Anda di halaman 1dari 22

Sistem Pengolahan Air Limbah

A. Pengolahan Individual
Pengolahan individual adalah pengolahan air limbah yang dilakukan secara sendirisendiri pada masing-masing rumah terhadap air limbah yang dihasilkan, dengan diagram
system penanganannya sebagai berikut:

Dapur (cucian)

Lemak (busa)

Bak kontrol

Kamar mandi

Lemak

Bak kontrol

Air kotor (WC)

Bahan organic

Septik Tank

Peresapan Tanah

B. Pengolahan individu pada lingkungan terbatas


Pengolahan air limbah domestik secara individu pada lingkungan terbatas
dilakukan terpadu dalam wilayah yang kecil/terbatas, seperti hotel, rumah sakit, bandar
udara, pelabuhan dan fasilitas umum, dengan diagram system penanganannya sebagai
berikut:

Air limbah Dapur

Bak kontrol

Air limbah Kamar Mandi

Bak kontrol

Air limbah dapur

Bak kontrol

Peresapan Tanah

C. Pengolahan Komunal
Pengolahan air limbah komunal adalah pengolahan air limbah yang dilakukan pada
suatu kawasan pemukiman, industri, perdagangan seperti kota-kota besar, yang pada
umumnya dilayani/dibuang melalui jaringan riool kota untuk kemudian dialirkan menuju
ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah dengan kapasitas besar (Kota Yogyakarta: 170
lt/dt atau 15.500 m3/hari untuk melayani jumlah penduduk sekitar 110.000 orang pada
tahun 2002). Diagram sistem penanganannya adalah sebagai berikut:

Daerah Pemukiman

Bak Kontrol

Daerah Pemukiman

Bak Kontrol
Jaringan Riool Kota

Daerah Pemukiman

Bak Kontrol

Daerah Pemukiman

Bak Kontrol

IPAL

Badan Air

D. Sistem Penyaluran Air Limbah


Penanganan air limbah domestik secara komunal diperlukan saluran air limbah
yang dapat mengalirkan air limbah dari tempat sumbernya hingga ke Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL). Saluran air limbah tersebut berupa jaringan pipa (riool) yang ditanam
di bawah permukaan tanah. Bagi kota yang memiliki jaringan riool kota maka
masyarakatnya dapat memanfaatkan jaringan riool kota tersebut sebagai tempat
pembuangan air limbah yang dihasilkan dengan membayar sejumlah tertentu sesuai dengan
tariff yang ditentukan (berdasarkan Perda?).

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam jaringan riool kota:


1. Pipa saluran air limbah menjadi satu kesatuan dalam jaringan air limbah yang
semuanya tertanam di bawah permukaan tanah.
2. Dimensi pipa besar, karena disamping sebagai tempat penyaluran air limbah, pipa
harus mampu menampung air gelontor dan pada daerah-daerah tertentu pipa dapat
memiliki fasilitas jalan inspeksi sehingga petugas dapat berjalan melakukan
pemerikasaan di sepanjang pipa.
3. Pada tempat-tempat pertemuan pipa harus ada bak kontrol yang dapat digunakan
petugas untuk masuk ke jalan inspeksi, yang gambarnya sebagai berikut:

E. Pengolahan Air Limbah


1. Pengolahan Individu
Bangunan pengolahan air limbah domestik yang dilakukan secara individu terdiri
atas Tangki Septik dan Bangunan Peresapan.
a. Tangki Septik
Tangki Septik merupakan bangunan yang berfungsi sebagai penampung air
kotor/tinja yang merupakan bahan organic, langsung dari WC atau Urinoir. Proses yang
terjadi di dalam tangki septik tersebut adalah proses pembusukan/penguraian/perombakan
bahan organik oleh mikroorganisme yang memerlukan waktu minimum 3 hari.
Proses tersebut meliputi:
(i) aerobik
(ii) anaerobic
Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam perencanaan Tangki Septik:

Dimensi Tangki Spetik ditentukan berdasarkan jumlah pemakai yang akan


membebani Tangki Septik.

Jumlah air kotor perkapita dapat digunakan sebesar 25 lt/orang/hari.

Waktu tinggal di dalam Tangki Septik, T minimum = 3 hari

Gerakan aliran air limbah di dalam Tangki Septik adalah:


o pada saat masuk dan keluar Tangki Septik gerakannya adalah vertical.

o pada saat berada di dalam Tangki Septik gerakannya adalah horizontal,

gerakan aliran ini adalah penting karena merupakan gerakan proses dari
pembusukan/penguraian/perombakan bahan organik selama waktu tinggal,
sehingga diusahakan gerakannya mengikuti bagian yang terpanjang dari
tangki septic (bagian memanjang).

Dimensi Tangki Septik:


o Kedalaman minimum, h = 1,50 m
o Panjang minimum, l = 1,00 m
o Lebar minimu, b = 0,75 m

o Perbandingan panjang (l) : lebar (b) = 3 : 2

Agar lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

b. Bangunan Peresapan
Ada 2 jenis bangunan peresapan yang sering digunakan, yaitu peresapan
memanjang dan peresapan melintang.
(i). Perasapan memanjang
Prinsip peresapan airnya (air dari Tangki Septik) adalah ke arah vertical (meresap
menuju ke bawah seluas penampang dasar peresapan memanjang). Tinggi peresapan
memanjang ini ditentukan berdasarkan kedalaman muka airnya dan diusahakan muka
dasar peresapan tetap berada 0,50 m di atas muka ar tanah.
Tipe peresapan ini digunakan di daerah yang:

Muka air tanahnya tinggi (dangkal) dengan kedalaman 0 hingga 2,5 m meter
dari muka tanah.

Aeral lahan yang tersedia untuk bangunan peresapan memanjang harus tersedia
cukup luas.

Untuk merencanakan dimensi

peresapan memanjang digunakan rumus sebagai

berikut:
Q=A.D
A=b.l
D=v.p
Q=b.l.D
L = Q / (b . D)
dengan:
A = luas bidang resapan (m2)
v = kecepatan meresap (m/hari)

p = prosentase pori (%)


L = panjang resapan = panjang pipa peresapan (m)
Q = debit air kotor (m3/hari)
b = lebar peresapan (m), lebar efektif = 40 hingga 50 cm
D = daya resap tanah (m/hari)

(ii). Peresapan Sumuran


Prinsip peresapan sumuran adalah alirannya ke arah vertical (ke bawah seluas
penampang sumur) dan ke arah horizontal (ke samping). Tinggi peresapan sumuran ini
ditentukan berdasar kedalaman muka airnya dan diusahakan muka dasar peresapan
berada > 1 m di atas muka air tanah.
Tipe ini digunakan pada daerah yang:

Muka air tanahnya cukup dalam (kedalamannya lebih dari 2,50 m dari muka
tanah.

Areal lahan yang digunakan untuk bangunan peresapan sumuran tidak terlalu
luas.

Dalam perencanaan dimensi peresapan sumuran digunakan rumus sebagai berikut:


Q=A.D

A = . . d2
Q = . . d2 . D
d=

4.Q
.D

dengan:
Q = debit air kotor (m3/hari)
D = daya resap tanah (m/hari)
d = diameter sumur resapan (m)
h = tinggi peresapan, ditentukan berdasarkan tinggi muka air tanah (m).

2. Instalasi Pengolahan Air Limbah


Proses pengolahan limbah cair industri mencakup proses fisik, kimia, dan biologis
dan atau kombinasi dari ketiga proses tersebut dan tergantung dari jenis dan kualitas
limbahnya serta tujuan dari pengolahan yang dilakukan. Tujuan pengolahan limbah cair

adalah agar air yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi memenuhi syarat kesehatan
sehingga tidak mengganggu kesehatan masyarakat maupun merusak lingkungan.
Metode pengolahan air limbah yang dipergunakan dalampengolahan air untuk
membuatnya aman dan menarik bagi para langganan dibahas berikut ini. Masalah-masalah
yang dipertimbangkan meliputi: (1) tinjauan tentang metode-metode pengolahan yang
utama dan penerapannya, (2) metode-metode pengolahan fisik, (3) metode-metode
pengolahan kimiawi, (4) beberapa metode pengolahan khusus, (5) pembuangan lumpur
dari instalasi pengolahan, dan (6)perencanaan instalasi pengolahan air.
Metode-metode pengolahan air berkaitan dengan pencemar-pencemar yang ada
dalam persediaan air tertentu. Pencemar-pencemar utama yang harus diperhatikan pada
kebanyakan air adalah (1) bakteri patogen, (2) kekeruhan dan bahan-bahan terapung, (3)
warna, (4) rasa dan bau, (5) senyawa-senyawa organik, dan (6) kesadahan. Faktor-faktor
ini terutama berhubungan dengan kesehatan dan estetika. Walaupun pencemar-pencemar
lain yang terdaftar dalam Tabel 2.6. juga penting,tetapi tidak merupakan faktor-faktor
utama pada kebanyakan persediaan air. Seandainya merupakan suatu faktor penting, maka
harus dipergunakan metode pengolahan khusus.
Metode-metode yang dipergunakan untuk pengolahan air dapat digolongkan
menurut sifat fenomena yang menghasilkan perubahan yang diamati. Dengan demikian,
istilah operasi satuan fisik dipergunakan untuk menggambarkan metode-metode yang
mendapatkan perubahan-perubahan melalui penerapan gaya-gaya fisik, misalnya
pengendapan gravitasi. Pada proses-proses satuan kimiawi atau biologis, perubahan
diperoleh dengan cara reaksi-reaksi kimia atau biologis.

Tabel Organisme patogen yang biasa terdapat dalam air limbah


Organisme

Penyakit

Ascaris spp
Enterobius spp

Cacing Nematoda

Bacillus anthracis

Anthrax

Brucella spp

Brucellosis, demam Malta pada


manusia,
menjangkitkan
keguguran pada domba, dan
ternak lain
Disentri

Entamoeba histolytica
Leptospira
iceterohaemorrhagiae
Mycobacterium
tubercculosis

Leptospirosis(penyakit Weil)

Salmonella paratyphi

Demam paratyphoid

Salmonella typhi

Demam typhoid

Salmonella spp

Peracunan makanan

Schistosoma spp

Schistosomiasis

Sigella spp

Disentri basil

Taenia spp

Cacing pita

Vibrio cholerae

Cholera

Virus

Poliomyelitis Hepatitis

Tuberculosis

Keterangan

Berbahaya terhadap manusiadari buangan


air limbah dan lumpur kering yang dipakai
sebagai pupuk.
Terdapat dalam air limbah. Sporanyatahan
terhadap pengolahan.
Biasanya ditularkan oleh susu yang kena
infeksi atau oleh kontak. Air limbah juga
diduga sebagai penular.
Disebabkan oleh air yang terkontaminasi
serta lumpur yang dipakai sebagai pupuk.
Biasanya pada cuaca yang panas.
Dibawa oleh tikus-tikus selokan.
Terpisahkan dari air limbah dan sungai
yang tercemar. Air limbah merupakan
kemungkinan cara penyebaran. Perhatian
harus diberikan pada air limbah dan
lumpur yang kelluar dari sanatorium.
Biasa ada dalam air limbah dan
buangannya pada masa epidemi.
Biasa ada dalam air limbah dan
buangannya pada masa epidemi.
Biasa ada dalam air limbah dan
buangannya.
Mungkin diuraikan pada pengolahan air
limbah yang efisien.
Air tercemar merupakan sumber infeksi
utama.
Telurnya sangat tahan.didapatkan pada
lumpur air limbah serta buangan air
limbah. Berbahaya bagi ternak di daerah
irigasi atau lahan yang dipupuk dengan
lumpur limbah.
Dijangkitkan oleh air limbah dan air
tercemar.
Cara penularan yang pasti belum
diketahui. Terdapat pada buangan dari
instalasi pengolahan secara biologis.

Sumber : Teknik Sumber Daya Air, Linsley & Franzizi, Erlangga, 1986, Jakarta.
Pada suatu instalasi pengolahan air, pelaksanaan fisik dari operasi dan proses satuan
dikerjakan pada tangki-tangki yang direncanakan secara khusus atau sarana lain yang
cocok, dimana variabel-variabel operasional dan lingkungan dikendalikan dengan hati-hati.
Karena fenomena yang mengakibatkan pemurnian air beraksi agak lambat, maka salah satu
parameter penting yang dipergunakan dalamanalisis dan perencanaan sarana-sarana
instalasi pengolahan air dan air limbah adalah waktu tinggal, yaitu waktu rat-rata
pengenaan zat cair pada fenomenon atau gaya-gaya yang menjadi pokok pengolahan:

volume
Waktu tinggal =

lajualiranQ
DT =

luaspermukaanAsxKedalamand
lajualiran

Parameter lain yang biasa dipergunakan, yang bersangkutan dengan dengan waktu
tinggal adalah laju muatan permukaan, yang didefinisikan sebagai:
Laju muatan permukaan =

lajualiranQ
luaspermukaanAs

Kedua parameter ini biasa diperrgunakan dalam perencanaan operasi fisik dan kebanyakan
proses kimiawi yang dipakai untuk pengolahan air. Sebagai misal, waktu yang dibutuhkan
oleh suatu partikel terapung untuk mengendap dengan gaya berat dapat diterjemahkan ke
dalam suatu waktu tinggal bagi suatu kolam pengendapan dengan mempergunakan
persamaan di atas.
Tabel Operasi dan proses satuan serta penerapannya dalam pengolahan air
Operasi/proses
Unit Operasi
-Penyaringan

-Saringan mikro
-Aerasi(perpindahan gas)
-Pencampuran
-Flokulasi
-Pengendapan
-Filtrasi
Unit Proses
-Koagulasi(pengentalan)
-Disinfeksi

Penerapan
Saringan-saringan kasar dipergunakan untuk melindungi
pompa terhadap bahan-bahan padat mengambang.
Saringan halus dipergunakan untuk membuang bahanbahan yang mengambang dan terapung.
Dipergunakan untuk menyaring pencemar-pencemar
halus seperti ganggang, lanau dan sebagainya.
Dipergunakan untuk menambah atau membuang gas-gas
kurang atau sangat jenuh dalam kandungan air.
Dipergunakan untuk mencampur bahan-bahan kimia dan
gas yang mungkin diperlukan untuk pengolahan.
Penciptaan gradien kecepatan dengan pencampuran yang
lembut unutuk me3ningkatkan pengumpulan partikelpartikel.
Dipergunakan untuk membuang partikel-partikel seperti
lanau dan pasir atau bahan flokulasi yang mengapung.
Dipergunakan untuk menyaring bahan-bahan padat sisa
yang tetap berada di dalam air setelah pengendapan.
Menyatakan proses penambahan bahan kimia untuk
mendorong penggumpalan partikel-partikel dalam proses
flokulasi.
Dipergunakan membunuh organisme-organnisme patogen
yang mungkin ada dalam air alamiah.

10

-Presipitasi

Pembuangan jenis-jenis ionik terlarut seperti kalsium dan


magnesium (kesadahan) dengan menambahkan bahan
kimia yang mendorong presipitasinya
Dipergunakan untuk pembuangan selektif atau
sepenuhnya ion-ion anion dan kation terlarut di dalam
larutan.
Dipergunakan untuk pembuangan berbagai senyawa
organik, misalnya yang menyebabkan warna, rasa, dan
bau.
Dipegunakan untuk oksidasi berbagai senyawa yang bisa
didapatkan di dalam air, misalnya yang mengakibatkan
rasa dan bau.

-Pertukaran ion
-Adsorbsi
-Oksidasi kimiawi

Sumber : Teknik Sumber Daya Air, Linsley & Franzizi, Erlangga,1986, Erlangga.
1. Metode-metode pegolahan fisik, meliputi :
a. Penyaringan
Saringan kasar atau kisi-kisi dengan lubang sebesar 2 inci (50 mm) atau lebih
dipergunakan untuk memisahkan benda-benda terapung yang besar dari air limbah.
Saringan menengah mempumyai lubang antara hingga 1 inci (12 sampai 40 mm).
Hal ini membatasi kehilangan tinggi tekanan dan mengurangi kemungkinan terdorong
lolosnya bahan yang harus disaring. Saringan halus dengan lubang antara 1/16 hingga
1/8 inci (1,6 hingga 3 mm) sering dipergunakan untuk pengolahan pendahuluan dari air
limbah industri atau untuk mengurangi beban kolam pengendapan pada instalasi kota
dimana terdapat limbah industri berat.
b. Pengecilan ukuran
Alat pengecil ukuran ( penyerpih ) adalah alat-alat yang digunakan untuk
memotong bahan padat limbah hingga berukuran kurang lebih inci (6 mm).
c. Pembuangan serpih
Kolam serpih yang direncanakan khusus untuk membuang partikel- partikel
anorganik ( berat jenis kira-kira 1,6 hingga 2,65 ).
d. Aerasi
Aerasi adalah suatu bentuk perpindahan gas dan dipergunakan dalam berbagai
variasi

operasi,

meliputi

sebagai

berikut

(1)

tambahan

oksigen

untuk

mengoksidasikan besi dan mangan terlarut, (2) pembuangan karbon dioksida, (3)
pembuangan hidrogen sulfida uuntuk menghapuskan bau dan rasa, (4) pembuangan
minyak yang mudah menguap dan bahan-bahan penyebab bau dan rasa serupa yang
dikeluarkan oleh ganggang serta mikro-organisme yang serupa. Jenis-jenis utama

11

aerasi adalah (1) aerator gaya berat, misalnya kaskade air terjun atau bidang-bidang
miring ; (2) aerator semprotan atau air mancur dimana air disiramkan ke udara ; (3)
penyebar suntikan, dimana udara dalam bentuk gelembung-gelembung kecil
disuntikkan ke dalam zat cair ; dan (4) aerator mekanis yang meningkatkan
pencampuran zat cair dan membuat air terbuka ke atmosfir dalam butir-butir tetesan.
Metode yang digunakan tergantung pada jenis bahan yang harus dibuang serta tujuan
yang haarus dicapai.
e. Pencampuran
Mesin pemasukan kering atau mesin pemasukan larutan secara mekanis
kadangkala diperlukan untuk memasukkan bahan kimia ke dalam instalasi pengolahan
air limbah. Hal ini dapat dilakukan dengan memutar dayung-dayung di dalam kolam
pencampur dengan waktu tinggal 30 hingga 60 detik.
f. Flokulasi
Terbentuknya

kumpulan

partikel

yang

ditambahkannya bahan-bahan kimia pengental.

turun

mengendap

karena

Untuk melakukan pembuangan

kumpulan partikel yang pada awalnya sangat kecil ini, pengadukan cepat harus
diikuti dengan suatu jangka waktu pengadukan halus (flokulasi) selama 20 hingga
30 menit.
g. Pengendapan
Laju pengendapan suatu partikel di dalam air tergantung pada kekeruhan dan
kerapatan air maupun ukuran, bentuk dan berat jenis partikel yang bersangkutan.
Pemurnian air dengan cara pengendapan dimaksudkan agar bahan-bahan terapung
di dalam air dapat diendapkan ke luar.
h. Gabungan Flokulasi dan Pengendapan
Tangki gabungan untuk flokulasi-pengendapan dipergunakan bila mutu air
tidak bervariasi besar dan laju aliran cukup seragam.
i. Filtrasi
Filter yang biasa terdiri dari selapis pasir, atau pasir dan tumpukan batu bara,
yang ditunjang di atas suatu tumpukan kerikil.

12

2. Metode pengolahan kimiawi


a. Koagulasi
Zat koagulan dipergunakan untuk membentuk endapan koagulan, caranya
bereaksi dengan air dan partikel-partikel yang membuat keruh. Koagulan yang
paling dikenal adalah alum [Al2(SO4)3.18H2O], yang bereaksi dengan alkalinitas di
dalam air untuk membentuk suatu kumpulan aluminium hidroksida.
b. Disinfeksi
Disinfektan yang ideal adalah klorin, bila dimasukkan ke dalam air akan
mempengaruhi

dengan

segera dan

membinasakan keebanyakan

makhluk

mikroskopis.
c. Pelunakkan Air dengan Pengendapan.
Penghilangan kesadahan dari air bukanlah hal yang penting untuk pengamanan
air yang bersangkutan. Keuntungannya terutama terletak pada berkurangnya
kebutuhan sabun dan turunnya biaya pemeliharaan sambungan dan perlengkapan
pipa. Dua metode dasar yang dipergunakan untuk menghilangkan kesadahan adalah
proses kapur soda dan proses pertukaran ion. Dalam proses kapur-soda, kapur
[Ca(OH)2] dan abu soda (Na2CO3) ditambahkan ke air. Ini akan bereaksi dengan
garam-garam kalsium dan magnesium untuk membentuk endapan tak terlarut,
kalsium karbonat (CaCO3) dan magnesium hidroksida [Mg(OH)2] yang dapat
dibuang dari air dengan pengendapan.
d. Pelunakkan Air dengan Pertukaran Ion.
Suatu perangkat pertukaran ion mirip dengan suatu filter pasir yang medium
filternya berupa suatu getah pertukaran ion R dan bukannya pasir. Getah dapat
bersifat alamiah (zeolites) atau sintetis. Bila air sadah melalui filter pertukaran ion
tersebut, akan terjadi suatu pertukaran kation : kalsium dan magnesium di dalam air
dipertukarkan dengan sodium di dalam getah itu. Proses pertukaran ion
menghasilkan air yang kesadahannya nol. Karena biasanya tidak ada kebutuhan
untuk mendapatkan air yang sedemikian lembutnya, maka hanya sebagian saja dari
air yang melalui pengolahan yang dilembutkan. Bagian ini kemudian dicampur
dengan air yang tak dilembutkan untuk mendapatkan mutu air yang diinginkan.
Salah satu kelemahan dari metode penghilangan kesadahan ini adalah karena

13

menghasilkan suatu konsentrasi sodium yang mungkin berbahaya bagi orang yang
sakit jantung.
e. Absorpsi
Absorpsi merupakan fenomena permukaan, absorben haruslah mempunyai
permukaan yang luas dan harus bebas dari bahan-bahan yang diabsorp.
f. Oksidasi
Oksidasi kimiawi adalah suatu proses di mana keadaan oksidasi daari suatu
bahan ditingkatkan melalui suatu reaksi kimia. Fungsi oksidasi dalam pengolahan
air limbah yaitu untuk merubah bahan kimia yang tak diinginkan menjadi jenis
yang tidak berbahaya atau kurang berbahaya.
3. Metode Pengolahan Biologis
Metode ini merupakan unsur-unsur pokok bagi hampir semua jaringan pengolahan
sekunder. Konsep dasar pengolahan biologi, dengan sederhana meliputi (1) konversi
bahan organik terlarut dan koloidal dalam air limbah menjadi serat-serat sel biologis
dan menjadi produk akhir, dan (2) pembuangan selanjutnya dari serat-serat sel,
biasanya dengan cara pengendapan gravitasi. Metode pengolahan secara biologis
meliputi :
a. Proses lumpur aktif
Air limbah yang tak diolah atau yang diendapkan dicampur dengan lumpur
yang diaktifkan balik, yang volumenya 20 hingga 50 persen dari volumenya
sendiri.
b. Proses trickling filter
Buangan dari pengendapan primer biasanya mengandung kira-kira 60 %
hingga 80 % bahan organik yang mula-mula ada dalam air limbah. Proses filter
tetesan adalah suatu metode untuk mengoksidasikan bahan-bahan yang dapat
membusuk yang tersisa setelah pengolahan primer.
c. Piringan biologis berputar
Pada proses piringan biologis, sejumlah piringan plastik bulat dipasang pada
suatu gagang sumbu. Organisme-mikro yang melaksanakan pengolahan melekat ke
piringan-piringan itu dan berputar ke dalam serta ke luar dari air limbah.
d. Kolam stabilisasi dan aerasi

14

Kolam stabilisasi atau kolam oksidasi bermanfaat untuk memantapkan


bahan organik melalui kerja gabungan dari ganggang organisme mikro lainnya.
Suatu kolam aerasi pada dasarnya adalah suatu sistem kolam untuk pengolahan air
limbah di mana oksigen dimasukkan dengan aerator-aerator mekanik dan tidak
hanya mengandalkan produksi oksigen fotosintesis.
4. Pengolahan Air Limbah Lanjutan
Pengolahan limbah lanjutan bersangkutan operasi-operasi dan proses-proses
tambahan di luar yang secara konvensional dipergunakan untuk mempersiapkan air
limbah guna penggunaan kembali secara langsung bagi kebutuhan-kebutuhan industri,
pertanian, dan perkotaan. Selama suatu daur penggunaan bagi kebutuhan kota,
konsentrasi bahan-bahan organik dan anorganik di dalam air akan meningkat. Sebagian
besar dari bahan organik yang secara biologis dapat mengalami degradasi telah
terbuang selama sselama pengolahan konvensional, tetapi antara 40 dan 100 mg/l
bahan organik yang secara biologis sangat tahan atau sukar cair akan tetap berada
dalam larutan buangan. Bahan-bahan ini mungkin merupakan produk akir dari
pembusukan biologis yang normal atau produk-produk buatan, misalnya detergen
sintetis, pestisida dan/atau limbah industri organik. Selama suatu daur penggunaan,
konssentrasi garam-garam seperti magnesium, kalsium,sodium, sulfat, klorida, dan
bikarbonat dapat meningkat sebesar 100 hingga 300 mg/l. Garam-garam semacam ini
juga bersifat sangat tahan. Bila air limbah harus dipergunakan kembali, seperti yang
biasa terjadi pada daerah-daerah yang kekurangan air, maka konsentrasi dari bahanbahan yang sangat tahan ini mungkin harus diturunkan, tergantung pada rencana
penggunaan buangan yang bersangkutan.
a. Pembuangan fosfor
Fosfor berada dalam air limbah perkotaan dalam bentuk organik, sebagai ortofosfat
anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira
separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan
ini dalam detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama
pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO4)3-. Dari konsentrasi fosfor ratarata keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan, kira-kira 10
persen dibuang sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10
hingga 20 persen lainnya digabungkan ke dalam sel-sel bakteri selama pengolahan

15

biologis. Sisa yang 70 persen dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan
bersama buangan instalasi pengolahan sekunder. Metode yang paling efektif
meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfor dapat dibuang dengan
penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferric klorida,atau ferrous sulfat.
Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan
garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalam tangki aerasi selama proses lumpur
yang diaktifkan, atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap
ketiga setelah pengolahan biologis. Bila ditambahkan pada tahap pengolahan
primer, sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu juga fosfornya,
sehingga dihasilkan pengurangan beban paada proses pengolahan biologis.
Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahanbahan kkimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi
lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan pengolahan biologis terjadi
bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan.
Pengendapan kimiawi, terutama yang mempergunakan kapur, kadang-kadang
dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfor
serta untuk peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan
amonia-nitrogen.
b. Pembuangan nitrogen
Nitrogen dapat berada di air limbah dalam berbagai bentuk organik seperti amonia,
nitrit atau nitrat. Juga ada yang berbentuk unsur dasar nitrogen, tetapi ini tidak
penting, karena bentuk ini tidak langsung dapat diperoleh untuk kebanyakan gulma
air. Sebagian besar dari nitrogen yang tersedia dalam air limbah perkotaan adalah
dalam bentuk organik atau nitrogen amonia dengan konsentrasi keseluruhan ratarata sebesar kira-kira 25 mg/l. kira-kira 20 persen darinya mengendap selama
pengendapan primer. Selama pengolahan biologis, sebagian besar dari nitrogen
organik dirubah menjadi nitrogen amonia dan sebagian darinya digabungkan ke
dalam sel-sel biologis yang dibuang dari aliran limbah sebelum pelepasan, jadi
membuang lagi 20 persen dari nitrogen yang masuk. Sisa yang 60 persen biasanya
dibuang ke air penerima. Kelebihan nitroge dapat dibuang dengan berbagai metode
yang dipergunakan untuk menghilangkan garam dari persediaan air, dengan
pemisahan amonia dan nitrifikasi biologis serta denitrifikasi(anaerobik) maupun
berbagai metode lainnya.

16

c. Pembuangan garam-garam anorganik


Bahan-bahan anorganik dapat dibuang dari air limbah yang sudah diolah dengan
proses-proses yang biasa dipergunakan untuk membuang garam dari dalam air.
Pertukaran ion dapat dipergunakan, elektrodialis, dan osmosis terbalik juga layak.
Pengotoran membran-membran oleh bahan-bahan organik yang bandel di dalam air
limbah yang sudah diolah mungkin merupakan suatu persoalan. Metode yang
paling efektif untuk membuang bahan-bahan organik yang bandel ini adalah
dengan melewatkannya melalui kolom-kolom yang berisi karbon butiran yang
diaktifkan. Proses-proses telah dikembangkan untuk mempergunakan karbon yang
diaktifkan dengan efisien dan untuk meregenerasikan karbon pada waktu kapasitas
penyerapannya berkurang.

BEBERAPA CONTOH BAGAN ALIR PROSES


PENGOLAHAN AIR LIMBAH:
1. HOTEL
2. RUMAH SAKIT
3. PABRIK
4. AIR LIMBAH KOTA.

17

1. BAGAN ALIR PROSES PENGOLAHAN AIR LIMBAH HOTEL


LAUNDRY

FloorDrain

MEKANIK
&
ELEKTRIK

FloorDrain

DAPUR

FloorDrain GreasTrap Binfl

POLIKLINIK

FloorDrain

SALON

FloorDrain

K. MANDI
& TOILET

LCWT

FloorDrain

Bequi

BScr

Baer Clarif 1, 2, 3

BakDes

BakEfluen

SepticTank

KETERANGAN:
Binfl: Bak Influen, Bequi: Bak Equalisasi, Bscr: Bar Screen, Clarif: Clarifier, BakDes: Bak Desinfeksi

18

2. BAGAN ALIR PROSES PENGOLAHAN AIR LIMBAH


RUMAH SAKIT (PKU Muhammadiyah Yogyakarta)
Air Limbah
Bar Screen
Kolam Ekualisasi
Tangki Klarifier
FBK Bioreaktor
Tangki Holding
Mixed Media Filter
Tangki Air Bersih
(Clear Water Tank)

19

3. BAGAN ALIR PROSES PENGOLAHAN AIR LIMBAH


PABRIK (GULA)
AIR LIMBAH

DIPOMPA
BAK EQUALIZER
BAWAH

TANGKI BILASAN (EVAPORATOR)

BAK EQUALIZER ATAS

BAK
PENGERING
LUMPUR
AKTIF
(DRYING BED)

BAK AERASI ALAM

BAK PENGENDAP AWAL I

BAK PENGENDAP AWAL II

BAK PEMBIBITAN I

BAK SARINGAN AKTIF

BAK PEMBIBITAN II

BAK AERASI
DIPOMPA
BAK PENGENDAP I

BAK SARINGAN I

BAK KOLAM IKAN I

BAK PENGENDAP II

BAK SARINGAN II

BAK KOLAM IKAN II

OUTLET

20

4. BAGAN ALIR PROSES PENGOLAHAN AIR LIMBAH KOTA


Air Limbah
Saringan-1 (Kasar)
Rumah Pompa
Bak Pengendap Pasir
Saringan-2
Bak Pembagi Aliran
Kolam Fakultatif
Kolam Maturasi
Badan Air(Sungai,dll.)

21

KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


NOMOR : 214 / KPTS / 1991
TENTANG
BAKU MUTU LINGKUNGAN DAERAH UNTUK WILAYAH
PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
BAGI BAKU MUTU LIMBAH CAIR
NO.

Parameter

1.
2.
3.

FISIKA
Temperatur
Zat padat terlarut
Zat padat tersuspensi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.

KIMIA
PH
Besi terlarut (Fe)
Mangan (Mn)
Barium (Ba)
Tembaga (Cu)
Seng (Zn)
Krom Heksavalen
Krom Total
Cadmium (Cd)
Raksa (Hg)
Timbal (Pb)
Stanum (Sn)
Arsen (As)
Selenium (Se)
Nikel (Ni)
Cobalt (Co)
Sianida (CN)
Sulfida (H2S)
Fluorida (F)
Klorin bebas (Cl2)
Amoniak bebas (NH3-N)
Nitrat (NO3-N)
Nitrit (NO2-N)
BOD
COD
Senyawa aktif biru metilen
Fenol
Minyak nabati
Minyak mineral
Radioaktifitas **)
Pestisida (termasuk PCB ***)

Satuan
0

Golongan Baku Mutu Air Limbah


II
III
IV

C
mg / l
mg / l

35
1500
100

40
2000
200

45
4000
300

45
5000
400

mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l
mg / l

6-9
1
0.5
1
1
2
0.05
0.1
0.01
0.001
0.03
1
0.05
0.01
0.1
0.2
0.02
0.01
1.5
0.5
0.02
10
0.006
30
60
0.5
0.01
1
1

6-9
5
2
2
2
5
0.1
0.5
0.05
0.02
0.1
2
0.1
0.05
0.2
0.4
0.05
0.05
2
1
1
20
1
50
100
5
0.5
5
10

6-9
10
5
3
3
10
0.25
1
0.1
0.005
1
3
0.5
0.5
0.5
0.6
0.1
0.1
3
2
5
30
3
150
300
10
1
10
50

6-9
20
10
5
5
15
0.6
2
0.5
0.01
2
5
1
1
1
1
0.5
1
5
5
20
50
5
300
600
15
2
20
100

22