Anda di halaman 1dari 39

Trauma Jalan Lahir

Trauma jalan lahir perlu mendapatkan perhatian khusus, karena dapat menyebabkan: Disfungsional organ bagian luar sampai alat reproduksi vital Sebagai sumber perdarahan yang berakibat fatal Sumber atau jalannya infeksi. ( Manuaba, 2007 )

Klasifikasi robekan jalan lahir sebagaimana dijelaskan oleh Santoso (2009) dan Fadil (2008) adalah sebagai berikut:
Robekan perineum Robekan vulva Robekan dinding vagina Robekan serviks

ROBEKAN PERINEUM

Definisi
Perineum adalah merupakan bagian permukaan pintu bawah panggul, yang terletak antara vulva dan anus. Panjangnya rata-rata 4 cm (Wiknjosastro, 2006) Luka perineum adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perinium dimana muka janin menghadap (Prawirohardjo,1999). Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. ( USU, 2006 )

Etiologi
Menurut Fadil ( 2008 ), beberapa hal yang menajdi penyebab terjadinya robekan perineum sebagai berikut : a) Umumnya terjadi pada persalinan b) Kepala janin terlalu cepat lahir c) Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya d) Jaringan parut pada perineum e) Distosia bahu

Sedangkan Enggar ( 2010 ) menambahkan beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab robekan peinrum adalah posisi persalinan, cara meneran dan berat bayi baru lahir yang terlalu besar ( > 4000 gram )

Faktor Resiko
USU (2006) menjelaskan beberapa hal yang menjadi faktor terjadinya robekan perineum : a. Paritas Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik hidup maupun mati. Paritas mempunyai pengaruh terhadap kejadian ruptur perineum. Pada ibu dengan paritas satu atau ibu primipara memiliki resiko lebih besar untuk mengalami robekan perineum daripada ibu dengan paritas lebih dari satu. Hal ini dikarenakan jalan lahir yang belum pernah dilalui oleh kepala bayi sehingga otot-otot perineum belum meregang. (Wiknjosastro, 2002 dalam USU, 2006).

b. Jarak Kelahiran Jarak kelahiran adalah rentang waktu antara kelahiran anak sekarang dengan kelahiran anak sebelumnya. Jarak kelahiran kurang dari dua tahun tergolong resiko tinggi karena dapat menimbulkan komplikasi pada persalinan. Jarak kelahiran 2-3 tahun merupakan jarak kelahiran yang lebih aman bagi ibu dan janin. Begitu juga dengan keadaan jalan lahir yang mungkin pada persalinan terdahulu mengalami robekan perineum derajat tiga atau empat, sehingga pemulihan belum sempurna dan robekan perineum dapat terjadi (Depkes, 2004 dalam USU, 2006)

c. Berat Bayi Lahir Berat badan janin dapat mengakibatkan terjadinya ruptur perineum yaitu berat badan janin lebih dari 3500 gram, karena resiko trauma partus melalui vagina seperti distosia bahu dan kerusakan jaringan lunak pada ibu. Perkiraan berat janin bergantung pada pemeriksaan klinik atau ultrasonografi. Pada masa kehamilan hendaknya terlebih dahulu mengukur tafsiran berat badan janin

Klasifikasi
Menurut Soepardiman ( 2006 ) jenis robekan perineum berdasarkan luasnya adalah sebagai berikut: a. Derajat satu: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum b. Derajat dua: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum dan otot-otot perineum c. Derajat tiga: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum, otot-otot perineum, dan sfingter ani eksterna d. Derajat empat: robekan dapat terjadi pada seluruh perineum dan sfingter ani yang meluas sampai ke mukosa

Sedangkan menurut Santoso ( 2008 ) dalam Sultan, dkk ( 2005 ), klasifikasi dari robekan perineum dijelaskan dalam tabel berikut :

Manifestasi Klinis
Pendarahan segera Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir Uterus kontraksi baik Plasenta baik Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada : Pucat Lemah Menggigil ( Fadil, 2008 )

Patofisiologi
Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bias menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipitobregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginial. ( Fadil, 2008 )

Penatalaksanaan
a. Tatalaksana umum perdarahan postpartum b. Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasikan laserasi dan sumber perdarahan c. Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptic d. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan, kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap e. Lakukan penyatuan luka mulai dari bagian yang paling distal terhadap operator. (Fadil, 2008)

PERLUKAAN VULVA

Klasifikasi
Menurut Fadil, 2008 ada 2 jenis dari robekan vagina, yaitu: a. Robekan Vulva b. Hematoma Vulva

Robekan Vulva

Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadangkadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka dekat klitoris. Jika diperiksa sering terlihat robekan robekan kecil pada labium mius, vestibulun atau belakang vulva. Jika robekan tidak menimbulkan perdarahan banyak, tidak perlu dilakukan tindakan apa apa tetapi jika luka robekan agak besar dan banyak berdarah, perlu dilakukan penghentian perdarahan dan penjahitan luka robekan

Hematoma Vulva

Etiologi
Robeknya pembuluhdarah, terutama vena yang terletak di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput vagina Pecahnya varises yang terdapat dinding vagina dan vulva

Tanda dan Gejala


Daerah hematona akan terlihat bagian yang lembek, membengkak dan perubahan warna kulit di daerah hematona disertai nyeri tekan

Penatalaksanaan
Pada hematona yang kecil, cukup dilakukan pengompresan Jika hematona makin membesar dan disertai tanda tanda anemia, presyok, maka perlu segera dilakukan pengosongan dan hematona tersebut

ROBEKAN DINDING VAGINA


- Klasifikasi menurut Fadil (2008) ada 2 jenis dari robekan vagina, yaitu: a. Kolpaporeksis b. Fistula

Kolpaporeksis
Robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina.

Hal ini terjadi apabila pada persalinan yang disproporsi sefalopelvik terdapat regangan segmen bawah uterus dengan serviks uteri tidak terjepit antara kepala janin dengan tulang panggul, sehingga tarikan ke atas langsung ditampung oleh vagina. Jika tarikan ini melampaui kekuatan jaringan, terjadi robekan vagina pada batas antara bagian teratas dengan bagian yang lebih bawah dan yang terfiksasi pada jaringan sekitarnya. Kolpaporeksis juga bisa timbul apabila pada tindakan pervaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam uterus terjadi kesalahan, dimana fundus uteri tidak ditahan oleh tangan luar untuk mencegah uterus naik ke atas.

Fistula
Fistula akibat pembedahan vaginal makin lama makin jarang karena tindakan vaginal yang sulit untuk melahirkan anak banyak diganti dengan seksio sesarea. Fistula dapat terjadi mendadak karena perlukaan pada vagina yang menembus kandung kemih atau rektum, misalnya oleh perforator atau alat untuk dekapitasi, atau karena robekan serviks menjalar ke tempattempat tersebut. Jika kandung kemih luka, urin segera keluar melalui vagina. Fistula dapat berupa fistula vesikovaginalis atau rektovaginalis.

Penatalaksanaan
Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum. Robekan atas vagina terjadi sebagai akibat menjalarnya robekan serviks. Apabila ligamentum latum terbuka dan cabang-cabang arteri uterina terputus, dapat timbul perdarahan yang banyak. Apabila perdarahan tidak bisa diatasi, dilakukan laparotomi dan pembukaan ligamentum latum. Jika tidak berhasil maka dilakukan pengikatan arteri hipogastika. ( Fadil, 2008 )

Komplikasi
Komplikasi robekan vagina menurut Fitri ( 2010 ) adalah sebagai berikut : a. Perdarahan Pada umumnya pada luka robek yang kecil dan superficial tidak terjadi perdarahan yang banyak, akan tetapi jika robekan lebar dan dalam menimbulkan perdarahan yang hebat b. Infeksi Jika robekan tidak ditangani dengan semestinya dapat terjadi infeksi, bahkan dapat terjadi septikem.

ROBEKAN SERVIKS
Definisi Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan pervaginam. Robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya robekan serviks uteri. ( FK Unsri, 2005 )

Etiologi
Menurut Fadil ( 2008 ) beberapa hal yang menjadi penyebab robekan pada serviks sebagai berikut : Partus presipitatus Trauma karena pemakaian alat-alat operasi Melahirkan kepala pada letak sungsang secara paksa, pembukaan belum lengkap Partus lama

Manifestasi klinis
Berdasarakan sumber Bascom ( 2010 ), pada robekan serviks biasanya ditandai dengan perdarahan. Jika robekan besar dan dalam biasanya keadaan umum ini buruk dan apabila dengan rehidrasi intravena keadaan ibu tidak membaik, segera pasang tampon kasa dan segera rujuk ibu.

Patofisiologis
Menurut Fadil ( 2008 ), patofisologi terjadinya robekan serviks adalah : Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang multipara berbeda daripada yang belum pernah melahirkan per vaginam. Robekan serviks yang luas mengakibatkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya robekan serviks uteri.

Penatalaksanaan
Penanganan robekan serviks menurut Fadil ( 2008 ) : a. Jepit klein ovum ada ke-2 biji sisi partio yang robek, sehingga perdarahan dapat segera dihentikan b. Jika setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan dimulai dari ujung atas robekan kearah luar sehingga semua robekan dapat dijahit c. Setelah tindakan, periksa TTV, CU, TFC dan perdarahan d. Beri antibiotik profilaksi, kecuali bila jelas ditemui tanda tanda infeksi

Daftar Pustaka
Bascom, 2010. Robekan Serviks. http://www.bascommetro.com/2010/05/robekan-serviks.html. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 12.13 Fadil , 2008. Robekan jalan Lahir. http://www.scribd.com/doc/44470133/Robekan-Jalan-Lahir-fadil. Diakses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.29 Fitri, Diah. 2010 . Episiotomi dan Penjahitan jalan Lahir. http://www.scribd.com/doc/39724533/Episiotomi-amp-Penjahitan-JalanLahir. Diakses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.34. FK Unsri. 2005. Perdarahan Pasca Persalinan. http://www.scribd.com/doc/8649214/PENDARAHAN-PASCA-PERSALINAN. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 12.22 Hapsari. 2009. Makalah Perlukaan Jalan Lahir. http://superbidanhapsari.wordpress.com/2009/12/14/makalahperlukaan-jalan-lahir/. Diakses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.35. Manuaba I B G., 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC.

Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Santoso, Budi I., dr Sp OG ( K). 2008. Manajemen Ruptura Uteri Terkini . repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/2350.pdf. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 11.54. Santoso, Budi I., dr Sp OG ( K). 2009. Perdarahan Pasca Persalinan. repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/2356.pdf. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 11.21. Smartklick. 2010. Pengertian dan Penjelasan Tentang Ruptur Uteri. http://www.g-excess.com/id/askeb-asuhan-kebidanan/pengertian-danpenjelasan-tentang-ruptur-uteri.html. Diakses tanggal 09 desember 2010. Jam 12.30. Soepardiman, 2006, Pengantar Ilmu Bedah Obstetri. http://www.geocities.com. Diakses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.33. USU,2006. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19474/4/Chapter%20II.pdf. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 11.58. Widjanarko, Bambang. 2009. Ruptur Uteri. http://biechan.wordpress.com/ruptur-uteri/. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 12.00 Wiknjosastro H., 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka