Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTEK PENYEHATAN AIR DAN PENGELOLAAN LIMBAH CAIR TENTANG PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN SAMPEL AIR

(PEMERIKSAAN KUALITAS FISIK DAN KIMIA)

Oleh: YUSPRIT PARASO

KEMENTRIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
MANADO

2013

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan praktek mata kuliah Penyehatan air dan pengelolaan limbah cair Tentang Pengambilan dan pemeriksaan sampel air dan (pemeriksaan kualitas fisik dan kimia) ini telah di setujui oleh dosen pembimbing mata kuliah.

MENGETAHUI:

DOSEN I

DOSEN II

Toni Kurtis Timpua, S.Pd, M.Kes

Jasman, S.Pd, M.Kes

DOSEN III

DOSEN IV

Robinson Pianaung, S.Pd, MPH

Zakarias Palloan, SST

INSTUKTUR I

INSTRUKTUR II

Ni Ketut Warniati, SST

Junaidi Maase AMKL

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Di ucapkan juga terimah kasih banyak kepada saudara Junaidi Maase AMKL dan ibu Ni Ketut Warniati, SST selaku instruktur yang sudah memberikan arahan arahan kepada saya dalam pelaksanaan praktek mata kuliah penyehatan air dan pengelolaan limbah cair tentang pengambilan dan pemeriksaan sampel air (pemeriksaan kualitas fisik dan kimia) harapan saya semoga laporan ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi laporan kedepannya. laporan ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan laporan ini.

Manado 29 Sepetember 2013

Yusprit Paraso ii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN..................................................................................................i KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii DAFTAR ISI..........................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................1 A. Latar Belakang..............................................................................................................1 B. Tujuan............................................................................................................................2 C. Waktu dan Lokasi..........................................................................................................2 BAB II DASAR TEORI..........................................................................................................3 A. Persyaratan Secara Fisik.................................................................................................4 B. Persyaratan Secara Kimia...............................................................................................5 C. Persyaratan Secara Bakteriologis...................................................................................5 BAB III HASIL PRAKTEK.................................................................................................10 A. Alat dan Bahan.............................................................................................................11 B. Prosedur Kerja..............................................................................................................12 1. Pengambilan Sampel..............................................................................................12 2. Pemeriksaan Sampel..............................................................................................12 3. Hasil Praktek..........................................................................................................14 BAB IV PENUTUP................................................................................................................16 A. Kesimpulan...................................................................................................................16 B. Saran.............................................................................................................................16

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Air Salah satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak dapat terpisahkan adalah Air. Tidak hanya penting bagi manusia Air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup baik hewan dan tubuhan. Tanpa air kemungkinan tidak ada kehidupan di dunia inti karena semua makhluk hidup sangat memerlukan air untuk bertahan hidup. Manusia mungkin dapat hidup beberapa hari akan tetapi manusia tidak akan bertahan selama beberapa hari jika tidak minum karena sudah mutlak bahwa sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia itu terdiri dari 73% adalah air. Jadi bukan hal yang baru jika kehidupan yang ada di dunia ini dapat terus berlangsung karena tersedianya Air yang cukup. Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berupaya mengadakan air yang cukup bagi dirinya sendiri. Berikut ini air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dengan segala macam kegiatannya, antara lain digunakan untuk:

Keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi, cuci dan pekerjaan lainnya,

Keperluan umum, misalnya untuk kebersihan jalan dan pasar, pengangkutan air limbah, hiasan kota, tempat rekreasi dan lain-lainnya.

Keperluan industri, misalnya untuk pabrik dan bangunan pembangkit tenaga listrik. Keperluan perdagangan, misalnya untuk hotel, restoran, dll. Keperluan pertanian dan peternakan Keperluan pelayaran dan lain sebagainya

Oleh karena itulah air sangat berfungsi dan berperan bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Penting bagi kita sebagai manusia untuk tetap selalu melestarikan dan menjaga agar air yang kita gunakan tetap terjaga kelestariannya dengan melakukan pengelolaan air yang baik seperti penghematan, tidak membuang sampah dan limbah yang dapat membuat pencemaran air sehingga dapat menggangu ekosistem yang ada.

Manfaat Air bagi Kehidupan Manusia Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, air juga dipergunakan untuk memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran yang ada di sekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia dapat juga ditularkan dan disebarkan melalui air. Kondisi tersebut tentunya dapat menimbulkan wabah. Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari total berat badannya, dan volume tersebut sangat bervariasi pada masing-masing orang, bahkan juga bervariasi antara bagianbagian tubuh seseorang. Beberapa organ tubuh manusia yang mengandung banyak air, antara lain, otak 74,5%, tulang 22%, ginjal 82,7%, otot 75,6%, dan darah 83%.

Setiap hari kurang lebih 2.272 liter darah dibersihkan oleh ginjal dan sekitar 2,3 liter diproduksi menjadi urine. Selebihnya diserap kembali masuk ke aliran darah. Dalam kehidupan sehari-hari, air dipergunakan antara lain untuk keperluan minum, mandi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, pelarut obat, dan pembawa bahan buangan industri. Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata- rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat. B. Tujuan Praktek Mahasiswa dapat mengetahui cara pengambilan sampel air Mahasiswa dapat mengetahui bahan kimia yang di gunakan pada pemeriksaan sampel air. Mahasiswa dapat mengetahui dapat mengetahui alat dan bahan yang di gunakan dalam pengambilan dan pemeriksaan smpel air. C. Waktu dan lokasi Hari/tanggal Waktu Tempat pengambilan/pemeriksaan : Selasa, 24 September 2013 : 14:30- Selesai : Sumur/Laboratorium Jurusan KesLing 2

BAB II DASAR TEORI Bagaimana cara mengetahui kondisi kualitasair? Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna). Sayangnya, cara-cara pengujian tersebut memerlukan biaya yang cukup mahal, disamping prosedur pengujian yang tidak mudah. Ada cara praktis yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk menilai kualitas air, yaitu dengan melihat hewan air (makroinvertebrata) yang spesifik hidup pada air berkualitas baik. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diselenggarakan secara terpadu dengan pendekatan ekosistem. Keterpaduan yang dimaksud adalah dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Pengelolaan kualitas air dilakukan untuk menjamin kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya. Pengendalian pencemaran air dilakukan untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air. Upaya pengelolaan kualitas air dilakukan pada : 1. Sumber air yang terdapat di dalam hutan lindung; 2. Mata air yang terdapat di luar hutan lindung; dan 3. Akuifer air tanah dalam. Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya.

Penentuan standar kualitas air minum maupun air limbah berdasarkan pertimbangan bahwa : Bahan-bahan beracun yang apabila kadarnya dalam air minum melebihi batas akan membahayakan kesehatan, misalnya timbal, selenium, arsen, kromium, sianida, cadmium, air raksa.

Bahan-bahan kimia kimia spesifik yang dapat mempengaruhi kesehatan apaila kadarnya dalam air melebihi batas akan merugikan kesehatan misalnya,flourida, dan nitrat. Flourida yang kadarnya melebihi batas akan berpengaruh kurang baik terhadap gigi. Nitrat yang kadarya melebihi batas menimbulkan keracunan darah pada bayi yang disebut blue babies Bahan kimia atau sifat fisik yang mempengaruhi air minum yaitu mangan,

tembaga,seng,kalsium fenol. Bahan kimia yang merupakan pejunjuk adanya pencemaran yaitu zat organic jumlah, kebutuhan Biologic akan oksigen,kebutuhan kimiawi akan oksigen,nitrogen

jummlah,nitrit,fosfat. Pengawasan kualitas air bertujuan untuk mencegah penurunan kualitas dan penggunaan air yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan, serta meningkatkan kualitas air. Kegiatan pengawasan kualitas air mencakup : a. Pengamatana lapangan dan pengambilan contoh air termasuk pada proses produksi dan distribusi. b. Pemeriksaan contoh air. c. Analisis hasil pemeriksaan. d. Perumusan saran dan cara pemecahan masalah yang timbul dalam hasil kegiatan a,b, dan c e. Kegiatan tindak lanjut berupa pemantauan upaya penanggulangan/perbaikan termasuk kegiatan penyuluhan. Berdasarkan standar peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih terdiri dari:

A. Persyaratan Fisik: Kualitas fisik yang dipertahankan atau dicapai bukan hanya semata-mata dengan pertimbangan dari segi kesehatan saja akan tetapi juga menyangkut keamanan dan dapat diterima oleh masyarakat pengguna air dan mungkin pula menyangkut segi estetika.

B. Persyaratan Kimiawi:

Kandungan unsur kimia di dalam air harus mempunyai kadar dan tingkat konsentrasi tertentu yang tidak membahayakan kesehatan manusia atau mahluk hidup lainnya, pertumbuhan tanaman, atau tidak membahayakan kesehatan pada penggunaannya dalam industri serta tidak minumbulkan kerusakan-kerusakan pada instalasi sistem penyediaan air minumnya sendiri. Beberapa unsur tertentu, sebaliknya diperlukan dalam jumlah yang cukup untuk penciptaan suatu kondisi air minum yang dapat mencegah suatu penyakit atau kondisi kualitas yang menguntungkan. Dalam hubungannya dengan masalah kualitas kimiawi tersebut di atas pada dasarnya unsurunsur kimiawi dapat dibedakan atas 4 golongan: Unsur-unsur yang bersifat racun. Unsur-unsur tertentu yang dapat mengganggu kesehatan. Unsur-unsur yang dapat menimbulkan gangguan pada sistem atau penggunaannya untuk keperluan atau aktivitas manusia. Unsur-unsur yang merupakan indikator pengotoran. C. Persyaratan Bakteriologi. Dalam persyaratan ini ditentukan batasan tentang jumlah bakteri pada umumnya dan khususNya bakteri penyebab penyakit (E-coli)

Kualitas air yang baik adalah :

Secara fisik 1) Rasa Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Rasa dapat ditimbulkan karena adanya zat organik atau bakteri / unsur lain yang masuk ke badan air. 2) Bau Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berbau, karena bau ini dapatditimbulkan oleh pembusukan zat organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung dari pencemaran lingkungan,terutama sistem sanitasi. 3)Suhu Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas biologi sehingga akan membentuk O2 lebih banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi di sekitar sumber air tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung (Chay, 1995: 54 ). 4)Kekeruhan Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahanbahan organik dan

anorganik, kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air. 5) TDS atau jumlah zat padat terlarut (total dissolved solids) Bahan pada adalah bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan pada suhu 1030 105oC, dalam portable water kebanyakan bahan bakar terdapat dalam bentuk terlarut yang terdiri dari garam anorganik selain itu juga gas-gas yang terlarut. Kandungan total solids pada portable water biasanya berkisar antara 20 sampai dengan 1000 mg/l dan sebagai satu pedoman kekerasan dari air akan meningkatnya total solids, disamping itu pada semua bahan cair jumlah koloit yang tidak terlarut dan bahan yang tersuspensi akan meningkat sesuai derajat dari pencemaran (Sutrisno, 1991 : 33). 6

Zat pada selalu terdapat dalam air dan kalau terlalu banyak tidak baik untuk air minum, banyaknya zat padat yang disyaratkan untuk air minum adalah kurang dari 500 mg/l. pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan kualitas air minum dalam hal total solids ini yaitu bahwa air akan meberikan rasa tidak enak pada lidah dan rasa mual.

Secara kimia Kandungan zat atau mineral yang bermanfaat dan tidak mengandung zat beracun. 1).pH(derajat keasaman) Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya Cdisebabkan gas Oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air minum dalam hal pH yang lebih kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat mengganggu kesehatan. 2).Kesadahan Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahan

nonkarbonat (permanen). Kesadahan sementara akibat keberadaan Kalsium dan Magnesium bikarbonat yang dihilangkan dengan memanaskan air hingga mendidih atau menambahkan kapur dalam air. Kesadahan nonkarbonat (permanen) disebabkan oleh sulfat dan karbonat, Chlorida dan Nitrat dari Magnesium dan Kalsium disamping Besi dan Alumunium. Konsentrasi kalsium dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah yang lebih kecil magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan tetapi dalam jumlah yang lebih besar 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual. 7

3).Besi Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal. Besi merupakan salah satu unsur yang merupakan hasil pelapukan batuan induk yang banyak ditemukan diperairan umum. Batas maksimal yang terkandung didalam air adalah 1,0 mg/l 4). Aluminium Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 82 / 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi. 5). Zat organic Larutan zat organik yang bersifat kompleks ini dapat berupa unsur hara makanan maupun sumber energi lainnya bagi flora dan fauna yang hidup di perairan (Chay, 1995:541), 6).Sulfat Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas.

7).Nitrat dan nitrit Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh.

8).Chlorida Dalam konsentrasi yang layak, tidak berbahaya bagi manusia. Chlorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan namun apabila berlebihan dan berinteraksi dengan ion Na+ dapat menyebabkan rasa asin dan korosi pada pipa air. 9).Zink atau Zn Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l.

penyimpangan terhadap standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual. Dalam jumlah kecil, Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme, karena kekurangan Zink dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan anak.

Secara Biologis 1).Colli Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit (patogen) sama sekali tidak boleh mengandung bakteri coli melebihi batasbatas yang telah ditentukan yaitu 1 coli/100 ml air (Sutrisno, 1991 : 23).

2). COD (Chemical Oxygen Demand) COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan misalnya kalium dikromat untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air (Nurdijanto, 2000 : 15). Kandungan COD dalam air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 mengenai baku mutu air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 12 mg/l. apabila nilai COD melebihi batas dianjurkan, maka kualitas air tersebut buruk.

3). BOD (Biochemical Oxygen Demand) Adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk

memecah bahan bahan buangan didalam air (Nurdijanto, 2000 : 15). Nilai BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya tetepi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan. Penggunaan oksigen yang rendah menunjukkan kemungkinan air jernih, mikroorganisme tidak tertarik menggunakan bahan organik makin rendah BOD maka kualitas air minum tersebut semakin baik. Kandungan BOD dalam air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 mengenai baku mutu air dan air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 6 mg/l.

10

BAB III HASIL PRAKTEK

A. ALAT DAN BAHAN Portable Photometer Vertikal Water Sample Water test kit Larutan Manganese 1k dan 2k Alat tulis menulis Coll Box Tas Lapangan Aquades PH tester Pipet Label DO Meter Bubuk Fe Botol sample Tabung Reangen

11

B. PROSEDUR KERJA 1. Pengambilan Sampel Sediakan Alat dan bahan yang akan di gunakan Bersihkan alat yang akan di gunakan dengan air bersih.sebanyak tiga kali bilasan. Buka kedua katub yang terdapat kedua ujung Vertical Water Sample. Turunkan Vertical Water Sample ke dalam sumur secara perlahan dengan jarak 20 cm dii bawah permukaan air. Lepas pemberat yang ada pada tali sehinggga katup tertutup.
Angkat dan buka kran yang terdapat pada kedua ujung katup untuk mengambil sampel air. Masukkan kedalam botol sampel dan beri label. 2. Pemeriksaan Sampel

a) Pengukuran DO

-Siapkan alat yang akan digunakan. -Buka penutup alat. -Masukan alat pengukur kedalam sumur secara perlahan. -Tekan On pada alat. -Lihat hasil pengukurannya yang muncul pada layar. -Catat hasil tersebut.

12

b) Pengkuran Fe -

Masukan 7ml sampel air kedalam botol reagen. Masukan 1 sendok bubuk Fe 1k kedalam tabung reagen. Kocok selama 2 menit agar merata atau homogen. Masukan tabung tersebut kedalam Portable Photometer untuk memeriksa parameter kimia air.

Setelah diperiksa, catat hasil tersebut. Kemudian beri label pada tabung reagen.Setelah sampai dilaboratorium dilanjutkan dengan pemeriksaan suhu dengan menggunakan alat water proof. Sebelum dan sesudah menggunakan Alat water proof di bilas dengan aquades untuk fiksasi Untuk pemeriksaan kadar mangan dalam sampel air, gunakan pipet ukur

c) Pengukuran Manganese

Masukan 5ml sampel kedalam tabung reagen menggunakan pipet. Kemudian masukan larutan manganese 1k sebanyak 2 tetes. Dikocok selama 2 menit.(massa reaksi) Tambahkan lagi 2 ml air. Setelah itu tambahkan larutan manganese 2k sebanyak 3 tetes. Dikocok selama 5 menit.(massa reaksi Lihat sampel air tersebut apakah berubah warna atau tidak. Kemudian bersihkan tabung menggunakan tissue. Masukan tabung tersebut kedalam Portable Photometer untuk memeriksa parameter kimia air.

Setelah diperiksa, catat hasil tersebut. Kemudian beri label pada tabung reagen.

13

3. Hasil Praktek Secara Kimia pH Suhu Fe Manganese DO

: 6,9 : 29,0oC : 0,8 mg/liter : 0,14 mg/liter : 0,5

Secara Fisik Tidak berbau Tidak berasa Warnanya jernih Dokumentasi:

Pemeriksaan Suhu dan PH

Pemeriksaan Fe

14

Pengukuran DO

Pengukuran Manganese

Vertikal Water Sample

Water Test Kit

15

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Akhirnya kami sebagai penyusun dapat menyimpulkan bahwa prosedur pengambilan dan pemeriksaan sampel air sangat penting diketahui dalam memeriksa parameter-parameter fisik maupun kimia air.

B. Saran Di harapkan bagi mahasiswa dapat memahami dan mengetahui cara pengambilan dan pemeriksaan air sesuai dengan parameter-parameter fisik air. Kami juga mengharapkan penyediaan fasilitas atau alat yang berkaitan dengan praktek yang dilaksanakan agar lebih difasilitasi atau disiapkan, untuk memudahkan dan menyempurnakan hasil laporan praktek yang ada. Selain itu kami juga mengharapkan kritik dan saran guna untuk membangun kesempurnaan laporan ini.

16