Anda di halaman 1dari 63

TUGAS PENDAHULUAN DAN HASIL DISKUSI

1. Parenteral Definisi sediaan a. Menurut RPS 16,ba1.369 Pemberian dosis secara berturut-turut pada interval tertentu dimana obat sama sekali tidak meninggalkan tubuh pada setiap interval pemberian dosis. Penggunaan prosedur pada pengaturan dosis ganda digunakan pada pemberian obat yang berulang-ulang dengan interval dosis yang konstan . b. Menurut SDF, bal.203 Sediaan steril yang digunakan secara berulang atau lebih dari satu kali dan dikemas dalam wadah 10 ml atau lebih dan mengandung zat antibakteri . c. Menurut History Parenteral Medication Parenteral ialah pemberian obat yang tidak melalui usus dan dengan pengertian ini tentu termasukjuga cara pemberian obat melalui mata, telinga, hidung, uretra, vagina dan kulit. Tetapi menurut pengertian umum sekarang ini yang dimaksud dengan parentral ialah sediaan yang dimasukkan kedalam tubuh melalui bawah kulit dengan pertolongan sebuah jarum .

d. Scovilles Hal.190 Parenteral adalah larutan atau suspensi dari obat untuk disuntikkan dibawah atau menembus satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa . e. Parrot Hal.283 Injeksi atau parenteral adalah sediaan steril yang pemberiannya menembus satu atau lebih lapisan kulit. f. Dom Martin Hal.968 melalui satu atau lebih lapisan kulit ataumembran mucus Parenteral adalah sediaan farmasi steril yang bentuk dosisnya dimaksudkan untuk pemberian dibawah g. Lachman Hal.1292 Sediaan parenteral adalah merupakan sediaan yang unik diantara bentuk obat terbagibagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian dalam tubuh h. Ansel Hal.399 Parenteral adalah sediaan dengan pemberian lewat suntikan, seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan suntikan. Kesimpulan Parenteral dosis ganda adalah sediaan steril berupa emulsi, suspensi, larutan dan serbuk yang dihaluskan dan yang mengandung satu atau

lebih zat aktif dan zat tambahan dengan volume tertentu yang penggunaanya dengan cara disuntikkan melalui lubang jarum yang runcing kedalam tubuh pada tempat tertentu dan penggunaannya lebih dari satu kali. 2. Apa syarat-syarat sediaan parenteral a. Menurut Lachman, hal.l300 a. Zat Antibakteri Zat antibakteri dalam konsentrasi bakteriostatik harus dimasukkan dalam formulasi . produk yang dikemas dalam vial dosis ganda, dan seringkali dimasukkan dalam formulasi yang akan disterilkan dengan proses marginal atau dibuat secara aseptis. Persyaratan aktifitas, kestabilan, dan keefektifan zat antibakteri dalam preparat paranteral telah diulas dalam kertas kerja yang telah dipublikasi. b. Antioksidan Antioksidan dimasukkan dalam banyak formulasi untuk melindungi suatu zat terapeutis yang mudah mengalami oksidasi, terutama pada kondisi dipercepat dengan sterilisasi panas, dan bisa berfungsi paling tidak dengan 2 cara, yakni (1) dengan oksidasi secara istimewa (zat pereduksi) dan dengan demikian digunakan perlahanlahan, atau (2) dengan memblokir suatu reaksi rantai oksidatif dimana zat-zat tersebut biasanya tidak dikonsumsi.

Disamping itu, senyawa- senyawa tertentu beraksi smergts, meningkatkan keefektifan antioksidan, terutama anti oksidan yang memblokir reaksi oksidasi. Empat golongan senyawa berguna dalam hal ini, karena membentuk kompleks dengan katalis yang jika tidak diikat akan mempercepat reaki oksidasi. Karena ada perbedaan dalam cara kerjanya, kadang-kadang digunakan kombinasi dari zat ini. c. Steril (Lachman, hal. 1292 ) Sediaan ini merupakan sediaan yang unik diantara bentuk obatobat yang terbagi karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa kedalam bagian tubuh yang paling efisien, yakni membuat kulit dan mukosa sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi atau luar biasa. b. Menurut PTM ,hal.Hal 123 Karena ini bersifat suatu tuntutan sediaan paranteral harus disiapkan dengan hati-hati pada kondisi lingkungan yang terkontrol dan juga dikemas pada keadaan tadi, untuk point yang digunakan produk harus. 1. Bebas dari mikroorganisme, steril atau penyiapan dari bahan bahan steril dibawah kondisi yang meminimalkan terkontaminasi dengan

mikroorganisme ( proses aseptis). 2. Secara khusus bebas dari bakteri endotoksin dan bahan pirogen lainnya. 3. Harus bebas dari bahan eksitioreus atau bahan asing yang tidak larut. c. Menurut SDF, hal.37 a. Sterilitas Semua bentuk sediaan yang diberikan secara paranteral, larutan optalmic dan beberapa alat medis yang digunakan dalam hubungannya dengan pemberian bahan yang harus steril, bebas dari semua mikroorganisme hidup. Kebebasan dari mikroorganisme dijamin pada awalnya dan pembuatan prod uk dengan proses sterilisasi yang kemudian pengemasan prod uk dalam suatu bentuk yang meyakinkan penyimpanan dari sifat ini, istilah steril adalah mutlak dan seharusnya tidak pemah digunakan atau betul-betul dipertimbangkan dalam suatu relatif baik sebagian, atau hampir steril. Juga diharapkan bahwa dalam penanganan berikutnya dari produk selama pemberian, tehnik aseptik dari manipulator akan menjamin pengeluaran berlanjut dari mikroorganisme hidup. Tehnik aseptik yang tepat untuk penyiapan dan pemberian larutan steril.

b. Bebas dari bahan partikulat Bahan partikulat mengacu pada bahan yang bergerak, tidak larut dan kehadirannya tanpa sengaja ada dalam sediaan paranteral. Adanya bahan partikulat dalam larutan paranteral harus

diperhatikan sejak adanya gambaran rute pemberian walaupun rute paranteral dapat memberikan keamanan, kenyamanan dan metode efektif dari pemberian namun dipercaya bahwa bahan-bahan dari luar yang tidak disengaja dapat berbahaya. Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan bervariasi. Dalam beberapa hal komposisi ini berasal dari berbagai materi mengingat yang lain meliputi sumber khusus tersendiri. Bahan dari luar yang ditemukan pada sediaan paranteral meliputi selulosa, serat buatan, gelas, karet, logam, partikel plastik, bahan kimia yang tidak larut, koral, diatom, ketombe dan sejenisnya Secara teoritis mungkin meliputi bahan dari lingkungan dimana produk tersebut dipasarkan. c. Pengaruh Biologis Kejernihan, atau ketidakhadiran bahan partikel yang tampak selalu dipertimbangkan sebagai penyesuaian untuk produk paranteral bagaimanapun, awalnya konsep utama alasan psikologi, misalnya pengaruh larutan terhadap bahan yang tampak terhadap pasien yang menerima

injeksi atau memberi gambaran kesimpulan injeksi yang beredar dipasaran dengan bahan-bahan yang mengapung pada larutan. Walaupun bukti yang yang dikumpulkan saat larutan ini langsung harus

pengukurannya

menggunakan

produk

menghilangkan partikel didalamnya. Mungkin saja bahwa bahan partikel dalam larutan intravena tidak berbahaya, khususnya untuk pasien usia lanjut yang menerima infus volume besar dan untuk pasien dirumah sakit. d. Tidak mengandung bahan bakteriostatik (SDF hal.163 ) Karena pemberian cairan infus dalam volume besar bahan bakteriostatik tidak pernah terkandung untuk mencegah toksisitas yang ditimbulkan akibat dari jumlah bahan bakteriostatik yang diberikan.

d. Menurut Scoville's hal.152 dan 154 a. Isotonis Larutan yang mempunyai tekanan osmotik yang sarna dengan cairan dikatakan bahwa yang isotonik dengan yang lainnya jika suatu larutan yang digunakan berkontak dengan sel air akan masuk kedalam sel karena perbedaan osmotik dari larutan disekitamya. Demonstrasi dengan tekanan osmotik menunjukkan

bahwa kedua larutan dengan tonisitas yang tidak sarna yang dipisahkan oleh suatu larutan semi permeabel, cairan atau pelarut yang digunakan dari larutan yang mempunyai tonisitas yang mudah ditarik melewati membran menjadi kelarutan yang mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi jadi meningkatkan volume larutan akhir (berkonsentrasi tinggi). Dalarn sistem dengan larutan dengan konsentrasi rendah disebut hipotonik dibanding larutan yang konsentrasinya lebih kuat dan cairan yang pekat dibuat menjadi hipertonik dibandingkan dengan yang lain. Ketika dua larutan memiliki tekanan osmotik yang sarna tidak akan terjadi sesuatu pada alat-alat eksperimen, menunjukkan bahwa daya tanggap untuk transpor cairan dalam keadaan awal telah diabaikan. Setiap larutan dikatakan menjadi isotonis yaitu jika mempunyai tonisitas yang sarna. b. Larutan Hipotonik dan Hipertonik Jika larutan hipotonik mengalami kontak dengan sel maka cairan akan masuk kedalam sel karena perbedaan tekanan larutan. Pada sisi lain membran plasma sel merupakan unit yang tertutup sehingga pemasukan air banyak kedalam sel akan menghasilkan pembengkakan dan selanjutnya hal ini menimbulkan rasa sakit. Sebagai tambahan hal ini sangat mungkin menghasilkan atau

menyebabkan

terjadinya

pemisahan

sel

(hemolisis)

yang

menyebabkan kerusakan perman en jika larutan hipertonik digunakan cairan akan tertarik dari sel dan sel menjadi berkerut atau keriput dan tidak berfungsi secara normal. Ketika

menimbulkan rasa nyeri, kerusakannya tidak permanen sel akan kembali normal dengan segera setelah larutan hipertonis masuk kedalam cairan tubuh.

e. Menurut R. Voight, hal.462 a. Persesuaian dari kandungan bahan obat yang dinyatakan yang nyata-nyata terdapat, tidak ada penurunan kerja selama penyimpanan melalui perusakan secara kimia dari obat dan sebagainya. b. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya menginginkan suatu pengambilan steril, melainkan juga menolak interaksi bahan obat, materi bimbing. c. Tersatukan tanpa reaksi. Untuk itu yang bertanggung jawab terutama : bebas kuman, bebas pirogen bahan pelarut yang netral secara fisiologis, isotonis, isohidris dan bebas bahan terapung. d. Bebas pirogen Oleh karena pirogenitas dalam persyaratan yang tetap masih

menunjukkan ketahanan yang tinggi, maka pembuatan larutan yang bebas pirogen tidak perlu dirumitkan tetapi diperhatikan terutama pengotoran yang menyebabkan pirogen, maupun dalam air destillasi yang telah tersirnpan lama dalam bahan obat dan bahan penolong, tangki untuk pembuatan larutan paranteral (injeksi) atau tempat yang diperuntukkan untuk penyimpanan dan akhirnya timbul pada alat semprot, kanul (pipa) dan selang infus. Akibatnya timbul pengaturan yang ketat. Oleh karena itu hendaklah dijaga, bahwa suatu pembuatan injeksi atau larutan infus harus bebas pirogen dan harus pasti, bahwa apirogenitas untuk pemakaian dipersyaratkan. Hanya apabila dari sudut Farmasi dan Kedokteran, syarat apirogenitas tidak perlu ditambahkan maka pembuatan bebas pirogen dikesampingkan, tetapi bila pada penggunaan paranteral pada pasien menimbulkan hipertermi ( panas/menggigil) dan sensasi maka perlu dapat dihentikan dan diganti yang bebas pirogen. f. Menurut RPS a. Bebas bahan partikulat Bahan partikel berbahaya jika mengandung partikel tidak larut karena dapat menghambat aliran kapiler (RPS,hal.1545). Walaupun bahan tarnbahan tidak lebih dari 50 partikel Iml yang sama atau

lebih besar dari 10 mm dan tidak lebih dari 5 partikel/ml yang sarna atau lebih besar dari 25/ml dalam ukuran yang seimbang (RPS, hal.1570). b. Bebas pirogen Walaupun sediaan telah steril, walaupun sediaan telah steril tetapi tetap harus bebas pirogen karena pirogen dapat timbul dari produksi pertumbuhan mikroorganisme yang telah mati yang tahan terhadap panas dan jika tidak didepirogenesasikan dapat

menyebabkan reaksi demam pada manusia ( RPS,hal. 1550 )

3. Perbedaan dosis tunggal dan dosis ganda a. Menurut Formulasi Steril hal 30-31 1. Berdasarkan wadah : a. Dosis tunggal (Single Dose) adalah suatru wadah kedap udara yang memepertahankan jumlah obat steril dengan tujuan pemberian parenteral sebagai dosis tunggal dan yang bila dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril. Pada umumnya wadah mempunyai ampul ukuran 1 ml sampai 20 ml dengan sediaan larutan. b. Dosis ganda (Multiple Doses) adalah wadah kedap udara yang memungkinkan pengambilan isisnya per bagian berturut-turut

tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas, atau pemurnian bagian yang tertinggal. Pada umumnya, wadah mempunyai bentuk vial atau flakkon berukuran 2 ml - 20 ml, bentuk botol atau kolf berukuran 50 ml-lOOO ml dengan sediaan larutan, suspensi, emulsi dan padatan. b. Menurut Ansel hal423 1. Wadah dosis tunggal Adalah suatu wadah yang kedap udara yang mempertahankan jumlah obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian parenteral sebagai dosis tunggal dan yang bila dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril. 2. Wadah dosis ganda Adalah wadah kedap udara yang memungkinkan pengambilan isinya per bagian berturut-turut tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas atau kemurnian bagian yang tertinggal. c. Menurut FI Edisi III hal34 Wadah dosisi ganda adalah wadah-wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan-bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika, yang dapat mengakibatkan perubahan khasiat, mutu dan kemurniannya.

d. Menurut Scoville's hal202 Wadah dosis ganda Wadah ini biasanya di desain seperti serum vial dan botol serum, botol serum mempunyai leher yang sangat lebar. Vial serum dan botol serum ditutup dengan menggunakan tutup karet yang dirancang

memungkinkan pengambilan dosis yang tepat dalam hal ini yang terpisah. Penutup untuk wadah dosis ganda harus berinteraksi secara kimia atau fisika dengan sediaan dalam beberapa cara untuk mengubah kekuatan, kemurnian atau kualitas di luar kondisi yang diinginkan. Karet yang digunakan sebagai penutup harus mempunyai kualitas yang mempertahankan penutup segel setelah pengambilan berulang dengan jarum hipodemik. Wadah dosis ganda mempunyai keuntungan dimana wadah dosis ganda lebih nyaman digunakan, tetapi kemungkinan terkontaminasi setelah penyuntikan adalah masalah yang serius. e. Menurut RPS hal369 Wadah dosis ganda Pemberian dosisi secara berturut-turut pada interval tertentu dimana obat sarna sekali tidak meninggalkan tubuh pada setiap interval pemberian dosis. Penggunaan prosedur pada pengaturan dosis ganda digunakan pada pemberian obat yang berulang-ulang dengan interval

dosis yang konstan. f. Menurut SDF hal 203 Sediaan steril yang digunakan secara berulang atau lebih dari satu kali dan dikemas dalam wadah 10 ml atau lebih dan mengandung zat antibakteri. 4. Keuntungan dan kerugian sediaan steril Keuntungan sediaan parenteral a. Menurut SDF Hal 11 1. Respon fisiologis yang segera dapat dicapai jika perlu yang mana dapat menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti pada gagal jantung, asma dan syok. 2. Terapi parenteral dibutuhkan untuk opbat yang tidak efektif secara oral atau yang dirusak oleh sekret pencemaan insulin, hormonhormon lain dan antibiotik. 3. Obat-obat untuk pasien yang mual atau tidak sadar hams diberikan melalui injeksi. 4. Jika diperlukan terapi parenterl memberikan contoh kepada para ahli untuk memberiakn obbat karena pada beberapa pasien hams kembali untuk perwatan selanjutnya. Demikian juga dalam

beberapa khasus pasien tidak bergantung pada pengobatan secara oral.

5. Pemberian parenteral dapat memberikan efek lokal dari otot-otot jika diinginkan seperti pada pengobatan gigi dan anastesi. 6. Dalam kasus dimana aksi perpanjangan obat diinginkan bentuk parenteral tersedia meliputi obat-obat steroid long acting (aksi panjang) diinjeksi intramuskular. Terapi parenteral memberikan cara untuk memperbaiki gangguan serius daripada keseimbangan cairan dan elektrolit. Ketika makanan tidak diberikan secara oral nutrisi total dapat diberikan melalui rute parenteral. b. Parrot Hal 283 aksi dari oabt mempunyai keuntungan yang lebih baik dari pemberian oral. pemberian dari rute ini adalah esensial ketika saluran gastrointestinal tidak dapat . gunakan karena operasi atau kekurangan stabilitas dari obat seperti mielin dan nisilin G.Respon secara farmakologi dari injeksi adalah sering kali lebih cepat dan bih efektif daripada pemberian obat secara oral. Dalarnkeadaan darurat untuk pasien ; ang lebih sadar atau tidak mampu menerina obat secara oral. Pemberian injeksi nteral sifatnya segera dan cepat atau responya nyata.Injeksi dibuat untuk efek kal. c. OOPHal17 1. Efek yang diinginkan lebih cepat Efek obat yang merangsang atau merusak getah lambung (hormon)

atau tidak direabsorbsi usus (streptomisin). 2. Untuk pasien yang tidak sadar atau yang tidak mau bekerja sarna. d. Formulasi Steril Hal 9 1. Obat memiliki onset (mula kerja yang cepat) 2. Efek obat dapat dirarnalkan dengan pasti. 3. Bioavailabilitas sempurna atau hampir sempurna Kerusakan obat dalarn troktus gastrointestinalis 4. Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit kweras atau yang sedang dalam keadaan koma.

e. RPS 18th 1546 Ketika dibandingkan dengan bentuk lain injeksi memilki keuntungan jika aksi fisiologi yang segera dibutuhkan dari obat ini biasanya dapat diberikan melalui injeksi IV dari larutan berair. Modifikasi formula atau rute lain. Injeksi dapat digunakan untuk onset yang lambat dan aksi obat diperpanjang, respon terapi dari obat dapat dikontrol dengan cepat melalui pemberian secara parenteral. Ketidakberaturan absorpsi

khusus dihindari juga ketika obat juga secara normal diberikan oleh orang-orang terlatih ini dipastikan dapat diharapkan dosis yang sebenamya dan memberikan secara oral karena tidak sadar atau pasien yang tidak dapat bekerja sarna atau karena ketidakaktifan atau kurangnya absorpsi pada saluran intestinal. f. PTM hal.6 1. Aksi obat biasanya lebih cepat 2. Pemberian obat dapat diberikan secara keseluruhan 3. Beberapa obat seperti insulin atau heparin sarna sekali dapat diinaktifasi ketika diberikan secara oral dan diberikan secara parenteral 4. Beberapa obat dapat mengiritasi ketika diberikan secara intravena contohnya larutan dekstrosa kuat 5. Jika pasien mengalami dehidrasi dan shock maka pemberiannya secara cairan IV akan membuka kehidupannya sendiri. 5. Kerugian sediaan parenteral a. Menurut SDF Hal 11-12 1. Bentuk sediaan harus diberikan orang yang teerlatih yang membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian dengan rute lain. 2. Pemberian rute parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk

pekerjaan secara aseptis dan beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari. 3. Obat yang diberikan secara parenteral menjadi lebih sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya. 4. Karena pada pembuatan dan pengemasan persyaratn yang rum it dalam bentuk sediaan parenteral dibandingkan dengan metode lain. c. OOPHal17 1. Lebih mahal dan nyeri. 2. Sukar digunakan oleh pasien sendiri. 3. Adapula bahaya terluka infeksi kuman (hams steril) dan bahaya merusak pembuluh atau syarafjika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat. d. Menurut Formulasi Steril Hal 9 1. Rasa nyeri pada saat disuntikan apalagi kalau hams diberikan secara berulang kali. 2. 3. Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut disuntik. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki terutama sesudah pemberian intravena. 4. Obat hanya dapat diberikan pada penderita dirumah sakit atau ditemnpat praktek dokter oleh dokter dan perawat yang kompeten.

5. Definisi hipertonis a. Menurut Formulasi Steril Hal 5O Hipertonis, turunannya titik beku besar yaitu tekakan osmosisnya lebih tinggi dari serum darah sehingga menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermiabel dan menyebabkan terjadinya penciutan sel-sel darah merah, peristiwa demikian disebut plasmolisa. b. Menurut IImu Resep bal 202-203 Hipertonis adalah tekanan osmosis laruitan obat lebih besar daripada tekanan osmosis iran tubuh. Jika larutan injeksi hipertonis disuntikkan, air dalam sel akan ditarik luar dari sel sehingga sel akan mengerut, tetapi keadaan ini bersifat sementara dan idak akan menyebabkan kerusakan sel tersebut. Keadaan hipertonis adalah jika nilai B negatif; maka b,c > 0,52 6. Definisi dari Hipotonis a. Menurut Formulasi Steril Hal 50 Hipotonis turunannya titik beku keeil, yaitu tekanan osmosisnya lebih rendah dari serum darah sehingga menyebabakanb air akan melintasi membran sel darah merah . 'ang permiabel memperbesar sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekakan yang lebih besar menyebebkan peeabnya sel-sel darah merah

peristiwa tersebut disebut hemolisa. b. Menurut IImu Resep bat 202-203 Hipotonis adalah tekanan osmosis larutan obat lebih kecil daripada tekanan osmosis cairan tubuh, jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan, air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk kedalam sel, akibatnya sel akan mengembang dan peeah, dan eadaan ini bersifat tetap, Jika yang peeah itu sel darah merah, disebut "haemolisis". Pecah sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang Kecil. Keadaan hipotonis adalah jika nilai B positif; maka b, C < 0,52, 7. Definisi dari Tonisitas a. Menurut Kamus Lengkap Kedokteran Hal 263 Tonisitas Adalah tegangan otot yang sehat. 8. Definisi dari isohidris a. Menurut formulasi steril hal. 54 Isohidris adalah kondisi suatu larutan zat yang pHnya sesuai dengan pH fisiologis tubuh sekitar 7,4. b. Menurut IImu Resep hal. 20 Isohidri adalah pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7,4 .

9 Rumus Catalyne, Titik Beku dan Cara Ekivalen NaCl Perhitungan isotonis a. Menurut FI Edisi III Farmasetik Dasar Dan Hitungan Farmasi # Cara penentuan titik beku air Suatu larutan dinyatakn isotonis dengan serum atau cairan mata jika membeku pada suhu - 0,52 0 C. Untuk memperoleh larutao isotonis, dapatr ditambahakan NaCI atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : B = 0,52 - b 1. c

Keterangan : B = Bobot zat tambahan (NaCl )dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan. 52 = Titik beku cairan tubuh (-0,52 0 C) Bl = PTB zat khasiat C = Konsentrasi dalam satuan % b/v zat berkhasiat

B2 = PTB zat tambahan (NaCl) Terdapat tigajenis keadaan tekanan osmotik larutan obat, yaitu : 1. Keadaan isotonis apabila isotonis B = , b 1. c = 0,52 2. Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b l.c< 0,52

3. Keadaan hipertonis apabila apabila nilai B negatif, b1.c> 0,5 # Cara ekuivalensi NaCI (E) Yang dimaksud ekivalen dengan NaCI (E) dalam jumlah gram NaCI yang memberikan efek osmosis yang sarna dengan 1 gram suatu zat terlarut tertentu jika bobot NaC! = W . EQ, volume yang isotonis = (W . E ) 1 0,9 x 100, sehingga dapat dirumuskan : v = (W . E) 100/0,9 = (W . E) 111,1 Ket; V = Volume larutan yang sudah isotonis (ml) W = bobot zat aktif (gram) E = nilai ekivalen zat aktif Untuk setiap 100 ml larutan NaCI isotonis yang butuhkan 0,9 gran NaCl. Jika volume larutan sarna dengan V ml dan volume yang sudah isotonis sarna dengan v ml, volume yang belum isotonis adalah ( v- v ) ml sehingga bobot NaCI yang masih diperlukan agar larutan menjadi isotonis . Jika V' kita ganti dengan (WxE) 100/0,9 maka : B = [0,9/100xV] - [0,9/100x(WxE)100/0,9] dan akhirnya kita dapatkan rumus sebagai berikut : B = 0,9/100 xV(WxE)

Keterangan: B = bobot zat tambahan V = volume larutan (ml) W = bobot zat berkhasiat (gram) E = Ekuivalensi zat aktifterhadap NaCI Tiga jenis keadaan osmotik larutan obat, yaitu : 1. 2. 3. Keadaan isotonis apabila nilai B = 0; 0,911 00 x V = (WxE) Keadaan hipotonis apabila nilai B positif; 0,9/100 x V>(WxE) Keadaan hipertonis apabila nialai B negative ; 0,9/100xV<(WxE) Cara Faktor disosiasi (Farmakope Belanda VI) Larutan NaCI 0,9% b/v sudah ditetapkan isotonis dengan cairan tubuh. Tekanan osmosis larutan sebanding dengan jumlah bagian-bagian dalam larutan. Dalam larutan encer, dapat dikatakan bahwa garamgaram terdisosiasi sempuma. NaCI Na+ + Cl"

Dari sebuah molekul NaCI terbentuk dua ion, jadi faktor disosiasi NaCI adalah tetapi, sebetulnya Iebih adalah 1,8 karena adanya sedikit keseimbangan reaksi. Jadi faktor isotonisnya adalah : (CalMa) x a Keterangan: Fa = adalah faktor disosiasi zat-zat yang mendekati keadaan

sebenamya, yaitu Untuk zat-zat yang tidak terdisosiasi, sepoerti glukosa dan gliserin, fa = 1 Untuk asam-asarn lemah dan basabasa lemah, fa = 1,5 Untuk asam-asam kuat dan basa-basa kuat, fa = 1,8 Ma = adalah bobot molekul zat a,b,c ... dst adalah kadar zat dalam Iarutan dalam satuan gram/liter. Jadi larutan isotonis yang dapat dhitung dari NaCI 0,9% b/v tersebu adalah : (f NaCVM NaCI) x kadar NaCI (dalam satuan g/liter) = (1,8/58,5) x 9 = 0,28 (berarti setiap larutan yang memiliki faktor isotonis 0,28 adalah isotonis). Untuk menghitung banyaknya zat penambah (h) dalam pembuatan larutan isotonis, dapat dirumuskan sbb: h = (Mhlfh) x (0,28- CalMa) x a) + (fb/Mb) x b) ... dstj] Keterangan Harga NaCl Glukosa = (MhIfa) untuk: = 32 = 198

Etanol 96% b/v = 43 Natrium nitrat Gliserin = 47 = 81

Cara grafik Cara grafik ini didalam farmakope indonesia edisi I terdapar tabel yang langsund dapat dibaca yang berisi jumlah penambahan NaCI atau kalium nitrat dalam g/iOOml yang harus ditambahkan kedalam larutan untuk mendapatkan larutan yang isotonis dengan cairan tubuh atau jaringan tubuh. 1. Larutan hipotonis yang mengandung satu senyawa. Konsentrasi dalam graml100 ml senyawa yang disebutkan digambarkan pada sumbu x (absis) dan sumbu y (ordinat) yang bersesuaian. Ini menyatakanjuklah NaCI atau kalium nitrat dalam g/IOO ml yang harus ditambahkan kedalam larutan untuk mendapatkan larutan yang isotonis dengan jaringan. 2. Larutan hipertonis yang mengandung lebih dari satu senyawa. Jika larutan mengandung sejumlah n senyawa, sedangkan banyaknya NaCI atau kalium Nitrat yang ditambahkan setiap senyawa itu dalam konsentrasi yang diminta dapat dicari seperti pada No 1. Banyaknya NaCI yang harus ditambahkan selain dapat dibaca dalam grafik, dapat pula dilihat langsung pada daftar yang ada pada masing-masing zat. Rumus Penurunan titik beku dan rumus catalyne perlu dihitung

untuk mengetahui dan menentukan jumlah gram NaCI yang dibutuhkan dalam suatu larutan agar didapatkan sediaan yang isotonis. 10. Cara membebaskan alkalika wadah kaca, karet, plastic, dan membebas alkalikan bahan kaca a. Menurut RPS 18 th, 1551 gan eara merendam alat dalam larutan panas Hel 0,1 N selama 30 menit emudian dibilas dengan air suling. Untuk sea yang dipilih. Biasanya terbuat dari lyle dan memiliki keuntungan bahwa tidak terjadi pertukaran udara seperti yang di inginkan. Cara membebaskan alkalikan bahan karet Cara membebaskan alkalikan bahan plastic. 11. Syarat - syarat Aqua Pro Injeksi a. Menurut Formulasi Steril : 42 - 43 Persyaratan Water For Injection (WF1) menurut standar BP (2001) dan EP (2002) tidak boleh mengandung : a. total karbon organic tidak boleh lebih dari 0,5 mg/L. kemudian bila 25 ml air untuk injeksi ditambahkan kalsium hidroksida LP maka selama 5 menit hams tetap jernih. b. Klorin tidak boleh lebih dari 0,5 ppm kemudian bila 100 ml air untuk injeksi ditambahkan 1 ml perak nitrat LP, maka setelah didiamkan 5

ml hams tetap tidak berwama dan jemih. c. Amenia tidak boleh dari 0,1 ppm. Kemudian bila 50 ml air untuk injeksi yang ditambahkan 2 ml kalsium raksa (II) iodida LP dalam suasana alkalis dan dilihat dalam tabung Nessler maka tidak memperlihatkan pewamaan yang lebih kuat dari pada pewamaan yang diberikan 50 ml air yang bebas amoniak P setelah penarnbahan 2 ml pereaksi Nessler LP dan diperiksa pada keadaan yang sarna. d. Nitrat boleh lebih dari 0,2 ppm. Kemudian 5 ml air untuk: injeksi tidak boleh memberikan wama biru pada batas permukaan setelah dituangkan dengan hati - hati kedalarn 5 ml difenilalamina LP. e. Logam berat (Cu, Fe, Pb) tidak boleh lebih dari 0,1 ppm. Kemudian bila 100 ml air untuk injeksi ditambahkan 1 tetes larutan natrium sulfide LP, maka harus tetap jernih dan tidak berwarna. f. Oksidator tidak lebih dari 5 ppm. Kemudian bila 100 ml air untuk injeksi dididihkan selama 3 menit serta ditambahkan 10 ml asam sui fat encer P dan 0,5 ml kalium permanganat 0,01 N maka tidak menghilangkan sarna sekali warna larutan. g. Bebas pirogen h. pH 5,0 - 7,0. pemeriksaan dengan 10 ml air untuk injeksi dengan ditambahkan 2 tetes larutan merah metal LP tidak boleh

memberikan warna merah kemudian 10 ml air untuk injeksi dengan ditambahkan 5 tetes larutan biru bromtimol LP tidak boleh memberikan warna biru. 12. Cara pembuatan air untuk injeksi (aqua pro injeksi) a. Menurut Ilmu Resep ; 199 Air untuk injeksi (aqua pro injeksi) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Hasil sulingan pertama dibuang, sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi, harus disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan. 13. Devinisi Pirogen a. Menurut Scoville's hal 195 pirogen adalah penyebab demam atau bahan yang dibentuk oleh mikroorganisme yang kadang-kadang ada dalam cairan

parenteral dan menghasilkan panas ketika larutan disuntikkan pada pasien. b. Menurut SDF (44) Pirogena adalah produk metabolit dari mikroorganisme hidup dan mikroorganisme mati yang menyebabkan respon spesifik pitretik

setelah penyuntikkan. c. Menurut Lachman (1296) Pirogen adalah produk metabolisme mikroorganisme hidup

umumnya bakteri dan kapang serta virus telah dilaporkan sebagai penghasil pirogen bakteri gram negative memberikan zat pirogenik paten sebagai endotoksi, secara kimiawi pirogen adalah lemak yang berhubungan dengan senyawa molekul pembuat yang biasanya merupakan polisakarida tetap juga bias merupakan suatu peptide. d. Menurut RPS 18th (1550) Pirogen adalah produk dari pertumbuhan mikroorganisme bahan pirogenik yang paling berbahaya adalah dihasilkan oleh bakteri gram negative (ebdotoksin) tetapi gram positifjuga menghasilkan pirogenik yang berbahaya. e. Menurut PDF (139) Pirogen atau endotoksin adalah sebagian besar fragmen dinding sel bakteri bahwa penyebab reaksi kontraksi ketika di injeksikan. 14. Reaksi-reaksi yang ditimbulkan pirogen 1. Menurut Scoville's hal195 Pirogen dapat diartikan sebagai penghasil panas. Pirtogenin dibentuk dari bahanbahan mikroorganisme, kadang kadang

kehadirannya dalam cairan atau larutan parenteral dan penghasil fibril ketika larurtan diinjeksikan ke dalam tubuh pasien. Tipe pirogen atau reaksi fibril terdiri dari demam dan menggigil. Untuk campuran pirogen. Pasien mengalami kenaikan suhu tubuh antara 15 menit sampai 8 jam dan kecepatan nadi. Reaksi ini menyebabkan pengeluaran keringatyang berlebihan dan penurunan temperatur, mual, sakit kepala dan alguminaria juga dapat menyertai reaksi ini. 2. Menurut Lachman hal1296 Reaksi yang muncul 1 jam setelah pemberian injeksi pada manusia., dirnana pirogen menghasilkan kenaikan temperature tubuh yang nyata, demarn (panas dingin), sakit badan, vase kontriksi pada kulit, dan kenaikan dalam tekanan darah arteri. Anti piretik dapat mengeliminasi demam tersebut, tetapi tidak

mengeliminasi efek sistemis pirogen lainnya. 15. Sumber-Sumber Pirogen 1. Menurut Scoville's hal196 Prinsip sumber pirogen adalah : Destilasi air, dimana sebelum terkontaminasi dengan bakteri dan dengan udara, dimana tumbuh dan menghasilkan eksotoksin, dalam penambahan pirogen saat terbawa dalam penyulingan dan dalam proses destilasi. Surnber

pirogen lain adalah air yang terdekat pada permukaan dari wadah atau menggunakan labu dalam sediaan larutan , seperti dekstrose dan NaCL dapat berisi pirogen. 2. Menurut Lachman hal1296 Sumber yang paling banyak adalah air, zat terlarut yang terkontaminasi dan wadah. Air bebas dari pirogen jika air tersebut telah disuling, sehingga rnolekulmolekul yang terkondensasi telah hilang menjadi uap, dilindungi dari kontaminasi yang masuk tidak disengaja dan jika distilat sudah dikumpulkan dan disimpan dalam suatu kondisi steril. 16. Cara Pencegahan Pirogen 1. Menurut Scoville's (196) Dari beberapa infonnasi yang jelas, pencegahan perkenalan dan perkembangan pirogen dalam sediaan parenteral. Pemilihan rancangan yang cocok dan menjalankan penyulinga tiba-tiba dengan mencegah naik kenudian menetesnya air mendidih didalam destilasi, ini dibahas secara detail, destilat akan dikumpulkan didalam wadah dan dibilas dengan menggunakan air destilat segar. 2. Menurut RPS 18th (1550) Pirogen dapat dihancurkan dengan pemanasan pada temperature tinggi. Prosedur yang digunakan untuk dipirogenasi gelas dan

peralatan adalah pemanasan pad suhu 250C selama 45 men it. Tekanan ini dilaporkan bahwa 650C selama 1 men it atau 180C selama 4 jam akan menghancurkan pirogen. Siklus autokaf yang biasa tidak dapat melakukannya, pemanasan dengan atau larutan oksidasi akan menghancurkan pirogen . telah ditegaskan bahwa malalui pencucian dengan deterjen akan memberikan gelas bebas pirogen. Jika dilindungi selama pembuatan dan penyimpanan dari kontaminasi pirogenik berat. Cara yang disukai , wadah pelasti dan dimaksudkan harus dilindungi dari kontaminasi pirogenik selama pembuatan dan penyimpanan karena langkah-langkah yang diketahui untuk menghancurkan pirogen akan mempengaruhi pelastik dengan kurang baik. Telah dilaporkan bahwa resin penukar anion akan mengabsorbsi pirogen dari air dan osmosis yang akan mengeliminasinya, WaJaupun demikian, rnetode yang pirogenaling dipercaya untuk mengeliminasinya di air adalah destilasi. 17. Cara menghilangkan Pirogen 1. Menurut Scoville's (197) Jauh lebih baik mencegah pembentukan pirogen bagiamnapun pirogen dapt dihilangkan dengan pengabsorbsi pada suatu Japisan penyarig asbescur aktif. Metode ini digunakan terutama jika dipikrkan bahwa bahan-bahan kimia dapat terkontaminasi oleh

pirogen. Bahkan ketika salah satu dari metode absorbsi digunakan tindakan pencegahan tetap dilakukan penyulingan, pengumpulan dan penyimpanan air suling dan dalam perlakukan yang cepat dari pirogen pembuatan larutan. Metode poenyaringan asbescur terkomoresi dari tipe-tipe serum-serum, permukaan asbescur dan kemudian dihilangkan dart pirogen diabsorbsi pada permukaan saringan melalui lapisan penyaring. 2. Menurut SDF (47) Komponen pirogen dapat dirusak dengan oksidasi pemanasan tinggi atau burding up. Dengan menggunakan temperatur tinggi 250C dari 30 - 45 menit atau 170C sampai 180C dari 3 - 4 jam. Walaupun metode ini efektif untuk kontaminasi pirogen gelas dan wadah dari logam, tapi itu tidak praktis dari logam. Pirogen didalam larutan dihilangkan secara kimia oleh oksidasi dengan peroksid, asamasam dan alkali tetapi bahan-bahan ini juga dapat merusak obat-obat dan bahan kimia lainnya dalam larutan. Penyerapan pirogen didalam asbes dan arang juga efektif digunakan tetapi obat-obat dan bahan kimia lainnya dalam larutan juga dapat dihilangkan secara sempurna.

18. Pengertian Tetes Mata 1. Menurut FI edisi III, hal : 10 Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lender mata disekitar kelopak mata dan bola mata. 2. Menurut FI edisi IV, hal : 13 Larutan obat mata adalah larutan steril bebas partikel asing yang merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Pembuatan obat larutan mata membutuhkan perhatian khusus dalam tonisitas bahan obat, nilai isotonis, kebutuhan akan dapar, kebutuhan pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat, 3. MenurutAnsel, hal: 541 Larutan mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan kedalam mata. 4. Menurut Prescription, hal : 181 Secara umum larutan mata hams steril, mengandung bahan pengawet mempunyai tekanan osmotic dan pH yang sarna dengan cairan laksimal normal. 5. Menurut Scoville's, hal : 221 Larutan mata adalah larutan steril atau larutan minyak dari alcohol,

garam-garam alkaloid atau bahan lainnya yang ditnniukkan untuk pemberian WcJ~ mata, Bila dalam bentuk larutan terut:ama hams isotonis. Larutan untuk mata dimaksudkan untuk netibakteri, anastesi, midriasis, miosis atau untnk tujuan diagnose larutan ini juga. disebut tetes mata atau cairan, 6. Menurut FN, hal : 316 Tetes mata adalah sedian streil berupa larutan atau suspense, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lender mata disekitar kelopak mata dan bola mala. 7. Menurut RPS, hal : 1584 Dengan definisi semua bahan lengkap dalam keseragaman ini bukan suatu masalah dan dengan sedikit gangguan pada penglihatan. 19. Syarat-syarat Tetes Mata a. Menurnt Scoville's, hal 247 1.Steril 2.Pembawanya mengandung germisida untuk keutamaan sterilitas 3.Bebas dari partikel tersuspensi 4.Diracik dengan sempurna 5.Isotonis 6.Mengandung buffer 7.Diracik dalam wadah stern

b. Menurnt SDF, hal : 357 Larutan oftalmik memiliki sifat yang sarna dengan sediaan stern yang lain yaitu hams stern dan bebas dari bahan partikulat. c. Menurut Ansel, hal541 Selain steril preparat tersebut memerlukan oertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor fannasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonis, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok. d. Menurut RPS '", hal: 1588 1. Sterilisasi Metode umum dari sterilisasi termasuk panas lembab dibawah tekanan (autoklaf), panas kering, filtrasi, sterisasi gas dan radiasi pengionan. Bahaya obat non steril kemungkinan menghasilkan infeksi acular yang serius dea penggunaan kontaminasi larutan oftalmik. 2. Kejemihan Larutan mata harus bebas dari partikel-partikel dan kejemihan ini diperoleh dengan cara filtrasi penggunaan aliran udara laminar tertutup dan pemilihan pakaian tertutnp yang tidak digunakan akan mengkintribusi secara efekrif pada sediaan yang

larutannyajemih bebas dari partikel asing, 3. Stabilitas

Stabilitas dari obat dalam larutan seperti produk oftalmik, tergantung pada bahan obat, pH, metode dari sediaan, larutan tambahan dan ripe pengemasan. 4. Dapar dan pH Idealnya sediaan mata hams diformulasi pada pH yang ekivalen dengan cairan mata yang nilainya 7,4, hal ini jarang diperoleh karena bahan aktif yang digunakan adalah garam. Garam basa lemah lebih stabil pada pH asam. Hal ini dianjurkan untnk. suspense kortikoid yang tidak. larut, Beberapa suspense biasanya paling stabil pada pH asam. 5. Tonisitas Tonisitas mengacu pada tekanan yang digantikan oleh garamgaram dalarn larutan berair, larutan mala isotonis dengan larutan lainnya ketika daya tarik bahan kologarif larutan sarna larutan mala dipertimbangkan ketika tonisitasnya sarna dengan larutan NaCl 0,9 %. 6. Viskositas USP mengizinkan penggunaan bahan pengikat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak.. dengan mala dan selanjutnya memperkuat absorpsi dan ak.tivitas obat. Bahanbahan seperti metal selulosa dan hidroksi metal selulosa sering

ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. 7. Zat tambahan Kegunaan berbagai zat tambahan dalam larutan oftalmik diizinkan, meskipun pemilihannya dalam jumlah sedikit.

Antioksidan secara spesifik natrium bisulfit, atau metabisulfit diizinkan dan konsentrasi sarnpai 0,3 %, terutama larutan yang mengandung epinefrin. e. Menurut Parrot, hat ; 290 Obat dapat dimasukkan kedalam mala sepatutnya hams

diformulasi dan dipersiapkan dengan mempertimbangkan salah samnya adalah tonisitas, pH, stabilitas, viskositas, sterilitas. Sterilitas adalah diinginkan karena komea dan garis jaringan bagian atas adalah media yang baik untuk miroorganisme. 1. Sterilitas 2. Dapar dalam larutan mata dipertimbangkan untuk : a). Meminimalkan rasa sakit, b). Menjamin kestabilan obat, c). U ntuk mengontrol teropeutik obat. 3. Viskositas Hanya. sebagian kecil dari zat pensuspensi digunakan dalam fannasi yang mempunyai kejenuhan yang pantas pada mata,

biasanya. digunakan zat untuk menambah viskositas dari larutan oftalmik ditambahkan polivirul, polietilglikol dan metal selulosa.

20. Tetes Mata Harus steril a. Menurut SDF, hal: 357-358 Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting, Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak organism yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeroginosa. Infeksi mala dari organism ini dapat menyebabkan kebutuhan. Ini khususnya. berbahaya. untuk penggunaan produk non sterll didalam mata ketika komea dibuka, Bahan : partikulat dapat mengiritasi mata, ketidaknyamanan pasien dan metode ini tersedia untuk pengeluarannya, b. MenurntPrescription, hal: 181 Jika suatn batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sedian mata hams ril. Air mata kecuali darah, tidak mengandung antibody atau mekanisme untuk. memproduksinya, Oleh karena itu mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara sederhana aksi pertumhuhan oleh air mata dan sehuah enzim ditemukan dalam air mata (Lyzozum) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dan heherapa organisme.

Organisme ini tidak dipengaruhi oleh aroma Lyzozum, satu yang

paling

mungkin

yang

menyehahkan

kerusakan

mata

adalah

Pseudomonas aeroginosa (Badllus pyocinces). c. Menurut RPS lSd" haI: 1588 Bahaya ohat non steril, Pseudomonas aeroginosa (E. pyocyanus, P. pycyanea, blue pass bacillus) ini merupakan m.o berbahaya dan oppurtunis yang tumhuh hai pada kultur media yang menghasilkan toksin dan zat atau produk antibakteri, cenderung untuk memhunuh kntaminasi lain dan memherikan Pseudomonas aeroginosa untuk tumhuh pada kultur murni bacillus gram + menjadi sumher dari iojeksi yang serius pada komea ini. lni dapat menyehahkan kehilangan penglihatan pada 2448 jam. Pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata, menunjukkan bahwa semua zat antimikroba

didiskusikan pada bagian herikut dapat tidak efektif melawan heherapa strain dari organisme ini.

21. Anatomi Dan Fisiologi Mata a. Menurut RPS, hal 1561 Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk peroberian partikel dari obat, dasar lID dapat ditemukan dalam susunan anatomical dari jaringan. Peroennukaan air dari penneabilitas roerobran komea. Tindakan perlindungan dari kelopak mata clan sistem lakrimal

adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan dengan cepat pada bola mata, keeuali kalau bahan cocok dalam volum kecil clan secara kimia dan fisiologis bercampur denganjaringan permukaan. Kelopak mata Kelopak mata mempunyai dua fungsi pelindung roekanik pada kreasi dan bulatan yang optimal pada daerah dekat komea. Kelopak roata menjaga pengisi dari sekresi kelenjar lakrimal dan dikususkan pada sel-sel yang terdapat dalam konjungtivitas mabkar. Ruang

penyokong mempunyai bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat di depan bola mata, kantong yang mengalami perluasan dapat naik dan turun dimana kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan interior dari semua tempat ( cul-de -sac). Dua manfaat kelopak mata adalah sebagai pelindung mekankik dari bola mata dan menciptakan lingkungan bergerak optimum untuk komea, kelopak mata dibasahi dan tetap berisi cairan roelaluisekresi kelenjar lakrimal fan sel-sel khusus yang terdapat dalam konjungtiva.Ruang tersebut memiliki uiung celah, yang sempit yang langsung melewati bagian depan bola roata dengan gerakan ke atas dan ke bawah (ruang bawah)dan saluran rongga tersebut secara elipitik diantara

kelopak rnata disebut celah polpebral. Bola Mata Dinding bola mata manusia (gugus, bulat) disusun oleh 3 lapisan yaitu: 1.Lapisan Vibrow Luar 2. Lapisan vaskular tengah yang terdiri dari komea, badan silaris dan iris 3. Lapisan nervous-Retina Rumah bola mata merupakan bagian bola mata yang

menyebabkan pengurangan endepalbar dari luar yang terbentuk dari retina, dimana merupakan membran tipis yang tenbus cahaya yang mana mata ini terdiri dari susunan komea pupil, lensa kristalin dan retina dengan Iapisan cairan jemih atau gel seperti bahian yang ditempatkan pada antara struktur padat. Iris mernpunyai pupil dari sekitar lubang tengah dalam membran kontraktil partisi. Lensa krostalin ini adalah elemen refleksi dengan pengontrolan dan didukung oleh otot yang bersambung ke dalam badan sklirat, Terdapat eairan humous oraskular dari mala. Ruang bola mata merupakan alat optik yang tampak cenderung jika dilihat dari Iuar dan terbentuk pada retina merupakan membran transmukular yang tipis. Alat-alat optik meliputi pupil, kornea, lensa mata dan retina yang dengan cairan berlapis-lapis atau berupa bahan seperti gel,

yang terletak di antara struktur, Struktur pu pil berupa lubang bundar disekeliling partikel membran kontraktil (iris) yang bertindak sebagai celah dari sistem, lensa kristalin adalah elemen pembiasan cahaya dan terkontrol serta didukung oleh pengganbungan uraturat dalam saluran silisa. Koroid adalah support metabolik untuk retina. Fungsi optik dari mata adalah untuk stabilitas dimesinya yang dilengkapi dengan Iapisan berserat terluar Iebih efektif sebagai faktor stabilitas yang mana tekanan muskular yang dengan adanya tekanan tersebut dapat melindungi jaringan-jaringan

disekelilingnya. Tekanan intraokular ini menghasilkan produk cairan yang baik humoral encer yang berasal dari proses siliasi dan kelopak mata melalui suatu sistem yang rumit, Dengan

penambahan fungsi hidromekanik ioi humoral encer tersebut bertindak sebagai carrier dan nutrien, substrat dan metabolit untnk jaringan vaskular untuk mata, Tulang tengkorak yang mempunyai ruang terbentuk plasmid pada bola mata disbeut orbit. Konjungtiva Membran konjungtiva terletak pada permukaan luar dari bagian putih pada kelopak mata. Tempatnya terikat longgar sehingga memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. Konjungtiva

merupakan bagian terluar dari mata. KORNEA Komea dengan tebalan 0,5 - 1 rom terutama tersusundari ; Komea Epitelium Substitusi Propria (stromal) Endotelium Komea Komea bersifat transparan untuk berdifusinya cahaya, besar kornea tersusun dari serat-serat dan sel serta tidak adanya pembuluh darah. Epitelium korne amemberikan sifat barier yang efisien dalam melawan serangan bakteri.

b. Menurut PDF II ; 542 Bola mata secara esensial terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan luar, pelindung tonik terbuat dari skera, bagian putih dari mata dan kornea, lapisan transparan yang jemih, lapisan tengah terutama vaskular tadi kolid, badan siliar dan iris. Lapisan dalasm adalah retina terdiri dari sistem saraf penglihatan. Anatomi dari mata manusia ditnniukkan dalam gamabar. Untuk mengenal beberapa lapisan okuler untuk pertahanan yang lebih baik dari fungsifungsinya dan keterlibatannya dalam pemilihan ,penyakit mala

sedikitnya untuk menenmpatkannya lokasi spesifik dari aksi obat tennasuk : Koqjungtiva, Kornea, Kantong dalam, Kantong luar, Salman sehlerm, Trobekcular, Iris, Badansiliar, Otot siliar,

Wadahkaca, Retina, Cakra optic, Bungkusan saraf optic, Vena dan arteri pusat retina. Konjungtiva Permukaan korne adan konjungtiva dilubrikasi oleh cairan film, selaput air mata prekomeal, sekresi dari kelenjar lakrimal, air mata diantarkan melewati. Sejumlah saluran kacil kemudian memasuki kumix

konjungtiva. Sekresi-sekresi jemih cair meliputi air yang terdiri dari 0,7 % protein dan enzim lysosim. Lapisan protein musin dari selaput terutama menjaga kestabilqan dari selaput. Kelenjar sebaseus dari kelopak mata mengsekresikan cairan minyak yang dapat

membantn menurunkan penguapan dari permukan mala melalui penyebaran pada seluruh selaput air mata, Selaput air mata terdiri dari lapisan lemak luar yang tipis. Hal ini diperbaharui setiap kali pengedipan dan sudut yang kering terjadi ketika kedipan diatur. Air mata dialirkan dari mata oleh saluran lakrimal dimana menuju ke dalam bagian bawah dari saluran nasolakrimal. Aliran dari air mata memasuki hidung terjadi karena gaya gravitasi seperti gaya kapilaritas . kornea kornea adalah transparan, biasanya cahaya berdifusi secara luas karena dari susunannya yang terdiri atas sel dan serabut serta

karena tidak memiliki pembuluh darah, Pengaburan komea sdapat disebabkan oleh sama atau lebih faktor termasuk penekanan yang berlebihan pada bola mata yang disebut glaukoma, kerusakan jaringan komea luka, injeksi atau kekurangan oksigen serta hidrasi berlebihan seperti yang teriadi selama pemakaian yang tidak tepat dari kontak lensa. Komea ketebalannya 0,5-1 mm terutama terdiri dari ; Epitelium, Membran, Bowman, bersifat Stroma, Membran untnk

Descemen,

Endothelium.

Kornea

transparan

menerima difusi cahaya cukup besar k.arena laminar khusus yang terbuat dari sel-sel dan sera! dan tidak adanya pembuluh darah. Iris Fungsi utama dari iris adaIah untuk mengatur jumlah cahaya yang diperoleh retina. 2 kelompok otot yaitu spinter dan dilatar bekerja secara berlawanan untuk mengontrol jumlah cahaya yang

diperoleh retina. Otot-otot ioni didukung oleh rangsangan kolinergik dan adrenergik. Granul-granul pigmen dari epitelium iris

menyerapo cahaya sebaik otot loifilik jenis ikastan ini secara karakteristik reversiblel melalui pelepasan bahan obat sepanjang waktu. Biasanya afmitas ikatan yang rendah adalah yang nonspesifik. mengindikasikan bahwa afinitas tinggi dari reseptor obat tidak tercapai, sebagai hasil iris dapat berfungsi reservoir untuk

beberapa konsentrasi obat dan kemudian pelepasan dari obat-obat terse but untuk waktu yang lama dibandingkan yang tidak di harapkan. Badan Siliar Fungsi utama dari badan siliar adalah untuk menghasilkan aqueous humor. Aqueous humor terdiri dari u1trafiltrat jernih dari plasma darah, sejumlah besar protein bersam-sdama dengan beberapa bahan aktif berpindah melalui barier aqueous darah seperti askorbat banyak terdapat kapiler dalam badan silia. Obatobat sistemik memasuki hidung interior posterior, sebagian besar dengan melewati vaskular badan siliar dan kemudian berdifusi ke dalam iris dimana mereka dapat memasuki aqueous humor. Aqueous humor Aqueous humor adalah aqueous yang dibentuk. dari badan siliar dan menempati kantung posterior dan anterior, memiliki volume kurang lebih 0,2 ml walaupun total volume dimrunkannya dengan adanya pertumbuhan lensa. Absorbsi obat melalui komea dapat tinggal pada aqueous sehingga dapat disebut sebagai rute konversional atau menembus dinding irirs atau lapisan-lapisan lain. Kristallensa Lensa normal manusia terdiri atas 2 lapisan epitelium itu bertambah

untuk menjadi tebal, lapisan fleksibel yang tersusun atas sel-sel pada yang terbungkus oleh protein jemih yang dikenal sebagai kristal. Kantong cahaya Kantong cahaya terisi oleh cairan kental, vitrious humor, dimana bersifat viskoelastis berhubungan dengan fleksibel yang tersusun atas sel-sel pada yang terbungkus oleh proteinjernih yang dikenal sebagai kristal. Retina Retina dan pigemen epitelium bersama-sama membentuk. struktur multi laminard kompleks dimana agak lebih dibandingkan 2/3 dari bola mata. Retina adalah struktur sensorik yang terdiri dari sel-sel yang merespon stimulasi visual melalui reaksi fitokimia. Saraf optik dan Cakra optik Saraf optik dan cakra optik adalah kumpulan dari serabut saraf mielin dimana jumlah output dari proses perpindahan retinainformasi ritual diproses dan diterima dalam retina setelah melewati saraf optik. menuju ke kulit serebral dimana selanjutnya ditempari oleh integrasi kemudian cakram optik. menghubungkan pusat anterior ke saraf optik. Lapisan Prokomeal Kome harus basa secara optik. cukup untuk membasahi permukaan. .Iika kering karena kehilangan permukaan halus yang transparan dari

lapisan prakomeal bagian dari cairan mata ini penting untuk memberikannya permukaan yang lembab tergantnng pada kondidi epitelium komea. Lapisan prokomeal sesuai dengan kedua preparat mata yang berair dan berlemak tersusun atas lapisan tipis inert koloid. Lapisan ini menjadi lebih barn ssetelah kedipan dan ketika kedipan ditahan baik oleh obat dan apapun secara mekanik. Hal ini menunjukkan ketidak efektifan dengan penambahan konsentrasi sampai 2 % kedalam cairan konjungtiva. pH dibawah 4 atau diatas yang menyebabkan gangguan lapisan ini cenderung bergerak dari kontak lensa dan bentuk yang lebih mudah dari gelas dari pada plastik. 22. Cairan Lacrimal a. Menurut DOM Martin, hal 883-884 Cairan lacrimal dalah suatu produk yang menyangkut pengeluaran kelenjar/penekan dan tak satu disaring darah . lysozyme adalah suani enzim yang terdapat di air mata, telah didalilkan untuk menganugerahkan tindakan bersifat melindungi organisme;

bagaimanapun adalah tidaklytic ke organisme pathogenic. Anehnya cairan kaya secara keseluruhan protein- (yang! kira-kira 0,7% w/vyang menyokong dengan mantap untuk penyangga asam-basa pada karakteristik dari air mata, Jika tetesan lacrimal cairan yang tunggal

diunjukkan ke udara, C02 akan lepas, dan pH akan naik diatas 8 dan kemudian, pelan-pelan, untuk sekitar 9. pH dari air mat.a encer lapisan dalam yang berhubungan dengan permukaan mat.a dengan range 7,4 hingga 8,0 tergantung pada derajat tingkat transfer C0 2 dari sel epitel ke dalam air mata dengan lapisan dan tingkat hilangnya C02 oleh atmospir. Karaktersitik. osmotik pada literatur berkenaan dengan farmasi 1930, rim] adalah sering dinyatakan bahwa lacrimal cairan adalah isoosmotik dengan 1,4% larutan NaCl. ini ini terlihat kembali pada kerja luminare dan chevrotier. Bekerja dengan kuat dan digunakan digunakan dari larutan hipotonik. hams dihindarkan dan, sampai di sini, mengusulkan tetesan mata itu disiapkan dengan melarutkan unsur yang aktif di dalam 1,4% larutan NaCI tanpa memandang itu efek osmotik.. Permukaan konjungtiva clan kome tipis serta dibasahi oleh lapisan cairan yang disekresikan oleh kelenjar konjungtiva dan air marta, sekresi dari kelenjar lakrimal adalah aair mata diantara melalui sejumlah saluran tipis k.edalam formus koniungtiva yang dikeluarkan yaitu larutan berair jemih yang mengandung sejumlah garam-garam glukosa. Campuran organik lainnya kira-kira 0,1%. Protein dan enzim lisozim. Kehidupan yang spontan meliputi lapisan cairan dengan

menekan suatu lapisan tipis dari cairan sepanjang pinggir kelopak selerti pada saat keluar bersama-sama kelebihan cairan ditujukan kepada eairan lakrimal (sualu daerah segitiga kecil yang terletak dalam sudut yang terikat pada bagian dalam kelopak). Air mata disalurkan dari bagian lakrimal oleh dua pupil kecil (kanaleuri lakrimal) yang akan menuntun ke bagian yang paling baah dari permukaan mata. Saluran air mata ke bagian le hidung tidak tergantung hanya pada gravitasi. Cairan masuk dan melalui sepanjang dengan kerja kapilari yang dibantu oleh kontraksi otot yang melekat pada kelopak mata saat kelopak mata tertntnp seperti pada waktu berkedip. Kontraksi otot menyebabkan dilatasi dan bagian bawah dipaksa untuk ke saluran nasolakrimal pada permukaan dalam hidung. Pada saat kelopak terbuka jangan menyentuh penetes pada mata dengan jari agar tidak mengiritasi selama digunakan pada ruang dengan mata. Kebutuhan yang terjadi secara tiba-tiba menambah sejumlah lapisan cairan dengan mendesak lapisan tipis dai cairan menuju kesisi kelopak mat:a. Keberadaan cairan yang secara langsung masuk ke dalam lakrimal daerah tranguler yang terdapat dalam sudut kelepak mala, kulit dari kelopak mala paling tipis dan membiarkan eelah pada palpebral terbuka dan tertutup secara cepatpergerakan kelopak mata terrnasuk

penyempitan celah parpebral dari canthus lateral. Menuju ke canthus medial (canthi; sudut dimana kelopak mata bertemu) ini membantu transport dan pergerakan cairan menuju Jakrimal. Air mata adalah aliran air dari danau (kelenjar) lakrimal dari dua tube kecil. Lakrimal canlicui yang mengikuti bagian alas dari saluran nasolakrimal luasnya dimulai yang mana disebut kantong lakrimal. Aliran air mara ke dalam neuse tidak tergantung pada gravitasi 23. Pengertian Steril a. RPS 18tb : 1470 Steril adalah ketidakhadiran atau tidak adanya mikroorganisme yang hidup b. DOM Martin Hal 241 Steril adalah biasanya kontaminasinya dibuat sangat kecil c. SDF: 37 Steril adalah bebas dari mikroorganisme yang dipastikan pada permukaannya dengan mempengaruhi / menaklukkan suatu produk dalam proses sterilisasi yang sah, kemudian pengemasan produk dalam suatu bentuk ini menjamin penerimaan dari karakteristiknya. Istilah steril adalah suatu kemutlakan dan seharusnya tidak digunakan atau dipertimbangkan secara relatif sebagai suatu bagian atau kebanyakan steril.

d. Lachman 3 : 1254 Steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini mengatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relatif dan memungkinkan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian mikroba. e. Ansel: 399 Steril adalah bebas dari pencemaran mikroba f. PTM: 120 Suatu produk steril didefinisikan dalam istilah praktis sebagai suatu bentuk yang mikroorganisme hidup tidak dapat dibebaskan ketika dimusnahkan untuk suatu prosedur pengujian sterilitas. 24. Definisi Sterilisasi a. Menurut Ansel hal410 Proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan sporanya atau menghilangkan secara lengkap mikroba dan sediaan. b. Menurut Lachman hal1252 Proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril dalam kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup.

c. Menurut RPS 18th hal1470 Proses dimana semua bentuk mikroorganisme dihilangkan atau dihancurkan berdasarkan pada fungsi yang memungkinkan. d. Menurut Scoville's hal403 Proses untuk membunuh mikroorganisme lain. e. Menurut Parrot hal274 Proses membunuh atau menghilangkan mikroorganisme dan massa hidupnya. Sterilisasi biasa dilakukan secara kimia mekanik dan fisika. f. Menurut SDF hal37 Sterilisasi adalah keadaan absolut dan tidak pernah dapat digunakan atau di pertimbangkan dengan hampir steril atau sebagian steril. 25. Metode Sterilisasi a. Menurut PTM hal121 1. Metode sterilisasi Kimia (destruksi) Berhubungan dengan antibiotik, fenol, senyawa amonium kwartemer, alkohol atau berhubungan dengan gas seperti etilen oksida, formaldehid asetat. 2. Radiasi (destruksi) Sinar ultraviolet 253,7 nm, radiasi plasma atau menghilangkan bakteri dan

(laser) 3. 4. Radiasi peng-ion, sinar gamma (Co 60) Termal Radiasi (destruksi) Pemanasan kering 170C kurang lebih 120 menit atau pemanasan basah pada suhu 121C. 5. Filtrasi (perpindahan atau penghilangan) Diperkenankan penetrasi partikel maksimum berdiameter 300 nm (membran dengan ukuran pori-pori 0,2 J.1m)

b. Menurut Parrot hal 274 1. 2. 3. 4. 5. Steam Underpressure Pemanasan kering Penyediaan bakteri Sterilisasi gas Sterilisasi radiasi

c. Menurut Lachman hal1263 1. Sterilisasi Fisika Metode Panas: Pemanasan kering, pemanasan lembab Metode non-panas: Sinar UV radisai pengion, penyaringan 2. Sterilisasi Kimia Sterilisasi gas : Etilen oksida Desinfeksi permukaan

26. Cara-cara Sterilisasi a. Menurut Ansel hal 411 1. Sterilisasi uap (lembab panas) Sterilisasi uap dilakukan dalam autoklaf dan menggunakan uap air dengan tekanan. Sebagian besar produk farmasi tidak tahan panas dan tidak dapat di panaskan dengan aman pada temperatur yang dibutuhkan untuk sterilisasi panas kering (lebih kurang 170C). Bila ada kelembaban (uap air, bakteri terkoagulasi dan dirusak pada temperatur yang lebih rendah dari pada bila tidak ada kelembaban. Kenyataan, sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih mudah dibunuh. Spora-spora yang kadar aimya relatif rendah lebih sukar dihancurkan . Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial organisme tersebut, adanya uap air yang panas dalam sel mikroba, menimbulkan keusakan pada ternperatur yang relatif rendah. Kernatian oleh pernanasan kering timbul karena sel mikroba rnengalami dehidrasi diikuti dengan pembakaran pelanpelan atau proses oksidasi. Karena tidak mungkin untuk

rnendapatkan uap air dengan temperatur diatas 100 C pada kondisi atmosfer, maka tekanan digunakan untuk rnencapai temperatur

yang

lebih

tinggi

diternukan

bahwa

bukan

tekanan

yang

menghancurkan mikroba, tetapi temperatur tekanan digunakan untuk meningkatkan temperatur, waktu juga merupakan faktor penting dalam penghancuran mikroba oleh panas. Sebagian besar outoklaf modem mernpunyai skala ukuran untuk menunjukkan pada operator kondisi temperatur dan takanan dalam dan peralatan waktu untuk beban outoklaf tersebut dan penetapan waktu yang dibutuhkan untuk sterilisisasi sesudah sistem mencapai temperatur yang ditentukan, adalah sebagai berikut : Tekanan 10 pound (115,50C), untuk 30 menit Tekanan 15 Pound (l21,SoC), untuk 20 menit Tekanan 30 Pound (l26,50C), untuk 15 menit Dapat akibat makin besar tekanan yang digunakan makin tinggi temperatur yang dicapai dan makin pendek waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi. Metode ini juga digunakan oleh larutan dalam jumlah besar, alat-alat gelas pembalut operasi dan instrument. 2. Sterilsasi panas dan kering Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan oven pensteril yang dirancang khusus untuk tujuan ini. Oven dapat dipanaskan dengan gas atau listrik umumnya temperatur diatur secara otomatis. Sterilasasi panas kering, biasanya ditetapkan pada

temperature 160C sampai 170C dengan waktu tidak kurang dari 2 jam. Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawasenyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas. Snyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin, berbagai produk minyak seperti petrolatum, petrolatum cair (minyak mineral), paraffin dan berbagai semuk yang stabil oleh pemanasan seperti ZnO. Juga efektif untuk sterilsasi alat-alat gelas dan alat-alat bedah. Dan juga merupakan metode pilahan bila dibutuhkan peralatan yang kering atau wadah yang kering seperti pada pengemasan zat-zat kimia kering atau larutan bukan air. 3. Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi dengan penyarimgan tergantung pada penghilangan mikroba secara fisik dengan absorbsi pada media penyaring atau dengan mekanisme penyaringan, digunakan untuk sterilisasi larutan yang tidak tahan panas. Sediaan obat yang disterilkan dengan cara ini menjalani pengesahan yang ketat dan

memonitoring karena efek produk hasil penyaringan dapat dipengaruhi oleh banyaknya mikroba dalam larutan yang difiltrasi. Keuntungan utama saringan bakteri meliputi kecepatan pada penyaringan sejumlah larutan, kemampuan untuk mensterilkan

secara efektif materi-materi yang tidak tahan panas, peralatan yang dipergunakan relatif tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikellengkap semua dihilangkan dalam larutan. Satu kekurangan penyaring bakteri yang serius adalah

kemungkinan kerusakan bentuk penyaring sehingga ketidakpastian kesterilan hasil penyaringan tidak dapat ditemui pada cara sterilisasi kering panas atau lembab panas dimana prosedumya dikatakan menjamin steriliasasi yang efektif. 4. Sterilisasi gas Beberapa senyawa yang tidak tahan panas dan uap dapat disterilkan dengan memaparkan gas etilen oksida adalah propilen oksida. Bila dibandingkan dengan cara-cara lain poada umumnya sterilisasi dengan gas dipertinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan memendek dengan meningkatnya kelembaban relative dari system (sampai kira-kira 60 %) dan dengan peningkatan temperatur memerlukan waktu pemaparan (sampai anatara 50C60C). Umumnya sterilisasi dengan gas etiten oksida memerlukan waktu pemaparan 4 - 16 jam. Diduga kerja etilen oksida sebagai pensterilan, adalah dengan mengganggu metabolisme sel bakteri, diduga pada pemakaian khusus tertentu seperti pada peralat

operasi dan kedokteran dan alat-alat seperti cateter, jarum, alat suntik plastik sekali pakai (disposable). Pada pengemasan aklhir dengan plastik dengan sebelum pengiriman. Gas juga dapat digunakan untuk mensterilkan berbaga sediaan enzim tertentu yang tidak tahan panas. Antibiotik-antibiotik tertentu dan obat-obat lain dengan melakukan pengujian-pengujian untuk menjamin tidak timbul reaksi kimia atau efek merusak obat. 5. Sterilisasi dengan radiasi pengionan Tehnik-tehnik yang disediakan untuk sterilisasi beberapa jenis sediaan-sediaan farmasi dengan sinar gamma dan sinar katoda, tetapi penggunaan tehnik-tehnik ini terbatas karena memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh-pengaruh radiasi seperti produk-produk dan wadah-wadah. Mekanisme yang pasti mekanisme mengenai pengsterilan obat atau sediaan dengan radiasi masih diselidiki dari beberapa teori yang dianjurkan adalah, ikut terlibat dalam kegiatan kimiawi atau membantu

mikroorganisme membentuk senyawa kimia baru yang dapat merusak sel. Teori lain mengatakan bahwa struktur utama sel seperti neoleoprotein (protein inti), kromosom dirusak atau dikacaukan seluruhnya dan kerusakan itu menetap.

6. Penyaringan Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel,

termasuk mikroba dari larutan dan gas tanpa menggunakan panas. Idealnya jaringan tidak harus mengubah larutan atau gas dengan segala cara juga tidak menghilangkan konstituen yang diinginkan atau membawa komponen-komponen yang tidak diinginkan. Persyaratan ini pada dasamya membatasi jenis penyaring yang sekarang digunakan untuk jenis polimer. Lagi pula hampir semua yang sekarang ini dipakai untuk larutan parenteral dan gas adalah jenis membran yang jaringan tipis yang memisahkan dengan mengayak. Bila suatu penyaring benar untuk memisahkan

konstituen dari suatu larutan maka pemisahan itu biasanya karena fenomena adsorbsi yang merupakan fenomena permukaan yang hanya terjadi selama bagian pertama filtrasi yakni sampai permukaan penyaringjenuh dengan molekul atau ion yang

diabsorpsi. Serangan yang paling sering terhadap penyaring itu sendiri adalah karena sifat-sifat pelarut dari zat pembawa produk parenteral tertentu karena zat pelarut larutan parenteral yang paling sering digunakan adalah air dan penggunaan jenis zat pelarut lain terbatas maka hal ini biasanya tidak menjadi masalah. Lagi pula pengembangan penyaring membran yang tersusun dari bahan-

bahan yang mempunyai resistensi tinggi terhadap kebanyakan zat pelarut farmasi telah lebih jauh mengurangi masalah ini. Penyaring membran biasanya tersusun dari polimer plastik, termasuk selulosa asetat dan selulosa hidrat, nilon, polifinil klorida, polikarbonat, polisulfat, dan Teflon. Kadangkadang logam yang dikompakkan seperti baja anti karet dan perak digunakan bila diperlukan karakteristik tahan lama yang tinggi.