Anda di halaman 1dari 11

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Budidaya Kangkung Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputihputihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah (Edi dan Yusri, 2010). Ada dua jenis penanaman kangkung yang diusahakan yaitu kering dan basah. Dalam keduanya, sejumlah besar bahan organik (kompos) dan air diperlukan agar tanaman ini dapat tumbuh dengan subur. Dalam penanaman kering, kangkung ditanam pada jarak lima inci pada batas dan ditunjang dengan kayu sangga. Kangkung dapat ditanam dari biji benih atau keratan akar. kangkung sering ditanam pada semaian sebelum dipindahkan di kebun. Daun kangkung dapat dipanen setelah enam minggu ditanam. Jika penanaman basah digunakan, potongan sepanjang 12-inci ditanam dalam lumpur dan dibiarkan basah. Semasa kangkung tumbuh, kawasan basah ditenggelami pada tahap 6 inci dan aliran air perlahan digunakan. Aliran air ini kemudian dihentikan apabila tanah harus digemburkan. Panen dapat dilakukan 30 hari setelah penanaman. Apabila pucuk tanaman dipetik, cabang dari tepi daun akan tumbuh lagi dan dapat dipanen setiap 7-10 hari. Semasa berbunga, pucuk kangkung tumbuh dengan lambat, dengan pengolahan tanah dan panen cenderung menggalakkan lebih banyak daun yang dihasilkan (Primantoro, 1996). Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih. Kangkung dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim

hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun. Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah. Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk (Widiyanto, 1999). B. Integrated Crop Management Pengelolaan tanaman (crop management) ialah aktivitas untuk menumbuhkan tanaman yaitu mulai dari memilih benih, mengelola tanah, mengelola pengairan, memupuk, mengatasi masalah gulam, jarak tanam, mungkin juga termasuk teknik memanen hasil (Oka, 2005). Melalui pendekatan model integrated crop management disamping meningkatkan produktivitas juga masih mampu meningkatkan efisiensi usahatani, terutama melalui penurunan penggunaan biaya agroinput berupa benih dan penggunaan pupuk kimia sebagai akibat dari diterapkannya komponen-komponen teknologi budidaya sinergis, seperti tanam tunggal bibit muda, pemupukan N berdasarkan panduan bagan warna daun dan pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah melalui uji tanah. Pemanfaatan lahan secara harmonis, menyeluruh (holistic) dan terpadu (integrated) serta berkelanjutan (sustainable) untuk berbagai peruntukan, yaitu: (i) produksi biomassa (sektor pertanian), (ii) lingkungan hidup (iii) konservasi genetik. (iv) ruang infra-stuktur, (v) sumber daya alam (pertambangan), dan (vi) estetika dan budaya. Masing-masing anasir bentang lahan tentu saja tidak boleh lagi saling menonjolkan kepentingan sektoral sendiri saja namun harus saling berkaitan dan mendukung secara harmonis dan sinergis. Integrated crop management merupakan pola holistic penggunaan lahan yang

mengintegrasikan proses regulasi alami menjadi aktivitas pertanian untuk mencapai peralihan maksimal dari input off-farm dan untuk mempertahankan

pendapatan pertanian. Sistem-sistem yang terintegrasi didalamnya antara lain: multifunctional crop rotation, integrated nutrient management, minimum soil cultivation, integrated crop management, ecological infrastructure

management (Zaini dan Syam, 2004). Pengelolaan tanaman terpadu adalah pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan. Prinsip Pengelolaan tanaman terpadu mencakup empat unsur, yaitu integrasi, interaksi, dinamis, dan partisipatif. Integrasi dalam implementasinya di lapangan, pengelolaan tanaman terpadu mengintegrasikan sumber daya lahan, air, tanaman, OPT, dan iklim untuk mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi petani. Interaksi pengelolaan tanaman terpadu berlandaskan pada hubungan sinergis atau interaksi antara dua atau lebih komponen teknologi produksi. Dinamis pengelolaan tanaman terpadu bersifat dinamis karena selalu mengikuti perkembangan teknologi dan penerapannya disesuaikan dengan keinginan dan pilihan petani. Pendekatan pengelolaan tanaman terpadu senantiasa mempertimbangkan lingkungan fisik, biofisik, iklim, dan kondisi sosial-ekonomi petani setempat. Pengelolaan tanaman terpadu juga bersifat partisipatif, yang membuka ruang bagi petani untuk memilih, mempraktekkan, dan bahkan memberikan saran kepada penyuluh dan peneliti untuk menyempurnakan pengelolaan tanaman terpadu, serta menyampaikan pengetahuan yang dimiliki kepada petani yang lain (Pracaya, 2008). C. Integrated Pest Management Penggunaan pestisida oleh petani yang tidak tepat dan berlebihan, dapat meningkatkan biaya produksi dan mengakibatkan dampak samping yang merugikan terhadap lingkungan dan kesehatan petani itu sendiri maupun masyarakat secara luas. Konsep PHT berawal dari perkembangan dan penerapan PHT dalamsistem pertanian di tempat tertentu. Dalam hal ini, pengendalian hama didasarkan pada pengetahuan dan informasi tentang

dinamika populasi hama dan musuh alami serta keseimbangan ekosistem. Keuntungan petaniPetani dapat meningkatkan keuntungan karena biaya input pada sistempertanaman tidak terlalu tinggi, misalkan dengan mengunakan pestisida nabatidan musuh alami. Petani juga tidak tergantung dengan pestisida buatan pabrik yang harganya relatif mahal. Usaha konservasi keseimbangn lingkungan dapat terus dijaga, karena pada konsep PHT seluruhkomponen lingkungan tidak dihilangkan. Kondisi tanah, air, dan tanaman yang ada di lahan pertanian tidak menurun.Sistem pertanian terpadu merupakan tujuan jangka panjang PHT dengansasaran pencapaian produksi tinggi, produk berkualitas, perlindungan dan peningkatan kemampuan tanah, air, dan sumber daya lainnya yang tidak tercemar (Purnomo, 2010). Taktik penerapan pengendalian hama terpadu diantaranya adalah: (a) Pemanfaatan proses pengendalian alami dengan memanfaatkan musuh alami hama; (b) Pengelolaan agroekosistem melalui bercocok tanam (pengendalian hama secara kultur teknis) sehingga kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangbiakan OPT, misalnya: penanaman varietas tahan,dan sanitasi tanaman; (c) Pengendalian fisik dan mekanis; (d) penggunaan pestisida secara selektif dengan memperhatikan AE (Ambang Ekonomi) dan juga TKE (Tingkat Kerusakan Ekonomi) (Mutisari, 2010). Banyak ahli memberikan batasan tentang PHT secara beragam, tetapi pada dasarnya mengandung prinsip yang sama. PHT adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beraneka ragam teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan kordinasi pengelolaan (Bottrell, 1979). D. Integrated Soil Management Tanah yang dipergunakan diolah dengan cara dicangkul. Proses penanaman dengan melakukan plot plot yang sudah terbentuk dan dibuat lubang tanam sedalam 5 cm dengan cara ditugal dengan jarak tanaman tertentu dan setiap lubang ditanamn dengan benih kacang tanah. Penjarangan dilakukan satu minggu setelah tanam, masing-masing lubang tanam disisakan

satu tanaman. Pendaringan dan penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur tiga minggu (Ross, 2000). Pengolahan tanah yang terus-menerus atau di atas kemapuan tanah dapat mengakibatkan pemadatan pada lapisan tanah bagian bawah lapisan olah, hal demikian menghambat pertumbuhan akar. Untuk mengatasi kerusakan karena pengolahan tanah, diperkenalkan sistim pengolahan tanah minimum (minimum tillage) yang diikuti oleh pemberian mulsa dapat meningkatkan produksi pertain. Pengolahan tanah minimum adalah

pengolahan tanah yang dilakukan secara terbatas atau seperlunya tanpa melakukan pengolahan tanah pada seluruh areal lahan, misalnya di sekitar lubang tumbuhnya tanaman. Manfaat pengolahan tanah secara minimum adalah mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan aliran pemukaan, mengamankan dan memelihara produktifitas tanah agar tercapai produksi yang setinggi-tingginya dalam waktu yang tidak terbatas, meningkatkan produksi lahan usahatani, dan menghemat biaya pengolahan tanah, waktu dan tenaga kerja. Mulsa adalah sisa-sisa tanaman (serasah) yang susah lapuk. Penggunaan mulsa ini bermanfaat sebagai pengendali gulma, meningkatkan aktivitas organisme tanah, mengurangi penguapan air tanah dan dapat menambah bahan organik setelah mulsa tersebut mulai lapuk (Firmansyah, 2003). Tanah adalah sumber daya yang perlu dijaga kesuburannya agar tetap dapat menghasilkan hasil yang maksimal tanpa merusak tanah. Pemakaian tanah untuk pertanian dan perkebunan secara terus-menerus dapat membuat tanah menjadi tidak subur atau tandus. Beberapa penyebab ketidaksuburan tanah ialah seperti pemcemaran tanah oleh limbah buangan, pestisida, tanaman monoton, dan lain sebagainya. Cara pemeliharaan tanah secara terpadu yang dapat ditempuh yakni : 1. Memberi pupuk atau pemupukan sesuai dengan jenis tanah baik pupuk kandang maupun pupuk buatan. 2. Membuat saluran irigasi untuk pengairan, ketersediaan air dalam tanah. 3. Membuat sengkedan untuk mencegah erosi tanah.

4. Menjaga tanah dari penggunaan zat / bahan-bahan kimua yang merugikan dan tidak melakukan pembuangan zat-zat atau samaph yang dapat menurunkan kesuburan tanah. 5. Menanami lahan sesuai daya dukung lahan. 6. Melakukan rotasi tanaman 7. Melaksanakan penghijauan dengan cara memberi humus pada tanah. 8. Mendukung keberadaan cacing tanah dan mikroba dalam tanah melalui ketersediaan bahan organik untuk membantu menggemburkan tanah. (Noor, 2001). E. Integrated Nutrient Management Pengelolaan limbah peternakan terpadu merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan produktivitas agribisnis disertai meningkatnya daya dukung lingkungan. Keberhasilan usaha pertanian tanaman, sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pupuk. Sampai saat ini, sebagian besar masih menggunakan pupuk buatan, padahal selain ketersediaannya terus berkurang, penggunaan yang tidak bijaksana juga berdampak terhadap keseimbangan ekologis sehingga daya dukung lingkungan terus menurun dan produktivitas usaha pertanian rendah. Salah satu alternatif penanggulangan adalah meningkatkan produksi pupuk organik melalui pengelolaan dan pemanfaatan limbah peternakan secara optimal. Pengolahan limbah peternakan sebagai bahan baku pupuk harus dilakukan sesuai dengan kaidah alamiah, yaitu melalui proses biokonversi (Sudiarto, 2010). Bahan organik berperan penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Peran bahan organik adalah meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah memegang air, meningkatkan pori-pori tanah, dan memperbaiki media perkembangan mikroba tanah. Tanah berkadar bahan organik rendah berarti kemampuan tanah mendukung produktivitas tanaman rendah. Hasil dekomposisi bahan organik berupa hara makro (N, P, dan K), makro sekunder (Ca, Mg, dan S) merupakan nutrisi bagi tanah serta hara

mikro yang dapat meningkatkan kesuburan tanaman. Hasil dekomposisi juga dapat berupa asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman. Bahan organik tanah dapat berasal dari: a. sumber primer, yaitu: jaringan organik tanaman (flora) yang dapat berupa: daun, ranting dan cabang, batang, buah, dan akar. b. sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa: kotoran atau feces dan mikrofauna. c. sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa: pupuk kandang, pupuk hijau, pupuk bokasi (kompos), dan pupuk hayati. (Novizan, 2005). Pemberian pupuk anorganik saja terurama pupuk posfat (P) belum menjamin hasil yang maksimal, karena pupuk anorganik tidak mampu memperbaiki struktur tanah. Oleh karena itu perlu penggunaan pupuk kandang. Peranan pupuk organik di dalam tanah sangat menyeluruh, secara fisika memungkinkan membentuk agregat atau granulasi tanah sehingga dengan perbaikan agregasi tanah akan mengakibatkan permeabilitas dan peredaran udara di dalam tanah. Selain itu juga dapat meningkatkan daya pegang hara dan air dari butir-butir tanah. Sedangkan fungsi kimia pupuk organik adalah sebagai suplai hara bagi tanaman, juga dapat meningkatkan ketersediaan beberapa unsur hara dan efisiensi penyerapan fosfat. Juga fungsi secara biologi sebagai sumber utama energi bagi aktivitas jasad renik tanah (Arifin, 2000). F. Integrated Water Management Sektor pertanian merupakan sektor yang paling besar kebutuhannya akan air yaitu meliputi jumlah sekitar 97% dari total kebutuhan air dalam seluruh perekonomian. Untuk studi mengenai ketersediaan air itu diperlukan pengetahuan tentang kondisi tanah yang ada, macam tanaman, pola tanam, koefisien penggunaan air setiap jenis tanaman, serta perhitungan besarnya aliran balik air ke masing-masing sungai (Suparmoko, 2010). Pertanian beririgasi merupakan pengguna air terbesar. Pada umumnya, lebih 80% dari air yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena

biasanya air disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien dan retribusinya, jika ada, tidak akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak. Maka hasilnya ialah penggunaan yang sangat tidak efisien, efisiensinya kirakira hanya di bawah 40% untuk seluruh dunia dan kemerosotan mutu yang semakin melaju pada sistem yang semakin besar. Sesungguhnya efisiensi dapat ditingkatkan dengan baik, yakni dengan perbaikan cara pengoperasian dan pemeliharaan sistemnya, perbaikan saluran, pendataran lahan supaya pembagian air dapat merata, penyesuaian antara banyaknya pelepasan air dari tandon dan keperluan senyatanya di daerah hilir dan pengelolaan yang lebih efektif apabila air tersebut sudah sampai di lahan pertanian atau dengan menggunakan teknik yang lebih efisien seperti irigasi tetesan (Harmayani, 2011) Upaya-upaya konservasi air yang diarahkan pada pemanfaatan air secara berkelanjutan dapat dilakukan diantaranya, pertama, mencari dan membudidayakan tanaman yang efisien dalam menggunakan air, atau mengganti dengan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Contoh tanaman hemat air antara lain sorghum, ubi kayu, dan kacang tunggak. Sedangkan, tanaman bernilai ekonomis tinggi yang dibudidayakan, antara lain sawi, kol, kacang panjang,cabe, semangka dan timun. Upaya konservasi air yang kedua adalah mengurangi evaporasi (penguapan) air dengan cara pemulsaan. Pemulsaan dilakukan dengan cara menempatkan potongan gulma pada tanaman. Untuk mendapatkan gulma ini, petani memelihara rumput pada lahan pertaniannya. Jika rumputnya mulai menguning rumput tersebut dipotong lalu diikat dan dijadikan mulsa. Teknik pemulsaan ini mampu mengurangi kehilangan air pada tanaman. Ketiga, pemanfaatan air bawah tanah. Dibandingkan dengan air permukaan, keuntungan air bawah tanah dapat disimpan lebih lama dan dapat digunakan untuk kebutuhan air suplemen, serta kehilangan melalui evaporasi lebih sedikit. Selain itu, air bawah tanah lebih murni, sehingga dapat diminum (Mosa, 2002).

G. Integrated Livestock Management Penerapan sistem pertanian terpadu integrasi ternak dan tanaman terbukti sangat efektif dan efisien dalam rangka penyediaan pangan masyarakat. Siklus dan keseimbangan nutrisi serta energi akan terbentuk dalam suatu ekosistem secara terpadu. Sehingga akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi yang berupa peningkatan hasil produksi dan penurunan biaya produksi. Kegiatan terpadu usaha peternakan dan pertanian ini, sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang di lahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian untuk makan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya (Suparman, 2005). Pola integrasi yang diterapkan dengan pendekatan zero waste dan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) pada ternak sapi, khususnya untuk commercial stock. Pengkajian terutama dilakukan terhadap komponen-komponen teknologi yang terkait lansung dengan siklus integrasi ternak-tanaman. Beberapa komponen teknologi yang telah diintroduksikan sebelumnya dikaji efektifitas, kelayakan serta respon dari penggunanya. Limbah pawija sebagian kecil pucuk jagung dimanfaatkan untuk pakan ternak dan sebagian besar terbuang. Dengan pengakajian, limbah palawija dimanfatkan untuk pakan ternak. Dengan menambahkan bahan-bahan lain limbah kering palwija dijadikan pakan dan pucuk jagung dibuat menjadi silase sehingga lebih banyak yang bisa dimanfaatkan. Kotoran sapi dibuat sumber biogas, selanjutnya limbah dari biogas dijadikan pupuk dikembalikan kepada tanaman. Analisis output dari peternakan berupa pupuk kandang berupa urin dan feces yang dihasilkan oleh sapi. Dalam satu tahun sapi dapat menghasilkan pupuk kandang sekitar 5,4 ton dengan rincian tiap hari

menghasilkan 15 kilogram kotoran. Dikaitkan dengan kebutuhan lahan, informasi yang didapat bahwa sejumlah lima ekor sapi mampu mencukupi kebutuhan pupuk organic selama satu tahun. Agar kotoran dapat menjadi pupuk kandang biasanya diakukan dekomposisi selama 4 bulan agar pupuk kandang dapat langsung digunakan pada lahan pertanian (Winangun, 2005). Sistem peternakan yang digunakan sebagai pakan berupa kotoran yang dialirkan kepada biodigester. Biodigester berfungsi untuk mereduksi limbah organik menjadi karbondioksida dan biomasa hasil dari biodigester tidak hanya dalam bentuk cair tetapi ada yang berupa padatan membentuk sendimen untuk digunakan sebagai kompos bagi pertanian. Limbah cair berupa biomasa dapat dimanfaatkan dengan cara dialirkan ke dalam kolam alga sehingga pada kolam alga akan merangsang produksi mikroalga dan makroalga. Mikroalga dan makroalga akan dialirkan ke dalam kolam ikan sebagai fitoplankton yang dapat dimanfaatkan sebagai produsen yang dapat merangsang pembentukan zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami ikan sehingga akan didalam kolam ikan terjadi proses trofic level sehingga konsumsi pakan buatan dapat diminimalisir. Integrasi antara pertanian dan perikanan akan memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan global (Arie, 2000). H. Integrated Market Link Management Menurut A.T. Mosher salah satu syarat mutlak pembangunan pertanian jika pertanian akan dikembangkan dengan baik adalah adanya pasar untuk hasil-hasil usahatani. Hasil-hasil usahatani tentunya akan dipasarkan dan dijual dengan harga yang cukup tinggi untuk menutup biaya dan tenaga kerjayang telah dikeluarkan para petani sewaktu memproduksinya. Di dalam memasarkan hasil-hasil produk pertanian ini diperlukan adanya permintaan (demand) akan hasil-hasil pertanian tersebut, sistem pemasarn, dan kepercayaan petani pada sistem pemasaran tersebut (Arsyad, 1997). Pola pemasaran konvensional yang dilakukan petani menyebabkan tingkat harga yang diterima oleh petani pada umumnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan harga yang diterima oleh pedagang. Keuntungan yang diterima oleh petani dari kegiatan usahataninya juga relatif kecil, sementara

konsumen harus membayar lebih mahal dari harga yang selayaknya ditawarkan, hal ini sebagai akibat dari terjadinya biaya pemasaran yang tinggi dari petani hingga sampai kepada konsumen akhir. Kenyataan lain menunjukkan bahwa disamping lemahnya posisi tawar (bargaining posistion) petani dalam pemasaran juga semakin maraknya produk-produk pesaing khususnya produk import di pasar yang sama dalam negeri (Masturi, 2010). Dengan adanya segmentasi pasar diharapkan petani dapat memilah dan mengolah sendiri produk yang akan dijual, sama seperti yang dilakukan oleh para pedagang pengumpul dan pengecer. Sehingga pendapatan petani yang tadinya berbeda jauh dengan yang didapatkan oleh pedagang pengumpul dan pengecer dapat menjadi lebih kecil perbedaannya (marjin tataniaga mengecil) serta membangun kemandirian petani. Apabila telah dilakukan perbaikan terhadap sistem pemasaran yang ada maka pemerintah dapat menerpkan sistem pertanian yang berkelanjutan kepada masyarakat. Karena dengan meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan efisiensi pemasaran diharapkan masyarkat tertarik untuk menekuni bidang pertanian Indonesia (Hanafie, 2010).