Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya setiap orang memiliki kerinduan untuk berkeluarga, karena hal ini sesuaidengan Firman Tuhan. Kejadian 1:28 ..., lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah banyak;.... Jadi, jelas bahwa Allah menyetujui adanya pernikahan untuk membentuk keluarga. Keluarga merupakan hasil dari pernikahan antara seorang laki laki dan perempuan, secara hukum dan moral mereka keduanya terikat dalam perjanjian seumur hidup menjadi satu daging (Kejadian 2:24). Keluarga yang bahagia dibentuk melalui pernikahan kudus yangmerupakan harapan bagi semua orang. Setiap keluarga kiranya dapat menjadi berkat, karena itu merupakan tujuan Allah bagi setiap keluarga kristen. Keluarga atau rumah tangga merupakan komunitas kecil dalam masyarakat, yang memiliki peranan penting, karena keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk karakter setiap anggota keluarga. Anggota keluarga berhak mendapat ketenangan bathin, merasakan kepuasan yang dalam, mendapatkan perhatian serta kasih sayang dalam rumah tangga. Keluarga dapat mempengaruhi keberhasilan anggota keluarga baik dalam pendidikan, pekerjaan, karier, dan lain sebagainya.Keluarga juga mempunyai tugas utama yaitu mempersiapkan keturunan atau generasi penerus yang memiliki moral dan nilai nilai hidup yang baik, agar berguna bagi banyak orang terlebih kepada Tuhan. Rumah tangga atau keluarga memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, namun ada beberapa keluarga atau rumah tangga yang tidak harmonis akibat mereka tidak memahami tugas dan tanggung jawab mereka masing masing, begitu pula dengan keluarga kristen apabila mereka tidak dapat menjalankan tanggug jawab mereka dengan baik, maka timbul percekcokan dan kesalah paham sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Penulis memberanikan diri untuk menulis karya tulis ini dengan judul PENGAJARAN PAULUS TENTANG KELUARGA BAHAGIA PERSPEKTIF KITAB KOLOSE. Ini berdasarkan latar belakang masalah diatas,dan besar harapan penulis pembaca diberkati melalui tulisan ini bahkan mendapat pengetahuan bagaimana membina kehidupan keluarga kristen yang bahagia dan menyenangkan hati Tuhan. B. Penjelasan Judul Penulis akan menjelaskan pengertian dari judul karya tulis ini agar dapat memberikan gambaran yang lebih jelas. Adapun istilah judul tersebut adalah : 1. Pengajaran Paulus Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengajaran memiliki arti cara, mengajar atau mengajarkan[1]. Sedangkan Paulus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah memiliki arti Rasul dalamPerjanjian Baru[2] Jadi menurut penulis pengajaran Paulus berarti cara mengajar Rasul dalam PerjanjianBaru. 2. Keluarga Keluarga artinya anggota dari sebuah rumah tangga yang terdiri dari orang tua, anak anak, dan pelayan pelayan atau hamba hamba[3]. 3. Bahagia

Bahagia menurut Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan adalah kesejahtraan semua orang yang karena hubungan mereka dengan Kristus dan FirmanNyadan kehadiran Allah hari lepas hari. 4. Perspektif Kitab Kolose 4.1. Prespektif Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia kata perspektif mempunyai pengertian pandangan[4] 4.2. Kitab Kolose Kitab artinya buku, tulisan[5], sedangkan Kitab Kolose adalah surat Paulus yang ke tujuh dalam Perjanjian Baru[6]. Jadi, Pengajaran Paulus tentang Keluarga Bahagia Perspektif Kitab Kolose artinya cara mengajar Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru tentang anggota dalam sebuah rumah tangga yang memiliki kesejahteraan karena hubungan mereka dengan Kristus dan FirmanNya menurut pandangan kitab atau tulisan Kolose. C. Alasan Pemilihan Judul Penulis memilih judul ini untuk karya tulis telah dijelaskan dalam pendahuluan.Tetapi pada intinya, penulis terbeban melihat sebahagian keluarga kristen tidak harmonis, bahkan hancur karena mereka kurang mengerti tanggung jawab dan peranan masing masing dalam keluarga. D. Tujuan Penulisan Penulis memiliki tujuan dalam penulisan karya tulis ini supaya setiap orang khususnya umat kristiani dapat mengerti bagaimana cara mewujudkan keluarga (rumah tangga) yang bahagia. E. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diangkat oleh penulis adalah Bagaimana keluarga kristen yang bahagia serta faktor penunjang dan penghambat keluarga bahagia menurut kitab Kolose ?

F. Hipotesa Hipotesa adalah kesimpulan awal, sehingga menurut penulis kesimpulan sementara yang di dapat menurut kitab kolose keluarga yang bahagia adalah keluarga yang mengerti akan peranan masing masing sehingga tercipta keluarga yang harmonis. G. Batasan Masalah Penulis memberi batasan masalah hanya tentang kebahagiaan keluarga kristen dilihat dari kitab kolose untuk menghindari pelebaran masalah sehingga hasil dari karya tulis ini lebih terfokus dan maksimal. H. Metode Penulisan Metode Penulisan yang dipakai oleh penulis adalah metode kepustakaan atau literatur dengan mengumpulkan data data dari beberapa buku yang releven dengan judul yang dipilih oleh penulis. I. Sistematika penulisan Sistematika penulisan dalam karya tulis ini di bahas dalam empat bab, dua bab untuk isi, ditambah bab pendahuluan dan bab kesimpulan atau penutup. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut : Bab satu, Pendahuluan yaitu Latar Belakang Masalah, Penjelasan Judul, Alasan PemilihanJudul, Tujuan Penulisan, Rumusan Masalah, Hipotesa, Batasan Masalah, Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.

Bab kedua, Landasan teori yang terdiri dari deskripsi kitab Kolose yaitu Latar Belakang kitab Kolose,Penulis kitab, Alamat surat, Tempat dan tanggal penulisan, Maksud dan tujuan penulisan dan Ikhtisar penulisan. Bab ketiga, Pengajaran Paulus tentang keluarga bahagia perspektif kitab Kolose yang terdiri dari deskrispsi tentang keluarga menurut pandangan umum yaitu defenisi keluarga, maksud dan tujuan dari keluarga, dampak keluarga dalam iman kristen, Pengajaran Paulus tentang keluarga yang bahagia menurut kitab Kolose yaitu arti, dasar, hukum keluarga yang bahagia menurut kitab Kolose, faktor Penunjang keluarga bahagia, Faktor penghambat dalam terbentuknya keluarga yang bahagia, Langkah menyelesaikan konflik. Bab keempat, penutup yaitu kesimpulan, saran dan kepustakaan.

BAB II LANDASAN TEORI DESKRIPSI KITAB KOLOSE 1. Latar Belakang Kitab Kolose Kota Kolose terletak di pedalaman Asia di atas bukit-bukit karang berhadapan dengan lembah sungai Likus, tidak jauh dari kota Hierapolis dan Laodikia.. Kota Kolose terletak sekitar 160 km dari Efesus (Kol 4:13, 16), bersama dua kota lain yaitu Hierapolis dan Laodikia. Kedua kota ini lebih berkembang dari pada Kolose. Dalam ketiga kota tersebut telah terbentuk jemaat-jemaat Kristen (Kol 4:13). Kota Kolose terkenal karena wol hitamnya yang halus yang dihasilkan oleh para penggembala didaerah perbukitan di sekitarnya. Pada zaman Paulus, kota Kolose sudah jauh merosot meskipun masih merupakan sebuah kota yang cukup besar. Kota Kolose menjadi kawasan yang penting karena menjadi titik temu antara Timur dan Barat, karena dilalui satu jalur perdagangan penting untuk menuju kota Roma. Kota Kolose, Hierapolis dan Laodikia ini pernah mengalami pertumbuhan dan kemakmuran yang sama, tetapi perlahan-lahan posisi Kolose turun menjadi kota kedua atau kita menyebutnya kota kecil, akan tetapi jemaat di sana cukup berharga untuk mendapatkan perhatian Rasul Paulus. Penduduk Kolose terdiri atas orang-orang Frigia (Kol 1:27) yang memiliki latar belakang religius yang sangat bersifat emosional dan mistis. Mereka selalu berusaha mencari kepenuhan Tuhan dan bila ada guru-guru yang datang kepada mereka dengan suatu filsafat yang menjanjikan, suatu pengetahuan kebatinan tentang Tuhan, mereka akan terpikat olehnya. Di kota Kolose ini, dapat dikatakan bahwa segala macam filsafat bercampurbaur di kawasan cosmopolitan ini, dan para penjajah agama berkeliaran di mana-mana. Salah satu ajarannya adalah merendahkan diri dengan cara-cara bertapa atau bersemedi (Kol 2:18, 2021), ibadah kepada malaikat, yang dianggap sebagai perantara Allah dan manusia (Kol 2:18). Beberapa alasan Paulus untuk menulis surat pada jemaat kolose : a. Munculnya ajaran palsu yang mengancam masa depan rohani jemaat Kolose (Kol 2 : 8).

b. Epafras seorang pemimpin dalam gereja Kolose mengadakan perjalanan untuk mengunjungi Rasul Paulus dan sekaligus memberitahukan tentang situasi jemaat Kolose mengenai ajaran sesat yang tidak mengakui Keilahian Kristus sedang menyusup kedalam jemaat Kolose (Kol 1 : 8 ; 4 : 12). c. Besamaan dengan kabar buruk yang dibawa oleh Epafras juga menyampaikan kabar baik kepada Paulus tentang ketabahan, ketertiban dan kesetiaan jemaat Kolose kepada Paulus. d. Situasi jemaat di Kolose menjadi kesempatan Paulus untuk mengembalikan Onesimus kepada Filemon memberikan alasan bagi Paulus untuk menulis surat ini. Paulus mungkin melewati Kolose ketika menuju ke Efesus, tetapi dia tidak mengenal keadaan jemaat secara pribadi (Kol 2 : 1). Rekan sekerjanya Epafras yang melayani jemaat ini, mengunjungi Rasul Paulus dan melaporkan perkembangan orang orang percaya yang ada di Kolose dan juga melaporkan tentang munculnya sebuah ajaran sesat yang sedang merongrong jemaat. A. Penulis Kitab Penulis kitab Kolose adalah Paulus, hal ini dapat dilihat dari salam pembukaan dan dalam tubuh surat (Kol 1:23) serta dalam bagian terakhir (Kol 4:18). Kepribadian rasul Paulus terungkap dalam seantero surat ini. D. Guthrie, MTh, Ph.D, berkata, Surat Kolose termasuk dalam daftar tertua surat surat Paulus, juga dalam daftar yang disusun oleh Marcion, pemimpin ibadah itu. Namun itu kendati banyak bukti yang kuat masih saja banyak keberatan yang dilontarkan terhadap penulis ini.[7] Mereka yang berpendapat demikian terlebih dahulu menjelaskan sejumlah kisah mengenai Paulus yang ditemukan dalam surat ini. Karena itu ada orang yang mengajukan, bahwa kisah ini adalah penemuan penemuan kerajaan palsu yang digunakan seorang penulis untuk memberikan kesan bahwa seolah olah Pauluslah yang menulis surat ini. Aliran Tubingen menolak bahwa Paulus penulis surat ini dan surat surat lainnya, atas dasar dugaan bahwa didalamnya terdapat gagasan gagasan Gnostik dari abad ke 2[8] Alasan alasan macam itu kini tidak lagi dipandang serius, lebih serius ialah alasan alasan yang didasarkan atas perbendaharaan bahasa, gaya, dan ajaran surat ini dibandingkan surat surat Paulus yang lain. Tetapi ukuran untuk menilai gaya tulisan seseorang adalah tidak cukup untuk meragukan keaslian. H.J Holtmann dan C. Masson berkata, Melihat hubungan lebih rumit antara kedua surat itu,antara surat Kolose dan Filemon serta sifat surat ini sedemikianrupa sehingga surat Filemon dapat dikatakan tanda tangan Paulus bagi Kolose.[9] Berdasarkan kutipan diatas penulis berpendapat bahwa kedua surat menyebutkan ada sejumlah orang orang yang bekerja erat dengan Paulus. Onesimus seorang yang mempunyai peranan penting dalam surat Filemon disebut sebagai seorang diantaramu (Kol 4 : 9). Suatu kesimpulan ialah bahwa kedua surat tersebut ditulis dalam waktu yang sama. Tapi keaslian Filemon tidak tergoyahkan dan melengkapkan kemungkinan besar bahwa Surat Kolose adalah sama terpercaya. Dengan adanya beberapa alasan yang diatas membuat fakta yang aneh dan menakjubkan bahwa Paulus menulis surat yang mengandung ajaran gnostik maka ini suatu hal yang tidak mungkin. Dengan berbuat demikian ia mengekang suatu kecenderungan yang seandainya dibiarkan berkembang, pastilah akan menghancurkan kekeristenan Asia dan mungkin pula menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi bagi imam seluruh Gereja[10]. B. Alamat Surat Surat Kolose ditujukan kepada jemaat yang ada di Kolose (Kol 1 : 2), kota kecil yang tidak begitu penting didekat sungai Likus. Jemaat Kolose didirikan Paulus dengan perantaraan

Epafras, dan karena adanya ajaran sesat yang menyerang jemaat di Kolose sehingga mengharuskan Paulus untuk menulis surat ini kepada jemaat Kolose. Jarry Autrey berkat : Seandainya jemaat ini tidak pernah diserang oleh ajaran Gnostik yang sesat, kita takkan mempunyai surat Paulus kepada jemaat di Kolose dan mungkin tidak pernah mendengar tentang gereja ini.[11] C. Tempat Dan Tanggal Penulisan Paulus waktu itu berada dipenjara Roma ia sudah menuliskan sepucuk surat pada orang orang Kolose tentang Markus (Kol 4 : 10). Lalu Paulus mengirimkanya melalui Tikhikus dan juga Onesimus yang membawa surat untuk Filemon dan Efesus (Ef 6 : 21). Menurut Jarry Autrey bahwa : Surat kiriman Kolose ini ditulis dari Roma selama Paulus dipenjarakan di Roma untuk pertama kalinya, tahun 61 63 mungkin pada musim semi atau musim panas tahun 62[12]. Beberapa serjana teologia menyatakan bahwa surat Kolose ditulis Paulus pada saat ia berada dipenjara Kaisarea atau dipenjara Efesus. Kedua kemungkinan ini menimbulkan kesulitan serius, padahal tiada kesukaran yang dikemukakan terhadap Roma sebagai asal surat ini. Tidak ada tempat yang cocok selain Roma, yang dapat dituju oleh Onesimus pada waktu ia melarikan diri. Isi dan orang orang yang disebut dalam surat ini lebih cocok menunjuk kepada penawanan Paulus di Roma dari pada tempat lain manapun. D. Maksud Dan Tujuan Penulisan Mengingat sifat dari ajaran ajaran palsu, maka jelaslah mengapa Paulus memiliki semangat yang tinggi untuk memperingatkan jemaat Kolose tentang adanya bahaya itu. Dan hal ini merupakan bagian yang pertama dari sebahagian isi kitab Kolose. Pengajaran Paulus yang jelas sekali tentang sifat ajaran Kekeristenan tidak pernah lebih jelas daripada waktu ia bertemu dengan tekanan tekanan yang salah atau kekeliruan yang mencolok. Mungkin Paulus menulis surat ini karena permintaan Epafras, berhubung karena Epafras tidak mampu menghadapi situasai yang ada[13]. Bagaimanapun juga jawaban dari seorang rasul Kristen yang berwewenang seperti Paulus ini, akan sangat penting bagi jemaat Kolose. Maksud lain ialah memberikan sejumlah nasehat peraktis untuk memperkembangkan dalam jemaat itu suatu hidup Kristen yang sehat. Hal tersebut terdapat pada pasal 3 dan 4 dengan menempuh dua jalan. Pertama, diberikan prinsip prinsip umum, kedua diberikan contoh contoh istimewa yang memperlihatkan pengaruh atas hidup rumah tangga Kristen. Menurut Adinda Chapman, Epafras telah membawa berita kepada Paulus dalam penjara di Roma tentang ajaran ajaran bidat yang telah menyesatkan jemaat di Kolose, kemudian Paulus merasa terbeban untuk mengkoreksi kesesatan mereka[14]. Adapun maksud Paulus dalam surat Kolose ini adalah : 1. Untuk membimbing mereka yang telah disesatkan oleh ajaran ajaran bidat yang terdiri dari campuran agama Yahudi dan agama Kafir, yang khususnya daerah Timur. 2. Untuk memberantas ajaran palsu yang berbahaya di kota Kolose yang berusaha menggantikan keunggulan Kristus dan kedudukan Kristus sebagai inti dalam ciptaan, pernyataan, penebusan dan gereja. 3. Untuk menekankan sifat yang sebenarnya dari hidup baru didalam Kristus dan tuntutanya pada orang percaya. Paulus memiliki pendapat bahwa bagian ini penting untuk membentangkan pandangan tentang Kristus. Keutamaan Kristus dalam segala sesuatu adalah sentral dan bermacam macam segi keutamaan ini dapat dilihat dalam ucapan ucapan seperti : Kristus adalah gambar Allah (1 :15), kepenuhan Allah (1 :19), pencipta (1 : 16), dan kepala gereja (1 : 18). Maksud Paulus bukanlah melulu untuk memberikan pandangan yang mulia tentang oknum Kristus saja, tetapi juga tentang karya-Nya, karena Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan[15].

Bersamaan dengan keadaan jemaat Kolose tersebut juga memberikan kesempatan pada Paulus untuk mengembalikan Onesimus kepada Filemon. Karena Tikhikus dan Onesimus akan pergi ke Kolose, maka Paulus juga mengirimkan dengan mereka surat kepada jemaat di Efesus dan kepada Filemon. 1. Ikhtisar Penulisan 2.1. Alamat surat (1:1-2). 2.2. Ucapan Syukur bagi iman dan kasih orang Kristen Kolose, dan bagi buah pemberitaan Injil diantara mereka (1:3-8). 2.3. Doa bagi pertumbuhan mereka dalam pengertian, dan karenanya juga dalam perbuatan perbuatan baik (1:9-12). 2.4. kemuliaan dan kebesaran Kristus, gambar Allah, di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu, Dialah Kepala Gereja, yang karena salib-Nya mendamaikan segala sesuatu dengan Dia sendiri (1:13-23). 2.5. Pekerjaan dan penderitaan Paulus dalam usahanya memperkenalkan rahasia Kristus, dan dalam usahanya menampilkan setiap orang tak bercela didalam Kristus (1:24-2:3). 2.6. Peringatan khusus terhadap ajaran Paulus, dan jawaban sang rasul terhadapnya (2:4-3:4). 2.7. Dosa dosa dari hidup lama yang harus dibuang, dan kebajikan kebajikan hidup baru yang harus dikenakan bersama Kristus (3:5-17). 2.8. Perintah perintah mengenai tingkah laku, kepada istri atau suami, anak anak dan orang tua, pelayan dan tuan (3:18-4:1). 2.9. Desakan kepada doa dan hikmat berbicara (4:2-6). 2.10. Amanat amanat pribadi (4:7018).

BAB III PENGAJARAN PAULUS TENTANG KELUARGA BAHAGIA PERSPEKTIF KITAB KOLOSE A. Deskripsi Tentang Keluarga Menurut pandangan Umum 1. Defenisi Keluarga Keluarga berasal dari kata sansekerta yaitu: kula dan waga kulawarga yang berarti anggota kelompok kerabat. Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu.[16]

Menutut Salvicion dan Ara celis Kelurga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan dalam peranannya masing masing dan menciptakan serta mempertahankan satu kebudayaan.[17] Dari pengertian keluarga di atas penulis menyimpulkan defenisi kelurga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih dan adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah hidup dalam satu rumah tangga,dibawah asuhan seseorang ketua rumah tangga dan berinteraksi antara sesama anggota keluarga mempunyai peranan dan tanggungjawab masing masing diciptakan untuk mempertahankan suatu kebudayaan. Selain beberapa defenisi keluarga diatas menurut umum, dalam kamus Alkitab juga memberikan pengertian dari keluarga yaitu : Konsep modern keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu yang dipersatukan seumur hidup dalam pernikahan monogami, merupakan sesuatu yang asing dalam Perjanjian Lama. Keluarga orang kebanyakan. Merupakan unit ekonomi yang menopang dirinya sendiri. Makanan disimpan dirumah, ternak ternak pun ditempatkan disana. Kekuasaan ayah bersifat mutlak, dan anak anak tetap berada dibawah kekuasaannya, paling tidak hingga mereka menikah.[18] Dalam terbentuknya keluarga ini maka penulis akan memberikan penjelasan mengapa bisa terbentuknya keluarga dan apa dasarnya. Secara umum terbentuknya satu keluarga bertitik tolak dari keluarga pertama yang diciptakan oleh Allah di Taman Eden. Allah melihat bahwa tidak baik kalau manusia itu hanya seorang diri saja maka perlu adanya orang yang sepadan untuk menjadi penolong baginya. Billy Graham mengatakan Ini merupakan lukisan pertama mengenai keluarga. Hal saling bergantung antara dua orang yang pertama tama dijadikan Allah, harus merupakan semen yang menyatukan mereka yang akan membentuk keluarga.[19] Sementara itu sebuah keluarga harus berdasarkan pada kasih Kristus. Menurut Billy Graham, Tetapi saya berani mengatakan bahwa kesempurnaan pernikahan tidak akan terwujud di luar kehidupan didalam Kristus perusak keluarga ideal hanya dapat dikalahkan oleh kuasa Kristus.[20] Dalam hal ini penulis bependapat bahwa keluarga juga merupakan suatu lembaga yang didirikan oleh Allah sendiri. Dan Allah mengingikan didalam sebuah keluarga itu ada saling kerjasama yang baik, bergantung satu dengan yang lain, dan hidup dalam satu kesatuan yang berdasarkan kasih. Penulis dalam hal ini juga memberikan penjelasan mengenai pernikahan, sebelum masuk dalam keluarga maka pasti didahulu dengan pernikahan terlebih dulu. Pernikaha memiliki makna atau pengertian yang luas, pernikahan adalah sebuah hadiah kesempatan untuk belajar tenteng cinta, perjalanan yang harus kita lalui dengan berbagai pilihan dan konsekuensi dan mencakup keintiman disegala bidang yang harus terus dibina.[21] Sedangkan menurut penulis pengertian dari pernikahan itu adalah suatu persekutuan hidup antara dua orang yang pada satu pihak berbeda yaitu pria dan wanita, tetapi dalam pihak lain sama yaitu sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Setelah adanya pernikahan maka terbentuklah sebuah keluarga. Dalam setiap pekerjaan sebelum dimulai untuk dikerjakan maka harus diketahui dahulu langkah langkah yang harus dipersiapkan. Demikian halnya juga untuk membangun sebuah keluarga, sebelum melaksanakan segala sesuatunya, suami istri harus memiliki dasar dasar untuk mencapai sebuah keluarga yang bahagia. Berikut ini ada beberapa dasar untuk mencapai rumah tangga bahagia : a. Cinta Kasih Cinta kasih memegang peranan penting dalam mencapai keluarga yang bahagia. Sebelum penulis menjelaskan pentingnya cinta kasih dalam satu keluarga, penulis akan

memberikan arti dari pada cinta terlebih dahulu. Cinta dapat diartikan sebagai suatu perasaan yang ingin dibagi terhadap orang orang yang kita sayangi. Menurut Merlin Diana cinta adalah sesuatu yang ingin dilakukan terhadap sesama baik itu seperti pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh seseorang yang disukai.[22] Cinta merupakan perasaan yang tulus dan murni, cinta tidak dapat dipaksakan dan cinta tidak membuat seseorang berbuat kejahatan, tetapi rasa cinta itu kembali ke diri seseorang itu sendiri, bagaimana seseorang itu dapat menahan dan mengontrol rasa cinta itu sendiri. Cinta memiliki peranan penting dalam kehidupan, termasuk dalam keluarga. Dalam keluarga, rasa cinta kasih harus selalu diperhatikan baik antara suami istri maupun antara orang tua kepada anak- anak, dan sebaliknya juga cinta kasih dari anak- anak kepada orang tua dan kepada saudara saudara. Kita dapat bayangkan bahwa dengan adanya cinta kasih maka betapa harmonisnya suatu keluarga itu dan akan berartinya makna dari sebuah keluarga itu sendiri. Jadi cinta kasih sangat dibutuhkan dalam membangun keluarga Kristen. Alkitab berkata bahwa cinta kasih seorang suami kepada istrinya seharusnya sama dengan kasihnya kepada dirinya sendiri. Allah memerintahkan suami untuk mengasihi istrinya dengan penuh pengorbanan. Sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya bagiNya.(Efesus 5:25). b. Persekutuan Tim La Haye mengataka: Persekutuan dalam keluarga sangat penting sebab tanpa persekutuan suami istri akan menemui hambatan hambatan dalam memecahkan masalah masalah yang harus mereka hadapi dalam keuarga. Tuhan menghendaki supaya yang dua itu menjadi satu. Satu didalam kasih kepada Tuhan, satu didalam kepatuhan, satu didalam memikul beban keluarga.[23] Penulis memberikan penjelasan bahwa kebahagiaan pernikahan menghayati berkat keluarga, dan juga didalamnya menunjukkan perhatian kepada pekerjaan masing masing, serta satu didalam pengabdian kepada Tuhan dan rencanaNya. Dalam Kolose 3, menyatakan bahwa hubungan suami istri dalam suatu keluarga mencerminkan persekutuan antara Tuhan dan umatNya yang adalah hal utama. Hal inilah yang menentukan pola hidup dalam sebuah keluarga yang tidak dapat secara intelektual, melainkan hanya dapat dipahami oleh mereka yang hidup dalam persekutuan kasih itu. DR. J. Verkuyl memberikan pendapatnya tentang persekutuan suami istri sebagai berikut : Tetapi menurut kehendak Tuhan, haruslah pernikahan itu suatu kesatuan, suatu persekutuan sejati. Suatu persekutuan percakapan yang berlangsung terus sampai meninggal dunia. Suatu persekutuan yang seperti dikatakan orang tidur sebantal makan sehidangan. Suatu persekutuan kelamin, suatu persekutuan seharta semilik. Suatu persekutuan kerja antara dua orang yang tolong menolong di dalam pekerjaan mereka yang berlainan. Suatu persekutuan agama antara dua orang berdoa bersama sama, membaca Firman Tuhan bersama sama memuji dan bersyukur kepada Tuhan bersama sama.[24] Jadi sifat dari persekutuan sepasang suami istri sangatlah penting sekali dan sifatnya adalah kekal untuk selama lamanya. c. Memenuhi kewajiban Untuk membentuk satu keluarga yang bahagia maka diperlukan tangugjawab dari masing masing pihak dalam menjalankan peran dalam keluarga. Ada banyak orang ingin menikah dan membentuk suatu keluarga bahagia, tetapi setelah mereka memasuki hidup dalam berkeluarga suami atau istri gagal untuk memenuhi kewajibanya sebagaiman mestinya.

Sebelum Allah memberikan perintah dan peraturan kepada suami istri, Ia member suatu perinsip dasar yaitu saling merendahkan diri satu dengan yang lain di dalam takut akan Tuhan. Suami sebagaimana kepala keluarga yang kewajiban utama adalah member nafkah kepada istri dan anak anaknya, karna itu istri sepenuhnya bergantung kepada suami. Dan bukan soal lahiriah saja suami dituntut tetapi juga dalam kebutuhan batin, sesuai dengan Firma Allah. Istri mempunyai kewajiban memperhatikan suami dan anak anak serta mengurus rumah tangga. 2. Maksud Dan Tujuan Dari Keluarga Tuhan menciptakan manusia sepasang pria dan wanita (Kej 2: 21-25). Mereka diciptakan dalam pribadi yang berbeda tetapi memiliki satu kesatuan. Artinya, satu manusia namun dalam dua jenis kelamin yang berbeda. Manusia pria dan wanita sama dan sehakekat. Dan tujuan utama pembentukan sebuah keluarga bukanlah perkara pemenuhan biologis semata melainkan lebih jauh bahwa pasangan suami istri harus menyadari bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan. Tuhan memberikan berahi kepada manusia, sehingga seorang pria akan menginginkan seorang wanita dan sebaliknya. Namun berahi itu suci yang digambarkan dengan kalimat sekalipun mereka telanjang namun mereka tidak merasa malu (Kej 2:25). Jadi berahi diberi Tuhan bukan untuk diumbar, birahi yang suci itu diberi untuk memelihara persekutuan suci antara pria dan wanita. Tuhan memberikan potensi yang luar biasa dalam kesadaran diri sebagai seorang pria dan wanita sehingga punya rasa suka yang membuat mereka bertemu dan mengikat diri. Stephen Tong menulis Dalam kehendak Allah yang kekal Dia mau membentuk keluarga dimana komunitas yang kecil ini merepleksikan dan menjadi wakil dari komunitas yang ada dalam pribadi Allah tritunggal itu sendiri.[25] Sebagai keluarga Kristen seharusnya mempunyai tujuan tujuan yang baik, dan tujuan itu harus ada perbedaan dengan keluarga yang bukan Kristen. Menurut Pdt. Yakub B. Susabda Ph . D maksud dan tujuan dari berkeluarga yang alami dan praktis dijalani oleh orang bukan Kristen termasuk umat Kristiani yaitu: Dimana orang bertemu saling mencintai, membuat tekat bersama, meresmikan ikatan mereka, hidup bersama, bekerja mengumpulkan uang dan harta benda (untuk dinikmati bersama sampai hari tua), melahirkan anak anak, mendidik, membesarkan, dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang mandiri dan bahagia.[26] Jadi menurut penulis bahwa tujuan berkeluarga bagi orang yang bukan Kristen itu berdasarkan perasaan mereka sendiri, sehingga banyak terjadi kekacauan dalam keluarga tersebut. Akan tetapi berbeda dengan keluarga Kristiani menentukan tujuan mereka berdasarka Alkitab. Dimana Tuhan menjadikan keluarga supaya manusia menyatu dalam keperbedaaan. Dan justru keperbedaan yang mampu membuat mereka dapat mendemonstrasikan kemampuan saling mengasihi. Keluarga menjadi satu wadah cinta kasih yang sangat luar biasa. Keluarga menjadi suatu bangunan yang sangat damai, dan model betapa indahnya hubungan antarmanusia. Keluarga yang menjadi cikal bakal dari sebuah masyarakat yang sehat: saling mengasihi, menyatu dan mampu mengekspresikan kasih Tuhan.

[1] Poerwadarminta,Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta:Pn Balai Pustaka


1976), hlm. 22

[2] W. R. F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2010), hlm. 309

[3] H. W. Fowler dan F. G. Fowler, Oxford Dictionary of courrent English, hlm. 724. [4] J.S. Badudu, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1996),hlm. 1325 [5] Ibid., hlm. 700 [6] W.R.F.Browning, op. Cit. hlm.922 [7] D. Guthrie. M.Th, Ph.D, et.al.,Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 (Jakarta : Yayasan Komunukasi Bina Kasih,2007), hlm 634 [8] J.D Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih.2005), hlm 570 [9] Ibid. hlm 570 [10] William Barcelay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari (Jakarta:PT BPK Gunung Mulia 1983), hlm 156 [11] Jarry Autrey, Surat Kiriman Penjara (Malang : Gandum Mas ), hlm 155 [12] Ibid., hlm 154 [13] D. Guthrie,M. Th., Op. Cit., hlm 637 [14] Adinda Chapman, Perjanjian Baru, Kalam Hidup(Bandung: Gandum Mas), hlm 100. [15] D. Guthrie, M.Th., Op Cit., hlm 637. [16] http://www keluargabahagia2u.blogspot.com>12.30pm>090312 [17] http://www defenisi keluarga bahagia.com>22.00pm>280212 [18] W.R.F. Browning,Kamus Alkitab(Jakarta:BPK Gunung Mulia,2007),hlm 188. [19] Billy Graham,Keluarga Yang Berpusatkan Kristus(Bandung: Kalam Hidup,1996),hlm18 [20] Ibid., hlm. 20 [21] H. Norman Wright, So youRegetting Married,(Yogyakarta:Gloria Graffa, 2008), him 8

[22] http://merlin14.blogspot.com pentingnya-cinta-kasih-dalam-keluarga.html>15.30>110312.


[23] Tim La Haye, Kebahagiaan Pernikahan Kristen(Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1998), hlm 114. [24] DR.J. Verkuyl, Etika Kristen Sexuil(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989),hlm 65. [25] Stephen Tong, Keluarga Bahagia(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), hlm 12 [26] http://Pdt. Yakub B Susabda. Ph. D, Konseling Kristen html>13.15>250312