Anda di halaman 1dari 13

RINGKASAN

FILSAFAT ILMU
( Karangan : Prof.Dr.Amsal Bakhtiar,M.A )

Disusun Oleh :
ARIANTY HASIM, S.Kel
NIM : 211290004

PROGRAM PASCA SARJANA


JURUSAN AGRIBISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PARE-PARE
TAHUN 2011/2012

BAB I . RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU

A. Ilmu Sebagai Objek Kajian Filsafat


Setiap ilmu memiliki 2 macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material
adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek
material dari ilmu kedokteran.
Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti
pendekatan induktif dan deduktif. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang
ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Yang tampak adalah dunia
empiris, sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika.
Bahkan dalam perkembangan berikutnya, filsafat tidak hanya dipandang sebagai induk dan
sumber ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami
spesialisasi.

B. Pengertian Filsafat Ilmu


Ada beberapa pengertian pokok tentang filsafat ilmu menurut kalangan filosof, yaitu : 1.
Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh
realitas, 2. Upaya untuk melukiskan hakikat realiatas akhir dan dasar serta nyata, 3. Upaya
untuk menentukan

batas-batas dan jangkauan pengetahuan, 4. Penyelidikan kritis atas

pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang dianjurkan oleh berbagai bidang


pengetahuan, 5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang Anda
katakana dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.

Immanuel Kant (1724 1804 M), mengatakan bahwa filsafat itu ilmu dasar segala
pengetahuan, yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu :
1. Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
2. Apakah yang boleh kita kerjakan ? (dijawab oleh etika/norma)

3. Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)


4. Apakah yang dinamakan manusia? (dijawab oleh antropologi)
Pendapat Sidi Gazilbi memperlihatkan adanya 3 ciri pokok dalam filsafat,yaitu :
1. Adanya unsure berpikir yang dalam hal ini menggunakan akal
2. Adanya unsure tujuan yang ingin dicapai melalui berpikir tersebut
3. Adanya unsur ciri yang terdapat dalam pikiran tersebut , yaitu mendalam.

C. Tujuan Filsafat Ilmu


Ada beberapa tujuan filsafat ilmu, antara lain :
1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami
sumber, hakikat dan tujuan ilmu
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu diberbagai bidang,
sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan
tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.
4. Mendorong para calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan
mengembangkannya.
5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada
pertentangan.

BAB II. PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN


A. Defenisi dan Jenis Pengetahuan
Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan

(knowledge) adalah proses

kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam arti luas
berarti semua kehadiran internasional objek dalam subjek.
Pengetahuan yang dimiliki manusia ada 4, yaitu :
a. Pengetahuan biasa, yakni dalam ilmu filsafat disebut common sense/ good sense
b. Pengetahuan ilmu, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science
c. Pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat
kontemplatif dan spekulatif
d. Pengetahuan Agama, yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para
utusan-Nya.

B. Hakikat dan Sumber Pengetahuan


Ada 2 teori untuk mengetahui hakikat pengetahuan itu, yaitu :
1. Realisme
Teori ini mempunyai pandangan yang realistis terhadap alam. Pengetahuan menurut
realism adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada di alam nyata.
2. Idealisme
Menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan
kenyataan adalah mustahil, karenanya pengetahuan hanya merupakan gambaran
subjektif dan bukan gambaran objektif tentang realitas.

Sumber pengetahuan, antara lain :

Empirisme
Manusia memperoleh pengetahuan dari pengalamannya

Rasionalisme
Menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan

Intuisi
Suatu pengetahuan yang langsung, mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi

wahyu
Pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantaraan para nabi

C. Ukuran Kebenaran
Teori yang menjelaskan kebenaran epistemologisadalah sebagai berikut :
1. Teori korespondensi
Kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud
oleh suatau pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan atau
pendapat tersebut.
2. Teori koherensi tentang kebenaran
Kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain,
yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri.
3. Teori pragmatisme tentang kebenaran
Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata
tergantung pada azas manfaat.

D. Klasifikasi dan Hierarki Ilmu


Al-farabi

membuat klasifikasi ilmu secara filosofis kedalam beberapa wilayah, seperti

ilmu-ilmu matematis, ilmu alam,metafisika, ilmu politik dan terakhir yurisprudensi dan
teologi dialektis

Al-Ghazali secara filosofis membagi ilmu kedalam ilmu syar-iyyah dan ilmu aqliyyah.
Dr.Muhammad Al-Bahi membagi ilmu dari segi sumbernya yaitu : ilmu yang bersumber
dari Tuhan, dan ilmu yang bersumber dari manusia.

BAB IV. DASAR-DASAR ILMU


A. Ontologi
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsfatan yang paling
kuno. Dalam persoalan ontology orang menghadapi persoalan

bagaimanakah kita

menerangkan hakikat dari segala yang ada ini?


Ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara
yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek
fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada, dalam kerangka tradisional ontology
dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal yang ada.

Di dalam pemahaman ontology dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok


pemikiran sebagai berikut :
1. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah
satu saja, tidak mungkin ada dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang
asal, baik yang berupa materi ataupun rohani.
2. Dualisme
Pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Benda terdiri dari 2 macam
hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan
ruh, jasad dan spirit.
3. Pluralisme
Berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme
berasal dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya
nyata.
4. Nihilisme
Berasal dari Bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Yaitu teori tentang :
- Tidak ada sesuatupun yang eksis
- Bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui

- Sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada
orang lain.
5. Agnostisisme
Paha mini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik
hakikat materi ataupun hakikat ruhani.

B. Epistemology
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat
dan

lingkup

pengetahuan,

pengandaian-pengandaian,

dan

dasar-dasarnya

serta

pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.

Pengetahuanyang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai
metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah :
1. Metode induktif
Yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi
disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebiih umum.
2. Metode deduktif
Yaitu suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empiric diolah lebih lanjut
dalam suatu system pernyataan yang runtut.
3. Metode positivisme
Berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, dan yang positif.
4. Metode kontemplatif
Mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh
pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya
dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi.
5. Metode dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode Tanya jawab untuk mencapai
kejernihan filsafat. Namun plato mengartikannya diskusi logika.

Dalam bidang filsafat, Descartes mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi
landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Tidak menerima apapun sebagai hal yang benar, kecuali kalau diyakini sendiri bahwa itu
memang benar
2. Memilah-milah

masalah

menjadi

bagian-bagian

terkecil

untuk

mempermudah

penyelesaian
3. Berpikir runtut dengan mulai dari hal yang sederhana sedikit demi sedikit untuk mencapai
ke hal yang paling rumit.

C. Aksiologi
Untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi, penulis akan menguraikan
beberapa defenisi tentang aksiologi, di antaranya :
1. Aksiologi berasal dari kata axios (yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti
teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai
2. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari
pengetahuan yang diperoleh
3. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam 3 bagian, yaitu :

Moral conduct, yaitu tindakan moral

Esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan,

Sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik.

BAB V. SARANA ILMIAH


A. Bahasa
Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan
manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan
menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernafas dan berjalan. Padahal bahasa
mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk membedakan manusia dari
ciptaan lainnya.

Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah :


1. Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat
2. Penetapan pemikiran dan pengungkapan
3. Penyampaian pikiran dan perasaan
4. Penyenangan jiwa
5. Pengurangan kegoncangan jiwa

B. Matematika
Penalaran ilmiah menyadarkan kita kepada proses logika deduktif dan logika induktif.
Matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika
mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.
1. Matematika sebagai bahasa
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian
pernyataan yang ingin kita sampaikan.
2. Matematika sebagai sarana berfikir deduktif.
Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama deduktif diperoleh karena penyelesaian
masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari oleh pengalaman seperti halnya yang
terdapat dalam ilmu-ilmu empirik, melaiankan didasari atas deduksi-deduksi.
3. Matematika untuk ilmu alam dan ilmu sosial.

Konstribusi matematika dalam perkembangan ilmu pengetahuan alam, ditandai dengan


penggunaan lambing-lambang bilangan untuk penghitungan dan pengukuran, disamping hal
lain seperti bahasa, metode dan lainnya.
Berbeda dengan olmu sosial yang memiliki objek penelaahan yang kompleks dan sulit dalam
melakukan pengamatan, disamping objek penelahaanyang tak berulang maka konstribusi
matematika tidak mengutamakan pada lambing-lambang bilangan.

C. Statistik
Statistik kadang diberi pengertian sebagai data statistik, yaitu kumpulan bahan
keterangan berupa angka atau bilangan. Kadang juga dimaksudkan sebagai metode statistik,
yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau
mengatur, menyajikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan
bahan keterangan yang berupa angka atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.
Peranan statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan :
1. Observasi
ILmuwan melakukan observasi mengenai apa yang terjadi, mengumpulkan dan
mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang diselidikinya.
2. Hipotesis
Untuk menerpakan fakta yang sudah diobservasi, dugaan yang sudah ada dirumuskan
dalam sebuah hipotesis atau teori.
3. Ramalan
Ramalam bukan berarti menuju hari depan, melainkan menduga apa yang akan terjadi
berdasarkan syarat-syarat tertentu.
4. Pengujian kebenaran
Ilmuwan

lalu

mengumpulakn

dikembangkan dari teori.

fakta

untuk

menguji

kebenaran

ramalanyang

D. Logika
Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti
setengah tidak boleh lebih besar daripada satu.

Aturan cara berpikir yang benar :


1. Mencintai kebenaran
2. Ketahuilah (dengan sadar) apa yang sedang anda kerjakan
3. Ketahuilah (dengan sadar) apa yang sedang anda katakana
4. Buatlah distingsi (pembedaan) dan klasifikasi (pembagian) yang semestinya
5. Cintailah defenisi yang tepat
6. Ketahuilah (dengan sadar) mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu
7. Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta sangguplah
mengenali jenis, macam, dan nama kesalahan pemikiran (penalaran)

BAB VI. TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU

A. Kemajuan Ilmu dan Krisis Kemanusiaan


Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan
manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru
bagi kehidupan manusia.
Begitu juga kemajuan ilmu dan teknologi, yang semula untuk memudahkan urusan
manusia, ketika urusan itu semakin mudah, maka muncul kesepian dan keterasingan baru,
yakni lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan dan silaturrahim.
Jika kita tidak mau kehilangan eksistensi kemanusiaan dan terhindar dari krisis
kemanusiaan, maka kita harus berjuang untuk membebaskan diri dari kungkungan teknologi
dan kembali pada eksistensi awal, yakni manusia yang kreatif dan dinamis. Penyadaran
terhadap bahaya yang begitu besar bagi kemanusiaan perlu terus dikumandangkan, terutama
kepada penguasa yang memiliki otoritas dalam mengambil kebijakan.
Etika global perlu dirumuskan bersama karena krisis akibat teknologi

tidak hanya

berdampak untuk Negara tertentu, tetapi mencakup semua Negara.

B. Agama, Ilmu, dan Masa Depan Manusia


Agama dan ilmu dalam beberapa hal berbeda, namun pada sisi tertentu memiliki
kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan,
sementara ilmu selalu mencari yang baru, tidak terikat dengan etika dan objektif. Kendati
agama dan ilmu berbeda, keduanya memiliki persamaan yakni bertujuan memberi ketenangan
dan kemudahan pada manusia.
Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati,
sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.
ILmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dilihat dari
tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan kehidupan yang lebih abadi. Kalau visi ini

diyakini oleh para ilmuwan dan agamawan, maka harapan kehidupan kedepan akan lebih
cerah dan sentosa. Tentu saja pemikiran-pemikiran seperti ini perlu dukungan dari berbagai
pihak untuk terwujudnya masa depan yang cerah dan harmonis.