Anda di halaman 1dari 22

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM PERANCANGAN SISTEM PENGAWASAN HUTAN LINDUNG MENGGUNAKAN SENSOR INFRARED BERBANTUAN PC

BIDANG KEGIATAN: PKM-GT

Diusulkan oleh:

Dinar Sonjaya

10206070

2006 2007

Melvini Eka Mustika 10207071

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG 2009

ii

PENGESAHAN USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


1. Judul Kegiatan : Perancangan Sistem Pengawasan Hutan Lindung Menggunakan Sensor Infrared berbantuan PC ( ) PKM-GT

2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI (Pilih salah satu) 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas/Institut/Politeknik e. Alamat Rumah dan No Tel./HP f. Alamat email

: : : : :

Dinar Sonjaya 10206070 Teknik Komputer Universitas Komputer Indonesia Jl. Majalaya-Rancaekek no. 63 Kab. Bandung : esco_Riot@yahoo.co.id

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 1 (satu) orang 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Hidayat, S,Kom, M.T. : 4127.70.05.011 : 0856 204 96 40

Bandung, April 2009 Menyetujui Ketua Jurusan Teknik Komputer Ketua Pelaksana Kegiatan

Wendi Zarman, S.Si, M.Si. NIP.4127.70.05.010 Ketua LPPM UNIKOM,

Dinar Sonjaya NIM. 102.06.070 Dosen Pendamping

Prof. Dr. Umi Narimawati, Dra., M.Si. NIP.4127.34.02.015

Hidayat, S.Kom, M.T. NIP. 4127.70.05.011

iii

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalaamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Penulisan ini dimaksudkan untuk mengikuti salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh DIKTI yaitu program kreatifitas mahasiswa (PKM). Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesaian karya tulis ini. Semoga Allah SWT membalasnya dengan yang lebih baik. Penulis menyadari bahwa penulisan tulisan ini masih jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan kemampuan, pengalaman serta referensi yang penulis miliki. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dapat menyempurnakan isi dari laporan ini.

Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Bandung, April 2009 Penulis

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... iii DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv RINGKASAN .................................................................................................... v BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 Gagasan Kreatif ........................................................................................ 3 Tujuan dan Manfaat .................................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 4 2.1 2.2 2.3 2.4 LED Infrared............................................................................................. 4 Fototransistor ............................................................................................ 5 Pemancar Infrared .................................................................................... 6 Penerima Infrared...................................................................................... 7

BAB III METODOLOGI PENULISAN ........................................................... 8 BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS ................................................................ 9 BAB V KESIMPULAN dan SARAN .............................................................. 13 5.1 5.2 Kesimpulan ............................................................................................. 13 Saran....................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 14 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... 15

RINGKASAN
Indonesia adalah negara yang terletak tepat di bawah garis khatulistiwa. Hal ini membuat indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam, salah satunya adalah hutan. Data wwf (world wide fund for nature) mencatat bahwa dari tahun 1950 hingga tahun 2000, jumlah hutan indonesia telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi sekitar 98 juta hektar (3). Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pembalakan liar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan oknum pemerintah yang turut serta dalam upaya pembalakan liar tersebut. Banyak dampak buruk yang diakibatkan oleh penebangan tersebut mulai dari bencana longsor, banjir, kekurangan air dan terutama yang paling dirasakan dari sektor perekonomian yang mengakibatkan negara mengalami kerugian yang mencapai triliunan rupiah pertahun. Di negara-negara maju, pengawasan hutan lindung menggunakan pencitraan satelit yang memiliki kemampuan pencitraan yang sangat bagus. Mahalnya biaya pembangunan sistem pengawasan hutan lindung yang canggih yang diterapkan oleh negara-negara maju dengan menggunakan pencitraan satelit belum dapat diimplementasikan oleh indonesia. Sementara hutan lindung itu sendiri menjadi kawasan yang mempunyai fungsi pokok sebagai penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah yang sangat penting bagi manusia. Dengan kondisi tersebut, terpikir sebuah gagasan dengan judul Perancangan Sistem Pengawasan Hutan Lindung Menggunakan Sensor Infrared berbantuan PC. Sistem pengawasan ini lebih mudah dan efisien dengan menggunakan infra merah sebagai sistem sensor dan sebuah PC. dengan harga yang relarif murah dibandingkan teknologi yang digunakan di negara maju namun efektif untuk mengawasi hutan lindung Indonesia. Sistem yang digunakan adalah sistem sensor infra merah, sensor infra merah yang pada dasarnya menggunakan infra merah sebagai media untuk komunikasi data antara pemancar dan penerima. Pada bagian pemancar dapat digunakan LED (Light Emitting Diode). LED adalah komponen yang sangat efesien, berpotensial dalam frekuensi tinggi, LED juga bekerja layaknya dioda sedangkan pada bagian penerima adalah fototransistor, yaitu jenis transistor bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector untuk menerima atau mendeteksi cahaya dengan gain internal yang dapat menghasilkan sinyal analog maupun digital. Metoda penulisan yang digunakan adalah inovasi dengan menggabungkan serta mencari data-data yang yang mendukung gagasan yang ditulis sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk produk yang bermanfaat dan dapat digunakan. Sistem yang digunakan adalah sistem sensor infra merah, Sistem ini yang akan dipasang pada tiap pohon yang ada dihutan lindung. Pemancar akan menngirimkan sinyal pada penerima. Datadata yang diterima oleh setiap pohon akan diteruskan kepohon lainnya, dan nantinya akan diteruskan ke komputer

vi

pengawas. Data-data tersebut akan digambarkan sebagai garis lintang dan busur seperti sebuah pemetaan. Sehingga apabila ada salah satu pohon yang hilang maka rantai data akan terputus dan memberikan sinyal ke PC pengawas dan memberitahukan kepada pengawas dimana posisi penebangan tersebut terjadi. Alat ini bekerja dengan cara melakukan monitor pada pohon-pohon yang ada dihutan dengan menggunakan sistem infra merah dan dengan bantuan PC yang melakukan pemetaan yang berfungsi sebagai pemberitahu posisi jika terjadi penebangan, selain itu sistem ini lebih hemat dan efisien dari pencitraan dengan menggunakan satelit. Kesimpulan sistem ini akan sangat berguna dalam menjaga pohon-pohon di hutan lindung dari pembalakan liar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang terletak tepat di bawah garis khatulistiwa.

Hal ini membuat Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam, salah satunya adalah hutan. Tercatat bahwasanya hutan Indonesia adalah hutan terbesar kedua setelah Afrika, tetapi sangat disayangkan Indonesia juga menjadi nominasi negara nomor satu perusakan hutan. Data WWF (World Wide Fund for Nature) mencatat bahwa dari tahun 1950 hingga tahun 2000, jumlah hutan Indonesia telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi sekitar 98 juta hektar (3). Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pembalakan liar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan oknum pemerintah yang turut serta dalam upaya pembalakan liar tersebut. Pembalakan liar atau penebangan liar (illegal logging) adalah kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektar setiap tahun dan diperkirakan sekitar 20 juta hutan produksi yang tersisa. Penebangan liar berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kayu di pasar internasional, besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri, konsumsi lokal, lemahnya penegakan hukum, dan pemutihan kayu yang terjadi di luar kawasan tebangan. Berdasarkan hasil analisis FWI dan GFW dalam kurun waktu 50 tahun, luas tutupan hutan Indonesia mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh Indonesia. Dan sebagian besar, kerusakan hutan (deforestasi) di Indonesia akibat dari sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumberdaya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik serta keuntungan pribadi. Menurut data Departemen Kehutanan tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun. Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana Sumatera dan

Kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama. Menurut analisis World Bank, hutan di Sulawesi diperkirakan akan hilang tahun 2010. Praktek Illegal logging dan eksploitasi hutan yang tidak mengindahkan kelestarian, mengakibatkan kehancuran sumberdaya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum menghitung hilangnya nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya hutan. Penelitian Greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektar pertahun, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas illegal logging atau penebangan liar. Sedangkan data Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar (1). Banyak dampak buruk yang diakibatkan oleh penebangan liar tersebut. Jika hutan terbuka dalam hamparan yang luas, dengan kerapatan dibawah 50 persen maka akan mudah terbakar. Akibatnya dedaunan busuk dengan humus yang tebal, ranting dan dahan yang kering lekang sehingga dengan pemantik kecil saja kawasan ini segera terbakar. Keadaan hutan yang sudah longgar, pohonpohon besar dan kecil ditebang berdampak pada perairan, terutama anak-anak sungai akan banjir besar dan menerima debit air yang melebihi kapasitas normal. Sungai yang dahulunya tidak dapat meluap sekarang sebaliknya, sungai tersebut dapat menyebabkan banjir, sedangkan di musim kemarau persediaan air sangat kurang. Selain itu kerusakan juga dapat terjadi pada ekosistem. Namun yang paling dirasakan adalah dari sektor perekonomian yang mengakibatkan negara mengalami kerugian yang mencapai triliunan rupiah pertahun (7). Mahalnya biaya pembangunan sistem pengawasan hutan lindung yang canggih yang diterapkan oleh negara-negara maju dengan menggunakan pencitraan satelit belum dapat diimplementasikan oleh Indonesia. Sementara hutan lindung itu sendiri menjadi kawasan yang mempunyai fungsi pokok sebagai penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah yang sangat penting bagi manusia.

1.2

Gagasan Kreatif Berdasarkan data-data di atas, dimana Indonesia merupakan negara yang

memiliki hutan kedua terbesar di dunia sekaligus urutan pertama dalam pembalakan hutan di dunia, maka penulis tertarik untuk mengatasi permasalahan pengawasan hutan lindung di Indonesia dengan berupaya menghasilkan suatu rancangan sistem pengawasan hutan lindung memanfaatkan kemampuan sensor Infrared berbantuan Personal Computer (PC) dengan harga yang relarif murah dibandingkan teknologi yang digunakan di negara maju namun efektif untuk mengawasi hutan lindung Indonesia. 1.3 Tujuan dan Manfaat Perancangan sistem yang akan dilakukan bertujuan untuk menghasilkan rancangan sistem pengawasan hutan lindung memanfaatkan sensor infrared berbantuan PC. Sistem ini nantinya bermanfaat untuk melakukan pengawasan hutan lindung dari pembalakan liar secara otomatis dan terpusat sehingga dengan adanya sistem pengawasan hutan lindung tersebut diharapkan dapat dapat meminimalisir kerugian negara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Pada bagian ini akan diuraikan secara singkat tinjauan pustaka yang mendukung perancangan sistem pengawas hutan lindung memanfaatkan sensor infrared berbantuan PC. 2.1 LED Infrared LED (Light Emitting Diode) adalah komponen yang sangat efesien, berpotensial dalam frekuensi tinggi, LED juga bekerja layaknya dioda. Pada LED terdapat sedikit bahan kimiawi yang ketika dilalui elektron, memancarkan radiasi cahaya. pada dasarnya LED bekerja seperti dioda yang berarti memiliki polaritas dengan ketentuan arus hanya dapat mengalir dari anoda (kaki positif) ke katoda (kaki ground atau negatif).

Gambar II.1. Bentuk LED. Pemasangan LED harus diikuti komponen resistor secara seri untuk menghindari rusaknya LED karena arus yang mengalir pada LED.

Gambar II.2. Datasheet LED.

Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa LED akan mendapatkan tingkat kecerahan 1.0 ketika diberikan arus sebesar 20 mA. Setiap LED memiliki voltage drop yang berbeda-beda, dikarenakan perbedaan kandungan kimia didalamnya. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan voltage drop pada LED. Tabel II.1. Perbedaan Voltage Drop. Color Infrared Red Orange Yellow Green Blue White Ultraviolet Potential Difference 1.6 V 1.8 V to 2.1 V 2.2 V 2.4 V 2.6 V 3.0 V to 3.5 V 3.0 V to 3.5 V 3.5 V

Dikarenakan sistem pangawas hutan dengan infrared berbantuan PC menggunakan infrared maka voltage drop adalah 1.6 V (2). 2.2 Fototransistor Penerima yang digunakan oleh sensor infrared adalah jenis fototransistor, yaitu jenis transistor bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector untuk menerima atau mendeteksi cahaya dengan gain internal yang dapat menghasilkan sinyal analog maupun digital. Fototransistor ini akan mengubah energi cahaya menjadi arus listrik dengan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan fotodioda, tetapi dengan waktu respon yang secara umum lebih lambat dibandingkan foto dioda.

Gambar II.3. Fototransistor. Pada fototransistor, jika kaki basis mendapat sinar maka akan timbul tegangan pada basisnya dan akan menyebabkan transistor berada pada daerah

jenuhnya (saturasi), akibatnya tegangan pada kaki kolektor akan sama dengan ground (Vout = 0 V). Sebaliknya, jika kaki basis tidak mendapat sinar, tidak cukup tegangan untuk membuat transistor jenuh, akibatnya semua arus akan dilewatkan ke keluaran (Vout = Vcc) (6). 2.3 Pemancar Infrared Pemancar Infrared merupakan suatu modul pengirim data melalui gelombang infrared dengan frekuensi carrier sebesar 38 kHz. Modul ini dapat difungsikan sebagai keluaran dalam aplikasi transmisi data nirkabel, seperti robotika, sistem pengaman, absensi, dan sebagainya. Berikut spesifikasi hardware dari transmitter yang dapat digunakan: 1. Tegangan kerja: +5 VDC. 2. Frekuensi carrier penerima infra merah: 38 kHz. 3. Panjang gelombang puncak 940 nm. 4. Sudut pancaran 17o. 5. Jarak maksimum yang teruji pada sudut 0: 16 m. Jarak maksimum sesuai datasheet: 35 m 6. Memiliki data masukan yang kompatibel dengan level tegangan TTL, CMOS, dan RS-232. 7. Terdapat 2 mode keluaran: non-inverting dan inverting. 8. Kompatibel penuh dengan DT-51 Minimum System (MinSys) ver 3.0, DT51 PetraFuz, DT-BASIC Series, DT-51 Low Cost Series, DT-AVR Low Cost Series, dan lain-lain.

Gambar 10. Skema rangkaian pemancar infrared (5).

2.4

Penerima Infrared Penerima Infra Red merupakan suatu modul penerima data melalui

gelombang infrared dengan frekuensi carrier sebesar 38 kHz. Berikut spesifikasi hardware dari penerima yang dapat digunakan: 1. Tegangan kerja: +5 VDC. 2. Frekuensi carrier penerima infrared: 38 kHz. 3. Panjang gelombang puncak 950 nm. 4. Sudut penerimaan 45o. 5. Memiliki 2 keluaran: non-inverting (OUT) dan inverting (OUT). Keduanya kompatibel dengan level tegangan TTL, CMOS, dan RS-232. 6. Kompatibel penuh dengan DT-51 Minimum System (MinSys) ver 3.0, DT51 PetraFuz, DT-BASIC Series, DT-51 Low Cost Series, DT-AVR Low Cost Series, dan lain-lain.

Gambar 12. Skema rangkaian penerima infrared (4).

BAB III METODOLOGI PENULISAN


Metodologi penulisan yang digunakan adalah teknik pemaparan

bagaimana cara perancangan sistem dilakukan dan cara kerja sistem yang dirancang dengan didasarkan sumber-sumber pustaka. Sumber-sumber pustaka yang digunakan pada penulisan ini diambil dari beberapa referensi buku dan referensi lain yang diperoleh melalui media internet. Referensi tersebut mendukung gagasan yang ditulis sehingga diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk produk yang bermanfaat dan dapat digunakan.

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS


Pada perancangan ini akan dirancang suatu sistem pengawasan hutan lindung memanfaatkan sensor infrared berbantuan PC. Pada dasarnya, pohon-pohon yang tumbuh di hutan saling berdekatan sehingga untuk perancangan sistem pengawasan ini, posisi pohon-pohon tersebut dapat dipetakan seperti contoh yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar IV.1. Pemodelan posisi pohon-pohon di hutan. Pada gambar di atas terdapat dua sumbu x dan y yang akan dimanfaatkan untuk mengetahui posisi-posisi tiap pohon karena setiap pohon akan terletak pada koordinat tertentu. Garis yang menghubungkan antar pohon merupakan pancaran pemancar infrared yang terpasang pada tiap pohon dan diterima oleh penerima infrared yang terpasang pada pohon di sebelahnya. Setiap pohon akan memiliki sebuah infrared yang akan dipancarkan ke receiver pohon lain dan sebuah receiver untuk menangkap infrared dari pohon lain. Setiap pohon akan memancarkan infrared apabila telah menangkap pancaran infrared dari pohon sebelahnya. Pada bagian ujung data pancaran infrared ini akan dikirimkan ke bagian Personal Komputer (PC). Kondisi pohon pada hutan lindung akan terbaca aman apabila pancaran infrared dapat terkirim ke PC. Sebaliknya, apabila terdapat sinyal infrared yang terputus (tidak terkirim ke PC) dapat diasumsikan bahwa pohon pada koordinat

10

tertentu telah roboh yang dapat disebabkan oleh penebangan liar. Secara umum cara kerja pemancar infrared dan penerima infrared pada pohon ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Gambar IV.2. Posisi Pemancar dan Penerima infrared pada pohon. Pemasangan pemancar infrared dan penerima infrared diletakkan di setiap batang pohon dengan ketinggian tertentu dan pelindung, sehingga tidak terganggu oleh lingkungan sekitar, seperti tumbuhan lainnya dan hewan yang akan menghalangi pengiriman data sensor serta kondisi cuaca. Pada Gambar di atas, apabila penerima pada pohon A menerima sinyal infrared maka pohon A akan memberikan sinyal infrared pada pohon B, dan bila pohon B menerima sinyal infrared dari pohon A maka pohon B akan memberikan sinyal infrared pada pohon berikutnya. Rantai sinyal ini terus terjadi hingga yang berakhir pada pengiriman data ke PC. Apabila terdapat pohon yang tumbang yang dapat disebabkan penebangan liar maka sinyal infrared dari pohon sebelahnya tidak dapat diterima dengan baik. Kondisi ini ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Gambar IV.3. Jalur infrared pada pohon yang tumbang.

11

Pada gambar di atas ditunjukkan ketika pohon A tumbang maka pohon B tidak dapat menerima pancaran infrared dari pohon A sehingga pohon B tidak dapat memancarkan infrared pada pohon berikutnya. Pada kondisi ini akan terdapat sinyal infrared yang terputus saat dikirim ke PC pengawas. Kondisi ini dapat dimodelkan seperti pada contoh yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar IV.4. Contoh Jalur infrared yang terputus. Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwasannya jalur yang terputus adalah X1 dan Y2, sinyal ini akan terbaca oleh PC bahwa pohon pada koordinat (X1,Y2) tidak dapat menerima dan mengirimkan sinyal infrared karena pohon tersebut tumbang yang dapat disebabkan terjadinya penebangan liar. Data ini akan terekam pada database PC. Setiap saat PC harus merekam kejadian yang terjadi pada pengawasan hutan ini dan disimpan dalam database. Selanjutnya data tersebut dapat lansung dikirimkan ke pengawasan pusat (dalam hal ini departemen kehutanan) agar kondisi hutan lindung dapat diketahui setiap saat. Pengiriman data dapat dilakukan melalui media internet seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

12

Media Internet

PC-PC Pengawas tiap hutan lindung

PC dephut Database Pusat

Gambar IV.5. Struktur Pengiriman Data ke Pusat. Adanya sistem pengawasan hutan lindung seperti ini diharapkan dapat melindungi hutan lindung secara optimal dengan biaya yang murah guna mencegah terjadinya pembalakan liar yang dapat merusak hutan dan merugikan negara sedini mungkin.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan Berdasarkan proses analisis dan sintesis yang dilakukan berdasarkan

referensi-referensi yang diperoleh maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Perancangan sistem pengawasan hutan lindung memanfaaatkan sensor infrared untuk mengetahui keberadaan tiap pohon di hutan lindung. 2. Koneksi pancaran infrared membentuk jaringan yang tidak terputus pada tiap pohon sehingga putusnya pancaran infrared dapat diasumsikan bahwa terjadi gangguan pada pohon diposisi tertentu yang dapat diakibatkan oleh penebangan liar. 3. PC dapat digunakan untuk melakukan pengawasan melalui sinyal infrared yang diterima dari pohon bagian ujung pada tiap sumbu X dan Y. Hilangnya pancaran infrared pada satu pohon dapat segera diketahui melalui PC bahwa pohon pada posisi koordinat (X,Y) tumbang yang dapat diakibatkan oleh penebangan liar. 4. Implementasi rancangan sistem pengawasan hutan lindung ini diharapkan dapat mencegah terjadinya pembalakan liar pada hutan lindung yang dapat merugikan negara. 5.2 Saran Hasil rancangan ini masih belum sempurna dan belum teruji karena belum terimplementasi. Namun walaupun demikian penulis menyarankan adanya kajian yang lebih mendalam mengenai kemampuan sensor infrared yang masih memiliki keterbatasan jarak pendeksiannya karena hal ini akan menjadi masalah ketika posisi antar pohon terletak berjauhan.

14

DAFTAR PUSTAKA
(1) http://id.wikipedia.org/wiki/Pembalakan_liar. [Online] [Dikutip: 27 Februari 2009.] (2) http://www.eocietyofrobots.com/electronics_led_tutorial.shtml. [Dikutip: 2008 September 2008.] (3) http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Indonesia-Kehilangan-HutanSeluas-Setengah-Luas-Belanda-Per-Tahun. [Online] [Dikutip: 8 Februari 2009.] (4) http://www.innovativeelectronics.com/innovative_electronics/download_files /manual/Manual%20DT-IO%20IR%20Receiver.pdf. [Online] [Dikutip: 8 Februari 2009.] (5) http://www.innovativeelectronics.com/innovative_electronics/download_files /manual/Manual%20DT-IO%20IR%20Transmitter.pdf. [Online] [Dikutip: 8 Februari 2009.] (6) http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?view=article&catid=16%3Amikr oprocessorkontroller&id=142%3Asistem-sensor-infra-merah&option=com_ content&Itemid=15. [Online] [Dikutip: 24 Februari 2009.] (7) http://impasb.wordpress.com/2008/02/27/penyebab-dan-dampak-rusaknyahutan-kita/. Februari 2008. [Online] [Dikutip: 27 Februari 2009.] [Online]

15

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Daftar Riwayat Hidup Ketua Nama Alamat Nomor Telepon Agama E-Mail Pendidikan Formal 1994 2000 2000 2003 2003 2006 2006 Sekarang : SDN Rancalongong II, Kab. Bandung : SMP GPI, Kab. Bandung : SMK Negeri 6 Bandung : Universitas Komputer Indonesia, Bandung : Dinar Sonjaya : Jl. Majalaya-Rancaekek no.68 Kab. Bandung : 022-59596155 / HP. 085221197969 : Islam : esco_Riot@yahoo.com Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 13 Desember 1988

Pendidikan Non Formal 2006 2005 2001 - 2002 2001 - 2002 2001 - 2002 2001 - 2002 2002 - 2003 2003 - 2005 : Workshop Video Editing : Test TOEIC di SMK : Ketua OSIS SMP GPI : Anggota PASKIBRA : Pengurus dan Anggota PKS : Anggota Pramuka : Ketua MPK SMP GPI : Anggota Tim Basket SMKN 6 Bandung

Pengalaman Berorganisasi

Hobi dan Minat Memiliki hobi membaca, olahraga renang, basket, footsal. Bermotivasi tinggi, mandiri, berkeinginan untuk belajar hal-hal baru.

16

Daftar Riwayat Hidup Anggota Nama lengkap Alamat Agama No Telepon E-mail Pendidikan Formal 1995 - 2001 2001 2004 2004 2007 2007 sekarang : SDN Jakapurwa 1 : SMPN 13 Bandung : SMUN 8 Bandung : Universitas Komputer Indonesia, Bandung : Melvini Eka Mustika : Jl. H.Bardan VI No.319 Rt 05/04 Kota Bandung 40287 : Islam : 085659893952 : melvineka@yahoo.com Tempat, Tanggal Lahir : Sumedang, 26 September 1989

Pengalaman Berorganisasi 2002-2003 2005-006 2005-2006 : Anggota Seni Tari SMPN 13 Bandung : Ketua ekstrakulikuler IPTEK SMAN 8 Bandung : Pengurus DKM Masjid At-Taqwa SMAN 8 Bandung

2007-sekarang : Sekretaris Himpunan Mahasiswa Teknik Komputer 2007-sekarang : Pengurus Forum Mahasiswa Islam UNIKOM Hobi dan Minat Membaca buku, olahraga bulutangkis dan sangat tertarik dalam bidang sosial dan kemanusiaan.