Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN RETINOBLASTOMA

OLEH : KELOMPOK 5 1. RINI ADITYA PURNAMASARI 2. ANDI NURFAIKA 3. KURNIATI HABIBAH 07 071 014 005 07 071 014 022 07 071 014 015

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR 2010

I. KONSEP MEDIS A. DEFINISI Retinoblastoma merupakan tumor ganas utama intraokuler yang ditemukan pada anak anak, terutama pada usia di bawah lima tahun. Tomor tersebut berasal dari jaringan retina embrional. Dapat terjadi unilateral ( 70 % ) dan bilateral ( 30% ). Sebagian besar kasus bilateral bersifat herediter yang diwariskan melalui kromosom (Mansjoer, 2001). Retinoblastoma adalah tumor ganas yang berasal dari bagian posterior bola mata ( retina ) dan menyebabkan refleks putih kekuningan di daerah pupil bila diperhatikan dengan teliti akan tampak neovaskularisasi di permukaan tumor tersebut. Refleks pupil pada kelainan ini mirip dengan refleks pupil mata kucing sehingga disebut juga cats eye reflex. Kelainan ini memerlukan pemeriksaan yang lengkap dan tindakan oleh seorang ahli mata ( Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1985 ). Massa tumor di retina dapat tumbuh ke dalam vitreus (endofitik) dan tumbuh menembus ke luar ( eksofitik ). Pada beberapa kasus terjadi penyembuhan secara spontan. Sering terjadi perubahan degeneratif, diikuti nekrosis dan klasifikasi. Pasien yang selamat memiliki kemungkinan 50% menurunkan anak dengan retinoblastoma. Pewarisan ke saudara sebesar 4 7 %. B. ETIOLOGI Terjadi karena kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14. Bisa karena mutasi atau diturunkan. Penyebabnya adalah tidak terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya cenderung diturunkan. Sekitar 10% penderita retinoblastoma memiliki saudara yang juga menderita retinoblastoma dan mendapatkan gennya dari orang tua. Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat somatik maupun kedua mata yang merupakan kelainan yang diturunkan

secara autosom dominant. Kanker bisa menyebar ke kantung mata dan ke otak (melalu saraf penglihatan / nervus optikus). C. PATOFISIOLOGI Jika letak tumor di macula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin membesar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan vitreus yang menyerupai endoftalmitis. Jika sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata, akan menyebabkan glaucoma atau tanda peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui; nervus optikus ke otak, sclera, ke jaringan orbita, sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat menonjol ke badan kaca. Dipermukaan terdapat neovaskularisasi dan perdarahan. Warna iris tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar limfe preaurikuler dan submandibula serta secara hematogen ke sumsum tulang dan visera , terutama hati. D. KLASIFIKASI 1. Golongan I a. Tumor soliter/multiple kurang dari 4 diameter papil. b. Terdapat pada atau dibelakang ekuator c. Prognosis sangat baik 2. Golongan II a. Satu atau beberapa tumor berukuran 4-10 diameter papil b. Prognosis baik 3. Golongan III a. Tumor ada didepan ekuator atau tumor soliter berukuran >10 diameter papil b. Prognosis meragukan 4. Golongan IV a. Tumor multiple sampai ora serata b. Prognisis tidak baik

5. Golongan V a. Setengah retina terkena benih di badan kaca b. Prognosis buruk c. Terdapat tiga stadium dalam retinoblastoma : 6. Stadium tenang Pupil lebar, dipupil tampak refleks kuning yang disebut automatic cats eye. 7. Stadium glaukoma Oleh karena tumor menjadi besar, menyebabkan tekanan intraokular meninggi. 8. Stadium ekstraokuler Tumor menjadi lebih besar, bola mata memebesar menyebabakan eksoftalmus kemudian dapat pecah kedepan sampai keluar dari rongga orbita disertai nekrose diatasnya E. MANIFESTASI KLINIK 1. Leukoria (Cats eye reflek) 2. Strabismus 3. Mata merah dan nyeri 4. Gangguan penglihatan 5. Iris pada kedua mata memiliki warna yang berlainan 6. Bisa terjadi kebutaan. F. DIAGNOSA BANDING Fibroplasia retrolental, displasia retina , endoftalmitis nematoda, katarak, dan ablasi retina. G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Ultrasonografi dan tomografi komputer dilakukan terutama untuk pasien dengan metastasis ke luar, misalnya dengan gejala proptosis bola mata. H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan mata dalam keadaan pupil melebar 2. CT-scan kepala

3. USG mata (ekoensefalogram kepala dan mata) 4. Pemeriksaan cairan cerebrospinal 5. Pemeriksaan sumsum tulang 6. Pemeriksaan darah: Rb gene, serum carcinoembryonik antigen (CEA), serum alpha fetoprotein. I. KOMPLIKASI Komplikasi pada retinoblastoma adalah lepasnya Retina (ablasio retina), peninggian tekanan bola mata (glucoma). J. PENATALAKSANAAN 1. Pencegahan Jika di dalam keluarga terdapat riwayat retinoblastoma, sebaiknya mengikuti konsultasi genetik untuk membantu meramalkan resiko terjadinya retinoblastoma pada keturunannya. 2. Penatalaksanaan medik Jika satu mata yang terserang, pengobatan bergantung pada kalsifikasi tumor : a. Golongan I dan II dengan pengobatan local (radiasi, cryotherapy, fotokoagulasi laser). Kadang-kadang digabung dengan kemoterapi. b. Jika tumor besar (golongan IV dan V) mata harus dienukleasi segera. Mata tidak terkena dilakukan radiasi sinar X dan kemoterapi. c. Pada tumor intraokuler yang sudah mencapai seluruh vitreus dan visus nol, dilakukan enukleasi. Jika tumor telah keluar ke bulbus okuli tetapi masih terbatas di rongga orbita, dilakukan kombinasi eksenterasi, radioterapi dan kemoterapi. Klien harus terus dievaluasi seumur hidup karena 20-90% klien retinoblastoma bilateral akan menderita tumor ganas primer, terutama osteosarkoma.

II. KONSEP KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Biodata Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, No register, dan diagnosa medis. Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, usia, pendidikan, pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat. Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin, hubungan dengan klien, dan status kesehatan. 2. Keluhan utama Keluhan dapat berupa perubahan persepsi penglihatan, demam, kurang nafsu makan, gelisah, cengeng, nyeri pada luka post operasi, terjadi infeksi pada luka post op, serta perawatan dan pengobatan lanjutan dari tindakan operasi. 3. Riwayat kesehatan a) Riwayat kesehatan sekarang Gejala awal yang muncul pada anak. Bisa berupa bintik putih pada mata tepatnya pada retina, terjadi pembesaran, mata merah dan besar. b) Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan Kemungkinan memakan makanan/minuman yang terkontaminasi, infeksi ditempat lain misal: pernapasan. c) Riwayat kesehatan keluarga Berkaitan erat dengan penyakit keturunan dalam keluarga, misalnya ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama. 4. Pemeriksaan fisik Kaji reaksi pupil terhadap cahaya, ukuran pupil dan leukokoria (merupakan tanda penting dalam menentukan kelainan retinoblastoma yang dilakukan melalui pemeriksaan refleks merah mata ). Bola mata

bisa dipertahankan jika terdapat strabismus dibandingkan dengan leukokoria, tapi harapan hidup 5 tahun masih buruk. 5. Pemeriksaan sistematik : a). Aktivitas 1). Gejala : Kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya. 2). Tanda : Kelelahan otot, peningkatan kebutuhan tidur, somnolen. b). Sirkulasi 1) Gejala : Palpitasi. 2) Tanda : Takikardi, mur-mur jantung. c). Kulit : Membran mukosa pucat. d) Eliminasi 1). Gejala : Diare; nyeri tekan perianal, nyeri. 2). Tanda : Darah merah terang pada tisu, feses hitam. Darah pada urine, penurunan haluaran urine.

e) Integritas ego 1) Gejala : Perasaan tak berdaya/tak ada harapan. 2) Tanda : Depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang. Perubahan alam perasaan, kacau. f) Makanan/cairan 1) Gejala : Kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah. perubahan rasa/penyimpangan rasa. 2) Tanda : Penurunan berat badan. g) Neurosensori 1) Gejala : Kurang / penurunan koordinas, perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi,

ukuran konsisten, pusing, kebas, dan kesemutan parastesi. 2) Tanda : Otot mudah terangsang, aktivitas kejang.

h) Nyeri / ketidaknyamanan 1) Gejala : Nyeri orbital, sakit kepala, nyeri tulang / sendi, nyeri tekan sternal, kram otot. 2) Tanda : Perilaku berhati-hati / distraksi dan gelisah.

i) Pernapasan 1) 2) Gejala : Nafas pendek dengan kerja minimal. Tanda : Dispnea, takipnea, batuk, gemericik, ronki dan

penurunan bunyi nafas. j) Keamanan 1) Gejala : Riwayat infeksi saat ini / dahulu, jatuh, Gangguan penglihatan/kerusakan. Perdarahan spontan tak terkontrol dengan

trauma minimal. 2) Tanda : Demam, infeksi. Kemerahan, purpura, perdarahan retinal,

perdarahan gusi, atau epistaksis. . k) Seksualitas Gejala : Perubahan libido. Perubahan aliran menstruasi, menoragia. Lipopren. l) Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Riwayat terpajan pada kimiawi, mis; benzene, fenilbutazon, dan kloramfenikol(kadar ionisasi radiasi berlebihan, pengobatan kemoterapi

sebelumnya, khususnya agen pengkilat. m) Gangguan kromosom, contoh sindrom down atau anemia franconi aplastik.

B. PENYIMPANGAN KDM RETINOBLASTOMA


Kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14,mutasi atau keturunan Tidak terdapat gen penekan tumor RETINOBLASTOMA

Macula Strabismus Leukokoria

Segmen anterior mata Glaukoma Kebutaan Merusak saraf optik Tumor bermetastase ke otak,skelera, jaringan orbita, sinus paranasal & sumsum tulang melalui pembulu darah

Peradangan vitreus menyerupai endoftalmitis NYERI

ISOLASI SOSIAL

Terdapat neovaskularisasi & perdarahan Fundus terlihat bercak kuning mengkilat & menonjol ke badan kaca GANGGUAN SENSORIPERSEPTUAL PENGLIHATAN

Kurang perawatan

Kurang informasi

KURANG PENGETAHUAN

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Nyeri berhubungan dengan inflamasi, peningkatan tekanan intra okuler ( TIO ). 2) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan

berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi 3) Isolasi sosial berhubungan dengan keterbatasan kemampuan untuk

berpartisipasi dalam aktifitas sosial akibat kerusakan penglihatan. 4) Gangguan sensori perseptual penglihatan berhubungan dengan adanya neovaskularisasi dan perdarahan. D. TUJUAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi, peningkatan tekanan intra okuler ( TIO ). a. Tujuan : Nyeri teratasi dengan kriteria klien mengurangi aktivitas mata dengan menggunakan balutan mata yang memadai dan mengistirahatkan matanya. b. Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, penyebab dan hal-hal yang dapat meradakan nyeri 2) Berikan balutan mata untuk mengurangi pergerakan mata dan mengurangi nyeri yang diakibatkannya. 3) Berikan analgetik dan antibiotik sesuai terapi yang

diperintahkan 4) Bantu aktivitas klien selama sakit 2. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan

berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi. a. Tujuan : Masalah teratasi dengan kriteria klien dan keluarga dapat mengerti dan mengidentifikasi penyebab retinoblastoma dan pencegahannya. b. Intervensi : 1) Mengkaji keadaan patologi / kondisi klien dan pengobatan yang pernah didapat klien.

2) Tetapkan pengetahuan yang ada pada diri klien / keluarga tentang penyakit, pengaruh terhadap peran dan tanggung jawabnya. 3) Bantu klien untuk mengembangkan kegiatan sehari hari meliputi : istirahat, latihan, aktivitas dan pemasukan nutrisi secara adekuat. 4) Jelaskan tentang retinoblastoma, penyebab, komplikasi dan halhal yang memperburuk kondisi mata 3. Isolasi sosial berhubungan dengan keterbatasan kemampuan untuk

berpartisipasi dalam aktifitas sosial akibat kerusakan penglihatan. a. Tujuan : Isolasi sosial teratasi dengan kriteria klien ikut berpartisipasi dalam aktivitas diversional dan sosial. b. Intervensi : 1) Bantu pasien untuk belajar melakukan koping dan

menyesuaikan diri terhadap situasi 2) Dorong pasien untuk bersosialisasi dengan sekitarnya. 3) Jelaskan pada klien bahwa penyakit yang dideritanya bukanlah penyakit yang akan mendatangkan celaan dari orang orang yang ada di lingkungan sekitarnya. 4. Gangguan sensori perseptual penglihatan berhubungan dengan adanya neovaskularisasi dan perdarahan. a. Tujuan : Gangguan teratasi dengan kriteria klien berpartisipasi dalam program pengobatan. b. Intervensi : 1) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang

kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan. 2) Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani

keterbatasan penglihatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://ns-nining.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-retinoblastoma.html http://bedah46.blogspot.com/2009/12/askep-gangguan-retinoblastoma.html http://linrin.blogspot.com/2009/12/askep-retino-blastoma.html http://www.trinoval.web.id/2009/04/retinoblastoma.html http://www.indonesiaindonesia.com/f/12924-retinoblastoma Mansjoer, A dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Media Aesculapius: Jakarta.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran Universitas Indonesia.