Anda di halaman 1dari 19

Page | 1

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Prolapsus organ panggul adalah keadaan yang sering terjadi terutama
pada wanita tua. Menurut WHO diperkirakan lebih dari 50% wanita yang
pernah melahirkan normal akan mengalami keadaan ini dalam berbagai
tingkatan, namun oleh karena tidak semua diantara mereka mengeluhkan hal
ini pada dokter maka angka kejadian yang pasti sulit ditentukan.
Prolapsus organ panggul disebut pula sebagai prolapsus uteriprolapsus
genitalisprolapsus uterovaginalpelvic relaxationdisfungsi dasar panggul
prolapsus urogenitalis atau prolapsus dinding vagina.
Prolapsus organ panggul terjadi akibat kelemahan atau cedera otot dasar
panggul sehingga tidak mampu lagi menyangga organ panggul. Uterus adalah
satu satunya organ yang berada diatas vagina. Bila kandung kemih atau usus
bergeser maka keduanya akan mendorong dinding vagina. Meskipun
prolapsus bukan satu keadaan yang bersifat life threatening, namun keadaan
ini menimbulkan rasa tak nyaman dan sangat mengganggu kehidupan
penderita.
Prolaps organ panggul menonjol dari satu atau lebih organ panggul ke
dalam vagina. Organ-organ ini adalah rahim, vagina, usus dan kandung kemih.
Gejala mungkin termasuk: sensasi tonjolan atau sesuatu yang turun atau
keluar dari vagina, yang kadang-kadang perlu mendorong kembali ketidak
nyamanan saat berhubungan seks, masalah buang air kecil: seperti aliran
lambat, perasaan tidak mengosongkan kandung kemih sepenuhnya, perlu
Page | 2

buang air kecil lebih sering dan bocor sedikit urin ketika Anda batuk, bersin
atau berolahraga (inkontinensia stres). Bahkan ada beberapa wanita tidak
memiliki gejala apapun.

2. RUMUSAN MASALAH
2.1. Bagaimanakah definisi prolapsus uteri?
2.2. Bagaimanakah tanda dan gejala pada penderita prolapsus uteri?
2.3. Bagaimanakah cara penanganan terjadinya prolapsus uteri?
2.4. Bagaimanakah contoh kasus prolapsu uteri pada masyarakat?
2.5. Bagaimanakah cara penerapan asuhan keperawatan pada contoh kasus
seperti pada rumusan masalah no. 4?

3. TUJUAN
3.1. Tujuan umum:
Agar karya tulis ini bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan
masyarakat.
3.2. Tujuan khusus:
3.2.1.Sebagai pemenuhan tugas Sistem Reproduksi
3.2.2.Agar mahasiswa/i S1-Keperawatan Stikes Surabaya semester 4 bisa
memahami semua yang terkait prolapsus uteri.










Page | 3

BAB II
PEMBAHASAN


1. DEFINISI
Prolapse uteri adalah kondisi rahim runtuh, jatuh, atau perpindahan ke
bawah dari uterus dengan kaitannya dengan vagina. Hal ini juga didefinisikan
sebagai menggembung rahim ke dalam vagina.
Ketika dalam keselarasan, uterus dan struktur yang berdekatan ter-
suspensi dalam posisi yang tepat dengan uterosakrum, bulat, luas, dan ligamen
cardinal. Otot-otot dasar panggul membentuk struktur sling seperti yang
mendukung rahim, vagina, kandung kemih, dan rectum. Prolaps rahim adalah
hasil dari dasar panggul relaksasi atau peregangan berlebihan struktural dari
otot-otot dinding panggul dan struktur ligamen.
Uterine prolapse ditandai di bawah klasifikasi yang lebih umum disebut
prolaps organ panggul yang meliputi turunnya anterior, tengah dan struktur
posterior ke dalam vagina. Organ-organ yang menonjol anterior ke dalam
vagina adalah kandung kemih yang disebut sistokel, uretra, yang disebut
uretrokel atau kombinasi yang merupakan sebuah cystourethrocele.
Uterus dan kubah vagina, yang merupakan puncak vagina, membentuk
organ-organ yang merupakan keturunan bagian tengah ke dalam vagina.
Kubah vagina sering prolapses akibat histerektomi.
Tonjolan rektum disebut rektokel dan tonjolan dari bagian dari usus dan
peritoneum disebut enterokel, ini membentuk bagian posterior dari prolaps
organ panggul. Informasi dari titik ke depan ini akan fokus pada prolaps
rahim.
Page | 4

Uterine prolapse diklasifikasikan menggunakan sistem penilaian empat
bagian yaitu: kelas 1 (turunnya rahim di atas selaput darah), kelas 2 (turunnya
rahim selaput darah), kelas 3 (turunnya rahim di luar selaput darah) dan kelas
4 (prolaps total)

2. ETIOLOGI
Prolaps disebabkan oleh melemahnya jaringan yang mendukung organ-
organ panggul. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. Dalam banyak wanita,
melahirkan dapat melemahkan jaringan. Hampir separuh dari semua wanita
yang telah memiliki anak dipengaruhi oleh beberapa derajat prolaps.
Hal ini juga lebih umum pada wanita tua, terutama pada mereka yang
telah melalui masa menopause. Hal seperti kelebihan berat badan, memiliki
batuk mengejan dan memiliki sembelit jangka panjang dapat meningkatkan
risiko dalam mengembangkan sebuah prolaps .
Prolaps juga dapat disebabkan oleh kondisi genetik langka yang mem-
pengaruhi jaringan-jaringan tubuh, seperti sindrom Marfan. Wanita yang
paling berisiko untuk kondisi ini adalah mereka yang telah memiliki banyak
kehamilan dan persalinan dalam kombinasi dengan obesitas. Faktor risiko
yang terkait adalah trauma pada saraf pudendus atau sacral ketika melahirkan.
Gangguan tersebut telah dikaitkan dengan partus lama, bantalan bawah
sebelum pelebaran penuh, dan pengiriman kuat plasenta.
Penurunan otot akibat penuaan, ketegangan yang berlebihan saat buang
air besar dan komplikasi dari operasi panggul juga telah dikaitkan dengan
prolaps rahim dan organ yang berdekatan. Terkait risiko juga ada seperti
halnya tumor panggul dan kondisi neurologis seperti spina bifida dan
neuropati diabetes yang mengganggu persarafan dari otot panggul.
Genetika diduga dalam kondisi ini karena beberapa hubungan keluarga
dan generasi dengan ini dan kondisi yang berkaitan. Sebuah artikel baru-baru
ini telah menemukan bahwa bedah caesar dapat menurunkan risiko untuk
prolaps organ panggul.
Page | 5

3. PATOFISIOLOGI
Sebagaimana telah diterangkan prolapsus uteri terdapat dalam beberapa
tingkat, dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. Terutama akibat
persalinan, khususnya persalinan per vaginam yang susah, dan terdapatnya
kelemahan-kelemahan ligamen-ligamen yang tergolong dalam fasia
endopelvik, dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. Juga dalam keadaan
tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan
penurunan uterus, terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada
penderita dalam manopause (Wiknjosastro, 2005).
Serviks uteri terletak diluar vagina, akan tergeser oleh pakaian wanita
tersebut, dan lambat laun menimbulkan ulkus, yang dinamakan ulkus
dekubitus. Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma
obstetrik, ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan
penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.
Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi besar karena
persalinan berikutnya, yang kurang lancar, atau yang diselesaikan dalam
penurunan dan menyebabkan urethrokel. Urethrokel harus dibedakan dari
divertikulum uretra. Pada divertikulum keadaan uretra dan kandung kencing
normal, hanya dibelakang uretra ada lubang, yang membuat kantong antara
uretra dan vagina (Wiknjosastro, 2005).
Kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma
obstetrik atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum kedepan
dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol ke lumen vagina yang
dinamakan rektokel. Enterokel adalah hernia dari kavum dauglasi. Dinding
vagina atas bagian belakang turun dan menonjol kedepan. Kantong hernia ini
dapat berisi usus atau omentum (Wiknjosastro, 2005).
Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti yang
dilaporkan di klinik dGynecologie et Obstetrique Geneva insidensnya 5,7 %,
dan pada periode yang sama di Hamburg 5,4 %, Roma 6,4 %. Dilaporkan di
Mesir, India, dan Jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro
Amerika, Indonesia berkurang. Pada suku bantu di Afrika Selatan jarang
Page | 6

sekali terjadi. Penyebab terutama adalah melahirkan dan pekerjaan yang
menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat serta kelemahan dari
ligamentum-ligamentumkarena hormonal pada usia lanjut. Trauma persalinan,
beratnya uterus pada trauma persalinan, beratnya uterus pada masa involusi
uterus, mungkin juga sebagai penyebab. Pada suku bantu involusi uterus lebih
cepat terjadi dari pada orang kulit putih, dan juga pulihnya otot-otot dasar
panggulnya. Hampir tak pernah ditemukan subinvolusi uteri pada suku Bantu
tersebut. Di Indonesia prolapsus genitalis lebih sering dijumpai pada wanita
yang telah melahirkan, wanita tua, dan wanita dengan pekerjaan berat. Djafar
Siddik pada penyelidikan selama 2 tahun (1969-1970) memperoleh 63 kasus
prolapsus genitalis dari 5.372 kasus ginekologik multipara dalam masa
manepause, dan 31.74 % pada wanita petani, dari 63 kasus tersebut, 69 %
berumur 40 tahun. Jarang sekali prolapsus uteri dapat ditemukan pada
seorang nullipara (Wiknjosastro, 2005).

4. MANIFESTASI KLINIS
Gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadang kala
penderita yang satu dengan prolaps yang cukup berat tidak mempunyai
keluhan apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyi
banyak keluhan. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai (Wiknjosastro,
2005) :
4.1. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genitalia
eksterna.
4.2. Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita
berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang.
4.3. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:
4.3.1. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari,
kemudian bila lebih berat juga pada malam hari
4.3.2. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan
seluruhnya
Page | 7

4.3.3. Stress incontinence, yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk
mengejan. Kadang- kadang dapat terjadi retensio uriena pada
sistokel yang besar sekali.
4.4. Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:
4.4.1. Obstipasi karena faeses berkumpul dalam rongga rektokel;
4.4.2. Baru dapat defeksi, setelah diadakan tekanan pada rektokel dari
vagina.
4.5. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:
4.5.1. Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu
berjalan dan bekerja. Gesekan porio uteri oleh celana menimbulkan
lecet sampai luka dan dekubitus pada porsio uteri.
4.5.2. Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks, dan
karena infeksi serta luka pada porsio uteri.
4.6. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan
rasapenuh di vagina.

5. KOMPLIKASI
Menurut Wiknjosastro (2005), komplikasi yang dapat menyertai
prolapsus uteri ialah:
5.1. Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri.
Prosidensia uteri disertai degan keluarnya dinding vagina
(inversio); karena itu mukosa vagina dan serivks uteri menjadi tebal serta
brkerut, dan berwarna keputih-putihan.
5.2. Dekubitus
Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser
dengan paha dan pakaian dalam, hal itu dapat menyebabkan luka dan
radang, dan lambat laun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan
demikian, perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada
penderita berusia lanjut. Pemeriksaan sitologi/biopsi perlu dilakukan
untuk mendapat kepastian akan adanya karsinoma.
Page | 8

5.3. Hipertrofi serviks dan elangasio kolli
Jika serviks uteri turun dalam vagina sedangkan jaringan
penahan dan penyokong uterus masih kuat, maka karena tarikan ke
bawah di bagian uterus yang turun serta pembendungan pembuluh
darah serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang dengan
periksa lihat dan periksa raba. Pada elangasio kolli serviks uteri pada
periksa raba lebih panjang dari biasa.
5.4. Gangguan miksi dan stress incontinence
Pada sistokel berat- miksi kadang-kadang terhalang, sehingga
kandung kencing tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. Turunnya
uterus bisa juga menyempitkan ureter, sehingga bisa menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis. Adanya sistokel dapat pula mengubah
bentuk sudut antara kandung kencing dan uretra yang dapat
menimbulkan stress incontinence.
5.5. Infeksi jalan kencing
Adanya retensi air kencing mudah menimbulkan infeksi.
Sistitis yang terjadi dapat meluas ke atas dan dapat menyebabkan
pielitis dan pielonefritis. Akhirnya, hal itu dapat menyebabkan gagal
ginjal.
5.6. Kemandulan, karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitus
vaginae atau sama sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi
kehamilan.
5.7. Kesulitan pada waktu partus, jika wanita dengan prolapsus uteri hamil,
maka pada waktu persalinan dapat timbul kesulitan di kala pembukaan,
sehingga kemajuan persalinan terhalang.
5.8. Hemoroid, feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan adanya
obstipasi dan timbul hemoroid.
5.9. Inkarserasi usus halus
Usus halus yang masuk ke dalam enterokel dapat terjepit
dengan kemungkinan tidak dapat direposisi lagi. Dalam hal ini perlu
dilakukan laparotomi untuk membebaskan usus yang terjepit itu.
Page | 9

BAB III
KASUS PROLAPS UTERI

Ny F, 50 tahun, datang dengan keluhan seluruh peranakan turun sejak 8
tahun SMRS. Sejak 12 tahun sebelum masuk RS (SMRS), pasien merasa
peranakan turun setelah melahirkan anak ke empat. Awalnya hanya turun sedikit,
bisa masuk sendiri bila pasien berbaring, Peranakan dirasakan turun bila pasien
batuk atau BAB, nyeri perut (-), perdarahan (-). Sejak 8 tahun SMRS peranakan
turun seluruhnya. Peranakan turun bila batuk, BAB, beraktivitas, berjalan atau
berdiri, tidak dapat masuk sendiri, namun dapat dimasukkan seluruhnya bila
pasien berbaring. Nyeri perut (+), nyeri punggung bawah (+), perdarahan (+),
nyeri pada peranakan yang turun (-), BAK sering (+), BAK nyeri (-), demam (-),
flek-flek dari kemaluan (+). Pasien adalah ibu rumah tangga, sering mengangkat
berat, memompa air dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Riwayat hipertensi
(-), diabetes mellitus (-), penyakit jantung (-), batuk lama (-), alergi (+), asma (+).
Multiparitas per vaginam (+), menopause (+) sejak 10 tahun lalu. Riwayat KB (+)
spiral.
Pada pemeriksaaan fisik didapatkan keadaan umum compos mentis, kesan
gizi lebih, IMT 27.34, tanda vital dan status generalis tidak ada kelainan. Pada
status ginekologik inspeksi tampak massa uterus keluar sebagian dari introitus
vagina, bentuk bulat, warna merah muda, discharge (-), erosif (+), pada palpasi
teraba massa ukuran 2cmx2cmx3cm, konsistensi kenyal, inspekulo tidak
dilakukan, vaginal touche massa dapat dimasukkan, kesan uteri atrofi, nyeri
goyang (-), massa adneksa (-), nyeri pada adneksa (-).
Pada POPQ didapatkan prolaps uteri derajat IV, sistokel derajat IV, rektokel
derajat III. Pemeriksaan laboratorium DPL dan kimia darah dalam batas normal,
urinalisis terdapat leukosit penuh, bakteri (+), nitrit (+), protein +2, esterase
leukosit (+).
Page | 10

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN


1. INFORMASI DATA PASIEN
1.1.Nama Pasien : Ny. Fredika LE
1.2.Nama Suami : Tn. Budi
1.3.Usia : 50 thn
1.4.Alamat : Gg. Edy VIII no. 10, Halimun, Jakarta Selatan
1.5.Pekerjaan : IRT
1.6.Agama : Kristen Protestan
1.7.Pendidikan : SMP
1.8.No. MRS : 330 21 06
1.9.Masuk RS : 24-04-2009 Pk. 10:24

2. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 27 April 2009 WIB
dan data sekunder

3. KELUHAN UTAMA
Seluruh peranakan turun sejak 8 tahun SMRS

4. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Sejak 12 tahun sebelum masuk RS (SMRS), pasien merasa peranakan
turun setelah melahirkan anak ke empat. Awalnya hanya turun sedikit, bisa
masuk sendiri bila pasien berbaring, namun lama kelamaan peranakan turun
seluruhnya. Peranakan dirasakan turun bila pasien batuk atau BAB. Tidak ada
nyeri perut maupun perdarahan.
Page | 11

Sejak 8 tahun SMRS peranakan turun seluruhnya, tidak dapat masuk
sendiri, namun pasien masih bisa memasukkan peranakan seluruhnya.
Peranakan turun bila pasien sedang batuk, BAB, beraktivitas, berjalan atau
berdiri dan dapat dimasukkan seluruhnya bila pasien berbaring. Terdapat
keluhan nyeri perut, nyeri punggung bawah dan perdarahan, namun tidak ada
keluhan nyeri pada peranakan yang turun.
Pasien kemudian berobat ke PKM, diberi obat (pasien tidak ingat
namanya), keluhan nyeri dan perdarahan hilang namun keluhan peranakan
turun masih ada. Pada pasien terdapat keluhan BAK sering, namun tidak ada
keluhan BAK nyeri. Tidak ada keluhan demam sebelumnya. Hingga saat ini
pasien sering mengeluh keluar flek-flek dari kemaluan. Pasien berobat ke RS
atas anjuran dari anaknya.
Pasien merasa bahwa dirinya seorang dokter, seorang artis dan
merupakan salah satu utusan yesus kristus.

5. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit jantung, batuk lama disangkal
Alergi (+) kacang dan ikan
Asma (+), minum obat napasin setiap hari, beli sendiri

6. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit jantung, Asma disangkal
Riwayat Obstetri, Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan.

7. RIWAYAT SOSIAL
Pasien seorang ibu rumah tangga, sehari sering melakukan aktivitas berat,
seperti memompa air dan menggendong cucu. Pasien tidak merokok, tidak
minum alkohol, tidak ada riwayat berbaganti-ganti pasangan.



Page | 12

8. RIWAYAT MENSTRUASI
Menstruasi pertama saat usia 14 tahun, siklus teratur tiap bulan, lama lupa,
ganti pembalut lupa, tidak nyeri. Pasien sudah menopause sejak 10 tahun
yang lalu.

9. RIWAYAT MENIKAH
Pasien menikah 1x

10. RIWAYAT KEHAMILAN: P4A0
Anak pertama : Wanita, 27 tahun, lahir spontan di Sp.OG, BL 3400 gram
Anak kedua : Wanita, 26 tahun, lahir spontan di Sp.OG, BL 2700 gram
Anak ketiga : wanita, 20 tahun, lahir spontan di Sp.OG, BL > 3000 gram
Anak keempat : wanita, 12 tahun, lahir spontan di bidan, BL > 300 gram

11. RIWAYAT KB
KB (+) spiral 26 tahun yang lalu, selama 5 tahun.

12. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan tanggal 27 April 2009 di PW Lt.2 RSCM
Kesadaran : compos mentis
Keadaan gizi : lebih
Status gizi : BB 70 kg TB 160 cm IMT 27.34
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 36.8 0C
Pernafasan : 20 x/menit
12.1. Status Generalis
Mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik
Paru : vesikuler +/+, tidak ada rhonki, tidak ada wheezing
Jantung : BJ I-II normal, tidak ada murmur, tidak ada gallop
Page | 13

Abdomen : Buncit, lemas, hati limpa tidak teraba, bunyi usus (+)
normal, massa (-), nyeri tekan (-)
Ektremitas : akral hangat, edema (-), capillary refill time < 2

12.2. Staatus Ginekologi
Inspeksi : tampak massa uterus keluar sebagian dari introitus
vagina, bentuk bulat, warna merah muda, discharge (-), erosif (+)
Palpasi : teraba massa ukuran 2 cmx2cmx3cm, konsistensi
kenyal, nyeri tekan (-).
Inspekulo : tidak dilakukan
Vaginal touch : massa dapat dimasukkan, kesan uteri atrofi, nyeri
goyang(-), massa adneksa(-), nyeri(-).
POPQ (Pelvic Organ Proplapse Quantification)




Sondase uterus : tertahan
Residu urine : 0 cc
Kesan : prolapsus uteri derajat IV, sistokel derajat IV,
rektokel derajat III

13. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (24 Maret 2009)
13.1. Hematologi rutin
Hb 12.2 13 16 g/dl
Ht 36.6 40 48 %
Aa +3 Ba +6 C +7
gh 7 pb 2 tvl 8
Ap +2 Bp +5 D +5
Page | 14

MCV 77.2 82 93 fl
MCH 25.7 27 31 pg
MCHC 33.3 32 36 g/dl
Leukosit 6.9 5 10 10^3/ l
Trombosit 291 150 400 10^3/ l
13.2. Hemostasis
BT 02:00 < 02:00 Menit
CT 13:00 < 12:00 Menit
13.3. Kimia darah
SGOT 15
SGPT 14
Albumin 4.3
Natrium 139
Kalium 4.25
Klorida 113
Ureum 24
Kreatinin 0.8
Glukosa Puasa 96
Glukosa 2 jam PP 118
HbsAg -
13.4. Urinalisis lengkap
Sedimen
Sel epitel + +
Leukosit penuh 0-1 /LPB
Eritrosit 2-3 2-6 /LPB
Silinder - - /LPK
Kristal - -
Bakteri + -
Berat jenis 1,025 1,003 1,030
pH 6,5 4,5 8
Protein 2+ -
Page | 15

Glukosa - -
Keton - -
Darah/Hb + -
Bilirubin - -
Urobilinogen 3.2 0.1-1.00 mol/l
Nitrit + -
Esterase leukosit 3+ -

14. DAFTAR MASALAH
14.1. Prolapsus Uteri derajat IV
14.2. Sistokel derajat IV
14.3. Rektokel derajat III
14.4. ISK
15. RENCANA DIAGNOSIS : Konsul uroginekologi
16. RENCANA TERAPI
16.1. Rencana TVH+ KA + KP
16.2. Persiapan Kolon
17. RENCANA EDUKASI : Menjelaskan rencana untuk edukasi
18. LAPORAN PEMBEDAHAN
18.1. Operator : dr. Darto SpOG
18.2. Asisten : dr. Tyas, SpOG, dr Rahmedi
18.3. Konsulen : Prof.dr. Yunizaf, SpOG (K)
18.4. Tanggal pembedahan : 28 April 2009, lama: 08.30-10.00
18.5. Diagnosis pra bedah : prolap utero derajat IV sistokel derajat IV,
rektokel derajat III
18.6. Diagnosis pasca bedah : prolap utero derajat IV sistokel derajat IV,
rektokel derajat III
18.7. Tindakan pembedahan : TVH, kolporafi anterior, kolpoperineorafi
18.8. Jenis pembedahan : elektif, mayor
18.9. Uraian pembedahan :
Page | 16

Pasien posisi litotomi di atas meja operasi dalam anestesi
spinal. Asepsis dan antisepsis daerah genitalia dan sekitarnya. Porsio
dijepit dengan tenakulum, ditarik keluar dari introitus. Dibuat insisi
segitiga di mukosa vagina anterior, dilanjutkan sirkuler pada mukosa
vagina mengelilingi serviks. Mukosa vagina dibebaskan secara
tumpul, dengan jari yang dibungkus kassa. Vesika dan rektum
didorong ke atas. Ligamentum kardinale dan sakrouterina kanan dan
kiri dijepit, dipotong, dan diikat vasa uterina kanan dan kiri dikenali,
dijepit, dipotong dan diikat. Cavum Douglasi dikenali, dibuka, dan
dilebarkan tajam. Plika vesiko uterina dikenali dan dibuka tajam.
Pangkal tuba dan ligamentum ovarii propium dan ligamentum
rotundum kanan dan kiri dijepit. Ligamentum kanan dan kiri
dikenali, dijepit, dipotong, dan diikat. Pangkal tuba dan ligamentum
ovarii propium dipotong dan diikat. Uterus dikeluarkan. Diyakini
tidak ada perdarahan pada pedikel, dilakukan reperitonisasi dengan
jahitan Tabac sach. Dilakukan kolporafi anterior. Puncak vagina
dijahit dengan vicryl no.1 dan digantung pada kompleks ligamentum
kardinale-sakrouterina dan rotundum. Dilakukan kolpoperineorafi.
Perdarahan selama operasi 100 cc. Dilakukan PA jaringan uterus.

19. EVALUASI POST OPERASI
19.1. Observasi tanda vital
19.2. Obserasi tanda akut abdomen dan perdarahan
19.3. Imobilisasi 24 jam
19.4. Realimentasi dini
19.5. FC 24 jam
19.6. Ceftriaxone 1x2 g IV
19.7. Profenid supp 3x1
19.8. Hematinik 1x1
19.9. Rawat ruangan

Page | 17

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Olsen AL, Smith VJ, Bergstrom JO, et al. Epidemiology of surgically managed pelvic
organ prolapse and urinary incontinence. Obstet Gynecol. Apr 1997;89(4):501-
506. [Medline].
Lazarou G, Scotti RJ, Zhou HS, et al. Preoperative Prolapse Reduction Testing as a
Predictor of Cure of Urinary Retention in Patients with Symptomatic Anterior Wall
Prolapse. Int Urogynecol J Pelvic Floor Dysfunct. 2000;11:S60.
Scotti RJ, Flora R, Greston WM, et al. Characterizing and reporting pelvic floor defects:
the revised New York classification system. Int Urogynecol J Pelvic Floor Dysfunct.
2000;11(1):48-60. [Medline].
Lazarou GL, Chu TW, Scotti RJ, et al. Evaluation of pelvic organ prolapse: inter-observer
reliability of the New York classification system. Int Urogynecol J Pelvic Floor
Dysfunct. 2000;11:S57.
Lazarou G, Scotti RJ, Mikhail MS, et al. Pull out strengths of sacral and vaginal
attachment sites in cadavers. J Pel Med Surg. 2004;10:1-4.
Scotti RJ. Investigating the elderly incontinent woman. In: Grody MHT, ed. Benign
Postreproductive Gynecologic Surgery. NY: McGraw-Hill; 1995:114.
Schraub S, Sun XS, Maingon P, et al. Cervical and vaginal cancer associated with pessary
use. Cancer. May 15 1992;69(10):2505-9. [Medline].
Scotti RJ, Lazarou G. Abdominal approaches to uterine suspension. In: Gersherson DM,
ed. Operative Techniques in Gynecologic Surgery. Philadelphia, Pa: WB Saunders
Co; 2000:88-99.
Goodman CC, Snyder TEK. Differential Diagnosis for Physical Therapists. 4th ed. St.
Louis: Saunders Elsevier, 2007.
Goodman CC, Fuller KS. Pathology: Implications for the Physical Therapist. 3rd ed. St.
Louis: Saunders Elsevier, 2009
Women'sSurgeryCenterPelvicOrganProlapsehttp://www.gyndr.com/genital_prolapse_sur
gery.php (accessed 5 April 2010).
NaturalChildbirth.Childbirthandyourpelvicfloor.http://childbirth.amuchbetterway.com/chi
ldbirth-and-your-pelvic-floor/(accessed 5 April 2010).
Page | 18

Bordman R, Telner D, Jackson B, Little D. Step-by-step approach to managing pelvic
organ prolapse. Canadian Family Physician; 2007; 53: 485-487.
Mater Mothers' Hospital. Prolapse. http://brochures.mater.org.au/Home/Brochures/Mater-
Mothers--Hospitals/Prolapse(accessed 5 April 2010).
Kudish BI, Iglesia CB, Sokol RJ, Cochrane B, Richter HE, Larson J, et al. Effect of
weight change on natural history of pelvic organ prolapse. Obstet Gynecol 2009; 113:
81-88.
Hove MC, Pool-Goudzwaard AL, Eijkemans MJC, Steegers-Theunissen RPM, Burger
CW, Vierhout ME. Prediction model and prognositc index to estimate clinically
relevant pelvic organ prolapse ina general female population. Int Urogynecol J 2009;
20: 1013-1021.
LJ,Uterineprolapse. http://www.nlm.nig.gov/medlineplus/pring/ency/article/001508.htm (
accessed 8 April 2010).
MayoClinicStaff,UterineProlapseImage. http://www.mayoclinic.com/health/medical/IM0
1785 (accessed 5 May 2010).
Mayoclinicstaff,UterineProlapse. http://www.mayoclinic.com/health/uterine-
prolapse/DS00700/DSECTION=risk-factors(accessed 5 April 2010).
NazarioB,Slideshow:allaboutmenopauseandperimenopause. http://www.webmd.com/men
opause/slideshow-menopause-overview (accessed 11 April 2010).
StreicherLF,Uterine prolapseandpelvic relaxation.www.mygyne.info/uterineProlapse.htm
(accessed 5 April 2010).
Reuters Health Information. Cesarean section may lower risk of pelvic organ prolapse.
American Journal of Obstetrics and Gynecology 2009;200:243-245.
Hove MC, Pool-Goudzwaard Al, Eijkemans MJC, Steegers-Theunissen RPM, Burger
CW, Vierhout ME. The prevalence of pelvic organ prolapse symptoms and signs and
their relation with bladder and bowel disorders in a general female population. Int
Urogynecol J 2009; 20:1037-1045.
Faraj R, Broome J. Laparoscopic sacrohysteropexy and myomectomy for uterine
prolapse: a case report and review of the literature. Journal of Medical Case Reports
2009; 3: 99-102.
PedroTorres,TotalUterineProlapse.Availablefrom: http://www.youtube.com/watch?v=gd
AMSE2ViTY [last accessed 4/5/10]
UroToday. NIDDK UI Symposium - Devices for the Woman with Pelvic Organ
Prolapse/UrinaryIncontinenceSessionHighlights.http://www.urotoday.com/48/browse
_categories/urinary_incontinence_ui/niddk_ui_symposium___devices_for_the_woma
Page | 19

n_with_pelvic_organ_prolapseurinary_incontinence__session_highlights06102009.ht
ml(accessed 5 April 2010).
GlobalLibraryofWomen'sMedicine.StressUrinaryIncontinence. http://www.glowm.com/i
ndex.html?p=glowm.cml/section_view&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;
amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;articleid=60(accessed 5 April
2010).
Herbruck LF. Stress urinary incontinence: an overview of diagnosis and treatment
options. Urologic Nursing 2008; 28: 186-199.
Institut Francais de Readapation URo-Genitale. Physical therapy for female pelvic floor
disorders. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology 1994;6:331-335.
Throwbridge ER, Fenner DE. conservative management of pelvic organ prolapse.
Clinical Obstetrics and Gynecology 2005;48:668-681.
Mayo Clinic. Pelvic floor weakness. Health Letter 2009:4-5.
Marine Medical. The Colpexin Sphere. http://www.colpexin.com/about.cfm (accessed 11
April 2010).
Hagen S, Stark D. Physiotherapists and prolapse: who's doing what, how and why?
Journal of the Association of Chartered Physiotherapists in Women's Health 2008;
103: 5-11.
Jarvis SK, Hallam TK, Lujic S, Abbott JA, Vancaillie TG. Peri-operative physiotherapy
improves outcomes for women undergoing incontinence and or prolapse surgery:
results of a randomised controlled trial. Australian and New Zealand Journal of
Obstetrics and Gynaecology 2005; 45: 300-303.
Drug Information Online. Cystocele. http://www.drugs.com/cg/cystocele-aftercare-
instructions.html (accessed 5 April 2010).
Drug Information Online. Rectocele. http://www.drugs.com/cg/rectocele.html (accessed 5
April 2010).
MDGuidlines.UrethrocelewithStressIncontinence. http://www.mdguidelines.com/urethroc
ele-with-stress-incontinence(accessed 5 April 2010).
NevadeSurgeryandCancerCenter.Enterocele. http://www.nvscc.com/enterocele.htm (acce
ssed 6 April 2010).
snowheadcouk. 600,000 Women in West Nepal suffer from Uterine Prolapse. Available
from:http://www.youtube.com/watch?v=4vCCy41lATo [last accessed 4/6/10