Anda di halaman 1dari 59

BAB .I.

PENDAHULUAN

Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga anggota marga Citrus dari suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohon dengan buah yang berdaging dengan rasa masam yang segar, meskipun banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa masam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung pada semua anggotanya. Sebutan "jeruk" kadang-kadang juga disematkan pada beberapa anggota marga lain yang masih berkerabat dalam suku yang sama, seperti kingkit. Dalam bahasa sehari-hari, penyebutan "jeruk" atau "limau" (di Sumatra dan Malaysia) seringkali berarti "jeruk keprok" atau "jeruk manis". Di Jawa, "limau" (atau "limo") berarti "jeruk nipis". Jeruk sangatlah beragam dan beberapa spesies dapat saling bersilangan dan menghasilkan hibrida antarspesies ('interspecific hybrid) yang memiliki karakter yang khas, yang berbeda dari spesies tetuanya. Keanekaragaman ini seringkali menyulitkan klasifikasi, penamaan dan pengenalan terhadap anggotaanggotanya, karena orang baru dapat melihat perbedaan setelah bunga atau buahnya muncul. Akibatnya tidak diketahui dengan jelas berapa banyak jenisnya. Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan adalah keterkaitan kuat Citrus dengan genus Fortunella (kumkuat), Poncirus, serta Microcitrus dan Eremocitrus, sehingga ada kemungkinan dilakukan penggabungan. Citrus sendiri memiliki dua anakmarga (subgenus), yaitu Citrus dan Papeda.

Asal jeruk adalah dari Asia Timur dan Asia Tenggara, membentuk sebuah busur yang membentang dari Jepang terus ke selatan hingga kemudian membelok ke barat ke arah India bagian timur. Jeruk manis dan sitrun (lemon) berasal dari Asia Timur, sedangkan jeruk bali, jeruk nipis dan jeruk purut berasal dari Asia Tenggara. Banyak anggota jeruk yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan, wewangian, maupun industri. Buah jeruk adalah sumber vitamin C dan wewangian/parfum penting. Daunnya juga digunakan sebagai rempah-rempah. Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya Petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan. Klasifikasi tanaman jeruk Kerajaan Divisi Kelas Upakelas Ordo Famili Upafamili Bangsa Genus : : : : : : : : : Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Rosidae Sapindales Rutaceae Aurantioideae Citreae Citrus l.

Morfologi Tanaman Jeruk Karakter morfologi yang diamati adalah bagian-bagian vegetatif dan generatif tanaman. Karakter morfologi bagian vegetatif meliputi :
1. Batang

Batang dan percabangan Keadaan batang, diameter batang, warna kulit batang bagian luar, warna kulit batang bagian dalam keadaan percabangan, tebal kulit batang, ada tidaknya lapisan lilin pada batang, tebal lapisan lilin pada batang, bentuk tajuk pohon. Sudut percabangan, tipe percabangan, letak cabang, bentuk cabang, warna kulit cabang, ada tidaknya bulu pada percabangan dan distribusi cabang.
2. Daun

Bentuk daun, bentuk lekukan pangkal daun, bentuk lekukan ujung daun, bentuk pangkal sayap helaian daun, bentuk tepi daun, bentuk tulang daun, tepi tangkai daun, posisi daun dewasa pada batang, pangkal tangkai daun, tipe kedudukan daun, panjang daun, lebar daun, tebal daun, warna permukaan atas daun, warna permukaan bawah daun, warna daun muda, ada tidaknya bulu pada daun, tekstur permukaan daun, ada tidaknya lapisan lilin daun, bentuk pertumbuhan daun muda, urat tulang daun, aroma daun muda dan duduk daun.

3. Bunga

Letak bunga, tipe bunga, jumlah bunga tiap malai, warna mahkota bunga, bentuk daun mahkota bunga, kedudukan benangsari, terhadap mahkota bunga, bentuk stigma, tipe style, kedudukan bakal buah, panjang kuncup bunga, lebar bunga dalam keadaan mekar, tipe mahkota bunga, tipe tangkai sari, tipe kedudukan benangsari, jumlah benang sari, jumlah tajuk kelopak bunga, jumlah tajuk mahkota bunga, warna putik, warna kepala sari, panjang benangsari, aroma bunga, warna sepal dan bentuk kuncup bunga.

4. Buah

Tipe daging buah, bentuk buah, dasar buah, warna kulit buah masak, warna kulit buah muda, tekstur permukaan buah muda, tekstur permukaan buah masak, ukuran dan keadaan juring, rasa buah, kondisi juring, jumlah juring tiap buah, diameter buah, warna daging, buah, bentuk ujung buah, kandungan air, jumlah buah tiap cabang, ciri hati buah, ada tidaknya kelenjar minyak luar, warna kulit buah bagian dalam, daya simpan buah, tebal kulit juring, tebal kulit buah, tebal daging juring, lebar juring, panjang juring, panjang bulir buah dan bentuk bulir buah.

5. Biji

Jumlah biji, warna biji, lebar biji, bentuk biji, tekstur biji, ketebalan biji, panjang biji, lebar biji, warna kulit ari biji, bentuk biji tanpa kulit biji, besarnya kotiledon, jumlah biji perjuring, tekstur biji tanpa kulit dan bentuk ujung biji. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan rataan kelompok dengan jarak ketidakmiripan (euclidean) pada program systat

Beberapa Jenis Jeruk 1. Jeruk Manis

Jeruk ini paling banyak jenisnya. Mulai dari jeruk medan, jeruk pontianak, jeruk keprok, dan jeruk peras. Air jeruk ini bisa dimanfaatkan untuk minuman dan puding selain dimakan segar.

2. Jeruk Lemon

Berwarna kuning muda, berkulit licin, dan mengandung banyak air. Rasanya asam, dan beraroma khas.Buah jeruk ini berikut kulitnya bisa dibuat menjadi selai jeruk (selai marmalade). Jika jeruk lemon dipotong tipis melintang, bisa digunakan untuk hiasan aneka minuman, punch dan salad. 3. Jeruk Nipis

Jeruk nipis berwarna hijau dan agak menguning setelah matang. Bentuknya bulat dan licin karena mengandung banyak air. Airnya kaya akan asam sitrat yang dapat mengurai serat daging. Bisa digunakan untuk menghilangkan bau amis pada ikan dan daging.

4. Orange

Orange enak dimakan setelah matang. Contohnya seperti Navel Orange, Valencia Orange, dan Florida Orange. Pilih yang bentuknya bulat penuh, kulitnya jingga terang, dan berat. Air jeruk ini bisa dimanfaatkan untuk jus, es krim, campuran cake, dan lain-lain. 5. Jeruk Mandarin

Sepintas mirip orange, tapi warnanya lebih jingga dan lebih kecil, contohnya jeruk mandarin Ponkam dan mandarin Imperial. Juringnya yang kecil bisa dimanfaatkan sebagai hiasan cake dan tarlet.

6. Grapefruit

Dilihat sepintas, jeruk ini mirip jeruk orange tapi bentuknya lebih besar, rasanya agak asam. Grapefruit kuning warna kulitnya kuning. Grapefruit merah kulitnya agak jingga sebagian bersemu merah, dan rasanya lebih manis.. Air jeruk ini bisa untuk jus dan campuran puding. Juringnya bisa digunakan untuk campuran salad dan compote buah. 7. Jeruk Bali

Jeruk bali berukuran paling besar dibanding jenis-jenis jeruk yang lainnya. Kulitnya berwarna hijau dan tebal, dagingnya kesat, warnanya putih agak merah muda, dan merah. Setelah kulit juringnya dikupas, daging buah jeruk bali bisa digunakan sebagai campuran salad, asinan, rujak, dan es serut. jenis buah jeruk dan manfaatnya . Jenis buah jeruk ini banyak digunakan airnya sebagai bumbu masakan atau campuran minuman. Aneka punch, shorbet dan cocktail terasa lebih segar dengan

menambahkan air jeruk nipis. Warna kulitnya hijau mengkilat, daging buahnya putih kekuningan dan citarasanya sangat asam. Manfaat jenis buah jeruk nipis yaitu : 1. Jenis buah jeruk Nipis Untuk Menyembuhkan Batu Ginjal

Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa jeruk nipis mempunyai manfaat mencegah kekambuhan batu ginjal, khususnya batu ginjal kalsium idiopatik. Menurut laporan tersebut, dengan mengkonsumsi jeruk nipis timbulnya batu ginjal bisa dicegah. 2. Jenis buah jeruk Nipis untuk menyembuhkan Batuk dan influenza Penyakit ini terjadi karena menurunnya daya tahan tubuh sehingga kuman-kuman dapat dengan mudah berkembang dalam tubuh kita. Kandungan vitamin C yang tinggi dari jenis buah jeruk nipis sangat berguna dalam meningkatkan daya tahan tubuh sehingga kuman-kuman patogen (kuman yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit) dapat dimatikan oleh tubuh.Biasanya orang menggunakannya dengan cara membelah buah jeruk nipis, kemudian permukaan belahannya diberi olesan kapur sirih. Lalu dipanaskan, sebelum akhirnya perasan airnya diminum bersama air jernih. Resep ini juga berguna sebagai pemaksa keluarnya dahak.

3.

Ketegangan

Otot

Tangan,

Kaki,

dan

Bagian

tubuh

lainnya

Kandungan kalsium dan lisin dalam jeruk nipis dapat mempengaruhi kerja otot sehingga otot-otot menjadi lebih rileks. Digunakan dengan cara menggosokkan bagian yang pegal memakai perasan jeruk nipis ditambah dengan sedikit air. Atau dengan merendam bagian yang pegal di air perasan buah jeruk yang telah ditambah air hangat di dalam ember kecil. 4. Menurunkan rasa panas badan, terutama pada anak-anak.

Air perasan jenis buah jeruk nipis ditambah selembar daun sirih, ditambah air hangat, digunakan untuk bahan pengompresan maka rasa panas akan cepat hilang kalau dibandingkan hanya dengan air tanpa campuran.

5. Obat antimabuk. Yaitu sebelum atau selama perjalanan panjang meminum perasan air jenis buah jeruk nipis, terutama bagi mereka yang biasa dilanda mabuk perjalanan. Bahkan, bagi orang-orang tertentu hanya dengan mencium bau remasan kulit jeruknya saja sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa mabuk di perjalanan walau perjalanan jauh pun. 6. Mengurangi gangguan buang air kecil. Bagi mereka yang menderita gangguan pada saat buang air kecil maka meminum air perasan jenis buah jeruk nipis ditambah gula batu sedikit agar tidak terlalu asam, ternyata banyak manfaatnya. Bahkan, kepenatan yang sering dialami oleh seseorang karena terlalu banyak menggunakan otaknya dengan cara ini pun akan banyak membantu untuk meringankan. 7. Jenis buah jeruk Nipis untuk mengecilkan peranakan setelah melahirkan Di lingkungan masyarakat Jawa, banyak ibu-ibu yang menggunakan air perasan jenis buah jeruk nipis ini untuk mengecilkan dan mengeringkan peranakan sehabis melahirkan dengan cara mencampur air perasan jeruk nipis dengan kapur sirih, kemudian dijadikan parem, serta dibalurkan ke bagian perut selama 40 hari. Bahkan, ada pula yang kemudian membiasakan meminum air perasan buah jeruk tsb. yang dicampur sedikit garam, sedikit kapur sirih dengan air hangat.

BAB.II. Sub-Sistem Penyediaan dan Distribusi Input Produksi II.1. Pembibitan II.1.1. Cara generatif Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air. II.I.2. Cara Vegetatif Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah

(understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA + HORMONIK (1 tutup/tangki ). II.I1. Pemupukan Perkembangan tumbuhan dalam kondisi alami seperti di hutan seimbang dengan pelapukan batu-batuan dan sisa organisme. Adanya campur tangan manusia seperti pengangkutan hasil panen menyebabkan pengurasan nutrisi dari (3-4 tutup/tangki )

10

tempat tumbuhnya sehingga tanah tidak mampu lagi mendukung kebutuhan tanaman secara normal. Oleh karena itu, lahan-lahan pertanian semakin lama semakin kurus dan produktivitasnya terus merosot jika tidak diberi pupuk. Nutrisi pupuk yang terlarut dalam air diserap oleh akar tanaman, bersama dengan karbon dioksida dari udara dengan bantuan cahaya matahari dimasak di dalam daun menjadi senyawa penting untuk pertumbuah dan produksi buah. Oleh karena itu, volume hasil, mutu buah dan umur produktif tanaman sangat bergantung pada pasokan nutrisi. Biaya yang dikeluakan untuk kegiatan pemupukan pada tanaman jeruk usia produktif cukup besar untuk memperoleh hasil yang memuaskan, biasanya sekitar 30% dari total biaya pengelolaan kebun. Dibandingkan dengan unsur lain, nitrogen (N), phosfor (P) dan kalium (K) merupakan nutrisi yang paling banyak dibutuhkan dan memberikan pengaruh paling nyata bagi tanaman. Dosis Pupuk Berdasarkan Hasil Panen Tanaman jeruk dalam masa hidupnya dapat dibagi menjadi dua periode yaitu saat tanaman belum menghasilkan buah (TBM) dan saat tanaman menghasilkan buah (TM). Pada TBM, dosis pupuk ditentukan berdasarkan hasil percobaan lapangan pada berbagai umur tanaman. Selanjutnya setelah memasuki periode TM, dosis pupuk bisa didekati melalui analisis tanah dan daun, gejala kahat hara pada daun yang kasat mata, atau hasil panen buah. Masing-masing pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangan, tetapi bagi sebagian besar petani Indonesia pendekatan kesatu, kedua dan ketiga memiliki banyak hambatan antara lain karena membutuhkan laboratorium, serta pengalaman menerjemahkan hasil analisis dan pengamatan gejala di lapangan. Pemupkan Berdasarkan Hasil Panen Pendekatan ini paling sederhana dan lebih realistis bagi kondisi petani yang jauh dari fasilitas laboratorium dan atau petani yang kepemilikan lahannya

11

relatif sempit dan terpencar. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapan metoda ini : Timbang dan catat setiap panen secara tepat dan disiplin. Lakukan pemupukan secara optimal selama masa TBM agar kesuburan tanah mencapai status tinggi. Lakukan analisis tanah pada awal memasuki masa TM bila memungkinkan, kemudian tingkatkan status ketersediaan unsur hara yang sedang atau rendah menjadi tinggi. Berikan bahan organik (pupuk kandang) pada tanah mineral secara teratur ( 40 kg/pohon/tahun) menjelang musim hujan untuk melengkapi kebutuhan unsur mikro dan memperbaiki kesuburan fisik tanah. Cara Mengitung Dosis Pupuk Nutrisi pupuk di dalam tanah mengalami beberapa proses antara lain difiksasi oleh tanah, terlindi menjauhi daerah perakaran (leaching), menguap ke atmosfer, diserap oleh tanaman, dan lain-lain. Banyaknya nitrogen fosfor dan kalium yang dibutuhkan untuk menggantikan kahilangan nutrisi dari kebun setahun agar tanaman dapat berproduksi optimal dihitung setara dengan 2 3% dari bobot buah yang diproduksi (panen). Meskipun jumlahnya dapat dianggap sama, komposisi unsurnya berbeda untuk masing-masing jenis jeruk sehingga komposisi pupuk harus disesuaikan (Tabel 1). Tabel 1. Komposisi Kandungan Nitrogen, Fosfor dan Kalium pada Buah Jeruk Jenis Komposisi Hara pada Buah N Siam 108 3 P2O5 7 3 K2O 2 10

12

1 Keprok Pamelo Contoh penghitungan dosis pupuk : Tanaman Urea jeruk N), Siam SP36

menghasilkan (36%

buah KCl

100

kg/pohon. K2O)

Dosis rekomendasi = 2% (10 N : 7 P2O5 : 2 K2O) dari bobot panen (45% P2O5), (60%

Dosis yang harus diberikan : Urea/ph SP36/ph KCl/ph : : : 100 100 100 kg kg kg x x x (0,02 (0,02 (0,02 x x x 10/19) 7/19) 2/19) x x x 100/45 100/36 100/60 = = = 2.340 2.050 350 g g g

** Keterangan : 50% dosis diaplikasikan setelah panen, sisanya 4 bulan kemudian Penempatan Pupuk Penempatan pupuk dapat dilakukan dengan cara disebar (broadcast), disamping tanaman (sideband), dalam larikan (in the row), lewat daun (foliar application), ditaburkan setelah tanaman tumbuh (top dressed atau side dressed), dimasukkan bersama biji yang ditanam (pop up), dan lewat irigasi (fertigation), tetapi bagi jeruk penempatan pupuk di suatu tempat/disamping tanaman merupakan anjuran untuk mengurangi kehilangan nutrisi pupuk dan kerusakan akar. Caranya : pupuk ditempatkan pada beberapa lubang sedalam 10 15 cm di bawah tajuk, kemudian ditutup lagi dengan tanah. II.II1. Penggunaan pestisida pestisida yang dapat digunakan yaitu pestisida yang terdaftar dan mendapat izin dari dinas pertanian, pestisida harus disimpan di tempat khusus

13

dengan wadah asli dan jauh dari jangkauan anak-anak, pestisida berbahaya jika diangkut bersama makanan atau bahan makanan, alat pelindung diri yang harus dipakai saat penyemprotan berupa sarung tangan, masker, pelindung mata, pelindung kepala, sepatu boot dan pakaian kerja, alat pelindung diri harus dipakai saat mencampur, menyemprot dan mencuci peralatan, pencampuran pestisida harus sesuai dengan anjuran yang ada pada kemasan pestisida, penakaran, pengeceran atau pencampuran pestisida harus dilakukan di ruang terbuka, waktu penyemprotan sebaiknya pagi jam 08.00-11.00 WIB atau sore jam 15.00-18.00 WIB, tanaman jeruk bisa keracunan pestisida,mtujuan penyemprotan adalah mengendalikan serangan hama, sisa pencampuran pestisida setelah penyemprotan sebaiknya dikubur dibawah tanah sedalam 40cm, setelah

penyemprotan harus mandi, penyemprotan tidak dapat dilakukan pada saat cuaca hujan dan matahari terik pakain sewaktu penyemprotan langsung dicuci selesai penyemprotan, pestisida dapat menyebabkan keracunan pada manusia, pestisida tertelan dapat menyebabkan keracunan, pestisida dapat menyebabkan keracunan lewat kulit, pestisida terkena mata dapat menyebabkan keracunan, pestisida dapat menyebabkan keracunan lewat pernafasan,

1. Pengadaan bibit jeruk bebas penyakit Pengadaan bibit ini mendapat pengawasan dari balai pengawasan dan sertifikasi benih (BPSB). Dalam rangka ini, pusat penelitian dan pengembangan hortikultura telah mengembangkan teknik sambung tunas pucuk (shoot tip grafting, STG) seperti di riau, jawa timur, sulawesi selatan, jawa barat dan bali. 2. Serangga vector Serangga penularan yang sangat dalam penyebaran CVPD adalah D. citri. Vector ini menularkan CVPD dipesemaian dan kebun serta terutama ditemukan pada tunas (titrawidjaja, 1984). Agar populasinya tidak bertambah, penggunaan pestisida dapat dipertimbangkan. Insektisida yang dapat mengendalikan populasi vector tersebut diantaranya dimethoate (perfekthion, roxion 40 EC, rogor 40 EC,

14

cygon) yang diaplikasikan pada daun atau disuntikan pada batang, dan edosulfan (dekasulfan 350 EC).aplikasi insektisida hendaknya dilakukan pada saat tanaman menjelang dan ketika bertunas. 3. Penggunaan antibiotika oksitetrasiklin Tanaman jeruk yang terkena CVPD dengan tingkat serangan ringan, masa produktivitasnya dapat diperpanjang dengan infusan oksitetrasiklin HCI konsentrasi 200 ppm. Penyembuhan yang terjadi hanya bersifat sementara sehingga cara ini harus diulangi.untuk memperoleh hasil optimim, tanaman yang telah diinfus harus dipupuk dan mendapat pengairan yang cukup (tjiptono, 1984 dalam hitagalung, 1989). 4. Eradikasi Produksi tanaman yang terserang CVPD adalah rendah, tanaman ini tidak menghasilkan buah. Tanaman sakit tersebut merupakan sumber inokulum bagi tanaman disekitarnya. Dengan demikian, tanaman sakit harus dimusnahkan melalui eradikasi. 5. Karantina Dalam rangka mencegah CVPD, telah dikeluarkan surat keputusan mentri pertanian nomor 129/kpts/um/3/1982 yang isinya melarang pengangkutan tanaman / bibit jeruk dari daerah endemic kedaerah bebas CVPD. 6. Pengairan dan pemupukan Gejala CVPD banyak terdapat didaerah kekurangan air dan daerah daerah yang belum biasa melakukan pemupukan jeruk. Idealnya tanaman jeruk tersebut diberi pemupukan berimbang antara pupuk makro dan pupuk mikro (tjiptono, 1984 dalam hutagalung,1989).

15

7. Pemetaan daerah serangan CVPD Data ini sangat penting untuk penyusunan program secara lengkap. Data yang diperlukan adalah jumlah daerah perbanyakan jeruk, jumlah tanaman yang terkena CVPD, intensitas/tingkat serangan, penyebaran penyakit, cara

pengendalian serta pengembangan pengendalian penyakit CVPD.

16

BAB.III.Sub-Sistem produksi Syarat tumbuh Kesesuaian Lahan

Elevasi Jeruk dapat tumbuh di dataran rendah (lahan basah) atau dataran tinggi pada elevasi 800 - 1500 meter dpl. Pada ketinggian di atas 900 m dpl, jeruk rasanya asam, namun jenis jeruk siam tertentu seperti jeruk tebas, tumbuh dengan baik di kalimantan pada elevasi 100 m dpl.

Kondisi Tanah Kebun jeruk tidak boleh tertutup oleh genangan air, oleh karena itu kebun jeruk untuk lahan basah perlu dibuat drainase. Untuk daerah pasang surut dibuat baluran (bedengan) dengan ukuran tinggi 0,5 meter dan lebar 3 meter dengan panjang menurut petakan lahan. Setiap 1 Ha lahan dengan sistem bedengan dapat ditanami jeruk sebanyak 278 pohon. Di areal sawah bisa ditanami jeruk dengan cara membuat gundukan seluas 1 m2 dengan tinggi 50 - 60 cm. pH tanah yang sesuai untuk pohon jeruk adalah 5 s.d 7,5.

Iklim dan Curah Daerah-daerah di dunia tempat tumbuhnya pohon jeruk adalah di daerah tropis dan subtropis, 35 derajat lintang selatan dan 35 derajat lintang utara. Curah hujan yang baik untuk menanam pohon jeruk adalah antara 1.270 mm - 1.900 mm per tahun. Kelembaban udara yang baik antara 70 - 80%, sedangkan jumlah penyinaran matahari yang disarankan antara 50 - 60%.

17

Sarana dan Prasarana

Prasarana yang diperlukan :


Jaringan Irigasi Embung (tempat-tempat penampungan air alami). Saluran drainase. Bangunan kebun. Jaringan jalan. Sumur Bor (untuk lahan dataran tinggi).

Sarana Produksi yang diperlukan :


Peralatan berkebun (seperti cangkul, kored, garpu, sekop, dsb). Pupuk (seperti Urea, TSP, KCL, pupuk daun, pupuk mikro, dan pupuk kandang).

Kapur pertanian. Pestisida, insektisida untuk penanggulangan serangan hama Fungisida untuk pengendalian fungsi fatogen Herbisida untuk pengendalian gulma dan sebagainya. Pompa air, seprayer, dan gunting stek.

Sarana Paska Panen yang diperlukan :


Sarana angkutan hasil dari kebun ke pasar Unit pengolahan hasil Unit penanganan jeruk buah segar (JBS).

Pengadaan Bibit Bibit tanaman jeruk diperoleh dari pembelian bibit di

penangkaran bibit yang telah mendapat sertifikat. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan buah jeruk yang bermutu tinggi.

18

Pembukaan Lahan Pembukaan lahan hutan sekunder/belukar dengan menggunakan chain saw dan peralatan lain dibantu dengan penggunaan herbisida.

Pengolahan Tanah Pengolahan tanah dilakukan sebagai persiapan tanam maupun sebagai pemeliharaan tanaman. Sebagai persiapan tanam,

pengolahan

lahan dilakukan sebagai usaha membersihkan tanah,

menghancurkan akar-akar lama dan membentuk permukaan tanah menurut berbagai pola yang dikehendaki seperti guludan dan saluran air. Selain itu juga dilakukan pengajiran untuk menentukan letak tanaman dan membuat lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm.

Sebagai pemeliharaan tanaman, pengolahan lahan/tanah dilakukan setiap kali setelah Tujuan panen sebelum pemangkasan tanah ini pengaturan untuk

pertumbuhan.

pengolahan

adalah

menggemburkan tanah dan sekaligus memberikan pupuk kandang dan pemupukan lainnya.

Penanaman

Jarak Tanaman Jarak tanam yang digunakan bervariasi dari satu lokasi ke lokasi yang lainnya. Untuk kebun jeruk di dataran rendah (lahan basah) jarak tanamnya relatif lebih jarang dibandingkan kebun jeruk di dataran tinggi, karena 40% dari lahan basah terpakai untuk keperluan pembuatan drainase dan pembuatan jalan.

Di Jawa biasa digunakan jarak tanam 7 x 7 meter atau 8 x 8 meter. Tetapi jarak tanam yang dianjurkan untuk pohon jeruk jenis keprok adalah 6 x 6 meter. Jarak tanam yang lebih besar umumnya

19

tidak memberi pengaruh terhadap tanaman kecuali rendahnya populasi tanaman per hektarnya.

Jika usaha perkebunan jeruk dirancang untuk periode 10 tahun maka cukup menggunakan jarak tanam yang pendek (misalnya 5 x 5 meter). Jika umur lebih dari 10 tahun produksi masih baik dan jika kebun masih dipertahankan sebaiknya dilakukan penjarangan dengan menebang pohon-pohon yang kurang produktif. Dengan jarak tanam 5 x 5 meter maka dalam 1 hektar akan terdapat 400 pohon. Sebelum penanaman, lubang tanam yang sudah dibuat diisi dengan pupuk kandang/kompos yang dicampur tanah lapisan atas.

Penanaman Cash Crop Tanaman jeruk baru menghasilkan setelah umur 3 - 4 tahun dan puncak produksi terjadi pada umur tahun ke 8-9. Oleh karena itu sebelum Tanaman Menghasilkan (TM), mka untuk optimalisasi pemanfaatan lahan dapat ditanami dengan cabe, padi gogo, kacang tanah, dan kedelai. Diperkirakan 0,5 luasan lahan dapat digunakan untuk tanaman Cash Crop tersebut.

Pemeliharaan

Penyiangan Penyiangan dimaksudkan agar pohon jeruk tumbuh tanpa

gangguan yang berarti baik gangguan gulma/peredu, benalu maupun tanaman liar lainnya. Pembersihan atau penyiangan paling tidak harus dilakukan dua kali dalam satu tahun, diantaranya satu kali bersamaan dengan pemupukan, lainnya menjelang panen. Dengan penyiangan yang baik diharapkan pupuk yang diberikan effektif bekerja untuk pohon jeruk tersebut.

20

Pemupukan Pupuk yang diperlukan secara teoritis adalah pupuk organik berupa pupuk kandang dan pupuk anorganik yang terdiri dari pupuk urea, TSP/SP36 dan KCL. Semua pupuk diberikan secara berimbang agar maksud dari pemupukan tercapai yakni mendorong

pertumbuhan tanaman, menjaga dari serangan hama dan penyakit dan menjaga tingkat kesuburan tanah.

Pemangkasan Untuk dapat dilakukan dengan menghasilkan pemberian pohon pupuk yang baik disamping juga harus dilakukan

pemangkasan yang baik. Pemangkasan sampai umur tanaman tiga tahun dimaksudkan untuk pembentukan cabang dan ranting yang baik, dengan cara menseleksi cabang dan ranting yang ada dan memilih yang sehat dan kuat. Setelah berumur tiga tahun lebih, kegiatan pemangkasan ini dilakukan pada setiap awal musim hujan.

Penjarangan Buah Jeruk jenis keprok siam cenderung berbuah lebat, kondisi tersebut tidak seluruhnya baik, karena buah yang terlalu lebat akan mempengaruhi hasil produksi akhir, disamping itu buah yang terlalu lebat juga akan mempengaruhi kondisi buah pada musim berikutnya.

Pohon jeruk yang umurnya di bawah 4 tahun, bila berbuah terlalu lebat akan sangat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas pohon jeruk pada masa selanjutnya. Oleh karena itu perlu ada penjarangan buah. Pada masa produksi awal (umur 3 tahun) sebaiknya buah hanya ditinggalkan pada cabang-cabang yang benar-benar kuat dan jumlahnya tidak terlalu banyak.

Buah yang baik adalah buah yang tumbuhnya normal, buah yang posisinya mudah terkena sinar matahari, oleh karena itu buah

21

yang

terdapat

pada

cabang

yang

terlindungi

perlu

dijarangkan/dibuang, agar tidak memboroskan energi/unsur hara yang diserap oleh pohon jeruk.

Penyangga Agar pohon jeruk tidak menerima beban terlalu berat dan rusak pada saat berbuah, maka sebaiknya pohon jeruk diberi tiang penyangga yang terbuat dari kayu atau bambu. Penyangga sebaiknya dibuat persegi empat sesuai dengan lingkaran dahan yang harus disangga. Artinya semakin besar pohon maka semakin besar pula penyangga yang diperlukan. Pembuatan penyangga ini tentunya memerlukan biaya, namun karena pembuatannya bisa dilakukan secara bertahap dapat dipenuhi dari bahan yang terdapat disekitar petani, tentu biaya yang diperhitungkan adalah biaya tenaga kerja saja. Namun bila bahan yang akan digunakan untuk penyangga harus dibeli tentunya ada tambahan biaya bahan penyangga.

Pengendalian Hama dan Penyakit Pohon jeruk termasuk tanaman yang rawan terhadap serangan hama dan penyakit. Ada banyak jenis hama yang suka menyerang pohon jeruk, mulai dari hama perusak daun dan ranting berupa tungau, ulat tanah yang menyerang akar atau ulat dan belalang yang dapat merusak buah atau kembang. Semua serangan hama dan penyakit dapat dielimenir dengan melakukan pengamatan yang terus menerus terhadap pohon jeruk atau dengan pencegahan dini dengan menggunakan fungisida dan insektisida. Secara umum, beberapa cara pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat dipadukan adalah :

22

Cara Budidaya, yang meliputi ketahanan varietas, penghancuran tanaman yang terserang dan menjadi sumber penyakit, tanaman pinggir yang berfungsi sebagai perangkap hama dan sekaligus menjadi tempat berkembangnya musuh alami, sanitasi, pengairan dan drainase yang baik dan pemupukan yang sesuai. Cara Biologis, dengan memanfaatkan musuh alami yang banyak dapat ditemukan di alam. Cara Mekanis, dengan menangkap, menghancurkan OPT secara mekanis. Cara Peraturan, yaitu dengan karantina dan peraturan tentang lalu lintas tanaman. Cara Kimiawi, cara ini pilihan terakhir dalam pengendalian OPT karena beresiko buruk terhadap keamanan manusia dan kelestarian lingkungan. hama dan penyakit tanaman jeruk ini merupakan hama dan penyakit tanaman jeruk 1. Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Penyebab :

Bakteri Liberobacter asiaticum. Nama Internasional : Huang Lung Bin Daerah penyebaran : Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Gejala Penyakit : Gejala luar Gejala khas CVPD adalah belang - belang kuning (blotching), mulai berkembang pada bagian ujung tanaman (pertumbuhan baru) pada daun yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas. Gejala ini sulit dibedakan dengan gejala kekurangan hara Zn. Tulang - tulang daun dan urat-urat daun tampak lebih menonjol dengan warna hijau gelap (kontras dengan warna lamina daun). Pengamatan gejala sebaiknya dilakukan pada permukaan atas dan bawah daun. Gejala belang - belang pada bagian atas sama dengan bagian bawah. Pada gejala lanjut daun menjadi lebih kaku dan lebih kecil, tulang daun menjadi berwarna kuning. Gejala ini sangat jelas pada jeruk manis, tetapi kurang jelas pada daun jeruk Mandarin.Infeksi pada tanaman muda ditandai dengan kuncup

23

yang berkembang lambat, pertumbuhannya menjulang ke atas, daun menebal, ukuran menjadi lebih kecil dengan gejala khas blotching, mottle, belang - belang kuning tidak teratur. Pada tanaman dewasa, gejala sering bervariasi. a. Gejala greening sektoral diawali dengan munculnya gejala blotching pada cabang - cabang tertentu, diiringi dengan pertumbuhan tunas air lebih banyak dari tanaman normal di luar musim pertunasan. Daun - daun pada cabang sakit mencuat ke atas seperti sikat. b. Pada gejala berat, daun bisa menguning seluruhnya (seperti defisiensi unsur N) dan terjadi pengerasan tulang daun primer dan sekunder yang dikenal dengan Vein Crocking, daun juga menjadi lebih kaku dan menebal. Gejala ini merupakan indikator adanya kerusakan lebih berat pada pembuluh angkut / pholem. c. Pada tanaman yang sudah berproduksi, menyebabkan ukuran buah menjadi lebih kecil - kecil hingga sebesar kelereng nilek dan bentuk tidak simetris (Lop sided). Kadang-kadang ditemukan buah red nose (warna orange pada pangkal buah, terutama di tempat - tempat yang terlindung dari sinar matahari. Buah jeruk yang terserang bijinya abortus, kehitaman dan rasanya asam. Gejala dalam Irisan tipis ibu tulang daun yang bergejala khas CVPD, terlihat jaringan floemnya tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis dalam floem berupa jalur - jalur putih. Bila diberi pewarna KI akan terlihat adanya akumulasi pati yang berlebihan dalam sel - sel tersebut Dalam menetapkan bahwa tanaman jeruk terserang CVPD harus hati hati. Di lapangan, baik petugas maupun petani masih mengalami kerancuan, karena gejala serangan penyakit ini mirip dengan gejala kekurangan unsur makro / mikro (Zn,Fe, Mn, Mg, dan lain - lain). Untuk mengetahui lebih lanjut, apakah tanaman jeruk terserang penyakit CVPD dapat diketahui dengan menggunakan : 1) Mikroskop Elektron, 2) Polymerase Chain Reaction - PCR (Spesifik primer), 3) Uji Serologi (metoda I

24

ELISA dan DIBA), 4) Hibridisasi DNA, 5) Uji penularan dengan penyambungan (okulasi mata tempel) dan serangga vektor, serta 5) Uji dengan tanaman indikator Madame vinous dan Vinca rosea. Morfologi dan daur penyakit : Belum ada laporan mengenai bentuk morfologi patogen. Patogen ini dapat ditularkan melalui bibit tanaman sakit dan vektor Diaphorina citri yang viruliverous(mengandung patogen penyebab penyakit yang dapat ditularkan). Penularan melalui alat - alat pertanian yang digunakan dalam pengolahan tanah maupun pemangkasan masih perlu dibuktikan. Vektor D. citri baru dapat menularkan CVPD ke tanaman sehat 168 380 jam setelah menghisap tanaman sakit. Gejala penyakit tampak pada tanaman kurang lebih 4,5 bulan setelah penularan penyakit. Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Tingkat populasi serangga penular, kecepatan angin, tingkat ketahanan varietas berpengaruh terhadap kecepatan penularan penyakit ini. Tanaman inang lain : Anggota Rutaceae seperti Poncirus tripoliata Raf., Kemuning (Murraya paniculata L.), Swinglea glutinosa Merr., Clausena indica, Atalantia missionis dan Triphasia aurantiola, tapak dara / Periwinkel (Vinca rosea L.), Maja (Aegle marmeles), dan Kawista (Limnocitrus lettoralis). Pengendalian : Penerapan PTKJSPeraturan: Melarang membawa / memasukkan benih jeruk dari daerah serangan ke daerah lain yang masih bebas penyakit CVPD (belum terserang). 2. Penyakit Tristeza (Quick Decline) Penyebab : Virus Tristeza jeruk (Citrus Tristeza Virus =CTV) dengan serangga penular Toxoptera citricida Krik. (Aphis citricidus Kirk., Aphis tavaresi

25

Del Garcio, Aphis citricola Van der Goot), T. auranti Fonsc., Aphis spiraecola Patch., Aphis gossypii Glou, Myzus persicae Sulz. Dan Ferrisia virgata Ckll. Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di Luar Negeri dilaporkan terdapat di Malaysia, Thailand, Philipina, Taiwan, Fiji, India, Australia, Selandia Baru. Hawaii, Israel, AfrikaSelatan dan Barat, serta Amerika Utara dan Selatan. Gejala : Gejala infeksi pada tanaman adalah kerusakan pada jaringan pembuluh tapis (floem), lekukan atau celah - celah pada jaringan kayu pada batang, cabang atau ranting dan gejala daun menguning. Pada varietas yang tahan seperti jeruk keprok gejalanya bisa tak tampak tetapi tetap merupakan sumber infeksi bagi varietas yang peka. Gejala khas penyakit virus ini adalah daun - daun tanaman yang berubah menjadi berwarna perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit. Biasanya terjadi pemucatan tulang daun (vein clearing) berupa garis - garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya 2 minggu sampai 2 bulan setelah tertular. Pertumbuhan tanaman menjadi terhambat / merana, kerdil, daun kaku dan berukuran lebih kecil dengan tepinya melengkung keatas. Bunga yang dihasilkan berlebihan, tetapi tdak dapat berkembang menjadi buah yang masak. Morfologi dan daur penyakit : Virus mempunyai zarah - zarah berbentuk batang yang lentur atau benang dengan ukuran 10 - 12 x 2.000 mm. Virus dapat menular secara mekanis melalui tanaman tali putri dan alat pada waktu melakukan perbanyakan dan pemangkasan. Penularan secara alami di lapang dapat terjadi dengan perantara kutu daun sebagai vektor yaitu : Toxoptera citricida Kirk., T. Aurantii Fonsc., Aphis citricidus Kirk., A. tavaresi Del Garcio, A. citricola Van der Goot, A. gossypii, A. spiraecola Patch., Ferrisia virgata Ckll. dan Myzus persicae Sulz. Kutu daun ini sudah dapat menularkan

26

virus jika mengisap tanaman sakit selama 5 detik dengan masa inkubasi 5 detik dan hanya dapat menularkan secara efektif bila 27 ekor kutu daun secara bersamasama menularkan pada tanaman sehat. Efektivitasnya hanya terjadi dalam waktu singkat. Faktor yang mempengaruhi penyakit : Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh varietas, suhu dan populasi serangga penular. Suhu antara 28 - 36 C selama 10 hari dapat menekan gejala pada daun. Tanaman inang lain : Belum diketahui Pengendalian : a. Kultur teknis - Penggunaan bibit sehat - Penggunaan mata tempel yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza - Eradikasi terhadap tanaman sakit dan tanaman inang serangga penular, kemudian dibakar. b. Kimiawi Pengendalian serangga penular dengan insektisida efektif. 3. Busuk Pangkal Batang (Brown rot Gummosis) Penyebab : Cendawan Phytophthora spp., diantaranya yang penting adalah a) P. nicotianae B. de Haan var parasitica (Dast). Waterh (dulu : P. parasitica Dast), b) P. citrophthora (R.E. Sm. & E.H. Sm.) Leonian, (dulu : Pythiacytic citrophthora R.E. Sm. Et E.H. Sm), dan c) P. palmivora (Butl). Di Indonesia spesies yang utama adalah P. nicotianae var. parasitica. Penyebaran :

27

Penyakit terdapat di Jawa, Sumatera, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Bali. Gejala : Penyakit ini umumnya menyerang pada bagian pangkal batang dekat permukaan tanah atau pada bagian sambungan antara batang atas dan bawah bibit jeruk okulasi. Gejala awal tampak berupa bercak basah yang berwarna gelap / hitam kebasah-basahan pada permukaan kulit pangkal batang. Jaringan kulit kayu yang terserang mengalami perubahan warna bahkan permukaan kulit, kambium, kayu, terutama pada serangan lanjut. Kulit batang yang terserang, permukaannya cekung dan mengeluarkan belendok, dan pada tanaman terserang sering terbentuk kalus. Kematian tanaman akibat serangan penyakit ini terjadi apabila bercak pada kulit melingkari batang. Perkembangan bercak ke bagian atas, umumnya terbatas hingga 60 cm di atas permukaan tanah, sedangkan perkembangan ke bagian bawah dapat meluas ke bagian akar tanaman. Morfologi dan daur penyakit : Cendawan P. nicotianae var parasiticia sporangiumnya berbentuk jorong sampai agak bulat, berbentuk buah pir, dengan sporangiofor lebih halus dari pada hifa. Spora mempunyai dua bulu cambuk (flagela), dan patogen dapat membentuk klamidospora bulat, berdinding agak tebal. P. citrophthora sporangiumnya berbentuk jorong atau berbentuk sitrun, dan terbentuk pada bagian tengah atau ujung sporangiofor. Sporangiofor bercabang tidak teratur. Spora mempunyai 2 bulu cambuk. Patogen juga dapat membentuk klamidospora. P. palmivora mempunyai sporangium jorong, dan dapat membentuk klamidospora. Cendawan P. palmivora dapat bertahan dalam tanah dan membentuk spora kembara. Cendawan ini disebarkan terutama oleh hujan dan air pengairan yang mengalir di atas permukaan tanah.

28

Penyakit busuk pangkal batang lebih banyak menyerang kebun dengan ketinggian lebih dari 400 m dpl, pada tanah - tanah yang basah, seperti tanah lempung berat yang dapat menahan air lebih lama. Patogen masuk lewat luka pada pangkal batang (penyebaran oleh oospora melalui luka alamiah, luka karena alat pertanian, atau luka oleh serangga). Infeksi terjadi terutama pada musim hujan dan dibantu oleh pH tanah agak asam (6,0 - 6,5). Infeksi patogen juga dibantu oleh kabut dan fluktuasi suhu yang kecil yang akan memperlambat penguapan. Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Penyakit ini lebih banyak menyerang pada ketinggian kebun lebih dari 400 m di atas permukaan laut dan mempunyai temperatur tanah cukup tinggi. Tingkat ketahanan varietas sangat berpengaruh terhadap tingkat serangan patogen ini. Jenis yang peka adalah jeruk manis, jeruk nipis, sitrun Italia, Japanese citroen (JC) dan Rough Lemon (RL) sangat rentan terhadap penyakit ini, sedangkan yang toleran adalah trifoliate orange, jeruk masam, Swingle Ctromelo, Citrange (Corrizo dan Troyer), Sukade, jeruk Keprok, jeruk Manis, Grape Fruit, jeruk besar, jeruk nipis, dan Lemon Tanah basah, adanya kabut, dan fluktuasi suhu yang kecil, pH tanah yang agak masam yaitu 6,0 - 6,5 merupakan kondisi yang cocok untuk perkembangan patogen. Tanaman inang lain : Kacang tanah, cabai, tapak dara, kenaf, ubi kayu, jarak, terung, sirsak, srikaya, aren, pepaya, kelapa, terung belanda, durian, karet, pala, sirih, lada, kakao, anggrek Vanda dan kemiri minyak. Pengendalian :

a. Kultur teknis - Menanam jeruk di atas gundukan - gundukan setingi 20 - 25 cm, tetapi tanaman jangan dibumbun agar batang atas tidak berhubungan dengan tanah.

29

- Menggunakan benih dengan mata tempel setinggi 35 - 50 cm dari permukaan tanah, untuk mengurangi kemungkinan batang atas yang rentan terinfeksi cendawan dari tanah. - Menghindari air pengairan mengenai / terkena langsung pangkal batang dengan membuat selokan melingkari batang. - Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur drainase, jarak tanam, pemangkasan, dan sanitasi lingkungan / kebun. - Menghindarkan terjadinya pelukaan terhadap baik akar maupun pangkal batang pada waktu pemeliharaan / penyiangan. - Pemupukan - Pengamatan pangkal batang jeruk secara teliti dan teratur, terutama pada musim hujan, agar gejala penyakit dapat diketahui secara dini.

- pH tanah diupayakan lebih dari 6,5, dengan pemberian dolomit (kapur pertanian),

b. Mekanis / fisis - Membongkar tanaman (termasuk akarnya) yang terserang berat, kemudian membakarnya. - Memotong / membuang bagian tanaman yang sakit, termasuk 1 - 3 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi fungisida. Untuk mempercepat pemulihan (regenerasi), sebaiknya bagian atas dan bekas luka potongan membentuk titik. - Menggunakan multiple foot stock (kaki ganda) dengan teknik aaneting / penyusuan (sambung samping) dengan batang bawah sehat 1 atau beberapa, tergantung besar tanaman yang akan ditolong untuk membantu fungsi akar dan pohon yang rusak.

30

c. Biologi Mengunakan agens antagonis cendawan Trichoderma spp., Gliocladium spp. yang dicampur dengan pupuk kandang / kompos. d. Genetika / Varietas Tahan - Menggunkan batang bawah yang tahan terhadap Phytophthora, seperti trifoliate orange atau jeruk masam. - Varietas tahan terhadap Phytophthora dan salinitas, yaitu Taiwanica dan Citromello 4475. e. Kimia - Melumasi pangkal batang dan akar - akar yang tampak dari luar dengan ter (Carbolineum plantarum 50 %) sampai setinggi 50 cm. Perlakuan tersebut dimulai tahun ketiga setelah penanaman dan setiap awal musim hujan (untuk Jawa September atau setiap 6 bulan. Agar batang yang berwarna hitam tidak banyak menyerap panas sehingga kulitnya rusak (untuk mencegah infeksi setelah diberi ter), maka bagian yang diberi ter ditutup dengan larutan kapur yang ditambah dengan garam dapur (25 kg kapur mati, 2 kg garam dapur, dan 25 - 35 liter air. - Mengoles luka (bekas tanaman yang terinfeksi yang dibuang) dengan bubur California, bubur Bordo (Lampiran 3), Carbolineum-parafin (8 : 92), Mankozeb, atau tembaga oksiklorida. Kemudian luka ditutup dengan obat penutup luka, seperti ter, setelah kulit mengalami regenerasi. - Membersihkan alat - alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).

4. Penyakit Kulit Diplodia (Bark rot / Diplodia Cummosis) Penyebab :

31

Cendawan Botryodiplodia theobromae Pat. (Oomycetes); yang dulu dikenal dengan nama Diplodia zae Lev.; Diplodia natalensis P.Evans. Penyebaran : Di Indonesia penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Di luar negeri penyakit terdapat di Amerika Serikat, Kuba, India, Malaysia, dan Thailand. Gejala : Pada jeruk dikenal dua macam Diplodia yaitu Diplodia basah dan Diplodia kering. Penyakit ini dapat menyerang akar, batang dan ranting dan dapat mengakibatkan busuk akar, busuk leher dan mati ranting. Serangan Diplodia basah mudah dikenal karena tanaman yang terserang mengeluarkan blendok yang berwarna kuning emas dari batang atau cabang cabang tanaman. Kulit tanaman yang terserang setelah beberapa lama dapat sembuh kembali, kulit yang terserang mengering dan mengelupas. Sering terjadi penyakit berkembang terus, sehingga pada kulit terjadi luka - luka yang tidak teratur, kadang-kadang terbatas pada jalur yang sempit, memanjang dan dapat juga berkembang melingkari batang atau cabang yang dapat menyebabkan kematian cabang atau tanaman. Cendawan berkembang di antara kulit dan kayu, dan merusak lapisan kambium tanaman. Kayu yang telah mati berwarna hijau sampai hitam. Serangan Diplodia kering umumnya lebih berbahaya karena gejala permulaan sukar diketahui. Kulit batang atau cabang tanaman yang terserang mengering, terdapat celah - celah kecil pada permukaan kulit, dan pada bagian kulit dan batang yang ada di bawahnya berwarna hitam kehijauan. Pada bagian celah - celah kulit terlihat adanya massa spora cendawan berwarna putih atau hitam. Perluasan kulit yang mengering sangat cepat dan bila sampai menggelang tanaman, menyebabkan daun-daun tanaman menguning dan kematian cabang atau pohon.

32

Morfologi dan daur penyakit Cendawan dapat membentuk piknidium yang tersebar, berwarna hitam, mula - mula tertutup dan kemudian pecah. Konidium berbentuk jorong, mempunyai 1 sekat, berwarna gelap, dan terutama disebarkan oleh air dan serangga. Penyakit diplodia banyak terdapat di dataran rendah dan tempat tempat dengan kelembaban tinggi Infeksi dan perkembangan penyakit terjadi pada awal musim hujan (antara bulan Oktober Nopember). Patogen masuk lewat luka: alamiah, alat - alat pertanian, retak karena beban buah terlalu berat. Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit Perkembangan dan tingkat serangan penyakit dipengaruhi oleh jenis dan umur tanaman. Jenis jeruk besar seperti jeruk Delima, Pandawangi, dan Bali peka terhadap Diplodia basah dan diplodia kering Bertambahnya umur tanaman pada jenis jeruk tertentu akan meningkat pula ketahannya tetapi pada jenis lain bisa menurun ketahanannya. Jeruk Pandanwangi peka pada umur 4 tahun, tetapi semakin tahan dengan bertambahnya umur tanaman, sedangkan jeruk Delima agak peka pada usia muda, tetapi makin peka dengan bertambahnya umur tanaman. Kekeringan yang terjadi secara tiba-tiba, pembuahan yang terlalu lebat, dan adanya pelukaan pada tanaman merupakan kondisi yang baik untuk perkembangan patogen. Tanaman inang lain : Cendawan ini bersifat polifag yang dapat menyerang beberapa macam jenis tanaman. Pengendalian : a. Kultur teknis - Sanitasi tanaman. Potong pohon / cabang / ranting yang terserang berat, buang kulit yang terinfeksi sedang dan bersihkan kulit yang terinfeksi ringan serta lingkungan dari gulma.

33

- Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur jarak tanam dan melakukan pemangkasan. - Penjarangan buah, agar keadaan tanaman tidak terlalu berat, sehingga cabang / ranting tidak luka / retak. - Menghindari pelukaan terhadap akar maupun batang pada waktu penyiangan.

- Perlakuan pembersihan dengan menggosok batang tanaman, agar batang semakin halus. - Pemupukan berimbang, terutama setelah panen. - Drainase. Menjaga agar pengairan tetap baik. b. Mekanis / fisis - Memotong / membuang bagian bagian kulit batang tanaman yang sakit, termasuk 1 - 2 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi dengan bahan penutup luka (karbolineum parafin, fungisida atau ter. - Mengumpulkan sisa - sisa tanamn dan memotong cabang - cabang yang terserang penyakit berat, kemudia dibakar. - Membongkar tanaman yang terserang berat dan dibakar. c. Biologi Mengunakan agens antagonis Trichoderma spp., Gliocladium spp., Pseudomonas fluorescens dan dilanjutkan dengan Bacillus subtilis yang telah dicampur dengan pupuk kandang/kompos, setelah kulit dikupas. d. Genetika / Varietas Tahan

34

Varietas tahan belum ada. Varietas yang agak tahan (agak toleran) adalah Pandanwangi (cikoneng), jeruk manis, dan jeruk grape fruit. e. Kimia - Mengoleskan bubur California atau fungisida yang efektif berbahan aktif metil tiofanat dan siprokonazol pada bagian kulit batang / ranting tanaman yang sakit setelah dibersihkan lebih dulu, dan untuk pencegahan di daerah kronis endemis. - Membersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).

5. Penyakit Antraknosa Penyebab : Cendawan Colletotrichum gloeosporioides Penz., dengan bentuk

sempurnanya adalah Glomerella cingulata. Cendawan penyebab lainnya adalah Gloeosporium limetticolum Clausen. Penyebaran : Penyakit ini dikenal di semua negara penanam jeruk. Di Indonesia penyaki ini tersebar di Jawa, Bali, Kalimantan Barat, dan NTB. Gejala : Ujung tunas menjadi coklat, bagian nekrotik hitam berkembang ke pangkal dan menyebabkan mati ujung. Pada cuaca lembab, timbul bintik - bintik hitam (terdiri dari aservulus) pada ranting. Pada tanaman besar patogen ini dapat mengakibatkan ranting mati dan bercak pada buah. Gejala mati ujung ranting dimulai dari daun-daun pada cabang atau ranting berwarna kuning, kemudian mati dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok. Gejala antraknosa pada buah adalah adanya bercak / bintik - bintik coklat kemerahan atau coklat hitam, berbentuk bulat pada permukaan kulit buah, lama lama menjadi cekung, mengeras dan kering.

35

Morfologi dan daur penyakit : Aservulus dangkal, seta bersekat 1 - 2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing. Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. Cuaca lembab dan panas merupakan kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya infeksi pada buah. Tanaman inang lain : Bawang - bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine), bisbul, kesemek, Dracaena sp

(ornamental), kelapa sawit, lokuat, kastuba, manggis, karat, pacar banyu, leci, kweni, pala, apokat, jambu biji, delima, kakao, dan anggrek Vanda. Pengendalian : a. Kultur teknis - Penggunan bibit yang bukan berasal dari cangkokan. - Menjaga agar tanaman pada kondisi optimum dengan memperbaiki kondisi tanah (drainase dan kesuburan tanah yang baik). - Sanitasi terhadap bagian atau sisa - sisa tanaman yang dapat menjadi sumber infeksi, kemudian dibakar. b. Kimiawi Penggunaan fungisida yang efektif sesuai dengan anjuran.

36

Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew) Penyebab : Cendawan Oidium tingitanium Carter, yang juga disebut Acrosporium tingitanium (carter) subr. Penyebaran : Penyakit ini menyebar di pertanaman jeruk di seluruh Indonesia. Di luar negeri terdapat di California, Brasilia, Panama, India, Sri Lanka, Filipina, Malaysia.

Gejala : Cendawan ini dapat menyerang daun dan ranting - ranting muda atau bagian tanaman yang masih tumbuh aktif. Permukaan daun atau ranting-ranting muda tertutupi oleh lapisan tepung berwarna putih. Tepung putih ini merupakan massa dari konidia cendawan. Jaringan di bawah lapisan tepung tersebut berwarna hijau tua kebasah - basahan. Serangan berat menyebabkan daun - daun menjadi mengeriting atau mengalami penyimpangan bentuk (malformasi), mengering, tetapi daun - daun tetap melekat pada ranting - ranting tanaman. Morfologi dan daur penyakit : Apresorium membulat, konidium berbentuk tong dengan ujung - ujung yang membulat, tidak berwarna, berbutir halus. Konidium membentuk rantai yang terdiri dari 4 - 8 konidium. Penyebarannya dipencarkan oleh angin. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit : Penyakit dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Serangan penyakit ini jarang terjadi di dataran rendah. Adanya tunas-tunas muda dan kelembaban tinggi merupakan kondisi yang baik bagi perkembangan patogen. Tanaman inang lain : Belum diketahui Pengendalian :

37

a.Kultur teknis Sanitasi terhadap tunas atau daun-daun terinfeksi yang tidak produktif. b.Kimiawi. Penyemprotan dengan serbuk belerang atau penggunaan fungisida yang efektif, bila dijumpai serangan. Bila menggunakan serbuk belerang, untuk tanaman jeruk dibutuhkan 20 - 30 kg tepung belerang per hektar. Penghembusan tepung belerang hendaknya dilakukan pagi hari, saat bunga dan daun masih basah oleh embun. Bila penghembusan dilakukan saat hari telah panas dapat menimbulkan luka bakar pada bunga dan daun.

6.

Jamur Upas

Penyebab : Cendawan Corticium salmonicolor B. & B. Penyebaran : Tersebar luas di daerah penanaman jeruk di Indonesia. Gejala : Batang, cabang, dan ranting terlihat dilapisi oleh benang-benang mengkilat seperti sarang laba-laba(stadium membenang. Cendawan berkembang terus, masuk ke dalam kulit dan menyebabkan kulit membusuk. Daun - daun menjadi gugur, ranting dan cabang yang terserang dapat mengalami kematian, terdapat bintil - bintil spora (stadium membintil). Pada stadium lanjut warna merah jambu berubah menjadi abu-abu dan lapisan miselium membentuk bercak - bercak tak beraturan atau seperti kerak (stadium nekator). Morfologi dan daur hidup Morfologi pertumbuhan patogen pada tanaman mengalami 4 stadia yakni stadium membenang, stadium membintil, stadium kortisium dan stadium nekator. Stadium membenang merupakan perkembangan awal patogen. Patogen masuk secara mekanis.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :

38

Cendawan / penyakit akan berkembang bila kelembaban dan cahaya yang mengenai bagian tanaman, kurang Tanaman inang lain : Karet, kakao, kopi, teh dan cengkeh. Pengendalian : a. Kultur teknis - Sanitasi dengan membuang bagian tanaman yang sakit. Pemotongan dilakukan pada bagian tanaman sehat, yaitu + 5 cm dari batas bagian tanaman yang sakit dan sehat. Luka yang terjadi ditutup dengan bahan penutup luka. Potongan bagian tanaman yang sakit dikumpulkan dan dibakar. - Menjaga kebersihan kebun dan mencegah terjadinya kelembaban yang tinggi. b. Kimiawi Melabur bagian tanaman sakit dengan fungisida yang efektif bila dijumpai serangan, harus diiringi dengan pengendalian kutu - kutu daun dengan insektisida yang efektif.

7.

Penyakit Kudis (Scab)

Penyebab : Cendawan Penyebaran : Penyakit kudis terdapat menyebar di pertanaman jeruk di indonesia. Di luar negeri penyakit ini dilaporkan terdapat di Jepang, Florida, Teluk Meksiko, Australia, dan Argentina. Gejala : Gejala kudis dapat terjadi pada daun, ranting dan buah. Pada tanaman yang rentan gejala kudis menyerupai bintil - bintil kecil agak menonjol berwarna kuning atau orange. Kemudian bintil - bintil ini berubah menjadi coklat kelabu, bersatu, keras dan bergabus membentuk kerak. Pada daun, gejala kudis terdapat pada bagian bawah permukaan daun dan kadang-kadang dapat dijumpai pada bagian atasnya. Daun yang terserang berkerut dan gugur. Buah - buah yang terserang terhambat pertumbuhannya dan sering mengalami malformasi. Sphaceloma fawcetti (Mc Alpin & Tyron) Jenkins

39

Morfologi dan daur penyakit : Aservulus cendawan ini dapat terpisah - pisah atau bersatu, dan agak bulat. Konidiofor berbentuk tabung, dengan ujung meruncing, warna hialin, kemudian menjadi agak keruh dan bersekat 1 berwarna gelap.

Patogen dapat bertahan pada daun, dan ranting tanaman yang terinfeksi. Spora cendawan dapat disebarkan oleh percikan air hujan, tetesan embun, angin, dan serangga. Daun dan buah yang masih muda sangat mudah terinfeksi patogen ini.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Keadaan cuaca, tingkat ketahanan varietas, terbentuknya buah dan tunas baru sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Pada umumnya penyakit tidak berkembang pada musim kemarau, tetapi pada musim hujan, suhu udara antara 15 - 23 C, dan tanaman sedang membentuk tunas dan buah baru, merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan patogen dan merupakan titik kritis terutama bila tanamannya rentan.

Tanaman inang lain : Belum diketahui Pengendalian : a. Kultur teknis - Penanaman varietas tahan - Mengusahakan agar buah dan tunas tanaman pada awal musim hujan sudah besar dimana pada kondisi demikian tanaman menjadi lebih tahan.

- Mengatur saat pembuahan dapat dilakukan dengan menentukan saat pengairan tanaman yang tepat pada jenis jeruk tertentu. Unuk jeruk keprok, usahakan terjadi pembuangan lebih awal dengan pemberian air pada tanaman (+ 8 bulan sebelum musim hujan), sehingga pada awal musim hujan buah sudah agak besar dan mempunyai ketahanan yang lebih tinggi terhadap penyakit. b. Mekanis / Fisis Serangan pada persemaian batang bawah dapat dicegah dengan penghembusan atau pemberian asap. c. Kimiawi

40

Penyakit ini dapat dikendalikan dengan penyemrpotan bubur Bordo 1,5 - 2 % atau disemprot dengan campuran Zink Zulfate Cooper Sulfate dan kapur tohor dengan perbandingan 3 : 2 : 6 dalam 100 bagian air (dua kali penyemprotan awal berbunga dan setelah persarian).

9. Kanker Penyebab : Bakteri Xanthomonas compestris pv. Citri (Hasse) Dye. Yang juga dikenal dengan nama Xanthomonas compestris (Hasse Dowson), Pseudomonas citri Hasse dan Phytomonas citri (Hasse) Bergex.

Penyebaran : Penyebaran ini terdapat diseluruh Indonesia. Di luar negeroi dilaporkan terdapat di India, Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Selandia Baru, dan Malaysia. Penyakit ini termasuk penyakit yang cukup merugikan banyak jenis jeruk.

Gejala : Pada daun dan buah terjadi luka yang timbul dari bercak berwarna hijau gelap, kebasah - basahan yang lalu mengering dengan bagian tengah terjadi pembentukan gabus berwarna coklat / kuning. Pada bagian tengah kulit tersebut terdapat celah - celah yang menyebabkan terjadinya lubang - lubang seperti kepundan. Daun dan buah yang sakit kadang - kadang mengalami salah bentuk (malformasi) dan ukuran buah menjadi kecil - kecil.

Morfologi dan daur penyakit : Bakteri berbentuk batang, membentuk rantai, berkapsul, tidak berspora dan bergerak dengan bulu cambuk polar. Patogen dapat bertahan pada bercak di daun, ranting, batang, atau tanah dan bertahan lebih lama pada jaringan kanker yang berkayu. Infeksi terjadi melalui stomata, lentisel, dan luka. Bakteri dapat tersebar melalui serangga.

41

Faktor - faktor yang mempengaruhi Penyakit : Perkembangan patogen dipengaruhi oleh jenis tanaman dan keadaan lingkungan. Adanya embun yang sangat tebal pada keadaan lembab, bakteri keluar dari luka. Jenis keprok tahan terhadap penyakit ini sedang jeruk Delima, Pandanwangi dan Bali sangat rentan. Suhu antara 20 - 35 0C sangat menguntungkan bagi patogen untuk menginfeksi tanaman.

Tanaman Inang Lain : Agle sp.,Atalantia sp., Feronia sp., Zoysia japonica (rumput). Pengendalian : a. Menggunakan kultivar yang tahan terhadap penyakit kanker.

b. Membersihkan alat - alat yang dipergunakan di pembibitan misalnya dengan alkohol 70% c. Pengendalian secara mekanis dengan memotong bagian tanaman yang terinfeksi penyakit. d. Bila infeksi berat, tanaman diearadikasi, kemudian dibakar.

e. Pada intensitas serangan hebat, dapat dilakukan pengendalian dengan menyemprot daun - daun muda dan buah dengan fungisida Copper (misalnya bubur Bordo, Copper oxychloride). Penyemprotan dilakukan tepat sebelum pohon membentuk tunas - tunas baru, pada musim hujan. Sebelum terdapat serangan berat.

10. Embun Jelaga (Scooty Mold) Penyebab : Cendawan Capnodium citri B. & Esm. Penyebaran : Terdapat pada setiap pertanaman jeruk, terutama bila dijumpai adanya kutu - kutu tanaman yang mengeluarkan embun madu yang mengandung zat gula. Gejala : Daun, ranting dan buah yang terserang dilapisi oleh lapisan tipis berwarna hitam. Pada musim kering lapisan ini dapat dikelupas memakai tangan atau terkelupas sendiri, dan mudah tersebar oleh angin. Buah yang tertutup oleh lapisan hitam ini, biasanya ukurannya lebih kecil dan mengalami kelambatan

42

dalam pematangan. Gejala ini banyak terjadi pada pohon jeruk yang dijumpai kutu - kutu tanaman yang dapat mengeluarkan embun madu. Marfologi dan daur penyakit : Miselium berwarna coklat dan melekat pada permukaan daun atau bagian tanaman lainnya. Faktor-faktor yang mempegaruhi penyakit : Adanya kutu tanaman yang dapat mengeluarkan sekresi embun madu seperti Aleurodicus sp., Pseudococcus sp., dan Coccus viridis merupakan medium yang baik perkembangan cendawan. Kelembaban yang tinggi juga dapat mendorong perkembangan cendawan. Tanaman Inang Lain : Cengkeh, jambu, dan kopi Pengendalian : a. Mengendalikan kutu-kutu tanaman antara lain dengan pertisida yang efektif b. Mengendalikan cendawan dengan fungisida yang efektif

11. Penyakit Ganggang Penyebab : Ganggang Cephaleuros virescens Kunse. Penyebaran : Semua pertanaman jeruk teruitama di daerah tropis Gejala : Bercak - bercak berbentuk bundar atau tidak beraturan pada daun - daun terserang. Bercak - bercak mempunyai tepi yng tidak jelas, permukaan bercak tertutup oleh sporangiofor. Bercak - bercak dapat berubah warnanya menjadi coklat kehijau - hijauan. Bila ranting terserang terlingkari, maka kulit ranting membengkak, membesar dan pecah - pecah. Pada serangan berat daun - daun berguguran. Pada buah akan tampak lapisan yang berwarna hijau gelap atau hitam yang agak tebal yang mengurangi kualitas buah. Namun lapisan ini biasanya terdapat pada buah - buah yang terlalu matang untuk dipasarkan.

Morfologi dan daur penyakit :

43

Ganggang ini tidak merupakan parasit asli. Pada beberapa jenis jeruk, ganggang nampak pada permukaan tanaman, menyebabkan gangguan pada lapisan kutikula, epidermis atau kulit luar

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Patogen ini berkembang baik dalam kondisi pertumbuhan tanaman lemah, drainase tanah kurang baik, sinar matahari langsung yang terik, kekurangan air, dan pemeliharaan tanaman yang kurang baik. Tanaman inang lain : Teh, cengkeh, dan kopi Pengendalian : a. Pemeliharaan tanaman yang baik, sehingga tanaman dapat tumbuh kuat (perbaikan drainase, penyiraman, pemupukan berimbang).

b. Penggunaan pestisida yang efektif bila dijumpai serangan.

12. Penyakit Buih atau Busa (Foam Disease) Penyebab : Penyebab penyakit belum diketahui. Namun kemungkinan disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang baik. Penyebaran : Kalimantan Barat Gejala : Busa berwarna putih seperti buih terlihat keluar dari batang atau pada bidang pertemuan antara percabangan. Busa ini biasanya berbau tidak enak atau seperti bau alkohol. Kulit pada bagian yang mengeluarkan busa busuk dan apabila dikelupas sering terlihat kumbang - kumbang kecil baik dewasa maupun larvanya. Biasanya luka pada kulit tidak menyebar tetapi sembuh secara alami dengan meninggalkan bekas luka diameter 1 3 cm.

Morfologi dan daur hidup : Penyebab penyakit belum diketahui dengan pasti. Kemungkinan busa yang terbentuk disebabkan oleh fermentasi gula pada cairan tanaman oleh bermacam -

44

macam cendawan atau yeast yang kemudian menarik kegiatan kumbang. Masuknya cendawan maupun yeast pada awalnya melalui alur sempit memanjang pada kulit yang diduga disebabkan oleh bekas rembesan atau aliran air yang terlalu berlebihan selama musim hujan. Penyakit dapat ditularkan oleh kumbang tanduk (Xylotrupes gideon), lalat dan serangga Caspophillus sp. Yang senang memakan atau mengisap bagian yang membusuk dan berbuih.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit : Penyakit ini sering terlihat pada kondisi sangat lembab, seperti umumnya daerah rawa yang airnya berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis batang bawah. Pada keadaan tertentu, luka bisa menyebar sampai melingkari cabang. Keadaan ini tidak berbahaya, kecuali bila timbul luka yang dapat digunakan sebagai jalan masuk Diplodia. Tanaman inang lain : Belum diketahui Pengendalian : a. Perbaikan drainase di sekitar kebun. b. Menjaga kesuburan tanaman dengan pemberian air dan pupuk yang berimbang. c. Bagian tanaman yang sakit dioles dengan campuran belerang atau belerang kapur.

13. Psorosis (Rimocorticus psorosis Fawc.) Holmes Penyebab : Virus atau Citrus Psorosis Virus (CPsV) Penyebaran : Jawa Timur, jawa Tengah, bali, Riau, kalimantan Barat. Penyebaran di negara lain adalah Florida, Laut Tengah, Afrika Selatan dimana banyak pohon yang tidak produktif akibat serangan penyakit ini. Gejala : Gejala awal adalah kematian pucuk atau ranting yang cepat yaitu 1 - 2 bulan setelah penularan. Pucuk dan ranting yang terbentuk setelah penularan mula - mula menguning daun-daunnya rontok, selanjutnya mengering. Gejala selanjutnya adalah garis - garis klorosis pada jaringan di sekitar tulang daun dan

45

bercak - bercak klorosis yang tepinya bergerigi atau zigzag yang simetris di sekitar tulang daun tengah, 2 - 4 bulan setelah penularan gejala dan terlihat jelas pada daun - daun muda dan pada daun yang sudah menjadi tua gejalanya menghilang. Pada varietas tertentu seperti jeruk manis menyebabkan

pengelupasan kulit pada batang dan cabang (Bark scalling) pada 6 - 12 tahun setelah tertulari.

Morfologi dan daur penyakit : Virus ini menular melalui mata tempel yang berasal dari tanaman terinfeksi. Penularan kemungkinan terbawa biji. Varietas yang sangat peka adalah jenis Sweet Lime, Tangelo, dan mandarin Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Penggunaan mata tempel yang berasal dari tanaman sakit dan penyebaran bibit ke lokasi lain akan membantu penyebaran dan perluasan serangan penyakit ini. Pengendalian : a. Menggunakan mata tempel yang sehat. b. Mengeradikasi / pemusnahan bibit yang terserang penyakit dan mencegah penyebaran dan pemasarannya. c. Sterilisasi alat - alat perbanyakan dengan alkohol 70 % atau klorok.

14. Exocortis (Scally Butt, Rangpur Lime Disease) Penyebab : Viroid atau Citrus Exocorris Virus(CEV). Penyebaran : Penyebaran Citrus Exocortis Viroid (CEV) di Indonesia belum banyak diketahui, tetapi telah ditemukan pada beberapa pertanaman jeruk di Kabupaten Malang (Jawa Timur) dan Bali. Di luar negeri penyakit ini dilaporkan terdapat di Australia.

Gejala : Tanaman kerdil, meranggas, layu, produksi menurun dan akhirnya mati. Kulit mengelupas di sekeliling batang bawah yang peka terhadap penyakit ini.

46

Viroid Exocortis dapat hadir dalam keadaan tanpa gejala di tanaman pembawa (carrier). Exorcotis tidak menunjukkan gejala pada jenis - jenis jeruk Sweet Orange, Grapefruit, Mandarin, Rough Lemon dan Sour Orange. Bila mata tempel yang terinfeksi dari tanaman yang tidak bergejala ditempelkan pada batang bawah yang peka maka, akan timbul tanaman yang berpenyakit Exocortis.

Morfologi dan daur hidup : Viroid berada pada tanaman sebagai asam nuklead bebas tanpa selubung protein. Tahan lama dalam jaringan - jaringan tanaman yang kering atau sebagai kontaminan pada permukaan bagian tanaman yang kering, dan tetap dapat menginfeksi tanaman. Penularan melalui penggunaan mata tempel yang telah terinfeksi penyakit dan kontaminasi melalui peralatan perbanyakan.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit : Viroid exorcotis tahan terhadap cara - cara pemanasan dan penggunaan bahan - bahan kimia. Tanaman inang lain : Belum diketahui Pengendalian: a. Gunakan mata tempel yang bebas exocortis. b. Hindarkan penggunaan peralatan yang terkontaminasi penyakit dalam perbanyakan atau penanaman. Peralatan dapat dibersihkan dengan natrium hipoklorit 1 - 2 % atau campuran formaldehid dan sodium hidroksida c. Penyebaran CEV di pembibitan dapat dihindari dengan memisahkan tanaman yang terinfeksi dengan tanaman yang sehat.

15. Cachexia Xyloporosis Penyebab: Viroid Cachexia Jeruk atau Citrus Cachexia Viroid (CCaV) Penyebaran: Belum diketahui Gejala: Sebagian besar jenis dan varietas jeruk dapat terinfeksi oleh CCaV, tetapi umumnya tidak menunjukkan gejala. Varietas jeruk yang sangat rentan terhadap

47

infeksi viroid ini adalah Tangelo Orlando dan Mandarin Parsos Special. Kedua varietas ini meruapkan tanaman indikator terbaik untuk pengujian CCaV. Gejala infeksi CCaV pada tanaman - tanaman indikator ini adalah terbentuknya bercak-bercak yang mengandung blendok (lendir kental berwarna coklat) pada jaringan kulit batang, minimum 1 tahun sejak terinfeksi. Pada permukaan dalam jaringan kulit terjadi tonjolan - tonjolan tumpul yang menyebabkan bagian kayu melekuk ke dalam. Gejala akan tampak lebih nyata pada kondisi suhu yang hangat (20-350C). tanaman jeruk yang terserang berat akan kerdil, daun - daun menguning, layu, mengering dan akhirnya mati. Morfologi dan daur hidup penyakit : Penyakit ini disebabkan oleh viroid yang informasinya belum banyak diketahui. Sifat viroid ini mirip dengan viroid exocortis yaitu mudah menular melalui penyambungan mata tempel dan secara mekanik melalui alat - alat pangkas. Viroid ini tidak menular melalui serangga ataupun biji. Tanaman inang lain : Belum diketahui. Pengendalian : a. Menggunakan bahan perbanyakan tanaman yang sehat.

b. Bibit yang diketahui terkena penyakit harus segera dibongkar dan dimusnahkan. c. Menjaga kebersihan peralatan dengan natrium hipoklorit 1 - 2 % (bahan aktif dalam larutan pencuci seperti clorox) dengan cara disemprotkan atau dicelupkan selama 10 detik. Bahan kimia ini sangat efektif dalam mematikan partikel partikel viroid yang menempel pada alat alat tersebut.

16. Puru Berkayu (Woody Gall) Penyebab : Virus puru berkayu jeruk atau Citrus Vein Enation Woody Gall Virus (CVEV) Penyebaran : Di Indonesia dilaporkan terdapat di Jawa Tengah dan jawa Barat. Di luar negeri tersebar di Amerika, Australia, Afrika Selatan, Fiji, Peru dan India.

48

Gejala : Pada tanaman jeruk nipis, infeksi CVEV menyebabkan munculnya tonjolan - tonjolan (enation) yang tersebar tidak beraturan pada tulang daun di permukaan bawah daun. Gejala ini mula - mula berukuran kecil dan mulai tampak pada daun - daun muda yang biasanya terjadi 2 - 3 bulan sejak penularan. Gejala tersebut semakin jelas bila daun menjadi tua. Pada tanaman terinfeksi, gejala tonjolan - tonjolan ini bisa terjadi pada sebagian atau seluruh daun. Selain pada jeruk nipis, gejala tersebut kadang-kadang dijumpai pada jeruk manis, Siem, Rough lemon (RL) dan Sour Orange, tetapi biasanya lebih ringan dibandingkan pada jeruk nipis. Pada tanaman jeruk yang disambung pada batang bawah RL, CVEV menyebabkan pembentukan puru - puru atau benjolan - benjolan (gall) pada daerah sambungan, sekitar 6 bulan sejak tertulari. Gejala ini mula-mula berukuran kecil berwarna hijau pucat, kemudian berkembang melebar dan membesar tak beraturan.

Morfologi dan daur penyakit : Penyakit ini disebabkan oleh virus yang belum banyak diketahui seluk beluknya. CVEV bersifat endemik di pertanaman jeruk. Virus dapat menular melalui penyambungan mata tempel dan di lapang melalui beberapa jenis kutu daun, yaitu T. citridus, A. gossypii dan M. persicae. Serangan CVEV hampir selalu bersamaan dengan virus Tristeza Tanaman inang lain : Belum diketahui Pengendalian : a. Pengendalian serangga vektor dengan insektisida. b. Pemilihan pohon induk yang bebas virus, yang menghasilkan barang atas yang sehat. c. Alat - alat yang dipakai dalam penempelan didisinfeksi dengan teratur. Pengelolaan Panen dan Paska Panen

49

Umur Panen Jeruk jenis siam dapat dipanen pada umur 6 - 8 bulan setelah bunganya mekar, dan pada saat panen, pohon jeruk jenis siam akan memiliki ciriciri fisik sbb : Kulit buahnya kekuning-kuningan (orange) Buahnya tidak terlalu keras jika dipegang Bagian bawah buahnya agak empuk dan bila dijentik dengan jari, bunyinya tidak nyaring lagi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada panen jeruk jenis siam : Waktu pemetikan hendaknya dilakukan pada saat matahari sudah bersinar, dan tidak terdapat lagi sisa embun (sekitar pukul 9 pagi sampai sore) Tangkai buah dikerat dengan gunting pangkas sekitar 1 - 2 cm dari buahnya, dan tangkai yang terlalu panjang dapat merusak buah lain ketika dimasukkan ke dalam keranjang. Tiap pemetik sebaiknya membawa keranjang atau kantong yang dapat digantungkan di leher sehingga buah jeruk tidak perlu dijatuhkan ke bawah karena buah jeruk bisa rusak; Untuk memetik buah pada cabang yang tinggi sebaiknya digunakan tangga. Dengan cara pemeliharaan yang baik, produksi jeruk bisa maksimal baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Umur produktif jeruk bila dipelihara dengan baik bisa mencapai 20 tahun untuk lahan dataran rendah dan umur 15 untuk dataran tinggi, sedangkan pemanenan buah jeruk yang baik, satu orang dapat memetik/memanen lebih kurang 50 - 75 kg per hari.

Sortasi dan Grading Buah jeruk yang baru datang dari kebun dibersihkan dari sisa obatobatan dan tanah yang menempel dengan cara dicuci dengan air sabun. Setelah dicuci harus dikeringkan dengan lap kering. Setelah kering

50

buah jeruk yang jelek, rusak, atau busuk dipisahkan dari buah yang berkualitas baik. Untuk kesesuaian harga dalam pemasarannya, jeruk

dikelompokkan atas kelas-kelas tertentu (grading) menjadi sbb : Kelas A : berdiameter rata-rata 7,6 cm, sekitar 6 buah per kg Kelas B : berdiameter 6,7, sekitar 8 buah per kg Kelas C : berdiameter 5,9 sekitar 10 buah per kg. Kelas D : berdiameter 5,8 cm, sekitar 12 - 14 buah per kg.

51

BAB.IV.Sub-Sistem Pengolahan Hasil


I. RENDEMEN

BAGIAN JERUK Daging Buah Masak Kulit Jeruk

PRODUK INDUSTRI Orange Juice Minyak Astiri : Sweet orange oil (Citrus sinensis) Lime oil (Citrus aurantifolia) Lemon oil (Citrus limon) Mandarin oil (Citrus reticulata) Tangerine oil (Citrus tangerina) Bitter orange oil (Citrus aurantium) Grapefruit oil (Citrus paradisi) Bergamot oil (Citrus bergamia) Yuzu oil (citrus junos)

RENDEMEN 88% 98%

0.3% 0.7% 0.2% - 0.35% 0.35% - 0.65% 0.3 0.7% 0.09 0.2% 0.15% - 0.33%. 0.06% - 0.085% 0.45% - 0.65% 0.09% - 0.12%

Daun Jeruk

Minyak Astiri : Kaffir lime oil (Citrus hystrix) 0.5% - 0.8%

Bunga Jeruk

Minyak Astiri : Neroli oil (Citrus aurantium) Petitgrain oil (Citrus aurantium) 0.07% - 0.12% 0.2% - 0.3%

52

2 pohon industri

53

BAB.V.Sub-Sistem Pemasaran Hasil

Impor Jeruk Sekalipun secara geografis jeruk terdapat di semua propinsi di Indonesia,

tetapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih harus impor buah jeruk. Kecendungan impor jeruk tersebut dapat diikuti dalam Gambar berikut :

Dari gambar di atas, dapat terlihat bahwa impor yang dimulai pada tahun 1990 terus meningkat sampai dengan tahun1994. Kemudian terus menurun sampai dengan tahun 1996. Menurunnya impor jeruk segar tersebut merupakan dampak dari kebijakan pemerintah dalam membatasi pembelanjaan devisa untuk impor buah-buahan

Produksi Dalam Negeri Permintaan terhadap buah jeruk di samping dapat dipenuhi dari jeruk

impor, juga dipenuhi dari produksi dalam negeri. Produksi jeruk secara nasional pada tahun 1995 sebesar 1.004.631 ton.

54

Produksi tertinggi dicapai oleh Sulawesi (33,17%), kemudian diikuti secara berturut-turut oleh Jawa (25,33%), Kalimantan (23,66%), Sumatra (15,31%) dan kepulauan lainnya sebesar 5,53 persen.

Pada tahun 1996 telah terjadi penurunan produksi secara nasional, menjadi sebesar 793.810 ton. Penurunan produksi tersebut diduga disebabkan karena iklim kemarau yang relatif panjang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kecenderungan Permintaan Dengan menggunakan besaran konsumsi perkapita sebesar 0.017 kg per

minggu pada tahun 1990 dan 0,050 kg per minggu pada tahun 1996, maka konsumsi jeruk penduduk Indonesia naik dari 3.047 ton pada tahun 1990 menjadi 9.917 ton pada tahun 1996. Peluang pasar domestik lebih menitik beratkan untuk keperluan konsumsi rumah tangga, supermarket, hotel dan restoran serta industri olahan. Untuk konsumsi rumah tangga dan restoran pada tahun 1996 mencapai 9.917 ton per minggu. Konsumsi ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Berdasarkan anjuran FAO, untuk memenuhi kebutuhan buah-buahan per kapita pertahun minimal 60 kg. Atas dasar anjuran FAO tersebut maka konsumsi buah-buahan di Indonesia masih sangat rendah yakni hanya 27,2 Kg perkapita per tahun.

Peluang Ekspor Indonesia berpotensi dan berpeluang untuk melakukan ekspor komoditas

buah-buahan tropis seperti buah mangga, nanas, manggis dan jeruk. Ekspor jeruk mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan di era tahun delapan puluhan. Pada tahun sembilan puluhan mengalami penurunan yang sangat drastis, penurunan ekspor tersebut sebagai akibat adanya penyakit CVPD yang menyerang sebagian besar tanaman jeruk di sentra-sentra produksi di Indonesia.

55

Penetapan Harga Harga jual jeruk ditetapkan berdasarkan pola kemitraan usaha yang closed

system, dimana petani peserta proyek/plasma diharuskan menjual hasil produksi jeruk kepada pihak inti (mitra) dengan harga yang disepakati melalui nota kesepakatan/perjanjian kerjasama dengan berpedoman pada harga pasar dan atau berpatokan pada biaya produksi ditambah keuntungan petani sebesar 10% dari biaya produksi. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar margin pasar yang dapat dinikmati oleh petani, yang selama ini hanya menikmati 22 - 29% dari harga yang dibayar oleh konsumen. Untuk jeruk hasil produksi di lahan basah (dataran rendah) harga jual ditingkat petani yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam aspek keuangan dibedakan atas 3 grade yaitu grade A Rp 2.100 per kg, grade B Rp 2.000 per kg dan grade C Rp 1.250 per kg.

Distribusi dan Pemasaran

Saluran distribusi buah jeruk yang dihasilkan dari perkebunan/budidaya rakyat adalah sebagai berikut :

56

BAB.VI.Sub-Sistem penunjang
Sub sistem ini memuat tentang lembaga-lembaga penunjang yang menyokong keberlangsungan 4 sub sistem yang telah disebutkan di atas, yaitu seperti lembaga keuangan(bank), koperasi petani, Badan Penelitian dan Pengembangan nasional, Departemen Pertanian, atau pun asosiasi-asosiasi yang bergerak khusus di bidang pertanian jeruk. Subsistem jasa layanan pendukung atau kelembagaan penunjang agribisnis adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan ketiga subsistem agribisnis yang lain. Lembagalembaga yang terlibat dalam kegiatan ini adalah penyuluhan, konsultan, keuangan, dan penelitian. Lembaga penyuluhan dan konsultan memberikan layanan informasi dan pembinaan teknik produksi, budidaya, dan manajemen. Lembaga keuangan seperti perbankan, modal ventura, dan asuransi memberikan layanan keuangan berupa pinjaman dan penanggungan risiko usaha (khusus asuransi). Lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh balai-balai penelitian atau perguruan tinggi memberikan layanan informasi teknologi produksi, budidaya, atau teknik manajemen mutakhir hasil penelitian dan pengembangan.

Berdasarkan pandangan bahwa agribisnis sebagai suatu sistem dapat terlihat dengan jelas bahwa subsistem-subsistem tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait satu dengan yang lain. Subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari subsistem usahatani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya pertanian. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan operasi subsistem usahatani bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hilir. Selanjutnya, proses produksi agribisnis hilir bergantung pada pasokan komoditas primer yang dihasilkan oleh subsistem usahatani. Subsistem jasa layanan pendukung, seperti telah dikemukakan, keberadaannya tergantung pada keberhasilan ketiga subsistem lainnya. Jika subsistem usahatani atau agribisnis hilir mengalami kegagalan, sementara sebagian modalnya merupakan pinjaman maka lembaga keuangan dan asuransi juga akan mengalami kerugian.

57

BAB.VII.Penutup
Kesimpulan Komoditi Jeruk adalah salah satu komoditi holtikultura Indonesia yang memiliki potensial besar dalam bisnis jika mampu dikembangkan dan diperhatikan dengan baik. Masih dibutuhkan kerjasama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jeruk dalam negeri agar dapat bersaing dengan komoditi serupa di kancah internasional. Saran 1). Perlu bantuan Pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana penunjang dalam rangka pembukaan lahan baru bagi petani yang berminat dibidang agribisnis jeruk Pontianak dengan skala usaha 2 hektar. 2). Perlu penelitian lebih lanjut tentang studi kelayakan untuk pembangunan pabrik pengolahan hasil jeruk untuk mengantisipasi produksi jeruk yang terus meningkat seiring dengan penambahan luas tanam dimasa yang akan datang.

58

DAFTAR PUSTAKA
Abuhaerah, 1987, Strategi Pengembangan Jeruk di Indonesia. Risalah Lokakarya Implementasi Rehabilitasi Jeruk, Malang 21-22 Agustus 1987. Sub Balithorti Tlekung dan UNDP/FAO Anonim. 2004a. Penelitian Pengkajian Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu Jeruk Siam. Disampaikan pada Rapat Evaluasi dan Perencanaan PTT Cabai dan Jeruk. Surabaya, 17 Juni 2004. 14 hal. Anonim. 2004b. Pengembangan Inovasi Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS). Disampaikan pada Rapat Evaluasi dan Perencanaan PTT Cabai dan Jeruk. Surabaya, 17 Juni 2004. 16 hal. Dimyati, A. 2003. Strategi penelitian dan pengkajian jeruk di Indonesia. Makalah disampaikan pada Lokakarya dan Kontes Buah Pamelo Nasional, Batu-Jawa Timur, 13 14 Mei 2002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sul-Sel. 2002. Data Luas Panen dan Produksi Buah-Buahan di Sul-Sel. Ekowarso, J. 1994. Peningkatan produksi hortikultura berwawasan lingkungan. Dalam Prosiding Rapat Kerja Penyusunan Prioritas dan Desain Penelitian Hortikultura. Solok, 17-19 Nopember 1994. Made Oka A., I. Manwan, S. Saenong, M.N. Noor dan Y. Makmun. 1994. Penelitian pengembangan: prosedur pelaksanaan dan evaluasi hasil penelitian. Disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Manajemen Sumberdaya Manusia di BLPP Wonocatur, Yogyakarta. Satuhu, S. 1997. Penanganan Mangga Segar untuk Ekspor. Penebar Swadaya, Jakarta.

59