting, walaupun dominansinya
tidak berkembang. Kriteria lain untuk evaluasi spesies adalah dengan kerapatan
atau cacah individu yang ada persatuan luas.
Rumus indek dominansi menurut Simpson (1949) sebagai berikut:
C= ™(ni/N)2
Keterangan : C = index diversitas
ni = nilai kepentingan tiap-tiap spesies (misal cacah
individu, biomassa, produksi, dsb)
N = jumlah nilai kepentingan

J‘ u u

   0u 
Pada habitat yang berbeda dan satuan lingkungan yang berbeda, maka
akan didapatkan komunitas yang berbeda pula. Pada kenyataannya komposisi dan
sifat komunitas dapat dijadikan indikator yang paling baik untuk komunitas yang
berada pada habitat maupun satuan lingkungan tertentu.

Karakter komunitas

1) Kualitatif, seperti komposisi, bentuk hidup, fenologi dan vitalitas.


Vitalitas menggambarkan kapasitas pertumbuhan dan perkembangbiakan
organisme.
2) Kuantitatif, seperti Frekuensi, densitas dan densitas relatif. Frekuensi


kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu
spesies di dalam suatu habitat. Densitas (kepadatan) dinyatakan sebagai
jumlah atau biomassa per unit contoh, atau persatuan luas/volume, atau
persatuan penangkapan
3) Sintesis adalah proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung
menuju ke satu arah yang berlangsung lambat secara teratur pasti terarah
dan dapat diramalkan. Suksesi-suksesi terjadi sebagai akibat dari
modifikasi lingkungan fisik dalam komunitasnya dan memerlukan waktu.
Proses ini berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut
klimas. Dalam tingkat ini komunitas sudah mengalami homoestosis.
Menurut konsep mutahir suksesi merupakan pergantian jenis-jenis pioner
oleh jenis-jenis yang lebih mantap yang sangat sesuai dengan
lingkungannya.
Komunitas dapat dibedakan menjadi komunitas mayor dan
komunitas minor.
a.‘ Komunitas mayor adalah komunitas yang bersama dengan habitatnya
merupakan satu kesatuan sehingga dapat melengkapi maupun
melestarikan komunitas tersebut (kecuali energi matahari yang
merupakan faktor yang harus ada).
b.‘ Komunitas minor juga sering disebut societas merupakan agregasi
(kelompok) sekunder yang terdapat di dalam komunitas mayor. Jadi
bukan merupakan satu satuan yang bebas dalam hal sirkulasi energi.

Untuk menentukan ³nilai kepentingan´ (importance value) makhluk dalam


struktur komunitas dan peranannya dalam dinamika komunitas sebenarnya
merupakan masalah terpenting walaupun sulit untuk ditentukan. Kepentingan
nisbi pada tiap-tiap spesies dari bermacam-macam spesies dalam komunitas dapat
dievaluasi berdasarkan fidelitas, kepanggahan, kelimpahan, suatu aktivitas,
pengelompokan sekunder, dan pengaruhnya. Index keragaman spesiesdapat
dinyatakan dari adanya struktur komunitas secara kuantitatif kaitannya dengan
cacah spesies dan sagian taxonomi individu. Reproduksi dan pertumbuhan dapat

è
menimbulkan produksi bahan organik, laju pembentukan bahan organik, serta
energi, yang kesemuanya dinamakan produktivitas.

Struktur komunitas dapat dibedakan menjadi struktur fisik dan biologi.


Struktur fisik komunitas dapat diamati jika habitat tempat komunitas tersebut
dikunjungi. Misalnya pada hutan deciduosa, akan terlihat suatu struktur primer
yaitu adanya pohon-pohon yang besar yang gugur daunnya secara musiman, dan
struktur sekunder yang berupa perdu maupun semak di lantai hutan. Tanah hutan
tersebut merupakan matrik interaksi perakaran semua tumbuhan, dan hewan-
hewan hidup dalam struktur komunitas yang dibatasi oleh tumbuhan dan tanah.

Aspek struktur biologi komunitas meliputi komposisi perubahan temporal


dalam komunitas, hubungan antara spesies dalam suatu komunitas. Struktur
biologik komunitas sebagian bergantung pada struktur fisik komunitas. Kedua
aspek struktur komunitas berpengaruh kuat pada fungsi suatu komunitas. Yang
dimaksud fungsi komunitas adalah kerja suatu komunitas sebagai suatu
pemproses energi dan zat hara. Komunitas berfungsi dengan jaringan yang rumit
interaksi spesies.

Di dalam kerangka ekologi harus diingat bahwa komunitas terpadu oleh


koevolusi kelompok spesies yang berinteraksi. Baik struktur maupun fungsi
komunitastelah dimodifikasi oleh seleksi alam yang bertindak pada individu
penyusun komunitas.

Ada tiga komponen penyusun struktur fisik komunitas. Tumbuhan


membentuk matrik dasar bagi seua komunitas, dan bentuk pertumbuhan dari
tumbuhan adalah komponen penting untuk struktur komunitas. Sistem akuatik dan
sistem daratan sangat berbed pada strukturnya, tetapi banyak aspek pola ruang
cacak menjadi milik bersama kedua sistem tersebut. Termasuk dalam hal ini
adalah migrasi vertikal zooplankton didanau maupun dilautan.dengan kemampuan
zooplankton tersebut berenang maka again cacaknya tidak panggah. Musim
mengubah struktur semua komunitas didaerah tropik, dan peristiwa musiman
berbahaya untuk berfungsinya komunitas alami.

ÿ
Dasar untuk klasifikasi spesies adalah fidelitas mereka untuk komunitas,
jadi suatu spesies dapat dikatakan eksklusif bila spesies tersebut adanya di suatu
daerah tunggal, habitat tunggal atau komunitas tunggal. Suatu spesies disebut
karakteristik jika spesies tersebut melimpah dalam sutu daerah atau komunitas
tapi juga ada dalam jumlah kecil diseberang tempat lainya. Spesies disebut
ubiquitous bila spesies tersebut terdapat dengan agian yang kurang lebih sama
dalam berbagai jenis komunitas. Fidelitas sendiri merupakan derajat keterbatasan
suatu spesies untuk situasi tertentu. Spesies yang eksklusif sering bersifat langka,
dan tidak penting dalam dinamika komunitas. Tapi jika menyolok sering spesies
tersebut merupakan spesies indikator yang berguna untuk identifikasi dan
mengenali satuan-satuan komunitas. Satuan spesies dengan fidelisme tinggi
adalah spesies dengan preferensi kuat untuk komunitas tertentu atau terbatas pada
komunitas tertentu tersebut.

Pengenalan spesies yang krakteristik merupakan suatu kesukaran khusus,


karena harus ditentukan seberapa melimpah suatu spesies seharusnya dalam suatu
komunitas sebagai suatu preferensi pasti terhadap yang lainnya. Suatu spesies
dikatakan karakteristik jika memiliki kepanggahan dalam komunitas, yaitu
terdapat dalam 50% dari semua cuplikan yang diambil. Induktor ekologik
biasanya bukan spesies yang dominat dan bukan yang melimpah. Namun
umumnya ditekankan pda banyak spesies yang langka dalam suatu komunitas.

Waktu yang dibutuhkan spesies berada dalam komunitas menentukan


jumlah pengaruh yang ditimbulkan oleh spesies tersebut. Pada umumnya makin
lama periode tahunan suatu spesies aktif makin menjadi penting peranan yang
dimainkannya.

Berdasarkan waktunya, maka spesies dapat digolongkn menjadi :

´‘ Perennial, ialah yang aktif dalam suatu komunitas sepanjang tahun,


dari tahun ke tahun berikutnya
´‘ Musiman, yang ada atau aktif dalam bagian-bagian tahun

*
´‘ Mendaur, ialah spesies yang penting dalam beberapa tahun, kemudian
dapat diabaikan pada tahun berikutnya, dengan fluktuasi dalam cacah
yang sangat luas.
Walaupun suatu spesies terdapat dalam suatu komunitas, tetapi
akan dianggap inaktif bila sedang dalam keadaan ³hibernasi´ atau
sedang ³tidur´ (dormansi) atau biala diwakili oleh sebuah telur, spora,
atau kista dalam daur hidupnya.
Komunitas pada lingkungan yang berlainan akan mengandung
cacah spesies yang berbeda. Pada tahun-tahun terakhir ini telah
dikembangkan petunjuk-petunjuk kuatitatif untuk menerangkan
hubungan antara struktur komunitas yang tidak hanya (1) dalam cacah
spesies, tetapi juga (2) dalam cacah individu secara nisbi pada tiap-tiap
spesies. Diantara sejumlah petunjuk yang berlainan mengenai
keragaman spesies yang telah disusun, yang sering digunakan adalah
yang berdasarkan teori informasi dalam ³communication engineers´.
Aplikasi teori informasi untuk analisis komunitas ekologik pertama
kali dilakukan oleh MARGALEF pada fitoplankton dalam tahun 1957
dan oleh Mac ART?UR untuk burung dalam tahun 1961. Index
keragaman menurut Pielou (1966) adalah sebagai berikut:
?i = - ù (pi log pi)
Keterangan : s = jumlah cacah spesies dalam suatu cuplikan
Pi = bilangan pecahan cacah individu dalam suatu
spesies (i) dibagi jumlah individu dalam
populasi (jadi pi = ni/N, artinya ni= nilai
kepentingan tiap-tiap spesies (cacah individu,
biomassa, produksi dan sebagainya), dan N=
jumlah nilai kepentingan).

Makin tinggi nilai ? i makin besar diversitas spesies dalam komunitas,


mungkin ada cacah spesies yang besar atau again individu yang merata dalam

Ë
komunitas atau keduanya. Misalnya jika digunakan loge atau ln dan diandaikan
ada 100 individu dalam suatu populasi, sehingga:

1.‘ Jika hanya ada 1 spesies, maka ? i = 0.


2.‘ Jika ada 5 spesies dengan 20 individu dalam masing-masing spesies, maka
? i = 1,61.
3.‘ Jika ada 10 spesies dengan 10 individu dalam masing-masing spesies,
maka ? i = 2,30.
4.‘ Jika ada 100 spesies dengan 1 individu dalam masing-masing spesies,
maka ? i = 4, 61.
Sesungguhnya, jika terjadi akan sangat langka bahwa tiap-tiap spesies
sama cacah individunya, biasanya spesies dapat disusun menurut beberapa
spesies dengan cacah individu yang besar, diikuti oleh spesies yang cacah
individunya makin kecil. Misalnya :
5.‘ Jika ada 5 spesies dengan masing-masing bercacah individu 50, 20, 15, 8,
dan 2, maka ? i = 1,26, yang ternyata memberi index keragaman lebih
rendah dari pada no 2.
6.‘ Jika ada 10 spesies yang masing-masing dengan individu 45, 25, 15, 8, dan
2, maka ? i = 1,50. Dalam nomor 6 ternyata index keragaman tidak
sebesar dalam nomor 3 karena again individu kurang beragam, tetapi
masih lebih besar dari pada nomor 5 karena cacah spesies lebih besar dan
susunan individu berbeda walaupun hanya menyangkut 5 individu. Index
diversitas telah dipergunakan sedemikian jauh, terutama untuk
membandingkan komposisi, dalam komunitas berbeda, kelompok
taxsonomik yang sama bentuk kehidupannya.

Spesies yang terdapat dalam suatu komunitas dengan komunitas lainnya


berbeda. Perbedaan tersebut dalam jumlah spesiesnya atau dapat pila taxonnya,
atau keduanya. Demikian setiap komunitas mempunyai nilai kerapatan spesies da
keanekaragaman spesies. Index keanekaragaman spesies adalah suatu ratio antara
jumlah spesies dan nilai kepentingan.

U
Keanekaragaman spesies cenderung menjadi rendah dalam suatu
ekosistem yang dikendalikan oleh faktor fisik dan cenderung tinggi dalam
ekosistem yang terkendali secara biologis. Keaekaragaman spesies dapat berbeda
kerena beberapa hal:

1.‘ Besarnya sumberdaya hidup yang dapat dimanfaatkan


2.‘ Luasnya relung ekologi yang dapat dimanfaatkan oleh spesies
penyusunnya
3.‘ Dua komunitas yang relungnya berbeda dapat berdeda
keanekaragaman spesiesnya bila tingkat tumpang tindihnya berbeda,
makin besar tumpang tindihnya, makin banyak spesies yang dapat
memanfaatkan sumberdaya tersebut
4.‘ Komunitas yang belum ³jenuh´ dengan spesies, keanekaragamannya
dapat bervariasi dengan banyaknya sumberdaya yang dapat
dimanfaatkan oleh sebanyak-banyaknya spesies.

Dalam memperbandingkan dua atau lebih komunitas dengan index


diversitas yang berbeda, cacah spesies yang ada dan cacah individu dalam tiap-
tiap spesies biasanya tampak, tetapi derajat kesamaan dalam again individu antara
spesies tidak tampak. Kesamaan tersebut, atau tidak adanya kesamaan tersebut,
dapat dievaluasi dengan suatu index equitabilitas (J = ? /? max). Yang dimaksud
dengan ? max adalah keanekaragaman maximum yang mungkin untuk komunitas
jika semua spesies sama melimpah seperti pada contoh 2, 3, dan 4 di atas. Jadi
index equibilitas pada contoh nomor 5 adalah 1,26/1,61 atau 0,78, dan untuk
nomor 6 adalah 1,50/2,30 = 0,63. Index diversitas yang tinggi pada komunitas 6
adalah karena memiliki dua kali cacah spesies pada komunitas 5, hal tersebut
dapat menutupi index equibilitas yang rendah.

Struktur yang diakibatkan dari agian makhluk internal, dan interaksi


dengan lingkungannya disebut sebagai pola (patterns). Banyak jenis susunan yang
berbeda mengenai makhluk yang mengambil bagian dalam keragaman pola dalam
komunitas, sebagai misal adalah:


1.‘ Pola stratifikasi (pelapisan cacak)
2.‘ Pola pemintakadan (zonation pattern)
3.‘ Pola aktivitas (periodisitas)
4.‘ Pola jaringan makanan (food web)
5.‘ Pola reproduktif
6.‘ Pola sosial (kelompok burung dan kelompok hewan besar)
7.‘ Pola koatif (akibat persaingan, antibiosis, mutualisme, dan sebagainya)
8.‘ Pola stokastik (akibat kekuatan acak).

  Ê
    Ê Ê 0  Ê

Ukuran yang paling sederhana mengenai keragaman spesies adalah


menghitung cacah spesies. Dalam penghitungan yang demikian tersebut yang
dilibatkan hanyalah spesies yang penghuni tetap, bukan imigran yang kebetulan
ataupun yang sementara. Cacah spesies adalah konsep yang pertama dan tertua
sebagai konsep keragaman spesies dan disebut kekayaan spesies.

Konsep yang kedua tentang keragaman spesies adalah konsep


heterogenitas. Salah stu masalah dalam penghitungan cacah spesies sebagai suatu
ukuran keragaman adalah bahwa penghitungan tersebut memperlakukan spesies
langka dan spesies biasa sebagai sesuatu yang sama. Suatu komunitas dengan dua
spesies dapat dibagi dalam dua cara ekstrim :

Komunitas 1 Komunitas 2

Spesies A 99 50

Spesies B 1 50

Komunitas yang kedua tampak lebih beragam dari pada yang pertama
PEEL menyarankan penggabungan konsep cacah spesies dengan konsep
kelimpahan nisbi menjadi suatu konsep tunggal heterogenitas. ?eterogenitas lebih
tinggi dalam suatu komunitas bilamana terdapat lebih banyak spesies dan
bilamana spesies tersebut sama melimpahnya.

c
Suatu masalah yang sulit, timbul dalam menentukan cacah spesies dalam
suatu komunitas biologik : hitungan tergantung pada ukuran besarnya cuplikan.
Pencuplikan yang cukup biasanya dapat mengatasi masalah tersebut, terutama
dengan spesies vertebrata, tetapi tidak demikian dengan insecta dan arthropoda,
sebab pada keduanya hitungan spesies tidak dapat lengkap.

Dua strategi berbeda telah dipergunakan dalam menangani masalah


tersebut. Yang pertama berbagai agian statistik dapat dicocokan pada kelimpahan
nisbi spesies. Suatu gambaran sangat karakteristik tentang komunitas adalah
bahwa mereka berisi secara komparatif sedikit spesies yang biasa dan secara
komparatif sejumlah besar cacah spesies untuk area tertentu yang manapun dan
cacah individu dalam tiap-tiap spesies. Dalam banyak cuplikan faunal, cacah
spesies yang diwakili oleh suatu spesimen tunggal adalah sangat banyak, spesies
diwakili oleh dua spesimen kurang banyak, dan demikian seterusnya sampai
hanya beberapa spesies yang diwakili oleh banyak spesimen.

Pendekatan kedua mengenai keragaman spesies meliputi ukuran


heterogenitas suatu komunitas. Ukuran heterogenitas yang paling populer adalah
yang berdasarkan teori informasi. Tujuan utama teori informasi adalah mencoba
mengukur jumlah keteraturan atau ketidakteraturan yang terdapat di dalam suatu
sistem.

Empat tipe informasi yang berkaitan dengan keteraturan dalam komunitas :

1.‘ Cacah spesies


2.‘ Cacah individu dalam tiap-tiap spesies
3.‘ Tempat yang didiami oleh individu masing-masing spesies
4.‘ Tempat yang didiami oleh individu sebagai individu yang terpisah

Jika ditinjau komunitas 1 dan komunitas 2 maka dengan menggunakan rumus


index keragaman.

? i =ù ( Pi log pi )

cc
Untuk dua spesies dengan 99 dan 1 individu akan diperoleh :

? = - {( Pi) (log2Pi) + (P2) (log2P2)}

= - {0,99 (log 20.99) + (0,01) (log 20,01) }

= 0,081

Sedangkan untuk cuplikan dengan 2 spesies masing-masing 50 individu akan


diperoleh :

? = -{ (0,50 ( log 20.50 ) + 0,50 (log 20.50)

= 1,00

Tampak bahwa cuplikan kedua lebih beragam dari pada cuplikan pertama.

Kepulauan adalah suatu jenis perangkap istimewa spesies yang mampu


mencapainya dalam menyebar ke kepulauan tersebut dan berhasil berkoloni.

Cacah spesies pada suatu pulau sebanding dengan luas pulau tersebut dan
dapat digambarkan dengan persamaan sederhana sebagai berikut :



Yang jika ditulis dalam bentuk logaritma menjadi

 

Dengan pejelasan :

S = cacah spesies

c = suatu tetapan mengukur cacah spesies pada suatu pulau seluas 1 mil
persegi

A = luas pulau (dalam mil)

z = suatu tetapan mengukur miringnya garis yang menghubungkan S dan A.


Untuk tanaman daratan di kepulauan Galapagosm maka



Kurva cacah spesies ± luas wilayah termasuk suatu hal yang azasi bagi
tumbuhan dan hewan. Untuk fauna amfibia dan reptilia di ?india Barat
terdapat :

 

Preston menunujukkan bahwa miringnya garis kurva cacah spesies ± luas


wilayah ( z ) cenderung sebesar sekitar 0,30 untuk berbagai pulau, dari kutu
vertebrata di ?india Barat, semut di Melanesia, dan vertebrata di pulau di
Michigan, sampai tumbuhan daratan di Galapagos.

Cacah spesies bertambah besar dengan bertambah besarnyalah luas


wilayah di benua seperti halnya pada pulau-pulau. Ada kisaran antara 10 acres
sampai kira-kira 1000000 acres ( 1 hektar = 2,4 acres ) yang garis lurus kurva
tersebut berbentuk



Untuk burung-burung di Amerika Utara.

Jumlah spesies di suatu tempat pada dasarnya bergantung pada tingkat


imigrasi dan tingkat kepunahan. Tingkat imigrasi spesies ke suatu pulau akan
sama dengan nol bila jumlah spesiesnya sudah sama dengan jumlah spesies di
benua induknya.

Pada umumnya tingkat imigrasi dipengaruhi oleh jarak pulau dari


benua. Makin jauh makin rendah tingkat imigrasinya. Sedang tingkat
kepunahan dipengaruhi terutama oleh luas pulaunya. Makin luas pulau makin
rendah tingkat kepunahannya. Oleh karena itu jumlah spesies di suatu pulau
juga dipengaruhi oleh jaraknya dari benua dan luas atau sempitnya pulau.
Teori keseimbangan spesies dan teori kuantitatifnya banyak dibicarakan dalam
biogeografi, terutama island biogeography.

c
Gambar 17. ?ubungan antara kerapatan spesies dengan tingkat imigrasi dan
tingkat kepunahan, bila tingkat imigrasi dan kepunahan sama maka
jumlah spesies mencapai tingkat keseimbangan dinamis . garis
lurus tingkat imigrasi, garis putus ± putus tingkat kepunahan.

Gambar 18. ?ubungan jarak, luas dengan tingkat imigrasi dan tingkat
kepunahan. Tingkat imigrasi boleh jadi juga dipengaruhi oleh besar
kecilnya pulau oleh karena adanya perbedaan potensi untuk
diinvasi, dengan demikian harga S (jumlah spesies pada saat
keseimbangan dinamis) juga berbeda pada pulau besar dan pulau
kecil (18b).

‘  0
Perubahan komunitas yang terjadi disebut suksesi ekologi. Proses yang
terjadi berupa urutan-urutan yang lambat, pada umumnya perubahannya dapat
diramalkan yakni dalam hal jumlah dan jenis mahkluk organisme yang ada di
suatu tempat . Perbedaan intensitas sinar matahari, perlindungan dari angin, dan
perubahan tanah dapat merubah jenis-jenis organisme yang hidup di suatu
wilayah.


Perubahan-perubahan ini dapat juga merubah populasi yang membentuk
komunitas. Selanjutnya karena jumlah dan jenis spesies berubah, maka
karakteristik fisik dan kimia dari wilayah mengalami perubahan lebih lanjut.
Wilayah tersebut bisa mencapai kondisi yang relatip stabil atau disebut komunitas
klimaks, yang bisa berakhir hingga ratusan bahkan ribuan tahun
Berubahnya komunitas karena adanya reaksi ataupun koaksi dari makhuk
itu sendiri, atau juga dapat disebabkan adanya perubahan lingkungan karena
malapetaka (misalnya banjir atau musim kemarau panjang,evolusi organik ,iklim
dan sebagainya)maupun yang berasal dari manusia misalnya penebangan hutan
secara liar,pencemaran dan sebagainya sesuai pendapat Clement dalam Krebs
(1980).
Jika suatu habitat mengalami perubahan, maka spesies lama akan
meninggalkan area tersebut dan diganti spesies baru yang masuk ke area tersebut.
Didalam komunitas terdapat spesies dominan artinya dia berperan dalam
komposisi maupun struktur komunitas secara keseluruhan. Penggantian
komunitas satu dengan lainya atau ekosistem satu dengan lainnya disebut suksesi.
Suksesi ini berlangsung terus menerus secara kontinyu mencapai titik akhir
(klimaks). Didalam proses suksesi terjadi deretan komunitas yang menyusun
urutan suksesional menuju klimaks, urutan tersebut dinamakan µsere . Terjadinya
sere tersebut merupakan akibat kekuatan predominan misalnya : kekuatan biotik,
iklim, fisiogeografik ´biosere´, klisere, eusere dan geosere. Dua tipe perubahan
temporal dapat terjadi pada komunitas , yaitu:
1.‘ Suksesi yakni perubahan yang berarah (bertujuan) kearah klimaks pada
saat-saat tertentu .
2.‘ Cyclic yaitu perubahan yang tak berarah kearah klimaks pada saat-saat
tertentu, sehingga perubahan tersebut berfluktuasi disekitar rata-rata.
Konsep suksesi oleh Krebs (1978) dikatakan bahwa suksesi dapat
ditunjukan pada tingkat perkembangan tumbuhan pada gundukan pasir dipantai
perairan. Sedang Miller (1982) menyebutkan bahwa ekosistem bersifat dinamis ,
oleh karena itu memungkinkan terjadinya suksesi. Dalam ekositem, salah satu
komponennya adalah makhluk hidup yang dapat mengubah kondisi lokal (tempat

cÿ
hidupnya). Perubahan lingkungan tersebut dapat diakibatkan karena malapetaka
(banjir, kemarau panjang dan sebagainya) maupun hasil ulah makluk hidup
tersebut terutama manusia misalnya : dampak industrialisasi, pencemaran dan
lainnya.
Kondisi yang demikian akan memaksa komunitas yang berada diarea
tersebut mengubah untuk adaptasi atau justru mengalami kematian karena tidak
dapat menyesuuaikan dirinya dengan perubahan lingkungan . walaupun demikian,
sebenarnya ekosistem memiliki sifat atau naluri untuk mengembalikan
keseimbangan ekosistem yang stabil, setelah mendapatkan gangguan dari luar.
Contohnya adanya organisme perintis (lichenes) yang akan mengawali untuk
mengembalikan ekosistem yang seimbang. Kemudian digantian spesies lain untuk
melanjutkan sampai terjadi keseimbangan kembali. Penggantian spesies tersebut
terjadi berulang-ulang tersebut dinamakan suksesi ekologi.
Begon (1990) menjelaskan tentang konsep suksesi , bahwa kepentingan
spesies relatif berbeda dalam ruang yang satu dengan ruang yang lain , demikian
pula tipe kemelimpahan spesies mungkin akan berubah dengan berubahnya waktu
tertentu.
Proses suksesi ditakrifkan sebagai suatu pola kolonialisasi dan pola
kepunahan secara kontinu, berarah dan tidak bermusim. Suksesi ekologi oleh
odum dikatakan bahwa suksesi ekologi merupakan perkembangan ekosistem yang
menyangkut tiga parameter, diantaranya adalah :
1.‘ Suksesi ekologi yang dapat diperkirakan , karena proses perkembangan
cukup teratur termasuk perubahan struktur spesies dan proses komunitas
berkenaan dengan waktu, proses suksesi ekologi ini berarah.
2.‘ Suksesi ekologi yang terkendali oleh komunitas , suksesi ini terjadi akibat
modifikasi lingkungan hasil perlakuan komunitas.
3.‘ Suksesi ekologi berkulminasi dalam ekosistem yang stabil. Didalam
ekosistem tersebut biomassa maksimum dan fungsi simbiotik antar
makhluk terjamin menurut arus ekologi yang tersedia. Macam ±macam
suksesi ekologik antara lain :
ö‘ Suksesi autotrofik

c*
ö‘ Suksesi heterotrofik
ö‘ Suksesi primer
ö‘ Suksesi sekunder
ö‘ Sukesi alogenik, merupakan suksesi yang dipengaruhi oleh
kekuatan dari luar seperti bahan dan energi yang berasal dari luar
misalnya : dari geologik, angin topan, ganguan oleh manusia yang
dapat merubah proses.
ö‘ Suksesi autogenik yaitu suksesi biotik dalam ekosistem.
Pada bendungan atau kolam maupun danau buatan manusia, jika terjadi
suksesi alogenik secara konsisten melebihi suksesi autogenik maka akan terjadi
perubahan ekosistem yang lebih mentap yaitu dari air menjadi daratan.
Menurut Odum (1971) suksesi ekologik sebagai suatu perkembangan ekosistem ,
mempunyai tiga parameter yaitu :
1.‘ Suksesi ekologik yang berarah (bertujuan) sebagai proses perkembangan
komunitas yang teratur menyangkut perubahan dalam struktur spesies.
2.‘ Suksesi ekologik karena modifikai oleh lingkungan, jadi suksesi ekologik
ini terkendali oleh komunitas, walaupun sebenarnya lingkungan fisik dapat
menentukan batas-batas sberapa jauh perkembangan ekosistem dapat
berlangsung.
3.‘ Suksesi ekologik berkulminasi dalam ekosistem yang stabil, maksudnya
didalam ekosistem yang stabil terdapat biomassa yang maksimum dan
memiliki fungsi simbiotik antar makhluk yang ada, berjalan dengan baik
sesuai arus energi yang tersedia.

 0  

Komunitas yang stabil dalam sere (perkembangannya) disebut komunitas


klimaks. Komunitas ini biasanya dapat menyesuaikan diri dan memiliki
keseimbangan dengan fisik habitat. Dapat diperkirakan bahwa komunitas klimaks
berbeda dengan komunitas yang balum stabil, komunitas klimaks tidak
mempunyai akumulasi bahan organik, bahkan antara bahan yang diproduksi dan


masukan bahan seimbang dengan bahan yang dikonsumsi dan pengluarannya.

Ekosistem atau komunitas klimaks, sering disebut juga ekosistem atau


komunitas matang. Adanya spesies yang bermacam²macam dan berbagai relung
ekologik, suatu ekosistem yang matang dapat menggunakan energi dan mendaur
bahan kimiawi lebih efisien daripada ekosistem yang sederhana atau yang belum
matang (ekosistem yang masih berkembang). Ekosistem matang cenderung
bersifat stabil, jika faktor lingkungan dan iklim secara esensial tetap sama. Jika
terjadi malapetaka alam atau akibat ulah manusia, maka akan terjadi perubahan,
sehingga pada tempat-tempat tertentu tersebut tidak pernah tercapai ekosistem
klimaks.

Dalam suksesi ekologik, karakteristik ekosistem atau komunitas dalam


tingkatan matang. Struktur ekosistemnya tidak sama dengan tingkatan ekosistem
³belum matang´, misalnya ukuran besarnya tumbuhan/produsen lebih besar,
produktivitas primer lebih rendah dan stabil, sedang produktivitas primer nettonya
sama dengan nol. Jika dikaji dari diversitasnya, komunitas matang memiliki
produksi spesies lebih tinggi. Biomassa dan detritus lebih besar, pola tumbuh
berdesakan. Diversitas komunitas (relung ekologi) sudah mengalami spesialisasi
struktur trofik mengalami keseimbangan antara produsen, konsumen, dan
dekomposer. Organisasi komunitas lebih tinggi. Jaringan makanan lebih
kompleks, lebih efisien dalam penggunaan energi, pendauran bahan kimiawi
secara tertutup, laju pertumbuhan lebih lambat, dekomposer berperan penting.

Pada daerah tertentu ditemui :

1. A. Single climatic climates, komunitas yang memiliki keseimbangan segala


iklim, ini hanya satu macam komunitas klimaks.

2. A. Varying number of edafik climates, komunitas klimaks yang dikarenakan


dimodifikasi oleh kondisi lokal dari substrat, komunitas ini terdapat
bermacam²macam variasi.

Kedua jenis komunitas tersebut, yang nomer 1 sebenarnya hanya berlaku

cU
secara teoritis, yang mana perkembangan suksesi memiliki kecenderungan
perilaku di wilayah manapun. Sedang jenis kedua berdasarkan kenyataan dimana
kondisi fisik dari substrat tidak sepenuhnya memodifikasi efek dai pengaruh iklim
regional. Pada akhir suksesi edafik klimaks ditunjukkan topografinya, tanah, air
atau gangguan lain sehingga tidak akan tercapai climatic climac. Bila terdapat
komunitas stabil tetapi bukan klimaks karena iklim, maupun substrat lokal, tetapi
karena terpelihara oleh manusia maka disebut sub klimaks antropogenik.

Clement dalam krebs (1978) menyatakan bahwa monoklimaks terdapat


dalam satu wilayah yang hanya terdapat satu komunitas klimaks, dan semua
komunitas yang ada akan menuju ke arah komunitas klimaks tersebut. Iklim
sebagai penentu klimaks. Tetapi di area tertentu sering ditemui komunitas yang
non klimaks seimbang dengan komunitas klimaks, jadi kedua jenis komunitas ini
tidak di tentuka oleh jenis iklim tetapi oleh faktor topografik, edafik atau biotik.

Teori poliklimaks diutarakan oleh Tansley dalam Krebs (1978) yaitu


banyak komunitas klimaks yang berbeda dapat dikenali di dalam suatu area
tertentu, dan klimaks tersebut terkendalikan oleh lengas di dalam tanah, zat hara,
aktivitas hewan, dan faktor lain dalam substrat. Pendapat tersebut didukung oleh
Daubenmire dalam Krebs (1978) bahwa mungkin ada beberapa komunitas stabil
disuatu area tertentu.

Dari dua perbedaan pendapat tentang monoklimaks dan poliklimaks


tersebut sebenarnya terletak pada faktor waktu dalam pengukuran stabiltas nisbi.
Jika diberi waktu yang cukup, maka komunitas klimaks tunggal dapat
berkembang, bahkan dapat mengatasi klimaks edafik. Waktu yang dimaksud
dapat berupa waktu ekologik atau waktu geologik. Iklim selalu berubah, tidak
pernah konstan. Suksesi terjadi secara kontinyu pada vegetasi yang berubah dan
dalam iklim yang berubah. Whittakor dalamKrebs (1978): Klimakas dikenali
sebagai komunitas yang mentap dengan populasi dinamik yang menyusulnya di
dalam keadaan keseimbangan dinamik dalam gradien lingkungan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa monoklimaks dan poliklimakas di suatu area dapat terjadi

c
secara berurutan sepanjang gradien lingkungan yang tidak mungkin dipindahkan
menjadi tipe klimaks terpisah.















ë
Ê uÊ

0 Ê
1.‘ Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu
waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks
bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Komunitas berfungsi
untuk memproses energi dan zat hara.
2.‘ Komunitas menurut botaniwan adalah merupakan hubungan taksonomi,
sedang komunitas menurut zoologiwan adalah merupakan hubungan
fungsional.
3.‘ Ciri ± ciri komunitas:
ö‘ Diversitas
ö‘ Bentuk dan struktur komunitas
ö‘ Dominansi
ö‘ Kemelimpahan nisbi
ö‘ Struktur trofik
4.‘ Struktur komunitas terbagi menjadi dua yaitu struktur fisik dan struktur
biologik.
5.‘ Berdasarkan waktu, spesies dibagi menjadi :
3‘ Perenial
3‘ Musiman
3‘ Mendaur

ëc