Anda di halaman 1dari 24

Proyek Genom Manusia

Proyek Genom Manusia (bahasa Inggris: Human Genome Project, HGP) dilaksanakan untuk memetakan genom manusia sampai tingkat nukleotid atau base pair dan untuk mengidentifikasi seluruh gen yang ada di dalamnya.

Tujuan Tujuan awal dari HGP adalah tidak hanya untuk menjelaskan seluruh 3 milyar "base pair" dalam genome manusia dengan sedikit kesalahan, tetapi juga untuk mengidentifikasi seluruh gen dalam data yang besar ini. Sebagian proyek ini masih berlangsung meskipun penghitungan awal mencatat sekitar 25.000 gen dalam genome manusia, yang lebih sedikit dari yang dikira oleh para ilmuwan. Tujuan lain dari HGP adalah mengembangkan lebih cepat lagi metode yang lebih efisien untuk mensekuens DNA dan analisis sekuens dan peralihan teknologi ini ke industri.

Keuntungan Keuntungan praktikal proyek ini keluar ketika projek ini belum selesai. Misalnya, sejumlah perusahaan seperti Myriad Genetics mulai menawarkan tes genetik yang murah dan mudah yang dapat menunjukan gejala ke berbagai penyakit, termasuk kanker payudara, blood clotting, cystic fibrosis, liver, dan lainnya.

Proyek genom manusia memiliki arti yang sangat penting karena katalog gen manusia mengandung sebuah gambaran pada sekuan setiap gen di dalam genom, hal ini akan menjadi sangat berharga bahkan untuk bertahun-tahun fungsinya pada beberapa gen lain yang belum diketahui. Selain itu tidak hanya berisi sekuan pada sebagian coding setiap gen, tetapi juga mengatur daerah masuknya gen ini. Salah satu dari beberapa gen ini memiliki kasalahan dalam menjalankan fungsinya sehingga menyebabkan sebuah penyakit genetik, berhubungan dengan hal ini katalog gen manusia akan secepatnya mengatasi gen ini dan menjadikan hal tersebut sebagai suatu pelajaran dalam mencapai strateginya untuk mencapai ketahanannya. Proyek genom manusia merupakan hal yang sangat penting, karena genom manusia telah menjadi fokus penelitian di bidang

Biologi untuk akhir dekade ini dan untuk tahun yang akan datang, yang akan menjadi pusat perhatian dalam perhatian Biologi. Genom merupakan perangkap lengkap suatu informasi genetik yang ada pada suatu organisme. Manusia mempunyai 23 genom, genom manusia sangat besar hingga mencapai 2,6 miliyar atau sekitar 5000 km, yang di dalamnya terdapat bermacam-macam substansi seperti gen, pseudogen, segman gen, mikrosatelit dan sebagainya yang bekerja secara kompak dalam proses replikasi, transkripsi dan translasi protein di dalam sel. Maka dari itu proyek genom manusia dianggap suatu hal yang penting dalam kehidupan. Teknik kloning dan PCR merupakan hal yang berguna di dalam pre-genom untuk menguji atau memeriksa gen individual. Teknik tersebut lebih spesial digunakan untuk memahami genom di dalam proyek genom, proyek genom manusia merupakan sebuah sekuen yang menyeluruh. Proyek genom manusia dan proyek lainnya yang serupa dapat menggunakan genom spesies lain, oleh karena itu aktivitas molekuler pada sel manusia dalam mengawasi aktivitasnya memiliki gambaran yang luas. Proyek genom manusia lebih fokus pada transkriptom dan proteom yang mana kandungan informasinya di dalam genom digunakan oleh sel, dengan adanya proyek genom manusia banyak memberikan keuntungan diantaranya selain dapat meneruskan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Biologi Molekuler dan Genetik juga dapat berguna di bidang-bidang lain seperti Biokimia, Biologi sel dan Fisiologi. Bahkan dapat menciptakan kehidupan ilmu pengetahuan di bidang molekuler. Biasanaya genom manusia dengan genom pada banyak organisme lain, mengandung sejumlah banyak DNA intergenik yang pada awalnya dianggap tidak berfungsi, namun belakangan ini diketahui bahwa DNA intergenik cukup mempunyai peranan dalam genom manusia, hal tersebut diketahui untuk mengdapatkan sebuah gambaran lengkap pada organisasi DNA intergenik dalam genom yang tidak sama yang mempunyai keistimewaan yang kuat dalam menunjukan perannya untuk beberapa atau semua sekuen, yang dapat mengenalinya. "Reversed Informed Consent", Upaya Menanggulangi Perburuan Gen DENGAN selesainya proyek "human genome", perburuan kode gen tampaknya bakal makin marak. Yang diburu adalah kode gen sakit atau sehat, karena kode gen menjadi bahan pembuatan plasmid (potongan urutan DNA pembawa kode gen) untuk kloning protein-antibodi misalnya. Gunanya untuk imunisasi, pengobatan, maupun tes diagnostik. Gen apa saja diburu, termasuk gen penduduk Tristan da Cunha yang saling bersepupu (300 orang). Kondisi mereka mengundang keingintahuan seorang dokter ahli paru, karena prevalensi asma di pulau terpencil itu mencapai 50 persen. Memang ada kelainan genetik penduduk Tristan da Cunha dan dokter itu mengoleksi materi genetik mereka. Materi genetik dianalisa Sequana Therapeutics yang kemudian menjual hak paten kode gen predisposisi asma itu ke perusahaan Jerman Boehringer Ingelheim senilai 70 juta dollar AS (serkitar Rp 630 miliar). Ironisnya, penduduk Tristan da Cunha sendiri tidak mendapat keuntungan apa-apa, tidak juga terhadap masalah kesehatan mereka. Karena itu, pemerintah di berbagai negara perlu segera memikirkan upaya perlindungan kode genetik penduduknya. Salah satu yang antisipatif adalah Tonga, yang pemerintahnya menukar data gen penduduknya dengan kepemilikan saham. Jadi

setiap bentuk keuntungan dari penelitian ini akan kembali ke masyarakat. Penandatanganan kerja sama berlangsung antara Pemerintah Tonga dengan Universitas Griffith di Queensland. Peneliti diizinkan mencari gen yang berhubungan dengan migrain dan penyakit jantung di populasi kecil ini. Menurut Direktur Autogen yang akan mengolah hasilnya, untuk menjaga kerahasiaan kode genetik dari eksploitasi komersial, pengumpulan sampel dilakukan sukarela dengan "informed consent" anonim. Hasilnya tetap dimiliki pemerintah. Perusahaan Autogen juga akan mendirikan fasilitas penelitian dan memberi pekerjaan pada ilmuwan Tonga. INSTITUT Rockefeller di New York, yang telah lama meneliti kode gen obesitas tikus, telah berhasil mengidentifikasi gen obesitas pada manusia untuk mengetahui bagaimana mekanisme timbunan lemak diatur oleh tubuh. Keberhasilan ini tidak lepas dari perburuan kode gen penduduk pulau Kosrae di negara bagian Mikronesia, Pasifik Selatan. Belum apa-apa Amgen-perusahaan farmasi di California-telah menawarkan 20 juta dollar AS dan untuk ikut serta dan tambahan hingga 90 juta dollar AS untuk hak paten kode gen obesitas. Dalam perburuan gen ini, Amerika Serikat memberlakukan undang-undang negara bagian. Oregon misalnya, mengubah undangundang kepemilikan kode gen oleh keluarga si sakit (1995) menjadi undang-undang proteksi pada kerahasiaan kode genetik. Jadi, sebelum menggunakan informasi genetik, perusahaan harus menjamin bahwa individu-individu atau mereka yang mewakilinya membuat "blanket consent". Setiap peneliti yang secara ilegal mendapat atau membuka rahasia genetik di bawah undang-undang baru akan didenda 250.000 dollar AS. Universitas Pennsylvania berpendapat undang-undang proteksi kerahasiaan kode genetik harus diberlakukan oleh hukum yang lebih tinggi yaitu hukum federal yang berlaku untuk semua negara bagian. Menurut direktur pusat genetiknya, undang-undang federal tersebut diperlukan untuk melindungi kerahasiaan genetik. BAGI para pemburu kode gen, Indonesia merupakan surga karena merupakan negara dengan keragaman kode gen yang sungguh kaya. Semua suku diduga mempunyai kode gen yang berbeda, sehingga potensial menjadi kawasan perburuan gen. Karena itu, Indonesia perlu membuat undang-undang untuk melindungi keragaman genetik ini. Kenyataan menunjukkan, ketetapan MPR tentang sumber daya keragaman hayati belum ada dan RUU-nya belum tuntas. Padahal, Indonesia sudah sering menjadi obyek penelitian termasuk soal genetik. Karena itu, sambil menunggu tuntasnya RUU perlindungan sumber daya hayati yang diharapkan juga mencakup kode gen manusia, kiranya "reversed informed consent" perlu dilakukan. Ini terutama untuk menghindari kebocoran rahasia genetik yang bisa dimanfaatkan pihak ketiga. Apabila lazimnya dibuat "informed consent" untuk melindungi ilmuwan dari tuntutan pasien, maka dalam penelitian kode genetik

perlu tambahan "reversed informed consent" yang dibuat peneliti untuk melindungi subyek pemberi data dari pembocoran informasi kode genetiknya. "Reversed informed consent" berisi jaminan perusahaan genetik bahwa individu-individu atau mereka yang mewakilinya telah membuat "reversed informed consent" dan akan menyimpan DNA dari pihak ketiga. Setiap peneliti yang secara ilegal mendapat atau membuka rahasia genetik didenda Rp 5 miliar rupiah, dan tidak akan melakukan "DNA sequencing" dari setiap jaringan/makhluk hidup tanpa izin Depkes, serta tak akan membuat plasmid dan produknya. Seringnya pemburuan gen yang tidak melibatkan perusahaan tetapi mengatasnamakan yayasan penyelamat kepunahan suatu spesies, jangan membuat ilmuwan atau pejabat terlena. "Reversed informed consent" merupakan rambu-rambu yang harus dibuat oleh setiap peneliti asing. Kalau perlu setiap kerja sama pemerintah daerah yang melibatkan peneliti asing juga disertai Universitas setempat agar dapat membantu menjaga dari penyalahgunaan sampel jaringan baik darah, rambut ataupun air kumur subyek. Peni KS Mutalib, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/24/inspirasi/275374.htm

Genom Manusia Sudah Lengkap Dipetakan

HANYA dalam tempo tiga belas tahun-lebih cepat dua tahun dari target tahun 2005-para ilmuwan dunia yang bergabung dalam The Human Genom Project pekan lalu mengumumkan keberhasilan mereka memetakan genom manusia. Karena genom adalah suatu cetak biru informasi genetik yang menentukan sifat setiap makhluk hidup, maka pemetaan ini bakal menjadi kunci pembuka babak baru dalam memahami penyakit dan bagaimana mengobatinya. Informasi genetik setiap makhluk hidup disandi dalam bentuk pita molekul asam deoksiribonukleat yang dikenal sebagai DNA. Dengan pengumuman di atas, berarti proyek genom manusia telah berhasil memetakan tiga miliar nukleotida yang menyusun 100.000 gen dalam tubuh manusia. Dengan demikian, setiap individu memiliki kurang lebih 100.000 gen untuk diturunkan. Varian-varian dari gen inilah yang kemudian menentukan tinggi badan, warna mata, sidik jari, golongan darah, maupun kerentanan terhadap penyakit. Lembaga pertama-The Human Genom Project-membangun peta susunannya dari DNA yang diambil dari 24 individu anonim dari

berbagai grup ras dan etnisitas. Dari situlah dipahami adanya perbedaan rata-rata tiga juta antara satu orang dan orang lainnya. Tidaklah mengherankan bila James Watson, yang memenangkan hadiah Nobel karena menemukan struktur heliks ganda DNA bersama Francis Crick , menyebutkan, pemahaman terhadap "buku instruksi kehidupan manusia" ini akan merevolusi kehidupan masyarakat sebagaimana mesin cetak Gutenberg. SETELAH penemuan mesin cetak, terjadilah semacam ledakan informasi yang membuat masyarakat makin mudah mendapatkan informasi. Maka dengan adanya peta genom, manusia akan mengerti dirinya dengan lebih baik. Dengan demikian, ia akan memiliki ide lebih baik pula mengenai sifat dan keadaan alamiah manusia. Proyek riset genom memang masih akan berlanjut dengan upaya mencari mutasi gen-gen penyebab kanker yang mematikan maupun gen yang terlibat dalam pemunculan diabetes, leukimia, bahkan juga eksim yang suka muncul pada usia kanak-kanak. Seperti yang diberitakan Reuters, para peneliti di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Jepang, dan Cina mengungkapkan, mereka sebenarnya juga berminat menguak misteri protein yang menyusun jaringan dan mengatur fungsi metabolisme tubuh. Namun, kode genetiknya ternyata lebih kompleks dari yang dibayangkan. Memang harus diakui, masih perlu jalan panjang untuk mengaplikasikan hasil pemetaan genom manusia ini. Namun, pekerjaan memetakan genom manusia tentulah pantas dipandang sebagai ikhtiar ilmiah yang mengagumkan. (nes) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/24/inspirasi/275401.htm

Proyek Penelitian Genom 1000 Manusia 1/3

Hampir semua kode genetika manusia sudah dapat diuraikan dalam proyek genom manusia. Kode genetik manusia 99 persen identik. Namun perbedaan yang hanya satu persen itu, amat menentukan dalam reaksi individu pada penyakit, obat -obatan dan pengaruh lingkungan. Proyek Genom Manusia yakni penguraian kode genetika yang membentuk manusia, sudah tuntas pada tahun 2006 lalu, dan dianggap sebagai terobosan terbesar dalam bidang penelitian genetika. Kelompok peneliti internasional ketika itu sukses mengidentifikasi hampir seluruh kode genetika manusia. Sekarang sebuah konsorsium peneliti internasional menetapkan target ambisius baru. Yakni dalam waktu tiga tahun hendak mengidentifikasi kode genetika personal 1000 orang dari seluruh penjuru dunia. Tujuannya untuk membuat bank data variasi genom manusia paling lengkap dan rinci untuk kepentingan ilmu kedokteran. Memang diketahui, 99 persen kode genetika manusia itu identik. Hanya satu persen sisanya yang memiliki variasi. Tapi satu persen kode genetika inilah yang membeda-bedakan satu individu dengan yang lainnya.

Para peneliti genetika mengatakan, amatlah penting untuk lebih mengerti bagaimana sifat dari fraksi kecil perbedaan kode genetika manusia ini. Karena perbedaan kode genetika diantara berbagai etnis itu, akan dapat menjelaskan perbedaan individu menyangkut ketahanannya pada serangan penyakit, responsnya pada obat-obatan maupun reaksinya pada faktor lingkungan. Peneliti Jerman yang menjadi pimpinan tim riset dalam proyek penelitian 1000 genom tsb, Professor Hans Lehrach direktur Institut Max-Planck untuk Genetika di Berlin menggambarkan proyeknya : Proyek genom manusia pada awalnya bertujuan untuk dapat memahami biologi manusia. Sekarang kami mencoba memahami perbedaannya, dalam arti mengapa etnis yang berbeda-beda juga diserang penyakit yang berbeda pula. Juga variasinya, misalnya apa yang bertanggung jawab bagi penyakit langka bisa diidentifikasi.

Katalog variasi genetika manusia yang baru saja disusun dan dikembangkan, seperti apa yang disebut katalog HapMap, terbukti memiliki arti penting dalam penelitian genom manusia. Penelitian aktual menemukan lebih dari 100 kawasan dalam genom manusia yang mengandung variasi genetika, yang berasosiasi dengan risiko penyakit yang lazim pada manusia. Seperti penyakit diabetes, jantung koroner, kanker prostata dan kanker payudara, rematik arthtitis serta penyakit degenerasi kemampuan penglihatan yang berkaitan dengan semakin bertambahnya usia. Pengetahuan menyangkut genom yang lengkap amat penting untuk ilmu kedokteran. Khususnya untuk pengobatan berbagai penyakit. Misalnya saja penderita kanker bereaksi berbeda-beda terhadap obat yang biasa diberikan. Para peneliti memperkirakan penyebabnya berada dalam kode genetika masing-masing pasien. Juga kode genetika berkaitan dengan perbedaan parahnya dampak sampingan obat dalam kasus individual. Semakin banyak diketahui rincian genom manusia, maka semakin bagus peluangnya untuk mengembangkan obat-obatan yang disesuaikan dengan kode genetika individual. Prof Hans Lehrach mengungkapkan lebih lanjut : Kami sedang berada pada tahapan penelitian, menguraikan genom seorang pasienatau sebuah tumor, secara hampir komplit. Kami amat bahagia, jika dapat mengerti bagaimana caranya mengobati tumor lebih baik lagi.

Para peneliti melakukan penguraian kode genetika DNA dengan cara memecah molekulnya menjadi rangkaian asam amino penyusunnya. Penelitian ini hanya dapat dilakukan dengan bantuan mesin pengurai DNA yang dikendalikan komputer dan bekerja secara otomatis melakukan pemecahan kode genetika menjadi rangkaian senyawa dasarnya. Saat ini mesinnya semakin cepat dan dapat mengolah data dalam volume amat besar.

Ketika proyek genom manusia dituntaskan pada tahun 2006 lalu, ongkos yang dikeluarkan mencapai sekitar 10 juta Dolar. Kini ongkosnya dapat ditekan lebih rendah lagi, yakni sekitar 10.000 Dolar untuk satu obyek penelitian. Tapi tim peneliti masih berusaha menekan ongkos penelitiannya. Prof Lehrach menjelaskan: Sasarannya adalah, menekan ongkos penguraian genom menjadi hanya seribu Dolar atau kurang. Hal ini bagi dunia kedokteran tentu

saja berarti sebuah revolusi. Dengan begitu, kami dapat mempelajari biologi sebuah tumor atau juga penyakit manusia dengan rinci, dengan harga yang setara dengan ongkos pemeriksaan kedokteran biasa.

Yang dimaksud adalah ongkos diagnostik konvensional untuk penyakit kanker atau penyakit lainnya. Dengan menekan ongkos diagnostiknya, akan terbuka peluang untuk mengobati penyakit sesuai karakteristik genetika individual dengan tingkat kesuksesan lebih tinggi. Para ilmuwan di seluruh dunia, dewasa ini sudah mengumpulkan bank data menyangkut informasi genetika dalam volume amat besar. Tentu saja awam mempertanyakan apa risikonya? Sebab jika menyangkut istilah rekayasa genetika selalu muncul kekhawatiran publik. Misalnya muncul ketakutan, data mengenai DNA dapat disalah gunakan untuk memanipulasi manusia menurut standar genetika. Atau juga merampok rahasia personal seseorang, dalam hal ini kode genomnya. Akan tetapi direktur institut Max-Planck untuk genetika di Berlin Prof. Lehrach berpendapat lain : Saya hanya dapat menggambarkan dalam waktu dekat ini hasil penguraian genom itu dimanfaatkan di studio kebugaran, untuk mengoptimalkan program fitness masing-masing peserta. Pada prinsipnya kita memperoleh banyak keuntungan, terutama di bidang pengobatan penyakit yang amat berbahaya. Seharusnya setiap orang memutuskan sendiri apakah saya perlu tahu hal ini atau tidak ? Ketakutan bahwa dari sekuens genom kami dapat mengidentifikasi semua sifat manusia, amat berlebihan. Para ilmuwan tetap meyakini, proyek penguraian kode genetika 1000 manusia itu akan memberikan lebih banyak keuntungan ketimbang kerugiannya. Sebab pada dasarnya proyek ini lebih ditekankan pada aspek kedokterannya. Dengan itu dapat dibuka peluang bagi seseorang, untuk memprediksi risiko indivualnya terhadap penyakit dan juga respons tubuhnya terhadap obat-obatan. Selain itu dengan memiliki katalog informasi genetika cukup lengkap, dapat dilakukan penelitian komprehensif menyangkut dua variasi kode genetika dengan sifat yang amat berbeda. Yakni variasi dari kode genetika yang lazim terdapat pada hampir setiap individu dengan kode genetika yang memicu penyakit langka, seperti Cystic Fibrosis

atau penyakit Huntington. Karena sejauh ini masih terdapat celah amat besar menyangkut pengetahuan mekanisme gen yang memiliki variasi semacam itu. Proyek 1000 genom itu, selain hendak menguraikan kode genetika lengkap 1000 orang dari etnis berbeda-beda di wilayah yang berbeda pula yang disebut exons, juga hendak membuat sekuens dari kelompok pembanding lainnya. Yakni genom enam person dari dua keluarga batih, yang terdiri dari ibu, bapak dan anaknya yang telah dewasa serta genom 180 personal dari keluarga yang diketahui menurunkan dua variasi kode genetika.

Pengertian Bioetika Etika diartikan sebagai ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat (Amin, 1983). Etika juga diartikan sebagai filsafat nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan juga merupakan pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri. Dengan demikian etika dapat diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Etika berhubungan dengan 4 hal, yaitu dilihat dari segi objeknya, etika membahas perbuatan yang dilakukan manusia, dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber dari akal pikiran dan filsafat, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu, dan penetap suatu perbuatan yang dilakukan manusia apakah perbuatan itu baik, buruk, hina, dan sebagainya, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif, dapat berubah-ubah sesuai perkembangan ilmu dan zaman. Etika dan moral sama-sama membahas perbuatan manusia untuk selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk. Perbedaan etika dan moral adalah etika dalam menentukan nilai baik atau buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolok ukurnya adalah norma-norma yang tumbuh berkembang dan berlangsung di masyarakat. Etika lebih bersifat teoritis, sedangkan moral lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang perilaku manusia secara universal, sedangkan moral secara lokal (Yaqub, 1983). Bioetika atau bioethics atau etika biologi didefinisikan oleh Samuel Gorovitz (dalam Shannon, 1995) sebagai penyelidikan kritis tentang dimensi-dimensi moral dari pengambilan keputusan dalam konteks berkaitan dengan kesehatan dan dalam konteks yang melibatkan ilmu-ilmu biologis. Bioetika menyelidiki dimensi etis dari masalah-masalah teknologi, ilmu kedokteran, dan biologi yang terkait dengan penerapannya dalam kehidupan (Shannon, 1995). Bioetika juga diartikan sebagai studi tentang isu-isu etika dan membuat keputusan yang dihubungkan dengan kegunaan kehidupan makhluk hidup dan obat-obatan termasuk di dalamnya

meliputi etika kedokteran dan etika lingkungan. Dengan demikian bioetika terkait dengan kegiatan yang mencari jawab dan menawarkan pemecahan masalah dari konflik moral. Konflik moral yang dimaksud meliputi konflik yang timbul dari kemajuan pesat ilmu-ilmu pengetahuan hayati dan kedokteran, yang diikuti oleh penerapan teknologi yang terkait dengannya. Cara Pandang Reduksionisme dalam Perkembangan Biologi Problem-problem yang muncul terkait dengan bidang etika setelah perkembangan biologi, juga diakibatkan oleh cara pandang yang dikenal dengan reduksionisme (Sumitro, 2002). Reduksionisme merupakan cara pandang yang melandasi pemikiran bahwa segala sesuatu tentang sistem kehidupan hanya dapat dipahami apabila dipelajari bagian demi bagian pada skala yang semakin kecil (dari aspek ukuran volume dan massa). Selain itu, reduksionisme juga memiliki pengertian sebagai penyederhanaan sistem kehidupan dengan menganggapnya tidak berbeda dengan reaksi-reaksi kimia dan fisika pada benda mati. Pandangan seperti ini sangat penting untuk mendapat perhatian, sebab dapat muncul afeksi atau sikap yang bertentangan dengan nilai etika, yang diakibatkan kebiasaan penyederhanaan obyek kajian yang sesungguhnya terlalu kompleks untuk disederhanakan. Sehubungan dengan cara pandang reduksionisme tersebut, Sumitro (2002) mengemukakan perlunya kehati-hatian baik dalam pengembangan teknologi dengan basis lingkup kajian biologi modern, maupun kehati-hatian terhadap reduksionisme itu sendiri. ___________________ *) Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan dalam Menyambut Kongres Nasional XIV dan Seminar Nasional Biologi XX Perhimpunan Biologi Indonesia di Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tanggal 15 Nopember 2008. Kehati-hatian yang dimaksud perlu diwujudkan antara lain dalam bentuk kajian aspek etika pada saat penerapan teknologi (Jenie, 1997; Santosa, 2000; Djati, 2003). Sejalan dengan hal ini, Johansen & Harris (2000) dan Hasan (2001) juga mengemukakan bahwa hasil penelitian yang tidak mempertimbangkan aspek moral, etika, sosial, dan budaya, akan menimbulkan banyak permasalahan di masyarakat. Demikian pula Sudarminta SJ (1992) mengemukakan perlunya suatu dialog antara etika dan ilmu pengetahuan untuk sarana pertimbangan etik yakni apakah ilmu pengetahuan tersebut baik bagi manusia menurut totalitasnya sebagai manusia dan tidak hanya menurut kebutuhan tertentu saja. Oleh karena itu, aspek etika yang berkaitan dengan aplikasi biologi perlu mendapatkan perhatian yang serius. Perkembangan Biologi Menuju Biologi Molekuler Pada tahun 1953, Watson dan Crick memenangkan hadiah Nobel bidang blokimia, atas keberhasilan penelitian mereka dalam menyingkap (discoring ) struktur molekul dari DNA (Desoxyribo Nucleic Acid), yaitu suatu materi genetik yang bertanggung jawab dalam pemindahan sifat dari induk ke keturunannya. Temuan struktur kimia molekul DNA tersebut merupakan tonggak sejarah

yang sangat penting dalam perkembangan ilmu biologi; yang kemudian mengantarkan ilmu biologi ke arah molekuler. Perkembangan lebih lanjut dari biologi molekuler adalah ketika kode-kode genetik pada segmen DNA mulai dapat dibaca. Penyingkapan tentang kode-kode genetik pada DNA ini terjadi pada tahun 1965, hanya 12 tahun sejak temuan struktur DNA. Dengan temuan ini para pakar biologi molekuler telah mampu membaca kode-kode pada struktur gen, artinya para ahli telah mampu mengetahui bahwa suatu gen dengan struktur tertentu akan menyandi proses tertentu pula. Smith dan Nathan pada tahun 1970 menemukan enzim restriksi endonuklease; suatu enzim yang dapat digunakan untuk memotong DNA pada tempat-tempat yang dikehendaki. Selain enzim restriksi endonuklease, enzim ligase ditemukan pula. Ligase merupakan enzim yang mampu menyambung kembali rangkaian DNA yang telah diiris oleh endonuklease tersebut. Dengan bahasa yang lebih sederhana, manusia telah dikaruniai kemampuan untuk dapat mengiris DNA (gen), yaitu dengan ditemukannya pisau-pengiris DNA yang berupa enzim restriksi endonuklease; serta dapat pula menyambung kembali rangkaian DNA (gen) itu dengan lem DNA yang berupa enzim ligase. Dengan temuan Smith dan Nathan diatas, maka para pakar biologi molekuler telah mampu melakukan pengirisan DNA pada segmen gen tertentu, kemudian memindahkan irisan DNA tersebut, dan disambungkan ke DNA lain dari makhluk yang lain pula; inilah yang dikenal dengan teknologi genetik (genetic engineering technology) , atau dikenal pula sebagai teknik rekombinasi DNA (DNA recombinant technique). Perkembangan yang dramatis terjadi pula pada tahun 1986, ketika Karry Mullis dari Cetus Corporation menemukan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction = Reaksi Berantai Polimerase). Dengan menggunakan teknologi PCR, DNA (gen) dapat diperbanyakkan dalam jumlah jutaaan kali DNA yang identik, dalam waktu yang hanya 24 jam. Perbanyakan DNA ini, yang dalam bahasa biologi molekuler disebut dengan istilah amplifikasi, dapat pula diberikan dalam bahasa yang lebih sederhana, yaitu bahwa dengan teknologi PCR,, DNA (gen) dapat dikopi menjadi jutaan kali lipat.DNA (gen) yang identik (Jenie, 1997). Kontrol terhadap DNA (gen) tersebut dapat berupa: memindahkan DNA dari suatu makhluk ke makhluk yang lainnya, ataupun mengkopi DNA dalam jumlah yang jutaan kali lipat untuk tujuan-tujuan komersial ataupun jasa. Aktivitas analisis genom yang sekarang sedang dilakukan di dunia, adalah apa yang dikenal sebagai Human Genom Project (HGP) (Lindell & Milczarek dalam Johansen & Harris, 2000). .HGP atau Proyek Genom Manusia, merupakan suatu upaya terkoordinasi berskala internasional yang pertama kali dalam sejarah riset biologi. Proyek ini bertujuan untuk menentukan seluruh urutan nukleotida genom manusia yang berjumlah sekitar 3 milyard pasang basa, dan bersamaan dengan itu mengidentifikasi 100.000 gen yang merupakan faktor penentu bagi spesies makhluk manusia. Dengan diketahuinya fungsi dari setiap gen manusia yang menyandi fungsi biologis, maka dengan sendirinya dapat diidentifikasi gen-gen yang berperanan dalam penyakit yang terjadi pada manusia, dan dengan demikian dapat pula dikembangkan strategi untuk diagnostik, pengobatan, dan pencegahan.

Aplikasi teknologi serta industrial dari biologi molekuler inilah yang dikenal sebagai bioteknologi modern. Kegiatan ilmiah dari

bioteknologi modern ini meliputi: Eksperimen rekayasa genetik, eksperiman transgenik (pemindahan gen dari satu makhluk ke makhluk lain), analisis genetik, sintesis protein, dll. Perkembangan di bidang bioteknologi kedokteran/farmasi terjadi pada tahun 1978 pada saat industri Genentech di AS berhasil menyisipkan gen sintetik penyandi sintesis hormon insulin manusia ke dalam bakteri Escherissia coli, dan sebagaimana diharapkan, bakteri E. coli tersebut akhirnya memproduksi hormon insulin manusia dalam jumlah yang banyak. Dengan rekayasa genetik ini, manusia telah mampu membuat makhluk-makhluk baru yang terekayasa secara genetik, yang dalam bioteknologi modern dikenal dengan sebutan GMO (genetically modified organisms) atau ONT (organism of new treatment = makhluk yang telah diberi perlakuan baru (terbarukan secara genetik). Melalui bioteknologi modern telah mampu membuat makhluk-makhluk baru, umumnya baru berupa enginered microbes, atau mikroorganisme terekayasa, yang mempunyai sifat-sifat seperti yang dikehendaki oleh pakar pembuatnya. Bioetika sebagai Pengendali Kegiatan-kegiatan bioteknologi modern telah banyak memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Namun demikian eksperimeneksperimen bioteknologi modern perlu diberi rambu-rambu pengaturannya, mengapa demikian? Bioteknologi modern melibatkan percobaan-percobaan yang menyangkut gen, suatu materi pembava sifat dari suatu organisme. Eksperimen transgenik yaitu pemindahan gen dari satu makhluk ke makhluk yang lainnya, baik sejenis maupun tidak, sering dilakukan dalam laboratorium bioteknologi modern. Di AS (Jenie, 1997) pernah dilakukan pemindahan gen penyandi proses fosforisensi dari kunang-kunang ke tumbuhan rendah, dan apa yang terjadi adalah tumbuhan rendah tersebut pada malam hari berfosforisensi ! Jelas bahwa ekeperimen pada contoh adalah pemindahan gen dari insekta ke tumbuhan rendah, dari dunia makhluk yang satu ke dunia makhluk yang sama sekali berbeda dan eksperimen tersebut berhasil ! Keberhasilan dalam eksperimen transgenik tersebut telah membuat sementara pakar menjadi arogan; bahkan beberapa diantaranya sampai mengatakan we play God yang maksudnya lebih kurang Kita bermain (sebagai) Tuhan! Keberhasilan eksperimen di atas, juga telah memberanikan para pakar bioteknologi untuk melakukan eksperimen transgenik yang lebih ambisius lagi, dengan rencana-rencana penyempurnaan gen manusia, atau memindahkan gen manusia ke makhluk lain, atau sebaliknya. Jika penelitian bioteknologi modern telah masuk ke kawasan ini, yaitu bermain dengan gen manusia tanpa tujuan yang dapat diterima moral, maka perlu diterapkannya rambu-rambu aturan main bagi riset di bidang bioteknologi modern ini. Jika tidak demikian jelas bahwa tatanan kemanusiaan akan rusak!. Dapat dibayangkan apabila eksperimen transgenik melibatkan pemindahan gen dari hewan/tumbuhan ke manusia, atau sebaliknya, apa yang akan terjadi ? Oleh karena itu diperlukan aturan main bagi riset tekhologi rekayasa genetik, yang diharapkan dapat tertuang di dalam kode etik khusus, yang dikenal sebagai Bioetika. Di samping itu, bioetika harus masuk ke dalam bidang pendidikan/pembelajaran. Margono (2003) mengatakan bahwa perkembangan penelitian bioteknologi seperti genom manusia, teknologi reproduksi, kloning,

transgenik, dan lainnya akan memerlukan kebijaksanaan sosial dan sikap individu. Hal ini menyebabkan perlunya membelajarkan bioetika, karena dengan cara demikian akan dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan bertindak yang sesuai dengan etika dan moral dalam menanggapi masalah-masalah biologi. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan berpikir dalam menetapkan suatu keputusan etika dan moral. Oleh karena itu, lembaga pendidikan mempunyai beban dan tanggung jawab untuk melaksanakan pembelajaran yang terkait dengan etika (bioetika) dan moral serta membantu siswa mengembangkan cara-cara dalam membuat keputusan moralnya (Kormondy dalam Margono, 2003).

Pembelajaran Bioetika Pembelajaran bioetika dapat dilaksanakan pada berbagai jenjang pendidikan, dengan catatan pembelajaran ini berintikan bagaimana mengambil keputusan terkait etika (keputusan etik). Pembelajaran bioetika tidak membelajarkan keputusan apa yang harus diambil, namun membelajarkan bagaimana cara mengambil keputusan tersebut. Beberapa prinsip yang dapat diadaptasi untuk kepentingan pembelajaran bioetika (Shannon, 1997) adalah: 1. Otonomi (Autonomy). Prinsip otonomi adalah suatu bentuk kebebasan bertindak dimana seseorang mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukan sendiri. 2. Tidak merugikan (Nonmaleficence). Prinsip ini merupakan suatu cara teknis untuk menyampaikan bahwa kita berkewajiban tidak mencelakakan orang lain. Bila kita tidak bisa berbuat baik kepada seseorang, maka sekurang-kurangnya kita wajib untuk tidak merugikan orang lain. 3. Berbuat baik (Beneficence). Prinsip berbuat baik merupakan segi positif dari prinsip tidak merugikan. Kewajiban berbuat baik menuntut bahwa kita harus membantu orang lain dalam memajukan kepentingan mereka. 4. Keadilan (Justice). Prinsip keadilan mempunyai makna proporsional, sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Pembelajaran bioetika dapat dilakukan sebagaimana yang dikemukakan Fullick & Ratcliffe (1996) yakni : 1. Interpretasi (memperkenalkan isu-isu etika dalam Biologi, misal: kloning, apa kloning itu? bagaimana kalau suami istri tidak punya anak secara biologis karena suami Azoospermia, bertahan ingin punya anak biologis dengan kloning?) 2. Analisis (faktor-faktor apa baik dari luar maupun dalam diri seseorang yang mempengaruhi seseorang ingin punya anak? 3. Argumen (rencana keputusan apa saja yang mungkin diambil dan apa kekuatan dan kelemahan masing-masing?) 4. Pengambilan Keputusan (keputusan yang dapat diambil setelah melakukan kritik terhadap masing-masing rencana keputusan). Strategi pembelajaran bioetika dapat berupa diskusi maupun debat yang mengandung tahapan di atas. Pembelajaran bioetika

seperti tersebut di atas dikenal juga dengan pembelajaran bioetika menggunakan Dilema Bioetika. Strategi pembelajaran bioetika yang juga banyak digunakan di Inggris, Amerika dan negara lainnya adalah menggunakan kerangka kerja yakni: Pembuatan Peta Konsekuensi, Analisis Untung Rugi, dan Pengambilan Keputusan (Fullick & Ratcliffe, 1996). PETA KONSEKUENSI: berisi peta akibat, apa saja yang akan terjadi sebagai konsekuensi dari suatu tindakan atau isu terkait biologi dan teknologinya atau lingkungan. Misal, pembangunan PLTN, konsekuensi apa saja yang akan terjadi atau dihasilkan dengan pembangunan PLTN. Guru dapat mendaftar semua sumbangan pemikiran siswa (tidak perlu membenarkan dan menyalahkan yang dikemukakan siswa). ANALISIS UNTUNG RUGI: Guru mengajak siswa untuk menganalisis besarnya untung dan rugi dari akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu tindakan yang terkait biologi. PENGAMBILAN KEPUTUSAN: Setelah melakukan analisis untung rugi secara cermat, guru memotivasi siswa untuk menentukan keputusan apa yang bisa diambil.

Model ABCDE sebagai Salah Satu Model Pengambilan Keputusan Etik dalam Pembelajaran Bioetika Model pengambilan keputusan etik ini memberikan peluang kepada suatu kelompok atau individu untuk mencapai suatu keputusan akhir dalam suatu konflik etika atau Dilema Bioetika. Model ABCDE ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memikirkan argumentasi yang mungkin bertentangan yang dapat muncul, kerugian dan manfaat yang diperoleh, yang kesemuanya untuk mencapai keputusan terakhir yang berlandaskan pada kejujuran pribadi. Penjelasan model ini adalah sebagai berikut: A. Argumentasi. Meminta siswa mengemukakan solusi apa yang dapat diputuskan dalam menghadapi suatu konflik etika, misal: Aborsi. Untuk melakukan hal ini siswa diminta berpegang teguh pada posisi sebelum diskusi tentang sisi lain dari argumentasinya. B. Both Sides. Meyakinkan siswa bahwa suatu argumentasi mempunyai dua atau lebih sisi yang dapat didekati dari perspektif konsekuensi. Mengingatkan para siswa untuk membuat suatu keputusan dengan konsekwensinya. Adalah penting untuk mendorong para siswa untuk melihat bahwa ada sisi lain dari argumentasinya, sungguhpun mereka boleh memprotes bahwa mereka hanya melihat dari satu sisi saja. C. Costs and Benefits. Menggunakan informasi yang telah mereka kembangkan terkait dengan keuntungan dan kerugian (Kemaslahatan dan Kemudlorotan) masing-masing argumentasi.

D. Decision. Penggunaan diskusi terbuka dan debat, agar para siswa dapat mencapai suatu keputusan atau kesimpulan. Tidak berarti seluruh kelas perlu setuju. Bagaimanapun, ini adalah suatu hal berharga untuk belajar mencapai keputusan terakhir, sebab hal inipun akan terjadi pada masyarakat yang lebih luas. Keputusan boleh jadi disetujui oleh mayoritas pemilih atau oleh konsensus. Atau tidak semua orang akan setuju. E. Evaluate. Dengan semua argumentasi, keuntungan dan kerugian, dan keputusan terakhir, apakah proses sudah berjalan dengan baik? Dalam hal ini, perlu dilakukan evaluasi sekali lagi terhadap keputusan akhir yang diambil. Model ini mempunyai keuntungan antara lain kemudahan untuk menawarkan suatu proses pengambilan keputusan secara langsung. Juga menyediakan suatu forum di mana masing-masing individu dapat menjelaskan nilai-nilai yang dimiliki dan juga memahami pendapat orang lain. Melalui proses ini, para siswa akan menemukan informasi baru, pandangan yang berbeda, mempertentangkan apa yang mereka miliki, dan mengembangkan argumentasi. Keputusan sebagai bagian dari proses ini memberikan peluang pada para siswa untuk belajar menerima secara sosial dan secara moral. Evaluasi sebagai langkah akhir, menyoroti konsekwensi dari keputusan yang telah diambil. Penggunaan model ini tidak akan membuat semua orang bahagia tetapi akan menawarkan kepada para siswa suatu kesempatan untuk menguji proses pengambilan keputusan yang etis dengan menyelidiki hal-hal di luar nilai-nilai yang mereka yakini. Kesimpulan Para guru biologi dapat mengembangkan siswa dengan belajar untuk berpikir dan memprediksi konsekuensi dari apa yang dilakukan. Mendiskusikan pendapat-pendapat baik yang pro maupun kontra adalah hal yang sangat berharga untuk mengembangkan wawasan siswa. Proses memperoleh keputusan etik dari suatu fenomena dalam biologi perlu dibelajarkan kepada siswa dengan berlandaskan filosofi konstruktivistik, agar kelak siswa sebagai ilmuwan biologi dapat mempertimbangkan tindakantindakan yang akan dilakukan dalam proses ilmiah.

Daftar Rujukan Amin, A. 1983. Etika (Ilmu Akhlaq). Terjemahan oleh Farid Maruf. Jakarta: Bulan Bintang. Jenie, U.A. 1997. Perkembangan Bioteknologi dan Masalah-Masalah Bioetika yang

Muncul. Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Regional Hasil Penelitian Biologi dan Pendidikan Biologi/IPA di IKIP Surabaya, Surabaya: 4 Januari 1997. Johansen, C.K. and Harris, D.E. 2000. Teaching the Ethics of Biology. The American Biology Teacher, 62 (5) : 352-358. Margono, D. 2003. Analisis Kemampuan Berpikir Moral terhadap Tes Dilema Bioetika pada Siswa SMU Jember. Teknobel, 4 (1) : 9-14. Shannon, T.A. 1995. Pengantar Bioetika. Terjemahan oleh K. Bertens. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Yaqub, H. 1983. Etika Islam Pembinaan Akhlaqul Karimah. Bandung : Diponegoro.

KEADILAN GLOBAL
ETIKOLEGAL - Vol.6 No.8, Maret 2007 Ilmu kedokteran yang bersendikan berbagai ilmu dasar di era supermodern ini seolah tak tertahankan supremasinya. Ilmu dasar seperti biologi, kimia dan fisika serta matematika menjadi tuan besar melalui cerobong ilmu kedokteran atau tepatnya ilmu biomedik. Sebagaimana kedigdayaan ilmu pengetahuan alam yang bertetangga dengan ilmu pasti, melalui tuan besar tadi kedokteran muncul sebagai ilmu penentu masa depan. Kedokteran menjadi peramal. Prediktif. Apalagi setelah dikemas dalam bentuk teknologi. Ini rumusan kesombongan segenap ilmuwan di jagad raya ini, khususnya yang pengikut sekularisme. Ilmu menjadi bebas nilai. Ketika para ilmuwan medik telah piawai dengan teknologi pemotongan gen, penggantian struktur di dalamnya melalui teknologi nano, lalu menggantinya dengan gen yang lain (memindahkan inti sel), maka sosok manusia dan segenap mahluk hidup di jagad raya ini tinggal menjadi hilir belaka. Kehidupan berpindah di sebelah hulu, yakni dalam bentuk interaksi gen-gen. Jauh dari kasat mata. Informasi genetik yang terbungkus dalam genom atau proteomic menjadi daerah perburuan usaha baru. Sekaligus petapeta genetik tadi menimbulkan kehingar-bingaran kompetisi para ilmuwan biomedik dalam suatu kreativitas seolah tanpa batas. Namun mereka sering lengah, akibat keketatan persaingan untuk menemukan yang serba baru dari kotak-katik info genetik tersebut. Lengah bahwa teknologi nanogenetik manusia senantiasa dikritisi oleh seberapa jauh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut mampu menjawab persoalan etika, hukum dan implikasi sosialnya. Peta genetik manusia yang sebentar lagi akan tuntas diperoleh melalui human genome project karena letaknya di hulu akan terus dibombardir oleh kritik sejak tujuan dan cara

melakukan risetnya. Pertanyaan etis akan terus muncul kepada diri ilmuwan, institusi kerjanya serta negara pelindung atau penggeraknya. Apa maslahat diperlukannya perlindungan manusia dari ekses terkompilasinya peta genetik komplit itu? Komisi Bioetika di bawah Presiden. Peta genetik dan proteomik manusia yang dikumpulkan, diproses , dipergunakan dan disimpan menurut Deklarasi Internasional tentang Data Genetik Manusia (1997) yang diterima secara aklamasi oleh UNESCO 2003, hanya untuk tujuan sebagai berikut : a. Diagnosis dan pelayanan kesehatan, termasuk penapisan dan uji prediktif; b. Riset kedokteran dan ilmiah lainnya, termasuk epidemiologik, arkeologik dan antropologik khususnya studi genetik berbasis populasi; c. Khusus keperluan kedokteran forensik, proses perdata dan pidana; d. Tujuan lain sepanjang sesuai dengan Deklarasi Universal Genom dan Hak Asasi Manusia dan hukum HAM internasional. Kesemua tujuan tadi bila diterapkan di negara kita, secara prosedural sesuai pasal 6 deklarasi, harus memperoleh persetujuan dari komisi khusus tingkat nasional yang terdiri dari pakar multidisiplin, independen dan plural. Yang kiranya layak untuk itu adalah Komisi Bioetika Nasional yang telah dibentuk berdasarkan 3 SKB Menteri yakni Menkes, Menristek dan Menteri Pertanian. Walaupun di Amerika Serikat, Komisi tadi berada di bawah Presiden. Mirip LPND (lembaga pemerintah non departemen) yang lintas sektor. Memang, selayaknya komisi itu dibawah Presiden, karena SKB 3 Menteri tersebut di atas belum memadai bila harus menangani persoalan tertentu. Contohnya adalah penyimpanan dan penggunaan peta genetik untuk kedokteran forensik dan hukum (pasal 12 dan 17), memerlukan pengaturan dari Depkumdang. Sementara bahan genetik dikaitkan dengan pendidikan etik, pelatihan dan informasi (pasal 24) merupakan dukungan penuh Depdiknas. Perhatian kepada manusia rentan yang memerlukan bantuan jelas akan melibatkan Departemen Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Departemen Pekerjaan Umum, dll. Nampaknya harus mulai dipikirkan, bahwa untuk mengawal gejolak etika, hukum dan sosial komisi bioetika ini dibawah Presiden. Mirip KPK atau Komisi Yudisial. Proyek Riset vs Pabrik Multinasional. Khusus untuk riset kedokteran dan ilmiah, baik riset dasar maupun aplikatif juga tak boleh meninggalkan etika. Riset ini menjadi makin menarik perhatian dunia, karena teknologi peta data genom manusia kini dikombinasi dengan menyeruaknya riset menggunakan sel tunas (stem cells). Riset dasar adalah untuk mencerahkan dasar pemahaman tentang biologi perkembangan yang unsur inti selnya belum diketahui seluruhnya, khususnya dalam mencari prinsip dasar dan kemungkinan aplikasinya. Sedangkan riset aplikatif adalah untuk mengatasi takluknya ilmu kedokteran masa kini dalam mencapai tujuannya untuk menyembuhkan penyakit tertentu yang hingga kini belum ditemukan obatnya, seperti penyakit keturunan yang fatal atau membuat cacat atau disabilitas tertentu. Umumnya waktu tunggu dari riset dasar ke aplikatif (diakuinya hasil pengobatan genetik) memerlukan waktu antara 10 60 tahun, dengan keharusan menempuh prosedur ketat tahap pembuktian percobaan binatang lebih dahulu. Juga secara etis hasilnya harus sabar menunggu perbandingan obyektif aplikatifnya diantara sesama peneliti disertai kejujuran pencantuman keterbatasannya.

Panjangnya waktu tunggu ini secara diam-diam diduga dibuat oleh lobi pelbagai pabrik farmasi multinasional, agar pelbagai produk obat-obatan selama ini masih dapat memperoleh keuntungan dengan masih digunakannya obat-obat produksinya. Mereka belum balik modal namun keburu teknologi peta data genom dan aplikasi sel tunas sudah akan menjungkir-balikkan metodologi diagnosis dan terapi masa kini yang menyebabkan mereka berisiko bangkrut. Ke depan, perseteruan antara teknologi medikamentosa yang statusnya kini masih di hulu vs teknologi pengobatan gen yang lebih hulu lagi akan menimbulkan persoalan etika sosial. Karena disitu sesungguhnya terjadi penguasaan badan-badan dunia seperti WHO, WTO, UNESCO, bahkan PBB oleh manusiamanusia yang berkepentingan tertentu, yang mewakili kedua kubu. Karenanya, pendekatan etikolegal melalui ranah etika sosial dan kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat dunia akan menjadi penentunya. Hukum internasional yang kuno akan segera dibabat oleh hukum baru mengikuti dinamika perkembangan teknologi, modal dan kehendak masyarakat dunia. Melalui pendekatan etikolegal, akan lebih mudah mengkritisi, siapa maling teriak maling. Artinya, siapa pemegang modal (baik pemerintah negara maju maupun pengusaha multinasional) akan gencar menyuarakan hukum HAM internasional ke seluruh penjuru dunia. Padahal mereka sendiri sering abai terhadap ketentuan hukum itu sendiri. Namun secara etika sosial, khususnya dimensi keadilan global, hal itu jelasjelas suatu bentuk pelanggaran. Wujud Etika Dunia Baru Sementara itu, pertimbangan etik itu sendiri seringkali banyak dimensinya. Tidak monolit. Pluralitas pertimbangan etik sejajar dengan kemajuan riset dan teknologi peta data genom manusia dan teknologi sel tunas yang dengan kemajuan internet dan komputer berbasis teknologi nano akan makin mempersempit waktu tunggu antara riset dasar dengan riset aplikatifnya. Konflik etik ini segera memunculkan norma (baru) hukum untuk mengaturnya. Sepanjang tujuan mulia yakni kemanusiaan global yang adil dan beradab ingin dicapai (demi kepentingan kesehatan masyarakat luas pasca pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi) kebebasan meneliti secara etika-makro (tataran kebijakan negara) atau meso (tataran kebijakan publik lokal) pada akhirnya hanya bisa dibatasi oleh ketentuan hukum konstitusi suatu negara. Disini juga akan memberikan dampak ketidakpastian hukum internasional. Bayangkan, kelak bisa saja terjadi UUD suatu negara akan berbunyi Seorang Presiden tidak boleh dipilih dari manusia yang terbukti dari hasil klonasi. Sementara UUD negara tetangganya menyebut Seorang Presiden harus berasal dari wilayah negara yang sah, yang dibuktikan dari hasil uji peta genom rata-rata identitas dirinya oleh Tim Ahli Independen multi etnik yang disahkan oleh PBB. Pada tataran global, banyak resolusi PBB masa depan yang hanya akan meloloskan bantuan dunia kepada negara X, hanya karena salah satu wilayahnya memiliki peta genom rata-rata yang sesuai dengan rata-rata etnis pejabat Sekretariat Jenderal PBB masa itu. Atau dalam masa perang, bentuk kovenan PBB masa depan berbentuk mengakhiri perang virus pengubah peta genom manusia dan menggantinya dengan pertempuran konvensional lagi yang mungkin sudah memakai nuklir (waktu itu semua negara sudah memiliki anti-nuklirnya masing-masing). Nah, disinilah mengemukanya suatu bentuk keadilan dunia (baru). Keadilan global.

Taken from : /rubrik/one_news_print.asp?IDNews=413 | 1224 hits

Perlukah Bioetika ? Etika memang tidak termasuk dalam domain ilmu dan teknologi yang bersifat otonom, tetapi dalam penerapan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai sebuah pertimbangan. Pertimbangan ini akan mempunyai implikasi lebih lanjut dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya berfungsi untuk mengembangkan nilainilai kemanusiaan, bukan untuk menghancurkan nilainilai tersebut. Tanggung jawab etis bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan menghancurkan otoritas ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri, yang sekaligus akan lebih memperkokoh eksistensi manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Bioetika sebenarnya adalah bagian integral dari etika yang saya ungkap sebelumnya, tetapi saya memang menginginkan akan sebuah penekanan etika terhadap masalah biologis. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu biologi bersama-sama dengan bioteknologi berlalu sangat cepat terutama setelah tahun tujuh puluhan dengan ditemukannya teknologi rekombinasi DNA, kloning di tingkat DNA, aplikasi teknologi fertilisasi in vitro pada manusia, sehingga akhir tahun 90-an seperti teknologi kloning ESC perkembangan ilmu ini sangat signifikan. Perkembangan ini pada hakekatnya sangat positif sekali, tetapi sangat bisa secara langsung menghadapi masalah etis.

Sebagai ilmu pengetahuan, biologi adalah ilmu yang netral, bahkan ilmu ini justru akan memperkaya pemahaman manusia akan adanya sebuah proses penciptaan yang sangat cerdas. Pemahaman semacam ini seharusnya akan menyebabkan peningkatan proses penyadaran akan adanya sang Khalik Sang Maha Adil itu, sehingga akan menyebabkan manusia merasakan adanya sebuah makna kehidupan. Tetapi dalam kehidupan ini selalu saja ada kesenjangan antara apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi.

Kejadian pembuatan klon ESC pada manusia, begitu pula terhadap kelompok clonaids yang berusaha matimatian membela dan memproduksi kloning manusia. Hal ini menyadarkan kita akan perlunya ada suatu etika di bidang biologi yaitu bioetika.

Bioetika tidak untuk mencegah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi menyadarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai batas-batas dan tanggung jawab terhadap manusia dan kemanusiaan. Banyak ilmuan yang secara ambisius akan mengembangkan teknologi biologi tingkat tinggi namun tanpa memperhitungkan sebuah perkembangan sosial dan kultural masyarakat. Banyak ilmuwan sering mengabaikan baik dan buruk yang menjadi tata nilai masyarakat, karena mereka merasa bahwa ilmu pengetahuan tidak berada di domain tersebut. Sehingga katagorisasi normatif sangat sulit untuk didiskusikan oleh para ilmuwan, seolah-olah baik dan buruk bukan urusan mereka, mereka hanya menganggap itu urusan para kyai dan pendeta.

Di sisi lain, tidak bisa di pungkiri bahwa para Kyai dan pendeta selalu terlambat mengantisipasi perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, karena mungkin mereka merasa berada di domain yang berbeda dengan para ilmuwan, mereka mencoba mendakwahkan misi ajaran-ajaran dari Tuhan yang mereka yakini pada masyarakat awam, tanpa disadari bahwa para ilmuwan bergerak jauh lebih cepat dibanding para pendeta dan kyai tersebut mempengaruhi masyarakat awam, terutama untuk membentuk suatu tatanan budaya tekno-sosial yang biasanya malah mengorbankan mereka. Sebagai contoh sederhana, bahwa masyarakat awam sangat aprisiatif sekali dengan perkembangan Iptek; hal ini dapat dilihat kursuskursus komputer yang merupakan pruduk teknologi canggih (hitech) telah berkembang sampai ke desa-desa, mereka mau mengorbankan sejumlah uangnya untuk mengikuti kursus-kursus semacam ini dengan sangat serius.

Di sisi lain, para kiyai dengan berapi-api khotbah di hadapan jamaah, tetapi ternyata sebagian besar jamaah terkantuk-kantuk mendengarkannya. Realitas ini menunjukkan bahwa tidak bisa di pungkiri kekuatan ilmu dan teknologi benar-benar telah memasuki ke relung kehidupan yang sangat hakiki dalam mempengaruhi tekno-sosial masyarakat, melebihi kemampuan para rohaniawan mempengaruhinya. Seharusnya para ilmuwan tanpa harus menunggu rohaniawan untuk menyadari akan perlunya bioetika, dari proses memahami fenomena alam yang setiap hari kita alami sudah seharusnya semakin menyadarkan kita akan keperluan itu. Pada hakekatnya seorang ilmuwan adalah seorang pemimpin umat manusia yang mempunyai kekuasaan luar biasa; dia bisa menghancurkan umat manusia, dia bisa membahagiakan umat manusia, tergantung kejujuran hatinya. Para ilmuwan memang bukan pemimpin struktural tetapi pemimpin kultural, hasil dan karyanya akan mempengaruhi budaya manusia. Saya termasuk orang yang sangat yakin bahwa ilmu itu selalu netral, dia tidak berpihak pada subyektifitas manusia, tetapi dia selalu berpihak pada hukum alam. Hukum alam ini dalam bahasa yang lebih religius sering disebut Sunatullah. Kebenaran Sunatullah merupakan kebenaran yang tidak berpihak kepada keimanan seseorang, tetapi manusialah yang seharusnya mengimaninya, bahwa Sunatullah adalah ayat ayat yang ditulis dan didesain oleh Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Agung, Sang Maha Pencipta yang keberadaan-Nya tidak tergantung presepsi manusia, meskipun sering dipresepsikan oleh manusia. Dia tidak tergantung Teori of Everything-nya si Stephen Hawking, Dia juga tidak tergantung Teori Relativitas-nya si Einstein, tetapi justru segala sesuatunya tergantung kepadaNya, kesadaran semacam ini akan menghasilkan tatanilai yang dianut oleh para ilmuwan, tata-nilai yang akan mengilhami perilaku ilmuwan sebagai wujud tanggung jawab kemanusiaannya. Produk-produk teknologi hasil temuan mereka seharusnya sarat dengan tanggung jawab kemanusiaannya dan berorientasi pada pengabdian kepadaNya.

Daftar Pustaka Cavazzana-calvo, M. 2000. Gene Therapy of human of Human severe Combined

immunodeficiency (SCID)-X1 Disease. Science: 288,669-672.

Damjanov, I., A.Damjanov, dan D. Solter. 1987. Production Of Teratocarcinomas From Embryos Transplanted to Extra-Uterine Sites. Teratocarcinomas and Embryonic Stem Cells. Appractical approach. Di edtit oleh E.J. Robertson. IRL Press. Eynham,Oxford.England. hal 1-17.

Djati, M.S. 1998. Pengaruh Suplementasi PMSG dan hCG pada Proses Fertilisasi In Vitro dan Kultur Klon Embrio Sapi dengan IGF-1. Disertasi.

Djati, M.S.,G.Ciptadi, F.Fattah. 2002. Short term Viability of goat embryonic Stem cells on vesiculart rophoblastic feeder cells in vitro. Presented on 12th Federation of Asian Veterinary Associations Conggress and 14th Veterinary Association Malaysia Congress 2002. Subang. Kuala Lumpur.

Gearhart, J. 1998. New Potential for Human Embryonic Stem Cell. Science. 282: 1061.

Hartl,D.L., dan E.W. Jones. 1998. Genetics Principles and Znalysis. Boston: Jones and Bartlett Publishers.

Ismail, Taufiq. 1980. Taufiq Ismail Membaca Puisi. Taman Ismail Marzuki. 30-31 Januari 1980. hal 23. Kaurany, J.A. 1987. Scientific Knoweledge, Basic Issues in The Philosopy of Science. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company Klug, W.S., dan M.R. Cummings. 2000. Concepts of Genetics. New Jersey: Prentice Hall.

Mahzar, A., Suseno, F.M., Leksono, K.,Liang, O.B., Saswojo,S. Liong, T.H., Saidi, Z. 1998. Melaju menuju Kurun Baru: Respons Cendikiawan Indonesia Atas kuliah Melenium Evening Stephen Hawking. Bandung: Mizan

Paul,J.1975. Cell and Tissue Culture. London: Churchill Livingstone Quintanilla,M., Brown, K., Ramsden,M., Balmain, A. 1986. Carcinogen specific mutation and amplification of Ha-ras during mouse skin carcinogenesis. Nature 322:78-79.

Rideout W., dan Hochedlinger, K.2002. Combine therapeutic Cloning, Embryonic Stem Cells, and gene to Correct a Genetic defect in Mice. Proceeding of national Academy of Sciences. 98: 16726-30.

Young , M.2002. Neural stem cells cam repopulate damaged retina. Eye Research Institue and Havard Medical School.The Scientist, 16 (12):1.

Zubair, A.C. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia kajian filsafat ilmu. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI)

sumber Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 3 No. 1, September 2003: 102-123 http://www.paramadina.ac.id/index2.htm