Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
dan setiap orang mempunyai hak yang sama untuk memperoleh derajat
kesehatan yang optimal. Kesehatan merupakan salah satu indikator tingkat
kesejahteraan manusia sehingga menjadi prioritas dalam pembangunan
nasional suatu bangsa. Salah satu komponen kesehatan yang sangat
penting adalah tersedianya obat sebagai bagian dari pelayanan kesehatan
masyarakat.

Hal

itu

disebabkan

karena

obat

digunakan

untuk

menyelamatkan jiwa, memulihkan atau memelihara kesehatan. Peraturan


Menteri Kesehatan Nomor 1799/Menkes/PER/XII/2010 tentang industri
farmasi menyatakan bahwa industri farmasi merupakan badan usaha yang
memiliki izin dari menteri kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan
obat atau bahan obat. Untuk itu industri farmasi sebagai industri penghasil
obat, memiliki peran strategis dalam usaha pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.
Industri farmasi merupakan salah satu tempat Apoteker melakukan
pekerjaan kefarmasian terutama menyangkut pembuatan, pengendalian
mutu sediaan farmasi, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan
pengembangan obat. Untuk menghasilkan produk obat yang bermutu,
aman dan berkhasiat diperlukan suatu tahap kegiatan yang sesuai, yaitu
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang meliputi perencanaan,
pengendalian dan pemantauan bahan awal, proses pembuatan serta
pengawasan terhadap mutu, peralatan yang digunakan, bangunan, hygiene,
sanitasi serta personalia yang terlibat di setiap proses produksi. Produksi
dalam industri farmasi dapat berupa bentuk sediaan padat,setengah padat,
cair/larutan dan gas. Dalam laporan ini akan dibahas tentang bentuk
sediaan cair/larutan yaitu sirup. Biasanya orang-orang menggunakan
sediaan sirup karena mudah penggunaannya, sirup juga mempunyai rasa
yang manis dan aroma yang harum serta warna yang menarik sehingga
disukai oleh berbagai kalangan terutama anak-anak dan orang yang susah

menelan obat dalam bentuk sediaan oral lainnya. Untuk itu melalui laporan
ini akan dibahas tentang sediaan sirup ambroxol yang sesuai dengan cara
pembuatan obat yang baik.
B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami pengertian sirup ambroxol dan proses
pembuatannya yang sesuai dengan CPOB
2. Mahasiswa dapat mengetahui hal yang harus diperhatikan dalam
proses
pembuatan sirup ambroxol dan dapat menjelaskan kandungan kimia
dalam formulasi
C. Manfaat
Mendapatkan pengetahuan tentang cara pembuatan formulasi obat
dalam bentuk sirup yang sesuai dengan cara pembuatan obat yang baik
(CPOB).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sirup

Menurut Farmakope Indonesia III, Sirup adalah sediaan cair berupa


larutan yang mengandung sakarosa. Kadar sakarosa tidak kurang dari 64%
dan tidak lebih dari 66%. Hal itu berkaitan dengan daya tahan
sediaannya,dalam larutan gula yang jenuh (kira-kira 66%) tidak
memungkinkan pembentukan jamur, oleh karena dengan larutan
berkonsentrasi tinggi, air yang diperlukan bagi perkembangbiakan
mikroorganisme akan dihisap melalui proses osmosis (Voight, 1995).
Sirup dimaksudkan sebagai pembawa yang memberikan rasa enak
pada zat obat yang ditambahkan kemudian, baik dalam peracikan resep
secara mendadak atau dalam pembuatan formula standar untuk sirup obat,
yaitu sirup yang mengandung bahan terapeutik atau bahan obat (Ansel,
2009).
B. Komponen Sirup
Sebagian besar sirup mengandung komponen berikut yang
ditambahkan dalam air murni dan bahan obat lainnya (Ansel,2009),
komponen sirup yaitu :
a. Pemanis
Pemanis berfungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan.Dilihat dari
kalori yang dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori rendah.Adapun
pemanis berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa
sedangkan yang berkalori rendah sepert laktosa.
b. Pengawet antimikroba
Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar
dapat bertahan lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.
c. Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau
bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai
rasa yang enak.Karena sirup adalah sediaancair, pemberi rasa ini harus
3
mempunyai kelarutan dalam air yang cukup.Pemberian pengaroma ini
harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa
jeruk diberi aroma citrus.

d. Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi
dengan komponen lain dalam siru dan warnanya stabil dalam kisaran
pH selama penyimpanan. Penampilan keseluruhan dari sediaancair
terutama tergantung pada warna dan kejernihan.Pemilihan warna
biasanya dibuat konsisten dengan rasa.
C. Keuntungan dan Kerugian Sirup
Sirup merupakan sediaan yang menyenangkan untuk pemberian suatu
bentuk cairan dari suatu obat yang rasanya tidak enak. Sirup efektif dalam
pemberian obat untuk anak-anak, karena rasanya yang enak dan warnanya
yang menarik sehingga akan meningkatkan kepatuhan dalam meminum
obat. Sirup sesuai untuk pasien yang susah menelan tablet dan kapsul
seperti pada pasien usia lanjut, anak-anak, atau pasien penyakit Parkinson.
Sirup juga sesuai untuk zat obat yang bersifat higroskopis (Ansel, 2009).
Sirup juga memiliki kekurangan yaitu tidak semua jenis zat obat dapat
dibuat dalam bentuk sediaan sirup terutama zat aktif yang sukar larut air,
sediaan sirup jarang yang berisi zat tunggal pada umumnya campuran atau
kombinasi beberapa zat berkhasiat yang terkadang sebetulnya tidak
dibutuhkan oleh pasien.
D. Ambroxol
Ambroxol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan
mukolitik, yaitu obat yang fungsinya adalah mengencerkan dahak.
Ambroxol umumnya digunakan untuk mengatasi gangguan pernapasan
akibat produksi dahak yang berlebihan pada kondisi seperti bronkiektasis
dan emfisema. Dengan obat mukolitik, dahak yang diproduksi akan lebih
encer sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tenggorokan saat batuk.
Dengan demikian, pipa saluran pernapasan pun lebih terbuka dan terasa
lega.

BAB III
FORMULASI
A. Uraian Bahan
a. Zat Aktif
1. Ambroxol HCl (BP 2009, Hal. 265-268)
Rumus Molekul
Bobot Molekul
Khasiat
Defenisi

:
:
:
:

C13H18Br2N2O.HCl
414,6
Mukolitik
trans-4-[(2-Amino-3,5
dibromobenzyl)amino]cyclohex

Kadar

anol hydrochloride
99,0 101,0 % (terhadap zat

Pemerian

yang dikeringkan)
Serbuk kristal berwarna putih
atau putih kekuningan, praktis
tidak berbau.

Kelarutan

Larut dalam metanol, sedikit


larut dalam etanol, tidak larut

pH

dalam metilen klorida.


4,5 - 6,0

b. Zat Tambahan

1. Nipagin (F.I. Ed. IV hal. : 551)


Nama lain
:
Rumus Molekul
:
Bobot molekul
:
Khasiat
:
Pemerian
:

Metilparaben
C8H8O3
152,15
Pengawet
Hablur kecil, tidak berwarna
atau serbuk hablur, putih; tidak
berbau atau berbau khas lemah;
mempunyai

Kelarutan

sedikit

rasa

terbakar.
Sukar larut dalam air, dalam
benzene

dan

dalam

karbon

tetraklorida; mudah larut dalam


Wadah dan penyimpanan :
2. Nipasol (F.I. Ed. IV hal. : 713)
Nama Resmi
:
Rumus Molekul
:
Bobot Molekul
:
Khasiat
:
Pemerian
:
Kelarutan

etanol dan dalam eter.


Dalam wadah tertutup baik
PropiL paraben
C10H12O3
180,20
Pengawet
Serbuk putih atau hablur
kecil,tidak berwarna.
Sangat sukar larut dalam
air,mudah larut dalam etanol,
dan dalam eter; sukar larut

Jarak lebur
:
Wadah dan penyimpanan :
3. Aspartam
Rumus Molekul
:
Bobot Molekul
:
Kegunaan
:
Pemerian

dalam air mendidih.


Antara 95o dan 98o
Dalam wadah tertutup baik
C14H18N2O5
294.3
Pemanis
Putih atau hampir putih, agak
higroskopis, serbuk kristal.

Kelarutan

Kurang larut atau sedikit larut


dalam air dan dalam etanol (96
%), praktis tidak larut dalam
heksana dan metilen klorida.

4. Sakarin (F.I. Ed. IV hal. : 748)


Nama Lain
: 1,2-benzisotiazolin-3-on-1,1-dioksida
Rumus molekul
:
C7H5NO3S
Bobot molekul
:
183,18
Kegunaan
:
Pemanis
Pemerian
:
Serbuk atau hablur putih, tidak
berbau atau berbau aromatic
lemah. Larutan encer sangat
manis. Larutan bereaksi asam
terhadap lakmus.
5. Sakarosa (F.I. Ed. IV hal. : 762)
Nama Lain
:
Rumus molekul
:
Bobot molekul
:
Kegunaan
:
Pemerian
:

Sukrosa
C12H22O11
342,30
Pemanis
Hablur putih

atau

tidak

berwarna; massa hablur atau


berbentuk kubus, atau serbuk
hablur putih; tidak berbau; rasa
manis,

stabil

Larutannya
Kelarutan

di

netral

udara.
terhadap

lakmus
Sangat mudah larut dalam air;
lebih mudah larut dalam air
mendidih; sukar larut dalam
etanol;

tidak

larut

dalam

kloroform dan dalam eter.


6. Natrium Siklamat (Ph Eur monografi 0774)
Nama
:
SodiumN
Kandungan

cyclohexylsulphamate.
98,5 persen menjadi 101,0
persen (bahan kering).

Pemerian

Putih atau hampir putih bubuk,


kristal atau kristal berwarna.
Kelarutan : Bebas larut dalam
air, sedikit larut dalam etanol

Kegunaan

(96 persen)
Pemanis

7. Gliserin (F.I. Ed. IV hal. : 413)


Nama lain
:
Rumus Molekul
:
Bobot Molekul
:
Pemerian
:

Gliserol
C3H8O3
92,09
Cairan jernih seperti sirup, tidak
berwarna; rasa manis; hanya
boleh berbau khas lemah (tajam
atau tidak enak). Higroskopis:

Kelarutan

netral terhadap lakmus.


Dapat bercampur dengan air

dan dengan etanol; tidak larut


dalam kloroform, dalam eter,
dalam minyak lemak dan dalam
mionyak menguap.
Dalam wadah tertutup rapat.

Wadah dan penyimpanan :

8. Natrium Sitrat (F.I. Ed. IV hal. : 588)


Nama Lain
:
Natrium citras, Trinatrium sitrat
Rumus Molekul
:
C6H5Na3O7
Bobot Molekul
:
294,10
Kegunaan
:
Pengatur pH
Pemerian
:
Hablur tidak berwarna atau
Kelarutan

serbuk hablur, putih.


Dalam bentuk hidrat mudah
larut dalam air; sangat mudah
larut dalam air mendidih; tidak
larut dalam etanol.

9. Menthol (F.I. Ed. IV hal. : 529)


Nama Lain
:
Rumus kimia
:
Rumus molekul

Mentholum
5-metil-2-(1-metiletil)
sikloheksanol
C10H20O

Bobot molekul
Kegunaan
Pemerian

:
:
:

156,27
Pemberi aroma
Hablur heksagonal atau serbuk
hablur,tidak berwarna, biasanya
berbentuk jarum, atau massa
yang melebur; bau enak seperti
minyak permen.
Kelarutan:Sukar larut dalam air;
sangat mudah larut dalam etanol,
dalam kloroform, dalam eter,
dan dalam heksana; mudah larut
dalam asam asetat glacial, dalam

Wadah dan penyimpanan

minyak

mineral

dan

dalam

minyak

lemak

dan

dalam

minyak atsiri.
Dalam wadah tertutup rapat,

sebaiknya

pada

suhu

kamar

terkendali.

10. Ponceau 4R
Nama kimia

Trisodium-2-hidroksi-1-(4sulfonato-1-naphthylazo)
-6,8-

:
:
:

naphthalenedisulfonate
C20H11N2Na3O10S3 1.5 H2O
631,51
Tidak kurang dari 85%

Pemerian

total pewarna
Serbuk
atau

Kegunaan
Kelarutan

:
:

berwarna kemerahan
Sebagai pewarna
Larut dalam air; sedikit

Rumus kimia
Berat molekul
Uraian

larut dalam etanoL

granul

10

11. Titanium Dioksida (Handbook of Pharmaceutical Excipients,


Sixth edition, 741)
Sinonim

Anatase titanium dioksida;


Brookite titanium dioksida;
Indeks

warna

nomor

77891; E171; Hombitan


FF-Pharma,
AFDC;

Kemira

Kronos

1171;

pigmen putih 6; Pretiox


AV-01-FG; rutil titanium
dioksida, Tioxide, TiPure,
titanic
Incompatibilitas

anhidrida,

titanii

dioxidum; Tronox.
Karena efek fotokatalis,
titanium dioksida mungkin
berinteraksi dengan zat aktif
tertentu,

misalnya

famotidin. Dalam penelitian


menunjukkan

bahwa

titanium

dioksida

monatonically menurunkan
sifat

mekanis

film

dan

meningkatkan permeabilitas
uap air polivinil coating
alkohol

bila

digunakan

sebagai pengisi inert dan


pemutih. Titanium dioksida
dapat

mendorong

fotooksidasi lipid jenuh.


12. Alkohol (F.I. Ed. IV hal. : 63)
Nama Lain
:
Rumus molekul
:
Bobot molekul
:

Etanol, Etil alcohol


C2H6O
46,07

11

Kegunaan

Pelarut Etanol mengandung


tidak kurang dari 92,3% b/b
dan tidak lebih dari 93,8%
b/b, setara dengan tidak
kurang dari 94,9% v/v dan
tidak lebih dari 96% v/v,

Pemerian

C2H5OH pada suhu 15,56o.


Cairan mudah menguap,
jernih, tidak berwarna. Bau
khas dan menyebabkan rasa
terbakar pada lidah. Mudah
menguap

walaupun pada

suhu rendah dan mendidih


pada
Kelarutan

suhu

78o.

Mudah

terbakar.
Bercampur dengan air dan
praktis bercampur dengan
semua pelarut organic.

13. Air Murni (F.I. Ed. IV hal. : 112)


Nama Resmi
:
Rumus molekul
:
Bobot molekul
:
Kegunaan
:
Pemerian
:

AQUA DESTILLATA
H2O
18,02
Pembawa
Cairan
jernih;
tidak
berwarna; tidak berbau

B. Formula Sediaan Sirup Ambroxol


Bahan aktif :
a. Ambroxol
: 180 mg
Bahan Tambahan
:
a. Nipagin
: 75 mg
b. Nipasol
: 12 mg
c. Aspartame
: 40 mg
d. Saccharin
: 40 mg
e. Sakarosa
: 10 g
f. Sodium siklamate
: 280 mg
g. Glycerine
: 6 mg
h. Sodium citrate
: 20 mg
i. Menthol
: 6 mg

12

j.
k.
l.
m.

Ponceau 4R
Titanium oxide
Alkohol 96%
Air murni ad

: 6 mg
: 1,5 mg
: 3 ml
: 60 ml

C. Cara Kerja
a. Siapakan kondisi ruang produksi pada grey area/kelas III. Syarat
jumlah cemaran partikel/m3 0,5 m, maksimal sebanyak 3,5 juta,
cemaran partikel/m3 5 m sebanyak 20 ribu, jumlah cemaran
mikroba/m3 maksimal 500, efisiensi saringan 95%, pertukaran udara>
30 kali/jam, humidif 55% pada 70 F (21,1 C)
b. Siapkan peralatan. Alat sudah dibersihkan dengan aqua typol 0,5%,
etanol 75% dan terakhir aqua kembali. Beri label telah dibersihkan.
Set peralatan sesuai dengan master formula untuk produk yang akan
c.

diproduksi. Beri label siap digunakan.


Karyawan harus sehat dan tidak berpenyakit menular. Diruang ganti
pakaian, karyawan harus melepas sepatu, mencuci tangan dengan
menggunakan cairan antiseptic khusus, keringkan, lalu ganti pakaian
rumah dengan pakaian khusus produksi, kenakan tutup kepala, sarung
tangan dan serta sepatu khusus. Karyawan masuk ke ruang produksi
melalui airlock khusus karyawan yang telah dilengkapi air shower.
Hal ini untuk mencegah perpindahan mikroba dari luar ke ruang
produksi. Masuk ke ruang produksi, sebelah ujung tidak boleh dalam
keadaan terbuka untuk mencegah aliran udara luar masuk ke ruang

d.

produksi
Botol dan tutup botol dicuci dengan Na pyrophospat 0.5% dengan
mesin cuci otomatis. Cuci dan bilas dengan aqua demineralisata
keringkan dengan tunnel dryer suhu 600C selama 2 jam. Dinginkan
selama satu jam dalam suhu kamar, bawa ke ruang produksi melalui

e.

air lock khusus bahan kemasan primer.


Bahan baku diambil dari gudang bahan baku. Kirim ke ruang
penimbangan kelas III mellalui airlock. Timbang sesuai dengan master
formula. Cek oleh kepala regu dan kepala unit. Setelah OK kirim ke
ruang produksi melalui air lock khusus bahan baku

13

f.

Bahan pengemas sekunder diambil dari gudang bahan kemas, desuai


dengan master formula / CPB produk yang akan diproduksi. Kirim ke
ruang packing sekunder (black area). Cetak no batch dan tanggal ED
sesuai master formula. Cek oleh kepala regu dan kepala unit. Kalau

g.

sudah OK baru siap untuk dipakai mengemas produk


Semua bahan baku dan bahan pengemas yang diambil dari gudang
penyimpanan masing-masing telah mengalami QC terlebih dahulu
pada masa karantina. Bahan yang dipakai adalah yang telah lulus QC.
Bila tidak memenuhi spesifikasi standar, maka bahan harus direject,

dimusnahakan langsung atau dirusak terlebih dahulu.


h.
Ruang Produksi
i. Evaluasi Sediaan
j.
Apabila produk sudah lulus QC, Sirup dimasukkan ke dalam botol
k.

serta dilabel.
Tiap 15 menit selama proses pengisian operator akan melakukan IPC:
(1)keseragaman volum dengan cara membandingkan dua botol produk
pengisian dengan botol standar kalibrasi, (2)kekencangan tutup botol

l.

secara manual, (3) kelengkapan register, batch dan expired date.


Setelah pengisian, produk yang telah disusun pada rak khusus
dikarantina, beri label quarantine, lakukan IPC: (1)uji volume
terpindahkan, (2)stabilitas sediaan, (3)pengambilan produk untuk

retain sample.
m. Bila lulus uji produk tersebut dikirim ke packing sekunder botol,
brosur dan sendok teh yang dimasukkan ke inner botol, lalu masukkan
ke outer box, beri nomor batch register pada outer box. Cek akhir.
n. Kirim ke gudang produk jadi, lakukan serah terima dari bagian
produksi ke bagian logistic

D. Evaluasi Sirup
1. Uji Pemerian
Keadaan yang di amati yaitu :

14

2.
3.
4.

5.

Warna
Rasa
Bau
Kelarutan
Pemerian dikatakan baik jika warna sirup tidak berubah dan bau
tidak hilang.
Pemeriksaan Bobot Jenis
Pemeriksaan Bobot Jenis sirup Ambroxol dilakukan dengan
menggunakan metode piknometer.
Pemeriksaan pH
Lakukan pengukuran pH menggunakan pH meter dengan
mencelupkannya dalam larutan sirup.
Pemeriksaan Viskositas
Mengukur viskositas sirup Ambroxol menggunakan Viskometer
Brookfield. Dalam menentukan viskositas cairan semakin besar nilai
viskositas suatu cairan maka semakin besar pula kekentalan cairan
tersebut.
Penetapan Kadar Zat Aktif dalam Sediaan Sirup
Pemeriksaan kadar sirup ambroxol dilakukan untuk mengetahui
kandungan zat aktif sirup ambroxol dalam sediaan sirup apakan sudah
memenuhi persyaratan kadar sirup ambroxol yang tertera dalam
Farmakope Indonesia Edisi III .

BAB IV
ASPEK CPOB
Berdasarkan Pedoman CPOB, pada Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun
2012 ada 12 aspek yang harus diperhatikan, yaitu manajemen mutu,
personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi,
pengawasan mutu, inspeksi diri, audit mutu dan audit dan persetujuan
pemasok, penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali
produk, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak,
kualifikasi dan validasi.

15

A. Manajemen Mutu
Dalam pembuatan obat ini, industri farmasi harus menyesuaikan
dengan tujuan penggunaanya, memenuhi persyaratan yang tercantum
dalam dokumen izin edar dan tidak menimbulkan resiko yang
membahayakan pengguna. Manajemen mutu harus dapat mencapai tujuan
mutu secara konsisten yang didesain secara menyeluruh dan ditetapkan
secara benar. Unsur dasar manajemen mutu adalah struktur organisasi,
prosedur, proses dan sumber daya. Tindakan sistematis dilakukan untuk
mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga
produk yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan.Keseluruhan tindakan tersebut disebut Pemastian Mutu.Dalam
aspek manajemen mutu terdapat hal-hal penting, yaitu:
a.
Pemastian Mutu (QA)
Pemastian mutu merupakan totalitas semua pengukuran yang dibuat
dengan tujuan untuk memastikan bahwa sirup ini dihasilkan dengan
b.

mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.


Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
Bagian dari pemastian mutu yang memastikan bahwa sirup ini dibuat
dan dikehendaki secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang
sesuai dengan tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar
dan spesifikasi produk.CPOB mencakup semua produksi dan

c.

pengawasan mutu.
Pengawasan Mutu (QC)
17
1) Bagian dari CPOB yang berhubungan dengan pengambilan
sampel, spesifikasi dan pengujian yang diperlukan dan relevan
telah dilakukan dan bahan yang belum diluluskan tidak
digunakan serta produk yang belum diluluskan tidak dapat dijual
atau dipasok sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi
syarat. Fungsi pengawasan mutu bersifat independen dari bagian
lain.
2) Pengkajian Mutu Produk
3) Pengkajian mutu produk dilakukan secara berkala terhadap
semua

obat

terdaftar,

temasuk

produk

ekspor

untuk

membuktikan konsistensi proses, kesesuain dari spesifikasi


bahan awal, bahan pengemas dan obat jadi, untuk melihat trend

16

dan mengidentifikasi perbaikan, ini dilakukan tiap tahun dan


didokumentasikan, dengan mempertimbangkan kajian ulang
sebelumnya.
B. Personalia
Jumlah karyawan yang ditetapkan harus memiliki cukup pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan sesuai dengan bidangnya, memiliki
kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan
tugasnya secara professional dan sebagaimana mestinya, serta mempunyai
sikap dan kesadaran tinggi untuk melaksanakan sesuai CPOB.Hal-hal yang
harus diperhatikan adalah:
a. Organisasi, kualifikasi dan tanggung jawab
Bagian produksi dan bagian pengawasan mutu dalam struktur
organisasi dipimpin oleh apoteker yang berbeda agar tanggung
jawab dan wewenang kedua bagian tersebut jelas. Masing masing
bagian diberi wewenang penuh dan sarana yang cukup untuk
melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien. Kedua bagian
tersebut tidak boleh mempunyai kepentingan lain di luar organisasi
pabrik, sehingga dapat menghambat, membatasi tanggung jawab
bagian tersebut, dan menimbulkan pertentangan kepentingan pribadi
atau financial. Selain itu, seorang manager produksi dan
pengawasan mutu harus seorang apotekr yang terampil, terlatih dan
memiliki pengalaman praktis yang memadai dibidang industry
farmasi

dan

keterampilan

dalam

kepemimpinan

sehingga

memungkinkan melaksanakan tugas secara professional.


Seorang manager produksi memiliki wewenang serta tanggung
jawab penuh untuk mengelola produksi obt, bertanggung jawab atas
kualitas obat, baik dengan manager pengawasan mutu maupun
manager teknik.Seorang manager pengawasan mutu memiliki
wewenang dan tanggung jawab penuh dalam seluruh tugas
pengawasan

mutu

yaitu

dalam

penyusunan

verifikasi

dan

pelaksanaan seluruh prosedur pengawasan mutu. Selain itu, seorang


manager pengawasan mutu memiliki wewenang untuk meluluskan
bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi bila produk

17

itu sesuai dengan spesifikasinya, atau menolaknya bila tidak cocok


dengan spesifikasinya atau bila tidak dibuat sesuai dengan prosedur
yang disetujui dan kondisi yang ditentukan.
Manager produksi dan manager pengawasan mutu bersamasama bertanggung jawab atau ikut bertanggung jawab dalam
penyusunan dan pengesahan prosedur-prosedur tertulis, pemantauan
dan pengawasan lingkungan pembuatan obat, kebersihan pabrik dan
validasi proses produksi, kalibrasi alat-alat pengukur, latihan
personalia, pemberian persetujuan terhadap pemasok bahan dan
kontraktor, pengamanan produk dan bahan terhadap kerusakan dan
kemunduran mutu dan dalam penyimpanan catatan-catatan.
Tenaga penunjang untuk membantu tenaga inti di atas, ditunjuk
tenaga yang terampil dalam jumlah yang sesuai untuk melaksanakan
supervise langsung dibagian produksi dan pengawasan mutu.
Disamping staf tersebut diatas tersedia tenaga yang terlatih secara
teknis dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan kegiatan
produksi dan pengawasan mutu yang sesuai dengan prosedur dan
spesifikasi yang telah ditentukan, serta memahami petunjuk kerja
yang tertulis.Tanggung jawab diberikan kepada setiap karyawan
tidak boleh berlebihan sehingga dapat mecegah timbulnya resiko
terhadap mutu obat.
b. Pelatihan
Pelatihan diberikan pada seluruh karyawan, baik yang
berhubungan langsung dengan proses produksi obat maupun tidak.
Karyawan dilatih mengenai kegiatan yang sesuai dengan tugasnya dan
prinsip CPOB.Pelatihan ini diberikan oleh tenaga ahli.Perhatian
khusus dalam pelatihan diberikan kepada mereka yang bekerja
diruang steril dan bekerja menggunakan bahan yang mempunyai
resiko tinggi yang berbahaya, toksik dan menimbulkan sensitifitas.
Latihan mengenai CPOB dilakukan secara berkesinambungan dan
dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin agar para karyawan
memahami

dan

mengerti

betul

dengan

persyaratan

CPOB

dilaksanakan menurut program tertulis yang telah disetujui oleh


manager produksi dan manager pengawasan.

18

C. Bangunan dan fasilitas


Bangunan untuk pembuatan obat memiliki ukuran, rancang bangunan,
konstruksi serta letak yang memadai sehingga memudahkan dalam
pelasanaan kerja, pembersihan dan pemeliharaan yang baik. Sarana kerja
yang memadai diperlukan untuk meminimalkan resiko terjadinya
kekeliruan, pencemaran silang dan berbagai kesalahan lain yang dapat
menurunkan mutu sehingga dapat dihindarkan dan dkendalikan.Syaratsyarat bangunan dan fasilitas menurut CPOB adalah sebagai berikut:
a. Lokasi bangunan dirancang untuk mencegah terjadinya pencemaran
dari lingkungan sekitar, seperti pencemaran dari udara, tanah dan air..
b. Gedung dirancang dan dipelihara agar terlindung dari pengaruh cuaca,
banjir, rembesan melalui tanah serta masuk dan bersarangnya hewan..
Pertimbangan dalam

menentukan rancang bangunan dan tata letak

bangunan adalah sebagai berikut:


a. Kesesuaian dengan kegiatan lain, yang dilakukan dalam sarana yang
samaatau dalam sarana yang berdampingan.
b. Tata letak ruang yang sedemikian rupa untuk memungkinkan
kegiatan produksi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Permukaan bagian dalam ruangan, dinding, lantai dan langitlangit di desain licin, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka serta
mudah dibersihkan serta didesinfeksi.Lantai dan dinding di daerah
pengolahan dibuat dari bahan kedap air, permukaannya rata dan
memungkinkan pembersihan secara cepat dan efisien.Sudut-sudut
antara dinding dan langit-langit dalam daerah-daerah kritis dibentuk
lekungan.
Bangunan mendapatkan penerangan yang efektif dan memiliki
ventilasi dengan fasilitas pengendali udara.Pencegahan kontaminasi
silang dilakukan terhadap bahan biologi aktif atau produk obat seperti
steroid tertentu atau bahan sitotoksik yang dalam jumlah sangat sedikit
dapat menyebabkan sfek fisiologis.
Pembagian kelas ruangan dilakukan untuk memisahkan ruangan
di dalam bangunan produksi, seperti ruangan ganti pakaian, ruangan
bahan baku dan ruangan pengolahan produksi. Tersedianya sarana

19

penyimpanan dengan kondisi khusus, seperti suhu, kelembaban dan


keamanan tertentu.Pembuatan saluran air limbah cukup besar dan
mempunyai bak control yang baik.
D. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan sirup ini memiliki
rancang bangunan dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta
ditemparkan dengan tepat, sehingga mutu yang dirancang seragam dari
batch ke batch serta untuk memudahkan pembersihan dan peralatan.
a.

Desain dan kontruksi


1) Peralatan yang digunakan tidak bereaksi atau menimbulkan akibat
bagi bahan yang diolah.
2) Peralatan dapat dibersihkan dengan mudah baik bagian dalam
maupun bagian luar serta peralatan tersebut menimbulkan akibat
yang merugikan terhadap produk.
3) Peralatan yang digunakan dalam pengolahan bahan kimia yang
mudah terbakar, ditempatkan di daerah dimana digunakan bahan
yang mudah terbakar, dilengkapi dengan perlengkapan elektris
yang kedap eksplosif serta dibumikan dengan sempurna.
4) Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji
dan mencatat, dikalibrasi menurut suatu program dan prosedur

yang tepat.
b. Pemasangan dan penempatan
1) Pemasangan dan penempatan peralatan diatur sedemikian rupa
sehingga proses produksi dapat berjalan dengan efektif dan
efisien.
2) Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara hendaklah
dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dicapai selama
kegiatan berlangsung.
3) Tiap peralatan utama diberi nomor pengenal yang jelas.
4) Semua pipa, tangki, selubung pipa uap atau pipa pendingin diberi
isolasi yang baik untuk mencegah kemungkinan terjadinya cacat
dan memperkecil kehilangan energi.
5) System-sistem penunjang seperti system pemanasan, ventilasi,
pengatur suhu, udara, air minum, kemurnian air, penyulingan air

20

dan fasilitas yang lainnya divalidasi untuk memastikan bahwa


sistem-sistem tersebut senantiasa berfungsi sesuai dengan tujuan.

E. Pemeliharaan
1) Peralatan dirawat menurut jadwal yang tepat agar tetap berfungsi
dengan baik dan mencegah terjadinya pencemaran yang dapat
merubah identitas, mutu atau kemurnian produk.
2) Prosedur-prosedur tertulis untuk perawatan peralatan dibuat dan
dipatuhi.
3) Catatan mengenai pelaksanaan pemeliharaan dan pemakaian suatu
peralatan utama dicatat dalam buku catatan harian. Catatan untuk
peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk saja,
dimasukkan kedalam catatan produksi batch produk tertentu.
F. Sanitasi dan Higiene
Tingkat sanitasi dan hygiene yang tingi diterapkan pada setiap aspek
pembuatan obat.Ruang lingkup santitasi dan hygiene meliputi personalia,
bangunan, peralatan dan perlengkapan, produksi serta wadahnya, setiap
hal

yang

dapat

merupakan

sumber

pencemaran

produk.Sumber

pencemaran dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan hygiene yang


menyeluruh dan terpadu.
a. Personalia
1) Semua karyawan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dan
selama bekerja, dan pemeriksaan mata secara berkala.
2) Semua karyawan menerapkan hygiene perorangan yang baik.
3) Tiap karyawan yang mengidap suatu penyakit yang dapat
merugikan kualitas produk dilarang menangani bahan-bahan
sampai sembuh kembali.
4) Semua karyawan melaporkan keadaan yang dapat merugikan
produk.
5) Pemakaian sarung tangan untuk menghindari sentuhan langsung
antara tangan dengan bahan dan produk.
6) Karyawan menggunakan pakaiana pelindung untuk keamanan
sendiri.

21

7) Hanya pwtugas yang berwenang yang boleh memasuki bangunan


dan fasilitas daerah terbatas.
8) Karyawan diinstruksikan agar

mencucui

tangan

sebelum

memasuki daerah produksi.


9) Merokok, makan dan minum dilarang didaerah produksi,
laboratorium, dan daerah lain yang dapat merugikan produk
10) Prosedur perorangan diberlakukan bagi semua orang.
b.

Bangunan dan fasilitas


1) Gedung dirancang
2)
3)
4)
5)

dan

dibangun

dengan

tepat

untuk

memudahkan pelaksanaan sanitasi yang baik.


Toilet dengan ventilasi yang tersedia cukup
Tempat penyimpanan pakaian memadai.
Tempat pencucian diletakkan diluar daerah steril.
Penyimpanan, penyiapan dan konsumsi makanan dibatasi

didaerah khusus dan memenuhi standar kebersihan.


6) Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk dan dikumpulkan
dalam wadah yang sesuai.
7) Rodentisida, insektisida, bahan fumigasi, dan bahan pembersih
tidak boleh mencemari peralatan dan bahan.
8) Ada prosedur tertulis (SOP/ Standard Operation Prosedure) yang
menunjukkan penanggung jawab sanitasi dan hygiene.
c. Pembersihan dan Peralatan
1) Peralatan dibersihkan, dijaga dan disimpan dalam kondisi yang
bersih serta diperiksa kembali kebersihannya sebelum dipakai.
2) Pembersihan dilakukan dengan cara vakum atau basah, dan
sedapat mungkin dihindari pencemaran produk.
3) Pembersihan dan penyimpanan alat dan bahan pembersih
dilakukan dalam ruangan yang terpisah dari pengolahan.
4) Prosedur yang tertulis untuk pembersihan dan sanitasi dibuat,
dipatuhi dan dilaksanakan.
5) Catatatn pembersihan, sanitasi, sterilisasi dan inspeksi diri
disimpan.
Validasi prosedur pembersihan dan sanitasi dengan cara
prosedur sanitasi dan hygiene divalidasi dan dievaluasi secara
berkala untuk memastikan prosedur yang bersangkutan cukup
efektif dan selalu memenuhi persyaratan.
G. Produksi

22

Pengawasan mutu merupakan bagian yang esensial dari CPOB agar


tiap bahan obat yang dibuat memenuhi persyaratan mutu yang telah
ditetapkan.Tugas pokok pengawasan mutu meliputi penyusunan prosedur,
penyiapan, instruksiProduksi dilaksanakan dengan prosedur yang telah
ditetapkan yang dapat menjamin produk obat yang memenuhi spesifikasi
yang ditentukan.
a.
Bahan Awal
1) Semua pemasukan, pengeluaran dan sisa bahan dicatat, meliputi
keterangan mengenai persediaan.
2) Setiap bahan awal ditetapkan memenuhi spesifikasi dan diberi
label dengan nama yang dinyatakan dalam spesifikasi.
3) Untuk setiap kiriman dan batch diberi nomor rujukan yang
menunjukkan identitas yang jelas.
4) Pada saat penerimaan barang dilakukan pemeriksaan visual, dan
contoh yang diambil petugas, diuji terhadap spesifikasi bahan
yang bersangkutan.
5) Kiriman bahan awal dikarantina sampai disetujui dan diluluskan
untuk dipakai.
6) Label dipasang oleh petugas yang ditunjuk oleh penanggung
jawab pengawasan mutu.
7) Persediaan awal diperiksa dalam selang waktu tertentu.
8) Bahan awal yang tidak stabil oleh pengaruh suhu, disimpan
dalam suhu udara yang diatur.
9) Bahan awal yang cenderung

rusak

potensinya

penyimpanan dinyatakan batas umurnya.


10) Pengeluaran bahan awal dilakukan oleh

petugas

dalam
yang

berwenang.
11) Tersedianya daerah penyerahan yang tersisa untuk mencegah
adanya kontaminasi silang.
12) Semua bahan awal yang tidak memenuhi syarat diberi tanda
silang, disimpan terpisah dan secepatnya dimusnahkan atau
dikembalikan ke pemasok.
b. Validasi proses
1) Semua

proses

produksi

di

validasi

dengan

tepat

dan

dilaksanakan dengan tepat menurut prosedur yang telah


ditetapkan dan hasilnya disimpan.

23

2) Sebelum suatu proses pengolahan induk ditetapkan, dilakukan


langkah-langkah

untuk

membuktikan

kecocokan

dengan

pelaksanaan produksi.
3) Perubahan peralatan atau bahan disertai dengan tindakan
validasi ulang.
4) Proses dan prosedur yang kritis dievaluasi kembali secara rutin.
c.

Pencemaran
Pencemaran kimiawi atau mikroba terhadap suatu obat yang
dapat merugikan kesehatan atau mengurangi daya terapetik atau
mempengaruhi kualitas suatu produk, tidak dapat diterima.

d. Sistem penomoran batch dan lot


1) System penomoran dijabarkan secara rinci
2) System penomoran saling berkaitan dengan produk yang dibuat.
3) System penomoran menjamin bahwa nomor tidak digunakan
berulang dan memudahkan penandaan suatu produk bila terjadi
sesuatu.
4) Pemberiaan nomor dicatat dalam buku harian.
e.

Penimbangan dan penerimaan


1) Metode

penanganan,

penimbangan,

perhitungan

dan

penyerahan bahan dan produk tercakup dalam prosedur tertulis.


2) Semua pengeluaran bahan dan produk didokumentasikan.
3) Bahan dan produk yang boleh diserahkan hanya yang telah
diluluskan oleh pengawasan mutu.
4) Sebelum dilakukan penimbangan dilakukan pemeriksaan
terhadap penandaan.
5) Kapasitas, ketepatan, dan ketelitian alat timbang sesuai dengan
jumlah bahan.
6) Pada saat penimbangan, pengukuran dilakukan pembuktian
kebenaran ketepatan identitas dan jumlah bahan.
7) Kebersihan tempat penimbangan dan penyerahan dijaga.
8) Penimbangan dan penyerahan menggunakan peralatan yang
cocok dan bersih.
9) Bahan baku yang

diserahkan

diperiksa

ulang

untuk

meminimalkan resiko penyalahgunaan dan kesalahan bahan


baku yang akan diproduksi.

24

f. Pengembalian
Semua bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk
ruahan yang dikembalikan ke gudang penyimpanan adalah produk
yang memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditetapkan dan
didokumentasikan dengan cara benar serta direkonsilasi.
g.

Pengolahan
1)
2)
3)
4)

Semua bahan yang dipakai diperikasa dahulu.


Kondisi daerah pengolahn dipantau dan dikendalikan.
Peralatan yang digunakan diperiksa terlebih dahulu.
Semua kegiatan pengolahan mengikuti prosedur tertulis yang
telah ditentukan dan penyimpanan dilaporkan dengan alas an dan

penjelasan.
5) Wadah dan penutup bahan dan produk bersih.
6) Semua wadah dan peralatan yang berisi bahan dan produk diberi
lael yang tepat.
7) Semua produk diberi label yang tepat dan dikarantina sampai
diluluskan oleh bagian pengawasan mutu.
8) Seluruh pengawasan dalam proses harus dicatat dan diteliti.
9) Hasil sesungguhnya dicatat dan dicocokkan dengan hasil teoritis.
10) Dalam sluruh tahap pengolahan harus diperhatikan masalah
pencemaran silang.
H. Pengawasan mutu
menyusun rencana pengambilan seperti meluluskan atau menolak
bahan-bahan produk, meneliti catatan sebelum produk didistribusikan,
menetapakan

kadar

kadaluarsa,

mengevaluasi

pengujian

ulang,

menyetujui penunjukan pemasok, mengevaluasi keluhan, menyediakan


baku pembanding, menyimpan catatan, mengevaluasi obat kembalian,
ikut serta pada program inspeksi diri dan memberikan rekomendasi untuk
pembuatan obat oleh pihak lain atas dasar kontrak.Didalam pengawasan
mutu, hal-hal yang diperhatikan adalah sebagai berikut:
a.
Cara berlaboratorium pengawasan mutu yang baik. Laboratorium
pengujian meliputi bangunan dan alat-alat penunjang lengkap dan
memadai, personalia terlatih dan bertanggung jawab, peralatan
instrument yang cocok untuk prosedur dan kalibrasi secara berkala,
pereaksi dan media pembiakan yang sesuai dengan monografi yang

25

bersangkutan, spesifikasi dan prosedur pengujian yang divalidasi


dengan fasilitas yang digunakan, catatan pengujian menyangkut
seluruh aspek yang diperlukan dan contoh tertinggal yang disimpan
b.

dipergunakan dalam pengujian selanjutnya.


Pengawasan terhadap bahan awal, produk antara, produk ruahan dan
obat jadi yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah spesifikasi,
cara

pengambilan

contoh

pengujian

terhadap

bahan

baku,

pengemasan, produk antara, produk ruahan dan obat jadi, uji


sterilisasi untuk produk steril, uji pirogenitas serta pengawasan
lingkungan secara berkala terhadap mutu kimiawi dan mikrobiologi
c.

dari air dan lingkungan produksi.


Dokumentasi
Dokumentasi penting yang berkaitan dengan pengawasan mutu,
yang berisi: spesifikasi, prosedur pengambilan sampel, prosedur
pencatatan dan pengujian (termasuk lembar kerja analisis dan atau
buku catatan laboratorium) laporan dan atau sertifikat analisis/ data
pemantauan lingkungan (bila diperlikan), catatan validasi metoda
analisis (bila diperlukan), prosedur dan catatan kalibrasi instrument
serta perawatan peralatan. Semua dokumentasi yang terkait catatan
bets disimpan selama 1 tahun setelah tanggal daluarsa bets

bersangkutan.
d. Pengambilan sampel
Pengambilan sampel merupakan kegiatan yang penting dari
system pemastian mutu.Personil yang mengambil sampel harus
memperoleh

pelatihan

awal

dan

pelatihan

secara

berkala.Pengambilan sampel dilakukan terhadap bahan awal dan


bahan pengemas.Jumlah sampel yang diambil hendaknya ditentukan
secara statistic dan dicantumkan dalam pola pengambilan sampel.
Kegiatan pengambilan sampel dilakukan sedemikian rupa untuk
mencegah terjadinya kontaminasi atau efek lain yang berpengaruh
terhadap mutu.
Sampel pertinggal dengan identitas yang lengkap yang mewakili
tiap bets bahan awal. Untuk sampel produk jadi disimpan dalam
kondisi yang sama dengan kondisi pemasaran sebagaimana yang

26

tertera pada label. Jumlah sampel tertinggal minimal 2 kali dari


jumlah yang dibutuhkan untuk pengujian, kecuali uji sterilitas.
Sampel tertinggal dari tiap bets hendaknya disimpan hingga 1 tahun
setelah tanggal daluarsa, untuk sampel bahan awal disimpan 2 tahun
setelah

tanggal

pelulusan

produk

terkait,

bila

stabilitasnya

memungkinkan.
e. Persyaratan pengujian
Pengujian dilakukan terhadap bahan awal, bahan pengemas,
produk antara, produk ruahan dan produk jadi sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditetapkan . Pengendalian terhadap lingkungan
dilakukan sebagai berikut: pemantauan terhadap air untuk proses
dilakukan secara berkala, pemantauan terhadap lingkungan produksi
dilakukan secara berkala, pemantauan terhadap lingkungan sekitar
area produksi untuk mendeteksi produk lain yang dapat mencemari
produk yang dilakukan secara berkala, dan pengendalian cemaran
udara.
Semua bahan pengawasan selama proses dilakukan menurut
metode yang disetujui oleh badan pengawasan mutu dan hasilnya
dicatat. Setelah batas waktu penyimpanan untuk bahan awal, produk
antara, produk ruahan dan produk jadi tersebut habis dilakukan
pengujian ulang.Berdasarkan hasil uji tersebut bahan atau produk
dapat diluluskan kembali untuk digunakan atau ditolak. Bila bahan
disimpan pada kondisi tidak sesuai, bahan tersebut diuji ulang dan
dinyatakan lulus sebelum digunakan selama proses.
Dilakukan pengujian bahan tambahan pada produk jadi hasil
pengolahan ulang.Bagian pengawasan muutu ikut serta dalam
pembuatan prosedur pengolahan induk dan prosedur pengemasan
induk.
Studi stabilitas dirancang untukl mengetahui stabilitas dari
produk, dan program ini dipatuhi dan mencakup jumlah, kondisi
penyimpanan, dan metode pengujian. Penelitian stabiliatas dilakukan
terhadap produk baru, kemasan baru, perubahan formula dan batch
yang diluluskan.

27

I.

Inspeksi Diri, Audit Mutu, Audit dan Persetujuan Pemasok


Tujuan dari audit diri adalah untuk melakukan penilaian apakah
seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu selalu memenuhi CPOB.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah mecakup karyawan, bangunan,
penyimpanan, bahan awal obat dan obat jadi, peralatan, produksi,
pengawasan mutu, dokumetasi, pemeliharaan gedung dan peralatan.
Tim inspeksi diri ditunjuk oleh pemimpin perusahaan sekurangkurangnya tiga orang dari bidang yang berlainan dan paham mengenai
CPOB.Pelaksanaan dan selang waktu inspeksi diri sesuai kebutuhan,
sekurang-kurangnya
mencakup

hasil,

sekali

dalam

penilaian,

setahun.Laporan

kesimpulan

dan

inspeksi

usulan

diri

tindakan

perbaikan.Tindak lanjut inspeksi diri berdasarkan laporan dilakukan oleh


pemimpin perusahaan.
Audit mutu berguna sebagai pelengkap dari inspeksi diri, yang
meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari system
managemen mutu dengan tujuan spesifikasi untuk meningkatkan mutu,
dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau independen atau tim khusus.
Audit mutu diperluas terhadap pemasok dan penerima kontrak.Daftar
pemasok yang disetujui ditinjau ulang secara berkala dan dievaluasi
secara teratur.
J. Penanganan Keluhan Terhadap Produk dan Penarikan Kembali
Produk
Penarikan kembali produk jadi berupa penarikan kembali satu atau
beberapa batch.Hal ini dilakukan bila ada produk yang menimbulkan efek
samping atau masalah medis lainnya yang menyangkut fisik, reaksi-reaksi
alergi, efek toksik.Penanganan keluhan dan laporan dicatat dan
secepatnya ditangani kemudian dilakukan penelitian dan evaluasi.Tinjak
lanjut dilakukan berupa tindakan perbaikan, penarikan obat dan
dilaporkan kepada pemerintah yang berwenang.
Obat kembalian dapat dikelompokkan sebagai berikut: yang masih
memenuhi spesifikasi yang dapat digunakan, yang dapat diolah ulang dan
yang tidak dapat diolah ulang. Prosedur penanganan produk kembalian
mencakup

jumlah,

karantina,

penelitian,

pengolahan

kembali,

28

pemeriksaan dan pengawasan mutu yang seksama.Obat kembalian yang


tidak dapat diolah ulang dimusnahkan dan dibuat prosedur.
Pencatatan dilakukan untuk penanganan obat kembalian dan
dilaporkan dan setiap pemusnahan dibuat berita acara yang ditanda
tangani oleh pelaksana dan saksi.
K. Dokumentasi
Dokumentasi pembuatan obat merupakan bagian dari sisteminformasi
dan managemen yang meliputi spesifikasi bahan baku, bahan pengemas,
produk antara, produk ruahan dan obat jadi, dokumen dalam produksi,
dokumen dalam pengawasan mutu, dokumen penyimpanan dan distribusi,
dokumen dalam pemeliharaan, pembersihan dan pengendalian ruangan
serta peralatan, dokumen dalam pengamanan keluhan obat dan obat jadi,
dokumen untuk peralatan khusus, prosedur dan catatan tentang inspeksi
diri, pedoman dan catatan tentang pelatihan CPOB bagi karyawan.
L. Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
Dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat
menyebabkan

produk atau pekerjaan dengan mutu

yang

tidak

memuaskan.Kontrak tertulis antara pemberi dan penerima kontrak dibuat


secara jelas menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing
pihak. Kontrak menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets
produk yang menjadi tanggung jawab kepala bagian pemastian mutu
(QA).
M. Kualifikasi dan Validasi
a. Kualifikasi
1) Kualifikasi Desain (KD)
Merupakan unsure pertama dalam melakukan validasi
terhadap fasilitas, system atau peralatan yang baru.
2) Kualifikasi Instalasi (KI)
Dilakukan terhadap fasilitas, system dan peralatan baru atau
yang dimodifikasi. Persyaratan minimal untuk melakukan KI
adalah: instalasi peralatan, pipa dan sarana penunjang dan
instrument sesuai spesifikasi dan gambar teknik yang didesain;
pengumpulan dan penyusunan dokumen pengoperasian dan

29

perawatan peralatan dari pemasok; ketentuan dan persyaratan


kalibrasi; dan verifikasi bahan konstruksi.
3) Kualifikasi Operasional (KO)
KO dapat dilakukan setelah KI. KO minimal mencakup:
pengujian tentang proses system dan peralatan; dan pengujian
yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup batas
operasional

atas

dan

bawah.

Penyelesaikan

formal

KO

mencakup: kalibrasi, prosedur, pengoperasian dan pembersihan,


pemilihan operator dan perawatan preventif. Penyelesaian KO
fasilitas, system dan peralatan dilengkapi dengan persetujuian
tertulis.
4) Kualifikasi Kinerja (KK)
KK dilakukan setelah KO selesai, meskipun dalam beberapa
kasus KK disatukan dengan KO. KK minimal mencakup:
pengujian dengan menggunakan bahan baku, bahan pengganti
yang memenuhi spesifikasi atau produk simulasi yang dilakukan
berdasarkan pengetahuan tentang proses, fasilitas, system dan
peralatan; dan uji yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang
mencakup batas atas dan bawah.
5) Kualifikasi fasilitas
Peralatan dan system terpasang yang telah operasional agar
dapat mendukung dan memverifikasi parameter operasional dan
batas variable kritis pengoperasian alat.Kalibrasi, prosedur,
pengoperasian dan pembersihan, perawatan preventif serta
prosedur dan catatan pelatihan operator didokumentasikan.
b. Validasi Proses
Terdapat 3 macam cara untuk melakukan validasi proses:
1) Validasi Prospektif
Validasi proses sebelum produk dipasarkan
2) Validasi konkuren
Validasi proses dilakukan selama proses produksi rutin
3) Validasi Retrospektif
Validasi yang dilakukan pada proses yang sudah berjalan
(diambil dari data-data sebelumnya). Validasi ini tidak berlaku
jika terjadi perubahan formula, peralatan dan prosedur pembuatan

30

c. Validasi Perbersihan
Pembersihan dilakukan dengan metode analisis yang tervalidasi
yang memiliki kepekaan untuk mendeteksi residua tau cemaran serta
memiliki batas deteksi yang peka untuk mendeteksi tingkat residu
atau cemaran. Prosedur pembersihan untuk produk dan proses serupa
dilakukan pembersihan pada rentang interval waktu tertentu. Syarat
metode tersebut telah tervalidasi adalah dengan melaksanakan
prosedur 3 kali secara berurutan dengan hasil memenuhi persyaratan.
d. Pengendalian Perubahan
Prosedur pengendalian perubahan memastikan bahwa data
pendukung cukup untuk menunjukan bahwa proses yang diperbaiki
akan menghasilkan suatu produk yang sesuai mutu yang diinginkan
dan konsisten dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Dampak perubahan fasilitas, system dan peralatan terhadap
produk dievaluasi, termasuk analisis resiko, kemudian dikualifikasi
dan validasi ulang dengan berdasarkan kebutuhan dan cakupannya.
e. Validasi Ulang (revalidasi)
Fasilitas, system, peralatan dan proses termasuk proses
pembersihan secara berkala dievaluasi untuk konfirmasi bahwa
validasi yang telah dilakukan masih abash. Jika terjadi perubahan
maka dibutuhkan validasi ulang/revalidasi.
f.

Validasi Metode Analisis


Tujuannya adalah untuk mengetahui bahwa metode analisis
sesuai tujuan penggunaanya. Validasi proses analisis dilakukan 4
tahapan: uji identitas, uji kuantitatif kemurnian kandungan, uji batas
impuritas, dan uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan atau obat
atau komponen obat tertentu.
Karakteristik validasi yang diperhatikan yaitu akurasi, presisi,
repeatability, intermediate precision, spesifikasi, batas deteksi/ LOD,
batas kuantifikasi/LOQ, linieritas, dan rentang.

g. Perencanaan Validasi

31

Semua kegiatan validasi direncanakan dahulu dan


didokumentasian sementara secara singkat, tepat dan jelas dalam RIV
(Rencana IndukValidasi). RIV mencakup: kebijaksanaan validasi;
struktur organisasi kegiatan validasi; ringkasan fasilitas, system,
peralatan dan proses yang akan divalidasi; format dokumen,
protocol,dan laporan validasi, perencanaan dan jadwal pelaksanaan;
pengendalian perubahan acuan dokumen yang digunakan.
h. Dokumentasi
Protokol validasi tertulis dibuat untuk merinci kualifikasi dan
validasi yang akan dilakukan, serta merinci langkah kritis dan criteria
penerimaan. Protocol dikaji dan disetujui oleh kabag QA.
Laporan dibuat yang mengacu pada protocol kualifikasi dan atau
protocol validasi yang mencakup seluruh hasil yang diperoleh serta
penyimpanan yang terjadi dan perbaikan yang telah dilakukan dan
didokumentasikan.Setelah kualifikasi selesai diberikan peretujuan
tertulis untuk dapat melanjutkan tahap kualifikasi dan validasi.
BAB V
PEMBAHASAN
Dalam suatu produksi sediaan haruslah memenuhi persyaratan Cara
Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) yang bertujuan untuk memastikan agar
mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaan.
Prinsip Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk menjamin
obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan
sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Berdasarkan Pedoman CPOB Tahun 2012 ada 12 aspek yang harus
diperhatikan, yaitu manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas,
peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri,
audit mutu dan audit dan persetujuan pemasok, penanganan keluhan terhadap
produk dan penarikan kembali produk, dokumentasi, pembuatan dan analisis
berdasarkan kontrak, kualifikasi dan validasi.

32

Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa.


Kadar sakarosa tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66% seperti yang
tercantum dalam Farmakope Indonesia III.
Banyak orang menyenangi sedian sirup terlebih khusus disenangi oleh
anak-anak karena rasanya yang manis dan aroma yang harum serta warna
yang menarik serta baik bagi orang yang susah menelan obat dalam bentuk
sediaan oral lainnya.
Dalam formula terdapat zat aktif serta zat tambahan sukrosa sebagai
larutan gula/pemanis, nipagin dan nipason sebagai pengawet, aspartame
sebagai pemanis, saccharin sebagai perasa, sakarosa sebagai pemanis, sodium
siklamate sebagai pemanis, glycerine sebagai pemanis, sodium sitrat sebagai
penetral, menthol sebagai perasa, ponceau 4R sebagai zat pewarna, titanium
oxide sebagai

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dalam suatu proses produksi sediaan obat harus memenuhi
persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
2. Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa.
Kadar sakarosa tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%.
3. Sediaan sirup disenangi semua orang terlebih oleh anak-anak karena
rasanya yang manis dan aroma yang harum serta warna yang menarik
serta baik bagi orang yang susah menelan obat dalam bentuk sediaan
tablet.
4. Ambroxol diindikasikan sebagai terapi sekretolitik pada penyakit
bronkopulmonalis berhubungan dengan sekresi lendir lendir abnormal
dan transportasi terganggu.
B. Saran

33

Perlu berinovasi dalam pembuatan formula obat

DAFTAR PUSTAKA
Ansel HC. 2009. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Ed:9.Jakarta:UI-Press.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2012. Peraturan
Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia
Nomor HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 Tentang Penerapan
Pendoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, Jakarta
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Petunjuk
Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik
(CPOB Jilid I). Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia edisi III.
1979. Jakarta.
Karunia F. B., 2013. Food Science and Culinary Education Journal. FSCEJ 2
(2) (2013).
Gunawan, S.G., Setiabudy R., Nafrialdi dan Elysabeth. 2007. Farmakologi
dan Terapi. Edisi ke-5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

34

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia No. 1799/MENKES/PER/XII/2010
Tentang Industri Farmasi, Jakarta.
Rowe, Raymond C; Sheskey, Paul J; Quinn, Marian E. 2009. Handbook of
Pharmaceutical Exipient Sixth Edition. Pharmaceutical Press and
American Pharmacists Association. USA.
Voight, Rudolf. (1995). Buku Pelajaran
kelima.UGM Press.Yogyakarta.

37

Teknologi

Farmasi.Edisi