Anda di halaman 1dari 14

Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jowo, krama: tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. [1] Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.

Daftar isi

[sunting] Bahasa

Suku Jawa <a href=( Jawa ngoko : wong Jowo , krama : tiyang Jawi ) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah , Jawa Timur , dan Yogyakarta . Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung , Banten , Jakarta , dan Sumatera Utara . Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon . Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger . Daftar isi [ sembunyikan ]1 Bahasa2 Kepercayaan3 Profesi4 Stratifikasi sosial5 Seni6 Tokoh-tokoh Jawa7 Galeri8 Catatan kaki9 Sumber10 Lihat pula [ sunting ] Bahasa Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bahasa Jawa Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh . Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat. [ sunting ] Kepercayaan Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam . Tetapi ada juga yang menganut agama Protestan dan Katolik . Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu j uga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen . Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. " id="pdf-obj-0-118" src="pdf-obj-0-118.jpg">

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bahasa Jawa

Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.

Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

[sunting] Kepercayaan

Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi ada juga yang menganut agama Protestan dan Katolik. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.

[sunting] Profesi

Mayoritas orang Jawa berprofesi sebagai petani, namun di perkotaan mereka mendominasi pegawai negeri sipil, BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat eksekutif, pejabat legislatif, pejabat kementerian dan militer. Orang Jawa adalah etnis paling banyak di dunia artis dan model. Orang Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri, sebagai buruh kasar dan pembantu rumah tangga. Orang Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia di luar negeri terutama di negara Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Taiwan, AS dan Eropa.

[sunting] Stratifikasi sosial

Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non- pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu- Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.

[sunting] Tokoh-tokoh Jawa

Andaikata Syiwa (Batara Guru) dapat menahan birahi, misalkan saja spermanya tidak memancar dan jatuh ke laut, umpama ia bukan pembesar para dewa dan dewi, serta jika saja Batara Kala tidak lahir dan tidak dituding sebagai biang keladi segala kerusakan insani, maka ruwatan tidak akan menjadi bahan pembicaraan berkepanjangan. Meskipun cerita Murwakala hanya berdasarkan pada tradisi lisan dan mitos masyarakat Jawa lama, kenyataannnya upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang masih berlangsung sampai sekarang. Sebagai sebuah pertunjukan, wayang kulit purwa memiliki kekuatan sangat luar biasa, terutama daya pikatnya kepada penonton. Oleh sebab itulah, kedudukan dalang menjadi sangat kharismatik dan pakelirannya menjadi sangat sentral di kehidupan orang Jawa masa lampau. Pakeliran merupakan media yang paling solid serta efektif untuk dimanfaatkan berbagai kepentingan; dakwah agama, propoganda politik, pendidikan moral, penerangan, upacara, dan sebagainya.

-----------------------

Di masa sekarang, disebabkan oleh pengaruh perkembangan penalaran masyarakat dan semakin mantab keyakinannya terhadap agama-agama modern, mengakibatkan penyelenggaraan upacara ruwatan dianggap sesuatu yang tidak perlu lagi, mubadzir, pemborosan, tahayul, dan sebagainya. Sebaliknya, masih ada anggapan bahwa upacara ruwatan tetap relevan, meskipun tergolong masyarakat elite yang sehari-harinya telah bergaya hidup modern dan tinggal di kota-kota besar.

Di masa lampau, upacara ruwatan dianggap sebagai wahana pembebasan para sukerta, yaitu anak- anak yang sejak lahir dianggap membawa kesialan tidak suci, penuh dosa serta orang-orang yang berbuat ceroboh. Anak sukerta dan/atau orang yang ceroboh itu dipercaya akan menjadi mangsa Batara Kala, oleh sebab itu perlu diruwat. Pantas dipertanyakan, kenapa anak-anak sukerta yang lahir di luar kemauannya itu oleh orang tuanya dianggap sebagai pembawa sial? Dengan tidak mengusik keberadaan mitos lama tentang arti pentingnya upacara ruwatan bagi insan yang digolongkan orang sukerta, makalah ini mencoba membahasnya atas dasar penalaran yang bersumber dari pengamatan terhadap pelaksanaan beberapa upacara ruwatan di berbagai tempat.

Berdasarkan ceritera pedalangan, Batara Guru berkelana berdua dengan isterinya, Dewi Uma, di atas gigir lembu Andini, lahirlah Batara Kala akibat pembuahan sperma Batara Guru(1) yang tercebur ke laut, sebab tidak mampu menahan birahi terhadap kecantikan Uma, istrinya,. Saya menangkap adanya pendidikan moral yang tersirat (berkaitan dengan pendidikan seks) dalam cerita itu, yaitu:

orang yang beradab tidak selayaknya melakukan sanggama di atas kendaraan, apalagi memiliki jabatan tertinggi dan sangat terhormat seperti Batara Guru. Artinya, jika sese-orang tidak mampu menahan birahi dan dimanjakan di sembarang tempat, akan melahirkan bocah yang selalu membuat durhaka kepada siapa saja, seperti Batara Kala.

Munculnya tokoh-tokoh dewa dalam pertunjukan wayang, termasuk dalam ruwatan, sering dianggap satu ungkapan kemusrikan, maka upacara ruwatan dengan menggunakan wayang oleh masyarakat Islam tertentu yang mengharamkan. Padahal Batara Guru dan dewa-dewa yang lain, oleh para dalang dalam jagat pakeliran, hanya dipandang sebagai tokoh-tokoh ceritera semata. Meskipun menggunakan nama-nama seperti yang dijadikan panutan agama Hindu, seperti: Syiwa, Brama, dan Wisnu tetapi karakternya jauh berbeda dengan image penganut agama Hindu. Justru para dewa, dalam pertunjukan wayang kulit di Jawa sekarang, kecuali Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci, sering dilecehkan oleh para dalang. Bahkan dalam silsilah wayang di Jawa, dewa-dewa merupakan anak keturunan Adam (2) , kedudukannya tidak lebih tinggi dari tokoh-tokoh wayang yang lain. Dalam sejumlah lakon wayang, sering terjadi para dewa justru tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi, penyelesaiannya terpaksa harus dibantu ksatria pilihan.

Ada beberapa pendapat tentang latar belakang perlunya upacara ruwat dengan me-manfaatkan pertunjukan wayang. Salah satu yang menarik adalah pendapat Ki Naryacarita (dalang senior dari Windan, Kartasura, Sukoharjo) yang mengatakan bahwa upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang sebenarnya hanya sebagai sarana pendidikan moral bagi anak-anak. Menurut Ki Naryacarita, bila orang tua mampu mendidik sendiri kepada anak-anaknya yang tergolong sukerta, upacara ruwatan dengan sarana pertunjukan wayang tidak diperlukan lagi. Pernyataan ini sering diungkapkan langsung oleh Ki Naryacarita saat mendalang ruwatan.

Anak-anak tunggal (ontang-anting) digolongkan sukerta kemungkinan menjadi anak nakal sangat besar, sebab pada umumnya anak tunggal selalu dimanjakan oleh keluarganya. Meskipun diakibatkan oleh program KB (Keluarga Berencana), anak yang hanya berjumlah dua (kembar, dhampit, kembang sepasang, dan kedhana-kedhini) berpotensi menjadi nakal, sebab sering terjadi kedua orang tua (ayah da ibu) berpihak kepada salah satu anak. Anak dalam jumlah tiga (sen dang kapit pancuran, pancuran kapit sendang, banteng ngunda jawi, ngungggah-unggahi, tri purusa, serta tri wati) anak yang memiliki jenis berbeda dengan kedua saudaranya potensi untuk menjadi anak nakal sangat besar. Kemungkinan anak yang jenis kelaminnya berbeda dengan saudara-saudaranya (ngijeni) ini paling dimanjakan oleh keluarga.

Saya tidak mampu membahas kira-kira apa yang menjadi penyebab keluarga yang memiliki 4 orang anak (srimpi atau sramba) dan 5 orang anak (pendawi atau pendawa) yang berjenis kelamin sama tergolong juga anak sukerta? Kemungkinan besar adalah anak-anak yang berkelamin sama dalam jumlah itu berpotensi mudah sekali cekcok, gampang membuat kelompok yang terpisah yang saling berpihak pada kelompoknya. Secara kebetulan dalam cerita wayang, nasib Pandawa (Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) meskipun selalu rukun, tetapi nasibnya tidak pernah sepi dari masalah-masalah besar. Perang Baratayuda memang dimenangkan Pandawa, tetapi seluruh anaknya menjadi korban dan mereka tidak dapat menikmati kemenangannya.

Istilah ‘kala’ dalam Bahasa Jawa dapat juga berarti ‘waktu,’ dalam konteks budaya dapat ditafsirkan

bahwa siapa saja yang tidak mampu mengatur waktu dengan baik akan menghadapi bahaya besar, termasuk mengatur waktu untuk mendidik anak-anak berpotensi nakal seperti yang diuraikan pada alinea-alenia sebelumnya. Disebabkan oleh kharismanyalah, maka dalang diberi kepercayaan untuk mendidik anak-anak, yang memiliki potensi nakal, melalui pertunjukan wayang. Dengan media wayang diharapkan anak-anak sukerta dapat mendapat berbagai ajaran moral, meskipun secara simbolik dan/ atau tersamar. Penalaran Ki Naryacarita itu, bahwa pertunjukan wayang ruwatan sebagai sarana pen-didikan moral anak, kiranya dapat dikembangkan terhadap orang-orang sukerta yang lain, yaitu orang-orang yang ceroboh dalam mengerjakan sesuatu hal merobohkan alat menanak nasi (dandang), mematahkan alat pelumat ramuan jamu (pipisan), membuang sampah di waktu malam, dan sebagainya yang juga harus diruwat. Mereka (orang-orang ceroboh) itu juga tergolong menjadi jatah (mangsa) Batara Kala. Tersirat satu pelajaran bahwa setiap orang harus dapat mengatur waktu dengan baik; tidak terburu- buru, selalu bertindak dan berperilaku hati-hati dalam mengerjakan segala hal, agar menghasilkan sesuatu secara optimal, tidak merusakkan alat-alat, serta selamat.

Ada sinyalemen, bahwa latar belakang munculnya upacara ruwatan dengan pergelaran wayang kemungkinan atas akal-akalan (inisiatif atau gagasan) para dalang di masa lampau. Kita semua mahfum bahwa profesi dalang memiliki kharisma yang tinggi di masyarakat pendukungnya. Oleh sebab itu, di masa lampau, upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang dimonopoli oleh para dalang yang benar-benar memiliki geneologi vertikal (keturunan) dalang. Besar kemungkinan bahwa upacara ruwatan menggunakan pertunjukan wayang merupakan taktik agar para dalang (meskipun sudah lanjut usia) tetap mampu menyangga hidupnya sendiri, tanpa harus merepotkan anak dan cucunya. Beberapa kelengkapan sesaji upacara ruwatan yang pada akhir pertunjukan menjadi milik dalang merupakan modal bagi seseorang untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Sinyalemen ini dibantah oleh Ki kesdik Kesdalamana (Klaten), sebab di daerah sekitarnya, banyak

dalang senior menganjurkan para keluarga miskin yang menyelenggaran ruwatan untuk meminjam kelengkapan sesaji yang tidak dimiliki.

Ada sinyalemen lain tentang asal-usul penyelenggaraan upacara ruwatan dengan pertunjukan wayang dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa anak bagi orang tua merupakan alat produksi keluarga. Sehingga, anak yang jumlahnya kurang dari enam orang, harus diruwat. Andai pandangan ini benar tentu saja upacara ruwatan sekarang menjadi tidak relevan, terlebih-lebih setelah adanya

program KB. Mestinya, anak yang jumlahnya lebih dari tiga orang harus diruwat. Ada dalang

Majakerta, dalam pakelirannya, Batara Kala berucap

:. . .

‘kabeh bocah sukerta mau dadi mangsaku,

kejaba sing wong tuwane padha melu KB’ (semua anak sukerta tadi menjadi mangsaku, kecuali yang

orang tuanya mengikuti program KB).

Penyelenggaraan ruwatan dapat dipandang sebagai bentuk upaya pelestarian, peng-agungan, dan pengembangan budaya tradisional. Yang menjadi masalah adalah, bagaimana wujud serta apa yang menjadi motivasi penyelenggaraan? Sangat disayangkan terhadap wujud pertunjukan wayang ruwatan saat ini, sebagian besar, hanya menekankan segi hiburan bila dibandingkan dengan sisi ritusnya. Akhir-akhir ini banyak upacara ruwatan yang dilakukan para dalang, termasuk dalang senior, sangat menonjolkan humor, bahkan humor yang pornografi seperti yang sering saya lihat dalam pertunjukan wayang biasa, bukan ruwatan. Jelas keagungan dan kekhususan upacara ruwatan menjadi pudar, bila dalang tidak mampu mengekang diri dari ambisi menghibur. Saya berpendapat bahwa sajian pertunjukan wayang ruwatan harus dibedakan dengan pertunjukan wayang biasa.

Saya juga menangkap satu gejala yang tidak sehat dalam penyelenggaraan ruwatan, artinya sudah menyimpang dari azas semula. Gejala itu adalah motivasi penyelenggaraan wayang ruwatan di berbagai kota besar yang saya amati. Saya tidak pernah mendapat jawaban yang meyakinkan dari pihak bocah sukerta, bagaimana perbedaan kondisi mental mereka sebelum dan sesudah mengikuti ruwatan? Pada umumnya, mereka menjawab sangat terpukau (merinding dan angker) pada saat- saat, secara simbolik, dibebaskan dari sukerta oleh dalang. Yang merasa dari suatu batin mencekam, lebih banyak dirasakan oleh para orang tua para bocah sukerta. Kelihatannya, yang merasa terbebas dari himpitan dosa justru para orang tua, bukan bocah sukertanya.

Akhirnya, nasib kelangsungan wayang ruwatan akan dibawa kemana? Meskipun wayang itu pada prinsipnya memiliki potensi yang netral dalam arti dapat diarahkan kemana saja serta dimanfaatkan untuk kepentingan apapun secara moral masyarakat pedhalangan dan/atau pe-wayangan (dalang, peneliti, pengamat, kritikus dan sebagainya) secara moral tetap memiliki tanggung jawab besar terhadap eksistensinya, dalam hal kreatitas serta kualitas. Dengan demi-kian tidak hanya asal-asalan; asal beda, asal laku, asal dapat duit, dan tentu saja tidak hanya asal eksis dan asal laris.

Catatan kaki :

(1) Ada informasi bahwa untuk konvensi pedalangan yang berlaku di daerah Tegal (mungkin seluruh Pantura Jawa) Batara Kala adalah anak Batara Indra. (2) Baca Serat Paramayoga dan Sujarah Karaton Pangiwa lan Panengen Yogyakarta lan Surakarta Hadiningrat yang ditulis oleh Padmasusastra.

Profil Penulis:

Bambang Murtiyoso, selain menjabat sebagai Dosen S-1 dan S-2 beliau juga merupakan Kepala Unit Penelitian di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

  • Di luar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Bapak Bambang Murtiyoso aktif sebagai

    • 1. Ketua II PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) Propinsi Jawa Tengah

    • 2. Anggota Dewan Kebijaksanaan SENA WANGI di Jakarta

    • 3. Ketua Komisi Penelitian dan Pengembangan Dewan Kesenian Surakarta

    • 4. Ketua Paguyuban Penggemar Nartasabda “Sabda Pandhita.”

Penghargaan yang pernah diterima:

  • 1. mahasiswa teladan I (1976)

  • 2. Bintang Budaya (1997)

  • 3. Karya Satya

  • 4. Warga Berprestasi Monumental (2009)

Kegiatan lain-lain

  • 1. pembicara dalam berbagai dialog sen & bufayai,

  • 2. penggagas pakeliran layar lebar “Sandosa” (1982),

  • 3. penggagas Festival Greget Dalang 1995, pertunjukan wayang selama 50 malam berturut-turut

dalam rangka HUT RI ke-50 di Surakarta,

  • 4. penulis naskah wayang dan kethoprak,

  • 5. penulis artikel di berbagai media massa,

  • 6. pengamat dan peneliti seni pertunjukan; dan

  • 7. penulis kolom LINCAK di Solo Pos.

  • 8. editor buku-buku seni dan budaya

Pengalaman ke luar negeri:

Jepang (1970), Australia (1975), Eropa (1979), Singapura (1996), Arab (1997), dan Thailand (2002).

Penelitian yang pernah dilakukan

  • 1. Asisten peneliti seorang antropolog dari Belanda, V.M. Clara van Groenendael untuk disertasinya

“Dalang behind Wayang” (1977—1978).

  • 2. Penelitian mandiri tahun 1980 berjudul “Tinjauan Lakon Alap-alapan Sukeksi dalam Pakeliran

Padat” karya Sumanto.

  • 3. tahun 19841985) bersama empat dosen Jurusan Pedalangan dan seorang peneliti dari USA

(Alan H. Feinstain) melaksanakan pen¬dokumen¬tasian Lakon Carangan, yang dibiayai oleh The Ford Foundation; hasilnya diterbit¬kan menjadi tiga jilid buku oleh Proyek Dokumentasi Lakon Carangan

ASKI Surakarta (1986).

  • 4. Bersama Suratno, melaksanakan penelitian yang didanai Yayasan Masya¬rakat Musik¬ologi

Indonesia dengan judul “Studi tentang Repertoar Lakon Wayang yang Beredar Lima Tahun Terakhir

  • di Daerah Surakarta” (1990).

    • 5. Penelitian kelompok lain, “Kajian Kebijakan Dinamika Seni dan Teknologi” dibiayai oleh

Kementerian Riset dan Teknologi RI (2002).

Judul buku yang sudah diterbitkan

  • 1. Pengetahuan Pedalangan (2002)

  • 2. Garap Pakeliran Sekarang (2002),

  • 3. Menggapai Popularitas; Aspek-aspek Pendukung Agar Menjadi Dalang Popoler (2004),

  • 4. Pertumbuhan dan Per¬kembang¬an Seni Pertunjukan Wayang (2004), dan

  • 5. Teori Pedalangan (2007)

Judul Makalah Sejumlah makalah yang saya presentasikan di antaranya:

  • 1. “Perkembangan Pakeliran dan Upaya Pengembang¬annya” (1998); “Peranan Seniman dan

Seniwati dalam Pemasyarakatan & Pembudayaan P-4 untuk Meningkatkan Disiplin Nasional” (1998);

  • 2. “Kebebasan dan Keterikatan Estetik dalam Pakem Pedalangan” (1998);

  • 3. “Bahan Dasar Analisis Lakon” (1999);

  • 4. “Kurikulum 1975, salah satu Penghalang bagi Proses Transformasi Seni Pertunjukan Tradisional”

(1999);

  • 5. “Wayang Layar Lebar SANDOSA, sejumlah Kendala Internal yang Dihadapi” (1999);

  • 6. “Pedalangan dalam Era Reformasi” (1999);

  • 7. “Kondisi Bahasa dan Sastra Jawa ibarat Wastra Lungset ing Sampiran” (2001);

  • 8. “Kebregasan & Keterbatasan Buku ‘Kelir tanpa Batas’ Umar Kayam” (2001);

  • 9. “Situasi Jagat Pe¬dalangan dan Pengembangannya di Masa Depan” (2001);

    • 10. “Trend Pedalangan Masa Kini” (2001);

    • 11. “Potret Wayang Kita” (2001); “Pengenalan Wayang di Lingkungan Sekolah Umum” (2002);

    • 12. “Perang Kembang & Bambangan-Cakil, Tontonan Bermakna Ganda” (2002);

    • 13. “Bahan Dasar Pe¬ngembangan Lakon Wayang Purwa” (2002);

    • 14. “Menyimak Bahasa, Sastra, dan Pakem Pedalang¬an” (2002);

    • 15. “Menelusuri Pertumbuhan dan Perkembangan Ceritera Wayang Purwa di Jawa, sebuah Studi

Awal” (2002);

copas dari:

Catatan Wayang Nusantara (Indonesian Shadow Puppets): UPACARA RUWATAN DALAM MASYARAKAT JAWA SEKARANG

KESIMPULAN

  • 1. Masyarakat pedeasaan adalah sekelompok orang yang hidup bersama dan bekerjasama yang berhubungan secara erat tahan lama dengan sifat-sifat yang hamper sama (homogen) disuatu daerah atau wilayah tertentu dengan bermata pencaharian dari sektor pertanian (agraris).Sedangkan masyarakat kota ialah masyarakat yang tinggal di tengah-tengah kota,gaya hidup individual,jalan pikiran yang rasional dan tidak terikat oleh adapt atau norma tertentu

kota tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada pasokan tenaga atau barang dari desa,begitu juga sebaliknya.

sedangkan pengelompokkan santri - abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilakuseseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Dalam realita, ada priyayi yangsantri dan ada pula yang abangan, bahkan ada pula yang non muslim.

kota tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada pasokan tenaga atau barang dari desa,begitu juga

Ningrat Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Yang biasanyamempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. Misalnyaseorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca"bandoro") di depan gelarnya, sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM ).

kota tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada pasokan tenaga atau barang dari desa,begitu juga

Wong Cilik Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah, biasanya hidup didesa-desa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani, tukang danpekerja kasar lainnya. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi :

a . W o n g

b a k u

merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa, mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa, mereka memiliki sawah, rumah, serta pekarangannya. b.Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin, akan tetapi tidakmempunyai tempat tinggal sendiri,sehingga terpaksa menetap di kediamanmertuanya. c.Joko, sinoman, atau bujangan Mereka semua belum menikah, dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal

(ngenger) dirumah orang lain. akan tetapi golongan bujangini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan.Desa -desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian -bagian yangdisebut dukuh , oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiapdukuh diketuai oleh kepala

dukuh. Dalam hal memelihara dan membangunma s y a r a k a t

d e s a n y a ,

p a r a

p a mo n g

d e s a

h a r u s

s e ri n g

me n g g e r a k k a n

a

k a J

e a a

b u n w

d

a

y

27

masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja samamembersihkan, memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan. F . S I ST E M K E K ER A B A T A N

Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral.S emu a k a k a k

l a k i -l a k i a t a u w a n i t a a y a h d a n i b u b e s e rt a is tr i a t u p u n

s u ami masing masing

diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa . Adapunadik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakanmenurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi.Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorangwanita salah satu adik dari almarhum istrinya. Jadi merupakan pernikahan sororat.Adapun

wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami).Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan, yaitu :a . P e l a m a r a n b i a s a

b.

Magang atau ngenger, ialah seorang jejaka yang telah mengabdikandirinya pada kerabat si gadis.

c.

Triman

, yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian ataupenghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu, misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung.

d.

Ngunggah-ngunggahi,

yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka.

e.

Paksa (peksan), yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita ataskemauan kedua orang tua mereka.Menurut

adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan, terlebih dahuludiselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmianperkawinan. Upacara- upacara tersebut adalah

Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral.S emu a k a k a k l

Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengandidampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan a

k

e

b

u

d

y

a

J

28

a

a

n

w

a

kepadanya, apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). Jika orang tuasi gadis telah meninggal, hal itu yang disebut nakokake kepada wali, yakni anggotakerabat dekat menurut garis laki laki (patrilineal).

Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral.S emu a k a k a k l

Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya.

Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. Persiapan P e n u n j

Persiapan P e n u n j u k k a n

P e ma e s,

d u k u n

p e n g a n t i n

p e r e mp u a n

d i

ma n a

me n j a d i pemimpin dari acara pernikahan. Dia mengurus dandanan dan pakaian

pengantinl a k i -l a k i

d a n

p e n g a n t i n

p e r e mp u a n

y a n g

b e n t u k n y a

b e r b e d a

s e l a ma p e st a pernikahan. Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin,

perhiasan

danperlengkapan lain untuk pesta pernikahan.Banyak yang harus dipersiapkan

untuk setiap upacara pesta pernikahan. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat, keluarga darikedua mempelai. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapabanyaknya tamu yang di undang (300, 500, 1000 atau lebih).Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol, makanan danminuman, musik gamelan dan tarian, dekorasi dari ruangan resepsi,

pembawa acara, wali untuk Ijab, pidato pembuka, transportasi, komunikasi dan keamanan.Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil),

dimanatercatat sebagai pasangan suami istri.Bi a s a n y a s e h a ri

s e b e l u m

p e st a

p e r n i k a h a n , Tarub

p i n t u

g e r b a n g

d a ri

r u ma h

orangtua wanita dihias dengan

(dekorasi tumbuhan), terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun), yaitu :

Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akanmenjadi pemimpin yang baik di keluarga. Pohon pisang sangat

mudah tumbuhdimana saja. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. k

e

b

u

d

a

y

a

a

n

J

a

w

a

29

Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. Persiapan P e n u n j

Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untukbantuan nikah.

Cengkir Gading

berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akanmerawat keluarga mereka.

Bentuk daun seperti

beringin

,

mojo-koro

,

alang-alang

, dadap srep berarti:Pasangan pengantin akan

hidup aman dan melindungi keluarga.

Bekletepe

Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari g a n g g u a n

r o h

j a h a t

d a n

m e n u n j u k a n

d i

r u m a h

m a n a

p e s t a

i t u diadakan.Selain pemasangan

tarub juga dikenaladanya

Kembar Mayang yang merupakank a r a n g a n d a ri

b e r ma c a m

d a u n

(s e b a g i a n besar

dalam

batang

pohon p i s a n g ) .

I t u

d e k o r a s i

s a n g a t

i n d a h

daun kelapa di d a n mempunyai

arti yang luas.

 

Mempunyai bentuk seperti gunung

. Gunung itut i n g g i

d a n

b e s a r,

pengalaman dan kesabaran.

b e r a rt i

l a k i -l a k i

h a r u s

p u n y a banyak pengetahuan,

Keris

: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan,pintar dan bijaksana.

Cemeti : Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untukkehidupan yang baik.

k

e

b

u

d

a

y

a

a

n

J

a

w

a

30

Pengertian masyarakat. Definisi masyarakat. Pengertian kelompok sosial menurut para ahli. Konsep masyarakat. Definisi masyarakat menurut para ahli. Pengertian sosial menurut para ahli. Masyarakat adalah.

Pengertian penduduk menurut para ahli. Definisi sosial menurut para ahli. Kelompok sosial menurut para ahli. Pengertian kesehatan menurut para ahli. Definisi kesehatan menurut para ahli. Pengertian desa menurut para ahli. Pengertian komunitas menurut para ahli.

Pengertian masyarakat menurut beberapa ahli. Kesehatan menurut para ahli. Defenisi masyarakat. Definisi kesehatan masyarakat menurut para ahli. Defenisi masyarakat menurut para ahli. Definisi penduduk. Definisi rakyat.

Pengertian masyarakat kota. Pengertian desa menurut beberapa ahli. Arti masyarakat. Pengertian masyarakat menurut koentjaraningrat. Definisi masyarakat menurut para tokoh. Pengertian kota menurut para ahli. Pengertian manusia menurut ahli.

Pengertian kota menurut ahli. Pengertian rakyat menurut para ahli. Pengertian sehat menurut para ahli. Definisi masyarakat menurut beberapa ahli. Pengertian manusia menurut aristoteles. Definisi desa menurut para ahli. Pengertian masyarakat kota menurut para ahli.

Definisi kota menurut para ahli. Definisi kelompok sosial menurut para ahli. Pengertian masyarakat desa. Pengertian masyarakat secara umum. Definisi komunitas. Pengertian manusia secara etimologi. Arti manusia menurut para ahli.

Pengertian kesehatan. Pengertian kelompok sosial menurut koentjaraningrat. Definisi kesmas. Pengertian ilmu kesehatan masyarakat menurut who. Pengertian masyarakat menurut. Definisi kesehatan masyarakat menurut who. Definisi sehat menurut para ahli.

Masyarakat menurut koentjaraningrat. Pengertian masyarakat pedesaan. Pengertian kesehatan masyarakat. Masyarakat. Masyarakat menurut ahli. Pengertian masyarakat adalah. Pengertian komunitas.

Definisi masyarakat menurut ahli. Definisi kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat menurut para ahli. Pengertian kesmas. Komunitas menurut para ahli. Pengertian masyarakat umum. Hubungan sosial menurut para ahli.

Unsur masyarakat menurut koentjaraningrat. Penduduk menurut para ahli. Definisi rakyat menurut para ahli. Pengertian ilmu kesehatan masyarakat. Definisi masyarakat kota. Pengertian kesehatan menurut who. Arti kesehatan.

Pengertian kesehatan secara umum. Pengertian masyarakat menurut pendapat para ahli. Pengertian dari masyarakat. Pengertian kesehatan masyarakat secara umum. Definisi ilmu kesehatan masyarakat. Pengertian masyarakat abstrak. Pengertian masyarakat menurut selo soemardjan.

Pengertian penduduk secara umum. Pengertian kelompok sosial menurut beberapa ahli. Pengertian hubungan masyarakat menurut para ahli. Pengertian konsep masyarakat. Pengertian masyarakat secara etimologi. Masyarakat abstrak. Definisi penduduk menurut ahli.

Pengertian masyarakat menurut ilmuwan sosial. Arti sehat menurut para ahli. Kelompok sosial menurut ahli. Definisi ilmu kesehatan masyarakat menurut para ahli. Definisi hubungan masyarakat menurut para ahli. Pengertian hubungan menurut para ahli. Pendapat para ahli tentang desa.

Pengertian masyarakat menurut para tokoh. Masyarakat menurut beberapa ahli. Definisi kesehatan. Pengertian hubungan masyarakat. Definisi masyarakat menurut. Pengertian kesehatan masyarakat menurut ahli. Pengertian masyrakat menurut para ahli.

Definisi penduduk menurut para ahli. Pengertian hubungan sosial menurut gillin.

Konsep

tentang

masyarakat

pasti

sering

kita

dengar,

seperti:

masyarakat

desa,

masyarakat kota, masyarakat Betawi, masyarakat Jawa, dll. Meskipun secara mudah bsia

diartikan bahwa masyarakat itu berarti warga namun pada dasarnya konsep masyarakat itu

sendiri

sangatlah

abstrak

dan

sulit

ditangkap.

Istilah masyarakat berasal dari kata musyarak yang berasal dari Bahasa Arab yang memiliki arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Society. Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi tentang masyarakat menurut beberapa ahli :

#

PETER

L.

BERGER

Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas

sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas

bagian-bagian

yang

membentuk

suatu

kesatuan.

#

MARX

Masyarakat ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya

#

GILLIn

&

GILLIN

Masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan

perasaan

persatuan

yang

diikat

oleh

kesamaan.

#

HAROLD

J.

LASKI

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai

terkabulnya

keinginan-keinginan

 

mereka

bersama

#

ROBERT

 

MACIVER

Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan (society means a

system

of

ordered

relations)

#

SELO

SOEMARDJAN

Masyarakat

adalah

orang-orang

yang

hidup

bersama

dan

menghasilkan

kebudayaa

#

HORTON

&

HUNT

Masyarakat

adalah

suatu

organisasi

manusai

yang

saling

berhubunga

#

MANSUR

 

FAKIH

Masyarakat adalah sesuah sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan

masing-masing bagian harmoni

secara terus menerus mencari keseimbangan

(equilibrium) dan

Banyak alasan pentingnya membicarakan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan.Selain belum ada kesempatan umum tentang keberadaan masyarakat desa sebagai suatu pengertian yang baku,juga kalau dikaitkan dengan pembangunan yang orientasinya banyak dicurahkan kepedesaan,maka pedesaan memiliki arti tersendiri dalam kajian struktur,sosial atau kehidupanya.Dalam keadaan desa yang “sebenarnya”,desa masih dianggap sebagai standard an pemelihara system kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti tolong menolong,keguyuban,persaudaraan,gotong-royong,kesenian,kepribadian dalam berpakaian,adat-istiadat,kehidupan moral-susila,dan lain-lain.

Orang kota membayangkan bahwa desa ini merupakan tempat orang bergaul dengan rukun,tenang,selaras,dan akur.Akan tetapi justru dengan berdekatan,mudah terjadi konflik atau persaingan yang bersumber dari peristiwa kehidupan sehari-hari,hal tanah,gengsi,perkawinan,perbedaan antara kaum muda dan tua serta antara pria dan wanita.Bayangan bahwa desa tempat ketentraman pada konstelasi tertentu ada benarnya,akan tetapi yang nampak justru bekerja keraslah yang merupakan syarat pokok agar dapat hidup di desa.

Demikian pula dalam konteks pembangunan desa (pertanian),semula orang beranggapan bahwa masyarakat pertanian mangalami involusi (kemunduran) pertanian yang berjalan dalam proses pemiskinan dan apapun teknologi dan kelembagaan modern yang masuk ke pedesaan akan sia-sia.Pernyataan-pernyataan sumbang inilah yang ingin kami bahas dalam makalah yang ringkas dan singkat ini,yang mana adanya kontroversi kesan atau pendapat ini mungkin lebih tepat apabila dihubungkan dengan berbagai gejala sosial seperti konsep-konsep perubahan sosial atau kebudayaan.

http://jawaposting.blogspot.com/2010/03/makalah-masyarakat-perkotaan-dan.html

t

http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/01/contoh-judul-skripsi-kesehatan.html