Anda di halaman 1dari 26

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN DENGAN TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI RT VIII KEL. SOREANG KEC.

C.LAU KABUPATEN MAROS TGL 22 MARET 10 APRIL 2010 A. PENGKAJIAN KELUARGA 1. Biodata Nama KK Umur Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Pengasilan Nikah/lamanya Alamat : Tn : tahun : Bugis : Islam : SD : Petani : Rp.400.000-/bulan : 1x / 4 tahun : Makkida, Soreang

2. Daftar Anggota Keluarga 1. Sifat keluarga 1) Tipe keluarga merupakan keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, 2 orang anak dan saudara/ipar.

2) Pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami yang paling dominan. 3) Hubungan antar anggota keluarga cukup harmonis. 4) Cara mengatasi masalah bila ada perselisihan dalam keluarga adalah menenangkan situasi kemudian musyawarah dan mencari solusinya. 2. Kebiasaan sehari-hari 1) Pola makan Kebiasaan makan 2x sehari dengan makanan pokok nasi, lauk pauk, sayuran, kadang-kadang buah dan susu. Keadaan fisik anggota keluarga tidak ada yang kurus dan tidak ada yang kegemukan. 2) Istrahat dan tidur Kebiasaan tidur anggotakeluarga baik dan teratur, dimana tidur siang kira-kira 60 menit mulai pukul 13.00 14.00 wita kecuali kepala keluarga yang jarang tidur siang berhubung karena pekerjaan . istrahat/tidur malam keluarga mulai 21.00 05.00 wita. 3) Rekreasi Keluarga jarang mengadakan rekreasi secara khusus, waktu senggang digunakan untuk istrahat dan kumpul-kumpul dengan orang tua dan saudara-saudaranya sambil menonton TV atau mendengar radio. 4) Pekerjaan sehari-hari Tuan A bekerja sehari-hari sebagai petani dan ny R sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan kemampuannya dan mengurus anak-anak. Ibu dibantu oleh adiknya untuk menjaga anak-anaknya dan membantu ibu didapur. 5) Kebersihan diri Kebersihan diri anggota keluarga cukup baik, mandi 2x sehari dengan sabun, mengosok gigi selesai makan dengan pasta gigi 3. Faktor sosial, ekonomi, dan budaya a. Peranan anggota 1) Ayah sebagai pencari nafkah. 2) Ibu mengatur urusan rumah tangga dan mengasuh anak. b. Penghasilan dan pengeluaran 1) Penghasilan setiap bulan rata-rata Rp. 400.000,-

2) Pengeluaran dalam keluarga setiap bulan tidak tetap. 3) Pemenuhan kebutuhan keluarga cukup untuk keperluan sehari-hari. c. Hubungan keluarga dan masyarakat Hubungan keluarga dengan masyarakat setempat cukup baik dalam arti anggota keluarga berinteraksi cukup baik denagn masyarakat setempat. 4. Faktor lingkungan a. Rumah 1. Keluarga menempati rumah sendiri dengan bentuk rumah semi permanen dengan ukuran 4 x 5m. 2. Ventilasi rumah kurang sehingga pertukaran udara keluar masuk kurang untuk ruangan rumah. 3. Ruangan dalam rumah kurang mendapat cahaya sinar matahari. 4. Pengaturan dan kebersihan perabot rumah tangga cukup baik. 5. Pekarangan rumah sedikit dan tidak dimanfaatkan. 6. Keluarga tidak mempunyaikamar mandi dan WC. b. Sumber air bersih 1. Sumber air bersih berasal dari sumur gali. 2. Keadaan air sumur agak keruh, tidak berbau dan tidak berwarna. 3. Keluarga meminum air yang sudah dimasak. c. Tempat pembuangan 1) Keluarga BAB disembarang tempat (kebanyakan disawah) 2) Sampah dibuang kesawah, kadang-kadang dibakar. 3) SPAL keluarga adalah SPAL terbuka, sehingga airnya terpecik ke mana-mana. d. Fasilitas hiburan Keluarga memiliki TV dan radio sebagai sarana hiburan dan informasi bagi keluarga. e. Fasilitas sosial dan fasilitas kesehatan 1. Fasilitas social keluarga tersedia disekitar rumah misalnya warung. 2. Transportasi dengan menggunakan kendaraan umum. 3. Fasilitas kesehatan puskesmas cukup dengan rumah. 5. Riwayat kesehatan

1. Riwatyat kesehatan keluarga sekarang 1) Tn Kondisi kesehatan dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan. 2) Ny Sebagai ibu rumah tangga , Ny dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan. 3) Anak pertama dan kedua dalam keadaan kondisi sehat dan tidak ada keluhan. 2. Keluarga berencana Setelah melahirkan anak kedua, ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi. 3. Keadaan gizi keluarga Pertumbuhan fisik anak-anak Tn cukup, secara sepintas anak-anak tampak sehat. Demikian pula nafsu makan keluarga baik, anak kedua masih menetek pada ibunya (ASI). 4. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu No Tahun Umur kehamilan 1 2 5. Riwayat penyakit yang pernah diderita keluarga Tn dan keluarganya tidak pernah ada riwayat menderita penyakit menular, seperti TBC, hepatitis, AIDS/HIV dan penyakit kusta. 6. Pengkajian psikososial a. Status Tingkat emosi keluarga cukup baik, bila ada keluarga dalam keluarga diselesaikan dengan baik. Emosi ibu dalam kondisi stabil. b. Konsep diri Bapak dan ibu baik. Bapak dan ibu menjawab pertanyaan dengan ramah. c. Pola interaksi/komunikasi Interaksi antara anggota keluarga cukup baik, bahasa yang dipakai sehari-hari adalah bahasa Indonesia dan terkadang bahasa bugis. d. Pola pertahanan dalam keluarga Jenis persalinan persalinan Tempat Penolong J K Keadaan bayi Mati/hidup disusui Nifas

Sebagai kepala keluarga, suami cukup disegani oleh anak-anaknya. Apabila ada masalah selalu dimusyawarakan bersama, namun hasil akhir selalu dilimpahkan keputusan kepada suami. 7. Pengkajian pengetahuan keluarga tentang a. Keluarga berencana Pengetahuan ibu tentang keluarga berencana masih kurang. b. Kesehatan lingkungan Pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan sangat kurang. 8. Harapan keluarga kepada bidan Keluarga sangat berharap dapat dibantu dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarganya. 9. Pemeriksaan fisik Sehubungan dengan riwayat kesehatan keluarga maka dilakukan pemeriksaan fisik anggota keluarga dengan hasil : a) Tn TB TD S : : : BB N P : : :

b) Anak TB TD S c) Bayi TB TD S : : : BB N P : : : : : : BB N P : : :

d) Saudara/Ipar TB TD S e) Ny : : : BB N P : : :

1) Keadaan umum ibu baik, emosi stabil 2) Kesadaran komposmentis 3) TB : BB :

4) Tanda-tanda vital : a. TD b. N c. P : d. S : 5) Kepala 6) Muka 7) Mata 8) Telinga 9) Leher : Bersih dan rambut tidak rontok : Tidak pucat dan tidak ada oedema : Konjungtiva merah muda, selera putih jernih : Tampak bersih, simetris kiri dan kanan : Tidak ada pembesaran kel. Tyroid, tidak ada pembesaran kel. Limfe, dan tidak ada pembesaran vena jugularis. 10) Payudara : Simetris kiri dan kanan, tidak ada pembengkakan pada payudara, putting susu terbentuk dan tidak ada nyeri tewkan dan massa. 11) Abdomen : Tanpa striae albicans, otot perut kendor, tidak ada luka bekas operasi. 12) Vulva dan perineum 13) Anus 14) Ekstremitas bawah : Tidak ada oedema dan varices. : Tidak ada hemorrhoid. : Simetris kiri dan kanan, tidak ada oedema dan varices, reflex patella kiri dan kanan : +/+ B. PRIORITAS MASALAH Untuk mengatasi masalah keluarga Tn secara keseluruhan tidak mungkin, oleh karena itu perlu dilakukan prioritas masalah kesehatan dan keperawatan yang mengancam kehidupan dan mengancam kesehatan keluarga yang menjadi prioritas masalah. Agar dapat melakukan prioritas masalah keluarga secara tetap maka dilakukan pembobotan masalah dengan criteria sbagai berikut : Table 3 : criteria pembobobtan masalah Ibu belum ber-KB : :

No 1 2

Kriteria Sifat masalah Kemungkinan untuk diubah

Perhitungan 2/3 x 1 masalah 2/2 x 2

Skor Pembenaran 2/3 2 Ancaman kesehatan Adanya keinginan ibu untuk

mengetahui KB secara menyeluruh 1/3 x 1 1/3 Memberikan penyuluhan tentang keluarga berencana (KB)

Potensi pencegahan

Penonjolan masalah

0/1 x 1

Keluarga

menyadari

perlu

mengatasi masalah tersebut Total Skore Kurang Pengetahuan Tentang Kesehatan Linkungan No 1 2 Kriteria Sifat masalah Kemungkinan untuk diubah Perhitungan 2/3 x 1 masalah 1/2 x 2 Skor Pembenaran 2/3 1 Ancaman kesehatan Kemungkinan keluarga dapat

membuat tempat sampah sendiri yaitu dengan di gali atau dibakar dan membuat SPAL yang tertutup

Potensi pencegahan

2/3 x 1

2/3

Adanya keiginan keluarga untuk memperbaiki lingkungan kesehatan

Penonjolan masalah

0/2 x 1

Keluarga kebersihan

tidak

menyadari bisa

lingkungan

mempengaruhi kesehatan keluarga Total Skore Berdasarkan hasil pembobotan masalah diatas, maka urutan prioritas masalah kesehatan dan keperawatan keluarga Tn dapat disusun sebagai berikut : 1. Ibu tidak pernah ber-KB 2. Kurang pengetahuan tentang kesehatan lingkungan C. DIAGNOSA DAN MASALAH AKTUAL 1. Ibu tidak pernah ber-KB DS :

Ibu mengatakan sejak melahirkan anak pertama sampai sekarang tidak pernah ber-KB Ibu mengatakan tidak tahu tentang manfaat ber-KB DO : Jarak dari anak pertama dan kedua cukup jauh, yaitu 3 tahun Ibu tidak dapat menyebutkan manfaat KB dan hanya tahu beberapa jenis KB Analisa dan interpretasi data a. Ibu tidak pernah KB sejak melahirkan anak pertama sampai sekarang dikarenakan masih kurangnya pengetahuan ibu tentang manfaat KB. b. Kurangnya pengetahuan ibu tentang KB disebabkan oleh tingkat pendidikan ibu yang rendah dan kurangnya informasi secara penyuluhan kesehatan tentang KB dari tenaga kesehatan yang terkait. 2. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan DS : Ibu mengatakan SPAL keluarga adalah SPAL terbuka Keluarga sering membuang sampahdi sawah Ibu mengatakan tidak memiliki WC dan BAB disembarang tempat DO : Tampak air limbah keluarga berserakan dibelakang rumah Tampak sampah menumpuk di sawah belakang rumah Tampak banyak kotoran manusia dibelakang rumah Analisa dan interpretasi data Keluarga kurang menjaga kebersihan/kesehatan disebabkan karena mereka tidak menyadari dan masih kurang mengetahui bahwa kebersihan/kesehatan lingkungan besar dampaknya terhadap kesehatan lingkungan. D. DIAGNOSA ATAU MASALAH POTENSIAL

Tidak ada data yang mendukung terjadinya masalah potensial E. TINDAKAN SEGERA DAN KOLABORASI Tidak ada data yang mendukung dalam melakukan tindakan segera dan kolaborasi F. RENCANA TINDAKAN ASUHAN KEBIDANAN 1. Ibu belum pernah ber-KB a. Tujuan : Ibu mau ber-KB b. Kriteria 1) Ibu mengerti tantang KB 2) Ibu telah menggunakan salah satu alat kontrasepsi c. Intervensi 1) Berikan penyuluhan kesehatan tentang manfaat KB. Rasional : Dengan penjelasan tentang KB, maka diharapkan keluarga dapat mengerti tentang pentingnya menjadi akseptor KB. 2) Berikan penyuluhan kesehatan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi. Rasional : Agar ibu dapat memilih salah satu alat kontrasepsi yang diinginkan 2. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan lingkungan a. Tujuan kesehatan. b. Kriteria : Kelurga memiliki WC Keluarga memiliki SPAL yang tertutup Kelurga memiliki tempat sampah sendiri c. Intervensi 1. Berikan penyuluhan pada kelurga tentang pentingnya menjaga kesehatan lingkungan Rasional : Dengan memberikan penyuluhan maka keluarga akan menyadari bahwa kebersihan lingkungan bisa mempengaruhi kesehatan kelurga sehingga akan mulai menjaga kebersihan lingkunganya. 2. Anjurkan pada kelurga untuk membuat WC Rasional : Kotoran yang dibuang sembarang tempat dapat menyebabkan berbagai : Keluarga mengerti dampak lingkungan yang tidak bersih terhadap

macam penyakit. 3. Anjurkan pada keluarga untuk membuat SPAL tertutup Rasional : Air limbah yang berserakan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit . 4. Anjurkan keluarga untuk mengelola sampah dengan benar Rasional : Pengelolaan sampah yang benar dapat menghindarkan dari segala macam penyakit. G. IMPLEMENTASI ASUHAN KEBIDANAN 1. Ibu tidak pernah ber-KB a) Memberikan penyuluhan kesehatan tentang manfaat dan pentingnya KB Hasil : Ibu mengerti dan bersedia memakai KB b) Memberikan penyuluhan kesehatan tentang jenis alat kontrasepsi Hasil : ibu mengerti dan mencoba menggunakan salah satu kontrasepsi 2. Kurangya pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan a) Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang pentingnya menjada kesehatan lingkungan. Hasil : keluarga mengerti dan bersedia melaksanakannya b) Menganjurkan kepada keluarga untuk membuat WC Hasil : keluarga bersedia membuat WC c) Menganjurkan pada keluarga untuk membuat SPAL tertutup Hasil : keluarga bersedia membuat SPAL tertutup d) Menganjurkan keluarga untuk mengelola sampah dengan benar Hasil : keluarga bersedia untuk tidak membuang sampah disawah lagi dan membuat tempat sampah sendiri H. EVALUASI ASUHAN KEBIDANAN Tanggal April 2010 jam 1. Ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun 2. Keluarga telah mengerti pentingnya kesehatan lingkungan

PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN DENGAN TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI RT VIII KEL. SOREANG KEC.LAU KABUPATEN MAROS TANGGAL IDENTITAS SUAMI / ISTRI Nama KK Umur Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Pengasilan Nikah/lamanya Alamat DATA SUBJEKTIF (S) 1. Ibu mengatakan belum menggunakan alat kontrasepsi apapun. : Tn : Tahun : Bugis : Islam : SD : Petani : Rp.400.000-/bulan : 1x / 4 tahun : Makkida, Soreang

2. Keluarga Tn tidak ada yang mengeluh sakit 3. Ibu mengatakan tidak mempunyai WC,SPAL keluarga terbuka dan membuang sampah disembarang tempat. DATA OBJEKTIF (O) 1. Ibu belum mempunyai kartu keluarga berencana 2. Keadaan lingkungan kurang bersih 3. Keluarga membuang kotoran disembarang tempat, SPAL terbuka dan membuang sampah sembarang tempat. ASSESMENT Calon akseptor KB, keluarga sehat dan linkungan kurang bersih PLANNING 1) Meminta persetujuan keluarga setiap akan melakukan asuhan Hasil : Keluarga terutama ibu sangat kooperatif dan memberikan respon positif 2) Mengobservasi tanda-tanda vital keluarga Tn Hasil : tanda-tanda vital keluarga dalam batas normal 3) Memberikan konseling tentang keluarga berencana Hasil : Ibu bersedia menggunakan metode kontrasepsi.. 4) Menganjurkan kepada keluarga agar tetap mempertahankan keadaan kesehatannya Hasil : Ibu bersedia 5) Menganjurkan kepada keluarga untuk membuat WC, tempat sampah sendiri dan menutup SPAL

Hasil : keluarga bersedia melakukannya 6) Mengucapkan terima kasih kepada keluarga Tn atas kerjesamanya dalam melakukan asuhan kebidanan komunitas. PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN DENGAN TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI RT VIII KEL. SOREANG KEC.LAU KABUPATEN MAROS TANGGAL IDENTITAS SUAMI / ISTRI Nama KK Umur Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Pengasilan Nikah/lamanya Alamat DATA SUBJEKTIF (S) 1. Ibu mengatakan belum menggunakan alat kontrasepsi apapun karena belum sempat ke Puskesmas. 2. Ibu mengatakan suaminya sudah menutup saluran pembuangan air limbah (SPAL) keluarga : Tn : Tahun : Bugis : Islam : SD : Petani : Rp.400.000-/bulan : 1x / 4 tahun : Makkida, Soreang

3. Ibu mengatakan suaminya belum membuat jambaan / WC karna belum mempunyai dana 4. Keluarga belum mempunyai tempat tempat sampah sendiri. 5. Keluarga Tn R dalam keadaan seha DATA OBJEKTIF (O) 1. Ibu belum mempunyai kartu keluarga berencana 2. Keadaan lingkungan kurang bersih 3. Keluarga membuang kotoran disembarang tempat, SPAL terbuka dan membuang sampah sembarang tempat. ASSESMENT Calon akseptor KB, keluarga sehat dan linkungan kurang bersih PLANNING 1. Meminta persetujuan keluarga setiap akan melakukan asuhan Hasil : Keluarga terutama ibu sangat kooperatif dan memberikan respon positif 2. Mengobservasi tanda-tanda vital keluarga Tn Hasil : tanda-tanda vital keluarga dalam batas normal 3. Memberikan konseling tentang keluarga berencana Hasil : Ibu bersedia menggunakan metode kontrasepsi.. 4. Menganjurkan kepada keluarga agar tetap mempertahankan keadaan kesehatannya Hasil : Ibu bersedia

5. Menganjurkan kepada keluarga untuk membuat WC, tempat sampah sendiri dan menutup SPAL Hasil : keluarga bersedia melakukannya 6. Mengucapkan terima kasih kepada keluarga Tn atas kerjesamanya dalam melakukan asuhan kebidanan komunitas. PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN DENGAN TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI RT VIII KEL. SOREANG KEC.LAU KABUPATEN MAROS TANGGAL IDENTITAS SUAMI / ISTRI Nama KK Umur Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Pengasilan Nikah/lamanya Alamat DATA SUBJEKTIF (S) : Tn : Tahun : Bugis : Islam : SD : Petani : Rp.400.000-/bulan : 1x / 4 tahun : Makkida, Soreang

1. Ibu mengatakan belum menggunakan alat kontrasepsi apapun karena belum sempat ke Puskesmas. 2. Ibu mengatakan suaminya sudah menutup saluran pembuangan air limbah (SPAL) keluarga 3. Ibu mengatakan suaminya belum membuat jambaan / WC karna belum mempunyai dana 4. Keluarga belum mempunyai tempat tempat sampah sendiri. 5. Keluarga Tn R dalam keadaan sehat DATA OBJEKTIF (O) 1. Ibu belum mempunyai kartu keluarga berencana 2. Keadaan lingkungan kurang bersih 3. Keluarga membuang kotoran disembarang tempat, SPAL terbuka dan membuang sampah sembarang tempat. ASSESMENT Akseptor KB, keluarga sehat dan linkungan kurang bersih PLANNING 1. Meminta persetujuan keluarga setiap akan melakukan asuhan Hasil : Keluarga terutama ibu sangat kooperatif dan memberikan respon positif 2. Mengobservasi tanda-tanda vital keluarga Tn Hasil : tanda-tanda vital keluarga dalam batas normal 3. Memberikan konseling tentang keluarga berencana

Hasil : Ibu bersedia menggunakan metode kontrasepsi.. 4. Menganjurkan kepada keluarga agar tetap mempertahankan keadaan kesehatannya Hasil : Ibu bersedia 5. Menganjurkan kepada keluarga untuk membuat WC, tempat sampah sendiri dan menutup SPAL Hasil : keluarga bersedia melakukannya 6. Memberikan penyuluhan pada keluarga agar tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah Hasil : Keluarga bersedia untuk mempertahankan kebersihan lingkungan 7. Mengucapkan terima kasih kepada keluarga Tn atas kerjesamanya dalam melakukan asuhan kebidanan komunitas. PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN DENGAN TIDAK MENJADI AKSEPTOR KB DI RT VIII KEL. SOREANG KEC.LAU KABUPATEN MAROS TANGGAL IDENTITAS SUAMI / ISTRI Nama KK Umur Suku Agama : Tn : Tahun : Bugis : Islam

Pendidikan Pekerjaan Pengasilan Nikah/lamanya Alamat DATA SUBJEKTIF (S)

: SD : Petani : Rp.400.000-/bulan : 1x / 4 tahun : Makkida, Soreang

1. Ibu mengatakan sudah menjadi akseptor KB dengan metode pil 2. Ibu mengatakan sudah memiliki tempat sampah sendiri tetapi belum mempunyai WC karena belum memiliki dana 3. Keluarga Tn R dalam keadaan sehat DATA OBJEKTIF (O) 1. Ibu sudah mempunyai kartu keluarga berencana 2. Tampak sebuah penampungan sampah keluarga 3. Kotoran/ tinja manusia masih berserakan di belakang rumah. 4. Tanda tanda vital keluarga dalam batas normal 5. Pemeriksaan fisik pada keluarga tidak ada kelainan ASSESMENT Ibu telah ber- KB, keluarga sehat dan linkungan cukup bersih PLANNING

1. Meminta persetujuan keluarga setiap akan melakukan asuhan Hasil : Keluarga terutama ibu sangat kooperatif dan memberikan respon positif 2. Mengobservasi tanda-tanda vital keluarga Tn Hasil : tanda-tanda vital keluarga dalam batas normal 3. Melakukan pemeriksaan fisik pada keluarga Tn. Hasil : Keluarga Tn. tidak ada kelainan 4. Mengingatkan pada ibu agar kembali ke puskesmas untuk mengambil pil KB jika pilnya habis Hasil : Ibu bersedia melaksanakannya 5. Meminta keluarga untuk membuat WC, jika sudah memiliki dana Hasil : keluarga bersedia melakukannya 6. Memberitahu keluarga agar tetap mempertahankan kesehatan keluarga. Hasil : ibu dan keluarga bersedia 7. Mengucapkan terima kasih kepada keluarga Tn atas kerjesamanya dalam melakukan asuhan kebidanan komunitas. SATUAN ACARA PENYULUHAN Topik Sasaran Pelaksanaan Waktu : Keluarga Berencana : Keluarga Tn. : Tanggal 4 April 2010 : 30 menit

Tempat Tujuan Umum

: Rumah keluarga Tn : Menginformasikan dan memperkenalkan tentang keluarga berencana (KB)

Tujuan khusus

: Pada akhir penyuluhan keluarga Tn. dapat mengerti dan dapat menjelaskan : 1. Pengertian Keluarga Berencana 2. Tujuan Keluarga Berencana 3. Manfaat Keluarga Berencana 4. Jenis jenis alat kontrasepsi

Materi

: 1. Pengertian KB 2. Tujuan KB 3. Manfaat KB 4. Jenis jenis alat kontrasepsi

Metode Evaluasi

: Ceramah : Setelah melakukan penyuluhan , ibu mampu menjelaskan tentang : 1. Pengertian KB 2. Tujuan KB 3. Manfaat KB 4. Jenis jenis alat kontrasepsi KELUARGA BERENCANA

Pengertian Keluarga Berencana (KB) Adalah usaha pengaturan jumlah kehamilan dari perbaikan kesejahteraan (keadaan kesehatan ekonomi) keluarga dan bangsa pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Tujuan Keluarga Berencana (KB)

a. Tujuan umum Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta kelurga dalam rangka mewujudkan norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera (NKKBS) b. Tujuan Khusus 1. Meningkatkan kesadaran masyarakat/keluarga untuk menggunakan alat kontrasepsi 2. Menurunkan jumlah kelahiran bayi 3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat/keluarga dengan penjarangan kelahiran Manfaat Keluarga Berencana (KB) a. Untuk Ibu Memberikan kemungkinan untuk memulai menjarangkan kehamilan dan menetapkan umur berapa ia ingin melahirkan anak. Hal ini bermanfaat berupa : 1) Perbaikan kesehatan badaniah, mencegah kehamilan yang berulang dalam waktu yang terlalu pendek dan mencegah keguguran. 2) Meningkatkan kesehatan mental, dan emosi, waktu untuk mengasuh anak yang lain, istirahat dan melakukan kegiatan. b. Untuk bayi yang akan lahir 1) Tumbuh secara wajar selama dalam kandungan 2) Perkembangan mental dan emosi yang lebih baik 3) Waktu lebih banyak diberikan ibu untuk anak 4) Pemberian kesempatan pendidikan lebih baik c. Untuk ayah 1) Perbaikan kesehatan fisik tidak terlalu berat untuk memenuhi kebutuhan hidup

2) Memperbaiki kesehatan mental dan emosi, mengurangi kecemasan yang lebih banyak d. Untuk anak yang lain 1) Perkembangan fisik yang lebih baik 2) Perkembangan mental dan emosi lebih baik dan pemeliharaannya lebih baik 3) Perkembangan pendidikan yang lebih baik, sumber pendapatan tidak habis sekedar untuk mempertahankan hidup e. Untuk seluruh keluarga 1) Meningkatkan kesehatan fisik dan mental serta emosisetiap keluarga. 2) Memberikan contoh yang nyata bagi generasi yang akan dating 3) Mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan pendidikan 4) Memberikan sumbangan yang lebih banyak untuk kesejahteraan lingkungan Jenis jenis kontrasepsi : a. Cara kontrasepsi sederhana : Tanpa alat / obat (car tradisional) Senggama terputus Pantang berkala Memakai alat atau obat Kondom Diafragma Cap Cairan berbusa dan tablet berbusa (Vagina Tablet) b. Metode modern Tidak permanen Pil

Suntikan Implant (susuk) IUD (Spiral) Permanen Tubektomi (untuk wanita) Vasektomi (untuk laki-laki) SATUAN ACARA PENYULUHAN Topik Sasaran Pelaksanaan Waktu Tempat : Kesehatan lingkungan : Keluarga Tn : Tanggal : 15 menit : Rumah keluarga Tn

Tujuan umum : Menginformasikan tentang pentingnya arti kesehatan lingkungan bagi kesehatan lingkungan bagi kesehatan keluarga. Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga Tn dapat mengerti, mengetahui, memahami tentang keluarga berencana. Tujuan khusus : pada akhirnya penyuluhan keluarga Tn dapat : 1. Menyebutkan dan menguraikan tentang pentingnya kesehatan lingkungan bagi kesehatan keluarga 2. Dapat melakukan anjuran-anjuran tentang pelaksanaan kesehatan lingkungan Metode : Ceramah KESEHATAN LINGKUNGAN

Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah sehat sakit atau kesehatan tersebut. Banayk factor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Keempat factor tersebut (keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan) disamping berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling berpengaruh satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai secara optimal bilamana keempat factor tersebut secara bersamasama mempunyai kondisi yang optimal pula. Salah satu factor saja berada dalam keadaan yang terganggu (tidak optimal) maka status kesehatan akan tergeser kea rah dibawah optimal. Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain ,mencakup perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah), rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya kesehatan optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya. Usaha memperbaiki atau meningkatkan kondisi lingkungan ini dari masa ke masadan dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain bervariasi dan bertingkat-tingkat, dari yang paling sederhana (primitif) sampai kepada yang paling mutakhir (modern). Mengingat bahwa masalah kesehatan lingkungan di Negara-negara yang sedang berkembangadalah berkisar pada sanitasi (jamban), penyedian air minim, perumahan (housing), pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah (air kotor) maka hanya akan dibahas kelima masalah tersebut. Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan dan sanitasi, yaitu kebutuhan akan air bersih, pengelolaan sampah yang setiap hari

diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limba yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal tersebut menyebabkan pendangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai karena sampah. Pada saat musim hujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit. Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi yang kurang baik serta pembuangan sampah dan air limbah yang kurang baik diantaranya adalah : Diare Disentri Kolera Cacingan - Demam berdarah - Hepatitis A - Tiphus - Malaria

Mengapa BAB harus sehat ?? kenapa jambang yang kita miliki harus sehat?? Mungkin ini yang belum pernah terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat pedesaan kita. Dari penjelasan diatas sudah dapat diketahui penyakit yang timbul akibat BAB dan jambang yang tidak sehat. Jambang sendiri merupakan tempat penampung kotoran manusia yang sengaja dibuat untuk mengamankannya, dengan tujuan : 1. Mencegah terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia. 2. Mencegah vector pembawa untuk menyebarkan penyakit pada pemakai dan lingkingan sekitarnya. Lalat yang hinggap disampah dan dipermukaan air limbah atau tikus selokan yang masuk kedalam saluran air limbah dapat membawa sejumlah kuman penyebab penyakit. Bial lalat atau tikus tersebut menyentuh makanan atau minuman maka besar kemugkinan orang yang menelan mkanan dan minuman tersebut akan menderita salah satu penyakit seperti tersebur diatas. Demikian pula dengan anak-anak kecil yang bermain atau orang dewasa yang bekerja didekat atau mengalami kontak lansung degan air limbah dan sampah dapat terkena penyakit yang seperti tersebut diatas, terutama bila tidak membersihkan anggota badan terlebih dahulu. 1. Air limbah dapat dikelompokkan kedalam dua bagian yaitu :

Air bekas yang berasal dari bak atau lantai cuci piring atau peralatan rumah tangga, lantai cuci pakaian dan kamar mandi 2. Lumpur tinja yang berasal dari jamban atau water closed (WC) Tangki septic atau unit pengolahan air limbah terpusat diperlukan guna mengolah air limbah sebelum dibuang kesuatu badan air. Disamping untuk mencegah pencemaran termasuk diantaranya organism penyebab penyakit, pengolahan air limbah dimaksudkan untuk mengurangi beban pencemaran atau menguraikan pencemar sehingga memenuhu persyaratan standar kualitas ketika dibuang ke suatu badan air penerima. Sampah dan air limbah mengandung berbagai macam unsure seperti gas-gas terlarut, zatzat pada terlarut, minyak dan lemak serta mikroorganisme. Mikroorganisme yang terkandung dalam sampah dan air limbah dapat berupa organism pengurai dan penyebab penyakit. Penanganan sampah dan air limbah yang kurang baik seperti : 1. Pengaliran air limbah kedalam saluran terbuka 2. Dinding dan dasar saluran yang rusak karena kurang terpelihara Pembuangan kotoran dan sampah kedalam saluran yang menyebabkan penyumbatan dan timbulnya genangan akan mempercepat berkembangbiaknya mikroorganisme atau kumankuman penyebab penyakit, serangga dan mamalia penyebab penyakit seperti lalat dan tikus. Suatu badan air seperti sungai atau laut mempunyai kapasitas penguraian tertentu. Bila air limbah langsung dimasukkan begitu saja kedalam badan air tanpa dilakukan suatu proses pengolahan, maka suatu saat dapat menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran tersebut berlangsung bila kapasitas penguraian limbah yang terdapat dalam badan air dilapaui sehingga badan air tersebut tidak mampu lagi melakukan proses pengolahan atau penguraian secara alamiah. Kondisi yang demikian di namakan kondisi septic atau tercemar dan ditandai oleh : 1. Timbulnya bau busuk 2. Warna air yanggelap dan pekat 3. Banyaknya ikan dan organism air yang lainnya yang mati atau mengapung.