Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA II

NAMA NIM KEL.PRAKTIKUM/KELAS ASISTEN JUDUL

: HASTI RIZKY WAHYUNI : 08121006069 VII / GANJIL : Dr. rer.nat Mardyanto, M.Si, Apt. : DETEKSI GULA PEREDUKSI

LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

PRAKTIKUM I DETEKSI GULA PEREDUKSI

I.

Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa mampu memahami prinsip deteksi gula pereduksi secara umum yang merupakan keterampilan dasar dalam bidang keahlian biokimia klinik.

II.

Prinsip
Melakukan uji coba kadar glukosa dalam sampe dengan mengamati perubahan yang terjadi pada larutan glukosa setelah ditambahkan reagen Benedict dan reagen Fehling A dan Fehling B, serta dilakukan pemanasan.

III.

Dasar Teori
Karbohidrat, yang lazim dikenal sebagai gula berdasarkan ukurannya terbagi menjadi menjadi empat kelas yang berbeda:

monosakarida, disakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan dan fruktosa, adalah gula-gula paling kecil. Mereka dapat disatukan bersama-sama oleh ikatan glikosidat untuk membentuk kelas karbohidrat yang lain. Disakarida misalnya sukrosa, maltosa, dan laktosa, masing-masing terdiri dari 2 monosakarida disatukan oleh sebuah ikatan glikosidat. Oligosakarida, misalnya komponen karbohidrat glikoprotein dan glikolipid, mengandung 3 sampai sekitar 12 unit monosakarida.Polisakarida, misalnya kanji dan glikogen, mengandung puluhan ribu unit monosakarida. Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen yang terdapat dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O. Karbohidrat sebenarnya adalah polisakarida aldehida dan keton atau turunan mereka. Monosakarida adalah satuan karbohidrat yang tersederhana, yang tidak dapat dihidrolisis menjadi molekul karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida dapat diikat bersama-sama membentuk

dimer, trimer dan sebagainya dan akhirnya polimer. Sedangkan monosakarida yang mengandung gugus aldehid disebut aldosa. Glukosa, galaktosa, ribose, dan deoksiribosa semuanya adalah aldosa. Monosakarida seperti fruktosa dengan gugus keton disebut ketosa (Fessenden, 1990). Karbohidrat yang tidak bisa dihrolisis ke susunan yang lebih simpel dinamakan monosakarida, karbohidrat yang dapat dihidrolisis menjadi dua molekul monosakarida dinamakan disakarida. Sedangkan karbohidrat yang dapat dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida dinamakan polisakarida. Monosakarida bisa diklasifikasikan lebih jauh, jika

mengandung grup aldehid maka disebut aldosa, jika mengandung grup keton maka disebut ketosa. Glukosa punya struktur molekul C6H12O6, tersusun atas enam karbon, rantai lurus, dan pentahidroksil aldehid maka glukosa adalah aldosa. Contoh ketosa yang penting adalah fruktosa, yang banyak ditemui pada buah dan berkombinasi dengan glukosa pada sukrosa disakarida (Morrison,1983). Gula pereduksi adalah semua gula yang memiliki kemampuan untuk mereduksi dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton

bebas.Aldehid dapat teroksidasi langsung melalui reaksi redoks.Namun, gugus keton tidak dapat teroksidasi secara langsung, gugus keton, tetapi harus diubah menjadi aldehid dengan perpindahan tautomerik yang memindahkan gugus karbonil ke bagian akhir rantai. Monosakarida yang termasuk gula reduksi antara lain glukosa, fruktosa, gliseraldehida, dan galaktosa. Untuk disakarida, contohnya adalah laktosa dan

maltosa.Sedangkan yang termasuk gula non-reduksi adalah sukrosa. Gula non-reduksi dicirikan dengan tidak adanya struktur rantai terbuka, sehingga tidak rentan terhadap proses oksidasi reduksi. Pada polimer glukosa seperti amilum dan turunan amilum (maltodextrin dan dextrin), makromolekulnya dimulai dengan gula reduksi.Umumnya gula pereduksi yang dihasilkan berhubungan erat dengan aktifitas enzim, dimana semakin tinggi aktifitas enzim maka semakin tinggi pula gula pereduksi yang dihasilkan.Persentase gula reduksi di dalam turunan amilum/pati disebut dengan dextrose equivalent (DE).

IV.

Alat dan Bahan


a) Alat yang digunakan dalam praktikum ini : 1. Beaker gelas 2. Pipet tetes 3. Gelas ukur 4. Tabung reaksi 5. Bunsen b) Bahan yang digunakan dalam praktikum ini : 1. Larutan glukosa 2. Aquadest 3. Reagen Benedict 4. Reagen Fehling A dan Fehling B 5. NaOH

V.

Cara Kerja
1. Dengan pereaksi Benedict Larutan glukosa Dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi masing-masing 20 tetes Ditambahkan Aquadest 1 mL pada tabung reaaksi 2, dan aquadest 2 mL pada tabung reaksi 3 Ditambahkan Reagen Benedict 1 ml pada setiap tabung reaksi Diamati Perubahan warna yang terjadi Dipanaskan

Di atas Bunsen selama 20 detik Ditambahkan NaOH 1 tetes Diamati Perubahan warna larutan dan catat waktu perubahan serta tentukan kadar glukosa pada setiap larutan

2. Dengan pereaksi Fehling A dan B


Masukkan larutan glukosa ke dalam 3 tabung reaksi masing-masing 10 tetes Ditambahkan Aquadest 1 mL pada tabung reaksi 2, dan aquadest 2 mL pada tabung reaksi ke 3 Ditambahkan Reagen Fehling A 1 ml dan fehling B 1 ml dan pada setiap tabung reaksi Diamati Perubahan warna larutan dan catat waktu setiap terjadi perubahan warna Dipanaskan Diatas Bunsen hingga terjadi perubahan warna yang konstan dan catat waktu perubahan

VI.

Hasil Pengamatan
Warna benedict : biru Warna larutan glukosa : putih Warna aquadest : biru - Warna Fehling A : Putih - Warna Fehling B : Biru

1. Hasil dengan Menggunakan Reagen Benedict


No

Percobaan Glukosa (20 tetes) + Benedict (1 ml) dipanaskan


selama 20 detik

+ NaOH (1 tetes) 2 Glukosa (20 tetes) + Aquadest 1 ml + Benedict (1 ml)


dipanaskan selama 20 detik

Hasil Pengamatan Larutan berwarna kuning Larutan berwarna oranye Larutan berwarna oranye pekat (kecoklatan) Larutan berwarna kuning Larutan berwarna oranye Larutan berwarna oranye pekat Larutan berwarna kuning Larutan berwarna oranye kehijauan Larutan berwarna oranye homogen

Waktu (dtk)

Kadar Glukosa (+++) 1,5-2,5 g/dl

Gambar

9 14 22 10 17 49

(+++) 1,5-2,5 g/dl

+ NaOH (1 tetes) Glukosa (20 tetes) + Aquadest 2 ml + Benedict (1 ml) dipanaskan selama 20 detik+ NaOH (1 tetes)

1 17 24

(+++) 1,5-2,5 g/dl

2. Reagen Fehling A dan Fehling B


No 1 Percobaan Glukosa (20 tetes) + Fehling A (1 ml) + Fehling B (1 ml) Hasil Pengamatan Pada detik ke-8: Larutan berubah warna dari biru muda menjadi biru dongker. Pada detik ke-21: Larutan berubah menjadi warna hijau. Pada detik ke-35: Terbentuk 3 lapisan warna (biru, kuning, cokelat). Pada 1 menit 15 detik: Terbentuk 4 lapisan warna (hijau, kuning, cokelat, bening). Larutan berubah warna menjadi kecoklatan pada detik ke-20. Pada detik ke-6: Larutan berubah warna dari biru muda menjadi biru dongker. Pada detik ke-40: Larutan berubah menjadi warna hijau. Pada 1 menit 40 detik: Larutan berubah menjadi warna hijau lumut. Pada 3 menit 40 detik: Terbentuk 2 lapisan warna (cokelat dan orange). Larutan berubah warna menjadi kecoklatan pada detik ke-23. Pada detik ke-3: Larutan berubah warna dari biru muda menjadi biru tua. Gambar

Saat Pemanasan 2 Glukosa (20 tetes) + Aquadest 1 ml + Fehling A (1 ml) + Fehling B (1 ml)

Saat Pemanasan 3 Glukosa (20 tetes) + Aquadest

2 ml + Fehling A (1 ml) + Fehling B (1 ml) Saat Pemanasan

Pada detik ke-43: Larutan berubah menjadi warna hijau. Larutan berubah warna menjadi merah kecoklatan pada detik ke-34.

VII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan tentang deteksi gula pereduksi pada glukosa. Dalam hal ini, digunakan peraksi Benedict dan Fehling (A dan B). Larutan Benedict dan Fehling (A dan B) yaitu indicator atau reagen yang digunakan untuk menguji dan mengetahui kandungan gula pereduksi yaitu glukosa pada sampel dalam berbagai konsentrasi. Kadar glukosa yang dihasilkan dapat terlihat dari warna larutan sampel yang dihasilkan. Urutan warna yang menunjukkan kadar glukosa tinggi sampai yang paling rendah adalah merah (2,5-4,0 g/dl), orange (1,5-2,5 g/dl), kuning (1-1,5 g/dl), hijau dengan endapan kuning (0,5-1,0 g/dl) dan biru hijau tak ada endapan (0,0-0,1 g/dl). Dalam percobaan ini, warna larutan glukosa yang bercampur dengan air tetap berwarna putih, dan warna reagen benedict berwarna biru. Saat larutan glukosa dan larutan Benedict dicampur, akan membentuk 2 lapisan yang tidak saling bercampur, namun lama kelamaan akan saling bercampur, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

3 sampel glukosa dengan berbagai konsentrasi (tanpa air, dengan 1 ml, dan 2 ml, air)

Glukosa murni + Pereaksi Benedict

Larutan glukosa dengan adanya penambahan reagen benedict akan saling bereaksi. Pereaksi Benedict mengandung atom Cu yang terikat sebagai kompleks. Glukosa mengandung gugus aldehid yang dapat dioksidasi asam karboksil sehinggaakan mereduksi ion kupri pada larutan Benedict. Dalam reaksi ini glukosa diubah menjadi asam onat, yang membentuk garam karena adanya basa. Pemanasan dalam hal ini berperan untuk mempercepat reaksi antara larutan glukosa dengan reagen benedict. Selanjutnya dengan adanya penambahan NaOH adalah untuk menciptakan suasana basa karena reduksi terjadi dalam basa yang akan mempercepat terjadinya endapan Cu2O. Pada gambar di bawah ini terlihat adanya reaksi antara benedict dan larutan glukosa penambahan air 2 mL), serta perubahan saat larutan ditetesi NaOH 1 tetes.

Pemanasan Glukosa + Benedict

Penambahan NaOH

Perubahan warna dari biru menjadi hijau setelah penambahan NaOH

Dalam waktu kurang lebih 34 detik, warna larutan akan segera menjadi kuning, selanjutnya oranye, dan menjadi oranye yang sangat pekat. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Pada uji Benedict semua sampel glukosa menunjukkan perubahan warna dari biru menjadi orange yang menunjukkan bahwa sampel mengandung glukosa sebanyak 1,5-2,0 g/dl. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Ketiga sampel ini berbeda tergantung pada adanya pengenceran dengan air atau tidak. Pada sampel 1 yang merupakan larutan glukosa murni menunjukkan waktu perubahan yang lebih cepat dibandingkan pada sampel lain yang ditambahkan air. Pada uji Fehling, dilakukan penambahan Fehling A dan B dengan volume yang sama. Jika terdapat gula pereduksi pada sampel maka warna biru dari pereduksi Fehling akan hilang dan endapan merah atau kuning dari Cu2O akan terbentuk. Seperti halnya pereaksi fehling, glukosa akan diubah menjadi asam onat (fehling mengoksidasi aldosa menjadi aldonat), sedangkan pereaksi benedict (sebagai Cu++) akan tereduksi menjadi kupro oksida. Jadi dalam uji ini akan

terjadi proses oksidasi dan reduksi. Dalam pereaksi ini ion Cu2+direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basaakan diendapkan sebagai Cu2O (kupro oksida). Sama halnya dengan uji benedict bahwa konsentrasi glukosa yang encer bereaksi lebih lama dibandingan konsentrasi yang lebih pekat.

Perubahan setelah ditetesi Fehling A dan B

Saat pemanasan

Hasilnya

VIII. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Sampel glukosa menunjukkan reaksi positif dengan pereaksi benedict ditunjukkan dengan warna orange dengan kadar glukosa 1,5-2,5 g/dl. 2. Sampel glukosa menunjukkan reaksi positif dengan pereaksi fehling (A dan B) ditunjukkan dengan warna kecoklatan. 3. Gradasi warna saat pemberian pereaksi fehling disebabkan oleh tingkatan bereaksinya glukosa dengan fehling, jika semakin pekat maka glukosa sudah mereduksi fehling secara sempurna. 4. Glukosa mereduksi ion Cu2+ pada pereaksi benedict dan fehling menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa diendapkan sebagai Cu2O (kupro oksida). 5. NaOH digunakan untuk menciptakan suasana basa agar mempercepat terbentuknya endapan Cu2O (kupro oksida).

Daftar Pustaka
Clark, John M. 1964. Experimental Biochemistry. San Franciso : WH Freeman and Company. Eaton, David C. 1980. The World of Organic Chemistry. New york: Mc-Graw-Hill Book Company. Fessenden, Ralp J. 1990. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga. Morrison, Robert Thornton. 1983. Organic Chemistry Fourth Edit. New York: New York University.