Anda di halaman 1dari 17

PERKEMBANGAN BAHASA PADA REMAJA OLEH ANJANANDA VITODI NIM 1207121278

1.Latar Belakang Bahasa merupakan suatu untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. bahasa juga merupakan suatu alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa bunyi atau suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (mulut), selain itu bahasa juga dapat dilakukan dengan cara menggerakkan tubuh manusia atau yang lebih populer dikenal sebagai bahasa tubuh (body language). Pengguanaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Bersamaan dengan

kehidupannya dalam masyarakat luas, remaja mengikuti proses belajar disekolah. Sebagaimana diketahui dilembaga pendidikan bahasa diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, namun juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk didalamnya perilaku berbahasa.

Pengaruh pergaulan dalam masyarakat ( teman sebaya ) terkadang cukup manonjol, sehingga bahasa remaja menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang didalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok tertentu yang bentuknya amat khusus. Perkembangan bahasa anak dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti bahwa proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa. Bersamaan dengan kehidupannya dalam masyarakat luas, anak ( remaja ) mengikuti proses belajar disekolah. Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, masyarakat dan sekolah dalam perkembangan bahasa akan

menyebabkan perbedaan antara anak , remaja yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf , akan banyak mengguanakan bahasa pasar, bahasa sembarangan , dengan istilah-istilah lebih

selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik. Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Seperti: permainan diganti dengan mainan, pekerjaan diganti dengan kerjaan.

Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. Kita bisa mendengar bagaimana bahasa remaja ini dibuat begitu singkat tetapi sangat komunikatif. Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya

didukung oleh perkembangan konitif yang menurut JEAN PIAGET telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan

perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berfikir formal atau berfikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan simbol simbol dan terminologi konkret dalam

mengkomunikasikannya. Sejalan perkembangan psikis remaja yang berada pada fase pencarian jati diri, ada tahapan kemampuan berbahasa pada remaja yang berbeda dari tahap- tahap sebelumnya atau sesudah yang kadang- kadang menyimpang dari norma umum seperti munculnya istilah-istilah khusus dikalangan remaja.

Karakter adalah sifat sifat kejiwaan , akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat dan watak. Beda dengan moral, yaitu: moral dalam kata lain disebut kesusilaan adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia.

Dimasyarakat untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dibuat sebelumnya, maka rumusan masalahnya adalah: a. Apa yang dimaksud dengan bahasa? b. Bagaimana proses pengenalan bahasa pada seseorang? c. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan bahasa? d. Bagaimana pengaruh bahasa dalam pendidikan karakter? Tujuan Dan Manfaat Tujuan dalam pembuatan makalah ini, yaitu: a) Dapat menjelaskan apa itu bahasa. b) Dapat menjelaskan proses pengenalan bahasa pada seseorang. c) Dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi

perkembangan bahasa. d) Dapat menjelaskan kepada orang lain tentang pentingnya bahasa sebagai salah satu faktor penanaman pendidikan berkarakter.

Manfaat yang diperoleh dari pembuatan makalah ini: a) Manfaat Teorits : Dapat menambah wawasan mahasiswa tentang pentingnya nilainilai yang ditanamkan dalam pendidikan berkarakter khususnya dikalangan mahasiswa, pelajar maupun masyarakat luas. b) Manfaat Praktis : Secara praktis pembuatan makalah ini sangat bermanfaat, antara lain : Memberikan informasi kepada orang lain yang memperhatikan dunia pendidikan dan tentang manfaat yang diperoleh dari bahasa.

2.Teori Dasar Bahasa tidak terpisahkan dari manusia dan mengikuti didalam setiap pekerjaannya. Mulai saat bangun pagi-pagi sampai jauh malam hari waktu ia beristirahat , manusia tidak lepasnya memakai bahasa, malahan pada waktu tidurpun tidak jarang ia memakai bahasanya. Pada waktu manusia kelihatan tidak berbicara, pada hakikatnya ia masih juga memakai bahasa, karena bahasa ialah alat yang dipakainya untuk membentuk pikiran dan perasaannya, keinginan dan perbuatanperbuatan. Bahasa adalah tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan .

Dari pembicaraan seseorang kita dapat menangkap tidak hanya keinginannya saja, tetapi juga motif keinginannya, latar belakang pendidikannya, pergaulannya, adat istiadatnya dan lain sebagainya.

Ada tiga macam bahasa yang persoalannya perlu mendapat perhatian kita. Pertama adalah bahasa pertama yaitu bahasa seharihari yang disebut bahasa daerah. Bahasa pertama atau bahasa ibu ialah bahasa yang diajarkan dan dipakai dilingkungan keluarga dan pada umumnya juga didaerah tempat anak itu tinggal. Disamping itu bagi bahasa yang lain masih diperlukan juga kodifikasi dan perekamannya , sehingga bahasa-bahasa itu benar benar dipelajari dan disimpan baik sebagai kekayaan kebudayaan kita maupun kekayaan ilmu

pengetahuan. Bahasa kedua ialah bahasa indonesia, yaitu bahasa yang diajarkan disekolah dan dipakai dalam komunikasi resmi, tetapi pada dasarnya tidak dipakai dilingkungan keluarga, memerlukan studi secara praktis, yaitu analisis untuk mengetahui struktur bahasa itu dan pemilihan bahan serta metode pengajarannya, yang memang berbeda dari bahan dan metode pengajaran bahasa pertama. Karena bahasa indonesia sedang dalam perkembangan yang pesat, perlu secara periodik dalam jangka waktu 5-10 tahun diadakan penelitian katakan struktur dan kata-katanya. Bahasa ketiga adalah bahasa asing. Pertimbangan

pertimbangan yang sama juga berlaku bagi pengajaran bahasa asing di tanah air ini. Penyelidikan penyelidikan bahasa telah lama

mengetahui bahwa cara- cara kuno didalam mengajarkan bahasa asing itu tidak memuaskan sama sekali. Menyuruh murid-murid menghafal aturan-aturan didalam sebuah bahasa asing, menghafal ungkapanungkapan yang hampir-hampir tidak pernah dipakai, menterjemahkan kata demi kata bacaan pendek atau sanjak, hanyalah membuang waktu

dan tenaga murid beserta guru saja, tanpa mendapatkan hasil yang baik. Menurut V.Tauli ( dalam Muslich dan Oka,2010:8) mengatakan banyak individu yang dapat menilai bahasa yang dipakainya. Dia mengetahui apakah bahasa yang dipakainya betul atau tidak, sopan atau tidak. Malah , katanya lagi individu bebas memilih laras ( register ) apa yang digunakan, resmi atau tidak, ilmiah atau tidak, biasa atau tidak,akrab atau tidak, bahasa tulis atau lisan. Jelaslah disini bahwa individu mempunyai kebebasan yang luas untuk memilih penggunaan bahasanya. Dijumpai juga individu yang setia menggunakan bahasa aslinya, mengubah , menukar atau memindahkan bahasanya. Hal ini amat bergantung pada penguasaan bahasa. Dia seorang eka bahasa, dwi bahasa atau multi bahasa. Namun, katanya lebih lanjut sekiranya manusia itu tidak sempurna, bahasanya pun tidak sempurna. Hal inilah yang menyebabkan diperlukannya perencanaan bahasa agar bahasa bisa mengemban fungsinya secara maksimal. Tekait dengan penilaian bahasa ini, menurut Otto Jespersen ( dalam Muslich dan Oka, 2010:8) setuju bahwa sebelum perncanaan bahasa dilakukan perlu diadakan penelitian terhadap bahasa tersebut. Hal ini untuk mengetahui seberapa jauh taraf perkembangan bahasa. Penilaian ini terus dilakukan secara periodik seiring dengan pembangunan ilmu dan teknologi suatu bangsa pemakai bahasa tersebut. Dalam bukunya psikologi perkembangan anak dan remaja syamsu yusuf ( 2004:31) mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu : faktor kesehatan ,intelegensi, stasus sosial,ekonomi,jenis kelamin dan hubungan keluarga.

Bahasa adalah suatu alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa bunyi atau suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (mulut) dan dapat dilakukan juga dengan menggerakkan tubuh (bahasa tubuh). Pada tahun 1950-an tatkala penelitian ilmiah mengenai ciri-ciri siswa dalam belajar bahasa kedua dimulai, segera menjadi jelas bahwa seperangkat ciri-ciri siswa merupakan penyebab keberhasilan atau kegagalan relatif dari belajar bahasa kedua ( Hamid,1987:81 ). Perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar ( Hurlock,1960:266). Menurut Adhie ( 2011) menyatakan bahwa sesungguhnya semenjak lahir bayi sudah diatur secara biologis untuk berkomunikasi, dia akan tanggap terhadap kejadian yang ditimbulkan oleh orang yang disekitarnya ( terutama ibinya ). Kurang lebih 70% dari waktu ibu menyusui, sang ibu mendampingi bayinya dalam jarak 20 cm. Menurut Arifin dalam Arikunto ( 1998:21 ) mengemukakan bahwa pertumbuhan diartikan sebagai suatu penambahan dalam ukuran bentuk, berat, atau ukuran demensif tubuh serta bagianbagiannya, sedangkan perkembangan menunjuk pada perubahanperubahan dalam bentuk atau bagian tubuh dan integrasi kedalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung. Ulum (2012) menemukan bahwa masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi anak kemasa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang sangat pesat mencapai kematangan fisik, sosial san emosi. Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran khasnya, suatu keadaan

biologis dan psikologis dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak.

Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia enam sampai tujuh tahun, disaat anak mulai bersekolah. Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat berkomunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat berkomunikasi disini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa , yaitu: a) Umur anak Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambahnya pengalaman dan meningkatkan kebutuhan . Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik dan ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan

berbahasa telah mencapai tingkat kesmpurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual, anak akan mampu menunujukan cara berkomunikasi dengan baik.

b) Kondisi lingkungan Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil untuk cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan. Pada dasarnya bahasa dipelajari dari lingkungan. Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan pergaulan dalam kelompok, seperti kelompok bermain, kelompok kerja, dan kelompok sosial lainnya.

c) Kecerdasan anak Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal tandatanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.

d) Status sosial ekonomi keluarga Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dengan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan tampak

perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa.

e) Kondisi fisik Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi, seperti bisu, tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan alam berbahasa.

Pengaruh bahasa dalam pendidikan karakter


Belakangan ini kita dibuat menangis dengan hampir runtuhnya karakter bangsa Indonesia, karena bahasa serta sastra yang semakin hilang kekentalannya dan sikap hidup pragmatis dari sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini yang mengakibatkan terkikisnya nilai luhur budaya bangsa. Demikian pula budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal yang santun, ramah, saling menghormati, arif, dan religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Masyarakat sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, kasar, dan vulgar tanpa mampu mengendalikan hawa nafsunya, seperti perilaku para demonstran yang membakar kendaraan atau rumah, merusak gedung, serta berkata kasar, dalam berunjuk rasa yang ditayangkan di televisi. Fenomena itu

dapat menjadi representasi melemahnya karakter bangsa ini, yang terkenal ramah, santun, berpekerti luhur, dan berbudi mulia.

Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi yang demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa, khususnya dalam melahirkan generasi masa depan bangsa yang cerdas, bijak, terampil, berbudi pekerti luhur, dan senantiasa berbakti kepada kedua orang tua serta senantiasa selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, dibutuhkan pendidikan yang berorientasi pada karakter bangsa, yang tidak sekadar memburu kepentingan pikir, menghafal, dan logika tetapi juga memperhatikan dan mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran budi pekerti. Seperti yang kita tahu fungsi pendidikan sendiri adalah

mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis. Pendidikan sasta dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu pendidikan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terutama

bagi calon pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dirasakan memang sangat penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh oleh anakanak didiknya dan itu akan mengakibatkan peran bahasa dan sastra dalam dunia pendidikan berkurang. Disini bangsa perlu pendidikan yang berorientasi pada

pembentukan karakter

bangsa yang dapat diwujudkan melalui

pengoptimalan peran sastra. Untuk membentuk karakter bangsa ini, sastra diperlakukan sebagai salah satu media atau sarana pendidikan kejiwaan. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan tuhan (religiusitas), alam semesta (romantik), dan juga masyarakat (sosiologis). Sastra mampu mengungkap banyak hal dari berbagai segi, salah satunya yaitu : Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:623) menjelaskan bahwa ,karakter merupakan cara berpikir dan

berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang mampu membuat suatu keputusan dan siap mempertanggung jawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya. Berkaitan dengan karakter , saryono (2009:52-186) mengemukakan bahwa, genre sastra yang dapat dijadikan sarana

untuk membentuk karakter bangsa, antara lain, genre sastra yang mengandung nilai atau aspek : a) Literer-estetis b) Humanistis c) Etis dan moral d) Religius- sufistis-profetis keempat nilai sastra tersebut dipandang mampu mengoptimalkan peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa. Penggunaan bahasa mengenal berbagai variasi. Bahasa yang digunakan oleh seseorang akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. Kevariasian bahasa itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, lawan bicara,situasi, topik pembicaraan dan sebagainya. Perbedaan struktural berbentuk ucapan, intonasi, morfologi, identitas kata-kata, dan sintaksis. Berkaitan dengan pendapat di atas, dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang mendengar pelafalan Pelafalan (pengucapan) masyarakat Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku, dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. Bahasa daerah tersebut dipergunakan oleh bangsa (masyarakat) Indonesia sebagai sarana komunikasi antar suku, dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Indonesia. Pengaruh tersebut beragam, yaitu : Ada pengaruh lafal Ada pengaruh bentuk kata

Ada pengaruh makna kata Ada juga pengaruh stuktur kalimat. Lagi pula, pengaruh-pengaruh tersebut sulit untuk dihindari dengan sepenuhnya . Seperti dikatakan oleh Badudu (1985: 12) bahwa, tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen. Lebih lanjut dikatakannya, yang mungkin adalah bahwa pengaruh ini sangat sedikit, sehingga sukar kita menerka dari suku manakah orang yang bertutur itu berasal.

3. Simpulan dan saran

A) Simpulan 1. Bahasa adalah suatu alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa bunyi atau suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (mulut) dan dapat dilakukan juga dengan menggerakkan tubuh (bahasa tubuh). 2.Proses pengenalan bahasa pada seseorang dimulai dari : lingkungan keluarga,,likngkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa , yaitu: a) Umur anak b) Kondisi lingkungan c) Kecerdasan anak d) Status sosial ekonomi keluarga e) Kondisi fisik

4.Pembentukan karakter

bangsa yang dapat diwujudkan melalui

pengoptimalan peran sastra. Untuk membentuk karakter bangsa ini, sastra diperlakukan sebagai salah satu media atau sarana pendidikan kejiwaan. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan tuhan (religiusitas), alam semesta (romantik), dan juga masyarakat (sosiologis).

B) Saran Diharapkan makalah ini bisa digunakan sebagai media referensi pembelajaran ditingkat perguruan tinggi, pelajar maupun masyarakat luas.

Daftar pustaka
Muslich , masnur dan I Gusti Ngurah Oka.2010. Perencanaan Bahasa Pada Era Globalisasi.Jakarta: Bumi Angkasa Kushartanti,dkk.2005. Pustaka Utama Samsuri.1985.Analisis Bahasa.Jakarta: Erlangga SmalaJunianto.2012.http://smalajunianto.blogspot.com/2012/02/ma kalah-peran-bahasa-dalam-pendidikan.html. diunduh pada tanggal 22 mei 2013 pukul 19:00 wib AbuAkhfas.2012.http://whatsappwithme.blogspot.com/2012/12/per kembangan-bahasa-pada-remaja_16.html.diunduh pada tanggal 22 mei 2013 pukul 19:00 wib Pesona Bahasa.jakarta: PT.Gramedia