Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN I.

I Latar Belakang Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur, meracik, memformulasi,mengidentifikasi, mengobinasi, menganalisis serta menstandarkan obat dan pengobatan juga sifat-sifat obat beserta pendistribusian dan penggunaannya secara aman. Farmasi mempelajari sifat fisika dan kimia suatu sediaan obat. Menganalisis sifat fisika dari sediaan obat dapat dilakukan dalam beberapa cara, diantaranya yaitu stabilitas obat, rheologi, mikromeritik, dan stabilitas obat. Dalam bidang farmasi obat masih dapat diterima apabila sebagian obat mengalami peruraian sampai batas tertentu, yaitu suatu kadar obat masih berada dalam kadar yang telah ditentukan dalam farmakope Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengetahui kestabilan suatu obat dapat di uji menggunakan metode stabilitas obat (Martin, 2008). Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu obat atau sediaan farmasi biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama sampai sediaan obat tersebut bisa digunakan. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan. Maka perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat diketahui kondisi dimana kestabilan suatu obat. Penjelasan diatas menjelaskan kepada kita betapa pentingnya kita mengetahui keadaan yang bagaiman suatu obat tersebut aman dan dapat bertahan lama. Sehingga obat tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menunjukkan perubahan apapun. Percobaan ini dilakukan dalam salah satu percobaan pada paraktikum farmasi fisika, yaitu dengan tujuan dapat menetapkan kestabilan

28

amoksisilin pada berbagai pH dan suhu berdasarkan konstanta kecepatan reaksinya. sehingga setelah melakukan percobaan stabilitas obat, praktikan dapat mengetahui dan memahami cara penentuan kestabilan obat. I.2 I.2.1 Maksud dan Tujuan Maksud Percobaan Maksud dari percobaan yaitu untuk mengetahui dan memahami cara penentuan kestabilan obat pada berbagai pH dan suhu. I.2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan yaitu, menetapkan kestabilan amoksisilin pada berbagai pH yaitu pH 4,0 ; 5,0 ; 6,0 dan pada berbagai suhu yaitu 400C, 500C dan 600C. I.3 Prinsip percobaan Prinsip percobaan ini yaitu didasarkan pada penentuan stabilitas amoksisilin pada berbagai pH dan suhu berdasarkan konstanta kecepatan reaksinya diperoleh dari grafik waktu terhadap konsentrasi dimana konsentrasi amoksisilin ditetapkan dengan metode iodometri.

28

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umunya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama sehingga praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting

diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah: 1. Kecepatan reaksi 2. Farktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi 3. Tingkat reaksi dengan cara penentuannya Stabilitas suatu obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat yang berkhasiat. Batas kadar obat yang masih bersisa 90% tidak dapat lagi disebut sub standar waktu diperlukan hingga tinggal 90% disebut umur obat ( Martin, 2008) Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana reaksi penguraian dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H+) atau basa (OH-) dengan menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak mempengaruhi hasil dari reaksi. (Ansel, 1989) Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal itu penting mengingat sediaannya biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan juga memerlukan waktu yang lama untuk sampai ketangan pasien yang membutuhkannya. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien. Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan trsendiri dengan bahanbahan dari formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk

28

menentukan suatu stabilitas kimia dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan menjadi bentuk-bentuk sediaan. (Ansel, 1989) Untuk obat-obat tertentu seperti bentuk kristal atau polimorf mungkin lebih stabil dari pada lainnya, hal ini penting supaya obat dipastikan murni sebelum digunakan pada percobaan uji stabilitasnya dan suatu ketidakmurnian mungkin merupakan katalisator pada kerusakan obat atau mungkin menjadikan dirinya tidak akan stabil dalam mengubah penampilan fisik bahan obat. (Parrot, 1968) Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan tersendiri dengan bahan bahan dari formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk menentukan suatu stabilitas kimia dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan menjadi bentuk-bentuk sediaan. (Ansel, 1989) Kestabilan suatu sediaan farmasi dapat dievaluasi dengan test stabilitas dipercepat dengan mengamati perubahan kosentrasi pada suhu yang tinggi. Kestabilan suatu obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain panas, cahaya, oksigen, kelembaban, pengaruh pH dan mikroorganisme. Kestabilan suatu obat dapat dipercepat dengan meningkatkan suhunya. Dengan demikian batas waktu kadaluarsa dari suatu obat dapat diketahui dengan tepat. (Suryono, 2004) II.2 Uraian Bahan II.2.1 Amoxilin (FI IV: 95) Nama Resmi Nama Lain BM/RM Rumus Struktrur Pemerian Kelarutan : Amoxilinum : Amoksisilin , Amoxilini : 419,45/ C16H19N3O5S :: Serbuk hablur, putih, praktis tidak berbau : Sukar larut dalam air dan metanol, tidak larut dalam benzena, dalam karbon tetraklorida dan dalam kloroform.

28

Khasiat

: Infeksi saluran nafas, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran nafas, infeksi saluran genital

Kegunaan Penyimpanan

: Sebagai sampel : Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu kamar terkendali

II.2.2 Iodium (Dirjen POM,1979) Nama resmi Sinonim RM/BM Rumus struktur Pemerian : Iodum : Iodium : I2 / 166,0 :I I heksahedral, transparan atau tidak : Hablur

berwarna, opak dan putih, atau serbuk butiran putih. Higroskopik Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lanih mudah larut dalam air mendidih, larut dalam etanol 95 % P, mudah larut dalam gliserol P. Khasiat Kegunaan Penyimpanan : Antijamur : Sebagai reduktor yang melepaskan I2 : Dalam wadah tertutup baik

II.2.3 Natrium Tiosulfat (Dirjen POM,1979) Nama resmi Sinonim RM/BM Rumus struktur : Natrii Thiosulfas : Natrium tisulfat : Na2S2O3/248,17 :

Pemerian

: Hablur besar tidak berwarna dan serbuk kasar. Dalam udara lembab meleleh basah, dalam hampa udara pada suhu diatas 330 merapuh

28

Kelarutan

: Larut dalam 0,5 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol (95%).

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat. : Sebagai larutan baku.

II.2.4 Amilum (Dirjen POM,1979). Nama Resmi Sinonim RM/BM Rumus struktur : Amylum Oryzae : Pati Beras : C12H20O10/324 :

Pemerian

: Serbuk sangat halus, putih, tidak berbau, tidak berasa.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol (95%).

Penyimpanan

: Dalam wadah tetutup baik, ditempat yang sejuk dan kering.

Kegunaan

: Sebagai indikator.

II.2.5 Natrium hidroksida (FI III: 412) Nama resmi Nama lain RM/BM Rumus struktur Pemerian : Natrii hydroxydum : Natrium hidroksida : NaOH/40,00 : Na O H : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, rapuh dan mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap CO2 Kelarutan Penyimpanan Khasiat Kegunaan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) : Dalam wadah tertutup baik : : Sebagai larutan baku.

28

BAB III METODE KERJA III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Batang pengaduk Buret 25 ml Corong Gelas ukur Labu erlenmeyer 200 ml Labu takar 100 ml Waterbath Pipet volume 1 ml Sendok tanduk (Memmert) (Pyrex) (Pyrex) (Pyrex) (Pyrex)

10. Statif dan klem 11. Termometer 12. Timbangan kasar III.1.2 Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Alumunium foil Amoksisilin Kertas timbang Larutan dapar pH 4,0 Larutan dapar pH 5,0 Larutan dapar pH 6,0 Larutan I2 0,01 N Larutan Na2S2O3 0,1 N Larutan HCl 0,1 N (Pyrex) (Citizen)

10. Larutan NaOH 0,1 N 11. Larutan kanji 0,5 % 12. Tissue roll

28

III.2. Cara kerja III.2.1 Pengaruh pH 1. Ditimbang amoksisilin 100 mg pada timbangan kasar sebanyak tiga kali. Masing-masing dimasukkan pada larutan dapar pH 4,0 ; 5,0 dan 6,0. 2. Dicukupkan sampai 100 ml dalam labu takar 100 ml. 3. Panaskan hingga suhu 500C pada waterbath. 4. Jika sudah tercapai suhu 500C masing-masing pH dipipet 1 ml sebanyak 2 kali (menit 0). 5. Pada masing-masing pH, 1 ml pertama dimasukkan dalam erlenmeyer, ditambah dengan NaOH 0,1 N. Kemudian ditambah dapar pH 4,0 kemudian didiamkan selama 5 menit. 6. Ditambah lagi dengan 1 ml HCL 0,1 N. 7. Ditambah dengan I2 0,01 N, homogenkan didiamkan selama 10 menit ditempat gelap sampai berwarna kuning buram. 8. Ditambah dengan indikator kanji sebanyak 3 tetes. 9. Dilakukan titrasi dengan Na2S2O3 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi tak berwarna. 10. Volume yang diperoleh sebagai V1. 11. Untuk 1 ml kedua ditambah dengan dapar pH 4,0 sebanyak 4 ml. Diamkan selama 5 menit, kemudian ditambah dengan I2 10 ml. 12. Diamkan selama 10 menit ditempat gelap, kemudian ditambah dengan indikator kanji sebanyak 3 tetes. 13. Titrasi dengan Na2S2O3 0,1 N. 14. Volume yang diperoleh sebagai V2. 15. Perlakuan ini dilakukan kembali pada menit ke 0,10,20 dan menit ke 30. 16. Dihitung kadar masing-masing dengan rumus; ( )

28

17. Dihitung waktu paruhnya. Waktu paruh terbesar berarti stabilitas obatnya baik pada pH tersebut. 18. Dibuat grafik hubungan y = a + bx III.2.2 Pengaruh suhu 1. Ditimbang amoksisilin sebanyak 100 mg kemudian dilarutkan dalam dapar pH 8,0. Dicukupkan sampai 100 ml. 2. Dipipet dari situ kedalam erlenmeyer sebanyak 30 ml tiga kali. 3. Dipanaskan pada suhu 400C , 500C dan 600C. 4. Setelah suhu tercapai dipipet 1 ml sebanyak 2 kali dalam erlenmeyer (sebagai menit ke nol). 5. 1 ml pertama ditambah dengan NaOH 0,1 N 1 ml, kemudian 4 ml dapar pH 4,0 dan didiamkan selama 5 menit 6. Ditamabah dengan HCl 0,1 N dan 10 ml I2 dan didiamkan ditempat gelap selama 10 menit. 7. Kemudian ditambah dengan indikator kanji sebanyak 3 tetes, dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi tak berwarna. Volume yang diperoleh sebagai V1. 8. Untuk 1 ml kedua ditambah dapar pH 4,0 lalu diamkan selama lima menit. Tambahkan lagi dengan I2 sebanayak 10 ml lalu diamkan ditempat gelap selama 10 menit. 9. Ditambahkan indikator kanji lalu dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi tak berwarna. Volume titrasi dihitung sebagai V2. 10. Dihitung kadar dengan rumus : ( )

11. Dibuat grafik persamaan y = a + bx 12. Perlakuan ini diulang pada menit ke 0,10,20,dan menit ke 30. 13. Ditentukan waktu paruhnya. Waktu paruh terbesar berarti suhu itu paling stabil.

28

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV.1 Data Pengamatan

IV.1.1 Pengaruh pH Waktu (menit) 0 10 20 30 pH 4,0 V1 (ml) 0,8 0,9 1,2 0,7 V2 (ml) 0,9 1,1 2,1 1,2 pH 5,0 V1 (ml) 1,0 0,9 1,0 1,1 V2 (ml) 1,1 1,0 1,1 1,2 pH 6,0 V1 (ml) 0,4 0,5 0,8 0,9 V2 (ml) 2,6 0,75 0,9 1,2

IV.1.1 Pengaruh pH Waktu (menit) 0 10 20 30 40 C V1 (ml) 0,9 0,7 1,0 0,7 V2 (ml) 0,9 1,1 1,2 0,8 50 C V1 (ml) 0,9 0,5 0,8 0,4 V2 (ml) 1 0,6 0,9 0,5 60 C V1 (ml) 1,1 0,8 0,6 0,7 V2 (ml) 1,4 1,2 1,0 0,9

IV.2

Perhitungan Pengaruh pH 1) pH 4,0 o Menit ke 0 K= = =


( ( ) )

28

= 0,0052 o Menit ke 10 K= = = = 0,010 o Menit ke 20 K= = = = 0,047 o Menit ke 30 K= = = = 0,026 2) pH 5,0 o Menit ke 0 K= = = = 0,005 o Menit ke 10 K= =
( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) )

28

= = 0,005 o Menit ke 20 K= = = = 0,005 o Menit ke 30 K= = = = 0,005 2) pH 6,0 o Menit ke 0 K= = = = 0,115 o Menit ke 10 K= = = = 0,013 o Menit ke 20 K=
( ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) )

28

= =

= 0,005 o Menit ke 30 K= = = = 0,015 Regresi Linear: 1. pH 4,0 X 0 10 20 30 60 mean T = 0 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 0 = 0,035 T = 10 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 10 = 0,04 T = 20 28 15 Y 0,005 0,010 0,047 0,026 0,088 0,022 X -15 -5 5 15 Y -0,017 -0,012 -0,025 -0,004 x2 225 25 25 225 500 y2 0,0002 0,0001 0,0006 0,00001 xy 0,255 0,06 0,125 0,06 0,5
( ( ) )

y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 20 = 0,045 T = 30 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 30 = 0,05 K = 2,303 x b = 2,303 x 0,0005 = 0,001 b = = = 0,0005 a = Y bx = 0,035 0,0005 = 0,035 T 1/2 = 2. pH 5,0 X 0 10 20 30 60 mean T = 0 y = a + bx 15 Y 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 0,001 x -15 -5 5 15 y 0 0 0 0 x2 225 25 25 225 500 y2 0 0 0 0 xy 0 0 0 0 0 = = 693 = = 11,55 jam

28

= 0,005 + 0. 0 = 0,005 T = 10 y = a + bx = 0,005 + 0. 10 = 0,005 T = 20 y = a + bx = 0,005 + 0.20 = 0,005 T = 30 y = a + bx = 0,005 + 0. 30 = 0,005 K = 2,303 x b = 2,303 x 0 =0 b = = =0 a = Y bx = 0,005 0 = 0 T 1/2 = = =

28

3. pH 6,0 X 0 10 20 30 60 Mean 15 T = 0 y = a + bx = 0,035 + 0,00297. 0 = 0,035 T = 10 y = a + bx = 0,035 + 0,00297. 10 = 0,00647 T = 20 y = a + bx = 0,035 + 0,00297. 20 = 0,0944 T = 30 y = a + bx = 0,035 + 0,00297. 30 = 0,1241 Y 0,115 0,013 0,005 0,015 0,1482 0,001 X -15 -5 5 15 Y 0,078 x2 225 y2 0,006 0,0005 0,0009 0,0004 Xy 1,35 0,0125 0,0225 0,10 1,485

-0,024 25 -0,03 25

-0,022 225 500

= 2,303 x b = 2,303 x 0,00297 = 0,0066

28

= = 0,00297 a = Y bx = 0,037- 0,002 = 0,035 T 1/2 = Pengaruh suhu 1) Suhu 40 o Menit ke 0 K= = = =0 o Menit ke 10 K= = = = 0,020 o Menit ke 20 K= = = = 0,010 o Menit ke 30 K=
( ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) )

= 105 =

= 1,75 jam

28

= =

= 0,005 2) Suhu 50 o Menit ke 0 K= = = = 0,005 o Menit ke 10 K= = = = 0,005 o Menit ke 20 K= = = = 0,005 o Menit ke 30 K= = = = 0,005
( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) )

28

2) Suhu 60 o Menit ke 0 K= = = = 0,015 o Menit ke 10 K= = = = 0,020 o Menit ke 20 K= = = = 0,020 o Menit ke 30 K= = = = 0,054


( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) ) ( ( ) )

28

Regresi Linear : 1. Suhu 40 X 0 10 20 30 60 Mean T = 0 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 0 = 0,035 T = 10 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 10 = 0,04 T = 20 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 20 = 0,045 T = 30 y = a + bx = 0,035 + 0,0005. 30 = 0,05 K = 2,303 x b = 2,303 x 0,0005 = 0,001 15 Y 0 0,020 0,010 0,005 0,035 0,008 X -15 -5 5 15 Y -0,008 0,012 0,002 -0,003 x2 225 25 25 225 500 125 y2 0,0006 0,0001 0,000004 0,000009 xy 0,12 0,06 0,01 0,045 0,235

28

= = = 0,0005

= Y bx = 0,035 0,0005 = 0,035

T 1/2 =

= 693 =

= 11,55 jam

2. Suhu 50 X 0 10 20 30 60 mean T = 0 y = a + bx = 0,005 + 0. 0 = 0,005 T = 10 y = a + bx = 0,005 + 0. 10 = 0,005 T = 20 y = a + bx 15 Y 0,015 0,020 0,020 0,054 0,109 0,027 X -15 -5 5 15 Y x2 y2 0,00014 xy 0,0315

-0,012 225 -0,007 25 -0,007 25 0,027 225 500

0,000049 0,001 0,000049 0,001 0,0007 0,16 0,01935

28

= 0,005 + 0. 20 = 0,005 T = 30 y = a + bx = 0,005 + 0. 30 = 0,005 K = 2,303 x b = 2,303 x 0 =0 b = = =0 a = Y bx = 0,005 0 = 0,005 T 1/2 = = =

28

3. Suhu 60 X 0 10 20 30 60 Mean 15 Y 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 X -15 -5 5 15 Y 0 0 0 0 x2 225 25 25 225 500 y2 0 0 0 0 xy 0 0 0 0 0

T = 0 y = a + bx = 0,026 + 0,00038.0 = 0,026 T = 10 y = a + bx = 0,026 + 0,00038. 10 = 0,03 T = 20 y = a + bx = 0,026 + 0,00038. 20 = 0,033 T = 30 y = a + bx = 0,026 + 0,00038. 30 = 0,04 K = 2,303 x b = 2,303 x 0,00038 = 0,0008 b =

28

= = 0,00038 a = Y bx = 0,027- 0,00038 = 0,026 T 1/2 = = = 866,2 = = 14,4 jam

28

BAB V PEMBAHASAN Dalam praktikum kali ini dilakukan penentuan stabilitas amoksisilin pada berbagai pH dan suhu berdasarkan konstanta kecepatan stabilitas obat. Stabilitas obat adalah derajat degradasi suatu obat dipandang dari segi kimia. Stabilitas obat dapat diketahui dari ada tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan (Connors,et al.,1986). Stabilitas obat sangat diperlukan untuk menentukan kualitas sediaan obat. Dengan melakukan penentuan stabilitas obat untuk berbagai suhu dan pH. Faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan farmasi tergantung pada profil sifat fisika dan kimia. Faktor utama lingkungan dapat menurunkan stabilitas diantaranya temperatur yang tidak sesuai, cahaya, kelembaban, oksigen dan mikroorganisme. Beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi stabilitas suatu obat adalah ukuran partikel, pH, kelarutan, dan bahan tambahan kimia. (Connors,et al.,1986). Stabilitas obat dapat dilihat dengan hasil paruh waktunya (T1/2). (T1/2) adalah periode penggunaan dan penyimpanan yaitu waktu dimana suatu produk tetap memenuhi spesifikasinya jika disimpan dalam wadahnya yang sesuai dengan kondisi atau waktu yang diperlukan untuk hilangnya konsentrasi setengahnya. Sedangkan T90 adalah waktu yang tertera yang menunjukkan batas waktu diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. (Martin, 1990) Percobaan stabilitas ini, dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan. Selanjutnya ditimbang amoksisilin 100 mg pada timbangan kasar sebanyak tiga kali, masing-masing dimaukkan pda larutan dapar pH 4,0, 5,0, dan 6,0 , dicukupkan sampai 100 ml dalam labu takar 100 ml. Dipanaskan pada suhu suhu 50 pada water bath. Saat suhu sudah mencapai 50 masing-masing pH dipipet 1 mL sebanyak 2 kali (menit 0). Pada masing-masing pH, 1 mL pertama dimasukkan dalam elenmeyer, ditambah dengan NaOH 0,1. Kemudian ditambah dapar pH 4,0 kemudian didiamkan selama 5 menit. Tujuan penambahan dapar ini yaitu suatu zat yang mampu mempertahankan 28

pHnya saat ditambah sedikit asam/basa atau saat diencerkan ( Wunas,1986). Ditambahkan 1 mL HCL 0,1 N. Kemudian ditambahkan dengan I2 0,01 N secukupnya, homogenkan didiamkan 10 menit ditempat gelap sampai berwarna kuning buram. Lalu ditambahkan dengan indikator kanji sebnayak 3 tetes. Tujuan penggunaan indikator kanji adalah yaitu untuk menentukan titik akhir titrasi dimana larutan kanji dengan iodium yang dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3 dapat membentuk suatu senyawa absorbsi dengan memberikan perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna ( Parrot, 1978). Volume yang diperoleh dari titrasi sebagai V1, untuk 1 ml kedua di tambah dengan pH 4,0 sebanyak 4 ml. Diamkan selama 5 menit kemudia di tambah I2 10 ml. Selanjutnya diamkan selama 10 menit di tempst gelap, kemudian di tambah demgan indikator kanji sebanyak 3 tetes. Titrasi dengan Na2S2O3 0,1 N volume yang diperoleh ebagai V2 hal yang sama dilakukan pada menit ke 15 dan 30. Kadar yang diperoleh pada masing-masing suhu yaitu 0,001 , 0, 0,006 dan T1/2 yaitu 693, (tak terhingga), dan 105. Dari hasil yang diperoleh pH 5 yang memiliki T1/2 yang paling tinggi sehingga dan dianggap paling stabil, di bandingkan dengan literatur ternyata amoksisilin stabil juga di pH 4 (Agoes, goeswin, 2009). Percobaan kedua, dimulai dengan menimbang amoxsisilin sebanyak 100 mg kemudian dilarutkan ke dalam dapar pH 8,0 dicukupkan sampai 100ml. Maksud penambahan dapar ini yaitu suatu zat yang mampu mempertahankan pHnya saat ditambah sedikit asam/basa atau saat diencerkan ( Wunas,1986). Dipipet ke dalam erlenmeyer sebanyak 30 ml tiga kali. Di panaskan pada suhu 40 C, 50C, dan 60C. Setelah suhunya tercapai dipipet 1ml sebanyak 2 kali dalam erlenmeyer (sebagai menit ke nol). Saat di pipet 1 ml pertama di tambah dengan NaOH 0,1 ml, kemudia 4 ml dapar pH 4,0 dan didiamkan selama 5 menit. Di tambahkan HCL 0,1 dan I2 10 ml dan diamkan di tempat gelap selama 10 menit. Alasan digunakan NaOH dapat memberikan suasana basa dan HCl dapat memberikan suasana asam serta dapat menetralkan. Kemudian di tambahkan indikator kanji hingga terjadi perubahan warna dari

28

biru menjadi tak berwarna. Dan dilakukan hal yang sama pada menit ke 15 dan 30. Kadar yang diperoleh untuk masing-masing yaitu 0,001, 0, dan 0,0008. Serta T yaitu 69, (tak terhingga), dan 866,2. Waktu paruh yang paling besar adalah yang paling stabil. Dan yang memiliki waktu paruh paling besar adalah di suhu 40.

28

BAB VI PENUTUP VI.I Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa obat amoksisilin stabil pada pH 4,0 dan suhu 500C. VI.I Saran Diharapkan kepada praktikan mampu memahami dan menguasai materi praktikum sebelum melakukan praktikum. Serta dapat berhati-hati dalam menggunakan alat yang digunakan saat praktikum.

28