Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


` Ilmu konservasi gigi adalah ilmu yang paling tertua di bidang kedokteran gigi yang berkembang seak abad ke-18 sebagai sebuah solusi bagi masyarakat yang mengalami kerusakan gigi dan mempertahankan gigi mereka selama mungkin didialam mulut. Ilmu konservasi gigi merupakan cabang ilmu kedoteran gigi yng mempelajari tentang cara menanggulangi kelainan (penyakit) jaringan keras gigi, pulpa dan periapical untuk mempertahankan gigi di dalam mulut melalui restorasi dan perawatan gigi serta mempertahankan gigi selama mungkin didalam mulut agar estetik dan fungsi kunyah kembali normal. Dalam mempelajari ilmu konservasi gigi, dikenal dua macam restorasi yaitu direct restoration dan indirect restoration. Direct restoration adalah restorasi gigi yang dilakukan langsung didalam mulut penderita. Sedangkan indirect restoration adalah restorasi yang dibua diluar mulut penderita. Untuk melakukan indirect restoration, seorang dokter gigi membutuhkan seorang teknisi untuk membuat restorasi tersebut. Indirect restoration ini kemudian dilekatkan ke gigi yang telah dipreparsi atau diasah dengan bantuan semen yang cepat mengeras. Restorasi harus tepat pada semua dinding internal untuk memberikan retensi dan stabilitas. Preparasi harus dibuat bebas dari undercut pada suatu sumbu agar restorasi dapat dipasang dengan mudah. Indirect restoration menggunakan teknik restorasi logam, yakni restorasi logam yang dibuat berasal dari logam baik metal atau alloy. Umumnya yang digunakan adalah alloy

1.2 RUMUSAN MASALAH


Cara restorasi logam dan teknik pembuatan restorasi logam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 PENGERTIAN RESTORASI LOGAM
Indirect restoration adalah restorasi yang dibuat diluar mulut pasien yang akan dilekatkan atau disemen pada gigi pasien yang telah dipreparasi setelah siap dipasang. Indirect restoration dibagi menjadi dua yakni intra koronal (restorasi yang terdapat pada kontur gigi, contoh inlay) dan ektra korornal (restorasi yang menutupi bagian mahkota gigi asli yang masih ada untuk mendapatkan montur anatomis, contoh onlay, veneer, dan mahkota pigura). Teknik yang digunakan untuk membuat restorasi melalu indirect restoration adalah teknik restorasi logam. Teknik restorasi logam adalah suatu restorasi yng dibuat berbahan dasar metal atau alloy.

2.2 MACAM MACAM INDIRECT RESTORATION


Macam-macam indirect restoration adalah : 1. Inlay Inlay adalah restorasi yang digunakan pada gigi yang dipreparasi pada bagian oklusal distal, oklusal mesial atau mesio oklusal distal. Inlay sudah jarang digunakan untuk kavitas sederhana dan umumnya hanya diguakan untuk gigi-gigi yang berkebutuhan khusus, seperti gigi yang sudah lemah karena karies dan

cenderung fraktur bila tidak dilindungi atau bila retensi sulit dibuat. Berikut ini merupakan macam klas pada inlay (JD Eccles, RM Green, 1994) a. Inlay klas I Merupakan klas sederhana, yang jarang digunakan b. Inlay klas II Misalnya digunakan pada gigi yang daerah mesio oklusal distal terkena, sehingga perlu adanya perlindungan dengan cara menghilangkan tonjolan-tonjolan lemah untuk kemudian dipreparasi dengan menggunakan veneer. c. Inlay klas III dan IV Misalnya digunakan pada jembatan atau attachnment untuk jembatan semi cekat. d. Inlay klas V Misalnya untuk retensi pada geligi tiruan sebagian, atau dapat digunakan pasak untuk perawatan kavitas ruang dangkal akibat abrasi atau erosi.

2. Onlay Onlay adalah restorasi pada gigi yag morfologi oklusalnya mengalami perubahan karena restorasi sebeltorasi inumnya, karies, atau penggunaan fisik. Restorasi ini meliputi seluruh daerah oklusal yang meliputi cusp-cusp gigi (Baum, Phillips Lund, edisi III, 1997)

3. Mahkota / crown Restorasi gigi yang menutupi atau mengelilingi seluruh permukan gigi yang telah dipreparasi. Restorasi ini dibuat untuk gigi yang mengalami kerusakan sehingga tidak bisa ditambal lagi tetapigigi tersebut mash vital. Restorasi ini biasanya digunakan pada gigi premolar dan molar rahang bawah karena karies yang luas atau tambalan yang rusak (Baum, Phillips Leund, edisi III, 1997)

4. Mahkota pigura Mahkota tuang dimana bagian labial atau bukal diberi facing yang sama dengan warna gigi. Facing tersebut lebih mirip dengan veneers (JD Eccels, RM Green, 1994)

2.3 ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


Dalam pembuatan restorasi logam dibutuhkan alat dan bahan tertentu. Alat yag digunakan untuk pembuatan model malam adalah pelumas die, pinset kapas, malam, spatula malam No. 7, pengukir Hollenback -3 , pengukir cleoid discoid, lampu Bunsen atau lampu alcohol, dan instrument waxing P.K Thomas. Untuk pembuatan sprue dan penanaman model malam yang dibutuhkan adalah pembentuk sprue, pin sprue, cincin logam(bumbung tuang), bahan pelapik (non asbestos liner), bahan tanam pilihan (thermal), bowl dan spatula pengaduk, pengukur cairan, wetting agent, vibrator. Selanjutnya, pada saat pembuangan malam yang dibutuhkan adalah oven pembakaran, mesin pengecor, gas dan semprotan udara atau wadah peleburan listrik, larutan asam dan tempatnya, logam pengisi, sentrifugal, dan blowtorch. Sedangkan pada tahap akhir adalah pemolesan yang membutuhkan mini bur, disc, rubber merah dan hijau, serta stone merah dan hijau (Baum, Phillips Lud, edisi III, 1997)

2.4 TAHAP-TAHAP PEMBUATAN RESTORASI LOGAM


Untuk membuat restorasi logam, diperlukan tahap-tahap yang saling berurutan dan benar agar hasil restorasi yang dibuat sesuai yang diinginkan oleh dokter gigi. Tahapan-tahapan tersebut saling berpengaruh. Apabila satu tahapan terlewatkan atau tidak dilakukan, akan terjadi kemunginan restorasi yang kita buat mengalami kegagalan. Tahap-tahap pembuatan restorasi logam adalah (Kenneth J. Anusavice, edisi 10, 2004) 1. Mengolesi die dengan die separator dengan tujuan model malam bisa dilepas dari die. 2. Membentuk restorasi yang akan dibuat dengan menggunakan inlay wax, sesuai dengan bentuk anatomis gigi aslinya.

3. Menghaluskan model malam yang telah terbentuk dengan alcohol torch. 4. Mengkilapkan model malam yang telah terbentuk dengan menggunakan air sabun. 5. Mempersiapkan penanaman yang meliputi crucible former, sprue, ventilasi dan juga memasang non-asbestos liner pada bumbung tuang. 6. Melekatkn sprue pada daerah tertebal model malam dengan sudut tumpul. 7. Memasang model malam beserta sprue ke crucible former dan menyesuaikan dengan ketinggian pada bumbung tuang. 8. Mengolesi model malam beserta sprue dengan menggunakan wetting agent. 9. Menunggu hingga wetting agent mengering. 10. Menanam model malam. 11. Melepas crucible former dari bumbung tuang. Kemudian lakukan buang malam diatas api selama 1 jam atau hingga bahan tanam tidak tampak lagi kebiruan berate sisa malam telah habis. Kemudian lakukan casting logam dengan menggunakan blowtorch dan centrifugal. 12. Menunggu hingga bumbung tuang agak dingin. 13. Membobgkar bumbung tuang dan mengeluarkan hasil tuangan kasar. 14. Fitting dengan cara mencoret-coret die dengan pensil, sehingga bagian yang belum fit dapat diketahui dengan mudah. 15. Finishing , menggunakan stone merah dan hijau. 16. Polishing, menggunakan rubber merah dan hijau. Lakukan polishing tersebut sampai model malam mengkilat.

BAB III PEMBAHASAN


Restorasi logam dilakukan secara indirek yakni dilakukan diluar mulut penderita, jenisjenis restorasi ini adalah onlay, inlay, mahkota/crown, dan mahkota pigura. Keempat jenis tersebut mempunyai tahapan yang sama. Dalam pembuatan model malam, yang harus diperhatikan adalah daerah kontak proksimal dan kontur anatomisnya karena akan mempengaruhi kelangsungan gigi tersebut didalam mulut penderita. Apabila daerah kontak proksimal terdapat celah, maka akan terjadi sekunder karies pada pasien penggunaannya. Begitu pula dengan kontur anatomis. Kontur anatomis yang sesuai dengan gigi asli akan memudahkan gigi tiruan untuk self cleansing. Dalam pembuatan restorasi logam, terdapat tahapan-tahapan yang saling berurutan dan berpengaruh antar satu tahap dengan tahap lainnya. Apabila salah satu tahapan tersebut tidak dilakukan atau tidak sesuai prosedur akan berpengaruh pada restorasi yang kita buat. Oleh karena tahapan-tahapan tersebut harus diperhatikan. Tahapan-tahapan tersebut adalah : 1. Pada tahap awal yakni pengulasan die dengan die separator agar model malam dapat dilepas dari die. Pengulasan die separator tidak boleh terlalu banyak atau sedikit, jika terlalu sedikit, malam tidak akan dilepas dari die. Namun, jika terlalu banyak, akan berpengaruh pada malam tersebut. Malam yang digunakan untuk model malam akan menjadi getas dan mudah fraktur. 2. Untuk menghaluskan dan mengkilapkan model malam saat menghaluskan model malam guakan alcohol torch yang anginnya telah tercontrol terlebih dahulu agar inlay wax tidak berubah. Selain itu, gunakan kapas dan air sabun untuk mengkilapkannya. Model malam harus mengkilap karena akan mempermudah kita pada tahap finishing dan polisihing.

3. Mempersiapkan penanaman yang meliputi crucible former, sprue, ventilasi dan juga memasang non-asbestos liner pada bumbung tung. Tujuan pembuatan sprue adalah sebagai jalannya logam yang mencair menuju mould. Diameter sprue haru disesuaikan dengan model malam yang tertebal. Jika diameter sprue terlalu kecil, maka akan terjadi pemadatan sprue sebelum tuangan memadat dan menjadi porositas penyusutan setempat. Panjang sprue haru cukup panjang agar posisi model malam tepat pada bumbung tuang kira-kira 6 milimeter dari tepi ujung bumbung tuang (Kenneth J. Anusavice, edisi 10, 2004). Sprue dan crucible harus rata permukaannya, agar aliran logam dapat berjalan lancer. Selain itu pemasangan non asbestos liner juga berpengaruh untuk member ruang saat bahan tanam mengalami ekspansi. Pemasangan ventilasi dibutuhkan sebagai jalan keluarnya udara. 4.