Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN PENGAMATAN MORFOLOGI DAN ANATOMI CACING TANAH (Lumbricus terrestris)

Oleh: Ni Putu Asta Dasanjani Putu Ery Setiawati Putu Ira Ardhyagarini Putu Diantarasa

S1 KKT BIOLOGI UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2012

PENGAMATAN MORFOLOGI DAN ANATOMI CACING TANAH (Lumbricus terrestris)

I. Tujuan Mengamati morfologi dan anatomi cacing tanah. II. Dasar Teori Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) adalah filum luas yang terdiri dari cacing bersegmen, dengan sekitar 15.000 spesies modern, antara lain cacing tanah dan lintah. Filum ini ditemukan di sebagian besar lingkungan basah, seperti air tawar dan di laut. Panjang anggotanya mulai dari dibawah satu milimeter sampai tiga meter. Filum ini dikelompokkan menjadi tiga kelas yaitu Polychaeta, Oligachaeta, dan Hiruden. Annelida adalah cacing gelang dengan tubuh yang terdiri atas segmen-segmen dengan berbagai sistem organ tubuh yang baik dengan sistem peredaran darah tertutup. Annelida sebagian besar memiliki dua kelamin sekaligus dalam satu tubuh atau hermafrodit. Contohnya yakni cacing tanah, cacing pasir, cacing kipas, lintah/leeches.

Gambar 1. Anatomi dan segmen Annelida Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Bentuk tubuhnya bersegmensegmen dilapisi oleh kutikula, tersusun oleh gelang kecil yang dibatasi dengan sekat 1

berbentuk seperti cincin atau gelang. Jika cacing ini dipotong menjadi dua bagian yang sama, maka bentuk tubuhnya simetri bilateral. A. Ciri-ciri Tubuh 1. Ukuran dan bentuk tubuh Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m. Contoh annelida yang panjangnya 3 m adalah cacing tanah Australia. Bentuk tubuhnya simetris bilateral dan bersegmen menyerupai cincin. 2. Struktur dan fungsi tubuh Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem pencernaan Annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak di depan faring pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggalnefridium) merupakan organ ekskresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupakan pori permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya. 3. Cara hidup dan habitat Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap. Annelida hidup diberbagai tempat dengan membuat liang sendiri. 4. Reproduksi Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembentukan gamet. Namun ada juga yang bereproduksi secara fragmentasi, yang kemudian beregenerasi. Organ seksual annelida ada yang menjadi satu pada satu individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain (gonokoris). Meskipun Annelida ini bersifat hemaprodit, tetapi pada saat 2

terjadinya pembuahan harus dilakukan pada dua individu dengan saling memberikan sperma yang disimpan dalam reseptakulum seminis. Setelah selesai terjadinya perkawinan, maka kokon akan lepas dan berisi butir-butir telur yang telah dibuahi. Pada cacing yang sudah dewasa akan terjadi penebalan epidermis yang disebut klitelum. Alat ini dapat digunakan untuk kopulasi dan akan menghasilkan kelenjar-kelenjar yang membentuk lapisan lendir sangat kuat untuk membentuk kokon, yaitu tempat/wadah telur yang telah dibuahi. B. Klasifikasi Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea. 1. Polychaeta

Gambar 2. Polychaeta Polychaeta (dalam bahasa Yunani, poly = banyak, chaetae = rambut kaku) merupakan annelida berambut banyak.Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus. Polychaeta memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya. Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas. Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin. Contoh Polychaeta yang sesil adalah cacing kipas (Sabellastarte indica) yang berwarna cerah. Sedangkan yang bergerak bebas adalah Nereis virens, Marphysa sanguinea, Eunice viridis (cacing palolo), dan Lysidice oele (cacing wawo).

2. Oligochaeta

Gambar 3. Jenis Oligochaeta (Cacing Tanah) Oligochaeta (dalam bahasa Yunani, oligo = sedikit, chaetae = rambut kaku) yang merupakan annelida berambut sedikit. Oligochaeta tidak memiliki parapodia, namun memiliki seta pada tubuhnya yang bersegmen. Contoh Oligochaeta yang paling terkenal adalah cacing tanah. Jenis cacing tanah antara lain adalah cacing tanah Amerika (Lumbricus terrestris), cacing tanah Asia (Pheretima sp.), cacing merah (Tubifex sp.), dan cacing tanah raksasa Australia (Digaster longmani). Cacing ini memakan organisme hidup yang ada di dalam tanah dengan cara menggali tanah. Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah. Manfaat lain dari cacing ini adalah digunakan untuk bahan kosmetik, obat, dan campuran makan berprotein tinggi bagi hewan ternak. Cacing tanah mempunyai peranan penting dalam menyuburkan tanah. Makanan cacing ini adalah zat-zat organik. Setelah zat-zat sisa organik dimakan cacing, selanjutnya dicerna di dalam usus yang dibantu oleh enzim selulose. Jika cacing mengeluarkan feses, maka akan dikeluarkan di permukaan tanah. Feses tersebut masih banyak mengandung kalium fosfor dan nitrogen sehingga tanah di permukaan menjadi subur. Selain itu, cacing tanah ini banyak membuat lubang di dalam tanah sehingga pada tempat tinggalnya terdapat aerasi/pertukaran udara berjalan dengan baik. 3. Hirudinea Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Hewan ini tidak memiliki parapodium maupun seta pada segmen tubuhnya. Panjang Hirudinea bervariasi dari 130 cm. Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing. Pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Sebagian besar Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya adalah vertebrata dan termasuk manusia. Hirudinea parasit hidup dengan mengisap darah inangnya, sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput. Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan hirudo (lintah). Saat merobek atau membuat 4

lubang, lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang sakit), sehingga korbannya tidak akan menyadari adanya gigitan. Setelah ada lubang, lintah akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah yaitu hirudin. Dengan zat tersebut lintah dapat mengisap darah sebanyak mungkin.

Gambar 4. Jenis Hirudinea (Lintah) III. Alat dan Bahan Nama Alat Lup Seperangkat alat bedah (seksio) Nama Bahan Cacing tanah

IV. Prosedur Kerja 1. Dilakukan pengamatan pada masing-masing segmen dari bagian anterior sampai posterior. 2. Mengamati dan menentukan letak lubang kelamin (genital pore) dan klitelium pada segmen cacing. 3. Dilakukan seksio untuk pengamatan anatomi. Pengamatan mulai prostomium pada bagian anterior sampai intestinum pada bagian posterior. V. Hasil Pengamatan GAMBAR HASIL PENGAMATAN MORFOLOGI GAMBAR HASIL PENGAMATAN ANATOMI

VI. Pembahasan Pada kegiatan praktikum kali ini, diamati spesies dari Filum Annelida, yaitu Lumbricus terrestris (cacing tanah). Pengamatan dilakukan terhadap morfologi dan anatomi cacing tanah. Pengamatan morfologi, menentukan jumlah segmen, letak genital pore (lubang kelamin) dan klitelium (penebalan kulit). Untuk anatomi diamati mulai dari bagian prostomium (anterior) sampai bagian intestinum (posterior). Klasifikasi cacing tanah Lumbricus terrestris sebagai berikut. Regnum Phylum Classis Ordo Family Genus Species : Animalia : Annelida : Oligochaeta : Opisthopora : Lumbricidae : Lumbricus : Lumbricus terrestris

A. MORFOLOGI DAN ANATOMI CACING TANAH (Lumbricus terrestris) Cacing tanah (Lumbricus terrestris) merupakan cacing dengan segmen-segmen. Bentuk tubuh Lumbricus terrestris panjang silindris, dengan 2/3 bagian posteriornya sedikit memipih ke arah dorsoventral. Tubuh bersegmen-segmen dan jelas ada annuli external bersesuaian dengan jumlah segmen dalam, yaitu 150 segmen dalam seluruh tubuh. Warna tubuh permukaan atas merah sampai biru kehijauan dan dari luar aorta dorsalis kelihatan jelas; permukaan bawah lebih pucat, umumnya merah jambu atau kadang-kadang putih. Pada permukaan tubuh cacing tanah terdapat beberapa lubang-lubang muara keluar dari berbagai alat atau organ di dalam tubuh. Lubang-lubang tersebut ialah: mulut, berbentuk bulan sabit, terletak di medio ventral segmen pertama anus, terletak pada segmen terakhir lubang muara keluar ductus spermaticus, atau vas deferens, dan lubang muara keluar oviduk, terletak pada segmen ke-11 lubang muara keluar receptaculum seminalis berupa 2 pasang pori, dan diantara segmen pori ini tidak mudah terlihat pori dorsales merupakan lubang muara keluar ceolom; pori ini terletak di medio-dorsal pada tepi anterior pada tiap segmen, sampai ujung posterior tubuh. sepasang nephridiopor, merupakan lubang muara keluar dari saluran ekskresi dan terletak pada tiap segmen, kecuali segmen terakhir dan 3 segmen pertama.

Bentuk cacing tanah dewasa ditandai dengan adanya klitelium. Klitelium terdapat pada segmen ke -13. Klitelium terdapat pada bagian dorsal dan lateral, dimana disini tidak terdapat annuli. Jika tubuh cacing tanah dipotong secara membujur maka dapat diamati bagian dalam tubuh cacing, mulai dari bagian anterior sampai bagian posterior. Mulut terdapat di ujung anterior pada bagian yang disebut prostomium, yang tidak merupakan segmen yang sebenarnya. Bagian ventral mulut dibatasi oleh peristomium, yang merupakan segmen pertama. Anus terletak pada ujung segmen yang terakhir (posterior). Pada tiap-tiap segmen terdapat 4 pasang setae, kecuali segmen pertama dan terakhir; 2 pasang di lateral dan 2 pasang lainnya di ventro-lateral. Setae berguna sebagai alat gerak bagi cacing tanah, yang digerakkan oleh musculus retractor. Di antara saluran pencernaan dan dinding tubuh terdapat rongga tubuh atau coelom. Coelom ini terbagi menjadi bagian-bagian kecil oleh septa. Bagian-bagian kecil ini disebut segmen; tetapi di antara segmen 1 dan 2 tidak terdapat septum, sedang di antara segmen 3 dan 4 septumnya tidak lengkap, demikian juga septum di antara segmen 17 dan 18. Dinding coelom dibatasi oleh suatu epitelium yang disebut peritonium. Suatu cairan yang tidak berwarna mengisi coelom ini dan mengalir dari satu segmen ke segmen yang lain. Saluran pencernaan lurus dan menembus septa. Di sebelah dorsal saluran pencernaan terdapat aorta dorsalis, sedangkan di sebelah ventralnya terdapat aorta ventralis.

Gambar 5. Anatomi dan segmen Annelida

B. FISIOLOGI 1. SISTEM GERAK Dinding tubuh cacig tanah mempunyai 2 lapis otot yaitu stratum circulare adalah lapisan otot sebelah luar dan stratum longitudinal, lapisan otot sebelah dalam. Jika musculi ini berkontraksi akan menimbulkan gerakan menggelombang dari cacing tanah itu sehingga ia bergerak. Dinding intestin juga mempunyai lapisan otot, yaitu stratum longitudinale. Jika otot ini berkontraksi, akan menimbulkan gerak peristaltik yang dapat mendorong makanan dalam saluran pencernaan dan mendorong keluar sisa pencernaan. Ada juga musculi di dalam dinding pembuluh darah, di dalam pipa musculer pada nephridia dan di bagian luar berkas saraf. Pada faring juga ada musculi, yaitu musculi yang melekatkan faring pada dinding tubuh. Setae digerakkan oleh 2 berkas otot, yaitu musculus protactor, yang mendorong setae keluar, dan musculus retractor yang menarik kembali setae masuk ke dalam rongganya. Kedua berkas musculi ini melekat pada ujung dalam dari setae. Jadi cacing tanah bergerak dengan stae dan kontraksi otot dinding tubuh. 2. SISTEM RESPIRASI Cacing tanah bernapas dengan kulitnya, sebab kulitnya bersifat lembab, tipis, banyak mengandung kapiler darah. 3. SISTEM PENCERNAAN MAKANAN Saluran pencernaan makanan (saluran pencernaan) cacing tanah sudah lengkap dan sudah terpisah dari sistem cardiovasculare. Saluran pencernaan ini terdiri dari mulut, pharinx, esophagus, proventriculus, ventriculus, intestin, dan anus. Mulut cacing tanah terletak di dalam rongga oris atau rongga buccale. Pharynx terdapat di dalam segmen ke-4 dan ke-5, bersifat musculer dan berguna untuk menghisap partikelpartikel makanan. Esophagus terletak di ujung pharynx memanjang dari segmen ke-6 sampai segmen ke-14. Proventriculus merupakan bagian ujung esophagus yang membesar, dan di bagian ini makanan di simpan; dinding proventriculus tipis. Ventriculus merupakan lanjutan ke arah belakang dari proventriculus, terletak dalam segmen ke-17 dan ke-18, bersifat musculer dan berguna untuk mencernakan makanan. Intestn adalah merupakan lanjutan ke ujung dari ventriculus. Dinding intestin bagian dorsal melekuk ke dalam lumenintestin dan bagian ujung lekukan ini membesar, sehingga terjadilah bangunan seperti kantong. Bangunan

ini disebut typhlosole. Typhlosele ini berguna untuk memperluas permukaan intestin, sehingga dapat mengabsorbsi sari makanan lebih banyak. Makanam cacing tanah terdiri dari sisa hewan dan tumbuhan. Cacing tanah mencari makanannya di luar liang; pada saat malam hari. Makanan diambil dari mulutnya. Makanan di dalam esophagus tercampur dengan cairan hasil ekskresi kelenjar kapur (calciferous glands) yang terdapat pada dinding esophagus itu. Cairan ini bersifat alkalis, tetapi fungsinya yang tepat belum dikethaui. Mungkin cairan ini menetralkan makanan yang bersifat asam. Dari esophagus makanan terus masuk ke dalam proventriculus yang merupakan tempat penyimpan makanan yang bersifat sementara. Selanjutnya, makanan masuk ke dalam ventrculus. Di sini makanan dicernakan menjadi partikel-partikel halus. Dari ventriculus, kemudan partikel-partikel makanan ini masuk ke dalam intestin. Di dalam intestin, partikel makanan dicernakan lebih lanjut, sehingga menjadi substansi yang lebih kecil, yang dapat diabsorbsi oleh dinding intestin tersebut. Dinding intestin mengandung kelenjar yang menghasilkan enzim. Karena pengaruh enzim ini, partikel makanan tadi dicernakan menjadi monosakarida, asam lemak, dan gliserol, serta asam amino yang siap untuk diabsorbsi. Senyawa monosakarida, asam lemak, gliserol, dan asam amino diabsorbsi oleh dinding intestin dan selanjutnya bersama-sama dengan sirkulasi darah diangkut ke seluruh bagian tubuh. Pada saat cacing tanah mengambil makanan melalui mulutnya, ikut juga termakan sejumlah partikel tanah. Kemudian sisa makanan beserta partikel tanah tadi dikeluarkan melalui anus dan diletakkan di atas permukaan tanah dekat lubang dari liang cacing itu berada. Sisa-sisa ini berbentuk kelompok kecil dari partikel tanah. 4. SISTEM SIRKULASI Sistem sirkulasi (peredaran darah/cardiovaskuler) cacing tanah adalah sistem peredaran tertutup. Pembahasan sistem cardiovaskuler meliputi : (a) Benda yang diedarkan, yaitu darah; (b) saluran yang dilalui darah ialah pembuluh-pembuluh darah; (c) Peredaran darah; (d) Fungsi darah; dan (e) Lympha. Darah terdiri atas bagian yang cair yang disebut plasma, dan sel-sel darah atau korpuskula. Kospuskula terdapat di dalam plasma darah. Eritrosit mengandung hemoglobin (haima=darah; globus= butir); yang mempunyai kemampuan mengikat oksigen. Pembuluhpembuluh darah terdiri atas: aorta dorsalis dan aorta ventralis. Aorta dorsalis terletak di sebelah dorsal saluran pencernaan dan mudah terlihat dari luar pada cacing yang hidup sebab kulit tubuh cacing sedikit transparan. Di daerah esophagus lima pasang cabang-cabang aorta dorsalis membesar dan berfungsi sama dengan cor (jantung) 9

pada hewan-hewan tinggi. Jantung cacing ini mengelilingi esophagus dan berhubungan dengan aorta ventralis, yang terletak di sebelah ventral saluran pencernaan dan di sebelah dorsal truncus nervosus. Di samping kedua aorta tersebut masih ada tiga pembuluh darah, ialah dua pembuluh masing-masing terletak di lateral truncus nervosus dan satu pembuluh di sebelah ventral truncus itu. Kelima pembuluh darah tersebut dengan banyak cabang-cabang dan beberapa rongga limpa membentuk sistem cardiovasculare cacing tanah. Darah dalam aorta dorsalis terdorong ke anterior oleh kontraksi dinding aorta itu. Di dalam aorta ini terdapat valvula yang berfungsi untuk mencegah mengalirnya kembali darah dari ujung anterior. Dari aorta dorsalis darah mengalir ke dalam jantung kemudian ke aorta ventralis. Di dalam jantung juga terdapat valvula, sehingga darah hanya mengalir ke satu arah saja. Dari aorta ventralis, darah mengalir menuju ke dinding tubuh dan nephridia. Karena cacing tanah mempergunakan kulitnya sebaga alat respirasi maka CO2 dikeluarkan dan O2 diambil oleh darah yang mengalir dalam kapiler-kapiler dalam kulit. Darah dari dinding tubuh, melalui pembuluh-pembuluh darah parietalis masuk ke dalam aorta dorsalis. Darah berfungsi untuk mengangkut oksigen, sari-sari makanan, sisa metabolisme, dan substansi lain. Pada saat darah mengalir menuju ke kulit, hemoglobin mengikat CO2, CO2 keluar melalui kulit, sedangkan dari udara masuk ke dalam tubuh cacing melalui kulit dan bersenyawa dengan hemoglobin membentuk oksihemoglobin. Dalam proses respirasi, jaringan-jaringan memerlukan O2. Darah mengalir dari dinding tubuh ke kapiler-kapiler dalam jaringan-jajringan. Pertukaran zar-zat di antara darah terjadi di dalam ronga-rongga limpa yang sangat kecil. Darah juga mengangkut substransi-substansi lain seperti sekresi kelenjar-kelenjar. Plasma dan beberapa korpuskula membentuk limpa yang keluar dari aliran darah melalui kapiler-kalper menuju ke jaringan-jarungan. Limpa mengangkut oksigen darah ke jaringan-jaringan dan mengangkut CO2 serta sisa metabolisme masuk ke dalam peredaran darah melalui kapiler-kapiler darah. 5. SISTEM EKSKRESI Sistem ekskresi cacing tanah berupa nephridia (ginjal). Pada tiap segmen terdapat sepasang nephridia, kecuali tiga segmen pertama dan terakhir tidak ada. Tiap nephridium terdiri atas: (a) suatu bangunan berbentuk corong dan bersilia yang disebut nephrostoma dan (b) saluran atau pipa yang berkelok-kelok. Jika silia bergetar, menimbulkan aliran cairan tubuh, yang mengandung sisa metabolisme dari coelom masuk ke dalam saluran ekskresi. Cairan ini keluar dari tubuh cacing melalui nephridiosporus, yaitu sebuah lubang kecil yang merupakan muara keluar dari saluran ekskresi dan terletak pada permukaan ventral tubuh 10

cacing. Diantara nephrostoma dan saluran ekskresi terdapat sekat yang disebut septum intersegmentale. 6. SISTEM SARAF Sistem saraf (nervosum) cacing tanah terletak di sebelah dorsal phayrnx di dalam segmen yang ketiga yang terdiri atas: (a) ganglion cerebrale, yang tersusun atas dua kelompok sel-sel saraf dengan comissura; (b) berkas saraf ventralis dengan cabangcabangnya. Ganglion cerebrale terletak disebelah dorsal phayrnx, di dalam segmen ketiga. Dari tiap-tiap kelompok sel tersebut terdapat: (a) saraf-saraf yang menginnervasi daerah mulut dan berpangkal pada ujung anterior tiap kelompok sel-sel tersebut; (b) cabang saraf yang menuju ke ventral dan melingkar phayrnx. Saraf ini disebut comissura circum pharyngeale, yang berhubungan dengan berkas saraf ventralis. 7. ORGAN SENSORIS Cacing tanah tidak punya mata, tetapi pada kulit terdapat sel-sel saraf yang peka terhadap sinar. 8. SISTEM REPRODUKSI Cacing tanah bersifat hermaprodit, sepasang ovarium menghasilkan ova, dan terletak pada segmen ke-13. Kedua oviduknya juga terletak pada segmen ke-13 dan infundibulumnya bersilia. Oviduk melalui septum yang terletak di antara segmen ke-13 dan 14, dan di dalam segmen ke-14 membesar membentuk kantung telur. Testis: ductus spermaticus atau vasa diferentia masing-masing ada dua pasang, sedangkan vesicula seminalisnya ada tiga pasang. Testis terletak di dalam suatu rongga yang dibentuk oleh dinding vesicula seminalis. Ductus spermaticus mulai dari testis bagian ujung dan melanjutkan diri ke posterior sampai segmen ke-15, pada segmen ini ductus itu bermuara keluar. Spermatozoa yang telah meninggalkan testis, akan masuk ke dalam vesicula seminalis dan selanjutnya tersimpan di dalamya. Walaupun cacing tanah bersifat hermaprodit tetapi tidak terjadi auto fertilisasi. Diantara segmen 9 dan 10, 10 dan 11, terdapat receptaculum seminalis, yang merupakan tempat penampung spermatozoa dari cacing lain. a. Cara Kopulasi Dua ekor cacing saling berdekatan, saling merapat pada bagian ventral segmen 9 sampai 11. Cacing membentuk pita lendir dan tiap cacing mengeluarkan spermatozoa dari vesicula seminalisnya. Spermatozoa dari cacing pertama melalui pipa lendir masuk ke dalam receptaculum seminalis cacing kedua, dan sebaliknya. Masing-masing cacing, saling memisah dengan membawa pipa lendirnya. Di dalam pipa lendir cacing mengeluarkan suatu substansi, yang kemudian membentuk cocoon atau 11

kantung. Cocoon ini kemudian tergelincir di atas segmen ke-14 dan menerima ova. Selanjutnya di atas segmen 9 sampai 11 menerima spermatozoa. Akkhirnya cocoon tergelincir di atas kepala cacing dan mengeras. Di dalam cocoon spermatozoa membuahi ova, ova yang telah di buahi mengalami perkembangan sampai menetaskan cacing muda.

Gambar. Kopulasi pada Lumbricus terestrial b. Regenerasi Umumnya avertebrata memiliki kemampuan regenerasi, begitu juga cacing cacing (genus Lumbricus dan Pheretima). Kemampuan regenerasi tergantung pada bagian tubuh cacing yang terpotong. Jika suatu cacing terpotong menjadi 2 maka bagian anterior akan segera terbentuk ekor baru, sedangkan pada potongan bagian posterior akan membentuk kepala baru namun prosesnya lebih lambat. Banyak segmen yang terjadi pada regenarasi, umumnya lebih sedikit dari segmen yang hilang, misalnya bila 18 segmen dari bagan anterior di pisahkan ternyata segmen 1 sampai 5 yang mengalami regenerasi.

VII. Simpulan 1. Lubang kelamin (genital pore) ada pada segmen ke-11 2. Klitelium ada pada segmen ke-13 3. Bagian-bagian tubuh cacing tanah Lumbricus terrestris dari bagian anterior sampai posterior adalah: mulut (bagian prostimium), otak, faring, ganglion subfaring, esofagus, pembuluh pemompa, septum, usus halus, pembuluh darah ventral, pembuluh darah dorsal, coelom, nefrostom, metanefridium, anus.

12

DAFTAR PUSTAKA Barnes, R. 1987. Invertebrate Zoology. Saunders Co. Publishing. Philadelphia. Kastawi, Yusuf, dkk. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang Radiopoetro, dkk. 1980. Zoologi. Jakarta: Erlangga

13