Anda di halaman 1dari 27

DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN

Musliha Yunus, Muhammad Yusuf, Ika Nuhayani, Irdayani Hamid, Nurfajri


Laboratorium Fisika Dasar
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Makassar

Abstrak
Telah dilakukan eksperimen Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian oleh
kelompok kami. Adapun tujuan dari dilaksanakannya experiment ini adalah
mampu menggunakan alat-alat ukur dasar dan menentukan ketidakpastian pada
pengukuran tunggal dan berulang, serta mengerti atau memahami penggunaan
angka berarti. Sebelum kami melakukan pengukuran, terlebih dahulu kami harus
mengenal alat-alat yang akan digunakan yakni mengtahui prinsip dan fungsi alat
dan mempelajari cara menentukan NST masing-masing. Adapun alat-alat yang
akan digunakan dalam pengukuran antara lain: penggaris / mistar, jangka sorong,
micrometer sekrup, stopwatch,thermometer,neraca ohaus, gelas ukur, kaki tiga
dan kasa, pembakar Bunsen serta air secukupnya. Dalam percobaan ini, kami
telah melakukan sebanyak 3 pengukuran yakni mulai dari pengukuran panjang,
pengukuran massa dan pengukuran suhu dan waktu. Pada pengukuran panjang,
kami menggunakan mistar, jangka sorong dan mikometer sekrup yang terlebih
dahulu ditentukan NSTnya masing-masing. Kemudian objek yang digunakan
adalah kubus dan bola untuk menentukan besar panjang, lebar, tinggi dan
diameter bola. Selanjutnya pada pengukuran massa, alat-alat yang digunakan
adalah neraca 2610 gram, 311 gram dan 310 gram yang memiliki masing-masing
NST. Adapun objek yang digunakan adalah kubus dan bola untuk menentukan
besar massa dari objek tersebut. Sedangkan thermometer dan stopwatch
digunakan untuk mengukur suhu suatu zat dan waktu yang diperlukan. Dengan
bantuan gelas ukur, kaki tiga dan kasa, pembakar Bunsen serta air secukupnya
maka kami dapat menentukan besar suhu dan waktu dengan mengambil acuan
suhu mula-mula. Sebagai kesimpulan kegiatan experiment ini untuk menganalisis
data-data dengan menentukan ketidakpastian dengan pengukuran tunggal dan
berganda

Kata kunci: NST , pengukuran , alat ukur, teori ketidakpastian

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara menggunakan alat-alat ukur dasar ?
2. Bagaimana menentukanketidakpastian pada pengukuran tunggal dan
berulang ?
3. Bagaimana mengerti atau memahami penggunaan angka berarti ?
TUJUAN
1. Mampu menggunakan alat-alat ukur dasar
2. Mampu menentukan ketidakpastian pada pengukuran tunggal dan
berulang
3. Mengerti atau memahami penggunaan angka berarti.
METODOLOGI EKSPERIMEN
Teori Singkat
Pengukuran adalah bagian dari Keterampilan Proses Sains yang
merupakan pengumpilan informasi baik secara kuatitatif maupun secara kualitatif.
Dengan melakukan pengukuran, dapat diperoleh besarnya atau nilai suatu besaran
atau bukti kualitatif. Dalam pembelajaran sains Fisika, seorang pendidik tidak
hanya menyampaikan kumpulan fakta-fakta saja tapi seharusnya mengajarkan
sains sebagai proses ( menggunakan pendekatan proses ). Oleh karena itu,
melakukan percobaan dalam laborratorium, berarti sengaja membangkitkan
gejala-gejala alam kemudian melakukan pengukuran.
Ketepatan dan Ketelitian Pengukuran
Ketepatan ( keakuratan ). Jika suatu besaran diukur beberapa kali (
pengukuran berganda ) dan menghasilkan harga-harga yang menyebar di sekitar
harga yang sebenarnya maka pengukuran dikatakan akurat . Pada pengukuran
ini, harga rata-ratanya mendekati harga yang sebenarnya.
Ketelitian ( kepresisian ). Jika hasil-hasil pengukuran terpusat di suatu
daerah tertentu maka pengukuran disebut presisi ( harga tiap pengukuran tidak
jauh berbeda.
Angka Penting atau Angka Berarti

1. Semua angka yang bukan nol adalah angka penting


2. Angka nol yang terletak di antara angka bukan nol termasuk angka penting
contoh : 25,04 A mengandung 4 angka penting
3. Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol termasuk angka penting,
kecuali kalau ada penjelasan lain, misalnya berupa garis di bawah angka
terakhir yang masih dianggap penting. Contoh 22,30 m mengandung 4
angka penting dan 22,30 m mengandung 3 angka penting
4. Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol, baik di sebelah
kanan maupun di sebelah kiri koma desimal tidak termasuk angka penting.
Contoh: 0,47 cm mengandung 2 angka penting
Analisis Ketidakpastian Pengukuran
Suatu pengukuran selalu disertai dengan ketidakpastian. Beberapa penyebab
ketidakpastian tersebut antara lain adalah Nilai Skala Terkecil ( NST ), kesalahan
kalibrasi,kesalahan titik nol, kesalahan paralaks, adanya gesekan, fluktuasi
parameter pengukuran dan lingkungan yang sulit mempengaruhu serta
keterampilan pengamat. Dengan demikian amat sulit untuk mendapatkan nilai
sebenarnya suatu besaran melalui pengukuran. Beberapa panduan akan disajikan
dalam modul ini, yaitu bagaimana cara melaporkan ketidakpastian yang
menyertainya.

Ketidakpastian Pengukuran Tunggal


Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan satu kali saja.
Keterbatasan skala alat ukur dan keterbatasan kemampuan mengamati
serta banyak sumber kesalahan lain, mengakibatkan, Hasil Pengukuran
Selalu Dihinggapi Ketidakpastian.
Nilai x sampai goresan terakhir dapat diketahui dengan pasti, namun
bacaan selebihnya adalah terkaan atau dugaan belaka sehingga patut
diragukan. Inilah ketidakpastian yang dimaksud dan diberi lambang
Lambang

merupakan ketidakpastian mutlak. Untuk pengukuran

tunggal diambil kebijaksanaan:


= NST Alat

Dimana

adalah ketidakpastian pengukuran tunggal. Angka 2

mempunyai arti satu skala ( nilai antara dua goresan terdekat ) masih dapat
dibagi 2 bagian secara jelas oleh mata. Nilai

merHasil pengukuran

dilaporka dengan cara yang sudah dibakukan seperti berikut.


X =|

|satuan

Diamana :
X = symbol besaran yang diukur
= hasil pengukuran beserta ketidakpastiannya.
atau ketidakpastian mutlak pada nilai * + dan memberi gambaran
tentang mutu alat ukur yang digunakan.
Semakin baik mutu alat ukur, semakin kecil

yang diperoleh.

Dengan menggunakan alat ukur yang lebih bermutu, maka diharapkan


pula hasil yang diperoleh lebih tepat, oleh karena itu ketidakpastian mutlak
menyatakan ketepatan hasil pengukuran.
Semakin kecil

ketidakpastian mutlak, semakin tepat hasil


pengukuran.

Perbandingan antara ketidakpastian mutlak dengan hasil pengukuran


(

) disebut ketidakpastian relative pada nilai * +, sering dinyatakan

dalam % ( tentunya harus dikalikan dengan 100% ). Ketidakpastian


relative menyatakan tingkat ketelitian hasil pengukuran.
Makin kecil ketidakpastian relative, makin tinggi ketelitian yang
dicapai pada pengukuran.

Pengukuran Berulang ( Berganda )


Dengan mengadakan pengulangan, pengetahuan kita tentang nilai
sebenarnya menjadi semakin baik. Pengulangan seharusnya diadaka
sesering mungkin, makin sering makin baik, namun perlu dibedakan
antara pengulangan beberapa kali ( 2 kali atau 3 kali saja ) dan
pengulangan yang cukup sering ( 10 kali atau lebih ). Pada modul ini, kita
akan hanya membahas pengukuran yang berualng 2 atau 3 kali saja. Jika
pengukuran dilakukan sebanyak 3 kai, denga hasil x1,x2,dan x3 atau 2 kali
saja misalnya pada awal percobaan dan pada akhir percobaan, maka * +

dan

dapat ditentukan sebagai berikut. Nilai pengukuran dilaporkan

sebagai * + sedangkan deviasi ( penyimpangan ) terbesar atau deviasi


rata-rata dilaporkan sebagai

Deviasi adalah selisih antara tiap

hasil pengukuran dari nilai rata-ratanya. Jadi :


* +

= , rata-rata pengukuran
=

maximum

rata-rata

Dengan :
= x1 + x2 + x3
dan,
3
| ,
Deviasi
=|

=|

adalah yang terbesar di antara

| , dan

=|

, dan

Atau dapat juga diambil dari :


=

3
Disarankan agar

diambil sebagai

x2, dan x3 akan tercakup dalam interval : ( x -

oleh karena ketiga nilai x1,


) dan ( x +

).

Rambat Ralat Pengukuran Tunggal


Misalkan suatu fungsi y = f ( a, b, c, . ), y adalah hasil perhitungan
dari besaran terukur a, b, dan .c, ( pengukuran tunggal ). Jika a berubah sebesar
da, b berubah sebesar db, dan c berubah sebesar dc, maka :
dy = | |

| |

| |

analog di atas, dapat dituliskan menjadi :


=| |

+| |

+| |

..diperoleh dari NST alat ukur atau sesuai aturan yang telah
dijelaskan sebelumnya.
A. Pengukuran Panjang
Mistar
Pada setiap alat ukur terdapat suatu nilai skala yang tidak dapat lagi
dibagi-bagi, inilah yang disebut Nilai Skala Terkecil ( NST ). Ketelitian alat ukur
bergantung pada NST ini. Mistar memiliki NST 0,1 cm atau 1 mm.

Jangka Sorong
Setiap jangka sorong memiliki skala utama ( SU ) dan skala bantu atau
skala nonius ( SN ). Pada umumnya, nilai skala utama = 1mm, dan banyaknya
skala nonius tidak selalu sama antara satu jangka sorong dengan jangka sorong
lainnya. Ada yang mempunyai 10 skala, 20 skala, dan bahkan ada yang memiliki
skala nonius sebanyak 50 skala.
Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur besaran panjang yang secara
khusus dapat digunakan untuk mengukur diameter dalam, diameter luar dan
kedalaman. Untuk menggunakan jangka sorong terlebih dahulu harus diketahui
Nilai Skala Terkecilnya atau NST. Berikut ini akan diberikan cara menentukan
NST jangka sorong.
20 skala nonius = 39 skala utama
Karena nilai skala utama sebesar 1 mm, maka
20 skala nonius = 39 mm
Sehingga, 1 skala nonius = 1,95 mm
Karena 1 skala nonius bernilai 1,95mm maka nilai skala pada skala utama yang
paling dekat dengan 1,95 mm adalah 2 mm. selisih antara kedua nilai skala ini
merupakan NST dari jangka sorong.
NST Jangka Sorong = 2 mm 1,95 mm = ,0,05 mm
Untuk menentkan Hasil Pengukuran ( HP ) dengan menggunakan Jangka Sorong
ini digunakan persamaan :
Hasil Pengukuran (HP)
= ( PSU X Nilai Skala Utama ) + ( PSN X NST Jangka Sorong )
Micrometer Sekrup
Micrometer sekrup memiliki dua bagin skala mendatar ( SM ) sebagai
skala utama dan skala putar ( SP ) sebagai skala nonius. NST micrometer sekrup
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan,

NST alat = Nilai Skala Mendatar


N

Pada umumnya micrometer sekrup memiliki Nilai Skala Mendatar ( skala


utama ) sebesar 0,5 mm dan jumlah skala putar sebanyak 50 skala, dengan
demikian maka NST micrometer sekrup seperti mempunyai NST sebesar,
NST Mikrometer Sekrup = 0,5 mm
50
= 0,01 mm
Hasil pengukuran dari suatu micrometer sekrup dapat ditentukan dengan
cara membaca penunjukkan bagian ujung skala putar terhadap skala utama dan
garis horizontal ( yang membagi dua skala utama menjadi skala bagian atas dan
bawah ) terhadap skala putar. Untuk menentukan Hasil Pengukuran ( HP ) dengan
menggunakan Mikrometer Sekrup ini digunakan persamaan:
Hasil Pengukuran ( HP )
= ( PSM X Nilai Skala Mendatar ) + ( Penunjukkan Skala Putar X NST
Mikrometer Sekrup )
B. Pengukuran Massa
Neraca Ohauss 2610 gram
Pada neraca ini terdapat 3 lengan dengan batas ukur yangberbeda-beda.
Pada ujung lenga dapat digandeng 2 buah beban yang nilainya masing-masing
500 gram dan 1000 gram. Sehingga kemampua atau batas ukur alat ini menjadi
2610 gram. Untuk pengukuran di bawah 610 gram, cukup menggunaka semua
lengan neraca dan di atas 610 gram sampai 2610 gram ditambah dengan beban
gantung. Hasil pengukuran dapat ditentukan dengan menjumlah penunjukkan
beban gantung dengan semua penunjukkan lengan-lengan neraca.
Neraca Ohauss 311 gram
Neraca ini mempunyai 4 lengan dengan nilai skala yang berbeda-beda,
masing-masing lengan mempunyai batas ukur dan nilai skala yang berbeda-beda.
Untuk menggunakan neraca ini terlebih dahulu tentukan Nilai Skala masingmasing lengan NST dari neraca Ohauss 311 gram, diambil dari nilai skala terkecil
dari empat lengannya. Hasil Pengukuran ditentukan dengan menjumlahkan
penunjukkan semua lengan neraca yang digunakan.
Neraca Ohauss 310 gram

Neraca ini mempunyai 2 lengan dengan nilai skala yang berbeda-beda dan
dilengkapi dengan sebuah skala putar ( skala utama ) dan skala nonius. NST
Neraca Ohauss 310 dapat ditentukan dengan cara yang sama dengan pada jangka
sorong. Hasil pengukuran ditentukan dengan menjumlahkan penunjukkan semua
lengan neraca ditambahkan dengan nilai pengukuran dari skala putar dan
noniusnya.
C. Pengukuran Suhu dan Waktu
Thermometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperature
suatu zat. Ada dua jenis thermometer yang umum digunakan dalam laboratorium,
yaitu thermometer air raksa dan thermometer alcohol. Keduanya adalah
thermometer jenis batang gelas dengan batas ukur minimum -10
maximum +110

dan batas ukur

. Nilai skala terkecil untuk kedua jenis thermometer tersebut

dapat dapat ditentukan seperti halnya menentukan nilai skala terkecil sebuah
mistar biasa, yaitu dengan mengambil batas ukur tertentu dan membaginya
dengan jumlah skala dari nol sampai pada ukur yang diambil tersebut.
Stopwatch merupakan salah satu alat ukur waktu yang paling sering
digunakan di laboratorium. Alat ukur ini dilengkapi dengan tombol untuk
menjalankan, mematikan dan mengembalikkan jarum ke posisi nol. Terdapat
beberapa bentuk stopwatch dengan NST yang berbeda-beda. Cara menentukan
NST stopwatch sama dengan menentukan NST alat ukur tanpa nonius.
Alat dan Bahan
1. Penggaris / mistar

10. Kaki tiga dan kasa

2. Jangka sorong

11. Pembakar bunsen

3. Micrometer sekrup

12. Air secukupnya

4. Stopwatch
5. Thermometer
6. Balok besi
7. Bola-bola kecil
8. Neraca ohaus
9. Gelas ukur

Identifikasi Variabel
Kegiatan 1
1. 2. -

Kegiatan 2
1. 2. kegiatan 3
1. Variabel manipulasi = 2. Variabel kontrol

=-

3. Variabel respon

=-

Definisi Operasional Variabel


Kegiatan 1
1.
2. Kegiatan 2
1.

Kegiatan 3
1. Variabel manipulasi = 2. Variabel control = 3. Variabel respon = Prosedur Kerja
Kegiatan 1
Pelaksanaan pengukuran panjang
1. Mengambil mistar, jangka sorong dan micrometer sekrup menentukan
NST
2. Mengukur masing-masing sebanyak 3 kali untuk panjang, lebar dan
tinggi balok berbentuk kubus yang disediakan dengan menggunakan

ketiga alat ukur tersebut. Mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil
pengamatan dengan disertai ketidakpastiannya.
3. Mengukur masing-masing sebanyak

3 kali untuk diameter bola (

mengukur d tempat berbeda ) yang disediakan dengan menggunakan


ketiga lata ukur tersebut. Mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil
pengamatan dengan disertai ketidakpastiannya.
Kegiatan 2
Pelaksanaan pengukuran besaran massa
1. Menentukan masing-masing NST neraca
2. Mengukur massa balok kubus dan bola ( yang digunakan pada
pengukuran panjang ) sebanyak 3 kali secara berulang.
3. Mencatat hasil pengukuran yang dilengkapi dengan ketidakpastian
pengukuran.
Kegiatan 3
Pelaksanaan pengukuran besaran suhu dan waktu
1. Menyiapakan gelas ukur, Bunsen pembakar lengkap dengan kaki tiga dan
lapisan asbesnya dan sebuah thermometer.
2. Mengisi gelas ukur dengan air bagian dan meletakkan di atas kaki tiga
tanpa ada pembakar.
3. Mengukur temperaturnya sebagai temperature mula-mula
4. Menyalakan Bunsen pembakar dan menunggu beberapa saat hingga
nyalanya terlihat normal.
5. Meletakkan Bunsen pembakar tadi tepat di bawah gelas kimia bersamaan
dengan menjalankan alat pengukur waktu.
6. Mencatat perubahan temperature yang terbaca pada thermometer tiap
selang waktu 1 menit sampai diperoleh 10.

HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS DATA


Hasil Pengamatan
1. Pengukuran Panjang
NST mistar

: batas ukur = 30 cm

= 0,1 cm = 1 mm

Jml. Skala
300
: 20 skala nonius = 39 skala utama

NST jangka sorong

Karena nilai skala utama 1 mm, maka


1 SN = 39/20 = 1,95 mm mendekati 2 mm, maka
Selisihnya adalah
NST jangka sorong = 2 mm - 1,95 mm = 0,05 mm
NST micrometer sekrup

: untuk nilai skala mendatar = bts / jml skala


mm = 0,5 mm

NST alat = N.SM = 0,5 mm = 0,01 mm


J. SP
50
Tabel hasil pengukuran panjang
Hasil pengukuran ( mm )
No

Benda
yang
diukur
Balok

Besaran
yang
diukur
panjang

kubus

lebar

Tinggi

bola

diameter

Micrometer sekrup
Mistar

Jangka sorong

1|

2|

3|

1|

2|

3|

1|

2|

3|

1|

2|

3|

2. Pengukuran Massa
Neraca ohauss 2610 gram
Nilai skala lengan 1

= bts ukur / jml skala = 500 / 5 = 100 gram

Nilai skala lengan 2

= 100 / 10 = 10 gram

Nilai skala lengan 3

= 10 / 100 = 0,1 gram

Massa beban gantung =


Tabel hasil pengukuran massa dengan neraca ohauss 2610 gram

Benda

Bola

Penun.
Lengan 1
1 0

Penun,
lengan 2
1 20

Penun.
Lengan 3
1 4,6

2 20

Beban
gantung

Massa benda ( g )
1|

2 4,5

2|

3 20

3 4,4

3|

1 5,8

1|

2 5,8

2|

3 5,9

3|

Neraca ohauss 311 gram


Nilai skala lengan 1

= 100

Nilai skala lengan 2

= 10

Nilai skala lengan 3

=1

Nilai skala lengan 4

= 0,1

Tabel hasil pengukuran massa dengan neraca ohauss 311 gram

Benda

Bola

Penun.
Lengan 1
1 0

Penun,
lengan 2
1 20

Penun.
Lengan 3
1 4

Penun.
Lengan 4
1 0,55

1|

2 20

2 0,55

2|

3 20

3 0,55

3|

1 0,1

1|

2 0,08

2|

3 0,05

3|

Massa benda ( g )

Neraca ohauss 310 gram

NST Neraca Ohauss 310 gram

Nilai skala lengan 1

= 100 g

10 SN

Nilai skala lengan 2

= 10 g

19

= 19 SP

0,1 = 1,9

Nilai skala putar

= 0,1 g

Jumlah skala nonius = 10

1 SN

= 1,9 / 10

NST

= 0,2 0,19 = 0,01 gram

Tabel pengukuran massa dengan neraca ohauss 310 gram

Benda

Bola

Penun.
Lengan 1
1 0

Penun,
lengan 2
1 20

Penun.
Skala
putar
1 4,4

Penun.
Skala
nonius
1 0,07

1|

2 20

2 4,4

2 0,07

2|

3 20

3 4,4

3 0,07

3|

1 5,7

1 0,02

1|

2 5,7

2 0,03

2|

3 5,7

3 0,03

3|

Massa benda ( g )

3. Pengukuran Waktu dan Suhu


NST thermometer

=1

Temperature mula-mula

= 33

NST stopwatch = 0,1 sekon

Tabel hasil pengukuran waktu dan suhu


No

Waktu ( s )

60

120

180

240

300

360

Temperature (

Analisis Data
Melaporkan Hasil Pengukuran Berulang
1. Mistar
Panjang Kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

Perubahan temperature (

X3 = |

| mm

= 20,0 + 20,0 + 20,0 = 20,0 mm


3
=|

| = 0,0

=|

| = 0,0

=|

| = 0,0

= 0,0

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,5 X 100% = 2,5%................2 AB


X 20,0
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Lebar kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,0 + 20,0 + 20,0 = 20,0 mm


3
=|

| = 0,0

=|

| = 0,0

=|

| = 0,0

= 0,0

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,5 X 100% = 2,5%................2 AB


X 20,0
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Tinggi kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,0 + 20,0 + 20,0 = 20,0 mm


3
=|

| = 0,0

=|

| = 0,0

=|
=
* + =| -

| = 0,0
= 0,0
|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,5 X 100% = 2,5%................2 AB


X 20,0
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Diameter bola
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 16,0 + 15,0 + 16,0 = 15,6 mm


3
=|

| = 0,4

=|

| = 0,6

=|

| = 0,4

=
* + =| -

= 0,6
|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,6 X 100% = 3,8%................2 AB


X 15,6
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|

2. Jangka Sorong
Panjang kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,00 + 20,00 + 20,00 = 20,00 mm


3
=|

| = 0,00

=|

| = 0,00

=|

| = 0,00

= 0,00

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,05 X 100% = 0,25%................2 AB


X 20,00
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Lebar kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,00 + 20,00 + 20,00 = 20,00 mm


3
=|

| = 0,00

=|

| = 0,00

=|

| = 0,00

= 0,00

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,05 X 100% = 0,25%................2 AB


X 20,00
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Tinggi kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,45 + 20,00 + 20,45 = 20,30 mm


3
=|

| = 0,15

=|

| = 0,30

=|

| = 0,15

= 0,30

* + =| -

|=|

Kesalahan relative ( KR ) =

| mm

= 0,30 X 100% = 1,47%................3 AB


X 20,30
| mm..3 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Diameter bola

X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 16,35 + 16,35 + 16,25 = 16,31 mm


3
=|

| = 0,04

=|

| = 0,04

=|

| = 0,06

= 0,06

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,06 X 100% = 0,36%................2 AB


X 16,31
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|

3. Micrometer sekrup
Panjang kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,290 + 20,260 + 20,260 = 20,270 mm


3
=|

| = 0,02

=|

| = 0,01

=|

| = 0,01

= 0,02

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,02 X 100% = 0,099%................2 AB


X 20,270
| mm..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Lebar kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,250 + 20,260 + 20,260 = 20,256 mm


3
=|

| = 0,006

=|

| = 0,004

=|

| = 0,004

= 0,006

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,006 X 100% = 0,03%................1 AB


X 20,256
| mm 1 AB
Jadi,Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Tinggi kubus
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,225 + 20,260 + 20,260 = 20,248 mm


3
=|

| = 0,023

=|

| = 0,012

=|

| = 0,012

= 0,023

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,023 X 100% = 0,114%................3AB


X 20,248
| mm..3AB
Jadi,Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Diameter bola
X1 = |

| mm

X2 = |

| mm

X3 = |

| mm

= 20,020 + 20,440 + 20,050 = 16,170 mm


3
=|

| = 0,15

=|

| = 0,27

=|

| = 0,12

= 0,27

* + =| -

|=|

| mm

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,27 X 100% = 1,67%................3AB


X 16,170
| mm..3 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Nilai volume dari balok kubus.
V = p x l x t = 20,0 x 20,0 x 20,0 = 8000 mm kubik
Dengan menggunakan mistar, maka
Dv = | |dp + | |dl + | |dt
= l t dp + p t dl + p l dt
Dv = l t dp + p t dl + p l dt
V plt
plt
plt
Dv = |

|v

=|

|v

=|
=|

| 8000
| 8000

= 600
Dv = |

| mm kubik

Ketidakpastian relatifnya adalah 600 x 100 % = 7,5 %........2AB


8000
Jadi, pelaporan hasil volume benda adalah { v } = | v
| = | 7,5
kubik
Selanjutnya , dengan menggunakan jangka sorong, maka :
V = 20,00 x 20,00 x 20,30 = 8120 mm kubik
=|
=|

|v
| 8120

600 | mm

=|

| 8120

= 160,6
Dv = |

| mm kubik

Ketidakpastian relatifnya adalah 160,6 x 100 % = 1,97 %........3AB


8120
Jadi, pelaporan hasil volume benda adalah { v } = | v
| = | 1,97

160,6 |

mm kubik
Dan dengan menggunakan micrometer sekrup, maka :
V = 20,270 x 20,256 x 20,248 = 8313,608 mm kubik
=|

|v

=|
=|

| 8313,608
| 8313,608

= 20,109
Dv = |

| mm kubik

Ketidakpastian relatifnya adalah 20,109 x 100 % = 0,242 %........3AB


8313,608
Jadi, pelaporan hasil volume benda adalah { v } = | v
| = | 0,242
mm kubik
Neraca Ohauss 2610 gram
Pada benda kubus
X1 = |

| gram

X2 = |

| gram

X3 = |

| gram

= 24,60 + 24,50 + 24,40 = 24,50 gram


3
=|

| = 0,10

=|

| = 0,00

=|

| = 0,10

= 0,10

20,109 |

* + =| -

|=|

| gram

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,10 X 100% = 0,408%................3 AB


X 24,50
| gram..3 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Pada benda bola
X1 = |

| gram

X2 = |

| gram

X3 = |

| gram

= 5,80 + 5,80 + 5,90 = 5,83 gram


3
=|

| = 0,03

=|

| = 0,03

=|

| = 0,07

= 0,07

* + =| -

|=|

| gram

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,07 X 100% = 1,201%................4 AB


X 5,83
| gram..4 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Neraca Ohauss 311 gram
Pada benda kubus
X1 = |

| gram

X2 = |

| gram

X3 = |

| gram

= 24,550 + 24,550 + 24,550 = 24,550 gram


3
=|

| = 0,000

=|

| = 0,000

=|

| = 0,000

= 0,000

* + =| -

|=|

Kesalahan relative ( KR ) =

| gram
= 0,005 X 100% = 0,02%................1AB
X 24,550

Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| -

|=|

| gram..1

AB
Pada benda bola
X1 = |

| gram

X2 = |

| gram

X3 = |

| gram

= 6,100 + 6,080 + 6,050 = 6,076 gram


3
=|

| = 0,024

=|

| = 0,004

=|

| = 0,026

= 0,026

* + =| -

|=|

| gram

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,026 X 100% = 0,428%................3AB


X 6,076
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| | = |
gram..3AB
Neraca Ohauss 310 gram
X1 = |

| gram

X2 = |

| gram

X3 = |

| gram

= 24,47 + 24,47 + 24,407 = 24,47 gram


3
=|

| = 0,00

=|

| = 0,00

=|

| = 0,00

= 0,00

* + =| -

|=|

Kesalahan relative ( KR ) =

| gram

= 0,01 X 100% = 0,041%................2 AB


X 24,47
| gram..2AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Pada benda bola

X1 = |

| gram

X2 = |

| gram

X3 = |

| gram

= 5,72 + 5,73 + 5,73 = 5,72 gram


3
=|

| = 0,00

=|

| = 0,01

=|

| = 0,01

= 0,01

* + =| -

|=|

| gram

Kesalahan relative ( KR ) =

= 0,01 X 100% = 0,17%................2 AB


X 5,72
| gram..2 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Menghitung massa jenis benda dengan neraca Ohauss 310 gram
Pada benda kubus
= m x v = 24,47 x 8000 = 195.760 gram/mm kubik
D = | |dm + | |dv
= v dm + m dv
D = v dm + m dv
mv
mv
D = |
=|
=|
=|

|v
|
| 195.760
| 195.760

= 22,68
Dv = |

| gram/mm kubik

Ketidakpastian relatifnya adalah 22,66 x 100 % = 0,012 %........2AB


195.760

Jadi, pelaporan hasil massa jenis benda adalah {

}=|

| = | 0,012

22,68 | gram/mm kubik .


Pada benda bola
= m x v = 5,72 x 8000 = 45.760 gram/mm kubik
D = | |dm + | |dv
= v dm + m dv
D = v dm + m dv
mv
mv
D = |

|v

=|

=|
=|

| 45.760
| 45.760

= 11431,99
Dv = |

| gram/mm kubik

Ketidakpastian relatifnya adalah 11431,99 x 100 % = 24,98 %........4AB


45.760
Jadi, pelaporan hasil massa jenis benda adalah { } = |
| = | 24,98
11431,99 | gram/mm kubik .

Pengukuran waktu dan suhu


Temperature
X1 = |

X2 = |

X3 = |

X4 = |

X5 = |

X6 = |

= 36,0 + 38,0 + 41 + 44,0 +47,0 + 49,0 = 42,5


6
=|

| = 6,5

=|

| = 4,5

=|

| =1,5

=|

| = 1,5

=|

| = 4,5

=|

| = 6,5

= 6,5

* + =| -

|=|

Kesalahan relative ( KR ) =

= 6,5 X 100% = 15,2%................3 AB


X 20,0
| mm..3 AB
Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| |=|
Perubahan temperature
X1 = |

X2 = |

X3 = |

X4 = |

X5 = |

X6 = |

= 3 + 5 + 8+ 11 +13 + 16 = 9,3
6
=|

| = 6,3

=|

| = 4,3

=|

| =1,3

=|

| = 2,3

=|

| = 4,3

=|

| = 7,3

=
* + =| -

= 7,3
|=|

Kesalahan relative ( KR ) =

|
= 7,3 X 100% = 78,4%................3 AB
X 9,3

Jadi, Pelaporan Hasil Pengukuran = * + =| -

|=|

| mm..3 AB

PEMBAHASAN
1. Pengukuran panjang
Pada pengukuran panjang telah ditemukan setiap besaran yang akan diukur
pada kubus, yaitu panjang, lebar dan tinggi dan pada bola besaran yang diukur
adalah diameter. Kami telah menggunakan 3 alat ukur yaitu mistar, jangka sorong
dan micrometer sekrup. Pada ketiga alat ukur tersebut memiliki NST yang
berbeda-beda . sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa semakin baik mutu
alat yang digunakan, semakin kecil

yang diperoleh. Hal ini menunjukkan

bahwa alat ukur yang paling tinggi ketelitiannya adalah mistar karena memiliki
yang lebih kecil yaitu 0,0. Tetapi berbeda dengan teori yang mengatakan
bahwa makin kecil ketidakpastian relatif, makin tinggi ketelitian yang dicapai
pada pengukuran. Hal tersebut ditunjukkan oleh micrometer sekrup yang memiliki
tingkat ketelitian yang lebih tinggi karena memiliki ketidakpastian relatif kecil.
2. Pengukuran massa
Begitu halnya dengan pengukuran massa kami menggunakan 3 alat ukur yaitu
neraca ohauss 2610,311dan 310 ( gram ). Yang paling tinggi tingkat ketelitiannya
adalah neraca 311 dan 310 gram.
3. Pengukuran waktu dan suhu
pada pengukuran ini, kami telah menggunakan thermometer untuk suhu dan
stopwatch untuk waktu. Pada pengukuran ini ditentukan suhu mula-mula untuk
mengetahui tingkat kenaikan suhu selama beberapa waktu yang diperlukan.
SIMPULAN
1. cara menggunakan alat-alat ukur dasar adalah dengan mengetahui terlebih
dahulu fungsi dari alat-alat tersebut kemudian menentukan NST alat
masing-masing. Secara sederhana, cara menentukan dari NST adalah batas
ukur dibagi dengan jumlah skala. Pada setiap alat ukur memiliki NST yang
berbeda-beda.

2. Cara menentukan ketidakpastian pada pengukuran tunggal dan berulang


yaitu dengan membagi NST dan deviasi maximum dari suatu
pengukuran.
3. Cara mngerti atau memahami penggunaan angka berarti yaitu dengan
menentukan kesalahan relatifnya yang dinyatakan dalam persen.
DAFTAR RUJUKAN
Penuntun Praktikum. FISIKA DASAR 1. Unit Laboratorium Fisika Dasar:
UNUVERSITAS NEGERI MAKASSAR