Anda di halaman 1dari 17

A.

Anatomi tulang tengkorak


Untuk mempelajari tengkorak dapat dilihat dari berbagai posisi diantaranya dari atas norma
vertikalis, dari depan atau norma frontalis, dari belakang atau norma occipitalis dan dari samping
atau norma lateralis. Untuk melihat bagian dalam dari tengkorak biasanya dibuat potongan garis
yang melalui bagian bawah orbita dan bagian atas meatus acusticus eksternus yang disebut
Franfurt Plane, yang akan membagi tengkorak menjadi bagian atas atau calvaria/skull cap dan
bagian bawah tengkorak atau skull base.
Tengkorak dibentuk oleh tulang-tulang yang saling berhubungan satu sama lain dengan
perantaraan sutura. Tulang tengkorak terdiri dari tiga lapisan yaitu tabula eksterna, diploe dan
tabula interna. Pada orang dewasa ketebalan dari tulang tengkorak bervariasi antara tiga
milimeter sampai dengan 1,5 centimeter, dengan bagian yang paling tipis terdapat pada daerah
pterion dan bagian yang paling tebal pada daerah protuberantia eksterna.

Tulang tengkorak dibagi menjadi dua bagian yaitu Neurocranium (tulang-tulang yang
membungkus otak otak) dan Viscerocranium (tulangtualng yang membentuk wajah).
Neurocranium terdiri atas tulang-tulang pipih yang berhubungan satu dengan yang lain.
Ada tiga macam sutura yaitu :
1. Sutura serrata, dimana tepi dari masing-masing tulang berbentuk sebagai gigi-gigi
gergaji dan gigi-gigi ini saling berapitan.
2. Sutura skualosa, dimana tepi dari masing-masing tulang menipis dan saling menutupi.
3. Sutura harmoniana atau sutura plana, dimana tepi dari masing-masing tulang lurus dan
saling tepi menepi.
Neuroccranium dibentuk oleh :
1. Os. Frontale
2. Os. Parietale
3. Os. Temporale
4. Os. Sphenoidale
5. Os. Occipitalis
6. Os. Ethmoidalis
Viscerocranium dibentuk oleh :
1. Os. Maksilare
2. Os. Palatinum
3. Os. Nasale
4. Os. Lacrimale
5. Os. Zygomatikum
6. Os. Concha nasalis inferior
7. Vomer
8. Os. Mandibulare


NORMA VERTIKALIS
Tengkorak dilihat dari atas tampak separti oval dengan bagian occipital lebih besar
dibandingkan dengan bagian frontal. Dari aspek/pandangan ini terlihat tiga sutura yaitu sutura
coronal yang menghubungkan antara bagian belakang tulang frontal dan bagian depan tulang
parietal, sutura sagital yang merupakan garis median tengkorak dan menghubungkan tulang
parietal kanan dan kiri, sutura lambdoid yang menghubungkan bagian belakang tulang parietal
dan bagian atas tulang occipital.
Pertemuan antara sutura coronal dan sutura sagital dinamakan bregma, yang pada anak-
anak masih berbentuk celah yang dinamakan fontanel anterior.sedangkan pertemuan antara
sutura sagital dan sutura lambdoid dinamakan lambda yang diambil dari Yunani Z, pada anak-
anak daerah ini dinamakan fontanel posterior. Pada tulang parietal dekat dengan sutura sagital
dan sekitar 3,5 centimeter diatas lambda terdapat foramen parietal yang merupakan tempat
berjalannya vena emisaria.
NORMA FRONTALIS
Dilihat dari depan tengkorak tampak oval dengan bagian atas lebih lebar dari pada bagian
bawah. Bagian atas dibentuk oleh os. Frontal yang konveks dan halus sedangkan bagian bawah
sanagat irreguler. Diatas kedua cavum orbita terdapat tonjolan yang melengkung dinamakan
arcus superciliare yang tampak lebih menonjol pada pria dibandingkan dengan pada wanita dan
diantara kedua arcus terdapat bagian yang menonjol yang disebut glabela.Dibawah glabela
terdapat nasion yang merupakan pertemuan antara sutura internasal dan sutura frontonasal.
Cavum orbita menyerupai segi empatdimana pada sisi atas (supra orbita margin) dibentuk
oleh os. Frontal yang pada 1/3 medialnya terdapat supra orbital norch yang merupakan tempat
keluarnya pembuluh darah dan saraf supra orbita. Sisi lateral dibentuk oleh prosedur frontal os.
Zygomaticum dan proccesus zygomaticum os.Frontale. Sisi bawah atau posterior orbital margin
dibentuk oleh os. Zygomaticum dan os.maksila. Sisi medial dibentuk oleh bagian atas os. Frontal
dan bagian bawah os. Lacrimal.
Pada normal frontalis tampak :
Os. Frontale dengan : - tuberculum frontale, tonjolan pada kening dikanan kiri.
- arcus superciliaris, tonjolan yang melengkung diatas mata kanan
dan kiri
- Glabela
Os. Nasale
Os. Maksilare, dengan : - fossa canina, cekungan di kanan kiri hidung
- jagum alveolare, tonjolan yang didalamnya terdapat akar gigi
spina nasalis anterior.
- Os. Maksila dan os. Nasale membatasi apertura nasalis anterior
atau apertura piriformis.
Os. Zygomaticum
Os. Mandibula dengan bagian-bagian : ramus mandibula, pars alveolare, protuberantia
mentalis, tuberculum mentale, basis mandibulla dan angulus mandibulla.
NORMA OCCIPITALIS
Tengkorak dilihat dari belakang menyerupai potongan roti dengan lengkung pada bagian
atas dan samping, datar pada bagian bawahnya. Sutura lambdoid dapat tampak seluruhnya. Pada
norma occipitalis tampak :
- Os. Occipital dengan bagian-bagian protuberantia occipitalis eksterna, linea nuchae
superior, linea nuchae inferior dan inion
- Os. Parietale
- Os. Temporalis
NORMA LATERALIS
Dilihat dari depan tengkorak tampak oval dengan bagian atas lebih lebar dari pada bagian
bawah. Bagian atas dibentuk oleh os.frontal yang konvleks dan halus sedangkan bagian bawah
sangat ireguler. Diatas cavum orbita terdapat tonjolan yang melengkung dinamakan arcus
superciliare yang tampak lebih menonjol yang disebut glabela. Dibawah glabela terdapat nasion
yang merupakan pertemuan antara sutura internasal dan sutura fronronasal.
Cavum orbita menyerupai segi empat dimana pada sisi atas (supra orbita margin) dibentuk
oleh os. Frontal yang pada 1/3 medialnya terdapat supra orbital norch yang merupakan tempat
keluarnya pembuluh darah dan saraf supra orbita.
Sisi literal dibentuk ole prosedur frontal os.Zygomaticum dan proccesus zygomaticum dan
os.maksila. Sisi medial dibentuk oleh bagian atas os.frontal dan bagian bawah os.lacrimal.
Pada normal frontalis tampak :
Os.Frontale dengan : - tuberculum frontale, tonjolan pada kening dikanan kiri
- arcus superciliaris, tonjolan yang melengkung diatas mata kanan
kiri
- Glabela
Os. Nasale
Os. Maksilare, dengan - fossa canina, cekungan di kanan kiri hidung
- jugum alviolare, tonjolan didalamnya terdapat akar gigi spina
nasalis anterior
- os.maksila dan os.nasale membatasi apertura nasalis anterior
atau apertura piriformis
Os. Zygomaticum
Os. Mandibulla dengan bagian-bagian : ramus mandibulla, pars alveorale, protuberantia
mentalis, tuberculum mentale, basis mandibulla dan angulus mandibulla.
NORMA OCCIPITALIS
Tengkorak dilihat dari belakang menyerupai potongan roti dengan lengkung pada bagian
atas dan samping, datar pada bagian bawahnya. Sutura lambloid dapat tampak seluruhnya.


Pada norma occipitalis tampak :
- os.Occipital dengan bagian-bagian protuberantia occipitalis eksterna, linea nuchae
superior, linea nuchae inferior dan inion.
- Os.Parietale
- Os.Temporalis
NORMA LATERALIS
Pada aspek ini tampak :
- Os.frontale, disini tampak linea temporalis superior dan linea temporalis inferior yang
berjalan mulai dari procesus zygomaticum melintasi sutura coronale sampai ke
os.parietale.
- Os.Zygomaticum denagn procesus frontalis yang berhubungan os.frontale dan procesus
temporalis yang berhubungan dengan os temporalis
- Os.temporale dengan procesus zygomaticus yang berhubungan dengan os.occipital,
os.parietal dan os.sphenoidale procesus mastoideous yang menonjol ke candal aucticus
eksternus.
- Os.parietale dengan tuberculum parietale, linea temporalis superior dan linea temporalis
inferior.
- Os.Maksilare, dengan : - fossa canina, cekungan dikanan kiri hidung
- Jugumalveorale, tonjolan yang didalamnya terdapat akar gigi
spina nasalis anterior
- Os. Maksila dan os.nasale membatasi apertura nasalis
anterior atau apertura piriformis
Os.Zigomaticum
Os.Mandibulla dengan bagian-bagian : ramus mandibulla, pars alveorale, protuberantia
mentalis, tuberculum mentale, basisi mendibulla dan angulus mandibulla.
NORMA OCCIPITALIS
Tengkorak dilihat dari belakang menyerupai potongan roti dengan lengkung pada bagian
atas dan samping, datar pada bagian bawahnya. Sutura lambloid dapat tampak seluruhnya.
Pada norma occipitalis tampak :
os.Occipital dengan bagian-bagian protuberantia occipitalis eksterna, linea nuchae
superior, linea nuchae inferior dan inion.
Os.Parietale
Os.Temporalis
NORMA LATERALIS
Pada aspek ini tampak :
Os.frontale, disini tampak linea temporalis superior dan linea temporalis inferior yang
berjalan mulai dari procesus zygomaticum melintasi sutura coronale sampai ke
os.parietale.
Os.Zygomaticum denagn procesus frontalis yang berhubungan os.frontale dan procesus
temporalis yang berhubungan dengan os temporalis
Os.temporale dengan procesus zygomaticus yang berhubungan dengan os.occipital,
os.parietal dan os.sphenoidale procesus mastoideous yang menonjol ke candal aucticus
eksternus.
Os.parietale dengan tuberculum parietale, linea temporalis superior dan linea temporalis
inferior.
Calvaria cap dilihat dari dalam (internal surface) : Pada bagian depan terdapat cristal
frontalis, tempat melekatnya falks cerebri, berlanjut kearah atas mebentuk sulkus sagitalis yang
makin kebelakang makin lebar, sulkus ini tempat berjalannya sinus sagitalis superior. Dikedua
sisi lateralnya terdapat lekukan-lekukan kecil yang terbentuk karena gralunasi arachnoid dan
disebut juga granural foveolea.
Arteri dan vena meningea media bercabang kedepan kurang lebih 1 cm dibelakang sutura
coronaria. Cabang parietal terbagi dua, kedepan dan kebelakang pada sisi dalam dari os.parietal,
cabang-cabang kecil ke frontal dan occipital. Sekitar 3,5 cm didepan sutura lambdoidea terdapat
foramen parietal yang merupakan tempat lewatnya vena emisaria.
Cranial base didlihat dari dalam (internal surface ) Dasar tengkorak dibagi menjadi
beberapa fossa yaitu fossa anterior, fossa media dan fossa pasterior. Dari aspek ini tampak jelas
cetakan dari otak. Pada dasar tengkorak durameter melekat erat dan masuk kedalam foramen-
foramen.
Fossa anterior dasar tengkorak terdiri dari :
lempeng cribiforme os.ethmoidal, pada bagian depannya terdapat bagian yang menonjol
keatas disebut crista gali.
Bagian orbita os.frontal, merupakan bagian terbesar dariu fossa anterior, pada bagian
depan medial terdapat sinus frontalis, bagian belakang berbatasan langsung dengan lesser
wing of sphenoid bone.
Os.sphenoid, terdiri dari greater dan lesser wing yang menyatu pada sisi lateral fisura
orbitalis superior Fossa media dasar tengkorak :
Lebih dalam dibandingkan dengan fossa anterior
Pada bagian sentral terdapat carnalis optikus tempat lewatnya nervus optikus, arteri
ophtal milk dan meningens.
Pada bagian depan terdapat sella tursica yang merupakan tempat hipofisis.
Pada sisinya terdapat fissura orbitalis superior, bagian tengah lebih lebar berisi n.opticus,
v.ophtalmicus, n.occulomotor, n.trochleas dan beberapa pembuluh darah kecil.
Foramen rotundum yang berjalan kearah depan menuju fossa pterigo palatine dan berisi
maksilaris (V 2).
Foramen ovale, berjalan kearah bawah menuju fossa infra temporal dan berisi
n.mandibulla (V 3).
Foramen spinosum, terletak posterolateral dari foramen ovale dan berisi arteri meningea
media.
Foramen lacerum, terletak postero medial dari foramen ovale dan berisi arteri carotis
interna.
Fossa posterior dasar tengkorak :
merupakan fossa yang paling besar dan dalam diantaranya fossa-fossa lainnya berisi
cerebelum, pons dan medulla oblongata.
Foramen magnum, merupakan tempat peralihan dari medulla spinalis.
Foramen juglare, merupakan tempat erjalannya n.glosopharingeous. Dibagian posterior
terdapat sullkus sigmoid yang berisi sinus signoid yang berlanjut menjadi v.jugularis
interna.
Canalis hipoglosusu, terletak lateral dari foramen magnum dan berisi n.hipogrosus.
Meatus acusticus interna terletak bagian depan dari foramen jugulare dan di bagian
atasnya terdapat canalis fascialis yang merupakan tempat lewatnya n.fascialis.

B. Aspek Biomekanik
Tulang padat biasanya lebih kaku daripada tulang tengkorak pars trabekular dan
dapat bertahan dengan tekanan lebih besar, tapi kurang bertahan terhadap tarikan. Tulang
pars trabeluka lebih elastis dan baik dalam menyimpan maupun melepas energi.
Sedangkan tulang bagian korteks sebanyak 2 % dapat berubah pada dimensi tertentu,
tulang pars trabekula dapat bertahan sebesar 75% dari bentuk deformitas sebelum
terjadinya fraktur.
Fraktur tengkorak merupakan hasil dari bentuk kekerasan kontak, dan hanya gaya
non kontak yang sangat luar biasa yang dapat menyebabkan fraktur. Morfologi tulang
tengkorak dan biometri,serta ketahanannya terhadap kekuatan mekanik luar, bervariasi
sesuai umur. Benturan langsung dapat menghasilkan kerusakan lokal sehingga dapat
menyebabkan fraktur kranial. Benturan tidak langsung dihasilkan dari peluru dapat
menyebabkan ledakan atau fraktur berbentuk tear drop melalui transfer energi. Perbedaan
dalam morfologi fraktur berkaitan dengan proses biomekanik yang mendasarinya.
Tipe dan keparahan dari fraktur tengkorak ditimbulkan oleh kekerasan traumatik
yang terjadi tergantung dari faktor-faktor berikut:
1. Karakteristik fisik dari kepala
- Ketebalan dari scalp dan rambut yang menutupinya
- Ketebalan dan konfigurasi dari tengkorak
- Elastisitas dari tulang
2. Karakteristik fisik dari objek tubrukan
- Bentuk dan ukuran dari area kontak
- Massa
- Konsistensi, bentuk permukaan, kekakuan, ketajaman dari tepinya.
3. Kontak kinetik
- Kecepatan gerak kepala
- Kecepatan dari objek tubrukan
- Sudut terjadi tubrukan
Mekanisme fraktur dan toleransi fisik digambarkan sebagai berikut.
Ketika kepala terkena kekerasan benda tumpul secara relatif dengan intensitas yang tinggi,
seperti pukulan atau oleh reaksi jatuh dari ketinggian, maka tubrukan tersebut menyebabkan
perlukaan dan perubahan bentuk dari tulang tengkorak. Jika energi tubrukan melebihi dari
elastisitas tulang tengkorak, baik pada sektor lokal dengan area kontak yang kecil dan durasi
waktu yang singkat (tubrukan yang kuat), atau kontak yang luas dan waktu tubrukan yang lebih
lama (tubrukan lemah), fraktur lokal atau kerusakan yang luas dapat terjadi. Fraktur lokal dekat
dengan titik tubrukan disebut fraktur langsung; fraktur yang lainnya, jauh dari area tubrukan,
disebut dengan fraktur sekunder atau tidak langsung.
Bentuk perlukaan yang paling penting untuk kekerasan benda tumpul adalah perlukaan
karena tegangan pada kasus murni karena beban tekanan dan kombinasi dari ketegangan dan
tekanan pada kasus penekukkan. Perlukaan karena tegangan yang sangat tinggi biasanya terjadi
pada permukaan pada bentuk sisi yang cembung (bending-tension side), dan perlukaan karena
tekanan maksimal menyebabkan perubahan bentuk lokal menjadi cekung (bending-pressure
side). Karena tengkorak pada bagian dalam dari titik tubrukan dan pada tampak luar dalam
segmen disekelilingnya, lekukan fraktur dapat diindikasikan pada bagian luar atau dalam dari
tulang tengkorak.
Karena susunan tulang pada umumnya dapat menahan tekanan lebih daripada beban
tegangan sebelum hilangnya kontinuitas (Evan and Lissner 1957), suatu fraktur awalnya mulai
dari bagian perpendicular ke bagian permukaan pada bagian bending-tension side. Oleh karena
itu garis fraktur pada bagian dalam maupun luar dari lapisan kompakta secara sistematis
tergantikan satu sama lain. Pada beban tengkorak oleh hantaman benda tumpul, lekukan selalu
menyebabkan suatu mekanisme pada sekitar area kontak dan terutama jika area yang terkena
kecil (<15 cm
2
). Ini merupakan area penetrasi dan fraktur tekan (depres).
Jika area yang terkena luas (>15 cm
2
) suatu perforasi tulang tengkorak jarang terjadi
karena seluruh bagian tulang aman dari tekanan, sementara deformitas lokal dapat menahan
tekanan yang relatif kecil hanya bagian superfisial (circular bending) fraktur dari bagian terluar
dari tulang terbentuk. Karena dari bentuk keadaan tekanan yang simetris (tegangan tekanan dari
sisi dalam maupun dari sisi luar dari tulang tengkorak) garis fraktur akibat ledakan pada bagian
dalam maupun luar dari lapisan kompakta tidak saling tergantikan satu sama lain. Karena
pembentukan dan perkembangbiakan dari suatu fraktur terjadi secara tegak lurus pada tegangan
lokal trauma langsung, tampak luar yang khas pada fraktur akibat ledakan adalah liniar maupun
bergerigi halus, yang meluas secara radial dari daerah tubrukan dan atau meluas ke area yang
jauh dari itu, sementara garis fraktur dari fraktur lekukan adalah lengkungan normal dan fraktur
yang lembut dan melingkar disekitar area yang terkena.
Pada kasus kekerasan benda tumpul dengan kecepatan yang lemah pada kepala atau jatuh
pada permukaan yang keras, jumlah kebutuhan energi untuk menghasilkan sebuah fraktur linear
pada tulang kalvaria, fraktur stellata, atau fraktur linear yang multipel adalah sebesar 45-100 Nm
yang terserab oleh tulang tengkorak dan jaringan lunak disekitarnya dalam 1.2 ms. Setelah jatuh
dari ketinggian 1.8 m, kepala dengan massa 4.5 kg berbenturan dengan kecepatan kira-kira 6 m/s
(=22km/h) menghasilkan energi 80 Nm, sehingga suatu fraktur tulang tengkorak dapat terjadi.
Jika suatu objek yang kaku dengan permukaan rata (5 cm
2
) mengenai kepala, energi rata-
rata yang diperlukan untuk terjadinya suatu fraktur (durasi waktu 4 ms) misalnya regio temporo
parietal telah diukur kira-kira 25 Nm dengan kekuatan rata-rata untuk terjadinya fraktur yaitu
5000 N.
C. Patofisiologi cedera kepala
Menurut Tarwoto (2007 : 127) adanya cedera kepala dapat mengakibatkan kerusakan
struktur, misalnya kerusakan pada paremkim otak, kerusakan pembuluh darah,perdarahan,
edema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis tripospat,perubahan
permeabilitas faskuler.
Patofisiologi cedera kepala dapat di golongkan menjadi 2 yaitu cedera kepala primer dan
cedera kepala sekunder. Cedera kepala primer merupakan suatu proses biomekanik yang dapat
terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi dampak cedera jaringan otak. Cedera
kepala primer adalah kerusakan yang terjadi pada masa akut, yaitu terjadi segera saat benturan
terjadi. Kerusakan primer ini dapat bersifat ( fokal ) local, maupun difus. Kerusakan fokal yaitu
kerusakan jaringan yang terjadi pada bagian tertentu saja dari kepala, sedangkan bagian relative
tidak terganggu. Kerusakan difus yaitu kerusakan yang sifatnya berupa disfungsi menyeluruh
dari otak dan umumnya bersifat makroskopis.
Cedera kepala sekunder terjadi akibat cedera kepala primer, misalnya akibat hipoksemia,
iskemia dan perdarahan.Perdarahan cerebral menimbulkan hematoma, misalnya Epidoral
Hematom yaitu adanya darah di ruang Epidural diantara periosteum tengkorak dengan
durameter,subdural hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter dengan
sub arakhnoit dan intra cerebal hematom adalah berkumpulnya darah didalam jaringan cerebral.
D. Jenis Cedera Kepala
Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area) dimana terjadi trauma
(Sastrodiningrat, 2009).

Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar
adalah trauma kepala tertutup dan terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmen-fragmen
tengkorak yang masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. The Brain and Spinal Cord
Organization 2009, mengatakan trauma kepala tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat
pada kepala secara tiba-tiba sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak.
Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah menembus sampai kepada dura
mater. (Anderson, Heitger, and Macleod, 2006). Kemungkinan kecederaan atau trauma adalah
seperti berikut;
a) Fraktur
Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis fraktur yaitu
simple fracture, linear or hairline fracture, depressed fracture, compound fracture. Pengertian
dari setiap fraktur adalah sebagai berikut:
Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit
Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus tanpa depresi, distorsi
dan splintering.
Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain retak
terdapat juga hematoma subdural (Duldner, 2008).
Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak atau kelainan
pada bagian kranium. Fraktur basis kranii retak pada basis kranium. Hal ini memerlukan gaya
yang lebih kuat dari fraktur linear pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya
pada 4% pasien yang mengalami trauma kepala berat (Graham and Gennareli, 2000; Orlando
Regional Healthcare, 2004). Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan fraktur basis kranii yaitu
rhinorrhea (cairan serobrospinal keluar dari rongga hidung) dan gejala raccoons eye
(penumpukan darah pada orbital mata). Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga
menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Fraktur basis kranii bisa terjadi pada fossa
anterior, media dan posterior (Garg, 2004).
Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang merupakan
tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur pada bagian ini boleh
menyebabkan kelainan pada sinus maxilari (Garg, 2004).
b) Luka memar (kontosio)
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah
(kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi
bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan
tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital.
Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti
luka besar. Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di
sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran (Corrigan,
2004).
c) Laserasi (luka robek atau koyak)
Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Dengan
kata lain, pada luka yang disebabkan oleh
benda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah
apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi
pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada
penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.
d) Abrasi
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini bisa mengenai
sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan subkutis tetapi akan terasa
sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang rusak.
e) Avulsi
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi sebagian masih
berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah
kecederaan (Mansjoer, 2000).
Fraktur tulang kepala
Fraktur tulang tengkorak berdasarkan pada garis fraktur dibagi menjadi
a). Fraktur linier
Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk garis tunggal atau stellata pada tulang
tengkorak yang mengenai seluruh ketebalan tulang kepala. Fraktur lenier dapat terjadi jika gaya
langsung yang bekerja pada tulang kepala cukup besar tetapi tidak menyebabkan tulang kepala
bending dan tidak terdapat fragmen fraktur yang masuk kedalam rongga intrakranial.
















b). Fraktur diastasis
Fraktur diastasis adalah jenis fraktur yang terjadi pada sutura tulamg tengkorak yang
mengababkan pelebaran sutura-sutura tulang kepala. Jenis fraktur ini sering terjadi pada bayi dan
balita karena sutura-sutura belum menyatu dengan erat. Fraktur diastasis pada usia dewasa sering
terjadi pada sutura lambdoid dan dapat mengakibatkan terjadinya hematum epidural.

c). Fraktur kominutif
Fraktur kominutif adalah jenis fraktur tulang kepala yang meiliki lebih dari satu fragmen
dalam satu area fraktur.
d). Fraktur impresi
Fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat benturan dengan tenaga besar yang langsung
mengenai tulang kepala dan pada area yang kecal. Fraktur impresi pada tulang kepala dapat
menyebabkan penekanan atau laserasi pada duremater dan jaringan otak, fraktur impresi
dianggap bermakna terjadi, jika tabula eksterna segmen yang impresi masuk dibawah tabula
interna segmen tulang yang sehat.

e). Fraktur basis kranii
Fraktur basis kranii adalah suatu fraktur linier yang terjadi pada dasar tulang tengkorak,
fraktur ini seringkali diertai dengan robekan pada durameter yang merekat erat pada dasar
tengkorak. Fraktur basis kranii berdasarkan letak anatomi di bagi menjadi fraktur fossa anterior,
fraktur fossa media dan fraktur fossa posterior. Secara anatomi ada perbedaan struktur di daerah
basis kranii dan tulang kalfaria. Durameter daerah basis krani lebih tipis dibandingkan daerah
kalfaria dan durameter daerah basis melekat lebih erat pada tulang dibandingkan daerah kalfaria.
Sehingga bila terjadi fraktur daerah basis dapat menyebabkan robekan durameter. Hal ini dapat
menyebabkan kebocoran cairan cerebrospinal yang menimbulkan resiko terjadinya infeksi
selaput otak (meningitis).
Pada pemeriksaan klinis dapat ditemukan rhinorrhea dan raccon eyes sign (fraktur basis
kranii fossa anterior), atau ottorhea dan batles sign (fraktur basis kranii fossa media). Kondisi
ini juga dapat menyebabkan lesi saraf kranial yang paling sering terjadi adalah gangguan saraf
penciuman (N,olfactorius). Saraf wajah (N.facialis) dan saraf pendengaran
(N.vestibulokokhlearis).
Penanganan dari fraktur basis kranii meliputi pencegahan peningkatan tekanan intrakranial
yang mendadak misalnya dengan mencegah batuk, mengejan, dan makanan yang tidak
menyebabkan sembelit. Jaga kebersihan sekitar lubang hidung dan telinga, jika perlu dilakukan
tampon steril (konsultasi ahli THT) pada tanda bloody/ otorrhea/otoliquorrhea. Pada penderita
dengan tanda-tanda bloody/otorrhea/otoliquorrhea penderita tidur dengan posisi terlentang dan
kep ala miring ke posisi yang sehat.