Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD KUDUS KATARAK SENILIS IMMATUR OD

Oleh : Ria Cintya Pangestika 01.209.6002

Pembimbing : dr. Djoko Heru Santoso, Sp.M FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG Periode : 21 April 2014 17 Mei 2014

STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama lengkap Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pekerjaan No. RM Tanggal Masuk RS : Tn. Sardi : 71 tahun : Laki-laki : Ngambal rejo Rt 07 / 02 Bae Kudus : Islam : Pensiunan PNS : 672.494 : 22 April 2014

II. ANAMNESIS Anamnesis secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada 22 April 2014. Keluhan Utama :

Penglihatan kabur pada mata kanan Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Kudus dengan keluhan mata kanan kabur sejak 1 tahun yang lalu. Penglihatan kabur, baik penglihatan dekat maupun jauh semakin bertambah pada kedua mata. Pasien mengeluh jika melihat lampu besar, maka akan sangat menyilaukan. Awalnya keluhan dirasakan pada kedua mata, namun mata kiri pasien sudah dioperasi pada akhir bulan Maret. Mata kiri pasien bisa melihat lebih jauh dibandingkan dengan mata kanan dan tidak terdapat kabut pada penglihatannya. Pasien tidak merasakan nyeri atau kemeng pada mata, dan tidak pernah terkena benturan pada mata sebelumnya. Pasien juga menyangkal adanya nyeri kepala dan mual muntah. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat Hipertensi (-) Riwayat Diabetes melitus (-) Riwayat trauma mata (-)

Penggunaan kacamata (-) Riwayat stroke (-) Riwayat operasi katarak mata kiri (+) Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Hipertensi (-) Riwayat Diabetes melitus (-) Penggunaan kacamata (-) Riwayat sosial ekonomi :

Pasien tinggal dengan istri, anak, dan cucu. Pekerjaan pasien adalah pensiunan PNS. Pasien berobat menggunakan jamkesmas. Kesan ekonomi cukup.

III. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALISATA Tensi Nadi Suhu Pernapasan Keadaan Umum Kesadaran Status Gizi Kepala Telinga Hidung Mulut Leher Thorax Cor o Inspeksi o Palpasi o Perkusi : : : Iktus kordis tak tampak Iktus kordis tak kuat angkat Batas jantung tak ada kelainan : : : : : : : : : : : : 130/80 mmHg 84x/ menit 35,4o C 20x/menit Baik Compos mentis Cukup Mesocephal, uban (+) distribusi merata Sekret (-), bentuk normal Sekret (-), napas cuping hidung (-),simetris Sianosis (-), bibir kering (-) Deviasi trakhea (-), limfadenopati (-)

o Auskultasi : Pulmo o Inspeksi o Palpasi o Perkusi : : :

BJ I II reguler, murmur (-), gallop (-)

Simetris Fremitus vokal N / N Sonor / Sonor di seluruh lapang paru SNV +/+, ronkhi +/+, wheezing +/+

o Auskultasi : Abdomen o Inspeksi o Perkusi o Palpasi Ekstremitas Ekstremitas Oedem Akral dingin Reflek fisiologis Ikterik :

Datar BU (+) normal Timpani Nyeri tekan (-), pembesaran hati limpa (-)

o Auskultasi : : :

Superior -/-/+/+ -/-

Inferior -/-/+/+ -/-

B. STATUS OFTALMOLOGI OD OS

Keterangan: 1. Lensa keruh sebagian 2. Arkus senilis

OCULI DEXTRA(OD) 1/60 Tidak dikoreksi Gerak bola mata normal, enoftalmus (-), eksoftalmus (-), strabismus (-) Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-), blefarospasme (-), lagoftalmus (-), ektropion (-), entropion (-) Edema (-), injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-), infiltrat (-), hiperemis (-) Putih Bulat, edema (-), keratik presipitat (-), infiltrat (-), sikatriks (-) hipopion (-), hifema (-) Kripta (+), warna coklat, edema (-), synekia (-) (+) bulat, diameter 3mm, letak sentral, refleks pupil langsung(+), refleks pupil tak langsung(+) Keruh sebagian

PEMERIKSAAN Visus Koreksi

OCULI SINISTRA(OS) 4/60 Tidak dikoresi Gerak bola mata normal,

Bulbus okuli

enoftalmus (-), eksoftalmus (-), strabismus (-) Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-),

Palpebra

blefarospasme (-), lagoftalmus (-), ektropion (-), entropion (-) Edema (-), injeksi

Konjungtiva

konjungtiva (-), injeksi siliar (-), infiltrat (-), hiperemis (-)

Sklera

Putih Bulat, edema (-), keratik

Kornea

presipitat (-), infiltrat (-), sikatriks (-)

Camera Oculi Anterior (COA) Iris

hipopion (-) hifema (-) Kripta (+), warna coklat, edema (-), synekia (-),

Shadow Test

(-) bulat, diameter 3 mm,

Pupil

letak sentral, refleks pupil langsung(+), refleks pupil tak langsung (+)

Lensa

Jernih

Tidak dapat dinilai (+) (+) + suram Palpasi normal Epifora (-), lakrimasi (-)

Vitreus Proyeksi sinar Persepsi warna Fundus Refleks TIO Sistem Lakrimasi

Jernih (+) (+) + cemerlang Palpasi normal Epifora (-), lakrimasi (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Pemeriksaan Hasil Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit Granula Limfosit Monosit Masa Perdarahan Masa Pembekuan 10,7 32,1 7,7 194 3,63 79,5 13,3 7,2 02 menit 00 detik 05 menit 00 detik Kimia GDS Ureum Creatinin 110 44 1,2 Imunoserologi HbsAg Anti HIV Non reaktif Non reaktif Non reaktif Non reaktif mg/dl mg/dl mg/dl 70-110 19-44 0,6-1,3 g/dl % ribu/uL ribu/uL jt/uL % % % 14-18 40-52 4,0-12,0 150-400 4,5-5,9 43-76 25-40 2-8 1-5 2-6 Satuan Nilai Normal

V. RESUME Subjektif: Pasien datang dengan keluhan mata kanan kabur sejak 1 tahun yang lalu. Semakin lama keluhan pandangan kabur dirasakan semakin berat. Pasien merasa pandangannya berkabut, seperti terdapat bercak pada

penglihatannya. Awalnya keluhan dirasakan pada kedua mata, namun mata kiri pasien sudah dioperasi pada awal bulan ini. Pasien tidak mengeluhkan silau dan pandangan ganda. Pasien tidak merasakan nyeri atau kemeng pada mata, dan tidak pernah terkena benturan pada mata sebelumnya. Pasien juga menyangkal adanya nyeri kepala dan mual muntah.

Objektif: OCULI DEXTRA(OD) 1/60 Bulat, edema (-), keratik presipitat (-), infiltrat (-), sikatriks (-) (+) Keruh sebagian Shadow Test Lensa Kornea PEMERIKSAAN Visus OCULI SINISTRA(OS) 4/60 Bulat, edema (-), keratik presipitat (-), infiltrat (-), sikatriks (-) (-) Jernih

Tidak dapat dinilai (+) (+) + suram

Vitreus Proyeksi sinar Persepsi warna Fundus Refleks

Jernih (+) (+) + cemerlang

VI. DIAGNOSA BANDING 1. OD Katarak senilis matur

VII. DIAGNOSA KERJA OD Katarak senilis immatur

Dasar diagnosis: Penglihatan mata kanan kabur Terdapat kekeruhan lensa sebagian Shadow test (+)

VIII. TERAPI Operatif: Ektraksi katarak, baik secara EKEK maupun EKIK disertai dengan pemberian IOL (Intra Okuler Lensa).

IX. PROGNOSIS Quo Ad Visam Quo Ad Sanam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam

Quo Ad Kosmetikam : Ad bonam Quo Ad Vitam : Ad bonam

X. USUL DAN SARAN Usul : Dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui kelainan pada retina. Saran: Gunakan tetes mata secara teratur Konsumsi obat secara teratur Kontrol 1 minggu setelah pengobatan maupun jika ada keluhankeluhan pada mata. Lindungi mata dari debu ataupun benda asing

TINJAUAN PUSTAKA KATARAK A. DEFINISI Katarak adalah suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya jernih dan bening menjadi keruh.Katarak berasal dari bahasa Yunani cataracta yang berarti air terjun. Asal kata ini mungkin sekali karena pasien katarak seakan-akan melihat sesuatu seperti tertutup oleh air terjun di depan matanya akibat. Seorang dengan katarak akan melihat benda seperti ditutupikabut. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau keduanya.

B. KLASIFIKASI KATARAK Berdasarkan waktu perkembangannya katarak diklasifikasikan

menjadi katarak kongenital, katarak juvenil dan katarak senilis. 1. Katarak kongenital dapat berkembang dari genetik, trauma atau infeksi prenatal dimana kelainan utama terjadi di nukleus lensa. Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir dan umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa 2. Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir.Kekeruhan lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa. Biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. Katarak juvenil biasanya merupakan bagian dari satu sediaan penyakit keturunan lain. 3. Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Telah diketahui bahwa katarak senilis berhubungan dengan

bertambahnya usia dan berkaitan dengan proses penuaan lensa.

Berdasarkan stadiumnya, katarak dibagi menjadi stadium insipien, stadium imatur,stadium matur, dan stadium hipermatur.

1.

Stadium insipien.

Stadium

yang paling dini,

yang belum

menimbulkan gangguan visus. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari

roda),terutama mengenai korteks anterior, sedangkan aksis relatif masih jernih. Gambaran ini disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan. 2. Stadium imatur. Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Kekeruhan terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka inar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh ini akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat di pupil ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap,akibat bayangan iris pada lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+)

3.

Stadium matur . Pada stadium ini lensa telah menjadi keruh seluruhnya, sehingga semua sinar yang melalui pupil dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa. Tak ada bayangan iris. Shadow test (-). Di pupil tampak lensa yang seperti mutiara. Shadow

test membedakan stadium matur dari imatur, dengan syarat harus diperiksa lebih lanjut dengan midriatika,oleh karena pada katarak polaris anterior juga terdapat shadow test (-), karena kekeruhan terletak di daerah pupil. Dengan melebarkan pupil, akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil saja. Kadangkadang, walaupun masih stadium imatur, dengan koreksi, visus tetap 10

buruk, hanya dapat menghitung jari, bahkan dapat lebih buruk lagi1/300 atau satu per tak hingga, hanya ada persepsi cahaya, walaupun lensanya belum keruh seluruhnya. Keadaan ini disebut vera matur.

4.

Stadium hipermatur. Korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah mencair, sehingga nukleus lensa turun oleh karena daya beratnya ke bawah. Melalui pupil, pada daerah yang keruh, nukleus ini terbayang sebagai setengah lingkaran di bagian bawah, dengan warna yang lain daripada bagian yang diatasnya, yaitu kecoklatan. Pada stadium ini juga terjadikerusakan kapsul lensa, yang menjadi lebih permeabel, sehingga isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi kempis, yang di bawahnya terdapat nukleus lensa. Keadaan ini disebut katarak Morgagni.

Pada perjalanan dari stadium I ke stadium IV, dapat timbul suatu keadaan yang disebut intumesensi yaitu penyerapan cairan bilik mata depan oleh lensa sehingga lensamenjadi cembung dan iris terdorong ke depan, bilik mata depan menjadi dangkal. Hal ini tidak selalu terjadi.Pada umumnya terjadi pada stadium II. Selain itu terdapat jenis katarak lain : Katarak rubella : Ditularkan melalui Rubella pada ibu hamil

Katarak brunesen : Katarak yang berwarna coklat sampai hitam, terutama pada nucleus lensa Dapat terjadi pada pasien diabetes mellitus dan myopia tinggi.

Katarak komplikata :

11

Katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi. Mempunyai tanda khusus yaitu selamanya dimulai di korteks atau dibawah kapsul menuju ke korteks atau dibawah kapsul menuju sentral Pada lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular yang sewaktu-waktu menjadi katarak lamelar.

Katarak diabetik : Akibat adanya penyakit Diabetes Mellitus. Meningkatkan insidens maturasi katarak >> Pada lensa terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsularyang sebagian jernih dengan pengobatan. Katarak sekunder : Adanya cincin Soemmering (akibat kapsul pesterior yang pecah) dan Mutiara Elsching (epitel subkapsular yang berproliferasi) Katarak traumatika : Dapat terjadi akibat trauma mekanik, agen-agen fisik (radiasi, aruslistrik, panas dan dingin).

C. PATOFISIOLOGI Lensa mengandung tiga komponen anatomis yaitu : Nukleus zone sentral Korteks perifer Kapsul anterior dan posterior

Sebagian besar katarak terjadi karena suatu perubahan fisik dan perubahan kimia pada protein lensa mata yang mengakibatkan lensa mata menjadi keruh.Perubahan fisik (perubahan pada serabut halus multiple (zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar lensa) menyebabkan hilangnya transparansi lensa. Perubahan kimia pada protein inti lensa mengakibatkan pigmentasi progresif sehingga nukleus menjadi kuning atau kecokelatan juga terjadi

12

penurunan konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium serta peningkatan hidrasi lensa. Perubahan ini dapat terjadi karena meningkatnya usia sehingga terjadi penurunan enzim yang menyebabkan proses degenerasi pada lensa. Penyebab pada katarak senilis belum diketahui pasti, namun diduga terjadi karena: a. Proses pada nukleus Oleh karena serabut-serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong ke arah tengah, maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat (nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion kalsium dan sklerosis. Pada nukleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa menjadi lebih hipermetrop. Lama kelamaan nukleus lensa yang pada mulanya berwarna putih menjadi kekuning-kuningan, lalu menjadi coklat dan kemudian menjadi kehitam-hitaman. Karena itulah dinamakan katarak brunesen atau katarak nigra. b. Proses pada korteks Timbulnya celah-celah di antara serabut-serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan kalsium sehingga lensa menjadi lebih tebal, lebih cembung dan membengkak, menjadi lebih miop. Berhubung adanya perubahan refraksi ke arah miopia pada katarak kortikal, penderita seolah-olah mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah.

D. GEJALA DAN TANDA 1. Pengurangan ketajaman penglihatan secara bertahap 2. Pandangan seperti ada kabut atau air terjun 3. Silau, sehingga penglihatan di malam hari lebih nyaman dibandingkan siang hari 4. Miopia 5. Kesulitan membaca bila tidak cukup cahaya 6. Sering berganti kacamata

13

E. DIAGNOSIS ANAMNESIS : Penurunan ketajaman penglihatan secara bertahap (gejala utama katarak) Mata tidak merasa sakit, gatal , atau merah Gambaran umum gejala katarak yang lain seperti : 1. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film 2. Perubahan daya lihat warna 3. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata 4. Lampu dan matahari sangat mengganggu 5. Sering meminta resep ganti kacamata 6. Penglihatan ganda (diplopia) PEMERIKSAAN FISIK MATA 1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan 2. Melihat lensa dengan penlight dan loop Dengan penyinaran miring (45o dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow).Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur, sedangkan bayangan dekat dan kecil dengan pupil terjadi katarak matur. 3. Slit lamp 4. Pemeriksaan opthalmoskop (sebaiknya pupil dilatasi)

F. DIAGNOSA BANDING 1. Leukokoria 2. Oklusi pupil 3. Ablasi retina 4. Retinoblastoma

14

G. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Medikamentosa untuk katarak dengan adalah tujuan pembedahan mengatasi (operasi). yang

diberikan

gejala

ditimbulkan oleh penyulit misalnya, silau maka pasien dapat menggunakan kacamata.Untuk mengurangi inflamasi dapat diberikan steroid ringan. Dapat pula dianjurkan diet dengan gizi yang seimbang, suplementasi vitamin A,C,E, serta antioksidan lainnya dengan dosis yang tepat dapat membantu memperlambat progresifitas katarak. Ekstraksi katarak adalah cara pembedahan dengan mengangkat lensa yang katarak. Dapat dilakukan dengan intrakapsular yaitu mengeluarkan lensa dengan isi kapsul lensa atau ekstrakapsular yaitu mengeluarkan isi lensa (korteks dan nucleus) melalui kapsul anterior yang dirobek dengan meninggalkan kapsul posterior. a. Operasi katarak ekstrakapsular atau ekstraksi katarak ekstra kapsular (EKEK) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra okular, kemungkinan akan dilakukan bedah gloukoma, mata dengan presdiposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadi katarak sekunder. Tindakan ekstraksi katarak ekstrakapsuler yang terencana dilakukan apabila: 1. Kita ragu apakah nukleus lentis sudah terbentuk atau belum. 2. Kita mengira badan kaca mencair, misalnya pada miopia tinggi, setelah menderita uveitis.

15

3. Telah terjadi perlengketan luas antara iris dan lensa. 4. Pada operasi mata yang lainnya, telah terjadi ablasi atau prolaps badan kaca. 5. Setelah operasi mata yang lainnya, timbul penempelan badan kaca pada kornea yang menyebabkan distrofi kornea. 6. Terkandung maksud untuk memasang lensa intraokuler buatan. b. Operasi katarak intrakapsular atau ekstraksi katarak intrakapsular (EKIK) Pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.Dapat dilakukan pada zonula zinn telah rapuh atau berdegenerasi da mudah diputus. Pada tindakan ini tidak akan terjadi katarak sekunder.

Indikasi ekstraksi katarak: 1. Pada bayi kurang dari 1 tahun bila fundus tak terlihat. Bila masih dapat dilihat, katarak dibiarkan saja. 2. Pada umur lanjut a. Indikasi klinis : kalau katarak menimbulkan penyulit uveitis atau glaukoma, meskipun visus masih baik untuk bekerja, dilakukan operasi juga, setelah keadaan menjadi tenang. b. Indikasi visuil : tergantung dari katarak monokuler atau binokuler 3. Katarak monokuler a. Bila sudah masuk dalam stadium matur b. Bila visus pasca bedah sebelum dikoreksi, lebih baik daripada sebelum operasi 4. Katarak binokuler a. Bila sudah masuk dalam stadium matur b. Bila visus meskipun telah dikoreksi tidak cukup untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

16

Macam-macam ekstraksi katarak sesuai konsistensi dari kataraknya: 1. Katarak cair : umur kurang dari 1 tahun, dilakukan disisi lensa 2. Katarak lembek : umur 1-35 tahun, dilakukan ekstraksi linier/ekstraksi katarak ekstrakapsuler 3. Katarak keras : umur lebih dari 35 tahun, dilakukan ekstraksi katarak ekstrakapsuler

H. KOMPLIKASI Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan katarak traumatic. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti blok pupil,glaukoma sudut tertutup, uveitis,retinal detachment , rupture koroid, hifema, perdarahan retrobulbar, neuropati optik traumatic.

I. PROGNOSIS Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis, karena adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina. Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat. Prognosis baik bila: Fungsi media refrakta baik Dilakukan dengan melihat kejernihan serta keadaan media refrakta mulai dari kornea, iris, pupil dan lensa melalui lampu sentolop maupun slit lamp. Fungsi makula atau retina baik Dilakukan dengan pemeriksaan retpersepsi warna, dengan cara menyorotkan cahaya merah dan hijau di depan mata yang kemudian dengan sentolop cahaya diarahkan ke mata. Fungsi N. Opticus (N.II) baik Fungsi serebral baik

17

Daftar Pustaka
Ilyas, H.S. 2009.Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3.Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta Ilyas, H.S. 2009.Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2.Sagung seto. Jakarta Wijana, N., 1983, Ilmu Penyakit Mata, Jakarta

18