Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional,
telah terwujud berbagai hasil yang positif di berbagai bidang. Kemajuan ekonomi;
perbaikan lingkungan hidup; kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
(IPTEK), terutama di bidang medis dan kepererawatan dapat meningkatkan
kualitas kesehatan penduduk; serta meningkatnya usia harapan hidup manusia.
Akibatnya, jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan cenderung
bertambah lebih cepat.
Sebagaimana dilaporkan oleh Expert Committee on Health, WHO yang
telah mengadakan pertemuan tahun 1987 bahwa menjelang tahun 2000 kurang
lebih dua diantara tiga orang dari 600 juta orang lansia berada di negara
berkembang. Di Indonesia diperkirakan akan beranjak dari peringkat ke-10 pada
tahun 1980 menjadi peringkat ke-6 pada tahun 2020, diatas Brazil yang
menduduki peringkat ke-11. Banyak kelainan atau penyakit yang prevalensinya
meningkat dengan bertambahnya usia, sistem organ yang mengalami proses
penuaan akan rentan terhadap penyakit. Makin panjangnya usia harapan hidup
seseorang disamping sebagai suatu kebanggaa, namun di pihak lain juga
merupakan tatangan yang sangat berat, mengingat tidak sedikit masalah yang bisa
timbul akibat penuaan. Hal yang lebih ironis adalah keadaan ini belum didukukng
oleh adanya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi lansia. Pengetahuan
perawatan lansia, baik oleh keluarga maupun oleh lembaga sosial lainnya masih
sangat kurang memadai (Darmojo dan Martono, 1999).
Pada hakikatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu : masa anak, masa dewasa,
dan masa tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis.
Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis.
Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut yang memutih,

1
penurunan pendengaran, penglihatan menurun, gerakan menjadi lambat, kelainan
berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat, dan kurang gairah.
Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi
tidak harus menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, lansia harus senantiasa sehat,
dalam hal ini sehat diartikan sebagai berikut :
1. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial
2. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari
3. Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat.
Peran perawat sangat diperlukan untuk mempertahankan derajat kesehatan
pada lansia pada taraf yang setinggi-tingginya, sehingga terhindar dari penyakit
atau gangguan kesehatan. Dengan demikian, lansia masih dapat memenuhi
kebutuhan dengan mandiri.

1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Setelah melakukan kunjungan di Panti werdha, mahasiswa diharapkan
mampu menerapkan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami masalah
kesehatan dari gmbaran masalah yang telah didapatkan.
2.1.1 Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan kunjungan di Panti Werdha Mojopahit di harapkan
mampu:
a. Mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan yang di hadapi
oleh lansia.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan masalah kesehatan yang di
hadapi oleh lansia.
c. Menyusun rencana tindakan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan yang
muncul.
d. Mengevaluasi keunjungan yang telah dilaksanakan di panti selama 5 hari
e. Mendokumentasikan data yang telah didapatkan dari panti.

2
1 Manfaat
1.4.1. Untuk Mahasiswa
1. Dapat mengaplikasikan konsep teori tentang asuhan keperawatan
komunitas pada kelompok khusus lansia di Panti Werdha Mojopahit
Mojokerto
2. Meningkatkan kemampuan berfikir kritis, analitik, dan bijaksana
dalam panti werdha.
3. Meningkatkan ketrampilan komunikasi, kemandirian dan hubungan
interpersonal dengan kelompok khusus lansia.
4. Meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah sesuai konflik
yang dihadapinya.
1.4.2 Untuk Kelompok Khusus Lansia
1. Meningkatkan kepercayaan lansia dengan orang lain
2. Lansia dapat mengungkapkan apa yang dialaminya dan mampu
mengungkapkan perasaannya saat tinggal di panti werdha
1.4.3. Untuk Penyusun
Merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan kelompok dalam
mengaplikasikan dan melaksanakan asuhan keperawatankomunitas pada
kelompok khusus lansia di panti werdha.

1 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab 1 Membahas pendahuluan yang meliputi : latar belakang, tujuan, manfaat,
dan sistematika penulisan
Bab 2 Menguraikan tentang tinjauan teoritis yang terdiri atas : 1) konsep dasar
keperawatan kelompok khusus yang terdiri : definisi kelompok, proses
pembentukan kelompok, persyaratan kelompok, kriteria kelompok; 2)
proses asuhan keperawatan kelompok khusus yang terdiri : definisi
kelompok khusus, perawatan kelompok khusus, tujuan kelompok khusus,
sasaran kelompok khusus, dan proses keperawatan kelompok khusus.
Bab 3 Membahas tentang asuhan keperawatan komunitas pada kelompok khusus
lansia yang meliputi tahap persiapan dan tahap pelaksanaan yang terdiri :

3
pengkajian, analisis data, diagnosa keperawatan, perencanaan, dan
evaluasi
Bab 4 Kesimpulan dan Saran.

BAB 2
TINJAUAN TEORI

4
2.1 Konsep Dasar Keperawatan Kelompok Khusus
2.1.1 Definisi Kelompok
Kelompok merupakan himpunan satu kesatuan manusia yang hidup
bersama, yang dilandasi oleh kriteria tertentu seperti : usia, jenis kelamin, latar
belakang pendidikan, pekerjaan, kepentingan tertentu, kebutuhan yang sama,
hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi, serta saling tolong menolong
untuk mencapai tujuan yanh diinginkan.

2.1.2 Proses Pembentukan Kelompok


Menurut Solita Sarwono (1993), prose pembentukan kelompok mengikuti
tahap berikut ini :
1. Tahap Pembentukan
Kelompok mengatur dan menentukan kedudukan tiap anggotanya, sehingga
setelah mapan mereka akan menjadi saling dekat, mengenal, akrab, dan
terbuka.
2. Tahap Perpecahan
Keakraban akan mengundang konflik dan menimbulkan masalah, sehingga
akan mengundang perpecahan karena ada yang tidak setuju dengan pendapat
orang lain.
3. Tahap Penyesuaian
Perpecahan yang terjadi berlangsung sementara, makin akrab hubungan
anggota kelompok, maka makin mudah untuk menyesuaikan diri dengan
sifat, kehendak, gaya, dan kepribadian masing-masing anggota, sehingga
perpecahan dan pertentangan dapat dibatasi atau dihindari. Pada tahap ini
kelompok dapat berfungsi secara efektif untuk saling membantu dan bekerja
sama demi kepentingan kelompok.

4. Tahap Perubahan
Terjadi perubahan fisik, posisi, dan aktivitas kelompok sehingga berdampak
pada perubahan kelompok. Hal ini berdampak pada timbulnya masalah

5
kelompok yang memerlukan pengaturan kembali berkaitan dengan struktur
organisasi, prosedur kerja, kegiatan, hubungan antar anggota, dan sebagainya.

2.1.3 Persyaratan Kelompok


Menurut Soerjono Soekanto (1982), persyaratan dalam kelompok sosial
antara lain sebagai berikut :
1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari
kelompok yang bersangkutan
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya
3. Terdapat suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok, sehingga
hubungan diantara mereka bertambah erat. Faktor tersebut adalah nasib yang
sama; kepentingan yang sama; tujuan yang sama; serta berstruktur, berkaidah,
dan mempunyai pola perilaku.

2.1.4 Kriteria Kelompok


Berikut ini adalah klasifikasi kriteria/ukuran kelompok sosial dalam
masyarakat :
1. Besar kecilnya jumlah anggota kelompok sosial
2. Derajat interaksi dalam kelompok sosial tersebut
3. Kepentingan dan wilayah
4. Berlangsungnya suatu kepentingan
5. Derajat organisasi
6. Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan sosial dan tujuan

2.1 Proses Asuhan Keperawatan Kelompok Khusus


2.2.1 Definisi Kelompok Khusus
Kelompok khusus merupakan sekelompok masyarakat atau individu yang
karena keadaan fisik, mental, sosial budaya, dan ekonominya perlu mendapatkan
bantuan, bimbingan, pelayanan kesehatan, serta asuhan keperawatan karena
ketidakmampuan dan ketidaktahuan mereka dalam memelihara kesehatan
terhaddap dirinya.

6
2.2.2 Perawatan Kelompok Khusus
Perawatan kelompok khusus merupakan suatu upaya di bidang
keperawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada sekelompok individu
yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, usia, permasalahan kesehatan, dan
rawan terhadap masalah kesehatan. Perawatan kelompok khusus ini dilaksanakan
secara terorganisir dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dan
derajat kesehatannya. Perawatan ini lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan
kepada mereka yang tinggal di panti serta kepada kelompok-kelompok yang ada
di masyarakat yang diberikan oleh tenaga keperawatan dengan pendekatan
pemecahan masalah melalui proses keperawatan.

2.2.3 Tujuan Kelompok Khusus


1. Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan dan derajat kesehatan kelompok untuk dapat
menolong diri mereka sendiri (self care) dan tidak terlalu bergantung pada orang
lain.
2. Tujuan Khusus
Agar kelompok khusus mampu :
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan kelompok khusus
sesuai dengan macam, jenis, dan tipe kelompok;
b. Menyusun perencanaan asuhan keperawatan yang mereka hadapi berdasarkan
permasalahan yang terdapat pada kelompok;
c. Penanggulangan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi
berdasarkan permasalahan yang terdapat pada kelompok;
d. meningkatkan kemampuan kelompok khusus dalam memelihara kesehatan
mereka sendiri;
e. Mengurangi ketergantungan kelompok khusus dari pihak lain dalam
pemeliharaan dan perawatan diri sendiri;
f. Meningkatkan produktivitas kelompuk khusus untuk lebih banyak berbuat
dalam rangka meningkatkan kemampuan diri mereka sendiri;

7
g. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan dan keperawatan dalam
menunjang fungsi puskesmas dalam rangka pengembangan pelayanan
kesehatan masyarakat

2.2.4 Sasaran Kelompok Khusus


Ada dua sasaran pembinaan, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Melalui institusi-institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
terhadap kelompok khusus
2. Pelayanan kelompok khusus yang ada di masyarakat yang telah diorganisir
secara baik atau melalui posyandu, atau kelompok-kelompok khusus dengan
ciri khas tertentu, misalnya kelompok lansia, kelompok penderita kusta, dan
lain sebagainya.

2.2.5 Proses Keperawatan Kelompok Khusus


1. Pengkajian
Pengumpulan Data
a. Identitas kelompok
Data yang biasanya diperlukan dalam pengumpulan data identitas kelompok
adalah besar kecilnya kelompok, latar belakang pendidikan, tingkat sosial
ekonomi, kebiasaan, adat istiadat, pekerjaan, agama yang dianut,
kepercayaan, dan lokasi tempat tinggal.
b. Masalah kesehatan
Hal yang dikaji adalah masalah kesehatan yang sering terjadi, besarnya
anggota kelompok yang mempunyai masalah, keadaan kesehatan anggota
kelompok umumnya, serta sifat masalah pada kelompokapakah mengancam
kesehatan atau telah mengancam kehidupan.
c. Pemanfaatan fasilitas kesehatan dalam pemerikasaan kesehatan
Puskesmas, posyandu, polindes, pos obat desa.
d. Keikutsertaan dalam upaya kesehatan
Mengkaji apakah klien sering ikut serta dalam kegiatan dalam upaya
kesehatan masyarakat.
e. Status kesehatan kelompok

8
Penyakit yang pernah diderita (akut, subakut, kronis, atau menular), keadaan
umum gizi kelompok, imunisasi, keadaan personal hygiene anggota
kelompok.
f. Kondisi sanitasi lingkungan tempat tinggal anggota kelompok
Perumahan (permanen, semipermanen, sementara, ventilasi, penerangan, dan
kebersihannya), sumber air minum, pembuangan air limbah, pembuangan
sampah, dan tempat pembuangan tinja.

Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk melihat kesenjangan yang terjadi dalam
kelompok dikaitkan dengan konsep, prinsip, dan teori yang relevan. Sehingga
dapat ditarik kesimpulan apa saja permasalahan yang dialami kelompok serta
kebutuhan kelompok akan pelayanan kesehatan dan keperawatan.
Perumusan Masalah dan Prioritas Masalah
Perumusan masalah didapatkan dari analisis data, setelah itu diprioritaskan
dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini :
a. Sifat masalah yang dihadapi kelompok
b. Tingkat bahaya yang mengancam kelompok
c. Kemungknan masalah untuk dapat diatasi
d. Berat ringannya masalah yang dihadapi kelompok
e. Sumber daya yang tersedia dalam kelompok

1. Diagnosis Keperawatan Kelompok


Berikut ini dasar penetapan diagnosis keperawatan kelompok :
a. Masalah kesehatan yang dijumpai pada kelompok dengan
mempertimbangkan faktor risiko dan potensial terjadinya masalah/penyakit
b. Kemampuan kelompok dalam memecahkan masalah dilihat dari segi sumber
daya kelompok yang berkaitan dengan kemampuan finansial, pengetahuan,
dukungan keluarga masing-masing anggota kelompok, dan sebagainya.

1. Perencanaan Asuhan Keperawatan

9
Dibuat berdasarkan diagnosis keperawatan dengan melibatkan anggota
kelompok yang bersangkutan. Rencana keperawatan kelompok mencakup tujuan
keperawatan yang ingin dicapai, rencana tindakan keperawatan yang akan
dilaksanakan, dan kriteria keberhasilan. Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam menyusun rencana keperawatan diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Keterlibatan pengurus dan anggota kelompok dalam menyusun perencanaan
keperawatan
b. Keterpaduan dengan pelayanan kesehatan lainnya, baik tenaga, biaya, sarana,
maupun, waktu
c. Kerja sama lintas program dan lintas sektoral, sehingga program pelayanan
yang diberikan bersifat menyeluruh.

1. Pelaksanaan
Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan gerontik :
1. Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan oleh tenaga keperawatan,
petugas/pengurus panti atau kader kesehatan sesuai dengan kewenangan yang
diberikan
2. Dilakukan dalam rangka alih teknologi dan keterampilan keperawatan
3. Di institusi lebih ditekankan kepada penghunu panti, pengelola/pengurus
panti, dan lingkungan panti
4. Di masyarakat lebih ditekankan kepada anggota kelompok, kader kesehatan,
pengurus kelompok, dan keluarga
5. Bila ada masalah yang tak tertanggulangi dilakukan rujukan medis dan
rujukan kesehatan
6. Adanya keterpaduan pelayanan dengan sektor lain
7. Dicatat dalam catatan keperawatan yang telah ditetapkan

1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya
dalam perencanaan, membandingkan hasil tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, dan menilai

10
efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian, perencanaan, dan
pelaksanaan.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
PADA KELOMPOK KHUSUS LANSIA DI PANTI WERDHA MOJOPAHIT
KABUPATEN MOJOKERTO

3.1 Tahap Persiapan

11
Kegiatan lab klinik keperawatan komunitas diawali dengan adanya
pembagian kelompok kecil dalam kelas. Setelah kelompok terbentuk akhirnya
kelompok memutuskan untuk mengambil sampel kelompok khusus pada lansia di
panti werdha. Sebelum kelompok melakukan survey ke tempat yang
bersangkutan, terlebih dahulu kelompok meminta surat pengantar dari institusi
yang dimaksudkan sebagai surat permohonan ijin kepada kepala panti untuk
malaksanakan kegiatan lab klinik di tempat tersebut. Setelah kelompok
mendapatkan surat ijin tersebut, akhirnya tepat pada hari jum’at tanggal 15
oktober 2010 kelompok yang didampingi dengan salah satu pembimbing pergi
menuju panti untuk melakukan survey lokasi dengan menyerahkan surat ijin lab
dari institusi. Ketika tiba di panti dan surat sudah diterima kepala panti, kelompok
pun diajak untuk orientasi ruangan oleh salah satu perawat pengurus panti.
Selanjutnya, kelompok merencanakan hari dan waktu untuk memulai kegiatan
yang nantinya akan dilaksanakan kegiatan lab selama 5 kali kunjungan.

3.2 Tahap Pelaksanaan


3.2.1 Pengkajian
I. Data Inti Komunitas
A. Sejarah/Riwayat Terbentuknya Komunitas Lansia di Panti
1. Sekilas tentang sejarah tebentuknya komunitas lansia di panti
Panti terbentuk sejak tahun 1980, tepatnya 30 tahun yang lalu,
dimana pada awalnya gedung panti terbuat dari kayu. Namun, setelah
beberapa tahun kedepan, akhirnya bangunan panti direhabilitasi dengan
bangunan baru dari tembok hingga sekarang. Panti Werdha Mojopahit
adalah satu-satunya panti jompo di Mojokerto yang dibiayai oleh APBD
pemerintah.
2. Lama komunitas lansia tinggal di panti
Lansia yang tinggal di panti bermacam-macam lamanya, dari 16
lansia yang menjadi sampel peneliti, 6 lansia (37,5% lansia) mengatakan
sudah 8 tahun tinggal di panti, 2 lansia (12,5% lansia) tinggal selama 3
bulan, 4 lansia (25% lansia) tinggal selama 6 bulan, dan sisanya sekitar
25% lansia tidak tahu berapa lama mereka tinggal di panti.

12
3. Perubahan pada panti selama ini
Sejak berdirinya panti 30 tahun yang lalu, perubahan yang terjadi
didalamnya tidak terlalu menonjol. Karena selama itu panti hanya
melakukan perubahan pada gedung panti yang dulunya terbuat dari kayu,
dan sekarang telah berubah menjadi tembok.

A. Demografi Panti
1. Identitas Panti
Nama Panti : Panti Werdha Mojopahit
Alamat : Jl. Raya Brangkal no. 862, Sooko, Kabupaten
Mojokerto.
2. Struktur Organisasi Panti
Kepala Panti : Sugiono, S. Sos
Kepala Subag : Sugiharto
Kelompok Jabatan Fungsional
Administrasi : 1. Miarti
2. Purwo Edi, S. Sip
Pelayanan Klien : 1. Niken
2. Feri
3. Rudi
4. Dr. Mega
Keamanan : 1. Heri Mulyadi
Kebersihan/Makanan : 1. Kusdi
2. Nurchanda
3. Majidi
Juru Masak : 1. Sariatun
2. Nurfadilah
3. Arliyah
Humas : Joko Susanto

3. Visi dan Misi.

13
a. Visi :
Tercapainya pola hidup dan perilaku sehat baik jasmani maupun
rochani agar lansia tetap dalam kondisi kehidupan sejahtera serta
bermanfaat bagi sesamanya
b. Misi :
1. Meningkatkan Kesejahteraan Lansia baik yang potensial
maupun non potensial
2. Memberikan pembinaan mental spiritual agar semakin
mendekatkan diri kepada Illahi dipenghujung usianya
3. Memberikan kemudahan dalam pelayanan yang bersifat umum.

4. Tujuan Panti
a.Tujuan Umum
Tercapainya kualitas hidup dan kesejahteraan sosial lanjut usia
sehingga dapat menikmati hari tuanya dengan diliputi ketenteraman
lahir dan batin.

b.Tujuan Khusus
1. Terpenuhinya kebutuhan dasar lanjut usia
2. Terpenuhinya kebutuhan rohani lanjut usia
3. Terpenuhinya kebutuhan keperawatan dan kesehatan lanjut usia
4. Terpenuhinya kebutuhan ketrampilan lanjut usia
5. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan sosial lanjut usia
6. Adanya peran serta keluarga dan masyarakat terhadap lanjut
usia.

5. Jumlah Lansia di Panti


Dalam 1 tahun ini jumlah lansia adalah 48 orang, dimana jumlah
lansia wanita adalah 36 orang atau 75% lansia wanita dan jumlah
lansia pria adalah 12 orang atau sebesar 25%. Dimana dalam jumlah
tersebut sudah termasuk 2 pasang pasutri atau 4,17% yang dinikahkan

14
di panti, 5 pendatang baru yang datang ke panti atau sekitar 31,25%
dan 3 lansia atau 6,25% yang pulang (2 lansia pulang atas kemauan
sendiri dan 1 lansia dipulangkan). Sedangkan sisanya adalah lansia
yang lama.
Dengan jumlah 48 lansia yang ada di panti, peneliti hanya
mengambil sampel lansia sebesar 16 orang.

A. Etnisitas
1. Pola makan
a. Frekuensi makan dalam sehari
Frekuensi makan lansia normal. Di panti lansia makan 3x sehari; pagi
pukul 07.00, siang pukul 11.00, dan sore pukul 16.00.
b. Kualitas makan (nafsu untuk makan)
1. Sebanyak 13 lansia atau 81,25% lansia nafsu makannya baik
2. Nafsu kurang sebanyak 3 lansia atau 18,75% lansia
a. Pola minum
Semua lansia (16 lansia) pola minumnya cukup
b. Kebiasaan makan
Kandungan makanan pada lansia adalah 100% rendah lemak, untuk
lansia yang hipertensi lauknya tempe dan tahu.
c. Penggunaan garam beryodium
Pemberian garam beryodium dalam masakan lansia untuk mencegah
penyakit gondok adalah benar.

Menu Makan Lansia :


1. Senin

15
Pagi : Siang : Sore :
• Nasi putih • Nasi putih • Nasi putuh
• Eseng- • Soto daging • Tumis
eseng tahu • Tempe daun
• Kecambah goreng pepaya
kecap • Snack menjeng
• Kerupuk • Tahu
• Minum teh goreng
manis, susu,
dan kopi

1. Selasa
Pagi : Siang : Sore :
• Nasi putih
• Nasi putih • Nasi putih
• Asem-asem
• Pecel • Mie ayam
pacin
(kecambah • Kerupuk
• Buah
dan sawi)
• Telur
ceplok
• Peyek
kremes
• Minum teh
manis, susu,
dan kopi

1. Rabu

16
Pagi : Siang : Sore :

• Nasi putih • Nasi putih • Nasi putih


• Cah • Pepes tahu • Sayur sop
kangkung • Udang (wortel,
• Bola-bola bumbu kubis, dan
tahu merah makroni)
• Peyek • Sayur asem • Pergedel
kremes jakarta daging
• Minum teh (wortel, • Sambal
manis, susu, kangkung, kecap
dan kopi dan kubis)
• Snack

1. Kamis
Pagi : Siang : Sore :

• Nasi putih • Nasi putih • Nasi putih


• Telur • Ayam • Botok
bumbu bumbu simbukan
rujak rujak dan tempe
• Minum teh • Tumis sawi • Kerupuk
manis, susu, putih
dan kopi • Buah

1. Jum’at

17
Pagi : Siang : Sore :

• Nasi putih • Nasi putih • Nasi putih


• Sarden • Eseng- • Eseng-
tongkol eseng eseng tahu
• Tempe manisa dan tempe
goreng • Cucut • Kerupuk
• Minum teh goreng
manis, susu, tepung
dan kopi • Kacang
hijau

1. Sabtu
Pagi : Siang : Sore :

• Nasi putih • Nasi putih • Nasi putih


• Semur • Sayur • Cah sawi
tempe bayam hijau
goreng • Bakwan • Telur
• Minum (udang, dadar
susu, teh kubis,
manis, dan wortel, dan
kopi jagung)
• Snack

1. Minggu
Pagi : Siang : Sore :

• Nasi putih • Nasi putih • Nasi putih


• Eseng- • Sayur asem • Sambel
eseng tahu • Pepes goreng

18
• Kecambah pindang semarang
kecap • Buah (wortel,
• Kerupuk kentang,
• Minun susu, dan
teh manis, daging)
dan kopi • Kerupuk

Catatan : Menu tersebut diatas sudah diatur sedemikian rupa oleh dokter yang
ada di panti, dan terkadang menu berubah sewaktu-waktu.
1. Bahasa
a. Bahasa yang biasa digunakan lansia adalah bahasa Jawa sebesar 90%
dan bahasa Indonesia sebesar 10%.

A. Nilai-nilai dan Kepercayaan


1. Tempat ibadah yang ada di panti adalah mushola
2. Taman/tempat untuk rekreasi
Ada taman atau halaman di sekitar panti.
3. Warisan budaya yang dianut dalam panti
Perawat panti menyebutkan kalau dalam panti werdha mojopahit
tidak ada warisan budaya yang selama ini dianut
4. Penanda sejarah atau monumen dalam panti
Dalam panti tidak tampak adanya penanda sejarah atau monumen
bersejarah.

A. Vital Statistik
1. Angka kematian lansia
Dalam 1 tahun terdapat 4 lansia yang telah meninggal dunia, atau
sebesar 8,3% lansia di tahun 2010.
2. Angka kesakitan lansia
Dalam panti didapatkan jumlah lansia yang menderita hipertensi
sebanyak 19 orang (39,58%), penyakit kronis ada 3 orang atau 6,25% (2

19
lansia menderita hernia dan 1 lansia menderita diabetes melitus), dan
sisanya sebesar 54,17% lansia menderita rematik (rheumathoid arthritis).

3. Penyebab utama kematian


Penyebab utama kematian lansia adalah karena lansia tersebut sakit
dan juga karena lansia sudah tua, dimana dalam proses penuaan lansia
akan mengalami penurunan fungsi tubuh.

I. Pengkajian Subsistem
A. Lingkungan Fisik
1. Pola penggunaan air bersih
1.Sumur sebesar 40%
2.PAM sebesar 60%
1. Pengurasan bak mandi
Dilakukan 2x dalam seminggu
2. Keadaan kamar mandi
1.Bersih, sebanyak 93,75%
2.Kurang bersih, sebanyak 6,25%
3.Licin, sebanyak 93,75%
Keterangan :
a. Asrama 1 : ada 2 kamar mandi, bersih, tidak ada pegangan,
lantai licin, ada pintu penutup yang mengarah ke
dalam, lampu kamar mandi suram
b. Asrama 2 : ada 2 kamar mandi, salah satunya sebagai tempat
memandikan lansia yang meninggal dunia, bersih,
tidak ada pegangan, lantai licin, dan ada pintu
penutup mengarah ke dalam, lampu kamar mandi
suram,
c. Asrama 3 : ada 2 kamar mandi, tidak ada pegangan, bersih,
lantai licin, lampu kamar mandi suram, lantai licin,
ada pintu penutup yang mengarah ke dalam

20
d. Asrama 4 : ada 2 kamar mandi, lantai terbuat dari semen, tidak
ada pegangan, tidak ada pintu (tertutup korden)
e. Asrama 5&6 : ada sumur yang jaraknya ± 5 m dari kamar mandi,
kamar mandi terbuka, tidak licin, dan tidak ada
pegangan, bak mandi rendah.
1. Tanaman yang ada disekitar asrama panti
1.Tanaman hias
1. Tipe bangunan asrama di panti
1. Permanen
2. Lantai asrama panti
1. Tegel, sebanyak 50%
2. Semen, sebanyak 50%
3. Jendela di setiap kamar atau asrama
1. Ya, 70%
2. Tidak, 30%
1. Pencahayaan dalam ruang asrama setiap hari
1. Terang, 50%
2. Gelap, 16,67%
3. Remang-remang, 33,33%
1. Jarak antar asrama
1. Bersatu, 33,33%
2. Dekat (<5 m), 33,33%
3. Jauh (>5 m), 33,33%
1. Halaman di sekitar asrama panti
1. Ya, 66,67%
2. Tidak, 33,33%
1. Pemanfaatan Pekarangan Panti
Kebun dan kolam ikan

21
PETA!!

taman

k.man
k.man
di
Asrama Asrama Asrama 4
6 5

Asrama 3
Taman

musholla Asrama 2 dapu


r

kantor aula

A. Pelayanan Sosial dan Kesehatan


1. Sarana kesehatan
Panti bekerja sama dengan 3 rumah sakit yang ada di kabupaten
Mojokerto, yaitu Rumah Sakit Umum Prof Dr. Soekandar, Rumah Sakit
Islam Sakinah, dan Rumah Sakit Umum Gedeg, serta puskesmas terdekat
di Trowulan.
2. Kebiasaa lansia untuk minta tolong bila sakit
Perawat panti
3. Kebiasaan lansia sebelum ke pelayanan kesehatan
Beli obat bebas
4. Sumber pendanaan kesehatan lansia
Lansia di Panti Werdha Mojopahit mendapatkan dana kesehatan dari
APBD Pemerintah

22
A. Ekonomi
1. Tempat lansia membeli sesuatu
1. Pasar, sebanyak 31,25% lansia
2. Penjaja keliling yang masuk ke dalam panti sebanyak 68,75%
1. Apakah lansia pernah menerima bantuan selain dari petugas panti?
a Pernah misalnya baju, handuk, uang, hiasan dinding, dan yang
lainnya,

A. Transportasi dan Keamanan/Keselamatan


1. Jenis transportasi yang tersedia di panti
Mobil
2. Jenis layanan perlindungan yang ada di panti
Perlindungan lansia di panti langsung dari dinas sosial Kabupaten
Mojokerto.
3. Apakah lansia merasa aman dan nyaman
Sebanyak 87,5% lansia mengatakan merasa aman dan nyaman ketika
tinggal di panti. Selain tidak kesepian, lansia juga mengatakan kalau
mereka bisa saling berbagi dengan lansia yang lainnya. Namun, sebanyak
12,5% lansia di asrama 1 mengatakan dirinya kurang nyaman dengan
sifat temannya yang suka mengambil barang milik rekannya.

A. Politik dan Pemerintahan


1. Apakah ada pengaruh dinas sosial dengan panti
Ada, yaitu dalam pemberian dana pembiayan panti
2. Apakah pengaruh kepala panti sangat menonjol
Tidak, karena tidak ada peraturan dalam panti yang mengatur semua
kegiatan dan tingkah laku lansia di panti tersebut
3. Bagaimana peraturan di panti terhadap komunitas lansia.
Perawat panti mengatakan tidak ada peraturan yang mengatur semua
tingkah laku lansia dalam panti. Karena peraturan dibuat sendiri oleh
lansia, dimana perawat hanya membimbing dan mengarahkan lansia.
A. Komunikasi

23
1. Dimana lansia biasa berkumpul
Balai pertemuan, mushola dan halaman depan ruang perawat panti
2. Bacaan apa yang biasa dibaca oleh lansia
Sebanyak 78% lansia mengatakan biasa membaca Al Qur’an, dan
sisanya sebanyak 21% mengatakan tidak suka membaca.
3. Apakah masing-masing asrama tersedia televisi/radio
1. Ya, sebanyak 80% asrama tersedia televisi
2. Tidak, sebanyak 20% asrama tidak ada televisi
4. Tayangan yang paling diminati lansia
1. Sinetron, 86%
2. Berita, 14%
5. Apakah tersedia sarana komunikasi di panti
Terdapat sarana komunikasi di panti dalam bentuk telephon yang
biasa digunakan untuk menghubungi keluarga lansia.

A. Pendidikan
1. Pendidikan terakhir lansia
1.SD dan SMP, 97,92%
2.Perguruan tinggi, 2,08%

A. Rekreasi
1. Kebiasaan lansia menghabiskan waktunya bila merasa bosan
1. Berbincang-bincang, 25%
2. Melihat TV, sebanyak 37,5%
3. Membaca, sebanyak 25%
4. Lain-lain, tidur 12,5%
2. Keinginan lansia untuk pulang kerumahnya
1. Iya, sebanyak 56,25%
2. Tidak, sebanyak 43,75%

1. Kegiatan yang ada di panti

24
Senin : Pengajian pagi dan perawatan terhadap lansia (observasi
TTV dan pemberian obat kepada lansia yang
membutuhkan)
Selasa : -
Rabo : Istighosah
Kamis : Tahlilah setelah maghrib dan perawatan terhadap lansia
(observasi TTV dan pemberian obat kepada lansia yang
membutuhkan)
Jum’at : Senam lansia dan pengajian
Sabtu :-
Minggu : -

A. Persepsi
1. Persepsi lansia
a. Perasaan lansia ketika tinggal di panti
Hampir 90% lansia mengatakan kalau mereka betah tinggal di
panti, karena banyak teman dan bisa mandiri tanpa tergantung
dengan keluarganya. Namun ada juga lansia yang tidak suka tinggal
di panti karena jauh dan tidak bisa berkumpul dengan keluarganya.
b. Hubungan lansia dengan rekan yang lainnya
Lansia menjalin hubungan baik dengan lansia yang lainnya,
meski ada lansia yang suka mengambil barang milik orang lain, akan
tetapi lansia selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan
rekannya.
c. Masalah-masalah yang terjadi selama dalam asrama
Ada lansia yang suka mengambil barang milik lansia yang
lainnya. Selain itu ada juga salah satu lansia yang mengalami
halusinasi dengar yang kadang-kadang berteriak dan mengamuk
sehingga mengganggu kenyamanan lansia yang lainnya.
2. Persepsi umum perawat tentang kesehatan dari komunitas
dan masalah yang diidentifikasi

25
Perawat panti mengatakan kesehatan lansia di panti terjamin karena
langsung diawasi oleh tim medis yang ada di panti. Sedangkan masalah-
masalah yang umumnya dialami lansia seperti salah paham dengan
rekannya adalah hal yang wajar, karena perawat memaklumi dengan
adanya perubahan persepsi lansia terhadap orang lain.

3.2.2 Analisis Data


NO DATA FOKUS MASALAH KESEHATAN
1. Angka Kesakitan pada lansia Resiko terjadinya kekambuhan
Dari 48 lansia yang ada di panti, berhubungan dengan penurunan
didapatkan : fungsi tubuh pada lansia
a) 39,58% lansia menderita
hipertensi
b) 6,25% lansia menderita
penyakit kronis (2 lansia
menderita hernia dan 1
lansia menderita DM)
c) 54,17% lansia menderita
rematik (rheumathoid
arthritis).
2. Resiko terjadinya cidera
Keadaan kamar kandi berhubungan dengan kondisi
Dari 16 lansia yang didata : lingkungan kamar mandi yang
a) 6,25 % mengatakan kamar kurang kondusif
mandi dalam keadaan
kurang bersih
b) 93,75 % mengatakan kamar
mandi dalam keadaan licin

Keamanan dan kenyamanan lansia


3.

26
tinggal dipanti

a) 12,5 % lansia di asrama 1 Gangguan rasa nyaman (cemas)


tidak merasa nyaman diantara penghuni asrama 1 yang
dengan sifat temannya yang berhubungan dengan perasaan
suka mengambil barang di tidak aman dan tidak nyaman di
asrama lingkungan asrama

3.2.4 Diagnosa Keperawatan


No. Diagnosa keperawatan
1. Resiko terjadinya kekambuhan diantara penghuni panti berhubungan dengan
penurunan fungsi tubuh pada lansia yang dimanifestasikan dengan :
a) 39,58% lansia menderita hipertensi
b) 6,25% lansia menderita penyakit kronis (2 lansia menderita hernia dan 1
lansia menderita DM)
c) 54,17% lansia menderita rematik (rheumathoid arthritis).

2.
Resiko terjadinya cidera diantara penghuni panti berhubungan dengan kondisi
lingkungan kamar mandi yang kurang kondusif yang dimanifestasikan dengan :
a) 6,25 % mengatakan kamar mandi dalam keadaan kurang bersih
b) 93,75 % mengatakan kamar mandi dalam keadaan licin
3.

Gangguan rasa nyaman (cemas) diantara penghuni asrama 1 yang berhubungan


dengan perasaan tidak aman dan tidak nyaman di lingkungan asrama yang
dimanifestasikan dengan :

a) 12,5 % lansia di asrama 1 tidak merasa nyaman dengan sifat temannya


yang suka mengambil barang di asrama

27
KATA PENGANTAR

Segala puji atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan limpahan
rahmad serta hidayahNya kelompok kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan
makalah Keperawatan Komunitas yang berjudul “Asuhan Keperawatan
Komunitas Pada Kelompok Khusua Lansia di Panti Werdha Mojopahit,
Kabupaten Mojokerto” dengan baik.

Makalah ini berisi tentang konsep asuhan keperawatan lansia dan penerapan
proses keperawatan lansia di panti Werdha Mojopahit. Makalah ini diharapkan
bisa di jadikan acuan dalam melakukan proses keperawatan khususnya pada
lansia. Dalam pembuatan makalah ini tidak lupa kami sampaikan terima kasih
kepada:

1. Pak Amin Zakaria, S. Kep. Ners selaku dosen pengajar mata kuliah
Keperawatan komunitas.
2. Pak Aris Hartono, S. Kep, Ners selaku dosen pembimbing kelompok
yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah
3. Ketua Panti Werdha Mojopahit yang telah memberikan ijin kepada
kelompok untuk melaksanakan lab klinik selama 5 kali kunjungan
4. Perawat Panti Werdha Mojopahit yang telah banyak membantu
kelompok ketika berada di panti, serta
5. Teman-teman S1 Keperawatan yang senantiasa membantu dalam
pembuatan makalah.

Kami sadar bahwa makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangan,
oleh karena itu kami mengharap saran dan kritik yang membangun bagi anggota
kelompok dan untuk pembuatan makalah selanjutnya.

Mojokerto, Desember 2010


Penyusun

ii
28
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...............................................................................................


Kata pengantar ...............................................................................................
Daftar isi ........................................................................................................
Bab 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................
1.2 Rumusan Masalah...............................................................
1.3 Tujuan ................................................................................
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................
1.3.2 Tujuan Khusus ...........................................................
1.4 Manfaat ....................................................................................
Bab 2 TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Keperawatan Kelompok Khusus ...................
2.1.1 Definisi Kelompok .......................................................
2.1.2 Proses Pembentukan Kelompok ...................................
2.1.3 Persyaratan Kelompok .................................................
2.1.4 Kriteria Kelompok ........................................................
2.2 Proses Asuhan Keperawatan Kelompok Khusus ..................
2.2.1 Definisi Kelompok Khusus ..........................................
2.2.2 Perawatan Kelompok Khusus ......................................
2.2.3 Tujuan Kelompok Khusus ............................................
2.2.4 Sasaran Kelompok Khusus ...........................................
2.2.5 Proses Keperawatan Kelompok Khusus ......................
Bab 3 ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA
KELOMPOK KHUSUS LANSIA
3.1 Tahap Persiapan .......................................................................
3.2 Tahap Pelaksanaan ...................................................................
3.2.1 Pengkajian ....................................................................
3.2.2 Analisis Data ................................................................

iii
29
3.2.3 Diagnosa Keperawatan .................................................
3.2.5 Perencanaan ..................................................................
3.2.7 Evaluasi.........................................................................
Bab 5 PENUTUP..........................................................................................
5.1 Kesimpulan ..............................................................................
5.2 Saran .........................................................................................
Daftar Pustaka ...............................................................................................

iv

30