Anda di halaman 1dari 56

1

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perairan tropis Indonesia memiliki karakteristik yang sangat unik dan menarik. Beragam fenomena oseanografi yang terjadi membentuk perairan ini menjadi dinamis. Dinamika perairan ini berkaitan erat dengan biota yang hidup di dalamnya. Sebagai salah satu komponen biologi laut, klorofil-a memegang peranan penting dalam rantai makanan di suatu perairan, karena klorofil-a berperan sebagai produsen dalam rantai makanan itu sendiri. Konsentrasi klorofil-a suatu perairan tergantung pada ketersediaan nutrien dan intensitas cahaya matahari (Yusuf, 2008). Untuk lebih lanjut BROK (2007) mengindikasikan kelimpahan fitoplankton yang tinggi atau konsentrasi klorofil-a yang tinggi apabila memiliki kandungan nutrient seperti orthoposphat, nitrat, nitrit, dan unsur hara lainnya. Dalam rantai makanan di perairan laut, fitoplankton mempunyai fungsi sebagai produsen primer dimana organisme ini mampu mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis (Sediadi, et al., 1993). Produktivitas primer fitoplankton ini merupakan salah satu dari sebagian besar sumber penting dalam pembentukan energi di perairan. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi primer antara lain cahaya matahari, suhu, nutrient, serta struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton yang mampu beradaptasi di ekosistem perairan habitatnya (Baksir, 2004). Kelimpahan fitoplankton yang sangat tinggi di suatu perairan mengindikasikan bahwa perairan tersebut tidak sehat. Makmur (2008) menyebutkan bahwa pada kondisi dimana terjadi pertumbuhan alga yang sangat melimpah yang dikenal dengan nama ledakan alga atau Blooming Algae dan dikenal juga dengan istilah HABs (Harmful Alga Blooms) karena berlimpahnya nutrien pada badan air, maka akan berdampak besar terhadap lingkungan perairan tersebut. Peningkatan populasi fitoplankton yang sangat tinggi dan cepat akan berakibat pada beberapa hal, antara lain kematian masal ikan di laut, terjadi kontaminasi makanan laut, problem kesehatan masyarakat (keracunan), dan perubahan struktur komunitas ekosistim. Kelimpahan klorofil-a mempengaruhi stok ikan pelagis pada perairan tersebut.

Salah satu cara untuk mengetahui sebaran suhu permukaan laut dan sebaran konsentrasi klorofil-a adalah menggunakan penginderaan jauh salah satunya menggunakan satelit Aqua Modis. Satelit Aqua adalah sebutan untuk satelit EOS PM-1 (Earth Observing System) yang diluncurksn pada tanggal 4 Mei 2002. Satelit Aqua membawa 6 sensor, salah satunya adalah sensor MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) (BROK, 2007). Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam makalah ini perlu dilakukan kajian tentang pengaruh variasi suhu dan klorofil-a terhadap kelimpahan fitoplankton di Perairan Selat Bali untuk mendeteksi jenis fitoplankton yang hidup pada perairan tersebut dan untuk mengetahui konsentrasi klorofil-a serta Suhu Permukaan Laut (SPL) atau Sea Surface Temperature (SST), selanjutnya akan ditulis SPL, dan pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan lemuru (Sardinella lemuru). Perumusan Masalah Telah ditemukan dua spesies pada penelitian terdahulu (Tanjung, 2009) yaitu spesies Tricodesmium erythraeum dan Prymnesium parvum yang disinyalir merupakan spesies subtropis yang menyebabkan blooming algae di Paparan Bali, sehingga dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah kedua spesies tersebut memang ada dan merupakan spesies baru yang menyebabkan blooming algae dan selain itu dengan fenomena peningkatan suhu dan konsentrasi klorofil-a dalam kaitannya mempengaruhi hasil tangkapan ikan lemuru (Sardinella lemuru) di Selat Bali.

1.3

Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Menganalisa konsentrasi rata-rata suhu permukaan laut dan klorofil-a dari data satelit Aqua Modis di Perairan Selat Bali mulai tahun 2003 sampai 2009. 2. Menganalisa hubungan antara konsentrasi suhu permukaan laut dan klorofil-a dan pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Selat Bali dari tahun 2003 sampai 2009. 3. Mendeteksi kelimpahan fitoplankton di lokasi penelitian Perairan Selat Bali dengan koordinat yang telah ditentukan. 4. Mendefinisikan spesies fitoplankton yang mendominasi di lokasi penelitian Perairan Selat Bali.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Umum Perairan Bali Secara geografis Propinsi Bali terletak pada posisi 8 03 40 - 8 50 48 LS dan 1140 25 53 " - 1150 42 40" BT. Luas Propinsi Bali meliputi areal daratan sekitar 5.632,66 km termasuk keseluruhan pulaunya. Panjang garis pantai Bali kurang lebih 470 km termasuk lima pulau kecil lainnya yaitu, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, Nusa Serangan dan pulau Menjangan. Wilayah pesisirnya meliputi seluruh daerah kabupaten dan kotamadya, kecuali Kabupaten Bangli yang tidak memiliki garis pantai. Berdasarkan pembagian wilayah, perairan laut Bali memiliki luas 9.500 km (jarak dari garis pantai kurang lebih 12 mil laut) terbagi menjadi tiga wilayah perairan laut yaitu; (1) Perairan Bali Utara dengan luas 3.168 km yang meliputi perairan pantai sepanjang Kabupaten Buleleng. (2) Perairan Bali Timur dengan luas 3.350 km meliputi perairan sepanjang Kabupaten Karang Asem, Klungkung dan Gianyar. (3) Perairan Bali Barat dengan luas 2.982 km melalui perairan laut sepanjang pantai Kabupaten Badung, Tabanan dan Jembrana (Negara). Masing-masing wilayah tersebut memiliki potensi pesisir dan lautan yang dijumpai adalah perikanan tangkap, budidaya tambak, rumput laut, keramba jaring apung (KJA), terumbu karang, mangrove, industri, pemukiman penduduk peisisr, perhubungan, parawisata dan pertahanan keamanan (Dephut, 2010). 2.2. Penginderaan Jauh Penginderaan jauh berasal dari dua kata yaitu indera berarti melihat dan jauh berarti dari jarak jauh. Jadi berdasarkan asal katanya penginderaan jauh berarti melihat obyek dari jarak jauh. Lillesand dan kiefer (1999) dalam Kusmowidagyo, et al. (2007) mendefinisikan penginderaan jauh sebagi ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis menggunakan kaidah ilmiah data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah atau gejala yang dikaji. Sedangkan menurut C.P. Lo (1996) penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai objek dan lingkunganya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik dengan tujuan utama mengumpulkan data sumberdaya

alam dan lingkungan. Lebih lanjutnya Danoedoro (1996) menyebutkan bahwa penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni dalam ekstraksi informasi mengenai suatu obyek, wilayah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh tanpa melalui kontak langsung dengan objek, wilayah ato fenomena yang dikaji yang pada umumnya berbasis komputer. Komponen penginderaan jauh, selanjutnya akan ditulis inderaja, terdiri dari berbagai komponen yang terintregitasi dalam satu kesatuan. Komponen-komponen tersebut meliputi sumber tenaga, atmosfer, obyek, sensor dengan wahana, pengolahan data, interpretasi/analisis dan pengguna (user).

Gambar 1.Sistem Penginderaan Jauh (Sumber : Kusmowidagyo, et al., 2007) 2.3. Fitoplankton Plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya mengapung, mengambang, atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada) sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut oleh arus. Plankton dapat dibagi menjadi beberapa golongan sesuai dengan fungsinya, ukurannya, daur hidupnya atau sifat sebarannya (Nontji, 2008). Secara fungsional, plankton dapat digolongkan menjadi empat golongan utama yakni fitoplankton, zooplankton, bakterioplankton, dan virioplankton. Untuk fitoplankton sendiri adalah sebutan untuk plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang dalam laut. Ukurannya sangat kecil, tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Ukuran yang paling umum berkisar antara 2 - 200

mikrometer atau 0,001 mm. Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai. Meskipun ukurannya yang sangat halus namun bila mereka tumbuh sangat lebat dan padat serta dapat menyebabkan perubahan pada warna air laut (Nontji, 2008). Fitoplankton memiliki fungsi penting di laut, karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya. Fitoplankton mengandung klorofil dan karenanya mempunyai kemampuan berfotosintesis yakni menyadap energi surya untuk mengubah bahan inorganik menjadi bahan organik. Karena kemampuannya memproduksi bahan organik dari bahan inorganik ini maka fitoplankton juga disebut sebagai produsen primer 2.4. Blooming Algae Fitoplankton memiliki klorofil yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air yang digunakan sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebih (blooming). Ledakan populasi fitoplankton yang diikuti dengan keberadaan jenis fitoplankton beracun akan menimbulkan ledakan populasi alga berbahaya (Harmful Algae Blooms-HABs). Faktor yang dapat memicu ledakan populasi fitoplankton berbahaya antara lain karena adanya eutrofikasi, adanya upwelling yang mengangkat massa air yang kaya unsur-unsur hara, adanya hujan lebat dan masuknya air ke laut dalam jumlah yang besar (Aunurohim, et al.,2009). Hasil penelitian menyebutkan bahwa peledakan alga selain disebabkan karena buangan domestik yang dibawa aliran sungai yang masuk ke perairan laut yang mengakibatkan tingginya konsentrasi nutrient di suatu badan air (seperti Nitrogen, Fosfor dan Silikat ), maka unsur hara yang cukup banyak bisa terkumpul di suatu kawasan laut yang relatif tenang semisal teluk, akibat pergerakan arus yang memusat dan menuju ketempat tertentu (Makmur, 2008). 2.5. Klorofil-a Klorofil-a pada fitoplankton merupakan parameter yang sangat penting dalam menentukan produktivitas primer di laut. Sebaran dan tingkat konsentrasi (Nontji, 2008).

klorofil-a berhubungan dengan kondisi oseanografis suatu perairan. Sebaran klorofil-a di laut bervariasi secara geografis maupun berdasarkan kedalaman perairan. Intensitas cahaya matahari, nutrien (terutama nitrat, fosfat dan silikat), dan arus merupakan parameter-parameter fisik kimia yang mengatur dan mempengaruhi sebaran klorofil-a di suatu perairan. Perbedaan parameter fisika-kimia merupakan penyebab bervariasinya produktivitas primer di laut. Konsentrasi klorofil-a di perairan Selat Bali mempunyai kandungan klorofil-a antara 0,150 1,526 mg/m3. Kisaran ini menurut Hatta (2002) termasuk dalam kategori tinggi. Secara detail dapat disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kategori Klorofil-a berdasarkan nilai konsentrasi Kategori Rendah Sedang Tinggi Konsentrasi Klorofil-a (mg/m3) <0,07 0,07 0,14 >0,14

Umumnya sebaran konsentrasi klorofil-a tinggi di perairan pantai sebagai akibat dari tingginya suplai nutrien yang berasal dari daratan melalui aliran air sungai dan run off bahan organik secara langsung. Selain itu di beberapa tempat ditemukan bahwa konsentrasi klorofil-a cukup tinggi walaupun jauh dari daratan. Kondisi demikian terjadi karena proses sirkulasi massa air yang memungkinkan terangkutnya sejumlah nutrien dari lapisan laut dalam ke lapisan permukaan seperti yang terjadi pada daerah upwelling. Fitoplankton mengandung pigmen klorofil yang berfungsi untuk menyerap cahaya matahari sebagai sumber energi untuk fotosintesis. Terdapat 3 macam klorofil pada fitoplankton yaitu klorofil a, b dan c. Klorofil-a merupakan pigmen yang sangat penting dalam proses fotosintesis fitoplankton di laut.

2.6. Satelit Aqua-Modis Satelit AQUA adalah sebutan untuk satelit EOS PM-1 (Earth Observing System) yang diluncurkan pada tanggal 4 Mei 2002. Satelit Aqua membawa 6 sensor, salah satunya adalah sensor MODIS (Moderate Resolution Imaging

Spectro-radiometer). Aqua Project adalah studi multi disiplin mengenai prosesproses yang berhubungan dengan bumi (atmosfir, laut, dan permukaan darat) (BROK, 2007).

Gambar 2.Satelit Aqua Modis (Sumber : http://LP DAAC.usgs.gov)

Tabel 2. Orbit Satelit Aqua Orbit Ascending Node Period Altitude Inclination Sun Synchronous, Polar 1:30 p.m. 15mnt 98.8 mnt 705 diatas ekuator 98.2 0.1

Sumber : http://modis.gsfc.nasa.gov/about/specs.html

Tabel 3. Karakteristik Instrument Satelit Aqua MODIS Orbit : 705 km, 10:30 a.m, descending node (Terra) or 130 p.m, ascending node (Aqua), sun-synchronous, near-polar, circular

Scan Rate: Swath Dimensions: Telescope: Size: Weight: Power: Data Rate: Quantization: Spatial Resolution: Design Life: Primary Use Land/Cloud/Aeros ols Boundaries Land/Cloud/Aeros

20.3 rpm, cross track 2330 km (cross track) by 10 km (along track at nadir) 17.78 cm diam. Off-axiss, afocal (collimated), with intermediate field stop 1.0 x 1.6 x 1.0 m 228.7 kg 162.5 W (Single Orbit Average) 10.6 Mbps (peak daytime); 6.1 Mbps (orbital average) 12 bits 250 m (bands 1-2), 500 m (bands 3-7), 1000 m (bands 836) 6 years Band 1 2

Bandwith 620-670 841-876

Spectral Radiance 21.8 24.7 35.3 29.0 5.4 7.3 1.0 44.9 41.9 32.1 27.9 21.0 9.5 8.7 10.2 6.2 10.0 3.6 15.0

Require d SNR 128 201 243 228 74 275 110 880 838 802 754 750 910 1087 586 516 167 57 250

3 459-479 4 545-565 ols Properties 5 1230-1250 6 1628-1652 7 2105-2155 Ocean Color/ 8 405-420 9 438-448 Phytoplankton/ 10 483-493 Biogeochemistry 11 526-536 12 546-556 13 662-672 14 673-683 15 743-753 16 862-877 Atmospheric 17 890-920 18 931-941 Water Vapor 19 915-965 Sumber : http://modis.gsfc.nasa.gov/about/specs.html

10

Tabel 4. Karakteristik Sensor MODIS

11

KANAL 1 2 KANAL 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

SPEKTRUM 620 670 nm 841 876 nm SPEKTRUM 459 - 479 nm 545 565 nm 1230 1250 nm 1628 1652 nm 2105 2155 nm 405 420 nm 438 448 nm 483 493 nm 526 536 nm 546 556 nm 662 672 nm 673 683 nm 743 753 nm 862 877 nm 890 920 nm 931 941 nm 915 965 nm 3.660 3.840 um 3.929 3.989 um 3.929 - 3.989 um 4.020 4.080 um 4.433 4.498 um 4.482 4.549 um 1.360 1.390 um 6.535 6.895 um 7.175 7.457 um 8.400 8.700 um 9.580 9.880 um 10.780 11.280 um 11.770 2.270 um 13.185 13.485 um 13.485 13.785 um 13.785 14.085 um 14.085 14.385 um

KEGUNAAN Lahan/Awan/ Aerosol Boundaries KEGUNAAN Lahan/Awan/ Aerosols Boundaries

Ocean color / Fitoplankton / Biogeokimia

Uap air atmosfir Surface/ Temperatur Awan Temperatur atmosfir Awan Cirrus Uap air Sifat awan Ozone Surfacre/ Temperatur awan Cloud top Altitude

12

Sumber : http://LP DAAC.usgs.gov 2.7. Deskripsi Ikan Lemuru Ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan salah satu sumberdaya ikan di Perairan Selat Bali yang mempunyai potensi dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Produksi hasil tangkapan yang diperoleh saat ini sudah mengalami penurunan sebagai akibat terjadinya penangkapan berlebih (overfishing).

Gambar 3. Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Sumber : http://sc.afcd.gov.hk/gb/hk-fish.net Berdasarkan penelitian akustik yang dilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) dengan menggunakan alat fish finder, ternyata ikan-ikan lemuru di perairan Selat Bali hanya terpusat di paparan saja (paparan Jawa dan Bali) pada kedalaman kurang dari 200 m, sedangkan di luar paparan ikan ini tidak dapat ditemukan. Pada siang hari ikan Lemuru ini mempunyai kebiasaan membentuk gerombolan dalam jumlah yang cukup padat di dasar perairan, sedangkan pada malam hari naik ke permukaan dan agak menyebar. Juvenil lemuru tinggal di perairan yang dangkal dan menjadi target dari alat tangkap tradisional, seperti liftnet, gillnets, dan lain lain. Lemuru berada di Teluk Pangpang, dekat ujung Sembulungan dan semenanjung Senggrong di sisi Pulau Jawa dan di Teluk Jimbaran Bali. Ukuran ikan terkecil ini kurang dari 11 cm (nama lokal disebut sempenit) secara umum mulai bulan Mei sampai September dan kadang-kadang meluas ke Desember. ikan yang lebih besar menghuni perairan

13

lebih dalam dan secara umum ukuran dari ikan bertambah panjang semakin ke arah selatan. Selat Bali merupakan daerah perairan yang relatif sempit (sekitar 960 mil2). Pada bagian utara sekitar 1 mil merupakan perairan yang dangkal (kedalaman sekitar 50 meter) sedangkan bagian selatan sekitar 28 mil merupakan perairan yang dalam. Perairan Selat Bali ini mempunyai kesuburan yang tinggi. 2.7.1 Klasifikasi Ikan Lemuru Taksonomi Phylum Subphylum Superclass Class Subclass Infraclass Superorder Order Suborder Family Subfamily Genus Species Lemuru menurut Bleeker (1853) dalam http://www.calacademy.org/research/ichthyology/catalog/ adalah sebagai berikut: : Chordata : Vertebrata : Osteichthyes : Actinopterygii : Neopterygii : Teleostei : Clupeomorpha : Clupeiformes : Clupeoidei : Clupeidae : Clupeinae : Sardinella : Sardinella lemuru

2.7.2 Penyebaran Ikan Lemuru Lemuru (Sardinella lemuru) menghuni perairan tropis yang ada di daerah Indo-Pacific. Ikan ini merupakan habitat yang menghuni suatu daerah dengan area yang luas yaitu di sebelah timur Samudra India, yaitu Pukhet, Thailand, pantai selatan di Jawa Timur dan Bali, Australia Barat, dan Samudera Pasifik (dari Pulau Jawa sebelah utara sampai Philipina, Hong Kong, Taiwan bagian selatan dan Pulau Jepang). Di sebelah tenggara Pulau Jawa dan Bali, konsentrasi ikan lemuru sebagian besar berada di Selat Bali. Selama siang hari gerombolan ikan padat ditemukan dekat dengan dasar perairan, sedangkan pada malam mereka bergerak ke lapisan dekat permukaan membentuk gerombolan yang menyebar. Kadang gerombolan lemuru ditemukan diatas permukaan selama siang hari ketika cuaca berawan dan gerimis. Bagaimanapun, secara normal sulit untuk menangkap ikan tersebut dengan cepat. Penangkapan secara normal dapat dilakukan selama malam hari ketika ikan pindah

14

atau bergerak dekat dengan permukaan air. Berikut peta daerah penyebaran ikan lemuru di Selat Bali.

Gambar 4. Daerah Penyebaran Ikan Lemuru di Selat Bali : Martinus, et al (2004)

Sumber

Gambar 5. Sebaran ikan Lemuru di selat bali berdasarkan kematangan gonad dan kelimpahannya Sumber : Martinus, et al (2004)

15

2.7.3 Makanan Ikan Lemuru Makanan utama lemuru adalah zooplankton (90,5-95,5%) dan phytoplankton (4,5-9,5%). Zooplankton yang paling banyak dikonsumsi lemuru adalah copepoda (53,8-55%) dan decapoda (6,5-9,4%) (Burhanudin dan Praseno, 1982 dalam Merta, 1995). 2.7.4 Umur dan Perkembangbiakan Ikan Lemuru Menurut Dwipongo (1972) dalam Merta (1995) ikan lemuru berkembang biak pada bulan Juni-Juli. Biasanya lemuru menuju ke arah perairan pantai untuk melakukan perkembangbiakan karena salinitasnya lebih rendah. Sedangkan Whitehead (1985) dalam Merta (1995) mengatakan bahwa lemuru melakukan perkembangbiakan pada akhir musim hujan setiap tahun. Merta (1995) mengemukakan bahwa lemuru melakukan perkembangbiakan pada perairan yang dalam yang tidak bisa terganggu oleh mesin kapal. Lemuru siap melakukan reproduksi biasanya setelah mencapai panjang 17,79 - 18,3 cm.

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Kondisi Umum Perairan Selat Bali Perairan Selat Bali terletak diantara Pulau Jawa dan Bali dengan batas sebelah utara adalah laut Bali dan sebelah selatan adalah Samudra Hindia. Perairan Selat Bali merupakan perairan yang relatif sempit (sekitar 960 mil) dan secara geografis perairan ini terletak pada 8,1-9,2 LS dan 114,2-115,3 BT. Pada sisi bagian utara memiliki luas sekitar 1 mil dan merupakan perairan yang dangkal (kedalaman sekitar 50 meter) sedangkan sisi bagian selatan sekitar 28 mil dan merupakan perairan yang dalam. Perairan Selat Bali ini mempunyai kesuburan yang tinggi dengan produktivitas tertinggi terjadi pada musim timur karena diindikasikan terjadi upwelling di bagian selatan Selatan Bali. Perairan ini merupakan wilayah perikanan tangkap ikan lemuru (Sardinella lemuru) karena hampir 80% ikan laut

16

yang didaratkan dari operasi penangkapan di perairan Selat Bali setiap harinya adalah ikan lemuru. Kondisi perairan Selat Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor oseanografi salah satunya yang paling mempengaruhi adalah angin muson. Dimana pada Bulan Desember-Maret bertiup angin muson barat yaitu angin dari arah barat menuju ke selatan Jawa dan terus kearah timur. Pada Bulan April dan Mei merupakan musim peralihan angin muson dimana gelombang mulai melemah. Kemudian, pada Bulan Juni-Agustus bertiup angin muson timur yang bertiup dari arah timur ke barat dan diindikasikan penyebab terjadinya upwelling di area Sumbawa Selatan, Lombok, Bali, dan Jawa Bagian Timur. Musim ikan di perairan Selat Bali biasanya terjadi 1-2 kali dalam satu tahun yaitu pada musim timur dan musim barat. Perbedaan musim penangkapan ini terkait dengan adanya ruaya ikan yang sering kali terjadi pada daerah pantai. Migrasi ikan banyak dipengaruhi oleh factor makanan atau produktivitas primer suatu perairan. Produktivitas tinggi di perairan Selat Bali terjadi pada musim timur (Juni-Agustus) dan pola musim penangkapan biasanya terjadi pada Bulan April-Oktober, sedangkan musim barat (Desember-Februari) pola penangkapan biasanya terjadi pada Bulan November-April. 3.2 Kondisi Geografis Lokasi Penelitian Perairan Selat Bali merupakan wilayah kewenangan Propinsi Jawa Timur dan Propinsi Bali. Dimana daerah yang memanfaatkan potensi perairan Selat Bali adalah kabupaten Banyuwangi dan Muncar dari Propinsi Jawa Timur, serta Kabupaten Jembrana, Badung dan Tabanan dari Propinsi Bali. Muncar merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur yang terletak pada koordinat 0819 - 0840 LS dan 11415 - 11422 BT. Luas wilayah Kecamatan Muncar mencapai 7.394 Ha atau 1,3% dari total luas Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Muncar terbagi atas 10 desa, dimana Desa Kedungrejo, Tembokrejo, Sumbersewu, Kedungringin, dan Ringinputih merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan perairan Selat Bali. Sehingga konsentrasi penangkapan terdapat pada beberapa desa tersebut. Batas administratif wilayah Kecamatan Muncar adalah :

17

Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Barat Sebelah Selatan

: Kecamatan Rogojampi : Selat Bali : Kecamatan Srono dan Kecamatan Cluring : Kecamatan Tegaldlimo

Topografi Kecamatan Muncar sebagian besar adalah dataran rendah dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 0-37 m. oleh karena itu, Kecamatan Muncar beriklim panas dengan suhu antara 23-31C. kecamatan Muncar beriklim tropis yang terbagi dalam 2 musim, yaitu musim penghujan antara Bulan Oktober April dan musim kemarau antara Bulan April- Oktober. Diantara kedua musim tersebut terdapat musim peralihan atau musim pancaroba yaitu Bulan April atau Mei dan Oktober atau November. Rata-rata curah hujan sebesar 301 mm/tahun, dengan bulan kering antara Bulan Mei Oktober. Suhu udara minimum dan maksimum yang tercatat pada data monografi berkisar antara 23C dan 32C. Sedangkan Pengambengan merupakan salah satu desa di Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana yang terletak di belahan barat Pulau Bali pada koordinat 082346 LS dan 1143447 BT. Kecamatan Negara terdiri atas 8 desa. Luas wilayah Desa Pengambengan mencapai 488,6 Ha atau sekitar 2,2% dari luas Kecamatan Negara. Kondisi Desa Pengambengan berhadapan langsung dengan pantai sehingga merupakan wilayah konsentrasi nelayan terbesar di Kabupaten Jembrana. Desa Pengambengan memiliki wilayah dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Desa Tegal Badeng Timur : Desa Perancak : Selat Bali : Desa Tegal Badeng Barat

Ketinggian wilayah Desa Pengambengan mencapai antara 0-125 m diatas permukaan laut, sehingga beriklim panas dengan suhu rata-rata harian adalah antara 25-33C. topografi wilayah Desa Pengambengan sebagian besar (39,6%) didominasi oleh daratan datar dengan kemiringan tanah 0-2 %. Selebihnya, wilayah Desa Pengambengan berupa daratan landai dan berbukit dengan kemiringan tanah 2-15% dan 15-40%. Seperti halnya wilayah tropis yang berdekatan dengan pantai, Desa Pengambengan memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim

18

kemarau. Dimana pembagian waktu terjadinya musim sama dengan wilayah Kecamatan Muncar sebagai akibat dari pengaruh angin muson tenggara yang terjadi setiap tahun. Dimana rata-rata curah hujan sekitar 179,5 mm yang terjadi selama 11 hari/bulan. 3.3 Spesies Fitoplankton Yang Mendominasi di Perairan Selat Bali Pada penelitian ini dilakukan pengambilan sampel air laut untuk mengetahui kelimpahan dan spesies fitoplankton yang mendominasi Perairan Selat bali. Pengambilan sampel air laut perairan Selat Bali dilakukan pada tanggal 10 Mei 2010 dengan 3 stasiun pengambilan sampel dengan koordinat masing-masing yaitu stasiun 1. 08 24,634 LS dan 114 37,762 BT pada pukul 12.17 WITA. Stasiun 2. 08 24,836 LS dan 114 37,794 BT pada pukul 12.49 WITA. Stasiun 3. 08 24.875 LS dan 114 37,444 BT pada pukul 13.19 WITA. Hasil kelimpahan fitoplankton dan spesies fitoplankton dari 3 stasiun tersebut tersaji pada Tabel 5.

Tabel 5. Analisis Sample Air Laut Parameter Klorofil Satuan mg/m3 S1 58 0.7390 Hasil S2 59 0.7688 S3 60 0.4404 Metode Analisis/Alat spektrofotometri

Keterangan : S1 (stasiun 1), S2 (stasiun 2), S3 (stasiun 3) Dari tabel diatas diketahui bahwa kelimpahan fitoplankton yang paling banyak adalah pada stasiun 2 dengan koordinat 08 24,836 LS dan 114 37,794 BT, yaitu 0,7688 mg/m. Tabel 6. Kelimpahan Plankton No Sampel : 61 (S1) NO 1 2 3 4 Organisme Chaetoceros sp. Coscinodiscus asteromphalus Isthmia nervosa Surirella gemma FAMILI Chaetoceraceae Coscinodiscaceae Biddulphiaceae Surirellaceae Kelas Diatoms Diatoms Diatoms Diatoms Kelimpahan N (ind/lt) 787 1,181 1,181 787 H' E D

1.37 0.99 0.26

19

No Sampel : 62(S2) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Organisme Amphora hyaline Ceratium fusus Chaetoceros curvisetus Chaetoceros didymus Coscinodiscus sp. Isthmia nervosa Prorocentrum micans Surirella norvegica Thalassionema nitzschioides Thalassiosira condensate No Sampel : 63 (S3) NO 1 2 3 4 5 Organisme Amphora laevis Chaetoceros diversus Nitzschia sigma Peridinium oceanicum Thalassiosira FAMILI Nitzschiaceae Chaetoceraceae Nitzschiaceae Peridiniaceae Thalassiosiraceae Kelas Diatoms Diatoms Diatoms Dinophyceae Diatoms Kelimpahan N (ind/lt) 787 1,181 394 394 787 H' 1.52 E D 0.95 0.23 FAMILI Nitzschiaceae Ceratiaceae Chaetoceraceae Chaetoceraceae Coscinodiscaceae Biddulphiaceae Surirellaceae Fragilariaceae Thalassiosiraceae Kelas Diatoms Dinophyceae Diatoms Diatoms Diatoms Diatoms Dinophyceae Diatoms Diatoms Diatoms Kelimpahan N (ind/lt) 394 394 394 394 1,181 1,181 394 787 394 394 H' E D

2.18 0.95 0.13

gravid Keterangan N : Jumlah individu per liter H : Indeks diversitas Shannon-Wiever E : 1, Keseragaman antar spesies relatif seragam atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama

20

D : Indeks Dominansi Simpson Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa spesies fitoplankton yang mendominasi pada stasiun 1 adalah Coscinodiscus asteromphalus dan Isthmia nervosa begitu pula pada stasiun 2. Sedangkan pada stasiun 3 spesies yang mendominasi adalah Chaetoceros diversus. Berikut peta lokasi pengambilan sampel di Perairan Selat Bali.

3.4.

Potensi Ikan Lemuru Di Perairan Selat Bali Di Indonesia khususnya di Jawa Timur jenis ikan lemuru yang khas

dominan ditemukan di Selat Bali, sehingga khusus ikan lemuru di Selat Bali diidentifikasikan sebagai Sardinella lemuru, sangat spesifik dan satu-satunya di Indonesia. Di perairan Selat Bali terjadi proses penaikan air pada musim Timur, sehingga perairan ini menjadi kaya akan bahan makanan yang sangat dibutuhkan oleh ikan-ikan lemuru. Jenis ikan lemuru ini biasanya mendiami daerah-daerah dimana terjadi proses penaikan air, sehingga dapat mencapai biomassa yang tinggi. Oleh karenanya akan tergantung sekali kepada perubahan-perubahan lingkungan perairannya. Lemuru yang tertangkap di Selat Bali memiliki keunikan yaitu

21

produksinya dapat mencapai rata-rata hampir 80% dari total produksi (dalam berat) per tahun (1976-2007) (Setyohadi, et al., 2009). Sejak diperkenalkannya alat tangkap pukat cincin atau jaring kolor (purse seine) pada tahuan 1972 oleh Lembaga Penelitian Perikanan Laut (dahulu Balai Penelitian Perikanan Laut) di Muncar Jawa Timur, perikanan lemuru di Selat Bali berkembang dengan pesat. Pesatnya perkembangan ini seharusnya mendapat perhatian yang serius. Jika sumberdaya itu rusak maupun kelestarian sudah tidak terjaga memerlukan waktu yang lama dalam perbaikannya. Walaupun sumberdaya ikan lemuru cukup berlimpah, tetapi kalau penangkapannya dilakukan secara besar-besaran baik terhadap ikan-ikan dewasa maupun yang kecil, maka lama kelamaan dapat terjadi lebih tangkap (over-fishing). Indikasi terjadinya lebih tangkap untuk perikanan lemuru di Selat Bali cukup kuat. Hal ini dapat dilihat dari penurunan produksi ikan lemuru di Jawa Timur yang puncaknya terjadi pada tahun 1986/1987 dan nampaknya ada indikasi terjadi penurunan produksi lagi di tahun 1992 dan 1997 serta tahun 2002 (Setyohadi, et al., 2009). 3.5. Analisa Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra suhu permukaan laut dan klorofil-a 8 harian dari satelit aqua modis yang di download dari situs resmi NASA (www.oceancolor.gsfc.nasa.gov) serta data CPUE 8 harian ikan lemuru yang diperoleh dari PPP Pengambengan dan Muncar. Contoh distribusi data suhu permukaan laut dan klorofil-a 8 harian selama Tahun 2003 tersaji pada grafik berikut.

3.5.1. Perlakuan Data

22

Gambar 6. Grafik Data Mentah SPL dan Klorofil-a tahun 2003 3.5.2. Data Time series Berdasarkan data mentah yang diperoleh, selanjutnya dibuat secara time series yang akan menggambarkan trend data juga akan menunjukkan nilai-nilai data yang ekstrim. Dengan demikian dapat dilihat perbandingan antara nilai suhu permukaan laut dengan konsentrasi klorofil-a (seperti pada Gambar 6). 3.5.3. Interpolasi Dalam penelitian ini tidak semua data dapat digunakan, ini disebabkan karena adanya data yang menyimpang dari sebenarnya atau terdapat nilai nan. Penyimpangan dan tidak adanya data ini disebabkan oleh tutupan awan yang tebal atau terjadi pengolahan data yang salah atau kurang teliti sehingga didapatkan nilai yang tidak normal. Untuk menjadikan nilai tersebut menjadi normal kembali maka dilakukan interpolasi. Disini akan dicari nilai yang kosong atau dianggap nan atau yang dianggap tidak normal, yaitu dengan mencari persamaan garis terbaik untuk memperoleh nilai yang kosong tersebut. 3.5.4. Anomali Setelah dilakukan interpolasi maka didapatkan nilai-nilai baru yang normal yang dapat dijadikan acuan untuk pengolahan data selanjutnya, yaitu mencari nilai anomali atau penyimpangan dari nilai normal. Anomali ini akan digunakan dalam

23

pengolahan data yaitu dalam pembuatan peta kontur dan grafik time series anomaly. Sehingga diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi setiap tahunnya. 3.5.5. Hubungan Variabel Setelah melalui tahap-tahap diatas maka analisis lanjutan yaitu untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel penelitian, yaitu suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a. Hasil akhir yang diperoleh adalah menggambarkan hubungan antar variabel tersebut.

3.6.

Hasil Analisis Citra Satelit Aqua Modis Suhu permukaan laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra

3.6.1. Citra Sebaran Nilai Suhu Permukaan Laut (SPL) satelit Aqua Modis 8 harian mulai dari tahun 2003-2009. Citra suhu permukaan laut didapatkan dari rata-rata 8 harian selama kurun waktu 7 tahun. Setelah dilakukan pengumpulan data satelit Aqua Modis dari tahun 20032009, selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk memperoleh nilai suhu permukaan laut (SPL). Dari hasil pengolahan ini dihasilkan pola sebaran suhu permukaan laut perairan Selat Bali secara temporal dan nilai rata-rata suhu permukaan laut (SPL) 8 harian. 3.6.2. Nilai Suhu Permukaan Laut (SPL) Temporal (Time Series) Untuk mempelajari karakteristik sebaran suhu permukaan laut di Perairan Selat Bali secara temporal dapat diamati melalui pola fluktuasi nilai suhu permukaan laut 8 harian yang tersaji pada Gambar 7. Dari grafik pada Gambar 7 dibawah secara temporal nilai suhu permukaan laut 8 harian pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2009, didapatkan suhu terendah pada tahun 2003 terjadi pada bulan Agustus dengan suhu 25,06C dan suhu tertinggi pada bulan Januari dengan suhu 30,07C. Pada tahun 2004 suhu terendah terjadi pada bulan September dengan suhu 25, 17C dan suhu tertinggi pada bulan Februari dengan suhu 30,5C. Pada tahun 2005 suhu terendah terjadi pada bulan Agustus dengan suhu 25,7C dan suhu

24

tertinggi pada bulan Maret dengan suhu 31,3C. Pada tahun 2006 suhu terendah terjadi pada bulan Februari dengan suhu 24,9C dan suhu tertinggi terjadi pada bula Februari juga dengan suhu 30,4C. Pada tahun 2007 suhu terendah terjadi pada bulan September dengan suhu 25,2C dan suhu tertinggi pada bulan Februari dengan suhu 31,7C. Pada tahun 2008 suhu terendah terjadi pada bulan Agustus dengan suhu 25,3C dan suhu tertinggi terjadi pada bulan Maret dengan suhu 31,04C. Pada tahun 2009 suhu terendah terjadi pada bulan Agustus dengan suhu 25,9C dan suhu tertinggi terjadi pada bulan Maret dengan suhu 30,8C. Dari grafik dibawah menunjukan bahwa Indonesia memiliki dua musim yaitu musim penghujan pada bulan November sampai dengan bulan April, dan musim kemarau pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober. Pada bulan November sampai bulan April suhu permukaan laut tinggi, ini menyebabkan penguapan juga tinggi sehingga membentuk awan dan akhirnya turun hujan, dan begitu pula sebaliknya yang terjadi pada bulan Mei sampai bulan Oktober.

Gambar 7. Grafik SPL Tahun 2003-2009 Dari pola sebaran suhu permukaan laut (SPL) dapat dilihat nilai suhu permukaan laut setiap 8 harian selama kurun waktu 7 tahun pada tabel 7. Tabel 7. Tabel Sebaran Suhu Permukaan Laut 8 Harian Tahun 2003-2009
BULAN Januari JENIS DATA SPL 1-8 SPL 9-16 PENGAMPILAN 2003 8harian 1 8harian 2 28.448 30.073 2004 29.498 29.694 2005 29.15 29.998 TAHUN 2006 29.445 29.977 2007 28.259 28.854 2008 29.654 28.989 2009 29.738 27.844

25

SPL 17-24 Februari SPL 25-32 SPL 33-40 SPL 41-48 SPL 49-56 Maret SPL 57-64 SPL 65-72 SPL 73-80 SPL 81-88 April SPL 89-96 SPL 97-104 SPL 105-112 SPL 113-120 Mei SPL 121-128 SPL 129-136 SPL 137-144 Juni SPL 145-152 SPL 153-160 SPL 161-168 SPL 169-176 Juli SPL 177-184 SPL 185-192 SPL 193-200 SPL 201-208 Agustus SPL 209-216 SPL 217-224 SPL 225-232 SPL 233-240 September SPL 241-248 SPL 249-256 SPL 257-264 SPL 265-272 Oktober SPL 273-280 SPL 281-288 SPL 289-296 SPL 297-304 November SPL 305-312 SPL 313-320 SPL 321-328 SPL 329-336 Desember SPL 337-344 SPL 345-352 SPL 353-360 SPL 361-365

8harian 3 8harian 4 8harian 5 8harian 6 8harian 7 8harian 8 8harian 9 8harian 10 8harian 11 8harian 12 8harian 13 8harian 14 8harian 15 8harian 16 8harian 17 8harian 18 8harian 19 8harian 20 8harian 21 8harian 22 8harian 23 8harian 24 8harian 25 8harian 26 8harian 27 8harian 28 8harian 29 8harian 30 8harian 31 8harian 32 8harian 33 8harian 34 8harian 35 8harian 36 8harian 37 8harian 38 8harian 39 8harian 40 8harian 41 8harian 42 8harian 43 8harian 44 8harian 45 8harian 46

30.243 30.091 30.688 29.462 30.562 31.134 31.188 30.355 29.724 29.75 29.483 29.356 27.962 27.983 27.775 29.073 28.762 28.451 27.441 26.924 26.104 25.998 25.704 25.889 25.194 25.413 25.06 25.303 25.574 25.726 26.319 26.374 26.374 27.123 27.422 28.021 28.379 28.799 28.247 29.576 28.978 29.549 24.129 29.123

29.603 30.5 29.092 29.773 30 30.293 30.066 27.602 30.338 29.969 29.851 29.307 28.5 27.753 28.21 28.69 29.566 29.797 27.907 27.027 26.919 26.768 27.122 26.595 26.502 25.862 25.854 25.779 25.17 25.816 25.85 26.305 26.165 27.03 27.511 27.685 28.259 28.302 28.815 28.815 29.177 28.841 29.943 30.014

30.453 31.058 30.721 30.655 31.131 30.852 30.73 31.092 31.353 30.494 31.123 30.899 29.981 28.962 27.743 28.1 27.924 27.908 28.0126 28.622 28.37 28.483 28.097 26.825 26.637 26.637 26.414 25.721 26.466 26.19 26.882 27.076 27.27 27.519 27.327 27.785 28.668 29.237 29.738 30.247 29.692 27.914 28.117 30.012

29.121 24.999 30.425 30.239 30.101 27.925 30.315 29.342 28.484 28.852 29.973 30.372 29.823 29.41 28.928 28.408 28.274 27.976 26.62 25.793 25.088 25.659 24.813 25.237 25.582 25.957 25.631 25.304 25.637 25.194 25.451 25.847 26.115 26.613 26.82 26.782 27.255 27.128 28.299 28.408 28.623 28.949 28.869 28.612

29.24 30.388 30.362 31.494 31.736 30.143 29.666 30.605 29.063 30.587 30.018 29.315 29.537 28.383 28.226 28.458 28.277 27.841 26.639 26.404 26.294 26.031 26.461 26.177 25.94 25.757 25.338 25.489 25.204 25.955 25.755 26.411 26.38 26.582 26.651 27.828 27.201 28.973 28.357 29.317 30.291 30.58 29.7 29.734

29.115 27.74 29.086 27.367 26.553 29.479 30.284 30.869 31.045 30.896 29.543 28.885 28.465 28.862 28.001 28.001 28.015 26.882 26.554 28.376 26.185 27.208 25.686 26.006 25.329 26.07 25.348 26.163 24.475 26.052 26.612 27.232 27.116 26.831 27.824 27.781 28.303 28.166 28.751 29.409 29.774 29.594 29.825 29.718

29.52 29.906 28.547 26.753 29.848 28.227 30.704 30.865 30.652 30.555 29.457 29.579 29.673 28.652 29.236 28.941 29.04 28.983 28.375 28.157 27.205 27.136 27.036 26.626 26.187 27.055 25.979 26.456 26.708 26.459 26.551 26.738 26.78 27.347 28.189 28.36 28.702 29.079 28.63 30.383 30.538 30.097 29.737 29.671

26

Berdasarkan tabel diatas diketahui nilai sebaran suhu permukaan laut di Perairan Selat Bali yang tertinggi dari tahun 2003-2009 terjadi pada Bulan Maret Tahun 2005 yaitu 31,35C. SPL terendah dari tahun 2003-2009 terjadi pada Bulan September Tahun 2008 yaitu 24,47C. 3.6.3. Trend Anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) Setelah diperoleh nilai rata-rata SPL, selanjutnya dilakukan penghitungan nilai anomali sebaran SPL, hal ini dilakukan untuk mengetahui penyimpangan nilai sebaran SPL setiap 8 harian selama 7 tahun, sehingga diketahui karakteristik konsentrasi SPL di Perairan Selat Bali. Setelah dilakukan perhitungan maka diperoleh data anomali nilai sebaran SPL dari tahun 2003-2009 seperti yang disajikan pada Gambar 8. Secara umum dapat dilihat bahwa karakteristik sebaran anomali SPL pada Perairan Selat Bali tidak banyak mengalami perubahan dibanding suhu normalnya. Hanya pada bulan-bulan pada tahun tertentu yang mengalami anomali sangat tinggi. Ini terlihat pada bulan Februari tahun 2006 anomali suhu mencapai -4,24C, bulan Februari tahun 2007 anomali suhu mencapai -2,63C, pada bulan Februari tahun 2008 anomali suhu mencapai -3,43C, pada bulan Maret 2004 anomali suhu mencapai -2,5 C, dan pada bulan Desember tahun 2003 anomali suhu mencapai -4,48C. Anomali kenaikan suhu dan penurunan suhu permukaan laut ini disebabkan oleh adanya fenomena upwelling maupun perubahan suhu global.

27

Gambar 8. Grafik Anomali SPL Tahun 2003-2009 Sebelum Interpolasi Berdasarkan grafik diatas, dalam setiap tahunnya terlihat anomali SPL. Untuk tahun 2003 bulan Desember terlihat terjadi penurunan suhu permukaan laut yang sangat drastis mencapai -4,49 C. Tahun 2004 bulan Maret anomali terjadi dengan suhu mencapai -2,5 C. Pada Tahun 2005 tidak ada kenaikan atau penurunan suhu secara signifikan. Tahun 2006 bulan Februari terjadi anomali dengan suhu mencapai -4,24 C. Pada tahun 2007 bulan Februari terjadi kenaikan suhu mencapai 2,10 C. Pada tahun 2008 bulan Februari terjadi penurunan suhu mencapai -3,44 C. Dan pada Februari tahun 2009 juga terjadi penurunan suhu mencapai -2,64 C. Sedangkan dibawah ini adalah grafik anomali suhu permukaan laut yang telah diperbaiki atau diinterpolasi karena anomali-anomali yang terjadi dianggap disebabkan adanya kesalahan dalam pengolahan data pada software ataupun karena adanya tutupan awan yang menyelimuti daerah penelitian sehingga dilakukan interpolasi untuk menormalkan kembali anomali yang terjadi. Grafik anomali tersaji pada gambar berikut.

28

Gambar 9. Grafik Anomali SPL Tahun 2003-2009 Setelah Data di Interpolasi 3.6.4 Citra Sebaran Konsentrasi Klorofil-a Klorofil-a yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit Aqua Modis 8 harian mulai dari tahun 2003-2009. Citra klorofil-a didapatkan dari ratarata 8 harian selama kurun waktu 7 tahun. Setelah dilakukan pengumpulan data satelit Aqua Modis dari tahun 2003-2009 selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk memperoleh nilai konsentrasi klorofil-a. Dari hasil pengolahan ini dihasilkan pola sebaran klorofil-a perairan Selat Bali dan nilai rata-rata konsentrasi klorofil-a 8 harian secara temporal. 3.6.5 Konsentrasi Klorofil-a Secara Temporal (Time Series) Untuk mempelajari karakteristik sebaran konsentrasi klorofil-a di Perairan Selat Bali secara temporal, Gambar 10 menyajikan pola fluktuasi nilai konsentrasi klorofil-a 8 harian. Dari grafik pada Gambar 10 dapat diketahui bahwa konsentrasi klorofil-a terendah pada tahun 2003 terjadi pada bulan Februari dengan konsentrasi 0,17 mg/m dan konsentrasi tertinggi pada bulan Juli dengan konsentrasi 1,89 mg/m. Pada tahun 2004 konsentrasi klorofil-a terendah terjadi pada bulan Maret dengan konsentrasi 0,18 mg/m dan konsentrasi tertinggi terjadi pada bulan Agustus dengan konsentrasi 2,81 mg/m. Pada tahun 2005 konsentrasi klorofil-a terendah terjadi pada bulan Februari dengan konsentrasi 0,12 mg/m dan konsentrasi

29

tertinggi terjadi pada bulan September dengan konsentrasi 1,55 mg/m. Pada tahun 2006 konsentrasi klorofil-a terendah terjadi pada bulan Februari dengan konsentrasi 0,13 mg/m dan konsentrasi tertinggi terjadi pada bulan November dengan konsentrasi 3,82 mg/m. Pada tahun 2007 konsentrasi klorofil-a terendah terjadi pada bulan Desember dengan konsentrasi 0,16 mg/m dan konsentrasi tertinggi terjadi pada bulan Juli dengan konsentrasi 3,37 mg/m. Pada tahun 2008 konsentrasi klorofil-a terendah terjadi pada bulan Februari dengan konsentrasi 0,01 mg/m dan konsentrasi tertinggi terjadi pada bulan Juli dengan konsentrasi 1,33 mg/m. Pada tahun 2009 konsentrasi klorofil-a terendah terjadi pada bulan Maret dengan konsentrasi 0,16 mg/m dan konsentrasi tertinggi terjadi pada bulan September dengan konsentrasi 2,40 mg/m.

Gambar 10. Grafik Klorofil-a Tahun 2003-2009 Dari pola sebaran konsentrasi klorofil-a dapat dilihat nilai konsentrasi klorofil-a setiap 8 harian selama kurun waktu 7 tahun seperti tersaji pada Tabel 8.

Tabel 8. Tabel Sebaran Klorofil-a 8 Harian Tahun 2003-2009

30

BULAN

JENIS DATA

PENGAMBILAN

2003

2004

TAHUN 2005 2006

2007

2008

2009

31

Januari

Februari

Maret

April

Mei

CHL 1-8 CHL 9-16 CHL 17-24 CHL 25-32 CHL 33-40 CHL 41-48 CHL 49-56 CHL 57-64 CHL 65-72 CHL 73-80 CHL 81-88 CHL 89-96 CHL 97-104 CHL 105-112 CHL 113-120 CHL 121-128 CHL 129-136 CHL 137-144 CHL 145-152 CHL 153-160 CHL 161-168 CHL 169-176 CHL 177-184 CHL 185-192 CHL 193-200 CHL 201-208 CHL 209-216 CHL 217-224 CHL 225-232 CHL 233-240 CHL 241-248 CHL 249-256 CHL 257-264 CHL 265-272 CHL 273-280 CHL 281-288 CHL 289-296 CHL 297-304 CHL 305-312 CHL 313-320 CHL 321-328 CHL 329-336 CHL 337-344 CHL 345-352

8harian 1 8harian 2 8harian 3 8harian 4 8harian 5 8harian 6 8harian 7 8harian 8 8harian 9 8harian 10 8harian 11 8harian 12 8harian 13 8harian 14 8harian 15 8harian 16 8harian 17 8harian 18 8harian 19 8harian 20 8harian 21 8harian 22 8harian 23 8harian 24 8harian 25 8harian 26 8harian 27 8harian 28 8harian 29 8harian 30 8harian 31 8harian 32 8harian 33 8harian 34 8harian 35 8harian 36 8harian 37 8harian 38 8harian 39 8harian 40 8harian 41 8harian 42 8harian 43 8harian 44

0 0.52 0.418 0.174 0.288 0.279 0.309 0.257 0.191 0.193 0.446 0.59 0.508 0.932 1.368 1.559 1.133 0.492 0.313 0.689 1.648 1.015 1.892 1.98 1.427 1.225 1.763 1.148 0.93 0.987 1.416 0.923 1.234 1.116 1.353 2.842 3.334 0.944 1.106 0.555 0.441 0.369 0.313 0.293

0.352 0.293 0.259 0.353 0.647 0.403 0.361 0.191 0.184 0.442 0.236 0.278 0.256 0.482 1.666 1.98 1.45 0.362 0.29 0.26 1.445 2.025 1.162 1.384 0.879 1.005 0.966 1.769 2.618 2.813 2.282 0.907 0.754 0.785 0.883 1.3 0.56 0.592 0.917 0.381 0.577 0.243 0.215 0.208

0.177 0.19 0.237 0.122 0.182 0.69 0.202 0.183 0.168 0.169 0.161 0.267 0.304 0.21 0.394 0.842 1.605 1.101 0.262 0.908 1.001 0.82 0.425 0.489 0.804 1.362 0.958 1.224 0.601 0.554 1.553 1.018 0.409 0.779 0.481 0.627 0.455 0.337 0.298 0.199 0.322 0.334 0.174 0.193

0.329 0.236 0.239 0.21 0.161 0.147 0.138 0.188 0.194 0.181 0.259 0.304 0.357 0.402 0.355 0.253 0.496 0.944 1.206 1.095 1.23 1.657 1.553 0.781 0.758 1.093 0.743 0.819 0.851 1.313 1.938 0.841 1.222 1.275 2.133 1.487 1.038 1.575 2.084 3.271 3.34 3.829 1.853 1.339

0.852 0.44 0.444 0.295 0.197 0.277 0.307 0.19 0.47 0.25 0.262 0.36 0.246 0.554 0.381 0.409 1.174 1.37 1.003 1.386 1.72 1.486 1.098 3.378 0.635 0.991 1.248 1.169 1.464 0.43 1.625 1.216 0.781 3.051 2.893 0.769 1.502 1.671 1.145 0.476 0.445 0.306 0.164 0.23

0.561 0.405 0.207 0.167 0.01 0.046 0.174 0.15 0.189 0.171 0.23 0.166 0.323 0.516 0.663 0.485 0.881 0.593 1.207 1.043 1.025 1.343 0.683 0.754 0.791 1.338 1.128 0.916 0.828 0.657 0.968 0.77 0.667 0.733 1.013 1.051 0.867 0.883 1.104 0.904 0.632 0.201 0.166 0.23

0.32 0.284 0.258 0.187 0.169 0.022 0.266 0.167 0.205 0.243 0.246 0.254 0.85 0.973 0.769 0.607 0.959 0.816 0.431 0.855 1.197 1.004 1.671 1.826 0.904 1.188 2.046 0.54 0.853 0.738 0.621 0.479 0.716 2.408 1.058 0.466 1.058 0.701 0.98 1.169 1.325 0.461 0.287 0.163

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

32

CHL 353-360 CHL361-365

8harian 45 8harian 46

0.303 0.363

0.371 0.704

0.482 1.041

1.277 0.786

0.36 0.659

0.33 0.406

0.123 0.027

Berdasarkan tabeL diatas diketahui bahwa nilai sebaran konsentrasi klorofila di Perairan Selat Bali tertinggi dari tahun 2003-2009 terjadi pada bulan November Tahun 2006 yaitu 3,82 mg/m. Klorofil-a terendah dari tahun 2003-2009 terjadi pada bulan Februari Tahun 2008 yaitu 0,01 mg/m. 3.6.6 Trend Anomali Klorofil-a Setelah diperoleh nilai rata-rata konsentrasi klorofil-a, selanjutnya dilakukan penghitungan nilai anomali sebaran klorofil-a. Ini dilakukan untuk mengetahui penyimpangan nilai sebaran klorofil-a setiap 8 harian selama 7 tahun, sehingga diketahui karakteristik konsentrasi klorofil-a di Perairan Selat Bali. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh data anomalI nilai sebaran klorofil-a dari tahun 2003-2009 seperti yang disajikan pada Gambar 11. Secara umum dapat dilihat bahwa karakteristik sebaran anomali konsentrasi Klorofil-a pada Perairan Selat Bali tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan konsentrasi normalnya. Hanya pada bulan-bulan pada tahun tertentu yang mengalami anomali sangat tinggi. Ini terlihat pada bulan Mei tahun 2004 konsentrasi klorofil-a mencapai 1,10 mg/m, bulan Juli tahun 2007 konsentrasi klorofil-a mencapai 1,8 mg/m, bulan Agustus tahun 2004 konsentrasi klorofil-a mencapai 1,174 mg/m, pada bulan September tahun 2007 konsentrasi klorofil-a mencapai 1,60 mg/m, pada bulan Oktober tahun 2003 konsentrasi klorofil-a mencapai 2,07 mg/m, dan pada bulan November tahun 2006 konsentrasi klorofil-a mencapai 3,00 mg/m. Sama halnya dengan anomali yang terjadi pada suhu permukaan lauat, anomali kenaikan dan penurunan konsentrasi klorofil-a ini juga diindikasikan disebabkan oleh adanya upwelling dan perubahan suhu global.

33

Gambar 11. Grafik Anomali Klorofil-a Tahun 2003-2009 Sebelum Interpolasi Dalam setiap tahunya kita akan melihat anomali Klorofil-a yang terjadi. Untuk tahun 2003 bulan Oktober terlihat terjadi kenaikan konsentrasi klorofil-a yang sangat drastis mencapai 2,07 mg/m. Tahun 2004 bulan Agustus anomali terjadi dengan konsentrasi klorofil-a mencapai 1,74 mg/m. Pada tahun 2005 tidak ada kenaikan atau penurunan konsentrasi klorofil-a secara signifikan. Tahun 2006 bulan November terjadi anomali dengan konsentrasi klorofil-a mencapai 3,01 mg/m. Pada tahun 2007 bulan Juli terjadi kenaikan konsentrasi klorofil-a mencapai 1,86 mg/m. Pada tahun 2008 tidak terjadi anomali secara signifikan. Begitu pula pada tahun 2009. Grafik pada Gambar 12 merupakan anomali klorofil-a yang telah diperbaiki karena terjadi kesalahan dalam pengolahan data pada software ataupun karena adanya tutupan awan yang menyelimuti perairan wilayah penelitian sehingga dilakukan interpolasi untuk menormalkan kembali anomali yang terjadi.

34

Gambar 12. Grafik Anomali Klorofil-a Tahun 2003-2009 Setelah Interpolasi 3.7 Data Produksi CPUE Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Berdasarkan data hasil produksi yang digambarkan melalui Catch Per Unit Effort (CPUE) Ikan lemuru Tahun 2003-2009, diketahui bahwa hasil tangkapan harian tiap tahunnya tidak menentu, hal ini dapat disebabkan antara lain oleh faktor alam seperti blooming algae, fenomena ENSO (El nino-Southern Oscillation), dan upwelling, sifat dari ikan lemuru itu sendiri dan juga dapat disebabkan oleh faktor manusia seperti tidak melakukan kegiatan penangkapan. Pertumbuhan CPUE Ikan lemuru di Perairan Selat Bali setiap tahunnya dapat dilihat pada Gambar 13.

35

Gambar 13. Grafik CPUE Ikan Lemuru Tahun 2003-2009 Tabel berikut merupakan nilai CPUE Ikan lemuru setiap 8 harian selama kurun waktu 7 tahun. Tabel 9. Tabel Data CPUE Ikan Lemuru 8 Harian Tahun 2003-2009
BULAN Januari JENIS DATA LEM 1-8 LEM 9-16 LEM 17-24 LEM 25-32 LEM 33-40 LEM 41-48 LEM 49-56 Maret LEM 57-64 LEM 65-72 LEM 73-80 LEM 81-88 April LEM 89-96 LEM 97-104 LEM 105-112 PENGAMBILAN 8harian 1 8harian 2 8harian 3 8harian 4 8harian 5 8harian 6 8harian 7 8harian 8 8harian 9 8harian 10 8harian 11 8harian 12 8harian 13 8harian 14 2003 1.105.607 0 1.038.967 1.449.248 294.744 50.089 623.948 358.293 49.689 109.913 280.215 426.023 0 175.211 2004 1.255.819 0 909.694 2.105.508 340.062 65.116 533.013 996.45 45.92 123.458 188.72 423.228 0 76.059 2005 50.324 0 47.883 66.549 59.843 19.611 123.70 5 396.60 2 103.98 8 249.25 6 539.47 1 454.25 6 0 133.05 TAHUN 2006 82.158 0 70.707 100.051 87.749 15.411 175.901 140.633 27.548 83.715 96.786 171.646 0 134.461 2007 1.842.206 0 1.225.641 7.414.516 1.992.893 199.415 2.911.016 23.613.26 3 627.876 952.349 1.904.011 3.927.732 0 216.037 2008 640.193 0 734.629 985.987 101.067 20.515 215.41 345.959 54.755 216.245 498.047 732.242 0 439.349 2009 507.784 0 605.659 930.576 503.951 92.48 958.312 1.327.356 110.977 242.712 590.014 680.721 0 387.346

Februari

36

LEM 113120 LEM 121Mei 128 LEM 129136 LEM 137144 Juni LEM 145-152 LEM 153160 LEM 161168 LEM 169176 LEM 177Juli 184 LEM 185-192 LEM 193200 LEM 201208 LEM 209Agustus 216 LEM 217224 LEM 225232 LEM 233240 LEM 241September 248 LEM 249256 LEM 257264 LEM 265-272 LEM 273Oktober 280 LEM 281288 LEM 2898harian 15 8harian 16 8harian 17 8harian 18 8harian 19 8harian 20 8harian 21 8harian 22 8harian 23 8harian 24 8harian 25 8harian 26 8harian 27 8harian 28 8harian 29 8harian 30 8harian 31 8harian 32 8harian 33 8harian 34 8harian 35 8harian 36 8harian 37 303.892 180.551 83.021 358.005 283.83 184.427 169.444 386.137 449.661 0 159.845 259.869 299.486 0 970.899 866.101 309.382 460.951 1.116.815 1.102.303 182.361 747.082 1.368.972 263.646 357.481 45.967 621.904 694.92 63.581 67.027 203.359 585.207 0 150.542 180.851 654.675 0 425.693 475.689 222.593 139.149 433.19 473.439 63.167 318.171 470.186

7 428.58 3 111.00 6 21.623 185.84 586.74 3 61.936 83.056 184.97 6 354.72 2 0 135.42 208.54 4 422.86 6 0 199.19 3 183.44 4 735.46 9 64.157 206.64 223.83 1 176.80 4 106.14 9 181.76 291.213 112.033 21.251 178.682 380.685 63.067 64.351 171.844 220.009 0 179.703 215.293 245.608 0 198.097 208.071 447.555 75.125 186.713 336.176 265.216 118.984 205.511 325.939 124.028 24.979 190.185 545.005 62.935 56.631 190.154 264.522 0 131.899 182.007 144.963 0 66.573 78.941 28.814 28.942 81.673 94.84 15.275 71.9 145.051 1.275.38 298.058 94.822 451.069 1.661.677 85.233 93.258 336.202 543.293 0 174.112 238.462 417.984 0 381.289 487.427 299.127 290.544 1.028.645 1.007.148 629.091 675.781 1.121.276 857.666 627.055 114.01 1.130.329 1.474.936 259.936 240.806 704.305 935.336 0 143.469 255.545 236.514 0 132.923 186.524 124.62 80.158 213.755 250.064 141.141 977.617 1.696.229

37

296 LEM 297304 LEM 305November 312 LEM 313320 LEM 321328 LEM 329336 LEM 337Desember 344 LEM 345352 LEM 353360 LEM 361365 8harian 38 8harian 39 8harian 40 8harian 41 8harian 42 8harian 43 8harian 44 8harian 45 8harian 46 2.114.466 0 1.242.551 1.315.950 906.28 288.43 1.106.567 1.471.187 814.441 560.158 0 190.483 243.261 430.708 58.03 242.449 198.558 138.765

2 622.805 0 198.72 6 200.522 186.91 2 45.999 220.26 2 252.48 3 172.89 4 946.035 0 2.211.921 2.391.058 15.712.259 525.388 2.739.410 2.466.960 18.986.86 7 169.984 0 1.208.355 1.127.864 984.416 52.321 239.875 238.295 394.164 2.144.999 0 1.546.316 1.613.193 1.549.087 373.775 1.500.588 1.729.396 812.842 2.395.687 0 1.433.643 1.782.368 1.627.397 266.318 1.021.170 1.262.044 843.073

3.8

Trend Anomali CPUE Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Setelah diperoleh nilai rata-rata CPUE Ikan lemuru, selanjutnya dilakukan

penghitungan nilai anomaIi CPUE Ikan lemuru, hal ini dilakukan untuk mengetahui penyimpangan nilai CPUE Ikan lemuru setiap 8 harian selama 7 tahun, sehingga diketahui karakteristik CPUE Ikan lemuru di Perairan Selat Bali. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh data anomali nilai CPUE Ikan lemuru dari tahun 2003-2009 seperti yang disajikan pada Gambar 14. Secara umum dapat dilihat bahwa karakteristik hasil tangkapan ikan lemuru pada Perairan Selat Bali tidak banyak mengalami perubahan pada normalnya. Hanya pada bulan-bulan tahun tertentu yang mengalami anomali yang sangat tinggi. Ini terlihat pada bulan Februari tahun 2007 yang menunjukkan hasil tangkapan ikan lemuru naik mencapai 5.549 ton, bulan Maret tahun 2007 hasil tangkapan ikan lemuru naik mencapai 19.858 ton, pada bulan November tahun 2006 hasil tangkapan ikan lemuru mencapai 12.772 ton, dan pada bulan Desember 2006 hasil tangkapan ikan lemuru mencapai 15.820 ton.

38

Gambar 14. Grafik Anomali CPUE Ikan Lemuru Tahun 2003-2009 Dalam setiap tahunnya terjadi anomali CPUE. Untuk tahun 2003 bulan Maret terlihat terjadi penurunan yang signifikan dari hasil tangkapan ikan lemuru mencapai -3.396.242 ton, pada bulan November turun lagi mencapai -2.849.573 ton, pada bulan Desember mencapai -2.351.708 ton. Tahun 2004 bulan Maret anomali hasil tangkapan ikan lemuru turun mencapai -3.654.890 ton, pada bulan November turun lagi mencapai -2.509.493 ton, pada bulan Desember mencapai -3.027.384 ton. Pada tahun 2005 bulan Februari hasil tangkapan ikan lemuru turun mencapai -1.798.084 ton, pada bulan Maret turun lagi mencapai -3.357.933 ton, pada bulan November mencapai -2.753.289 ton, dan pada bulan Desember turun lagi mencapai -2.993.255 ton. Tahun 2006 bulan November terjadi anomali hasil tangkapan naik mencapai 12.772.058 ton, pada bulan Desember naik lagi mencapai 15.820.717 ton. Pada tahun 2007 bulan Maret terjadi kenaikan hasil tangkapan ikan lemuru mencapai 19.858.727 ton. Pada tahun 2008 bulan Maret terjadi penurunan hasil tangkapan ikan lemuru mencapai -3.408.576 ton, pada bulan November turun lagi mencapai -1.391.114 ton, pada bulan Desember turun mencapai -2.353.307 ton. Pada Maret tahun 2009 juga terjadi penurunan hasil tangkapan ikan lemuru mencapai -2.427.179 ton, pada bulan Oktober naik mencapai 1.116.525 ton, pada bulan November turun lagi mencapai -1.312.804 ton, dan pada bulan Desember turun lagi mencapai -2.351.708 ton.

39

3.9

Hasil Analisis Regresi Analisis regresi dilakukan terhadap semua data yang digunakan dalam

penelitian ini, dan diterangkan sebagai berikut : 3.9.1 Hubungan Antara Data Suhu Permukaan Laut (SPL) dengan Klorofila

Gambar 15. Grafik Hubungan SPL dan Klorofil-a Tahun 2003-2009 Grafik pada gambar diatas menerangkan bahwa suhu permukaan laut berbanding terbalik dengan klorofil-a. apabila suhu permukaan laut tinggi maka konsentrasi klorofil-a pada perairan tersebut akan rendah, begitupun sebaliknya.

3.9.2 Hubungan Antara Data Suhu Permukaan Laut dengan data CPUE Ikan Lemuru

40

Gambar 16. Grafik Hubungan SPL dan CPUE ikan Lemuru Tahun 2003-2009 Grafik diatas menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara suhu permukaan laut dengan jumlah hasil tangkapan ikan lemuru, meskipun hubungan yang digambarkan tidak signifikan. Ketika suhu permukaan laut tinggi maka hasil tangkapan cenderung menurun, apabila suhu permukaan laut rendah maka hasil tangkapan akan meningkat. Akan tetapi tidak seperti itu seterusnya, kadang-kadang akan terjadi sebaliknya. Ini disebabkan karena ikan lemuru akan mencari habitat atau lingkungan hidup dengan suhu perairan yang hangat atau sesuai dengan keperluan hidupnya. 3.9.3 Hubungan antara data Klorofil-a dengan data CPUE Ikan Lemuru

Grafik diatas menyimpulkan bahwa dan tangkapan Lemuru Tahun 2003-2009 Gambar 17. Grafik Hubungan Klorofil-ahasil CPUE Ikanikan lemuru berbanding terbalik dengan konsentrasi klorofil-a yang ada pada suatu perairan. Ketika konsentrasi klorofil-a tinggi, ikan lemuru tidak akan mendiami perairan tersebut. Ikan lemuru akan mencari habitat dengan konsentrasi klorofi-a yang sesuai untuk kehidupannya. Apabila suatu perairan dengan konsentrasi klorofil-a yang sangat tinggi akan menyebabkan pencemaran perairan tersebut dan dapat mengakibatkan kematian ikan-ikan yang ada. Ikan lemuru lebih memilih perairan dengan konsentrasi klorofi-a yang sesuai atau lebih tepatnya ikan lemuru cenderung mendiami perairan dengan suhu perairan yang hangat.

41

3.9.4

Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Di bawah ini adalah perbandingan hubungan antara anomali suhu

permukaan laut, klorofil-a dan data CPUE ikan lemuru untuk setiap tahunnya. Grafik tersebut menggambarkan kenaikan atau penurunan nilai yang ada secara jelas, apakah antar variable saling mempengaruhi atau tidak.

42

Gambar 18. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2003

Gambar 19. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2004

43

Gambar 20. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2005

44

Gambar 21. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2006

45

Gambar 22. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2007

46

Gambar 23. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2008

47

Gambar 24. Grafik Hubungan antara Nilai Anomali Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Dan CPUE Ikan Lemuru Tahun 2009 3.9.5 Perhitungan Regresi Antara Data Klorofil-a , Suhu Permukaan Laut (SPL) dan CPUE Ikan Lemuru

48

Hasil regresi antara suhu permukaan laut dengan klorofil-a diperoleh nilai R square sebesar 0,305. Ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara suhu permukaan laut dengan klorofil-a tidak terlalu erat. Ketika suhu permukaan laut tinggi maka konsentrasi klorofil-a diperairan tersebut tidak selalu berbanding terbalik dengan keadaan suhu perairan tersebut. Dapat dimungkinkan ketika suhu tinggi, klorofil-a akan tinggi pula, atau sebaliknya, ketika suhu perairan tinggi maka klorofil-a akan rendah.

Gambar 25. Grafik Regresi SPL dan Klorofil-a Regresi antara suhu permukaan laut dengan data hasil tangkapan Ikan lemuru diperoleh nilai R square sebesar 0,013. Ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara suhu permukaan laut dengan data hasil tangkapan Ikan lemuru tidak terlalu erat. Ketika suhu permukaan laut tinggi maka hasil tangkapan ikan lemuru diperairan tersebut tidak terlalu banyak. Atau dapat dikatakan ikan lemuru tidak suka dengan suhu perairan yang tinggi.

49

Gambar 26. Grafik Regresi SPL dan CPUE Ikan Lemuru Regresi antara klorofil-a dengan hasil tangkapan Ikan lemuru memperoleh nilai R square sebesar 0,004. Ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara klorofil-a dengan hasil tangkapan Ikan lemuru tidak terlalu erat. Ketika konsentrasi klorofil-a tinggi diperairan tersebut tidak selalu hasil tangkapan akan tinggi. Dapat disimpulkan bahwa ikan lemuru tidak suka dengan perairan dengan konsentrasi klorofil-a yang tinggi. Adanya konsentrasi klorofil-a yang tinggi akan menyebabkan pencemaran perairan yang mengakibatkan kematian masal ikan pelagis. Ikan lemuru cenderung memilih perairan yang hangat dibandingkan perairan dengan kelimpahan konsentrasi klorofil-a yang tinggi.

50

Gambar 27. Grafik Regresi Klorofil-a dan CPUE Ikan Lemuru Untuk melihat hubungan antar variabel diatas lebih lanjut maka dibuat visualisasi dalam peta kontur, sebagaimana tersaji pada Gambar

51

Gambar 28. Kontur SPL, Klorofil-a dan CPUE Ikan Lemuru Peta kontur SPL, Klorofil-a dan CPUE ikan lemuru diatas menunjukan bahwa SPL tertinggi adalah pada bulan Juli Tahun 2005 dan pada bulan Februari Tahun 2007 yang ditunjukan dengan warna merah tua. Kemudian suhu rendah dimulai dari bulan Desember Tahun 2003 sampai akhirnya terjadi pada bulan Januari Tahun 2009. Sedangkan konsentrasi klorofil-a tertinggi terjadi pada bulan Oktober Tahun 2003 yang ditunjukan dengan warna hijau tua. Dari Tahun 2003 sampai 2009 konsentrasi klorofil-a cenderung menurun. CPUE ikan lemuru (kanan) tertinggi

52

terjadi pada November, Desember Tahun 2006 dan bulan Januari, Februari, Maret Tahun 2007-2008. Ini ditunjukan dengan warna merah kehitaman. Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa nilai SPL tidak selalu berbanding terbalik dengan nilai klorofil-a, Ikan lemuru cenderung lebih memilih perairan yang hangat daripada perairan dengan kelimpahan makanan yang sangat tinggi. Dengan kata lain, apabila konsentrasi klorofil-a rendah maka hasil tangkapan ikan lemuru tinggi.

53

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Dari Hasil Penelitian dan Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. Nilai Suhu Permukaan Laut rata-rata selama 7 tahun di Perairan Selat Bali adalah 28,24 C. SPL tertinggi dari tahun 2003-2009 terjadi pada Bulan Maret Tahun 2005 yaitu 31,35C. SPL terendah dari tahun 2003-2009 terjadi pada Bulan September Tahun 2008 yaitu 24,47C. Konsentrasi rata-rata klorofil-a selama 7 tahun adalah 0,79 mg/m. Klorofil-a tertinggi dari tahun 2003-2009 terjadi pada Bulan November Tahun 2006 yaitu 3,82 mg/m. Sedangkan Klorofil-a yang terendah dari tahun 2003-2009 terjadi pada Bulan Februari Tahun 2008 yaitu 0,01 mg/m. 2. Hubungan antara klorofil-a dan suhu permukaan air laut berbanding terbalik. Sedangkan hubungan antara CPUE ikan lemuru dan SPL lebih erat daripada hubungan klorofil-a dengan CPUE ikan lemuru. Ini mengindikasikan bahwa ikan lemuru cenderung lebih memilih habitat yang lebih nyaman daripada kelimpahan makanannya yaitu klorofil-a. Trend anomali SPL selama 7 tahun adalah suhu rendah terjadi pada Bulan Desember untuk tahun 2003. Tahun 2004 suhu rendah terjadi pada Bulan November, sampai pada akhirnya suhu rendah terjadi pada Bulan Januari tahun 2009. Trend anomali klorofil-a selama 7 tahun adalah berbanding terbalik terhadap SPL. Konsentrasi klorofil-a tertinggi terjadi pada bulan Oktober Tahun 2003. Dari Tahun 2003 sampai 2009 konsentrasi klorofil-a cenderung menurun. Sedangkan trend anomali CPUE ikan lemuru tertinggi terjadi pada November, Desember Tahun 2006 dan bulan Januari, Februari, Maret Tahun 2007-2008. 3. Kelimpahan fitoplankton untuk stasiun 1 = 0.73 mg/m3; stasiun 2 = 0.76 mg/m3; stasiun 3 = 0.44 mg/m3.

54

4. Jenis fitoplankton yang mendominasi di perairan Selat Bali antara lain : Coscinodiscus asteromphalus, Isthmia nervosa, Chaetoceros diversus.

4.2. Saran 1. Perlu adanya ketelitian dalam pengumpulan dan pengolahan data. 2. Penentuan waktu yang tepat dalam pengambilan sampel air laut untuk menghindarkan data citra satelit yang tertutup awan. 3. Perangkat komputer dengan spesifikasi di atas standart untuk pengolahan data citra. 4. Perlu adanya penelitian lanjutan dengan parameter parameter lainnya.

55

DAFTAR PUSTAKA Aunurohim., D. Saptarini, dan D. Yanthi. 2009. Fitoplankton dan Penyebab Harmful Algae Blooms (HABs) di Perairan Sidoarjo. Jurnal Penelitian Biologi FMIPA. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya. Hal 1. Baksir, A. 2004. Hubungan Antara Produktivitas Primer Fitoplankton dan intensitas Cahaya Di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal 2. Balai Riset Dan Observasi Kelautan, 2007. Pola Kesuburan Perairan Laut Indonesia. ISBN 978-97915873-1-0. Pusat Riset Teknologi Kelautan Badan Riset Kelautan Dan Perikanan. Departemen Kelautan Dan Perikanan. Hal 1-5. Balai Riset Dan Observasi Kelautan, 2009. Laporan Identifikasi Kesuburan Perairan Ideal Di Wilayah Pesisir Dengan Menggunakan Data Satelit.. Pusat Riset Teknologi Kelautan Badan Riset Kelautan Dan Perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal 4-5. C.P. Lo. 1996. Penginderaan Jauh Terapan/ C.P. Lo; penerjemah Bambang Purbowaseso; pendamping Sutanto, Jakarta. Universitas Indonesia (UI-Press). Hal 1. Danoedoro, P. 1996. Pengolahan Citra Digital. Teori dan Aplikasinya dalam bidang penginderaan Jauh. Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Hal 1. Departemen Kehutanan RI, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Bali. 2010. Gambaran Umum Propinsi Bali. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/BALI/bali.html, di akses tanggal 15 Oktober 2010, pukul 11.04 WIB. LAND PROCESSES DISTRIBUTED ACTIVE ARCHIVE CENTER, 2008. MODIS Overview. USGS NASA. https://lpdaac.usgs.gov/lpdaac/products/modis_overview. Di akses tanggal 15 Oktober 2010, pukul 11.34 WIB.

56

Makmur, M. 2008. Pengaruh Upwelling Terhadap Ledakan Alga (Blooming Algae) di Lingkungan Perairan Laut. Proseeding Seminar Nasional Teknologi Pengolahan Limbah VI. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif. BATAN. Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi RISTEK. Hal 240-241. Merta, I.G.S. 1995. Review Of The Lemuru Fishery In The Bali Strait. BIODINEX; Seminar Biology, Dynamics, Exploitation Of The Small Pelagic Fishes In The Java Sea. Jakarta, Indonesia. 98-104. NASA. 2010. Aqua Modis Specification. http://modis.gsfc.nasa.gov/about /specification.php/. Diakses tanggal 12 mei 2010, pada pukul 18.50 WITA. NASA. 2010. Aqua Modis Satellite Orbit. http://modis.gsfc.nasa.gov/about /specs.html/. Di akses tanggal 12 mei 2010, pada pukul 18.30 WITA. NASA. 2010. Modis Sensor Caracteristic. http://www.LP DAAC.usgs.gov/2010/ . Di akses tanggal 12 Mei 2010, pada pukul 19.45 WITA. Nontji, A. 2008. Plankton Laut. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI. PRESS. Jakarta. Hal 11-18. Setyohadi, D.,T.D. Lelono, Martinus dan A. Muntaha. 2008. Pengkajian Stok Dan Model Pengelolaan Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Di Selat Bali. Laporan Penelitian DIPA Universitas Brawijaya No. 0174.0/023-04.2/XV/2009 tanggal 31 Desember 2008. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Brawijaya Malang. Sediadi, A. dan Edward. 1993. Kandungan Klorofil-a Fitoplankton Di Perairan Pulau Lease Maluku Tengah. PUSLITBANG OSEANOGRAFILIPI. Jakarta. Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Pendayagunaan Sumberdaya Hayati Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, 3 Juni 2000. Salatiga. Hal 2. Tanjung, O.R. 2009. Pengaruh Faktor-Faktor Oceanografi Dan Meteorologi Terhadap Fenomena Blooming Alga Di Paparan Bali Dengan Memanfaatkan Data Satelit Modis. Laporan Skripsi Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang. Yusuf, B. 2008. Studi Tentang Sebaran Klorofil-a Dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Selat Bali. Laporan Skripsi Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.