Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH INSTABILITAS POSTURAL

Disusun oleh: Alifia Faraghta 108103000040

MODUL PRAKTIK KLINIK GERIATRI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

BAB I ILUSTRASI KASUS 1. Anamnesis 1.1 identitas pasien Nama : Tn. G Umur : 82 tahun Pekerjaan : tidak bekerja Jenis kelamin : Laki-laki Status perkawinan : Duda Pendidikan : SD Agama : Islam Suku : Jawa Alamat : pondok pinang Tanggal masuk panti werdha : 26 januari 2010 1.2 Keluhan Utama Mata kiri buram sejak 10 tahun yang lalu

Keluhan Penyerta Mata kiri

1.3

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluh nyeri di kedua lutut sejak 2 tahun yang lalu. Nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk tidak menjalar dan tidak semakin memberat. Nyeri dirasakan hilang timbul dan mengganggu aktivitas . Keluhan nyeri dirasakan semakin berat saat pasien berjalan dan saat menaiki tangga. Jika pagi hari, lutut terasa kaku dan susah untuk digerakkan.

Sejak 1 tahun terakhir, pasien tidak bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat bantunya karena lututnya dirasakan semakin nyeri. Pasien sudah

mencoba mengobati keluhannya dengan meminum obat herbal yang dibelinya dari warung, yang tidak diketahui namanya, namun keluhan hanya berkurang sementara. Selain itu, pasien juga batuk-batuk sejak 2 bulan yang lalu. Batuk berdahak warna hijau, tanpa disertai sesak napas. Batuk disertai demam yang tidak terlalu tinggi. Pasien juga menjadi sering berkeringat malam . BB dan nafsu makannya tidak menurun. Sejak 1 bulan ini pasien merasa BAB menjadi keras dan tidak teratur. Pasien BAB seminggu sekali. Padahal sebelumnya pasien BAB tiap 2 hari sekali. 1.4 Riwayat penyakit dahulu : pasien pernah menderita hipertensi sebelumnya, namun tidak pernah minum obat. Pasien pernah menderita sakit maag, pasien mencegah kekambuhannya dengan cara makan teratur. Sakit DM, penyakit jantung dan alergi disangkal. Tidak pernah trauma sebelumnya. 1.5 Riwayat penyakit keluarga: Riwayat DM, hipertensi & kolesterol tidak diketahui pasien. Riwayat alergi,(-) Asma (-), Riwayat stroke dan sakit jantung (-). 1.6 Riwayat Kebiasaan : Pasien mempunyai kebiasaan merokok 6 batang sehari sejak 65 tahun yang lalu. Pasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol maupun menggunakan obat-obatan terlarang. Pasien jarang berolah raga. 1.7 Riwayat sosial : Istri pasien sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Anak laki-lakinya juga sudah meninggal 8 tahun yang lalu karena kecelakaan. 1.8 Analisis Keuangan : Pasien tinggal di panti dan tidak mendapatkan uang pensiun. 1.9 Analisis kamar : Pasien tinggal di kamar lantai 2. Tangga menuju kamar pasien cukup aman dengan pegangan. Lantai dikamar pasien cukup bersih dan kering. Penerangan di kamar pasien baik. Kloset yang terdapat di kamar pasien

cukup baik dengan bentuk kloset duduk dan terdapat pegangan di dinding kamar mandi.. 1.10 Riwayat Nutrisi Jenis Karbohidrat Nasi Roti Mie Sayur Protein Hewan (ikan, ayam, 1 potong daging, telur) Nabati (tempe,kacang, dll) Susu sapi/kedele Buah 1 gelas 1 potong 1 gelas 1 kali 1 potong 1 kali 1 kali 1 piring 1 potong 1 mangkok 1 piring 1 kali 3 kali 1 kali 1 kali Jumlah Beberapa/hari Beberapa/minggu

1.11

Mini Nutritional Assesment

Analisis gizi BBI = 168 100 = 68 kg Status Gizi = (60 : 68) x 100% = 88.2 % Kebutuhan kalori per hari : 1. kebutuhan basal 68x 30 = 2040 kalori 2. koreksi Umur diatas 40 tahun:-5% ( 2040 x 0,05 = 102) Aktivitas ringan : +10% (2040x 0,1 = 204)

Jadi total kebutuhan kalori per hari untuk penderita : 2040-102+204= 2142 kalori 2100 kalori

1.12

Anamnesis Sistem Sistem Penglihatan Pendengaran Keluhan Tidak ada keluhan penglihatan. Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan

pendengaran pada kedua telinga, suara dari luar masih terdengar jelas menurut pasien ini dibuktikan dengan

komunikasi yang masih terjalin dengan baik

Kardiovaskular

Pasien tidak memiliki keluhan berdebar-debar dan nyeri dada.

Paru-paru

Batuk berdahak warna hijau sejak 2 bulan yang lalu, tanpa sesak napas

Pencernaan Saluran kemih Hematologi

Tidak ada keluhan keluhan sulit dan nyeri BAK disangkal pasien tidak mudah timbul lebam di kulit, bila luka perdarahan cepat berhenti dan tidak ada

pembengkakan kelenjar getah bening Endokrin pasien tidak memiliki keluhan sering lapar dan mudah haus dan sering kencing. Saraf Pasien tidak pernah pusing, kejang, pingsan, maupun kelemahan anggota gerak. Tulang dan otot Psikiatri Nyeri kedua lutut , dan kaku di pagi hari. Tidak ada keluhan

2. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran GCS Keadaan Umum Status gizi Tanda Vital : Compos Mentis : E4M5V6 : Tampak sakit ringan : BB 60; TB 168; BMI 21.2 : TD duduk : 150/90 mmHg : 150/90 mmHg

TD Berbaring

TD Berdiri : 150/90 mmHg Nadi Suhu : 84x/menit,regular,isi cukup : 36,5o C

Pernafasan

: 24x/menit regular

Keadaan Lokal Trauma Stigmata : Perdarahan perifer : CRT 2 detik KGB Columna Vertebralis : tidak teraba membesar, nyeri tekan (-) : Lurus ditengah, tidak ada nyeri tekan

Kepala Normosefal, Rambut sebagian putih, tidak mudah dicabut; Jejas (-)nyeri Tekan perikranial (-) Mata Conjungtiva anemis Sklera Ikterik (-) / (-) RCL (+) / (+) RCTL (+) / (+) Pupil Bulat Isokhor (-) / (-)

THT Telinga : Deformitas (-)/ (-), tidak ada nyeri tekan, tidak ada tanda radang,

serumen minimal. Hidung : Pernafasan cuping hidung ( - ):Deformitas (-);Sekret -/-, hiperemis

-/-, deviasi septum (-), edema -/ Tenggorokan : T1/T1 Tidak hiperemis

Leher Trakea di tengah, Tiroid tidak teraba membesar, JVP 5-2 cmH20 ; Penggunaan otot pernafasan tambahan m. sternokleidomastoideus (-): pembesaran KGB (- ) nyeri tekan (-) Mulut

Gigi pasien sudah banyak yang tanggal, hanya tersisa satu gigi depan atas . faring tidak hiperemis, oral trusth (-)

Paru Inspeksi Palpasi : gerakan dada simetris kanan dan kiri dalam statis & dinamis : Nyeri tekan (-), emphysema subkutis (-) , vokal fremitus sama pada

lapang paru dextra et sinistra Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Suara nafas lapang paru dextra et sinistra vesikuler; rhonki +/-, wheezing -/-

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus Cordis terlihat 1 jari medial MCL ICS 5 sinistra :Teraba Ictus ordis pada 1 jari medial MCL ICS 5 sinistra : Pinggang jantung ICS III PSL sinistra : Batas kanan ICS 4 PSL dextra : Batas Kiri 1 jari medial MCL ICS 5 sinistra Auskultasi : BJ I & II regular, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi : datar, tidak tampak buncit. : supel, nyeri tekan (-), defanse muscular (-), hepatoslenomegali(-) : Timpani

Auskultasi : BU (+) normal

Ginjal : CVA (-/-), ballotement -/Rektum/anus: Inspeksi tanda radang (-), fistula (-) , benjolan (-)

RT Tonus spincter menjepit kuat, mukosa licin, tidak terdapat massa,ampula recti tidak kolaps, fistula (-), sulcus medianus simetris,mukosa licin,nyeri tekan (-) , feses (-),darah (-)

Punggung: Tidak ditemukan deformitas atau ulkus dekubitus Alat kelamin : tidak ditemukan tanda radang, Ekstremitas : clubbing finger -/-, akral hangat +/+, pitting edem -/Motorik :5555|5555 5555|5555 MMSE No. Pertanyaan Nilai

Orientasi 1. 2. Sekarang ini (tahun), (musim), (bulan), (tanggal), (hari) Kita berada di mana? (negara), (propinsi), (kota), (RS), (lt) 3 5

Registrasi 3. Sebutkan 3 objek: tiap satu detik, pasien disuruh mengulangi nama 3 ketiga objek tadi. Nilai 1 untuk tiap nama objek yang disebutkan benar. Ulangi lagi sampai pasien menyebut dengan benar: bobil, sepatu, pohon Atensi dan Kalkulasi 4. Pengurangan 100 dengan 7. Nilai 1 untuk setiap jawaban yang 1 benar. Hentikan setelah 5 jawaban, atau eja secara terbalik kata B A G U S (nilai diberi pada huruf yang benar sebelum kesalahan). Mengenal Kembali

5.

Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama objek di atas tadi

Bahasa 6. 7. 8. Pasien disuruh menyebut: pensil, buku Pasien disuruh mengulangi kata: namun, tanpa, bila 2 3

Pasien disuruh melakukan perintah: Ambil kertas itu dengan tangan 3 anda, lipatlah menjadi 2, dan letakkan di lantai

Bahasa 9. Pasien disuruh membaca, kemudian melakukan perintah kalimat 1 pejamkan mata 10. 11. Pasien disuruh menulis dengan spontan (terlampir) Pasien disuruh menggambar bentuk (terlampir) 1 0 25

TOTAL Total skor= 25 (normal) Status Fungsional ADL Jenis Kegiatan Mengendalikan rangsang pembuangan tinja Mengendalikan rangsang berkemih Membersihkan diri Menggunakan jamban Makan Skor 2 2 1 2 2

Berubah sikap dari berbaring ke duduk Berpindah / berjalan Memakai baju Naik turun tangga Mandi

3 3 2 2 1

TOTAL Total skor : 20. Mandiri Geriatric Depression Scale (GDS)

20

Geriatric Depression Scale (GDS)


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pertanyaan Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda? Apakan anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenangan anda? Apakah anda merasa kehidupan anda kosong? Apakah anda merasa bosan? Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap saat? Apakah anda takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda? Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup anda? Apakah anda sering merasa tidak berdaya? Apakah anda lebih senang tinggal di rumah daripada pergi ke luar dan mengerjakan sesuatu yang baru? Apakah anda merasa punya banyak masalah dengan daya ingat anda dibandingkan dengan kebanyakan orang? Jawaban Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Skor 1 0 0 0 0 0 0

8. 9.
10.

Tidak Ya
Tidak

0 1
0

11.
12. 13. 14. 15. TOTAL

Apakah anda pikir bahwa hidup anda sekarang ini menyenangkan? Apakah anda merasa kurang dihargai? Apakah anda merasa penuh semangat? Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada harapan?

tidak
Tidak Ya Tidak

1
0 0 0 0 4

Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya Tidak dari anda?

Penapisan depresi dengan Geriatric Depression Scale (GDS) didapatkan total skor:4 (tidak depresi).

Pemeriksaan keseimbangan

Berg Balance Scale


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Manuver Balans duduk bangun dari kursi Balans berdiri tanpa tahanan Duduk tanpa sandaran, kaki di atas lantai Duduk ke kursi dari posisi berdiri Berpindah Balans berdiri dengan mata tertutup Berdiri dengan kedua kaki rapat Reaching forward Bending down (pasien diminta mencoba mengambil sesuatu benda kecil seperti bolpoin) Leher berputar, pasien diminta menggerakkan leher ke kiri dan kanan, menengadah ke atas sementara kedua kaki rapat Meletakkan kaki bergantian pada undakan Balans berputar Balans satu kaki Berdiri tandem JUMLAH (resiko tinggi untuk jatuh) Nilai 3 1 4 4 3 2 2 0 0

10 11 12 13 14

0 0 0 0 0 19

Pemeriksaan fisik status lokalis genu

Kriteria diagnosis OA lutut menggunakan kriteria klasifikasi American College of Rheumatology

3. Diagnosis Diagnosis Medik 1. Osteoarthritis genu bilateral 2. Susp TB Paru 3. Hipertensi 4. Konstipasi Diagnosis psikiatri (-) Diagnosis Fungsional Disabilitas berjalan tanpa menggunakan alat bantu tongkat. Risiko tinggi untuk jatuh

Geriatric giant pada pasien Instabilitas postural Infection Impecunity Impaction

4. Pengkajian Osteoarthritis genu bilateral Atas dasar terpenuhinya 3 dari 4 kriteria ACR 1986 (usia > 50 tahun, nyeri lutut, kekakuan sendi)

Pemeriksaan anjuran : Rontgen genu bilateral tatalaksana : Nonfarmako a) Meningkatkan dan memelihara LGS a) Meningkatkan dan memelihara kekuatan otot b) Mengurangi nyeri tekan dan nyeri gerak c) Mengurangi spasme pada otot quadriceps dan hamstring. d) Meningkatkan aktivitas fungsional Farmakologi Meloxicam 1 x 7,5 mg (OAINS) Prognosis : Ad vitam : bonam Ad fungtionam : dubia ad malam Ad sanationam ; dubia ad malam

Susp TB Paru Atas dasar batuk berdahak warna hijau sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan anjuran : Foto thoraks, sputum BTA, pemeriksaan darah rutin. Terapi : Nonfarmakologi : terapi pengeluaran dahak Farmakologi : OBH : 3 x 1 amoxicillin 3 x 1

Prognosis : ad vitam : dubia ad bonam

ad fungtionam : dubia ad malam ad sanationam : dubia ad malam Hipertensi : 150/90 mmHg, Pemeriksaan anjuran ; pemeriksaan Gula Darah, profil lipid,EKG,

urinalisis,pemeriksaan ureum kreatinin Tata laksana ;

Farmakologi ; kaptopril 2 x 12.5 mg Non farmakologi ; penurunan asupan garam, edukasi pasien untuk mengontrol tekanan darah.

Prognosis ; ad vitam : dubia ad bonam ad fungtionam ; dubia ad bonam ad sanationam : dubia ad bonam Konstipasi Atas dasar: Pasien BAB keras, dengan frekuensi BAB satu kali seminggu. Rencana Terapi: memberikan makan makanan cukup serat, melatih untuk buang air besar setiap pagi. Prognosis: ad vitam : dubia ad bonam ad fungtionam ; dubia ad bonam ad sanationam : dubia ad bonam Impecunity Atas dasar: Pasien tidak memiliki penghasilan yang tetap tiap bulannya karena pasien tidak bekerja. Pasien juga tidak memiliki keluarga atau kerabat yang mengunjunginya. Rencana Terapi: Motivasi untuk ikut kegiatan membuat keterampilan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi lnstabilitas postural / jatuh adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan pusat kekuatan anti gravitasi pada dasar penyanggah tubuh (misalnya, kaki saat berdiri), atau memberirespon secara cepat pada setiap perpindahan posisi atan keadaan statis. 2.2 Faktor Risiko Faktor risiko yang melatar belakangi terjadinya jatuh adalah faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik terbagi dua sistemik (pneumonia, hipatensi ortostatik, hiponatremi, gagal jantung, infeksi salurankemih) dan lokal (OA servikal, OA gem, Benign paroxiysmal positional vertigo (BPPV),gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, kelemahan otot tungkai bawah).Jatuh memiliki penyulit yang cukup serius, mulai dari cedera ringan sampai

frakturfemur. Dengan mengetahui faktor risiko jatuh sedini mungkin, maka kita dapat mencegah terjadinya jatuh dan penyulitnya. Lansia mengalami kemunduran atau perubahan morfologis pada otot yang menyebabkan perubahan fungsional otot, yaitu terjadi penurunan kekuatan dan kontraksi otot, elastisitas dan fleksibilitas otot, serta kecepatan dan waktu reaksi. Penurunan fungsi dan kekuatan otot akan mengakibatkan keseimbangan tubuh lansia. Lansia merupakan kelompok umur yang paling beresiko mengalami gangguan keseimbangan postural. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan postural, diantaranya adalah efek penuaan, kecelakaan,maupun karena faktor penyakit. Namun dari tiga hal ini, faktor penuaan adalah faktor utama penyebab gangguan keseimbangan postural pada lansia. 2.3 Jatuh Pada Lansia Menurut Kane jika keseimbangan postural lansia tidak dikontrol, maka akan dapat meningkatkan resiko jatuh pada lansia. Penurunan keseimbangan postural akibat penurunan kekuatan otot dapat ditingkatkan dengan melakukan latihan fisik yang berguna untuk menjaga agar fungsi otot dan postur tubuh tetap baik. Salah satu olahraga yang direkomendasikan untuk peningkatan keseimbanganpostural lansia adalah latihan Balance Exercise. Tetapi sampai saat ini pengaruh latihan balance exercise terhadap keseimbangan postural lansia masih perlu penjelasan.Gangguan keseimbangan postural merupakan hal yang sering terjadi pada lansia. Jika keseimbangan postural lansia tidak dikontrol, maka akan dapat meningkatkan resiko jatuh.

2.4 Faktor-Faktor Lingkungan Yang Sering Dihubungkan Dengan Kecelakaan Dengan Lansia Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah Tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok Tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser Lantai yang licin atau basah Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan) Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya

2.5 Faktor-Faktor Situasional Yang Mungkin Mempresipitasi Jatuh Antara Lain: (Reuben, 1996; Campbell, 1987) 1. Aktivitas Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya sedikit sekali (5%), jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki gunung atau olahraga berat. Jatuh juga sering terjadi pada lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak. Jatuh juga sering terjadi pada lansia yang imobil (jarang bergerak) ketika tiba-tiba dia ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan. 2. Lingkungan Sekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda perlengkapan rumah tangga, lantai yang licin atau tak rata, penerangan ruang yang kurang 3. Penyakit Akut Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak

nafas akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba-tiba pada penderita penyakit jantung iskenmik, dan lain-lain.

2.6 Komplikasi Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi-komplikasi seperti: (Kane, 1994; Van-derCammen, 1991) 1) Perlukaan (injury) - Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri / vena - Patah tulang (fraktur) : Pelvis Femur (terutama kollum) Humerus Lengan bawah Tungkai bawah Kista - Hematom subdural 2) Perawatan rumah sakit - Komplikasi akibat tidak dapat bergerak (imobilisasi) - Risiko penyakit-penyakit iatrogenik 3) Disabilitas - Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik - Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan pembatasan gerak 4) Risiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan (nursing home) 5) Mati

2.7 Pencegahan Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.

Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : (Tinetti, 1992; Van-der-Cammen, 1991; Reuben, 1996) 1. Identifikasi faktor resiko Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor intrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari / menyebabkan jatuh. Keadaan leingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yangsudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding. Obat-obatan yang menyebabkanhipotensi postural, hipoglikemik atau penurunan kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan dengan penjelasan yang komprehensif pada lansia dan keluargannya tentang risiko terjadinya jatuh akibat minum obat tertentu. Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia. 2. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan (gait) Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan (gait) juga harus dilakukan dengan cermat apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan/penurunan. 3. Mengatur / mengatasi fraktur situasional

Faktor situasional yang bersifat serangan akut / eksaserbasi akut, penyakit yang dideriata lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

2.8 Pendekatan Diagnostik Setiap penderita lansia jatuh, harus dilakukan assesmen seperti dibawah ini : (Kane, 1994; Fischer, 1982) A. Riwayat Penyakit (Jatuh) Anamnesis dilakukan baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi : 1. Seputar jatuh : mencari penyebab jatuh misalnya terpeleset, tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok, sedang makan, sedang buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin, sedang menoleh tiba-yiba atau aktivitas lain 2. Gejala yang menyertai : nyeri dada, berdebar-debar, nyeri kepala tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas. 3. Kondisi komorbid yang relevan :pernah stroke,Parkinsonism, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, defisit sensorik. 4. Review obat-obatan yang diminum : antihipertensi, diuretik, autonomik bloker, antidepresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik. 5. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh, rumah maupun tempat-tempat kegiatannya. B. Pemeriksaan Fisik 1. Tanda vital : nadi, tensi, respirasi, suhu badan (panas/hipotermi)

2. Kepala dan leher : penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising 3. Jantung : aritmia, kelainan katup 4. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor. 5. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi problem kaki (podiatrik), deformitas. C. Assesmen Fungsional Dilakukan observasi atau pencarian terhadap : 1. Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika bangku dari duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau duduk dibawah. 2. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat bantu, memakai kursi roda atau dibantu 3. Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, bepergian, kontinens.

2.9 Penatalaksanaan (Reuben, 1996; Kane, 1994; Tinetti, 1992) Tujuan penatalaksanaan ini untuk mencegah terjadinya jatuh berulang dan menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi AKS terbaik, mengembalikan kepercayaan diri penderita. Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau meneliminasi faktor risiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan ini harus terpadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter (geriatrik, neurologik, bedah ortopedi, rehabilitasi medik, psikiatrik, dll), sosiomedik, arsitek dan keluarga penderita. Penatalaksanaan bersifatindividual, artinya berbeda untuk setiap kasus karena perbedaan faktor-faktor yang bekerjasama mengakibatkan jatuh. Bila penyebab merupakan penyakit akut penanganannya menjadi lebih mudah, sederhanma, dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh serta efektif. Tetapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lansia itu. Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya pembatasan bepergian/aktifitas fisik, penggunaan alat bantu gerak.

Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan penurunan fungsional terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot sehingga memperbaiki nfungsionalnya. Sayangnya sering terjadi kesalahan, terapi rehabilitasi hanya diberikan sesaat sewaktu penderita mengalami jatuh, padahal terapi ini diperlukan terus-menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status fumgsional. Penelitian yang dilakukan dalam waktu satu tahun di Amerika Serikat terhadap pasien jatuh umur lebih dari 75 tahun, didapatkanpeningkatan kekuatan otot dan ketahanannya baru terlihat nyata setelah menjalani terapi rehabilitasi 3 bulan, semakin lama lansia melakukan latihan semakin baik kekuatannya. Terapi untuk penderita dengan penurunan gait dan keseimbangan difokuskan untuk mengatasi/mengeliminasi penyebabnya/faktor yang mendasarinya. Penderita dimasukkan dalam program gait training, latihan strengthening dan pemberian alat bantu jalan. Biasanya program rehabilitasi ini dipimpin oleh fisioterapis. Program ini sangatmembantu penderita dengan stroke, fraktur kolum femoris, arthritis, Parkinsonisme. Penderita dengan dissines sindrom, terapi ditujukan pada penyakit kardiovaskuler yang mendasari, menghentikan obat-obat yang menyebabkan hipotensi postural seperti beta bloker, diuretik, anti depresan, dll. Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan rumah/tempat kegiatan lansia seperti di pencegahan jatuh.