Anda di halaman 1dari 14

BAB II ISI A. Konsep Dasar Penyakit a.

Definisi Kritis dan Terminal Kritis merupakan suatu keadaan penyakit kritis dimana

memungkinkan sekali kien meninggal. Contoh : gangguan kesadaran (coma meninggal). Keadaan hampir meninggal/sakaratul maut. Contoh : Ca stadium lanjut. (Purwaningsih Wahyu, 2009 :151 ) Terminal adalah keadaan penyakit yang merupakan kondisi penyakit yang berat dan tidak dapat disembuhkan lagi. ( Purwaningsih Wahyu, 2009 :151 ) Jadi, kritis adalah suatu kondisi yang mana pasien dalam keadaan gawat tetapi masih ada kemungkinan untuk mempertahankan kehidupan, sedangkan terminal adalah fase akhir kehidupan pasien, menjelang kematian ( sakaratul maut/ dying ), yang dapat berlangsung dalam waktu singkat atau panjang. Bagi setiap orang, kematian merupakan suatu kehilangan, yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.

b. Respon Klien Terhadap Penyakit Kritis dan Terminal Penyakit kronik dan keadaan terminal dapat menimbulkan respon biopsiko-sosial-spiritual ini akan meliputi respon kehilangan : 1. Kehilangan Kesehatan Klien merasa takut, cemas dan pandangan tidak realistis, aktifitasnya terbatas. 2. Kehilangan Kemandirian Ditunjukkan melalui berbagai perilaku, bersifat kekanak-kanakan, ketergantungan. 3. Kehilangan Situasi Klien merasa kehilangan situasi yang dinikmati sehari-hari bersama keluarga/kelompoknya. 4. Kehilangan Rasa Nyaman

Gangguan rasa nyaman muncul sebagai akibat gangguan fungsi tubuh seperti : panas, nyeri, dll. 5. Kehilangan Fungsi Fisik Contoh : klien gagal ginjal harus dibantu melalui hemodialisa. 6. Kehilangan Fungsi Mental Klien mengalami kecemasan dan depresi, tidak dapat berkonsentrasi dan berfikir efisien sehingga klien tidak dapat berfikir secara rasional. 7. Kehilangan Konsep Diri Klien dengan penyakit kronik merasa dirinya berubah mencakup bentuk dan fungsi tubuh sehingga klien tidak dapat berfikir secara rasional (body image) peran serta identitasnya. Hal ini akan mempengaruhi idealisme diri dan harga diri menjadi rendah. 8. Kehilangan peran dalam kelompok dan keluarga. ( Purwaningsih Wahyu, 2009 :152 ) Reaksi terhadap kehilangan adalah berduka, merupakan respon emosi yang wajar dan subyektif untuk mencapai kesehatan jiwa. Proses berduka terdiri dari : Bereavement grieving : proses / reaksi berduka terhadap kehilangan Mourning grieving : periode menerima kehilangan Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan : 1. Usia dan tingkat perkembangan : pada usia bayi hingga balita, individu belum begitu mengerti mengenai arti kehilangan, mulai usia sekolah hingga dewasa, sudah dapat merasakan arti kehilangan. 2. Makna Kehilangan : bersifat subyektif bagi setiap individu, sehingga tidak dapat disamaratakan. Misalnya : Nn. A menggunakan ballpoint yang, sebenarnya dijual dibanyak tempat dengan harga 5000 rupiah. Pada saat ia kehilangan bollpoint tersebut, ia menangis dan terus menerus mencarinya. Baginya walaupun harga ballpoint hanya 5000 rupiah tapi makna dari benda tersebut sangat besar karena pemberian dari orang yang sangat ia kagumi. 3. Kultur / budaya : budaya jawa mempunyai prinsip nrimo , sehingga kematian seseorang harus selalu diikhlaskan. Pada suku Toraja, bila

seseorang meninggal dunia, semakin banyak orang yang menangisi, menunjukkan bahwa almarhum adalah orang yang mempunyai pengaruh pada saat hidupnya, atau orang yang disayangi / dihormati oleh banyak orang, sehingga bila ia berasal dari keluarga kecil, maka keluarga akan menyewa orang untuk menangisi jenazahnya. Ada juga tradisi / budaya yang menunjukkan reaksi berduka dengan mendoakan almarhum pada hari ketiga, ketujuh, ke 40 hari, 100 hari, dan seterusnya. 4. Keyakinan spiritual : individu yang beragama Katolik, Kristen dan Islam meyakini bahwa seseorang yang telah meninggal dunia akan mempunyai kehidupan lain sesuai dengan amal baktinya selama ia hidup di dunia ( di neraka atau Surga ), dan doa dari anggota keluarga atau dari kerabat yang masih hidup akan membantu mengantarkan almarhum ke kehidupannya di alam baka, selain itu dianjurkan untuk tidak membebani perjalanannya dengan meneteskan airmata pada jasadnya. Sedangkan individu yang beragama Hindu dan Budha, meyakini juga ada kehidupan lain di alam baka dan kemungkinan akan reinkarnasi. Keyakinan setiap individu sesuai dengan spiritualnya akan mempengaruhi juga reaksi berdukanya. Semakin kuat imannya, semakin positif reaksi berdukanya. 5. Jenis kelamin dan Perannya : seorang ibu yang tidak mempunyai pekerjaan dan hanya bergantung pada suami, akan sangat merasa kehilangan bila suaminya meninggal. Seorang suami yang biasanya hanya berfikir untuk mencari nafkah, akan sangat kehilangan bila istrinya meninggal karena ia tidak terbiasa mengurus anak-anaknya. 6. Status sosial ekonomi : kematian seseorang yang merupakan tulang punggung keluarga akan mempengaruhi reaksi kehilangan. c. Psikodinamika Penyakit Kritis dan Terminal 1. Dinamika Individu Kubler-Rosa (1969), telah menggambarkan atau membagi tahap-tahap menjelang ajal (dying) dalam 5 tahap, yaitu : a. Menolak (Denial) Pada tahap ini klien tidak siap menerima keadaan yang sebenarnya terjadi dan menunjukkan reaksi menolak.

b. Marah (Anger) Kemarahan terjadi karena kondisi klien mengancam kehidupannya dengan segala hal yang telah diperbuatnya sehingga menggagalkan cita-citanya. c. Menawar (Bargaining) Pada tahap ini kemarahan baisanya mereda dan pasien malahan dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang terjadi dengan dirinya. d. Kemurungan (Depresi) Selama tahap ini, pasien cenderung untuk tidak banyak bicara dan mungkin banyak menangis. Ini saatnya bagi perawat untuk duduk dengan tenang disamping pasien yang sedangan melalui masa sedihnya sebelum meninggal. e. Menerima atau Pasrah (Acceptance) Pada fase ini terjadi proses penerimaan secara sadar oleh klien dan keluarga tentang kondisi yang terjadi dan hal-hal yang akan terjadi yaitu kematian. Fase ini sangat membantu apabila kien dapat menyatakan reaksi-reaksinya atau rencana-rencana yang terbaik bagi dirinya menjelang ajal. Misalnya: ingin bertemu dengan keluarga terdekat, menulis surat wasiat. (Achir Yani S. Hamid, 2008 : 37 ) 2. Dinamika Keluarga Respon keluarga bersama dengan respon emosi klien ; pengingkaran, marah, cemas dan depresi. 3. Dinamika Lingkungan Dengan kesadaran bervariasi menimbulkan dinamika bagi klien stigma sosial ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial perubahan peran dalam kelompok sosial merupakan hambatan dalam melaksanakan fungsi sosial secara normal. ( Purwaningsih Wahyu, 2009 :154 )

B. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Penyakit Kritis dan Teminal 1. Pengkajian a. Pengkajian Terhadap Klien Perlu dikaji bagaimana upaya klien dalam mengatasi kehilangan dan perubahan yang terjadi. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain : 1) Respon emosi klien terhadap diagnosa 2) Kemampuan mengekspresikan perasaan sedih terhadap situasi 3) Upaya klien dalam mengatasi situasi 4) Kemampuan dalam mengambil dan memilik pengobatan 5) Persepsi dan harapan klien 6) Kemampuan mengingat masa lalu. b. Pengkajian Keluaraga Perawat perlu mengatahui persepsi keluarga terhadap penyakit klien dan sejauh mana pengaruhnya terhadap keluarga, kelebihan dan kekurangan yang memerlukan dukungan dan intervensi. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain : 1) Respon keluarga terhadap klien 2) Ekspresi emosi keluarga dan toleransinya 3) Kemampuan dan kekuatan keluarga yang diketahui 4) Kapasitas dan sistem pendukung yang ada 5) Pengertian oleh pasangan sehubungan dengan gangguan fungsional 6) Proses pengambilan keputusan 7) Identifikasi keluarga terhadap perasaan sedih akibat kehilangan dan perubahan yang terjadi. c. Pengkajian Lingkungan Sumber daya yang ada. Stigma masyarakat terhadap keadaan normal dan penyakit. Kesediaan untuk membantu memenuhi kebutuhan. Ketersediaan fasilitas partisipasi dalam asuhan keperawatan kesempatan kerja. ( Purwaningsih Wahyu, 2009 :154-155 )

2. Diagnosa Keperawatan 1) Diagnosa Keperawatan Klien Kritis a. Respon pengingkaran yang tidak kuat berhubungan dengan

kehilangan dan perubahan. b. Kecemasan yang meningkat berhubungan dengan ketidakmampuan mengekspresikan perasaan. c. Gangguan berhubungan (menarik diri) berhubungan dengan

ketidakmampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari (ADL). d. Gangguan body image berhubungan dengan dampak penyakit yang dialami. e. Resiko tinggi terjadinya gangguan identitas berhubungan dengan adanya hambatan dalam fungsi seksual. Intervensi Tujuan : a. Klien dapat megidentifikasi respon pengingkaran terhadap kenyataan. b. Klien dapat mengidentifikasi perasaan cemas. c. Klien mau membina hubungan dengan keluarga dan petugas. d. Klien dapat menerima realitas/keadaan dirinya saat ini. e. Klien tidak mengalami gangguan fungsi seksual. Intervensi Terhadap Klien a. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapakan perasaan cemas, marah, frustasi dan depresi. b. Bantu klien untuk menggunakan koping yag konstruktif. c. Berikan informasi secara benar dan jujur. d. Bantu klien untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. e. Beri penjelasan mengenai perubahan fungsi seksual yang dialami terhadap penyakitnya. f. Ciptakan lingkungan yang mendukung penyembuhan. - Intervensi Terhadap Keluarga a. Bantu keluarga untuk mengidentifikasi kekuatannya. b. Beri informasi tentang klien kepada keluarga secara jelas. c. Bantu keluarga untuk mengenali kebutuhan.

d. Berikan informasi kepada keluarga untuk memberikan perhatian kepada klien. e. Tingkatkan haparan keluarga terhadap keadaan klien. f. Optimalkan sumber daya yang ada. g. Beri informasi tentang penyakit yang jelas. h. Beri motivasi pada lingkungan untuk membantu klien dalam proses penyembuhan. i. Upayakan fasilitas kesehatan yang memadai sesuai dengan kondisi.

2) Diagnosa Keperawatan Klien Terminal a. Ansietas (ketakutan individu, keluarga) berhubungan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada gaya hidup. b. Berduka behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain. c. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan gangguan kehidupan keluarga, takut akan hasil (kematian) dan lingkungan yang penuh dengan stres (tempat perawatan). d. Resiko terhadap distres spiritual berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang privasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian. Intervensi : Diagnosa Keperawatan a. Ansietas individu, berhubungan situasi yang (ketakutan keluarga) dengan tidak Intervensi Bantu klien untuk seperti dan mengurangi berikan

ansietasnya, kepastian Tunjukkan pemahman menghindari

kenyamanan. tentang jangan Dorong

perasaan dan empati,

dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat

pertanyaan.

diperkirakan takut akan kematian dan efek

klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang

negatif pada gaya hidup.

berhubungan pengobatannya.

dengan Identifikasi dan

dukung mekanisme koping efektif klien yang cemas mempunyai

penyempitan lapang persepsi dengan penurunan kemampuan untuk

belajar. Ansietas cendrung untuk memperburuk masalah. Menjebak klien pada lingkaran peningkatan ansietas tegang, emosional dan nyeri fisik. Kaji tingkat ansietas klien :

rencanakan tingkatnya

pernyuluhan rendah atau

bila sedang.

Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat dihilangkan dengan

memberikan informasi akurat. Klien dengan ansietas berat atau parah tidak menyerap pelajaran. Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-

ketakutan mereka. Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan memberikann kesempatan untuk memperbaiki konsep yang tidak benar. Berikan klien dan keluarga

kesempatan dan penguatan koping positif Menghargai klien untuk

koping efektif dapat menguatkan renson koping positif yang akan

10

datang. Berikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan

b. Berduka

behubungan

dengan penyakit terminal dan kematian yang

perasaan, didiskusikan kehilangan secara terbuka, dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat. Pengetahuan

dihadapi,

penurunan

fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain.

bahwa tidak ada lagi pengobatan yang dibutuhkan dan bahwa

kematian sedang menanti dapat menyebabkan menimbulkan

perasaan ketidak berdayaan, marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya.

Diskusi terbuka dan jujur dapat membantu klien dan anggota

keluarga menerima dan mengatasi situasi dan respon mereka terhdap situasi tersebut. Berikan dorongan penggunaan

strategi koping positif yang terbukti yang memberikan keberhasilan pada masa lalu Stategi koping positif membantu penerimaan dan

pemecahan masalah. Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut diri yang positif. Memfokuskan pada atribut yang positif meningkatkan

penerimaan diri dan penerimaan

11

kematian yang terjadi. Bantu klien mengatakan yang dan akan

menerima

kematian

terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur. Proses berduka, proses berkabung adaptif tidak dapat

dimulai sampai kematian yang akan terjadi di terima. Tingkatkan perawatan menghilangkan dan harapan penuh dengan perhatian,

ketidaknyamanan penelitian

dukungan

menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai tindakan keperawatan berikut : Membantu berdandan. kemandirian. nyeri saat Mendukung Memberikan diperlukan, kenyamanan fungsi obat dan fisik

meningkatkan

(skoruka dan bonet 1982). c. Perubahan keluarga dengan kehidupan takut akan proses berhubungan gangguan keluarga, hasil dan Luangkan waktu bersama keluarga atau orang terdekat klien dan

tunjukkan pengertian yang empati. Kontak yang sering dan

mengkomunikasikan sikap perhatian dan peduli dapat membantu dan

(kematian)

lingkungan yang penuh dengan stres (tempat

mengurangi

kecemasan

meningkatkan pembelajaran. Izinkan keluarga klien atau orang terdekat perasaan, kekawatiran. untuk mengekspresikan dan berbagi

perawatan).

ketakutan Saling

12

memungkinkan mengidentifikasi kekhawatiran merencanakan mengatasinya.

perawat ketakutan

untuk dan

kemudian intervensi untuk

Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU. Informasi ini dapat membantu mengurangi ansietas yang berkaitan dengan ketidaktahuan.

Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan post operasi yang

dipikirkan dan berikan informasi spesifik tentang kemajuan klien. Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan perawan. Kunjungan dan partisipasi yang sering dapat meningakatkan interaksi keluarga berkelanjutan. Konsul dengan atau berikan rujukan ke sumber komunitas dan sumber lainnya keluarga dengan masalahmasalah seperti kebutuhan finansial, koping yang tidak berhasil atau konflik yang tidak selesai

memerlukan tambahan untuk

sumber-sumber membantu fungsi

mempertahankankan keluarga. d. Resiko terhadap distres spiritual berhubungan

Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual keagamaan atau spiritual yang diinginkan bila yang memberi

dengan perpisahan dari system pendukung

13

keagamaan, privasi mampuan menghadapi kematian. atau diri

kurang ketidak dalam ancaman

kesemptan

pada

klien

untuk

melakukannya. Bagi klien yang mendapatkan nilai tinggi pada doa atau praktek spiritual lainnya,

praktek ini dapat memberikan arti dan tujuan dan dapat menjadi

sumber kenyamanan dan kekuatan. Ekspesikan pengertrian dan

penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu

mengurangi kesulitan klien dalam mengekspresikan prakteknya. Berikan privasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai keyakinan dan

kebutuhan klien dapat dilaksanakan Privasi dan ketenangan memberikan lingkungan yang memudahkan

refresi dan perenungan. Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdoa bersama klien lainnya atau membaca buku ke agamaan. Perawat meskipun yang tidak

menganut agama atau keyakinan yang sama dengan klien dapat membantu klien memenuhi

kebutuhan spritualnya. Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur

14

kunjungan.

Tindakan

ini

dapat

membantu klien mempertahankan ikatan spiritual dan mempraktikkan ritual yang penting (Carson 1989).

15

BAB III KESIMPULAN kritis adalah suatu kondisi dimana pasien dalam keadaan gawat tetapi masih ada kemungkinan untuk mempertahankan kehidupan, sedangkan

Terminal adalah fase akhir kehidupan pasien, menjelang kematian ( sakaratul maut/ dying ), yang dapat berlangsung dalam waktu singkat atau panjang. Pada fase ini klien dapat menimbulkan respon bio-psiko-sosialspiritual,meliputi respon kehilangan. Kehilangan kesehatan, kehilangan

kemandirian, kehilangan situasi, kehilangan rasa nyaman, kehilangan fungsi fisik, kehilangan fungsi mental, kehilangan konsep diri, kehilangan peran dalam kelompok dan keluarga Kubler-Rosa (1969), telah menggambarkan atau membagi tahap-tahap individu pada saat menjelang ajal yaitu : Menolak (Denial), Marah (Anger), Menawar (Bargaining), Kemurungan (Depresi), dan yang terakhir adalah Menerima atau Pasrah (Acceptance). Yang terpenting pada klien kritis dan terminal adalah bagaimana pola pikir klien dalam memandang penyakitnya,dukungan keluarga dan lingkungan merupakan peranana yang sangat penting bagi psikologis klien dalam menghadapi penyakitnya, peran perwat juga tak kalah penting terus beri motivasi,empati dan selalu berikan perawatan optimal kepada pasien maupun keluarga.

16