Anda di halaman 1dari 28

PENGARUH TANAMAN MELATI AIR (Echinodorus Palaefolius) DAN

ECENG GONDOK (Eichornia Crassipes) SEBAGAI AGEN PENURUN


KADAR FOSFAT PADA LIMBAH LAUNDRY DI KOTA MALANG
TAHUN 2017

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH

SITI NUR HIDAYANTI

NIM 130612607897

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DESEMBER 2016
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian ................................................................................ 3
D. Hipotesis Penelitian ............................................................................. 3
E. Kegunaan Penelitian ............................................................................ 3
F. Asumsi Penelitian ................................................................................ 4
G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ...................................... 5
H. Definisi Istilah ..................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Jenis dan Bahaya Polutan Pada Limbah Cair Terhadap
Lingkungan ......................................................................................... 7
B. Gambaran Kota Malang ...................................................................... 10
C. Kemampuan Tumbuhan Dalam Menurunkan Kadar Polutan
Pada Limbah Cair ................................................................................. 12
D. Peran Tumbuhan Melati Air (Echinodorus Palaefolius) Dan
Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) Dalam Mengurangi
Polutan Dalam Limbah Cair ................................................................ 15
E. Kerangka Pemikiran ............................................................................ 18
BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian .......................................................................... 19
B. Subjek Penelitian ................................................................................. 20
C. Instrumen Penelitian ............................................................................ 21
D. Pengumpulan Data .............................................................................. 21
E. Teknik Analisis Data ........................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 24

ii
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pencemaran air merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang


masih dialami oleh masyarakat kita saat ini. Zat-zat buangan hasil kegiatan
masyarakat juga turut menyumbang atas terjadinya penurunan kualitas air selain
dari faktor alamiah. Bahan pencemar yang dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem air biasanya berasal dari limbah domestik, industri, pertambangan, dan
lain sebagainya. Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan air bersih yang tidak
diimbangi dengan peningkatan kualitas air inilah yang mengakibatkan munculnya
berbagai macam gangguan kesehatan yang dialami oleh masyarakat.

Limbah cair adalah air kotor yang mengandung zat-zat pencemar hasil dari
proses kegiatan industri maupun rumah tangga. Beberapa industri telah
menerapkan proses pengolahan limbah sesuai dengan standard perundang-
undangan yang telah ditetapkan, akan tetapi beberapa industri lainnya juga masih
banyak yang dengan sengaja langsung mengalirkan limbahnya ke aliran sungai
maupun drainasse. Tidak hanya limbah industri saja, limbah domestik yang
dihasilkan oleh kegiatan warga sehari-hari juga banyak yang tidak mengalami
pengolahan terlebih dahulu dan biasanya langsung dibuang ke aliran sungai. Hal
ini tentu akan mempengaruhi kualitas badan air permukaan sekitar pemukiman.

Laundry adalah salah satu usaha yang menyediakan jasa layanan dalam
mencuci pakaian. Bagi mereka yang malas mencuci pakaian karena kesibukan
yang dijalani, bisa memanfaatkan jasa laundry untuk meringankan beban
mencucinya. Semakin tinggi daya saing masyarakat dalam mencari pekerjaan,
usaha mendirikan jasa laundry menjadi sesuatu yang menguntungkan apalagi jika
usaha tersebut dibuka dekat dengan universitas, instansi atau di perumakan yang
di dalamnya banyak orang sibuknya (Asfawi, 2014). Namun berdirinya jasa
layanan laundry ini tidak sepenuhnya berdampak positif, dampak negatif dari
penggunaan deterjen juga menjadi masalah kesehatan lingkungan yang perlu
untuk diperhatikan. Kandungan fosfat dalam limbah cair laundry akan
2

menyebabkan pencemaran lingkungan perairan dengan salah satu indikatornya


yaitu terjadinya eutrofikasi.

Melati air merupakan jenis tanaman yang mampu hidup dengan konsentrasi
air yang tinggi. Ternyata selain sebagai tanaman hias yang biasanya ditanam di
pekarangan, tanaman melati air juga bisa dijadikan sebagai agen fitoremediator
limbah cair termasuk penurunan kadar fosfat pada limbah deterjen
(Padmaningrum, 2014). Sebenarnya tanaman air yang kebanyakan dianggap
sebagai gulma air bisa dimanfaatkan untuk tanaman fitoremediasi yang mampu
mengurangi kadar zat pencemar yang terkandung dalam limbah cair. Selain
tanaman melati air, tanaman eceng gondok ternyata juga mampu menurunkan
kadar fosfat. Hal ini karena tanaman air tersebut mampu melakukan tahapan-
tahapan dalam mengelola logam berat yang terkandung di dalam air sehingga
kandungan logam berat di dalam air bisa berkurang.

Malang merupakan salah satu kota besar nomor dua di Jawa Timur setelah
Kota Surabaya. Kota yang memliki iklim dingin ini dihuni oleh sekitar 804.500
penduduk. Suatu jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan luas
wilayahnya yaitu 110,06 km2. Selain penduduk yang menetap, banyak penduduk
dari luar daerah yang berdatangan ke Malang karena ingin menuntut ilmu atau
ingin mencari lapangan pekerjaan. Salah satu usaha jasa yang sedang menjamur di
Malang adalah usaha laundry, mengingat bahwa jasa laundry sangat dibutuhkan
oleh mahasiswa maupun para pekerja yang sibuk serta tidak sempat mencuci
pakaian sendiri.

Oleh karena latar belakang tersebut, peneliti ingin melakukan suatu penelitian
eksperimen dengan judul Pengaruh Tanaman Melati Air (Echinodorus
paleafolius) Dan Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) Sebagai Penurun Kadar
Fosfat Pada Limbah Laundry Di Kota Malang Tahun 2017. Harapannya dengan
dengan diadakan penelitian ini dapat menekan tingkat pencemaran air terutama
yang terjadi di badan air permukaan di Kota Malang. Sehingga hal ini dapat sesuai
dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu Air
Limbah Domestik yang mewajibkan setiap penanggung jawab usaha dan atau
kegiatan pemukiman (real estate), rumah makan (restaurant), perkantoran,
3

perniagaan dan apartemen wajib melakukan pengolaha air limbah domestik


sehingga mutu limbah domestik yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui
baku mutu air limbah domestik yang telah ditetapkan.

B. Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh tanaman melati air (Echinodorus Palaefolius) dan eceng
gondok (Eichornia Crassipes) terhadap penurunan kadar fosfat pada limbah
laundry di Kota Malang?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengukur pengaruh tanaman melati air (Echinodorus Palaefolius) dan


eceng gondok (Eichornia Crassipes) terhadap penurunan kadar fosfat pada limbah
laundry di Kota Malang.

D. Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh antara penerapan
tanaman melati air (Echinodorus Palaefolius) dan eceng gondok (Eichornia
Crassipes) terhadap penurunan kadar fosfat pada limbah laundry di Kota Malang.

E. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk pemerintah
a. Dapat dijadikan langkah alternatif dalam pengolahan limbah usaha
laundry yang ramah lingkungan.
b. Diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan cara membuat kolam dengan
ukuran lebih luas, sehingga selain sebagai sarana penghijauan kolam
tersebut mampu digunakan sebagai upaya pengolahan limbah laundry
dalam jumlah yang banyak.
c. Diharapkan mampu menurunkan bahan pencemar khususnya fosfat
pada badan air permukaan terutama yang berasal dari limbah laundry,
sehingga mampu menekan terjadinya pencemaran fosfat di badan air
permukaan.
4

2. Untuk masyarakat
a. Diharapkan dapat mengurangi bahan pencemar pada air permukaan
yang sebagian besar masih digunakan oleh masyarakat.
b. Menurunkan prevalensi penyakit pada masyarakat yang diakibatkan
oleh pencemaran air.
c. Bagi masyarakat yang mempunyai jasa usaha laundry, dapat
menerapkan cara ini karena selain terbilang murah, dengan
menerapkan cara ini mereka sudah turut berpartisipasi dalam upaya
penyehatan lingkungan perairan.
3. Untuk Mahasiswa
a. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya
b. Dapat menjadi salah satu kajian empiris yang dapat digunakan oleh
kalangan akademisi dalam menganalisis pengaruh tumbuhan air yang
dapat menurunkan kadar fosfat dalam limbah laundry.
4. Untuk bidang Keilmuan Kesehatan Masyarakat
a. Dapat dijadikan sebagai salah satu upaya preventif dalam menangani
limbah cair laundry yang salah satu dampaknya nanti akan sampai
pada kesehatan masyarakat.
b. Menjadi bahan pembelajaran di bidang ilmu kesehatan masyarakat
khususnya di pilar kesehatan lingkungan.

F. Asumsi Penelitian

Adapun asumsi penelitian dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Fosfat berasal dari Sodium Trypolyposphate (STTP) yang merupakan


salah satu bahan yang kadarnya besar dalam detergen.
2. Limbah laundry mempunyai kadar fosfat tinggi sehingga jika dibuang
secara langsung di lingkungan perairan maka akan menyebabkan
pencemaran.
3. Tanaman melati air dan eceng gondok dapat mengurangi kadar fosfat
pada limbah laundry dengan mekanisme fitoekstraksi, rhizofiltrasi,
5

fitodegradasi, fitostabilisasi dan fitovolatilisasi yang selanjutnya


mekanisme tersebut dikemas dalam upaya fitoremediasi

G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Tabel 1. Ruang Lingkup Penelitian

Konsep Variabel Indikator Instrumen


- Penurunan kadar Independent: Kategori Tumbuhan: - Observasinal
fosfat pada - Tumbuhan 1. Jumlah tanaman - Pengujian tes, yaitu
limbah laundry Melati Air pengukuran kadar fosfat
(Echinodorus
karena penerapan pada limbah laundry
Palaefolius
tanaman Melati sebelum penerapan
Air (Echinodorus - Tumbuhan Kategori Tumbuhan: dengan sesudah
Palaefolius) dan Eceng Gondok 1. Jumlah tanaman penerapan tumbuhan
Eceng Gondok (Eichornia Melati Air (Echinodorus
(Eichornia Crassipes) Palaefolius) dan Eceng
Crassipes) Gondok (Eichornia
Dependent: Kadar fosfat dalam Crassipes)
Penurunan Kadar limbah laundry yang
Fosfat dikeluarkan ke menggunakan alat
lingkungan perairan spektrofotometer yang
sudah dinilai aman dan telah dikalibrasi dengan
sesuai dengan ambang aquades.
batas yang telah
ditetapkan UU No 8
Tahun 2011, yaitu
untuk lingkungan
perairan maksimal 5
mg/l (kelas IV).

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan di alam terbuka dengan memanfaatkan bak atau


kolam kecil buatan sehingga faktor cuaca dapat mempengaruhi kondisi air
limbah pada kolam. Tidak menutup kemungkinan pada saat musim
penghujan, volume bak atau kolam akan bertambah dengan air hujan yang
pastinya juga akan mempengaruhi konsentrasi fosfat dalam air limbah dan
hal ini tidak dapat dikontrol oleh peneliti.
6

2. Faktor keadaan air yang dapat mempengaruhi kondisi fosfat pada limbah
laundry. Limbah laundry yang dihasil oleh usaha jasa laundry yang
menggunakan air PDAM dengan yang menggunakan air sumur gali pasti
menghasilkan kadar fosfat yang berbeda dan faktor terkait perbedaan
keadaan air ini tidak diteliti.
H. Definisi Istilah
1. Melati air adalah tanaman yang memiliki nama latin Echinodorus
Palaefolius dan biasanya mampu hidup di tempat yang memiliki kadar air
tinggi.
2. Eceng gondok adalah tanaman yang memiliki nama latin Eichornia
Crassipes dan biasanya hidup sebagai gulma air.
3. Kadar fosfat adalah sejumlah senyawa fosfat yang yang terkandung dalam
limbah laundry.
4. Limbah laundry adalah sejenis limbah cair yang berasal dari sisa
pembuangan kegiatan usaha laundry.
7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Jenis dan Bahaya Polutan Pada Limbah Cair Terhadap Lingkungan

Limbah cair adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga,
industri maupun tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung
bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta
mengganggu lingkungan hidup (Notoatmodjo, 2011:194). Sehingga dapat
diartikan pula bahwa air buangan atau limbah cair adalah air yang tersisa dari
kegiataan manusia baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti
indutri, perhotelan, dan sebagainya.

Limbah cair diklasifikasikan menjadi dua, yaitu air limbah industri dan air
limbah perkotaan. Kedua air limbah ini secara bersamaan sering dibuang di
saluran-saluran yang sama maupun ke badan-badan air, seperti selokan atau
sungai-sungai. Sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah
berasal dari perumahan sedangkan sumber limbha cair dari industri sederhananya
dapat berasal dari pabrik tempe, pabrik tahu, dan usaha laundry. Air limbah
mempunyai tiga karakteristik fisikawi (seperti: warna, kekeruhan, suhu, dan
kandungan padatan), karakter kimiawi (seperti: pH dan alkalinitas, BOD,COD, N,
P, S dan kemungkinan keberadaan logam berat. Karakter biologis (seperti: jumlah
Coliform, keberadaan jamur, virus dan lain-lain. (Setyanto dkk, 2011)

Sedangkan yang dimaksud dengan polutan adalah zat atau bahan yang dapat
mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan. Sehingga yang dimaksud
dengan pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup,
zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan perairan sehingga
menyebabkan keadaan air tersebut mengalami penyimpangan dari keadaan
normalnya. (Wardhana, 2004)

Berdasarkan penjelasan diatas, telah disebutkan bahwa limbah cair dapat


berasal dari pemukiman dan juga dari suatu usaha industri. Misalnya dalam usaha
laundry, setiap harinya usaha ini melayani jasa pencucian baju yang melibatkan
8

peran detergen sebagai agen pembersihnya. Detergen sendiri merupakan suatu


senyawa sintetis zat aktif muka (surface active agent) yang dipakai sebagai zat
pencuci yang baik untuk keperluan rumah tangga, industri tekstil, kosmetik, obat-
obatan, logam, kertas, dan karet (Ginting, 2007).

Fosfor merupakan salah satu nutrisi utama yang sangat penting dalam
pertumbuhan tanaman. Fosfor tidak terdapat secara bebas di alam. Fosfor
ditemukan sebagai fosfat dalam beberapa mineral, tanaman dan merupaka unsur
pokok dari protoplasma. Fosfor terdapat dalam air sebagai ortofosfat. Ortofosfat
sendiri merupakan bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman.
Fosfat terdapat tiga bentuk yaitu H2PO4- , HPO42-, PO43-. Fosfat umumnya diserap
oleh tanaman dalam bentuk ortofosfat primer H2PO4- atau ortofofat sekunder
HPO42- sedangkan PO43- lebih sulit diserap oleh tanaman.

Pada pH yang lebih rendah, tanaman lebih banyak menyerap ion ortofosfat
primer dan pada pH yang lebih tinggi ion ortofosfat sekunder yang lebih banyak
diserap oleh tanaman (Hanafiah, 2005). Fosfat merupakan elemen kunci diantara
nutrient utama tanaman yang mengakibatkan terjadinya proses eutrofikasi. Fosfat
berasal dari detergen dalam limbah cair dan pestisida serta insektisida dari lahan
pertanian. Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa
ortofosfat, polifosfat dan fosfat organis. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat
dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air.
Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam
sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Pada konsentrasi kurang dari 0,01
mg/l pertumbuhan tanaman dan algae akan terhambat, keadaan ini dinamakan
oligotrop. Sehingga bila kadar fosfat serta nutrien lainnya tinggi, pertumbuhan
tanaman dan algae tidak terbatas lagi dan kondisi ini disebut eutrofikasi.
Sebenarnya eutrofikasi merupakan suatu proses alamiah dimana badan air
mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya
biomassa. Dibutuhkan proses hingga ribuan tahun untuk sampai pada kondisi
eutrofik. Akan tetapi proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas
modernnya, secara tidak disadari dipercepat dalam hitungan dekade atau bahkan
beberapa tahun saja. (Rosariawari, 2005)
9

Limbah yang dihasilkan oleh usaha laundry pada umumnya mengandung


fosfat yang tinggi. Fosfat ini berasal dari Sodium Trypolyphospate (STTP) yang
merupakan salah satu bahan yang kadarnya besar dalam deterjen. Dalam detergen,
STPP ini berfungsi sebagai builder yang merupakan unsur terpenting kedua
setelah surfaktan karena kemampuannya menonaktifkan mineral kesadahan dalam
air sehingga deterjen dapat bekerja secara optimal. STTP ini akan terhidrolisa
menjadi PO4 dan P2O7 yang selanjutnya juga terhidrolisa menjadi PO4. Reaksinya
adalah sebagai berikut (Effendi ,2003):

P3O105- + H2O PO43- + P2O74- + 2H+


P2O74- + H2O 2PO43- + 2H+

Pemutih, air softener, surfaktan merupakan bahan terpenting pada detergen


laundry. Kandungan limbah laundry yang sangat kotor mengandung mineral oil,
logam berat, dan senyawa berbahaya dimana harga COD mencapai 1200 sampai
20.000 mg O2/L. Limbah laundry dari hotel, harga COD mencapai 600-2500 mg
O2/L. Kandungan limbah laundry dapat dilihat pada tabel berikut ini (Sostar-Turk
dkk, 2005) :

Parameter Kondisi limbah Konsentrasi batas pada


laundry emisi air
Temperatur (oC) 62 30
pH 9.6 6.5-9
Suspended substances (mg/L) 35 80
Sediment substances (mg/L) 2 0.5
Cl2 (mg/L) 0.1 0.2
Total nitrogen (mg/L) 2.75 10
Nitrogan ammonia (mg/L) 2.45 5
Total fosfat (mg/L) 9.9 1
COD (mg O2/L) 280 200
BOD5 (mg O2/L) 195 30
Mineral oil (mg/L) 4.8 10
AOX (mg/L) 0.12 0.5
Anionix surfactant (mg/L) 10.1 1

Polifosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri
yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat, seperti industri
pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air
buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Menurut Hardyanti (2007), kadar
10

fosfat (PO4) yang diperkenankan dalam air minum adalah 0,2 ppm. Kadar fosfat
dalam perairan alami umumnya berkisar antara 0,005-0,02 ppm. Kadar fosfat
melebihi 0,1 ppm, tergolong perairan yang eutrof.

Menurut undang-undang No 8 Tahun 2011 tentang Pengolahan Kualitas Air


dan Pengendalian Pencemaran. Kandungan fosfat dalam air dibedakan menjadi
empat kelas yaitu

Parameter Satuan Kelas Keterangan


Total fosfat Mg/l I II III IV Angka batas
sebagai P 0,2 0,2 1 5 minimum

B. Gambaran Kota Malang

Menurut Bappeda Pemerintah Kota Malang (2010) secara geografis Kota


Malang terletak pada koordinat 112o 06 112o 07 bujur Timur dan 7o 06 8o
02 Lintang Selatan. Kota Malang dikelilingi oleh gunung-gunung yaitu Gunung
Arjuno di sebelah utara, Gunung Semeru di sebelah Timur, Gunung Kawi dan
Panderman di sebelah Barat serta Gunung Kelud di sebelah Selatan. Wilayah kota
Malang merupakan daerah perbukitan dan dataran tinggi yang dilewati sungai
besar maupun kecil. Sungai yang mengalir dan melewati Kota Malang seperti
Sungai Brantas, Bango, Amprong, Mewek, Kajar dan Metro. Sumber air bersih
Kota Malang berasal dari mata air yang berasal dari sumber Polowijen I,
Polowijen II dan Polowijen III kemudian juga berasal dari sumur. Lahan di
Wilayah Kota Malang berupa perkebunan (kelapa, kopi, dan cengkeh), tegalan
(padi, jagung dan ubi jalar) serta sawah.

Secara administratif Kota Malang merupakan wilayah di Provinsi Jawa Timur


yang terdiri dari 5 (lima) wilayah kecamatan dan 57 desa. Mencakup luas wilayah
110,06 km2 dengan perincian sebagai berikut:

a. Kecamatan Klojen dengan luas 8,883 km2, terbagi menjadi 89 RW dan


674 RT.
b. Kecamatan Kedungkandang dengan luas 39,89 km2, terbagi menjadi 110
RW dan 822 RT
11

c. Kecamatan Blimbing dengan luas 17,77 km2, terbagi menjadi 123 RW


dan 880 RT
d. Kecamatan Sukun dengan luas 20,97 km2, terbagi menjadi 86 RW dan

820 RT

e. Kecamatan Lowokwaru dengan luas 22,60 km2, terbagi menjadi 118 RW

dan 739 RT

Terkait dengan pengelolaan air limbah, kondisi limbah cair rumah tangga di

Kota Malang sebagian sudah melalui proses pengolahan ada pula yang langsung

disalurkan menuju sungai atau diresapkan ke dalam tanah. Pengelolaan limbah

cair rumah tangga di Kota Malang sebagian masih memanfaatkan sistim

pengolahan konvensional yaitu menggunakan septic tank di masing-masing rumah

tangga, namun demikian kondisi septic tank ini belum menjamin bahwa hasil

pengolahan sudah memenuhi persyaratan. Selain menggunakan septic tank pribadi

terdapat pula sistim pengolahan secara komunal di berbagai tempat seperti di

Kelurahan Mergosono, Ciptomulyo, Tlogomas dan lain-lain.

Secara umum penanganan limbah domestik untuk Kota Malang harus

mengacu pada Rencana Strategi Nasional untuk Pengelolaan Air Buangan Rumah

Tangga Daerah Perkotaan. Sedangkan untuk penanganan limbah industri

dilakukan dengan berpedoman pada SK. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa

Timur No. 413 Tahun 1987 dan SK Gubernur No. 414 Tahun 1987 tentang

Penggolongan dan Baku Mutu Air Limbah di Jawa Timur. Kota Malang memiliki

jumlah penduduk 804.570 jiwa sehingga di digambarkan dengan diagram sistem

sanitasi (DSS) untuk kondisi air limbah (Grey Water) adalah sebagai berikut:
12

User Pengumpulan Pengangkutan (Semi) Daur Keterangan

Produk
Interface Penampungan Pengaliran/ pengolah ulang/

Input
Pengangkutan an aktif pembuang
terpusat an akhir

Kamar Selokan Sungai Sistem 1


Mandi
Tempat Sumur Sistem 2
Cuci
Resapan
Grey Piring
Tempat Septic Tank Resapan Sistem 3
Water
Cuci
Pakaian
Westafel Pipa Sungai Sistem 4

Pembawa

Sistem 2 dan 3 dianggap yang terbaik atau memiliki akses pelayanan sanitasi dan

jumlahnya diperkirakan sebesar 25%. Sedangkan sistim 1 dan 4 dianggap tidak

memiliki akses atau bermasalah dan jumlahnya diperkirakan sebesar 75%.

C. Kemampuan Tanaman Dalam Menurunkan Kadar Polutan Pada


Limbah Cair

Tanaman merupakan segala jenis tumbuh-tumbuhan yang memang sengaja


ditanam atau dibudidayakan oleh manusia guna diambil manfaatnya baik untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun sebagai hiasan semata. Tanaman yang
sering dijumpai sehari-hari dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan manusia
termasuk kebutuhan pangan. Selain bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan
pokok manusia, ada beberapa tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias,
peredam kebisingan, pereduksi polusi udara atau terkadang ada yang memang
hanya tumbuh liar dan dianggap sebagai gulma, padahal menurut beberapa
penelitian, beberapa tumbuhan tersebut ternyata dapat dimanfaatkan sebagai
pengikat polutan yang terdapat pada udara yang kotor maupun limbah cair.

Kemampuan tanaman dalam mereduksi suatu zat polutan dikenal dengan


istilah fitoremediasi. Kata phyto berasal dari bahasa Yunani/greek yaitu
phyton yang berarti tumbuhan atau tanaman (plant), remediation berasal dari
13

kata remediare (to remedy) yaitu memperbaiki atau menyembuhkan atau


membersihkan sesuatu. Jadi fitoremediasi (Phytoremediation) merupakan suatu
sistim dimana tanaman tertentu yang bekerjasama dengan mikro-organisme dalam
media (tanah, koral dan air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar atau
polutan) menjadi kurang atau tdak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna
secara ekonomis.

Pendapat lain mengatakan bahwa fitoremediasi adalah pemanfaatan


tumbuhan, mikroorganisme untuk meminimalisasi dan mendetoksifikasi polutan,
karena tanaman mempunyai kemampuan menyerap logam dan mineral yang
tinggi atau sebagai fitoakumulator dan fitokhelator (Ikawati, 2013).

Menurut Juhaeti (2004) fitoremediasi merupakan suatu upaya penanganan


limbah dengan cara memanfaatkan tanaman sebagai agen fitoremediator yang
berguna untuk menghilangkan polutan dari tanah atau perairan yang
terkontaminasi oleh limbah. Selain itu ada yang mendefinisikan fitoremediasi
sebagai penggunaan tanaman atau tumbuhan untuk menyerap, mendegradasi,
menghilangkan, menstabilkan atau menghancurkan bahan pencemar khususnya
logam berat maupun senyawa organik lainnya. (Caroline, 2015)

Tanaman yang dapat digunakan pada penelitian yang memanfaatkan sistim


fitoremediasi adalah tanaman yang cepat tumbuh, mampu mengonsumsi air dalam
jumlah yang banyak pada waktu yang singkat, mampu meremediasi lebih dari satu
polutan, dan toleransi yang tinggi terhadap polutan (Putri Yola dkk, 2014).
Konsep pemanfaatan tumbuhan dan mikroorganisme untuk meremediasi tanah
yang terkontaminasi polutan adalah salah satu teknik pengembangan dalam
pengolahan limbah.

Pada penelitian fitoremediasi di lapangan ada beberapa persyaratan bagi


tanaman yang akan digunakan dalam penelitian tersebut. Tidak semua jenis
tanaman dapat digunakan karena tidak semua tanaman dapat melakukan
metabolisme, volatilisasi dan akumulasi semua polutan dengan mekanisme yang
sama (Caroline, 2015). Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah yang
berbentuk padat, cair, mapun gas. Pendapat lain juga menyatakan, fitoremediasi
14

merupakan teknologi ramah lingkungan yang menggunakan tumbuhan dalam


mendegradasi dan meremoval polutan (Tiyama dalam Mangkoedihardjo, 2011).

Kemampuan tumbuhan sebagai penyerap polutan telah banyak dibuktikan


oleb berbagai peneliti. Salah satunya adalah penelitian Hermawati dalam Ikawati
(2013) terkait tumbuhan kayu apu, tumbuhan dengan nama latin Limnocharis
flava dipercaya mampu menurunkan phospat dalam air limbah detergen sebesar
28,9% pada konsentrasi 20% atau menurunkan dari 2 mg/L menjadi 1,423 mg/L,
pada konsentrasi 40% menurun dari 2 mg/L menjadi 1,456 mg/L atau sebesar
17,6%, sedangkan pada konsentrasi 60% juga mengalami penurunan dari 2,900
mg/L menjadi 1,977 mg/L atau sebesar 31,8%. Pemanfaatan tanaman air dalam
proses fitoremediasi ini sangat menarik sekaligus bermanfaat untuk menekan
terjadinya pencemaran air.

Menurut Fitriyah (2013) secara runtutan, mekanisme kerja oleh tanaman yang
digunakan sebagai agen fitomediator meliputi proses fitoekstraksi, rhizofiltrasi,
fitodegradasi, fitostabilisasi dan fitovolatilisasi yang akan dijelaskan sebagai
berikut:

a) Fitoekstraksi adalah penyerapan logam berat oleh akar tanaman dan


mengakumulasi logam berat tersebut ke bagian-bagian tanaman seperti
akar, batang dan daun.
b) Rhizofiltrasi adalah pemanfaatan kemampuan akar tanaman untuk
menyerap, mengendapkan, mengakumulasi logam berat dari aliran limbah.
c) Fitodegradasi adalah metabolisme logam berat di dalam jaringan tanaman
oleh enzim seperti dehalogenase dan oksigenase.
d) Fitostabilisasi adalah kemampuan tanaman dalam mengekskresikan
(mengeluarkan) suatu senyawa kimia tertentu untuk mengimobilisasi
logam berat di daerah rizosfer (perakaran).
e) Fitovolatilisasi terjadi ketika tanaman menyerap logam berat dan
melepaskannya ke udara lewat daun dan ada kalanya logam berat
mengalami degradasi terlebih dahulu sebelum dilepas lewat daun.
Keuntungan fitoremediasi adalah dapat bekerja pada senyawa organik dan
anorganik, prosesnya dapat dilakukan secara insitu dan eksitu, mudah diterapkan
15

dan tidak memerlukan biaya yang tinggi, teknologi yang ramah lingkungan dan
bersifat estetik bagi lingkungan, serta dapat mereduksi kontaminan dalam jumlah
yang besar. Sedangkan kerugian fitoremediasi ini adalah prosesnya memerlukan
waktu lama, bergantung kepada keadaan iklim, dapat menyebabkan terjadinya
akumulasi logam berat pada jaringan dan biomasa tumbuhan, dan dapat
mempengaruhi keseimbangan rantai makanan pada ekosistem.
Menurunnya konsentrasi pencemar dapat disebabkan adanya kompetisi antara
tumbuhan dan mikroba (baik dari akar tumbuhan maupun dari kompos). Senyawa
organik pada limbah akan digunakan sebagai sumber karbon bagi mikroba dan
tumbuhan sendiri. Hal ini menyebabkan kadar kontaminan organik menurun
(Pivetz dalam Caroline, 2015)

D. Peran Tumbuhan Melati Air (Echinodorus Palaefolius) Dan Eceng


Gondok (Eichornia Crassipes) Dalam Menurunkan Kadar Fosfat Dalam
Limbah Cair

Banyak sekali tumbuhan air yang tersebar di perairan tawar indonesia


maupun di perairan payau. Kebanyakan dari tumbuhan tersebut dianggap sebagai
gulma air yang hanya akan mencemari lingkungan, tetapi sebagian ada yang
memanfaatkan tanaman tersebut untuk pakan ternak serta dijadikan sebagai salah
satu makanan pokok oleh masarakat setempat.

Melati air merupakan salah satu tumbuhan yang mampu hidup di tempat yang
konsentrasi airnya tinggi, selain sebagai tanaman hias, melati air ternyata juga
bisa dimanfaatkan sebagai tanaman fitoremediator limbah cair domestik. Menurut
(Caroline, 2015) dalam penelitiannya, disebutkan bahwa tumbuhan melati air
juga dapat dimanfaatkan sebagai agen fitoremediator yaitu untuk menurunkan
kadar timbal (Pb) yang terkandung dalam limbah industri peleburan tembaga dan
kuningan. Tidak hanya melati air, tumbuhan kayu apu ternyata juga bisa
dimanfaatkan untuk agen fotoremediator limbah detergen.

Tumbuhan ini berciri-cirikan memiliki bunga putih dengan kelopak yang


biasanya berjumlah 3 serta kepala sari berwarna kuning ditengahnya yang
membentuk sebuah lingkaran. Daunnya berwarna hijau gelap, lebar, tebal, dan
16

berbentuk menyerupai hati serta di bagian bawah daun ditumbuhi bulu-bulu yang
kasar. Melati air merupakan salah satu tanaman yang mudah beradaptasi dengan
lingkungan, namun tumbuhan ini tidak terlalu tahan dengan cahaya matahari.
Akar tumbuhan ini terletak pada dasar perairan serta reproduksinya secara
fleksibel. Tanaman ini dapat dimanfaatkan pada fitoremediasi karena dapat
menurunkan kadar nutrien (eutrofikasi) pada perairan. (Lehtonen dan Brouwer
dalam Caroline, 2015)

Eceng gondok merupakan salah satu jenis tumbuhan air yang pertama kali
ditemukan secara tidak sengaja oleh Karl Von Martius pada tahun 1824 ketika
sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brazilia. Pertumbuhan eceng
gondok yang tinggi, membuat tumbuhan ini dianggap sebagai gulma perairan
yang dapat merusak ekosistem lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah
menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Pertumbuhan massal eceng
gondok akan terjadi bila perairan mengalami penyuburan oleh pencemaran
terutama oleh fosfat. Keadaan ini akan terjadi bila kemampuan asimilasi zat yang
masuk ke perairan mengalami penurunan.

Perlu diketahui, pemanfaatan eceng gondok untuk memperbaiki kualitas air


yang tercemar telah biasa dilakukan, khususnya terhadap imbah domestik dan
industri sebab eceng gondok memiliki kemampuan menyerap zat pencemar yang
lebih tinggi dibandingkan jenis tumbuhan lainnya. Kecepatan penyerapan zat
pencemar oleh eceng gondok dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
komposisi dan kadar zat yang terkandung dalam air limbah, kerapatan eceng
gondok, dan waktu tinggal eceng gondok dalam air limbah (Setyanto dkk, 2011).

Mekanisme kerja dari fitoremediasi tanaman eceng-ecengan bersifat


rizofiltrasi dan fitoekstraksi. Fitoekstraksi merupakan penyerapan polutan oleh
tanaman dari air atau tanah lalu diakumulasi atau disimpan dalam daun atau
batang tanaman, tanaman seperti itu disebut dengan tanaman hiperakumulator.
Setelah polutan terakumulasi, tanaman dapat diambil dan harus dimusnahkan dan
diganti dengan tanaman yang baru yang sudah mengalami perlakuan. (Putri Yola
dkk, 2014)
17

Eceng gondok memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis, penyediaan


oksigen dan penyerapan sinar matahari. Bagian dinding permukaan akar, batang
dan daunnya memiliki lapisan yang sangat peka sehingga pada kedalaman yang
ekstrem sampai 8 meter di bawah permukaan air masih mampu menyerap sinar
matahari serta zat-zat yang larut di bawah permukaan air. Akar, batang, dan
daunnya juga memiliki kantung-kantung udara sehingga mampu mengapung di
air. Keunggulan lain dari eceng gondok adalah dapat menyerap senyawa nitrogen
dan fosfor dari air yang tercemar, berpotensi untuk digunakan sebagai komponen
utama pembersih air limbah dari berbagai industri dan rumah tangga. Karena
kemampuanya yang besar, tanaman ini diteliti oleh NASA untuk digunakan
sebagai tanaman pembersih air di pesawat ruang angkasa Little, 1979;
Thayagajaran dalam Ratnani (2010). Menurut Zimmel dan Tripathi dalam
Ratnani (2010) eceng gondok juga dapat digunakan untuk menurunkan
konsentrasi COD dari air limbah.

Eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk proses pemulihan lingkungan.


Pemanfaatan tumbuhan dalam aktivitas kehidupan manusia untuk proses
pemulihan lingkungan yang tercemar dengan menggunakan tumbuhan telah
dikenal luas dengan istilah fitoremediasi (phytoremediation). Proses dalam sistem
ini berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial yang
dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/pencemar yang berada di
sekitarnya.

Menurut Mehta (2012) berdasarkan identifikasi mikroba pada akar tumbuhan


enceng gondok, ditemukan 3 (tiga) bakteri yang paling dominan pada akar
tumbuhan eceng gondok yaitu Bacillus flexus, aeromonas hydrophila, dan bacillus
brevis. Fitoremediasi fosfat dengan menggunakan tumbuhan eceng gondok dapat
menyerap fosfat (sebagai P total) dalam limbah laundry dalam jumlah yang cukup
banyak. Pada proses fitoremediasi yang memegang peranan penting untuk
mengurangi atau menyerap kandungan polutan di air limbah adalah akar.

Tumbuhan dapat menyerap kontaminan sedalam atau sejauh akar tumbuhan


dapat tumbuh. Tumbuhan eceng gondok mempunyai akar yang banyak dan
panjang sehingga luas permukaan kontak antara air limbah dan akar semakin
18

besar. Sehingga dengan demikian proses penyerapannya semakin cepat dan


efektif. Proses penurunan kadar zat pencemar dalam air limbah dengan
menggunakan tumbuhan air merupakan kerjasama antara tumbuhan dan mikroba
yang berasosiasi dengan tumbuhan tersebut. (Wolverton dalam Stefhany, 2013)

E. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Tanaman melati air


(Echinodorus Palaefolius) dan
eceng gondok (Eichornia
Crassipes) Penurunan kadar fosfat
pada limbah laundry
Kriteria :

1. Jumlah tanaman

Dari kerangka pemikiran di atas dapat diketahui bahwa penurunan kadar


fosfat pada limbah laundry dipengaruhi oleh perlakuan tanaman melati air
(Echinodorus Palaefolius) dan eceng gondok (Eichornia Crassipes) melalui
sistem fitoremediasi. Sebelum tanaman digunakan untuk perlakuan, tanaman
harus diaklimatisasi selama kurang lebih 3 hari terlebih dahulu ke dalam air bersih
untuk menetralkan tanaman. Indikator tanaman yang digunakan untuk perlakuan
didasarkan pada jumlah tanaman. Terdapat tiga bak perlakuan, bak pertama diberi
perlakuan melati air, bak kedua diberi perlakuan eceng gondok dan bak yang
ketiga merupakan sampel kontrol yang tidak diberi perlakuan. Perlakuan terhadap
limbah akan dilakukan selama 20 hari dengan dilakukan pengukuran fosfatnya
setiap 5 hari sekali pada waktu sore hari. Perlakuan terhadap limbah tidak boleh
melebihi 3 minggu karena jika lebih dari 3 minggu akan mengakibatkan kematian
pada tanaman jika tidak diberi perlakuan pengenceran pada air limbah. Dari hasil
pengukuran ini diharapkan terjadi penurunan kadar fosfat akibat perlakuan yang
diberikan. Setelah diberi perlakuan maka sampel limbah laundry akan diukur
kadar fosfatnya menggunakan alat spektrofotometer yang sudah dikalibrasi.
19

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan
penelitian pra-eksperimen. Yang dimaksud dengan rancangan penelitian pra-
eksperimen adalah jenis eksperimen tanpa pengendalian variabel-variabel yang
berpengaruh, diperlukan kelompok kontrol sebagai pembanding. Pertama
dilakukan observasi atau pretest (pengambilan sampel limbah laundry yang telah
ditentukan sebagai unit eksperimen). Selanjutnya sampel ini akan diukur kadar
fosfat yang terkandung di dalamnya menggunakan alat spektrofotometer. Data
hasil pengukuran inilah yang akan dijadikan pembanding untuk sampel limbah
laundry yang telah diberi perlakuan. Supaya lebih efektif, maka dalam proses
eksperimen perlu dilakukan pemisahan penampungan (bak) terhadap limbah
laundry yang baru keluar dari proses pencucian dengan limbah laundry yang
sedang mengalami perlakuan.
Selanjutnya akan dilakukan pengujian dan pengamatan perubahan-
perubahannya setelah adanya eksperimen (penerapan tanaman melati air dan
eceng gondok pada limbah laundry). Bentuk rancangan pra-eksperimen adalah
sebagai berikut:

01 X 02

Keterangan:
01 : Pretest (Hasil pengukuran kadar fosfat pada limbah laundry awal)
X : Perlakuan (Pemberian perlakuan tanaman melati air dan eceng gondok pada
limbah laundry)
02 : Posttest (Hasil pengukuran kadar fosfat dangan cara uji lab menggunakan alat
spektrofotometer)
20

Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah:


1. Penentuan titik kawasan yang memiliki jasa usaha laundry terbanyak di Kota
Malang, karena kawasan yang memiliki jumlah jasa usaha laundry yang
banyak tentu juga memiliki air buangan yang memiliki kadar fosfat yang
tinggi pula.
2. Pengambilan sampel air limbah laundry yang selanjutnya akan diukur
menggunakan spektrofotometer di laboratarium.
3. Setelah dilakukan pengukuran terhadap sampel limbah laundry dari beberapa
usaha laundry maka dilakukan penerapan tanaman melati air dan eceng
gondok pada limbah laundry dengan cara mengumpulkan limbah laundry
dalam suatu bak yang kemudian diatasnya ditanami tanaman melati air dan
eceng gondok. Sebelum tanaman melati air dan eceng gondok dijadikan
tanaman uji maka perlu dilakukan aklimatisasi tanaman menggunakan air
bersih terlebih dahulu kurang lebih selama 3 hari. Aklimatisasi tanaman ini
bertujuan untuk menetralkan tanaman.
4. Tidak ada perlakukan khusus yang dibutuhkan oleh tanaman melati air dan
eceng gondok, hanya jika dalam waktu satu minggu tanaman ini membusuk.
Maka harus dilakukan pengenceran terhadap air limbah serta diberikan jumlah
penanaman tanaman yang lebih banyak.
5. Setelah penerapan tanaman melati air dan eceng gondok, maka langkah
selanjutnya adalah mengukur kadar fosfat pada limbah laundry menggunakan
alat spektrofotometer di laboratorium.
Variabel-variabel yang dilibatkan adalah:
1. Variabel sebab: penerapan tanaman melati air dan eceng gondok.
2. Variabel moderat: berat tanaman, jumlah tanaman dan kerapatan tanaman.
3. Variabel akibat: penurunan kadar fosfat pada limbah laundry di Kota Malang.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian pada penelitian ini adalah kawasan yang memiliki jasa usaha
laundry tertinggi (paling banyak) di Kota Malang. Kemudian diambil satu usaha
laundry untuk dijadikan unit eksperimen yang nantinya akan diberi perlakuan.
Penentuan unit eksperimen ini berdasarkan data terkait letak geografis serta
21

kedapatan penduduk di Kota Malang yang selanjutnya dapat dikatakan purposive


sampling.

C. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian mengenai pengaruh tanaman melati air dan eceng gondok
terhadap penurunan kadar fosfat pada limbah laundry menggunakan instrumen
observasi dan tes.
1. Observasi pada penilitian ini dilakukan guna menentukan lokasi usaha laundry
yang akan digunakan sebagai sampel penelitian. Kemudian dari berbagai asal
sampel limbah laundry tersebut akan diuji menggunakan perlakuan tanaman
melati air dan eceng gondok. Setelah mengalami perlakuan maka limbah
laundry akan diukur kadar fosfatnya menggunakan spektrofotometer yang
mana hasilnya nanti disesuaikan dengan peraturan daerah terkait ambang batas
fosfat yang boleh dibuang ke lingkungan.
2. Pengujian tes pada penelitian ini mengacu pada ambang batas maksimal kadar
fosfat yang boleh dibuang ke lingkungan yang telah ditetapkan oleh peraturan
daerah setempat. Selanjutnya nilai fosfat yang didapat merupakan hasil dari
pengukuran kadar fosfat dalam limbah laundry menggunakan
spektrofotometer.
D. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei internet, data terkait
peraturan dari Dinas Lingkungan Hidup yang ada di daerah setempat,
PERMENKES dan data hasil tes pengukuran limbah laundry sebelum dan sesudah
diberi perlakuan tanaman melati air dan eceng gondok menggunakan alat
spektrofotometer. Lebih rinci akan dijelaskan pada beberapa tahap di bawah ini;
1. Tahap persiapan
a. Studi pustaka untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk
penelitian selanjutnya.
b. Menentukan subjek penelitian yang pada penelitian ini dibentuk unit
eksperimental.
c. Menyusun instrument penelitian.
d. Mengurus surat ijin penelitian.
e. Menyiapkan surat ijin untuk uji kadar fosfat di laboratorium.
22

f. Menyiapkan peralatan yang diperlukan selama melaksanakan


penelitian.
2. Tahap pelaksanaan
a. Kalibrasi spektrofotometer dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Memasukkan aquades ke dalam kuvet yang nantinya akan diukur
menggunakan spektrofotometer. Usahakan memakai kuvet yang
sama.
2) Tunggu proses kalibrasi selesai dengan cara mengamati perubahan
angka yang tertera pada alat. Jika sudah tertera angka nol pada alat,
maka dapat dipastikan alat tersebut sudah layak digunakan. Karena
angka nol tersebut menunjukkan berapa banyak kadar fosfat dalam
larutan yang diukurlarutan tersebut tidak mengandung senyawa
fosfat.
b. Menguji kadar fosfat yang terkandung dalam limbah laundry sebelum
perlakuan menggunakan alat spektrofotometer.
c. Data hasil pengukuran kadar fosfat yang diperoleh akan dijadikan
pembanding dengan pengukuran limbah laundry setelah diberi
perlakuan.
d. Mempersiapkan unit eksperimental untuk selanjutnya diberi perlakuan
(penerapan tanaman melati air dan eceng gondok) dan diukur selama 5
hari.
e. Pengukuran kadar fosfat pada limbah laundry setelah diberi perlakuan
dan selanjutnya dibandingkan dengan data hasil pengukuran kadar
fosfat pada limbah laundry sebelum diberi perlakuan.
3. Pengolahan data
a. Data hasil dari berbagai pengukuran kadar fosfat limbah laundry yang
diberi perlakuan (penerapan tanaman melati air dan eceng gondok
dengan berbagai kriteria yaitu jumlah tanaman) dibandingkan dengan
data hasil pengukuran kadar fosfat pada limbah laundry sebelum di
berikan perlakuan.
b. Selanjutnya data berupa angka yang diperoleh akan dianalisis
menggunakan analisis varian Uji T-Amatan Ulangan di SPSS.
23

E. Teknik Analisis Data


Tujuan dari analisis data adalah untuk mengetahui apa ada pengaruh perlakuan
tanaman melati air dan eceng gondok terhadap penurunan kadar fosfat pada
limbah laundry sehingga teknik analisis data yang digunakan untuk penelitian ini
adalah analisis varian Uji T-Amatan Ulangan. Uji T-Amatan ulangan berguna
untuk menguji perbedaan nilai rerata antar nilai sebelum dan sesudah pelakuan.
Uji statistik penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan software program
SPSS Version 23.
24

Daftar Pustaka

Asfawi, S, dkk. 2014. Dampak Usaha Laundry Terhadap Tigkat Pencemaran Air
Studi Kasus di Kelurahan Pindrikan Kidul. Semarang: Laporan Penelitian
Dosen Pemula Universitas Dian Nuswantoro

Bappeda Pemerintah Kota Malang, 2010. Buku Putih Sanitasi Kota Malang.
Malang: Pemerintah Kota Malang

Caroline, J.dkk. 2015. Fitoremediasi logam timbal (Pb) menggunakan tanaman


melati air (Echinodorus palaefolius) pada limbah industri peleburan
tembaga dan kuningan. (Online), (http://jurnal.itats.ac.id/wp-
content/uploads/2015/10/18.-Jenny-caroline_itats.pdf), diakses pada 15 Mei
2016

Effendi, H. 2003. Telaan Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan


Lingkungan Perairan Kaninus: Yogyakarta

Fitriyah, A. W, dkk. 2013. Analisis Kandungan Tembaga (Cu) dalam Air dan
Sedimen di Sungai Surabay. Surabaya: Jurnal

Ginting, P. 2007. Sistem pengelolaan lingkungan dan limbah industri, cetakan


pertama. Bandung: Yrama Widya

Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.

Hardyanti, N., Rahayu. 2007 Fitoremediasi Phospat dengan pemanfaatan eceng


gondok (eichornia crassipes): Studi Kasus Pada Air Limbah Cair Industri
Kecil Laundry. Jurnal Presipitasi, Vvol. 2 No 1 2007 Maret: ISSN 1907-
187X

Ikawati, Sari. 2013. Efektivitas Dan Efisiensi Fitoremediasi Pada Deterjen


Dengan Menggunakan Tanaman Genjer (Limnocharis Flava). (Online),
(http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/Sari-Ikawati-
090254242080.pdf.), diakses pada 29 Februari 2016

Juhaeti, T., dkk. 2004. Inventaris Tumbuhan Potensial Untuk Fitoremediasi Lahan
dan Air Terdegradasi Penambang Emas. (Online),
(http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0601/D060106.pdf), diakses pada 14
Mei 2016

Mangkoedihardjo, S., Dkk. 2011. Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit


Menggunakan Kompos Tidak Stabil Dan Eksudat Tumbuhan Dalam Sistem
25

Evapotranspirasi. (Online), (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-


Undergraduate-16613-Paper-pdf.pdf), diakses pada 15 Mei 2016

Mehta, O. 2012. Pengolahan Limbah Cair Industri Pulp dan Kertas Kasar Secara
Biologis Menggunakan Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia Crassipes
(Mart.) Solm). Skripsi, ITENAS. Bandung

Notoatmodjo, S. 2011. Kesehatan Masyarakat: Ilmu & Seni. Jakarta: PT. Rineka
Cipta

Padmaningrum, R., dkk. 2014. Pengaruh Biomasa Melati Air (Echinodorus


paleafolius) Dan Teratai (Nyphaea firecrest) Terhadap Kadar Fosfat, BPD,
COD, TSS, Dan Derajat Keasaman Limbah Cair Laundry. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarya

Putri, Y., dkk. 2014. Pemanfaatan Tanaman Eceng-Ecengan (Ponteridaceae)


sebagai Agen Fitoremediasi dalam Pengolahan Limbah Krom. Bandung:
Jurnal vol. 1

Ratnani, R. D., 2010. Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) untuk


Menurunkan Kandungan COD (Chemical Oxygen Demond), pH, Bau, dan
Warna pada Limbah Cair Tahu. (Online)
(http://www.unwahas.ac.id/publikasiilmiah/index.php/LPPM/article/view/
837/950) diakses pada tanggal 01 Maret 2016

Rosariawari, F. 2005. Efektifitas Multivalen Metal Ions Dalam Penurunan Kadar


Phospt Sebagai Bahan Pembentuk Detergen. Jurnal ilmiah teknik
lingkungan Vol.2 No. 1: Universitas Pembangunan Veteran Jawa T
Surabaya.

Setyanto, K., dkk. 2011. Pemanfaatan Eceng Gondok Untuk Membersihkan


Kualitas Air Sungai Gadjahwong Yogyakarta. Yogyakarta: Jurnal
Teknologi Technoscientia.

Sostar-Turk, dkk. 2005. Laundry Wastewater treatment using coagulation and


membrane filtration, Resources, Conversation and Recycling. Jurnal

Stefhany, C. A., dkk. 2013. Fitoremediasi fosfat dengan menggunakan tumbuhan


eceng gondok (Eichornia Crassipes) pada limbah cair industri kecil
pencucian pakaian (Laundry). Bandung: Jurnal Institut Teknologi
Nasional.
26

Suharjono. 2010. Pemberdayaan Komunitas Pseudomonas Untuk Bioremediasi


Ekosistem Air Sungai Tercemar Limbah Deterjen. Malang: Seminar
Nasional Biologi Universitas Brawijaya

Undang-undang No. 8 Tahun 2011 tentang Pengolahan Kualitas Air Dan


Pengendalian Pencemaran Air

Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit


Andi.